Anda di halaman 1dari 24

LAPORAN TUTORIAL

MODUL 2 BLOK 18
KELOMPOK 7

TUTOR : drg. Ridha syahri


Ketua : Nia Nurhaeni
Sekretaris I : Ingrid Panbara
Sekretaris II : Apfia Anneline Angelica Manurung
Annisa Fajriatul Arafah
Eka Fitriani
Muhammad Islamoyo Rewando Tutan
Fitri Lidya
Vina Andrianti Utami
Bernard M.Novriman
Nur Aini Afifah

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI UNIVERSITAS ANDALAS


2016-2017

Modul 2
PENATALAKSANAAN GIGI IMPAKSI

Skenario 2
My Wisdom?
Jenny (20 tahun) datang ke praktek dokter gigi dengan keluhan gusi di regio geraham
bungsu kanan bawah terasa bengkak dan sakit sehingga sulit membuka mulut. Ia merasa
demam dan lemas disertai sakit kepala sebelah kanan dan telinga terasa berdengung.
Dari hasil pemeriksaan ekstra oral didapatkan trismus selebar 2 jari, perabaan kelenjer
limfe submandibula dekstra membengkak, kenyal dan nyeri tekan. Pada pemeriksaan
intraoral didapatkan gigi 48 impaksi, jaringan lunak disekitar mahkota gigi yang sedang
erupsi membengkak dan berwarna merah.
Dokter memberikan surat kepada pasien untuk melakukan pemeriksaan radiologi.
Dari hasil pemeriksaan radiologi didapatkan pada gigi 48 impaksi klas II A mesioanguler.
Hasil radiologi ini memperlihatkan bahwa gigi 48 tidak memungkinkan untuk erupsi
sempurna dan harus diekstraksi secara bedah minor.
Bagaimana saudara menjelaskan kasus di atas?

STEP 1. TERMINOLOGI
1. Trismus : gangguan pembukaan mulut akibat kontraksi otot dan sifatnya

sementara
2. Gigi impaksi : gigi yang erupsinya terhalang atau terhambat karena gigi

sebelah.
3. Impaksi kelas IIA mesioangular : impaksi dimana ukuran mesial-distal molar

ketiga nya lebih besar dibanding jarak antara distal gigi molar kedua dengan
ramus yang bagian tertinggi molar ketiga berada setinggi garis oklusal dan
miring ke mesial.
STEP 2. IDENTIFIKASI MASALAH
1. Apa diagnosis kasus Jenny?
2. Apa penyebab gigi impaksi?
3. Apa saja klasifikasi gigi impaksi?
4. Apa saja keluhan dan gangguan yang disebabkan gigi impaksi?
5. Apa hubungan gigi impaksi dengan trismus dan telinga berdengung?
6. Apa indikasi dan kontraindikasi ekstraksi bedah minor ?
7. Bagaimana penatalaksanaan gigi impaksi ?
8. Apa saja komplikasi pasca ekstraksi gigi impaksi ?
9. Apa saja penatalaksanaan untuk jaringan lunak di skenario ?

STEP 3. ANALISA MASALAH


1. Diagnosa Kasus Jeny

Untuk jaringan lunak nya : perikoronitis edkausa impaksi gigi molar ketiga (klas II A
mesioangular)
2. Penyebab gigi impaksi
a. Lokal

Posisi gigi yang abnormal

Tekanan terhadap gigi tersebut dari gigi tetangga

Penebalan tulang yang mengelilingi gigi tersebut

Kurangnya tempat untuk gigi tersebut

Gigi desidui persistensi

Pencabutan gigi yang prematur

Inflamasi yang kronis yang menyebabkan penebalan mukosa


disekeliling gigi

a. Umum

Prenatal : keturunan, miscegenation

Postnatal : ricketsia, anemi, syphilis kongenital, TBC,


gangguan kelenjer endokrin, malnutrisi

a. Etiologi lainnya

Cleido cranial dysostosis

Oxycephali

Hambatan dari sekitar gigi :

Tulang yang tebal serta padat

Tempat gigi tersebut kurang

Gigi tetangga menghalangi gigi tersebut erupsi

Adanya gigi decidui yang persistensi

Jaringan lunak yang menutupi gigi tersebut kenyal atau liat

Hambatan dari gigi itu sendiri :

Letak benih abnormal, horizontal, vertikal, distal dll

Daya erupsi gigi tersebut kurang

1. Klasifikasi gigi impaksi


a. Berdasarkan sifat jaringan

Berdasarkan sifat jaringan, impaksi gigi molar ketiga dapat diklasifikasikan


menjadi
o Impaksi jaringan lunak
Adanya jaringan fibrous tebal yang menutupi gigi terkadang mencegah
erupsi gigi secara normal. Hal ini sering terlihat pada kasus insisivus
sentral permanen, di mana kehilangan gigi sulung secara dini yang
disertai trauma mastikasi menyebabkan fibromatosis
o Impaksi jaringan keras
Ketika gigi gagal untuk erupsi karena obstruksi yang disebabkan oleh
tulang sekitar, hal ini dikategorikan sebagai impaksi jaringan keras. Di

