Anda di halaman 1dari 112

BAB I

PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Dalam sistem transportasi, pelabuhan merupakan suatu simpul dari mata rantai
kelancaran muatan angkutan laut dan darat dalam menunjang dan menggerakkan
perekonomian, yang selanjutnya berfungsi sebagai kegiatan peralihan antarmoda
transport. Pentingnya peran pelabuhan dalam suatu system transportasi, mengharuskan
setiap pelabuhan memiliki kerangka dasar rencana pengembangan dan pembangunan
pelabuhan. Kerangka dasar tersebut tertuang dalam suatu rencana pengembangan tata
ruang yang dijabarkan dalam suatu

tahapan pelaksanaan pembangunan

jangka

pendek, menengah dan panjang. Hal ini diperlukan untuk menjamin kepastian usaha
dan pelaksanaan pembangunan pelabuhan yang terencana, terpadu, tepat guna efisien
dan kesinambungan pembangunan. Oleh sebab itu, dalam dalam Undang-undang No.
17 Tahun 2008 tentang Pelayaran dan Peraturan Pemerintah No. 61 Tahun 2009 tentang
Kepelabuhanan ditegaskan bahwa setiap pelabuhan wajib memiliki Rencana Induk
Pelabuhan (RIP).
Rencan Induk Pelabuhan disusun dengan memperhatikan Rencana Induk
Pelabuhan Nasional (RIPN), Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi, Rencana Tata
Ruang Wilayah Kabupaten/Kota, keserasian dan keseimbangan dengan kegiatan lain
terkait di lokasi pelabuhan, kelayakan teknis, ekonomis, dan lingkungan, serta
keamanan dan keselamatan lalu lintas kapal. Menteri Perhubungan telah menetapkan
RIPN melalui keputusan Nomor Kepmen No. 414 Tahun 2013 tentang Penetapan
Rencana Induk Pelabuhan Nasional.
Sistem transportasi di Kabupaten Raja Ampat tidak terlepas dari peran
Pelabuhan Sorong sebagai Pelabuhan Utama. Kegiatan pelabuhan berorientasi ke Kota
Sorong, baik arus penumpang maupun barang. Selain itu, terdapat juga sebagian kecil
ke Ternate dan Ambon. Dari pelabuhan Sorong terdapat pelayaran internasional (khusus
untuk angkutan minyak mentah, ikan tuna dan kayu lapis); dan pelayaran nusantara
yang meliputi trayek pelayaran nusantara, trayek kapal penumpang, trayek lokal,
pelayaran rakyat dan angkutan sungai, danau dan ferry. Trayek transportasi laut untuk
1

Kabupaten Raja Ampat dengan Sorong berupa : Pelayaran rakyat : Sorong - Waigeo Batanta - Salawati - Misool, dan angkutan Sungai, Danau dan Ferry : Jalur Sungai
Klamono - Sungai Waigeo. Pelayanan transportasi laut di Kabupaten Raja Ampat
sangat bergantung pada musim. Pada bulan-bulan tertentu (April - Agustus) kondisi
gelombang sangat besar sehingga transportasi laut tidak dapat menjangkau daerahdaerah seperti Kepulauan Ayau, Kofiau atau Misool.
Dalam

menghadapi

perkembangan

perdagangan

dan

meningkatkan

perekonomian regional maupun lokal, maka Kabupaten Raja Ampat

perlu

mempersiapkan diri dalam pengadaan segala fasilitas dan prasarana pendukung seperti
akses jalan yang dapat mendukung sistem ekonomi terbuka dan pasar bebas mendatang.
Kerangka dasar rencana pengembangan dan pembangunan suatu pelabuhan
tersebut diwujudkan dalam suatu Rencana Induk Pelabuhan yang menjadi bagian dari
tata ruang wilayah dimana pelabuhan tersebut berada, untuk menjamin

adanya

sinkronisasi antara rencana pengembangan pelabuhan dengan rencana pengembangan


wilayah. Agarsebuah Rencana Induk Pelabuhan dapat dipergunakan dan diterapkan,
perlu ditetapkan suatu standar perencanaan pembangunan dan pengembangan
pelabuhan.
1.2. Maksud dan Tujuan Pekerjaan
Adapun maksud dari Pembuatan Masterplan Pelabuhan ini adalah sebagai
upaya untuk menyediakan pedoman perencanaan pembangunan dan pengembangan
pelabuhan sehingga pelaksanaan kegiatan pembangunan dapat dilakukan secara
terstruktur, menyeluruh dan komprehensif, mulai dari perencanaan, konstruksi, operasi
dan pemeliharaan, pembiayaan serta partisipasi masyarakat dalam proses pemeliharaan
pelabuhan yang direncanakan.
Tujuannya adalah sebagai acuan dalam pelaksanaan perancangan pembangunan
pelabuhan ikan di kabupaten Raja Ampat, sehingga kegiatan pembangunan yang ada
dapat optimal dalam mengurangi permasalahan yang timbul pada saat operasional
pelabuhan.
1.3.

Lokasi Pekerjaan

Lokasi proyek berada di Kabupaten Raja Ampat seperti yang ditunjukkan dalam
peta Provinsi Papua Barat (Gambar 1.1)

Gambar 1. 1 Lokasi pekerjaan

1.4.

Lingkup Kegiatan

Ruang lingkup kegiatan penyusunan rencana induk (masterplan) pelabuhan di


Kabupaten Raja Ampat meliputi :
1 Inventarisasi peraturan yang terkait dengan pembangunan pelabuhan;
2 Identifikasi dan inventarisasi jaringan pelayanan infrastruktur dan hinterland
3
4

pelabuhan laut di Raja Ampat;


Identifikasi dan inventarisasi jenis komoditas unggulan Kabupaten Raja Ampat;
Inventarisasi data-data survei antara lain data fisik dasar wilayah studi, data
kepelabuhanan, data kependudukan, data kelembagaan, data tata ruang wilayah

kabupaten dan provinsi;


Validasi, analisis dan evaluasi data yang mencakup:
a Analisis dan evaluasi prakiraan demand angkutan laut meliputi perkiraan
jumlah pergerakan kapal dan jenis kapal, pergerakan penumpang dan
barang
b

tahunan,

jaringan

pelayaran

masa

mendatang,

rencana

pembangunan/pengembangan pelabuhan;
Analisis dan evaluasi teknis teknis meliputi hidrooceanografi, topografi,
jalan akses, pengaturan operasi pelabuhan, dukungan peralatan SBNP,

dst;
Analisis ekonomi dan finansial meliputi manfaat yang akan diperoleh
Pemerintah Provinsi dan Kabupaten/Kota jika pelabuhan beroperasi;

Analisa

tahapan

pelaksanaan

pembangunan

sebagai

pedoman

pembangunan fasilitas pelabuhan berdasarkan skala prioritas rencana


pengembangan pelabuhan;
6

Penyusunan Rencana Induk Pelabuhan meliputi:


a Konsep rencana tata letak

fasilitas

pelabuhan

berdasarkan

kriteria/standardisasi perencanaan pelabuhan yang berlaku dengan


memperhatikan aspek kelancaran, keselamatan dan keamanan pelayaran
b

serta aspek lingkungan;


Tahapan pembangunan/pengembangan pelabuhan sesuai kebutuhan

c
d
e

dengan mempertimbangkan aspek teknis, ekonomis dan operasional;


Kebutuhan tanah untuk setiap tahapan pengembangan pelabuhan;
Koordinat lokasi perletakan masing-masing pelabuhan;
Konsep awal Rencana Tata Guna Lahan di sekitar pelabuhan;

Rancangan

Daerah

Lingkungan

Kerja

dan Daerah

Lingkungan

Kepentingan Pelabuhan.

1.5.

Keluaran/Output
Dengan selesainya kegiatan ini, maka keluaran atau output yang diharapkan

adalah dokumen Rencan Induk Pelabuhan yang terdiri dari :


1. D o k u m e n Kompilasi Data dan prediksi;
2. Dokumen Rencana Pengembangan dan Pembangunan;
3. R i n g k a s a n E k s e k u t i f Executive Summary);
1.6.

Landasan Yuridis
Dasar hukum yang digunakan dalam menyusun rencana induk pelabuhan

adalah :
1
2

Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang;


Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2008 tentang Pelayaran;

Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun 2008 tentang Pedoman Rencana Tata


Ruang Wilayah Nasional;

4
5

Peraturan Pemerintah Nomor 61 Tahun 2009 tentang Kepelabuhanan;


Peraturan Pemerintah Nomor 5 Tahun 2010 tentang Kenavigasian;

Peraturan Pemerintah Nomor 20 Tahun 2010 tentang Angkutan di Perairan


sebagaimana telah dirubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 2011;

Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 2010 tentang Perlindungan Lingkungan


Maritim;

Peraturan Presiden Nomor 47 Tahun 2009 tentang Pembentukan dan Organisasi


Kementerian Negara sebagaimana telah diubah terakhir dengan Peraturan
Presiden Nomor 91 Tahun 2011;

Peraturan Presiden Nomor 24 Tahun 2010 tentang Kedudukan, Tugas, dan


Fungsi Kementerian Negara serta Susunan Organisasi, Tugas, dan Fungsi Eselon
I Kementerian Negara sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Presiden
Nomor 92 Tahun 2011;

10 Keputusan Menteri Perhubungan Nomor KM 54 Tahun 2002 tentang


Penyelenggaraan Pelabuhan Laut;
11 Peraturan Menteri Perhubungan Nomor KM 31 Tahun 2006 tentang Pedoman
dan Proses Perencanaan di Lingkungan Departemen Perhubungan;
5

12 Peraturan Menteri Perhubungan Nomor KM 60 Tahun 2010 tentang Organisasi


dan Tata Kerja Kementerian Perhubungan sebagaimana telah diubah terakhir
dengan dengan Peraturan Menteri Perhubungan Nomor PM. 68 Tahun 2013;
13 Peraturan Menteri Perhubungan Nomor KM 62 Tahun 2010 tentang Organisasi
dan Tata Kerja Kantor Unit Penyelenggaraan Pelabuhan sebagaimana telah
diubah dengan Peraturan Menteri Perhubungan Nomor PM 44 Tahun 2011;
14 Peraturan Menteri Perhubungan Nomor PM. 63 Tahun 2010 tentang Organisasi
dan Tata Kerja Kantor Otoritas Pelabuhan;
15 Peraturan Menteri Perhubungan Nomor PM 5 Tahun 2011 tentang Sarana Bantu
Navigasi Pelayaran (SBNP);
16 Peraturan Menteri Perhubungan Nomor PM. 68 Tahun 2011 tentang Alur
pelayaran di Laut;
17 Peraturan Menteri Perhubungan Nomor PM 34 Tahun 2012 tentang Organisasi
dan Tata Kerja Kantor Kesyahbandaran Utama;
18 Peraturan Menteri Perhubungan Nomor PM 36 Tahun 2012 tentang Organisasi
dan Tata Kerja Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan;
19 Peraturan Menteri Perhubungan Nomor PM.51 Tahun 2011 tentang Terminal
Khusus dan Terminal Untuk Kepentingan Sendiri;
20 Peraturan Menteri Perhubungan Nomor PM. 52 Tahun 2011 tentang Pengerukan
dan Reklamasi;
21 Peraturan Menteri Perhubungan Nomor PM. 53 Tahun 2011

tentang

Pemanduan;
22 Peraturan Menteri Perhubungan Nomor PM. 58 Tahun 2013 tentang
Penanggulangan Pencemaran di Perairan dan Pelabuhan;
23 Keputusan Menteri Perhubungan Nomor KP. 414 Tahun 2013 tentang Penetapan
Rencana Induk Pelabuhan Nasional.

BAB II
KEBIJAKAN PEMERINTAH TERKAIT PELABUHAN

2.1. Kebijakan Pengembangan Pelabuhan

Sesuai dengan Undang-Undang No. 17 tahun 2008 tentang Pelayaran


pembangunan system pelabuhan di klasifikasikan menjadi beberapa pelayaran yaitu:
1. Pelabuahan Laut;
2. Pelabuhan sungai;
3. Danau dan penyeberangan;
4. Pelabuhan lainya.
Berdasarkan penggunaanya, pelabuhan laut di bedakan menjadi pelabuhan
umum dan terminal khusus (dahulu di sebut sebagai pelabuhan khusus).Pelabuhan
umum terdiri daripelabuhan yang di usahakan,dan pelabuhan umum yang tidak di
usahakan.Adapun Terminal Khusus adalah termimal yang terletak di luar daerah
lingkungan kerja dan daereh lingkungan kepentingan pelabuhan yang merupakan bagian
dari

pelabuhan

terdekat

untuk

kepentingan

sendiri

sesuai

dengan

usaha

pokoknya.Berdasarkan hiraki peran dan fungsinya, pelabuhan laut di bedakan menjadi


pelabuhan utama, pengumpul, pengumpan regional dan pelabuhan pengumpan lokal.
Untuk jelasnya di uraikan sebagai berikut :
1. Pelabuahan Utama adalah pelabuhan yang fungsi pokoknya melayani kegiatan
angktan laut dalam negeri dan internasional dalam jumlah besar dan sebagai
tempat asal tujuan penumpang dan atau barang dengan jangkauan pelayanan antar
provinsi. Persyaratan teknis Pelabuhan Utama adalah :
a. Kedekatan secara geografis dengan tujuan pasar internasional;
b. Berada dekat dengan jalur pelayaran internasional 500 mil dan jalur
c.
d.
e.
f.

pelayaran nasional 50 mil;


Memiliki jarak dengan pelabuhan utama lainnya minimal 200 mil;
Memiliki luas daratan dan perairan tertentu serta terlindung dari gelombang
Kedalaman kolam pelabuhan minimal 9 m-LWS;
Berperan sebagai tempat alih muat peti kemas/curah/general cargo/penumpang

internasional;
g. Melayani Angkutan petikemas sekitar 300.000 TEUs/tahun atau angkutan lain
yang setara;
h. Memiliki dermaga peti kemas/curah/general cargo minimal 1 (satu) tambatan,
peralatan bongkar muat petikemas/curah/general cargo serta lapangan
penumpukan/gudang penyimpanan yang memadai.

i. Berperan sebagai pusat distribusi peti kemas/curah/general cargo/penumpang


di tingkat nasional dan pelayanan angkutan peti kemas internasional.
2. Pelabuhan Pengumpul adalah pelabuhan yang fungsi pokonya melayani kegiatan
angkutan laut dalam negeri,alih muat angkutan laut dalam negeri dalam jumlah
menengah, dan tempat asal tujuan penumpang dan/atau barang dengan jangkauan
pelayanan antar provinsi. Persyaratan teknis yang harus dipenuhi oleh Pelabuhan
Pengumpul adalah :
a. Kebijakan Pemerintah yang meliputi pemerataan pembangunan nasional dan
b.
c.
d.
e.

meningkatkan pertumbuhan wilayah;


Memiliki jarak dengan pelabuhan pengumpul lainnya setidaknya 50 mil;
Berada dekat dengan jalur pelayaran nasional 50 mil;
Memiliki luas daratan dan perairan tertentu serta terlindung dari gelombang;
Berdekatan dengan pusat pertumbuhan wilayah ibukota provinsi dan kawasan

pertumbuhan nasional;
f. Kedalaman minimal pelabuhan 7 m-LWS;
g. Memiliki dermaga multipurpose minimal 1 tambatan dan peralatan bongkar
muat;
h. berperan

sebagai

pengumpul

angkutan

peti

kemas/curah/general

cargo/penumpang nasional;
i. Berperan sebagai tempat alih muat penumpang dan barang umum nasional.

3. Pelabuhan pengumpan Regional adalah pelabuhan yang berperan sebagai tempat


alih muat penumpang dan barang dari/ke pelabuhan utama yang melayani
angkutan laut antar Kabupaten/Kota dalam Provinsi.
a. Berpedoman pada tata ruang wilayah provinsi dan pemerataan pembangunan
antarprovinsi;
b. Berpedoman pada tata ruang wilayah kabupaten/kota serta pemerataan dan
peningkatan pembangunan kabupaten/kota;
c. Berada di sekitar pusat pertumbuhan ekonomi wilayah provinsi;
d. Berperan sebagai pengumpan terhadap Pelabuhan Pengumpul dan Pelabuhan
Utama;

e. Berperan sebagai tempat alih muat penumpang dan barang dari/ke Pelabuhan
Pengumpul dan/atau Pelabuhan Pengumpan lainnya;
f. Berperan melayani angkutan laut antar kabupaten/kota dalam propinsi;
g. Memiliki luas daratan dan perairan tertentu serta terlindung dari gelombang;
h. Melayani penumpang dan barang antar kabupaten/kota dan/atau antar
kecamatan dalam 1 (satu) provinsi;
i. Berada dekat dengan jalur pelayaran antar pulau 25 mil;
j. Kedalaman maksimal pelabuhan 7 m-LWS;
k. Memiliki dermaga dengan panjang maksimal 120 m;
l. Memiliki jarak dengan Pelabuhan Pengumpan Regional lainnya 20 50 mil.

4. Pelabuhan pengumpan Lokal adalah pelabuhan yang berperan sebagai pelayanan


penumpang dan barang di daerah di daerah terpencil, terisolasi, perbatasan, deerah
terbatas yang hanya di dukung moda trasportasi laut yang melayani angkutan laut
antar Derah/Kecematan dalam Kabupaten/Kota. Persyaratan teknis yang harus
dipenuhi oleh Pelabuhan Pengumpan Regional adalah :
a. Berpedoman pada tata ruang wilayah kabupaten/kota dan pemerataan serta
peningkatan pembangunan kabupaten/kota;
b. Berada di sekitar pusat pertumbuhan ekonomi kabupaten/kota;
c. Memiliki luas daratan dan perairan tertentu dan terlindung dari gelombang;
d. Melayani penumpang dan barang antar kabupaten/kota dan/atau antar
kecamatan dalam 1 (satu) kabupaten/kota;
e. Berperan sebagai pengumpan terhadap Pelabuhan Utama, Pelabuhan
Pengumpul, dan/atau Pelabuhan Pengumpan Regional;
f. Berperan sebagai tempat pelayanan penumpang di daerah terpencil, terisolasi,
perbatasan, daerah terbatas yang hanya didukung oleh moda transportasi laut;
g. Berperan sebagai tempat pelayanan moda transportasi laut untuk mendukung
kehidupan masyarakat dan berfungsi sebagai tempat multifungsi selain
sebagaiterminal untuk penumpang juga untuk melayani bongkar muat
kebutuhan hidupmasyarakat disekitarnya;
h. Berada pada lokasi yang tidak dilalui jalur transportasi laut reguler
kecualikeperintisan;
i. Kedalaman maksimal pelabuhan 4 m-LWS;
j. Memiliki fasilitas tambat atau dermaga dengan panjang maksimal 70 m;
k. Memiliki jarak dengan Pelabuhan Pengumpan Lokal lainnya 5 20 mil.

