Anda di halaman 1dari 21

KEBIJAKAN INFORMASI DI ERA JKN

Diajukan sebagai pemenuhan tugas mata kuliah


Politik dan Kebijakan Kesehatan
Dosen Pengajar : CH. Tuti Ernawati, SKM, M.Kes

Oleh Kelompok III

FITRA GUSFRIYANTO

1520322003

FRISKA EKA FITRIA

1520322008

ALFITA DEWI

1520322018

NURHUSNIDA

1520322024

SITI MASYITAH

1520322014

RIZKIYAH

1520322036

ADE RIA NOFRIYANTI

1520322042

PROGRAM PASCA SARJANA ILMU KESEHATAN MASYARAKAT


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ANDALAS
PADANG, 2016

KATA PENGANTAR

Puji syukur saya ucapkan kepada Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan
nikmat-Nya kepada kami sehingga kam dapat menyelesaikan makalah Kebijakan
Informasi di Era JKN.
Dalam menyusun tugas ini, kami banyak mendapat bantuan gagasan dan moril,
untuk itu saya mengucapkan terima kasih kepada dosen dan pihak-pihak yang telah
membantu kami dalam penyelesaian tugas ini. Kami menyadari bahwa tugas ini masih jauh
dari kesempurnaan. Oleh karena itu, kritik dan dan saran kami harapkan dari berbagai
pihak.
Akhir

kata

kami

berharap

semoga

tugas

ini

dapat

bermanfaat

bagi

pembaca.Semoga semua bantuan yang telah diberikan kepada penulis di balas dan di ridhoi
oleh Allah SWT.

Padang, 10 Mei 2016

Kelompok III

ii

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR...........................................................................................................ii
DAFTAR ISI.........................................................................................................................3
BAB 1 : PENDAHULUAN..................................................................................................4
1.1 Latar Belakang.............................................................................................................4
1.2 Rumsan Masalah..........................................................................................................5
1.3 Tujuan...........................................................................................................................5
BAB 2 : TINJAUAN PUSTAKA.........................................................................................6
2.1 Jaminan Kesehatan Nasional........................................................................................6
2.2 Kepesertaan Jaminan Kesehatan Nasional...................................................................6
2.3 Manfaat Jaminan Kesehatan Nasional.........................................................................7
2.4 Definisi Sistem Informasi Kesehatan...........................................................................8
2.5 Dasar Hukum Sistem Informasi Kesehatan..................................................................8
2.6 Sistem Informasi Kesehatan Nasional........................................................................10
BAB 3 : PEMBAHASAN...................................................................................................13
3.1 Sistim informasi Manajemen Berbasis Online...........................................................13
3.2 Integrasi Sistem Informasi Klaim dan Mutu dalam Program JKN dengan Peluncuran
Sistem INASIS.................................................................................................................13
3.3 Bridging System.........................................................................................................14
3.4 Sistem Rujukan Berjenjang........................................................................................17
3.4.1 Definisi................................................................................................................17
3.4.2 Tata Cara Sistem Rujukan Berjenjang.................................................................17
BAB 4 : PENUTUP.............................................................................................................19
4.1 Kesimpulan.................................................................................................................19
4.2 Saran...........................................................................................................................19

iii

BAB 1 : PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang
Pada tahun 2011 telah disahkan UU No.24 tahun 2011 tentang Badan

Penyelenggaraan Jaminan Sosial yang akan menjadi badan untuk penyelenggara SJSN.
BPJS dibagi menjadi dua yakni BPJS Kesehatan dan BPJS Ketenagakerjaan yang
mempunyai wewenang dan hak dalam penyelenggaraan SJSN. Menurut UU No.40 tahun
2004 pasal 1 ayat 6 menyebutkan bahwa BPJS merupakan badan Hukum. Per 1 Januari
2014 pemerintah telah menyelenggarakan Jaminan Kesehatan Nasional. Semua rakyat
Indonesia akan tercover dan terjamin pelayanan kesehatannya tidak hanya yang
mempunyai pekerjaan seperti PNS, ABRI, polisi, dsb namun, tukang becak, tukang ojeg,
dan rakyat yang berpendapatan menengah kebawah yang tidak mempunyai asuransi
kesehatan akan terjamin pelayanan kesehatannya. Setiap peserta JKN yang membayar
iuran akan mendapatkan paket manfaat yang sama. Kepesertaan dibagi menjadi dua
Peserta bukan penerima bantuan iuran (pekerja penerima upah, pekerja bukan penerima
upah, bukan pekerja) dan peserta penerima bantuan iuran (fakir miskin dan orang tidak
mampu).
Diterapkan JKN dengan tujuan agar masyarakat dijamin pelayanan kesehatan di
setiap daerahnya dan merata oleh karena itu masih banyak hal-hal yang harus diperhatikan
oleh pemerintah dalam upaya penerapan JKN 2014 ini diantaranya adalah sistem informasi
kesehatan di Indonesia. Setiap daerah masih belum mempunyai kapasitas yang sama dalam
pengelolaan dan pengaksesan sistem informasi kesehatan. Pentingnya sistem informasi
kesehatan dalam penerapan JKN adalah sebagai tools untuk bagaimana mengumpulkan
data dan mengolah data serta integrasi data dalam skala nasional. JKN akan terlaksana jika
didukung oleh tersedianya data dan informasi yang akurat dan disajikan secara cepat dan
tepat waktu.
Sistem informasi sangat penting dalam mendukung berjalannya JKN seperti pada
sistem manajemen informasi BPJS contohnya sistem pendaftaran, pendataan peserta,
kerjasama dengan penyedia layanan kesehatan, pengumpulan iuran, obat, dan lain
sebagainya. Selain itu ketersediaan sistem informasi sangat mendukung untuk
mempermudah pelayanan baik bersifat administratif maupun teknis seperti sistem
surveilens, data rekam medis pasien, dsb. Sistem informasi tidak hanya berkaitan dengan
iv

