Anda di halaman 1dari 38

UNIKA

DARMA CENDIKA

PERPAJAKAN
Margo Saptowinarko Prasetyo

VISI FAKULTAS
Menjadi

Fakultas yang peduli,


memiliki daya saing dan
beretika yang dilandasi cinta
kasih (dalam waktu 5 10
tahun ke depan).

Pajak Penghasilan Pasal 21

PENGERTIAN PPh PASAL 21/26


PAJAK PENGHASILAN
SEHUBUNGAN DENGAN
- PEKERJAAN
- JASA DAN KEGIATAN ,
YG DILAKUKAN WP ORANG PRIBADI
PENGHASILAN BERUPA :
- GAJI
- UPAH
- UANG PENSIUN
- HONORARIUM
- TUNJANGAN,
- KOMISI, FEE, UANG HADIR
- BONUS, THR
- HADIAH DAN PENGHARGAAN
- PEMBAYARAN LAIN DENGAN NAMA APAPUN

WP DN

WP LN

PPh PASAL 21

PPh PASAL 26

DASAR HUKUM
PEMOTONGAN PPh PASAL 21

UU
PP

PER
MENKEU

PER
DIRJEN

UU No.6 Tahun 1983 sttd UU UU No. 16 Tahun 2009 (KUP)


UU No.7 Tahun 1983 sttd UU No.36 Tahun 2008 (PPh)

-PP No.45 Tahun 1994 (PPh atas Penghsl PNS dkk)


-PP No. 8 Tahun 2007 (Peraturan Pelaks.UU KUP)
-PMK No. 181 Th 2007 (Bentuk dan Isi SPT)
-PMK No. 184 Th 2007 (Tgl jatuh tempo pembayaran,pelaporan)
-PMK No.186 Th 2007 (Dikecualikan dari pengenaan sanksi)
-PMK No.190 Th 2007 (Pengembalian pajak yg seharusnya tdk terutang)
-PMK No.252 Th 2008 (Petunjuk pemotongan PPh Pasal 21)
-PMK No.246 Th 2008 (Bea siwa dikecualikan dari Objek PPh)
-PMK No.250 Th 200 (Biaya jabatan dan Biaya Pensiun)
-PMK No.254 Th 2008 (PTKP untuk Pegawai Harian dan Mingguan)

-PERDIRJEN No.31/PJ/2009 (Pedoman Tatacara Pemot. PPh Ps.21)


-PERDIRJEN No.32/PJ/2009 (Form.SPT Masa & Bukti Pot PPh Ps.21)
-PERDIRJEN No.38/PJ/2009 (Formulir SSP)
Dit.P2Humas

MEKANISME POTONG/PUNGUT
PEMOTONG
(Witholder)

MEMBAYAR

YANG DIPOTONG
(Subjek Pajak)
Penerima Penghasilan

Pemberi Hasil

OBJEK PEMOTONGAN

BUKAN OBJEK

Psl 4 (1) & (2) UU PPh

Psl 4 (3) UU PPh

KEWAJIBAN PERPAJAKAN

POTONG/PUNGUT
SETOR
LAPOR

SSP
Bukti
Potong

SPT MASA

SUBJEK DAN OBJEK PPH 21


PEMOTONG
PPH 21

OBJEK PPH 21

SUBJEK PPH 21

PENGHASILAN (ACTIVE INCOME)

PEKERJAAN, JASA, KEGIATAN

PEMBERI
PENGHASILAN

ORANG
PRIBADI
DALAM
NEGERI

OP YG DIPOTONG PPH 21/26


ORANG PRIBADI
PEGAWAI
PENERIMA: UANG PESANGON, PENSIUN, JHT, THT
(Termasuk Ahli Warisnya)

BUKAN PEGAWAI

Yang Memperoleh Penghasilan Sehub. Dgn Pekerjaan, Jasa atau Kegiatan

PESERTA KEGIATAN (Perlombaan, Rapat, Kepanitiaan, Pendidikan, dll)


