Anda di halaman 1dari 22

SEMINAR AKUNTANSI

ASET TETAP DAN DAMPAK PERPAJAKANNYA (PSAK 16)

DOSEN PEMBIMBING :
DR.H.YUSKAR,SE,MA,AK

KELOMPOK 7:
PRIMAYOGA DASTARA

1210532038

RISA KURNIA

1210532063

RILA INDRIA SUCITA

1210533022

JURUSAN AKUNTANSI FAKULTAS EKONOMI


UNIVERSITAS ANDALAS
PADANG
2016

ASET TETAP
IKHTISAR RINGKAS
Secara umum perbedaan antara ED PSAK 16 (revisi 2011) Aset Tetap dengan PSAK 16 (2007)
Aset Tetap adalah sebagai berikut:
Perihal
ED PSAK 16 (revisi 2011)
Pengecualian terhadap ruang Menambahkan pengecualian
lingkup
ruang lingkup untuk: a. aset
tetap diklasifikasikan sebagai
dimiliki untuk dijual sesuai
dengan PSAK 58 (revisi
2009): Aset Tidak Lancar
yang Dimiliki untuk Dijual
dan Operasi yang Dihentikan
b. pengakuan dan pengukuran
aset eksplorasi dan evaluasi
(Lihat PSAK 64: Aktivitas
Eksplorasi dan Evaluasi Pada
Pertambangan Sumber Daya
Mineral)
Ruang lingkup
Tidak mengatur lagi mengenai
properti investasi yang sedang
dibangun atau dikembangkan.

Hibah Pemerintah

Tidak mengatur syarat pengakuan aset tetap yang


berasal dari hibah. Hanya
mengatur nilai tercatat aset
tetap yang dapat dikurangi
dari hibah pemerintah.

Aset tetap yang tersedia untuk Pengaturan aset tetap yang


dijual
tersedia untuk dijual dihapus
karena sudah diatur dalam
PSAK 58 (revisi 2009): Aset
Tidak Lancar yang Dimiliki
untuk Dijual dan Operasi yang

PSAK 16 (revisi 2007)


Hanya mengatur pengecualian
ruang lingkup untuk untuk hak
penambangan dan reservasi
tambang, seperti minyak, gas
alam, dan sumber daya alam
sejenis yang tidak dapat diperbarui.

Ruang lingkup mencakup properti yang dibangun atau


dikembangkan
untuk
digunakan di masa depan
sebagai properti investasi.
Pengakuan aset tetap yang
berasal dari hibah pemerintah
mempunyai syarat bahwa: a.
entitas
telah
memenuhi
kondisi atau prasyarat hibah
tersebut; b. hibah akan
diperoleh.
Mengatur perlakuan akuntansi
terhadap suatu aset tetap yang
tersedia untuk dijual.

Depresiasi atas tanah

Dihentikan.
Menjelaskan bahwa pada
umumnya tanah memiliki
umur ekonomis tidak terbatas
sehingga tidak disusutkan,
kecuali entitas meyakini umur
ekonomis tanah terbatas.
Perlakuan akuntansi tanah
yang diperoleh dengan Hak
Guna Usaha, Hak Guna
Bangunan
dan
lainnya
mengacu pada ISAK 25: Hak
Atas Tanah

Perlakuan akuntansi untuk


tanah yang diperoleh dengan
Hak Guna Usaha, Hak Guna
Bangunan dan lainnya mengacu pada PSAK 47: Tanah.

ED PSAK 16 (Penyesuaian 2015) merupakan adopsi dari IAS 16 Property, Plant and Equipment,
Annual Improvements to IFRSs 2010 2012 Cycle yang berlaku efektif 1 Juli 2014. Secara
umum perbedaan antara ED PSAK 16 (Penyesuaian 2015): Aset Tetap dengan PSAK 16
(Penyesuaian 2014): Aset Tetap adalah sebagai berikut:
Perihal
Model Revaluasi
(Paragraf 35)

PSAK 16 (Penyesuaian 2014)


PSAK 16 (Penyesuaian 2014)
mensyaratkan agar ketika
jumlah tercatat bruto
direvaluasi, maka akumulasi
penyusutan revaluasian d
isajikan kembali secara
proporsional dengan
perubahan dalam jumlah
tercatat bruto.

ED PSAK 16 (Penyesuaian
2015)
ED PSAK 16 (Penyesuaian
2015) mengklarifikasi bahwa
ketika entitas menggunakan
model revaluasi, jumlah
tercatat aset disajikan kembali
pada jumlah revaluasiannya,
sehingga jumlah tercatat aset
bruto dan akumulasi
penyusutan diperlakukan pada
salah satu cara berikut:
a. Jumlah tercatat bruto
disajikan kembali secara
konsisten dengan revaluasi
jumlah tercatat tersebut dan
akumulasi penyusutannya d i
sesuaikan untuk menyamakan
perbedaan antara jumlah
tercatat bruto dengan jumlah

Koreksi editorial

ED PSAK 16 (Penyesuaian
2014) menetapkan kata 'jika'
dalam paragraf 35 baris
pertama.

tercatat setelah
memperhitungkan akumulasi
rugi penurunan nilai; atau
b. Akumulasi penyusutan
dieliminasi terhadap jumlah
tercatat bruto aset.
ED PSAK 16 (Penyesuaian
2015) melakukan perubahan
terhadap kata 'jika' menjadi
'ketika' dalam paragraf 35
baris pertama.

