Anda di halaman 1dari 67

PEMBIDANGAN PRAJABATAN S1 D3

INDONESIA POWER
PERENCANAAN, PENGENDALIAN, DAN EVALUASI
O&M PEMBANGKIT
Edisi I Tahun 2014

PEMBIDANGAN PRAJABATAN S1 D3
INDONESIA POWER

TUJUAN PEMBELAJARAN :

Setelah mengikuti pelatihan ini peserta mampu


memahami

prosedur

pengoperasian

pemeliharaan

pembangkit

tenaga

prosedur/standar

operasi/

listrik

instruksi

dan
sesuai

kerja

dan

petunjuk pabrikan.
DURASI

TIM PENYUSUN

320 JP / 40 HARI EFEKTIF


1. MURDANI
2. ERWIN
3. EFRI YENDRI
4. HAULIAN SIREGAR
5. PEPI ALIYANI
6. MUHAMAD MAWARDI

TIM VALIDATOR

1. JOKO AGUNG
2. DODI HENDRA
3. SUDARWOKO

KATA PENGANTAR
MANAJER PLN PRIMARY ENERGY & POWER GENERATION
ACADEMY
PLN CORPORATE UNIVERSITY

Puji syukur ke hadirat Allah SWT, yang telah memberikan rahmat, taufik serta hidayahnya,
sehingga penyusunan materi pembelajaran PEMBIDANGAN PRAJABATAN S1 - ENJINER
PEMBANGKITAN THERMAL ini dapat diselesaikan dengan baik dan tepat pada waktunya.
Materi ini merupakan materi yang terdapat pada Direktori Diklat yang sudah disahkan oleh Direktur
Pengadaan Strategis selaku Learning Council Primary Energy & Power Generation Academy.
Materi ini terdiri dari 11 buku yang membahas mengenai K2 dan Lingkungan Hidup,
Pengoperasian PLTU, Pengoperasian PLTGU, Pengenalan PLTP, Perencanaan, pengendalian,
dan evaluasi O&M Pembangkit, Pemeliharaan Mekanikal Pembangkit Thermal dan Hidro,
Pemeliharaan Listrik Pembangkit, Pemeliharaan Proteksi, Kontrol & Instrumen, Kimia Pembangkit,
Pengoperasian PLTA, dan Pengenalan PLTD sehingga diharapkan dapat mempermudah proses
belajar dan mengajar di Primary Energy dan Power Generation Academy.
Akhir kata, Pembelajaran ini diharapkan dapat membantu meningkatkan kinerja unit operasional
dan bisa menunjang kinerja ekselen korporat. Tentunya tidak lupa kami mengucapkan terima
kasih kepada semua pihak yang telah terlibat dalam penyusunan materi pembelajaran ini. Saran
dan kritik dari pembaca/siswa sangat diharapkan bagi penyempurnaan materi ini.
Suralaya, 31 Januari 2014

M. IRWANSYAH PUTRA

ii

DAFTAR BUKU PELAJARAN


Buku 1
K2 dan Lingkungan Hidup
Buku 2
Pengoperasian PLTU
Buku 3
Pengoperasian PLTGU
Buku 4
Pengenalan PLTP
Buku 5
Perencanaan, pengendalian, dan evaluasi O&M
Pembangkit
Buku 6
Pemeliharaan Mekanikal Pembangkit Thermal dan Hidro
Buku 7
Pemeliharaan Listrik Pembangkit

iii

Buku 8
Pemeliharaan Proteksi, Kontrol & Instrumen
Buku 9
Kimia Pembangkit
Buku 10
Pengoperasian PLTA
Buku 11
Pengenalan PLTD

iv

BUKU V

PERENCANAAN, PENGENDALIAN DAN EVALUASI O&M PEMBANGKIT

TUJUAN PELAJARAN : Setelah mengikuti pelajaran Perencanaan, Pengendalian


Dan Evaluasi O&M Pembangkit peserta diharapkan
mampu memahami Metode Perencanaan, Evaluasi dan
Perhitungan Kinerja Pembangkit Sesuai SPLN Nomor :
K7.001:2007.

DURASI

: 16 JP

PENYUSUN

: 1. M U R D A N I

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI .
1.

2.

DEFINISI DAN TUJUAN PEMELIHARAAN .

1.1.

Definisi Pemeliharaan ..................................................................................

1.2.

Tujuan Pemeliharaan ..................................................................................

1.3.

Perkembangan Pemeliharaan......................................................................

1.4.

Manajemen Pemeliharaan...........................................................................

PERENCANAAN PEMELIHARAAN

15

2.1

Aspek-Aspek Dalam Perencanaan

15

2.2

Sistem Pemeliharaan Terpadu ..

16

2.3

Pemeliharaan Periodik

18

PROSEDUR PEMELIHARAAN PEMBANGKIT

18

3.1

Petunjuk Umum Pelaksanaan Pemeliharaan ..

18

3.2

Pemeliharaan Korektif ..

19

3.3

Pemeliharaan Preventive dan Periodik

23

PERENCANAAN OPERASI

27

4.1

Tugas pokok Perencanaan operasi

27

4.2

Lingkup Perencanaan Operasi...................................................................

27

4.3

Perencanaan Operasi Berdasarkan Kebutuhan Sistem Dan Kesiapan Unit

27

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal

vi

5. INVENTORY CONTROL ................................................................................

24

5.1.

Definisi Dan Jenis Material .....

28

5.2.

Manufacture (Pabrikan) .......................

26

5.3.

Sertifikat Material .......

27

5.4.

Penanganan Material ..........................................................................

28

5.5.

Inventory Control .................................................................................

36

5.6.

Optimalisasi Persediaan Material Gudang .........................................

38

5.7.

Laporan Manajemen Material .............................................................

42

6. MANAJEMEN EFISIENSI ..

44

6.1.

Definisi Manajemen Effisiensi.

44

6.2.

Mekanisme Kerja Efisiensi Improvement

44

6.3.

Tugas Team Effisiensi

45

7. INDEK KINERJA PEMBANGKIT

50

7.1. Definisi Indek Kinerja Pembangkit...

50

7.2. Durasi Outage Dan Derating....................................................................

51

7.3. Formula Indeks Kinerja Pembangkit........................

53

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal

vii

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. Perkembangan Pemeliharaan di dunia............................................................ 1


Gambar 2. Aplikasi Thermografi untuk deteksi Bearing Motor.......................................... 5
Gambar 3. Penyebab keausan ........................................................................................ 6
Gambar 4. Konsep yang digunakan untuk mengurangi keausan ..................................... 6
Gambar 5. Alat Ukur Vibrasi ............................................................................................. 7
Gambar 6. Flow Chart Pemeliharaan Preventif atau Periodik ........................................... 19

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal

viii

1.

1.1.

DEFINISI DAN TUJUAN PEMELIHARAAN PEMBANGKIT

Definisi Pemeliharaan
Usaha yang dilakukan secara terus menerus berupa Perawatan, Perbaikan dan Modifikasi
untuk menjaga suatu peralatan dapat beroperasi dengan andal, efisien dan mencapai umur
yang diharapkan.

1.2.

Tujuan Pemeliharaan
Agar pembangkit dapat beroperasi dengan keandalan yang tinggi serta mutu listrik yang
baik, efisien dan daya yang optimum. Sehingga tercapai umur teknis yang diharapkan dan
biaya pemeliharaan yang optimum.

1.3.

Perkembangan Pemeliharaan
Metode paling awal dari pekerjaan pemeliharaan yang berkembang di dunia adalah Fix it
When it Broke atau membiarkan suatu peralatan rusak, untuk kemudian dilakukan
perbaikan. Pada perkembangan berikutnya berkembang manajemen Pemeliharaan
Preventif yang berbasis waktu, Pemeliharaan Prediktif yang berbasis kondisi, dan
perkembangan paling mutakhir adalah Reliability Centered Maintenance (RCM).

Gambar berikut memperlihatkan perkembangan manajemen pemeliharaan yang meliputi


teknik pemeliharaan, jenis-jenis kegagalan serta harapan-harapan yang muncul sejalan
dengan perkembangan metoda pemeliharaan itu sendiri.

Gambar 1. Perkembangan Pemeliharaan di dunia


Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal

1.4.

Manajemen Pemeliharaan

Definisi Manajemen Pemeliharaan adalah sbb:


Manajemen Pemeliharaan adalah proses kegiatan pemeliharaan yang meliputi rangkaian
tahapan kerja yang teratur, mulai dari perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan,
pengendalian, penelitian dan pengembangan.

Tujuan Manajemen Pemeliharaan adalah sbb :

Meningkatkan keandalan dan kinerja pembangkitan

Mendayagunakan Aset dan Sumber Daya Pembangkitan dengan perilaku biaya paling
efektif dan efisien

Menerapkan metoda kerja terbaik yang tersedia untuk mencapai pemeliharaan dengan
standar tinggi.

Mendayagunakan sistem monitoring (real-time) yang efektif untuk pengontrolan dan


penilaian kerja pemeliharaan.

Meningkatkan pelaksanaan pemeliharaan prediktif dan preventif untuk menurunkan


tingkat kerusakan peralatan dan biaya-biaya terkait

Menciptakan lingkungan kerja yang melibatkan pegawai dari segi kekuatannya,


loyalitasnya, produktifitasnya, dan pengembangan yang berkelanjutan.

Aktifitas pemeliharaan pada unit pembangkit bertujuan untuk:

Mengembalikan Performance Mesin

Memperbaiki Efisiensi

Meningkatkan Faktor Ketersediaan (Availability Improvement)

Meningkatkan keandalan (Reliability Improvement)

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal

Berikut adalah metoda-metoda pemeliharaan yang berkembang didunia:


BLOK DIAGRAM JENIS PEMELIHARAAN

MAINTENANCE
Planed
Maintenance

Design-out
Maintenance

Unplaned
Maintenance

Preventive
Maintenance

Time-based
Maintenance

Routine
Maintenanc
e
Plant improvement
maintenance atau adaptive
maintenance ditujukan untuk
meningkatkan operasi,
realibilitas dan kapasitas

Pemeliharaan dilaksanakan
secara berkala berdasarkan
waktu, jam operasi atau lainnya
dengan unit tetap beroperasi
atau keluar dari pengusahaan

Corrective
Maintenance

Break-down
Maintenance

Condition-based
Maintenance
Periodie
Yearly Maintenance

Prinsip utama dari


preventive
maintenance adalah
berfikir kedepan
(thinking ahead)

Perbaikan
peralatan
dari kerusakan karena
gangguan

Disebut juga curative maintenance


bisa berupa trouble shooting atau
penggantian parts yang
rusak/kurang berfungsi / yang
terancam rusak.

Disebut juga predictive atau auscultative maintenance,


dilaksanakan berdasarkan kondisi peralatan yang dianalisa
sewaktu peralatan sedang beroperasi atau waktu shut-down,
diperlukan, peralatan dan personil khusus untuk analisa getaran,
suara, panas, shock-wave, ultrasound, spectrum frekuensi,
spectografhic oil analysis program (SOAP), NDT dan metalurgi.

