Anda di halaman 1dari 32

SKENARIO 1

BENJOLAN DI PAYUDARA

KELOMPOK A - 9
Ketua
Sekretaris
Anggota

: Izza Ayudia Hakim


: Farhana Oktoriana
: Akhmad Rendy F
Anugrah Mahadewa

1102009150
1102009106
1102008015
1102008039
1102008
Abdul Wahid Mufti 1102009002
Amila Sholihah
1102009026
Diaz Randanil
1102009081

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS YARSI 2011 / 1012

SKENARIO 1
BENJOLAN DI PAYUDARA
Seorang perempuan berumur 55 tahun, ibu rumah tangga, datang ke poliklinik bedah RS
YARSI karena adanya benjolan di payudara sebelah kanan sudah setahun ini. Mula-mula sebesar
biji rambutan, kemudian sekarang sebesar bola tenis. Tidak terasa sakit, hanya kadang terasa
pegal. Pasien merasa berat badannya menurun drastis dalam empat bulan terakhir ini. Pada
keluarga terdapat riwayat penderita tumor ganas payudara, yaitu bibi pasien (adik kandung dari
ibu pasien). Bibi pasien meninggal karena penyakit ini. Pasien tidak mempunyai anak. Sebulan
ini timbul luka koreng berbau di kulit diatas benjolan payudara. Pasien juga merasa sesak
sebulan terakhir yang bertambah dengan aktifitas tetapi tidak berkurang dengan istirahat.
Pada pemeriksaan fisik didapat keadaan umum baik, BB 40kg, TB 160cm, T :
110/70mmHg, N : 88x/mnt, RR : 24x/mnt. Status lokalis pada payudara kanan didapat massa
oval lebih kurang 8x7x7 cm3 di kuadran medial atas, keras, berbenjol, melekat ke dinding
dada, peau de orange, ulkus, retraksi papilla mammae, dan nipple discharge. Teraba limfonodi
aksila 2 buah, ukuran 1 cm, saling melekat satu dengan yang lain. Pada pemeriksaan Rontgen
thoraks didapatkan coin lesion di lobus superior paru kanan disertai efusi pleura. USG abdomen
tidak di dapatkan nodul. Biopsy insisi memastikan pasien menderita kanker payudara (stadium
terminal) kemudian menjalani operasi simplemastektomi dilanjutkan kemoterapi dan radioterapi.
Bagaimanakah seharusnya pasien menghadapi penyakit berat dan terminal yang dideritanya dari
sisi Islam?

Epidemiologi karsinoma mammae


Di seluruh dunia, kanker payudara adalah kanker paling umum pada wanita setelah
kanker kulit yang mewakili 16% dari semua kanker wanita. Angka ini lebih dari dua kali lipat
dari kanker kolorektal dan kanker leher rahim dan sekitar tiga kali lipat dari kanker paru-paru.
Kematian di seluruh dunia adalah 25% lebih besar dari kanker paru-paru pada wanita.
Insiden kanker payudara sangat bervariasi di seluruh dunia, yang lebih rendah di negaranegara berkembang dan terbesar di negara-negara yang lebih maju. Dalam dua belas wilayah
dunia, tingkat insiden tahunan standar umur per 100.000 perempuan adalah sebagai berikut: di
Asia Timur, 18; Selatan Asia Tengah, 22; sub-Sahara Afrika, 22; Selatan-Timur Asia, 26, Afrika
Utara dan Barat Asia, 28; Amerika Selatan dan Tengah, 42; Eropa Timur, 49; Eropa Selatan, 56;
Eropa Utara, 73; Oseania, 74, Eropa Barat, 78, dan di Amerika Utara, 90.

Kanker payudara erat kaitannya dengan usia dengan hanya 5% dari semua kanker
payudara terjadi pada wanita di bawah 40 tahun.
Resiko seumur hidup untuk kanker payudara di Amerika Serikat biasanya memberikan
sebagai 1 dalam 8 (12,5%) dengan 1 dalam 35 (3%) kemungkinan kematian.
Amerika Serikat memiliki tingkat kejadian tertinggi tahunan kanker payudara di dunia;
128,6 per 100.000 dalam putih dan 112,6 per 100.000 di kalangan Amerika Afrika. Pada tahun
2007, kanker payudara diperkirakan menyebabkan 40.910 kematian di Amerika Serikat (7% dari
kematian kanker; hampir 2% dari seluruh kematian). Angka ini termasuk 450-500 kematian
tahunan antara orang dari 2.000 kasus kanker.
Di AS, baik tingkat insiden dan kematian untuk kanker payudara telah menurun dalam
beberapa tahun terakhir di penduduk asli Amerika dan Pribumi Alaska. Namun demikian, sebuah
penelitian di AS yang dilakukan pada tahun 2005 oleh Society for Women's Health penelitian
menunjukkan bahwa kanker payudara masih merupakan penyakit yang paling ditakuti, meskipun
penyakit jantung adalah penyebab jauh lebih umum dari kematian di antara perempuan. Banyak
dokter mengatakan bahwa perempuan membesar-besarkan risiko kanker payudara.

Beberapa studi telah menemukan bahwa perempuan kulit hitam di AS lebih cenderung
meninggal karena kanker payudara meskipun perempuan kulit putih lebih mungkin didiagnosis
dengan penyakit. Bahkan setelah diagnosis, perempuan kulit hitam cenderung untuk
mendapatkan perawatan dibandingkan dengan wanita kulit putih. Para ahli telah maju beberapa
teori kesenjangan, termasuk akses memadai untuk skrining, mengurangi ketersediaan teknik
bedah dan medis paling maju, atau beberapa karakteristik biologi penyakit dalam populasi
African American. Beberapa studi menunjukkan bahwa perbedaan rasial dalam hasil kanker
payudara mungkin mencerminkan bias budaya lebih dari perbedaan penyakit biologis. Penelitian
sedang berlangsung untuk menentukan kontribusi dari kedua faktor biologis dan budaya.
Sebagai negara berkembang tumbuh dan mengadopsi budaya Barat mereka juga
mengumpulkan penyakit yang lebih yang timbul dari budaya Barat dan kebiasaan nya (lemak /
konsumsi alkohol, merokok, paparan kontrasepsi oral, perubahan pola melahirkan anak dan
menyusui, paritas rendah). Misalnya, seperti Amerika Selatan telah berkembang sehingga
memiliki jumlah kanker payudara.
"Kanker payudara di negara-negara berkembang, seperti di Amerika Selatan, merupakan
masalah kesehatan masyarakat yang utama. Ini adalah penyebab utama kematian akibat kanker
yang berhubungan dengan perempuan di negara-negara seperti Argentina, Uruguay, dan Brasil.
Jumlah yang diharapkan dari kasus baru dan kematian akibat kanker payudara di Amerika
Selatan untuk tahun 2001 sekitar 70.000 dan 30.000, masing-masing. " Namun, karena
kurangnya dana dan sumber daya, pengobatan tidak selalu tersedia bagi mereka yang menderita
kanker payudara.
Etiologi dan faktor resiko karsinoma mammae
Penyebab spesifik kanker payudara masih belum diketahui, tetapi terdapat banyak faktor
yang diperkirakan mempunyai pengaruh terhadap terjadinya kanker payudara diantaranya:
1. Faktor Reproduksi
Karakteristik reproduktif yang berhubungan dengan risiko terjadinya kanker payudara
adalah nuliparitas, menarche pada umur muda, menopause pada umur lebih tua, dan kehamilan
pertama pada umur tua. Risiko utama kanker payudara adalah bertambahnya umur. Diperkirakan,
periode antara terjadinya haid pertama dengan umur saat kehamilan pertama
merupakan window of initiation perkembangan kanker payudara. Secara anatomi dan fungsional,
payudara akan mengalami atrofi dengan bertambahnya umur. Kurang dari 25% kanker payudara
terjadi pada masa sebelum menopause sehingga diperkirakan awal terjadinya tumor terjadi jauh
sebelum terjadinya perubahan klinis.
2. Penggunaan Hormon
Hormon estrogen berhubungan dengan terjadinya kanker payudara. Laporan
dari Harvard School of Public Health menyatakan bahwa terdapat peningkatan kanker payudara
yang signifikan pada para pengguna terapi estrogen replacement. Suatu metaanalisis menyatakan
bahwa walaupun tidak terdapat risiko kanker payudara pada pengguna kontrasepsi oral, wanita
yang menggunakan obat ini untuk waktu yang lama mempunyai risiko tinggi untuk mengalami
kanker payudara sebelum menopause. Sel-sel yang sensitive terhadap rangsangan hormonal
mungkin mengalami perubahan degenerasi jinak atau menjadi ganas.
3. Penyakit Fibrokistik
Pada wanita dengan adenosis, sampai 2 kali. Sedangkan pada hiperplasia atipik, risiko
meningkat hingga fibroadenoma, dan fibrosis, tidak ada peningkatan risiko terjadinya kanker