sini, gigi impaksi secara utuh tertanam di dalam tulang, sehingga


ketika flap jaringan lunak direfleksikan, gigi tidak terlihat. Jumlah
tulang secara ekstensif harus diangkat, dan gigi perlu dipotong-potong
sebelum dicabut.
a. Klasifikasi Pell dan Gregory
Pell dan Gregory menghubunkan kedalaman impaksi terhadap bidang oklusal
dan garis servikal gigi molar kedua mandibula dalam sebuah pendekatan dan
diameter mesiodistal gigi impaksi terhadap ruang yang tersedia antara
permukaan distal gigi molar kedua dan ramus ascendens mandibula dalam
pendekatan lain.
a) Berdasarkan relasi molar ketiga bawah dengan ramus
mandibular
a. Klas I: Diameter anteroposterior gigi sama atau
sebanding dengan ruang antara batas anterior ramus
mandibula dan permukaan distal gigi molar kedua.
b. Klas II: Sejumlah kecil tulang menutupi permukaan
distal gigi dan ruang tidak adekuat untuk erupsi gigi,
sebagai contoh diameter mesiodistal gigi lebih besar
daripada ruang yang tersedia.
c. Klas III: Gigi secara utuh terletak di dalam mandibula
akses yang sulit.
b) Komponen kedua dalam sistem klasifikasi ini didasarkan pada
jumlah tulang yang menutupi gigi impaksi.10 Baik gigi impaksi
atas maupun bawah bias dikelompokkan berdasarkan
kedalamannya, dalam hubungannya terhadap garis servikal
Molar kedua disebelahnya
a. Posisi A: Bidang oklusal gigi impaksi berada pada
tingkat yang sama dengan oklusal gigi molar kedua
tetangga.10 Mahkota Molar ketiga yang impaksi berada
pada atau di atas garis oklusal.
b. Posisi B: Bidang oklusal gigi impaksi berada pada
pertengahan garis servical dan bidang oklusal gigi
molar kedua tetangga.
c. Posisis C: Bidang oklusal gigi impaksi berada di bawah
tingkat garis servikal gigi molar kedua
a. Klasifikasi Winter

Winter mengajukan sebuah klasifikasi impaksi gigi molar ketiga mandibula


berdasarkan hubungan gigi impaksi terhadap panjang aksis gigi molar kedua
mandibula. Beliau juga mengklasifikasikan posisi impaksi yang berbeda
seperti impaksi vertikal, horizontal, inverted, mesioangular, distoangular,
bukoangular, dan linguoangular.
b. Klasifikasi Impaksi Molar Ketiga Menurut Thoma

Thoma mengklasifikasikan kurvatura akar gigi molar ketiga yang mengalami


impaksi ke dalam tiga kategori:
o Akar lurus (terpisah atau mengalami fusi)
o Akar melengkung pada sebuah posisi distal
o Akar melengkung secara mesial.
a. Klasifikasi Impaksi Molar Ketiga Menurut Killey dan Kay

Killey dan Kay mengklasifikasikan kondisi erupsi gigi molar ketiga impaksi
dan jumlah akar ke dalam tiga kategori. Gigi tersebut diklasifikasikan sebagai
berikut:
- Erupsi
- Erupsi sebagian
- Tidak erupsi
1. Keluhan dan gangguan yang disebabkan gigi impaksi:

a. Inflamasi
b. resorpsi gigi tetangga
c. rasa sakit
d. bau mulut
e. rahang sakit
f. tidak nyaman saat mengunyah
Komplikasi : gingivitis, periodontitis, crowding, karies, kista, tumor, perikoronitis,
abses

2. Hubungan gigi impaksi dengan telinga berdengung : posisi giginya menjepit

saraf sehingga telinga berdengung

3. Indikasi ekstraksi bedah minor

Pencegahan terjadinya :
-

infeksi karena erupsi yang terlambat dan abnormal ( perikoronitis)

Berkembangnya folikel menjadi keadaan patologis (kista odontogenik


dan neoplasma)

Usia muda, sesudah akar gigi terbentuk 1/3 sampai 2/3 bagian dan
sebelum pasien mencapai usia 18 tahun

adanya infeksi (fokus selulitis)

Adanya keadaan patologis (odontogenik)

penyimpangan panjan lenkung rahang dan untuk


mempertahankan sabilitas hasil perawatn ortodonti

prostetik atau restoratif

secara umum, sebelum tulang sangat termineralisasi dan padat yaiu


sebelum 26 tahun

pencegahan penyakit periodontal

pencegahan karies gigi sebelah

pencegahan resorbsi akar

pencegahan kista

menimbulkan neuralgia

gigi impaksi dibawah protesa

membantu

Kontraindikasi ekstraksi bedah minor:


-

apabila pasien tidak menghendaki gigi nya dicabut

sebelum panjang akarmencapai 1/3 au 2/3 dan apabila tulang yang


menutupinya terlalu banyak

jika kemungkinan besar akan teradi kerusakan pada struktur penting di


sekitarnya atau kerusakan tulang pendukung yang luas

apabila tulang yang menutupinya sangat termineralisasi dan padat,


yaitu pasien yang berusia >26 th

apabila kemampuan pasien untuk menghadapi tindakan pembedahan


terganggu oleh kondisi fisik atau mental tertentu

peradangan akut

pasien dengan penyakit kardiovaskular

1. Penatalaksanaan gigi impaksi


-

Odontektomi : proses mengeluarkan gigi dengan bedah

1. Komplikasi pasca ekstraksi gigi impaksi

a. Jahitan terbuka

b. Sakit dan pembengkakan


c. Parastesi
d. Terluka bibir atau mukosa
e. Fraktur proc.alveolaris
f. Gigi sebelah : gangren ata mobiliti
g. Mati rasa sesaat
h. Perforasi sinus
i. Rahang Ngilu

2. Penatalaksanaan untuk jaringan lunak di scenario


-

Perikoronitis.
odontektomi)

Terapi:

antibiotik,

bedah

operkulektomi

dan

STEP 4. SKEMA
Jenny

CC : gusi di
geraham bungsu
bawah terasa
bengkak & sakit,
sulit buka mulut,
demam lemas,
sakit kepala
sebelah kanan,
telinga
berdengung.

CC : gusi di
geraham bungsu
bawah terasa
bengkak & sakit,
sulit buka mulut,
demam lemas,
sakit kepala
sebelah kanan,
telinga
berdengung.

Pem. EO : trismus
2 jari, kel.limfe
submandibula
dextra bengkak,
kenyal, nyeri
tekan.

