Anda di halaman 1dari 32

AKUNTANSI

PERPAJAKAN
KONSEP BIAYA, BEBAN,
DAN
PENGURANGAN PENGHASILAN
Dosen :
Dr. H. Heru Tjaraka, SE, MSi, BKP, Ak, CA.

Konsep Dasar Biaya Fiskal &


Pengurang Penghasilan
(Harnanto)
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

Otorisasi Pengeluaran,
Biaya usaha vs pengeluaran pribadi,
Pengeluaran modal vs pengeluaran pendapatan,
Pengeluaran rutin diperlukan dan wajar
jumlahnya,
Biaya usaha dan biaya terkait dlm investasi,
Kerugian yg sesungguhnya terjadi,
Kewajiban bagi WP,
Dokumentasi yg memadai

Otorisasi Pengurangan
Adanya otorisasi khusus diperlukan utk dpt mengklaim
biaya fiskal atau pengurang penghasilan tanpa
adanya otorisasi, suatu pengorbanan, pengeluaran,
atau kerugian tdk diperkenankan utk dikurangkan dari
penghasilan dlm menentukan PKP dlm suatu thn pjk,
Konsep dasar atau prinsip biaya fiskal dan pengurang
penghasilan semacam itu mrp. Kebalikan dari konsep
dasar atau prinsip penghasilan : setiap penghsln dr
manapun sbr/asalnya, dan dlm bentuk apapun termsk
penghsln bruto, kecuali dinyatakan lain oleh UU Pajak"

Berdasarkan Periode
Akuntansi Pemanfaatannya
1. Capital Expenditure :
pengeluaran yg memberi manfaat > 1
periode dicatat sbg AKTIVA
2. Revenue Expenditure :
Pengeluaran yg memberi manfaat
hanya 1 periode ybs dicatat sbg.
BEBAN

Capital & Revenue


Expenditure
PEMBEDAAN ANTARA CAPITAL
EXPENDITURE dengan REVENUE
EXPENDITURE menjadi penting utk dpt
menetapkan besarnya penghasilan &
beban yg tepat (proper matching) dan
ketelitian penghitungan laba suatu
periode.

Perlakuan Fiskal
Utk tujuan penghitungan PKP, psl. 9 (2) UU
PPh 2008 menyatakan bahwa pengeluaran
kapital tidak boleh dikurangkan sekaligus,
tetapi harus dibebankan melalui
penyusutan atau amortisasi.
Utk menentukan apakah suatu pengeluaran
hrs dibukukan sbg. AKTIVA atau BEBAN
dlm perpajakan tdk tdp ketentuan khusus.

Pengakuan Beban
Saat pengakuan beban pada umumnya
mengikuti stelsel pembukuan yg dianut
pengusaha (WP)
Bila dipakai stelsel kas, beban diakui pada
saat pembayaran.
Bila dipakai stelsel akrual, beban diakui
pada saat terutang (dgn mengesampingkan
pembayaran).

3 Pendekatan dalam pengaitan


biaya dgn penghasilan (matching)
(Prof.Dr.Gunadi, SE,MSc,Ak)

1. Sebab-Akibat (kausalitas)
2. Alokasi Sistematis dan
Rasional
3. Pengakuan Segera

Pendekatan sebab akibat


(kausalitas)
Pendekatan ini mengaitkan beban langsung
dengan penghasilan.
Biaya diakui sbg beban dalam periode
diakuinya penghasilan, misalnya
persediaan yg dibeli dibebankan ke harga
pokok saat periode berjalan.

Pendekatan
Sistematis dan Rasional
Dgn tidak adanya kaitan langsung antara beban
dgn. Penghasilan, maka beban dpt dialokasikan
secara sistematis dan rasional dgn penghasilan
berdasarkan masa manfaat.
Alokasi beban itu dpt memberikan pengurangan
segera (pada thn ybs) thd penghasilan di masa
datang.
Contoh : Penyusutan Aktiva Tetap Berwujud ;
amortisasi aktiva tidak berwujud

Pendekatan
Pengakuan Segera
Utk beban yg tidak dapat dikaitkan dgn
penghasilan, baik secara kausalitas
maupun sistematis dan rasional, maka
dibebankan ke pengurang penghasilan
bruto (pada thn pengeluaran ybs.)
Contohnya : biaya pendirian, emisi saham
baru, reorganisasi, dan perpindahan.