ED Amandemen PSAK 16 merupakan adopsi dari Amandemen IAS 16 dan IAS 38 Clarification
of Acceptable Methods of Depreciation and Amortisationyang berlaku efektif 1 Januari 2016.
Secara umum perbedaan antara ED Amandemen PSAK 16: Aset Tetap tentang Klarifikasi
Metode yang Diterima untuk Penyusutan dan Amortisasi dengan PSAK 16 (Penyesuaian 2014):
Aset Tetap adalah sebagai berikut:

Perihal
Jumlah
tersusutkan
periode penyusutan
(Paragraf 56)

Metode Penyusutan
(Paragraf 62A)

ED Amandemen PSAK 16
dan ED Amandemen PSAK 16
memberikan tambahan
penjelasan bahwa
pengurangan yang
diperkirakan terjadi di masa
depan atas harga jual suatu
barang yang diproduksi
menggunakan suatu aset
mengindikasikan perkiraan
keusangan teknis atau
komersial aset tersebut.
ED Amandemen PSAK 16
mengklarifikasi bahwa
metode penyusutan yang
didasarkan pada pendapatan
yang dihasilkan oleh aktivitas
yang menggunakan suatu aset
adalah tidak tepat.

PSAK 16
(Penyesuaian 2014)
Tidak diatur.

Tidak diatur.

1.1 Pengertian Aset Tetap


Aset tetap merupakan aset berwujud yang dimiliki untuk digunakan dalam produksi atau
penyediaan barang atau jasa untuk disewakan pada pihak lain atau untuk tujuan administrative
dan diharapkan untuk digunakan selama lebih dari satu periode.
Berdasarkan definisi di atas terdapat beberapa hal penting terkait aset tetap yaitu:

Aset tetap adalah aset berwujud, yaitu mempunyai bentuk fisik (tanah,bangunan) berbeda

dengan paten atau merek dagang yang tidak mempunyai bentuk fisik.
Aset tetap mempunyai tujuan penggunaan khusus yaitu: digunakan dalam produksi atau

penyediaan barang dan jasa,atau untuk disewakan kepada pihak lain


Aset tetap termasuk kedalam aset tidak lancar karena diharapkan untuk digunakan lebih
dari satu periode.

Contoh: Tanah. Apabila entitas membeli tanah dengan tujuan akan dijual kembali karena entitas
yakin tanah tersebut akan mengalami peningkatan nilai, maka tanah tersebut bukan
merupakan aset tetap, tapi merupakan properti investasi (PSAK13 tentang properti
investasi). Jika entitas bergerak dibidang jual beli mobil maka mobil tersebut diperoleh
dengan tujuan untuk dijual kembali merupakan persediaan.Properti, pabrik dan
peralatan adalah pos-pos aset berwujud yang dimiliki untuk digunakan di dalam
produksi atau pemasokan barang atau jasa, atau disewakan kepada pihak lain, atau
untuk tujuan administratif dan diharapkan untuk dapat digunakan selama lebih dari satu
periode.
1.2 Pengakuan Aset Tetap
Biaya perolehan aset tetap harus diakui sebagai aset jika:
1. Besar kemungkinan manfaat ekonomis di masa depan berkenaan dengan aset tersebut
akan mengalir ke entitas
2. Biaya perolehan aset dapat diukur secara andal.
Ada dua jenis dasar yang umum digunakan untuk mengakui suatu transaksi yaitu:
1) Cash basis (Dasar Penerimaan Uang)

Konsep ini mengetahui suatu pendapatan pada saat uang atau kas diterima dan biaya pada
saat uang tersebut dikeluarkan.
2) Accrual basis (Dasar Akrual)
Pada konsep ini, suatu transaksi diakui pada saat terjadinya tanpa dikaitkan dengan
transaksi kas
Harga perolehan dari suatu pos properti, pabrik, dan peralatan akan diakui sebagai suatu
aset jika aset tersebut memiliki manfaat ekonomis di masa depan yang berkaitan dengan pos
tersebut akan mengalir ke dalam entitas; dan harga perolehan dari pos tersebut dapat dikukur
secara andal. Selama kegiatan operasionalnya, suatu entitas akan memperoleh pos-pos tersebut
yang memiliki nilai yang tidak signifikan secara individu, tetapi akan memenuhi syarat sebagai
aset berdasarkan kedua kriteria pengakuan dasar ini. Karena sangat sulit bagi entitas untuk
mencatat setiap pos tersebut secara individu, standar ini memperbolehkan pencatatan secara
agregat asalkan aset ini memiliki sifat yang sama.
Pada suatu entitas mungkin ada pengeluaran yang akan meningkatkan manfaat ekonomis
masa depan secara langsung dari setiap aset tertentu, dan pada waktu yang bersamaan,
memastikan arus manfaat ekonomis yang berkaitan dengan properti, pabrik, dan peralatan
tersebut. Suatu entitas juga mungkin mengeluarkan biaya inspeksi dan pertukaran atas pos
properti, pabrik dan peralatan.
Contoh dari biaya inspeksi adalah pengeluaran yang diperlukan secara periodik untuk
inspeksi kapal laut dan pesawat terbang untuk melakukan sertifikasi kelayakan akan terbang dan
berlayar. Contoh lainnya, suatu gulungan bearing penggiling yang merupakan item utama pada
pabrik semen yang harus diganti setelah sejumlah jam tertentu dari operasional pabrik.
Pengeluaran seperti ini dianggap sebagai aset menurut standar ini.
1.3 Pengukuran Awal Pada Saat Perolehan
Aset tetap yang memenuhi kualifikasi untuk diakui sebagai aset pada awalnya harus
diukur sebesar biaya perolehan. Biaya perolehan aset tetap meliputi:
a) Purchase Price