10

Fasilitas utama di suatu pelabuhan laut adalah Terminal, yaitu fasilitas


pelabuhan yang terdiri atas kolom labuh dan tempat kapal bersandar atau tambat, tempat
penumpukan, tempat menunggu dan tempat naik turun penumpang, dan/ tempat bongkar
muat barang.Pada pelabuhan laut, selain terdapat terminal (umum) untuk melayani
kepentingan umum, biasanya juga terdapat Terminal Untuk Kepentingan Sendiri
(TUKS).TUKS adalah terminal yang terletak di dalam daerah lingkungan kerja dan
daerah lingkungan kepentingan pelabuhan yang merupakan bagian daripelabuhan umum
melayani kepentingan sendiri sesuai dengan usaha pokonya.Dermaga/Terminal Untuk
Kepentingan Sendiri Khusus Kegiatan Industri yang di kembangkan pada kawasankawasan industry, terutama untuk melayani angkutan barang guna menunjang aktivitas
kegiatan industri.
Undang-undang Republik Indonesia Nomor 17 Tahun 2008 tentang Pelayaran,
Pasal 73 Ayat 1 dan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 61 Tahun 2009
tentang Kepelabuhan, Pasal 20 Ayat 1 menekankan bahwa Setiap Pelabuhan Wajib
Memiliki Rencana Induk Pelabuhan (RIP).Penyusunan RIP ini dilakukan oleh
Penyelenggaraan pelabuhan yang terdiri dari Otoritas Pelabuhan (OP), Kesyahbandaran
dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) dan Unit Penyelenggara Pelabuhan (UUP).Rencana
Induk Pelabuhan adalah pengaturan ruang pelabuhan berupa pembentukaan rencana tata
guna lahan daratan dan perairan di Derah Lingkup Kerja dan Daerah Lingkungan
Kepentingan pelabuhan.Rencana peruntukan wilayah daratan untuk Rencana Induk
Pelabuahan laut di susun berdasarka kriteria kebutuhan :
1. Fasilitas pokok terminal : terminal konvensional, terminal serbaguan,
terminal penumpang, terminal peti kemas, terminal ro-ro, dan terminal curah
air ataupun terminal curah kering.
2. Fasilitas penumpang terminal : fasilitas penumpang dan pengelolahan
limbah, fasilitas bungker,fasilitas pemadam kebakaran, fasiltas gudang untuk
Bahan/Barang Berbahaya dan Beracun(B3), dan fasilitas pemeliharaan dan
perbaikan peralatan dan Sarana Bantu Navigasi Pelayaran (SBNP)

11

3. Fasilitas penumpang pelabuhan: kawasan perkantoran, fasilitas pos dan


telekomunikasi, fasilitas pariwisata dan perhotelan, instalasi air bersih,
listrik, telekomunikasi, jaringan jalan, rel kereta api, jaringan air limbah,
drainase, sampah, areal pengembangan pelabuhan, tempat tunggu kendaraan
bermotor, kawasan perdagangan, kawasan industry, dan fasilitas umum
lainya.
Rencana peruntukan wilayah perairan untuk Rencana Induk Pelabuahan laut di
susun berdasrka kriteria kebutuhan:
1. Fasilitas pokok wilayah perairan meliputi : alur-pelayaran, perairan tempat
labuh, kolom pelabuhan untuk sandar dan oleh gerak kapal, perairan tempat
alih muat kapal, perairan untuk kapal yang mengangkut Bahan/Barang
Berbahaya dan Beracun (B3), perairan untuk kegiatan karangtina, perairang
alur penghubung interpelabuahan, perairan pandu, dan perairan untuk kapal
pemerintah.
2. Fasiltas wilayah penunjang wilayah perairan meliputi:

perairan untuk

pengembangan pelabuhan jangka panjang, perairan untuk fasilitas


pembangunan dan pemeliharaan kapal, perairan tersebut uji coba kapal
(percobaan berlayar), perairan tempat kapal mati, perairan untuk keperluan
darurat, dan perairan untuk kegiatan kepariwisataan dan perhotelan.
Selain aspek teknis yang disampaikan di atas, dalam pengembangan dan
pengelolaan

pelabuhan

juga

memperimbangkan

dan

mempersyartkan

aspek

legalitas.Sesuai dengan Undang-Undang No. 17 Tahun 2008 tentang Pelayaran dan


Peraturan Pemerintah Nomor 61 tahun 2009 tentang Kepelabuhan, aspek legalitas
pembangunan pelabuhan berkenaan dengan:
1. Penetapan lokasi dan Status pelabuhan oleh Mentri Perhubungan,
2. Persetujuan rencana pelabuhan, penetapan wilayah kerja pelabuhan,
perijinana pengoperasian pelabuhan,kesemuanya oleh pemerintah pusat atau
pemerintah daerah sesuai dengan status dan kelas (hirarki dan fungsi dan
peran ) pelabuhan.

12

2.2. Nama dan Hirarki Pelabuhan di Provinsi Papua Barat


(1) Tatanan pelabuhan Regional terdapat di :
a. pelabuhan Waisai;
b. pelabuhan Saunek;
c. pelabuhan Fafanlap;
d. pelabuhan Paam;
e. pelabuhan Salafen; dan
f. pelabuhan Kabare.
(3) Tatanan pelabuhan Lokal di Kabupaten Raja Ampat terdapat di Pelabuhan
Abidon, Warkori, Urbinasopen, Pam, Deer, Wayom, Waringabom, Mnier, Gag,
Selpele, Lenmalas, Weijim, dan Yellu.
(4) Tatanan pelabuhan Khusus terdapat di Distrik Samate.

2.3. Kebijakan Pengusahaan Pelabuhan


Adapun bisnis kepulauan di Indonesia memacu pada Undang-undnag No. 17
Tahun 2008 tentang Pelayaran dan PP No. 61 tahun 2009 tentang kepelabuhanan, yang
pada dasarnya merupakan re-regulasi dari perturan perundang-undangan yang di
gantikannya. Pada intinya, terdapat pengaturan ulang dalam kepelabuhan yang
menetapkan Otoritas Pelabuhan (OP) atau unit Penyelenggara Pelabuhan (UUP) yang
terbentuk government agency sebagai regulator dan Badan Usaha Pelabuhan (BUP)
yang berstatus swasta sebagai operator pelabuhan. Pada satu sisi, komersialisasi
pelabuhan merupakan peluang dari sektor Swasta,dan pada sisi lain merupakan cara
pemerintah untuk mereformasi layanan yang lebih baik kepada para pengguna
pelabuhan.
Kegiatan pengusaha pelabuhan secara komersial di selenggarakan berdasarkan
kerjasama antara OP/UUP dan BUP dalam bentuk kontrak konsesi atau kontrak kerja
sama. Kontrak tersebut pada prinsipnya adalah pemberian izin pemerintah atau OP/UUP
kepada BUP selaku operator dalam penyediaan layanan kepelabuhan tertentu, seperti
kegiatan operasi terminal, pemanduan dan pemilihan. Ijin pengusaha yang paling umum

13

di pilih antara lain berskema sewa jangka panjang (long term leases), lisensi operasi
(operating licese ) dan BOT (Build operate and transfer).
2.4. Masterplan Percepatan, Perluasan dan Pembangunan Ekonomi Indonesia
(MP3EI)
Pembangunan korider ekonomi di Indonesia di lakukan berdasarkan potensi dan
keunggulan masing-masing wilayah yang tersebar di seluruh Indonesia. Sebagai Negara
yang terdiri atas ribuan pulau dan terletak di antara dua samudera, wilayah kepulauan
Indonesia memiliki sebuah kostelasi yang unik, dan tiap kepulauan besarnya memiliki
peran strategis masing-masing yang kedepanyaakan menjadi pilar utama untuk
mencapai visi misi Indonesia tahun 2025. Dengan memperhitungkan berbagai potensi
dan peran strategis masing-masing pulau besar (sesuai dengan letak dan kedudukan
geografis masing-masing pulau), telah di tetapkan 6 (enam) koridor ekonomi seperti
yang terlihat pada gambar berikut.

Gambar 2. 1. Tema pengembangan koridor ekonomi Indonesia

Berdasarkan gambar di atas, lokasi studi masuk dalam Koridor Ekonomi PapuaKepulauan. Koridor Ekonom Papua-Kepualan mempunyai peran sebagai Pusat
Pengembangan Pangan, Perikanan, Energi dan Pertambangan Nasional. Koridor ini di

14

harapakanmenjadi garis depan ekonomi nasional terhadap pasar Asia Timur, Australia,
dan Amerika.
2.5. Cetak Biru Pengembangan Sistem Logistik Nasional (PP. No. 26 Tahun 2012)
Dalam lampiran Cetak Biru Pengembangan Sistem Logistik Nasional
dijelaskan bahwa Infrastruktur dan Jaringan Transportasi Global merupakan bagian dari
konektivitas global (global connectivity) yang diharapkan mampu menghubungkan
pusat-pusat pertumbuhan ekonomi utama (national gate way) ke pelabuhan hub
internasional baik di wilayah barat Indonesia maupun wilayah timur Indonesia, serta
antara Pelabuhan Hub Internasional di Indonesia dengan Pelabuhan hub internasional di
berbagai negara yang tersebar pada lima benua. Pada tahun 2025 diharapkan Sistem
Logistik Nasional akan terhubung dengan sistem logistik global, melalui jaringan
infrastrukturmultimoda.
Selain memenuhi persyaratan aspek teknis pelabuhan internasional, lokasi
Pelabuhan Hub Internasional dipilih dengan kriteria diantaranya berada di wilayah
depan atau dilalui ALKI, memperkuat kedaulatan dan ketahanan nasional (ekonomi,
politik, hankam, sosial, budaya, perdagangan, industri), meningkatkan efektifitas azas
cabotage, mewujudkan Indonesia sebagai Negara Maritim, meningkatkan daya tahan
dan daya saing produk domestik, filtering barang impor yang mengancam produsen
produk domestik, berpotensi dapat dikembangkan menjadi pusat pertumbuhan ekonomi
yang baru, menghela "unusual business growth", memiliki kecukupan lahan untuk
pengembangan, tidak menimbulkan "social cost" yang besar, mempermudah pemerataan
pembangunan ekonomi secara inklusif.
Berdasarkan konsep wilayah depan dan wilayah dalam di atas, maka
diharapkan pintu-pintu masuk (pelabuhan) untuk barang-barang impor, terutama
komoditas pokok dan strategis dan barang impor yang berpotensi merugikan industri
domestik, hanya akan diperboleh untuk masuk Indonesia melalui wilayah depan Negara
Indonesia. Pintu wilayah depan ini memiliki peranan sebagai sarana untuk menyaring
barang masuk, yang dilaksanakan melalui proses clearance pabean, karantina, dan

15

pemenuhan terhadap ketentuan-ketentuan yang berlaku di Indonesia dengan tidak


melanggar azas kesepakatan (agreement) baik ASEAN 2015 maupun WTO 2020.
Selain itu juga lokasi pintu-pintu masuk ini diharapkan menjadi Hub Ekonomi
dan Hub Logistik yang menjadi fasilitator kerjasama Indonesia dengan negara-negara
tetangga dalam kerangka kerjasama segitiga IMT (Indonesia, Malaysia dan Thailand),
IMS (Indonesia, Malaysia dan Singapura), BIMP (Brunei, Indonesia, Malaysia dan
Philipina) dan ADDA (Australia dan Indonesia). Sesuai dengan MP3EI untuk Wilayah
Barat Indonesia adalah Kuala Tanjung, sedangkan untuk Wilayah Timur Indonesia yang
menjadi Hub Internasional berdasarkan atas kriteria tersebut adalah Bitung.

2.6.

Cetak Biru Transportasi Antarmoda/Multimoda (Kepmen No. 15 Tahun 2010)


Cetak biru transportasi antarmoda/multimoda tahun 2010 - 2030 didasarkan

kepada peraturan Menteri Perhubungan nomor: KM 15 Tahun, tanggal 17 Pebruari


2010. Merupakan arah pengembangan dan pembangunan transportasi antarmoda/
multimoda, dalam kelancaran arus barang dan arus penumpang, serta mendukung sistem
logistik nasional yang efektif dan efisien.
Visi transportasi antarmoda/multimoda adalah: Arus barang dan mobilitas
orang efektif dan efisien, Hal itu dimaksudkan bahwa pada tahun 2030 transportasi
antarmoda/multimoda diharapkan mampu mendukung kelancaran arus barang dan
mobilitas orang, sehingga tercapai efisiensi dan efektifitas dalam kegiatan ekonomi dan
masyarakat.
Misi transportasi antarmoda/multimoda adalah:
a. Mewujudkan kelancaran arus barang.
b. Mewujudkan kelancaran mobilitas orang.
Hal tersebut merupakan upaya yang dilaksanakan, agar visi transportasi
antarmoda/multimoda yaitu arus barang mobilitas orang yang efektif dan efisien.
Tujuan yang ingin dicapai visi dan misi tranportasi antar/multimoda adalah:
a. Menekan lamanya waktu pelayanan pada simpul moda transportasi.

16

b. Menurunkan biaya

pelayanan transportasi

pada simpul moda

transportasi.
c. Meningkatkan kelancaran arus barang dan mobilitas orang pada kota
metropolitan.
d. Meningkatkan aksesibilitas masyarakat dari dan ke daerah tertinggal.
Kebijakan dalam upaya mewujudkan misi kelancaran arus barang transportasi
antarmoda/multimoda adalah sebagai berikut:
a. Meningkatkan kualitas badan usaha angkutan multimoda.
b. Meningkatkan keterpaduan jaringan prasarana pada simpul transportasi
laut.
c. Meningkatkan keterpaduan jaringan prasarana pada simpul transportasi
udara.
d. Meningkatkan aksesibilitas transportasi pada daerah tertinggal
2.7.

Sistem Transportasi Nasional


Sistranas adalah tatanan transportasi yang terorganisasi secara kesisteman

terdiri dari transportasi jalan, transportasi kereta api, transportasi sungai dan danau,
transportasi penyeberangan, transportasi laut, transportasi udara serta transportasi pipa
yang masing-masing terdiri dari sarana dan prasarana (kecuali pipa) yang saling
berinteraksi membentuk sistem pelayanan jasa transportasi, yang berfongsi melayani
perpindahan orang dan barang, yang efektif, efisien, terpadu dan harmonis yang
berkembang secara dinamis.
Tujuan Sistranas adalah terwujudnya penyelenggaraan transportasi yang efektif
dan efisien.Efektif dalam arti selamat, aksesibilitas tinggi, terpadu, kapasitas mencukupi,
teratur, lancar dan cepat, mudah didapat, tepat waktu, nyaman, tarif terjangkau, tertib,
aman, serta polusi rendah.Efisien dalarn arti beban publik rendah dan utilitas tinggi
dalam satu kesatuan jaringan transportasi nasional.
Sesuai dengan perannya, Sistranas adalah urat nadi kehidupan politik,
ekonomi, sosial budaya, dan pertahanan keamanan.Sistranas mempunyai fungsi ganda,
yaitu sebagai unsur penunjang dan pendorong.Sebagai unsur penunjang, Sistranas
berfungsi menyediakan jasa transportasi yang efektif dan efisien untuk memenuhi

17

kebutuhan sektor lain, sekaligus juga berfungsi ikut menggerakkan dinamika


pembangunan nasional serta sebagai industri jasa yang dapat memberikan nilai
tambah.Sedangkan sebagai unsur pendorong, Sistranas berfungsi menyediakan jasa
transportasi yang efektif untuk menghubungan daerah terisolasi dengan daerah
berkembang yang berada di luar wilayahnya, sehingga terjadi pertumbuhan
perkenomian yang sinergis.
Elemen penting di dalam Sistranas adalah moda transportasi, jaringan
transportasi dan penyelenggara kegiatan transportasi.Ketiga elemen ini adalah juga
menjadi elemen penting atau memegang peranan penting dalam kegiatan logistik.Salah
satu kegiatan logistik yang penting adalah pengaturan perpindahan barang dari titik asal
pengiriman hingga titik akhir penerimaan.Dalam perpindahan barang tersebut
memerlukan moda transportasi dan pemilihan rute yang paling efisien yang
diselenggarakan oleh penyedia jasa transportasi yang profesional dan kredibel.
Dalam Sistem Logistik Nasional, Sistranas sangat memegang peranan penting.
Penciptaan sistem transportasi yang efektif dan efisien akan mendorong terciptanya
Sistem Logistik Nasional yang efektif dan efisien pula. Karena itu pembangunan Sistem
Logistik Nasional haruslah berjalan bersesuaian dengan Sistranas.
Beberapa

kebijakan

dalam

Sistranas

yang

dapat

menjadi

landasan

pembangunan urat nadi (backbone) penyelenggaraan Sistem LogistikNasional yang


efektif dan efisien sehingga dapat meningkatkan daya saing di sektor industri lainnya
adalah :
a. Meneliti surplus dan defisit komoditas yang dihasilkan serta dibutuhkan
masing-masing daerah, dalam rangka memprediksi pola pergerakan barang
guna mengantisipasi kebutuhan transportasi.
b. Meningkatkan pelayanan angkutan dari dan ke pusat perdagangan dan
pergudangan barang-barang strategis.
c. Mendorong profesionalisme dan keterpaduan berbagai pihak dalam mata
rantai sistem logistik nasional, khususnya perusahaan transportasi agar lebih
efektif dan efisien.

18

d.

Melakukan penelitian terhadap sentra produksi sektor lain serta asal tujuan
pergerakkannya, sehingga

dapat

diantisipasi

kebutuhan

pelayanan

transportasi. Sebaliknya informasi dini pembangunan sektor lain yang


membutuhkan

dukungan

transportasi disampaikan ke institusi yang

bertanggung jawab di bidang transportasi.


e. Melakukan pengkajian kandungan biaya transportasi dalam harga jual
produksi sektor lain dalam rangka efisiensi.
f. Menyelenggarakan angkutan perintis untuk daerah-daerah tertentu dimana
produksi sektor lain belum dapat bersaing karena masalah transportasi.
Jika dilihat dari Pola Dasar, Kebijakan Umum dan Arab Perwujudan Sistranas,
secara umum Sistranas sudah baik dalam substansi permasalahan dan struktur uraiannya.
Hal yang perlu dipertajam dalam Sistranas adalah pembedaan arahan yang lebih
eksplisit terhadap sistem transportasi untuk orang dengan sistem transportasi untuk
barang, serta arahan bagi antarmoda dan multimoda baik bagi transportasi untuk orang
maupun untuk barang.
Jika ditinjau dari arah perwujudan jaringan seperti yang diuraikan dalam
Sistranas, dimana jaringan transportasi nasional itu sangat beragam dan luas dimana
mencakup transports! jalan, kereta api, sungai dan danau, penyeberangan, laut, udara,
pipa, antar moda dan sistem multimoda, itu merupakan sistem transportasi yang lengkap
dan mendasar yang nantinya akan menjadi landasan yang kuat bagi Sistem Logisik
Nasional yang sedang akan dibangun saat ini.

2.8.