Biaya yang Dapat


Dikurangkan
Di akuntansi komersial, semua biaya
termasuk losses dapat dikurangkan dalam
menghitung penghasilan neto (net
income).
Berdasarkan konsep laporan
penghasilannya, maka pengurangan
biaya dan kerugian dibedakan menjadi :
1. All Inclusive Concept of Income
2. Current Operating Concept of Income

Lanjutan
1. All Inclusive Concept of Income
dengan mengurangkan semua biaya
dalam penghitungan penghasilan neto
usaha
2. Current Operating Concept of Income
dengan membebankan biaya atas
kerugian luar biasa dan koreksi atas biaya
ke saldo laba ditahan daripada ke
penghasilan (laba) thn berjalan.

Konsep Biaya
di Perpajakan
Utk tujuan perpajakan, tidak semua biaya
dpt dikurangkan ke penghasilan
Koreksi biaya dpt dilakukan dlm thn pajak
yg sama langsung ke laba/rugi. (KOREKSI
POSITIF / NEGATIF)
Dlm ketentuan perpajakan,Pasal 6 (1) UU
PPh mengatur tentang biaya yg dpt
dikurangkan, sedangkan pasal 9 (1) UU
PPh menyebutkan pengeluaran yg tdk
boleh dikurangkan.

BIAYA PENGURANG PENGHASILAN BRUTO


(Pasal 6 ayat (1) UU No. 36 thn 2008)
ketentuan tambahan baru
Biaya Promosi dan Penjualan
Biaya Beasiswa
Piutang Tak Tertagih
Pemupukan Dana Cadangan
Sumbangan yang dapat dibiayakan

15 Des 2008

15

BIAYA PROMOSI DAN PENJUALAN


(Pasal 6 ayat (1) huruf a angka 7)

B
I
A
Y
A

Biaya Promosi dan Penjualan ditegaskan


sebagai pengurang penghasilan bruto
yang ketentuannya diatur lebih lanjut
dengan PMK.

Alasan Perubahan:
Biaya promosi dan penjualan dapat
muncul dalam berbagai bentuk dan
bergantung pada jenis usaha WP
sehingga perlu diatur secara khusus
dalam PMK termasuk besaran biaya
tersebut yang dapat dikurangkan dari
penghasilan bruto.
15 Des 2008

16

BIAYA BEASISWA
(Pasal 6 ayat (1) huruf g)

B
I
A
Y
A

Beasiswa yang dapat dibiayakan diperluas


meliputi pemberian beasiswa kepada bukan
pegawai seperti pelajar dan mahasiswa
tetapi tetap memperhatikan kewajarannya.

Alasan Perubahan:
Mendorong peran serta masyarakat (WP)

untuk mendukung program pemerintah


dalam meningkatkan kualitas sumber daya
manusia melalui pendidikan.

15 Des 2008

17

PIUTANG TAK TERTAGIH


(Pasal 6 ayat (1) huruf h)
Syarat untuk membiayakan piutang yang
nyata-nyata tidak dapat ditagih dipermudah
menjadi:

B
I
A
Y
A

1. telah dibiayakan dalam laporan laba rugi

komersial;
2. WP harus menyerahkan daftar piutang yang tidak
dapat ditagih kepada DJP; dan
3. telah diserahkan perkara penagihannya kepada
Pengadilan Negeri atau instansi pemerintah yang
menangani piutang negara; atau ada perjanjian
tertulis dengan debitur yang bersangkutan; atau
telah dipublikasikan dalam penerbitan umum atau
khusus; atau ada pengakuan dari debitur bahwa
utangnya telah dihapuskan.
. Syarat nomor 3 tidak berlaku bagi piutang debitur
kecil yang dihapuskan.

