Anda di halaman 1dari 13

Laporan Praktikum Hari/Tanggal : Kamis/22 April 2010

M. K. Analisis Meteorologi Asisten : Yunus Bahar


Tia Erfianti (G24060747)

ANALISIS DATA RAWINSONDE


DENGAN APLIKASI RAOB 5.7

Disusun oleh:
Andi Syahid Muttaqin (G24070010)
Sigit Deni Sasmito (G24070029)
Loris Panahatan S. (G24070046)
Arif Baswantara (C54080027)

DEPARTEMEN GEOFISIKA DAN METEOROLOGI


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2010
I. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Dalam bidang penerbangan, akhir-akhir ini frekuensi kecelakaan cukup
sering terjadi. Kejadian tersebut terjadi disebabkan oleh kondisi cuaca yang tidak
mendukung dan kondisi pesawat (badan pesawat) itu sendiri. Hal ini
mengakibatkan jatuhnya korban jiwa dan kerugian dalam hal finansial bagi
armada pesawat terbang tersebut. Oleh karena itu, diperlukan suatu teknologi
untuk memperoleh informasi mengenai kondisi atmosfer dan peningkatan kualitas
pada industri perakitan pesawat terbang yang dapat memproduksi mesin dan
badan pesawat yang baik dan berkualitas.
Informasi mengenai kondisi atmosfer di atas permukaan bumi dapat diamati
dengan berbagai cara dan menggunakan berbagai metode. Salah satunya dengan
menggunakan metode Radiosonde. Radiosonde merupakan salah satu alat
berteknologi tinggi yang sangat berguna untuk bidang penerbangan
(aeronautical). Dilengkapi dengan sistem elektronik dan sensor, radiosonde dapat
memberikan informasi mengenai profil vertikal atmosfer. Radiosonde diluncurkan
dengan menggunakan balon udara ke atmosfer dan data hasil pengukuran tersebut
dapat diterima oleh stasiun pengamatan di permukaan bumi.
Informasi seperti inilah yang dikumpulkan oleh stasiun meteorologi
terutama di bandara dan di beberapa tempat yang membutuhkan data dinamika
atmosfer secara vertikal. Analisis kondisi atmosfer seperti pertumbuhan awan,
stabilitas atmosfer, suhu udara, kecepatan dan arah angin dapat digunakan untuk
memperkirakan layak tidaknya pesawat tersebut dioperasikan. Selain itu, dapat
juga dilakukan forecasting yang sangat berguna untuk waktu berikutnya. Adanya
teknologi tersebut diharapkan mampu meminimalisir kecelakan dan segala
sesuatu yang tidak diinginkan dalam dunia penerbangan.
1.2. Tujuan
1. Praktikan dapat menyiapkan data sounding sebagai masukkan (input)
pada software RAOB.
2. Praktikan dapat menganalisis data sounding menggunakan software
RAOB.
II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Radiosande
Radiosonde pertama kali diluncurkan pada tahun 1930 oleh Pavel A.
Molchanov dari Rusia. Sebelumnya bernama Radio Meteorograf, namun sekarang
disebut radiosonde pemberian H. Hergesell. Radiosonde digunakan mulai tahun
1936 oleh US Weather Bureau. Radiosonde digunakan untuk menggantikan
pengamatan sounding yang sebelumnya memanfaatkan layang-layang dan
pesawat terbang.
Radiosonde digunakan untuk mengukur profil vertikal atmosfer mulai dari
lapisan troposfer sampai dengan stratosfer hingga ketinggian 20 km. Keuntungan
radiosonde diantaranya dapat mengukur profil vertikal dari variabel-variabel
atmosfer sekaligus dalam sekali peluncuran dan langsung mengirimkan hasil
pengukuran melalui gelombang radio ke stasiun meteorologi di permukaan bumi.
Sistem pengolahan data mencakup pengolahan profil vertikal atmosfer pada real
time, mengukur ketinggian balon, dan mengukur kecepatan serta arah angin
berdasarkan sistem informasi data posisi balon saat diluncurkan.

