Anda di halaman 1dari 20

1.

PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Vegetasi merupakan kumpulan tumbuh-tumbuhan dan biasanya terdiri dari
beberapa jenis yang hidup bersama-bersama pada suatu tempat. Dalam
mekanisme kehidupan bersama tersebut terdapat interaksi yang reat diantara
sesama individu penyusun vegetasi itu sendiri maupun dengan organisme lainnya
sehingga merupakan suatu sistem yang hidup dan tumbuh serta dinamis. Analisa
vegetasi adalah cara mempelajari susunan (komponen jenis) dan bentuk (struktur)
vegetasi atau masyarakat tumbuh-tumbuhan.
Vegetasi atau komunitas tumbuhan merupakan salah satu komponen biotik
yang menempati habitat tertentu seperti hutan, padang ilalang, semak belukar dan
lain-lain. Suatu ekosistem alamiah maupun binaan selalu terdiri dari dua
komponen utama yaitu komponen biotik dan abiotik. Struktur dan komposisi
vegetasi pada suatu wilayah dipengaruhi oleh komponen ekosistem lainnya yang
saling berinteraksi, sehingga vegetasi yang tumbuh secara alami pada wilayah
tersebut sesungguhnya merupakan pencerminan hasil interaksi berbagai faktor
lingkungan

dan

dapat

mengalami

perubahan

drastik

karena

pengaruh

anthropogenik (Setiadi, 1984; Sundarapandian dan Swamy, 2000).


Ada berbagai metode yang dapat digunakan untuk menganalisis vegetasi ini.
Diantaranya dengan menggunakan metode kuadran atau sering disebut dengan
kuarter. Metode ini sering sekali disebut juga dengan plot less methode karena
tidak membutuhkan plot dengan ukuran tertentu, area cuplikan hanya berupa titik.
Metode ini cocok digunkan pada individu yang hidup tersebar sehingga untuk
melakukan

analisa

dengan

melakukan

perhitungan

satu

persatu

akan

membutuhkan waktu yang sangat lama. Selain menggunakan metode kuadran,


analisis vegetasi dapat dilakukan dengan metode titik dan metode garis.
Analisis vegetasi digunakan untuk mengetahui gulma-gulma yang memiliki
kemampuan tinggi dalam penguasaan sarana tumbuh dan ruang hidup. Dalam hal
ini, penguasaan sarana tumbuh pada umumnya menentukan gulma tersebut
penting atau tidak. Namun dalam hal ini jenis tanaman memiliki peranan penting,
karena tanaman tertentu tidak akan terlalu terpengaruh oleh adanya gulma
tertentu, meski dalam jumlah yang banyak.
1.2 TUJUAN

Adapun tujuan dari praktikum analisis vegetasi ini, antara lain:


1. Untuk mengetahui jenis spesies apa saja yang menyususn dan mendominasi
vegetasi
2. Untuk menentukan menentukan metode pengendalian yang akan digunakan
dalam pengendalian gulma

