Anda di halaman 1dari 26

1

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Suatu logam mempunyai sifat-sifat tertentu yang dibedakan atas sifat fisik, mekanik,
thermal, dan korosif. Salah satu yang penting dari sifat tersebut adalah sifat mekanik. Sifat
mekanik terdiri dari keuletan, kekerasan, kekuatan, dan ketangguhan. Sifat mekanik merupakan
salah satu acuan untuk melakukan proses selanjutnya terhadap suatu material, contohnya untuk
dibentuk dan dilakukan proses permesinan. Untuk mengetahui sifat mekanik pada suatu logam
harus dilakukan pengujian terhadap logam tersebut. Salah satu pengujian yang dilakukan
adalah pengujian tarik.
Dalam pembuatan suatu konstruksi diperlukan material dengan spesifikasi dan sifat-sifat
yang khusus pada setiap bagiannya. Sebagai contoh dalam pembuatan konstruksi sebuah
jembatan. Diperlukan material yang kuat untuk menerima beban diatasnya. Material juga harus
elastic agar pada saat terjadi pembebanan standar atau berlebih tidak patah. Salah satu contoh
material yang sekarang banyak digunakan pada konstruksi bangunan atau umum adalah logam.
Meskipun dalam proses pembuatannya telah diprediksikan sifat mekanik dari logam
tersebut, kita perlu benar-benar mengetahui nilai mutlak dan akurat dari sifat mekanik logam
tersebut. Oleh karena itu, sekarang ini banyak dilakukan pengujian-pengujian terhadap sampel
dari material.
Pengujian ini dimaksudkan agar kita dapat mengetahui besar sifat mekanik dari material,
sehingga dapat dlihat kelebihan dan kekurangannya. Material yang mempunyai sifat mekanik
lebih baik dapat memperbaiki sifat mekanik dari material dengan sifat yang kurang baik dengan
cara alloying. Hal ini dilakukan sesuai kebutuhan konstruksi dan pesanan.
Uji tarik adalah suatu metode yang digunakan untuk menguji kekuatan suatu bahan
/material dengan cara memberikan beban gaya yang sesumbu. Hasil yang didapatkan dari
pengujian tarik sangat penting untuk rekayasa teknik dan desain produk karena mengahsilkan
data kekuatan material. Pengujian uji tarik digunakan untuk mengukur ketahanan suatu
material terhadap gaya statis yang diberikan secara lambat. Salah satu cara untuk mengetahui
besaran sifat mekanik dari logam adalah dengan uji tarik.
Buku panduan praktikum Laboratorium Mesin IV FT. UNIVERSITAS PANCASILA ,Jakarta ( 2016)1-2

Sifat mekanik yang dapat diketahui adalah kekuatan dan elastisitas dari logam tersebut.
Uji tarik banyak dilakukan untuk melengkapi informasi rancangan dasar kekuatan suatu bahan
1

dan sebagai data pendukung bagi spesifikasi bahan. Nilai kekuatan dan elastisitas dari material
uji dapat dilihat dari kurva uji tarik.
Pengujian tarik ini dilakukan untuk mengetahui sifat-sifat mekanis suatu material,
khususnya logam diantara sifat-sifat mekanis yang dapat diketahui dari hasil pengujian tarik
adalah sebagai berikut:
1. Kekuatan tarik
2. Kuat luluh dari material
3. Keuletan dari material
4. Modulus elastic dari material
5. Kelentingan dari suatu material
6. Ketangguhan.
Pengujian tarik banyak dilakukan untuk melengkapi informasi rancangan dasar kekuatan
suatu bahan dan sebagai data pendukung bagi spesifikasi bahan. Karena dengan pengujian tarik
dapat diukur ketahanan suatu material terhadap gaya statis yang diberikan secara perlahan.
Pengujian tarik ini merupakan salah satu pengujian yang penting untuk dilakukan, karena
dengan pengujian ini dapat memberikan berbagai informasi mengenai sifat-sifat logam.
Dalam bidang 2elative diperlukan pengujian tarik ini untuk mempertimbangkan 2elati
metalurgi dan 2elati mekanis yang tercakup dalam proses perlakuan terhadap logam jadi, untuk
memenuhi proses selanjutnya.
Oleh karena pentingnya pengujian tarik ini, kita sebagai mahasiswa metalurgi hendaknya
mengetahui mengenai pengujian ini. Dengan adanya kurva tegangan regangan kita dapat
mengetahui kekuatan tarik, kekuatan luluh, keuletan, modulus elastisitas, ketangguhan, dan
lain-lain. Pada pegujian tarik ini kita juga harus mengetahui dampak pengujian terhadap sifat
mekanis dan fisik suatu logam. Dengan mengetahui parameter-parameter tersebut maka kita
dapat data dasar mengenai kekuatan suatu bahan atau logam.
1.2 Maksud dan Tujuan
1. Mengetahui kontruksi mesin dan metode yang digunakan untuk uji tarik
2. Mengetahui kekuatan bahan logam melalui pemahaman dan pendalaman kurva hasil
uji tarik
3. Mengetahui fungsi dilakukannya pengujian tarik logam
4. Mengetahui sifat mekanik logam
5. Menegetahui standarisasi bahan logam pengujian
1.3 Sistematika Penulisan

Laporan akhir ini terdiri dari lima bab yang disusun dengan sistematika penulisan
sebagai berikut:
BAB I

: PENDAHULUAN
Berisi tentang latar belakang masalah, maksud dan tujuan dari penelitian, dan
sistematika penulisan laporan.

