Anda di halaman 1dari 4

KATARAK DIABETIKUM

Diabetes mellitus adalah suatu gangguan metabolik kompleks yang juga mengenai
pembuluh-pembuluh darah halus, dan sering menyebabkan kerusakan jaringan yang luas,
termasuk mata. Kemungkinan adanya diabetes mellitus harus selalu dipertimbangkan pada
semua pasien retinopati, katarak, kelumpuhan otot ekstraokular, neuropati optikus, atau
perubahan mendadak refraksi yang tidak dapat dijelaskan penyebabnya.4
Katarak diabetikum merupakan katarak yang terjadi akibat adanya penyakit diabetes
mellitus. Katarak pada pasien diabetes melitus dapat terjadi dalam 3 bentuk :1
1. pasien dengan dehidrasi berat, asidosis dan hiperglikemia nyata, pada lensa akan
terlihat kekeruhan berupa garis akibat kapsul lensa berkerut. Bila dehidrasi lama
akan terjadi kekeruhan lensa, kekeruhan akan hilang bila terjadi rehidrasi dan
kadar gula normal kembali.
2. pasien diabetes juvenil dan tua tidak terkontrol, dimana terjadi katarak serentak
pada kedua mata dalam 48 jam, bentuk dapat snow flake atau bentuk piring
subkapsular.
3. katarak pada pasien diabetes dewasa dimana gambaran secara histologik dan
biokimia sama dengan katarak pasien nondiabetik.
Pada penderita DM yang tidak terkontrol, gejala katarak dapat terjadi pada usia yang
lebih muda sebagai akibat penumpukkan zat-zat sisa metabolisme gula oleh sel-sel lensa
mata.5 Beberapa pendapat menyatakan bahwa pada keadaan hiperglikemia terdapat
penimbunan sorbitol dan fruktosa di dalam lensa.1 Kadar gula darah diduga sebagai salah satu
faktor resiko yang mempengaruhi tingginya kadar Malondialdehid lensa katarak pada
penderita diabetes mellitus.6
Adalah jarang ditemukan true diabetik katarak. Pada lensa akan terlihat kekeruhan
seperti salju subkapsular yang sebagian jernih dengan pengobatan. Pada diabetes juvenilis
yang parah kadang-kadang timbul katarak bilateral secara akut dan lensa mungkin menjadi
opak total dalam beberapa minggu. Katarak pada orang tua dengan diabetes mellitus,
biasanya bukan katarak diabetika tetapi katarak senilis yang dipercepat oleh diabetes mellitus.
Katarak senillis pada pasien diabetes, sklerosis nuklear senilis, kelainan subkapsular
posterior, dan kekeruhan korteks terjadi lebih sering dan lebih dini. 1,3,4
Pencegahan katarak pada penderita DM adalah dengan mempertahankan kadar gula
darah dalam batas normal dan memakai obat tetes mata khusus. Operasi katarak dapat
dilakukan dengan cara penanaman lensa intra-okuler untuk memperbaiki ketajaman

penglihatan dan memudahkan pemeriksaan retina serta melakukan tindakan laser pada
retinopati diabetik.5

IV.I. Penyakit Lokal Mata


IV.I.1. Glaukoma
Glaukoma adalah sekelompok gangguan yang melibatkan beberapa perubahan atau
gejala patologis yang ditandai dengan peningkatan tekanan intraocular (TIO) dengan segala
akibatnya. Selain itu glaukoma memberikan gambaran klinik berupa penggaungan papil saraf
optik dengan defek lapang pandang mata.
Glaukoma dapat timbul secara perlahan dan menyebabkan hilangnya lapang pandang
ireversibel tanpa timbulnya gejala lain yang nyata atau dapat timbul secara tiba-tiba dan
menyebabkan kebutaan dalam beberapa jam. Jika peningkatan TIO lebih besar daripada
toleransi jaringan, kerusakan terjadi pada sel ganglion retina, merusak diskus optikus
sehingga menyebabkan atrofi saraf optik dan hilangnya pandangan perifer.
Glaukoma pada saat serangan akut dapat mengakibatkan gangguan keseimbangan
cairan lensa subkapsul anterior. Bentuk kekeruhan ini berupa titik-titik yang tersebar sehingga
dinamakan katarak pungtata subkapsular diseminata anterior atau dapat disebut menurut
penemunya katarak Vogt. Kekeruhan seperti porselen/susu tumpah di meja pada subkapsul
anterior. Katarak ini bersifat reversible dan dapat hilang bila tekanan bola mata sudah
terkontrol.5
IV.I.2. Uveitis
Seperti semua proses radang, uveitis anterior ditandai dengan adanya dilatasi
pembuluh darah yang akan menimbulkan gejala hyperemia silier (hiperemi perikorneal atau
perikorneal vascular injection). Peningkatkan permeabilitas ini akan menyebabkan eksudasi
ke dalam akuos humor, sehingga terjadi peningkatan konsentrasi protein dalam akuos humor.
Pada pemeriksaan slit lamp hal ini tampak sebagai akuos flare atau sel, yaitu partikel-partikel
kecil dengan gerak brown (efek tyndal). Kedua gejala tersebut menunjukkan proses
peradangan akut.
Pada proses yang lebih akut, dapat dijumpai penumpukan sel-sel radang di dalam
bilik mata depan yang disebut hipopion, ataupun migrasi eritrosit ke dalam bilik mata depan
yang dikenal dengan hifema. Apabila proses radang berlangsung lama dan berulang, maka
sel-sel radang melekat pada endotel kornea, disebut sebagai keratic precipitate. Jika tidak