2. TINJAUAN PUSTAKA
2.1 PENGERTIAN ANALISIS VEGETASI
Analisis vegetasi merupakan cara yang dilakukan untuk mengetahui
seberapa besar sebaran berbagai spesies dalam suatu area melaui pengamatan
langsung. Dilakukan dengan membuat plot dan mengamati morfologi serta
identifikasi vegetasi yang ada (Moenandir, 2009).
2.2 MACAM METODE ANALISIS VEGETASI
Macam-macam metode analisis vegetasi sebagai berikut:
1. Metode Kuadrat
Metode kuadran adalah salah satu metode yang tidak menggunakan petak
contoh (plotless) metode ini sangat baik untuk menduga komunitas yang
berbentuk pohon dan tihang, contohnya vegetasi hutan. Apabila diameter tersebut
lebih besar atau sama dengan 20 cm maka disebut pohon, dan jika diameter
tersebut antara 10-20 cm maka disebut pole (tihang), dan jika tinggi pohon 2,5 m
sampai diameter 10 cm disebut saling atau belta ( pancang ) dan mulai anakan
sampai pohaon setinggi 2,5 meter disebut seedling ( anakan/semai ).
Metode kuadran mudah dan lebih cepat digunakan untuk mengetahui
komposisi, dominansi pohon dan menaksir volumenya. Metode ini sering sekali
disebut juga dengan plot less method karena tidak membutuhkan plot dengan
ukuran tertentu, area cuplikan hanya berupa titik. Metode ini cocok digunakan
pada individu yang hidup tersebar sehingga untuk melakukan analisa dengan
melakukan perhitungan satu persatu akan membutuhkan waktu yang sangat lama,
biasanya metode ini digunakan untuk vegetasi berbentuk hutan atau vegetasi
kompleks lainnya. Beberapa sifat yang terdapat pada individu tumbuhan dalam
membentuk populasinya, dimana sifat sifatnya bila di analisa akan menolong
dalam menentukan struktur komunitas.
2. Metode Garis
Metode garis merupakan suatu metode yang menggunakan cuplikan berupa
garis. Penggunaan metode ini pada vegetasi hutan sangat bergantung pada
kompleksitas hutan tersebut. Dalam hal ini, apabila vegetasi sederhana maka garis
yang digunakan akan semakin pendek. Untuk hutan, biasanya panjang garis yang
digunakan sekitar 50 m-100 m. sedangkan untuk vegetasi semak belukar, garis
yang digunakan cukup 5 m-10 m. Apabila metode ini digunakan pada vegetasi
yang lebih sederhana, maka garis yang digunakan cukup 1 m (Syafei, 1990).

Pada metode garis ini, system analisis melalui variable-variabel kerapatan,


kerimbunan, dan frekuensi yang selanjutnya menentukan INP (indeks nilai
penting) yang akan digunakan untuk memberi nama sebuah vegetasi. Kerapatan
dinyatakan sebagai jumlah individu sejenis yang terlewati oleh garis. Kerimbunan
ditentukan berdasar panjang garis yang tertutup oleh individu tumbuhan, dan
dapat merupakan prosentase perbandingan panjang penutupan garis yang terlewat
oleh individu tumbuhan terhadap garis yang dibuat (Syafei, 1990). Frekuensi
diperoleh berdasarkan kekerapan suatu spesies yang ditemukan pada setiap garis
yang disebar (Rohman, 2001).
3. Metode Titik
Metode intersepsi titik merupakan suatu metode analisis vegetasi dengan
menggunakan cuplikan berupa titik. Pada metode ini tumbuhan yang dapat
dianalisis hanya satu tumbuhan yang benar-benar terletak pada titik-titik yang
disebar

atau

yang

diproyeksikan

mengenai

titik-titik

tersebut.

Dalam

menggunakan metode ini variable-variabel yang digunakan adalah kerapatan,


dominansi, dan frekuensi (Rohman, 2001).
Kelimpahan setiap spesies individu atau jenis struktur biasanya dinyatakan
sebagai suatu persen jumlah total spesises yang ada dalam komunitas, dan dengan
demikian merupakan pengukuran yang relatife. Dari nilai relative ini, akan
diperoleh sebuah nilai yang merupak INP. Nilai ini digunakan sebagai dasar
pemberian nama suatu vegetasi yang diamati.Secara bersama-sama, kelimpahan
dan frekuensi adalah sangat penting dalam menentukan struktur komunitas
(Michael, 1994).
4. Metode Kuarter
Analisa vegetasi dengan metode kuarter merupakan analisa vegetasi yang
mana dalam pelaksanaannya tidak menggunakan plot atau area sebagai alat bantu.
Akan tetapi cuplikan yang digunakan hanya berupa titik sehingga sering juga
metode tanpa plot. Hal ini karena pada metode ini tidak menggambarkan luas area
tertentu, sama halnya dengan metode kuadrat yaitu dalam memperoleh nilai
penting harus terlebih dahulu dihitung kerapatan, dominasi, dan frekuensinnya.
Metode ini sering dipakai untuk vegetasi berbentuk hutan atau vegetasi kompleks
lainnya (Kusmana, 1997).