BAB II

: LANDASAN TEORI
Membahas telaah masalah, dasar teori yang berhubungan dengan pengujian
tarik bahan metode-metode yang dilakukan dalam pengujian tarik bahan,
kekuatan tarik, ketangguhan bahan, kelentingan bahan dan elastis yang
mempengaruhi sifat dari logam.

BAB III

: JURNAL PRAKTIKUM
Membahas hasil penelitian yang telah dilakukan dengan menggunakan metode
mesin uji tarik hidraulik, dimulai dari perlengkapan pendukung dan bahan yang
harus disiapkan dan tahap yang dilakukan sampai akhir penelitian.

BAB IV

: SOAL DAN JAWABAN


Memuat hasil Tanya jawab yang telah dilakuakn dengan pengawas dan
menjawab pertanyaan dari hasil penelitian yang sudah dilakukan.

BAB V

: KESIMPULAN
Inti dari permasalahan kekerasan bahan dan elastisitas yang mempengaruhinya
yang dapat di ambil dari bahasan yang telah dibuat dari laporan ini.

BAB II
LANDASAN TEORI
2.1 Dasar Pengujian Logam
Uji tarik adalah suatu metode yang digunakan untuk menguji kekuatan suatu
bahan/material dengan cara memberikan beban gaya yang sesumbu [Askeland, 1985]. Hasil
yang didapatkan dari pengujian tarik sangat penting untuk rekayasa teknik dan desain
produk karena mengahsilkan data kekuatan material. Pengujian uji tarik digunakan untuk
mengukur ketahanan suatu material terhadap gaya statis yang diberikan secara lambat.

Gambar 2.1 Mesin uji tarik dilengkapi spesimen ukuran standar.

Seperti pada gambar 1 benda yang di uji tarik diberi pembebanan pada kedua arah
sumbunya. Pemberian beban pada kedua arah sumbunya diberi beban yang sama besarnya.
Pengujian tarik adalah dasar dari pengujian mekanik yang dipergunakan pada material.
Dimana spesimen uji yang telah distandarisasi, dilakukan pembebanan uniaxial sehingga
spesimen uji mengalami peregangan dan bertambah panjang hingga akhirnya patah.
Pengujian tarik relatif sederhana, murah dan sangat terstandarisasi dibanding
pengujian lain. Hal-hal yang perlu diperhatikan agar penguijian menghasilkan nilai yang
valid adalah; bentuk dan dimensi spesimen uji, pemilihan grips dan lain-lain.
a. Bentuk dan Dimensi Spesimen uji
Spesimen uji harus memenuhi standar dan spesifikasi dari ASTM E8 atau D638.
Bentuk dari spesimen penting karena kita harus menghindari terjadinya patah atau
retak pada daerah grip atau yang lainnya. Jadi standarisasi dari bentuk spesimen uji
dimaksudkan agar retak dan patahan terjadi di daerah gage length.
4

b. Grip and Face Selection


Face dan grip adalah faktor penting. Dengan pemilihan setting yang tidak tepat,
spesimen uji akan terjadi slip atau bahkan pecah dalam daerah grip (jaw break). Ini
akan menghasilkan hasil yang tidak valid. Face harus selalu tertutupi di seluruh
permukaan yang kontak dengan grip. Agar specimen uji tidak bergesekan langsung
dengan face.
Beban yang diberikan pada bahan yang di uji ditransmisikan pada pegangan
bahan yang di uji. Dimensi dan ukuran pada benda uji disesuaikan dengan standar
baku pengujian.

Gambar 2.2 Dimensi dan ukuran spesimen untuk uji tarik

Kurva tegangan-regangan teknik dibuat dari hasil pengujian yang didapatkan.

Gambar 2.3 Contoh kurva uji tarik

Tegangan yang digunakan pada kurva adalah tegangan


membujur rata-rata dari pengujian tarik. Tegangan teknik tersebut diperoleh dengan

cara membagi beban yang diberikan dibagi dengan luas awal penampang benda uji.
Dituliskan seperti dalam persamaan 2.1 berikut:

(2.1)

Keterangan ;
s

: Besarnya tegangan (kg/mm2)

: Beban yang diberikan (kg)

A0

: Luas penampang awal benda uji (mm2)

Regangan yang digunakan untuk kurva tegangan-regangan teknik adalah


regangan linier rata-rata, yang diperoleh dengan cara membagi perpanjangan yang
dihasilkan setelah pengujian dilakukan dengan panjang awal. Dituliskan seperti
dalam persamaan 2.2 berikut.
(2.2)
Keterangan ;
e

: Besar regangan

: Panjang benda uji setelah pengujian (mm)

Lo

: Panjang awal benda uji (mm)