Yg Memperoleh Penghasilan Sehubungan dgn Keikutsertaan Dalam Kegiatan
PER-31/PJ/2009
PER-31/PJ/2009 Psl.
Psl. 3
3

BUKAN PEGAWAI YG MENERIMA PENGHASILAN


SEHUB. DG PEKERJAAN, JASA ATAU KEGIATAN :
1. Tenaga Ahli : Pengacara, Akuntan, Arsitek, Dokter, Konsultan, Notaris, Penilai, &
Aktuaris
2. Pemain musik, pembawa acara, penyanyi, pelawak, bintang film, sutradara, kru
film, foto model, peragawan /peragawati, pemain drama, penari, pemahat,
pelukis, dan seniman lainnya.
3. Olahragawan
4. Penasihat, pengajar, pelatih, penceramah, penyuluh, moderator
5. Pengarang, peneliti, dan penerjemah
6. Pemberi jasa dlm segala bidang termasuk teknik komputer dan sistem
aplikasinya, telekomunikasi, elektronika, fotografi, ekonomi dan sosial serta
pemberi ajsa kepada suatu kepanitiaan
7. Agen iklan
8. Pengawas atau pengelola proyek
9. Pembawa pesanan atau yang menemukan langganan atau yg menjadi perantara
10. Petugas penjaja barang dagangan
11. Petugas dinas luar asuransi
12. Distributor perusahaan MLM atau direct selling dan kegiatan sejenis lainnya
PER-31/PJ/2009
PER-31/PJ/2009 Psl.
Psl. 3c
3c

PESERTA KEGIATAN:
1. peserta perlombaan dalam segala bidang, antara lain
perlombaan olahraga, seni, ketangkasan, ilmu
pengetahuan, teknologi dan perlombaan lainnya;
2. peserta rapat, konferensi, sidang, pertemuan, atau
kunjungan kerja;
3. peserta atau anggota dalam suatu kepanitiaan sebagai
penyelenggara kegiatan tertentu;
4. peserta pendidikan, pelatihan, dan magang;
5. peserta kegiatan lainnya

PER-31/PJ/2009
PER-31/PJ/2009 Psl.
Psl. 3d
3d

BUKAN PEMOTONG PPh 21

Kantor Perwakilan Negara Asing


Organisasi Internasional Yang Ditetapkan MenKeu
Pemberi Kerja OP yang:
- Tidak Melakukan Keg. Usaha /Pekerjaan Bebas
- Semata-mata mempekerjakan OP lain utk
melakukan pekerjaan RT atau bukan dalam
rangka kegiatan usaha atau pekerjaan bebas
PER-31/PJ/2009
PER-31/PJ/2009 Psl.2
Psl.2

BUKAN OBJEK PPh PSL. 21/26

Pembayaran Asuransi dari Perusahaan Asuransi utk


Asuransi : Kesehatan, Kecelakaan, Jiwa, Dwiguna & Bea Siswa
Natura / Kenikmatan Yang Diberikan Oleh WP atau Pemerintah
- Iuran Pensiun Kpd DANA PENSIUN Yg Tlh Disahkan MenKeu
- Iuran THT/JHT Kpd Bdn Penyelenggara THT atau BPJS
YANG DIBAYAR PEMBERI KERJA.
- Zakat yg Diterima Mustahiq dari BAZ/LAZ
- Sumbangan yg Diterima yg Berhak dari Lembaga Keagamaan
YANG DIBENTUK/DISAHKAN PEMERINTAH
Bea Siswa yg Diperoleh Dari WP Utk Pendidikan di Dalam
Negeri (Pendidikan Dasar, Menengah, Tinggi)

BIAYA JABATAN/PENSIUN
Biaya

Yg Sifatnya Fiktif
Cerminan Biaya 3M
Sesuai Dg Masa Kerja dan Melekat Pada
Pemberi Kerja
Untuk Pegawai Tetap/Penerima Pensiun Tanpa
Memandang Mempunyai Jabatan atau Tidak

