Anda di halaman 1dari 9

LAPORAN PRAKTIKUM

ILMU GULMA

ACARA II
PENGARUH KERAPATAN POPULASI GULMA TEKI TERHADAP
PERTUMBUHAN TANAMAN BAWANG MERAH

OLEH:
Nama

1.
2.

I GEDE ASENA PRADANA


NIM: C1M013080
I KOMANG TRI JUNIARTHA W
NIM: C1M013081

FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS MATARAM
2014

ACARA II
PENGARUH KERAPATAN POPULASI GULMA TEKI TERHADAP
PERTUMBUHAN TANAMAN BAWANG MERAH
A. Tujuan: Untuk mengetahui pengaruh kerapatan (populasi) gulma terhadap
pertumbuhan tanaman Komak
B. Tinjauan Pustaka
Peranan Manusia terhadap Ekologi Gulma
Gulma merugikan manusia dalam keadaan,tempat dan waktu tertentu.
Tetapi,pada prinsipnya, gulma merupakan tumbuhan yang tidak dikehendaki
tumbuh atau hidup di suatu tempat. Hal ini disebabkan karena gulma biasanya
tumbuhan

tersebut

dapat

berkompetisi

dengan

tanaman

pokok

yang

dibudidayakan oleh manusia. Gulma dan tanaman budidaya mengadakan


kompetisi dalam rangka mendapatkan factor factor tumbuh yang terbatas di
suatu Agro-ekosistem (Wikipedia, 2010).
Gulma merupakan tumbuhan yang tumbuh pada waktu, tempat, dan kondisi
yang tidak diinginkan manusia (Sukman dan Yakub, 2002). Menurut Kleiber
(1968), definisi utama gulma adalah tumbuhan yang muncul tidak pada
tempatnya. Terdapat dua kelompok definisi gulma yang dianggap penting yaitu
definisi subjektif dan objektif. Definisi subjektif menyatak an gulma merupakan
tumbuhan kontroversial yang tidak semua buruk maupun tidak semuanya baik,
tergantung pandangan seseorang (Anderson, 1977).
Menurut definisi ekologis gulma didefinisikan sebagai tumbuhan yang telah
beradaptasi dengan habitat buatan dan menimbulkan gangguan terhadap segala
aktivitas manusia (Sastroutomo, 1990). Gulma sering di tempatkan dalam
kompetisi atau campur tangannya terhadap aktivitas manusia atau pertanian.
Mengingat keberadaan gulma menimbulkan akibat - akibat yang merugikan
maka dilakukan usaha-usaha pengendalian secara teratur dan terencana.
Pengendalian gulma bukan lagi merupakan usaha sambilan, tapi merupakan usaha
tersendiri yang memerlukan langkah efisien, rasional berdasarkan pertimbangan
ilmiah yang teruji (Sukman dan Yakub, 2002).

Kompetisi antara Gulma - Tanaman dan Pengaruhnya terhadap Produksi


Tanaman
Kompetisi adalah hubungan interaksi antara dua individu tumbuhan baik
yang sesama jenis maupun berlainan jenis yang dapat menimbulkan pengaruh
negatif bagi keduanya sebagai akibat dari pemanfaatan sumber daya yang ada
dalam keadaan terbatas secara bersama. Kompetisi yang terjadi di alam meliputi
kompetisi intrapesifik yaitu interaksi negatif antar sesama jenis, dan kompetisi
interspesifik yatu interaksi negatif yang terjadi pada rumbuhan berbeda jenis.
Tanaman budidaya mempunyai kemampuan untuk bersaing dengan gulma sampai
batas populasi gulma tertentu. Setelah batas populasi tersebut, tanaman budidaya
akan kalah dalam bersaing sehingga pertumbuhan dan produksi tanaman budidaya
akan menurun. Kompetisi gulma dapat menyebabkan penurunan kuantitas dan
kualitas hasil panen. Penurunan kuantitas hasil panen terjadi melalui dua cara
yaitu pengurangan jumlah hasil yang dapat dipanen dan penurunan jumlah
indididu tanaman yang dipanen. Kompetisi antara gulma dan tanaman terjadi
karena faktor umbuh yang terbatas. Faktor yang dikompetisikan antara lain hara,
cahaya, CO2, cahaya dan ruang tumbuh. Besarnya daya kompetisi gulma
tergantung pada beberapa faktor antara lain jumlah individu gulma dan berat
gulma, siklus hidup gulma, periode gulma pada tanaman, dan jenis gulma.
(Soerjandono, 2005).
Pengaruh tanaman gulma merupakan salah satu faktor pembatas produksi
tanaman. Gulma menyerap hara dan air lebih cepat disbanding tanaman pokok
(Gupta, 1984).
Gulma

