Anda di halaman 1dari 7

TAKSIDERMI

Mohammad Raihan Amin


140410140051

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM


UNIVERSITAS PADJADJARAN
JATINANGOR
2015

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Taksidermi merupakan salah satu upaya pengawetan kering hewan-hewan yang telah mati
untuk ditampilkan. Taksidermi biasanya digunakan untuk berbagai tujuan misalnya sebagai
media dalam pembelajaran biologi dan juga sebagai hiasan. Keunggulan taksidermi sebagai
media pembelajaran biologi adalah keasliannya karena terbuat dari hewan asli dan tidak
membahayakan bagi mahasiswa. Sedangkan kelemahannya adalah hanya morfologi hewan
saja yang bias diamati melalui taksidermi. Taksidermi ini dapat dilakukan pada semua spesies
hewan vertebrata termasuk mamalia, burung, ikan, reptil, dan amfibi. Banyak masyarakat
Indonesia yang bertempat tinggal di pesisir yang memanfaatkan teknik ini sebagai salah satu
upaya untuk mengawetkan binatang-binatang laut sebagai kerajinan ataupun hiasan yang
biasanya mereka jual. Namun cara-cara yang digunakan masih sederhana sehingga hasil
yang didapatkan masih berbeda jauh dengan buatan negara lain. Taksidermi aves yang kami
lakukan menggunakan brung merpati (Columba Sp.).

1.2 Tujuan
- Untuk mengetahui apa itu Taksidermi
- Untuk mengetahui bagaimana cara melakukan taksidermi

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Taksidermi
Taksidermi merupakan istilah pengawetan untuk hewan pada umumnya, vertebrata
pada khususnya, dan biasanya dilakukan terhdap hewan yang berukuran relatif besar dan
hewan yang dapat dikuliti termasuk beberapa jenis reptil, aves, amphibi dan mamalia. Organ
dalam dikeluarkan dan kemudian dibentuk kembali seperti bentuk asli ketika hewan tersebut
hidup (dikuliti, hanya bagian kulit yang tersisa).
Pengetahuan tentang kulit ini, sering dipakai sebagai bahan referensi untuk
identifikasi hewan vertebrata, dan juga untuk menunjukkan bemacam-macam varietas yang
terdapat di dalam species. Dengan kata lain taksidermi merupakan pengetahuan tentang
skinning (pengulitan), preserving (pengawetan kulit), stuffing (pembentukan), dan mounting/
(penyimpanan sesuai kondisi waktu hidup).
Biologi adalah suatu ilmu tentang kehidupan. Bagi siswa mempelajari tumbuhan dan
hewan dalam hubungannya dengan lingkungan sekitarnya adalah bagian penting dalam
mempelajari biologi. Untuk mengenal hakekat hidup, serta dalam kehidupan tersebut
diperlukan suatu cara atau metode. Pengawetan tumbuhan dan hewan sangat diperlukan
terutama untuk memenuhi kebutuhan pada masa yang akan datang, dalam membantu
perkembangan ilmu. Awet an rangka dan anatomi tumbuhan maupun hewan sering
diperlukan sebagai alat peraga dalam kegiatan belajar mengajar biologi di kelas. Adanya
awetan yang dibuat sendiri sangat membantu pengadaan alat peraga dan koleksi. Tanpa
adanya pengawetan yang baik, tumbuhan dan hewan yang ditemukan dan dikoleksikan maka
akan mengalami kerusakan, misalnya pengerutan atau pembusukan. Pengawetan hewan dan
tumbuhan diperlukan terutama untuk memenuhi kebutuhan pada masa yang akan datang dan
juga sebagai alat peraga dan eksperimen dalam kegiatan belajar mengajar. Pengawetan pada
hewan dilakukan dengan dua macam cara, yaitu : pengawetan basah dan pengawetan kering.
Taksidermi merupakan istilah pengawetan untuk hewan pada umumnya, vertebrata
pada khususnya, dan biasanya dilakukan terhdap hewan yang berukuran relatif besar dan
hewan yang dapat dikuliti termasuk beberapa jenis reptil, aves, dan mammalia. Organ dalam
dikeluarkan dan kemudian dibentuk kembali seperti bentuk asli ketika hewan tersebut hidup
(dikuliti, hanya bagian kulit yang tersisa). Pengetahuan tentang kulit ini, sering dipakai