Pemeliharaan pencegahan dan kerusakan dilaksanakan berulang-ulang dengan inteerval


maksimum 6 bulan, dalam kondisi unit tetap beroperasi maupun keluar dari pengusahaan

Overhaul unit, dilaksanakan secara periodik dengan interval waktu lebih dari 6 bulan, volume
& jenis pekerjaan mengacu pada buku petunjuk atau sumber lain yang relevan.

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal

Pemeliharaan Preventif (Rutin)


Definisi:
adalah kegiatan pemeliharaan terhadap komponen atau peralatan yang reguler (rutin) dan
terencana. PM terdiri dari:

Inspeksi yang terjadual

Pembersihan

Pelumasan

Penggantian atau perbaikan komponen yang dilakukan secara rutin

Pemeliharaan pada dasarnya berpedoman jam operasi (time base maintenance).

Kelebihan:

Meningkatkan umur pakai (life cycle) dari komponen.

Mengurangi kegagalan peralatan / proses

Lebih hemat sekitar 12% - 18% bila dibandingkan program pemeliharaan


reaktif

Kekurangan:

Kegagalan Catastrophic masih sering terjadi

Melibatkan banyak tenaga kerja

Pekerjaan pemeliharaan yang tidak perlu dilakukan

Potensi kerusakan karena melakukan pekerjaan yang tidak perlu.

Pemeliharaan Prediktif
Definisi:
Adalah sebuah proses yang membutuhkan teknologi dan kecakapan (skill) SDM, yang
memadukan dan menggunakan semua data diagnosa dan kinerja, sejarah kerusakan, data
operasi, dan data desain yang tersedia, untuk membuat keputusan tentang kegiatan
pemeliharaan terhadap sebuah peralatan kritikal.
Pemeliharaan Prediktif mengacu pada konsep kurva kerusakan bathtub, dimana sebuah
peralatan akan memiliki resiko kegagalan yang tinggi pada masa awal dan akhir operasi.

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal

Objek yang dipantau pada suatu mesin/ peralatan untuk keperluan pemeliharaan prediktip
meliputi :
Termografi
Tribologi
Vibrasi
Life Assement (NDT & DT)
Kualitas air
Unjuk kerja (Performance Test)

Thermography
Infrared (IR) Thermography dapat didefinisikan sebagai proses pencitraan variasi
radians Inframerah dari suatu permukaan. Pada prinsipnya, IR Thermography akan
menampilkan profil temperatur objek. IR akan mendeteksi kondisi-kondisi atau stressor
yang mengakibatkan penurunan kinerja suatu peralatan atau desain umur pakainya.
Sebagai contoh, koneksi listrik yang korosi atau kendor akan menghasilkan citra
kedalaman temperatur yang abnormal oleh karena bertambahnya resistansi listrik.
Pada peralatan yang berputar (rotating equipment), bentuk-bentuk perubahan friksi
akan menaikkan temperatur komponen yang tercermin dalam perubahan profil termal
komponen. Gambar bawah memperlihatkan temperatur bearing motor yang panas
(ditandai dengan warna yang terang) yang diambil dengan menggunakan kamera
infrared / Infrared Thermometer.

Gambar 2. Aplikasi Thermografi untuk deteksi Bearing Motor.

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal

Tribologi (Oil Analysis)


Oil Analysis digunakan untuk mendefinisikan 3 kondisi dasar mesin terkait dengan
lubrikasi mesin atau sistem lubrikasi. Pertama adalah kondisi dari oil: viscosity, acidity,
flashpoint, dll untuk melihat adanya kontaminan seperti material-material korosi. Kedua
adalah kondisi sistem lubrikasi, dengan menguji kandungan air, silikon, atau
kontaminan-kontaminan lain (bergantung pada desain sistem), system integrity dari
sistem lubrikasi dapat dievaluasi. Ketiga adalah kondisi mesin itu sendiri. Dengan
menganalisa partikel-partikel keausan yang ada dalam minyak, keausan mesin dapat
dievaluasi dan dilihat besarannya.

Gambar 3. Penyebab keausan

Gambar 4. Konsep yang digunakan untuk mengurangi keausan

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal

Vibrasi (Vibration Analysis)


Vibrasi diukur dengan menggunakan peralatan yang bekerja secara elektronik, dengan
kecanggihan tergantung dari display yang dapat ditunjukkan, serta kecepatan dan
kemudahan pengoperasiannya.

Tingkat besarnya vibrasi suatu mesin untuk dinyatakan baik, ditentukan oleh pabrik
pembuatnya sebagai data yang paling akurat. Apabila data ini tidak ada, atau timbul
permasalahan dalam acceptance test, atau pihak owner (pemilik) menginginkan suatu
tingkat vibrasi tertentu dalam pemesanan, maka bisa dirujuk dari standard-standard
yang berlaku sebagai pedoman.

Ada beberapa lembaga di dunia atau negara yang mengeluarkan standard tingkat
vibrasi. Tapi sebagai contoh di sini akan diberikan dua buah, yaitu International
Standard Organization (ISO 3945) dan Canadian Government Specification.

Gambar 5. Alat Ukur Vibrasi

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal

Life Assement (NDT & DT)


Yaitu melakukan assesment umur peralatan dengan melakukan Pengujuan tidak
merusak ataupun pengujian yang merusak
NDT adalah singkatan non destruktif test, yang artinya adalah pengujian tak merusak.
Maksud dari pengujian ini adalah bahwa bendanya tidak akan dirusak, dipanasi,
dirubah yang sifatnya akan merubah struktur benda tersebut. Jadi benda sebelum diuji
dan sesudah diuji akan mempunyai struktur logam yang sama. Selain NDT ada juga
DT yang berarti pengujian dengan jalan merusak, contohnya uji tarik, uji tekan, uji
puntir dan lain lain.
Macam macam NDT
o

Pemeriksaan secara visual dengan mata, kadang kadang memakai kaca


pembesar.

Pengujian kebocoran dengan air sabun.

Pengujian dengan spot chek.

Pengujian dengan fluorescent dry penetrant.

Pengujian dengan magnetic partikel.

Pengujian dengan ultra sonik.

Pengujian dengan eddy curent.

Pengujian dengan crack depth.

Pengujian radiografi dengan sinar X.

Pengujian radiografi dengan sinar (gamma).

Unjuk kerja
Salah satu jenis prediktif maintenance adalah monitoring unjuk kerja pemangkit. Hal ini
dapat dilakukan dengan melakukan Performance Test pembangkit secara berkala.
Performance Test adalah uji daya mampu, effisiensi dan keandalan dari suatu
pembangkit, dengan membandingkan data actual (sekarang) dengan data pada saat
dilakukan komisioning unit baru .
Hal hal utama yang akan dihitung pada saat melakukan performance test adalah :
1. Effisiensi Boiler
2. Effisiensi Turbine
3. Plant Effisiensi
4. Turbine Heat Rate
Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal

5. Plant Heat Rate


Kelebihan:

Meningkatkan umur operasional komponen (availability)

Memungkinkan menghilangkan tindakan-tindakan yang bersifat korektif

Mengurangi downtime peralatan atau proses

Kualitas produk yang lebih baik.

Meningkatkan kualitas pekerja dan keselamatan lingkungan

Meningkatkan moral pekerja

Menghemat energi

Lebih hemat 8% - 12% terhadap pemeliharaan preventif

Kekurangan:

Menaikkan investasi untuk peralatan diagnostik

Menaikkan investasi untuk pelatihan staff

Potensi penghematan tidak bisa segera dilihat oleh manajemen

Pemeliharaan Proaktif
Definisi:
Adalah proses penghilangan kondisi yang menyebabkan terjadinya kerusakan, melalui
identifikasi akar penyebab (Root Cause Failure Analysis) yang memicu siklus kerusakan.
RCM pada intinya adalah suatu proses untuk menentukan apa saja yang harus dilakukan
untuk menjamin agar aset terus menerus bekerja memenuhi fungsi yang diharapkan, dalam
konteks operasinya saat ini.
RCM menekankan pada kebutuhan analisis pemeliharaan dengan menjawab 7 pertanyaan
dasar sbb:
1. Apa fungsi peralatan?
2. Standard prestasi kaitannya dari aset pada konteks operasinya saat ini?
3. Dengan cara apa dia gagal memenuhi fungsi yang diharapkan?
4. Apa penyebab kegagalan fungsinya?
5. Apa pengaruh dari setiap kegagagalan?
6. Apa yang dapat dilakukan untuk mencegah setiap kegagalan?
7. Apa yang harus dilakukan bila pencegahan yang cocok tidak ditemukan?

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal

Kelebihan:

Bisa jadi merupakan program pemeliharaan yang paling efisien

Mengurangi biaya karena adanya pengurangan kegiatan pemeliharaan atau


overhaul yang tidak diperlukan.

Meminimalisir frekuensi overhaul

Mengurangi kemungkinan kegagalan peralatan yang tiba-tiba.

Memungkinkan untuk fokus kegiatan pemeliharaan pada komponen-komponen kritis.

Meningkatkan reliability komponen

Root Cause Analysis dilakukan secara korporat

Kekurangan:

Dapat memberikan biaya startup, training, maupun peralatan yang signifikan

Saving tidak bisa segera dilihat oleh manajemen.

Pemeliharaan Korektif (Run To Failure)


Definisi:
Membiarkan sebuah peralatan hingga rusak berdasarkan pertimbangan yang matang
(kritikalitas, redundancy, biaya penggantian yang rendah, tidak memberikan efek ke proteksi,
keselamatan, dll).
Dengan metode ini, tidak ada tindakan pencegahan sebelum kerusakan terjadi. Hal ini berarti
setiap kerusakan memang sudah diketahui dan dikelola. Tidak ada kerusakan yang tidak
diketahui sebelumnya, dan setiap tindakan korektif memang telah direncanakan dengan
matang, hanya menunggu kapan kerusakan terjadi.

Cara Sederhana Menetapkan Tipe Pemeliharaan:

Kalau peralatan kondisinya bisa dimonitor dan ada tools yang tersedia untuk monitor,
maka lakukan pemeliharaan prediktif.

Kalau peralatan tidak bisa dimonitor kondisinya atau tidak tersedia tool untuk monitoring
kondisi, maka lakukan pemeliharaan preventif

Kalau pemeliharaan preventif sulit dilakukan, atau effortnya terlalu besar dibandingkan
harga peralatan dan dampak yang ditimbulkan bila rusak, maka biarkan dia rusak.

Kalau terjadi kegagalan berulang atau terjadi kegagalan yang tidak semestinya, maka
lakukan root cause failure analysis.