Pemeriksaan
radiologi

Etiologi
klasifikasi
Komplikas
i

Impaksi gigi 48 kls II A


mesioangular

Etiologi

Pericoronitis E.C
Impaksi gigi

Tatalaksa
na

Ekstraksi secara bedah


minor
Indikasi &
kontraindikasi

Tatalaksa
na

Komplik
asi

STEP 5. LEARNING OBJECTIVE


1. Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan tentang etiologi gigi impaksi
2. Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan tentang klasifikasi gigi

impaksi
3. Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan tentang komplikasi gigi

impaksi
4. Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan tentang indikasi dan

kontraindikasi ekstraksi secara bedah minor


5. Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan tentang tata laksana ekstraksi

secara bedah minor


6. Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan tentang komplikasi ekstraksi

secara bedah minor


7. Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan tentang etiologi perikoronitis
8. Mahasiswa

mampu memahami dan menjelaskan

tentang tatalaksana

perikoronitis
STEP 6. MENGUMPULKAN INFORMASI
STEP 7. SINTESA DAN UJI INFORMASI
1. Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan tentang etiologi gigi impaksi

Berdasarkan Teori Filogenik

Berdasarkan teori filogenik, gigi impaksi terjadi karena proses evolusi mengecilnya
ukuran rahang sebagai akibat dari perubahan perilaku dan pola makan pada manusia.
Beberapa faktor yang diduga juga menyebabkan impaksi antara lain perubahan
patologis gigi, kista, hiperplasi jaringan atau infeksi lokal. Ada suatu teori yang
menyatakan berdasarkan evolusi manusia dari zaman dahulu sampai sekarang bahwa
manusia itu makin lama makin kecil dan ini menimbulkan teori bahwa rahang itu
makin lama makin kecil, sehingga tidak dapat menerima semua gigi yang ada. Tetapi
teori ini tidak dapat diterima, karena tidak dapat menerangkan bagaimana halnya bila

tempat untuk gigi tersebut cukup, tetapi gigi tersebut tidak dapat tumbuh secara
normal misalnya letak gen abnormal dan mengapa ada bangsa yang sama sekali tidak
mempunyai gigi terpendam misalnya Bangsa Eskimo, Bangsa Indian, Bangsa Maori
dan sebagainya.
Berdasarkan teori Mendel
Ada beberapa faktor yang menyebabkan gigi mangalami impaksi, antara lain jaringan
sekitar gigi yang terlalu padat, persistensi gigi susu, tanggalnya gigi susu yang terlalu
dini, tidak adanya tempat bagi gigi untuk erupsi, rahang terlalu sempit oleh karena
pertumbuhan tulang rahang kurang sempurna, dan menurut teori Mendel, jika salah
satu orang tua mempunyai rahang kecil, dan salah satu orang tua lainnya bergigi
besar, maka kemungkinan salah seorang anaknya berahang kecil dan bergigi besar.
Sebagai akibat dari kondisi tersebut, dapat terjadi kekurangan tempat erupsi gigi
permanen sehingga terjadi impaksi

Etiologi Gigi Terpendam Menurut Berger


o Kausa local
Posisi gigi yang abnormal
Tekanan terhadap gigi tersebut dari gigi tetangga
Penebalan tulang yang mengelilingi gigi tersebut
Kurangnya tempat untuk gigi tersebut
Gigi desidui persintensi (tidak mau tanggal)
Pencabutan gigi yang premature
Inflamasi yang kronis yang menyebabkan penebalan mukosa
sekeliling gigi
Adanya penyakit-penyakit yang menyebabkan nekrose tulang
karena inflamasi atau abses yang ditimbulkannya
Perubahan-perubahan pada tulang karena penyakit eksantem
pada anak-anak.
o Kausa umum
Kausa prenatal
o Keturunan
o Miscegenation
Kausa postnatal
Semua keadaan atau kondisi yang dapat mengganggu pertumbuhan pada
anak-anak seperti :
o Ricketsia
o Anemi
o Syphilis kongenital
o TBC
o Gangguan kelenjar endokrin
o Malnutrisi

o Kelainan pertumbuhan
Cleido cranial dysostosis
Terjadi pada masa kongenital dimana terjadi kerusakan atau ketiakberesan
dari pada tulang cranial. Hal ini biasanya diikuti dengan persistensi gigi
susu dan tidak erupsinya atau tidak terdapat gigi permanen, juga ada
kemungkinan dijumpai gigi supernumeri yang rudimeter.
Oxycephali
Suatu kelainan dimana terdapat kepala yang lonjong diameter muka
belakang sama dengan dua kali kakan atau kiri. Hal ini mempengaruhi
pertumbuhan rahang.
1. Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan tentang klasifikasi gigi

impaksi
KLASIFIKASI IMPAKSI GIGI MOLAR KETIGA RAHANG BAWAH
-

Berdasarkan sifat jaringan

Berdasarkan sifat jaringan, impaksi gigi molar ketiga dapat diklasifikasikan


menjadi :
a. Impaksi jaringan lunak

Adanya jaringan fibrous tebal yang menutupi gigi terkadang mencegah erupsi
gigi secar normal. Hal ini sering terlihat pada kasus insisivus sentral
permanen, di mana kehilangan gigi sulung secara dini yang disertai trauma
mastikasi menyebabkan fibromatosis
b. Impaksi jaringan keras

Ketika gigi gagal untuk erupsi karena obstruksi yang disebabkan oleh
tulangsekitar, hal ini dikategorikan sebagai impaksi jaringan keras. Di sini,
gigi impaksi secara utuh tertanam di dalam tulang, sehingga ketika flap
jaringan lunak direfleksikan, gigi tidak terlihat. Jumlah tulang secara ekstensif
harus diangkat, dan gigi perlu dipotong-potong sebelum dicabut.
- Klasifikasi Pell dan Gregory
Pell dan Gregory menghubunkan kedalaman impaksi terhadap bidang oklusal
dan garis servikal gigi molar kedua mandibula dalam sebuah pendekatan dan
diameter mesiodistal gigi impaksi terhadap ruang yang tersedia antara
permukaan distal gigi molar kedua dan ramus ascendens mandibula dalam
pendekatan lain.
a) Berdasarkan relasi molar ketiga bawah dengan ramus
mandibula
Klas I: Diameter anteroposterior gigi sama atau sebanding dengan
ruang antara batas anterior ramus mandibula dan permukaan distal gigi

molar kedua. Pada klas I ada celah di sebelah distal Molar kedua yang
potensial untuk tempat erupsi Molar ketiga.
Klas II: Sejumlah kecil tulang menutupi permukaan distal gigi dan
ruang tidak adekuat untuk erupsi gigi, sebagai contoh diameter
mesiodistal gigi lebih besar daripada ruang yang tersedia.10 Pada klas
II, celah di sebelah distal M
Klas III: Gigi secara utuh terletak di dalam mandibula akses yang
sulit. Pada klas III mahkota gigi impaksi seluruhnya terletak di dalam
ramus.
b) Komponen kedua dalam sistem klasifikasi ini didasarkan pada