berinteraksi

dengan

tanaman

melalui

persaingan

untuk

mendapatkan satu atau lebih faktor tumbuh yang terbatas, seperti cahaya, hara,
dan air. Tingkat persaingan bergantung pada curah hujan, varietas, kondisi tanah,
kerapatan gulma, lamanya tanaman, pertumbuhan gulma, serta umur tanaman saat
gulma mulai bersaing (Jatmiko et al. 2002).

Di tingkat petani, kehilangan hasil padi karena persaingan dengan gulma


mencapai 10-15%. Karena terbatasnya tenaga kerja untuk menyiang, dalam
mengendalikan gulma petani mulai beralih dari penyiangan secara manual
kepemakaian herbisida (Pane et al. 1999).
C. Tempat dan Tanggal Praktikum: Kebun Hortikultura, Fakultas Pertanian,
Universitas Mataram, dilaksanakan pada hari sabtu 20 November 2014.
D. Bahan dan Alat Praktikum: Benih tanaman Komak, umbi gulma teki, tanah,
Pupuk NPK, polybag dan alat tulis menulis
D. Prosedur Kerja:
1. Tanah dimasukan ke dalam polybag sampai ketinggian 4 cm dari bibir
polybag
2. Benih tanaman ditanam sebanyak 2 biji. Penjarangan tanaman dilakukan
seteah tujuh hari dengan menyisakan satu tanaman per pot. Semaikan
sejumlah umbi gulma teki sebanyak popilasi perlakuan yang di rencanakan
setelah penanaman benih tanaman.
3. Penyiraman di lakukan sesuai keadaan dan dalam takaran yang sama untuk
menjaga kelembaban tanah.
Pengamatan :
1. Ukur tinggi tanaman
2. Hitung jumlah daun
3. Hitung jumlah cabang
4. Timbang berat berangkas basah tanaman per pot
5. Hitung jumlah anakan (umbi teki) per pot
6. Timbang berat brangkasan basah seluruh teki per pot
F. Hasil Pengamatan
1. Percobaan aditif
Tabel 1. Rerata tinggi tanaman, jumlah daun, jumlah cabang, dan berat basah
tanama komak
Berat
Tinggi
Jumlah daun
Jumlah
Perlakuan
berangkas
tanaman (cm)
(helai)
cabang
basah(g)

Tabel 2. Rerata jumlah anakan (umbi) dan berat brangkasan basah teki per pot

Perlakuan

(Narasikan

Jumlah anakan (umbi) teki

hasil

pengamatan

pada

Berat brangkasan basah teki (g)

Tabel

dan

2)

................................................................................................................ dst.
2. Percobaan Subtitusi
Tabel 3. Rerata tinggi tanaman, jumlah anakan daun jumlah cabang dan berat
berangkas basah per tanaman komak
perlakuan
Tinggi
Jumlah ana
Jumlah cabang
Berat
tanaman (cm)
daun (helai)
berangkas
basah (g)

(Narasikan
hasil
pengamatan
pada
Tabel
1
dan
2)

................................................................................................................ dst.
Tabel 4. Rerata jumlah anakan (umbi) dan berat berangkas basah teki per pot
perlakuan
Jumlah anaka (umbi) teki
Berat berangkas basah teki
(g)