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal

10

2. PERENCANAAN PEMELIHARAAN

2.1

Aspek-Aspek Dalam Perencanaan


Dalam manajemen, ada 6 hal yang harus dikelola, yang dikenal sebagai 5M + T,
yaitu: Man (SDM), Machine (Mesin), Method (Metoda), Money (Uang), Material
(Material) + Time (Waktu).
Dalam Perencanaan Pemeliharaan, sesuai dengan 6 hal di atas, kebutuhan yang
harus direncanakan adalah sbb:
Material

: Material Suku Cadang, Material Umum

Alat Kerja

: Special Tools dan General Tools, Maximo

Waktu

: Schedule Pemeliharaan

Tenaga

: Teknisi, Supervisor, dan Helper

Anggaran

: Dana untuk mendukung keperluan pemeliharaan

Prosedur

: Manual Book Pemeliharaan Mesin Pembangkit dan SOP

Tugas-tugas Perencanaan Pemeliharaan mencakup hal-hal sbb:


1. Persyaratan Kualitas
2. Persyaratan Lingkungan
3. Persyaratan K3
4. Prosedur-Prosedur yang berlaku
5. Ijin-ijin yang dapat dipakai
6. Estimasi / Standard-standard
7. Mengkaji ulang WR (Work Request) atau PM Master
8. Inspeksi Lapangan bila diperlukan
9. Parts dan Material
10. Status WR terkait
11. Tagging dan Isolasi
12. Tools / Perkakas
13. Manual Book, Gambar Peralatan, Electrical Wiring Diagram, P & ID Diagram,
Logic Diagram

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal

11

2.2

Sistem Manajemen Pemeliharaan Terpadu


Definisi:
Merupakan Program Aplikasi berbasis komputer yang mampu mengolah hubungan
peralatan yang terpasang di unit dengan stok barang di gudang dan gangguan /
kerusakan yang terjadi untuk mengeluarkan lembar perintah kerja (Work Order)
secara terintegrasi.
Program Aplikasi yang digunakan oleh Pembangkit adalah MAXIMO atau MIMS.
Spesifik untuk CMMS dinamakan sebagai ProHAR dan didefinisikan sbb:
ProHAR

adalah

alat

manajemen komprehensif

yang

direncanakan

untuk

mengidentifikasi, merencanakan, menjadwalkan, melacak, dan mengevaluasi


seluruh pemeliharaan yang bersifat preventif, prediktif, dan korektif, yang terencana
ataupun tidak terencana, sebagaimana jenis pekerjaan untuk memenuhi dan
mengaturnya.
Kapabilitas CMMS meliputi:

Penerbitan Work Order (WO), prioritisasi, dan tracking berdasarkan equipment


atau komponen

Tracking riwayat dari seluruh WO yang diterbitkan, menjadi sortable


berdasarkan equipment, tanggal, orang (penanggungjawab, dll)

Tracking aktifitas pemeliharaan terjadual dan tak terjadual

Menyimpan prosedur-prosedur pemeliharaan (Instruksi Kerja, Standard Job,


dsb) dan seluruh informasi komponen secara terjamin

Menyimpan seluruh dokumentasi teknis atau prosedur-prosedur berdasarkan


jenis komponen

Laporan-laporan real-time reports dari aktifitas yang sedang berjalan

Penerbitan WO pemeliharaan preventif berdasarkan kalender

Tracking biaya kapital atau biaya pegawai berdasarkan komponen dan waktu
terpendek, menengah, dan terpanjang untuk closing WO

Inventory control terhadap suku cadang dan material dengan kemampuan


pesan-ulang secara otomatis

Interface dengan PDA untuk men-streamline input dan penerbitan WO

Kemampuan untuk Outside Service Call/Dispatch

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal

12

Sasaran Implementasi Program CMMS:

Job Plans (Rencana Pekerjaan)

Data Base

Pekerjaan

Database CMMS meliputi:

Definisi Kerja (Permasalahan) dan Status Menuju Kelengkapan

Deskripsi dan Histori Peralatan

Prosedur Kerja

Ketersediaan Tenaga Kerja dan Keahlian

Status Material, yang ada dan dibutuhkan

Persyaratan Kepastian dan Persyaratan Keselamatan lainnya

Sistem Prioritas dalam WR adalah sbb:


Prioritas 1
Adalah pekerjaan prioritas mendesak yang membutuhkan tindakan segera. Bisa
dengan perencanaan Bypass, penjadualan bypass.

Prioritas 2
Adalah

pekerjaan

berprioritas

tinggi,

tindakan

segera

dilakukan

begitu

memungkinkan. Membutuhkan perencanaan, membutuhkan penjadualan

Prioritas 3
Adalah pekerjaan prioritas penting, sebagian besar tugas-tugas PM/PdM. Dampak
pada operasi unit minim. Direncanakan dan dijadualkan dengan sumber daya yang
tersedia.

Work Order yang telah di-close, harus menggambarkan Pelaksanaan kerja,


mengidentifikasi permasalahan yang dihadapi, mengidentifikasi komponen bagian
dan material yang digunakan, mengidentifikasi kondisi yang membutuhkan kerja
tambahan, merekomendasikan perubahan atas paket kerja.
Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal

13

2.3

Pemeliharaan Periodik
Disamping aspek-aspek yang sudah disebutkan di atas, untuk perencanaan
pemeliharaan periodik, diperlukan pula pengetahuan kriteria pemeliharaan periodik
yang disyaratkan oleh fabrikan. Berikut adalah kriteria-kriteria pemeliharaan
periodik
Setiap Pabrik Pembuat Mesin memberikan petunjuk dalam melaksanakan Overhaul
/ Inspection Mesin buatan mereka. Suatu hal yang sama adalah mesin harus
diadakan pemeliharaan secara periodik yang teratur dengan suatu periode tertentu.
Banyak hal yang harus dipertimbangkan dalam menentukan periode ini, yang lazim
dipakai dalam menentukan interval overhaul pada mesin pembangkit adalah jenis
pembangkit, jam operasi mesin, jumlah start, kondisi lingkungan serta pola /
perilaku pengoperasian mesin tersebut. Hal yang berbeda adalah besarnya nilai
interval dari overhaul yang satu ke overhaul berikutnya.

Tabel-tabel Berikut memberikan informasi Interval dan Durasi Overhaul Mesin


Pembangkit Listrik Tenaga Uap.
Tabel 3. PLTU / STG

PLTU/STG

SIKLUS

INTERVAL (JAM)

DURASI

PLTU SURALAYA

SI ME SI SE

10.000

PLTU UMUM

SI ME SI SE

8.000

GRATI
(STG)
PLTG

MINOR MAJOR

15.000

SI = 28
ME = 30
SE = 60
SI = 28
ME = 35
SE = 50
MINOR = 25
MAJOR = 45

CI-HPGI- CI-MI

8.000

PRIOK
(STG)

MINOR MAJOR

24.000

MINOR = 25
MAJOR = 45

PLTP

SI SI MI

16.000

SI = 20
MI = 25

PLTD

TO SO - MO

6.000

Interval Overhaul Pembangkit Listrik dengan tenaga Uap didasarkan pada


penumpukan

kotoran

pada

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal

peralatan,

deterioration

peralatan

serta
14

penggantian part yang berumur pendek seperti gasket/packing dan


sebagainya. Pembangkit Listrik dengan tenaga Uap selalu bekerja dengan
peralatan lain seperti steam generator dan sebagainya sehingga penentuan
interval overhaul dikaitkan dengan keperluan pemeliharaan peralatan lain
tersebut selain dari turbin uap-nya.
Simple

Inspection

difokuskan

pada

pembersihan

peralatan

yang

menyebabkan efisiensi turun, Mean Inspection difokuskan pada peralatan


steam generator dan alat. Serious Inspection terutama pada pemeriksaan
turbin uap. Dengan demikian oleh karena PLTP tidak memiliki steam
generator/boiler, maka PLTP tidak memiliki Mean Inspection.
Keterangan tabel 1-4:
SI

: Simple Inspection, ME : Mean Inspection, SE

: Serious Inspection

3. PROSEDUR PEMELIHARAAN PEMBANGKIT


3.1.

Petunjuk Umum Pelaksanaan Pemeliharaan

Secara umum, urutan kegiatan pemeliharaan spesifik meliputi hal-hal sbb:


o

Identifikasi Permasalahan

Mengumpulkan Data-data

Merencanakan: Alat-alat Kerja dan Keselamatan, Part / Material, Rencana


Pekerjaan (Scheduling), Referensi seperti: Wiring Diagram, P & ID Diagram,
Logic Diagram, Standard Setting, Prosedur / Instruksi Kerja, dll.

Melakukan kegiatan pemeliharaan yang diperlukan:

Pembongkaran (Dismantling)

Pemasangan Kembali (Re-Assembling)

Pengukuran, Pengujian dan Adjustment

Evaluasi dan Pelaporan

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal

15

Identifikasi Permasalahan
Untuk melakukan Identifikasi Permasalahan, lakukan langkah-langkah sbb :
a. Periksa Catatan Awal Pemeliharaan (Work Order dari Operator, atau laporan
pemeriksaan oleh petuuap pemeliharaan).
b. Dari catatan, simpulkan pada grup fungsi mana permasalahan terjadi

Mengumpulkan Data
a. Catat / Print Out Alarm atau Event Log beserta kode-kode identifikasi dari
fabrikan yang muncul pada Human Machine Interface atau indikator lainnya.
b. Catat proteksi yang kerja
c. Catat peralatan-peralatan pada grup fungsi terkait yang abnormal
d. Catat langkah-langkah yang sudah dilakukan oleh operator: tindakan reset, dll.

Merencanakan Pekerjaan
a. Rencanakan jumlah tenaga kerja yang diperlukan beserta kompetensinya.
b. Rencanakan Alat-alat yang meliputi alat-alat kerja (spesifik menurut bidang
masing-masing: mesin, listrik, kontrol & instrument) dan alat-alat keselamatan:
Helm, Safety Shoes, dll
c. Rencanakan Part / Material yang diperlukan
d. Rencanakan dokumen-dokumen referensi:

Dokumen Wajib untuk Pemeliharaan Mesin: P & ID, Standard Setting,


Instruksi Kerja, Lembar Pengujian

Dokumen Wajib untuk Pemeliharaan Listrik: Electrical Wiring Diagram,


Standard Setting, Instruksi Kerja, Lembar Pengujian

Dokumen Wajib untuk Pemeliharaan Kontrol & Instrumen: P & ID, Logic
Diagram, Standard Setting, Instruksi Kerja, Lembar Pengujian

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal

16

Pelaksanaan Pemeliharaan
a. Lakukan Pengukuran awal pada peralatan berdasarkan data-data yang telah
dikumpulkan (WO, Catatan Pemeliharaan) dengan berpedoman pada Instruksi
Kerja

yang

berlaku,

Standard

Setting.

Catat

dalam

Lembar

Pengukuran/Pengujian
b. Berikan kesimpulan atas hasil pengukuran
c. Lakukan

Perbaikan

atau

Dismantling,

Reassembling

jika

diperlukan

berdasarkan petunjuk fabrikan.


d. Lakukan Pengukuran/Pengujian, Adjustment untuk menyatakan kelaikan
operasi.

Evaluasi dan Pelaporan


Mencakup:

kesimpulan

(acceptable

not

hasil

acceptable),

pekerjaan
item-item

dan

pengujian/pengukuran

yang

tertunda

(pending

akhir
item),

rekomendasi, dll.
Format sesuai standard yang berlaku di perusahaan

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal

17

3.2. Pemeliharaan Korektif


Prosedur ini merupakan prosedur pemeliharaan berbasiskan laporan dari operator.
Prosedur secara keseluruhan digambarkan dalam flow chart sbb :
START
Material
tersedia ?

