Anda di halaman 1dari 14

Diberikan

: 15 April 2016

Dikumpulkan

: 22 April 2016

MAKALAH METODE PERBAIKAN TANAH


PENGGUNAAN PREFABRICATED VERTICAL DRAIN PADA PENGEMBANGAN
TERMINAL PETI KEMAS SEMARANG

OLEH :
NAMA : DIAN EKA WATI
NIM : D111 13 323
KELAS : SIPIL A

FAKULTAS TEKNIK JURUSAN TEKNIK SIPIL


UNIVERSITAS HASANUDDIN
2015/2016

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Perbaikan tanah merupakan suatu cara untuk mendapatkan harga daya dukung tanah
yang cukup aman pada kondisi beban tertentu. Khususnya pada kondisi awal tanah yang kurang
memenuhi syarat yang diperlukan. Tanah dengan kondisi buruk apabila dibebani akan berakibat
pada rendahnya stabilitas dan terjadinya penurunan tanah yang besar.
Perbaikan tanah dilakukan pada tanah yang terletak pada formasi tanah yang tidak
mengun-tungkan. Berupa tanah empang dengan kondisi tanah lempung yang lunak (soft clay)
dan lanau. Lapisan
yang cukup keras berada pada kedalaman 20-30 meter. Tanah jenis ini mempunyai sifat yang
kurang menguntungkan, terutama pada sifat yang compressible dengan daya dukung yang
rendah.
Teknologi konstruksi bangunan akhir-akhir ini mengalami kemajuan yang sangat pesat.
Hal ini bisa dilihat dari pesatnya pembangunan yang dilakukan baik di dalam negeri maupun di
luar negeri. Seiring perkembangan tersebut dituntut pula teknologi yang sesuai dan memadai
dengan kebutuhan yang ada. Para engineer juga sudah banyak yang melakukan inovasi dalam
dunia konstruksi ini baik dalam hal structural seperti teknologi bahan beton atau baja maupun
dalam hal desain.
Dalam suatu struktur bangunan, tanah merupakan bagian yang penting karena
kebanyakan semua bangunan menumpu pada suatu lapis tanah. Pada suatu jenis tanah, tidak
menutup kemungkinan adanya permasalahan yang muncul baik dari segi daya dukung maupun
penurunan akibat beban yang menumpu pada tanah tersebut. Dari permasalahan yang muncul
tersebut, para engineer berusaha melakukan inovasi untuk mengatasi permasalahan tersebut.
Salah satu contoh kasus adalah dalam hal penurunan yang terlalu besar pada suatu jenis lapis
tanah akibat adanya beban dari suatu konstruksi gedung ataupun bangunan lain. Pada penurunan
tanah yang terlalu besar tersebut mengakibatkan masalah pada konstruksi yang dibangun di
atasnya seperti halnya retak yang terjadi pada bagian struktur balok maupun kolom gedung

tersebut. Selain pada gedung, penurunan yang terlalu besar juga berakibat buruk pada struktur
perkerasan jalan.
Dalam penulisan tugas matakuliah ini, penulis mengangkat topik penggunaan
prefabricated vertical drain (PVD) pada perencanaan lapangan penumpukan peti kemas pada
pelabuhan tanjung emas Semarang. Kita tahu bahwa peti kemas merupakan beban dengan massa
yang tinggi. Hal tersebut tidak menutup kemungkinan terjadinya penurunan pada lapangan
penumpukan peti kemas tersebut. Untuk mengatasi masalah penurunan yang terlalu besar
tersebut, perlu dilakukan perbaikan terhadap tanah yang bersangkutan dengan melakukan
berbagai perlakuan yang bisa memperbaiki kualitasnya misalanya dengan melakukan
pembebanan untuk mempercepat proses konsolidasi tanah tersebut ataupun dengan
memanfaatkan teknologi PVD (prefabricated Vertical Drain) yang juga bisa mempercepat proses
konsolidasi dan meningkatkan daya dukung dari tanah tersebut. Dapat diketahui bahwa hal ini
diterapkan berdasarkan teori yang didapat dari matakuliah perbaikan tanah yang sudah dipelajari
penulis di bangku perkuliahan.