Harga perolehan, termasuk bea impor dan pajak pembelian yang tidak boleh dikreditkan
setelah dikurangi diskon pembelian dan potongan lain;
b) Directly Attributable Cost
Biaya-biaya yang dapat diatribusikan secara langsung untuk membawa aset ke lokasi dan
kondisi diinginkan agar aset siap digunakan sesuai dengan keinginan dan maksud manajemen
Contoh biaya yang dapat diatribusikan secara langsung adalah:
1. Biaya imbalan kerja
2. Biaya penyiapan lahan untuk pabrik
3. Biaya penanganan dan penyerahan awa
4. Biaya perakitan dan instalasi
5. Biaya pengujian aset
6. Komisi professional
c) Dismantling Cost
Estimasi awal biaya pembongkaran dan pemindahan aset tetap dan restorasi lokasi aset.
Dalam ISAK 9, perubahan atas kewajiban aktivitas purna-operasi,restorasi,dan kewajiban
serupa, kewajiban tersebut diartikan sebagai aktivitas purna-operasi,restorasi,dan kewajiban
serupa. Pada saat perolehan aset tetap, maka harus diestimasi dan dihitung nilai kininya dan
biaya sehubung dengan pembongkaran dan pemindahan aset tetap dan biaya restorasi aset
tersebut. Nilai tersebut kemudian ditambah pada biaya perolehan aset tetap. Total biaya
perolehan pembongkaran aset tetap akan disusutkan selama estimasi masa manfaatnya
Awal tanggal kapitalisasi bunga pinjaman adalah tanggal ketika entitas pertama kali
memenuhi kriteria sbb:
1. Terjadinya pengeluaran untuk aset.
2. Terjadinya biaya pinjaman
3. Entitas telah melakukan aktivitas yang diperlukan untuk menyiapkan aset untuk
digunakan atau dijual sesuai dengan maksudnya.
Biaya pinjaman yang dapat dikapitalisasi dari dua jenis sumber pinjaman tersebut adalah
sebagai berikut:

1. Dana yang secara spesifik untuk tujuan pembangunan aset tetap: jumlah biaya
pinjaman yang dapat dikapitalisasi adalah sebesar biaya pinjaman aktual yang terjadi
atas pinjaman tersebut selama periode berjalan.Apabila terdapat penghasilan investasi
maka penghasilan tersebut mengurangi biaya pinjaman yang terjadi.
2. Dana secara umum yang digunakan untuk tujuan pembangunan aset tetap, maka
jumlah pinjaman yang dapat dikapitalisasi adalah dengan menggunakan tingkat
kapitalisasi untuk pengeluaran aset tersebut.
Dalam beberapa kasus dapat timbul suatu kegiatan sehubungan dengan pembangunan
atau pengembangan aset tetap, tetapi kegiatan tersebut tidak dimaksudkan untuk membawa asset
tersebut kelokasi dan kondisi yang diinginkan agar aset siap digunakan sesuai dengan keinginan
dan maksud manajemen. Kegiatan insidential tersebut mungkin terjadi sebelum atau selama
pembangunan aset tetap tersebut.
1.4. Biaya-Biaya Setelah Perolehan
Biaya setelah perolehan ini dapat diklasifikasikan menjadi pengeluaran modal dan
pengeluaran pendapatan yaitu :
a. Pengeluaran Modal (capital expenditure),
adalah pengeluaran untuk memperoleh suatu manfaat yang akan dirasakan lebih dari satu
periode akuntansi.
b. Pengeluaran Pendapatan (revenue expenditure),
adalah pengeluaran-pengeluaran untuk memperoleh suatu manfaat yang hanya dalam periode
akuntansi yang bersangkutan.

1.5

Cara-Cara Perolehan Aktiva Tetap


a. Pembelian
Pembelian Tunai

Pembelian Angsuran
Pembelian Secara Lumpsum/Gabungan
b. Perolehan Melalui Pertukaran
Ditukar dengan Surat-suratBerharga
Ditukar dengan Aktiva Tetap yang Lain
- Pertukaran Aktiva Tetap yangtidak Sejenis
-

Pertukaran Aktiva TetapSejenis

Diperoleh dari Hadiah/Donasi

c. Aktiva yang Dibuat Sendiri


Aktiva yang diperoleh dengan cara membangun sendiri akan dicatat sebesar harga
perolehaanya.
1.6

Biaya perolehan aset tetap


Merupakan biaya setara dengan nilai tunainya dan diakui pada saat terjadi. Jika entitas

memperoleh aset tetap secara kredit dan pembayaran melampaui jangka waktu kredit, maka
perbedaan antara nilai tunai dengan pembayaran total diakui sebagai beban bunga selama periode
kredit (kecuali dikapitalisasi sesuai dengan PSAK 26 Biaya Pinjaman) Entitas dapat
mengakuisisi aset secara gabungan, dan membayar satu harga untuk aset gabungan tersebut.
Dalam kasus ini, maka biaya perolehan harus dialokasikan ke masing-masing jenis aset.
Contoh :
Tanah

Rp 350.000.000

Bangunan

Rp 500.000.000

Mesin

Rp 150.000.000

Total

Rp1.000.000.000

Total harga perolehan Rp 800.000.000


Dialokasikan sebagai berikut:
Tanah

350 : 1.000 x Rp 800.000.000 = Rp 280.000.000

Bangunan

500 : 1.000 x Rp 800.000.000 = Rp 400.000.000

Mesin

150 : 1.000 x Rp 800.000.000 = Rp 120.000.000

Total

Rp 800.000.000

Ayat jurnal untuk mencatat pembelian tersebut adalah:


Tanah

280.000.000

Bangunan

400.000.000

Mesin

120.000.000
Kas

800.000.000

Entitas dapat memperoleh aset melalui pertukaran aset moneter atau kombinasi aset
moneter dan non moneter. Dalam hal ini maka biaya perolehan dari suatu aset tetap diukur pada
nilai wajar kecuali:
1. Transaksi pertukaran tidak memiliki substansi komersial
2. Nilai wajar dari aset diterima dan diserahkan tidak dapat diukur secara andal.