Gambar 1. Radiosonde
(Sumber : www.pagasa.dost.gov.ph)

Peluncuran radiosonde harus memperhatikan keakuratan dari pengukuran


variabel-variabe atmosfer sehingga dapat menghasilkan baseline value yang dapat
diolah oleh komputer. Umumnya radiosonde diluncurkan sebanyak dua kali sehari
yaitu pada 00 UTC dan 12 UTC. Helium merupakan gas yang biasa digunakan
untuk menerbangkan balon udara. Ketinggian maksimum yang dicapai balon
tergantung ukuran balon dan berat instrument package yang dibawa balon udara
(Wardani, 2008).
Pengamatan dengan radiosonde akan diperoleh data yang menunjukan
parameter atmosfer, yaitu data mulai dari peluncuran hingga balon pecah atau
selama radiosonde bergerak ke atas. Pengukuran tekanan digunakan barometer
aneroid sehingga diperoleh ketinggian tempat. Sementara itu untuk pengukuran
suhu digunakan termistor yang berupa semikonduktor dengan koefisien suhu
negatif yang besar. Kelembaban udara dapat diukur dengan hidrometer tahanan,
dimana alat ini bekerja sesuai banyaknya lengas suatu bahan yang akan
mempengaruhi sifat listriknya. Jika radiosonde dilengkapi dengan reflektor
gelombang radio dan gelombang mikro sehingga posisinya dapat diikuti oleh
theodolit radio maka dapat diturunkan data arah dan kecepatan angin pada
beberapa ketinggian (Prawirowardoyo, 1996).
2.2 Data NOAA
Meteorologi dapat diketahui manfaatnya ketika data hasil pengamatan dapat
dimanfaatkan untuk menduga atau predeksi cuaca. Prediksi data cuaca dilakukan
dengan menganalisis data yang ada. Sebelum dilakukan analisis data dapat
diperoleh dengan satelit. Salah satu satelit yang digunakan ialah satelit NOAA
AVHRR. Satelit NOAA (National Oceanic and Atmosphere Administration)
merupakan satelit yang dirancang untuk pengamatan meteorologi yang beroperasi
pada orbit polar pada ketinggian 833 – 870 Km. Satelit NOAA memiliki lima
instrumen utama yang salah satunya adalah AVHRR (advance Very High
resolution Radiometer). Instrumen AVHRR ini memiliki fungsi untuk mendeteksi
gelombang elektromagnetik atmosfer. Resolusi yang dimiliki oleh AVHRR
sebesar 1.1 Km pada titik nadirnya dengan liputan sebesar 2600 Km. AVHRR
juga memiliki lima buah kanal yang masing – masing memiliki karakteristik
untuk panjang gelombang.
Tabel 1. Karakteristik Data NOAA
Nomor Kanal Panjang Gelombang Kisaran Spektrum
1 0.58 – 0.68 Tampak
2 0.73 – 1.10 Inframerah dekat
3 3.53 - 3.93 Inframerah menengah
4 10.30 - 11.30 Inframerah Jauh
5 11.50 - 12.50 Inframerah Jauh