jumlah tulang yang menutupi gigi impaksi. Baik gigi impaksi


atas maupun bawah bias dikelompokkan berdasarkan
kedalamannya, dalam hubungannya terhadap garis servikal
Molar kedua disebelahnya. Faktor umum dalam klasifikasi
impaksi gigi rahang atas dan rahang bawah :
Posisi A: Bidang oklusal gigi impaksi berada pada tingkat yang sama
dengan oklusal gigi molar kedua tetangga. Mahkota Molar ketiga yang
impaksi berada pada atau di atas garis oklusal.
Posisi B: Bidang oklusal gigi impaksi berada pada pertengahan garis
servical dan bidang oklusal gigi molar kedua tetangga. Mahkota Molar
ketiga di bawah garis oklusal tetapi di atas garis servikal Molar kedua.
Posisis C: Bidang oklusal gigi impaksi berada di bawah tingkat garis
servikal gigi molar kedua. Hal ini juga dapat diaplikasikan untuk gigi
maksila. Mahkota gigi yang impaksi terletak di bawah garis servikal.
- Klasifikasi Winter
Winter mengajukan sebuah klasifikasi impaksi gigi molar ketiga mandibular
berdasarkan hubungan gigi impaksi terhadap panjang aksis gigi molar kedua
mandibula. Beliau juga mengklasifikasikan posisi impaksi yang berbeda
seperti impaksi vertikal, horizontal, inverted, mesioangular, distoangular,
bukoangular, dan linguoangular. Quek et al mengajukan sebuah sistem
klasifikasi menggunakan protractor ortodontik. Dalam penelitian mereka,
angulasi dideterminasikan menggunakan sudut yang dibentuk antara
pertemuan panjang aksis gigi molar kedua dan ketiga. Mereka
mengklasifikasikan impaksi gigi molar ketiga mandibula sebagai berikut:
1.
2.
3.
4.
5.

Vertikal (10o sampai dengan -10o)


Mesioangular (11o sampai dengan -79o)
Horizontal (80o sampai dengan 100o)
Distoangular (-11o sampai dengan -79o)
Lainnya (-111o sampai dengan -80o)
a) Mesioangular: Gigi impaksi mengalami tilting

terhadap molar kedua dalam arah mesial.

b) Distoangular: Axis panjang molar ketiga mengarah

c)
d)

e)

f)
g)

ke distal atau ke posterior menjauhi molar kedua.


Horisontal: Axis panjang gigi impaksi horizontal
Vertikal: Axis panjang gigi impaksi berada pada
arah yang sama dengan axis panjang gigi molar
kedua
Bukal atau lingual: Sebagai kombinasi impaksi
yang dideskripsikan di atas, gigi juga dapat
mengalami impaksi secara bukal atau secara lingual
Transversal: Gigi secara utuh mengalami impaksi
pada arah bukolingual
Signifikansi: Tiap inklinasi memiliki arah
pencabutan gigi secara definitif.

- Klasifikasi Impaksi Molar Ketiga Menurut Thoma


Thoma mengklasifikasikan kurvatura akar gigi molar ketiga yang mengalami
impaksi ke dalam tiga kategori:
1. Akar lurus (terpisah atau mengalami fusi)
2. Akar melengkung pada sebuah posisi distal
3. Akar melengkung secara mesial.
- Klasifikasi Impaksi Molar Ketiga Menurut Killey dan Kay
Killey dan Kay mengklasifikasikan kondisi erupsi gigi molar ketiga impaksi
dan jumlah akar ke dalam tiga kategori. Gigi tersebut diklasifikasikan sebagai
berikut:
1. Erupsi
2. Erupsi sebagian
3. Tidak erupsi
- Menurut American Dental Association
Jumlah akar mungkin berjumlah dua atau multipel. Gigi impaksi juga dapat
terjadi dengan akar yang mengalami fusi. Dengan tujuan untuk memberikan
mekanisme logis dan praktik untuk industry asuransi. American Association of
Oral and Maxillofacial Surgeons mengklasifikasikan gigi impaksi dan tidak
erupsi berdasarkan prosedur pembedahan yang dibutuhkan untuk melakukan
pencabutan, daripada posisi anatomi gigi. Mereka mengklasifikasikan gigi
impaksi ke dalam empat kategori:
1. Pencabutan gigi hanya dengan impaksi jaringan lunak
2. Pencabutan gigi dengan impaksi tulang secara parsial
3. Pencabutan gigi dengan impaksi tulang secara sempurna
4. Pencabutan gigi dengan impaksi tulang sempurna dan
komplikasi pembedahan yang tidak biasa
KLASIFIKASI IMPAKSI GIGI CANINUS

Berdasarkan radiografi

Beberapa ahli mengklasifikasi gigi kaninus impaksi seperti berikut:


-

Archer mengklasifikasi dalam 5 klas yaitu :


Klas I : Gigi berada di palatum dengan posisi horizontal, vertikal atau semi
vertikal.
Klas II : Gigi berada di bukal dengan posisi horizontal, vertikal atau semi
vertikal.
Klas III : Gigi dengan posisi melintang berada diantara dua gigi dengan
korona berada di palatinal dan akar di bukal atau sebaliknya korona di bukal
dan akar di palatinal sehingga disebut juga posisi intermediate.
Klas IV : Gigi berada vertikal di prosesus alveolaris diantara gigi insisivus dua
dan premolar.
Klas V : Kaninus impaksi berada di dalam tulang rahang yang edentulos.

Yavuz dan Buyukkurt mengklasifikasi berdasarkan kedalaman kaninus yaitu:


Level A : Korona kaninus impaksi berada pada garis servikal dari gigi
tetangganya.
Level B : Korona kaninus impaksi berada diantara garis servikal dan apikal
dari akar gigi tetangganya.
Level C : Korona kaninus impaksi berada dibawah apikal dari akar gigi
tetangganya.