Alasan Perubahan:
Memberikan keringanan syarat penghapusan piutang

tak tertagih untuk menghilangkan kesulitan-kesulitan


15 Des 2008yang timbul karena syarat yang berlaku sekarang.
18

PEMUPUKAN DANA CADANGAN


(Pasal 9 ayat (1) huruf c)

B
I
A
Y
A

Pembentukan cadangan diperluas meliputi:


1. cadangan piutang tak tertagih untuk usaha bank dan
badan usaha lain yang menyalurkan kredit, sewa guna
usaha dengan hak opsi, perusahaan pembiayaan
konsumen, dan perusahaan anjak piutang;
2. cadangan untuk usaha asuransi termasuk cadangan
bantuan sosial yang dibentuk oleh Badan Penyelenggara
Jaminan Sosial;
3. cadangan
penjaminan untuk Lembaga Penjamin
Simpanan;
4. cadangan biaya reklamasi untuk usaha pertambangan;
5. cadangan biaya penanaman kembali untuk usaha
kehutanan; dan
6. cadangan biaya penutupan dan pemeliharaan tempat
pembuangan limbah industri untuk usaha pengolahan
limbah industri,
Alasan Perubahan:
7. Memberikan perlakuan yang sama bagi badan usaha
yang menyalurkan kredit
8. Mengakomodir pembentukan sistem jaminan sosial
nasional dan pembentukan Lembaga Penjamin Simpanan
9. Mengakomodir kewajiban pencadangan yang harus
19
dialokasikan oleh WP yang bergerak dalam bidang usaha

SUMBANGAN YANG DAPAT DIBIAYAKAN


(Pasal 6 ayat (1) huruf I,j,k,l dan m)
Sumbangan yang dapat dibiayakan meliputi:
1. sumbangan penanggulangan bencana

B
I
A
Y
A

nasional
2. sumbangan penelitian dan pengembangan
yang dilakukan di Indonesia
3. biaya pembangunan infrastruktur sosial
4. sumbangan fasilitas pendidikan
5. sumbangan pembinaan olahraga
Alasan Perubahan:
Memberikan insentif atau dorongan kepada
masyarakat (WP) agar secara langsung
berperan
serta
dalam
membantu
penanggulangan
korban
bencana
dan
peningkatan kualitas hidup dan prestasi
bangsa.
15 Des 2008

20

Pendekatan
DIRECT MATCHING
Utk dpt dikurangkan dari PKP, ada
beberapa kualifikasi yg harus dipenuhi :
1. Penghasilan yg diperoleh/diterima
sehubungan dgn biaya dimaksud harus
merupakan PKP.
2. Kalau penghasilan itu dikenakan PPh
maka pemajakan akan bersifat final (tarif
PPh Pasal 4(2) / tidak final (tarif PPh
Pasal 17 atau tarif PPh Psl. 21/22/23)

Biaya yang Tidak dapat


dikurangkan
Utk tujuan penghitungan PKP, tidak semua
biaya yg dikeluarkan perusahaan (WP) dpt
dikurangkan dari penghasilan bruto (Akt.
Komersial beda dgn Akt. Fiskal).

1.

2.

3.
4.

Prinsip-prinsip pembebanan biaya


menurut ketentuan pajak
(Sommerfield,1969)
Memenuhi unsur umum (ordinary) sebagai
biaya yang dikeluarkan untuk semua Wajib
Pajak,
Biaya yang dikeluarkan memenuhi kebutuhan
usaha (necessary) sehingga tidak menimbulkan
perbedaan interpretasi antara Wajib pajak dan
Fiskus,
Jumlah yang dikeluarkan adalah wajar
(Reasonable in amount),
Biaya berhubungan dengan kegiatan usaha
pokok (trade or business) biaya 3 M

Memilih alternatif pemberian imbalan /


fasilitas / tunjangan kepada karyawan

1. Fasilitas PPh Pasal 21


a. Ditanggung oleh perusahaan
bukan obyek PPh Pasal 21
tidak dapat dibiayakan oleh perusahaan

b. Berupa tunjangan (gross up / tanpa gross up)


obyek PPh Pasal 21
dapat dibiayakan oleh perusahaan

24

2. Fasilitas Pengobatan / Kesehatan


a. Mendirikan sarana kesehatan berupa klinik
perusahaan
atau
menunjuk
rumah
sakit/apotik tertentu
bukan merupakan obyek PPh Pasal 21,
tidak dapat dibiayakan perusahaan
b. Memberikan tunjangan kesehatan
karyawan
merupakan obyek PPh Pasal 21,
dapat dibiayakan perusahaan

kepada

25

c. Reimbursement biaya pengobatan

Bukan obyek PPh Pasal 21 tetapi tidak dapat


dibiayakan
Jika :
- tidak ada mark up
- bukti asli diserahkan ke perusahaan
- bukti a.n. Perusahaan atau a.n. Karyawan
Perusahaan
Obyekq.q.
PPh
Pasal 21 dan dapat dibiayakan
Jika tidak memenuhi kriteria diatas

