Anda di halaman 1dari 13

40

BAB IV
UNIT PENUNJANG PRODUKSI
A. Sumber Daya Air
Dalam hal pengadaan air, PT.SUPRAMA memperoleh air dari SBD (Sumur
Bor Dalam) yang berada di dalam area pabrik. PT.SUPRAMA memiliki dua SBD
dengan kedalaman 50-60 m yang digunakan untuk air produksi dan umpan boiler
dengan debit air 13,5 m3/jam. Sebelum digunakan, air dari SBD ini dipompa dan
ditampung dalam tangki penampung air dengan kapasitas 35.000 liter.
B. Sumber Daya Listrik
Pengadaan listrik untuk semua unit berasal dari PLN. Untuk unit 1, dipasok
dengan listrik berkapasitas 394 Kva dengan penggunaan sebesar 2.309 Kwh per
bulan. Untuk sumber listrik cadangan saat aliran listrik dari PLN mengalami
gangguan, disediakan genset berkapasitas 550 Kva berbahan bakar solar.
C. Sumber Daya Manusia
Sumber daya manusia merupakan salah satu faktor utama yang
dibutuhkan untuk keberlangsungan proses produksi dan mencapai tujuan
organisasi dari suatu perusahaan. Keberadaan sumber daya manusia yaitu
sebagai subjek yang berperan dalam pengendalian proses dan menjalankan
unit-unit yang terkait dalam proses produksi. Peran sumber daya manusia
tersebut seperti menjalankan mesin-mesin produksi, melaksanakan quality
control, proses pengemasan, menjalankan administrasi perusahaan, hingga
pelaksanaan manajerial yang baik.
Lokasi PT.SUPRAMA didukung dengan jumlah tenaga kerja yang memadai
di sekitar pabrik dan mudah untuk mendapatkannya. PT.SUPRAMA mudah
mendapatkan tenaga kerja karena dekat dengan pemukiman penduduk.
D. Pengadaan Steam
Pengadaan steam untuk semua unit menggunakan boiler dengan bahan
bakar batu bara. Terdapat 1 boiler dengan kapasitas batu bara sebesar 1 ton/jam
dan menghasilkan steam sebanyak 10 ton/jam. Tekanan maksimum dalam ruang
pemanas dijaga maksimal 10-11 bar. Suhu dalam pemanas dapat mencapai lebih
dari 900oC. PT.SUPRAMA menggunakan jenis batu bara yang memiliki kualitas
panas lebih dari 6000 kalori. Panas yang dihasilkan dari boiler ini digunakan
untuk keperluan steam box dan drying.

41

E. Limbah dan Sanitasi


1. Pengolahan Limbah
Limbah adalah hasil samping dan sisa-sisa dari proses produksi, hasil
aktivitas manusia, maupun proses alam yang tidak atau belum mempunyai nilai
ekonomi, baik yang berbentuk cair, padat, gas, dan limbah hasil sampingan
tersebut pada umumnya dibuang, dan bila tidak diolah terlebih dahulu dapat
mengganggu keseimbangan ekosistem, khususnya untuk ekosistem perairan di
sekitarnya. Limbah industri yang akan dibuang harus diolah terlebih dahulu
dengan tujuan untuk mencegah pencemaran lingkungan. Hasil bangunan /
limbah dari suatu industri biasanya dalam jumlah sangat banyak. Selain itu
jumlah dan jenis zat pencemar yang mengapung (floating pollutant), zat
pencemar uang melayang (suspended pollutant), dan zat pencemar yang larut
(dissolved pollutant). Pengolahan limbah buangan dapat dilakukan dengan dua
cara, yaitu cara fisik dan cara kimia. Dengan cara fisik, limbah diolah dengan
cara penyaringan (interference by screening, filtration), flotasi (flotation, dissolved
air flotation) dan sedimentasi (gravitation). Sedangkan dengan cara kimia
dilakukan dengan cara pemisahan, menggunakan prinsip penambahan bahan
kimia dalam jumlah kecil dengan maksud untuk memperoleh hasil proses yang
diharapkan, biasanya untuk pengolahan lebih lanjut (Susijahdi, 1996).
Secara umum ada beberapa limbah yang dihasilkan oleh PT.Surya Pratista
Hutama, yaitu limbah batu bara, limbah hasil produksi, limbah cair, limbah suara,
limbah gas. Dari hasil sampingan tersebut, beberapa dapat menghasilkan nilai
ekonomis dan bahkan dapat digunakan kembali.