Komunitas adalah sejumlah mahluk hidup dari berbagai macam jenis yang
hidup bersama pada suatu daerah. Komposisi suatu komonitas ditentukan dengan
tumbuhan dan hewan yang kebetulan mampu hidup di tempat tersebut. Anggota
komonitas ini tergantung pada penyesuaian diri setiap individu terhadap faktorfaktor fisik dan biologis yang ada ditempat tersebut. Ada dua konsep yang
ditentukan dalam mengamati peta komonitas yaitu gradasi komonitas( populasi)
dan gradiasi lingkungan yaitu menyangkut jumlah factor lingkungantambak
secara bersama-sama. (Soedjiran,1989). Pada metode ini tumbuhan yang dianalisa
bisa berupa empat tumbuhan yang paling dekat dengan titik pengamatan yang
masing-masing tumbuhan berada pada empat sektor daerah dengan titik tadi
sebagai pusat.
2.3 SUMMED DOMINANCE RATIO (SDR)
Summed Dominance Ratio (SDR) merupakan perbandingan nilai penting
yang menunjukkan nilai jumlah penting bagi jumlah besaran dan SDR biasa
dipakai karena jumlah tidak pernah lebih dari 100%. Perhitungan SDR dapat
didapatkan dari:
1. Kerapatan
Kerapatan menunjukkan jumlah individu suatu jenis tumbuhan pada setiap
petak contoh. Kendala:
Memakan waktu untuk menghitung, kesulitan menentukan satuan

tum-buhan yang menjalar atau berumpun.


Kerapatan berhubungan erat dengan musim dan vitalitas tumbuhan.
Pengaruh efek tepi, tumbuhan terletak didalam atau diluar petak contoh, khususnya gulma berumpun dan berstolen

2. Frekuensi
Frekuensi adalah berapa jumlah petak contoh (dalam persen) yang memuat
jenis tersebut dari sejumlah petak contoh yang dibuat. Frekuensi ini
dipengaruhi beberapa faktor yaitu:
Luas petak contoh
Distribusi tumbuhan
Ukuran jenis tumbuhan

3. Dominansi
Dominansi digunakan untuk menyatakan luas area yang ditumbuhi oleh
sejenis tumbuhan, atau kemampuan suatu jenis tumbuhan dalam hal bersaing
terhadap jenis lainnya. Dominansi dinyatakan dengan istilah:
Kelindungan (coverage)
Luas basal
Biomassa
Volume
4. Nilai Penting/Important Value (IV)
Merupakan jumlah nilai nisbi dari dua atau tiga parameter yang dibuat.

3. BAHAN DAN METODE


3.1 TEMPAT DAN WAKTU
Praktikum analisa vegetasi dilaksanakan pada tanggal 24 April 2016 dari
jam 08.00-10.00 WIB. Pelaksaan praktikum dilakukan di Lahan percobaan
Fakultas Pertanian di Jalan Kembang Kertas daerah Lowokwaru, Malang.
3.2 ALAT DAN BAHAN
Alat :

Frame ukuran 1m x 1m
Alat tulis
Kantong kresek
Kamera

: untuk menganalisis vegetasi gulma


: untuk mencatat hasil praktikum
: untuk wadah gulma
: untuk mendokumentasikan hasil
pengamatan

Bahan :

Bambu : sebagai bahan pembuatan frame pengamatan


Tali rafia : sebagai bahan pembuatan frame pengamatan
3.3 LANGKAH KERJA
Siapkan alat dan bahan praktikum analisis
vegetasi
Melemparkan frame pada lahan jagung

