Anda di halaman 1dari 20

1TEORI DASAR BETON BERTULANG

Kelebihan & Kekurangan Beton


Secara

umum

material

beton

mempunyai

lebih

banyak

kelebihannya

dibandingkan dari kekurangannya.


Dibandingkan dengan material struktur lainnya, kayu dan baja, beton mempunyai
kelebihan sebagai berikut :
1. Lebih murah.
2. Mudah dibentuk (memudahkan arsitek untuk berkreasi).
3. Tahan terhadap api yang tinggi.
4. Mempunyai kekakuan yang tinggi.
5. Biaya perawatan yang rendah.
6. Bahan bakunya mudah didapat.
Namun tidak dapat dipungkiri bahwa beton juga mempunyai kekurangan, yakni :

Kekuatan tariknya rendah.


Membutuhkan bekisting dan penumpu sementara selama konstruksi.
Rasio kekuatan terhadap berat yang rendah.
Stabilitas volumenya relatif rendah.

Sifat Material Beton


Beton merupakan material yang terbuat dari pasta semen dan agregat. Bahan
dasar beton ini mempunyai sifat hubungan tegangan dan regangan yang linier dan
getas dalam menahan gaya tekan. Material yang getas, kuat menerima tekan namun
lemah dalam menerima tarik. Walaupun bahan dasar beton (pasta semen dan agregat)
mempunyai sifat elastik linier serta getas, namun hasil uji coba tekan beton
menunjukkan kurva hubungan tegangan dengan regangan beton tidak linier dan
sepertinya mempunyai sifat yang daktail. Hal ini disebabkan oleh adanya retak-retak
kecil yang terbentuk antara bidang agregat dan pasta semen, retak kecil ini disebut
retak lekatan (bond cracks). Retak kecil ini pada umumnya disebabkan oleh
phenomena susut pada saat pembentukan beton. Jika beton dikenai beban uniaksial
tekan maka.

1. Sebelum beton diberi beban sampai dengan 30 40 % nilai tekan maksimumnya


(fc atau kekuatan batasnya), kurva hubungan tegangan dengan regangannya masih
linier.
2. Setelah beton dibebani melebihi 30 40 % fc , retak-retak lekatan mulai terbentuk,
kurva hubungan tegangan-regangan mulai tidak linier.
3. Pada saat tegangan mencapai 75 90 % fc , retak-retak lekatan tersebut merambat
ke mortar sehingga terbentuk pola retak yang menerus. Pada kondisi ini kurva
hubungan tegangan-regangan beton semakin tidak linier.

Gambar 4 : Kurva Hubungan Tegangan-Regangan Beton (pada Uji Tekan)


Sifat Material Baja

Gambar 5 : Kurva Hubungan Tegangan-Regangan Baja

Prinsip Dasar Beton Bertulang

Karena beton merupakan material yang kuat menahan tekan, namun lemah
dalam menahan tarik, maka beton akan mengalami retak jika beban yang dipikulnya
menimbulkan tegangan tarik yang melebihi kekuatan tariknya. Kemudian timbul ide
untuk mengkombinasikan material beton ini dengan material baja yang mempunyai
kelebihan yang kuat menahan tarik. Dengan menanamkan material baja seperlunya
pada beton diperoleh material beton bertulang dengan baja sebagai andalan
pemikul tarik dan beton sebagai andalan pemikul tekan.
Elemen-elemen Struktur Beton Bertulang
Untuk gedung, pada umumnya struktur atas beton bertulang terdiri dari 3 macam
elemen utama :
Pelat, merupakan elemen struktur beton bertulang yang langsung memikul
beban lantai.
Balok, dapat terdiri dari balok anak (joist) dan balok induk (beam), atau hanya
balok induk saja. Balok berfungsi sebagai pemikul pelat dan beban yang berada
diatasnya.
Kolom, merupakan elemen struktur yang berfungsi sebagai pemikul balok serta
beban lateral pada struktur.
Konsep Perencanaan
Struktur yang didisain pada dasarnya harus memenuhi kriteria-kriteria berikut :
1. Bentuknya pantas/cocok. Dari segi perencaan tata ruang, bentangan, tinggi plafon,
akses dan arus lalu lintas. Struktur harus seimbang dengan yang dibutuhkan.
2. Ekonomis.
3. Kuat, dalam menahan beban yang akan dipikulnya (beban yang direncanakan).
4. Mudah perawatannya.
Peraturan-Peraturan Terkait Disain Struktur Beton Bertulang
Perencanaan dan pelaksanaan konstruksi diatur oleh pemerintah dalam bentuk
standar. untuk bangunan di Indonesia berlaku Standar Nasional Indonesia (SNI).
Tujuan dari standar ini adalah :
Untuk menjamin keseragaman, keamanan di bidang teknik dan keselamatan
umum.