Kebijakan Tata Ruang Wilayah Kabupaten Raja Ampat


Berdasarkan PERDA no.3 Tahun 2012 Tentangn Rencana Tata Ruang Wilayah

Kabupaten Raja Ampat tahun 2011-2030, Penataan Ruang Kabupaten Raja Ampat
bertujuan untuk mewujudkan Ruang wilayah yang aman, nyaman, produktif, dan
berkelanjutan dalam rangka menciptakan Kabupaten Raja Ampat sebagai Kabupaten
Bahari menuju masyarakat yang sehat, berpendidikan, sejahtera, dan berkeadilan
Kebijakan dan strategi penataan ruang terdiri atas :

19

(1) Strategi pengembangan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi yang merata dan


berhirarki terdiri atas :
a. mendorong pengembangan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi wilayah agar
lebih kompetitif dan efektif;
b. menjaga

keterkaitan

antara

kawasan

perkotaan

dengan

kawasan

perkampungan dan antara kawasan perkotaan serta wilayah di sekitarnya; dan


c. meningkatkan kapasitas sarana dan prasarana sosial dan ekonomi dalam
rangka penyebaran pusat-pusat aktivitas dan pertumbuhan ekonomi secara
merata di seluruh wilayah Kabupaten Raja Ampat.
(2) Strategi peningkatan aksesibilitas dan pelayanan infrastruktur terdiri atas :
a. mengembangkan sistem transportasi terpadu untuk meningkatkan aksesibilitas
eksternal dan internal wilayah Kabupaten Raja Ampat;
b. meningkatkan kapasitas pelayanan bandar udara;
c. meningkatkan kapasitas pelayanan sarana prasarana wilayah berupa sistem
jaringan energi, sistem jaringan telekomunikasi, sistem jaringan sumber daya
air, dan sistem prasarana pengelolaan lingkungan;
d. mengembangkan pembangkit listrik tenaga air dan tenaga mikrohidro untuk
memanfaatkan sumber energi terbarukan;
e. mengembangkan sistem jaringan telekomunikasi berupa sistem jaringan
terestrial, seluler dan satelit hingga ke daerah-daerah terpencil; dan
f. mengembangkan jaringan air bersih, drainase, air limbah dan pengelolaan
sampah yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
(3) Strategi peningkatan upaya pelestarian lingkungan hidup pada kawasan lindung
dan kawasan budi daya terdiri atas :
a. meningkatkan

upaya

pelestarian

kawasan

lindung

untuk

menjaga

keseimbangan ekosistem dan habitat satwa asli;


b. meningkatkan pelestarian habitat asli daerah; dan
c. membatasi kegiatan budidaya di kawasan lindung untuk mencegah kerusakan
lingkungan.
(4) Strategi pengembangan ekowisata yang didukung oleh pengembangan perikanan
dan kelautan, pertanian, kehutanan, sarana dan prasarana pendukung terdiri atas :

20

a. mengembangkan daerah tujuan wisata dengan obyek wisata alam tropis dan
sosial budaya masyarakat;
b. membangun sarana dan prasarana pendukung kegiatan ekowisata di daerah
tujuan wisata;
c. meningkatkan produktivitas dan daya saing dari sektor perikanan dan
kelautan, pertanian, dan kehutanan;
d. mengembangkan komoditas unggulan di tiap-tiap Distrik yang sesuai dengan
potensi sumber daya alam sekaligus mengusung kearifan budaya lokal; dan
e. meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat dengan melibatkan peran serta
masyarakat dalam memanfaatkan dan mengolah hasil sumber daya alam yang
lestari dan berpotensi sebagai komoditas unggulan.
(5) Strategi pengembangan kawasan strategis Kabupaten Raja Ampat untuk
kepentingan ekonomi dan lingkungan hidup terdiri atas :
a. meningkatkan penyediaan infrastruktur dasar untuk mendukung kegiatan di
kawasan strategis Kabupaten Raja Ampat; dan
b. mengoptimalkan fungsi kawasan yang memiliki potensi di sektor perikanan
dan kelautan, serta pariwisata.
(6) Strategi

peningkatan

fungsi

kawasan

untuk

pertahanan

dan

keamanan

sebagaimana terdiri atas :


a. mendukung penetapan kawasan strategis nasional bidang pertahanan dan
keamanan;
b. mengembangkan kawasan lindung dan/atau kawasan budidaya tidak
terbangun di sekitar aset-aset pertahanan dan keamanan;
c. mengembangkan kegiatan budidaya secara selektif di dalam dan di sekitar
aset-aset pertahanan untuk menjaga fungsi pertahanan dan keamanan; dan
d. turut serta memelihara dan menjaga aset-aset pertahanan dan keamanan
negara.
2.8.1. Rencana Struktur Ruang

21

Struktur ruang adalah susunan pusat-pusat pemukiman dan sistem jaringan


prasarana dan sarana yang berfungsi sebagai pendukung kegiatan sosial ekonomi
masyarakat yang secara hirarkis memiliki hubungan fungsional.
Rencana struktur ruang atau rencana sistem kegiatan pembangunan adalah
rencana yang menggambarkan keterkaitan fungsional dan besaran/skala kegiatan antara
kawasan-kawasan dalam kawasan budidaya, terutama kawasan budidaya yang dominan
dan dapat membangkitkan pergerakan dengan intensitas yang relatif tinggi. Rencana
struktur tata ruang ini dirumuskan berdasarkan konsepsi, kebijakan dan strategi
pengembangan tata ruang.
(1) Rencana struktur ruang wilayah Kabupaten Raja Ampat meliputi :
a. pusat-pusat kegiatan;
b. sistem jaringan prasarana utama; dan
c. sistem jaringan prasarana pendukung lainnya.
(2) Rencana struktur ruang wilayah yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari
Peraturan Daerah ini termasuk didalamnya :
a.kawasan lindung;
b.

kawasan budidaya;

c.kawasan khusus.
A. Rencana Pengembangan dan Kriteria Sistem Perkotaan
Berkaitan dengan penetapan pusat-pusat pertumbuhan serta hirarki pelayanan,
ditentukan sistem kota-kota yang berlaku di masing-masing SWP. Struktur ruang Raja
Ampat dilakukan dengan meningkatkan fungsi pusat-pusat SWP sebagai pusat-pusat
pertumbuhan. Sistem kota-kota dalam struktur ruang Raja Ampat tidak mendorong
untuk munculnya pusat permukiman baru. Pertumbuhan penduduk yang akan dialami
oleh Raja Ampat dalam jangka waktu perencanaan selama dua dekade mendatang
dialokasikan pada pusat-pusat pertumbuhan eksisting. Sistem kota-kota ini didasarkan
atas analisis hirarki pusat-pusat permukiman di Kabupaten Raja Ampat yang terdiri
sebagai berikut:
1. Pusat Kegiatan Lokal yang selanjutnya disingkat PKL adalah kawasan perkotaan
yang berfungsi untuk melayani kegiatan skala Kabupaten atau beberapa Distrik.

22

PKL di Kabupaten Raja Ampat yaitu kawasan perkotaan Waisai di Distrik Waisai
Kota.
2. Pusat Kegiatan Lokal Promosi yang selanjutnya disingkat PKLP adalah kawasan
perkotaan yang dipromosikan untuk menjadi PKL.
PKLP di Kabupaten Raja Ampat terdapat di :
a.Kampung Kabare Distrik Waigeo Utara;
b.

Kampung Folley Distrik Misool Timur; dan

c.Kampung Samate Distrik Salawati Utara.


3. Pusat Pelayanan Kawasan yang selanjutnya disingkat PPK adalah kawasan
perkotaan yang berfungsi untuk melayani kegiatan skala Distrik atau beberapa
Kampung.
PPK di Kabupaten Raja Ampat terdapat di :
a. Kampung Urbinasopen Distrik Waigeo Timur;
b. Kampung Yenbekwan Distrik Meos Manswar;
c. Kampung Dorehkar Distrik Ayau;
d. Kampung Folley Distrik Misool Timur;
e. Kampung Mikiran Distrik Kofiau; dan
f. Kampung Yenanas Distrik Batanta Selatan.
4. Pusat Pelayanan Lingkungan yang selanjutnya disingkat PPL adalah pusat
permukiman yang berfungsi untuk melayani kegiatan skala antar Kampung.
PPL di Kabupaten Raja Ampat terdapat di :
a. Kampung Saonek Distrik Waigeo Selatan;
b. Kampung Waisilip Distrik Waigeo Barat Daratan;
c. Kampung Manyaifun Distrik Waigeo Barat Kepulauan;
d. Kampung Rauki Distrik Supnin;
e. Kampung Warwanai Distrik Wawarbomi;
f. Kampung Warsambin Distrik Teluk Mayalibit;
g. Kampung Goo Distrik Tiplol Mayalibit;
h. Kampung Abidon Distrik Kepulauan Ayau;
i. Kampung Dabatan Distrik Misool Selatan;

23

j. Kampung Lilinta Distrik Misool Barat;


k. Kampung Weijim Barat Distrik Kepulauan Sembilan;
l. Kampung Kalobo Distrik Salawati Tengah;
m. Kampung Yensawai Timur Distrik Batanta Utara; dan
n. Kampung Wayom Distrik Salawati Barat.
B. Sistem Jaringan Prasarana Utama
1. Sistem Jaringan Transportasi Darat
Sistem jaringan transportasi darat terdiri atas :
a. Jaringan Jalan
- Jaringan jalan arteri sekunder terdiri atas :
1

ruas jalan di Pulau Waigeo sepanjang 570,378 km, meliputi ruas jalan :
a.Waisai - Warsambin - Lopintol;
b.

Waisai - Saporkren;

c.Lopintol - Wauyai;
d.

Lopintol - Waisai;

e.Saporkren - Wauyai;
f. Mumes - Yensner - Urbinasopen - Yenbekaki - Puper - Mnier Warwanai - Kabare;
g.

Kabare - Kapadiri - Goo;

h.

Kabare - Warimak - Waifoi - Goo;

i. Warimak - Kalitoko;
j. Goo - Salio;
k.

Wauyai - Araway;

l. Goo - Kabilol;

m.

Wauyai - Waisilip - Selpele;

n.

Saukabu - Saupapir;

ruas jalan di Pulau Batanta sepanjang 78,55 km, meliputi ruas jalan:
a.Yensawai - Waringgabom - Yenanas;
b.

Yenanas - Amdui;

3. ruas jalan lingkar pulau Gam sepanjang 45 km, meliputi ruas jalan :
Kabui - Yenbeser - Sawinggrai - Yenwaupnor - Kapisawar

24

4. ruas jalan di Pulau Salawati sepanjang 123,95 km, meliputi ruas jalan :
a. Wailen - Sakabu - Waijan - Samate
b. Samate - Kapatlap - Solol - Wayom - Kalyam - Kalwal;
c. Yenanas - Waiman - Wailebet.
5. Misool sepanjang 176,46 km meliputi ruas jalan :
a.Folley - Lenmalas - Atkari - Solal - Salafen - Waigama;
b.

Waigama - Aduwei - Kapatcol - Lilinta;

c.Folley - Tomolol;
d.

Gamta - Biga - Lilinta - Kapatcol.

6. ruas jalan di Pulau Kofiau sepanjang 9,7 km meliputi ruas jalan Mikiran Awat - Atar.
b.

Jaringan Prasarana Lalu Lintas


a.terminal penumpang :
1

terminal di Pulau Waigeo yaitu terminal Waisai - Warsambin - Kalitoko Mumes - Kabare;

2 terminal di Pulau Batanta yaitu terminal Wailebet - Yenanas

dan

Waringgabom;
3 terminal di Pulau Salawati yaitu terminal Kalobo - Samate dan terminal
Wayom;
4 terminal di Pulau Misool yaitu terminal Folley dan Waigama.
b.

terminal barang terdiri atas :


1. terminal di Pulau Waigeo yaitu terminal Waisai dan Kabare;
2. terminal di Pulau Salawati yaitu terminal Samate;
3. terminal di Pulau Misool yaitu terminal Salafen.

c.Jaringan Layanan Lalu Lintas.


1. Trayek angkutan umum di Pulau Waigeo yaitu :
a.Waisai - Warsambin - Lopintol;
b.

Waisai - Saporkren;

c.Lopintol - Wauyai;
d.

Saporkren - Wauyai;
25

e.Mumes - Yensner - Urbinasopen - Yenbekaki - Puper - Mnier Warwanai - Kabare;


f. Kabare - Kapadiri - Goo;
g.

Kabare - Warimak - Waifoi - Goo;

h.

Warimak - Kalitoko;

i. Goo - Salio;
j. Wauyai - Araway;
k.

Goo - Kabilol;

l. Wauyai - Waisilip - Selpele;


m.

Saukabu - Saupapir;

2. Trayek Angkutan umum di Pulau Batanta yaitu :


a. Yensawai - Waringkabom - Yenanas;
b. Yenanas - Amdui;
c. Yenanas - Waiman - Wailebet.
3. Trayek Angkutan umum di Pulau Salawati yaitu :
a. Samate - Kapatlap - Wailen - Solol - Wayom- Kaliyam - Kalwal;
b. Samate - Waijan - Waimeci - Kalobo - Sakabu.
4. Trayek Angkutan umum di Pulau Misool yaitu :
a. Folley - Lenmalas;
b. Lenmalas - Audam;
c. Folley - Atkari - Solal - Salafen - Waigama;
d. Waigama - Aduwei ;
e. Kapatcol - Lilinta - Biga - Magey - Gamta;
f. Lilinta - Fafanlap - Usaha Jaya Tomolol - Folley.
2. Sistem Jaringan Transportasi Laut
(2) Tatanan pelabuhan Regional terdapat di :
g. pelabuhan Waisai;
h. pelabuhan Saunek;
i. pelabuhan Fafanlap;
j. pelabuhan Paam;

26

k. pelabuhan Salafen; dan


l. pelabuhan Kabare.
(2) Alur pelayaran yaitu berupa rute angkutan laut, dari dan ke :
a. Ternate - Kabare - Waisai - Saunek - Sorong (PP);
b. Waisai - Saunek - Sorong (PP);
c. Waisai - Saunek - Salafen - Fafanlap (PP);
d. Ambon - Fafanlap - Salafen - Sorong (PP).
e.
f.
g.
h.

Waisai - Urbinasopen - Warkori - Abidon (PP);


Waisai - Gag - Selpele (PP);
Waisai - Waringabom - Deer - Weijim - Salafen - Lenmalas (PP) ;
Salafen - Lenmalas - Yellu - Wayom - Waisai (PP) ;

Pemanfaatan alur pelayaran :


a. Dimanfaatkan oleh Pemerintah Daerah dan masyarakat untuk kepentingan
perikanan dan pertambangan.
b. Dimanfaatkan oleh Pemerintah Daerah dan masyarakat untuk kepentingan
tambatan perahu long boat, dan speed boat. Tambatan perahu terdapat di tiap
kampung dan Distrik.
(3) Tatanan pelabuhan Lokal di Kabupaten Raja Ampat terdapat di Pelabuhan
Abidon, Warkori, Urbinasopen, Pam, Deer, Wayom, Waringabom, Mnier, Gag,
Selpele, Lenmalas, Weijim, dan Yellu.
(4) Tatanan pelabuhan Khusus terdapat di Distrik Samate.
3. Sistem Jaringan Transportasi Udara
(1) Tatanan bandar udara yaitu berupa bandar udara penumpang, terdiri atas :
a. Bandar udara Marinda di Waisai;
b. Bandar udara Gag di Distrik Waigeo Barat Kepulauan;
c. Bandar udara Asukweri di Distrik Waigeo Utara;
d. Bandar udara Dorehkar di Distrik Ayau;
e. Bandar udara Jefman di Distrik Salawati Utara;dan
f. Bandar Udara Misool di distrik Misool Timur.
(2) Ruang udara terdiri atas :
a. Ruang udara di sekitar bandara yang dipergunakan untuk operasi
penerbangan yang berada di wilayah udara Kabupaten Raja Ampat; dan

27

b. Ruang udara yang ditetapkan sebagai jalur penerbangan diatur dalam


Peraturan Perundang-Undangan nasional dan internasional.
C. Sistem Jaringan Energi
(1) Pembangkit tenaga listrik terdiri atas :
d.

Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD), terdapat di 24 Distrik yang


meliputi :
1. Waisai Kota;
2. Distrik Kepulauan Ayau;
3. Distrik Ayau;
4. Distrik Waigeo Barat;
5. Distrik Waigeo Utara;
6. Distrik Waigeo Timur;
7. Distrik Waigeo Selatan;
8. Distrik Teluk Mayalibit;
9. Distrik Tiplol Mayalibit;
10. Distrik Waigeo Barat Kepulauan;
11. Distrik Waigeo Barat Daratan;
12. Distrik Kofiau;
13. Distrik Kepulauan Sembilan;
14. Distrik Misool Utara;
15. Distrik Misool Timur;
16. Distrik Misool Selatan;
17. Distrik Misool Barat;
18. Distrik Batanta Utara;
19. Distrik Batanta Selatan
20. Distrik Salawati Tengah;
21. Distrik Salawati Utara;
22. Distrik Salawati Barat;
23. Distrik Supnin;
24. Distrik Wawarbomi;

28

25. Distrik Meos Mansar; dan


b.

Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH) terdapat di Distrik Waigeo


Timur dan Distrik Teluk Mayalibit; dan

c.

Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dengan skala pelayanan rumah


tangga terdapat di 24 Distrik, 4 Kelurahan dan 117 Kampung di Kabupaten
Raja Ampat.

(2) Jaringan prasarana energi adalah jaringan transmisi tenaga listrik.


(3) Jaringan transmisi tenaga listrik adalah gardu induk dan terdapat di 24 Distrik, 4
Kelurahan dan 117 Kampung.
D. Sistem Jaringan Telekomunikasi
(1) Sistem jaringan kabel dikembangkan di 24 Distrik, 4 Kelurahan, dan

117

Kampung di Wilayah Kabupaten Raja Ampat.


(2) Sistem jaringan seluler dikembangkan di 24 Distrik, 4 Kelurahan, dan 117
Kampung di Wilayah Kabupaten Raja Ampat.
(3) Sistem jaringan satelit dikembangkan di 24 Distrik, 4 Kelurahan, dan 117
Kampung di Wilayah Kabupaten Raja Ampat.
(4) Sistem Pemancar Radio SSB dikembangkan di 24 Distrik, 4 Kelurahan, dan 117
Kampung.
E. Sistem Jaringan Sumber Daya Air
(1)

Wilayah Sungai dan/atau kali yaitu Wilayah Sungai/kali Kawe, Kabare,


Wakre, Wairemuk, Wai, Mulubajong, Yanggelo, Batangpele, Gag, Penemo,
Pambemuk, Batanta, Waibani, Waijan, Misool, Waitebi, Waibu, Waiyar.

(2)

Prasarana air baku untuk air minum terdiri atas :


a. air permukaan; dan
b. air tanah.

(3)

Jaringan Irigasi terdiri atas :


a. Daerah Irigasi Kalobo dengan luas 55 Ha, di Distrik Salawati Tengah;
b. Daerah Irigasi Waijan dengan luas 883 Ha, di Distrik Salawati Tengah;

29

c. Daerah Irigasi Waibu dengan luas 71 Ha, di Distrik Salawati Tengah;


(4)

Air permukaan terdiri atas :


a. Seluruh wilayah sungai dan/atau kali
b. sumur Gali yang terdapat di 24 Distrik, 4 Kelurahan dan 117 Kampung di
Kabupaten Raja Ampat; dan
c. mata air di 24 Distrik, 4 Kelurahan dan 117 Kampung di Kabupaten Raja
Ampat.

(5)

Air tanah merupakan daerah cekungan air tanah (CAT). Cekungan air tanah adalah
suatu wilayah yang dibatasi oleh batas hidrogeologis, tempat semua kejadian
hidrogeologis seperti pengimbunan, pengaliran dan pelepasan air tanah berlangsung,
terbagi atas :
a.

CAT Bokapapo di Distrik Tiplol Mayalibit;

b.

CAT Waigeo di Distrik Waigeo Barat;

c.

CAT Wairemahu di Distrik Teluk Mayalibit;

d.

CAT Batanta di Distrik Batanta Utara;

e.

CAT Salawati di Distrik Salawati Tengah;

f.

CAT Atkari di Distrik Misool Utara;dan

g.

CAT Zaag di Distrik Misool Barat.

30

Gambar 2.2. Peta Kawasan Konservasi Sumber Daya Air Kabupaten Raja Ampat

31

(sumber: RIPPDA Kabupaten Raja Ampat)

F. Sistem Prasarana Pengelolaan Lingkungan


(1) Sistem pengelolaan persampahan terdiri atas:
a. pengembangan fasilitas pengelolaan sampah terpadu, Tempat Pembuangan
Akhir (TPA), lokasinya diarahkan Distrik Teluk Mayalibit;
b. tempat penampungan sementara (TPS) secara terpusat pada tiap unit-unit
lingkungan dan pusat kegiatan pelayanan tersebar dalam wilayah RT/RW pada
4 kelurahan di Distrik Waisai Kota;
c. penentuan lokasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1), apabila didasarkan
pada hasil kajian teknis dan sosialisasi kepada masyarakat, maka dapat
dinyatakan layak untuk digunakan sebagai lahan TPA, kecuali lahan tersebut
dinyatakan sebagai kawasan konservasi;
d. pengaturan lebih lanjut mengenai mekanisme pengelolaan sampah diatur secara
detail dalam masterplan tentang pengelolaan persampahan.
(2) Sistem pengelolaan limbah dilakukan secara langsung (on site) maupun tidak
langsung (off site). Sistem pengelolaan limbah, baik yang berasal dari limbah
domestik maupun industri, terdiri atas ;
a. sistem pengelolaan limbah cair
- untuk daerah dengan populasi padat dan atau berkelompok, diarahkan
-

melalui pembangunan IPAL komunal; dan


untuk daerah dengan populasi terpencar, diarahkan melalui pembangunan

IPAL individual;
b. sistem pengelolaan limbah padat, diarahkan melalui pengendapan atau
penimbuman (close dumping) pada lokasi TPA

32

(3) Sistem Jaringan Drainase adalah sistem jaringan drainase perkotaan yang merupakan
prasarana yang terdiri dari kumpulan sistem saluran yang berfungsi untuk
mengeringkan lahan dari banjir/genangan air, terdiri atas :
a. pola penampungan air sementara (detensi); dan
b. pola resapan (retensi);
Pembangunan pola penampungan air sementara dan pola resapan terdoro atas:
a. pembangunan jaringan drainase lokal yang melayani suatu kawasan kota
tertentu

seperti

kompleks

permukiman,

daerah

komersial,

kawasan

perkantoran, kawasan industri, pasar dan kawasan pariwisata;


b. pembangunan jaringan drainase utama yang terdiri dari saluran drainase
primer, sekunder dan tersier;
c. pembangunan kolam penampungan air dikawasan perkotaan;
d. pembangunan saluran/sumur/kolam resapan dikawasan perkotaan;
e. pembuatan sistem pengendalian banjir berupa tanggul beserta bangunan
pelengkap lainnya guna mengatur aliran air yang tersebar pada beberapa sungai
dan anak sungai/kali di pulau Waigeo, Pulau Batanta, Pulau Salawati, dan
Pulau Misool.
(4) Jalur evakuasi bencana akibat terjadinya :
a. bencana gempa bumi;
b. bencana Tsunami;
c. bencana Banjir;
d. bencana Kekeringan Tanah;
e. bencana Angin; dan
f. bencana Gelombang.
(5) Sistem perencanaan pengembangan Prasarana lainnya terdiri atas :
a. rencana pengembangan prasarana dan sarana energi dan telekomunikasi terdiri
dari pengelolaan jaringan listrik dan telepon;
b. rencana pengembangan jaringan listrik adalah penambahan kapasitas jaringan
listrik sesuai dengan arah pengembangan dan potensi wilayah; dan
c. rencana pengembangan teknologi komunikasi adalah dengan peningkatan luas
daerah dan kualitas pelayanan serta menggunakan teknologi terkini.
2.8.2. Pola Ruang
Pola ruang adalah distribusi peruntukan ruang dalam suatu wilayah yang meliputi
peruntukan ruang untuk fungsi lindung dan peruntukan ruang untuk fungsi budidaya.