Stivaros dan Mandall mengklasifikasi posisi kaninus impaksi terhadap midline dan dataran oklusal, posisi akar kaninus impaksi secara horizontal,
panjang kaninus impaksi secara vertikal dan posisi kaninus impaksi terhadap
lebar akar insisivus.
o Klasifikasi posisi kaninus impaksi terhadap mid-line dan dataran
oklusal
Grade 1 : Gigi kaninus impaksi berada pada sudut 0 - 15o
Grade 2 : Gigi kaninus impaksi berada pada sudut 16 30o
Grade 3 : Gigi kaninus impaksi berada pada sudut 31o
o Klasifikasi posisi akar kaninus impaksi
secara horizontal
Grade 1 : Akar kaninus impaksi berada diatas regio dari kaninus.
Grade 2 : Akar kaninus impaksi berada diatas regio dari premolar satu.
Grade 3 : Akar kaninus impaksi berada diatas regio dari premolar dua.
o Klasifikasi panjang kaninus impaksi
secara vertikal
Grade 1 : Kaninus impaksi berada dibawah CEJ (Cemento Enamel
Junction) dari insisivus.
Grade 2 : Kaninus impaksi berada diatas CEJ, tetapi kurang dari
setengah panjang akar insisivus.
Grade 3 : Kaninus impaksi berada lebih dari setengah, tetapi belum
sampai keseluruhan panjang akar insisivus.

Grade 4 : Kaninus impaksi berada diatas keseluruhan panjang akar


insisivus.
o Klasifikasi posisi kaninus impaksi
terhadap lebar akar insisivus
Grade 1 : Korona kaninus impaksi tidak menimpa/overlap akar
insisivus.
Grade 2 : Korona kaninus impaksi menimpa/overlap kurang dari
setengah lebar akar insisivus.
Grade 3 : Korona kaninus impaksi menimpa/overlap lebih dari
setengah, tetapi belum sampai keseluruhan lebar akar insisivus.
Grade 4 : Korona kaninus impaksi menimpa/overlap keseluruhan atau
lebih lebar akar insisivus.
-

Berdasarkan transmigrasi / perpindahan kaninus


Transmigrasi / perpindahan kaninus adalah suatu keadaan kaninus berpindah
melewati mid-line dari posisi normal yang dapat dilihat dari radiografi.
Keadaan ini dilaporkan lebih banyak terjadi pada mandibula daripada maksila.
Akan tetapi, hal ini merupakan suatu keadaan yang sangat jarang didapat.
Mupparapu mengklasifikasikan 5 tipe berdasarkan transmigrasi /
perpindahan kaninus:
Tipe 1 : Kaninus impaksi mesio-angular melewati mid-line, labial atau lingual
ke gigi anterior dengan korona dari gigi kaninus melewati mid-line
Tipe 2 : Kaninus impaksi hampir mendekati apeks dari gigi insisivus
Tipe 3 : Kaninus erupsi ke mesial atau distal ke gigi kaninus yang berlawanan.
Tipe 4 : Kaninus impaksi hampir mendekati apeks dari gigi premolar atau
molar dari sisi yang berlawanan
Tipe 5 : Kaninus impaksi melewati garis tengah secara vertikal

1. Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan tentang komplikasi gigi

impaksi
Kerusakan atau keluhan yang ditimbulkan dari impaksi dapat berupa:
1) Inflamasi
Inflamasi merupakan suatu perikoronitis yang lanjutannya menjadi abses dentoalveolar akut-kronis, ulkus sub-mukus yang apabila keadaan tubuh lemah dan
tidak mendapat perawatan dapat berlanjut menjadi osteomyelitis. Biasanya gejalagejala ini timbul bila sudah ada hubungan soket gigi atau folikel gigi dengan
rongga mulut.
2) Resorpsi gigi tetangga
Setiap gigi yang sedang erupsi mempunyai daya tumbuh ke arah oklusal gigi
tersebut. Jika pada stadium erupsi, gigi mendapat rintangan dari gigi tetangga
maka gigi mempunyai daya untuk melawan rintangan tersebut. Misalnya gigi
terpendam molar ketiga dapat menekan molar kedua, kaninus dapat menekan
insisivus dua dan premolar. Premolar dua dapat menekan premolar satu.

Disamping mengalami resorpsi, gigi tetangga tersebut dapat berubah arah atau
posisi.
3) Kista
Suatu gigi yang terpendam mempunyai daya untuk perangsang pembentukan kista
atau bentuk patologi terutama pada masa pembentukan gigi. Benih gigi tersebut
mengalami rintangan sehingga pembentukannya terganggu menjadi tidak
sempurna dan dapat menimbulkan primordial kista dan folikular kista.
4) Rasa sakit
Rasa sakit dapat timbul bila gigi terpendam menekan syaraf atau menekan gigi
tetangga dan tekanan tersebut dilanjutkan ke gigi tetangga lain di dalam deretan
gigi, dan ini dapat menimbulkan rasa sakit.
Rasa sakit dapat timbul karena :
a. Periodontitis pada gigi yang mengalami trauma kronis
b. Gigi terpendam langsung menekan nervus alveolaris inferior pada kanalis
mandibularis.
1. Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan tentang indikasi dan

kontraindikasi ekstraksi secara bedah minor


Indikasi :
1) Menimbulkan gejala neuralgia disebabkan tekanan gigi pada syaraf
2) Pembentukan kista
3) Ada gejala inflamasi
4) Mengalami karies
5) Ada gejala akan menimbulkan karies pada gigi tetangga
6) Sebagai tindakan pencegahan dari terjadinya infeksi karena erupsi yang terlambat
dan abnormal (perikoronitis), dan mencegah berkembangnya folikel menjadi
keadaan patologis ( kista odontogenik dan neoplasia)
7) Usia periode emas ( akar 1/3 tau 2/3 ) dan sebelum meneralisasi tulang ( 15-25 th)
8) Bila terdapat infeksi ( fokus selulitis )
9) Bila terdapat kelainan patologis
10) Maloklusi
11) Terdapat keluhan rasa sakit atau pernah merasa sakit
12) Diperkirakan akan menganggu perawatan ortodosia dan pembuatan protesa
13) Akan menganggu perawaan di bidang konservasi atau pembuatan mahkota gigi
pada molar kedua
14) Merupakan penyebab karies pada molar kedua karena retensi makanan
Kontraindikasi :
1) Apabila pasien tidak menghendaki giginya dicabut.
2) Kemungkinan menyebabkan gigi terdekat rusak atau stuktur
penting lainnya. Tindakan odontektomi beresiko tinggi untuk
merusak jaringan dengan membuka flap dan juga merusak tulang
yang menghalangi akses terhadap gigi yang impaksi. Apabila
dikhawatirkan kerusakan yang akan diakibatkan oleh tindakan