Bentuk dan besaran pada kurva tegangan-regangan suatu logam tergantung pada
komposisi, perlakuan panas, deformasi plastik, laju regangan, temperatur dan
keadaan tegangan yang menentukan selama pengujian. Parameter-parameter yang
digunakan untuk menggambarkan kurva tegangan-regangan logam adalah kekuatan
tarik, kekuatan luluh atau titik luluh, persen perpanjangan dan pengurangan luas. Dan
parameter pertama adalah parameter kekuatan, sedangkan dua yang terakhir
menyatakan keuletan bahan.
Bentuk kurva tegangan-regangan pada daerah elastis tegangan berbanding lurus
terhadap regangan. Deformasi tidak berubah pada pembebanan, daerah remangan
yang tidak menimbulkan deformasi apabila beban dihilangkan disebut daerah elastis.
Apabila beban melampaui nilai yang berkaitan dengan kekuatan luluh, benda
mengalami deformasi plastis bruto. Deformasi pada daerah ini bersifat permanen,

meskipun bebannya dihilangkan. Tegangan yang dibutuhkan untuk menghasilkan


deformasi plastis akan bertambah besar dengan bertambahnya regangan elastis.
Pada tegangan dan regangan yang dihasilkan, dapat diketahui nilai modulus
elastisitas. Persamaannya dituliskan dalam persamaan
(2.3)
Keterangan ;
E

: Besar modulus elastisitas (kg/mm2),

: regangan

: Tegangan (kg/mm2)

Pada mulanya pengerasan regang lebih besar dari yang dibutuhkan untuk
mengimbangi penurunan luas penampang lintang benda uji dan tegangan teknik
(sebanding dengan beban F) yang bertambah terus, dengan bertambahnya regangan.
Akhirnya dicapai suatu titik di mana pengurangan luas penampang lintang lebih
besar dibandingkan pertambahan deformasi beban yang diakibatkan oleh pengerasan
regang. Keadaan ini untuk pertama kalinya dicapai pada suatu titik dalam benda uji
yang sedikit lebih lemah dibandingkan dengan keadaan tanpa beban.
Seluruh deformasi plastis berikutnya terpusat pada daerah tersebut dan benda uji
mulai mengalami penyempitan secara lokal. Karena penurunan luas penampang
lintang lebih cepat daripada pertambahan deformasi akibat pengerasan regang, beban
sebenarnya yang diperlukan untuk mengubah bentuk benda uji akan berkurang dan
demikian juga tegangan teknik pada persamaan (1) akan berkurang hingga terjadi
patah.
Dari kurva uji tarik yang diperoleh dari hasil pengujian akan didapatkan beberapa
sifat mekanik yang dimiliki oleh benda uji, sifat-sifat tersebut antara lain [Dieter,
1993]:
1. Kekuatan tarik
2. Kuat luluh dari material
3. Keuletan dari material
4. Modulus elastic dari material
5. Kelentingan dari suatu material
6. Ketangguhan.

2.2 Kekuatan Tarik


Kekuatan yang biasanya ditentukan dari suatu hasil pengujian tarik adalah kuat luluh
(Yield Strength) dan kuat tarik (Ultimate Tensile Strength). Kekuatan tarik atau kekuatan
tarik maksimum (Ultimate Tensile Strength / UTS), adalah beban maksimum dibagi luas
penampang lintang awal benda uji.
(2.4)
di mana:
Su

= Kuat tarik

Pmaks = Beban maksimum


A0

= Luas penampang awal

Untuk logam-logam yang liat kekuatan tariknya harus dikaitkan dengan beban
maksimum dimana logam dapat menahan sesumbu untuk keadaan yang sangat terbatas.
Tegangan tarik adalah nilai yang paling sering dituliskan sebagai hasil suatu uji tarik,
tetapi pada kenyataannya nilai tersebut kurang bersifat mendasar dalam kaitannya dengan
kekuatan bahan. Untuk logam-logam yang liat kekuatan tariknya harus dikaitkan dengan
beban maksimum, di mana logam dapat menahan beban sesumbu untuk keadaan yang
sangat terbatas. Akan ditunjukkan bahwa nilai tersebut kaitannya dengan kekuatan logam
kecil sekali kegunaannya untuk tegangan yang lebih kompleks, yakni yang biasanya
ditemui. Untuk berapa lama, telah menjadi kebiasaan mendasarkan kekuatan struktur pada
kekuatan tarik, dikurangi dengan 8elati keamanan yang sesuai.
Kecenderungan yang banyak ditemui adalah menggunakan pendekatan yang lebih
rasional yakni mendasarkan rancangan statis logam yang liat pada kekuatan luluhnya. Akan
tetapi, karena jauh lebih praktis menggunakan kekuatan tarik untuk menentukan kekuatan
bahan, maka metode ini lebih banyak dikenal, dan merupakan metode identifikasi bahan
yang sangat berguna, mirip dengan kegunaan komposisi kimia untuk mengenali logam atau
bahan. Selanjutnya, karena kekuatan tarik mudah ditentukan dan merupakan sifat yang
mudah dihasilkan kembali (reproducible). Kekuatan tersebut berguna untuk keperluan
spesifikasi dan kontrol kualitas bahan. Korelasi empiris yang diperluas antara kekuatan
tarik dan sifat-sifat bahan misalnya kekerasan dan kekuatan lelah, sering dipergunakan.
Untuk bahan-bahan yang getas, kekuatan tarik merupakan kriteria yang tepat untuk
keperluan perancangan.
Tegangan di mana deformasi plastik atau batas luluh mulai teramati tergantung pada
kepekaan pengukuran regangan. Sebagian besar bahan mengalami perubahan sifat dari
elastis menjadi plastis yang berlangsung sedikit demi sedikit, dan titik di mana deformasi