MODULE
Work Request

Rubah Status
menjadi
WAMTL

Y
OPERATOR (bila dari operasi)
USER (sesuai Bidangnya)
- Entry Data ( Gangguan)
- Permintaan Perbaikan
WR ( UKU )
- Status WAPPR

Material diambil
Status APPR
dirubah menjadi WPCOND

Persetujuan Work Request


Lewat module Work Order
Tracking
oleh : SPS terkait

Persetujuan SPS
Operasi

CANCEL

SETUJU ?

Prosedur
pengadaan

Staf Gudang mencetak TUG 9


dan menyiapkan material

WO Batal
Status
CLOSE

WO siap dilaksanakan status diubah


menjadi INPRG

Y
Merubah Status dari WAPPR
menjadi APPROD

Perlu tagging?
Y

Prosedur TAGGING

N
SP terkait
1. Mengisi data PLANS pada module WOT,
yaitu : OPERATIONS, CRAFT, MATERIAL,
TOOLS
2. Setelah perencanaan siap status dirubah
dari APPROD menjadi APPR

SPS HAR
Melakukan ASSIGMENT CRAFT
MENJADI LABOR
pada module Work Manager

SP Har
- Pekerjaan Selesai
- Isi Actual, Labor
- Status dirubah menjadi
WACOND

N
Hasil Baik?

Perbaikan Ulang

SPS Operasi merubah Status


menjadi COMPLETE
SPS HAR
Check material tersedia
WO Status diubah menjadi CLOSE

FINISH

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal


Gambar 3.

Flow Chart Pemeliharaan Korektif

1
18

3.3.

Pemeliharaan Preventif atau Periodik

Prosedur Pemeliharaan Preventif atau Periodik digambarkan oleh Flow Chart sebagai
berikut:
START

PMs yang akan jatuh


tempo agar segera di generate
setelah itu automatis PMs
tersebut akan menjadi wot
dengan status WSCH

Staf Perencanaan
Pemeliharaan

SP Har
- Pekerjaan Selesai
- Isi Actual, Labor
- Status dirubah menjadi
WACOND

Hasil Baik
?

Setelah PMs yang menjadi WSCH sudah


jatuh tempo Agar di INITIATE
dan PMs tersebut akan berubah status
menjadi INPRG

SPS Operasi

Melihat kembali PLANS yaitu :


OPERATIONS, LABOR, MATERIAL,
TOOLS

SPS Pemeliharaan

CRAFTNYA DI ASSIGMENT
MENJADI LABOR
pada module Work Manager

SPS Pemeliharaan

Perbaikan Ulang

Y
SPS Operasi merubah Status
menjadi COMPLETE

WO Status diubah menjadi


CLOSE

FINISH

Check Material
tersedia?

SPS HAR berkoordinasi


dengan pihak terkait
utk pengadaan Barang

Y
Staf Gudang mencetak TUG 9 dan
menyiapkan material

Material diambil

Perlu tagging?

Prosedur TAGGING
Pelaksana HAR

N
WO setelah selesai dikerjakan
status diubah menjadi WACONDT
Gambar 6.
Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal

Flow Chart Pemeliharaan Preventif atau Periodik

19

Formulir 1. Laporan Pegawai

NAMA PEGAWAI :
NAMA MENTOR /ASESOR :
JABATAN PEGAWAI DALAM PEKERJAAN :
TOTAL WAKTU DALAM PENGAWASAN :
DESKRIPSI PENUUAPAN:

UNIT:
UNIT:
JAM/HARI

TANGGAL :

GAMBAR/SINGLE LINE DIAGRAM PERALATAN/SYSTEM:

DESKRIPSI PERALATAN

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal

CATATAN PENGAMATAN
JUMLAH
LOKASI

20

PERALATAN YANG DI PELIHARA :


NO.

LANGKAH-LANGKAH

NO.

LANGKAH-LANGKAH

NO.

LANGKAH-LANGKAH

PERSIAPAN :

PEMBONGKARAN
DAN
PEMERIKSAAN
GANGGUAN/
KERUSAKAN

PEMASANGAN

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal

21

KOMENTAR PEGAWAI:

KOMENTAR ATASAN

PEGAWAI :

ATASAN

Catatan:
Pegawai dapat menggunakan kertas kosong lain, jika ada yang perlu disampaikan tapi tidak
tercakup pada formulir diatas atau kurang halamannya.

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal

22

4. PERENCANAAN OPERASI

4.1.

Tugas pokok Perencanaan operasi adalah:


merencanakan produksi
mengoperasikan
menjadwalkan outage
mengendalikan serta mengevaluasi agar pembangkit beroperasi secara aman, andal,
efisien, mentatati ketentuan lingkungan dan keselamatan serta regulasi yang berlaku.

4.2.

Lingkup Perencanaan Operasi


Perencanaan Operasi mencakup kegiatan sebagai berikut:
Pengoperasian, pengujian, dan pengaturan jam kerja operasi peralatan.
Jenis Pembangkit
SDM Operasi
Optimasi Pembebanan dan Kinerja Operasi.( Kinerja Pembangkit SM)

4.3.

Perencanaan operasi berdasarkan kebutuhan sistem dan kesiapan unit


Perencanaan & Niaga Operasi
Manajemen Bahan Bakar.
Fault Reporting.
First Line Maintenance.
Komunikasi dan pelaporan baik ke P3B maupun Kantor Induk

Diagram alir Manajemen Operasi adalah sbb:

5.
Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal

INVENTORY CONTROL
23

Management, kebutuhan akan material menjadi permasalahan yang umum di dunia. Kualitas
dan ketersediaan Output suatu produksi sangat tergantung kualitas dan ketersediaan input.
Dalam hal ini, keandalan dan efisiensi produksi tenaga listrik sangat tergantung dengan
material yang dibutuhkan.
Inventory Control adalah bidang yang sangat penting dalam mekanisme manajemen material.
Inventory Control Disebut juga dengan Inventory Manajemen, yaitu suatu kegiatan yang
meliputi perencanaan, pelaksanaan dan pengendalian kebutuhan material yang bertujuan
untuk meningkatkan service level material dengan nilai gudang seoptimal mungkin

5.1.

a.

Definisi dan Jenis Material

Definisi Material

Dalam dunia industri, material gudang dibedakan menjadi :

Material bahan baku (Raw Material)


Material yang belum mengalami tahapan proses, yang merupakan inputan utama dalam
proses produksi

Material setengah jadi (Work in Process)


Material yang sudah mengalami tahapan proses awal, tetapi masih memerlukan tahapan
proses berikutnya untuk dapat difungsikan sesuai kebutuhan.

Material jadi (Finish Goods)


Material yang sudah mengalami beberapa tahapan proses dan sudah siap untuk
difungsikan sesuai kebutuhan (hasil produksi).

Material suku cadang (Spare Part)


Merupakan material jadi yang berfungsi sebagai material cadang dalam kegiatan operasi
dan pemeliharaan suatu kegiatan produksi.

Tiga jenis material pertama (Material bahan baku, Setengah jadi dan Material jadi) pada
umunya berfungsi sebagai Material produksi/operasi. Sedangkan jenis material terakhir, yaitu
material suku cadang (spare part) sedikit sekali literatur yang membahas, sehingga tidak
banyak informasi yang diperoleh mengenai karakter dan cara pengelolaannya. Material ini
lebih banyak berfungsi sebagai material cadang dalam kegiatan pemeliharaan, sehingga

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal

24

dikenal Material pemelihaan.


Material produksi/operasi, pada umumnya mempunyai karakter yang lebih terpola dan terukur,
sehingga lebih mudah dalam penanganannya . Di dalam industri pembangkit listrik, pada
umumnya penanganan material produksi/operasi terintegrasi dengan sistem operasi
mesin/unit. Material pemeliharaan atau jenis material suku cadang penanganannya terpisah
dengan sistem operasi unit/mesin .

Jenis material suku cadang (spare part) atau Material pemeliharaan, mempunyai karakter
dan sistem penanganan yang lebih sulit dan kompleks, karena :

b.

Mempunyai jenis item terlalu banyak

Semakin banyak jenis mesin, maka semakin bertambah jumlah jenis itemnya

Semakin tambah umur mesin, maka semakin bertambah jumlah itemnya

Pola kebutuhan tidak beraturan, baik dari sisi jumlah maupun periodenya

Jenis-jenis Material
Material suku cadang khusus (Specific)

Hanya dapat digunakan oleh atau dalam satu jenis peralatan

Umumnya pabriknya satu atau beberapa yang sangat terbatas

Merek suku cadang ini memakai pabrik yang menghasilkan peralatan yang
bersangkutan, meskipun mungkin pembuat aslinya adalah pabrik lain

Tidak ada standardisasi

Material suku cadang umum

Dapat digunakan oleh berbagai jenis peralatan

Umumnya pabriknya banyak

Merek yang digunakan adalah pabrik asli masing-masing

Ada standardisasi dalam bahan, bentuk, ukuran dan dimensi lainnya.

Material suku cadang consumable

Disebut juga suku cadang habis pakai, adalah suku cadang untuk pemakaian biasa,
yaitu yang akan aus dan rusak karena gesekan, tegangan, kena panas, dan
sebagainya.

Kerusakan

suku

cadang

jenis

ini

dapat

terjadi

sewaktu-waktu

sehingga

penggantiannya dapat pula sewaktu-waktu.

Karena itu, pengaturan persediaanya haruslah sedemikian rupa sehingga waktu

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal

25

diperlukan harus selalu tersedia, atau dapat diadakan dalam waktu singkat
sehingga tidak mengganggu jalannya peralatan.
5.2.

Manufacture (Pabrikan)

Manufacture (Pabrikan) adalah pabrik atau perusahaan yang memproduksi suatu barang /
material. Merk adalah simbol atau identitas dari suatu barang atau produk yang diberikan oleh
pabrik atau perusahaan yang memproduksi dengan tujuan untuk mempermudah identifikasi.
Suatu pabrik atau manufacture bisa memproduksi beberapa barang dengan beberapa Merk.

Dari sisi manufacture, suatu barang atau material dibedakan menjadi :


a. Material Asli (Original Part), biasanya dikenal dengan istilah OEM, yaitu Original
Engine Manufacture atau Original Equipment Manufacture
b. Material tidak Asli (Non Original Part)
c. Material Lokal (Local Part)
a.

Material asli (Original Part)


Material asli (original part) adalah suatu part atau material yang terpasang dan merupakan
asli bawaan dari suatu mesin atau unit. Material asli (original part) yang diproduksi
langsung oleh pembuat mesin, biasanya dikenal dengan istilah Original Engine
Manufacture (OEM). Material asli (original part) yang tidak diproduksi secara langsung
oleh pembuat mesin, tetapi diproduksi oleh manufacture lain (Vendor) yang ada kerja
sama secara resmi dengan pembuat mesin atau tidak, dalam hal ini biasanya dikenal
dengan istilah Original Equipment Manufacture (OEM), adapun merk yang digunakan
adalah bisa merk dari pembuat mesin atau merk dari vendor

b.

Non Original Part


Material tidak asli (non original part) adalah suatu part atau material yang bukan asli
bawaan dari suatu mesin atau unit. Material tidak asli adalah suatu part atau material
persamaan (equivalent) dengan yang terpasang pada suatu mesin, yang diproduksi oleh
pabrikan selain pabrikan dan vendor dari mesin tersebut. Penggunaan part ini bisa
dibenarkan selama part tersebut mempunyai sepesifikasi teknis dan karakteristik yang
sama dengan part aslinya, dimana sebelumnya harus dibuktikan oleh suatu kajian dan
analisa baik dari sisi teknis maupun finansial.
Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal

26

c.