payudara. Pada hiperplasis dan papiloma, risiko sedikit meningkat 1,5 sampai 2 kali. Sedangkan
pada hiperplasia atipik risiko meningkat hingga 5 kali (Karten, 2003).
4. Obesitas
Terdapat hubungan yang positif antara berat badan dan bentuk tubuh dengan kanker
payudara pada wanita pasca menopause. Variasi terhadap kekerapan kanker ini di negaranegara Barat dan bukan Barat serta perubahan kekerapan sesudah migrasi menunjukkan bahwa
terdapat pengaruh diet terhadap terjadinya keganasan ini.
5. Konsumsi Lemak
Konsumsi lemak diperkirakan sebagai suatu faktor risiko terjadinya kanker payudara.
Willet dkk. melakukan studi prospektif selama 8 tahun tentang konsumsi lemak dan serat dalam
hubungannya dengan risiko kanker payudara pada wanita umur 34 sampai 59 tahun.
6. Radiasi
Eksposur dengan radiasi ionisasi selama atau sesudah pubertas meningkatkan terjadinya
risiko kanker payudara. Dari beberapa penelitian yang dilakukan disimpulkan bahwa risiko
kanker radiasi berhubungan secara linier dengan dosis dan umur saat terjadinya eksposur.
7. Riwayat Keluarga dan Faktor Genetik
Riwayat keluarga merupakan komponen yang penting dalam riwayat penderita yang akan
dilaksanakan skrining untuk kanker payudara. Terdapat peningkatan risiko keganasan pada
wanita yang keluarganya menderita kanker payudara. Pada studi genetik ditemukan bahwa
kanker payudara berhubungan dengan gen tertentu. Apabila terdapat BRCA 1dan BRCA2, yaitu
suatu gen kerentanan terhadap kanker payudara, probabilitas untuk terjadi kanker payudara
sebesar 60% pada umur 50 tahun dan sebesar 85% pada umur 70 tahun. Faktor Usia sangat
berpengaruh -> sekitar 60% kanker payudara terjadi di usia 60 tahun. Resiko terbesar usia 75
tahun

Sel-sel kanker dibentuk dari sel-sel normal dalam suatu proses rumit yang
disebuttransformasi, yang terdiri dari tahap inisiasi dan promosi.
a.
Pada Tahap Inisiasi
Terjadi suatu perubahan dalam bahan genetik sel yang memancing sel menjadi ganas.
Perubahan dalam bahan genetik sel ini disebabkan oleh suatu agen yang disebut karsinogen,
yang bisa berupa bahan kimia, virus, radiasi (penyinaran) atau sinar matahari. Tetapi tidak semua
sel memiliki kepekaan yang sama terhadap suatu karsinogen. Kelainan genetik dalam sel atau
bahan lainnya yang disebut promotor, menyebabkan sel lebih rentan terhadap suatu karsinogen,
bahkan gangguan fisik menahun pun bisa membuat sel menjadi lebih peka untuk mengalami
suatu keganasan.
b.

Pada Tahap Promosi

Suatu sel yang telah mengalami inisiasi akan berubah menjadi ganas. Sel yang belum
melewati tahap inisiasi tidak akan terpengaruh oleh promosi. Karena itu diperlukan beberapa
faktor untuk terjadinya keganasan (gabungan dari sel yang peka dan suatu karsinogen).
Model klasik karsinogenesis membagi proses menjadi 3 tahap: inisiasi, promosi, progresi.
Inisiasi adalah proses yang melibatkan mutasi genetik yang menjadi permanen dalam DNA sel.
Promosi adalah suatu tahap ketika sel mutan berproliferasi. Progresi adalah tahap ketika klon sel
mutan mendapatkan satu atau lebih karakteristik neoplasma ganas seiring berkembangnya tumor,
sel menjadi lebih heterogen akibat mutasi tambahan. Selama stadium porgresif, massa tumor
yang meluas mendapat lebih banyak perubahan yang memungkinkan tumor mnginvasi jaringan
yang berdekatan, membentuk pasokan darah sendiri (angiogenesis), penetrasi ke pembuluh
darah, dan bermetastasis untuk membentuk tumor sekunder (Price dan Wilson, 2006).
Dalam kondisi fisiologis normal, mekanisme sinyal sel yang memulai proliferasi sel
dapat dibagi menjadi langkah- langkah sebagai berikut: (1) factor pertumbuhan, terikat pada
reseptor khusus pada permukaan sel; (2) reseptor factor pertumbuhan diaktifkan yang sebaliknya
mengaktifkan beberapa protein transduser; (3) sinyal ditransmisikan melewati sitosol melalui
second messager menuju inti sel; (4) factor transkripsi inti yang memulai pengaktifan transkripsi
asam deoksiribonukleat (DNA).
Ketika keadaan menguntungkan untuk pertumbuhan sel, sel terus melalui fase replikasi
sel, Siklus sel tersebut dibagi menjadi empat fase: G1 (gap 1), S (sintesis), G2 (gap 2), dan M
(mitosis). Sel tidak aktif yang terdapat dalam keadaan tidak membelah disebut G 0.
Proses dasar yang sering terdapat pada semua neoplasma adalah perubahan gen yang
disebabkan oleh mutasi pada sel somatik. Ada empat golongan gen yang memainkan peranan
penting dalam mengatur sinyal mekanisme faktor pertumbuhan dan siklus sel itu sendiri, yaitu
protoonkogen, gen supresi tumor, gen yang mengatur apoptosis, dan gen yang memperbaiki
DNA.

Protoonkogen, berfungsi untuk mendorong dan meningkatkan pertumbuhan


normal dan pembelahan sel. Sel yang memperlihatkan bentuk mutasi dari gen ini disebut
onkogen dan memiliki kemungkinan yang besar untuk berkembang menjadi ganas setelah
pembelahan sel dalam jumlah yang terbatas.

Gen- Gen Supresor Tumor, berfungsi untuk menghambat atau mengambil


kerusakan pada pertumbuhan sel dan siklus pembelahan. Mutasi pada gen supresor tumor
menyebabkan sel mengabaikan satu atau lebih komponen jaringan sinyal penghambat,
memindahkan kerusakan dari siklus sel dan menyebabkan angka yang tinggi dari pertumbuhan
yang tidak terkontrolkanker. Neoplasia adalah akibat dari hilangnya fungsi kedua gen supresor
tumor. Gen supresor tumor Rb yang menyandi protein pRb penting untuk mengontrol siklus sel
(master brake) pada titik pemeriksaan G1-S, sedangkan gen TP53 (yang mengkode untuk protein
p53) adalah emergency brake di titik pemeriksaan G1-S namun biasanya tidak dalam perjalanan
replikasi normal. Tapi bila terjadi kerusakan DNA, p53 akan memengaruhi transkripsi untuk
menghentikan siklus sel (melalui ekspresi p21). Jika kerusakan terlalu berat, maka p53
merangsang apoptosis. Contoh lain gen supresor tumor adalah BRCA1 dan BRCA2 yang
berkaitan dengan kanker payudara dan ovarium.