G. Pembahasan
Kompetisi diartikan sebagai perjuangan dua organisme atau lebih
untuk memperebutkan objek yang sama. Baik gulma maupun tanaman
mempunyai keperluan dasar yang sama untuk pertumbuhan dan perkembangan
yang normal, yaitu unsure hara, air, cahaya, bahan ruang tumbuh dan CO2.
persaingan terjadi bila unsur-unsur penunjang pertumbuhan tersebut tidak tersedia
dalam jumlah yang cukup bagi keduanya. Persaingan antara gulma dengan
tanaman adalah persaingan interspesifik karena terjadi antar spesies tumbuhan

yang berbeda, sedangkan persaingan yang terjadi antar spesies tumbuhan yang
sama merupakan persaingan intra spesifik.
Kemampuan tanaman bersaing dengan gulma ditentukan oleh
spesies gulma, kepadatan gulma, saat dan lama persaingan, cara budidaya dan
varietas yang ditanam, serta tingkat kesuburan tanah. Perbedaan spesies akan
menentukan kemampuan bersaingkarena perbedaan system fotosintesis, kondisi
perakaran dan morfologinya. Spesies gulma yang tumbuh cepat, berhabitat luas,
dan memiliki metabolisme yang efisien adalah yang tergolong tumbuhan berjalur
fotosintesis C4. tumbuhan yang tergolong C4adalah famili Gramineae (sebagian
gulma tropik seperti alang-alang), Cyperaceae (teki), dan Amaranthaceae (bayam
duri). Kelembaban atau kerapatan populasi gulma menentukan persaingan dan
makin besar pula penurunan produksi tanaman. Gulma yang muncul atau
berkecambah lebih dulu atau bersamaan dengan tanaman yang dikelola berakibat
besar terhadap pertumbuhan dan hasil panen tanaman tersebut. Persaingan gulma
pada awal pertumbuhan akan mengurangi kuantitas hasil, sedangkan persaingan
dan gangguan gulma menjelang panen berpengaruh besar terhadap kualitas hasil.
Perbedaan cara penanaman, laju pertumbuhan, umur varietas yang ditanam dan
tingkat ketersediaan unsure hara juga akan menentukan besarnya persaingan
gulma dengan tanaman.
a. Persaingan memperebutkan air
Gulma sama halnya dengan tumbuhan lain, yang banyak membutuhkan air untuk
hidupnya . air diserap dari dalam tanah dan sebagian besar diuapkan (transpirasi)
dan hanya sekitar 1% saja yang digunakan untuk proses fotosintesis. Untuk tiap
kilogram bahan organic gulma membutuhkan 330-1900 liter air. Kebutuhan yang
besar tersebut hampir dua kali kebutuhan pertanaman. Contoh gulma Helianthus
annus membutuhkan air sebesar dua kali tanaman jagung. Persaingan
memperebutkan air terutama terjadi pada pertanian lahan kering atau tegalan.

b. Persaingan memperebutkan hara


Setiap

lahan

berkapasitas

tertentu

dalam

mendukung

pertumbuhan

berbagaipertanaman dan pertumbuhan yang tumbuh di permukaannya. Jumlah


bahan organic yang dapat dihasilkan pada lahan itu tetap walaupun komposisi
tumbuhannya berbeda. Karena itu bila gulma tidak dikendalikan, sebagian hasil
bahan organic pada lahan ituberupa gulma. Hal ini berarti bahwa pemupukan akan
menaikan daya dukung lahan, tetapi tidak akan mengurangi komposisi hasil
tumbuhan atau gangguan gulma tetap ada dan merugikan walaupun tanah
dipupuk.
Nitrogen merupakan unsur yang paling banyak diperebutkan antara pertananaman
dengan gulma oleh karena itu unsur ini lebih cepat habis terpakai. Gulma lebih
banyak menyerap unsur hara daripada pertanaman. Pada bobot kering yang sama,
gulma mengandung kadar nitrogen dua kali lebih banyak daripada jagung.
Fosfat 1,5 kali lebih banyak, 3,5 kali lebih banyak kalium, 7,5 kali lebih banyak
kalsium dan lebih dari 3 kali lebih banyak magnesium. Dari kenyataan tadi
ternyata gulma membutuhkan unsur hara lebih banyak daripada tanaman
budidaya. Hal ini sesuai dengan sifat dari gulma yaitu rakus.
c. Persaingan memperebutkan cahaya
Dalam keadaan air dan hara telah cukup untuk pertumbuhan maka factor
pembatas berikutnya adalah cahaya matahari. Bila musim hujan maka berbagai
pertanaman akan berebut untuk memperoleh cahaya matahari.
Tumbuhan yang cepat tumbuh (lebih tinggi) dan tajuknya lebih rimbun akan
memperoleh cahaya lebih banyak. Sedangkan tumbuhan lain yang lebih pendek,
muda dan kurang tajuknya akan ternaungi oleh tumbuhan yang terdahulu sehingga
pertumbuhannya akan terhambat.
Tumbuhan yang berjalur C4 lebih efisien menggunakan air, suhu
dan sinar matahari sehingga lebih kuat bersaing berebut cahaya pada keadaan