33

Pola ruang wilayah kabupaten merupakan gambaran pemanfaatan ruang wilayah


kabupaten, baik untuk pemanfaatan yang berfungsi lindung maupun budidaya. Pola
ruang wilayah kabupaten merupakan penjabaran lebih rinci dari Rencana Tata Ruang
Wilayah Nasional dan Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi. Pola ruang wilayah
kabupaten

dikembangkan

dengan

sepenuhnya

memperhatikan

daya

dukung

sumberdaya wilayah yang dimiliki serta mengacu pada Rencana Tata Ruang Wilayah
Nasional dan Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi.
Berdasarkan PERDA No.3 Tentangn Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten
Raja Ampat Tahun 2011-2030, Penataan Ruang Kabupaten Raja Ampat bertujuan
untuk mewujudkan Ruang wilayah yang aman, nyaman, produktif, dan berkelanjutan
dalam rangka menciptakan Kabupaten Raja Ampat sebagai Kabupaten Bahari menuju
masyarakat yang sehat, berpendidikan, sejahtera, dan berkeadilan.
Ruang lingkup RTRW Kabupaten Raja Ampat, mencakup :
a.

Wilayah Perencanaan yang meliputi seluruh wilayah administratif


seluas 72.038,03 Km2; mencakup :
-

Wilayah Laut dengan luas 65.953,53 Km2.

Wilayah Daratan dengan luas 6.084,5 Km2 yang terdiri dari 1.847 pulau
sebagaimana termuat dalam Lampiran V dan merupakan satu kesatuan yang
tidak terpisahkan dari Peraturan Daerah ini.

b.

Posisi geografis wilayah Kabupaten Raja Ampat terletak pada posisi


1,29o1416-131o2826 Bujur Timur

dan

1,19o3490

Lintang Utara

-2,24o3040 Lintang Selatan.


c.

Batas-batas wilayah Kabupaten meliputi :


-

Sebelah Utara
Sebelah Selatan

:
:

Samudera Pasifik dan Republik Palau.


Laut Seram, Kabupaten Maluku Tengah, dan Kabupaten

Sebelah Timur
Sebelah Barat

:
:

Seram Timur Propinsi Maluku Sebelah Timur.


Kota Sorong dan Kabupaten Sorong.
Laut Halmahera, dan Kabupaten Halmahera Tengah

Propinsi Maluku Utara.


Berdasarkan potensi sumberdaya alamnya, Kabupaten Raja Ampat sedikitnya
memiliki 8 (delapan) Pulau yang dapat dikembangkan sebagai kawasan andalan
pengembangan. Karena pengembangan Pulau-Pulau tersebut tidak dapat dilakukan

34

secara parsial, maka konsep pengembangan struktur ruangnya dikembangkan dalam


bentuk kluster-kluster pengembangan wilayah. Kluster-kluster tersebut diharapkan
dapat berkembang menjadi pusat-pusat pertumbuhan baru yang saling berinteraksi dan
bersinergi membentuk pertumbuhan wilayah Kabupaten secara berkelanjutan.
Tabel 2.1. Rencana Pengembangan Kawasan di Kabupaten Raja Ampat
No

Kluster

Arahan Pengembangan

1.

Pulau Waigeo dan sekitarnya

1. Pusat Pemerintahan
2. Agroindustri
Wisata dan Riset Sumberdaya Alam
3. Hayati
4. Infrastruktur Regional

2.

Pulau Mansuar dan sekitarnya

1. Wisata Bahari

3.

Pulau Ayau dan sekitarnya

1. Kelautan
2. Kawasan Perbatasan

4.

Pulau Misool dan sekitarnya

1. Agropolitan
2. Budidaya Kelautan

5.

Pulau Kofiau, Boo dan sekitarnya

1. Pusat Riset Ekosistem Perariran


2. Budidaya Pertanian dan Perikanan
3. Konservasi

Pulau Bantata, Salawati, dan


6.

sekitarnya

1. Kawasan Pertambangan
2. Agroindustri
3. Kehutanan

7.

Pulau Gag dan sekitarnya

1. Pertambangan
2. Budidaya Kelautan
3. Kehutanan

8.

Pulau Wayag dan sekitarnya

1. Wisata dan Riset Kelautan

Sumber : Hasil Analisis, RTRW 2011-2030

35

Rencana pola ruang wilayah pada Kabupaten Raja Ampat meliputi rencana
kawasan lindung dan kawasan budidaya.
Kawasan lindung adalah wilayah yang ditetapkan dengan fungsi utama
melindungi kelestarian lingkungan hidup yang mencakup sumberdaya alam dan
sumberdaya buatan.
Kawasan lindung terdiri atas :
a. kawasan cagar alam dan kawasan hutan lindung;
Kawasan cagar alam yang terdapat di Kabupaten Raja Ampat seluas 285.034 Ha,
terdiri atas :
(1) Kawasan Cagar Alam Pulau Salawati Utara dengan luasan 42.864 Ha;
(2) Kawasan Cagar Alam Batanta Barat dengan luasan 11.700 Ha;
(3) Kawasan Cagar Alam Misool Selatan dengan luasan 79.851 Ha;
(4) Kawasan Cagar Alam Waigeo dengan luasan 150.619 Ha, terdiri atas:
1. Kawasan Cagar Alam Waigeo Barat dengan luasan 64.991 Ha;
2. Kawasan Cagar Alam Waigeo Timur dengan luasan 85.628 Ha;
Kawasan hutan lindung

yang terdapat di Kabupaten Raja Ampat seluas

161.182,06 Ha, terdiri atas :


(1) Kawasan hutan lindung di Pulau Gag dengan luas 6.069 Ha;
(2) Kawasan hutan lindung Pulau Gam 19.105 Ha;
(3) Kawasan hutan Lindung Pulau Kofiau dengan luas 12.873 Ha;
(4) Kawasan hutan lindung Waigeo Barat Kepulauan dengan luas 3.700 Ha;
(5) Kawasan hutan lindung di Pulau Salawati dengan luas 33.548,06 Ha;
(6) Kawasan hutan lindung di Pulau Misool dengan luas 58.569 Ha;
(7) Kawasan hutan lindung di Pulau Batanta dengan luas 27.318 Ha.
b.

kawasan yang memberikan perlindungan terhadap kawasan bawahannya yaitu


berupa kawasan resapan air. Kawasan resapan air terdapat di bagian utara Pulau
Waigeo, bagian selatan Pulau Misool, bagian barat dan timur Pulau Batanta serta
beberapa bagian di wilayah Pulau Salawati.

c. kawasan perlindungan setempat;


(1) Kawasan sempadan pantai terdapat di sepanjang pantai di seluruh pulau,
dengan ketentuan :

36

a. daratan sepanjang tepian laut dengan jarak minimal 100 meter dari titik
pasang air laut tertinggi ke arah darat; atau
b. daratan sepanjang tepian laut yang bentuk dan kondisi fisik pantainya
curam atau terjal dengan jarak proporsional terhadap bentuk dan kondisi
fisik pantai.
(2) Kawasan sempadan sungai/kali terdapat di sungai/kali yang ada di
Kabupaten Raja Ampat dengan sungai/kali besar yaitu Sungai/kali Bayon dan
Sungai/kali Kamtabai di Pulau Waigeo dan Sungai/kali Kasim di Pulau
Misool, dengan ketentuan :
a. daratan sepanjang tepian sungai/kali besar tidak bertanggul diluar
kawasan permukiman dengan lebar 100 (seratus) meter dari tepi sungai;
b. daratan sepanjang tepian anak sungai/kali tidak bertanggul diluar
kawasan permukiman dengan lebar paling sedikit 50 (lima puluh) meter
dari tepi sungai/kali; dan
c. untuk sungai/kali dikawasan permukiman berupa sempadan sungai yang
diperkirakan cukup untuk dibangun jalan inspeksi antara 10-15 meter.
(3) Kawasan sekitar mata air/air terjun tersebar di seluruh wilayah Kabupaten
Raja Ampat, dengan ketentuan dengan kriteria kawasan sekitar mata air/air
terjun adalah sekurang-kurangnya berdiameter dengan jari-jari/lingkaran 200
meter disekitar mata air/air terjun.
(4) Kawasan lindung spiritual terdiri atas :
a. Benteng Yembekaki yaitu batu yang menyerupai benteng yang
merupakan benda purbakala;
b. Goa keramat/jere terdapat di Distrik Misool Selatan.
(5) Kawasan kearifan budaya lokal lainnya terdiri atas :
a. Kawasan yang merupakan ruang kelola adat yang pengelolaannya
ditetapkan dan atau diatur menurut tradisi/budaya setempat;
b. Kawasan hutan, pesisir pantai dan perairan laut yang menurut masyarakat
setempat mempunyai nilai religius/ magis.
d. kawasan suaka alam, pelestarian alam dan cagar budaya;
(1) Kawasan suaka alam laut terdiri atas:

37

a. Kawasan Suaka Alam Laut Kepulauan Raja Ampat dengan luasan


60.000 Ha; dan
b. Kawasan Suaka Alam Laut Waigeo Sebelah Barat dengan luasan
271.630 Ha.
(2) Kawasan suaka margasatwa laut yaitu Kawasan Suaka Margasatwa Laut
Pulau Raja Ampat yang terdapat di Distrik Waigeo Barat Kepulauan dengan
luas 60.000 Ha.
(3) Kawasan taman wisata alam laut yaitu Kawasan Taman Wisata Alam Laut
Pulau Tolobi dengan luas 6.808 Ha.
(4) Kawasan pantai berhutan bakau terdapat di bagian barat dan selatan Pulau
Waigeo, Pulau Salawati bagian Utara dan timur dan Pulau Misool bagian
Utara serta Pulau Kofiau dengan luas 162.935,32 Ha.
e. kawasan rawan bencana alam;
(1) Kawasan rawan bencana banjir, terdapat di Distrik Salati Tengah, Distrik
Salawati Barat, Distrik Batanta Utara, Distrik Waigeo Selatan, dan Distrik
Misool Utara.
(2) Kawasan rawan angin dan gelombang pasang di, Perairan Utara Pulau
Waigeo, Perairan Selat Dampir, Perairan Selat Sagawin, dan Perairan Misool.
(3) Kawasan rawan tsunami, terdapat di Kofiau, Waigeo Barat Kepulauan,
Salawati tengah dan Utara, Waisai, Kepulauan Ayau dan Ayau, pesisir Pantai
Misool bagian utara;
(4) Kawasan rawan kekeringan, terdapat di bagian Waigeo Timur.
f. kawasan lindung geologi;
(1) Kawasan cagar alam geologi terdiri atas :

a. kawasan keunikan batuan dan fosil, terdapat di Kampung Tomolol,


Kampung Wawiyai, Kampung Aduwei, Kampung Lopintol, Kampung
Dabatan dan Kepulauan Wayag;
b. kawasan keunikan bentang alam, terdapat di Kepulauan Ayau, Misool
Timur, Misool Selatan, dan Waigeo Barat Kepulauan; dan
(2) Kawasan rawan bencana alam geologi terdiri atas :

38

a. kawasan rawan letusan gunung api dasar laut terdapat dikepulaun Sain dan
kepulaun Wayag;
b. kawasan rawan gempa bumi terdapat dipulau Salawati, Pulau Batanta, Pulau
Kofiau;
c. Kawasan yang terletak di zona patahan aktif terdapat di Kepulauan Kofiau dan
Waigeo Barat Kepulauan;
d. kawasan rawan tsunami, terdapat di Kofiau, Waigeo Barat Kepulauan, Salawati
tengah dan Utara, Waisai, Kepulauan Ayau dan Ayau, pesisir Pantai Misool
bagian utara;
e. kawasan rawan abrasi pantai terdapat di Distrik Ayau dan Distrik Kepulauan
Ayau;
f. kawasan rawan bahaya gas beracun, terdapat di Pulau Salawati Tengah dan
Kepulauan Sembilan.
(3) Kawasan yang memberikan perlindungan terhadap air tanah terdiri atas :

a.

kawasan imbuhan air tanah; dan

b.

kawasan sempadan mata air.

g. kawasan lindung lainnya.


(1) Kawasan Konservasi Laut Daerah KKLD terdiri atas :
a. KKLD Selat Dampier dengan luasan 303.200 Ha;
b. KKLD Teluk Mayalibit dengan luasan 53.100 Ha;
c. KKLD Misool dengan luasan 366.000 Ha;
d. KKLD Kofiau dan Boo dengan luasan 170.000 Ha;
e. KKLD Sain dan Wayag dengan luasan 271.630 Ha; dan
f. KKLD Ayau-Asia dengan luasan 101.440 Ha.
(2) Kawasan Lindung Taman Pulau Kecil terdiri atas :
a. Pulau yang memiliki luas lebih kecil dari 1 Km2 dan/atau pulau yang
secara fisik tidak memungkinkan bagi kegiatan budidaya;
b. Pulau kecil yang mempunyai daya tarik sumber daya alam hayati,
formasi geologi, dan/atau gejala alam yang dapat dikembangkan untuk
kepentingan pemanfaatan pengembangan ilmu pengetahuan, penelitian,

39

pendidikan dan peningkatan kesadaran konservasi sumberdaya hayati,


wisata bahari dan rekreasi;
c. Pulau dan perairan disekitarnya cukup untuk menjaga kelestarian potensi
dan daya tarik serta pengelolaan pulau kecil yang berkelanjutan;
Kawasan budidaya adalah wilayah yang ditetapkan dengan fungsi utama untuk
dibudidayakan atas dasar kondisi dan potensi sumberdaya alam, sumberdaya manusia,
dan sumberdaya buatan.
Kawasan budidaya sebagaimana terdiri atas :
(1) kawasan peruntukan hutan produksi, terdiri atas:
a. Kawasan hutan produksi terbatas terdapat di pulau Weijim dengan luas 1.020
Ha dan pulau Salawati dengan luasan 14.638 Ha.
b. Kawasan hutan produksi tetap terdapat di Pulau Kawe dengan luasan 4.539 Ha.
c. Kawasan hutan produksi yang dapat dikonversi terdiri atas :
1

Pulau Salawati dengan luasan 14.638 Ha;

Pulau Waigeo bagian Barat dengan luasan 16.238 Ha;

Pulau Waigeo bagian Timur dengan luasan 79.563 Ha; dan

Pulau Misool dengan luasan 42.569 Ha.

(2) kawasan peruntukan hutan rakyat


(3) kawasan peruntukan pertanian, teriri atas
a. Kawasan peruntukan tanaman pangan terdapat di Distrik Salawati Utara, Distrik
Salawati Tengah, Distrik Teluk Mayalibit, Distrik Tiplol Mayalibit, Distrik
Waigeo Selatan, Distrik Misool Utara, Distrik Waigeo Utara, Distrik Kofiau,
Pulau Gag, dan Distrik Misool Selatan.
b. Kawasan peruntukan holtikultura terdapat di Pulau Waigeo, Pulau Salawati, Pulau
Batanta, dan Pulau Misool.
c. Kawasan peruntukan perkebunan yaitu berupa kawasan peruntukan perkebunan
kelapa di Kepulauan Waigeo, Pulau Salawati, Pulau Batanta, Pulau Misool, Pulau
Weijim dan Kepulauan Kofiau.
d. Kawasan peruntukan peternakan terdapat Salawati, Waigeo dan Misool;
(4) kawasan peruntukan perikanan, terdiri atas:

40

Kawasan peruntukan perikanan tangkap dan perikanan budidaya terdapat di perairan


di sekitar Pulau Kofiau, Pulau Salawati, Pulau Batanta, Pulau Misool, dan Pulau
Waigeo, dengan pembagian zonasi sebagai berikut :
a. ring I yaitu kawasan laut berjarak 0-4 mil, merupakan zona perikanan tangkap
dan perikanan budidaya yang sangat dibatasi pengembangannya;
b. ring II yaitu kawasan laut berjarak 4-12 mil, merupakan zona semi intensif
dimana penangkapan ikan dapat dilakukan dengan skala penangkapan yang lebih
besar namun tetap dibatasi dalam hal teknologi dan pola penangkapan ikan yang
dilakukan; dan
c. ring III yaitu kawasan laut berjarak lebih dari 12 mil, merupakan zona intensif
dimana penangkapan ikan dapat dilakukan dengan skala penangkapan yang lebih
besar dengan tetap mengikuti ketentuan Peraturan Perundang-Undangan yang
berlaku.
(5) kawasan peruntukan pertambangan, teriri atas:
a. Kawasan peruntukan pertambangan mineral terdiri atas :
-

kawasan peruntukan pertambangan nikel dan kobalt di Pulau Waigeo dan


Pulau Gag;

kawasan peruntukan pertambangan tembaga di Pulau Misool, Pulau Waigeo,


Pulau Batanta, dan Pulau Salawati.

kawasan peruntukan pertambangan batubara di Pulau Misool, Pulau Batanta,


dan Pulau Salawati.

kawasan peruntukan pertambangan Emas di pulau Salawati dan Pulau


Batanta.

b. Kawasan peruntukan pertambangan minyak bumi dan gas terdapat di Pulau


Kofiau dan perairan lepas pantai arah utara Pulau Misool.
(6) kawasan peruntukan industry kecil yaitu industri pengolahan hasil laut terdapat di
Kepulauan Waigeo, Pulau Salawati, Pulau Batanta dan Pulau Misool.
(7) kawasan peruntukan pariwisata
Kawasan peruntukan pariwisata alam terdiri atas :
a. pariwisata darat terdiri atas :
1. obyek wisata burung terdapat di Batanta Selatan, Batanta Utara, Teluk
Mayalibit, Waigeo Selatan, Waigeo Barat Kepulauan dan Meosmanswar;
2. obyek wisata air terjun terdapat di Batanta Utara dan Teluk mayalibit;

41

3. obyek wisata hutan terdapat di Misool Utara, Salawati, Teluk Mayalibit,


Waigeo Selatan, Batanta Utara, Batanta Selatan;
4. obyek wisata geopark terdapat di misool selatan, misool timur, teluk
mayalibit, teluk kabui, pam, wayag.
b. pariwisata bahari terdiri atas :
1. Kawasan Pulau Wayag hingga gugusan Pulau Kawe di bagian Barat Pulau
Waigeo;
2. Kawasan Pulau Gam dan Pulau Manswar di bagian Selatan Kepulauan
Waigeo;
3. Kawasan Pulau Kri dan Pulau Wai di bagian utara Pulau Batanta;
4. Kawasan Pulau Katimkario, Pulau Wagmap, dan Pulau Walep di bagian
selatan Misool; dan
5. Kawasan gugusan Kepulauan Kofiau di bagian barat Kabupaten Raja Ampat.
Kawasan peruntukan pariwisata alam dibagi menjadi beberapa zona yaitu :
a. zona intensif, yaitu kawasan yang dirancang untuk dapat menerima jumlah
kunjungan dan tingkat kegiatan yang tinggi, dengan memberikan ruang yang
lebih luas untuk kegiatan dan kenyamanan pengunjung, terdapat di kawasan
darat Waigeo Selatan;
b. zona semi intensif, yaitu kawasan yang dirancang sebagai kawasan untuk
menerima kunjungan dengan tujuan kegiatan yang bersifat lebih spesifik, dengan
menyediakan ruang yang cukup untuk kegiatan dan kenyamanan pengunjung,
meliputi Pulau Misool bagian selatan Pulau Manyaifun, Pulau Batanta, Pulau
Waigeo bagian timur menyambung ke kawasan Pulau Gam, Pulau Kri, Pulau
Manswar, dan Pulau Wai, sampai Pulau Batanta bagian ujung timur, Pulau
Batanta bagian ujung barat dan bersambung di celah sempit Pulau Waigeo
bagian tengah; dan
c. zona ekstensif yaitu kawasan yang dirancang hanya untuk menerima kunjungan
dan tingkat kegiatan terbatas, untuk menjaga kualitas keanekaragaman hayati
dan memiliki kerentanan tinggi, terdapat di, wilayah Pulau Wayag di bagian
utara dan wilayah Pulau Kofiau.
(4) kawasan peruntukan permukiman, terdiri atas;
a. Kawasan peruntukan permukiman perkotaan terdiri atas kawasan permukiman
skala menengah dan Kawasan permukiman skala kecil.