Gen- Gen yang Mengatur Apoptosis. Kerja gen ini mengatur apoptosis, dengan
menghambat apoptosis, mirip dengan gen bcl-2, sedangkan yang lain meningkatkan apoptosis
(seperti sebagai bad atau bax).


Gen- Gen Perbaikan DNA. Mutasi dalam gen perbaikan DNA dapat
menyebabkan kegagalan perbaikan DNA, yang pada gilirannya memungkinkan mutasi
selanjutnya pada gen supresor tumor dan protoonkogen untuk menumpuk.
(Price dan Wilson, 2006).
Manifestasi klinis karsinoma mammae
Pasien biasanya datang dengan keluhan benjolan atau massa di payudara, rasa sakit, keluar
cairan dari puting susu, timbulnya kelainan kulit (dimpling (Adanya lekukan ke dalam/dimping,
tarikan dan retraksi pada area mammae. Dimpling terjadi karena fiksasi tumor pada kulit atau
akibat distorsi ligamentum cooper), kemerahan, ulserasi, peau deorange), pembesaran kelenjar
getah bening, atau tanda metastasis jauh. Setiap kelainan pada payudara harus dipikirkan ganas
sebelum dibuktikan tidak .
Perubahan pada kulit yang biasa terjadi adalah :
1.
Tanda lesung. Ketika tumor mengenai ligamen glandula mammae, ligamen tersebut akan
memendek hingga kulit setempat menjadi cekung, yang disebut dengan tanda lesung
2.
Perubahan kulit jeruk (peau deorange). Ketika vasa limfatik subkutis tersumbat sel kanker,
hambatan drainase limfe menyebabkan udem kulit, folikel rambut tenggelam ke bawah tampak
sebagai tanda kulit jeruk
3.
Nodul satelit kulit. Ketika sel kanker di dalam vasa limfatik subkutis masing-masing
membentuk nodul metastasis, di sekitar lesi primer dapat muncul banyak nodul tersebar, secara
klinis disebut tanda satelit
4.
Invasi, ulserasi kulit. Ketika tumor menginvasi kulit, tampak perubahan berwrna merah
atau merah gelap. Bila tumor bertambah besar, lokasi itu dapat menjadi iskemik, ulserasi
membentuk bunga terbalik, ini disebut tanda kembang kol
5.
Perubahan inflamatorik. Secara klinis disebut karsinoma mammae inflamatorik, tampil
sebagai keseluruhan kulit mammae berwarna merah bengkak, mirip peradangan, dapat disebut
tanda peradangan. Tipe ini sering ditemukan pada kanker payudara waktu hamil atau laktasi.
Perubahan papilla mammae pada karsinoma mammae adalah :
1.
Retraksi, distorsi papilla mammae. Umumnya akibat tumor menginvasi jaringan subpapilar
2.
Sekret papilar (umumnya sanguineus). Sering karena karsinoma papilar dalam duktus besar
atau tumor mengenai duktus besar
3.
Perubahan eksematoid. Merupakan manifestasi spesifik dari kanker eksematoid (Paget
disease). Klinis tampak areola, papilla mammae tererosi, berkrusta, sekret, deskuamasi, sangat
mirip eksim.
Pembesaran kelenjar limfe regional. Pembesaran kelenjar limfe aksilar ipsilateral dapat soliter
maupun multipel, pada awalnya mobile, kemudian dapat saling berkoalesensi atau adhesi dengan
jaringan sekitarnya. Dengan perkembangan penyakit, kelenjar limfe supraklavikular juga dapat
menyusul membesar. Yang perlu diperhatikan adalah ada sebagian sangat kecil pasien kanker
payudara hanya tampil dengan limfadenopati aksilar tapi tak teraba massa mammae, ini disebut
sebagai karsinoma mammae tipe tersembunyi .

Diagnosis dan pemeriksaan penunjang serta penentuan stadium pada karsinoma


mammae
1.
Anamnesis

Benjolan Terdapat keluhan diketiak atau payudara berupa benjolan merupakan hal
yang sering dikeluhkan oleh pasien. Tanyakan sudah berapa lama benjolan. Gejala nyeri juga
bisa terjadi. Perubahan ukuran massa juga mengambil peran yang penting dalam mendiagnosis
kanker payudara. Benjolan yang cenderung membesar dan meluas dalam jangka waktu yang
cepat cenderung kearah ganas jika dibandingkan dengan lesi yang cenderung membesar seiring
dengan waktu haid.

Riwayat nipple discharge (ND) Lebih signifikan lagi jika ND muncul tanpa harus
dipijat, yaitu spontan. ND juga menjadi menunjang kearah ganas jika terjadi unilateral,
terlokalisir pada salah satu duktus dan terjadi pada pasien yang sudah tua. ND yang terkait
dengan keganasan bisa jernih, darah atau serous. ND yang mengarah ke jinak biasanya bilateral,
berasal dari multiduktus dan biasanya menyerupai susu, kehijauan atau hijau kebiruan. Lagi, jika
ND terjadi dikaitkan dengan orang dengan massa curiga ganas maka 11% dari pasien ND yang
terbukti ganas. Sementara itu, ND tidak dikaitkan dengan massa maka hanya dibawah 1 % yang
terdiagnosis sebagai kanker payudara.

Riwayat kanker payudara pada lapis pertama dalam keluarga (ibu, anak atau tante dari
ibu) meningkatkan risiko tiga kali lipat , namun ada juga yang berkata sampai 5 kali lipat. Jika
dari lapis pertama terdapat kanker payudara yang mengenai kedua payudara dan sebelum masa
menopause akan meningkatkan risiko sebesar 6 sampai 7 kali lipat, melakukan profilaksis
mastektomi bisa dipertimbangkan pada orang tersebut. Adanya riwayat terkena kanker payudara
harus membuat para wanita menyadari bahwa kemungkinan terjadi kanker payudara berikutnya
di payudara yang tersisa. Lebih kurang 15% pada populasi yang terkena kanker payudara
unilateral akan berkembang menjadi kanker yang mengenai payudara yang tersisa. Dan jika
terjadinya kanker payudara pada usia yang lebih muda maka persentasenya bisa lebih tinggi
sehingga membutuhkan pengawasan yang lebih intens

Untuk penggunaan HRT dan exogen esterogen telah dijelaskan di tajuk factor risiko.
Selain riwayat HRT, riwayat mengkonsumsi minuman berakohol juga bisa memicu terjadinya
kanker payudara. Dengan mengkonsumsi minimal 3-9 gelas perminggu, insidens terjadinya
kanker payudara pernah dilaporkan meningkat 1,3 kali dari rata-rata normal. Konsumsi alcohol
lebih dari 15 g per hari bisa meningkatkan risiko mejadi 1,6 kali.
2.
Pemeriksaan Fisik

Inspeksi pasien diminta duduk tegak, berbaring atau keduanya. Perhatikan bentuk
kedua payudara, warna kulit, tonjolan, lekukan, adanya kulit berbintik, seperti kulit jeruk, ulkus.
Dengan lengan terangkat lurus keatas, kelainan terlihat lebih jelas.

Palpasi lebih baik dilakukan pada pasien yang berbaring diatas bantal tipis
dipunggung. Telapak tangan digerakkan perlahan tanpa tekanan pada setiap kuadran payudara.
Pemeriksaan aksila lebih mudah pada posisi duduk tegak.

Dengan memijat halus puting susu dapat diketahui adanya pengeluaran cairan, nanah,
atau darah. Cairan yang keluar dari kedua puting harus dibandingkan.