Mengakomodasi teknologi mutakhir. Sehingga dalam selang waktu tertentu


setiap standar perlu diperbaharui, sesuai dengan perkembangan IPTEK terkait
berdasarkan penelitianpenelitian para ahli.
Menjadi tempat rujukan.
Menjadi sarana untuk mencapai efisiensi dan efektifitas suatu kegiatan.
SNI terbaru yang mengatur perencanaan struktur beton bertulang adalah SNI 03-2847
2002, Tata Cara Perhitungan Struktur Beton Bertulang untuk Bangunan Gedung, yang
diterbitkan oleh Departemen Kimmpraswil Indonesia.
Metoda Perencanaan Beton Bertulang
Menurut SNI 03-2847-2002 pasal 10 ayat 1, perencanaan elemen struktur beton
bertulang dapat dilakukan dengan salah satu dari dua metoda berikut,
1. Metoda Beban Kerja.
Dengan metoda Beban Kerja, elemen struktur beton bertulang direncanakan
kuat memikul beban-beban yang bekerja pada elemen tersebut, dimana pengertian
kuat disini ditandai dengan lebih kecil atau sama dengannya tegangan yang terjadi
pada elemen akibat beban kerja tersebut dibandingkan dengan tegangan yang
diizinkan, dimana tegangan izin adalah tegangan batas/ultimit material yang sudah
dibagi dengan suatu faktor keamanan.
2. Metoda Kekuatan Batas/Ultimit.
Dengan menggunakan metoda Kekuatan Batas, elemen struktur direncanakan
harus kuat memikul beban terfaktor. Beban terfaktor adalah kombinasi beban-beban
yang bekerja, dimana masing-masing beban sudah dikalikan dengan suatu factor
(keamanan) tertentu. Tegangan-tegangan yang terjadi pada elemen tidak boleh
melebihi tegangan batas/ultimit dari material. Atau secara umum dapat dikatakan,
bahwa Kuat perlu _ Kuat rencana Metoda yang pertama (metoda Tegangan Kerja)
merupakan metoda lama dalam merencanakan elemen struktur beton bertulang.
SNI 03-2847-2002 lebih menyarankan untuk menggunakan metoda kedua
(metoda Kekuatan Batas), karena lebih realistis.
Perencanaan batas
Ada beberapa kondisi yang dapat dijadikan batasan pada perencanaan elemen beton
bertulang.

1. Kondisi Batas Ultimit, yang dapat disebabkan oleh :

Hilangnya keseimbangan lokal atau global.


Rupture : hilangnya ketahanan lentur dan geser elemen-elemen struktur.
Keruntuhan progressive akibat adanya keruntuhan local pada daerah sekitarnya.
Pembentukan sendi plastis.
Ketidakstabilan str uktur.
Fatique.

2. Kondisi Batas Kemampuan Layan, yakni menyangkut berkurangnya fungsi struktur,


anntara lain.
Defleksi yang berlebihan pada kondisi layan.
Lebar retak yang berlebih.
Vibrasi yang mengganggu.
3. Kondisi Batas Khusus, yaitu menyangkut kerusakan/keruntuhan akibat beban
abnormal, antara lain:
Keruntuhan pada kondisi gempa ekstrim.
Kebakaran, ledakan atau tabrakan kendaraan.
Korosi atau jenis keruntuhan lainnya akibat lingkungan. Perencanaan yang
memperhatikan kondisi-kondisi batas di atas disebut perencanaan batas. Konsep
perencanaan batas ini digunakan sebagai prinsip dasar peraturan beton
Indonesia (SNI 03-2847-2002).