JKN tetapi juga dengan sistem kesehatan seperti surveilens nasional yang nantinya akan
menjadi evidence based dalam membuat perencanaan program kesehatan baik dalam data
penyakit, sumber daya manusia Kesehatan, farmasi, jumlah faskes serta alat kesehatan.
1.2 Rumsan Masalah
Bagaimanakah kebijakan informasi pada era JKN ?
1.3 Tujuan
Untuk mengetahui kebijakan informasi pada era JKN

BAB 2 : TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Jaminan Kesehatan Nasional


Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang dikembangkan di Indonesia merupakan
bagian dari Sistem Jaminan Sosial Nasioal (SJSN). Sistem Jaminan Sosial Nasional ini
diselenggarakan melalui mekanisme Asuransi Kesehatan Sosial yang bersifat wajib
(mandatory) berdasarkan Undang-Undang No 40 Tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial
Nasional. Tujuannya adalah agar semua penduduk Indonesia terlindungi dalam sistem asuransi,
sehingga mereka dapat memenuhi kebutuhan dasar kesehatan masyarakat yang layak
(Kemenkes RI, 2013).

2.2 Kepesertaan Jaminan Kesehatan Nasional


Kepesertaan JKN merupakan setiap orang termasuk warga asing yang bekerja
paling singkat selama enam bulan di Indonesia yang telah membayar iuran.
Kepesertaan dalam Jaminan Kesehatan Nasional meliputi:
1. Peserta Penerima Bantuan Iuran (PBI) Jaminan Kesehatan meliputi orang yang
tergolong fakir miskin dan orang yang tidak mampu.
2. Peserta bukan Penerima Bantuan Iuran (PBI) adalah orang yang tidak tergolong fakir
miskin dan orang tidak mampu yang terdiri dari:
a. Pekerja Penerima Upah dan anggota keluarganya yaitu:
1) Pegawai Negeri Sipil;
2) Anggota TNI;
3) Anggota Polri;
4) Pejabat Negara;
5) Pegawai Pemerintah Non Pegawai Negeri;
6) Pegawai Swasta; dan
7) Pekerja yang tidak termasuk angka (1) sampai angka (6) yang menerima Upah.
b. Pekerja Bukan Penerima Upah dan anggota keluarganya yaitu:
1) Pekerja di luar hubungan kerja atau Pekerja mandiri;
2) Pekerja yang tidak termasuk angka (1) yang bukan penerima Upah;
3) Pekerja sebagaimana dimaksud angka (1) dan angka (2), termasuk warga Negara
Asing yang bekerja di Indonesia paling singkat enam bulan.

vi

c. Bukan Pekerja dan anggota keluarganya terdiri dari:


1) Investor;
2) Pemberi Kerja;
3) Penerima Pensiun;
4) Veteran;
5) Perintis Kemerdekaan; dan
6) Bukan Pekerja yang tidak termasuk angka (1) sampai dengan angka (5) yang
mampu membayar Iuran.
d. Penerima pensiun terdiri dari:
1) Pegawai Negeri Sipil yang berhenti dengan hak pensiun;
2) Anggota TNI dan anggota Polri yang berhenti dengan hak pensiun;
3) Pejabat Negara yang berhenti dengan hak pensiun;
4) Penerima Pensiunan selain angka (1), (2) dan (3); dan
5) Janda, duda atau anak yatim piatu dari penerima pensiun sebagaimana dimaksud
pada angka (1) sampai dengan angka (4) yang mendapat hak pensiun.
2.3 Manfaat Jaminan Kesehatan Nasional
Manfaat Jaminan Kesehatan Nasional terdiri atas dua jenis yaitu manfaat medis
berupa pelayanan kesehatan dan manfaat non medis meliputi akomodasi dan ambulans.
Ambulans hanya diberikan untuk pasien rujukan dari fasilitas kesehatan dengan kondisi
tertentu yang ditetapkan oleh BPJS Kesehatan.
Manfaat Jaminan Kesehatan Nasional mencakup pelayanan promotif, preventif,
kuratif dan rehabilitatif termasuk pelayanan obat dan bahan medis habis pakai sesuai
dengan kebutuhan medis.
Manfaat pelayanan promotif dan preventif meliputi pemberian pelayanan:
1. Penyuluhan kesehatan perorangan
Penyuluhan mengenai pengelolaan faktor risiko penyakit dan perilaku hidup bersih dan
sehat.
2. Imunisasi dasar
Imunisasi yang meliputi Baccile Calmett Guerin (BCG), Difteri Pertussis Tetanus dan
Hepatitis (DPTHB), polio dan campak
3. Keluarga berencana
Pelayanan yang meliputi konseling, kontrasepsi dasar, vasektomi dan tubektomi
bekerja sama dengan lembaga yang membidangi keluarga berencana. Vaksin untuk
vii

imunisasi dasar dan alat kontrasepsi dasar disediakan oleh pemerintah dan/atau pemerintah
daerah
4. Skrining kesehatan
Diberikan secara selektif yang ditujukan untuk mendeteksi risiko penyakit dan
mencegah dampak lanjutan dari risiko penyakit tertentu. Namun ada manfaat yang tidak
dijamin dalam JKN yaitu pelayanan di luar fasilitas kesehatan yang bekerja sama dengan
BPJS Kesehatan, pelayanan yang bertujuan kosmetik, tidak sesuai dengan prosedur,
general check up, pengobatan alternatif, pengobatan untuk mendapatkan keturunan,
pengobatan impotensi, pasien bunuh diri dan narkoba.
2.4 Definisi Sistem Informasi Kesehatan
Sistem informasi kesehatan adalah suatu sistem terintegrasi yang mampu
mengelola data dan informasi publik (pemerintah, masyarakat dan swasta) di seluruh
tingkat pemerintahan secara sistematis untuk mendukung pembangunan kesehatan.
Kebutuhan akan data dan informasi disediakan melalui penyelenggaraan sistem informasi
kesehatan yaitu dengan cara pengumpulan, pengolahan, analisis data serta penyajian
informasi. Sistem informasi yang harus dikembangkan untuk mendukung manajemen
kesehatan, maka setiap penyelenggara sistem kesehatan harus memiliki sistem informasi.
Menurut WHO sistem Informasi kesehatan adalah sebuah sistem yang berintegrasi
dalam pengumpulan data, pelaporan dan digunakan untuk memberikan informasi untuk
memperbaiki pelayanan kesehatan yang efektif dan efisien melalui manajemen yang lebih
baik pada semua level pelayanan kesehatan. Di Indonesia Departemen Kesehatan
mengembangkan Sistem Informasi Kesehatan Nasional (SIKNAS) yang merupakan sistem
pencatatan dan pelaporan terpadu puskesmas yang dibangun dari jaringan sistem informasi
kesehatan provinsi yang didalamnya juga dibangun dari jaringan sistem informasi
kesehatan Kabupaten/Kota. Sistem-sistem informasi kesehatan diantaranya ada sistem
informasi puskesmas, sistem informasi Rumah Sakit, sistem informasi Surveilens Terpadu,
sistem kewaspadaan Pangan dan Gizi, sistem informasi obat, sistem informasi SDM
Kesehatan yang mencakup Sistem informasi kepegawaian Kesehatan, Tenaga Kesehatan,
Pendidikan Tenaga Kesehatan, Diklat Kesehatan, serta IPTEK Kesehatan/jaringan Litbang
Kesehatan.
2.5 Dasar Hukum Sistem Informasi Kesehatan
Di Indonesia telah ada susunan undang undang yang menjelaskan tentang informasi
yaitu Menurut UUD 1945, Pasal 28; Setiap orang berhak untuk berkomunikasi dan
viii