Yang diperhatikan pada cairan dari puting payudara:

Sifat cairan (serous, hemoragik, susu)

Ada/tidaknya sel tumor

Unilateral atau bilateral


Dari satu atau dari beberapa duktus
Keluar spontan atau setelah dipijat
Keluar bila seluruh mamma dipijat atau dari segmen tertentu
Berhubungan dengan daur haid
Pramenopause/pascamenopause
Penggunaan obat hormon

Dikutip dari Current Medical Diagnosis and Treatment 2009


Pemeriksaan Penunjang
Laboratorium meliputi:
o Morfologi sel darah
o Laju endap darah
o Tes faal hati
o Tes tumor marker (carsino Embrionyk Antigen/CEA) dalam serum atau plasma
o Pemeriksaan sitologik
Pemeriksaan ini memegang peranan penting pada penilaian cairan yang keluar spontan dari
puting payudara, cairan kista atau cairan yang keluar dari ekskoriasi.
Ada beberapa pemeriksaan penunjang. Namun secara umum terbagi dua yaitunoninvasive dan
invasive.

Stadium kanker
Stadium T
Tis
0
(LCIS/DCIS)
I
T1
T1
IIA
T2
T2
IIB
T3
T1/T2
IIIA
T3
IIIB
T4
III C
Semua T
IV
Semua T

N0
N0
N1
N0
N1
N0
N2
N1/N2
Semua N
N3
Semua N

MO
M0
M0
M0
M0
M0
M0
M0
M0
M0
M1

Keterangan
TX : Lokasi tumor ganas tidak dapat dinilai
Tis : Tumor in situ (pre invasive carcinoma) dan penyakit paget pada papilla tanpa teraba tumor
T0 : Tidak ada bukti adanya tumot primer
T1 : Tumor diameter 2 cm
T1a : diameter tumor < 0,5 cm
T1b : diameter tumor 0,5-1cm
T1c : diameter tumor 1-2 cm
T2 : Tumor diameter lebih besar dari 2 cm tapi kurang dari 5 cm
T3 : Tumor diameter > 5 cm
T4 : setiap tumor yang diekstensi ke kulit atau dinding dada
T4a : ekstensi ke dinding dada
T4b : edema (peau dorange), ulserasi, satelit nodul pada payudara ipsilateral
T4c : kedua-duanya T4a dan T4b
T4d : mastitis karsinomatosa
Nx : Penyebaran pada KGB tidak dapat dinilai
N0 : KGB tidak terlibat
N1 : Metastasis KGB ipsilateral aksila dapat digerakkan
N2 : Metastasis KGB ipsilateral terfiksasi dengan jaringan sekitar
N3 : Metastasis KGB ipsilatral KGB mammae atau ipsilateral KGB supraklavikuler
Mx : Metastasis tidak dapat dinilai
M0 : Tidak ada metastasis
M1 : Metastasis pada organ - organ lainnya
Stadium 1

Stadium II A

Stadium II B

Stadium III A

Stadium III B

Stadium III C

Stadium IV

Diagnosis banding dari karsinoma mammae


1.
Fibroadenoma mammae (FAM), merupakan tumor jinak payudara yang biasa terdapat pada
usia muda (15-30 tahun), dengan konsistensi padat kenyal, batas tegas, tidak nyeri dan mobile.
2.
Kelainan fibrokistik, merupakan tumor yang tidak berbatas tegas, konsistensi padat kenyal
atau kistik, terdapat nyeri terutama menjelang
haid, ukuran membesar, biasanya
bilateral/multipel.
3.
Kistosarkoma filoides menyerupai FAM yang besar, berbentuk bulat lonjong, berbatas
tegas, mobile, dengan ukuran dapat mencapai 20-30 cm.
4.
Galaktokel : massa tumor kistik yang timbul akibat tersumbatnya saluran / duktus
laktiferus, terdapat pada ibu yang baru/sedang menyusui.
5.
Mastitis : infeksi pada payudara dengan tanda radang lengkap,bahkan dapat berkembang
menjadi abses, biasanya terdapat pada ibu yang menyusui.
6.
Lipoma : tumor pada jaringan lemak dengan batas tegas, lunak, tidak nyeri tekan, dan dapat
digerakkan.
7.
Nekrosis lemak, berbatas tegas, keras, kadang disertai dengan penarikan kulit.
Penatalaksanaan karsinoma mammae
Pengobatan stadium dini akan memberikan harapan kesembuhan dan harapan hidup yang baik.
Secara umum, pengobatan pada penderita kanker meliputi 2 tujuan, yaitu :
a.
Terapi kuratif
Terapi kuratif adalah tujuan utama terapi pada pasien kanker untuk menghilangkan kanker
tersebut. Dalam pelaksanaannya, terapi pada pasien kanker tidak dapat mempertahankan
asas primum non nocere karena dalam pemberian terapi kuratif, akan diberikan sejumlah
terrtentu zat kemoterapi atau radiasi yang bersifat toksik terhadap bagian tubuh lain yang tidak
terkena kanker. Terapi kuratif dapat berupa bedah radikal, kemoterapi, radiasi, imunoterapi atau
kombinasi dari keempat modalitas tersebut.
b.
Terapi paliatif
Terapi paliatif diberikan jika tujuan utama terapi kuratif tidak tercapai, Tujuan terapi paliatif
adalah untuk mengurangi gejala, dan meningkatkan kualitas hidup pasien dengan kanker pada
pasien yang tidak mungkin sembuh. Ketika tujuan terapi adalah sebagai paliatif, maka efek
toksisitas kemoterapi atau radiasi harus diminimalisir.
Penatalaksanaan kanker payudara dilakukan dengan serangkaian pengobatan meliputi
pembedahan, kemoterapi, terapi hormon, terapi radiasi dan yang terbaru adalah terapi imunologi
(antibodi). Pengobatan ini ditujukan untuk memusnahkan kanker atau membatasi perkembangan
penyakit serta menghilangkan gejalagejalanya. Keberagaman jenis terapi ini mengharuskan
terapi dilakukan secara individual.
1. Pembedahan

Pasien kanker payudara sebagian besar menjalani pembedahan untuk mengangkat kanker dari
payudara. Beberapa limfonodi axillaris biasanya diambil dan dilihat dibawah mikroskop untuk
mengetahui apakah limfonodi tersebut mengandung sel-sel kanker atau tidak. Operasi konservasi
payudara, operasi untuk mengangkat kanker namun tidak ikut mengangkat payudara itu sendiri,
meliputi:
Mastektomi dan Indikasi Breast Conserving Therapy
Simple mastectomy adalah pengangkatan seluruh jaringan payudara, kompleks nipple-areola,
serta kulit. Extended simple mastectomy adalah pengangkatan seluruh jaringan payudara,
kompleks nipple-areola, kulit, dan nodul limfe aksila level 1. Modified radical (Patey)
mastectomy adalah pengangkatan seluruh jaringan payudara, kompleks nipple-areola, kulit, dan
nodul limfe aksila level 1 dan level 2. Halstead radical mastectomy adalah pengangkatan seluruh
jaringan payudara, kompleks nipple-areola, kulit, otot-otot pektoralis mayor dan minor, serta
nodul limfe aksila level 1, 2, dan 3.1

Bila ada kemungkinan dan tersedianya sarana penyinaran pasca bedah makan dianjurkan terapi
mempertahankan payudara (Breast Conservation) yang berupa lumpektomi, segmentektomi atau
kuadrantektomi dengan diseksi kelenjar aksila.2Terapi konservatif ini merupakan standard terapi
untuk tumor ganas payudara stadium 1 dan 2.1Berikut adalah indikasi dan syarat dilakukannya
BCS:

Indikasi BCS:
T: 3 cm atau T: 2 cm untuk hasil kosmetik yang lebih baik atau T: 4 cm dengan syarat
payudara pasien berukuran cukup besar sehingga eksisi 4 cm tidak menimbulkan deformitas.3,4,5
Pasien menginginkan mempertahankan payudaranya.