5% x
Penghasilan
Bruto

Maksimal Sebesar

KETERANGAN

Sebelum Th 2009

Mulai Th 2009

Biaya Jabatan

Rp 108.000 /bln; atau


Rp 1.296.000 /tahun

Rp 500.000 /bln; atau


Rp 6.000.000 /tahun

Biaya Pensiun

Rp
Rp

Rp 200.000 /bln; atau


Rp 2.400.000 /tahun

36.000 /bln; atau


432.000 /tahun

IURAN PENSIUN/JHT/THT
IURAN PENSIUN/JHT/THT YANG DIBAYAR OLEH
PEGAWAI TETAP BISA DIKURANGKAN DALAM
PENGHITUNGAN PPh PASAL 21 PEGAWAI YANG
BERSANGKUTAN

PTKP

SIFAT FIKTIF
CERMINAN COST OF LIVING (BIAYA HIDUP)
MELIHAT KEADAAN AWAL TAHUN PAJAK
DALAM HAL KARYAWATI KAWIN, PTKP YG
DIKURANGKAN ADALAH HANYA UNTUK
DIRINYA SENDIRI YAITU SEBESAR RP
15.840.000

2. Iuran Pensiun dan THT


Iuran

Pensiun dan THT


- Yang dibayar pegawai
- Yayasan dana pensiun yang
di setujui menteri keuangan
- Jumlahnya tidak dibatasi

PPh Pasal 21

15

PENGHASILAN TIDAK KENA PAJAK


s/d 2008

Mulai 2009

Keterangan

Rp
13.200.000,-

Rp
15.840.000,-

untuk WPOP yang bersangkutan.

Rp 1.200.000,-

Rp 1.320.000,-

Tambahan utk WP kawin

Rp
13.200.000,-

Rp
15.840.000,-

tambahan untuk seorang istri


yang penghasilannya digabung
dengan penghasilan suami.

Rp
1.200.000,-

Rp
1.320.000,-

tambahan untuk setiap anggota


keluarga sedarah dan keluarga
semenda dalam garis keturunan
lurus, serta anak angkat yang
menjadi tanggungan sepenuhnya,
paling banyak 3 orang untuk
setiap keluarga.

PENGHASILAN TIDAK KENA PAJAK

PPh Pasal 21

17

TARIF PASAL
17

Mulai Th
2009

Lapisan Penghasilan Kena Pajak


Tarif PPh
Sampai dengan Rp 50.000.000,5%
>
Rp
50.000.000,s.d.
Rp
15%
250.000.000,>
Rp
250.000.000,s.d.
Rp
25%
500.000.000,> Rp 500.000.000,30%
Lapisan Penghasilan Kena Pajak

s/d Th
2008

Sampai dengan Rp 25.000.000,-

Tarif PPh
5%

> Rp 25.000.000,- s.d. Rp 50.000.000,-

10%

> Rp 50.000.000,- s.d. Rp 100.000.000,-

15%

> Rp 100.000.000,- s.d. Rp 200.000.000,-

25%

> Rp 200.000.000,-

35%

Tarif Pasal 17 dikanakan atas :


Penghasilan

1.
2.
3.
4.
5.

Kena Pajak (PKP) dari :


Pegawai tetap
Penerima pensiun berkala
Pegawai tidak tetap
Pemagang, calon pegawai
Kegiatan Multilevel marketing

PPh Pasal 21

19

Tarif Pasal 17 dikenakan atas :

Penghasilan Bruto dari :

1. Honorarium, Bea siswa, uang saku,


hadiah penghargaan, komisi, dll.
2. Honorarium anggota dewan
komisaris/ pengawas tidak
merangkap peg. Tetap
3. Jasa produksi, tantiem, bonus yang
diterima mantan pegawai
4. Penarikan dana pensiun iuran pasti
5. Pembayaran lain : pemain musik,
olahragawan dll
PPh Pasal 21

20

Tarif 15% dikenakan atas Tenaga Ahli


Dengan Norma Perhitungan 50%

Penghasilan bruto yang dibayarkan kpd


:
- Pengacara
- Akuntan
- Arsitek
- Dokter
- Konsultan, notaris
- Penilai, aktuaris
PPh Pasal 21