Secara umum data AVHRR dapat diterapkan untuk analisis parameter –


parameter di bidang hidrologi, oceanologi dan meteorologi. Secara khusus untuk
masing – masing kanal dapat diberikan gambaran fungsinya. Data yang telah
diperoleh dari satelit NOAA kemudian dapat diolah dalam beberapa software
seperi RAOB. Rawinsonde Observation program (RAOB) merupakan program
aplikasi yang berasal dari salah satu produk ERS (Environmental Research
Service) yang digunakan untuk membaca data dari radiosonde yang telah diolah
dan diubah formatnya dengan cara menampilkan aerogram secara otomatis tanpa
harus memplotkan satu – satu secara manual serta menganalisis kondisi atmosfer.
Program ini mampu menampilkan puluhan indeks atmosfer, menganalisis
sounding serta membuat diagram Sounding. Data dari program ini memberikan
informasi seperti RH, Suhu, arah dan Kecepatan angin, ketinggian awan, tekanan,
dan berbagai informasi penting lainnya. Program RAOB saat ini telah digunakan
oleh 50 negara dunia termasuk Indonesia (Ndsstudios, 2008). Program
Rawinsonde Observation (RAOB) ini masih berbasis DOS dengan banyak yang
bisa dipilih oleh user. Seperti misalnya di dalam configure system user dapat
memilih jenis aerogram yang akan dipakai, berbentuk Skew – T atau emagram.
User juga dapat memilih level tekanan tertinggi, satuan suhu yang dipakai, grid
level ketinggian dan sebagainya.
2.3 Program RAOB
Program RAOB ini juga telah digunakan oleh berbagai peneliti seperti
Allen (2003), Brothers (2008) dan sebagainya. Digram yang ditampilkan ada tiga
jenis yaitu skew –T / Log –P, emagram, dan tephigram. Salah satu jenis RAOB
yakni RAOB versi 5.7 yang terkait dengan analisis kondisi atmosfer seperti tinggi
tropopause (tropopause level), LCL, CAPE, KI dan seterusnya. Berikut beberapa
penjelasan mengenai hal yang dapat dianalisis dengan penggunaan RAOB.
a. Tropopause Level atau ketinggian Tropopause
Tropopause merupakan lapisan pembatas antara troposfer atas dengan
stratosfer bawah. Lapisan ini memiliki ketinggian yang bervariasi. Lapisan
tropopause dicirikan dengan tidak adanya penurunan maupun kenaikan suhu
udara.
b. LCL (lifting Condesation Level)
LCL merupakan level parsel udara menjadi jenuh setelah mengalami
pengangkatan secara adiabatik kering. Level ini juga digunakan untuk
mengidentifikasi tinggi dasar awan. Nilai LCL sama dengan CCL
(Convective Condesation Level).
c. CAPE (Convective Available Potensial Energy)
CAPE merupakan ukuran stabilitas troposfer terhadap pergerakan vertikal
selama konveksi basah (Subarna & Setiadi 2006). Menurut NWFSO 2008
jika nilai CAPE lebih dari 1000 maka ketidakstabilan atmosfer lemah, jika
nilai CAPE antara 1000 - 2500 maka ketidakstabilan atmosfer sedang, dan
jika nilai CAPE lebih dari 2500 maka ketidakstabilan atmosfer kuat.
d. KI (K- Indeks)
KI merupakan indeks yang mengkombinasikan pendugaan kelabilan udara
atas dan penduga kelembaban (Syaifullah 1998). Haby (2006c) mengatakan
bahwa indeks ini dapat digunakan sebagai penduga konvektivitas.
III. METODOLOGI

3.1. Tempat dan Waktu Praktikum


Praktikum ini dilakukan di Laboratorium Komputer Departemen Geofosika
dan Meteorologi, FMIPA-IPB pada tanggal 22 April 2010.
3.2. Bahan dan Alat
Bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah data sounding NOAA
untuk wilayah Soekarno-Hatta dan Juanda bulan April minggu 1-3. Alat yang
digunakan adalah seperangkat komputer dengan aplikasi RAOB 5.7.
3.3. Metode Praktikum
Tahap-tahap dalam melakukan analisis data sounding rawinsonde adalah
sebagai berikut:
3.3.1. Download Data
Download data dilakukan di situs NOAA :
http://ready.arl.noaa.gov/READYamet.php
3.3.2. Langkah Kerja
1. Membuka Aplikasi RAOB 5.7
2. Klik File, pilih Open Data Sounding