Syarat BCS:

Keinginan penderita setelah dilakukan informed-consent


Penderita dapat melakukan kontrol rutin setelah pengobatan
Tumor tidak terletak sentral
Perbandingan ukuran tumor dan volume payudara cukup baik untuk kosmetik pasca BCS
Mammografi tidak memperlihatkan mikrokalsifikasi/tanda keganasan lain yang difus (luas)
Tumor tidak multipel
Belum pernah terapi radiasi di dada
Tidak menderita penyakit LE atau penyakit kolagen
Terdapat sarana radioterapi yang memadai3

Lumpektomi
Operasi untuk mengangkat tumor (benjolan) dan sejumlah kecil jaringan normal di sekitarnya.

Mastektomi Parsial
Operasi untuk mengangkat sebagian payudara yang terkena kanker beserta jaringan normal di
sekitarnya. Prosedur ini juga disebut dengan mastektomi segmental.Pasien yang diterapi dengan
operasi konservasi payudara juga diambil limfonodi axillarisya untuk biopsy. Prosedur ini
disebut dengan diseksi limfonodi. Prosedur ini dapat dilakukan bersamaan dengan operasi
konservasi payudara atau setelahnya. Diseksi limfonodi dilakukan melalui insisi yang terpisah.

Tipe operasi lain adalah sebagai berikut:


Mastektomi Total

Operasi pengangkatan seluruh payudara yang terkena kanker. Prosedur ini disebut juga
mastektomi sederhana. Beberapa limfonodi axillaris jugadiambil untuk biopsi pada waktu yang
bersamaan dengan operasi atausetelahnya. Prosedur ini dilakukan melalui insisi yang terpisah.

Modifikasi Mastektomi Radikal


Operasi pengangkatan seluruh payudara yang terkena kanker, beberapa limfonodi aksillaris,
lapisan atas otot-otot dada, dan kadang, bagian dari otot dinding dada.

Radical Mastektomi
Operasi pengangkatan seluruh payudara yang terkena kanker, otot-otot dinding dada di bawah
payudara, dan seluruh limfonodi axillaris. Prosedur ini kadang disebut mastektomi radikal
Halsted. Walaupun dokter mengangkat semua kanker yang terlihat saat operasi, pasien tetap
diberi terapi radiasi, kemoterapi, atau terapi hormon setelah operasi untuk membunuh sel-sel
kanker yang masih tersisa. Pengobatan yang diberikan setelah operasi untuk menurunkan risiko
kanker muncul kembali disebut terapi ajuvan. Jika pasien akan menjalani mastektomi,
rekonstruksi payudara (operasi untuk membangun kembali bentuk payudara setelah mastektomi)
dapat dipertimbangkan. Rekonstruksi payudara dapat dilakukan pada waktu mastektomi atau di
waktu mendatang. Payudara yang direkonstruksi dapat dibuat dari jaringan tubuh (non payudara)
pasien sendiri atau dengan menggunakan implant yang diisi dengan salin atau silikon gel.
2. Terapi Radiasi
Terapi radiasi adalah pengobatan kanker yang menggunakan sinar Xberenergi tinggi atau jenis
radiasi lain untuk membunuh sel-sel kanker atau menahan pertumbuhannya. Ada dua jenis terapi
radiasi. Terapi radiasi eksternal menggunakan mesin diluar tubuh untuk mengirim radiasi ke arah
kanker. Terapi radiasi internal menggunakan substansi radioaktif yang disegel di jarum, biji,
kabel, atau kateter yang ditempatkan langsung ke dalam atau ke dekat kanker. Cara terapi radiasi
yang diberikan tergantung pada jenis dan stadium kanker yang sedang diobati.

3. Kemoterapi
Kemoterapi adalah pengobatan kanker yang menggunakan obat-obatanuntuk
menghentikan pertumbuhan sel kanker, baik dengan membunuh atau menghentikan pembelahan
sel-sel tersebut. Apabila kemoterapi digunakan secara oral atau diinjeksikan ke pembuluh darah
vena atau otot, obat dapat masuk ke aliran darah dan dapat mencapai sel-sel kanker di seluruh
tubuh (kemoterapi sistemik). Namun apabila kemoterapi ditempatkan langsung ke tulang
belakang, organ, atau rongga tubuh seperti abdomen, obat-obatan sebagian besar akan
mempengaruhi sel-sel kanker di tempat-tempat tersebut (kemoterapi regional). Cara kemoterapi
yang diberikan tergantung pada jenis dan stadium kanker yang sedang diobati.
Adapun jenis jenis kombinasi kemoterapi yang diberikan adalah :

FEC (Fluorourasil, Eprubisin, Cyclophosphamide)


o Indikasi :
terapi adjuvant, neoadjuvant maupun pada kanker payudara yang sudah metastasis.
o Hal-hal yang perlu diperhatikan :

pasien dengan usia di atas 60 tahun atau ada riwayat penyakit jantung, sebelum
kemoterapi harus dilakukan pemeriksaan echocardiogram atau multiple gated acquisition test of
cardiac output (MUGA) untuk menjamin bahwa fungsi ventrikel kiri masih baik.
Periksa fungsi hati. Jika ada insufisiensi hati, maka dosis 5-FU di kurangi.
Periksa fungsi ginjal. Jika ada insufisiensi ginjal, dosis epirubisin dikurangi.
Periksa darah rutin lengkap. Jika netrofil < 1500/mm3, atau AT < 100.000/mm3, maka
kemoterapi ditunda.
Berikan antiemetik yang kuat sebelum kemoterapi.
Kontrol dosis epirubisin, untuk menghindari kardiotoksisitas bila dosis kumulatif
epirubisin >900 mg/m2
Beritahu pasien tentang kemungkinan rambut dapat rontok akibat kemoterapi.
o Dosis :
5-FU 500 mg/m2 pada hari 1.
Epirubisin 60 mg/m2 pada hari 1
Siklofosfamid 500 mg/m2
o Cara Pemberian :
5-FU dan siklofosfamid disuntikan secara IV pelan-pelan atau dilarutkan dalam NaCl
0,9% 100 ml dan diinfuskan dalam 10-20 menit.
Epirubisin disuntikan lewat selang infus salin.
o Siklus dan Jumlah siklus
Lama siklus 21 hari
Jumlah siklus 6
o Efek Samping :
Mielosupresi, Alopesia
Mual dan muntah
Mukositis
Kardiomiopati
Sistitis hemoragik, bila dosis siklofosfamid tinggi

Terapi Hormon
Terapi hormon adalah pengobatan kanker dengan cara menghilangkanhormon atau
menghambat aktivitasnya dan menghentikan pertumbuhan sel-sel kanker. Hormon adalah
substansi yang dihasilkan oleh kelenjar-kelenjar tubuh dan beredar dalam aliran darah. Beberapa
hormon dapat menyebabkan kanker tertentu untuk tumbuh. Jika tes menunjukkan bahwa sel-sel
kanker menempati reseptor dimana hormon bekerja, terapi obat-obatan, operasi, atau terapi
radiasi digunakan untuk mengurangi produksi hormon atau menghalangi kerjanya. Hormon
estrogen, yang membuat beberapa jenis kanker payudara tumbuh,terutama dibuat oleh ovarium.
Pengobatan untuk menghentikan ovarium membuat estrogen disebut ablasi ovarium.

Terapi Hormon dengan Tamoxifen


Sering diberikan kepada pasien dengan kanker payudara stadium dini dan kanker payudara
metastatik (kanker yang telah menyebar ke bagianlain tubuh). Terapi hormone dengan tamoxifen
atau estrogen dapat bekerja pada sel-sel di seluruh tubuh dan dapat meningkatkan kemungkinan
timbulnya kanker endometrium. Perempuan yang menggunakan tamoxifen harus melakukan
pemeriksaan panggul setiap tahun untuk mencari tanda-tanda kanker. Adanya perdarahan vagina,
selain menstruasi, harus dilaporkan ke dokter sesegera mungkin.