Daftar Notasi dan Simbol


Tulangan : baja yang tertanam pada beton (dicor bersamaan dengan beton).

As : total luas tulangan tarik pada bagian penampang yang tertarik, mm


As : total luas tulangan tekan pada bagian penampang yang tertekan, mm .
b : lebar bagian penampang yang tertekan, mm.
bw : lebar bagian badan penampang, mm.
d : Jarak dari ujung serat penampang yang tertekan ke pusat kumpulan tulangan
tarik, mm.
dt : Jarak dari ujung serat penampang yang tertekan ke lapisan tulangan tarik
terjauh, mm.
f c : Tegangan tekan beton pada umur 28 hari (mutu beton yang

digunakan),
Mpa. (1 Mpa = 1 N/mm2 = 10 kg/cm2).
fs : tegangan pada tulangan tarik, Mpa.
fy : tegangan leleh baja (mutu baja yang digunakan), Mpa.
h : tinggi total penampang.
jd : lengan momen gaya tahanan dalam penampang, yaitu jarak antara

resultan gaya tekan dan resultan gaya tarik.


cu : asumsi regangan terbesar dari bagian penampang yang tertekan
pada saat pas akan runtuh.
s : regangan pada pusat tulangan tarik.
t : regangan pada tulangan tarik terjauh.
A
p : rasio tulangan tarik : S

Teori Lentur Beton Bertulang


Teori lentur pada Beton Bertulang didasari pada asumsi-asumsi berikut
(berdasarkan SNI Beton) :

1. Bidang penampang yang tadinya tegak lurus terhadap sumbu lentur


elemen, akan tetap tegak lurus setelah mengalami lentur akibat
beban.
2. Regangan pada tulangan sama dengan regangan beton pada serat yang
sama (Tidak terjadi slip antara beton dan tulangan).
3. Tegangan pada beton atau baja dapat dihitung dari kurva hubungan
Tegangan-Regangan untuk beton atau baja.
4. Untuk perhitungan kekuatan lentur penampang, kekuatan tarik beton
diabaikan.
5. Beton diasumsikan runtuh pada saat regangan tekannya mencapai
regangan batas tekan, dapat diambil = 0.003.
6.

Hubungan

tegangan-regangan

beton

dapat

diasumsikan

persegi,

trapesium atau parabola atau lainnya, sepanjang cocok dengan hasil


pengujian yang dapat dipertanggung jawabkan.
Blok Tegangan Beton Selain menggunakan persamaan Hognestad, bentuk
diagram

tegangan pada gambar (d) berikut

Cukup mewakili diagram tegangan-regangan beton sesungguhnya


pada kondisi ultimit, dan lebih mudah untuk diterapkan pada perhitungan
kekuatan penampang b eton, dimana :
k3 = rasio tegangan maksimum fc pada bagian penampang tertekan
terhadap tegangan tekan silinder fc , nilai k3= 0.85
k1 = rasio tegangan tekan rata-rata terhadap tegangan maksimum,
(rasio bagian blok yang dihitamkan terhadap luas segi empat ck3 fc ) .
k2 = rasio jarak antara serat tekan ekstrim (terjauh dari garis netral)
ke resultan gaya tekan C terhadap tinggi daerah tekan.
Selanjutnya SNI Beton pasal 12.2.7 mengizinkan penggunaan diagram
tekan ya

ng lebih sederhana lagi, yakni diagram tekan persegi ekivalen

seperti gambar berikut,

Blok tegangan ekivalen tersebut didefinisikan sbb :