1.2 Lingkup Bahasan


Dalam penulisan tugas matakuliah perbaikan tanah ini terdapat dua tahap dalam
penyusunannya, diantaranya :
a. Tahap pengumpulan informasi
Dalam tahap ini digunakan metode pustaka atau studi literature yaitu dengan mencari
informasi tentang permasalahan yang terjadi pada objek yang dituju dari internet dan studi
literature dari buku mengenai masalah yang akan dibahas sebagai referensi.
b. Tahap pembahasan
Dalam tahap ini masalah yang ada akan dibahas dan dipahami dengan mengacu pada
sumber yang ada serta memadukannya dengan teori-teori yang sudah ada.
1.3 Batasan Masalah
Adapun batasan masalah dari pembahasan kasus yang diambil ini antara lain:
a. Informasi yang didapat berasal dari internet
b. Pembahasan yang diterapkan adalah sebatas pengkajian masalah yang ada dengan
mengacu pada buku-buku yang berkaitan dengan teori perbaikan tanah dan sumber dari
internet

BAB II
METODE PREFABRICATED VERTICAL DRAIN PADA PENGEMBANGAN
TERMINAL PETI KEMAS SEMARANG

2.1 Konsolidasi
Penambahan beban diatas permukaan tanah dapat menyebabkan lapisan tanah
dibawahnya mengalami pemampatan Braja M. Das, 1985, mendefinisikan konsolidasi sebagai
proses keluarnya air atau udara dari dalam pori tanah, deformasi partikel tanah, relokasi
partikel yang disebabkan oleh beban tambahan pada tanah. Secara umum penurunan pada
tanah

yang

disebabkan

oleh

pembebanan

dibagi

menjadi

penurunan konsolidasi

(consolidation settlement) dan penurunan segera (immdiate settlement). Kecepatan konsoilidasi


tanah sangat dipengaruhi oleh jenis tanah dan koefisien rembesan pada tanah. Untuk
menghitung

besarnya

konsolidasi

yang

terjadi

Braja M. Das

memberikan

beberapa

perumusan sesuai dengan kondisi tanah, yaitu:


S=

Cc . H
Po+ P
log(
)
1+e 0
Po

Persamaan diatas adalah untuk tanah terkonsolidasi normal (normally consolidated), sedangkan
untuk tanah terkonsolidasi lebih (overconsolidated), persamaannya adalah:
S=

Cs . H
Po+ P
log(
)
1+e 0
Po

Dimana :
S

= total konsolidasi

Cc = indeks pemampatan
Cs = indeks pemuaian
eo = angka pori awal tanah
po = tekanan overburden tanah

P = penambahan tekanan vertikal pada tanah

2.2 Settlement ( penurunan )


Jika lapisan tanah terbebani, maka tanah akan mengalami

regangan/penurunan

(settlement). Regangan yang terjadi dalam tanah ini disebabkan oleh deformasi partikel tanah
maupun relokasi partikel serta pengurangan

air/udara

dari

dalam

pori

tanah tersebut.

Settlement yang disebabkan oleh pembebanan dibagi dalam 2 yaitu:


a.Immediate settlement(penurunan langsung)
Merupakan pemampatan yang diakibatkan

oleh perubahan elastis tanah tanpa adanya

perubahan kadar air. Perhitungan pemampatan segera ini umumnya didasarkan pada
pemampatan yang diturunkan dari teori elastisitas.
b. Consolidation settlement(penurunan akibat beban)
Penurunan total dari tanah berbutir halus yang jenuh air adalah jumlah dari penurunan
segera dan penurunan konsolidasi. Penurunan konsolidasi masih dapat dibagi lagi menjadi
penurunan akibat konsolidasi primer dan penurunan akibat konsolidasi sekunder. Besarnya
amplitudo/penurunan tanah total menurut Das (1985) adalah :

St = Si + Scp + Scs + Slat


dimana :
St = total settlement
Si = immediate settlement
Scp = consolidation primer settlement (Merupakan hasil dari perubahan volume
tanah jenuh air sebagai akibat keluarnya air yang menempati pori-pori tanah).
Scs = consolidation secondary settlement (Merupakan akibat dari perubahan plastis
tanah).
Slat= settlement akibat pergerakan tanah arah lateral.