cuaca mendung. Oleh karena itu penting untuk mengendalikan gulma dari famili
Cyperaceae dan Gramineae di sekitar rumpun-rumpun padi yang berjalur C3.

d. Pengeluaran senyawa beracun


Tumbuhan juga dapat bersaing antara sesamanya secara interaksi biokimia,
yaitu salah satu tumbuhan mengeluarkan senyawa beracun ke sekitarnya dan
dapat mengakibatkan gangguan pertumbuhan tumbuhan lainnya. Interaksi
biokimia antara gulma dan pertanaman antara lain menyebabkan gangguan
perkecambahan biji, kecambah jadi abnormal, pertumbuhan memanjang akar
terhambat, perubahan susunan sel-sel akar dan lain sebagainya. Persaingan yang
timbul akibat di keluarkannya zat yang meracuni tumbuhan lain disebut
allelopathy
Senyawa-senyawa kimia yang mempunyai potensi allelopathy dapat ditemukan
disetiap organ tumbuhan, antara lain terdapat pada daun, batang, akar, rhizoma,
buah, biji, dan umbi serta bagian-bagian tumbuhan yang membusuk. Umumnya
senyawa yang dikeluarkan adalah dari golongan fenol. Spesies gulma yang
diketahui mengeluarkan senyawa-senyawa beracun adalah alang-alang (Imperata
cylindrica),

teki

(Cyperus

rotundus),

Agropyron

intermedium,

Salvia

lencophyella, Cynodon dactylon, Cyperus esculentus dan lainnya.


Persaingan menimbulkan akibat negatif berupa penurunan aktivitas
pertumbuhan. respon nyata sebagai manifestasi persaingan adalah kerdilnya
pertumbuhan tanaman, terjadinya klorosis atau kondisi kekurangan makan.
Disamping itu juga terjadi pengurangan jumlah dan atau ukuran organ tanaman
yang ditinggalkan. Persaingan juga mengakibatkan penurunan rasio aliran energi
populasi karena untuk menahan aksi persaingan tersebut.
Gulma yang menimbulkan persaingan berat terhadap tanaman
adalah yang memiliki tajuk dan perakaran yang luas dan banyak, pertumbuhan
yang cepat, waktu berkecambah dan pemunculan yang lebih awal dari tanaman,
kerapatan yang cepat meninggi dan berjalur fotosintesis C4. Disamping itu pada

setiap penanaman terdapat asosiasi spesies gulma yang khas dan gulma yang
mempunyai habitat vegetatif, metode reproduksi, sifat dan kebutuhan factor
lingkungan mirip tanaman akan menimbulkan persaingan berat.
H. Kesimpulan
1.
2.
dst..
Daftar Pustaka
Daftar Pustaka
http://www.pustaka-deptan.go.id/publikasi/bt101052.pdf. Soerjandono,
N. B. 2005. Teknik Pengendalian Gulma. Diakses pada tanggal 20 April
2010,
pada
pukul
10.30
WIB.
http://www.pustaka-deptan.go.id/.pdf. Barnito. N. 2009. Budidaya
Tanaman Jagung. Diakses pada tanggal. 20 April 2010, pada pukul
11.00
WIB.
wikipedia.2010.gulma. http://www.wikipedia.com. Di akses
pada 29 desember 2015