Anda di halaman 1dari 12

PEMBAHASAN I

SPIROMETRY
A. Pengertian Spirometer
Spirometer adalah alat untuk mengukur aliran udara yang masuk dan
keluar paru-paru yg berfungsi untuk mengetahui kondisi paru-paru manusia
dan dicatat dalam grafik volume per waktu.
B. Indikasi Spirometry
Indikasi penggunan Spirometry adalah bermanfaat untuk melakukan
pemeriksaan faal paru sebelum pembedahan misalnya antaralain adalah
sebagai berikut :
1. Pemeriksaan faal paru dengan spirometer dapat menggambarkan
beberapa segi keadaan paru misalnya pemeriksaan FEV merupakan
pemeriksaan yang dapat menunjukkan kelainan obstruktif pada saluran
nafas. Sedangkan VC akan menunjukkan kelainan yang bersifat
restriktif, yang bisa terjadi karena pengurangan jaringan paru yang
berfungsi, terbatasnya pengembangan dinding toraks dan atau gerakan
diafragma.
2. Dapat menentukan adanya kelainan atau tidaknya faal paru yaitu Faal
paru dinyatakan masih dalam batas normal bila hasil pemeriksaan
didapatkan deviasi sampai 20% dari harga yang diperkirakan (predicted
value) (21,22). Harga yang diperkirakan (predictedvalue) disesuaikan
dengan tinggi dan berat badan. Kelainan bersifat ringan bila hasil
pemeriksaan kurang dari 70% dari yang diperkirakan, dan bersifat
sedang bila hasilnya kurang dari 60% serta berat bila kurang dari 50%
(22,23).
3. Dengan menggunakan spirometry dapat membantu Pemeriksaan dan bisa
mendapatkan keterangan tentang regangan paru dengan hasil data yang
objektif. Hasil penilaian keteregangan paru dapat digunakan untuk
penilaian terdapatnya abnormaliti pada jaringan paru. Dan dengan data
tersebut dapat menentukan tentang ada dan tidaknya kelainan pada paruparu.

C. Kontra Indikasi Spirometry


Kontra indikasi yang bisa ditimbulkan akibat spirometry yaitu jika
misalkan mengadakan pemeriksaan tes fungsi paru yang dilakukan secara
bergantian, dan tidak menutup kemungkinan dalam kelompok yang
melakukan tes fungsi paru tersebut ada yang menderita penyakit TB
misalnya, dimana akan dapat menularkan penyakit TB nya tersebut kepada
orang sehat yang melakukan tes fungsi paru (tidak menderita TB), melalui
pergantian penggunaan spirometry tersebut.
D. Manfaat Spirometry
1. Untuk Mengukur Laju Udara Paru-Paru dan Untuk Menentukan
Ada dan Tidaknya Kelainan Pada Paru-Paru.
Salah satu fungsi spirometry adalah untuk mengukur laju udara
pernapasan yang keluar masuk pada paru-paru. Untuk menghitung laju udara
pernapasan Spirometer menggunakan prinsip salah satu hukum dalam fisika
yaitu hukum Archimedes. Hal ini tercermin pada saat spirometer ditiup,
ketika itu tabung yang berisi udara akan naik turun karena adanya gaya
dorong ke atas akibat adanya tekanan dari udara yang masuk ke spirometer.
Spirometer juga menggunakan hukum newton yang diterapkan dalam
sebuah katrol . Katrol ini dihubungkan kepada sebuah bandul yang dapat
bergerak naik turun. Bandul ini kemudian dihubungkan lagi dengan alat
pencatat yang bergerak diatas silinder berputar.
Cara pengukuran dengan spirometry yaitu sesorang disuruh bernafas
(menarik nafas dan menghembuskan nafas) di mana hidung orang itu
ditutup. Tabung yang berisi udara akan bergerak naik turun, sementara itu
drum pencatat bergerak putar (sesuai jarum jam) sehingga pencatat akan
mencatat sesuai dengan gerak tabung yang berisi udara. Pada waktu
istirahat, spirogram menunjukkan volume udara paru-paru 500 ml. Keadaan
ini disebut tidal volume. Pada permulaan dan akhir pernafasan terdapat
keadaan reserve, akhir darisuatu inspirasi dengan suatu usaha agar mengisi
paru-paru dengan udara, udara tambahan ini disebut inspiratory reserve
volume, jumlahnya sebanyak 3.000 ml. Demikian pula akhir dari suatu
respirasi, usaha dengan tenaga untuk mengeluarkan udara dari paru-paru,
udara ini disebut dengan expiratory reserve volume yang jumlahnya kirakira 1.100 ml. Udara yang tertinggal setelah ekspirasi secara normal disebut