Amati dan hitung gulma yang tumbuh pada


lahan jagung yang telah dilemparkan frame

Catat vegetasi yang terdapat pada lahan jagung

Ambil sampel gulma untuk diidentifikasi

Dokumentasi

4. HASIL DAN PEMBAHASAN


4.1 HASIL ANALISA VEGETASI PADA LAHAN
Frame 1
Tabel 1. Inventarisasi Gulma dan Total Spesies

Nama Gulma

Dokumentasi

Total Spesies

D1

D2

46

15

27

B
C
D

3
1
9

6
9
15

25
11
22

14

23

Tabel 2. Luas Basal Area


Nama Gulma

LBA (Luas Basal Area)

32189,91

B
C
D
E
F

4415,63
1923,45
21371,63
1884,79
6644,24

Tabel 3. Kerapatan, Frekuensi, dan Dominasi Gulma


Nama
Gulm
a
A
B
C
D
E
F
Total

Kerapatan
Mutlak

Nisbi

46
3
1
9
1
4
64

Frekuensi
Mutlak

71,88
4,69
1,56
14,06
1,56
6,25
100

1
1
1
1
1
1
6

Dominasi

Nisbi

Mutlak

16,67
16,67
16,67
16,67
16,67
16,67
100

5,03
0,69
0,30
3,34
0,29
1,04
10,69

Nisbi
47,04
6,45
2,81
31,23
2,75
9,71
100

Tabel 4. Important Value (IV) dan Summed Dominance Ratio (SDR)


Nama Gulma
A
B
C
D
E
F
Total

IV

SDR
135,58
27,81
21,04
61,96
20,98
32,63
300

45,19
9,27
7,01
20,65
6,99
10,88
100

Frame 2
Tabel 5. Inventarisasi Gulma dan Total Spesies

Nama Gulma

Dokumentasi

Total Spesies

D1

D2

10

15

26

46

21

23

11

20

Tabel 6. Luas Basal Area


Nama Gulma

LBA (Luas Basal Area)

A
B
C
D
E

29849,625
1384,74
1661,06
572,265
5024

Tabel 7. Kerapatan, Frekuensi, dan Dominasi Gulma


Nama Gulma
A
B
C
D
E
Total

Kerapatan
Frekuensi
Dominasi
Mutlak
Nisbi
Mutlak
Nisbi
Mutlak
Nisbi
6
9,38
1
20
4,66
77,55
46
71,88
1
20
0,22
3,60
2
3,13
1
20
0,26
4,32
3
4,69
1
20
0,09
1,49
7
10,94
1
20
0,79
13,05
64
100
5
100
6,01
100

Tabel 8. Important Value (IV) dan Summed Dominance Ratio (SDR)


Nama Gulma
A
B
C
D
E
Total

IV

SDR
106,92
95,47
27,44
26,17
43,99
300

35,64
31,82
9,15
8,72
14,66
100

12

4.2 PEMBAHASAN ANALISA


Dari tabel hasil pengamatan diatas dapat dilihat bahwa pada frame 1 atau
pengamatan 1, gulma yang memiliki kerapatan mutlak dan nisbi paling tinggi
adalah gulma A dengan nilai kerapatan mutlak 46 dan kerapatan nisbi 71,88%
sedangkan gulma yang memiliki kerapatan mutlak dan nisbi paling rendah adalah
gulma C dan E dengan nilai kerapatan mutlak 1 dan kerapatan nisbi 1,56%. Untuk
frekuensi mutlak dan frekuensi nisbi, nilainya hampir sama karena hanya terdapat
satu jenis gulma dalam satu frame, selain itu jumlah frame pengamatan hanya satu
(tunggal). Gulma A memiliki nilai penting dan SDR tertinggi yaitu pada nilai
penting 135,58 dan SDR yaitu 45,19%.
Pada frame 2 atau pengamatan 2, gulma yang memiliki kerapatan mutlak
dan nisbi paling tinggi adalah gulma B dengan nilai kerapatan mutlak 46 dan
kerapatan nisbi 71,88% sedangkan gulma yang memiliki kerapatan mutlak dan
nisbi paling rendah adalah gulma C dengan nilai kerapatan mutlak 2 dan
kerapatan nisbi 3,13%. Untuk frekuensi mutlak dan frekuensi nisbi, nilainya
hampir sama karena hanya terdapat satu jenis gulma dalam satu frame, selain itu
jumlah frame pengamatan hanya satu (tunggal). Gulma A memiliki nilai penting
dan SDR tertinggi yaitu pada nilai penting 106,92 dan SDR yaitu 35,64%.
Meskipun gulma B cenderung terlihat mendominasi dalam areal pengamatan,
tetapi gulma B justru memiliki nilai SDR yang lebih rendah dari gulma A, hal ini
disebabkan karena gulma B memiliki luas basal area (LBA) yang lebih sempit
ketimbang gulma A.