Terapi Hormon dengan Inhibitor Aromatase


Diberikan kepada beberapa wanita postmenopause yang menderita kanker payudara tergantung
hormon (hormone dependent breast cancer).Kanker payudara tipe ini memerlukan hormon
estrogen untuk tumbuh. Inhibitor aromatase menurunkan estrogen dalam tubuh dengan
menghambat enzim aromatase yang mengubah androgen menjadi estrogen.Untuk pengobatan
kanker payudara stadium awal, inhibitor aromatase tertentu dapat digunakan sebagai terapi
adjuvant daripada tamoxifen atau setelah 2 tahun atau lebih penggunaan tamoxifen. Untuk

pengobatan kanker payudara metastatik, inhibitor aromatase sedang diuji dalam uji klinis untuk
membandingkannya dengan terapi hormon dengan tamoxifen.
Preparat Terapi Hormonal

Dikutip dari Current Medical Diagnosis and Treatment 2009


5.
Targeted therapy
Targeted therapy adalah jenis pengobatan yang menggunakan obat atau bahan lainnya untuk
mengidentifikasi dan menyerang sel kanker spesifik tanpa merugikan sel normal. Antibodi
monoklonal dan inhibitor tirosin kinase adalah dua jenis Targeted therapy yang sedang dipelajari
dalam pengobatan kanker payudara.

Terapi Antibodi Monoklonal


Pengobatan kanker yang menggunakan antibodi yang dibuat di laboratorium dari satu jenis sel
sistem imun. Antibodi ini dapat mengidentifikasi substansi pada sel kanker atau substansi normal
yang dapat membantu sel kanker tumbuh. Antibodi melekat pada substansitersebut dan
membunuh sel kanker, menghambat pertumbuhan, atau menahan penyebarannya. Antibodi
monoklonal diberikan melalui infus. Antibodi ini dapat melalui infus langsung atau bersama
dengan obatobatan, racun, atau bahan radioaktif menuju sel-sel kanker. Antibodimonoklonal
dapat dikombinasikan dengan kemoterapi sebagai terapi adjuvant.
Trastuzumab (Herceptin)
Antibodi monoklonal yang menghambat pengaruh faktor pertumbuhan protein HER2, yang
mengirim sinyal pertumbuhan sel-sel kanker payudara. Sekitar seperempat pasien dengan kanker
payudara mempunyai tumor yang dapat diobati dengan trastuzumab dikombinasikan dengan
kemoterapi.

Inhibitor Tirosin Kinase


Obat terapi bertarget yang menghambat sinyal yang dibutuhkan untuk pertumbuhan tumor.
Inhibitor tirosin kinase dapat dikombinasikan dengan obat antikanker lain sebagai terapi
adjuvant.

Lapatinib adalah inhibitor tirosin kinase yang menghambat pengaruh dari protein HER2 dan
protein lain dalam sel tumor. Ini dapat digunakan untuk mengobati pasien dengan kanker
payudara HER2-positif yang telah mengalami kemajuan setelah pengobatan dengan trastuzumab.
Jenis pengobatan baru sedang diuji dalam uji klinis.
Tatalaksana berdasarkan jenis dan stadium
1.
Karsinoma Duktus In Situ (DCIS)
Pengobatan karsinoma duktus in situ (DCIS) dapat mencakup sebagai berikut:

Operasi konservasi payudara dan terapi radiasi dengan atau tanpa tamoxifen.

Mastektomi total dengan atau tanpa tamoxifen.

Operasi konservasi payudara tanpa terapi radiasi.

Percobaan uji klinis operasi konservasi payudara dan tamoxifen dengan atau tanpa terapi
radiasi.
2.
Karsinoma Lobulus In Situ (LCIS)
Pengobatan karsinoma lobulus in situ (LCIS) dapat mencakup sebagai berikut:

Biopsi untuk mendiagnosis LCIS diikuti dengan pemeriksaan dan mammogram secara
rutin dan teratur untuk menemukan adanya perubahan sedini mungkin. Hal ini disebut observasi.

Tamoxifen untuk mengurangi risiko terkena kanker payudara.

Mastektomi profilaksis bilateral. Pilihan pengobatan ini kadang digunakan pada wanita
yang memiliki risiko tinggi terkena kanker payudara. Banyak ahli bedah percaya bahwa ini
adalah pengobatan yang lebih agresif daripada yang dibutuhkan.

Percobaan uji klinis obat-obat pencegah kanker.


3.
Kanker Payudara Stadium I, Stadium II, Stadium III A, dan Stadium IIIC yang dapat
dioperasi

Operasi konservasi payudara untuk mengangkat kanker dan beberapa jaringan payudara
di sekitarnya, diikuti dengan diseksi kelenjar getah bening dan terapi radiasi.

Modifikasi mastektomi radikal dengan atau tanpa operasi rekonstruksi payudara.

Sebuah uji klinis yang mengevaluasi biopsi limfonodi sentinel diikuti oleh
pembedahan. Terapi ajuvan (pengobatan yang diberikan setelah operasi untuk meningkatkan
peluang kesembuhan) dapat mencakup sebagai berikut:

Terapi radiasi ke limfonodi sekitar payudara dan dinding dada setelah mastektomi radikal
dimodifikasi.

Kemoterapi sistemik dengan atau tanpa terapi hormon.

Terapi hormon.

Sebuah uji klinis dari trastuzumab (Herceptin) dikombinasikan dengan kemoterapi sistemik.
4.
Kanker Payudara Stadium IIIB, Stadium III C yang dapat dioperasi,Stadium IV, dan
metastatik
Pengobatan kanker payudara stadium IIIB dan stadium IIIC yang dapat dioperasi mencakup hal
berikut:

kemoterapi sistemik.

kemoterapi sistemik diikuti dengan pembedahan (operasi konservasi payudara atau


mastektomi total), dengan diseksi limfonodi diikuti dengan terapi radiasi. Tambahan terapi
sistemik (kemoterapi, terapi hormon, atau keduanya) dapat diberikan.


Percobaan klinis pengujian obat antikanker baru, kombinasi obat baru, dan cara-cara
baru memberi pengobatan.
5.
Kanker Payudara Stadium IV dan Metastatik
Pengobatan kanker payudara stadium IV atau metastasis dapat mencakup hal berikut:

Terapi hormon terapi dan / atau kemoterapi sistemik dengan atau tanpa trastuzumab
(Herceptin).

Terapi inhibitor tirosin kinase dengan lapatinib dikombinasikan dengan capecitabine.

Terapi radiasi dan / atau pembedahan untuk mengurangi nyeri dan gejala lainnya.

Obat-obatan bisphosphonate untuk mengurangi penyakit tulang dan nyeri saat kanker
telah menyebar ke tulang.

Percobaan klinis pengujian kemoterapi sistemik baru dan / atau terapi hormon.

Uji klinis kombinasi baru trastuzumab (Herceptin) dengan obat antikanker.

Uji klinis kombinasi baru lapatinib dengan obat antikanker.