fungtional residual capacity (FRC). Seorang yang bernapas dalam keadaan


baik inspirasi maupun ekspirasi, kedua keadaan yang ekstrim ini disebut
vital capacity. Dalam keadaan normal, vital capacity sebanyak 4.500 ml.
Dalam keadaan apapun paru-paru tetap mengandung udara, udara ini disebut
residual volume (kira-kira 1.000 ml) untuk orang dewasa. Untuk
membuktikan adanya residual volume, pada penderita paru disuruh bernafas
dengan mencampuri udara dengan helium, kemudian dilakukan pengukuran
fraksi helium pada waktu ekspirasi. Penderita disuruh bernafas dalam satu
menit yang disebut respiratory minute volume. Maksimum volume udara
yang dapat dihirup selama 15 menit disebut maximum voluntary ventilation.
Maksimum ekspirasi setelah maksimum inspirasi sangat berguna untuk
mengetes penderita emphysema dan penyakit obstruksi jalan pernafasan.
Penderita normal dapat mengeluarkan udara kira-kira 70% dari vital capacity
dalam 0.5 detik.; 85% dalam satu detik; 94% dalam 2 detik; 97% dalam 3
detik.
2. Untuk Pengukuran Laju Metabolisme
Dalam penetapan laju metabolisme, konsumsi Oksigen umumnya
diukur dengan menggunakan spirometer yang diisi dengan O2 dan suatu
sistem yang mengabsorpsi CO2. Bandul Spirometer dihubungkan dengan
alat pencatat yuang bergerak diatas suatu silinder yang berputar, sementara
bandul bergerak naik turun. Dengan menarik garis sepanjang grafik yang
dibuat, akan diperoleh suatu kemiringan tertentu yang sebanding dengan
besarnya konsumsi O2. Jumlah O2 yang dipakai (dalam ml) persatuan waktu
dikoreksi pada suhu dan tekanan standar, kemudian dikonversikan menjadi
energi yaitu dengan dikalikan 4,82 kcal/L O yang dipakai.
E. Interprestasi Hasil Dari Spirometry
Berdasarkan indikasi dan Manfaat spirometry yang telah dijelaskan
sebelumnya maka dapat menentukan interprestasi hasil dari spirometry
yaitu :
1. Untuk mengukur laju udara paru-paru dan sekaligus menentukan
ada dan tidaknya kelainan pada paru-paru.
2. Dapat digunakan untuk pengukuran laju metabolisme tubuh

3. Spirometry dapat digunakan atau bermanfaat untuk melakukan


pemeriksaan faal paru sebelum pembedahan, misalnya
yaitu :
1. Dengan menggunakan spirometry pemeriksaan keteregangan paru
dapat dilakukan dengan cara yang sederhana dengan hasil data yang
objektif.
2. Hasil penilaian keteregangan paru dapat digunakan untuk penilaian terdap
paru-paru apakah terdapat abnormaliti pada jaringan paru atau tidak.
3. Pengukuran keteregangan dapat memberikan data objektif untuk
membedakan kelainan pada paru, dinding toraks atau keduanya.