42

b. Kawasan permukiman skala menengah terdapat di kawasan perkotaan dengan


fungsi PKL dan PKLP yaitu Waisai, Kabare, Samate, dan Waigama.
c.Kawasan permukiman skala kecil terdapat di kawasan perkotaan dengan fungsi
PPK, yaitu Urbinasopen, Yenbekwan, Dorekhar, Folley, Mikiran, dan Yenanas.
d. Kawasan peruntukan permukiman perdesaan dikembangkan pada ibukota Distrik
dengan fungsi PPL dan ibukota/kampung pada Distrik di luar PKL, PKLP dan
PPK.
(5) kawasan peruntukan lainnya yaitu:
Kawasan peruntukan pertahanan dan keamanan terdiri atas :
a. KODIM terdapat di Waisai Kota;
b. POLRES di Waisai Kota;
c. KORAMIL terdapat di seluruh ibukota Distrik;
d. POLSEK terdapat di seluruh ibukota distrik;
e. POS TNI Angkatan Laut terdapat di Waisai kota;dan
f. POS pengamanan wilayah perbatasan Negara Kesatuan Republik Indonesia di
Pulau Fani.

43

Gambar 2.3. Peta Kawasan Potensial Pariwisata Raja Ampat


(sumber: RIPPDA Kabupaten Raja Ampat)

44

Gambar 2.4. Peta Kawasan Konservasi Perairan Daerah Kabupaten Raja Ampat
(sumber: RIPPDA Kabupaten Raja Ampat)

45

Gambar 2.4. Peta Kawasan Suaka Alam Perairan Daerah Kabupaten Raja Ampat
(sumber: RIPPDA Kabupaten Raja Ampat)

Gambar 2.5. Peta Administratif Kabupaten Raja Ampat

46

(Sumber: PERDA No.5 Tahun 2012)

47

2.8.3. Kawasan Strategis


Kawasan strategis yang ada di Kabupaten Raja Ampat, terdiri atas:
a.
Kawasan Strategis Nasional adalah wilayah yang penataan ruangnya
diprioritaskan karena mempunyai pengaruh sangat penting secara Nasional
48

terhadap kedaulatan Negara, Pertahanan dan Keamanan Negara, ekonomi,


sosial, budaya, dan/atau lingkungan, termasuk wilayah yang ditetapkan
sebagai warisan dunia. Kawasan Strategis Nasional yaitu terdapat di Pulau
Fani Distrik Kepulauan Ayau.
b.
Kawasan Strategis Provinsi adalah wilayah yang penataan ruangnya
diprioritaskan karena mempunyai pengaruh sangat penting dalam lingkup
Provinsi terhadap ekonomi, sosial, budaya dan/atau lingkungan.
Kawasan Strategis Provinsi terdiri atas :
-

Kawasan

Minapolitan

yang

merupakan

kawasan strategis dari sudut kepentingan pengembangan bidang Kelautan


dan Perikanan dan didukung oleh bidang Pertanian; dan
-

Kawasan Wisata Bahari yang merupakan


kawasan strategis dari sudut kepentingan pengembangan kepariwisataan.

c.

Kawasan Strategis Kabupaten adalah wilayah yang penataan ruangnya


diprioritaskan karena mempunyai pengaruh sangat penting dalam lingkup
Kabupaten terhadap ekonomi, sosial, budaya dan/atau lingkungan.
Kawasan strategi kabupaten terdiri atas:
- Kawasan strategis dari sudut kepentingan ekonomi yaitu Kawasan
Minapolitan di Samate Distrik Salawati Utara dan kawasan minawisata di
pulau Waigeo bagian selatan, pulau Waigeo bagian Barat dan
-

pulau

Misool bagian selatan.


Kawasan strategis dari sudut kepentingan fungsi dan daya dukung
lingkungan hidup yaitu di Kepulauan Waigeo, Batanta, Salawati dan
Misool.

BAB III
DESKRIPSI UMUM WILAYAH STUDI, HINTERLAND
DAN KONDISI EKSISTING PELABUHAN RAJA AMPAT
49

3.1.

Letak Geografis dan Batas Wilayah Studi


Kepulauan Raja Ampat adalah di sebelah barat paruh burung pulau Papua.

Kabupaten Raja Ampat memiliki luas sekitar 881.953 km2 dengan luas daratan
hanya sekitar 6.084,50 km2. Jumlah pulau yang berada dalam wilayah Kabupaten
Kepulauan Raja Ampat adalah lebih dari 610 pulau, dengan panjang wilayah garis
pesisir pantai lebih dari 753 km. Dari ratusan pulau yang tersebar di kabupaten
Raja Ampat hanya 35 pulau saja yang didiami oleh penghuni lokal. (Sumber: Raja
Ampat dalam Angka, 2007). Kabupaten Raja Ampat terletak pada posisi 225 LU
425 LS dan 130 13255 BT dan secara administratif memiliki batas sebagai
berikut:
Sebelah Utara
Sebelah Selatan

:
:

Samudera Pasifik dan Republik Palau.


Laut Seram, Kabupaten Maluku Tengah, dan
Kabupaten Seram Timur Propinsi Maluku

Sebelah Timur
Sebelah Barat

:
:

Sebelah Timur.
Kota Sorong dan Kabupaten Sorong.
Laut Halmahera, dan Kabupaten Halmahera
Tengah Propinsi Maluku Utara.

3.2.

Luas Wilayah
Kabupaten Raja Ampat memiliki luas sekitar 881.953 km2 dengan luas

daratan hanya sekitar 6.084,50 km2. Jumlah pulau yang berada dalam wilayah
Kabupaten Kepulauan Raja Ampat adalah lebih dari 610 pulau, dengan panjang
wilayah garis pesisir pantai lebih dari 753 km.

Tabel 3.1. Luas Wilayah Diperinci Menurut Kabupaten Raja Ampat Tahun 2014

No

Kecamatan

1
2

Misool Selatan
Misool Barat

Luas Wilayah
(Km2)
2308,13
1440,31
50

3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24

Misool
Kofiau
Misool Timur
Kep. Sembilan
Salawati Utara
Salawati Tengah
Salawati Barat
Batanta Selatan
Batanta Utara
Waigeo Selatan
Teluk Mayalibit
Meos Mansar
Kota Waisai
Tiplol Mayalibit
Waigeo Barat
Waigeo Barat Kep.
Waigeo Utara
Warwabomi
Supnin
Kepulauan Ayau
Ayau
Waigeo Timur
Jumlah/Total
Sumber : Kab. Raja Ampat Dalam Angka 2014

4260,80
7539,54
5489,93
1773,91
416,42
730,94
1916,65
1867,33
1390,83
790,73
917,05
1499,58
1120,02
298,88
9456,06
8439,19
1870,72
1914,16
850,22
6487,84
6957,20
1869,25

51

Gambar 3. 1. Peta Administrasi Kabupaten Raja Ampat


52

3.3.

Penduduk
Jumlah penduduk Kabupaten Raja Ampat pada tahun 2014 adalah

sebesar 45.310jiwa. Jumlah ini mengalami peningkatan dari tahun 2013 yang
berjumlah 44.468 jiwa. Kecamatan dengan jumlah penduduk terbesar adalah
Kota Waisai (4.374jiwa) sedangkan kecamatan dengan jumlah penduduk
terendah adalah Kecamatan Teluk Mayalibit (793jiwa). Walaupun Kecamatan
Kota Waisai memiliki jumlah penduduk terbesar akan tetapi kecamatan dengan
kepadatan penduduk

tertinggi adalah Kecamatan Ayau (246,33jiwa/km2)

sedangkan kecamatan dengan kepadatan penduduk terendah adalah Kecamatan


Teluk Mayalibit (1,58 jiwa/km2).
Pada tahun 2014, rasio jenis kelamin penduduk Kabupaten Raja
Ampat sebesar 112,69 yang berarti bahwa jumlah penduduk laki-laki lebih
banyak daripada jumlah penduduk perempuan. Bila dilihat pola rasio jenis
kelamin per kecamatan seluruhnya bernilai di atas 100, berarti seluruh
kecamatan diKabupaten Raja Ampat memiliki jumlah

penduduk laki-laki

yang lebih banyak dari pada jumlah penduduk perempuan.


Piramida penduduk Kabupaten Raja Ampat tahun 2014 terkategori
sebagai tipe ekspansive dimana sebagian besar penduduk berada pada
kelompok umur muda. Dasar piramida yang cukup lebar menunjukan angka
rasio ketergantungan penduduk muda yang cukup tinggi, sementara puncak
piramida yang menciut tajam menunjukan angka rasio ketergantungan
penduduk tua yang rendah. Rincian dari jumlah penduduk perkecamatan dapat
di lihat pada Tabel 3.2
Tabel 3.2. Jumlah penduduk Kabupaten Raja Ampat menurut kecamatan tahun
2013 (Jiwa)
Rasio Jenis
Nomor
1
2
3
4

Kecamatan
Misool Selatan
Misool Barat
Misool
Kofiau

Laki-Laki
1966
680
951
1406

Perempuan
1798
626
847
1275

Kelamin
109,34
108,63
112,28
110,27

53

5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24

Misool Timur
Kep. Sembilan
Salawati Utara
Salawati Tengah
Salawati Barat
Batanta Selatan
Batanta Utara
Waigeo Selatan
Kota Waisai
Teluk Mayalibit
Tiplol Mayabilit
Meosmansar
Waigeo Barat
Waigeo Barat Kep.
Waigeo Utara
Warbomi
Supnin
Kepulauan Ayau
Ayau
Waigeo Timur
Jumlah

1669
914
1018
935
507
746
521
879
4374
412
455
908
873
1139
768
564
470
477
603
772
24007

1379
905
944
817
457
660
454
822
3492
381
416
861
742
1048
687
513
425
467
572
715
21303

121,03
100,99
107,84
114,44
110,94
113,03
114,76
106,93
125,26
108,14
109,38
105,46
117,65
108,68
111,79
109,94
110,59
102,14
105,42
107,97
112,69

Sumber : Raja Ampat Dalam Angka tahun 2013


3.4. Potensi Bencana
3.4.1. Kerawanan dan Resiko Bencana Gempa
Berdasarkan pada PP No. 26 Tahun 2008 tentang Rencana Tata
Ruang Wilayah Nasional kriteria untuk menentukan kawasan rawan gempa
adalah kawasan yang berpotensi dan/atau pernah mengalami gempa bumi
dengan skala VII sampai dengan XII Modified Mercally Intensity (MMI).
Pergerakan subduksi lempeng Samudera Indo-Australia yang menyusup lempeng
Pasifik menjadikan wilayahini sebagai zona sumber gempabumi lajur
penunjaman Indonesia Timur. Besarnya intensitas atau tingginya tingkat
kerusakan akibat gempabumi sangat tergantung kepada jarak tempat tersebut
terhadap sumbergempabumi dan kondisi geologi setempat. Pulau-pulau yang
digolongkan ke dalam kategori daerah dengan nilai Intensitas Skala Modified
Mercalli Intensity (MMI) V antara lain P. Waigeo, P. Gag, P. Gam, P. Kawe
54

dansekitarnya, dan P. Misool dan sekitarnya, MMI VI - VII mencakup P. Batanta,


Kofiau dan sekitarnya dengan ciri-ciri:
Skala
MMI

Lokasi

Ciri-ciri

P. Waigeo, P. Gag, P.

Dirasakan diluar, orang tidur terbangun, cairan

Gam
P. Kawe dan sekitarnya,

bergerak dan tumpah, barang


kecil bergerak dan jatuh. Pintu terbuka tertutup,

P.
Misool dan sekitarnya.
P. Batanta dan Kofiau

pigura bergerak, lonceng bandul


mati, atau tidak cocok jalannya.
Terasa, semua orang lari keluar karena terkejut.

dan

Orang berjalan terganggu.


Jendela berderit, gerabah, barang pecah belah

sekitarnya.
VI

pecah, barang kecil dan buku


jatuh dari raknya, gambar jatuh dari dinding.
Mebel bergerak dan berputar. Plester
dinding pecah-pecah. Lonceng gereja berbunyi,

P. Batanta dan Kofiau


dan
VII

sekitarnya.

pohon terlihat bergoyang.


Dirasakan pengemudi, sulit jalan kaki, langitlangit dan konstruksi bangunan tinggi
rusak, barang pecah, tembok pecah, plester dan
batu tembok jatuh. pergeseran dan
lekukan timbunan pasir dan batu kerikil. Air keruh,
irigasi rusak.

3.4.2. Peta Tektonik Aktif dan Sejarah Gempa Bumi di Wilayah Indonesia
Tengah
Untuk penentuan kawasan rentan bencana gempa bumi, peta rawan
bencana gempa bumi harus dioverlaykan dengan peta kerentanan fisik,
kerentanan sosial dan kerentanan ekonomi; jadi peta kerentanan fisik,
sosial dan ekonomi ini harus dibuat dulu berdasarkan pada indikator yang telah
ditentukan. Untuk kerentanan fisik karena keterbatasan data yang ada maka
semuanya dianggap sama, sedangkan untuk kerentanan sosial diklasifikasikan
sebagai berikut: (jika kepadatan penduduk > 100 org/km2 tergolong rentan,

55

sedangkan yang < 100 org/km2 tergolong tidak rentan), untuk kerentanan
ekonomi diklasifikasikan berdasarkan jumlah keluarga pra sejahtera (jika
jumlah keluarga pra-sejahtera > 30

persen tergolong rentan, dan jika < 30

persen tergolong tidak rentan). Kemudian jika salah satu dari indikator
kerentanan tersebut tergolong rentan,

maka kawasan tersebut dapat

digolongkan ke dalam rentan terhadap bencana.


Untuk penentuan kawasan risiko bencana gempa bumi, maka peta
rawan bencana gempa bumi harus dioverlaykan dengan peta kerentanan
terhadap bencana gempa bumi dan peta ketidakmampuan; jadi peta
kemampuan ini harus dibuat dulu berdasarkan indikator yang telah ditentukan.
Karena keterbatasan data untuk penyusunan peta kemampuan yaitu peta yang
menggabarkan frekuensi dan intensitas upaya pengelolaan bencana di suatu
kawasan, maka kawasan risiko bencana dianggap sama dengan peta
kerentanan.
Untuk meminimalisir risiko yang kemungkinan akan terjadi beberapa
upaya harus dilakukan, upaya-upaya itu antara lain adalah:
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Bangunan harus dibangun dengan konstruksi tahan getaran


Perkuatan bangunan dengan mengikuti standar yang ada
Pembangunan fasilitas umum dengan standar kualitas yang tinggi
Rencanakan penempatan pemukiman
Zonasi daerah rawan bencana dan pengaturan landuse
Pendidikan kepada masyarakat tentang gempa bumi
Masyarakat mengetahui apa yang harus dilakukan jika terjadi gempa

8. Pelatihan upaya penyelamatan dan kewaspadaan masyarakat


Pembentukan kelompok aksi penyelamatan bencana
10. Rencana kontingensi/kedaruratan untuk melatih anggota keluarga dalam
9.

menghadapai gempa bumi.


3.4.3.

Kerawanan

dan

Resiki

Bencana

Tsunami
Berdasarkan pada PP No. 26 Tahun 2008 tentang Rencana Tata
Ruang Wilayah Nasional kriteria untuk menentukan kawasan rawan bencana
56

tsunami adalah kawasan pantai dengan elevasi rendah dan/atau berpotensi atau
pernah mengalami tsunami. Di kawasan Tengah Indonesia termasuk Halmahera
pada umumnya ketinggian gelombang tsunami rata- rata 10 meteran
(Diposaptono S. & Budiman, 2008). Karena peta kontur yang tersedia adalah
peta kontur dengan interval kontur 25 m dan kontur terendah yang ada 25 m,
maka deleniasai kawasan yang rawan bencana tsunami didasarkan pada
interpolasi konturi 25 m. Peta kawasan rawan bencana tsunami pada dasarnya
berada di sepanjang pantai Halmahera Tengah hanya saja luasan atau ke arah
daratannya yang berbeda . Luasan yang agak besar kawasan rawan bencana
tsunami ada di sekitar Kobe dan Tilope.
Untuk penentuan kawasan rentan bencana tsunami, peta rawan
bencana tsunami harus dioverlaykan dengan peta kerentanan fisik, kerentanan
sosial dan kerentanan ekonomi; jadi peta kerentanan fisik, sosial dan ekonomi
ini harus dibuat dulu berdasarkan pada indikator yang telah ditentukan. Untuk
kerentanan fisik karena keterbatasan data yang ada maka semuanya dianggap
sama, sedangkan untuk kerentanan sosial diklasifikasikan sebagai berikut :
(jika kepadatan penduduk lebih dari 100 orang per kilometer persegi tergolong
rentan, sedangkan yang kurang dari 100 org per kilometer persegi tergolong
tidak rentan), untuk kerentanan ekonomi dikalsifikasikan berdasarkan jumlah
keluarga pra sejahtera (jika jumlah keluarga pra-sejahtera lebih dari 30 persen
tergolong rentan, dan jika kurang dari 30 persen tergolong tidak rentan).
Kemudian jika salah satu dari indikator kerentanan tersebut tergolong rentan,
maka kawasan tersebut dapat digolongkan ke dalam rentan terhadap bencana.
Untuk penentuan kawasan risiko bencana tsunami, maka peta rawan
bencana tsunami harus dioverlaykan dengan peta kerentanan terhadap
bencana tsunami dan peta ketidakmampuan; jadi peta ketidakmampuan ini
harus dibuat dulu berdasarkan indikator yang telah ditentukan. Karena
keterbatasan data untuk penyusunan peta kemampuan
menggambarkan

frekuensi

yaitu

peta

yang

dan intensitas upaya pengelolaan bencana di

57

suatu kawasan, maka kawasan risiko bencana dianggap sama dengan peta
kerentanan.
Untuk meminimalisir risiko yang kemungkinan akan terjadi beberapa
upaya harus dilakukan, upaya-upaya itu antara lain adalah:
1. Peningkatan kewaspadaan dan kesiapsiagaan terhadap bahaya tsunami
2. Pendidikan kepada masyarakat tentang bahaya tsunami
3. Pembangunan Tsunami Early Warning System
4. Pembangunan tembok penahan tsunami pada garis pantai yang beresiko
5. Penanaman mangrove serta tanaman lainnya sepanjang pantai untuk

meredam gaya air tsunami


6. Pembangunan tempat evakuasi yang tinggi di sekitar daerah pemukiman
7. Peningkatan pengetahuan masyarakat local tentang pengenalan tanda-tanda

tsunami dan cara-cara penyelamatan diri


8. Pembangunan rumah yang tahan terhadap bahaya tsunami
9. Melengkapi diri dengan alat komunikasi

3.4.4. Kerawanan dan Resiko Bencana Banjir


Berdasarkan pada PP No. 26 Tahun 2008 tentang Rencana Tata
Ruang Wilayah Nasional kriteria untuk menentukan kawasan rawan bencana
banjir adalah kawasan yang diidentifikasikan sering dan/atau berpotensi
tinggi mengalami bencana alam banjir. Berdasarkan data yang ada di Badan
Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten Halmahera Tengah kawasan
yang rawan bencana banjir adalah daerah sekitar Kobe ke arah barat laut di
sekitar daerah aliran sungai.
Untuk penentuan kawasan rentan bencana banjir, peta rawan bencana
banjir

harus dioverlaykan dengan peta kerentanan fisik, kerentanan sosial dan

kerentanan ekonomi; jadi peta kerentanan fisik, sosial dan ekonomi ini harus
dibuat dulu berdasarkan pada indikator yang telah ditentukan. Untuk
kerentanan fisik karena keterbatasan data yang ada maka semuanya dianggap
sama, sedangkan untuk kerentanan sosial diklasifikasikan sebagai berikut :

