Anda di halaman 1dari 14

GRADIEN SUHU PADA DINDING KOMPOSIT

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

Nama Kelompok 3 :
Kresnanto Herlambang
Divia Repgiani Faraniti
Yopi Reynaldy Harahap
Khansa Maulana Fadilah
Fernando Manurung
Riski Sudarmaji
Priyatmoko Rizky
Dzaki Abdurahman

F14130039
F14130040
F14130049
F14130050
F14130051
F14130058
F14130059
F14130064

Nama Asisten :
1. Farah Virginia
F14110051
2. Anggun Puspita
F14110073
3. Antoni Wijaya
F14110084

DEPARTEMEN TEKNIK MESIN DAN BIOSISTEM


FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2015

I.

PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang


Bangunan pertanian merupakan semua bangunan dengan berbagai macam tipe
dan strukturnya yang dipergunakan atau diaplikasikan dalam proses produksi di bidang
pertanian dalam arti luas. Salah satu parameter dalam bangunan pertanian adalah suhu,
hal ini dikarenakan :
1. Suhu udara secara tidak langsung berpengaruh terhadap proses fisik dan kimiawi
tanaman atau hewan dan selanjutnya mengendalikan proses biologi dalam
tanaman atau hewan.
2. Suhu udara yang optimum bagi pertumbuhan tanaman atau hewan berbeda beda
untuk setiap varietas atau spesies.
3. Faktor yang mempengaruhi suhu udara di dalam bangunan pertanian adalah
tingkat
intensitas
radiasi
matahari,
perubahan
panas
respirasi/transpirasi/fotosintesis, kehilangan panaas melalui ventilasi dan bahan
konstruksi (Yuwono, Hasbullah, dan Chadirin 2014).
Sedangkan menurut Poerwanto R, Susila A D (2014) Bangunan tanam adalah
bangunan yang dibuat untuk melindungi tanaman dari kondisi lingkungan yang sangat
ekstrim. Kondisi tersebut bisa berupa suhu rendah atau suhu tinggi, hujan, angin, dan
intensitas cahaya yang tinggi.
Dalam merancang suhu suatu bangunan pertanian perlu memperhatikan unsur
gradient atau penurunan suhu. Hal ini perlu dilakukan untuk mempertahankan suhu
didalam suatu bangunan pertanian. Gradien suhu adalah perbedaan suhu pada suatu titik
dengan titik lain pada permukaan yang sama akibat penerimaan dan pelepasan kalor dari
sistem ke lingkungan. Sistem memiliki gradient suhu apabila dua sistem yang suhunya
berbeda disinggungkan maka akan terjadi perpindahan energi.
Penghantaran panas melalui sistem konduksi sangat berhubungan erat dengan
bahan bangunan pertanian yang berupa dinding majemuk. Dinding majemuk dapat
diartikan sebagai dinding yang memiliki lapisan lebih dari satu jenis yang mendukung
satu sama lain sehingga menjadikan satu kesatuan dinding yang memiliki kelebihan.
Konduksi merupakan satu-satunya mekanisme dimana panas dapat mengalir dalam zat
padat yang tidak tembus cahaya.
I.2 Tujuan
Tujuan dari praktikum kali ini antara lain adalah sebagai berikut:
1. Mengetahui proses gradient suhu pada dinding komposit.
2. Mengetahui cara menghitung suhu pada suatu titik pada dinding komposit.
3. Mengetahui gradient suhu pada masing masing bahan dinding komposit.

II.

TINJAUAN PUSTAKA

Komposit atau materi komposit merupakan suatu materi yang tersusun atas
lebih dari dua elemen penyusunnya. Komposit bersifat heterogen dalam skala
makroskopik. Bahan penyusun komposit tersebut masing-masing memiliki sifat yang
berbeda, dan ketika digabungkan dalam komposisi tertentu terbentuk sifat-sifat baru
yang disesuaikan dengan keinginan (Krevelen, 1994).
Klasifikasi komposit yang sering digunakan antara lain seperti klasifikasi
menurut kombinasi material utama, Metal matrix composites (MMC) yaitu komposit
yang menggunakan matriks logam. Ceramic matrix composites (CMC) yaitu komposit
yang menggunakan matriks keramik. Polymer matrix composites (PMC) yaitu
komposit yang menggunakan matriks polimer. Manfaat utama dari penggunaan
komposit adalah mendapatkan kombinasi sifat kekuatan serta kekakuan tinggi dan berat
jenis yang ringan. Dengan memilih kombinasi material penguat dan matriks yang tepat,
kita dapat membuat suatu material komposit dengan sifat yang tepat sama dengan
kebutuhan sifat untuk suatu struktur tertentu dan tujuan tertentu pula (Feldman dan
Hartomo, 1995).