Dengan demikian pemeriksaan faal paru dengan menggunakan


spiromerty selain menunjukkan kelainan fisiologik yang ada, juga
menunjukkan kelainan fungsional secara kuantitatif disamping itu juga dapat
memberikan data-data studi pengamatan (follow-up study) secara obyektif
dari sifat penyakit paru yang diderita serta dapat menunjukkan manfaat
pengobatan yang diberikan. Dari hasil pemeriksaan faal paru dengan
spirometry yang dapat menunjukkan berat ringannya kelainan yang ada,
serta mengerti dan mengetahui perubahan patofisiologi pasca bedah, maka
dapat diidentifikasi kemungkinan bakal terjadinya risiko paru akibat
pembedahan torak dan bukan toraks. Dengan demikian maka penilaian hasilhasil pemeriksaan dengan spirometer ini merupakan dasar evaluasi faal paru
secara kuantitatif sebelum pembedahan.
F. Penyakit Paru
A. Penyakit paru restriktiv
1. Pengertian
penyakit paru-paru restriktif atau penyakit paru Pembatasan adalah
gangguan kronis yang menyebabkan penurunan kemampuan untuk
memperluas paru-paru (menghirup) dan kadang-kadang membuat lebih sulit
untuk mendapatkan oksigen yang cukup untuk memenuhi kebutuhan tubuh.
Penyakit paru restrictive dapat dibagi dalam dua kelompok yaitu :
a.Pneumokoniasis
Pneumokoniasis adalah penyakit paru lingkungan yang disebabkan
oleh inhalasi kronis debu inorganik ataupun bahan-bahan partikel yang
berasal dari udara lingkungan atau tempat kerja. Yang menimbulkan

pneumokoniasis kebanyakan adalah debu asbes, silica, batu bara, beriluim,


bauksit, besi/baja, dan lain-lain.
b.
Asbesitosis
Asbesitosis merupakan salah satu penyakit paru akibat paparan debu
inorganic. Penyakit ini timbul merupakan respons paru berupa fibrosis /
pneumonitis interstitialis sebagai akibat inhalsi debu (serabut) asbes.
Paparan debu asbestos sering terjadi pada pekerja pabrik atau yang
menggunakan peralatan yang mengandung asbestos. Debu asbestos yang
terhirup, akan terdeposisi di dinding bronkus (dari cabang bronkus utama
sampai bronkiolus respiratorius dan alveoli). Makrofag akan memfagositosis
debu berupa pembentukan fibrosis di dinding bronkus. Gejala awal dari
asbesitosis berupa sesak napas saat aktifitas dan batuk nonproduktif.
2. Gejala Yang Ditimbulkan
Gejala Penyakit Paru Pembatasan atau penyakit paru restrictive adalah
batuk, sesak napas, dan sakit dada.
3. Diagnosa
Diagnostik Pengujian untuk penyakit paru-paru dapat memasukkan
hal berikut Tes fungsi paru, Chest X-ray, CAT scan, Bronkoskopi, Pulse
oksimetri
4. Pengobatan
Pengobatan penyakit paru-paru tergantung pada banyak faktor, seperti
jenis dan tahap penyakit, riwayat keluarga, riwayat kesehatan pasien, dan
kesehatan dan umur pasien. Berikut ini dapat digunakan untuk mengobati
penyakit paru-paru, antara lain Inhaler, Ekspektoran, Antibiotik , Terapi
oksigen, Kemoterapi, dan Transplantasi paru-paru.
B. Penyakit Paru Obstruktif (PPOM)
1.Pengertian
Penyakit Paru Obstruktif Menahun atau PPOM adalah suatu
penyumbatan menetap pada saluran pernafasan yang disebabkan oleh
emfisema atau bronkitis kronis. PPOM lebih sering menyerang laki-laki dan
sering berakibat fatal. PPOM juga lebih sering terjadi pada suatu keluarga,
sehingga
diduga
ada
faktor
yang
diturunkan.