memperoleh informasi untuk mengembangkan pribadi dan lingkungan sosialnya, serta


berhak untuk mencari, memperoleh, memiliki, menyimpan, mengolah dan menyampaikan
informasi dengan menggunakan segala jenis saluran yang tersedia. Peraturan Sistem
Informasi Kesehatan di Indonesia diatur Menurut Keputusan Menteri Kesehatan dalam
undang undang nomor 36 tahun 2009 tentang kesehatan disebutkan bahwa untuk
menyelenggarakan upaya kesehatan yang efektif dan efisien diperlukan informasi
kesehatan yang dilakukan melalui sistem informasi dan melalui lintas sektor. Di dalam
undang undang ini dinyatakan pula bahwa ketentuan lebih lanjut mengenai Sistem
informasi kesehatan diatur dengan peraturan pemerintah.
Dasar hukum pengembangan sistem informasi kesehatan di Indonesia:
1. Kepmenkes Nomor 004/Menkes/SK/I/2003 tentang kebijakan dan strategi
desentralisasi bidang kesehatan
Desentralisasi pelayanan publik merupakan salah satu langkah strategis
yang cukup populer dianut oleh negara-negara di Eropa Timur dalam rangka
mendukung terciptanya good governance. Salah satu motivasi utama diterapkannya
kebijaksanaan ini adalah bahwa pemerintahan dengan sistem perencanaan yang
sentralistik seperti yang telah dianut sebelumnya terbukti tidak mampu mendorong
terciptanya suasana yang kondusif bagi partisipasi aktif masyarakat dalam
melakukan pembangunan. Tumbuhnya kesadaran akan berbagai kelemahan dan
hambatan yang dihadapi dalam kaitannya dengan struktur pemerintahan yang
sentralistik telah mendorong dipromosikannya pelaksanaan strategi desentralisasi.
2. Kepmenkes RI Nomor 511 tahun 2002 tentang Kebijakan Strategi Pengembangan
Sistim Informasi Kesehatan Nasional (SIKNAS) dan Kepmenkes Nomor
932/Menkes/SK/VIII/2002 tentang petunjuk pelaksanaan pengembangan sistem
laporan informasi kesehatan kabupaten/kota
3. Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 837 tahun 2007 tentang Pengembangan
Jaringan Komputer Online Sistem Informasi Kesehatan Nasional
Ketiga Keputusan Menteri Kesehatan tersebut dikembangkan menjadi berbagai
strategi, yaitu:
a. Integrasi dan simplifikasi pencatatan dan pelaporan yang ada
b. Penetapan dan pelaksanaan sistim pencatatan dan pelaporan
c. Fasilitasi pengembangan sistim-sistim informasi kesehatan daerah
d. Pengembangan teknologi dan sumber daya
ix

e. Pengembangan pelayanan data dan informasi untuk manajemen dan pengambilan


keputusan
f. Pengembangan pelayanan data dan informasi untuk masyarakat
Berdasarkan keputusan tersebut, direncanakan beberapa indikator pencapaian setiap
tahunnya, yaitu:
1. Terselenggaranya jaringan komunikasi data integrasi antara 80% dinas kesehatan
kabupaten/kota, dan 100% dinas kesehatan provinsi dengan Kementerian
Kesehatan
2. Terselenggaranya jaringan komunikasi data online terintegrasi antara 90% dinas
kesehatan kabupaten/kota, 100% dinas kesehatan provinsi, 100% rumah sakit pusat,
100% Unit Pelaksana Teknis Pusat dengan Kementerian Kesehatan
3. Terselenggaranya jaringan komunikasi data online terintegrasi antara seluruh dinas
kesehatan kabupaten/kota, dinas kesehatan provinsi, Rumah Sakit dan UPT Pusat
dengan Kementerian Kesehatan
Dari beberapa hal tersebut, maka pemerintah berupaya mengembangkan sistim
informasi kesehatan yang sesuai dengan keunikan dan karakteristiknya. Pengembangan
sistim informasi kesehatan daerah melalui perangkat lunak atau website, seperti: SIMPUS,
SIMRS, dan SIKDA.
2.6 Sistem Informasi Kesehatan Nasional
Sistem Informasi Kesehatan Nasional (SIKNAS) adalah sistem informasi
yang berhubungan dengan sistem-sistem informasi lain baik secara nasional maupun
internasional dalam rangka kerjasama yang saling menguntungkan. SIKNAS bukanlah
suatu sistem yang berdiri sendiri, melainkan merupakan bagian dari sistem kesehatan.
Oleh karena itu, SIK di tingkat pusat merupakan bagian dari sistem kesehatan nasional, di
tingkat provinsi merupakan bagian dari sistem kesehatan provinsi, dan di tingkat kabupaten
atau kota merupakan bagian dari sistem kesehatan kabupaten atau kota. SIKNAS dibangun
dari himpunan atau jaringan sistem-sistem informasi kesehtan provinsi dan sistem
informasi kesehatan provinsi di bangun dari himpunan atau jaringan sistem-sistem
informasi kesehatan kabupaten atau kota.
Jaringan SIKNAS adalah sebuah koneksi/jaringan virtual sistem informasi
kesehatan elektronik yang dikelola oleh Kementrian Kesehatan dan hanya bisa diakses bila
telah dihubungkan. Jaringan SIKNAS merupakan infrastruktur jaringan komunikasi data

terintegrasi dengan menggunakan Wide Area Network (WAN), jaringan telekomunikasi


yang mencakup area yang luas serta digunakan untuk mengirim data jarak jauh
antara Local Area Network (LAN) yang berbeda, dan arsitektur jaringan lokal komputer
lainnya.