Pertukaran memiliki substansi komersial.


Contoh :
Nilai buku Rp500 juta, kas Rp900 juta, mesin Rp1,1 Milyar.Nilai wajar tanah diestimasi
Rp1,9 Milyar. Transaksi tersebut memiliki subtansi komersial. Mesin akan dicatat Rp1
Milyar yaitu nilai wajar dari aset yang diserahkan Rp 1,9 Milyar dikurangi dengan kas yang
diterima 900 juta.
Jurnal :
Mesin

1.000.000.000

Kas

900.000.000
Keuntungan pelepasan tanah
Tanah

1.400.000.000
500.000.000

Pertukaran tidak memiliki substansi komersial


Contoh :
PT A menukar mobil X dengan nilai buku Rp 130 juta (harga perolehan Rp 200 juta dan akm
depresiasi Rp 70 juta) nilai wajar Rp 132,5juta dg kas Rp 1,5 juta dan mobil Y nilai wajar
Rp 131 juta. Mobil jenis Y dicatat sebeasar nilai buku X yaitu Rp 130 juta dikurangi kas
diterima Rp 1,5juta yaitu sebesar Rp 128,5 juta.

Jurnal :
Kas

1.500.000

Mobil Y

128.500.000

Akumulasi depresiasi
Mobil X

70.000.000
200.000.000

Harga perolehan suatu pos dari properti, pabrik, dan peralatan diukur pada tanggal
akuisisinya menurut harga setara kas. Bilamana pembayaran atas aset ditangguhkan melampaui
syarat kredit

normal, maka selisih harga kas dengan total pembayaran yang dilakukan harus

diakui sebagai biaya pembiayaan. Biaya pembiayaan harus dibukukan sebagai beban selama
periode kredit kecuali bunga mempunyai kualifikasi untuk dikapitalisasi sesuai dengan IAS 23
mengenai Biaya Peminjaman.Apabila suatu aset dibeli dengan cara tukar-menukar dengan aset
lain, maka aset yang dibeli harus diukur menurut nilai wajarnya, kecuali transaksi penukaran
tersebut lemah dalam subtansi komersialnya atau nilai wajar tidak dapat diukur secara andal.
Dalam hal seperti ini, aset yang dibeli harus diukur menurut nilai tercatatnya yang telah ditukar
dalam transaksi tukar menukar tersebut.Nilai tercatat dari aset berarti harga perolehan dikurang
dengan akumulasi penyusutan dan rugi karena penurunan nilai. Transaksi tukar menukar akan
mempunyai subtansi komersial jika ada kenaikan di dalam arus kas atau peningkatan nilai
operasi entitas, yang disebabkan oleh aset yang diterima dari transaksi tukar-menukar tersebut.
Apabila suatu entitas menerima hibah atau bantuan untuk perolehan aset, maka nilai tercatatnya
harus dikurangi, sesuai dengan IAS 20 mengenai Akuntansi untuk Hibah Pemerintah dan
Pengungkapan Bantuan Pemerintah.
1.7

Pengukuran Setelah Pengakuan Awal

Dalam PSAK 16 mengakui adanya dua metode dalam pengukuran akuntansi aset tetap tersebut, yaitu :
1. Model biaya
Dalam model ini setalah diakui sebagai aset maka suatu aset tetap dicatat sebesar biaya
perolehan dikurang akumulasi penyusutan dan akm rugi penurunan nilai aset. Model revaluasi
setelah diakui sebagai aset, suatu aset tetap yang nilai wajarnya dapat diukur secara andal harus

dicatat pada jumlah revaluasinya, yaitu nilai wajar pada tanggal revaluasi dikurangi akumulasi
penyusutan dan rugi penurunan nilai yang terjadi setelah tanggal revaluasi. Frekuensi revaluasi
tergantung pada pergerakan nilai wajar dari aset tetap.
Nilai Wajar : jumlah yang dipakai untuk mempertukarkan suatu aset antar pihak pihak
yang berkeinginan dan memiliki pengetahuan memadai dalam suatu transaksi dengan wajar.
Jika suatu aset tetap direvaluasi maka terdapat 2 alternatif perlakuan untuk akumulasi
penyusutan aset tetap adalah sebagai berikut:
1. Disajikan kembali secara proposional dengan perubahan dalam jumlah tercatat bruto dari
aset sehingga jumlah tercatat aset setelah revaluasi sama dengan jumlah revaluasinya.
2. Dieliminasi terhadap jumlah tercatat bruto dari aset dan jumlah tercatat netto setelah
dieliminasi disajikan kembali sebesar jumlah revaluasinya dari aset tersebut.
2. Model Revaluasi
Terdiri atas 2 metode, yaitu :
1. Metode Proposional
Contoh :