1. Suatu tegangan tekan merata sebesar 1f c (1 = 0,85) diasumsikan
bekerja disepanjang zona tekan setinggi a = 1c mulai dari serat tekan
terluar (ekstrim).
2. Jarak c dari posisi serat tekan terluar ke sumbu netral penampang diukur
tegak lurus terhadap sumbu netral tersebut.
3. Nilai 1 diambil sebagai berikut ,
Untuk fc 30 Mpa ) 1 = 0, 85
Untuk 30Mpa < fc < 58Mpa ) 1 = 0, 85 0,05/7 (fc 30)
Untuk fc 58 Mpa ) 1 = 0, 65

SNI Beton 2002 ps. 12.2.7.3


Faktor 1 harus diambil sebesar 0,85 untuk beton dengan nilai kuat
tekan fc lebih kecil daripada atau sama dengan 30 Mpa. Untuk beton
dengan nilai kuat tekan lebih dari 30 Mpa, 1 harus direduksi sebesar 0,05
untuk setiap kelebihan 7 Mpa di atas 30 Mpa, tetapi 1 tidak boleh diabil
kurang dari 0,65.
Berdasarkan distribusi tegangan ekivalen tersebut, maka resultan
kekuatan tekan beton adalah :
C = 1 fc ab = 0.85 fc ab.
Blok Diagram Tegangan secara 3 Dimensi

Analisis versus Disain


Ada 2 macam perhitungan yang perlu dilakukan dalam mempelajari
permasalahan beton bertulang :
1. Analisis.
Pada perhitungan analisis, suatu penampang dengan data-data yang
sudah diketahui, antara lain:
ukuran penampang : lebar, tinggi.
data tulangan : diameter dan jumlah tulangan.

mutu beton.
mutu baja.
Ingin dicari kapasitas/kemampuan/kekuatan penampang menerima
beban.

Kekuatan

ini

selanjutnya

disebut

sebagai

kekuatan

nominal

penampang. Kekuatan nominal penampang yang menerima beban lentur


balok adalah momen nominal (Mn).
2. Disain.
Pada perhitugan ini, dengan data-data gaya-gaya yang bekerja pada
penampang akibat beban (beban yang sudah dikalikan faktor keamanan),
setelah ditetapkan kekuatan/mutu beton dan baja yang akan digunakan,
dicari ukuran penampang yang
cocok serta tulangan yang diperlukan agar struktur dijamin dapat menahan
beban-beban tersebut.
Kompatibilitas Tegangan dengan Regangan dan Keseimbangan
Ada 2 hal yang harus dipenuhi dalam analisis maupun disain elemen
beton bertulang :
1. Kompatibilitas Tegangan dengan Regangan. Tegangan pada setiap
tempat pada elemen harus berhubungan dengan regangannya (sesuai
dengan diagram tegangan-regangannya, baik beton maupun baja).
Untuk baja misalnya, jika baja

belum mencapai tegangan lelehnya,

berlaku hubungan :
fs = Es s , dimana Es = modulus elastisitas baja.
2. Keseimbangan.
Gaya-gaya dalam yang bekerja pada penampang harus seimbang,
yang terdiri dari :
Keseimbangan gaya.
Keseimbangan momen.
Prosedur Umum untuk Perhitungan Momen Nominal Balok Tulangan
Tunggal (Kasus 1)

Ada 4 langkah yang diperlukan dalam menghitung kapasitas momen


nominal suatu penampang balok dengan tulangan tunggal (hanya ada
tulangan tarik),
1. Asumsikan bahwa tulangan tarik balok sudah leleh sebelum beton
hancur, atau fs = fy
sehingga T = As fy
2. Dari keseimbangan gaya C = T, maka tinggi blok tegangan ekivalen a
dapat dihitung.
a =As fy/0.85 fc b.(1)
Jika _ = persentase tulangan tarik baja = As/bd maka persamaan (1)
menjadi
a = pfyd/0.85 fc(2)
3. Cek asumsi langkah pertama, dengan menghitung regangan tulangan
tarik yang terjadi dari diagram regangan berdasarkan nilai a yang
diperoleh pada langkah kedua.
4. Kapasitas Momen nominal penampang dapat dihitung dari persamaan
kesimbangan momen,
Mn = T x jd = As fy (d a/2) (3)
Atau Mn = C x jd
Mn = 0.85 fc ab (d a/2)(4)
Jika tulangan tarik betul sudah leleh, dengan mensubstitusi nilai a pada
pers. (2) ke pers. (3), maka kapasitas momen nominal penampang dapat
juga ditulis sbb,
Mn = As fyd ( 1 p.fy/1,7.fc)(5)
Jenis Keruntuhan Lentur
Dengan data-data penampang, mutu beton dan tulangan yang
digunakan, ada 3 kemungkinan jenis keruntuhan yang mungkin terjadi.
a. Keruntuhan Tarik