Pengembangan jaringan komputer (SIKNAS) online ditetapkan melalui

keputusan Menteri Kesehatan No. 837 Tahun 2007. Dengan Tujuan pengembangan
SIKNAS online adalah untuk menjembatani permasalahan kekurangan data dari
Kabupaten/Kota ke Depkes pusat dan memungkinkan aliran data kesehatan dari
Kabupaten/Kota ke Pusdatin karena dampak adanya kebijakan desentralisasi bidang
kesehatan di seluruh Indonesia.
Di Indonesia pengelolaan SIK terbagi menjadi tiga model diantaranya pengelolaan
SIK secara manual yang dalam sistem pencatatnnya masih paper-based, pengelolaan SIK
komputerisasi Offline sistem pengelola sudah memakai computer namun masih belum ada
jaringan internet, dan pengelolaan SIK komputerisasi Online yang sudah memakai
Komputer dan jaringan online.
Sistem informasi yang telah dilaksanakan adalah pengumpulan data berasal dari
pelayanan kesehatan dari primer sampai tersier. Kemudian data tersebut dikumpulkan ke
Departemen Kesehatan Kabupaten/Kota setempat. Jenis data yang dikumpulkan berbedabeda ada yang berbentuk hard file atau soft file. Setelah itu Dinkes kabupaten/Kota
mengumpulkan data ke Dinas Provinsi yang akhirnya akan dikumpulkan pada Kementrian
Kesehatan untuk diolah yang hasilnya akan menjadi evidence-based bagi pemerintah
dalam membuat rencana program kesehatan dan sebagainya.
Menurut Roadmap SIK 2011-2014 kebutuhan data/informasi yang akurat makin
meningkat namun ternyata sistem informasi saat ini masih belum dapat menghasilkan data
yang akurat, lengkap dan tepat waktu. Berbagai masalah masih dihadapi dalam
penyelenggaraan SIK diantaranya adalah belum adanya persepsi yang sama antara
penyelenggara kesehatan terutama penyelenggara SIK terhadap SIK. Penyelenggaraan SIK
masih belum dilakukan secara efisien, terjadi redundant data, dan duplikasi kegiatan.
Kualitas data yang dikumpulkan masih rendah bahkan ada data yang tidak sesuai dengan
kebutuhan ketepatan waktu laporan juga masih rendah, sistem umpan balik tidak berjalan
optimal, pemanfaatan data/informasi di tingkat daerah untuk advokasi, perencanaan
program, monitoring dan manajemen masih rendah serta tidak efisien nya penggunaan
sumber daya dan bahkan kurang sumber daya yang ada sehingga menghasilkan data yang
tidak valid dan reliable serta berbeda jenis data pada setiap daerah.
Ada beberapa daerah yang mempunyai sistem informasi kesehatan sendiri sehingga
berbeda jenis data dan banyaknya duplikasi kerja dalam pencatatan dan pelaporan yang
xi

dilakukan oleh petugas di lapangan. Hal ini mulai terjadi sejak pada tahun 2004
diterapkannya sistem desentralisasi sehingga tiap daerah menganggarkan biaya untuk
pengembangan SIK namun mereka tidak mempunyai pedoman yang satu sehingga data
yang dihasilkan berbeda-beda. Pada tahun 2010 Dinas Kesehatan Provinsi harus
melaporkan secara rutin 301 tipe laporan dan memakai 8 jenis SIK (Aplikasi software)
yang berbeda (Pedoman SIK).

xii

BAB 3 : PEMBAHASAN

(Kebijakan Sistem Informasi dalam Era Jaminan Kesehatan Nasional (JKN))