Bekerja di lingkungan yang tercemar oleh asap kimia atau debu yang tidak
berbahaya, bisa meningkatkan resiko terjadinya PPOM. Tetapi kebiasaan
merokok pengaruhnya lebih besar dibandingkan dengan pekerjaan
seseorang. Angka kematian karena emfisema dan bronkitis kronis pada
perokok sigaret lebih tinggi dibandingkan dengan angka kematian karena
PPOM pada bukan perokok. Sejalan dengan pertambahan usia, perokok
sigaret akan mengalami penurunan fungsi paru-paru yang lebih cepat
daripada
bukan
perokok.
2.Penyebab
Ada 2 (dua) penyebab dari penyumbatan aliran udara pada penyakit
ini,
yaitu
emfisema
dan
bronkitis
kronis.
a. Emfisema
Enfisema adalah suatu pelebaran kantung udara kecil (alveoli) di
paru-paru, yang disertai dengan kerusakan pada dindingnya.
Dalam keadaan normal, sekumpulan alveoli yang berhubungan ke saluran
nafas kecil (bronkioli), membentuk struktur yang kuat dan menjaga saluran
pernafasan tetap terbuka. Pada emfisema, dinding alveoli mengalami
kerusakan, sehingga bronkioli kehilangan struktur penyangganya. Dengan
demikian, pada saat udara dikeluarkan, bronkioli akan mengkerut. Struktur
saluran
udara
menyempit
dan
sifatnya
menetap.
b.
Bronkitis
Kronis
Bronkitis kronis adalah batuk menahun yang menetap, yang disertai
dengan pembentukan dahak dan bukan merupakan akibat dari penyebab
yang secara medis diketahui (misalnya kanker paru-paru). Pada saluran
udara kecil terjadi pembentukan jaringan parut, pembengkakan lapisan,
penyumbatan parsial oleh lendir dan kejang pada otot polosnya.
Adanya bahan-bahan iritan menyebabkan peradangan pada alveoli.
Jika suatu peradangan berlangsung lama, bisa terjadi kerusakan yang
menetap. Pada alveoli yang meradang, akan terkumpul sel-sel darah putih
yang akan menghasilkan enzim-enzim (terutama neutrofil elastase), yang
akan merusak jaringan penghubung di dalam dinding alveoli.
Merokok akan mengakibatkan kerusakan lebih lanjut pada pertahanan paruparu, yaitu dengan cara merusak sel-sel seperti rambut (silia) yang secara
normal membawa lendir ke mulut dan membantu mengeluarkan bahanbahan
beracun.
Tubuh menghasilkan protein alfa-1-antitripsin, yang memegang peranan
penting dalam mencegah kerusakan alveoli oleh neutrofil estalase.
Ada suatu penyakit keturunan yang sangat jarang terjadi, dimana seseorang

tidak memiliki atau hanya memiliki sedikit alfa-1-antitripsin, sehingga


emfisema terjadi pada awal usia pertengahan (terutama pada perokok).
3.Gejala
Gejala-gejala awal dari PPOM, yang bisa muncul setelah 5-10 tahun
merokok, adalah batuk dan adanya lendir. Batuk biasanya ringan dan sering
disalah artikan sebagai batuk normal perokok, walaupun sebetulnya tidak
normal. Sering terjadi nyeri kepala dan pilek. Selama pilek, dahak menjadi
kuning
atau
hijau
karena
adanya
nanah.
Lama-lama gejala tersebut akan semakin sering dirasakan. Bisa juga disertai
mengi/bengek. Pada umur sekitar 60 tahun, sering timbul sesak nafas waktu
bekerja
dan
bertambah
parah
secara
perlahan.
4.Diagnosa
Pada PPOM yang ringan, mungkin tidak ditemukan kelainan selama
pemeriksaan fisik, kecuali terdengarnya beberapa mengi pada pemeriksaan
dengan menggunakan stetoskop. Suara pernafasan pada stetoskop juga
terdengar lebih keras. Biasanya foto dada juga normal.
Untuk menunjukkan adanya sumbatan aliran udara dan untuk menegakkan
diagnosis, dilakukan pengukuran volume penghembusan nafas dalam 1 detik
dengan menggunakan spirometri. Pada penderita PPOM akan terjadi
penurunan
aliran
udara
selama
penghembusan
nafas.
5.Pengobatan
Karena merokok sigaret merupakan penyebab paling penting dari
PPOM, maka pengobatan utama adalah berhenti merokok. Menghentikan
kebiasaan merokok pada saat penyumbatan aliran udara masih ringan atau
sedang, akan memperlambat timbulnya sesak nafas. Tetapi, berhenti
merokok pada stadium manapun dari penyakit ini, pasti akan memberikan
banyak keuntungan. Penderita juga harus mencoba untuk menghindari
pemaparan
terhadap
bahan
iritan
lainnnya
di
udara.
Terapi oksigen jangka panjang akan memperpanjang hidup penderita PPOM
yang berat dan penderita dengan kadar oksigen darah yang sangat rendah.
Oksigen diberikan 12 jam/hari. Hal ini akan mengurangi kelebihan sel darah
merah yang disebabkan menurunnya kadar oksigen dalam darah,
memperbaiki fungsi mental dan memperbaiki gagal jantung akibat PPOM.
Terapi oksigen juga bisa memperbaiki sesak nafas selama beraktivitas.
Pada penderita dengan emfisema yang berat, bisa dilakukan pembedahan
yang disebut operasi reduksi volume paru-paru. Prosedurnya rumit dan
penderita harus berhenti merokok setidaknya 6 bulan sebelum pembedahan

dan
menjalani
program
latihan
intensif.
Pembedahan akan memperbaiki fungsi paru-paru dan kemampuan berlatih.