Percobaan klinis pengujian pendekatan lainnya, termasuk kemoterapi dosis tinggi


dengan transplantasi stem cell.
TERAPI RADIASI
Terapi Radiasi (Radioterapi) adalah pengobatan yang terutama ditujukan untuk keganasan
dengan menggunakan sinar pengion. Meskipun demikian, ada beberapa bentuk penyakit yang
bukan keganasan yang kadang diterapi dengan radioterapi ini, contohnya pengobatan keloid,
Grave's disease, Radikastrasi, dll, demikian pula kadang-kadang digunakan bukan sinar pengion,
contohnya dalah gelombang panas (hyperthermia) yang digunakan secara bersama-sama untuk
mendapatkan respon radiasi yang lebih baik untuk tumor-tumor tertentu.
Terapi radiasi ini telah dilakukan tidak lama setelah Rontgen menemukan sinar X pada
Nopember 1895 lebih dari 1 abad yang lalu. Tak lama kemudian Curie menemukan suatu zat
radioaktif yaitu Radium pada tahun 1898 yang kemudian dipergunakan sebagai bentuk terapi
radiasi dan menjadi pelopor brachytherapy. Sejalan dengan penemuan-penemuan berkembang
pula pengetahuan di bidang Radiofisika dan Radiobiologi, yang menjadi dasar pengetahuan dan
penerapan dalam bidang ilmu Radioterapi. Perkembangan selanjutnya adalah berkembang pula
cabang ilmu yang mempelajari keganasan yang disebut Onkologi pada berbagai cabang ilmu
yang lain antara lain, Onkologi Dasar, Histopatologi Onkologi, Onkologi Medik, Onkologi
Bedah, Onkologi Ginekologi, Onkologi Radiasi, dll; yang mempelajari secara mendalam
mengenai keganasan.
Perkembangan radioterapi juga ditentukan dengan diciptakannya alat-alat canggih berupa
pesawat radiasi eksternal, brakiterapi, Treatment Planning System, Simulator, CT Scan
Simulator, yang keseluruhannya telah terkomputerisasi. Sejalan dengan itu juga dikembangkan
teknik-teknik radiasi, sehingga radiasi dapat diberikan dengan akurat dan aman. Oleh karena itu
pendekatan penanganan keganasan saat ini, baik untuk Diagnostik maupun untuk Terapi adalah
pendekatan Multi Disiplin, sehingga pasien tidak ditangani secara sendiri-sendiri di tiap disiplin
ilmu.
Onkologi Radiasi sendiri adalah cabang ilmu klinik yang mengobati kanker dan penyakit lain
dengan sinar pengion, baik radioterapi saja maupun kombinasi dengan bentuk pengobatan lain,
mengdakan penelitian di bidang fisika radiasi dan radiobiologi dan pendidikan di bidang profesi.

Radiation therapy adalah cabang ilmu yang hanya mengobati pasien denga keganasan dan buka
keganasan dengan sinar pengion.
Konsekuensi dari definisi ini adalah seorang Konsultan Radiation Onkologi tidak lagi
berhubungan dengan penanganan penyakit bukan keganasan. Meskipun demikian sampai saat ini
masih ada beberapa penyakit bukan keganasan yang masih memerlukan terapi radiasi.
TUJUAN TERAPI RADIASI
Tujuan radiasi secara umum terbagi dua yaitu:
Radioterapi Definitif
Radioterapi Paliatif
Radioterapi Definitif adalah bentuk pengobatan yang ditujukan untuk kemungkinan survive
setelah pengobatan yang adekuat, bahkan juga bila kemungkinan survive itu rendah, contoh pada
tumor-tumor dengan T4 pada tumor kepala dan leher, pada pasien kanker paru dan kanker
serviks stadium FIGO III b atau bahkan IV a.
Radioterapi Paliatif adalah bentuk pengobatan dimana tidak ada lagi harapan untuk hidup pasien
untuk jangka panjang. Keluhan dan gejala yang dirasakan oleh pasien yang harus dihilangkan
merupakan bentuk pengobatan yang diberikan. Tujuan pengobatan paliatif dengan demikian
untuk menjaga kualitas hidup pasien di sisa hidupnya dengan menghilangkan keluhan dan gejala,
sehingga pasien hidup dengan lebih nyaman.
Kombinasi pemberian radioterapi juga dapat berbentuk:
Radioterapi saja
Radiasi preoperasi
Radiasi postoperasi
Kombinasi Kemoradiasi
Radiasi intra/peri operatif
Radioterapi saja adalah bentuk pengobatan dengan radiasi saja sejak dari awal sampai akhir.
Pada pelaksanaannya teknik radiasi menggabungkan berbagai teknik radiasi dengan tujuan untuk
menjaga jaringan sehat dari efek buruk radiasi.
Radiasi preoperasi adalah bentuk pengobatan radiasi yan mendahului tindakan operasi, tujuan
utama adalah untuk meningkatkan resektabilitas dari tumor, oleh karena dengan radiasi tumor
akan mengecil, batas-batas menjadi jelas dan tegas sehingga operasi lebih mudah dilakukan,
tujuan kedua adalah untuk mengurangi kemungkinan metastase jauh akibat tindakan operasi,
oleh karena sel-sel yang terkena radiasi sudah tidak mempunyai kemampuan untuk hidup di
tempat lain, bila sel ini terlepas dan masuk pembuluh darah pada saat tindakan operasi.
Radiasi postoperasi adalah pengobatan adjuvant yang dilakukan setelah tindakan operasi. Radiasi
dilakukan dengan tujuan untuk mencegah timbulnya kekambuhan lokal yang disebabkan oleh
adanya resiko terjadinya kambuh lokal berupa:
Adanya residu tumor setelah operasi, baik gross residu, mikroskopik residu, tepi sayatan tidak
bebas tumor, kelenjar getah bening regional yang positif mengandung anak sebar tumor, secarta
histologi berdiferensiasi buruk, atau bentuk histologi yang angka kekambuhannya tinggi, contoh
adenokarsinoma atau adenoskuamosa.

Tumor-tumor yang kemungkinan kambuh sangat tinggi.


Kemoradiasi adalah bentuk pengobatan kombinasi anatara radiasi dengan kemoterapi dengan
tujuan untuk meninggikan respon radiasi. Kemoterapi disini bersifat sebagai radiosensitiser.
Kemoradiasi dapat berbentuk neoadjuvant sebelum tindakan operasi, ataupun dapat berdiri
sendiri tanpa operasi.
Radiasi intra/peri operatif dilakukan pada saat operasi sebelum luka operasi ditutup. Tekniknya
dapat berupa:
Kontak radioterapi dengan menggunakan sinar elektron.
Brachyterapi.
Kegagalan radioterapi untuk mengeliminasi tumor dapat disebabkan beberapa hal:
Bila ukuran tumor terlalu besar
Bila volume radiasi tidak adekwat
Bila tumor ada dalam keadaan hypoxic
Bila tumor dalam siklus sel yang tidak berespon terhadap radiasi
Dosis total yang harus diberikan tidak sesuai oleh karena dibatasi oleh jaringan sehat sekitar
tumor
Nana Supriana

Penyebaran / metastasis karsinoma mammae


Letak
Otak
Pleura
Paru
Hati
Tulang

Tengkora
k

Vertebta

Iga

Tulang
panjang

Gejala dan tanda utama


Nyeri kepala, mual-muntah, epilepsi, ataksia,
paresis, parestesia
Efusi, sesak nafas
Biasanya tanpa gejala
Kadang tanpa gejala
Massa, ikteruss obstruksi

Nyeri, kadang tanpa keluhan


Kempaan sumsum tulang
Nyeri, patah tulang
Nyeri, patah tulang

Prognosis karsinoma mammae


Prognosis dipengaruhi oleh variabel:
1. Ukuran karsinoma primer

2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.

Keterlibatan KGB dan jumlah KGB yang terkena metastasis


Derajat karsinoma
Tipe histologik karsinoma
Invasi limfovaskular
Ada tidak nya reseptor estrogen atau progesteron
Laju proliferasi kanker
Aneuploidi
Ekspresi berlebihan ERBB2

Dikutip dari Current Medical Diagnosis and Treatment 2009

Dikutip dari Harrisons, Principle of Internal Medicine


Pencegahan yang dilakukan terhadap karsinoma mammae

Promosi kesehatan untuk orang sehat menghindarkan


Pencegahan Primer
diri dari keterpaparan berbagai faktor risiko

Melaksanakan pola hidup sehat


Pencegahan Sekunder
Dilakukan untuk individu dengan risiko

Deteksi dini skrining dengan mammografi

Tanpa faktor risiko = setiap 2 tahun sampai usia 50 tahun

Dengan faktor risiko = setiap tahun


Wanita 40 thn cancer risk assessement survey

Pemeriksaan SADARI (Pemeriksaan Payudara sendiri)


Terdiri dari tiga tahap yaitu
1.
Inspeksi di depan kaca dengan tangan di samping, di atas
kepala, di pinggul mencari perubahan pada kontur, warna kulit,
tekstur dan perubahan putting.
2.
Palpasi saat mandi
3.
Palpasi dengan posisi supine pada sofa atau tempat tidur
Palpasi bisa dilakukan dari berbagai arah baik horizontal ataupun
vertical, radial atau sirkular. Dari sebuah studi disimpulkan arah
vertical merupakan tahnik terbaik dalam memeriksa payudara.
Pasien sebaiknya memulai SADARI pada usia akhir 20-an sampai
awal 30-an dan berlanjut sepanjang hidup. SADARI sebaiknya
dilakukan 5-10 hari setelah onset menstruasi. Wanita menopause
harus memeriksa di hari yang sama tiap bulan.