Local Spare part


Material lokal adalah suatu part atau material yang bukan asli bawaan dari suatu mesin
atau unit. Material lokal adalah suatu part atau material persamaan (equivalent) dengan
yang terpasang pada suatu mesin, yang diproduksi oleh pabrikan lokal (dalam negeri).
Atau bisa disebut material tidak asli (non original part) yang diproduksi oleh manufacture
dalam negeri
Penggunaan part ini bisa dibenarkan selama part tersebut mempunyai sepesifikasi dan
karakteristik yang sama dengan part aslinya, dimana sebelumnya harus dibuktikan oleh
suatu kajian dan analisa baik dari sisi teknis maupun finansial.

5.3.

Sertifikat Material

Adalah suatu keterangan atau pernyataan berupa surat, yang menerangkan tentang keaslian
suatu part, dan dikeluarkan oleh pabrikan atau vendor. Dalam pembelian suatu material atau
barang, sertifikat adalah suatu keharusan .
Manfaat sertifikat :

Jaminan kwalitas

Jaminan harga

Jaminan garansi

Referensi pembelian berikutnya

Jenis sertifikat material

COM (Certificate Of Manufacture),


yaitu sertifikat yang menerangkan tentang pabrikan dari suatu material/part, yang
dikeluarkan oleh pabrikan mesin atau vendor

COO (Certificate Of Origin),


yaitu sertifikat yang menerangkan tentang pabrikan dari suatu material/part, yang
dikeluarkan oleh Kamar dagang (Kadin) atau yang sederajat dari suatu negara
dimana barang tersebut di beli, tetapi ada juga dikeluarkan oleh pabrikan mesin
atau vendor dan ini adalah sama dengan COM

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal

27

COC (Certificate Of Conformity),


yaitu sertifikat yang menerangkan tentang spesifikasi teknis, hasil tes dan
commissioning dari suatu material, yang dikeluarkan oleh lembaga independen atau
pabrikan mesin atau vendor

ASAL USUL BARANG,


yaitu sertifikat yang hanya menerangkan tentang asal usul barang part tersebut
dibeli, jadi dalam hal ini bisa dari pabrikan, distributor, agen atau toko

5.4.

Penanganan Material

Hal-hal yang harus diperhatikan terkait dengan penanganan material adalah :

Spesifikasi teknis, yang umumnya dibuat dalam bentuk data base (Katalog)

Pola kebutuhan :

Periode

Jumlah per periode

Tingkat ketersediaan

Dimana

Siapa

Mekanisme pengiriman :

Delivery time

Transportasi

Packing

Mekanisme penyimpanan

Harga

Untuk penanganan jenis material suku cadang (spare part) disamping hal-hal tersebut diatas,
yang juga harus diperhatikan adalah :

Pengaruh terhadap operasi unit/mesin

Mati (Trip)

Turun kapasitas (derating)

Turun efisiensi

Turun keandalan (redunden)

Tidak ada pengaruh

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal

28

Pola kerusakan

Dapat diprediksi

Life Time

Tidak tentu

Pola penggantian

Mesin operasi

Mesin turun beban

Mesin mati sesaat

Overhaul

5.5.

MANAJEMEN MATERIAL

a.

Ruang Lingkup Manajemen Material

Untuk mencapai tujuan dari manajemen material, kerja sama, koordinasi dan interaksi dari
masing-masing stream adalah yang utama. Ruang lingkup dan hubungan antar fungsi dalam
manajeman material digambarkan dalam diagram berikut

Diagram Manajemen Material

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal

29

Empat Pillar Manajemen Material

b.

PERAN MASING-MASING FUNGSI

Peran Catalog dan Inventory

INVENTORY:
Secara individual dapat diartikan sebagai Persediaan, dalam hal ini bisa berupa persediaan
material maupun persediaan data yang terdokumentasi.

CATALOG :
adalah sebuah sajian informasi detail dari sebuah material atau barang yang
mengganbarkan secara jelas dan lengkap tentang spesifikasi material yang terdokumentasi
dalam bentuk format yang teratur dan rapi

MENG-INVENTORY-KAN CATALOG :
Adalah memasukan data catalog suatu material atau barang ke dalam suatu tempat atau
distrik. Catalog dan inventori ibarat pintu gerbang dalam proses bisnis material, karena
semua transaksi di dalam semua tahapan proses (IR, RO, PO dan BA) berawal dari sini,
sehingga tingkat kwalitas catalog dan inventori sangat berpengaruh terhadap kinerja dari
proses bisnis material

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal

30

Kurang informatif nya suatu catalog dan inventori, akan berakibat :

Terjadinya banyak duplikat dari catalog

Terjadinya pengulangan pembelian pada material yang sama.

Terjadinya penumpukan material di gudang yang tidak jelas fungsinya

Optimalisasi persediaan gudang tidak bisa optimal

Peran User atau pengguna


User disini bisa diartikan sebagai pengguna yang merupakan representatif dari suatu
mesin. Dalam aplikasi dilapangan owner dari user akan menyesuaikan dengan mekanisme
dan kebijakan manajeman perusahaan, dalam hal ini bisa bagian perencananaan dan
pengendalian (Rendal) atau pengguna langsung dilapangan (Spv Har/Op). Peran user
dalam proses bisnis material adalah sangat vital karena Input (peminta) sekaligus Output
(pengguna) dalam proses bisnis material adalah user.
Adapun fungsi dan peran User dalam proses bisnis material adalah :

Merencakan kebutuhan material jangka panjang untuk kebutuhan Overhaul yang


biasanya terangkum dalam RKAP tahunan.

Berinteraksi dengan Inventori Control merencanakan kebutuhan material untuk


jangka pendek atau Rutin dengan melaksanakan setting ROP & ROQ

Berperan serta menyediakan atau menyiapkan data spesifikasi teknis material


untuk pembuatan katalog yang dibuat oleh inventori controler & Cataloger.

Melakukan monitoring dan pengendalian akan kebutuhan material

Peran Inventory Control


Inventory control berinteraksi secara langsung ke seluruh bagian terkait material, mereka
yang menerima input kebutuhan material dari rendal (user), mereka yang mengusulkan
usulan pengadaan ke purchasing, mereka yang mengendalikan persediaan gudang dan
mereka juga yang bertanggung jawab terhadap sistem inventory dan kwalitas catalog. Bisa
dikatakan Inventory control adalah merupakan Motor dari proses bisnis material. Namun
perlu disadari bahwa, inventory control tidak bisa berdiri sendiri dalam menjalankan
fungsinya, tetapi harus ada interaksi dan selalu berinteraksi dengan bagian terkait
Satu hal lagi, yang paling penting adalah

dukungan dari pihak manajemen karena

disamping harus lintas fungsi, inventory control sangat terkait dengan biaya perusahaan

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal

31

Peran dan Fungsi Pergudangan

Definisi Gudang :
Gudang adalah salah satu bangunan atau lapangan yang digunakan untuk penyimpanan
material. Gudang merupakan suatu bagian yang vital bagi suatu Perusahaan, dimana
gudang adalah merupakan suatu titik awal dalam pengelolaan dan pengendalian material
persediaan. Gudang merupakan salah satu tempat kegiatan operasi dalam suatu
Perusahaan

Fungsi dari Pergudangan adalah :

Menerima material

Menyimpan material

Memelihara material

Memelihara ruang tempat menyimpan material

Mengeluarkan material

Mengurus tata usaha (Administrasi) pergudangan

Mempertanggung jawabkan pengurusan material

Adapun fungsi utamanya adalah :

Melakukan Tata Usaha (Adminstrasi) atas material yang masuk/keluar.

Membuat monitoring kedatangan material, pengembalian barang (barang return)


dari user, proses Berita Acara penerimaan barang

Perawatan material dalam penyimpanan

Melakukan Stock Opname harian dan periodik

Peran dan Fungsi Purchasing


Pengadaan/Purchasing adalah salah satu fungsi dari manajemen material yang berada
diujung tombak, karena bertanggung jawab untuk melaksanakan dengan pihak ketiga.
Titik kritis dari proses pengadaan sutau material adalah terkait dengan masalah Levering,
karena diluar kendali kita. Disinilah kwalitas dari Perencanaan Kebutuhan material dan
Perencanaan Usulan pengadaan sangat berperan.

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal

32

Adapun fungsi utama pengadaan/purchasing adalah :

Melakukan Transaksi pengadaan dengan pihak ketiga (Supplier) berdasarkan


usulan pengadaan (RO) dari inventory control (untuk unit)

Melakukan Transaksi pengadaan dengan pihak ketiga (Supplier) berdasarkan


usulan pengadaan dari SDKal yang merupakan representatip dari permintaan
material dari unit-unit (untuk kantor pusat)

Memonitor & Mengendalikan, baik itu Proses maupun Berkas / Administrasi

Melakukan pembinaan dan evaluasi terhadap kinerja suplier.

Peran dan fungsi Supplier (Rekanan)


Secara organisasi supplier berada diluar sistem tetapi didalam proses bisnis manajemen
material, supplier memegang peranan kunci. Hal-hal terkait dengan Supplier (Rekanan) :

Supplier / Rekanan adalah Mitra Kerja

Kita harus tahu tentang mereka

Kita Mengendalikan bukan dikendalikan

Ada Komunikasi dua Arah (Pembinaan)

Peraturan, Prosedur dan Mekanisme yang terkait tentang Mereka

Dia harus

Tahu (disosialisasikan)

c.

Ada Evalusi
Kebutuhan Material

Kebutuhan material adalah merupakan inputan awal dari proses bisnis material. Kualitas
perencanaan kebutuhan material merupakan salah satu tahapan yang sangat
menentukan terhadap keberhasilan dari proses bisnis material

Kebutuhan material terbagi menjadi dua kelompok yaitu :

Kebutuhan Tidak Terencana

Kebutuhan Terencana

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal

33

Sifat-Sifat Kebutuhan Material

Kebutuhan Sangat Segera (Emergency), yaitu kebutuhan akan material yang


sifatnya sangat segera yang mana mesin sudah dalam kondisi mati dan untuk
menghidupkan kembali membutuhkan material tersebut.

Kebutuhan Segera (Urgent), yaitu kebutuhan akan material yang sifatnya segera,
yang mana mesin dalam kondisi turun kemampuan (Derating) dan untuk
memulihkan kemampuannya membutuhkan material tersebut

Kebutuhan Semi Normal, yaitu kebutuhan akan material yang sifatnya tidak segera,
tetapi sudah ditentukan waktunya, kapan material tersebut dibutuhkan, atas dasar
manual book atau jadwal overhaul

Kebutuhan Normal, yaitu kebutuhan akan material yang sifatnya untuk memenuhi
optimalisasi persediaan gudang, dengan tujuan kehandalan dan efiensi unit atau
mesin

Fase Kebutuhan dan Pembelian Material

Perubahan Fase Kebutuhan Material

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal

34

Fase dan tingkat kebutuhan material untuk suatu mesin pada dasarnya adalah tidak
permanen, tetapi akan berubah sesuai dengan mekanisme pengoperasian dan
pemeliharaan mesin tersebut.

