Anda di halaman 1dari 5

Nama: Nanda Firdausi Nuzula

Kelas: XI IIS 2
Seputar Masalah Tenaga Kerja Outsourcing di Indonesia
Akhir-akhir ini di bundaran HI Jakarta Pusat marak dengan aksi demo yang
dilakukan para buruh yang meminta pemerintah mencabut ketentuan masalah
pelaksanaan outsourcing diIndonesia. Bahkan aksi ini disambut aksi serupa di
beberapa wilayah di Indonesia. Ada apadengan masalah outsourcing ini?
Perdebatan panjang tentang outsourcing sebenarnya sudah lama terjadi, bahkan
saat Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan masih
berbentuk rancangan atau draf.Banyak orang tidak memahami apa yang menjadi
akar permasalahan outsourcing ini.Sehingga aksi-aksi demo buruh yang sekarang
terjadi sangat rawan sekali untuk ditunggangi oleh kelompok-kelompok tertentu
yang tidak bertanggung jawab. Untuk memahami permasalahan ini maka ada
baiknya kita perlu mengetahui jenis atau macam dari outsourcingini.
Adapun jenis outsourcing itu ada dua jenis:
-pertama, outsourcing pemborongan pekerjaan, yaitu kegiatan pemborongan
pekerjaan tertentu kepada perusahaan yang lebih profesional
-kedua, pengerahan tenaga kerja melalui jasa pengerah tenaga kerjaContoh
kegiatan pemborongan pekerjaan adalah perusahaan pabrik minuman
memborongkan pekerjaan khusus untuk packagingnya atau bottling nya ke
perusahaan spesialis bottling.
Jenis outsourcing ini sudah eksis sejak lama tanpa ada masalah. Sedangkan
pengerahantenaga kerja melalui jasa pengerah tenaga kerja, perusahaan
mendistribusikan pekerja kepada perusahaan yang membutuhkan, dan bentuk
outsourcing inilah yang banyak menjadi polemik. Karena buruh dianggap atau
disamakan dengan barang komuditas yang bisadiperjualbelikan.Untuk itu
persoalan outsourcing di Indonesia membutuhkan alternatif solusi yang
tepat.Solusi yang baik adalah solusi yang tidak merugikan kedua belah pihak, baik
pihak perusahaan selaku penyedia pekerjaan maupun pihak pekerja itu
sendiriSelain masih menemui kendala terkait ketentuan pesangon baik untuk
Perjanjian KerjaWaktu Tertentu (PKWT) maupun untuk Perjanjian Kerja Waktu
Tidak Tertentu (PKWTT),ternyata masalah outsourcing juga terkendala persoalan
diskriminasi antara karyawan outsourcing dengan karyawan yang langsung PKWT
dengan perusahaan pemberi pekerjaan.Melihat fenomena ini, maka perlu agar ada
kebijakan bersama antara pihak pelaksanaoutsourcing dan perusahaan pemberi
pekerjaan untuk memberikan cadangan pesangonkepada karyawan PKWT maupun

PKWTT. Namun, pada faktanya hingga saat ini belum adaaturan atau ketentuan
terkait petunjuk tertulis (Juklis) yang lebih jelas tentang siapa yang bertanggung
jawab untuk membayar biaya pesangon tersebut.Beberapa point penting terkait
permasalahan outsourcing, yang perlu dicermati, adalahsebagai berikut:
Pertama, pemerintah harus melakukan pengawasan dan menetapkan standar
regulasi di tingkat pusatdan daerah.Kedua, pengusaha atau industri diharap dapat
menentukan core dan non core serta membuat skemahubungan kerjasama yang
melindungi hak pekerja atau buruh, artunya perusahaan seharusnyamenetapkan
outsourcing bukan untuk cost reduction tetapi semangat untuk fokus pada
bisnisdan produktivitas yang berkaitan dengan kesejahteraan.Ketiga, perusahaan
outsourcing harus profesional dan taat hukum sehingga dapat menjadi mitrausaha
yang dapat diandalkan berdasarkan kompetensi dan
produktifitasnya.Keempat, pekerja atau buruh harus meningkatkan kompetensinya
agar mampu bersaing di tengah erayang kompetitif sehingga akan dicari
perusahaan dan mempunyai daya saing.Merujuk Putusan MK Putusan MK No. 27
Tahun 2011 mengenai pengujian Pasal 59, 64, 65dan 66 UU No13/2003 tentang
Ketenagakerjaan terhadap UUD 45, dijelaskan bahwa praktik outsourcing sudah
ditetapkan melalui beberapa pasal tersebut, menyebabkan para pekerjaPKWT atau
outsourcing kehilangan jaminan atas pekerja atau buruh, kehilangan hak-hak
dan jaminan kerja yang dinikmati oleh pekerja tetap serta kehilangan hak-hak yang
seharusnyaditerima pekerja sesuai dengan masa kerja pegawai karena
ketidakjelasan penghitunganya.Artinya, MK memutuskan setiap pekerja
outsourcing harus mendapatkan hak yang samadengan pekerja non outsourcing.
Untuk itu perusahaan outsourcing harus memperhitungkanmasa kerja yang ada
sebagai acuan untuk menentukan upah dan hak-hak lainnya di perusahaan
outsourcing yang bersangkutan, termasuk terjadi hal pengalihan kepada perusahaan
penerima pekerjaan yang lain.Pada intinya perlu dipikirkan bahwa upah buruh
outsourcing seharusnya dibuat lebih tinggidibandingkan dengan upah buruh tetap
karena buruh outsourcing cenderung buruh kontrak yang tidak memiliki akses
untuk mendapat pesangon, mereka dikontrak secara terus-menerus,tidak dicakup
dalam program Jaminan Sosial Tenaga Kerja (Jamsostek), dan tidak memiliki
kepastian kerja. Untuk itu pemerintah di harapkan tampil memberikan keadilan
denganmemberikan perlindungan tambahan terhadap mereka yang berada dalam
posisi lemah ini.