a) Limbah Batu Bara


PT. Surya Pratista Hutama menggunakan sumber energi yang digunakan
untuk steam dengan bahan bakar berupa batu bara. Limbah hasil sisa-sisa
pembakaran batu bara dibagi menjadi dua yaitu :

42

1. Bottom ash
Bottom ash merupakan hasil sisa dari batu bara yang hasil pembakarannya
sempurna. Biasanya berbentuk batu-batu kecil yang berwarna hitam yang sudah
tidak terdapat nyala membara, karena telah terbakar sempurna. Pada
penangannya tidak perlu dilakukan pemerangkapan/penyaringan yang khusus,
dikarenakan bottom ash ini akan jatuh sendiri pada wadah drum yang telah
disediakan karena tertiup udara dari fan yang terdapat dari dalam burner.
2. Fly ash
Fly ash merupakan hasil sisa pembakaran sempurna batu bara yang
berbentuk padatan-padatan yang sangat halus berwarna hitam. Pada proses
penangannya diperlukan pemerangkapan. Penyaringan yang khusus yaitu,
dengan memasang blower yang mengendap ke bawah pada bagian paling ujung
dari cerobong agar fly ash tidak lepas karena beratnya sangatlah ringan. Setelah
itu fly ash yang telah tersaring dikumpulkan dan dimasukkan ke karung.
Untuk limbah padat B3 yaitu Bottom ash dan fly ash, setelah dipacking ke
dalam sak dan ditata secara berpalet maka akan diangkut oleh pihak ketiga yang
mempunyai ijin mengelola limbah B3. PT. Surya Pratista Hutama bekerja sama
dengan PT. Tenang Jaya Sejahtera sebagai pengelola dan PT. Putra Restu Ibu
Abadi sebagai pengangkut yang kesemuanya telah dipastikan memiliki ijin
operasional.
b) Limbah Hasil Produksi
Berdasarkan GMP penanganan limbah padat, disediakan tempat sampah
yang disertai penutup, sampah kering dan basah ditampung terpisah, sampah
plastik sisa kemasan produksi dikumpulkan, dan sampah secara rutin dibuang ke
TPA. Pada PT. Surya Pratista Hutama hasil dari proses produksi seperti mie tidak
standar masih dapat mempunyai nilai ekonomis. Mie yang sudah jadi tetapi tidak
memenuhi standar keamanan pangan misal tidak layak makan, bekas jatuh dan
lain-lain dijual sebagai pakan ternak atau yang sering disebut sebagai afalan. Mie
yang tidak memenuhi kualitas standar namun masih aman sebagai bahan
pangan dijual sebagai barang drown grade, yang dikemas tanpa merk dan dijual
dengan harga yang tentunya lebih murah atau dapat dijual sebagai pakan ternak.