PEMBAHASAN II
URIN
A. Mekanisme Pembentukan Urine
1. Penyaringan ( Filtrasi )
Proses pembentukan urin diawali dengan penyaringan darah yang
terjadi di kapiler glomerulus. Sel-sel kapiler glomerulus yang berpori
(podosit), tekanan dan permeabilitas yang tinggi pada glomerulus
mempermudah
proses
penyaringan.
Selain penyaringan, di glomelurus juga terjadi penyerapan kembali sel-sel
darah, keping darah, dan sebagian besar protein plasma. Bahan-bahan kecil
yang terlarut di dalam plasma darah, seperti glukosa, asam amino, natrium,
kalium, klorida, bikarbonat dan urea dapat melewati saringan dan menjadi
bagian
dari
endapan.
Hasil penyaringan di glomerulus disebut filtrat glomerolus atau urin primer,
mengandung asam amino, glukosa, natrium, kalium, dan garam-garam
lainnya.
2.

Penyerapan

kembali

(reabsorbsi)

Bahan-bahan yang masih diperlukan di dalam urin primer akan


diserap kembali di tubulus kontortus proksimal, sedangkan di tubulus
kontortus distal terjadi penambahan zat-zat sisa dan urea.
Meresapnya zat pada tubulus ini melalui dua cara. Gula dan asam amino
meresap melalui peristiwa difusi, sedangkan air melalui peristiwa osmosis.
Penyerapan air terjadi pada tubulus proksimal dan tubulus distal.
Substansi yang masih diperlukan seperti glukosa dan asam amino
dikembalikan ke darah. Zat amonia, obat-obatan seperti penisilin sedangkan
kelebihan garam dan bahan lain pada filtrat dikeluarkan bersama urin.

Setelah terjadi reabsorbsi maka tubulus akan menghasilkan urin sekunder,


zat-zat yang masih diperlukan tidak akan ditemukan lagi. Sebaliknya,
konsentrasi zat-zat sisa metabolisme yang bersifat racun bertambah,
misalnya urea.
3. Augmentasi
Augmentasi adalah proses penambahan zat sisa dan urea yang mulai
terjadi di tubulus kontortus distal. Dari tubulus-tububulus ginjal, urin akan
menuju rongga ginjal, selanjutnya menuju kantong kemih melalui saluran
ginjal. Jika kantong kemih telah penuh terisi urin, dinding kantong kemih
akan tertekan sehingga timbul rasa ingin buang air kecil. Urin akan keluar
melalui uretra. Komposisi urin yang dikeluarkan melalui uretra adalah air,
garam, urea dan sisa substansi lain, misalnya pigmen empedu yang berfungsi
memberi warna dan bau pada urin.

C. BJU Berdasarkan Aktifitas


Berat jenis urin yang dikeluarkan jika deilihat berdasarkan aktivitas
sangat bervariasi, dalam hal ini sangat dipengaruhi oleh banyak dan tidaknya
aktivits atau kegiatan yang dilakukan, semakin banyak kegiatan yang
dilakukan seseorang maka jumlah urin yang di keluarkan semakin sedikit,
dimana jumlah air yang disekresi untuk membentuk urin yang tersimpan
pada kapsulabowman, kembali terjadi reapsorpsi pada medula dimana akan
terjadi penyerapan kembali zat-zat yang masih diperlukan oleh tubuh berupa
air, garam, dan protein, dengan jumlah yang besar sesuai denga kebutuhan
tubuh yang dipengaruhi oleh aktivitas yang dilakukan dan selanjtnya akan
dikeluarkan melalui kulit melalui kelenjar minyak atau kelenjar keringat,
sehingga jumlah urin yang dikeluarkan sedikit.
Dan selain itu keringat diproduksi karena rangsang dari luar seperti
perubahan panas atau suhu. Hal ini dilakukan sebagai mekanisme tubuh
dalam mempertahankan kelembaban kulit. Selain itu produksi keringat juga
bisa disebabkan rangsangan dari dalam seperti emosi, rasa takut dan gugup.
Jadi produksi keringat ini bisa dipengaruhi faktor dari dalam atau faktor dari
luar berupa perubahan lingkungan. Pengeluaran keringat melalui kulit terjadi
sebagai efek peningkatan suhu yang melewati batas kritis, yaitu 37C.
pengeluaran keringat menyebabkan peningkatan pengeluaran panas melalui