3.1 Sistim informasi Manajemen Berbasis Online
Sistem informasi kesehatan yang mendukung berjalannya JKN yaitu sistem
informasi manajemen operasional BPJS. BPJS bekerjasama dengan Telkom untuk
penyediaan sistem informasi manajemen telah disiapkan sistem untuk pendaftaran,
pendataan peserta, pengumpulan iuran yang berbasis online. Program Indonesia Digital
Network yang diterapkan pada tahun 2013 mendukung jalur komunikasi data kesehatan di
Indonesia. Jaringan serat optic sepanjang 75 ribu KM yang tersebar di seluruh Indonesia
selama rentang waktu 2013-2018. Untuk penerapan JKN 2014 jaringan akan
disinkronisasikan. Terdapat empat komponen SIM BPJS diantarnya sistem aplikasi,
infrastruktur dan jaringan komunikasi data, manajemen database serta operasional/ Sumber
Daya Manusia. Sampai saat ini sistem informasi yang dijelaskan sampai tahap tersebut.
sistem informasi manajemen akan menggunakan e-health baik operasional BPJS dan
penyedia layanan kesehatan.
3.2 Integrasi Sistem Informasi Klaim dan Mutu dalam Program JKN dengan
Peluncuran Sistem INASIS
INA-CBG merupakan sebuah singkatan dari Indonesia Case Base Groups yaitu
sebuah aplikasi yang digunakan rumah sakit untuk mengajukan klaim pada pemerintah.
INA-CBG merupakan sistem pembayaran dengan sistem "paket", berdasarkan penyakit
yang diderita pasien. Arti dari Case Base Groups (CBG) itu sendiri, adalah cara
pembayaran perawatan pasien berdasarkan diagnosis-diagnosis atau kasus-kasus yang
relatif sama. Rumah Sakit akan mendapatkan pembayaran berdasarkan rata-rata biaya yang
dihabiskan oleh untuk suatu kelompok diagnosis.
Sistem yang diberi nama Indonesia Case Base Groups-Surat Eligibilitas Peserta
Integrated System (Inasis) itu akan mempercepat proses verifikasi klaim rumah sakit atas
biaya kesehatan peserta Jaminan Kesehatan Nasional. Sistem ini memungkinkan verifikasi
data peserta Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Kesehatan dapat dilakukan melalui satu
pintu sehingga pelayanan menjadi lebih cepat. Inasis mengintegrasikan Surat Eligibilitas
Peserta (SEP), Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit (SIMRS), INA-CBGs, dan
verifikasi klaim.
xiii

Sistem Inasis memiliki keunggulan dan manfaat, di antaranya mempercepat proses


pendaftaran pasien di rumah sakit, dan mempercepat proses klaim rumah sakit. Dengan
Inasis, rumah sakit dapat mengajukan klaim biaya kesehatan peserta JKN secara daring (Eclaim) tanpa harus mentransfer berkas pengajuan. Dengan sistem ini kita tidak perlu
menggunakan beberapa program untuk melakukan proses SEP, diagnosis berdasarkan INA
CBG, serta verifikasi data peserta, semua hanya melalui program BPJS Kesehatan INASIS
dan yang paling penting doble klaim tidak akan terjadi dengan adanya integrasi SIM RS
pada aplikasi INASIS.
INASIS telah dilengkapi fiture E-Claim sehingga pihak RS dapat mengajukan
klaim tanpa harus melakukan transfer data. Semua tagihan bisa kita pantau statusnya
secara real time (layak atau tidak / pending claim), sampai klaim dibayarkan oleh BPJS
kesehatan.
Pelayanan kesehatan di era Jaminan kesehatan nasional di tingkat primer, peserta
mendapatkan pelayanan kesehatan kemudian pulang, pola pembayaran dengan sistem
kapitasi yang disertai bukti. Untuk layanan yang sifatnya fee for service disertai bukti.
Sementara di tingkat rujukan, pasien membawa surat rujukan yang kemudian mendapatkan
pelayanan kesehatan sesuai algoritma yang berlaku berdasarkan INA-CBG.
Dari sistem informasi INA-CBG, dapat diketahui kurang lebih empat puluh
variabel

yang

dapat

dikelompokkan

menjadi

Provider:

karakteristik,

individu:

demografis,individu: klinis, Provider: biaya, Pelayanan: efisiensi, Pelayanan: continuity of


care. Dengan sistem informasi ini klaim dapat digunakan untuk menilai mutu.
Langkah awal yang sangat baik adalah integrasi sistem informasi INA-CBGs
dengan sistem informasi RS sehingga dapat lebih efisien. Di samping itu, integrasi akan
memudahkan kita karena tidak diperlukan entry ulang. Hal ini juga memudahkan RS untuk
menambahkan data-data lainnya terutama terkait data klinis. Integrasi ini nantinya dapat
melengkapi database dan perbaikan akurasi data yang kemudian bisa dimanfaatkan untuk
merumuskan indikator mutu pelayanan kesehatan.
3.3 Bridging System
Dalam pelaksanaan BPJS kesehatan memang kerap kali masih ditemui beragam
permasalahan. Salah satu permasalahan yang cukup krusial adalah membludaknya pasien.
Hal ini memang menjadi salah satu permasalahan serius pada pusat pelayanan kesehatan.
Membludaknya pasien BPJS ini mengakibatkan timbulnya antrian yang cukup panjang
sehingga terkesan pelayanan pasien BPJS lambat. Banyak pasien peserta BPJS
xiv