43

Untuk produk retur dan kadaluarsa akan dihancurkan/dimusnahkan. Semua


kemasan retur kemudian akan disobek dan dirusak agar tidak disalah gunakan
oleh pihak yang tidak bertanggung jawab. Untuk rontokan mie basah yang
masuk ke dalam bak kontrol, diiambil secara manual setiap 2x sehari, yaitu pagi
dan sore. Kemudian dikeringkan di atas Drying Bed selama satu minggu. Bila
telah kering kemudian dimasukkan ke dalam karung yang akan diambil oleh
mobil Dinas Kebersihan secara berkala 2x seminggu.
c) Limbah Cair
Pada PT. Surya Pratista Hutama limbah cair yang dihasilkan adalah berupa
minyak bekas penggorengan dan air buangan hasil proses produksi. Air sisa
hasil produksi akan dialirkan untuk penanganan lebih lanjut dikarenakan masih
terdapat sisa-sisa minyak maupun padatan yang tidak terpisah pada bak
leveling. Sebelum air sisa hasil produksi ini dibuang keluar pabrik, dilakukan
penanganan melalui tahap laveling lagi namun dengan menggunakan delapan
bak leveling, sehingga pemisahan akan menjadi lebih sempurna.
Pembuangan limbah ke lingkungan sekitar pabrik harus mempunyai kadar
BOD (Biochemical Oxygen Deman) dan COD (Chemical Oxygen Demand) yang
rendah. Batasan kandungan BOD dan COD menurut buku mutu limbah SK. Gub
Jatim No. 45 Tahun 2002 dapat dilihat pada tabel di bawah ini :
Tabel 4.1 Batas Kadar Pencemar yang dihasilkan Industri Mie
N o . Par am et e r Satuan K a d a r KadarMaximum
1
p
H 7
6
9
2
B
O
D m g / l 2 5 , 3 5
0
3
C
O
D m g / l 56,675 1
2
0
4
T
S
S m g / l 2
5
0
5
Minyak Lemak m g / l < L D 2
0
0
6
S u h u
C 2 8 , 5 Sumber : Baku Mutu Limbah SK.Gub Jatim No. 45 tahun 2002
Pada pembuangan limbah harus diperhatikan kadar BOD (Biological
Oxygen Demand) dan COD (Chemical Oxygen Demand) karena limbah yang
terhubung akan dialirkan ke lingkungan sekitar, dan haruslah tidak akan
mencemari lingkungan tersebut yang akan dapat memberikan dampak buruk
bagi lingkungannya. Alasan limbah harus memiliki kadar BOD dan COD yang
rendah karena kadar BOD dan COD dapat mempengaruhi COD (Dissolved

44

Oxygen) / kadar oksigen tersebut terlarut dari system ekologi lingkungan, dan
makhluk lain yang hidup di sana. Kadar BOD merupakan tingkatan dari
mikrobiologi yang dapat mendekomposisi suatu bahan organik dengan kondisi
aerobik yang memerlukan oksigen. Apabila kondisi itu dilakukan terus menerus
akan dapat merugikan ekosistem, karena tingkat DO akan menjadi rendah
sehingga hewan laut maupun tumbuhan akan kekurangan sumber oksigen dan
dapat berakhir kematian.
Begitu pula dengan kadar COD pun harus rendah pula, karena COD
adalah

untuk

menghitung

total

kadar

oksigen

yang

diperlukan

untuk

mendekompisisi bahan organik menjadi karbon dioksida dan air. Maka dari itu,
kadar BOD dan COD sangatlah penting untuk diukur agar limbah yang dibuang
tidak

akan merugikan ekosistem

dari lingkuangan sekitar

kita.

Selain

menggunakan prinsip laveling PT. Surya Pratista Hutama menggunakan pada


bahan kimia EM4. EM4 (Effective Microorganism). Merupakan bakteri pengurai
rantai-rantai panjang penyusun bahan-bahan organik menjadi molekul sederhana
sehingga dapat dimanfaatkan sebagai kompos. Selain itu EM4 merupakan
mikroorganisme yang dapat meningkatkan mikroba tanah, memperbaiki kualitas
dan kesehatan tanah serta mempercepat proses pengomposan, sehingga
penggunaan dari EM4 ini akan dapat menguntungkan lingkungan karena EM4
dapat memberikan unsur hara yang baik untuk tanah dan tumbuhan sekitarnya.
Penanganan seperti diatas, untuk sementara PT. Surya Pratists Hutama telah
memenuhi standar baku mutu limbah cair yang ditetapkan pemerintah. Namun
untuk kedepannya diperlukan pengolahan yang lebih baik lagi, karena dengan
selesainya gedung produksi baru, jumlah limbah akan meningkat menjadi lebih
banyak.