plastis mulai terjadi dan sukar ditentukan secara teliti. Telah digunakan berbagai kriteria
permulaan batas luluh yang tergantung pada ketelitian pengukuran regangan dan data-data
yang akan digunakan.
1. Batas elastis sejati berdasarkan pada pengukuran regangan mikro pada skala regangan
2 X 10-6 inci/inci. Batas elastis nilainya sangat rendah dan dikaitkan dengan gerakan
beberapa ratus dislokasi.
2. Batas proporsional adalah tegangan tertinggi untuk daerah hubungan proporsional
antara tegangan-regangan. Harga ini diperoleh dengan cara mengamati penyimpangan
dari bagian garis lurus kurva tegangan-regangan.
3. Batas elastik adalah tegangan terbesar yang masih dapat ditahan oleh bahan tanpa
terjadi regangan sisa permanen yang terukur pada saat beban telah ditiadakan. Dengan
bertambahnya ketelitian pengukuran regangan, nilai batas elastiknya menurun hingga
suatu batas yang sama dengan batas 9elativ sejati yang diperoleh dengan cara
pengukuran regangan mikro. Dengan ketelitian regangan yang sering digunakan pada
kuliah rekayasa (10-4 inci/inci), batas elastik lebih besar daripada batas proporsional.
Penentuan batas 9elativ memerlukan prosedur pengujian yang diberi beban-tak diberi
beban (loading-unloading) yang membosankan.

2.3 Kekuatan luluh (yield strength)


Salah satu kekuatan yang biasanya diketahui dari suatu hasil pengujian tarik adalah
kuat luluh (Yield Strength). Kekuatan luluh ( yield strength) merupakan titik yang
menunjukan perubahan dari deformasi elastis ke deformasi plastis [Dieter, 1993]. Besar
tegangan luluh dituliskan seperti pada persamaan 2.4, sebagai berikut.

(2.5)
Keterangan ;
Ys : Besarnya tegangan luluh (kg/mm2)
Py : Besarnya beban di titik yield (kg)
Ao : Luas penampang awal benda uji (mm2)
Tegangan di mana deformasi plastis atau batas luluh mulai teramati tergantung pada
kepekaan pengukuran regangan. Sebagian besar bahan mengalami perubahan sifat dari

10

elastic menjadi plastis yang berlangsung sedikit demi sedikit, dan titik di mana deformasi
plastis mulai terjadi dan sukar ditentukan secara teliti.
Kekuatan luluh adalah tegangan yang dibutuhkan untuk menghasilkan sejumlah kecil
deformasi plastis yang ditetapkan. Definisi yang sering digunakan untuk sifat ini adalah
kekuatan luluh ditentukan oleh tegangan yang berkaitan dengan perpotongan antara kurva
tegangan-regangan dengan garis yang sejajar dengan elastis ofset kurva oleh regangan
tertentu. Di Amerika Serikat offset biasanya ditentukan sebagai regangan 0,2 atau 0,1
persen (e = 0,002 atau 0,001)

(2.6)
Cara yang baik untuk mengamati kekuatan luluh offset adalah setelah benda uji
diberi pembebanan hingga 0,2% kekuatan luluh offset dan kemudian pada saat beban
ditiadakan maka benda ujinya akan bertambah panjang 0,1 sampai dengan 0,2%, lebih
panjang daripada saat dalam keadaan diam. Tegangan offset di Britania Raya sering
dinyatakan sebagai tegangan uji (proff stress), di mana harga ofsetnya 0,1% atau 0,5%.
Kekuatan luluh yang diperoleh dengan metode ofset biasanya dipergunakan untuk
perancangan dan keperluan spesifikasi, karena metode tersebut terhindar dari kesukaran
dalam pengukuran batas elastik atau batas proporsional.
2.4 Pengukuran Keliatan (Keuletan)
Keuleten adalah kemampuan suatu bahan sewaktu menahan beban pada saat
diberikan penetrasi dan akan kembali ke baentuk semula.Secara umum pengukuran
keuletan dilakukan untuk memenuhi kepentingan tiga buah hal [Dieter, 1993]:
1. Untuk menunjukan elongasi di mana suatu logam dapat berdeformasi tanpa terjadi
patah dalam suatu proses suatu pembentukan logam, misalnya pengerolan dan
ekstrusi.
2. Untuk 10elati petunjuk secara umum kepada perancang mengenai kemampuan logam
untuk mengalir secara pelastis sebelum patah.
3. Sebagai petunjuk adanya perubahan permukaan kemurnian atau kondisi pengolahan

11

2.5 Modulus Elastisitas


Modulus Elastisitas adalah ukuran kekuatan suatu bahan akan keelastisitasannya.
Makin besar modulus, makin kecil regangan elastik yang dihasilkan akibat pemberian
tegangan.Modulus elastisitas ditentukan oleh gaya ikat antar atom, karena gaya-gaya ini
tidak dapat dirubah tanpa terjadi perubahan mendasar pada sifat bahannya. Maka modulus
elastisitas salah satu sifat-sifat mekanik yang tidak dapat diubah. Sifat ini hanya sedikit
berubah oleh adanya penambahan paduan, perlakuan panas, atau pengerjaan dingin.
Secara matematis persamaan modulus elastic dapat ditulis sebagai berikut.
(2.7)
Dimana,
= tegangan
= regangan
Tabel 2.1 Harga modulus elastisitas pada berbagai suhu [Askeland, 1985]