21

Tarif 5 % dikenakan atas


Upah

harian
Upah mingguan
Upah satuan
Upah borongan
Jika upah yg diterima sehari diatas
Rp 24.000 sehari dan tidak lebih dari
Rp 240.000 sebulan dan tidak
dibayarkan secara bulanan
PPh Pasal 21

22

Menghitung PKP ( WNI )


1. Bekerja sejak awal tahun ( Jan - Des
)
Penghasilan bruto /bulan
Rp XXX
Biaya-biaya yg diperkenankan Rp XXX
Penghasilan Neto
Rp XXX x 12
PTKP
Rp XXX PKP
Rp XXX
PPh Pasal 21

23

Menghitung PKP ( WNI )


2. Bekerja pada tahun berjalan ( Sep - Des )
Penghasilan bruto /bulan Rp XXX
Biaya-biaya yg diperkenankan Rp XXX Penghasilan Neto Rp XXX x 4
PTKP Rp XXX PKP Rp XXX
Menghitung penghasilan neto tidak perlu
disetahunkan

PPh Pasal 21

24

Menghitung PKP ( WNI )


3. Berhenti bekerja karena Pensiun
Perhitungan sama dengan poin 2

PPh Pasal 21

25

Menghitung PKP ( WNI )


4. Berhenti karena meninggal
sebelum tahun pajak berakhir
( misal meninggal Agustus )
Penghasilan bruto /bulan
Rp XXX
Biaya-biaya yg diperkenankan Rp XXX
Penghasilan Neto
Rp XXX x 12
PTKP
Rp XXX PKP
Rp XXX
PPh Pasal 21

26

Menghitung PKP ( WNA ) tinggal


lebih dari 183 hari di Indonesia
1. Bekerja Sejak awal tahun ( Jan Des )
Penghasilan bruto /bulan
Rp XXX
Biaya-biaya yg diperkenankan Rp XXX
Penghasilan Neto
Rp XXX x 12
PTKP
Rp XXX PKP
Rp XXX
PPh Pasal 21

27

Menghitung PKP ( WNA ) tinggal


lebih dari 183 hari di Indonesia
2. Bekerja tidak setahun penuh ( SepDes )
Penghasilan bruto /bulan
Rp XXX
Biaya-biaya yg diperkenankan Rp XXX
Penghasilan Neto
Rp XXX x 12
PTKP
Rp XXX PKP
Rp XXX
PPh Pasal 21

28

Menghitung PKP ( WNA ) tinggal


lebih dari 183 hari di Indonesia
3. Berhenti bekerja karena
meninggalkan Indonesia
Penghasilan bruto /bulan
Rp XXX
Biaya-biaya yg diperkenankan Rp XXX
Penghasilan Neto
Rp XXX x 12
PTKP
Rp XXX PKP
Rp XXX
PPh Pasal 21

29

Menghitung PPh Pasal 21


( WNA )
Untuk WNA yang tinggal kurang
dari 183 hari diperkenanakan PPh
Pasal 26, tarif 20% dari penghasilan
bruto