Peralatan

420.000.000

Akumulasi depresiasi

140.000.000

Surplus revaluasi

280.000.000

2. Metode Eliminasi
Contoh :

Akumulasi penyusutan

260.000.000

Peralatan
Peralatan
Surplus

260.000.000
280.000.000
280.000.000

Jika jumlah tercatat aset meningkat akibat revaluasi kenaikan tersebut langsung di kredit
ke surplus revaluasi : jika jumlah tercatat aset turun akibat revaluasi maka penurunan tersebut
diakui dalam laporan laba rugi.
Memberikan kepada suatu entitas suatu opsi kebijakan akuntansi yang menggunakan
model harga perolehan atau model revaluasi. Model manapun yang akan diadopsi oleh suatu
entitas, entitas tersebut harus menerapkan kebijakan tersebut bagi seluruh kelompok dari

properti, pabrik dan peralatan. Contoh dari kelompok properti, pabrik, dan peralatan adalah
tanah, tanah berikut bangunannya, pabrik dan mesin-mesin, kendaraan bermotor, peralatan
kantor dan perabot kantor.
PENURUNAN NILAI
Penyusutan Entitas harus mengestimasi nilai residu dan umur manfaat dari aset tetap untuk
menentukan besar penyusutan tiap periode.
2.1

Umur Manfaat

Umur manfaat adalah:


-

Suatu periode dimana aset diharapkanakan digunakan oleh entitas


Jumlah produksi atau unit serupa yang diharapkan akan diperoleh dari aset tersebut
oleh entitas.

Faktor faktor yang harus diperhatikan dalam menentukan nilai manfaat:


1. Prakiraan daya pakai dari aset yang bersangkutan.
2. Perkiraan tingkat keausan fisik yang bergantung pada faktor pengoperasian aset tersebut
seperti jumlah penggiliran penggunaan aset dan program pemeliharaan dan
perawatannya.
3. Keusangan teknis dan keusangan komersial yang diakibatkan oleh perubahan atau
peningkatan produksi atau karena perubahan permintaan pasar
4. Pembatasan penggunaan aset karena aspek hukum atau peraturan tertentu, seperti
berakhirnya waktu penggunaan sehubungan dengan sewa.

2.2

Metode Penyusutan

Terdapat beberapa metode penyusutan,yang dapat dijelaskan sebagai berikut:

Metode garis lurus (straight line depreciation)


Metode jam jasa (service-hour method)
Metode hasil produksi/unit produksi (productive-outputmethod)
Metode beban berkurang (reducing-charge method )
a) Jumlah angka tahun (sum of theyears-digits method)
b) Saldo menurun (declining balancemethod)

c) Double declining balance method


d) Metode Tarif menurun (declining rate on cost method)
2.3

Depresiasi
Setiap komponen dari pos properti, pabrik dan peralatan dengan harga perolehannya yang

signifikan terkait dengan total harga perolehan dari pos yang harus disusutkan secara tersendiri.
Hal

ini

dapat

menyebabkan

perlunya

untuk

membukukan

secara

seksama

untuk

mengindentifikasi komponen-komponen tersebut secara terpisah dari pos tersebut yang memiliki
masa manfaat yang berbeda, dan oleh karena itu mungkin tergantung pada metode atau tarif
penyusutan yang berbeda. Akan tetapi, suatu entitas mungkin memilih untuk menyusutkan
bagian-bagian dari pos properti, pabrik dan peralatan secara terpisah yang memiliki harga
perolehan yang tidak signifikan terkait dengan total harga perolehan pos tersebut. Entitas harus
memulai untuk menyusutkan aset ketika berada di lokasi dan kondisi,serta tersedia untuk tujuan
yang dimaksud. Entitas juga harus memberhentikan penyusutan aset bilamana aset tidak diakui,
atau direklasifikasikan sebagai yangdimiliki untuk dijual sesuai dengan IFRS 5.
Beban penyusutan untuk setiap periode harus diakui dalam laba rugi, jika tidak termasuk
di dalam jumlah tercatat dari asset lain. Penyusutan harus diterapkan kepada jumlah dari suatu
aset yang dapat disusutkan secara sistematis selama harapan masa manfaatnya. Jumlah yang
dapat disusutkan, memperhitungkan nilai residu yang diharapkan dari suatu aset. Suatu entitas
diizinkan untuk memilih metode penyusutan. Entitas tersebut dapat menggunakan metode garis
lurus, metode saldo menurun, atau metode unit produksi. Metode penyusutan digunakan harus
mencerminkan pola imbalan ekonomis masa depan dari aset yang diharapkan untuk dikonsumsi
oleh entitas.
Menurut IAS 16, bilamana suatu pos properti, pabrik dan peralatan direvaluasi, maka
suatu entitas dapat memperlakukan akumulasi penyusutan pada tanggal revaluasi dengan salah
satu dari dua cara sebagai berikut :
1. Dinyatakan kembali secara proporsional dengan perubahan di dalam jumlah tercatat
kotor dari aset, sehingga jumlah tercatat dari aset setelah revaluasi sama dengan jumalah
yang direvaluasi (menurut standar tersebut, metode ini sering digunakan bilamana suatu
aset direvaluasi, dengan cara menerapkan suatu indeks guna menentukan biaya pengganti
yang disusutkan) ;atau

2. Dieliminasi terhadap jumlah tercatat kotor dari aset dengan jumlah yang dinyatakan
kembali bersih terhadap jumlah yang direvaluasi dari aset (standar menyatakan bahwa
metode ini sering digunakan untuk bangunan).
Surplus revaluasi mungkin dipindahkan ke saldo laba dalam salah satu dari dua cara
sebagai berikut :
1. Bilamana aset tersebut dihentikan, atau tidak diakui, maka surplus dpaat dipindahkan
pada saldo laba; atau
2. Selisih antara depresiasi yang dibebankan pada jumlah yang direvaluasi dan bahwa atas
dasar harga perolehan dapat dipindahkan dari surplus revaluasi ke saldo laba yang diakui
dalam laba atau rugi.
2.4