58

(jika kepadatan penduduk lebih dari 100 orang per kilometer persegi tergolong
rentan, sedangkan yang kurang dari 100 orang per kilometer persegi tergolong
tidak rentan), untuk kerentanan ekonomi dikalsifikasikan berdasarkan jumlah
keluarga pra sejahtera (jika jumlah keluarga pra-sejahtera lebih dari 30 persen
tergolong rentan, dan jika kurang dari 30 persen tergolong tidak rentan).
Kemudian jika salah satu dari indikator kerentanan tersebut tergolong rentan,
maka kawasan tersebut dapat digolongkan ke dalam rentan terhadap bencana.
Untuk penentuan kawasan risiko bencana banjir, maka peta rawan
bencana banjir harus dioverlaykan dengan peta kerentanan terhadap bencana
gerakan tanah dan peta ketidakmampuan; jadi peta ketidakmampuan ini harus
dibuat dulu berdasarkan indikator yang telah ditentukan. Karena keterbatasan
data untuk penyusunan peta kemampuan yaitu peta yang menggabarkan
frekuensi dan intensitas upaya pengelolaan bencana di suatu kawasan, maka
kawasan risiko bencana dianggap sama dengan peta kerentanan
Untuk meminimalisir risiko yang kemungkinan akan terjadi beberapa
upaya harus dilakukan, upaya-upaya itu antara lain adalah :
(1) Pembentukan kelompok kerja yang beranggotakan dinas terkait
(2) Memonitor dan mengevaluasi data curah hujan, drainase dan

informasi lain yg terkait


(3) Menyiapkan peta daerah rawan banjir, rute

dan lokasi

pengungsian

59

(4) Pengembangan sistem peringatan dini


(5) Perencanaan dan penyiapan SOP tanggap darurat banjir
(6) Pendidikan dan pelatihan evakuasi kepada masyarakat
(7) Pengembangan sistem informasi banjir
(8)

Meningkatkan peran serta masyarakat untuk memitigasi dampak


dari bencana banjir (buang sampah tidak di sungai,
membangun di bantaran sungai,

tidak

menghentikan penggundulan

hutan, dll)
(9) Pembangunan tembok penahan dan tanggul di sepanjang sungai
(10) Penghijauan daerah hulu, pembangunan sistem peresapan air dan

waduk/bendungan
(11) Pengerukan sungai, pembuatan sudetan sungai

3.4.5. Kerawanan dan Resiko Bencana Longsor


Untuk penentuan kawasan rentan bencana tanah longsor, peta rawan
bencana tanah longsor harus dioverlaykan dengan peta kerentanan fisik,
kerentanan sosial dan kerentanan ekonomi; jadi peta kerentanan fisik,
sosial dan ekonomi ini harus dibuat dulu berdasarkan pada indikator yang telah
ditentukan. Untuk kerentanan fisik karena keterbatasan data yang ada maka
semuanya dianggap sama, sedangkan untuk kerentanan sosial diklasifikasikan
sebagai berikut: (jika kepadatan penduduk lebih dari 100 orang per
kilometer persegi tergolong rentan, sedangkan yang kurang dari 100 orang
per kilometer persegi tergolong tidak rentan), untuk kerentanan ekonomi
dikalsifikasikan berdasarkan jumlah keluarga pra sejahtera (jika jumlah
keluarga pra-sejahtera lebih dari 30 persen tergolong rentan, dan jika kurang
dari 30 persen tergolong tidak rentan). Kemudian jika salah satu dari indikator
kerentanan tersebut tergolong rentan,

maka kawasan tersebut dapat

digolongkan ke dalam rentan terhadap bencana.

60

Untuk penentuan kawasan risiko bencana tanah longsor, maka


peta rawan bencana tanah longsor harus dioverlaykan dengan peta kerentanan
terhadap bencana gerakan tanah dan peta ketidakmampuan; jadi peta
ketidakmampuan ini harus dibuat dulu berdasarkan indikator yang telah
ditentukan. Karena keterbatasan data untuk penyusunan peta kemampuan
yaitu peta yang menggabarkan frekuensi dan intensitas upaya pengelolaan
bencana di suatu kawasan, maka kawasan risiko bencana dianggap sama
dengan peta kerentanan.
Untuk meminimalisir risiko yang kemungkinan akan terjadi beberapa
upaya harus dilakukan, upaya-upaya itu antara lain adalah:
(1) Hindarkan

daerah

rawan

bencana

untuk

pembangunan

pemukiman dan fasilitas penting lainnya.


(2) Mengurangi tingkat keterjalan lereng
(3) Meningkatkan/ memperbaiki dan memelihara drainase baik air

permukaan maupun air tanah


(4) Pembuatan bangunan penahan, jangkar (anchor).
(5) Terasering dengan system drainase yang tepat
(6) Penghijauan dengan tanaman yang sistem perakarannya dalam

dan jarak tanam yang tepat.


(7) Sebaiknya dipilih tanaman lokal yang digemari masyarakat
(8) Khusus untuk aliran air dapat diarahkan dengan pembuatan

saluran
(9) Khusus untuk runtuhan batu dapat dibuatkan tanggul penahan.
(10) Pengenalan daerah yang rawan longsor
(11) Identifikasi daerah yang aktif bergerak, dikenali dengan rekahan

berbentuk ladam.
(12) Mendirikan bangunan dengan fondasi yang kuat seperti tiang

pancang
(13) Melakukan pemadatan tanah di sekitar perumahan
(14) Stabilisasi lereng dengan pembuatan terase dan penghijauan

61

(15) Penutupan rekahan-rekahan di atas lereng untuk mencegah air

masuk

62

Gambar 3.2. Peta Kawasan Rawan Bencana Alam


71

3.5.

Perindustrian
Kabupaten

Raja

Ampat

merupakan

kabupaten

yang

memiliki

keanekaragaman hayati tertinggi di Indonesia.Potensi perikanan dan kelautannya


sangat

berlimpah

dan

memiliki

prospek

untuk

dikembangkan,

sehinggapertumbuhan sektor industri perikanan mengalami peningkatan yang pesat


dibandingkan sektor industrilainnya. Sektor industri perikanan yang berkembang
mulai dari skala industri rumahan sampai dengan skalaindustri menengah dan
besar.
Disamping industri rumahan di bidang perikanan, juga terdapat industri
rumah tangga lainnya yangmenghasilkan minyak goreng, tas gantung, sagu
lempeng, tikar, topi, senat/tikar (terbuat dari pelepah sagu),dan meubel.
Tabel 3.3. Jumlah Unit Usaha, Tenaga Kerja, Nilai Investasi, Dan Nilai Produksi
Industri Kecil Kabupaten Raja Ampat, 2014
No

Jenis Industri

1
2
3
4
5
6
7
8
9

Air Galon
Ikan Asin
Kerupuk Ikan
Terasi Udang
Batu Bata
Perabot
Rotan
Bengkel
Barang Kerajinan
Jumlah

Unit

Tenaga

Nilai Investasi

Nilai Produksi

Usaha
7
17
4
18
3
6
3
11
2
71

Kerja
32
48
5
42
13
39
11
26
9
225

(Rp)
1750000
125800
9200
71200
65000
1340000
55000
239423
25000
3680623

(Rp)
30250
141250
5000
176723
7000
14500
5500
114350
40000
534573

Sumber :Raja Ampat Dalam Angka tahun 2014


Selain itu terdapat juga perkembangan industry besar di sektor perikanan
dalam bentuk penanamanmodal asing (PMA) dan penanaman modal dalam negeri
(PMDN). Di Raja Ampat terdapat industry budidaya mutiara yang tersebar di
beberapa tempat

72

3.6.

Energi
Pada tahun 2014 ada sebanya 13 unit pembangkit listrik di Raja Ampat

yang tersebar di 6 distrik, dengan distrik kota Waisai mempunyai pembangkit


listrik terbanyak dengan 7 unit yang dikelola oleh BUMD, sedangkan 5
distrik lainnya masing-masing terdapat 1 unit yang dikelola oleh PT. PLN
Cabang Sorong
Tabel 3.4. Jumlah Pembangkit Listrik, Daya Terpasang dan Jumlah Pelanggan
Listrik Tahun 2013

3.7.

Pertanian
Semua penduduk Kabupaten Raja Ampat yang bergerak dibidang pertanian

masih mengolah lahanpertanian dengan cara tradisional. Petani di beberapa


kampung sudah mengenal pupuk dan pestisidaakan tetapi pengolahan lahan
pertaniannya

masihdilakukan

secara

tradisional.

Rendahnya

pengetahuanpenduduk di bidang pertanian menyebabkan tidakadanya penduduk


yang dapat mengolah lahannyasecara modern meskipun mereka menempatkan
bertani sebagai mata pencaharian utama.
3.8.

Perkebunan

73

Pola pemanfaatan sumber daya alam di Kabupaten Raja Ampat sebagian


besar adalah budidaya tanamanmusiman, sekalipun demikian ada sebagian
penduduk yang juga membudidayakan tanaman tahunan.Budidayatanaman
musiman lebih banyak diusahakan karena jenis tanaman ini berumur pendek
sehingga bisa cepatdipanen.Khusus umbi-umbian, tanaman ini ditanam oleh
masyarakat karena merupakan makanan pokokmasyarakat Papua pada umumnya.
Tabel 3. 5. Luas lahan perkebunan (Ha) di kabupaten Raja Ampat, 2014
No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11

Komoditas
Kelapa
Kakao
Cengkeh
Pala
Kopi
Karet
Jambu Mete
Tanaman Introduksi
Jarak
Pinang
Sagu
Jumlah

Luas Area (Ha)


11414
1487
22
27
3
3
61
634
13651

Sumber : Raja Ampat Dalam Angka tahun 2015


3.9.

Peternakan
Berdasarkan data dari Dinas Pertanan dan Peternakan Raja Ampat, ternak

yang dibudidayakan di kabupaten Raja Ampat antara lain sapi, kambing, dan babi.
Tabel 3.6. Populasi Ternak Menurut Kecamatan Kabupaten Raja Ampat
Nomor
1
2
3
4
5
6

Kecamatan
Misool Selatan
Misool Barat
Misool
Kofiau
Misool Timur
Kep. Sembilan

Sapi

Kambing

Babi

60
40
96
40
-

15
20
2
15
-

10
40
36

74

7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24

Salawati Utara
Salawati Tengah
Salawati Barat
Batanta Selatan
Batanta Utara
Waigeo Selatan
Kota Waisai
Teluk Mayalibit
Tiplol Mayabilit
Meosmansar
Waigeo Barat
Waigeo Barat Kep.
Waigeo Utara
Warbomi
Supnin
Kepulauan Ayau
Ayau
Waigeo Timur
Jumlah

63
965
86
29
15
15
6
23
6
1444

44
90
25
19
30
55
5
343

13
14
56
35
7
15
35
12
8
20
15
23
20
32
15
30
7
443

Sumber :Raja Ampat Dalam Angka tahun 2015


3.10. Perikanan
Perairan Raja Ampat memiliki potensi lestari (MSY) sebesar 590.600
ton/tahun dengan jumlah tangkapanyang diperbolehkan sekitar 472.000 ton/tahun
(80% MSY). Saat ini sumberdaya yang telah dimanfaatkansebesar 38.000
ton/tahun, di luar dari pemanfaatan perikanan subsisten, sehingga diperkirakan
masihmemiliki peluang sekitar 434.000 ton/tahun (Dinas Perikanan dan Kelautan
Kab Raja Ampat, 2005).Peluang pemanfaatan sumberdaya sebesar 434.000
ton/tahun merupakan kesempatan bagi nelayan danperusahaan perikanan untuk
meningkatkan usahanya tetapi tetap menjaga kelestarian sumberdaya dengantidak
melakukan penangkapan yang merusak (destructive fishing) seperti penggunaan
bom, bahan-bahanberacun serta alat tangkap yang tidak ramah lingkungan.

75

3.11. Kehutanan
Dari hasil penelitian The Nature Conservancy pada tahun 2004, mayoritas
wilayah Kepulauan Raja Ampat didominasi oleh tipe hutan dataran rendah New
Guinea.Tipe hutan ini masih sedikit sekaliditeliti oleh para ahli botani,
dibandingkan dengan tipe hutan pegunungan. Dari beberapa tipehutan yang ada
di wilayah Raja Ampat, seperti hutan pegunungan rendah, dataran tinggi,
dataranrendah, dan hutan aluvial yang hidup pada substrat yang sama, umumnya
tidak dijumpai dalam batasanflora yang jelas dan tegas, terutama sebagai
indikator bahwa komposisi hutan memang sudah mengalamipergantian antara
jenis tumbuhan dataran rendah dan dataran tinggi. Pergantian atau pertukaran
jenis antarasubstrat, biasanya sangat jelas antara batuan karst dan tanah
vulkanik.Pada pemetaan vegetasi dengan menggunakan Sistem Informasi
Geografis dan data penginderaan jarak jauh(Remote Sensing), beberapa kelompok
tumbuhan yang diamati tidaklah mudah untuk terdeteksi dan layerpada hasil
penginderaan jarak jauh tidak mudah pula dibedakan sehingga memerlukan
pengamatan tambahandi lapangan.

76

Gambar 3.3. Penggunaan Area Hutan di Kabupaten Halmahera Tengah, 2013

BAB IV
SURVEI LAPANGAN DAN ANALISIS DATA

77

BAB V
PROYEKSI JASA PELABUHAN

5.1.

Jenis Muatan Melalui Laut


Kapal laut yang rutin mengunjungi pelabuhan Raja Ampat berasal dari

Bicoli, Bitung, Gebe, Babang, Paspalele dan Daruba. Pelabuhan Subaim


dikunjungi oleh kapal laut dari/menuju Daruba, Tobelo, Manado/Bitung, dan
sebagian kecil juga ke Buli. Jenis barang yang dimuat adalah hasil bumi
seperti kopi, coklat, kopra dan cengkih. Sedangkan yang bongkar di
pelabuhan

Raja Ampat

adalah

ikan. Jenis sarana angkutan laut yang

berkembang di Kabupaten Halmahera Tengah antara lain berupa speed boat dan

78

long boat dalam berbagai ukuran. Speed boat digunakan untuk angkutan
penumpang dengan kapasitas penumpang 16 - 30 penumpang, sedang long boat
digunakan untuk angkutan Ikan.

5.2.

Horison Perencanaan
Dalam rangka menyusun Rencana Induk (Master Plan) Pelabuhan Raja

Ampat, Kabupaten Halmahera Tengah, maka kurun waktu (periode) proyeksi


permintaan

diselaraskan

dengan

periodisasi

(pentahapan)

perencanaan

pembangunan sesuai peraturan yang berlaku, yaitu selama 20 (dua

puluh)

tahun kedepan yang dibagi dalam 3 (tiga) tahapan perencanaan sebagai


berikut:
1) Rencana Jangka Pendek
Tahap Jangka Pendek meliputi kurun waktu 5 (sepuluh) tahun
pertama, yaitu tahun 2016 2020.
2) Rencana Jangka Menengah,
Tahap Jangka Menengah meliputi kurun waktu 5 tahun berikutnya,
yaitu tahun 2021 2025
3) Rencana Jangka Panjang,
Tahap Jangka Panjang meliputi kurun waktu 10 tahun berikutnya,
yaitu tahun 2026 2035
Dengan demikian dalam penyusunan proyeksi permintaan diberikan
gambaran jangka waktu proyeksi adalah sampai dengan 20 tahun kedepan,
dengan tahun ke nol adalah tahun 2009.
5.3.

Metode Proyeksi
Pada bagian ini diuraikan metodologi yang digunakan dalam

melakukan peramalan (forecasting) atau proyeksi arus Ikan dan penumpang pada
waktu yang akan datang, selama masa perencanaan pengembangan 20 tahun
kedepan sampai dengan tahun 2033. Selanjutnya arus kunjungan kapal (ship

79

calls)

akan diperkirakan berdasarkan hasil proyeksi Ikan dan penumpang

tersebut.
Sebagai dasar peramalan adalah data statistik arus Ikan, penumpang dan
peti kemas masa lampau yang terjadi pada Pelabuhan Raja Ampat sejak tahun
2009 sampai dengan tahun 2014.
Penyusunan proyeksi dimaksudkan untuk mengetahui permintaan atas
layanan kapal, Ikan yang selanjutnya digunakan untuk menetapkan kebutuhan
fasilitas dan peralatan pelabuhan pada tahun-tahun tertentu sesuai tahap-tahap
perencanaan program pengembangan pelabuhan yang ditetapkan dalam tiga
tahapan tersebut di atas.
Secara keseluruhan metodologi yang akan dilakukan dalam melakukan
proyeksi arus Ikan, penumpang dan peti kemas dapat digambarkan dalam
gambar diagram alir (flow chart) pada Gambar 5.1 berikut:

80

Gambar 5.1. Diagram Alir Metodologi Proyeksi Barang dan Penumpang

73

5.3.1. Analisa Data


Analisa data dilakukan untuk memperoleh gambaran perkembangan
kegiatan

lalu

lintas

pelabuhan pada masa

ikan

dan

penumpang

serta kunjungan kapal di

yang lampau baik dari

segi karakteristik serta

kecenderungannya, termasuk mempersiapkan analisa terhadap


informasi

yang

menunjukkan

faktor-faktor

data

dan

atau variabel-variabel yang

mempengaruhi permintaan atas jasa-jasa pelabuhan bagi lalu lintas Ikan dan
penumpang pada masa lampau maupun kemungkinannya pada masa yang akan
datang.
Termasuk dalam pekerjaan analisa data adalah melakukan klarifikasi
terhadap kelengkapan dan kualitas data dan informasi yang diperoleh di lapangan
sehingga dapat diperoleh data-data dan informasi yang cukup dengan tingkat
kebenaran dan akurasi yang memadai, yang dapat memberikan gambaran
keadaan dan perkembangan kegiatan pelabuhan yang real pada masa lampau dan
keadaannya saat ini. Dengan demikian pada saat data-data tersebut dipergunakan
dalam modelling peramalan

(proyeksi)

tidak

distorsi

akan menimbulkan

pada
yang

masa
akan

yang

akan

mengurangi

datang
tingkat

kepercayaan terhadap hasil-hasil proyeksinya.


5.3.2. Hinterland Pelabuhan Raja Ampat
Hinterland dari pelabuhan ditentukan

berdasarkan faktor-faktor

sebagai berikut:
a. Arus ikan yang melalui angkutan laut yang menghubungkan
dengan pelabuhan.
b. Arus ikan melalui angkutan darat yang menghubungkan
dengan pelabuhan.
c. Wilayah pengaruh dari pelabuhan yang berdekatan dengan
pelabuhan yang dikembangkan.
d. Batas batas wilayah administratif.

74

Pelabuhan Raja Ampat terletak di Kecamatan Patani Utara Kabupaten


Halmahera Tengah, Provinsi Maluku Utara. Kecamatan Patani Utara berbatasan
dengan Kabupaten Halmahera Timur sebelah barat, Kecamatan Patani pada sisi
selatan, sebelah timur dan utara berbatasan dengan perairan lautan pasifik.
Berdasarkan distribusi letak pelabuhan terdekat dengan pelabuhan Raja Ampat,
yaitu Gebe di Kecamatan Pulau Gebe dan Pelabuhan Bicoli di Kecamatan Maba
Selatan Kabupaten Halmahera Timur, maka ditetapkan hinterland pelabuhan
Raja Ampat adalah kecamatan Patani Utara, Kecamatan Patani Barat dan
Kecamatan Patani.
5.3.3. Indikator Sosio Ekonomi
Indikator sosio-ekonomi yang digunakan dalam memproyeksikan
permintaan adalah Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) dan jumlah
penduduk di wilayah hinterland.
PDRB mencerminkan keadaan dan pertumbuhan perekonomian daerah,
sehingga merupakan indikator yang memiliki kaitan erat dengan perkembangan
perdagangan di daerah tersebut sedangkan penduduk merupakan

subyek

ekonomi yang membangkitkan adanya permintaan akan Ikan dan jasa-jasa.