Untuk merubah dari fase Tidak Terencana menjadi fase Terencana, diperlukan :

Kerja sama tim

Konsisten dan disiplin terhadap prosedur dan mekaisme yang ada

Interaksi yang bagus antar stream terkait baik dari tingkat pelaksana sampai
manajemen

Tidak kalah pentingnya adalah mengoptimalkan fungsi dari Prediktive dan


Preventive Maintenance

Merencanakan Kebutuhan Material


Merencanakan kebutuhan material yang sifatnya emergency dan urgent, mempunyai
tingkat permasalahan yang lebih sulit dan komplek. Untuk merencanakan kebutuhan
material yang sifatnya emergency, urgent dan normal kita bisa menggunakan dan
mengoptimalkan sistem ROP & ROQ (secara detail akan dibahas pada bab inventory
control). Untuk merencanakan kebutuhan material yang sifatnya semi normal

kita

menggunakan alur proses tersebut di bawah.

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal

35

5.6.

INVENTORY CONTROL

Definisi Inventory Control


Memaintain persediaan pada level tertentu, sehingga tercapai titik optimal antara tingkat
pelayanan dan nilai persediaan, agar memberikan tingkat pelayanan yang optimal.
Inventori manajemen atau inventori control adalah salah satu fungsi dari manajemen
material
Pentingnya Inventory Control
Pada perusahaan yang memiliki aset Inventory yang bernilai hingga jutaan dollar / ratusan
milyar jika dilakukan pengurangan inventory dengan persentase kecil maka akan
menghasilkan pengurangan nilai Inventory secara cukup signifikan
Sebaliknya bagi perusahaan yang membutuhkan delivery product strategis, maka
diupayakan jangan sampai ketiadaan inventory menghambat proses

AKUNTANSI :
TURUNKAN NILAI INVENTORY!

MAINTENANCE :
BARANG HARUS TERSEDIA!

Materials:

?
Bagaimana menentukan keseimbangan
Tujuan Inventory Control

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal

36

Maximum Service Level


Menjamin terpenuinya kebutuhan O & M

Minimum Inventory
Membatasi nilai seluruh investasi
Membatasi jenis dan jumlah material

Lowest Operating Cost


Memanfaatkan seoptimal mungkin material yang ada

Tugas Aplikatif Inventori Control

Merencanakan usulan pengadaan (RO) berdasarkan usulan kebutuhan material dari user
dan berdasarkan hasil optimalisasi persediaan gudang (ROP & ROQ)

Memonitor dan Mengendalikan Usulan Pengadaan (RO)

Melaksanakan optimalisasi persediaan Gudang, yaitu dengan menjaga tingkat persediaan


material yang optimal dan memberikan pelayanan yang maksimal terhadap permintaan
material

Melaksanakan pengelolaan atau optimalisai terhadap persediaan gudang yang sudah ada.

Bertanggung jawab terhadap kwalitas inventori dan Katalog, yaitu dengan melaksanakan
review dan pembenahan secara terus menerus dan berkesinambungan

Membuat laporan terhadap semua transaksi yang berhubungan dengan material

Membuat analisa dan tindak lanjut terhadap kinerja dari proses bisnis material

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal

37

5.7.

OPTIMALISASI PERSEDIAAN MATERIAL GUDANG

Definisi Optimalisasi Persediaan


Optimalisasi persediaan Gudang, yaitu menjaga tingkat persediaan material yang optimal
dan memberikan pelayanan yang maksimal terhadap permintaan material. Optimalisasi
pesediaan tidak hanya dilakukan terhadap apa yang akan atau sedang di lakukan
pembelian, tetapi juga dilakukan terhadap persediaan yang sudah berada dalam gudang.
Untuk membedakan pemahaman, optimalisasi terhadap persediaan yang sudah ada (yang
lalu) dikenal dengan istilah Assesment Persediaan Gudang

Optimalisasi pesediaan gudang ada 2 yaitu :

Pengelolaan persediaan Material, yaitu optimalisasi terhadap persediaan material


yang sudah ada di gudang, atau yang lebih dikenal dengan istilah Assesment
persediaan Gudang

Perencanaan & Pengendalian persediaan material, yaitu optimalisasi terhadap


material yang akan atau sedang dalam proses pembelian

Assesment Persediaan Gudang


Assesment persediaan gudang adalah merupakan salah optimalisasi persediaan material
terhadap material yang ada didalam gudang. Tanpa melakukan optimalisasi terhadap
persediaan yang ada (audit persediaan), optimalisasi persediaan material yang dilakukan
tidak bisa optimal.

Manfaat audit persediaan gudang :

Mengetahui peta dan kondisi persediaan secara detail

Sebagai salah satu referensi penyusunan anggaran tahun berikutnya

Sebagai dasar untuk memberikan perlakuan terhadap suatu material

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal

38

Contoh detail hasil assesment persediaan gudang

Optimalisasi Pemanfaatan Stock Gudang

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal

39

Optimalisai Persediaan Material


Fungsi utama dari seorang inventory control adalah melakukan optimalisasi persediaan
material. Untuk melaksanakan optimalisasi persediaan material terutama material suku
cadang, maka harus ada suatu kebijakan inventory (Inventory Policy) sebagai dasar
perlakuan kepada item material. Dalam pembuatan suatu kebijakan inventory, kita tidak
bisa lepas dari prinsip-prinsip inventory control

5.8.

Terminologi Inventory Control

1. Reorder Point (ROP)


Titik stock level setup dimana dilakukan proses replenishment (pengadaan) kembali.
2. Reorder Quantity (ROQ)
Jumlah dari item material yang akan dipesan kembali
3. Maximum
Jumlah maksimum dari item stock yang akan disimpan
Max = ROP + ROQ

4. Economic Order Quantity (EOQ)


EOQ disebut juga Optimum Order Size
Dihitung berdasarkan
Total Cost = Order Cost + Holding Cost
Order Cost meliputi biaya-biaya:
-

Gaji personil Puchasing

Seluruh biaya Administrasi untuk proses

Seluruh biaya kebutuhan dibagian

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal

Procurement

Procurement (telpon, listrik dll)


40

Holding Cost meliputi biaya-biaya:


-

Gaji personil Warehousing

Kebutuhan Warehouse (rak, material handling, listrik dll)

Kebutuhan biaya Administrasi Warehouse

5. Order Quantity (OQ)


Order Quantity lebih berorientasi kepada Penghematan Stock dibandingkan EOQ yang
berorientasi kepada penghematan biaya.
Rumus:
OQ = U x L/T
Dimana:
OQ

= Order Quantity

= Pemakaian (Usage) untuk satu tahun

L/T

= Lead Time

6. Safety Stock
Suatu jumlah yang ditetapkan sebagai buffer untuk mengantisipasi adanya ketidakpastian
dari jumlah pemakaian (usage) atau Lead Time
Safety Stock dapat ditambahkan dalam perhitungan karena:
-

Adanya variabel pemakaian dalam masa Lead Time

Frekuensi Reorder

Lamanya periode Lead Time

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal

41

5.9.

LAPORAN MANAJEMEN MATERIAL

Salah satu cara untuk mengetahui kinerja atau tolak ukur keberhasilan suatu proses bisnis
adalah dengan sistem pelaporan. Agar mempunyai kegunaan yang maksimum suatu
pelaporan harus memenuhi beberapa ketentuan sebagai berikut :

Diisi dengan lengkap, akurat, dan tepat waktu


Pengisian dapat dilakukan secara komputer atau secara manual
Pengisian secara lengkap, artinya semua yang diperlukan dicatat, tidak hanya
menyangkut keadaan sekarang, tetapi juga data selama beberapa waktu terakhir
dan mungkin prediksi kecenderungan masa mendatang

Dilaporkan kepada pihak yang memerlukan


Laporan biasanya dilakukan secara tertulis dan dibuat secara berkala.
Pihak yang memerlukan biasanya adalah manajemen dan pihak terkait.
Laporan harus dibuat secara jelas,singkat,disertai data kuantitatif, dan langsung
ke inti masalah.

Dilakukan evaluasi atas isi laporan


Evaluasi yang dimaksud di sini adalah yang menyangkut penilaian apakah kinerja
sudah/belum memenuhi ketentuan atau target, ada kemajuan atau kemunduran,
dan sebagainya. Evaluasi menyangkut pula kesimpulan seperti apakah perlu tindak
lanjut, apakah menunggu dulu untuk melihat perkembangan, dan sebagainya.

Dilakukan tindak lanjut untuk memperbaiki kinerja


Tindak lamjut yang diperlukan biasanya menyangkut langkah-langkah perbaikan,
atau percepatan perbaikan kinerja, dan sebagainya. Langkah-langkah perbaikan
dapat menyangkut perbaikan prosedur, SDM, pengawasan, dan sebagainya
Kelemahan yang umum adalah kuat dalam laporan, tetapi sangat lemah dalam
tindak lanjut

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal

42

Laporan Manajemen Material,


Adalah laporan hasil kinerja dari fungsi-fungsi dalam lingkup manajemem material
berdasarkan tolak ukur yang sudah ditetapkan

Laporan Manajemen Material, dapat dibedakan menjadi :


1. Laporan Strategis
Yaitu

laporan

yang

bersifat

strategeis,

artinya

menyangkut

atau

sangat

mempengaruhi eksistensi perusahaan. Laporan ini umumnya sangat singkat, padat


serta terbatas dan hanya dilaporkan untuk manajemen puncak (Dirut)
2. Laporan Manajerial
Yaitu laporan yang bersifat manajerial, artinya memerlukan perhatian manajemen
tingkat menengan (Direksi).
Laporan ini umumnya sangat singkat, padat

serta terbatas, misalnya hanya

beberapa KPI dari manajemen material.


3. Laporan Operasional
Yaitu laporan yang bersifat operasional. Laporan ini umumnya tidak dibatasi, dan
dilaporkan secara berkala/periodik serta terus menerus.
Laporan ini biasanya dilporkan kepada manajer unit dan penyelia.
5.10.

CATALOG DAN INVENTORY

CATALOG :
Adalah

sebuah

menggambarkan

sajian informasi
secara

jelas

detail

dan

dari suatu material

lengkap

tentang

atau barang

spesifikasi

material

yang
yang

terdokumentasi dalam bentuk format yang teratur dan rapi

STOCK CODE (NOMOR BARANG)


Adalah sebuah nomor yang tidak berulang yang diberikan untuk tiap-tiap stock item dalam
katalog. Ini dilakukan secara otomatis oleh ELLIPSE bila sebuah item dikatalogkan. Nomor
Stock

Code

menghubungkan

antara

purchasing

(pembelian),

Inventory,

maintenance(pemeliharaan) dan dasar record katalog.

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal

43

Fungsi Catalog

Mengidentifikasi pengulangan pembelian material, untuk membuat biaya lebih efektif


dengan membawa material-material tersebut ke dalam stok.

Mengidentifikasi spare part/suku cadang kusus pada peralatan yang dijadwalkan untuk
ditempatkan, sehingga suku cadang yang bersangkutan dapat juga ditempatkan pada
induk peralatannya/parent equipment.