2.6 Kelentingan (resilience)


Kelentingan adalah kemampuan suatu bahan untuk menyerap energi pada waktu
berdeformasi secara elastis dan kembali kebentuk awal apabila bebannya dihilangkan
[Dieter, 1993]. Kelentingan biasanya dinyatakan sebagai modulus kelentingan, yakni energi
regangan tiap satuan volume yang dibutuhkan untuk menekan bahan dari tegangan nol
hingga tegangan luluh o. Energi regangan tiap satuan volume untuk beban tarik satu sumbu
adalah :
Uo = xx
Dari definisi diatas, modulus kelentingan adalah :

(2.8)

12

(2.9)
Persamaan ini menunjukan bahwa bahan ideal untuk menahan beban energi pada
pemakaian di mana bahan tidak mengalami deformasi permanen, misal pegas mekanik,
adalah data bahan yang memiliki tegangan luluh tinggi dan modulus elastisitas rendah.
2.7 Ketangguhan (Toughness)
Ketangguhan (Toughness) adalah kemampuan menyerap energi pada daerah plastis.
Pada umumnya ketangguhan menggunakan konsep yang sukar dibuktikan atau
didefinisikan. Salah satu menyatakan ketangguhan adalah meninjau luas keseluruhan
daerah di bawah kurva tegangan-regangan. Luas ini menunjukan jumlah energi tiap satuan
volume yang dapat dikenakan kepada bahan tanpa mengakibatkan pecah.
Ketangguhan (S0) adalh perbandingan antara kekuatan dan kueletan. Persamaan
sebagai berikut.
UT su e f

(2.10)

atau
(2.11)
Untuk material yang getas
(2.12)
Keterangan;
UT : Jumlah unit volume
Tegangan patah sejati adalah beban pada waktu patah, dibagi luas penampang
lintang. Tegangan ini harus dikoreksi untuk keadaan tegangan tiga sumbu yang terjadi pada
benda uji tarik saat terjadi patah. Karena data yang diperlukan untuk koreksi seringkali
tidak diperoleh, maka tegangan patah sejati sering tidak tepat nilai.
2.8 Faktor yang mempengaruhi sifat mekanik
1. Kadar karbon
Semakin tinggi kadar karbon maka kekerasan akan semakin tinggi, namun akan
menjadi rapuh. Kandungan karbon ini juga mempengaruhi keuletan, ketangguhan,
maupun sifat mampu mesin.

13

2. Unsur Kimia
Penambahan 13elati kimia pada baja dapat mempengaruhi sifat mekaniknya.
Pembebanan karbon pada logam membuat logam semakin keras akan tetapi rapuh.
Unsure kimia yang dapat bersenyawa antara lain:
1) Nikel
- Meningkatkan kekuatan dan kekerasan
- Meningkatkan ketahanan terhadap korosi
- Meningkatkan keuletan dan tahan gesek
2) Chromium
- Menambah kekerasan baja
- Membentuk karbida
- Memambah keuletan sehingga bagus untuk pegas
3. Ukuran Butir
Ukuran butir pada baja sangat berpengaruh. Ukuran butir yang besar dan 13elative
membuat baja mempunyai sifat yang ulet. Sedangkan ukuran butir yang kecil dan tidak
13elative maka baja tersebut akan bersifat kaku 13elative13.
4. Fasa dan Struktur
Fasa dapat mempengaruhi sifat mekanik logam, karena pada tiap-tiap fasa pada
logam memiliki struktur mikro sendiri dengan sifat mekanik, fisik dan kimia yang
berbeda beda, misalnya fasa martensite memiliki sifat-sifat keras, rapuh, magnetic
dengan nilai kekerasan 600 750 BHN.Jadi dapat dikatakan fasa martensite memiliki
kekerasan yang lebih dari pada ferrite. Logam yang memiliki struktur yang teratur
mempunyai sifat mekanik yang lebih baik dibandingkan dengan logam yang strukturnya
tidak teratur sebab tegangan dalam yang timbul besar. Tegangan didalam berbanding
terbalik dengan mekanik.
5. Cacat
Cacat terjadi kemungkinan besar selama proses pertumbuhan kristal atau pada
proses heat treatment (perlakuan panas). Cacat ini dibedakan menjadi cacat titik, cacat
garis, cacat bidang, dan cacat ruang. Cacat yang terjadi pada logam menyebabkan
kerusakan pada struktur logam misalnya, terjadinya kekosongan (vacancy), sisipan dan
slip. Kerusakan ini menyebabkan menurunnya sifat mekanik logam.
6.

Endapan
Reaksi pengendapan merupakan kebalikan dari reaksi pelarutan yang terjadi akibat
proses pendinginan. Pengendapan terjadi bila logam yang didinginkan sampai daerah
suhu dan fasa setelah larut yang dipengaruhi oleh laju waktu pendinginan. Pada laju

14

pendinginan cepat terjadi endapan serta fasa dan pada laju pendingina lambat dapat
terjadi endapan dua fasa sehingga pengendapan yang terjadi berpengaruh pada sifat
logam.
2.9 Mesin Uji Tarik
Dilihat dari cara pemberian beban atau gaya tarik pada batang uji maka mesin uji
dapat dibedakan menjadi 2 ( dua ) yaitu :
1. Mesin uji tarik mekanik
2. Mesin uji tarik hidrolik
Mesin uji tarik mekanik, pemberian gaya tarik diperoleh melalui sistem mekanik
roda roda gigi yang digerakan dengan tangan ataupun dengan motor listrik. Kapasitas
mesin uji tarik mekanik ini biasanya realtif rendah dibandingkan dengan mesin hidrolik.