d) Limbah Suara
Suara bising yang berasal dari mesin dapat menganggu pendengaran
pekerja. Suara berasal dari mixer, steaming, dan juga dari boiler. Paparan suara
keras dari mesin dengan jangka waktu yang lama akan mempengaruhi
pendengaran pekerja. Alat ukur kebisingan yaitu soundeventmeter. Ambang

45

batas kebisingan di lingkungan pemukiman yaitu 55 desible, 70 desible untuk


lingkungan industri, dan 85 desible untuk lingkungan di dalam pabrik.
e) Limbah Gas
Limbah gas berasal dari uap yang dihasilkan dari proses steaming, drying
dan gas emisi yang berasal dari bolier. Asap dari steaming dan drying disalurkan
atau dilewatkan pada pipa uap atau cerobong asap yang dirancang khusus pada
ruang produksi. Ini bertujuan agar asap tidak mencemari lingkungan. Sedangkan
untuk gas emisi, pada boiler disemprotkan air agar debu terikat oleh air sehingga
ikut terbawa dengan air. Emulsi CO, N, dan O akan dilepas di udara.
Limbah gas yang lain berasal dari boiler, yaitu dari proses pembakaran batu
bara. Pembakaran yang tidak sempurna akan menghasilkan asap berwarna
hitam yang akan mencemari udara. Proses pembakaran dipengaruhi oleh
kualitas batu bara yang digunakan. Batu bara dengan kualitas baik akan
menghasilkan asap berwarna putih karena proses pembakaran yang sempurna.
2. Sanitasi
Sanitasi berasal dari bahasa latin saniter, yang berarti sehat. Dalam
Industrii pangan, sanitasi juga berarti penciptaan dan pemeliharaan kondisi
hygine dan menyehatkan. Menurut Kamarjini (1983), sanitasi merupakan
penngendalian yang terencana terhadap lingkungan produksi, peralatan dan
pekerja untuk mencegah pencemaran pada hasil oleh, kerusakan pada hasil
olah, mencegah terlanggarnya nilai estetika konsumen, serta mengusahakan
lingkungan kerja yang bersih dan sehat, aman serta nyaman. Tujuan dari sanitasi
adalah untuk mencegah masuknya kontaminan ke dalam makanan dan
peralatan pengolahan makanan, serta mencegah terjadinya kontaminasi
(Winarno, 1993).
Sanitasi pada industri pangan merupakan salah satu unsur yang berperan
penting dalam upaya untuk mengurangi kerusakan pada bahan pangan sebagai
akibat pembusukan oleh mikroorganisme, menghindari kemungkinan terjadinya
kontaminasi suatu jenis penyakit yang berhubungan dengan bahan pangan yang
diolah. Sanitasi dalam industri makanan perlu diperhatikan untuk memastikan
bahwa produk yang dihasilkan aman untuk dikonsumsi.

46

Untuk mencapai tujuan tersebut, pelaksanaan sanitasi dalam industri


pangan sebaiknya dilakukan secara menyeluruh, mulai dari persiapan bahan
baku, proses pengolahan hingga produk yang siap dipasarkan. Sanitasi yang
dilakukan oleh PT. Surya Pratists Hutama meliputi sanitasi air, sanitasi proses
produksi, sanitasi lingkungan produksi, sanitasi mesin dan peralatan, dan sanitasi
pekerja.
a) Sanitasi Proses Produksi
Sanitasi proses produksi melliputi : ruang produksi (atap, dinding, lantai,
ventilasi, penerangan, dan selokan), gudang bahan baku, ruang pengemas, dan
gudang bahan jadi. Dengan adanya sanitasi pada ruangan-ruangan tersebut
akan memperlancar jalannya proses produksi.
1. Atap
Pada umumnya atap dibuat mendatar atau sedikit miring dan dilengkapi
dengan penopang berupa pilar-pilar. Ketinggian dan atap merupakan faktor kritis
dan harus selalu mencukupi dalam hal akomodasi dan memudahkan pergerakan
lateral pada posisi tertinggi dari pabrik. Atap juga erat hubungannya dengan
sumber pencahayaan. Namun, ketika penerangan yang berasal dari dua arah
akan lebih baik daripada penerangan secara alami. Sebab penerangan dari dua
arah akan lebih seragam dan efek bayangan yang terjadi akan berkurang.
Atap PT. Surya Prtaista Hutama berasal dari bahan alumunium yang
bersifat tahan lama, tahan terhadap air, tanah korosi, dan tidak mudah bocor.
Pemilihan