Menyediakan diskripsi teknis secara lengkap yang digunakan sebagai dokumentasi


pembelian.

Menyediakan basis/dasar dari mana pembelian akan dapat dilakukan guna menentukan
calon-calon pengikut tender pembelian.

Menyediakan informasi diskripsi teknis untuk referensi silang kepada Engineering baik
untuk produksi maupun tujuan pemeliharaan.

6.

MANAJEMEN EFFISIENSI

6.1. Definisi Manajemen Effisiensi


Efisiensi Manajemen adalah suatu system monitoring efisiensi mesin dan melakukan
improvement. Perhitungan efisiensi ini dilakukan dengan cara heat balance, untuk
mempermudah monitoring dan analisa menggunakan tools Gate Cycle. Output dari Gate
Cycle.
Effisiensi PLTU

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal

44

Efisiensi Siklus.
PLTU mengubah energi kimia bakar menjadi energi listrik.
Urutan selengkapnya adalah :
Energi Kimia dalam bahan bakar diubah menjadi energi panas. Proses ini terjadi di dalam
ketel ( Boiler ).
Energi panas diubah menjadi energi mekanis. Proses ini terjadi di Turbin.
Energi mekanis di ubah menjadi Energi Listrik. Proses ini terjadi di Generator listrik.
Akibat keseluruhan dari rantai proses konversi energi ini adalah output energi listrik di peroleh dari
input bahan bakar.
Efisiensi siklus dapat di hitung apabila data data tersebut di bawah ini di ketahui :
Energi Listrik yang di diproduksi . KWh
Berat bahan bakar yang di bakar Kg
Nilai kalor bahan bakar .. Kj/Kg
Contoh :
Suatu unit PLTU dibebani 100 MW, dalam satu jam menghabiskan bahan bakar batubara
sebanyak 50.000 kg. Nilai kalor bahan bakar adalah 23.000 Kj/Kg.
Berapa efisiensi siklus keseluruhan (Overall effisiensi) ?
Jawab :
Panas masuk

maka InPUT

= Berat bahan bakar X Nilai Kalor


= 50.000 X 23.000 Kj/Kg
= 1.150.000.000 Kj
= 1.150.000.000 Kj

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal

45

Dari gambar terlihat bahwa unsur-unsur dalam siklus adalah sebagai berikut :
Input

= (h4 - h3) +(h3 - h2) + (h2 - h1)


= h4 - h1

Losses = T (S5 - S1)


Output = h4 - h5

Keterangan :
= Effisiensi
h = Entalphy
s = Entrophy
T = Temperatur
Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal

46

Heat Rate.
Apabila dalam perhitungan efisiensi di perbandingkan energi Output dibagi Input, maka dalam
perhitungan Heat Rate adalah kebalikan dari perhitungan efisiensi dan satuan energi Output tidak
harus dengan satuan energi Input.

Efisiensi PLTG
SB)

SB

Wnet
q in

Keterangan :
Wnet = Daya Netto yang dihasilkan
qin = Kalor masuk dari bahan bakar

Heat Rate
Plan Heat Rate

qin
W

Effisiensi PLTD

SB

Wnet
q in

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal

47

Spesific Fuel Consumtion (SFC)


Adalah perbandingan pemakaian bahan bakar dengan produksi KWH

SFC

6.2.

Jumlahpema kaianbahanbakar(liter )
x 100 %
W

Mekanisme Kerja Efisiensi Improvement


Mekanisme kerja efisiensi improvement adalah sebagai berikut :

Data Collection

Plant Performance Monitoring

- Operator
- Rendal Data & Efisiensi

Efisiensi
Equipment Optimal ?

- Rendal Data & Efisiensi

-Rendal Data & Eff

Rekomendasi + CBA
- Rendal Operasi

Engineering Change
Management
- Tim Engineering

WO

SOP

Rendal Har

Rendal Operasi

Eksekusi SOP

CR
Har Rutin

Operasi

PM
Har Rutin

PdM
Har Rutin

PaM
Engineering
Har Rutin

OH
UHar

WO Close & Documentation

Data Evaluation
(Heat Rate, Cost Benefit dll)
Rendal Har & Rendal Ops

Rendal Har

Team Effisiensi terdiri dari DM Operasi, Sinfo, Operator, Rendal Data & Efisiensi, Rendal Op,
Enjinering (Reff. Tata Kekola PJB)
GATE KEEPER
Sinfo

DM Operasi

Technology Suporting

Operator

DATA ENTRY

Rendal Data &


Efisiensi
RUNNING GATE CYCLE
&
TREND REPORTING

Rendalop

Enjinirng

ANALISA TREND &


REKOMENDASI

ANALISA
PROBLEM SOLVING &
REKOMENDASI

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal

48

6.3. Tugas Team Effisiensi


Gate Keeper (DM Operasi)

Memastikan program efisiensi improvement dijalankan dengan baik berdasarkan


KPI

Konsep pengembangan
Technology Support (Sinfo)
Mendokumentasikan Master Software Model/Case Program Gate Cycle
Secara periodik check validitas program/model
Membuat model pengembangan
Pengembangan Automatic data entry
Data Collection/Data Entry (Operator)
Melaksanakan entry data dalam Server Data Program Gate Cycle setiap hari Jam 19:00
WIB (Waktu Peak Load)
Memastikan validitas data yang dientry
Running Gate Cycle & Trend Reporting (Data & Ef)
Merunning gate cycle setiap hari dan mengidentifikasi penurunan performance.
Membuat Laporan Trend Performance setiap bulan.
Mendokumentasikan data-data performance, redomendasi, problem solving.
Analisa Trend & Rekomendasi (Rendalop)
Melakukan analisa trend performance
Membuat rekomendasi untuk meningkatkan performance
Membuat laporan berkala kepada manajemen
Analisa Problem Solving & Rekomendasi (Enjineering)
Rekomendasi penyelesaian masalah

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal

49

7.

INDEK KINERJA PEMBANGKIT

7.1.

Definisi Indek Kinerja Pembangkit

Availability Factor (AF): adalah rasio antara jumlah jam unit pembangkit siap beroperasi
terhadap jumlah jam dalam satu periode tertentu. Besaran ini menunjukkan prosentase
kesiapan unit pembangkit untuk dioperasikan pada satu periode tertentu.

Equivalent Availability Factor (EAF): adalah ekivalen Availability Factor yang telah
memperhitungkan dampak dari derating pembangkit.

Service Factor (SF): adalah rasio dari jumlah jam unit pembangkit beroperasi terhadap
jumlah jam dalam satu periode tertentu. Besaran ini menunjukkan prosentase jumlah jam
unit pembangkit beroperasi pada satu periode tertentu.

Planned Outage Factor (POF): adalah rasio jumlah jam unit pembangkit keluar terencana
(planned outage) terhadap jumlah jam dalam satu periode. Besaran ini menunjukkan
prosentase kondisi unit pembangkit akibat pelaksanaan pemeliharaan, inspeksi dan
overhoul pada suatu periode tertentu.

Maintenace Outage Factor (MOF): adalah rasio dari jumlah jam unit pembangkit keluar
terencana (Maintenace outage) terhadap jumlah jam dalam satu periode. Besaran ini
menunjukkan prosentase kondisi unit pembangkit akibat pelaksanaan perbaikan, pada
suatu periode tertentu.

Scheduled Outage Factor (SOF): adalah rasio dari jumlah jam unit pembangkit keluar
terencana (planned outage dan maintenance outage) terhadap jumlah jam dalam satu
periode. Besaran ini menunjukkan prosentase kondisi unit pembangkit akibat pelaksanaan
pemeliharaan, inspeksi dan overhoul pada suatu periode tertentu.

Unit Derating Factor (UDF): adalah rasio dari jumlah jam ekivalem unit pembangkit
mengalami derating terhadap jumlah jam dalam satu periode. Besaran ini menunjukkan
prosentase kondisi unit pembangkit akibat derating, pada suatu periode tertentu.

Reserve Shutdown Factor (RSF): adalah rasio dari jumlah jam unit pembangkit keluar
reserve shutdown (RSH) terhadap jumlah jam dalam satu periode. Besaran ini
menunjukkan prosentase unit pembangkit reserve shutdown, pada suatu periode tertentu.

Forced Outage Factor (FOF): adalah rasio dari jumlah jam unit pembangkit keluar paksa
(FOH) terhadap jumlah jam dalam satu periode. Besaran ini menunjukkan prosentase
kondisi unit pembangkit akibat
Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal

50

FO, pada suatu periode tertentu.

Forced Outage Rate (FOR): adalah jumlah jam unit pembangkit dikeluarkan dari sistem
(keluar paksa) dibagi jumlah jam unit pembangkit dikeluarkan dari sistem ditambah jumlah
jam unit pembangkit beroperasi, yang dinyatakan dalam prosen.

Forced Outage Rate demand (FORd): adalah (f x FOH) dibagi [(f x FOH)+SH]. Besaran
ini menunjukkan tingkat gangguan outage tiap periode operasi yang diharapkan.

Equivalent Forced Outage Rate (EFOR): adalah Forced Outage Rate yang telah
memperhitungkan dampak dari derating pembangkit.

Equivalent Forced Outage Rate demand (EFORd): adalah [(fxFOH)+(fpxEFDH)] dibagi


[(f x FOH) + SH]. Besaran ini menunjukkan tingkat gangguan outage dan derating tiap
periode operasi yang diharapkan.

Net Capacity Factor (NCF): adalah rasio antara total produksi netto dengan daya mampu
netto unit pembangkit dikali dengan jam periode tertentu (umumnya periode 1 tahun, 8760
atau 8784 jam).

Net Output Factor (NOF): adalah rasio antara total produksi netto dengan daya mampu
netto unit pembangkit dikali dengan jumlah jam unit pembangkit beroperasi.

Plant Factor (PF): adalah rasio antara total produksi netto dengan perkalian antara DMN
dan jumlah jam unit pembangkit siap dikurangi jumlah jam ekivalen unit pembangkit
derating akibat forced derating, maintenance derating, planned derating, dan derating
karena cuaca/musim.

7.2.

Durasi Outage Dan Derating

Service Hours (SH): adalah jumlah jam operasi unit pembangkit tersambung ke jaringan
transmisi, baik pada kondisi operasi normal maupun kondisi derating.

Available Hours (AH): adalah jumlah jam unit pembangkit siap dioperasikan yaitu Service
Hours ditambah Reserve Shutdown Hours.

Planned Outage Hours (POH): adalah jumlah jam unit tidak dapat beroperasi sebagai
akibat dari Planned Outage untuk pelaksanaan pemeliharaan, inspeksi dan overhaul, yang
telah dijadwalkan jauh hari sebelumnya (misal: overhaul boiler, overhaul turbin) +
Scheduled Outage Extensions (SE) dari Planned Outages (PO).

Unplanned Outage Hours (UOH): adalah jumlah jam yang dialami selama Unplanned
Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal

51

(Forced) Outages U1, U2, U3) + Startup Failures (SF) + Maintenance Outages (MO) +
Scheduled Outage Extensions (SE) dari Maintenance Outages (MO).