3. Pilih file (data) yang akan dijalankan dalam program RAOB. Dalam hal
ini kelompok kami menggunakan Data untuk wilayah Cengkareng dan
Juanda pada bulan April (minggu satu hinga minggu ke 3).
4. Ketika RAOB dijalankan, akan muncul tampilan seperti di bawah ini,
kemudian pindahkan data yang diperlukan ke lembar kerja Ms. Excel.
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

Pengamatan udara atas cukup sulit dilakukan, sebab terdapat beberapa


kendala, seperti jarak dan kondisinya. Tidap mungkin jika seorang pengamat
terbang ke angkasa untuk mengamati kondisi udara. Kondisi udara ini meliputi
tekanan, suhu, suhu titik embun, arah dan kecepatan angin Banyak terjadi
perkembangan dalam melakukan pengamatan udara atas dalam dunia meteorologi.
Sampai sekarang pengamatan udara atas yang umumnya dilakukan sekarang
adalah melalui radiosonde atau rawinsonde.
Selain pengamatan dengan radiosonde, pengamatan udara atas juga dapat
dilakukan dengan satelit cuaca. Pada praktikum ini, data yang digunakan adalah
data sounding satelit NOAA. Berikut adalah data hasil yang didapat dari satelit
NOAA pada bulan April untuk wilayah Cengkareng dan Juanda dalam beberapa
kondisi atmosfer.
Tabel 1. Data Sounding Cengkareng dan Juanda pada Bulan April
Parameter Cengkareng bulan April Juanda bulan April
Sounding w1 w2 w3 w1 w2 w3
CCL EL (m) 14276 13577 14329 12750 12369 14146
LFC EL (m) 14309 14334 14902 14113 14320 14753
CCL (m) 1296 1256 1226 1149 1200 1244
LCL (m) 515 477 414 219 232 232
TPW (cm) 5,65 6,27 6,32 5,75 6,04 5,88
LI -2,8 -3,8 -3,3 -3,2 -3,7 -4,3
KI 32,1 35,1 36,3 36,8 36,4 37
Tc (C) 31,5 31,9 31,7 29,8 30,3 30,9
CAPE (J/kg) 930 1497 1855 1358 1726 2061
MVV (m/s) 43 55 61 52 59 64

Sebelum mengolah data sounding ke dalam software RAOB 5.7, terlebih


dahulu adalah mendownload data dari website NOAA. Hal-hal yang perlu
diperhatikan dalam melakukan download data adalah letak lintang, jenis data, dan
bentuk data. Hal tersebut perlu dilakukan agar tidak terjadi kesalahan dalam
download data sehingga bisa dimasukkan dalam software untuk diolah lebih
lanjut.
Kajian wilayah dalam praktikum ini adalah termasuk wilayah di daerah
ekuator. Pada bulan April, kondisi cuaca ekuator adalah memasuki musim
kemarau, udara cenderung kering dan kelembaban rendah. Terdapat beberapa
kondisi udara yang perlu dianalisis. Kondisi-kondisi udara tersebut terdapat pada
tabel 1 di kolom parameter sounding, meliputi LCL, CCL, TPW, LFC, dan
sebagainya.
Masing-masing kondisi atmosfer memiliki nilai sesuai dengan keadaan
atmosfernya pada saat pengamatan. Dari tabel 1 menunjukkan bahwa kondisi
udara di Cengkareng dan Juanda memilki perbedaan yang signifikan walaupun
waktu pengamatannya sama. Secara keseluruhan, kondisi atmosfer pada satu
tempat memiliki tingkat variaasi yang rendah dalam waktu tertentu.
LCL (Lifting Condensation Level) merupakan parameter sounding yang
menyatakan tinggi dasar awan. Dari tabel dapat dilihat bahwa tinggi dasar awan di
daerah Cengkareng lebih tinggi daripada di Juanda. Kondisi LFC (Level Free
Convection) yang menyatakan tinggi awal parsel saat mengalami konveksi pada
kedua daerah cenderung menunjukkan angka yang sama. Secara umum parameter
yang mempengaruhi tingkat keawanan memiliki nilai yang sama pada kedua
daerah.
KI (K-Index) merupakan nilai kecenderungan parsel untuk terjadi konveksi.
Semakin besar nilai KI maka potensi konveksinya juga semakin besar. Dari tabel
hasil sounding didapat bahwa nilai KI tidak menunjukkan peningkatan yang
signifikan. Parameter sounding yang menyatakan kestabilan atmosfer adalah LI
(Lifted Index). Semakin kecil nilai LI, maka kondisi atmosfer semakin tidak stabil.
Berdasar data tabel dapat dikatakan bahwa kondisi cuaca di wilayah Cengkareng
lebih stabil daripada Juanda.
Kecepatan parsel untuk bergerak ke atas rata-rata meningkat setiap
minggunya pada kedua stasiun pengamatan. Kecepatan parsel ini ditunjukkan oleh
nilai MVV. Nilai parameter yang lain yang bisa didapat adalah suhu konvektif.
Suhu konvektif menunjukkan suhu yang harus dicapai untuk memulai
pembentukan awan konvektif oleh pemanasan radiasi surya dari lapisan
permukaan udara. Nilai suhu konvektif di dua stasiun pengamatan cenderung
stabil.
V. KESIMPULAN DAN SARAN