III.

III.1
1.
2.
3.
4.

METODOLOGI

Alat Dan Bahan

Thermocouple
Hybrid Recorder
Model Gradient Suhu
Heat Flow meter
III.2

Waktu dan Tempat

Praktikum dilaksanakan pada hari rabu, 30 September 2015 pukul 14.00-17.00


WIB. Praktikum dilaksanakan di Laboratorium Lingkungan Bangunan Pertanian Institut
Pertanian Bogor.

3.3 Prosedur Praktikum

Mulai

Diberi penjelasan
terlebih dahulu.
Dibaca dan dicatat
temperatur pada hybrid
recorder
Dihitung Nilai Laju
Perpindahan Kalor dan Suhu
berdasarkan literatur

Laporan / hasil

IV.

IV.1

HASIL dan PEMBAHASAN

Hasil Pengamatan

Nomo
r

Parameter

1
2
3

Luas Permukaan Dinding (m2)


Ketebalan Dinding X1(m)
Ketebalan Dinding X2(m)

0.16
0.005
0.015

Dinding
2
0.16
0.005
0.021

Ketebalan Dinding X3(m)

0.005

0.01

0.1154

0.1154

0.033

0.033

23

23

8.29

8.29

9
10

Konduktivitas Kayu Lapis


(W/mK)
Konduktivitas Styrofoam
(W/mK)
Koef.Kond.Permukaan
Luar(fo,W/m2K)
Koef.Kond.Permukaan
Dalam(fi,W/m2K)
Suhu To(oC)
Suhu T1(oC)

28.4
32,93

29.87
32.6

11
12

Suhu T2(oC)
Suhu T3(oC)

33,53
50,10

38.9
64.3

13

Suhu T4(oC)

70,69

74.4

14

Suhu Ti(oC)

61.1

61.2

6
Tabel 1.
Hasil

7
8

Nilai
Dinding 1

Pengamatan
Nomo
r
1
2
3
4
5

Parameter
Suhu T1(oC)
Suhu T2(oC)
Suhu T3(oC)
Suhu T4(oC)
Laju Aliran Panas (W/m2)

Nilai
Dinding 1
Dinding 2
32.93
133.43
39
138.48
103
64.3
164
74.4
7,418047483
18.65

Tabel.2 Data Hasil Perhitungan


Cara Perhitungan
Dinding 1 sebagai pembanding
1. Nilai Pindah Panas Konduksi
T
Q12=k 1 A
x
0.1154 0.16

(3932,93)
0.005

Data

22,415296 W /m

2. Suhu Perhitungan Berdasarkan Q1-2


Q X 1
T 2T 1=
k 1 A
22,415296 0.005
0.1154 0.16

T 2T 1=

T 2=T 1+ 6,07
T 2=32,93+ 6,07

T 2=39

T 3T 2=

Q X 2
k 2 A

T 3T 2=

22,415296 0.015
0.033 0.16

T 3=63,67981818+ T 2
T 3=63,67981818+ 39

T 3=102,6798182

T 4T 3=

Q X 3
k 1 A

T 4T 3=

22,415296 0.005
0.1154 0.16

T 4=60,7+T 3
T 4=60,7+102,6798182

T 4=163,3798182
3. Pindah Panas dari Qout ke Qin
1 x1 x2 x3 1
Rtotal= +
+
+
+
fi k 1
k2
k 1 fo

1
0.005 0.015 0.005 1
+
+
+
+
8.29 0.1154 0.033 0.1154 23

0.70530689

Q total =

A ( Ti )
Rtotal

0.16 ( 61.128,4 )
0,70530689

7,418047483W /m2
4. Suhu Perhitungan Berdasarkan Ql-2
Q12=

A (T 2T 1)
1 x 1 x2
+
+
fi k 1
k2

0.16( 3932.93)
1
0.005 0.015
+
+
8.29 0.1154 0.033

1.57 W / m2

Q 12
T 2T 1=

1.57(
T 2T 1=

( 1fi + kx11 + kx22 )