Jumlah penduduk dan PDRB

pada tahap-tahap tahun perencanaan

diproyeksikan dengan menggunakan metode regresi dan analisa pertumbuhan


sebagaimana ditunjukkan pada Gambar 5.2 dan 5.3 berikut ini.

75

Gambar 5.2. Diagram Alir Proyeksi Kependudukan

Gambar 5.3. Diagram Alir Proyeksi PDRB

76

5.4. Sampel Air


Maksud pengambilan contoh air adalah untuk mengetahui kadar
sedimentasi dan kadar salinitas air laut di lokasi perairan pelabuhan yang di
survey.
1) Peralatan:
1 unit botol pengambil sampel air yang dilengkapi dengan katup penutup
pada botol serta tali pelepas katup dan pemberat.
2) Metode Pelaksanaan
Pengambilan contoh air dilakukan dengan botol katup pada posisi
sesuai dengan titik pengamatan arus, baik vertikal maupun horizontal dan
dilakukan pada saat Neap tide dan Spring Tide, pengambilan contoh
air pada kedalaman 0.2d, 0.6d, 0.8d sebanyak 12 contoh air laut.
3) Hasil Pengujian laboratorium
Terhadap contoh air laut yang diambil dari lokasi perairan pelabuhan
yang di survey, selanjutnya dilakukan pengujian dilaboratorium air
Tekmira

untuk mengetahui kadar salinitas (TSS) dan kadar

sedimennya.

Tabel 5. 1. Hasil Test Laboratorium Air


Lokasi

Kedalaman

Salinitas

(m)
0.2 d
0.6 d
Titik A
0.8 d
0.2 d
0.6 d
Titik B
0.8 d
(sumber : SID Raja Ampat)

32,62
32,50
32,38
32,28
32,48
32,91

Kadar Sedimen
(mg/l)
80
80
80
80
80
80

5.3.4. Proyeksi Arus Muatan


Secara skematis proyeksi jumlah muatan untuk pengembangan
pelabuhan dilakukan sebagaimana ditunjukkan pada Gambar 5.4. Data

77

tahunan dari aktivitas pelabuhan terdiri dari antara lain kunjungan kapal,
volume

bongkar

muat

Ikan,

jumlah

naik

turun

penumpang

setiap

tahunnya, sementara data dari laporan bulanan memuat kunjungan kapal,


ukuran kapal, panjang kapal, waktu sandar, volume Ikan setiap kapal.
Pertama dari laporan bulanan data tentang kunjungan kapal, ukuran kapal,
panjang kapal dan waktu sandar, volume Ikan dikelompokkan menurut
masing-masing katagori ukuran kapal. Selanjutnya dilakukan proyeksi
permintaan

(Ikan

dan

penumpang)

pada

tiap

tahapan

tahun

perencanaan berdasarkan data tahunan dengan melakukan model-model


perhitungan proyeksi

(forecasting) yang memasukkan variabel-variabel

yang saling berkaitan yaitu kecenderungan perkembangan volume Ikan,


penumpang, PDRB dan jumlah penduduk dari hinterland pelabuhan. Akhirnya
hasil proyeksi permintaan (Ikan dan penumpang) dari masing- masing tahap
tahun perencanaan dipisahkan menurut tiap katagori ukuran kapal yang telah
ditetapkan, dan kemudian jumlah kunjungan kapal (ship calls) ditetapkan
berdasarkan hasil proyeksi tersebut.

78

Gambar 5. 4. Diagram Alir Proyeksi Ikan

79

Sebagaimana terlihat pada Gambar di atas, beberapa model


proyeksi (forecasting) akan dipergunakan dalam melakukan proyeksi
permintaan (Ikan), secara singkat dapat dijelaskan sebagai berikut:
a) Model trend
b) Model regresi linier yaitu fungsi linier yang dapat diformulasikan
sebagai berikut.
y t a x t b
c) Model rata-rata tingkat pertumbuhan (Average Growth Rate),
merupakan

perhitungan

tingkat

pertumbuhan

rata-rata

dari

tingkat pertumbuhan rata-rata setiap tahun. Proyeksi masa yang akan


datang diformulasikan sebagai berikut.

dimana,

dimana,
y t
xt

: variabel dependent (volume arus ikan)


: variabel independent (PDRB)
: tahun
: jumlah data observasi

80

5.3.5. Proyeksi Kunjungan Kapal


Berdasarkan hasil proyeksi muatan (Ikan dan penumpang), selanjutnya
kunjungan kapal dapat diproyeksikan pada setiap tahapan perencanaan.
Dalam hal ini, kapasitas kapal sebagai variable yang dianggap konstan pada
interval waktu tertentu. Dalam memproyeksikan jumlah kunjungan kapal ini
diperhitungkan pula kemungkinan adanya kecenderungan peningkatan ukuran
kapal yang singgah pada masa yang akan datang oleh karena adanya perubahan
karakteristik permintaan pasar dan oleh karena adanya peningkatan pelayanan
dengan adanya perbaikan atau tambahan fasilitas pelabuhan yang direncanakan.
5.4.

Proyeksi Permintaan Jasa Pelabuhan

5.4.1. Indikator Sosio Ekonomi


Indikator sosio-ekonomi yang digunakan dalam proyeksi arus ikan
adalah jumlah penduduk dan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) di
wilayah hinterland. Jumlah penduduk dan PDRB pada tahapan perencanaan
diproyeksikan dengan dua cara (metode) yaitu metode trend dan rata-rata
pertumbuhan.
5.4.2. Proyeksi Jumlah Penduduk
Jumlah penduduk tahun 2010 sampai 2012 di Kabupaten
Halmahera Tengah diperlihatkan pada tabel 5.1. berikut ini.
Tabel 5.2. Penduduk Kabupaten Raja Ampat
Kabupaten Raja
Ampat

2010

2011

2012

2013

Misool Selatan

3,026

3,120

3,343

3,359

Misool Barat
Misool
Kofiau
Misool Timur
Kepulauan
Sembilan
Salawati Utara

1,291
1,761
2,520
2,651

1,289
1,752
2,537
2,704

1,425
1,945
2,482
2,737

1,433
1,956
2,377
2,674

1,458

1,506

1,603

1,608

2,144

2,140

2,139

2,062

81

Salawati Tengah
1,917
1,914
Salawati Barat
899
898
Batanta Selatan
1,312
1,324
Batanta Utara
909
917
Waigeo Selatan
1,715
1,838
Kota Waisai
6,976
7,477
Teluk Mayalibit
846
855
Tiplol Mayalibit
930
941
Meosmansar
1,625
1,644
Waigeo Barat
1,409
1,434
Waigeo Barat
2,084
2,090
Kepulauan
Waigeo Utara
1,477
1,492
Warwabomi
1,045
1,045
Supnin
908
918
Kepulauan Ayau
1,230
983
Ayau
989
1,223
Waigeo Timur
1,386
1,394
Raja Ampat
42,508
43,435
Sumber : BPS Kabupaten Raja Ampat

1,913
897
1,310
907
1,750
8,560
851
936
1,641
1,458

1,841
865
1,261
874
1,700
8,998
823
905
1,532
1,425

2,156

2,109

1,480
909
1,049
991
1,234
1,363
45,079

1,428
877
1,012
956
1,189
1,304
44,568

Pertumbuhan penduduk rata-rata Kabupaten Raja Ampat tahun 2010


sampai 2013 adalah 2.2%. Sementara itu, persentasi jumlah penduduk
perkecamatan mulai tahun 2010 sampai 2013 dapat dilihat pada tabel 5.2.
berikut ini.
Tabel 5.3. Persentasi jumlah penduduk perkecamatan terhadap jumlah
penduduk Kabupaten Raja Ampat
Distrik

2010

2011

2012

2013

Misool Selatan

3,026

3,120

3,343

3,359

Misool Barat
Misool
Kofiau
Misool Timur
Kepulauan
Sembilan
Salawati Utara
Salawati Tengah
Salawati Barat

1,291
1,761
2,520
2,651

1,289
1,752
2,537
2,704

1,425
1,945
2,482
2,737

1,433
1,956
2,377
2,674

1,458

1,506

1,603

1,608

2,144
1,917
899

2,140
1,914
898

2,139
1,913
897

2,062
1,841
865
82

Batanta Selatan
1,312
Batanta Utara
909
Waigeo Selatan
1,715
Kota Waisai
6,976
Teluk Mayalibit
846
Tiplol Mayalibit
930
Meosmansar
1,625
Waigeo Barat
1,409
Waigeo Barat
2,084
Kepulauan
Waigeo Utara
1,477
Warwabomi
1,045
Supnin
908
Kepulauan Ayau
1,230
Ayau
989
Waigeo Timur
1,386
Raja Ampat
42,508
Sumber: BPS Kabupaten Raja Ampat

1,324
917
1,838
7,477
855
941
1,644
1,434

1,310
907
1,750
8,560
851
936
1,641
1,458

1,261
874
1,700
8,998
823
905
1,532
1,425

2,090

2,156

2,109

1,492
1,045
918
983
1,223
1,394
43,435

1,480
909
1,049
991
1,234
1,363
45,079

1,428
877
1,012
956
1,189
1,304
44,568

Dengan melakukan proyeksi jumlah penduduk Raja Ampat diperoleh


proyeksi jumlah penduduk di wilayah hinterland.
Dua skenario proyeksi dilakukan dalam meramalkan jumlah penduduk
Kabupaten Raja Ampat pada tahun tahapan perencanaan yaitu menggunakan
metode trend dan metode rerata pertumbuhan sebesar 2,2% serta proyeksi
moderat yang merupakan rerata dari model trend dan model rerata pertumbuhan.
Fungsi linier trend data jumlah penduduk adalah:
y

= -2146680 + 1089,26x

= 0.99
Nilai y adalah variabel terikat (jumlah penduduk) sedangkan nilai x

adalah variabel bebas yaitu tahun. Secara keseluruhan hasil proyeksi jumlah
penduduk dapat dilihat pada Tabel 5.4 dan Gambar 5.5.

Tabel 5.4. Proyeksi jumlah penduduk Kabupaten Raja Ampat

83

Proyeksi Penduduk (Jiwa)


Tahun

Data
Penduduk

Pertumbuhan
Proyeksi

Proyeksi

Proyeksi

Trendline

Pertumbuhan

Moderat

(%)

2010

42,742

2011

43,847

2.59

2012

44,885

2013

45,985

2.37
%
2.45
%

2014

47,111

47,111

47,111

47,11

2015

48,180

48,289

2016

49,269

49,496

48,23
1
49,38
5

2017

50,359

50,734

2018

51,448

52,002

2019

52,537

53,302

2020
2021

53,626

54,635

52,92
5
54,13
0

2022

54,716
55,805

56,001
57,401

1
55,35
56,60

%
2.27
2.25

2023

56,894

58,836

2024

57,983

60,306

57,86
3
59,14
5

2.23
%
2.21
%

2025

59,073

61,814

2026

60,162

63,359

60,44
5
61,76
3

2.20
%
2.18
%

2027

61,251

64,943

2028

62,341

66,567

63,09
1
64,45
7

2.16
%
2.15
%

2029

63,430

68,231

2030

64,519

69,937

65,83
4
67,22
1

2.14
%
2.12
%

2031

65,608

71,685

2032

66,698

73,478

68,64
8
70,08
7

2.11
%
2.10
%

2033

67,787

75,315

2034

68,876

77,197

71,55
8
73,03
1

2.09
%
2.08
%

2035

69,965

79,127

74,54
7

2.07
%

50,54
3
51,72
6

2.45
%
2.38
%
2.38
%
2.36
%
2.33
%
2.31
%
2.29
%

84

90000
80000
70000
60000
Jumlah Penduduk
Regresi

50000
40000

Pertumbuhan

Moderat

30000
20000
10000

Tahun

Gambar 5.5. Grafik proyeksi jumlah penduduk Kabupaten Raja Ampat


Dengan menggunakan proyeksi jumlah penduduk Kabupaten Raja
Ampat dan persentasi jumlah penduduk hinterland dengan penduduk Kabupaten
Raja Ampat adalah sebesar 2,2%, diperoleh proyeksi jumlah penduduk
hinterland seperti yang disajikan pada Tabel 5.5 dan Gambar 5.6.
Tabel 5.5. Proyeksi jumlah penduduk hinterland pelabuhan Raja Ampat
Proyeksi penduduk (Jiwa)
Tahun

Data
Penduduk

Proykesi

Proyeksi

trend line

Pertumbuhan

Proyeksi
Moderat

Pertumbuhan
(%)

2010

42508

42389

2011

43435

43674

2012

45079

44960

45079

45079

0.03784966

2013

46245

46431

46338

2.86%

2014

47531

47824

47677

2.78%

2015

48816

49259

49038

2.70%

0.02180766

85

2016

50102

50737

50419

2.63%

Proyeksi penduduk (Jiwa)


Tahun

Data
Penduduk

Proykesi

Proyeksi

trend line

Pertumbuhan

Proyeksi
Moderat

Pertumbuhan
(%)

2017

51387

52259

51823

2.57%

2018

52673

53827

53250

2.50%

2019

53958

55441

54700

2.44%

2020

55244

57105

56174

2.38%

2021

56529

58818

57673

2.33%

2022

57815

60582

59198

2.27%

2023

59100

62400

60750

2.22%

2024

60386

64272

62329

2.18%

2025

61671

66200

63936

2.13%

2026

62957

68186

65571

2.08%

2027

64242

70232

67237

2.04%

2028

65528

72339

68933

2.00%

2029

66813

74509

70661

1.96%

2030

68099

76744

72421

1.92%

2031

69384

79046

74215

1.89%

2032

70670

81418

76044

1.85%

2033

71955

83860

77908

1.82%

2034

73241

86376

79808

1.79%

2035

74526

88967

81747

1.76%

2036

75812

91636

83724

1.72%

2037

77097

94385

85741

1.70%

2038

78383

97217

87800

1.67%

2039

79668

100133

89901

1.64%

2040

80954

103137

92045

1.61%

86

2041

82239

106232

94235

1.59%

Proyeksi Data Penduduk


110000
100000
90000
80000
Jumlah Penduduk

Regresi
Pertumbuhan

70000

Moderat

60000
50000
40000

Tahun

Gambar 5.6. Grafik proyeksi jumlah penduduk hinterland pelabuhan


Raja Ampat
5.4.3. Proyeksi PDRB
Perkembangan PDRB Kabupaten Raja Ampat berdasarkan harga
konstan dari tahun 2010 sampai 2013 diperlihatkan pada Tabel 5.5
Tabel 5.6. Perkembangan PDRB Kabupaten Raja Ampat
Tahun

Data PDRB (Juta Rupiah)

2010
437754
2011
444398
2012
516202
2013
586428
Sumber: BPS Kabupaten Raja Ampat

Pertumbuhan (%)
0.015177474
0.161575885
%
0.136043642
%

87

Berdasarkan data tahunan PDRB Kabupaten Halmahera Tengah


dari tahun 2010 sampai 2013, diperoleh pertumbuhan rerata PDRB
berdasarkan harga konstan adalah 0.1%.
Untuk mengetahui PDRB hinterland pelabuhan Raja Ampat, maka didekati
dengan rasio produk andalan kecamatan Adapun total produk andalan per
kecamatan di Kabupaten Raja Ampat.
Tabel 5.7. Produk andalan per kecamatan di Kabupaten Raja Ampat

Sumber: Raja Ampat dalam Angka, 2014


Tabel 5.8. Persentasi produk andalan 2 hinterland terhadap produk andalan
Kabupaten Raja Ampat
Distrik

2010

2011

2012

2013

PDRB total 2
hinterland

437,754

444,398

516,202

586,428

Sumber : Raja Ampat dalam Angka, 2013


Secara rerata persentasi produk andalan Kecamatan adalah Waisai dan
kecamatan Misool Timur (hinterland pelabuhan Raja Ampat). Dengan

88

menggunakan PDRB Kabupaten Raja Ampat, maka PDRB hinterland


pelabuhan Raja Ampat dapat diproyeksi.
Dua skenario proyeksi dilakukan dalam meramalkan PDRB
Kabupaten Raja Ampat pada tahun tahapan perencanaan yaitu menggunakan
metode trend dan metode rerata pertumbuhan serta proyeksi moderat
yang merupakan rerata dari model trend dan model rerata pertumbuhan.
Fungsi linier trend data jumlah penduduk adalah:
y

= -33966826,15 + 17015,17x

= 0,99

Nilai y adalah variabel terikat (PDRB) sedangkan nilai x


adalah variabel bebas yaitu tahun. Secara keseluruhan hasil proyeksi PDRB
kabupaten Raja Ampat dapat dilihat pada Tabel 5.8 dan Gambar 5.7.
Tabel 5.9. Proyeksi PDRB Kabupaten Halmahera Tengah
No
.

Tahun

PDRB

2010

437754

2011

444398

2012

516202

4
5
6

2013
2014
2015

586428

7
8
9
10

2016
2017
2018
2019

11

2020

12

2021

13

2022

14
15

2023
2024

regresi

586428
625652
677435
729,21
7
781000
832782
884565
936348
988,13
0
103991
3
109169
5
114347

Proyeksi
pertumbuh
an

586428
645071
709578
780,536
858589
944448
1038893
1142782
1,257,060
1382767
1521043
1673148

modera
t

586428
635361
693506
754,87
6
819795
888615
961729
103956
5
1,122,5
95
121134
0
130636
9
140831

pertumbuha
n (%)
0.01517747
4
0.16157588
5
0.13604364
2
6.69%
8.28%
7.64%
7.10%
6.63%
6.22%
5.85%
5.53%
5.24%
4.98%
4.74%

89

16

2025

17

2026

18

2027

19

2028

20

2029

21

2030

22

2031

23

2032

24

2033

25

2034

26

2035

27

2036

28

2037

29

2038

30

2039

31

2040

32

2041

8
119526
1
1,247,0
43
129882
6
135060
8
140239
1
145417
4
150595
6
155773
9
160952
1
166130
4
171308
7
176486
9
181665
2
186843
4
192021
7
197200
0
2,023,7
82

1840462
2,024,509
2226959
2449655
2694621
2964083
3260491
3586540
3945194
4339714
4773685
5251054
5776159
6353775
6989152
7688068
8,456,874

3
151786
1
1,635,7
76
176289
3
190013
2
204850
6
220912
8
238322
4
257214
0
277735
8
300050
9
324338
6
350796
1
379640
5
411110
5
445468
5
483003
4
5,240,3
28

4.53%
4.33%
4.15%
3.99%
3.83%
3.69%
3.56%
3.44%
3.32%
3.22%
3.12%
3.02%
2.93%
2.85%
2.77%
2.70%
2.63%

90

Proyeksi PDRB
9,000,000
8,000,000
7,000,000
6,000,000
5,000,000
Regresi
Jumlah PDRB 4,000,000
3,000,000

Pertumbuhan

Moderat

2,000,000
1,000,000
0

Tahun

Gambar 5.7. Grafik Proyeksi PDRB Kabupaten Raja Ampat


Dengan

menggunakan

proyeksi

PDRB

Kabupaten

Raja

Ampat dan persentasi produk andalan hinterland dengan produk andalan


Kabupaten Raja Ampat sebesar 7.64%, diperoleh proyeksi PDRB hinterland
seperti yang disajikan pada Tabel 5.9 dan Gambar 5.7.
Tabel 5.10. Proyeksi PDRB hinterland pelabuhan Raja Ampa
Proyeksi Potensi Ekspor
(Juta Rupiah)
Tahun

Data PDRB

2010
2011
2012
2013
2014
2015
2016
2017
2018

1860432
1821501
1954959
2115071

Proyeksi

2115071
2448690
2538428
2628166
2717904
2807642

Proyeksi

2115071
2220825
2331866
2448459
2570882
2699426

Proyeksi

Pertumbuhan

2115071
2334757
2435147
2538313
2644393
2753534

-0.020925785
0.073268145
0.081900439
15.77%
3.66%
3.54%
3.41%
3.30%
91

2019
2020

2897380
2987118

2834397
2976117

2865889
2981618

3.20%
3.10%

Proyeksi
3100890
3223882
3350780
3481780
3617086
3756914
3901490
4051051
4205847
4366140
4532203
4704327
4882813
5067979
5260161
5459708
5666990
5882392
6106320
6339202
6581484

Pertumbuhan

Proyeksi Potensi Ekspor


(Juta Rupiah)
Tahun
2021
2022
2023
2024
2025
2026
2027
2028
2029
2030
2031
2032
2033
2034
2035
2036
2037
2038
2039
2040
2041

Data PDRB

Proyeksi
3076856
3166594
3256332
3346070
3435808
3525546
3615284
3705022
3794760
3884498
3974236
4063974
4153712
4243450
4333188
4422926
4512664
4602402
4692140
4781878
4871616

Proyeksi
3124923
3281169
3445228
3617489
3798364
3988282
4187696
4397081
4616935
4847781
5090171
5344679
5611913
5892509
6187134
6496491
6821315
7162381
7520500
7896525
8291351

3.00%
2.92%
2.83%
2.76%
2.68%
2.61%
2.55%
2.48%
2.42%
2.36%
2.31%
2.26%
2.21%
2.16%
2.11%
2.07%
2.03%
1.99%
1.95%
1.91%
1.88%

92

Proyeksi PDRB
9000000
8000000
7000000
6000000
Jumlah PDRB 5000000
4000000
3000000
2000000

Regresi
Pertumbuhan
Moderat

Tahun

Gambar 5.8. Grafik proyeksi PDRB hinterland pelabuhan Raja Ampat

5.5.