evaporasi. Peningkatan suhu tubuh sebesar 1C akan menyebabkan


pengeluaran keringat yang cukup banyak, dengan demikian akan
mempengaruhi jumlah urin yang dikeluarkan.
Dan selain kedua faktor diatas jumlah pengeluaran urin juga sangat
dipengaruhi juga oleh banyak dan tidaknya mengkonsumsi air.
D. Diabetes Insipidus
a. Pengertian
Diabetes Insipidus adalah suatu kelainan dimana terdapat kekurangan
hormon antidiuretik yang menyebabkan rasa haus yang berlebihan
(polidipsi) dan pengeluaran sejumlah besar air kemih yang sangat encer
(poliuri).
b. Penyebap Diabetes Insipidus
Diabetes insipidus dapat disebabkan oleh beberapa hal antara lain
adalah sebagai berikut :
1. Hipotalamus mengalami kelainan fungsi dan menghasilkan terlalu
sedikit hormon antidiuretik
2. Kelenjar hipofisa gagal melepaskan hormon antidiuretik ke dalam
aliran darah
3. Kerusakan hipotalamus atau kelenjar hipofisa akibat pembedahan
4. Cedera otak (terutama patah tulang di dasar tengkorak)
5. Tumor
5. Sarkoidosis atau tuberkulosis
6. Aneurisma atau penyumbatan arteri yang menuju ke otak
7. Beberapa bentuk ensefalitis atau meningitis
8. Histiositosis X (penyakit Hand-Sch?ller-Christian).
c. Gejala
Diabetes insipidus dapat timbul secara perlahan maupun secara tibatiba pada segala usia. Seringkali satu-satunya gejala adalah rasa haus dan
pengeluaran air kemih yang berlebihan.
Sebagai kompensasi hilangnya cairan melalui air kemih, penderita bisa
minum sejumlah besar cairan (3,8-38 L/hari).
Jika kompensasi ini tidak terpenuhi, maka dengan segera akan terjadi
dehidrasi yang menyebabkan tekanan darah rendah dan syok.
Penderita terus berkemih dalam jumlah yang sangat banyak, terutama di
malam hari.

d. Pengobatan
Diabetes insipidus diobati dengan mengatasi penyebabnya.
Vasopresin atau desmopresin asetat (dimodifikasi dari hormon antidiuretik)
bisa diberikan sebagai obat semprot hidung beberapa kali sehari untuk
mempertahankan pengeluaran air kemih yang normal. Dan jika terlalu
banyak mengkonsumsi obat ini bisa menyebabkan penimbunan cairan,
pembengkakan dan gangguan lainnya.
Suntikan hormon antidiuretik diberikan kepada penderita yang akan
menjalani pembedahan atau penderita yang tidak sadarkan diri.
Kadang diabetes insipidus bisa dikendalikan oleh obat-obatan yang
merangsang pembentukan hormon antidiuretik, seperti klorpropamid,
karbamazepin, klofibrat dan berbagai diuretik (tiazid).
Tetapi obat-obat ini tidak mungkin meringankan gejala secara total pada
diabetes insipidus yang berat.

DAFTAR PUTAKA

Frandson R.D. 2003. Anatomy and Physiology of Farm Animals 6th ed.
Lippincott Williams & Wilkins: Philadelphia
Cunningham.J.G, 2002. Teksbook of Veterinary Physilogy. Philadelpia. WB
Saunders
Ganong. W.F., editor Widjajakusumah D.H.M., 2001., Buku Ajar Fisiologi
Kedokteran., edisi Bahasa Indonesia., Jakarta., EGC
Guyton.A.C, 1996.Teksbook of Medical Physiology, philadelpia. Elsevier
saunders.
Sherwood, Lauree. 2001. Fisiologi Manusia dari Sel ke Sistem. Jakarta :
Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Anonim.2008.Compotition in Urine. Diakses dari :
http://www.ivy-rose.co.uk/Topics/Urinary_System_Composition_Urine.htm.
Pada
Tanggal : 01 Juli 2009