Penurunan nilai
Dalam menentukan apakah suatu aset mengalami penurunan nilai entitas mengacu pada

PSAK 48(revisi 2009) penurunan nilai aset. Menurut PSAK 48 suatu asset disebut mengalami
penurunan nilai jika nilai tercatatnya lebih besar dibandingkan nilai terpulihkan. Nilai
terpulihkan adalah nilai tertinggi diantara nilai wajar dikurangi biaya untuk menjual. Sesuai
ketentuan dalam PSAK 48, entitas harus menilai apakah terdapat indikasi suatu aset mengalami
penurunan nilai pada setiap akhir periode pelaporannya.
Jika terdapat indikasi maka harus mengestimasi jumlah terpulihkan jika tidak maka tidak
perlu estimasi jumlah terpulihkan. Dalam mempertimbangkan ada tidaknya penurunan maka
entitas harus mempertimbangkan dari sumber eksternal dan internal.
Informasi dari sumber eksternal adalah:
1. Selama periode tersebut nilai pasar aset telah turun secara signifikan lebih dari yang
diharapkan sebagai akibat dari berjalannya waktu.
2. Perubahan signifikan dalam hal teknologi, pasar , ekonomi atau lingkup hukum tempat
entitas beroperasi atau di pasar tempat aset dikaryakan.
3. Suku bunga pasar atau tempat imbalan pasar dari investasi telah meningkat selama
periode tersebut dan kenaikan tesebut mungkin akan mempengaruhi tingkat diskonto
yang digunakan dalam menghitung nilai pakai aset dan menurunkan nilai terpulihkan.
4. Jumlah tercatat aset netto entitas melebihi kapitalisasi pasarnya.
Informasi dari sumber internal:
1. Terdapat bukti mengenai keusangan atau kerusakan aset.

2. Telah terjadi atau akan terjadi dalam waktu dekat perubahan signifikan yang
berdampakmerugikan sehubungan dengan seberapa jauh atau cara suatu aset yang
digunakan akan digunakan.
3. Terdapat bukti pelaporan internal yang mengindikasikan bahwakinerja ekonomi asset
lebih buruk atau akan lebih buruk.
Apabila suatu pos properti, pabrik dan peralatan dihentikan ataupun tidak ada manfaat
ekonomis masa depan diharapkan dari pengunaannya atau dihentikan, maka harus dihentikan
pengakuannya. Suatu entitas yang beroperasi didalam bisnis penyewaan aset kepada pihak ketiga
mungkin menjual aset tersebut yang digunakan dalam aktivitas sewa menyewa di dalam
rangkaian bisnis yang normal.
Dalam hal ini, nilai wajar dari aset tersebut pada tanggal jika mereka dihentikan dari
penyewaannya, dan menjadi aset yang dimiliki untuk dijual maka harus dipindahkan ke
persediaan. Hasil dari penjualan aset tersebut dimasukkan sebagai persediaan harus diakui
sebagai pendapatan sesuai dengan IAS 18 mengenai pendapatan.
Keuntungan atau kerugian yang diakibatkan karena penghentian pengakuan dari suatu
pos properti, pabrik dan peralatan adalah selisih antara hasil penjualan bersih, jika ada, dan
jumlah tercatat dari pos properti, pabrik dan peralatan tersebut.Keuntungan atau kerugian yang
timbul dari penghentian pengakuan suatu pos properti, pabrik dan peralatan harus dimasukkan di
dalam laba atau rugi jika pos tersebut dihentikan pengakuannya dan tidak diklasifikasikan
sebagai pendapatan.
Dalam menentukan apakah suatu aset tetap mengalami penurunan nilai, entitas
menerapkan PSAK 48 (revisi 2009): Penurunan Nilai Aset. Pernyataan tersebut menjelaskan
bagaimana entitas me-review jumlah tercatat asetnya, bagaimana menentukan jumlah terpulihkan
dari aset dan kapan mengakui atau membalik rugi penurunan nilai.
Kompensasi untuk Penurunan Nilai Kompensasi dari pihak ketiga untuk aset tetap
yang mengalami penurunan nilai, hilang atau dihentikan dimasukkan dalam laba rugi pada saat
kompensasi diakui menjadi piutang
Penurunan nilai atau kerugian aset tetap, klaim atas atau pembayaran kompensasi dari
pihak ketiga dan pembelian atau konstruksi selanjutnya atas penggantian aset adalah peristiwa
ekonomi yang terpisah dan dicatat secara terpisah dengan ketentuan sebagai berikut:

(a) penurunan nilai aset tetap diakui sesuai dengan PSAK 48 (revisi 2009): Penurunan
Nilai Aset;
(b) penghentian pengakuan aset tetap yang usang atau dilepas ditentukan sesuai dengan
Pernyataan ini;
(c) kompensasi dari pihak ketiga untuk aset tetap yang mengalami penurunan nilai,
hilang

atau

dihentikan harus dimasukkan dalam penentuan laba rugi pada saat

kompensasi diakui pada saat menjadi piutang; dan


(d) biaya perolehan aset tetap yang diperbaiki, dibeli atau dikonstruksi sebagai
penggantian ditentukan sesuai dengan pernyataan ini.
2.5

Penghentian Pengakuan

Jumlah tercatat aset tetap dihentikan pengakuannya pada saat:


(a)

dilepas; atau

(b)

ketika tidak terdapat lagi manfaat ekonomi masa depan yang diharapkan dari
penggunaan atau pelepasannya.