Proyeksi Bongkar Muat Ikan, Penumpang dan dan Kunjungan Kapal

5.5.1. Proyeksi Bongkar Muat Ikan


Berdasarkan arus bongkar muat di pelabuhan Raja Ampat, diperoleh
bahwa volume bongkar muat dari tahun 2012 sampai 2014 cukup besar
dan cenderung meningkat, seperti yang diperlihatkan pada table berikut ini.
Tabel 5.11. Data arus bongkar muat Ikan di pelabuhan Raja Ampat
Bongkar
Tahun
(Ton)
2012
13924020
2013
25756120
2014
34282475

Tahun
Muat (Ton)
2012
1899950
2013
7886230
2014
13467662

Sumber: Raja Ampat dalam Angka, 2014


Tabel di atas memperlihatkan bahwa baik arus bongkar, maupun arus
muat Ikan, kecenderungannya adalah mengalami kenaikan setiap tahunnya.
Oleh sebab itu arus bongkar dan muat Ikan didekati dengan potensi unggulan
daerah dan PDRB dan mengikuti diagram alir berikut ini:

93

Gambar 5.9. Diagram Alir Penentuan Proyeksi Bongkar Muat Ikan Pelabuhan
Raja Ampat

94

a. Volume Muat Ikan (general cargo)


Muatan Ikan yang akan dimuat di pelabuhan Raja Ampat didekati
dengan produk andalan hinterland yang berpotensi ekspor. Dalam hal ini hasil
bumi seperti kopi, kelapa, kopra, cengke dan sebagainya. Produk andalan ini
berpengaruh terhadap PDRB Kabupaten Halmahera Tengah. Berdasarkan data
produk andalan dan PDRB tahun 2010 sampai 2013, serta hasil proyeksi
PDRB Kabupaten Halmahera Tengah, maka volume muat Ikan (dalam hal
ini

sama

dengan

produk

andalan)

dapat diproyeksikan.

Proyeksi

dilakukan dengan melakukan analisis regresi antara PDRB dengan volume


muat Ikan.
Dua skenario proyeksi dilakukan dalam meramalkan voume muat Ikan
di pelabuhan Raja Ampat yaitu Menggunakan metode regresi dan metode rerata
pertumbuhan produk andalan sebesar 6,82% serta proyeksi moderat yang
merupakan rerata dari model trend dan model rerata pertumbuhan. Fungsi linier
trend data jumlah penduduk adalah:
y

= 11905,88 + 0,00023X

= 0,54
Nilai y adalah variabel terikat (volume muat Ikan) sedangkan

nilai x adalah variabel bebas yaitu PDRB. Secara keseluruhan hasil proyeksi
volume muat Ikan di pelabuhan Raja Ampat dapat dilihat pada Tabel 5.12 dan
Gambar 5.10.

94

Tabel. 5.12.Proyeksi volume muat Ikan di Pelabuhan Raja Ampat (ton)

No.

Tahun
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21

2010
2011
2012
2013
2014
2015
2016
2017
2018
2019
2020
2021
2022
2023
2024
2025
2026
2027
2028
2029
2030

barang muat
1899950
7886230
13467662

Proyeksi
regresi
pertumbuhan
moderat
1967425
7751281
13535137
13467662
13467662
19318993
16161194
17740094
25102849
19393433
22248141
30886705
23272120
27079412
36670561
27926544
32298552
42454417
33511853
37983135
48238273
40214223
44226248
54022129
48257068
51139598
59805985
57908481
58857233
65589841
69490178
67540009
71373697
83388213
77380955
77157553
100065856
88611704
82941409
120079027
101510218
88725265
144094833
116410049
94509121
172913799
133711460
100292977
207496559
153894768
106076833
248995871
177536352
111860689
298795045
205327867
117644545
358554054
238099299

pertumbuhan
(%)

315%
71%
43.45%
29.94%
23.04%
18.73%
15.77%
13.62%
11.99%
10.71%
9.67%
8.82%
8.10%
7.50%
6.97%
6.52%
6.12%
5.77%
5.45%
5.17%

95

22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32

2031
2032
2033
2034
2035
2036
2037
2038
2039
2040
2041

123428401
129212257
134996113
140779969
146563825
152347681
158131537
163915393
169699249
175483105
181266961

430264865
516317838
619581405
743497686
892197224
1070636668
1284764002
1541716802
1850060163
2220072195
2664086634

276846633
322765047
377288759
442138827
519380524
611492174
721447769
852816097
1009879706
1197777650
1422676797

4.92%
4.69%
4.48%
4.28%
4.11%
3.95%
3.80%
3.66%
3.53%
3.41%
3.30%

96

Proyeksi Muatan Barang Muat


3000000000
2500000000
2000000000
Regresi
Jumlah Barang Muat

1500000000
Pertumbuhan

Moderat

1000000000
500000000
0

Tahun

Gambar 5.10. Grafik proyeksi muat Ikan di Pelabuhan Raja Ampat


b. Volume Bongkar Ikan (general cargo)
Berdasarkan data operasional pelabuhan, diperoleh perbandingan
antara volume bongkar dan muat Ikan dipelabuhan Raja Ampat adalah
65,8% berbanding 34,2% atau 1: 1.9. Dengan diketahuinya volume muat
Ikan melalui produk andalan, maka volume bongkar Ikan adalah 1.9 kalikan
dengan volume muat Ikan. Adapun hasil proyeksi volume bongkar Ikan di
pelabuhan Raja Ampat dapat dilihat pada Tabel 5.12 dan Gambar 5.11.
Tabel 5. 13. Proyeksi volume bongkar Ikan di Pelabuhan Raja Ampat
(ton)
Tahun

Data

Regresi

Pertumbuhan

Moderat

Pertumbuhan

Bongkar
2010
2011

13924020
25756120

14474978
24654205

85%

97

2012

34282475

34833433

34282475

34282475

33%

2013

45012660

42853094

43932877

31.30%

2014

55191888

51423713

53307800

22.61%

2015
2016
2017
2018
2019
2020
2021
2022
2023
2024
2025
2026
2027
2028
2029
2030
2031
2032
2033
2034
2035
2036
2037
2038
2039
2040
2041

65371115
75550343
85729570
95908798
106088025
116267253
126446480
136625708
146804935
156984163
167163390
177342618
187521845
197701073
207880300
218059528
228238755
238417983
248597210
258776438
268955665
279134893
289314120
299493348
309672575
319851803
330031030

61708455
74050146
88860175
106632210
127958652
153550383
184260459
221112551
265335061
318402074
382082488
458498986
550198783
660238540
792286248
950743498
1140892197
1369070636
1642884764
1971461716
2365754060
2838904872
3406685846
4088023015
4905627618
5886753142
7064103770

63539785
74800244
87294873
101270504
117023339
134908818
155353470
178869129
206069998
237693118
274,622,939
317920802
368,860,314
428969806
500,083,274
584401513
684,565,476
803744309
945,740,987
1115119077
1,317,354,86
1559019882
1,847,999,98
2193758181
2,607,650,09
3103302472
3,697,067,40

18.44%
15.57%
13.47%
11.87%
10.61%
9.60%
8.76%
8.05%
7.45%
6.93%
6.48%
6.09%
5.74%
5.43%
5.15%
4.90%
4.67%
4.46%
4.27%
4.09%
3.93%
3.78%
3.65%
3.52%
3.40%
3.29%
3.18%

98

Proyeksi Muatan Barang Bongkar


8000000000
7000000000
6000000000
5000000000
Jumlah Barang Bongkar

Regresi

4000000000

Pertumbuhan

3000000000

Moderat

2000000000
1000000000
0

Tahun

Gambar 5.11. Grafik proyeksi bongkar Ikan di Pelabuhan Raja Ampat


c. Volume Bongkar dan Muat Ikan (general cargo)
Berdasarkan hasil proyeksi volume muat dan bongkar Ikan, maka
volume total Ikan yang melalui pelabuhan atau arus muat dan bongkar Ikan
di pelabuhan dapat dihitung. Volume bongkar dan muat Ikan adalah
penjumlahan antara volume muat dan bongkar Ikan. Adapun hasil proyeksi
volume bongkar dan muat Ikan di pelabuhan Raja Ampat dapat dilihat pada
Tabel 5.14 dan Gambar 5.12.
Tabel 5. 14. Proyeksi volume bongkar dan muat Ikan di Pelabuhan Raja
Ampat
No.

Tahun

perikan
an

2010

222

2011

2012

502
262776
2

regresi

Proyeksi
pertumbuha
n

moderat

pertumbuha
n (%)
1.25661090
1
5235.88070
5

99

2013

2014

2015

2016

2017

2018

10

2019

11

2020

12

2021

13

2022

14

2023

15

2024

16

2025

17

2026

18

2027

19

2028

20

2029

21

2030

22

2031

23

2032

24

2033

25

2034

26

2035

27

2036

222535
2

22253
52
14651
30
15581
56
16511
82
17442
08
18372
34
19302
60
20232
86
21163
12
22093
38
23023
64
23953
90
24884
16
25814
42
26744
68
27674
94
28605
20
29535
46
30465
72
31395
98
32326
24
33256
50
34186
76
35117
02

2225352

2225352

0.15313788
7

2670422

2067776

-34.16%

3204507

2381331

6.35%

3845408

2748295

5.97%

4614490

3179349

5.63%

5537388

3687311

5.33%

6644866

4287563

5.06%

7973839

4998562

4.82%

9568607

5842459

4.60%

11482328

6845833

4.40%

13778794

8040579

4.21%

16534552

9464971
1116493
9
1319559
9
1562308
7
1852677
1
2200188
9
2616272
7
3114643
1
3711757
3
4427364
1
5285162
0
6313589
2
7546771
5

4.04%

19841463
23809755
28571706
34286048
41143257
49371908
59246290
71095548
85314658
102377589
122853107
147423729

3.88%
3.74%
3.60%
3.48%
3.36%
3.25%
3.15%
3.05%
2.96%
2.88%
2.80%
2.72%

100

28

2037

29

2038

30

2039

31

2040

32

2041

36047
28
36977
54
37907
80
38838
06
39768
32

176908474
212290169
254748203
305697844
366837412

9025660
1
1079939
62
1292694
91
1547908
25
1854071
22

2.65%
2.58%
2.52%
2.45%
2.40%

Proyeksi Perikanan
400000000
350000000
300000000
250000000
200000000
Regresi
Pertumbuhan
Jumlah Hasil
Perikanan 150000000
100000000
50000000
0

Moderat

Tahun

Gambar 5.12. Grafik proyeksi bongkar dan muat Ikan di Pelabuhan Raja
5.5.2. Proyeksi Penumpang
Proyeksi jumlah penumpang di pelabuhan Raja Ampat dilakukan
dengan cara regresi antara data jumlah penumpang yang naik dan turun di
pelabuhan Raja Ampat dengan data jumlah penduduk hinterland. Data
operasional tahun 2012 sampai 2014 disajikan seperti pada tabel berikut ini.
Tabel 5. 15. Data jumlah penumpang di pelabuhan Raja Ampat
Tahun
Turun
2012
54911
2013
82566
2014
129536

Tahun
Naik
2012
63119
2013
83840
2014
91567

Sumber : Raja Ampat dalam Angka

101

Dengan melakukan proyeksi total penumpang terlebih dahulu, maka


proyeksi penumpang naik dan penumpang turun di pelabuhan juga dapat
dihitung. Proyeksi jumlah penumpang di pelabuhan Raja Ampat mengikuti
bagan alir berikut ini.

Gambar 5.13. Diagram alir proyeksi penumpang di Pelabuhan Raja Ampat


Dua

skenario

proyeksi

dilakukan

dalam

meramalkan

jumlah

penumpang (naik dan turun) di pelabuhan Raja Ampat yaitu Menggunakan


metode regresi dan metode rerata pertumbuhan jumlah penumpang berdasarkan

102

data operasional pelabuhan sebesar 10,1% serta proyeksi moderat

yang

merupakan rerata dari model trend dan model rerata pertumbuhan. Fungsi
linier hasil regresi jumlah penduduk dengan jumlah penumpang di pelabuhan
Raja Ampat adalah:
y

= -1109,857 + 0,082x

= 0,753

103

Nilai y adalah variabel terikat (total penumpang) sedangkan nilai x adalah variabel bebas yaitu jumlah penduduk
hinterland. Secara keseluruhan hasil proyeksi total penumpang di pelabuhan Raja Ampat dapat dilihat pada Tabel 5.16 dan
Gambar 5.14.
Tabel 5. 16. Proyeksi Penumpang turun di Pelabuhan Raja Ampat (Jiwa)
No.

Tahun

penumpang
turun

regresi
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17

2010
2011
2012
2013
2014
2015
2016
2017
2018
2019
2020
2021
2022
2023
2024
2025
2026

54911
82566
129536

pertumbuhan
(%)

Proyeksi
51692
89004
126317
163629
200942
238254
275567
312879
350192
387504
424817
462129
499442
536754
574067
611379
648692

pertumbuhan

129536
155443
186532
223838
268606
322327
386792
464151
556981
668377
802053
962463
1154956
1385947
1663137

moderat

129536
159536
193737
231046
272086
317603
368492
425828
490899
565253
650747
749609
864511
998663
1155914

50%
57%
26.32%
22.80%
18.57%
15.66%
13.54%
11.93%
10.65%
9.63%
8.78%
8.07%
7.47%
6.95%
6.50%
6.10%

104

18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32

2027
2028
2029
2030
2031
2032
2033
2034
2035
2036
2037
2038
2039
2040
2041

686004
723317
760629
797942
835254
872567
909879
947192
984504
1021817
1059129
1096442
1133754
1171067
1208379

1995764
2394917
2873900
3448680
4138416
4966099
5959319
7151183
8581420
10297704
12357244
14828693
17794432
21353318
25623982

1340884
1559117
1817265
2123311
2486835
2919333
3434599
4049187
4782962
5659760
6708187
7962568
9464093
11262193
13416181

5.75%
5.44%
5.16%
4.91%
4.68%
4.47%
4.28%
4.10%
3.94%
3.79%
3.65%
3.52%
3.40%
3.29%
3.19%

Tabel 5. 17. Proyeksi Penumpang naik di Pelabuhan Raja Ampat (Jiwa)


regresi
1
2
3
4
5
6

2010
2011
2012
2013
2014
2015

63119
83840
91567

65285
79509
93733
107957
122181
136405

pertumbuhan

91567
109880
131856
158228

moderat

91567
108919
127019
147316

33%
9%
17.90%
13.18%
11.64%

105

7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32

2016
2017
2018
2019
2020
2021
2022
2023
2024
2025
2026
2027
2028
2029
2030
2031
2032
2033
2034
2035
2036
2037
2038
2039
2040
2041

150629
164853
179077
193301
207525
221749
235973
250197
264421
278645
292869
307093
321317
335541
349765
363989
378213
392437
406661
420885
435109
449333
463557
477781
492005
506229

189873
227848
273418
328101
393721
472466
566959
680350
816421
979705
1175646
1410775
1692930
2031516
2437819
2925383
3510459
4212551
5055061
6066073
7279288
8735145
10482174
12578609
15094331
18113197

170251
196350
226247
260701
300623
347107
401466
465274
540421
629175
734257
858934
1007123
1183528
1393792
1644686
1944336
2302494
2730861
3243479
3857198
4592239
5472866
6528195
7793168
9309713

10.43%
9.44%
8.63%
7.94%
7.36%
6.85%
6.41%
6.03%
5.69%
5.38%
5.10%
4.86%
4.63%
4.43%
4.24%
4.07%
3.91%
3.76%
3.62%
3.50%
3.38%
3.27%
3.17%
3.07%
2.98%
2.89%

106

5.5.3. Proyeksi Kunjungan Kapal


Kunjungan kapal di Pelabuhan Raja Ampat pada tahun mendatang
diproyeksikan dengan cara membagai volume muatan dengan kapasitas kapal.
Kunjungan kapal yang diproyeksikan ada dua, yaitu kunjungan kapal Ikan
dan kunjungan kapal penumpang. Berdasarkan data kapal yang dilayani di
pelabuhan Raja Ampat diperoleh bahwa ukuran kapal maksimum yang
berkunjung ke pelabuhan Raja Ampat adalah kapal dengan kapasitas 745 GT.
Kapasitas kapal ini setara dengan kapal DWT sama dengan 1490 atau 1500
ton. Kapal dengan DWT = 1500 memiliki ukuran :
Panjang, LOA
Lebar, B
Sarat, D

= 78.00 m
= 12.55 m
= 3.80 m

Untuk kapal Ikan perbanding antara payload kapal dengan DWT


adalah 0.82. Oleh sebab itu, dalam satu kali trip, muatan kapal adalah
1230 ton. Dengan membagi volume muatan di pelabuhan dengan kapasitas
angkut kapal, diperoleh kunjungan kapal Ikan seperti yang disajikan pada table
berikut.

107

108

Tabel 5. 18. Proyeksi call kapal di Pelabuhan Raja Ampat


No.

Tahun
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23

2010
2011
2012
2013
2014
2015
2016
2017
2018
2019
2020
2021
2022
2023
2024
2025
2026
2027
2028
2029
2030
2031
2032

Proyeksi
Kunjungan
Kapal
regresi
pertumbuhan
moderat
1033
1037
1166
1158
1276
1280
1276
1276
1401
1416
1409
1523
1572
1547
1644
1745
1695
1766
1937
1851
1887
2150
2019
2009
2387
2198
2130
2649
2390
2252
2941
2596
2373
3264
2819
2495
3623
3059
2616
4022
3319
2738
4464
3601
2859
4955
3907
2981
5500
4240
3102
6105
4604
3224
6777
5000
3345
7522
5434
3467
8350
5908
3588
9268
6428
3710
10288
6999

pertumbuhan
(%)
0.12875121
0.094339623
9.49%
8.67%
7.98%
7.39%
6.88%
6.44%
6.05%
5.70%
5.40%
5.12%
4.87%
4.64%
4.44%
4.25%
4.08%
3.92%
3.77%
3.63%
3.50%
3.39%

109

24
25
26
27
28
29
30
31
32

2033
2034
2035
2036
2037
2038
2039
2040
2041

3831
3953
4074
4196
4317
4439
4560
4682
4803

11419
12675
14070
15617
17335
19242
21359
23708
26316

7625
8314
9072
9906
10826
11840
12959
14195
15560

3.28%
3.17%
3.07%
2.98%
2.90%
2.81%
2.74%
2.66%
2.60%

110

Proyeksi Kunjungan Kapal


30000
25000
20000
Regresi
Jumlah Kunjungan Kapal

15000

Pertumbuhan

Moderat

10000
5000
0

Tahun

Gambar. 5.14. Proyeksi Kunjungan Kapal Ikan Kabupaen Raja Ampat

111