mengeluhkan mengenai antrian panjang saat berobat pada rumah sakit yang bekerja sama
dengan BPJS.
Disisi rumah sakit, antrian panjang yang timbul karena membludaknya pasien ini
juga menjadi permasalahan tersendiri. Tenaga medis yang tersedia kadang menjadi
kewalahan untuk dapat melayani dengan cepat semua pasien BPJS tersebut. Sistem yang
tersedia dalam pelayanan BPJS memang menjadi penyebab utama timbulnya antrian
panjang tersebut. Dalam melakukan olah data, petugas medis masih melakukan input
manual data-data pasien BPJS. Input manual pada system komputerisasi BPJS ini
memerlukan waktu lama untuk tiap pasien dimana rata rata membutuhkan waktu 5
menit/pasien.
Lambatnya proses administrasi ini tentu berdampak pada terlambatnya proses
pelayanan kepada pasien. Input manual cenderung akan terjadi banyak kesalahan dan tidak
validnya data. Apalagi data tersebut harus melewati proses verifikasi yang berbeda dan
waktu yang cukup lama. Selain kerugian pada pasien juga berimbas pada rumah sakit
dimana klaim tagihan menjadi lambat yang akibatnya pemasukan bagi rumah sakit
tersendat.
Perlu ada Bridging system BPJS
Salah satu cara menanggulangi lambatnya proses administrasi pasien BPJS adalah
dengan melakukan bridging system segera. Bridging system adalah menyelaraskan dua
system yang berbeda tanpa adanya intervensi dari masing masing system satu sama lain.
Jadi perlu adanya penyatuan sistem komputerisai BPJS dengan Sistem komputerisasi pihak
rumah sakit. Perubahan sistem komputerisasi tersebut harus meliputi sistem administrasi
mulai dari pendaftaran (registrasi), proses pelayanan (rekam medik elektronik), proses
klaim dan pembiayaan. Dengan adanya bridging system tersebut mampu menekan waktu
administrasi pasien menjadi 1 menit saja per pasien BPJS.

xv

Setelah menelorkan program bridging system atau penyatuan sistem IT antara BPJS
Kesehatan, dengan rumah sakit, lembaganya kembali meluncurkan finger print yang
dimaksudkan untuk mempermudah proses pendaftaran di rumah sakit. Peresmiannnya,
dilakukan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, sebelum digantikan dengan Presiden
Jokowi- JK. Harapannya, penggunaan teknologi dalam implementasi BPJS Kesehatan, bisa
mencapai kecepatan untuk pelayanan lebih baik (better), harus makin murah (cheap) dalam
arti terjangkau, mudah (easy) dan cepat (fast).
Selanjutnya, Dadang menjelaskan, finger print ini akan memudahkan masyarakan
dan memotong antrean pendaftaran di rumah sakit hingga 2,5 jam. "Dengan adanya finger
print ini, peserta datang ke RS tidak perlu bawa kartu. Jadi lebih hemat (tidak perlu cetak
kartu) dan peserta eligible atau menghindari pemalsuan data atau kartu.

xvi

3.4 Sistem Rujukan Berjenjang


3.4.1 Definisi
Sistem Rujukan pelayanan kesehatan adalah penyelenggaraan pelayanan kesehatan
yang mengatur pelimpahan tugas dan tanggung jawab pelayanan kesehatan secara timbal
balik baik vertikal maupun horizontal yang wajib dilaksanakan oleh peserta jaminan
kesehatan atau asuransi kesehatan sosial, dan seluruh fasilitas kesehatan.

3.4.2 Tata Cara Sistem Rujukan Berjenjang


1. Sistem rujukan pelayanan kesehatan dilaksanakan secara berjenjang sesuai kebutuhan
medis, yaitu:
a. Dimulai dari pelayanan kesehatan tingkat pertama oleh fasilitas kesehatan tingkat
pertama