26

3. Fasilitas Transportasi
a. Fasilitas kendaraan antar jemput (sewa, milik perusahaan)
bukan merupakan obyek PPh Pasal 21,
dapat dibiayakan perusahaan
b. Fasilitas tunjangan transportasi kepada karyawan
merupakan obyek PPh Pasal 21,
dapat dibiayakan perusahaan
c. Fasilitas kendaraan dinas untuk karyawan (sewa, milik perusahaan)
bukan merupakan obyek PPh Pasal 21
dapat dibiayakan perusahaan sebesar 50 persen-nya
(Kept. Dirjen No. KEP- 220/PJ./2002)

27

4. Fasilitas Perumahan
a. Fasilitas rumah dinas (milik perusahaan,
SE.42/PJ.23/1984)
bukan merupakan obyek PPh Pasal 21,

tidak dapat dibiayakan perusahaan


b. Fasilitas tunjangan perumahan kepada karyawan
merupakan obyek PPh Pasal 21,

dapat dibiayakan perusahaan


c. Penggantian sewa rumah ke perusahaan
merupakan obyek PPh Pasal 21,

dapat dibiayakan perusahaan


28

sewa

Pengecualian
Pada perusahaan yang terkena PPh Final

Pemberian fasilitas dalam bentuk natura merupakan obyek PPh


Pasal 21

Tidak berpengaruh terhadap kewajiban PPh Badan perusahaan,


karena dasar pengenaan PPh Final penghasilan bruto, tanpa
mempertimbangkan biaya-biaya yang dikeluarkan untuk
memperoleh penghasilan tersebut.

29

Pengecualian
Pemberian fasilitas karyawan dalam bentuk natura pada
perusahaan di daerah terpencil
Kep. DJP No. KEP-213/PJ/2001

bukan obyek PPh Pasal 21,


dapat dibiayakan oleh perusahaan

30

Bagaimanakah perlakuan fiskal ?

Makan & Minum


Cuti
Seragam karyawan
Komunikasi (HP & Pulsa)
Iuran keanggotaan Profesi
Hiburan dan Olah Raga
Entertainment
Langganan Majalah/Koran

Tugas
1.

2.

3.
4.

PT HERIKO memiliki harta berupa bangunan pabrik dengan harga perolehan Rp


250 juta yang diperoleh pada 30-9-2012 dan 4 mesin produksi dengan harga
perolehan @ Rp 33 juta (include PPN) yang diperoleh pada 25-11-2012 (termasuk
kelompok 2-metode penyusutan garis lurus), tetapi menurut taksiran umur
ekonomis komersial hanya 6 tahun dan metode penyusutannya sama. Pada 30-122012, 2 mesin dijual karena akan digunakan untuk membeli 1 mesin yang lebih
canggih dan lebih besar kapasitas produksinya. Berapakah biaya penyusutan harta
berwujud dari PT HERIKO pada tahun 2012-2013 dan sajikan di neraca fiskal per
31-12-2013 ? Hitunglah koreksi fiskal yang terjadi atas biaya penyusutan harta
berwujud PT HERIKO ?
Tunjukkan apakah setiap situasi independen (tidak saling terkait) berikut ini
diperlakukan sebagai beda temporer atau beda permanen. Mengapa? Berikan
ilustrasi.
a. Estimasi biaya jaminan (untuk tiga tahun masa jaminan) dicatat sebagai beban
untuk tujuan pelaporan keuangan pada saat penjualan tetapi dikurangkan untuk
tujuan penghitungan pajak kini pada saat dibayar.
b. Keuntungan selisih kurs karena konversi aset dan kewajiban moneter dalam
valuta asing.
Bagaimanakah pengakuan Biaya menurut konsep stelsel kas dan stelsel akrual ?
Beri contohnya ?
Pertanyaan No. 1-6 Bab Biaya : Buku Akuntansi Pajak - Sophar Lumbantoruan dan
Soal Latihan esay No. 1-5 Bab Biaya Buku Sukrisno Agoes.