atap

yang

bergelombang

dinilai

yang

paling

tepat

dengan

mempertimbangkan air untuk turun pada saat hujan. Apabila ada atap yang
bocor maka akan segera diganti atau ditambal.
2. Dinding
Pada ummnya permukaan dinding bagian dalam halus dan tidak ada
retakan atau celah yang memungkinkan bahan makanan terakumulasi atau
mengendap di dalamnya. Adanya mikroba biasanya karena ada makanan yang
terjebak dalam celah atau retakan pada dinding tersebut. Air yang terjebak pada
dinding retak/celah menyebabkan kondisi yang lembab pada dinding.

47

Dinding PT. Surya Pratista utama divisi unit mie kering umumnya telah
memenuhi persyaratan. Dinding dicat dengan warna putih dengan tujuan
memaksimalkan pencahayaan dan memudahkan kontrol sanitasi. Permukaan
dinding tersebut halus, lurus, dan rata. Jarak antara dinding dengan mesin
produksi 3 meter. Dengan demikian pada waktu sanitasi mesin-mesin produksi
tidak bersentuhan dengan dinding.
3. Lantai
Sifat yanng sebaiknya dipenuhi untuk lantai adalah kedap air, tahan lama
dan tahan terhadap benturan serta kuat dalam menahan kegiatan mobilitas di
atasnya. Selain itu lantai harus tahan terhadap tekanan yang berasal dari
peralatan/mesin yang ada diatas lantai. Sifat lain yang sangat penting adalah
tahan terhadap pelumas, tahan terhadap uap air, tahan terhadap air panas,
serta tahan terhadap senyawa biokimia. Lantai juga harus bebas dari retakan,
celah, dan keruskan lain.
Pada PT. Surya Pratista Hutama lantai gudang bahan baku dan gudang
barang jadi ini terbuat dari semen. Sedangkan untuk lantai ruangan prosesnya
pada umumnya terbuat dari keramik yang permukaannya rata, halus, mudah
dibersihkan, dan tidak licin. Jadi pada dasarnya lantai diarea prodksi
permukaannya tidak halus atau tidak rata dan licin. Hal ini dilakukan setiap hari
oleh operator dan cleaning service.
4. Ventilasi
Ventilasi yang memadai merupakan hal yang esensial untuk mencegah
pangan

secara

higienis.

Salah

satu

dampak

adanya

ventilasi

adalah

kenyamanan untuk pekerja. Ventilasi berguna sebagai sarana sirkulasi udara


yang ada didalam ruang proses ke luar atau sebaliknya.
Desain ventilasi secara umum adalah permanen, sehingga dalam
sanitasinya cukup mudah dilakukan petugas. Ventilasi harus cukup menjamin
peredaran udara denga baik, sehingga dapat mengatur peredaran uap, gas,
asap, bau, debu, dan panas yang dapat merugikan kesehatan. Unit bihun
menggunakan ventilasi dari abses yang dibuat bercelah-celah serta ventilasi
berupa ukiran-ukiran dari semen yang dilengkapi oleh kasa penyaring, ventilasi
tersebut berada di sisi kanan maupun kiri pabrik. Selain ventilasi yang cukup