xvii

b. Jika diperlukan pelayanan lanjutan oleh spesialis, maka pasien dapat dirujuk ke
fasilitas kesehatan tingkat kedua
c. Pelayanan kesehatan tingkat kedua di faskes sekunder hanya dapat diberikan atas
rujukan dari faskes primer.
d. Pelayanan kesehatan tingkat ketiga di faskes tersier hanya dapat diberikan atas
rujukan dari faskes sekunder dan faskes primer.
2. Pelayanan kesehatan di faskes primer yang dapat dirujuk langsung ke faskes tersier
hanya untuk kasus yang sudah ditegakkan diagnosis dan rencana terapinya, merupakan
pelayanan berulang dan hanya tersedia di faskes tersier.
3. Ketentuan pelayanan rujukan berjenjang dapat dikecualikan dalam kondisi:
a. terjadi keadaan gawat darurat;
Kondisi kegawatdaruratan mengikuti ketentuan yang berlaku
b. bencana;
Kriteria bencana ditetapkan oleh Pemerintah Pusat dan atau Pemerintah Daerah
c. kekhususan permasalahan kesehatan pasien;
untuk kasus yang sudah ditegakkan rencana terapinya dan terapi tersebut hanya dapat
dilakukan di fasilitas kesehatan lanjutan
d. pertimbangan geografis; dan
e. pertimbangan ketersediaan fasilitas
4. Pelayanan oleh bidan dan perawat
a. Dalam keadaan tertentu, bidan atau perawat dapat memberikan pelayanan kesehatan
tingkat pertama sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.
b. Bidan dan perawat hanya dapat melakukan rujukan ke dokter dan/atau dokter gigi
pemberi pelayanan kesehatan tingkat pertama kecuali dalam kondisi gawat darurat
dan kekhususan permasalahan kesehatan pasien, yaitu kondisi di luar kompetensi
dokter dan/atau dokter gigi pemberi pelayanan kesehatan tingkat pertama
5. Rujukan Parsial
a. Rujukan parsial adalah pengiriman pasien atau spesimen ke pemberi pelayanan
kesehatan lain dalam rangka menegakkan diagnosis atau pemberian terapi, yang
merupakan satu rangkaian perawatan pasien di Faskes tersebut.
b. Rujukan parsial dapat berupa:
1) pengiriman pasien untuk dilakukan pemeriksaan penunjang atau tindakan
2) pengiriman spesimen untuk pemeriksaan penunjang
xviii

c. Apabila pasien tersebut adalah pasien rujukan parsial, maka penjaminan pasien
dilakukan oleh fasilitas kesehatan perujuk

xix

BAB 4 : PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Terdapat beberapa kebijakan sistim informasi dalam era jaminan kesehatan nasional (JKN)
yaitu:
a. Sistim informasi Manajemen Berbasis Online
Sistem Informasi Manjemen Berbasis Online merupakan hasil kerjasama dengan
Telkom untuk penyediaan sistem informasi manajemen telah disiapkan sistem
untuk pendaftaran, pendataan peserta, pengumpulan iuran yang berbasis online.
b. Integrasi Sistem Informasi Klaim dan Mutu dalam Program JKN Dengan
Peluncuran Sistim INASIS
INASIS merupakan sebuah aplikasi yang digunakan rumah sakit untuk mengajukan
klaim pada pemerintah. INA-CBG merupakan sistem pembayaran dengan sistem
"paket", berdasarkan penyakit yang diderita pasien.
c. Bridging Sistem
Bridging system adalah menyelaraskan dua system yang berbeda tanpa adanya
intervensi dari masing masing system satu sama lain. Jadi perlu adanya penyatuan
sistem komputerisai BPJS dengan Sistem komputerisasi pihak rumah sakit.
d. Sistem Rujukan Berjenjang
4.2 Saran
a. Dengan adanya pembaharuan dalam sistem informasi kesehatan di Era JKN maka
sangat diharapkan proses pelayanan kesehatan kepada pasien dapat mengalami
peningkatan dengan pelayanan yang efektivitas dan efisien.
b. Diharapkan pemerintah terus membuat pengembangan sistem informasi kesehatan
untuk menunjang pelayanan kesehatan.

xx

DAFTAR PUSTAKA
1.

Armiatin. 2014. Rancang Bangun Sistem Informasi Rumah Sakit di Era Implementasi
Jaminan Kesehatan Nasional .

2.

Info BPJS Kesehatan. 2014. Bridging System Perpendek Antrean Pelayanan. Jakarta :
BPJS Kesehatan

3.

Meiynana. 2011. Sistem Informasi Kesehatan dalam Menyongsong Jaminan


Kesehatan Nasional 2014.

4.

Ramadhan, Aditya. 2015. Aplikasi Inasis untuk Jaminan Kesehatan Nasional


Diluncurkan.

5.

BPJS Kesehatan. 2014. Panduan Praktis Sistem Rujukan Berjenjang.

6.

Inggarputri. 2009. Thesis: Evaluasi Penerapan SIMPUS berbasis komputer dengan


metode PIECES di Puskesmas Wilayah Kabupaten Blora. Universitas Diponogoro,
Semarang.

7.

Kepmenkes RI. 2002. Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 511 tahun 2002
tentang Kebijakan dan Strategi Pengembangan Sistem Informasi Kesehatan Nasional
(SIKNAS).

8.

Kemenkes RI. 2002. Rencana Strategis Kementerian Kesehatan RI Tahun 2009


2014.

9.

Kemenkes RI. 2004. Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 128 tahun 2004 tentang
Kebijakan Dasar Pusat Kesehatan Masyarakat.

10. Kepmenkes RI. 2009. Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 837 tahun 2007
tentang Pengembangan Jaringan Komputer Online Sistem Informasi Kesehatan
Nasional.

xxi