Pada kasus ini tulangan mencapai tegangan lelehnya (fy ) terlebih


dahulu, setelah itu baru beton mencapai regangan batasnya ( cu ), dan
selanjutnya struktur runtuh. Pada kasus ini terlihat ada tanda-tanda berupa
defleksi yang besar sebelum terjadi keruntuhan.

b. Keruntuhan Tekan
Keruntuhan type ini terjadi akibat tulangan terlalu banyak, sehingga
beton yang tertekan hancur terlebih dahulu (beton mencapai kekuatan
batasnya terlebih dahulu). Keruntuhan ini terjadi secara tiba-tiba (brittle
failure).

c. Keruntuhan Seimbang
Pada type keruntuhan ini, saat terjadi keruntuhan ( beton mencapai
regangan batasnya, cu ), tulangan juga pas mencapai tegangan lelehnya
(fy ) . Keruntuhan ini terjadi secara tiba-tiba.

Jenis keruntuhan yang akan terjadi pada suatu penampang dengan


karakteristik
(ukuran penampang, tulangan, mutu beton dan mutu baja) tertentu dapat
diketahui dengan membandingkan rasio a/d penampang tersebut dengan
ab/d pada kondisi keruntuhan seimbang.

Dari perbandingan segitiga pada diagram regangan untuk kodisi keruntuhan


seimbang pada gambar di atas diperoleh,
cb
cu
=
=
d cu+ y

cu
0,003
=
fy
fy
cu+
0,003+
Es
20000

cb
600
=
( fy dalam Mpa)
d 600+fy

Sedangkan:

ab=cb atau cb=


ab
600
= 1
d
600+ fy

ab
sehingga
1

Jika

( ad )<( abd ) keruntuhan tarik fs=fy

Jika

( ad )>( abd ) keruntuhan tekan fs< fy

Hal-hal Umum yang Perlu Diperhatikan


Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dan perlu menjadi pertimbangan
dalam mendisain balok beton bertulang.
Lokasi tulangan.
Tinggi minimum balok.
Selimut beton (concrete cover ) dan jarak tulangan.
Balok di Atas dua Tumpuan

Balok di Atas Banyak Tumpuan

Tinggi Minimum Balok


Tabel 8, SNI beton 2002 menyajikan tinggi minimum balok sbb,

Balok
Balok
Balok
Balok

di atas dua tumpuan : hmin = L/16.


dengan satu ujung menerus : hmin = L/18, 5.
dengan kedua ujung menerus : hmin = L/21.
kantilever : hmin = L/8.

L = panjang panjang bentang dari tumpuan ke tumpuan.


Jika nilai tinggi minimum ini dipenuhi pengecekan lendutan tidak
perlu dilakukan.
Selimut Beton
Selimut beton adalah bagian beton terkecil yang melindungi tulangan.
Selimut beton ini

diperlukan untuk :

Memberikan daya lekat tulangan ke beton.


Melindungi tulangan dari korosi.
Melindungi tulangan dari panas tinggi jika terjadi kebakaran. (Panas
tinggi dapat menyebabkan menurun/hilangnya kekuatan baja
tulangan).

Tebal selimut beton minimum untuk balok adalah : 40 mm


(SNI beton 2002 pasal 9.7).

