Anda di halaman 1dari 9

LAPORAN AGROKLIMATOLOGI

HUJAN II

Nama : Miti Novita Sari


Npm

: E1D013050

Dosen : Prof. Dr. Ir., Priyono Prawito M.Sc


Co Ass : - Agustina L.G
-

Rudianton

LABORATORIUM ILMU TANAH


JURUSAN SOSIAL EKONOMI PERTANIAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS BENGKULU
2016

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang
Data hujan dianalisa untuk mengetahui jeluknya (rainfall depth), jujuh hujan (rainfall
duration) dan kelebatan hujan (rainfall intensity). Sifatsifat hujan tersebut penting diketahui
karena ia berperan atas terjadinya runoff (limpasan), erosi dan dapat menentukan dan
berpengaruh pada peristiwa dan kejadina alam, peristiwa biologis dan lain lain.
Pendataan hujan seperti pendataan unsurunsur iklim lainnya diperlukan untuk digunakan
dalam hampir setiap perencanaan di bidang pertanian, pembangunan jembatan, gedung dan
lain- lain. Pendataan hujan dan unsur iklim lainnya sering diperlukan untuk menunjang
penelitian yang berkenaan dengan alam terbuka.
Data yang baik dan benar merupakan suatu keharusan. Karena bila data tersebut tidak
benar, maka kemungkinan kesalahan atau kegagalan suatu kebijaksanaan atau usaha yang
bergantung kepada iklim akan besar.
Hujan harian adalah curah hujan yang diukur berdasarkan jangka waktuu satu hari (24
jam). Hujan kumulatif merupakan jumlah kumpulan hujan dalam suatu periode tertentu
seperti mingguan, 10 harian, bulanan dan tahuna. Hari hujan merupakan kejadian hujan
dengan curah hujan lebih besar atau sama dengan 0,5 mm.
Hujan jangka pendek adalah hujan yang diukur kontinyu selama waktu pendek seperti
satu jam, setengah jam, dua jam dan sebagainya. Dalam istilah umum lebih tepat disebut juga
dengan intensitas hujan. Pegukuran ini dilakukan untuk mengetahui kekuatan atau kelebatan
hujan selama kejadian hujan (Priyono, 2016).
1.2 Tujuan
1. Mengetahui cara pengolahan data hujan harian, bulanan, tahunan dan dapat membuat
grafik pola hujan suatu tempat.
2. Dapat menganalisa data hujan rekaman kontinyu dan mengerti sifat hujan dari data terseb

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
Hujan merupakan unsur fisik lingkungan yang paling beragam baik menurut waktu
maupun tempat dan hujan juga merupakan faktor penentu serta faktor pembatas bagi kegiatan
pertanian secara umum, oleh karena itu klasifikasi iklim untuk wilayah Indonesia (Asia
Tenggara umumnya) seluruhnya dikembangkan dengan menggunakan curah hujan sebagai
kriteria utama (Lakitan, 2002).
Air hujan terdiri atas : ion-ion natrium, kalium, kalsium, khlo, bikarbinat, dan sulfat
ynag merupakan jumlah yang besar bersama-sama. Ammonia, nitra, nitrit, nitrogen, dan
susunan-susunan nitrogen lain. Bagian yang kecil misalnya: iodine, bromine, boron, besi,
almunium, dan silica. Asal unsure-unsur ini adalah lautan, sungai-sungai atau danau,
permukaan tanah, vegetasi, industri, dan gunung-gunung berapi. Air hujan pH-nya berkisar
antara 3,0-9,8 (Wisnubroto, 2006).
Hari hujan merupakan kejadian hujan dengan curah huajn lebih besar atau sama dengan
0,5 mm. Hujan jangka pendek-intensitas hujan adalah Hujan yang diukur kontinyu selama
waktu pendek seperti setiap satu jam, setengah jam, dua jam, dan sebagainya. Dalam istilah
umum lebih tepat juga dengan intensitas hujan. Pengukuran ini dilakukan untuk mengetahui
kekuatan kelebatan hujan selama kejadian hujan. Cuaca ekstrim, yaitu keadaan cuaca yang
terjadi apabila:
Jumlah hari hujan yang tercatat paling banyak melebihi hingga harga rata-rata
pada bulan yang bersangkutan di stasiun tersebut
Intensitas hujan terbesar dalam 1 (satu) jam selama periode 24 jam dan intensitas
dalam 1(satu) hari selama periode satu bulan yang melebihi rata-ratanya.
Terjadi kecepatan angin di atas 45 km/jam.
Terjadi suhu adara di atas 35C atau di bawah 15C.
Terjadi kelembapan udara di bawah 40% (Supardi, 2008).
`Hujan harian adalah curah hujan yang diukur berdasarkan jangka watu satu hari (24
jam). Sedangkan hujan jangka pendek adalah hujan yang diukur kontinyu selama waktu
pendek seperti setiap satu jam, dua jam, dan sebagainya. Dalam istilah umum lebih tepat
disebut juga dengan intesitas hujan. Pendataan hujan, seperti pendataan unsur-unsur iklim
lainnya diperlukan untuk digunakan dan hampir setiap perencanaan dibidang pertanian,
pembangunan jembatan, gedung dan lain-lain. Pendataan hujan dan iklim lainnya sering
dilakukan untuk menunjangn penelitian yang berkenaan dengan alat terbuka. Disini terlihat