5.1. Kesimpulan
Pengamatan udara atas dapat dilakukan melalui radiosonde dan satelit.
Praktikum ini menggunakan data sounding hasil satelit NOAA bulan April pada
minggu ke-1 sampai ke-3. Nilai parameter udara atas dapat diketahui dengan
menggunakan software RAOB 5.7. Nilai-nilai kondisi cuaca pada kedua stasiun
tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan dan relatif stabil.
5.2. Saran
Proses pengolahan data sounding tidak bisa dilakukan pada komputer selain
menggunakan Operating System Windows XP, maka perlu adanya software
terbaru agar semua praktikan bisa melakukan praktikum dengan lancar.
VI. DAFTAR PUSTAKA

Haby J. 2006. What is the Convective Temperature.

http://www.theweatherprediction.com/habyhints2/ [20 April 2010]

Ndsstudios. 2008. RAOB Displays and Parameters.

http://www.raob.com/display.php [20 April 2010 ].

Prawirowardoyo, Susilo. 1996. Meteorologi. Bandung : ITB.

Rohmawati, Fithriyah Yuliaiasih. 2009. Analisis Kondisi Atmosfer Pada Kejadian


banjir Menggunakan Data Rawinsonde (Studi Kasus: Kabupaten
Bojonegoro) [Skrisipsi]. Departemen geofisika dan Meteorologi : Institut
Pertanian Bogor.

Subarna D, Satiadi D. 2006. Variasi dari energi potensial konvektif (CAPE) dan
perubahan iklim di Indonesia. Prosiding Seminar Nasional perubahan Iklim
dan Lingkungan di Indonesia : LAPAN BANDUNG, 9 November 2006.
BANDUNG. LAPAN. Halaman 16- 26.

Syaifullah D. 1998. Hubungan Antara Indeks – Indeks data Rawinsonde dengan


Peluang pertumbuhan Awan dan Hujan. Jurnal IPTEK Iklim dan cuaca :
Nomor 02 : hal 37 – 41.

Wardani, Indra Kusuma. 2008. Kajian Stabilitas Atmosfer Wilayah Jakarta


berdasarkan Data Radiosonde (Studi Kasus : Data Radiosonde Stasiun
Meteorologi Bandara Internasional Soekarno Hatta Cengkareng, Jakarta
tahun 2005) [Laporan Praktikum Lapang]. Bogor : Departemen Geofisika
dan Meteorologi, IPB (tidak dipublikasikan).