Nama: Annisa Utami Dewi


Kelas:

XI IIS 2

Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3)


Isu K3 ikut meramaikan perbincangan publik di bidang
ketenagakerjaan pada tahun 2014. Hal itu berkaitan
dengan kecelakaan kerja di tambang Big Gossan milik PT
Freeport di Papua yang terjadi pada Mei 2013. Pada
Februari 2014 hasil penyelidikan Komnas HAM terhadap
kasus itu menyimpulkan PT Freeport Indonesia melakukan
pelanggaran HAM karena melakukan kelalaian sehingga
puluhan buruh tewas. Sementara serikat pekerja
mendukung agar PT Freeport Indonesia dijatuhi sanksi
tegas atas peristiwa tersebut. Sebab, perusahaan
tambang, minyak dan gas wajib menerapkan K3 secara
maksimal di lokasi kerja.
Kecelakaan kerja di Freeport bukan satu-satunya yang
terjadi. Sejumlah pekerja kehilangan nyawa sepanjang
2014 gara-gara kurangnya perhatian pada K3. Pada tahun
ini, isu K3 kemungkinan masih layak diperhatikan
terutama para pemangku kepentingan.

Nama: Aldahera Novita


Kelas:

XI IIS 2

Pengupahan
Sebuah putusan Mahkamah Konstitusi yang
menempatkan upah sebagai utang yang pembayarannya
harus didahulukan dalam kasus kepailitan menjadi salah
satu solusi masalah pengupahan. Selama ini buruh
sangat dirugikan dalam kasus kepailitan, bukan tak
mungkin gigit jari.
Tapi persoalan upah memang begitu kompleks. Apalagi
berkaitan dengan Upah Minimum. Kalangan serikat
pekerja mendesak Permenakertrans No. 7 Tahun 2013
tentang Upah Minimum dicabut karena berpotensi
menghilangkan upah minimum sektoral provinsi atau
kabupaten/kota. Dukungan terhadap buruh Indonesia
untuk mendapat upah layak juga disuarakan federasi
serikat pekerja internasional. Mereka menilai tuntutan itu
lumrah dan tidak hanya dilakukan oleh buruh di
Indonesia, tapi juga di berbagai negara di Asia Pasifik.
Sementara pengusaha meminta agar penentuan upah
minimum dilakukan sederhana dan memperhatikan daya
saing serta pengangguran. Perbedaan pandangan buruh
dan pengusaha juga terletak pada komponen KHL.
Buruh meminta pemerintah untuk memperhatikan upah

layak bagi buruh yang sudah berkeluarga. Pasalnya,


selama ini pengupahan khsususnya upah minimum hanya
mengatur buruh lajang. Aturan itu diharapkan masuk
dalam RPP Pengupahan yang masih digodok pemerintah
(Kemenaker).

Nama: Annisa Utami Dewi


Kelas:

XI IIS 2

PHK Massal
Waspadai PHK! Nasehat ini pantas diperhatikan
mengingat potensi PHK massal masih ada. Tahun
lalu. Kelompok usaha HM Sampoerna melakukan
PHK massal. Tuntutan kenaikan upah buruh,
tingginya biaya operasional, dan daya tarik buruh
murah di sejumlah negara tetangga berimbas pada
penutupan perusahaan. Walhasil, buruh menjadi
korban PHK.
PHK massal dipengaruhi pula oleh kondisi
perekonomian nasional. Semakin buruk
perekonomian, semakin besar peluang perusahaan
tutup operasi. Selain PHK massal, PHK dalam skala
kecil, apalagi yang bisa dihitung dengan jari, terus
terjadi. Pemerintah bahkan menambah jumlah
Pengadilan Hubungan Industrial.