Gambar 2.4 Mesin uji tarik mekanik

Mesin uji tarik hidrolik, gaya tarik dihasilkan oleh tekanan minyak didalam
silindernya. Kapasitas mesin hidrolik 14elative besar dan biasannya mesin ini universal
sehingga dapat digunakan untuk melaksanakan beberapa macam pengujian diantarannya :
-

Pengujian tarik
Pengujian tekan
Pengujian geser
Pengujian lengkung

15

Gambar 2.5 Mesin Uji tarik hidrolik

16

BAB III
JURNAL PRAKTIKUM

3.1 Maksud dan Tujuan


1. Mengetahui cara kerja mesin uji tarik
2. Memdapatkan kurva uji tarik dan mampu membacanya
3. Menentukan beberapa sifat mekanik benda uji
4. Mengamati fenomena fisik yang terjadi selama percobaan
5. Mampu menghitung hasil dari uji tarik
3.2 Alat dan Bahan
1. Batang bahan pengujian (besi)
2. Jangka sorong
3. Mesin uji tarik hidraulik
3.3 Langkah Percobaan
1.

Bentuk barang uji menurut standar pengujian

2.

Ukur panjang awal dan diameter awal benda uji

3.

Ukur ketebalan benda uji

4.

Perkiraan terhadap bahan tertinggi yang dapat diberikan sebagai tahanan atas
reaksi dari bahan terhadap beban luas

5.

Siapkan mesin uji tarik hidraulik yang akan digunakan

6.

Tulis skala beban pada uji tarik

7.

Tulis kecepatan grafik dan tulis diameter benda uji setiap pertambahan beban

8.

Setelah terjadi pengecilan penampang, tulis diameter terkecil benda uji pada
setiap pengurangan beban

3.4 Hasil Praktikum

16

17

Keterangan :
Panjang awal
Panjang pada saat benda patah
Perubahan panjang
Beban tarikan pada benda saat benda sudah mengalami deformasi
plastis
Beban tarikan maksimal sebelum patah
Beban tarikan maksimal setelah patah

18

3.5 Gambar Benda Kerja

3.6 Kesimpulan
Pada praktikum yang telah dilaksanakan didapat bahwa material yang digunakan
mengalami batas deformasi pada 3650 kgf dan pada titik tersebut, material mengalami patah
hal ini menunjukan bahwa dari praktek yang dilakukan, diketahui batas beban maksimal
yang dapat diterima oleh benda dan dapat mengetahui cara kerja mesin uji tarik hidraulik.

BAB IV
SOAL DAN JAWABAN
4.1 Soal
1. Pengertian kekerasan, uji kekerasan, uji tarik ?
2. Apa tujuan uji kekerasan dan uji tarik ?
3. Apa latar belakang uji kekerasan dan uji tarik ?
4. Ada berapa macam uji kekerasan?
5. Bagaimana cara sebelum, sesudah pengujian uji kekerasan, cara uji kekerasan ?
6. Rumus2 teoritis uji tarik ?
7. Apa perbedaan regangan dan tegangan ?
8. Bagaimana cara uji tarik di lakukan ?

4.2 Jawaban
1.

a. Kekerasan adalah ketahanan sebuah benda terhadap penetrasi / daya tembus dari
bahan yang lain yang lebih keras dari penetrator, alat ujinya sendiri.
b. Uji kekerasan adalah penekanan sebuah indentor dengan suatu gaya tekan ke
permukaan rata dan bersih dari suatu logam yang akan di uji kekerasannya.
c. Uji tarik adalah benda kerja dicekam pada penjepit dimana uji tarik tersbut sifatnya
merusak agar memperoleh data elastisitas dari suatu bahan, ketahanan terhadap
deformasi elastic, dan deformasi plastis.

2. a. Tujuan uji kekerasan


Mengetahui kekersan logam sebagai ukuran ketahanan logam terhadap deformasi
plastis. Untuk mengetahui karakteristik suatu material baru dan melihat mutu untuk
memastikan suatu material memiliki spesifikasi kualitas tertentu.
b. Tujuan uji tarik
- Mengetahui cara prosedure pengujian tarik dengan benar
- Melakukan analisis pengujian tarik dan menganalisa data pengujian
- Menghitung tegangan dan regangan secara teknis
- Menghitung tegangan dan regangan sebenarnya
- Menghitung faktor pengerasan regang
- Menghitung kekuatan luluh bahan
- Menentukan modulus elastisitas bahan
20

- Menganalisi data uji tarik

3.