1
0.005 0.015
+
+
)
8.29 0.1154 0.033
0.16

T 2=6.06+T 1

T 2=6.06+32,93
T 2=38.99

Q12
T 2T 3=

( fi1 + kx11 + kx22 + kx13 )


A

1.57
T 2T 3=

0.005 0.021 0.01


+
+
( 8.291 + 0.1154
0.033 0.1154 )

T 3=6.494185572+T 2

T 3=6.644+38,99
T 3=45,634

0.16

Q12
T 3T 4=

( fi1 + kx11 + kx22 + kx13 + fo1 )


A

1,57
T 3T 4=

1
0.005 0.021 0.01
1
+
+
+
+ )
( 8.29
0.1154 0.033 0.1154 23
0.16

T 4=6,920815998+T 3
T 4=6,920815998+ 45,634

T 4=52,554816
Dinding 2
1. Nilai Pindah Panas Konduksi
T
Q 43=k 1 A
x
0.1154 0.16

(74.464.3)
0.01

18.65W /m 2
2. Suhu Perhitungan Berdasarkan Q4-3
Q X 3
T 4T 3=
k 1 A
T 4T 3=

18.65 0.01
0.1154 0.16

T 3=T 410.1
T 3=74.410.1

T 3=64.3

T 2T 3=

Q X 2
k 2 A

T 2T 3=

18.65 0.021
0.033 0.16

T 2=74.18+ T 3
T 2=74.18+ 64.3

T 2=138.48

T 2T 1=

Q X 1
k 1 A

T 2T 1=

18.65 0.005
0.1154 0.16

T 1=T 25.05
T 1=138.485.05

T 1=133.43
3. Pindah Panas dari Qout ke Qin
1 x1 x2 x3 1
Rtotal= +
+
+
+
fi k 1
k2
k 1 fo

1
0.005 0.021 0.01
1
+
+
+
+
8.29 0.1154 0.033 0.1154 23

0.9305

Q total =

A ( Ti )
Rtotal

0.16 ( 61.229.87 )
0.9305

5.387 W /m2
4. Suhu Perhitungan BerdasarkanQ1-2
Q12=

A (T 2T 1)
1 x 1 x2
+
+
fi k 1
k2

0.16(38.932.6)
1
0.005 0.021
+
+
8.29 0.1154 0.033

1.26 W / m2

Q 12
T 2T 1=

( 1fi + kx11 + kx22 )


A

1.26(
T 2T 1=

1
0.005 0.021
+
+
)
8.29 0.1154 0.033
0.16

T 2=6.30+ 32.6

T 2=6.30+ 32.61
T 2=38.9

Q12
T 2T 3=

( fi1 + kx11 + kx22 + kx13 )


A

1.26
T 2T 3=

0.005 0.021 0.01


+
+
( 8.291 + 0.1154
0.033 0.1154 )
0.16

T 3=6.644+T 2

T 3=6.644+38.9
T 3=45.54

Q12
T 3T 4=

A
1.26

T 3T 4=

( fi1 + kx11 + kx22 + kx13 + fo1 )


0.005 0.021 0.01
1
+
+
+ )
( 8.291 + 0.1154
0.033 0.1154 23

T 4=7.327 +T 3

T 4=7.327 +45.54
T 4=52.87

0.16

180
160
Dinding 1 (Pengamatan)

140

Dinding 2 (Pengamatan)

120

Dinding 1 (Perhitungan
Metode 1,2)

100

Dinding 2 (Metode
Perhitungan 1,2)

80

Dinding 1 (Perhitungan
Metode 3,4)

60
40

Dinding 2 ( Perhitungan
Metode 3,4)