48

memadai dalam pabrik ini juga terdapat blower yang berfungsi untuk membantu
peredaran udara untuk mengurangi panas yang dihasilkan oleh mesin-mesin
yang ada di dalam pabrik.
5. Penerangan
Pencahayaan merupakan unsur penting dalam suatu proses produksi.
Pencahayaan dalam proses produksi dimaksudkan agar memperlancar proses
produksi. Pada umumnya banyak pabrik menggunakan pencahayaan alami dan
pencahayaan buatan.
Selain

pencahayaan

dengan

sinar

matahari

ruang

produksi

juga

menggunakan pencahayaan berupa lampu neon. Pemasangan lampu neon


disertai dengan pelindung yang terbuat dari alumunium, sehingga apabila lampu
pecah tidak mengenai pekerja gudang bahan baku.
6. Sanitasi Gudang Bahan baku
Area penerimaan bahan baku dialokasikan secara langsung dan harus
mudah dalam akses transportasi. Gudang bahan baku sebagai area penerimaan
bahan baku harus seideal mungkin sehingga

aliran bahan baku khususnya

bahan panngan harus didukung dengan lingkungan yang bersih, tersedianya


ruang untuk kegiatan pemeriksaan bahan baku, memiliki sirkulasi udara yang
baik dan temperatur maupun kelembaban yang tepat, selain itu juga harus
terlindung dari debu, serangga, dan hewan pengerat. Bahan baku tidak boleh
diletakkan langsung pada lantai tetapi harus disimpan dengan diberi alas berupa
pallet. Tumpukan maksimal bahan baku juga harus diperhatikan agar tidak terjadi
kerusakan. Sirkulasi udara dalam gudang sangat perlu karena dapat mengurangi
fluktuasi suhu pada bahan.
Gudang bahan baku banyak berupa tepung-tepung. Gudang dengan bahan
yang disimpan berupa tepung-tepungan tidak mungkin terbebas dari ceceran
tepung. Tetapi ceceran teung-tepungan tersebut tidak masalah karena setiap hari
dilakukan pembersihan gudang yang berupa di sapu oleh semua operator.
Pembersihan dengan cara ini memang tidak selalu menjamin gudang bebas dari
ceceran tepung, tetapi dapat mengurangi akumulasi tepung yang ada pada
gudang. Lantai yang kering dan kedap air pada gudang menjaga tepung agar
tidak cepat terkontaminasi mikroba.

49

7. Sanitasi Ruang Pengemas


Ruang pengemas adalah ruang yang digunakan untuk mengemas mie
kering dengan menggunakan etiket plastik. Pada tahapan proses ini dilakukan
pula penambahan label yang terbuat dari kertas. Proses ini merupakan proses
kering, tidak boleh tersentuh oleh air dan uap air sehingga suhu dan RH ruangan
harus dijaga agar tetap rendah.
8. Sanitasi Gudang Produk Jadi
Ruangan ini berfungsi untuk menyimpan mie kering yang sudah dikemas
berupa karton ataupun berupa plastik ukuran boss. Lantai ruangan ini terbuat
dari semen (beton). Ruangan ini merupakan ruangan yang kering karena untuk
menyimpan produk kering. Sanitasi ruangan ini dengan cara manyapu serta
mengepelnya setiap hari oleh operator. Pembersihan ini sudah cukup karena
ruangan ini pada umumnya bukan ruangan yang terbuka sehingga kotoran yang
ada hanya berupa debu saja.
b) Sanitasi Lingkungan Produksi
Sanitasi
pembersihan

lingkungan
untuk

produksi

menjaga

yaitu

kebersihan

dengan
lingkungan

melakukan
di

sekitar

tindakan
pabrik.