Latar belakang uji kekerasan

Menjelaskan kebutuhan material tersebut dalam suatu analisis yang terjadi di lapangan.
Pengujian kekerasan ini banyak digunakan untuk mengetahui kekerasan bahan pada umumnya,
ketahanan terhadap deformasi dan untuk logam dengan sifat elastisitas. Untuk mengetahui
kekerasan, Kekerasan menurut ilmu metalurgi adalah sebagai kemampu kerasan suatu material
untuk tahan terhadap deformasi plastis. Dalam suatu instansi tidak terlepas dari suatu kekerasan
yang memiliki arti, logam tersebut tahan terhadap deformasi permanen (bengkok), rusak atau
berubah bentuk ketika mendapatkan suatu beban. Hubungan kekerasan sebanding dengan
kekuatan logam dimana kekerasan suatu logam akan meningkat maka kekuatan logam
cenderung meningkat. Adapaun, sangat banyak ditentukan ketepatan memilih bahan sesuai
besarnya pembebanan yang diberikan. Akan diperoleh tingkat efisiensi yang tinggi dan dijamin
kuat untuk menerima beban. Mengetahui sifat kompenen mesin atau bahan material yang
mengalami gesekan.
latar belakang uji tarik
Dalam kehidupan sehari-hari pemakaian logam biasanya berdasarkan sifat yang dimiliki logam
tersebut contoh pada pembuatan kontruksi untuk jembatan dibutuhkan logam yang kuat dan
tangguh berbeda dengan logam untuk pagar rumah yang tidak terlalu memperhatikan sifat
mekaniknya. Contoh-contoh sifat mekanik adalah kekuatan tarik, kekerasan, Keuletan dan
ketangguhan. Pengujian sifat mekanik ini dapat dilakukan dengan pengujian mekanik.
Salah satu pengujian yang digunakan untuk mengetahui sifat mekanis logam adalah uji
tarik (tensile test). Uji tarik adalah suatu metode yang digunakan untuk menguji kekuatan atau
material dengan memberikan beban gaya yang berlawanan arah. Hasil yang didapatkan dari
pengujian tarik sangat penting untuk rekayasa teknik dan desain produk karena menghasilkan
data kekuatan material.
Pengujian uji tarik digunakan untuk mengukur ketahanan suatu material terhadap gaya
statis yang diberikan secara lambat. Sifat mekanis logam yang dapat diketahui setelah proses
pengujian ini seperti kekuatan tarik, keuletan dan ketangguhan. Pengujian tarik sangat
dibutuhkan untuk menentukan desain suatu produk karena menghasilkan data kekuatan material.
Pengujian tarik banyak dilakukan untuk melengkapi informasi rancangan dasar kekuatan suatu
bahan dan sebagai data pendukung bagi spesifikasi bahan. Karena dengan pengujian tarik dapat
diukur ketahanan suatu material terhadap gaya statis yang diberikan secara perlahan.

Pengujian tarik ini merupakan salah satu pengujian yang sangat penting untuk dilakukan,
karena dengan pengujian ini dapat memberikan berbagai informasi mengenai sifat-sifat logam.
Dalam bidang industri juga diperlukan pengujian tarik ini untuk mempertimbangkan faktorfaktor metalurgi dan faktor mekanis yang tercakup dalam proses perlakuan terhadap logam jadi,
untuk memenuhi proses selanjutnya oleh karena itu pentingnya pengujian tarik, kita sebagai
mahasiswa hendaknya mengetahui mengenai pengujian ini. Dengan adanya kurva tegangan
regangan kita dapat mengetahui kekuatan tarik, kekuatan luluh, keuletan, modulus elastisitas,
ketangguhan, dan lain-lain. Pada pengujian tarik ini kita juga harus mengetahui dampak
pengujian terhadap sifat mekanik dan fisik suatu logam. Dengan mengetahui parameterparameter tersebut. Dan mengetahui data dasar mengenai kekuatan suatu bahan atau logam.

4. ada 4 macam pengujian kekerasan


Pengujian kekerasan dengan metode Brinnel bertujuan untuk menentukan kekerasan suatu
material dalam bentuk daya tahan material terhadap bola baja (identor) yang ditekankan pada
permukaan material uji tersebut (spesimen). Idealnya, pengujian Brinnel diperuntukan untuk
material yang memiliki permukaan yang kasar dengan uji kekuatan berkisar 500-3000 kgf.
Identor (Bola baja) biasanya telah dikeraskan dan diplating ataupun terbuat dari bahan Karbida
Tungsten.

2.

ROCKWELL (HR / RHN)

Pengujian kekerasan dengan metode Rockwell bertujuan menentukan kekerasan suatu material
dalam bentuk daya tahan material terhadap indentor berupa bola baja ataupun kerucut intan yang
ditekankan pada permukaan material uji tersebut.
Untuk mencari besarnya nilai kekerasan dengan menggunakan metode Rockwell dijelaskan
pada gambar 4, yaitu pada langkah 1 benda uji ditekan oleh indentor dengan beban minor
(Minor Load F0) setelah itu ditekan dengan beban mayor (major Load F1) pada langkah 2, dan
pada langkah 3 beban mayor diambil sehingga yang tersisa adalah minor load dimana pada
kondisi 3 ini indentor ditahan seperti kondisi pada saat total load
3.

VIKERS (HV / VHN)

Pengujian kekerasan dengan metode Vickers bertujuan menentukan kekerasan suatu material
dalam yaitu daya tahan material terhadap indentor intan yang cukup kecil dan mempunyai
bentuk geometri berbentuk piramid seperti ditunjukkan pada gambar 3. Beban yang dikenakan
juga jauh lebih kecil dibanding dengan pengujian rockwell dan brinel yaitu antara 1 sampai
1000 gram.
Angka kekerasan Vickers (HV) didefinisikan sebagai hasil bagi (koefisien) dari beban uji (F)
dengan luas permukaan bekas luka tekan (injakan) dari indentor(diagonalnya) (A) yang
dikalikan dengan sin (136/2). Rumus untuk menentukan besarnya nilai kekerasan dengan
metode vikers yaitu :

4.