sebagai bahan referensi untuk identifikasi hewan vertebrata, dan juga untuk menunjukkan
bemacam-macam varietas yang terdapat di dalam species.
Dengan kata lain taksidermi merupakan pengetahuan tentang skinning (pengulitan),
preserving (pengawetan kulit), stuffing (pembentukan), dan mounting/opzet/pajangan
(penyimpanan sesuai kondisi waktu hidup).
2.2 Cara membuat Taksidermi
Taksidermi adalah hewan hasil pengawetan, biasanya golongan vertebrata yang dapat dikuliti.
Pada pembuatan taksidermi, hewan dikuliti, organ-organ dalam dibuang, untuk selanjutnya
dibentuk kembali seperti bentuk aslinya. Ewan-hewan vertebrata yang sering dibuat
taksidermi misalnya berbagai jenis mamalia, kadal atau reptil, dsb. Taksidermi seringkali
dipergunakan sebagai bahan referensi untuk identifikasi hewan vertebrata, juga menunjukkan
berbagai macam ras yang dimiliki suatu spesies. Selain itu, tentu saja taksidermi dapat
dijadikan

sebagai

media

pembelajaran

biologi.

Alat dan bahan yang diperlukan antara lain:


(1) bak bedah;
(2) alat-alat bedah seperti gunting dan pinset;
(3) alat-alat dan bahan pembius misal kloroform dan sungkup;
(4) kawat, benang, kapas, dan jarum jahit;
(5) zat pengawet seperti boraks atau tepung tawas, formalin;
(6) air.

2.2 Metode pembuatan taksidermi


Metode pembuatan taksidermi adalah sebagai berikut
Pertama:
Potong otot-otot paha dan pisahkan tulang paha dari persendian dan pangkal paha, keluarkan
bagian ini.
Kedua:
Potonglah otot-otot pada tumit, keluarkan jaringan lunak pada telapak kaki dengan jalan
mengirisnya. Keluarkan semua bagian kaki lainnya yang masih tertinggal di dalam kulit.

Ketiga:
Ulangi langkah pertama dan kedua di atas untuk bagian tangan, dan ekor.
Keempat:
Untuk bagian kepala, lepaskan kulit secara hati-hati, sertakan telinga, kelopak mata pada
kulit. Jaga jangan sampai robek. Potonglah tulang rawan hidung dan biarkan melekat pada
kulit. Potonglah bagian kepala dan leher, bersihkan bekas-bekas otak dengan cara
menyemprotkan air.
Kelima:
Balikkan kulit dan bersihkan dari sisa daging dan lemak.
Keenam:
Basuh bagian permukaan dalam kulit tubuh dengan boraks, demikian pula untuk ekor, kaki,
tangan dan tengkorak kepala.
Ketujuh:
Sebagai pengganti mata, gunakan bola mata tiruan. Bentuk tubuh hewan kembali dengan
menggunakan kapuk dan kawat, lalu jahit dengan rapi.
Kedelapan:
Atur posisi hewan sebagaimana kebiasan hewan sewaktu masih hidup.
Kesembilan:
Pajang taksidermi pada tempat-tempat yang aman dan terhindar dari serangan serangga,
bersih dan kering. Insektisida, atau kamper (naftalen) dapat ditambahkan untuk mencegah
serangan jamur. Ada baiknya taksidermi disimpan dalam boks kaca.

DAFTAR PUSTAKA

Brotowidjoyo, Mukayat Djarubito, 1990. ZOOLOGI DASAR. Erlangga. Jakarta.


Djarijah Siregar Abbas, 2001. Budi Daya Ikan Bawal. Yogyakarta : Kanisius
( Anggota IKAPI).
Sukiya. 2003. Biologi Vertebrata. Yogyakarta press. Universitas Negeri Yogyakarta.
Suryana Sarnah, 2009. Mengawetkan Hewan.
Syamsuri,Istamar. 2004. Biologi. Widya Utama. Jakarta

LAMPIRAN

Anda mungkin juga menyukai