Pekarangan pabrik dan lokasi di sekitar pekarangan pabrik dibersihkan paling


tidak 2 hari sekali dengan menggunakan sapu. Jalanan di halaman sekitar pabrik
dipaving seluruhnya dan disediakan tempat khusus untuk parkir kendaraan
bermotor dan mobil. Tempat parkir terletak jauh di luar ruang proses, sehingga
memperkecil kemungkinan tercemarnya bahan makanan yang diolah akibat debu
yang berterbangan. Tepung yang tercecer di luar gudang bahan baku pada waktu
penurunan tepung dari truk cara pembersihannya cukup dengan disemprot pakai
air dan apabila ada sampah-sampah lain dibersihkan dengan sapu lidi.

c) Sanitasi Air
Kebersihan air yang digunakan sebagai salah satu bahan baku yang
digunakan dalam proses produksi akan menentukan mutu produk yang

50

dihasilkan. Pada umumnya persyaratan air untuk industri pangan (digunakan


dalam proses produksi pangan) sama dengan persyaratan air minum. Menurut
departemen kesehatan, syarat-syarat air minum adalah
1.
2.
3.
4.
5.

Tidak Berasa
Tidak Berbau
Tidak Berwarna
Tidak mengandung mikroorganisme yang berbahaya
Tidak mengandung logam berat.
Air minum merupakan air yang melalui proses pengolahan ataupun tanpa

proses pengolahan dengan memenuhi syarat kesehatan dan dapat langsung


dikonsumsi atau diminum(keputusan menteri kesehatan nomor 907 tahun 2002).
Mikroorganisme yang terdapat di dalam air adalah golongan Salmonella typhosa,
Salmonella paratyphosa, Shigell, Vibrio chlorelae dan Escherichia coli (Fardiaz,
1992)
PT. Surya Pratista Hutama melakukan sanitasi terhadap air yang
digunakan di dalam proses produksi mie adalah degan cara memberikan
perlakuan pendahuluan yaitu penyaringan (filtrasi) melalui tangki yang berisi
karbon dan pasir silika terhadap air tanah yang dijadikan sebagai salah satu
sumber air. Perawatan tangki penyulingan dilakukan dengan pencucian rutin
karbon dan pasir silika tiap setahun sekali. Pencucian hanya dilakukan dengan
menggunakan air bilasan saja. Apabila terdapat kerak didalam tandon tempat
penyimpanan air, maka tindakan yang diambil adalah dengan penyedotan
sehingga kerak tersebut tidak terikut dalam air hasil sulingan yang kemudian
dapat memepengaruhi kualitas adonan mie.
d) Sanitasi Mesin dan Peralatan
Alat pengolahan (mesin) yang kotor dimungkinkan terdapat mikroba serta
dapat menyebabkan kontaminasi fisik berupa debu yang dapat terikut dalam
produk nantinya. Penerapan sanitasi mesin dilakukan secara berkala dengan
pembersihan setiap mesin yang telah selesai digunakan. Pembersihan alat
dilakukan setiap kali proses produksi selesai, dengan menggunakan sabun dan
air untuk membilas. Apabila pada alat produksi terdapat kerak maka
pembersihan dilakukan dengan sifat atau amplas. Pembersihan kerak pada alat
produksi dibersihkan setiap minggu sekali. Pembersihan berlangsung di luar jam
kerja, sehingga tidak menganggu proses produksi. Sedangkan untuk peralatan
seperti cetakan miebiasa dicuci setiap sebulan sekali oleh masing-masing tenaga

51

kerja secara bergiliran. Pembersihan mesin dan peralatan ini dilakukan dengan
cara Cleaning in Place (CIP) oleh tenaga kerja bagian produksi.
Pembersihan ketel uap sebagai mesin penggerak alat-alat produksi serta
penyuplai steam (uap panas) juga dilakukan setiap setahun sekali. Pada filter air
juga dibersihkan dengan menggunakan larutan HCL setiap setahun sekali.
Apabila pada mesin atau peralatan alat produksi, biasa dilakukan setiap setahun
sekali yaitu pada hari libur nasional.
e) Sanitasi Pekerja
Dalam suatu industri pekerja mempunyai peranan penting dalam
kelancaran