13

5. KESIMPULAN
Dari hasil dan pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwasannya gulma
memiliki pertumbuhan hidup cepat serta penyebaran yang cukup luas dengan
sendirinya. Kompetisi dan kemampuan beradaptasi gulma pun sangat baik dalam
lingkungan maupun cuaca tertentu. Selain itu kemampuan gulma untuk
berkembangbiak yang cukup baik sehingga terdapat gulma-gulma yang dapat di
lihat kapan saja dan di mana saja. Analisis vegetasi merupakan cara yang
dilakukan untuk mengetahui seberapa besar sebaran berbagai spesies dalam suatu
area melaui pengamatan langsung. Dilakukan dengan membuat plot dan
mengamati morfologi serta identifikasi vegetasi yang ada. Ada empat metode
yang lazim dalam analisa vegetasi yaitu metode estimasi visual, metode kuadrat,
metode garis dan metode titik.
Dari tabel hasil perhitungan dan analisa juga dapat ditarik kesimpulan
bahwa gulma yang mendominasi pada frame pengamatan 1 ialah gulma A dengan
nilai SDR sebesar 45,19%. Sedangkan pada frame pengamatan 2 ialah gulma A
dengan nilai SDR sebesar 35,64%. Dominasi pada kedua frame pengamatan
memiliki persamaan yakni sama-sama di dominasi oleh gulma dengan golongan
rerumputan (Gramineae).

14

DAFTAR PUSTAKA

Arrijani, dkk.2006. Analisis Vegetasi Hulu DAS Cianjur Taman Nasional Gunung
Gede. Pangrango
Greig-Smith, P. 1983. Quantitative Plant Ecology, Studies in Ecology. Volume 9.
Oxford: Blackwell Scientific Publications
Kusmana, C. 1997. Metode Survey Vegetasi. Institut PertanianBogor. Bogor.
Michael, P. 1995. Metode Ekologi untuk Penyelidikan Ladang dan Laboratorium.
UI Press: Jakarta.
Moenandir, J.2009. Ilmu Gulma Dalam Sistem Pertanian. PT Raja Grafindo
Persada, Jakarta
Rohman, Fatchur dan I Wayan Sumberartha. 2001. Petunjuk Praktikum Ekologi
Tumbuhan. Malang: JICA.
Setiadi, D. 1984. Inventarisasi Vegetasi Tumbuhan Bawah dalam Hubungannya
dengan Pendugaan Sifat Habitat Bonita Lahan di Daerah Hutan Jati
Cikampek, KPH Purwakarta, Jawa Barat. Bogor: Bagian Ekologi,
Departemen Botani, Fakultas Pertanian IPB.
Soerianegara, I dan Indrawan, A. 1988. Ekologi Hutan Indonesia. Institut
Pertanian Bogor: Bogor.
Syafei, Eden Surasana. 1990. Pengantar Ekologi Tumbuhan. ITB: Bandung
Tjitrosoedirdjo, S., H. Utomo, dan J. Wiroatmodjo., 1984. Pengelolaan Gulma di
Perkebunan.