Keuntungan

atau

kerugian

yang

timbul

dari penghentian pengakuan aset tetap

dimasukkan dalam laba rugi pada saat aset tersebut dihentikan pengakuannya (kecuali PSAK
30: Sewa mengharuskan perlakuan yang berbeda dalam hal transaksi jual dan sewa-balik).
Keuntungan tidak boleh diklasifikasikan sebagai pendapatan.
Namun, entitas yang aktivitas normal rutinnya adalah menjual aset yang sebelumnya
disewakan, maka entitas mentransfer aset tetap tersebut menjadi persediaan sesuai nilai
tercatat ketika aset tidak lagi disewakan dan menjadi aset dimiliki untuk dijual. Imbalan dari
penjualan aset tersebut diakui sebagai pendapatan sesuai dengan PSAK 23 (revisi2010):
Pendapatan. PSAK 58 (revisi 2009): Aset Tidak Lancar yang Dimiliki untuk Dijual dan Operasi
yang Dihentikantidak diterapkan ketika aset yang dimiliki untuk dijual dalam keadaan bisnis
normal dipindahkan ke persediaan.
Jika, berdasarkan prinsip pengakuan dalam paragraf 07, suatu entitas mengakui biaya
perolehan dari penggantian sebagian aset tetap dalam jumlah tercatat aset tetap tersebut, maka
selanjutnya entitas tersebut juga menghentikan pengakuan jumlah tercatat dari bagian yang
digantikan tanpa memperhatikan apakah bagian yang digantikan telah disusutkan secara terpisah.
Jika hal ini tidak praktis bagi entitas untuk menentukan jumlah tercatat dari bagian yang

digantikan, entitas dapat menggunakan biaya perolehan dari penggantian tersebut sebagai
indikasi biaya perolehan dari bagian yang digantikan pada saat diperoleh atau dikonstruksi.
Keuntungan atau kerugian yang timbul dari penghentian pengakuan suatu aset tetap
ditentukan sebesar pendapatan antara jumlah hasil pelepasan neto, jika ada, dan jumlah tercatat
dari aset tersebut.
Piutang atas pelepasan aset tetap diakui pada saat awal sebesar nilai wajarnya. Jika
pembayaran untuk hal tersebut ditangguhkan, perhitungan yang akan diterima diakui pada
saat awal sebesar nilai tunainya. Perbedaan antara jumlah nominal piutang dan nilai tunainya
diakui sebagai pendapatan bunga sesuai dengan PSAK 23 (revisi 2009): Pendapatan yang
mencerminkan imbalan efektif atas piutang.
2.6

Pengungkapan Aset Tetap

Laporan keuangan mengungkapkan:


1. Dasar pengukuran yang digunakan dalam menetukan jumlah tercatat bruto
2. Metode penyusutan yang digunakan.
3. Umur manfaat, tarif penyusutan yang digunakan.
4. Jumlah tercatat bruto dan akumulasi penyusutan.
5. Rekonsiliasi jumlah tercatat pada awal periode yang menunjukan:

Penambahan.
Aset tersedia untuk dijual atau termasuk dalam kelompok yang akan dilepaskan.
Akuisisi melalui penggabungan usaha.
Peningkatan atau penurunan akibat revaluasi.
Rugi penurunan nilai yang diakui dalam laporan laba rugi komprehensif sesuai PSAK
Rugi penurunan nilai yang dijurnal pembalik dalam laporan laba rugi.
Selisih nilai tukar neto yang timbul dalam penjabaran laporan keuangan.
Perubahan lain.

Laporan keuangan juga mengungkapkan :


1. Keberadaan atas jumlah restriksi atas hak milik aset tetap yang dijaminkan untuk utang.
2. Jumlah pengeluaran yang diakui dalam jumlah tercatat aset tetap yang sedang dalam
pembangunan.
3. Jumlah komitmen kontraktual dalam perolehan aset tetap.
4. Jumlah kompensasi dari pihak ke tiga untuk aset tetap yang mengalami penurunan nilai.
Penyusutan apakah diakui dalam laporan laba rugi komprehensif atau diakui sebagai
bagian dari biaya perolehan.

Akumulasi penyusutan pada akhir periode.

Sesuai dengan PSAK 25 entitas mengungkapkan sifat dan dampak perubahan estimasi
akuntansi yang berdampak material pada periode berjalan atau diperkirakan berdampak material
pada periode selanjutnya.
Pengungkapan tersebut dapat muncul dari perubahan estimasi dalam:
1. Nilai residu.
2. Estimasi biaya pembongkaran.
3. Umur manfaat
4. Metode penyusutan.
Sesuai dengan PSAK 48 suatu entitas mengungkapkan informasi penurunan nilai aset
tetap sebagai tambahan informasi yang disyaratkan. Informasi berikut relevan dengan kebutuhan
pengguna laporan keuangan sehingga entitas juga dianjurkan melakukan pengungkapan atas:
1. Jumlah tercatat aset tetap tidak terpakai sementara
2. Jumlah tercatat bruto dari setiap aset tetap yang telah disusutkan
3. Jumlah tercatat aset yang dihentikan
4. Jika model biaya digunakan nilai wajar aset tetap apabila berbeda secara material dari jumlah
tercatat.
Dampak Perpajakan pada PSAK 16

Terkait dengan revaluasi aset tetap, apabila Wajib Pajak mengajukan permohonan penilain
kembali asset tetap kepada Direktur Jenderal Pajak dalam jangka waktu sejak berlakunya
Peraturan Menteri Keuangan No. 191/PMK.010/2015 (15 Oktober 2015) sampai dengan 31
Desember 2016, akan mendapatkan perlakuan khusus berupa dikenakan Pajak Penghasilan yang
bersifat final sebesar:
a. 3% untuk permohonan yang diajukan sejak berlakunya Peraturan Menteri ini sampai
dengan tanggal 31 Desember 2015
b. 4% unutk permohonan yang diajukan sejak 1 Januari 2016 sampai dengan tanggal 30
Juni 2016; atau

c. 6% untuk permohonan yang diajukan sejak tanggal 1 Juli 2016 sampai dengan tanggal 31
Desember 2016,
atas selisih lebih nilai aktiva tetap hasil penilaian kembali atau hasil perkiraan penilaian kembali
oleh Wajib Pajak, diatas nilai sisa buku fiskal semula.