Pencegahan Tertier

Diarahkan untuk individu yang telah (+) terkena Ca mammae,


untuk :

Mengurangi kecacatan dan memperpanjang harapan hidup

Meningkatkan Quality of Life

Mencegah komplikasi dan meneruskan terapi

Pencegahan kanker payudara


1.

2.

3.

Pencegahan primer. Merupakan promosi kesehatan yang sehat. Yaitu melalui upaya menghindarkan diri
dari Faktor Risiko diatas serta melakukan pola hidup sehat. Termasuk juga dengan pemeriksaan payudara
sendiei alias SADARI.
Pencegahan sekunder dilakukan pada wanita yang memiliki risiko terkena kanker payudara. Yaitu dengan
melakukan deteksi dini dengan via skrining mammografi yang diklaim memiliki 90% akurat. Skrining berlaku
untuk wanita usia 40 tahun keatas, wanita yang harus rujuk skrining setiap tahun dan wanita normal yang harus
rujuk skrining tiap 2 tahun sekali hingga usia 50 tahun.
Pencegahan tertier dilakukan pada wanita yang positif menderita kanker payudara. Ini penting untuk
meningkatkan kualitas hidup serta mencegah komplikasi penyakit. Bisa berupa operasi, kemoterapi sitostatika.
Pada stadium tertentu hanya berupa simptomatik dan pengobatan alternatif.

Sikap dan tindakan positif yang harus diambil pasien dalam stadium terminal dengan tawakal
dan tobat

Sakit sebagai salah satu ciptaan Allah SWT yang ditimpakan kepada manusia juga pasti ada
maksudnya. Salah satu hikmah Allah SWT kepada hamba-Nya adalah sebagai ujian dan cobaan

untuk membuktikan siapa-siapa saja yang benar-benar beriman. Firman Allah SWT :

Artinya : Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang
kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa
oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta diguncangkan (dengan bermacam-macam cobaan)
sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: "Bilakah datangnya
pertolongan Allah?" Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat. (Q.S. Al Baqarah
: 214)
Demikianlah Allah SWT akan menguji hamba-hamba-Nya dengan kebaikan dan keburukan. Dia
menguji manusia berupa kesehatan, agar mereka bersyukur dan mengetahui keutamaan Allah
SWT serta kebaikan-Nya kepada mereka. Kemudian Allah SWT juga akan menguji manusia
dengan keburukan seperti sakit dan miskin, agar mereka bersabar dan memohon perlindungan
serta berdo'a kepada-Nya.
Dalam pandangan Islam, penyakit merupakan cobaan yang diberikan Allah SWT kepada hambaNya untuk menguji keimanannya. Ketika seseorang sakit disana terkandung pahala, ampunan
dan akan mengingatkan orang sakit kepada Allah SWT. Aisyah pernah meriwayatkan, bahwa
Rasulullah SAW bersabda : 'Tidak ada musibah yang menimpa diri seorang muslim, kecuali
Allah mengampuni dosa-dosanya, sampai-sampai sakitnya karena tertusuk duri sekalipun" (H.R.
Buchari)
Allah mengajarkan kita cara bertobat sebagaimana tercantum dalam Alquran, "Ya Tuhan kami,
kami telah menganiaya diri kami sendiri dan jika Engkau tidak mengampuni kami, niscaya,
pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi." (Q.S. al A'raaf [7] :23).
Kesungguhan kita bertobat insya Allah menjadi bagian dari rezeki yang besar dari Allah SWT.
"Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga..." (Q.S. Ali Imran
[3]:133).
Ciri-ciri tobat nasuha :
1. Menyesal.
2. Memohon ampun kepada Allah.
3. Gigih untuk tidak mengulangi.
Ciri tobat yang diterima :
1. Orang tersebut terlihat lebih bersih dan lebih terjaga dari perbuatan maksiat. Hal itu terjadi
karena dia lebih bisa menahan diri.
2. Orang yang tobatnya diterima, hatinya selalu lapang dan gembira.

3. Dia selalu bergaul dengan orang-orang saleh dan mencari lingkungan yang baik pula. Mencari
lingkungan yang baik adalah salah satu bagian yang akan membuat agama kita terpelihara.
4. Kualitas amalnya semakin meningkat.
5. Dia senantiasa menjaga lidahnya. Ingatannya selalu kembali kepada Allah.

DAFTAR PUSTAKA

Sjamsuhidayat R dan Jong W, Dinding Toraks, Pleura dan Payudara dalam Buku Ajar
Ilmu Bedah, EGC, Jakarta, 2005.

Sabiston 1995. Buku Ajar Bedah, bagian I, EGC, Jakarta.

Robbins, Buku Ajar Patologi volume 1 edisi 7, EGC, Jakarta, 2007

Robbins, Buku Ajar Patologi volume 2 edisi 7, EGC, Jakarta, 2007

Harrisons, Principle of Internal Medicine 17 Th ed, 2008, capt 86

Victor G. Vogel, MD, MHS, Journal for cliniians Breast Cancer Prevention: A Review of
Current Evidence, 2000, Vol 50 no 3, p: 156-169

Ilyas, Yunahar, Kuliah Akhlaq, Yogyakarta, Pustaka Pelajar Offset, 2006.

M. Ishom Elsaha dan Saiful Hadi, Sketsa Alquran, Jakarta, Rineka Cipta 2005.

http://g0nd32.multiply.com/journal?&page_start=100

http://www.scribd.com/doc/38662939/NEOPLASMA-1

http://www.scribd.com/doc/6580076/18-Taubat-Nasuha-Menurut-ASWJ

http://dsmlmdblog.blogspot.com/

http://www.fkumyecase.net/wiki/index.php?page=Ca.+MAMAE+2

http://www.lenterabiru.com/2008/12/kanker-payudara.htm
http://www.lusa.web.id/kanker-payudara-ca-mammae/
http://retni-islamagamaku.blogspot.com/2007/07/tobat-nasuha.html
http://saga-islamicnet.blogspot.com/2009/10/sakit-dalam-pandangan-islam.html

1. Brunicardi FC, et al. Schwartzs manual of surgery. 8th Edition. United States of America: The
McGraw-Hill Companies, Inc. 2006. p. 361; 360.
2. Sjamsuhidajat R, de Jong W. Buku ajar ilmu bedah. Edisi Revisi. Jakarta: Penerbit Buku
Kedokteran EGC. 1997. hal. 551.
3. Albar ZA, et al. Protokol PERABOI. Edisi 1. Bandung: Perhimpunan Ahli Bedah Onkologi
Indonesia. 2004. hal. 11.
4. Greenal MJ, Wood WC. Cancer of the breast. In: Oxford textbook of surgery. 2nd Edition. Oxford
University Press. 2002.
5. Giuliano AE. Carcinoma of female breast. In: Way LW, Doherty GM. Current surgical diagnosis
and treatment. 11th Edition. McGraw-Hill/Appleton and Lange. 2003. p. 130.
Gambar 1: Diunduh dari http://www.frca.co.uk/images/axilla-lymph-nodes.gif
Gambar 2: Diunduh dari
http://www.scielo.cl/fbpe/img/ijmorphol/v27n3/art38t2.jpg