15

LAMPIRAN
1. Perhitungan (Frame 1)
jumlah spesies tersebut

Kerapatan Mutlak
jumlah plot
a. Gulma A

46
1

b. Gulma B

3
1

=3

c. Gulma C

1
1

=1

d. Gulma D

9
1

=9

e. Gulma E

1
1

=1

f. Gulma F

4
1

=4

= 46

Kerapatan Nisbi
K. Nisbi = {K. Mutlak jenis gulma/ K.Mutlak semua jenis gulma} x 100%
a. Gulma A = {46/64} x 100%
= 71,88 %
b. Gulma B = {3/64} x 100%
= 4,69 %
c. Gulma C = {1/64} x 100%
= 1,56 %
d. Gulma D = {9/64} x 100%
= 14,06 %
e. Gulma E = {1/64} x 100%
= 1,56 %
f. Gulma F = {4/64} x 100%
= 6,25 %
Frekuensi Mutlak
F. Mutlak = Petak contoh yang berisi gulma tertentu/ semua petak
contoh
a. Gulma A
b. Gulma B
c. Gulma C
d. Gulma D
e. Gulma E
f. Gulma F

= 1/1 = 1
= 1/1 = 1
= 1/1 = 1
= 1/1 = 1
= 1/1 = 1
= 1/1 = 1

Frekuensi Nisbi

16

F. Nisbi = {F. Mutlak gulma tertentu/ nilai F. Mutlak semua jenis} x 100%
a.
b.
c.
d.
e.
f.

Gulma A = {1/6} x 100%


Gulma B = {1/6} x 100%
Gulma C = {1/6} x 100%
Gulma D = {1/6} x 100%
Gulma E = {1/6} x 100%
Gulma F = {1/6} x 100%

= 16,67 %
= 16,67 %
= 16,67 %
= 16,67 %
= 16,67 %
= 16,67 %

Luas Basal Area


LBA = {d1xd2/4}2 x
a. Gulma A = {15x27/4}2 x 3,14
= 32189,91
2
b. Gulma B = {6x25/4} x 3,14
= 4415,63
c. Gulma C = {9x11/4}2 x 3,14
= 1923,45
d. Gulma D = {15x22/4}2 x 3,14
= 21371,63
2
e. Gulma E = {7x14/4} x 3,14
= 1884,79
f. Gulma F = {8x23/4}2 x 3,14
= 6644,24
Dominasi Mutlak
D. Mutlak = {LBA/luas aktual frame pengamatan}
a. Gulma A = {32189,91/6400}
= 5,03
b. Gulma B = {4415,63/6400}
= 0,69
c. Gulma C = {1923,45/6400}
= 0,30
d. Gulma D = {21371,63/6400}
= 3,34
e. Gulma E = {1884,79/6400}
= 0,29
f. Gulma F = {6644,24/6400}
= 1,04
Dominasi Nisbi
D. Nisbi = {DM spesies/Jumlah Total DM} x 100%
a. Gulma A = {5,03/10,69} x 100% = 47,04%
b. Gulma B = {0,69/10,69} x 100% = 6,45%
c. Gulma C = {0,30/10,69} x 100% = 2,81%
d. Gulma D = {3,34/10,69} x 100% = 31,23%
e. Gulma E = {0,29/10,69} x 100% = 2,75%
f. Gulma F = {1,04/10,69} x 100% = 9,71%
Nilai Penting (IV)
Nilai penting = Kerapatan Nisbi + Frekuensi Nisbi + Dominasi Nisbi
a. Gulma A = 71,88 + 16,67 + 47,04 = 135,58
b. Gulma B = 4,69 + 16,67 + 6,45 = 27,81
c. Gulma C = 1,56 + 16,67 + 2,81 = 21,04
d. Gulma D = 14,06 + 16,67 + 31,23 = 61,96
e. Gulma E = 1,56 + 16,67 + 2,75 = 20,98
f. Gulma F = 6,25 + 16,67 + 9,71 = 32,63
Summed Dominance Ratio (SDR)