20
0
T1

T2

T3

T4

Grafik 1. Hubungan Suhu Dinding 1 dan Dinding 2 Berdasarkan Pengamatan

IV.2

Pembahasan

Gradien suhu adalah perbedaan suhu pada suatu titik dengan titik lain pada
permukaan yang sama akibat penerimaan dan pelepasan kalor dari sistem ke
lingkungan. Nilai konduktivitas panas yang kecil mengakibatkan jumlah panas yang
dapat diterima maupun dilepas tidak begitu besar. Akibatnya, bahan dengan
konduktivitas kecil banyak digunakan sebagai isolator. Bahan polimer dapat menjadi
salah satu alternatif untuk pembuatan bahan konduktor panas, karena syarat-syarat yang
diperoleh dari polimer dengan memodifikasinya menjadi komposit polimer. Produk
komposit polimer banyak dijumpai oleh masyarakat terutama digunakan untuk atap,
pipa, selang, dan kabel. Komposit polimer adalah komposit dengan matriks dari bahan
polimer berpengisi bahan lain. Konduktivitas panas merupakan proses hantaran panas
pada medium padat akibat perbedaan temperatur. Perpindahan energi panas terjadi
karena hantaran antarmolekul secara langsung tanpa disertai perpindahan molekul yang
bersangkutan. Polimer bersifat isolator panas dan listrik karena nilai konduktivitasnya
kecil. Oleh karena itu, ada perbedaan suhu pada komposit polimer walaupun tidak
terlalu besar. Pemakaian komposit polimer pada bangunan pertanian dapat dikarenakan
bahan polimer yang tahan panas dan tidak menghantarkannya.
Pengukuran gradien suhu pada dinding majemuk dapat dilakukan dengan
pencatatan suhu yang dicatat dengan hybrid recorder. Pencatatan suhu dibantu dengan
sensor temperatur yang disebut termokopel. Hybrid recorder menyimpan data suhu
yang terbaca oleh termocouple. Sehingga data dapat dicatat dengan baik. Data suhu
yang terbaca pada hybrid recorder merupakan data suhu pada dinding yang telah
disusun secara majemuk. Dinding majemuk yang digunakan pada praktikum merupakan
dinding yang tersusun dari tiga lapisan material berbeda yaitu plywood dan sterofoam.
Penyusunan dinding majemuk tersebut ditujukan untuk mengetahui gradien suhu yang

terjadi pada dinding majemuk. Pengukuran suhu menunjukkan bahwa terjadi perbedaan
temperatur pada setiap lapisan dinding. Kalor yang dialirkan melewati dinding
menjadikan terjadinya gradien suhu pada dinding majemuk. Hasil pengukuran suhu
pada hybrid recorder menunjukkan nilai yang suhu yang tidak konstan. Seperti terlihat
pada suhu T1, perubahan suhu yang terlalu signifikan setiap lima detik sekali. Data suhu
pada pengukuran menunjukkan nilai suhu yang tidak sesuai dengan teori bahwa dinding
yang terletak lebih jauh dari sumber panas akan memiliki suhu yang lebih rendah
daripada suhu dinding yang dekat dengan sumber kalor. Suhu pada T0 berada di luar
dinding majemuk seharusnya memiliki nilai suhu yang lebih rendah dan akan terus
semakin bertambah nilai suhunya bila semakin mendekat dengan sumber panas. Namun
suhu pada T4 lebih besar daripada Ti yang menandakan terjadi kesalahan pada
pengukuran. Kesalahan tersebut dapat terjadi apabila terjadi ketidaktelitian saat
praktikum dilaksanakan dan juga kesalahan kalibrasi alat, selain itu dapat pula
disebabkan karena jarak pengamatan yang terlalu dekat sehingga termokopel belum
membaca suhu dinding dengan tepat. Nilai aliran kalor per satuan luas menunjukkan
angka 18.65 W/m2, yang menunjukkan bahwa kalor sebesar 18.65 W mengalir melewati
luas dinding 1 m2. Aliran kalor tersebutlah yang menjadikan terjadinya gradien suhu
pada dinding majemuk.
Didapat nilai pada dinding 1 T4 164 derajat celcius dan dinding 2 yang didekat
lampu bernilai 133.43 derajat celcius. Dari hasil tersebut sangat tidak rasional, kenaikan
suhu terjadi sangat tinggi. Menurut pendapat kami dan juga informasi dari asisten serta
dosen praktikum hal tersebut terjadi karena termocouple mengalami kerusakan sehingga
pembacaan suhu pada titik tersebut tidak akurat. Selain itu , adanya rumus yang hilang
di papan tulis membuat kebingungan saat pengolahan data.
Perbedaan suhu dinding satu dan dinding dua antara hasil pengukuran dan
pengolahan data terdapat banyak perbedaan. Perbedaan pengukuran dan pengolahan
dinding dan dinding 2 dikarenakan tebal dari komposit di dinding satu dan dua
berbeda. Sehingga mempengaruhi aliran panas konduksi di kedua dinding. Perbedaan
suhu juga bisa diakibatkan karena jarak sumber panas dan dinding yang berbeda antara
lapisan pertama dinding satu dan lapisan pertama dinding dua sehingga panas yang
tersebar melalui proses konveksi menjadi berbeda.
Perbedaan antara hasil pengamatan terhadap Hybrid Recorder dengan hasil
pengolahan data bisa diakibatkan karena kesalahan paralaks pada saat pencatatan data.
Data yang tertera pada Hybrid Recorder berubah secara realtime sedangkan pencatatan
data dilakukan dengan mengambil citra gambar pada layar monitor. Pada saat
pengambilan citra bisa jadi kecapatan pengambilan citra dengan interval waktu tidak
sesuai sehingga mengakibatkan banyak kesalahan pencatatn data. Perbedaan suhu yang
terjadi juga bisa diakibatkan karena error pada termocouple yang diakibatkan karena
bergesernya termocouple atau pemasangan termocouple yang kurang pas, sehingga
mengakibatkan banyak terjadi kesalahan pencatatan suhu. Termocouple yang terpasang
pada beberapa titik saja sehingga pengukuran suhu oleh termocouple yang terbaca di
Hybrid Recorder tidak merepresentasikan suhu keseluruhan yang menyebar. Sedangkan