proses

produksi

karena

pekerja

merupakan

perencanaan,

pelaksanaan, dan pengelola dalam suatu industri. Dalam melaksanakan


tugasnya

pekerja

dituntut

suatu

sikap

positif

sehingga

pekerja

dapat

menyelesaikan tugasnya dengan baik sesuai dengan yang diharapkan. Sikap


yang sebaiknya ada pada pekerja adalah kejujuran, disiplin, tanggung jawab,
hati-hati, teliti, cermat, teliti, bersih, serta menjaga kesehatan untuk menanamkan
sikap tersebut diperlukan adanya pengarahan, peraturan, kegiatan serta
sarannya harus mendukung. Sikap bersih dan menjaga kesehatan harus dimiliki
setiap pekerja, karena dengan kebersihan dan kesehatan akan menghasilkan
produk yang bermutu baik dan tidak membahayakan kesehatan. Sarana
kebersihan dan kesehatan pekerja yang sebaiknya harus disediakan meliputi
penyediaan air, tempat cuci tangan, ruang makan (kantin), kotak P3K, poliklinik
dan dokter perusahaan. Untuk menjaga kesehatan pekera perlu diadakan
pemeriksaan pekerja secara berkala.
Selain dituntut sikap-sikap tersebut di atas, pekerja harus dilindungi dari
bahaya/gangguan yang timbul yang dapat menyebabkan hambatan dalam
proses produksi. Gangguan/bahaya yang mungkin timbul adalah kebisingan,
getaran mekanis akibat mesin, cuaca kerja yang panas, bau-bauan di tempat
kerja

terutama

yang

menganggu

kesehatan

dan

menimbulkan

racun,

penerangan yang kurang baik, keracunan bahan kimia dan kecelakaan selama
melaksanakan pekerjaan,
Untuk melindungi pekerja dari gangguan dan bahaya yang mungkin timbul
selama melaksanakan tugasnya serta melindungi produk dari pencemaran oleh
pekerja maka dilakukan pula usaha pengamanan. Agar kebersihan dapat selalu

52

terjaga, maka setiap pekerja juga harus menjaga kebersihan selama bekerja
antara lain dengan :
1. Bebas aksesoris
Semua karyawan masuk ke are produksi / werehousel / laboraturium, dan
tempat lain yang diatur sebelumnya wajib bebas aksesoris. Contohnya : gelang,
cincin, jam tangan, anting, dll.
2. Memakain Perlengkapan Kerja
Semua karyawan masuk ke are produksi / werehousel / laboraturium, dan
tempat lain yang diatur sebelumnya wajib mengenakan peralatan keselamatan
dan kebersihan yang disediakan perusahaan. Contohnya : masker, topi, sebrak,
dan jas lab. Pemakaian perlengkapan ini harus tepat, misalnya topi harus
menutup semua rambut, masker harus menutup hidung dan mulut. Para pekerja
juga telah diberi earplug untuk mengurangi kebisingan.
3. Kebersihan Tangan
Semua karyawan masuk ke area produksi / werehousel / laboraturium, dan
tempat lain yang diatur sebelumnya wajib mencuci tangan dengan sabun dan
memakai alkohol sebelum masuk area produksi.
Sanitasi pekerja juga didukung dengan adanya peraturan yang harus
dilaksanakan ketika produksi berlangsung, peraturan yang ditempelkan sebelum
pintu masuk ruang produksi berlangsung, peraturan yang ditempelkan sebelum
pintu masuk ruang produksi antara lain :
a.
b.
c.
d.
e.

Dilarang memakai cincin dan jam tangan di ruang produksi.


Dilarang merokok di area produksi.
Jagalah kebersihan dan kerapian lingkungan kerja.
Wajib pakai : topi, sebrak, sepatu tertutup, jas lab, seragam kerja.
Dilarang : merokok, meludah, makan, pakai aksesoris (jam, cincin,
gelang), foto tanpa izin, bercanda.