Jarak Tulangan

Tulangan Minimum
Menurut SNI beton pasal 12.5.1., tulangan minimum balok empat persegi
(komponen struktur lentur) diambil nilai terbesar dari dua rumus berikut :
1. Asmin =

f c b . d
4 fy

1.4
b . d
fy

2. Asmin =

dimana bw merupakan lebar badan balok.


Tulangan Maksimum
Diharapkan keruntuhan yang terjadi pada elemen lentur adalah
keruntuhan tarik (underreinforced), karena ada tanda-tanda berupa defleksi
yang besar sebelum terjadi keruntuhan jenis ini. Pada jenis keruntuhan ini
rasio tulangan

< b.

Agar dapat dijamin bahwa jenis keruntuhan balok betul-betul pada


keruntuhan tarik, maka SNI beton 2002 membatasi rasio tulangan
max = 0, 75 b, dimana

maksimum balok :
0,85 1 f c 600
fy
600+ fy

b=

Kuat Perlu vs Kuat Rencana


Pada perencanaan dengan menggunakan kekuatan batas, ada 2
kekuatan yang harus diperhatikan,
Kuat Perlu
Kuat Rencana
Dimana Kuat perlu

Kuat rencana

Kuat perlu : kekuatan yang harus mampu dipikul balok akibat beban-beban
yang sudah dikalikan faktor keamanan (kombinasi beban).

Secara umum, ada 6 macam beban (jika ada) yang perlu


diperhitungkan pada perancangan struktur beton bertulang :
1. Beban mati (D) : yaitu beban yang selalu ada pada struktur.
2. Beban hidup (L) : yaitu beban yang sifatnya berpindah-pindah.
3. Beban atap (A) : beban yang tidak tetap di atap (beban orang
bekerja atau/dan beban peralatan).
4. Beban hujan (R) : genangan air hujan di atap.
5. Beban Angin (W)
6. Beban gempa (E) : beban ekivalen yang bekerja pada struktur
akibat pergerakan tanah pada peristiwa gem pa.
Menurut SNI beton 2002 pasal 11.2, secara umum ada 6 macam
kombinasi beban yang harus dipertimbangkan:
1. U = 1,4 D (pada tahap pelaksanaan bangunan)
2. U = 1,2 D + 1,6 L + 0,5(A atau R)
3. U = 1,2 D + 1,0 L 1,6 W + 0,5(A ata u R)
4. U = 0,9 D 1,6 W
5. U = 1,2 D + 1,0 L 1,0 E
6. U = 0,9 D + 1,0 E

Kuat Rencana adalah kekuatan yang harus ada pada elemen beton
.

bertulang, yakni berupa kekuatan nominal x faktor reduksi kekuatan

Faktor Reduksi Kekuatan


Menurut SNI beton 2002 pasal 11.3.2, faktor reduksi kekuatan
adalah :
1. Lentur tanpa beban aksial 0,8
2. Beban aksial dab beban aksial dengan lentur

a. aksial tarik dan aksial tarik dengan lentur. . . . 0,8


b. aksial tekan dan aksial tekan dengan lentur
i. Komponen struktur dengan tulangan spiral 0,7
ii. Komponen struktur lainnya 0,65
3. Geser dan torsi 0,75
4. Tumpuan pada beton 0,65
5. Beton polos struktural 0,55
Jika Mu merupakan momen perlu yang harus dipikul balok akibat kombinasi
beban, dan Mn momen nominal yang sanggup dipikul penampang balok,
maka
Mu

Mn

atau

Mn Mu

Disain Balok den gan Tulangan Tunggal


Karena pada perencanaan elemen lentur, keruntuhan yang terjadi harus
keruntuhan tarik, maka berlaku hubungan momen nominal balok seperti :
Mn=f c . bd . ( 10,59. )
Dimana :

fy
f c

Sehingga momen rencana balok adalah :


Dengan demikian :
Atau

Atau

bd

Mn= f c . bd ( 10,59. )

Mu f c . bd . (10,59. )

Mu
f c . (10,59. )

Mu
f c . ( 10,59. )
bd