odontektomi tidak sebanding dengan manfaat yang didapatkan,


maka
sebaiknya
odontektomi
tidak
dilakukan.
(mempertimbangkan resiko manfaat)
3) Penderita usia lanjut.
Pada pasien yang berusia lanjut, tulang yang menutupi gigi impaksi akan sangat
termineralisasi dan padat sehingga akan menyulitkan dilakukan odontektomi.
Selain itu perlu diperhatikan juga keadaan umum pasien yang mungkin akan
menghambat keberhasilan penyembuhan setelah dilakukannya odontektomi.
4) Kondisi fisik atau mental terganggu.
Pada pasien dengan kesehatan umum yang terganggu misalanya mengidap
penyakit sistemik maka diperlukan konsultasi terlebih dahulu kepada dokter yang
bersangkutan sebelum melakukan tindakan bedah. Sedangkan untuk pasien
dengan keadaan mental yang terganggu dapat mengganggu tingkat kooperatif
pasien selama melakukan tindakan pembedahan.
5) Bila panjang akar belum 1/3 atau 2/3
6) Bila tulang yang menutup gigi yang tertanam terlalu banyak
7) Bila tulang yang menutupinya sangat termineralisasi dan padat
yaitu pada pasien yang berusia lebih dari 26 th atau usia lanjut.
8) Compromised Medical Status
9) Kemungkinan timbulnya kerusakan yang parah pada jaringan yang
berdekatan.
1. Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan tentang tatalaksana ekstraksi

secara bedah minor


Persiapan tindakan odontektomi
a. Dilakukan pemeriksaan rontgen foto berupa foto periapikal, bitewing,
oklusal, panoramic dan foto lateral view of mandibula. Jenis foto
sesuai kebutuhan
b. Mengetahui dari klasifikasi gigi impaksi
c. Desain flap
d. Menentukan arah jalan keluar/ pengambilan dengan trauma minimal
e. Menentukan metode odontektomi yang dipilih dengan memperhatikan
faktor intrinsik (gigi) dan faktor ekstrinsik (jaringan sekitar gigi)
f. Menetukan apakah memungkinkan pembedahan dilakukan dengan
anestesi lokal atau membutuhkan anestesi umum.
Prosedur Odontektomi
Cara Pengambilan

1) Pengambilan secara intoto (dalam keadaan utuh), dengan cara

membuang tulang yang menghalangi dan cara ini membutuhkan


pengambilan tulang yang lebih banyak dan menimbulkan trauma yang
lebih besar, tetapi pengebor tulang lebih mudah dari pada pengebor
gigi.
2) Pengambilan secara inseparasi, gigi yang terpendam dibelah dan

dikeluarkan sebagian-sebagian. Disini kita akan menseparasir gigi, kita


pisahkan korona dari akar, kalau akar lebih dari satu maka dipisahkan
dan akar yang telah dipisah tersebut diambil satu persatu. Tujuannya
memperkecil pengeboran
Teknik Operasi
Beberapa teknik operasi untuk dilakukannya tindakan odontektomi molar tiga rahang
bawah:
1) Mempersiapkan instrumentasi steril untuk tindakan odontektomi
2) Lakukan anestesi

3) Membuat insisi untuk pembuatan flap


Syarat-syarat flap:
o

Harus membuka daerah operasi yang jelas,

o Insisi terletak pada jaringan yang sehat.


o Mempunyai dasar atau basis cukup lebar sehingga pengaliran
daerah ke flap cukup baik.
1) Pengambilan Tulang
Bila gigi terpendam seluruhnya dilapisi tulang, maka tulang dapat dibuang
dengan bur atau pahat. Bur yang dipakai yaitu bur yang bulat dan tajam, ada
yang menyukai nomor 3-5 yaitu yang besar, apabila banyak tulang yang harus
dibuang. Tetapi harus disediakan juga bur kecil untuk membuang tulang
penghalang. Dilakukan irigasi disaat pengeburan dilakukan untuk mengurangi
panas yang timbul waktu mengebur, supaya tidak terjadi nekrose tulang. Perlu
diperhatikan bahwa tulang bagian lingual tidak diambil, karena ada suatu
modifikasi untuk mempercepat pengambilannya dapat dibuat suatu muko
osteoflap di sebelah lingual (tidak dilakukan dengan pengambilan lokal
anestesi) dan dilakukan bila gigi molar tiga terpendam mengarah ke lingual.
Dengan mengembalikan mukosanya maka tulang nya juga dikembalikan.
2) Pengambilan Gigi

o Intoto ( utuh ) : gigi dikeluarkan secara bulat ( utuh ).


o Separasi ( terpisah ) : gigi dibelah dulu baru dikeluarkan.
1) Pembersihan Luka
a. Folikel harus di bersihkan atau di buang, karena dapat menyebabkan
kista residual.

b. Sisa enamel organ harus dibersihkan untuk menghindari terjadinya


kista residual.
c. Tepi tulang yang runcing harus di haluskan dengan bur atau dengan
bone file setelah itu rongga dibersihkan dengna semprotan air garam
fisiologis 0,9% agar pecahan partikel-partikel tulang dapat keluar
semua dan dihisap dengan suktor.
d. Alveolus dapat di isi dengan terragas ( drain ), white head varnish,
vasenol, bubuk sulfa.
Instruksi pasca odontektomi :
-

Gigit tampon 30-60 menit, tampon dapat diganti dengan tampon streil
sampai beberapa kali

Tidak menghisap-hisap luka

Tidak diperkenankan kumur-kumur

Fungsi penguyahan dikurangi

Kompres es : EO (pada pipi) untuk 15 menit setiap setengah jam-4


jam setelah odontektomi, hal ini akan mengurangi perdarahan dan
pembengkakan.