suhu yang didapatkan pada hasil perhitungan merupakan suhu yang menyebar rata ke
seluruh bahan.
Berdasarkan data pada dinding dua memiliki suhu yang lebih tinggi dibanding
suhu pada dinding satu hal ini karena bahan triplek adalah bahan isolasi yang mampu
menyekat panas dengan konduktivitas yang cukup (0.1154W/moC) yang artinya tidak
mengantar panas yang baik, semakin kecil konduktivitas maka semakin kecil pengantar
panas otomatis panas akan ditahan pada bahan atau panas akan mengendap dan proses
antaran panasnya sangat lambat sehingga pada dinding dua memiliki suhu lebih tinggi.
Peningkatan suhu pada dinding dua juga dipengaruhi sebaran suhu yang rata
.

V.

SIMPULAN

Berdasarkan data yang dioperoleh dapat disimpulkan bahan triplek merupakan


bahan penyekat panas dengan konduktivitas (0.1154 W/mC) yang merupakan pengantar
panas yang tidak baik sehingga panas ditahan pada bahan triplek sehingga pada dinding
dua memiliki suhu yang lebih tinggi dibanding suhu dinding satu yang lebih dekat
dengan lampu atau sumber suhu.

VI.

DAFTAR PUSTAKA

Feldman, Dorel dan Hartomo, Anton J., (1995), Bahan Polimer Konstruksi
Bangunan, Penerbit PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.
Krevelen, D. W. Van. 1994. Properties of Polymers, Their Correlation with
Chemical Structure, Their Numerical Estimated and Prediction from
Additional Group Contributions. Elsevier Science B. V. Amsterdam.
Nederlands. [3]33.
Poerwanto R, Susila A D. 2014. Teknologi Hortikultura. Bogor (ID): IPB Press
Yuwono AS, Hasbullah R dan Chadirin Y.2014. Lingkungan dan Bangunan
Pertanian (Farm Structures and Environment). Bogor : IPB Press

VII. PEMBAGIAN TUGAS

1. Kresnanto Herlambang
2. Divia Repgiani Faraniti

: Bahas pembandingan pengukuran dan perhitungan


: Pengoalahan data

3.
4.
5.
6.
7.
8.

Yopi Reynaldy Harahap : Bahas sebaran suhu pada dinding


Khansa Maulana Fadilah : Bahas pembandingan dinding 1 dan 2
Fernando Manurung
: Bahas pembandingan pengukuran dan perhitungan :
Riski Sudarmaji
: Bahas sebaran suhu pada dinding
Priyatmoko Rizky
: Bahas pembandingan dinding 1 dan 2
Dzaki Abdurahman: Bahas pembandingan pengukuran dan perhitungan