2.3 Prefabricated Vertical Drain (PVD)


Sering dijumpai dalam perencanaan bahwa preloading masih memerlukan waktu
yang terlalu lama (umumnya lebih dari 1 tahun) padahal proyek tidak dapat menunggu
selama itu. Untuk mempercepat konsolidasi, digunakan vertical drain. Cara ini diterapkan

pada tanah dimana pemampatan terjadi sebagian besar akibat konsolidasi primer (primary
consolidation).
Vertical drain umumnya berupa tiang-tiang vertikal yang

mudah

mengalirkan air

(berwujud sand drain/tiang pasir atau dari bahan geosintetis yang dikenal dengan "wick drain"
atau juga dikenal sebagai Prefabricated Vertical Drain ). Tiang-tiang atau lubang-lubang
tersebut dipasang di dalam tanah pada

jarak

tertentu

sedemikian

rupa

sehingga

memperpendek jarak aliran drainase air pori (drainage path). Waktu yang diperlukan untuk
mencapai derajat konsolidasi tertentu adalah fungsi dari tebal/panjang lapisan aliran drainase
(drainage path), yang akan dibahas lebih lanjut di subbab berikutnya.
Masalah

utama

dari

adanya

timbunan

tinggi adalah masalah konsolidasi atau

penurunan pada tanah dasar. Untuk mencegah terjadinya hal tersebut maka perlu adanya
perencanaan perbaikan tanah dasar. Penggunaan Vertikal Drain paling cocok atau sesuai
untuk perbaikan tanah lempung kelanauan atau jenis tanah yang compressible.
Untuk mengatasi kelongsoran seperti pekerjaan reklamasi di atas tanah lempung
lunak sangat lunak, mempercepat konsolidasi maka praktisi sering menggunakan teknologi
PVD (Prefabricated Vertical Drain). Teknologi ini mempercepat proses konsolidasi dan
meningkatkan kuat dukung tanah sehingga permasalahan kelongsoran dapat dicegah.
Kelemahan teknologi ini, pada kenyataannya penurunan global masih sering terjadi, seperti
kasus di Pelabuhan Tanjung Mas, Semarang; ruas-ruas jalan di Jawa sisi utara: Lamongan;
perumahan mewah pantai kapuk Jakarta, Laguna Surabaya.
Langkahlangkah yang dilakukan untuk perbaikan tanah dengan metode vertikal drain
adalah:
1) Uji laboratorium
Pengujian di laboratorium diawali dengan pengambilan sampel di lapangan dengan
menggunakan alat sondir pada titik pengamatan. Sampel tersebut kemudian dibawa ke
laboratorium dan diuji sesuai dengan prosedur. Dari pengujian tersebut diperoleh
parameter-parameter yang diperlukan sebagai berikut; indeks pemampatan (Cc) dan
koefisien konsolidasi (Ch).
2) Perencanaan vertikal drain

Data yang diperoleh dari uji di laboratorium selanjutnya digunakan pada perencanaan
vertikal drain. Kemudian diameter dan jarak kolom dari vertikal drain ditetapkan.
3) Analisa stabilitas dan penurunan
analisa stabilitas dan penurunan pada tanah perlu dilakukan dalam perencanaan suatu
bangunan terutama pekerjaan konstruksi, dengan tujuan untuk mengetahui keamanan dari
hasil yang direncanakan.

BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN
Pelabuhan Tanjung Emas Semarang pada umumnya dan lapangan penumpukannya
pada khususnya memiliki peran strategis dalam menunjang kegiatan arus lalu lintas transportasi

angkutan laut dan sebagai penggerak dalam meningkatkan pertumbuhan perekonomian Jawa
Tengah Timur. Setiap tahun pertumbuhan arus barang terutama dan Indonesia Bagian peti
kemasnya baik domestik maupun internasional

di

Pelabuhan Tanjung

Emas

Semarang

mengalami peningkatan melebihi kapasitas yang ada. Adapun proyeksi produktivitas bongkar
muat peti kemas tahun 2004-2009, baik untuk ekspor, full import, dan empty import akan selalu
meningkat. Sehingga

perlu adanya pengembangan areal lapangan penumpukan untuk

menampung arus overflow dari muatan petikemas yang tidak tertangani di Pelabuhan
Tanjung Emas seluruhnya.
Berdasarkan konsep Denah Pengembangan Terminal Peti Kemas Pelabuhan Tanjung
Emas Semarang lokasi yang diusulkan adalah di Pantai Utara Semarang, dimana pengembangan
yang akan dilakukan diantaranya adalah Reklamasi lapangan penumpukan seluas 5250 m 2.
Namun permasalahan muncul dalam perencanaan ini. Yaitu kondisi tanah Semarang yang jelek
apalagi tanah terletak di laut dan kondisi gelombang yang besar dari Barat Laut.Hingga benarbenar diperlukan perencanaan yang betul dengan dilakukan perbaikan tanahnya terlebih
dahulu agar tidak terjadi kegagalan struktur yang berakibat fatal.
Dalam penanganan masalah kondisi tanah yang jelek ini dilakukan perlakuan perbaikan
tanah tersebut dengan menggunaan prevabricated vertical drain (PVD). Masalah utama dari
adanya timbunan tinggi adalah masalah konsolidasi atau penurunan pada tanah dasar. Untuk
mencegah terjadinya hal tersebut maka perlu adanya perencanaan perbaikan tanah dasar.
Penggunaan Vertikal Drain paling cocok atau sesuai untuk perbaikan tanah lempung
kelanauan atau jenis tanah yang compressible. Perlakuan ini dilakukan untuk mempercepat
konsolidasi tanah setempat serta untuk meningkatkan daya dukungnya.
Untuk kebutuhan dan tipe kebutuhan vertical drain bisa dilihat pada table di bawah ini:

PVD umumnya berbentuk pita (band-shaped) dengan sebuah inti plastik beralur yang
dibungkus dengan selubung filterterbuat dari kertas atau atau susunan platik tak beranyam (non
woven plastic fabric). Ukuran yang biasa digunakan yaitu lebar 10 cm dan tebal 0.4 cm.
Biasanya gangguan yang disebabkan oleh penggunaan sistem drainase dengan PVD ini lebih
kecil disbanding dengan system sand drain yang konvensional. Alat yang biasanya digunakan
untuk membuat lubang drainase dengan PVD ini bernama stitcher, seperti yang dapat dilihat
dibawah ini.