17

SDR = IV/3
a. Gulma A = 135,58/3 = 45,19
b. Gulma B = 27,81/3 = 9,27
c. Gulma C = 21,04/3 = 7,01
d. Gulma D = 61,96/3 = 20,65
e. Gulma E = 20,98/3 = 6,99
f. Gulma F = 32,63/3 = 10,88
2. Perhitungan (Frame 2)
jumlah spesies tersebut

Kerapatan Mutlak
jumlah plot
a. Gulma A

6
1

b. Gulma B

46
1

c. Gulma C

2
1

=2

d. Gulma D

3
1

=3

e. Gulma E

7
1

=7

=6
= 46

Kerapatan Nisbi
K. Nisbi = {K. Mutlak jenis gulma/ K.Mutlak semua jenis gulma} x 100%
a. Gulma A = {6/64} x 100% = 9,38%
b. Gulma B = {46/64} x 100%
= 71,88%
c. Gulma C = {2/64} x 100%
= 3,13%
d. Gulma D = {3/64} x 100%
= 4,69%
e. Gulma E = {7/64} x 100%
= 10,94%
Frekuensi Mutlak
F. Mutlak = Petak contoh yang berisi gulma tertentu/ semua petak
contoh
a. Gulma A
b. Gulma B
c. Gulma C
d. Gulma D
e. Gulma E

= 1/1 = 1
= 1/1 = 1
= 1/1 = 1
= 1/1 = 1
= 1/1 = 1

18

Frekuensi Nisbi
F. Nisbi = {F. Mutlak gulma tertentu/ nilai F. Mutlak semua jenis} x 100%
a.
b.
c.
d.
e.

Gulma A = {1/5} x 100%


Gulma B = {1/5} x 100%
Gulma C = {1/5} x 100%
Gulma D = {1/5} x 100%
Gulma E = {1/5} x 100%

= 20%
= 20%
= 20%
= 20%
= 20%

Luas Basal Area


LBA = {d1xd2/4}2 x
a.
b.
c.
d.
e.

Gulma A = {15x26/4}2 x 3,14


Gulma B = {4x21/4}2 x 3,14
Gulma C = {4x23/4}2 x 3,14
Gulma D = {6x9/4}2 x 3,14
Gulma E = {8x20/4}2 x 3,14

= 29849,625
= 1384,74
= 1661,06
= 572,265
= 5024

Dominasi Mutlak
D. Mutlak = {LBA/luas aktual frame pengamatan}
a. Gulma A = {29849,625/6400}
= 4,66
b. Gulma B = {1384,74/6400}
= 0,22
c. Gulma C = {1661,06/6400}
= 0,26
d. Gulma D = {572,265/6400}
= 0,09
e. Gulma E = {5024/6400}
= 0,79
Dominasi Nisbi
D. Nisbi = {DM spesies/Jumlah Total DM} x 100%
a. Gulma A = {4,66/6,01} x 100% = 77,55%
b. Gulma B = {0,22/6,01} x 100% = 3,60%
c. Gulma C = {0,26/6,01} x 100% = 4,32%
d. Gulma D = {0,09/6,01} x 100% = 1,49%
e. Gulma E = {0,79/6,01} x 100% = 13,05%
Nilai Penting (IV)
Nilai penting = Kerapatan Nisbi + Frekuensi Nisbi + Dominasi Nisbi
a. Gulma A = 9,38 + 20 + 77,55
= 106,92
b. Gulma B = 71,88 + 20 + 3,60
= 95,47
c. Gulma C = 3,13 + 20 + 4,32
= 27,44
d. Gulma D = 4,69 + 20 + 1,49
= 26,17
e. Gulma E = 10,94 + 20 + 13,05
= 43,99
Summed Dominance Ratio (SDR)
SDR = IV/3
a. Gulma A = 106,92/3
= 35,64

19

b.
c.
d.
e.

Gulma B = 95,47/3
Gulma C = 27,44/3
Gulma D = 26,17/3
Gulma E = 43,99/3

= 31,82
= 9,15
= 8,72
= 14,66

20