PPh Pasal 21

30

Tambahan PTKP Untuk Anggota Keluarga


Sedarah dan Semenda yang menjadi
tanggungan
Wajib

Pajak yang mempunyai anggota keluarga sedarah dan semenda dalam garis
keturunan lurus serta anak angkat yang menjadi tanggungan sepenuhnya diberikan
tambahan Penghasilan Tidak Kena Pajak untuk paling banyak 3 (tiga) orang. Yang
dimaksud dengan anggota keluarga yang menjadi tanggungan sepenuhnya adalah
anggota keluarga yang tidak mempunyai penghasilan dan seluruh biaya hidupnya
ditanggung oleh Wajib Pajak.
Menurut Kitab Undang-undang Hukum Perdata Pengertian kekeluargaan sedarah adalah
pertalian kekeluargaan antara orang-orang dimana yang seorang adalah keturunan dari
yang lain, atau antara orang-orang yang mempunyai bapak asal yang sama. Hubungan
kekeluargaan sedarah dihitung dengan jumlah kelahiran. Setiap kelahiran disebut derajat.
Urutan derajat yang satu dengan derajat yang lain disebut garis. Garis lurus adalah
urutan derajat antara orang-orang dimana yang satu merupakan keturunan dari yang
lain.
Dalam Garis lurus, dibedakan garis lurus kebawah dan garis lurus keatas. Garis lurus
kebawah merupakan hubungan antara bapak-asal dan keturunannya; sedangkan garis
lurus keatas adalah hubungan antara seseorang dan mereka yang menurunkannya.
Sedangkan Kekeluargaan semenda adalah suatu pertalian kekeluargaan karena
perkawinan, yaitu pertalian antara salah seorang dari suami-istri dan kelurga sedarah dari
pihak lain. Derajat kekeluargaan semenda dihitung dengan cara yang sama seperti cara
menghitung derajat kekeluargaan sedarah.

PPh Pasal 21

31

1.

Skema hubungan keluarga sedarah


dan keluarga semenda dapat
digambarkan sebagai berikut :

Hubungan Sedarah :
a. Lurus satu derajat : Ayah, Ibu, Anak kandung
b. Kesamping satu derajat : Saudara Kandung (kakak, Adik kandung)
2. Hubungan Semenda :
a. Lurus satu derajat : Mertua, Anak Tiri
b. Kesamping satu derajat : Saudara Ipar (Adik Ipar, kakak Ipar)
Berdasarkan skema tersebut, yang termasuk dalam pengertian keluarga
sedarah dalam garis keturunan lurus yaitu : ayah, ibu dan anak kandung.
Sedangkan yang termasuk dalam pengertian keluarga semenda dalam garis
keturunan lurus yaitu: ayah mertua, ibu mertua dan anak tiri.
Anggota keluarga sedarah dan semenda berikut ini tidak dapat diperhitungkan
sebagai tanggungan untuk penghitungan tambahan PTKP.
Saudara kandung, karena termasuk dalam pengertian keluarga sedarah
kesamping satu derajat;
Saudara ipar, karena termasuk dalam pengertian keluarga semenda
kesamping satu derajat;
Saudara dari bapak/ibu, karena tidak termasuk dalam pengertian keluarga
sedarah dan keluarga semenda dalam garis keturunan lurus
PPh Pasal 21

32

Anak yang telah memiliki


penghasilan sendiri
Dalam

menghitung penghasilan kena pajak, penghasilan anak yang


belum dewasa, digabung dengan penghasilan orang tuanya. Dengan
demikian, meskipun anak tersebut telah memiliki penghasilan sendiri
dalam menghitung PTKP tetap diperhitungkan sebagai tanggungan
wajib pajak (orang tuanya). Pengertian belum dewasa menurut Kitab
Undang-Undang Hukum Perdata adalah mereka yang belum mencapai
umur genap dua puluh satu tahun dan tidak kawin sebelumnya.
Sedangkan menurut Undang-undang pajak adalah anak yang belum
berumur 18 (delapan belas) tahun dan belum pernah menikah.
Penghasilan yang diperoleh atau diterima anak yang telah dewasa
(telah berumur 18 tahun atau lebih) akan dikenakan pajak tersendiri.
Anak yang telah berumur 18 tahun atau lebih dan telah memperoleh
penghasilan sendiri, tidak lagi diperhitungkan sebagai tanggungan
dalam menghitung besarnya PTKP.
Sebaliknya apabila wajib pajak mempunyai anak yang telah berumur 18
tahun atau lebih, tetapi masih menjadi tanggungan sepenuhnya wajib
pajak (dan belum menikah), anak tersebut masih diperhitungkan
sebagai tanggungan Wajib Pajak dalam menghitung besarnya PTKP.
PPh Pasal 21