Forced Outage Hours (FOH): adalah jumlah jam unit keluar paksa sebagai akibat dari
gangguan Unplanned (Forced) Outages (U1, U2, U3) + Startup Failures (SF).

Maintenance Outage Hours (MOH): adalah jumlah jam unit tidak dapat beroperasi
sebagai akibat dari keluar pemeliharaan karena Maintenance Outages (MO) + Scheduled
Outage Extensions (SE) dari Maintenance Outages (MO).

Unavailable Hours (UH): adalah jumlah jam dari semua Planned Outage Hours (POH) +
Unplanned (Forced) Outage Hours (FOH) + Maintenance Outage Hours (MOH).

Scheduled Outage Hours (SOH): adalah jumlah jam unit tidak dapat beroperasi sebagai
akibat dari keluar terencana baik Planned Outage maupun Maintenance Outage +
Scheduled Outage Extensions (SE) dari Maintenance Outages (MO) dan Planned
Outages(PO).

Reserve Shutdown Hours (RSH): adalah jumlah jam unit tidak beroperasi karena tidak
dibutuhkan oleh sistem (pertimbangan ekonomi).

Synchronous Hours (Syn.H): adalah jumlah jam unit dalam kondisi kondensasi.

Period Hours (PH): adalah total jumlah jam dalam suatu periode tertentu yang sedang
diamati selama unit dalam status Aktif.

Unit Derating Hours (UDH): adalah jumlah jam unit mengalami derating.

Equivalent Seasonal Derated Hours (ESEDH): adalah perkalian antara MW derating unit
pembangkit akibat pengaruh cuaca/musim dengan jumlah jam unit pembangkit siap dibagi
dengan DMN.

Equivalent Forced Derated Hours (EFDH): adalah perkalian antara jumlah jam unit
pembangkit derating secara paksa (forced derating: D1, D2, D3) dengan besar penurunan
derating dibagi DMN. Setiap kejadian Forced Derating (D1, D2, D3) dikonversi menjadi jam
ekivalen full outage, yang diperoleh dengan cara mengalikan durasi derating aktual (jam)
dengan besar derating (MW) dan membagi perkalian tersebut dengan DMN pembangkit
(MW). Semua jam ekivalen ini kemudian dapat dijumlahkan.

Equivalent Planned Derated Hours (EPDH): adalah perkalian antara jumlah jam unit
pembangkit derating terencana (Planned Derating) termasuk Extension (DE) dan besar
penurunan derating dibagi dengan DMN. Setiap kejadian derating terencana (PD dan DE)
Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal

52

dikonversi menjadi jam ekivalen full outage, yang diperoleh dengan cara mengalikan durasi
derating aktual (jam) dengan besar derating (MW) dan membagi perkalian tersebut dengan
DMN pembangkit (MW). Semua jam ekivalen ini kemudian dapat dijumlahkan.
CATATAN: Termasuk Planned Deratings (PD) selama Reserve Shutdowns (RS).

Equivalent Unplanned Derated Hours (EUDH): adalah perkalian antara jumlah jam unit
pembangkit derating tidak terencana (D1, D2, D3, D4, DE) dan besar penurunan derating
dibagi dengan DMN. Setiap kejadian Forced Derating (D1, D2, D3) dikonversi menjadi jam
ekivalen full outage, yang diperoleh dengan cara mengalikan durasi derating aktual (jam)
dengan besar derating (MW) dan membagi perkalian tersebut dengan DMN pembangkit
(MW). Semua jam ekivalen ini kemudian dapat dijumlahkan.

Equivalent Forced Derated Hours during Reserve Shutdown (EFDHRS): adalah


perkalian antara jumlah jam unit pembangkit forced derating (D1, D2, D3) selama reserve
shutdown dan besar penurunan derating dibagi dengan DMN. Setiap kejadian Forced
Derating (D1, D2, D3) selama reserve shutdown dikonversi menjadi jam ekivalen full
outage, yang diperoleh dengan cara mengalikan durasi derating aktual (jam) dengan besar
derating (MW) dan membagi perkalian tersebut dengan DMN pembangkit (MW). Semua
jam ekivalen ini kemudian dapat dijumlahkan.

Equivalent Planned Derated Hours During Reserve Shutdowns EPDHRS (PD):


adalah perkalian antara jumlah jam unit keluar terencana (Planned Derating, PD) selama
reserve shutdown dan besar penurunan derating dibagi dengan DMN. Setiap kejadian
planned derating selama reserve shutdown dikonversi menjadi jam ekivalen full outage,
yang diperoleh dengan cara mengalikan durasi derating aktual (jam) dengan besar derating
(MW) dan membagi perkalian tersebut dengan DMN pembangkit (MW). Semua jam
ekivalen ini kemudian dapat dijumlahkan.

7.3.

Formula Indeks Kinerja Pembangkit


Disini akan dibahas metode perhitungan Indeks Kinerja Pembangkit yang yaitu:

Perhitungan Pembangkit Tunggal

Perhitungan Pembangkit Gabungan

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal

53

Beberapa jenis Indeks kinerja pembangkit yaitu:

PER UNIT PEMBANGKIT

UNIT PEMBANGKIT GABUNGAN

1. Availability Factor (AF)

1. Weighted Availability Factor (WAF)

2. Equivalent Availabity Factor


(EAF)

2. Weighted Equivalent Availability Factor


(WEAF)

3. Service Factor (SF)

3. Weighted Service Factor (WSF)

4. Planned Outage Factor (POF)

4. Weighted Planned Outage Factor (WPOF)

5. Maintenance Outage Factor


(MOF)

5. Weighted Maintenance Outage Factor


(WMOF)

6. Forced Outage Factor (FOF)

6. Weighted Forced Outage Factor (WFOF)

7. Reserve Shutdown Factor (RSF)


8. Unit Derating Factor (UDF)

7. Weighted Reserve Shutdown Factor


(WRSF)

9. Seasonal Derating Factor (SEDF)

8. Weighted Unit Derating Factor (WUDF)

10. Forced Outage Rate (FOR)

9. Weighted Seasonal Derating Factor


(WSEDF)

11. Forced Outage Rate Demand


(FORd)

10. Weighted Forced Outage Rate (WFOR)

12. Equivalent Forced Outage Rate


(EFOR)

11. Weighted Equivalent Forced Outage Rate


(WFORd)

13. Eq. Forced Outage Rate demand


(EFORd)

12. W. Equivalent Forced Outage Rate


(WEFOR)

14. Net Capacity Factor (NCF)

13. W. Equivalent Forced Outage Rate


demand (WEFORd)

15. Net Output Factor (NOF)


16. Plant Factor (PF)

14. Weighted Net Capacity Factor (WNCF)


15. Weighted Net Output Factor (WNOF)
16. Weighted Plant Factor (WPF)

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal

54

a. Formula IKP Per Pembangkit


Formula Indeks Kinerja Pembangkit untuk pembangkit tunggal (per pembangkit) adalah
sebagai berikut:

Availability factor
[ AF ]

Equivalent Availability
Factor [ EAF ]

Service Factor
[ SF ]

Planned Outage Factor


[ POF ]

Maintenance Outage
Factor [ MOF ]

Reserve Shutdown Factor


[ RSF ]

Unit Derating Factor


[ UDF ]

Scheduled Outage Factor


[ SOF ]

Forced Outage Factor


[ FOF ]

10

Forced Outage Rate


[ FOR ]

AH
100%
PH

AH ( EFDH EMDH EPDH ESEDH )


100%
PH

POH
100%
PH

MOH
100%
PH

RSH
100%
PH

EPDH EUDH
100%
PH

POH MOH
100%
PH

SH
100%
PH

FOH
100%
PH

FOH
100%
FOH SH Synchronou sHours

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal

55

11

Forced Outage Rate


demand [FORd]

12

Equivalent Forced Outage


Rate [EFOR]

13

Equivalent Forced Outage


Rate demand
[ EFORd ] **)

**) Untuk pembangkit


pemikul beban puncak
Jika SH, FOH atau RSH =
0, maka untuk
perhitungan diberi angka
0,001.
Jika jumlah kejadian FO,
start atau start aktual = 0,
maka untuk perhitungan
diberi angka 1.

14

Net Capacity Factor


[ NCF ]

15

Net Output factor


[ NOF ]

16

Plant Factor
[ PF ]

f FOH
100%
( f FOH ) SH

FOH EFDH
100%
FOH SH Synchr .Hrs. EFDHRS

( f FOH ) ( fp EFDH )
100%
( f FOH ) SH

dimana:
fp = (SH/AH)
f = (1/r + 1/T) / (1/r + 1/T + 1/D)
r = Durasi FO rata-rata = [FOH / jumlah kejadian
FO]
D = jam operasi rata-rata = [SH / jumlah start
aktual]
T = RSH rata-rata = [RSH / jumlah start yang
dilakukan, baik berhasil maupun gagal]

Pr oduksi Netto

Pr oduksi Netto

PH DMN
SH DMN

100%
100%

( AH ( EPDH EUDH ))DMN 100%

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal

Pr oduksi Netto

56

b. Formula IKP Pembangkit Gabungan


1

Availability factor
[ AF ]

Equivalent Availability Factor


[ EAF ]

Service Factor
[ SF ]

Planned Outage Factor


[ POF ]

Maintenance Outage Factor


[ MOF ]

Reserve Shutdown Factor


[ RSF ]

Unit Derating Factor


[ UDF ]

Scheduled Outage Factor


[ SOF ]

Forced Outage Factor


[ FOF ]

10

Forced Outage Rate


[ FOR ]

11

Forced Outage Rate demand


[ FORd]

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal

AH
100%
PH

( AH ( EFDH EMDH EPDH ESEDH ))


100%
PH

POH
100%
PH

MOH
100%
PH

RSH
100%
PH

( EPDH EUDH )
100%
PH

( POH MOH )
100%
PH

SH
100%
PH

FOH
100%
PH

FOH
100%
( FOH SH Synchr .Hours )

( f FOH )
100%
(( f FOH ) SH )

57

12

13

Equivalent Forced Outage


Rate [ EFOR]

Equivalent Forced Outage


Rate demand
[ EFORd ] **)

**) Untuk pembangkit pemikul


beban puncak

( FOH EFDH )
100%
( FOH SH Synchr .Hrs. EFDHRS)

(( f FOH ) ( fp EFDH ))
100%
(( f FOH ) SH )

dimana:
fp = (SH/AH)
f = (1/r + 1/T) / (1/r + 1/T + 1/D)

r = Durasi FO rata-rata = [FOH / jumlah


kejadian FO]
Jika SH, FOH atau RSH = 0,
maka untuk perhitungan diberi D = jam operasi rata-rata = [SH / jumlah start
aktual]
angka 0,001.
T = RSH rata-rata = [RSH / jumlah start yang
Jika jumlah kejadian FO, start
dilakukan, baik berhasil maupun gagal]
atau start aktual = 0, maka
untuk perhitungan diberi
angka 1.

14

Net Capacity Factor


[ NCF ]

15

Net Output factor


[ NOF ]

16

Plant Factor
[ PF ]

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal

Pr oduksi Netto

Pr oduksi Netto

( PH DMN )

( SH DMN )

100%

100%

Pr oduksi Netto

(( AH ( EPDH EUDH ))DMN ) 100%

58