Perkembangan vertical drains sendiri sudah dimulai sejak tahun 1925, dimana D.J.Moran
seorang insinyur berkebangsaan Amerika memperkenalkan pemakaian drainase dari kolomkolom pasir untuk stabilitas tanah pada kedalaman yang besar. Kemudian untuk pertama kalinya
instalasi drainase ini digunakan di California dan seiring dengan berjalannya waktu, tipe drainase
ini dikenal dengan istilah drainase vertikal (vertical drain). Pada tahun 1936, diperkenalkan
sistem drainase menggunakan bahan sintetis oleh Kjellman di Swedia. Setelah di tes di beberapa
tempat pada tahun 1937 dengan bahan cardboard, lantas mendapat sambutan yang hangat oleh
para ilmuwan. Sejak saat itu, pengembangan vertical drain dilanjutkan dengan berbagai macam
bahan.
Dengan digunakannya prefabricated vertical drains, waktu yang dibutuhkan untuk
konsolidasi melalui teknik preloading pun menjadi semakin singkat dan penurunan/settlement
yang terjadi juga dapat direduksi. Bahkan proses installasi nya pun saat ini sudah semakin
berkembang dimana prefabricated vertical drain dapat mencapai kedalaman 60 m dengan laju 1
m/dt.
Seperti yang telah disebutkan sebelumnya bahwa tanah lempung lunak memiliki
permeabilitas yang rendah, sehingga membutuhkan waktu yang lama untuk menyelesaikan
konsolidasi. Untuk mempersingkat waktu konsolidasi tersebut, drainase vertikal (vertical drains)
dikombinasikan dengan teknik preloading. Vertical drain tersebut sebenarnya merupakan jalur
drainase buatan yang dimasukkan kedalam lapisan lempung. Dengan kombinasi preloading, air
pori diperas keluar selama konsolidasi dan mengalir lebih cepat pada arah horizontal daripada
arah vertikal. Selanjutnya, air pori tersebut mengalir sepanjang jalur drainase vertikal yang telah
diinstalasi. Oleh karena itu, vertical drain berfungsi untuk memperpendek jalur drainase dan
sekaligus mempercepat proses konsolidasi.
Metode tradisional yang digunakan dalam pemasangan vertical drains ini yaitu dengan
membut lobang bor pada lapisan lempung dan mengisi kembali dengan pasir yang bergradasi
sesuai titik. Ukuran diameternya sekitar 200 - 600 mm dengan panjang saluran sedalam lebih
dari 5 meter. Karena tujuannya untuk memperpendek panjang lintasan pengaliran, maka jarak
antar drainase merupakan hal yang terpenting.

BAB IV

PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Terminal peti kemas di pelabuhan Tajung Emas Semarang merupakan prasarana untuk
menaikkan ataupun menurunkan peti kemas baik dari dalam negeri maupun luar negeri. Dengan
semakin bertambahnya jumlah peti kemas yang perlu ditangani di pelabuhan ini menyebabkan
perlu adanya pengembangan lapangan terminal tersebut.
Dalam pengembangan terminal tersebut tidak lepas dari permasalahan yang muncul
dengan adanya beban peti kemas yang ditampung di tempat tersebut. permaslahan yang terjadi
diantaranya pada penurunan tanah setempat akibat pembebanan dari peti kemas tersebut. selain
itu permasalahan yang ada ditimbulkan akibat kondisi tanah yang jelek.
Sehingga untuk menangani masalah ini perlu adanya perlakuan untuk tujuan perbaikan
tanah setempat. Dalam hal ini digunakan teknologi prefabricated vertical drain (PVD) untuk
mengatasi masalah

tanah tersebut. PVD mampu mempercepat proses konsolidasi dan

meningkatkan daya dukung tanah serta sangat cocok untuk mengatasi masalah kualitas tanah
yang kurang baik.

4.2 Saran
Dalam penulisan tugas ini tidak lepas dari kekurangan dan ketidaksempurnaan. Oleh
karena itu saran yang mendukung sangat penulis harapkan untuk kesempurnaan penulisan
selanjutnya.

DAFTAR PUSTAKA

http://www.tpks.co.id/about_us
http://rachmadony.blogspot.com/2012/09/teknik-preloading-dan-penggunaan.html
http://prezi.com/bm6iz3f5_wvf/vertikal-drain/
http://www.docstoc.com/docs/21320876/KOMBINASI-PRELOADING-DAN-PENGGUNAAN-PREFABRICATED-VERTICAL-DRAINS
http://fabrimetricsphils.com/main/page_products_prefabricated_vertical_drain_pvd.html
http://www.hbwickdrains.com/WhatWeDo/WickDrains/default.aspx
http://www.civilmastergroup.com/ge_PVD.html
http://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S0266114411001233
http://thesis.binus.ac.id/Doc/Bab2HTML/2010200448SPbab2/page41.html