mendapatkan terapi yang adekuat, proses peradangan akan berjalan terus dan menimbulkan
komplikasi.
Perubahan lensa sering terjadi sebagai akibat sekunder dari uveitis kronis. Biasanya
muncul katarak subkapsular posterior, dan juga dapat terjadi perubahan lensa anterior.
Pembentukan sinekia posterior sering berhubungan dengan penebalan kapsul lensa anterior
dan perkembangan fibrovaskular yang melewatinya dan melewati pupil. Kekeruhan juga
dapat terjadi pada tempat iris melekat dengan lensa (sinekia posterior) yang dapat
berkembang mengenai seluruh lensa. Kekeruhan dapat bermacam-macam, dapat difus, total,
atau hanya terbatas pada tempat sinekia posterior. Perubahan lensa pada katarak sekunder
karena uveitis dapat berkembang menjadi katarak matur. Deposit kalsium dapat diamati pada
kapsul anterior atau dalam substansi lensa.2

IV.II. Penyakit Sistemik


IV.II.1 Katarak Diabetes Melitus
Diabetes mellitus dapat mempengaruhi kejernihan lensa, indeks refraksinya, dan
besaran akomodasinya. Seiring dengan meningkatnya kadar gula darah, demikian pula
kandungan glukosa di humor aqueous. Karena glukosa dari aqueous masuk ke lensa secara
difusi, oleh karenanya glukosa yang terkandung dalam lensa akan meningkat. Beberapa
glukosa dikonversi oleh enzim aldosa reduktase menjadi sorbitol, yang tidak dimetabolisir
tetapi menetap dalam lensa.
Kemudian, tekanan osmotic menyebabkan influks air ke dalam lensa, yang
menyebabkan edema serabut-serabut lensa. Keadaan hidrasi lensa dapat mempengaruhi
kekuatan refraksi lensa. Pasien diabetes mungkin menunjukkan perubahan refraksi
sementara, yang paling sering adalah miopia, tetapi kadang-kadang hipermetrop. Orangorang diabetes menurun kekuatan akomodasinya dibandingkan dengan kontrol pada umur
yang sesuai, dan presbiopia dapat timbul pada usia yang lebih muda pada pasien dengan
diabetes daripada pasien-pasien nondiabetes.
Katarak merupakan penyebab umum penurunan visual pada pasien-pasien diabetes.
Meskipun dua tipe katarak secara klasik teramati pada pasien diabetes pola-pola lainnya juga
dapat terjadi. Katarak diabetes sejati atau katarak snowflake, memiliki gambaran perubahan
lensa subkapsular yang tersebar luas, bilateral,beronset cepat dan akut, biasanya pada orang
muda dengan diabetes mellitus yang tidak terkontrol. Kekeruhan subkapsular putih abu-abu
multiple yang memiliki gambaran snowflake (butiran salju) terlihat pertama kali di korteks

lensa anterior dan posterior superfisial. Vakuola tampak dalam kapsul, dan bentuk celah di
korteks. Katarak kortikal intumescent dan matur terjadi segera sesudahnya.
Katarak senillis adalah tipe kedua yang sering teramati pada pasien diabetes. Bukti
menunjukkan bahwa pasien diabetes memiliki peningkatan risiko perubahan lensa
berhubungan dengan umur dan perubahan lensa ini cenderung terjadi pada usia yang lebih
muda daripada pasien tanpa diabetes. Pasien diabetes memiliki risiko tinggi terjadinya
katarak berhubungan dengan umur yang mungkin merupakan hasil dari akumulasi sorbitol
dalam lensa, perubahan hidrasi yang mengikutinya, dengan peningkatan glikolisasi protein
pada lensa diabetika.2