Jaga kebersihan luka

Diperkenankan makan dengan diet lunak

Setelah makan mulut direndam dengan obat kumur antiseptik dan


hanya boleh dipergunakan 24 pascabedah.

1. Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan tentang komplikasi ekstraksi

secara bedah minor


Komplikasi pada saat pembedahan
1) Perdarahan
2) Putusnya nervus alveolaris inferior
3) Fraktur: akar prosesus alveolar lingual, tulang rahang bagian lingual,

mandibula terutama daerah angulus


4) Trauma pada gigi terdekat
5) Rusaknya tumpatan atau mahkota pada gigi molar kedua disamping

molar ketiga yang dilakukan odontektomi

6) Masuknya gigi/sisa akar gigi ke dalam submandibula. Space, kanalis

mandibularis atau spasia regio lingual


7) Alergi obat-obatan yang diberikan
8) Syok anafilaktik
9) Patahnya instrumen

Komplikasi Pasca Operasi


1) Jahitan terbuka.
2) Rasa sakit dan pembengkakan normal apabila terjadi smapai hari ke 5, apabila
setelah 5 hari masih sangat sakit, khawatir terjadinya dry socket.
3) Bila nervus terpotong terjadi parastesi yang lama pada seluruh daerah yang di
inervasi nervus tersebut. Pada molar ketiga yang dikhawatirkan yaitu
terkenanya atau terpotongnya nervus fasialis yang berakibat mulut pasien bisa
menjadi merot (miring sebelah).
4) Terlukanya bibir atau mukosa oleh karena tang ekstraksi, respatorium dan alatalat lain yang dipergunakan sehingga dapat terjadi inflamasi sekitar bibir dan
mukosa mulut.
5) Pada waktu operasi terjadi fraktur prosesus alveolaris.
6) Gigi tetangga dapat menjadi: Gangren, Nekrose, Mobiliti (goyah)
7) Dapat terjadi osteomielitis.
8) Banyak lagi komplikasi-komplikasi lainnya, antara lain gigi yang dekat sinus
maksilaris, oleh karena itu operator harus hati-hati bekerja
9) Trismus
10) Dry socket
11) Perforasi sinus maksilaris

1. Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan tentang etiologi perikoronitis

Etiologi Perikoronitis
Etiologi utama perikoronitis adalah flora normal rongga mulut yang terdapat
dalam sulkus gingiva. Flora normal yang terlibat adalah polibakteri, meliputi bakteri
Gram positif dan bakteri Gram negatif (Sixou et al, 2003). Mikroflora pada
perikoronitis didapatkan mirip dengan mikroflora pada poket periodontal. Bakteribakteri tersebut memicu inflamasi pada daerah perikorona. Perikoronitis juga
diperparah oleh trauma akibat gigi antagonis. Selain itu faktor emosi, merokok, dan
infeksi saluran respirasi juga memparah perikoronitis (Leung, 1993).

Mikroflora Pada Perikoronitis


Sixou et al (2003) menyatakan bahwa mikroorganisme yang ditemukan pada

kasus-kasus perikoronitis adalah bakteri aerob Gram positif coccusseperti Gamella,


Lactococcus, Streptococcus, dan Staphylococcus, aerob Gram positif bacillus
seperti Actinomyces,Bacillus,
Corynenebacterium, Lactobasillus,
dan propionibacterium, aerob
gram
negative
bacillus
seperti Capnocytophaga dan Pseudomonas,anaerob
gram
positif
coccus
seperti Peptostreptococcus, anaerob gram positif bacillus seperti Bacteroides,
Fusobacterium, Leptotrichia, Prevotella, dan Porphyromonas (Sixou et al, 2003).
Bakteri-bakteri tersebut memicu inflamasi pada daerah perikorona terutama
bakteristreptococcus, actinomyces, dan prevotella yang dominan, membuat penderita
mengalami kondisi akut (Leung, 1993). Hal ini berkaitan erat dengan patogenesis
dimana peradangan terjadi akibat adanya celah pada perikorona yang menjadi media
subur bagi koloni bakteri. (Sixou et al, 2003).
1) Streptococcus mutans

Streptococcus mutans merupakan bakteri gram positif, bersifat nonmotil


dan tergolong bakteri anaerob fakultatif.Streptococcus mutans memiliki bentuk
kokus yang berbentuk bulat atau bulat telur dan tersusun dalam bentuk rantai.
Bakteri ini tumbuh secara optimal pada suhu sekitar 180-40 oC. Streptococcus
mutans biasanya ditemukan pada rongga mulut manusia yang mengalami luka.
(Livia C et al, 2012).
Streptococcus mutans dapat tumbuh subur dalam suasana asam dan menempel
pada mukosa ruang perikorona karena kemampuannya membuat polisakarida
ekstra sel yang sangat lengket dari karbohidrat makanan. Polisakarida ini
mempunyai konsistensi seperti gelatin. Akibatnya, bakteri-bakteri terbantu untuk
melekat pada mukosa serta saling melekat satu sama lain. Dan setelah makin
bertambahnya bakteri akan menghambat fungsi saliva dalam menetralkan suasana
asam dalam rongga mulut (Volk dan Wheeler, 1990).
Streptococcus mutans merupakan bakteri yang paling dominan peranannya
dalam patogenesis perikoronitis.
2) Actinomyces
Actinomyces termasuk genus bakteri yang banyak ditemukan pada operkulum
perikoronitis. Actinomyces juga banyak ditemukan dalam gigi karies, pada poket
gingiva dan kripta tonsil sebagai saprofit, actinomyces merupakan bakteri yang
cukup berperan dalam patogenesis penyakit periodontal (Lall, Shehab, Valenstein,
2010).
3) Prevotella

Prevotella merupakan genus bakteri yang banyak ditemukan pada operkulum


penderita perikoronitis. Prevotella adalah organisme anaerobik yang umumnya
ditemukan pada infeksi rongga mulut. Prevotella juga termasuk jenis bakteri
yang berperan dalam penyakit periodontal (Eduaro and Mario, 2005).