MICRO HARDNESS (KNOOP HARDNESS)

Mikrohardness test tahu sering disebut dengan knoop hardness testing merupakan pengujian
yang cocok untuk pengujian material yang nilai kekerasannya rendah. Knoop biasanya
digunakan untuk mengukur material yang getas seperti keramik.

7. bagaimana cara melakukan pengujian kekerasan


1. Menyalakan listrik sesuai prosedur. Dan siapkan Alat dan Bahan uji (material uji).
2. Lakukan terlebih dahulu pengkalibrasian pada sample material yang sudah standar (HRb 32,3
dan HRc 92,7).
3. Lakukan pengkalibrasian sesuai dengan prosedur seperti :
Pasang indentor pada pencekaman
Simpan sample material pada meja uji
Menaikan meja sampai material menyentuh pada ujung indentor
Kalibrasi hingga jarum menunjukan titik jarum keduanya pada titik nol
Klik start dan tunggu hasil pengujian 1 menit.
4. Setelah melakukan pengkalibrasian. Lakukan pengujian pada material ST-37. Lakukan
pengujian seperti proses nomor 3 (proses kalibrasi). Proses uji ada 2 dengan menggunakan
manual atau otomatis bedanya disini jika manual harus mengklik start lagi.
5. Lakukan pengujian pada material ST-37 minimal di 15 titik yang berbeda
6. Catat nilai atau hasil dari kekerasan material

7. Matikan mesin jika sudah selesai melakukan pengujian


8. Simpan kembali alat dan bahan yang sudah digunakan tertata rapih pada tempatnya.
9. Bersihkan mesin dan area praktikum.
10. Tutup mesin dengan penutup yang sudah disediakan.

8. rumus rumus teoritis uji tarik

9.
1. Tegangan Sress)
Tegangan adalah Perbandingan antara gaya tarik yang bekerja terhadap luas penampang
benda . Tegangan dinotasikan dengan (sigma), satunnya Nm-2.

2. Regangan (Strain)
Regangan adalah Perbandingan antara pertambahan panjang L terhadap panjang mula-

mula(Lo)
Regangan dinotasikan dengan e dan tidak mempunyai satuan.

10. cara pengujian uji tarik


a. Proses Hipotensa (Persiapan)
1. Pilih material dan bersihkan material dari karat menggunakan ampelas kasar dan halus.
2. Kemudian gunakan autosl jika karat masih tetap ada oleskan kotoran dan karat samap bersih.
3. Tandai material yang akan di uji tentukan 5 garis pada material, seperti garis tengah, garis
batas ekstenso, garis batas pencekaman.
4. Setelah itu berikan kode urutan nomor pada material seperti atas atau bawah
5. kemudian bersihkan dudukan dan lot sell dari kotoran lain menggunakan majun dan amplas.
6. Setelah itu periksa mesin uji tarik dan komputer.
b. Proses Pengujian
1. Pastikan jaringan listrik terpasang sesuai sop.
2. Pasang ragum uji tarik sesuai dengan dudukannya.
3. Ganti dudukan lotsel dengan menggunakan grif (pelat) atau root (bulat) sesuai kebutuhan.
4. Ukurlah diameter dan ketebalan benda kerja sebelum di pasangkan ke ragum.
5. Pasang benda kerja pada ragum penjepit bagian bawah kemudian kencangkan agar tidak
terjadi slip saat di pengujian berlangsung.
6. Turunkan ragum penjepit bagian atas secara otomatis
7. Pandu material uji tarik dengan tangan untuk masuk pada ragum penjepit bagian atas. Agar
benda kerja tidak bertabrakan.
8. Hidupkan komputer dan pastikan mesin uji tarik terhubung dengan komputer, setting program
aplikasi uji tarik.
9. Berikan data ukuran yang telah di ukur sebelumnya pada program yang digunakan.
10. Berikan pembebanan maksimal seberat 5 ton untuk pengujiannya.
11. Periksa kembali material dan mesin uji tarik seperti data nomor yang telah diberikan apa
terpasang dengan sesuai pada mesin uji tarik.
12. Pasangkan ekstenso meter untuk melihat perubahan panjang secara aktual pada material.
13. Kemudian klik icon zero kemudian klik icon test setalah itu amati dan analisa material
yan sedang di uji.

14. kemudian jika proses yield sedang terjadi buka ekstenso pada material, jika ekstenso telah
dilepas klik ok pada monitor komputer.
15. Saat proses necking terjadi amati di posisi bagian mana yang akan putus
16. Jika break telah terjadi lihat pada program data hasil pengujian seperti data table uji tarik.
17. Buka material yang telah di uji kemudian bersihkan lot sell dari kotoran bekas pengujian
18. Print data hasil pengujian.
11. apa fungsi ektenso meter.
sebagai alat untuk mengukur daerah batas elastis dan memberi peringatan bahwa bahan yang di
uji telah sampai daerah plastis. atau dengan kata lain sudah mencapai batas elastis.
12. daerah haz merupaka daerah yang di las. fungsinya untuk meningkatkan kekerasan bahan
tersebut agar lebih ulet dan kuat
13. ada efeknya kekerasan semakin meningkat.
biasanya terjadi crak pada benda uji tarik dan biasanya daerah las haz mengalami batas plastis
kemudian dia rentang putus, biasanya jika daerah las an tidak kuat maka akan timbul korosi
yang menyababkan daerah las tersbut lapuk. maka harus memiliki pemilihan benda kerja las dan
kawat las yang homogen agar tidak terjadi crack