pula bahwa data yang baik dan benar (teliti dan diolah secara tepat) merupakan keharusan.
Karena bila data tersebut tidak benar, maka kemungkinan kesalahan atau kegagalan suatu
kebijak sanaan atau usaha yang bergantung kepada iklim akan besar. Hari hujan apabila
jumlah curah hujannya dalam sehari lebih besar atau sama dengan 0,5 mm. Derasnya hujan
atau intenitas hujan adalah jumlah curah hujan dibagi dengan periode waktu seperti jumlah
curah hujan per 5 menit, per 15 menit atau per 30 menit, data ini diperlukan untuk keperluan
perhitungan erosi tanah. Jumlah curah hujan semusim, pada musim penghujan atau musim
kemarau, diperlukan untuk keperluan air tanaman, apakah cukup untuk tanaman tertentu
(Rianto, 2011).
Kualitas dari data penting untuk diperhatikan sebelum diolah lebih lanjut. Hal ini
dapat dilihat apakah lokasi penempatan alat baik, pencatatan baik. Kualitas data kurang baik
jika diolah lebih lanjut dapat membingungkan hasil interprestasinya. Penggunaan peralatan
yang sesuai dapat memperkecil kesalahan pengukuran curah hujan.Derajat curah hujan
biasanya dinyatakan oleh jumlah curah hujan dalam suatu satuan waktu dan disebut intensitas
curah hujan. Biasanya satuan yang digunakan adalah mm/jam. Jadi intensitas curah hujan
berarti jumlah curah hujan dalam waktu relatif singkat (biasanya dalam waktu 2 jam).
Intensitas curah hujan ini dapat diperoleh atau dibaca dari kemiringan kurva yang dicatat oleh
alat ukur curah hujan otomatis (Effendi, 2009).

BAB III

METODELOGI
3.1 Data hujan harian dan bulanan
Data hujan harian/bulanan
Data hujan dari penakar otomatis
3.2 Waktu dan Tempat
Praktikum dilakukan di Laboratorium Ilmu Tanah. Data yang ada difoto dengan
kamera handphone.
3.3 Prosedur kerja
Data hujan harian/bulanan.
Salin data yang diberikan di dalam kelas.
Buat curah hujan bulanannya untuk setiap bulan setiap selama satu tahun pada suatu
tahun (sesuai yang diberikan coass).
Buat ratarata data hujan bulanan, mulai januari, febuari dan seterusnya.
Hitung hari hujan untuk setiap bulannya dan rataratakan dari sejumlah tahun data
yang ada.
Buat grafik.
Tentukan kapan kira kira musim hujan/basah mulai dan kapan terakhir.

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil pengamatan

Tabel 1. Rata-Rata Curah Hujan Pertahun


Tahun
2006
2007
2008
2009
2010
2011
2012
2013

Rata-Rata Curah Hujan


21,8
12,08
12,5
13,5
16,92
12,58
11,83
29,19

Grafik Rata-Rata Curah Hujan Pertahun

Rata-Rata Curah Hujan


30
25

Rata-Rata Curah
Hujan

20
15
10
5
0
1

Grafik Curah Hujan Tertinggi (2007)

curah hujan tertinggi


800
600
400
200
0

Grafik Curah Hujan Terendah (2013)

curah hujan
curah hujan

curah hujan terendah


800
700
600
500
400
300
200
100
0

curah hujan

4.2 Pembahasan
Pada pengamatan praktikum ini data curah hujan yang dipakai adalah pada tahun
2006-2013. Data ini diperoleh dari co ass, data yang ada dibuat rata-ratanya dalam satu
bulan/tahun dan kemudian dibuat grafiknya. Rata-rata curah hujan setiap tahun berbeda
dikarenakan variasi musim satiap bulan yang berbeda dan letak lintang sehingga dari suatu
catatan data hujan dapat memberikan kesan adanya suatu kecendrungan naik atau turun curah
hujan dan jumlah hari hujan.
Pada tahun 2006 curah hujan sebanyak 21,8 ml, 2007 sebanyak 12,08 ml, 2008
sebanyak 12,5 ml, 2009 sebanyak 13,5 ml, 2010 sebanyak 16,92 ml, 2011 sebanyak 12,58 ml,
2012 sebanyak 11,83 ml, dan tahun 2013 sebanyak 29,19 ml.
Dari table curah hujan dari tahun 2006-2013 dapat dilihat bahwa curah hujan tertinggi
terjadi pada pada tahun 2007 yaitu sebesar 3553,7 ml dan yang terendah terjadi pada tahun
2013 yaitu 584,55 ml.

BAB V

KESIMPULAN
Curah hujan yang terjadi cukup tinggi adalah pada tahun 2007 yaitu sebesar 3553,7
ml dan yang terendah terjadi pada tahun 2013 yaitu 584,55 ml. Dimana Rata-rata curah hujan
setiap tahun berbeda dikarenakan variasi musim satiap bulan yang berbeda dan letak lintang
sehingga dari suatu catatan data hujan dapat memberikan kesan adanya suatu kecendrungan
naik atau turun curah hujan dan jumlah hari hujan.

DAFTAR PUSTAKA

Effendi, 2009. Klimatologi Pertanian. Erlangga : Jakarta.


Lakitan, 2002. Klimatologi Dasar Landasan Pemahaman Fisika Atmosfer dan Unsur-unsur
Iklim. Jurusan Geofisika dan Meteorologi. FMIPA-IPB : Bogor.
Prawito Priyono. 2016. Penuntun Praktikum Agroklimatologi. Laboratorium Agroklimat
Fakultas Pertanian. UNIB : Bengkulu.
Rianto, 2011. Pengukuran hujan. UGM : Yogyakarta.
Supardi, 2008. Dasar-dasar Meteorologi Pertanian. PT. Soeroengan : Jakarta.
Wisnubroto,2008. Asas-asas Meteorologi Pertanian. Departemen Ilmu-ilmu Tanah, Fakultas
Pertanian. UGM : Yogyakarta.