1. Mahasiswa

mampu memahami dan menjelaskan

tentang tatalaksana

perikoronitis
Terapi dari perikoronitis bervariasi, tergantung dari keparahan, komplikasi sistemik,
dan kondisi gigi yang terlibat. Terapi umum dilakukan pada penderita perikoronitis adalah
terapi simptomatis, antibiotika, dan bedah. Berkumur dengan air garam hangat dan irigasi
dengan larutan H2O23% di daerah pseudopoket merupakan terapi perikoronitis yang bersifat
lokal. Terapi simtomatis dilakukan dengan pemberian analgetik yang adekuat untuk
mengurangi rasa sakit. Analgetik yang sering diberikan adalah golongan anti inflamasi non
steroidatau golongan opioid ringan apabila pasien mengeluhrasa sakit yang berat
(Soelistiono, 2005).
Terapi antibiotika dilakukan untuk mengeleminasi mikroflora penyebab perikoronitis.
Antibiotika diberikan kepada penderita pada fase akut yang supuratif apabila tindakan bedah
harus ditunda (Martin, Kanatas, Hardy, 2005). Terapii bedah meliputi operkulektomi dan
odontektomi yang dilakukan setelah fase akut reda, tergantung dari derajat impaksi gigi
(Blakey, White, Ofenbacher, 1996). Prognosis dari perikoronitis baik apabila penderita dapat
menjaga kebersihan rongga mulutnya.
Teknik operkulektomi
Operkulektomi atau pericoronal flap adalah pembuangan operkulum secara
bedah.Perawatan perikororonitis tergantung pada derajat keparahan inflamasinya.
Komplikasisistemik yang ditimbulkan dan pertimbangan apakah gigi yang terlibat
nantinya akandicabut atau dipertahankan. Selain itu hal yang perlu diperhatikan
adalah faktor usia dan kapan dimulai adanya keluhan. Perlu adanya observasi
mengenai hal tersebut karena jika usia pasien adalah usia muda dimana gigi terakhir
memang waktunya untuk erupsi dan mulai keluhan baru saja terjadi, maka
operkulektomi sebaiknya tidak dilakukan dulu. Kondisi akut merupakan kontra
indikasi dilakukannya operkulektomi, namun tindakan emergensi dapat dilakukan
hingga kondisi akut dapat ditanggulangi kemudian keadaan dievaluasi untuk dapat
melakukan operkulektomi.
Kunjungan pertama :
1) Menentukan perluasan dan keparahan struktur jaringan yang terlibat serta
komplikasi toksisitas sistemik yang ditimbulkan
2) Menghilangkan debris dan eksudat yang terdapat pada permukaan
operculum dengan aliran air hangat atau aquades steril
3) Usap dengan antiseptic
4) Operkulum/pericoronal flap diangkat dari gigi dengan menggunakan scaler
dan debrisdi bawah operkulum dibersihkan
5) Irigasi dengan air hangat/aquades steril
Pada kondisi akut sebelum dilakukan pembersihan debris dapat diberikan
anastesitopikal. Pada kondisi akut juga tidak boleh dilakukan kuretase maupun
surgikal.
6) Instruksi pada pasien agar:
- Kumur-kumur air hangat tiap 1 jam

- Banyak istirahat
- Makan yang banyak dan bergizi
- Menjaga kebersihan mulut
1) Pemberian antibiotic bila perlu diberikan, juga analgetik
2) Bila operkulum membengkak dan terdapat fluktuasi, lakukan insisi guna
mendapatkan drainase. Bila perlu pasang drain (bila dipakai drain
sebaiknya pasien diminta datang kembali setelah 24 jam, guna melepas
atau mengganti drain).
Kunjungan kedua
Bila kondisi pasien telah membaik dan keadaan akut telah reda:
1) Lakukan opperkulektomi atau eksisi perikoronal flap
2) Jaringan dibagian distal M3 perlu dipotong untuk menghindari terjadinya
kekambuhan perikoronitis
3) Bersihkan daerah operasi dengan air hangat/aquades steril
4) Aplikasi periodontal pack
5) Instruksi pada pasien agar datang kembali pada kunjungan berikutnya
(kalau tidak ada keluhan, 1 minggu kemudian).
Kunjungan ketiga
Pack dibuka , bila keadaan baik maka, menentukan apakah gigi yang terlibat (M3)
akan dicabut atau dipertahankan, keputusan ini didukung oleh pertimbangan apakah
gigi tersebut nantinya akan berkembang atau tumbuh pada posisi yang baik atau tidak

Daftar Pustaka
Astuti ERT. Prevalensi karies pada permukaan distal gigi geraham dua rahang bawah
yang diakibatkan oleh impaksi gigi geraham tiga rahang bawah.Jurnal MIKGI
2002;IV(7):154-6

Chanda MH, Zahbia ZN. Pengaruh bentuk gigi geligi terhadap terjadinya impaksi gigi
molar ketiga rahang bawah. Dentofasial Jurnal Kedokteran Gigi 2007; 6(2):65-6
Dwipayanti A, Adriatmoko W, Rochim A. Komplikasi post odontektomi gigi molar
ketiga rahang bawah impaksi. Journal of the Indonesian Dental Assocation
2009;58(2):20
Pederson GW. Buku ajar praktis bedah mulut 2 nd ed. Alih Bahasa: Purwanto,
Basoeseno. Jakarta: EGC; 1996,hal.61-3
Pertiwi ASP, Sasmita IS. Penatalaksanaan kekurangan ruangan pada gigi impaksi 1.1
secara pembedahan dan ortodontik. Indonesian Jurnal of Oral and Maxillofacial
Surgeon 2004:229-30
Tridjaja AN. Pengamatan klinik gigi molar tiga bawah impaksi dan variasi komplikasi
yang diakibatkannya di RS Cipto Mangunkusumo bulan Juli 1993 s/d Desember
1993. 2011. Available from : URL: http://eprints.lib.ui.ac.id/12366/ Accessed Juni 6,
2011

Anda mungkin juga menyukai