33

Tambahan PTKP Untuk Anak


Angkat
Selain

untuk anggota keluarga sedarah dan semenda dalam garis keturunan lurus satu
derajat, tambahan PTKP juga diberikan untuk wajib pajak yang memiliki tanggungan anak
angkat. Namun demikian jumlah tanggungan yang diperhitungkan dalam PTKP dibatasi
maksimum 3 orang.
Pengertian anak angkat dalam penghitungan PTKP bukanlah pengertian anak angkat
sebagaimana dalam masyarakat sehari-hari yaitu seorang anak yang diaku dan diangkat
sebagai anak. Dan juga bukanlah pengertian anak angkat sebagaimana dimaksud dalam
hukum perdata yang harus terlebih dahulu ada pengesahan dari Hakim Pengadilan Negeri.
Akan tetapi, Pengertian anak angkat yang dapat diperhitungkan dalam perundangundangan pajak ditentukan dengan kriteria sebagai berikut :
a. seseorang yang belum dewasa;
b. yang tidak tergolong keluarga sedarah atau semenda dalam garis lurus dari Wajib Pajak;
c. dan menjadi tanggungan sepenuhnya dari Wajib Pajak.
Pengertian menjadi tanggungan sepenuhnya menurut Undang-undang Pajak Penghasilan
berdasarkan keadaan yang dapat terlihat dari keadaan yang nyata yaitu :
tinggal bersama-sama dengan Wajib Pajak;
nampak secara nyata tidak mempunyai penghasilan sendiri;
tidak pula turut dibantu oleh lain-lain anggota keluarga atau oleh orang tuanya sendiri.
Sedangkan kalau Wajib Pajak sekedar menyumbang, membantu, bertanggung jawab dan
sebagainya, maka tidak termasuk dalam menjadi tanggungan sepenuhnya.

PPh Pasal 21

34

PTKP Untuk Karyawati Kawin dan


Wajib Pajak yang Belum Menikah.
Dalam

hal karyawati kawin, PTKP yang dapat dikurangkan


adalah hanya untuk dirinya sendiri. Namun demikian, bagi
karyawati kawin yang menunjukkan keterangan tertulis
dari Pemerintah Daerah setempat (serendah-rendahnya
kecamatan) bahwa suaminya tidak menerima atau
memperoleh penghasilan, selain PTKP untuk dirinya sendiri
diberikan tambahan PTKP sebesar Rp. 1.200.000,00
setahun atau Rp. 100.000,00 sebulan dan ditambah PTKP
untuk keluarganya yang menjadi tanggungan sepenuhnya.
Bagi karyawan atau karyawati yang belum berkeluarga
(TK) untuk pengurangan PTKP disamping untuk diri
karyawan atau karyawati dapat pula memperoleh
tambahan pengurangan PTKP untuk anggota keluarga
sedarah dan semenda, termasuk anak angkat yang
menjadi tanggungan sepenuhnya maksimal 3 orang.
PPh Pasal 21

35

Berdasarkan

uraian tersebut diatas, dapat diimpulkan bahwa


tanggungan yang dapat diperhitungkan dalam menghitung PTKP Wajib
Pajak Orang Pribadi harus memenuhi syarat sebagai berikut :
1. Merupakan anggota keluarga sedarah atau keluarga semenda dalam
garis keturunan lurus satu derajat (baik keatas maupun kebawah).
2. Anggota keluarga tersebut tidak memperoleh penghasilan dan
menjadi tanggungan sepenuhnya wajib pajak.
3. Anak yang belum dewasa, berumur kurang dari 18 tahun dan belum
pernah menikah, meskipun telah memiliki penghasilan sendiri.
4. Untuk anak angkat (Selain anggota keluarga sedarah dan semenda
dalam garis lurus) yang dapat diperhitungkan dalam PTKP adalah anak
angkat yang belum dewasa (kurang dari 18 tahun) dan menjadi
tanggungan sepenuhnya wajib pajak.
PTKP dihitung berdasarkan keadaan pada awal tahun. Semua
perubahan jumlah tanggungan wajib pajak (baik penambahan maupun
pengurangan) yang terjadi selama tahun berjalan diperhitungkan pada
tahun pajak berikutnya.

PPh Pasal 21

36

Minggu Depan
Membawa

Kalkulator

PPh Pasal 21

37

TRIMAKASIH