PERTANYAAN
1. Rifky Aditya
Apakah bunga dari biaya pinjaman leasing boleh dikapitalisasikan ke asset tetap yang
bersangkutan?
Jawab:
Bunga dari pinjaman leasing dapat dikapitalisasikan sepanjang entitas meminjam dana
secara spesifik untuk tujuan memperoleh asset kualisifikasian. Jumlah biaya yang dapat
dikapitalisasikan sebesar:
- biaya pinjaman actual yang terjadi atas pinjaman tersebut selama periode berjalan
dikurangi
- penghasilan investasi dari investasi temporer pinjaman tersebut.
Investasi temporer merupakan dana pinjaman yang belum terpakai/digunakan untuk
memperoleh asset tetap, sehingga diinvestasikan untuk sementara waktu kedalam saham,
obligasi, dsb.
Contoh: PT ABC meminjam ke Bank sejumlah Rp10.000.000.000 untuk membangun
gedung dengan tingkat bunga 8%. Pengeluaran dilakukan selama proses pembangunan
sehingga sebagian dana diinvestasikan. Hasil investasi yang diperoleh dari proses
pembangunan gedung dari pinjaman yang belum dipakai sebesar Rp300.000.000.
Total biaya bunga:
Rp10.000.000.000 x 8% = Rp800.000.000
Bunga yang dapat dikapitalisasi:
Rp800.000.000 - 300.000.000 = Rp500.000.000
2. Ivan Satria
Bagaimana perlakuan pencatatan bunga cicilan yang dibayarkan saat perolehan asset tetap?
Jawab:
Jika bunga didapatkan pada saat perusahaan belum mengakuinya sebagai asset tetao,
perusahaan harus mengkapitalisasi bunga tersebut dan dimasukkan menjadi harga perolehan.
Sedangkan jika bunga tersebut muncul saat perusahaan sudah mengakuinya sebagai asset

tetap, maka bunga tersebut tidak boleh lagi dikapitalisasikan, namun dikategorikan menjadi
beban bunga.
3. Vela Hermayuni
Apa perbedaan depresiasi dan penurunan nlai asset tetap dan bagaimana cara mengakui
penurunan nilai pada laporan keuangan?
Jawab:
Depresiasi merupakan alokasi dari harga perolehan yang menjadi beban dalam periode
berjalan dan berkaitan dengan umur ekonomis dari asset. Depresiasi dimulai saat asset
digunakan dan tidak lagi dilakukan jika asset tidak lagi dimiliki atau dijual dan atau tidak
memiliki nilai manfaat ekonomis. Sedangkan penurunan nilai berkaitan dengan harga pasar
dan perubahan teknologi, serta nilai tercatat dari asset yang lebih tinggi dari nilai terpulihkan
dari suatu asset. Nilai terpulihkan adalah nilai tertinggi dari nilai wajar dikurangi biaya
untuk menjual.
Dalam melakukan pencatatan terhadap depresiasi dan penurunan nilai, terdapat dua model
yang dapat digunakan, yaitu cost model dan revaluation model. Apabila menggunakan cost
model, setelah diakui sebagai asset, asset tetap dicatat sebesar: biaya perolehan dikurangi
akumulasi penyusutan dan akumulasi rugi penurunan nilai asset. Sedangkan apabila
menggunakan revaluation model, setela diakui sebagai asset, asset tetap dicatat sebesar
jumlah revaluasian (nilai wajar pada tanggal revaluasi) dikurangi akumulasi penyusutan dan
akumulasi rugi penurunan asset yang terjadi setelah tanggal revaluasi.
Contoh:
Peralatan senilai Rp10.000.000 diperoleh tanggal 1 Januari 2015 dengan masa manfaat
ekonomi 5 tahun tanpa nilai sisa. Tanggal 31 Desember 2015 nilai wajar asset adalah
Rp7.000.000.
Cost Model
01-Jan Aset tetap
Kas

10.000.000
10.000.000

31-Des Beban penyusutan


Akm penyusutan

2.000.000

31-Des Rugi penurunan


Akm rugi penurunan

1.000.000

Revaluation Model

2.000.000

1.000.000

01-Jan Aset tetap

10.000.000
10.000.00
0

Kas
31-Des Beban penyusutan
Akm penyusutan

2.000.000

31-Des Akumulasi penyusutan


Aset tetap
Rugi revaluasi
Aset tetap

2.000.000

2.000.000

2.000.000
1.000.000
1.000.000

DAFTAR

PUSTAKA
Martani, Dwi, Sylvia Veronica, dkk. 2012. Akuntansi Keuangan Menengah Berbasis PSAK.
Jakarta: Salemba Empat
PSAK 16
Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 191/PMK.010/2015
https://fauzieyahsyifa.wordpress.com/2014/05/05/analisis-dampak-penerapan-psak-16-46-50-5560-pada-tahun-2012-terhadap-laporan-keuangan-pt-indo-rama-synthetics-tbk/
http://www.iaiglobal.or.id