Anda di halaman 1dari 7

PENDAHULUAN

a. Latar belakang
Menjahit merupakan suatu proses atau teknik dalam mempertautkan tepi luka
dengan benar,teknik tersebut dalam ilmu bedah di sebut aposisis.dalam menjahit harus di
lakukan dengan teknik yang benar karena baik dan buruknya dalam menjahit dapat
mempengaruhi perlekatan pada luka yang dijahit.( Benyamin.2004)
Pemilihan jarum operasi harus di perhatikan berdasarkan jenis jaringan yang akan
dioperasi,topografi luka dan jenis jarum tersebut. Kesembuhan luka juga tergantung dari
lamanya luka,jenis benang yang di pakai untuk menjahit,pola jahitan yang di gunakan
penanganan dan perawatan luka,pemilihan jarum operasi serta teknik penjahitan.
( Chassin .2000)
Pola jahitan pada dasarnya diklasifikasikan secara luas kedalam pola terputus
(interrupted sutures) dan pola lanjutan (continous sutures). Pola jahitan khusus digunakan
untuk berbagai tujuan seperti jahitan otot, jahitan tendon, jahitan untuk pembuluh, jahitan
untuk saraf dan sebagainya, dapat juga digunakan pada salah satu atau kedua dari kategori
tersebut. Klip, pin dan sebagainya merupakan bentuk tipe yang berbeda namun dapat
digabungkan dengan pola jahitan terputus.( Bachsinar, 2003).
Ada beberapa pola jahitan menerus yang di gunakan untuk menjahit pada bagian
gastrointestinal (organ berlumen) yaitu lambert,cushing,connell,parkerr-ker,dan purse
string.
b. Tujuan
Agar mahasiswa dapat mengetahui jahitan apa saja yang dapat di gunakan untuk
menjahit organ berlumen
c. Manfaat
Praktikum ini bermanfaat agar mahasiswa dapat menguasai teknik jahitan yang
benar dan dapat memilih pola jahitan sesuai dengan luka yang akan di jahit

PEMBAHASAN
Pada pola jahitan menerus (continous sutures) simpul hanya pada ujung-ujung
jahitan,jahitan yang di buat berseri dari benang yang terus menyambung sehingga hanya pada
jahitan pertama dan terakir saja yang di ikat. Keuntungan dari pola jahitan menerus adalah
membutuhkan waktu yang sedikit dari pada pola terputus. Namun kekurangannya adalah bila
salah satu simpul terbuka,maka jahitan akan terbuka seluruhnya sehingga luka yang di jahit pun
ikut terbuka. Jahitan ini jarang di pakai untuk menjahit kulit.( Schwartz,2000)
Menurut Sjamsuhidajat.(2001).Ada beberapa pola jahitan menerus yang di gunakan untuk
menjahit organ berlumen yaitu:

Pola Lambert menerus (Continous Lamberts suture).


Ini merupakan pola jahitan inversi yang digunakan pada rongga visera seperti usus.
Jahitan dilakukan menembus serosa dan muskuler dan selaput submuksoa tetapi tidak melalui
membran mukosa. Jahitan menuju ke sebelah sudut kanan menyilang dari garis insisi melalui

jaringan dan bagian benang terluar terbentuk diagonal dengan begitu benang yang melalui
jaringan jaraknya berdekatan paralel satu dengan lainnya.

Pola Cornell.
Ini merupakan pola inversi. Jahitan melewati tiap lapisan jahitan secara alternatif.
Benang masuk melalui semua selubung organ berongga termasuk membran muksoa dalam
hal usus besar. Saat benang ditarik, benang tersebuttidak terlihat dari luar terkecuali simpul
jahitan yang dibuat. Selama dilakukan penjahitan benang terlihat pada sudut kanan dari garis
insisi dan hal tersebut dengan lapisan jaringan lainnya paralel terhadap garis insisi.

Pola Cushing.
Ini merupakan pola yang hampir sama dengan pola Cornell hanya perbedaannya
pada pola Cushing pola ini tidak masuk kedalam selubung mukosa dan masuk ke lumen.

Pola Parker-Kerr.
Merupakan pola Cushing yang digunakan untuk menutup bagian ujung. Dimulai dari
mengitari forcep yang menahan dari bagian ujung tersebut dan kemudian forsep ditarik dan
jahitan ditarik dan diikat. Pola ini juga dapat digunakan untuk jahitan sementara tanpa simpul
pada anastomosis intestinal untuk menutup tiap segmen intestin untuk sementara.

Purse string.
Pola ini biasa digunakan untu organ yang berongga dan bulat, tusukan dibuat
melingkar + 1 cm dipinggir dari organ tsb. Biasa dipakai pada kasus prolapsus ani, vagina dan
lain-lain. (sudarminto,2010)
Catatan:
Bila ada simpul yang lepas, maka akan lepas semua dan luka akan terbuka.
Benda asing yang tertinggal diluka lebih banyak pada jahitan menerus dibanding
dengan yang tunggal.
Aposisi luka tidak seakurat yang putus-putus.

Yang mennguntungkan cepat mengerjakannya dan juga waktu mengambil


benangnya (kecuali yang lock stitch).

Persiapan alat yang digunakan untuk menjahit adalah :

Pinset Anatomis (thumb forceps)


Pinset anatomis terdiri dari dua bilah logam yang bersatu pada salah satu ujungnya
dan memiliki tumpul yang halus, digunakan untuk mengangkat jaringan atau memegang

jaringan di antara permukaan yang berhadapan. Jika pada permukaannya terdapat gerigi
(teeth), pinset dapat memegang jaringan tanpa tergelincir dan tanpa menggunakan tekanan
yang berlebihan. Pinset dipegang di antara ibu jari, jari tengah dan jari telunjuk.

Pinset Jaringan (tissue forceps)


Pinset jaringan dilengkapi dengan gerigi agar tidak tergelincir. Karena geriginya dapat
menggigit jaringan, maka hanya diperlukan sedikit tekanan untuk memegang jaringan
dengan kuat. Bentuk spesifik dari kepala pinset tergantung dari tujuan khusus yang
diharapkan. Jenis pinset anatomis dapat digunakan untuk memegang sebagian besar jaringan
tapi tidak pernah digunakan untuk viskus yang berongga atau pembuluh darah.( Smeltzer
C,2002)

Pemegang Jarum (Needle Holder)


Semua alat pemegang jarum mempunyai kepala yang lebar dengan berbagai macam
bentuk gerigi pada kepalanya. Alat ini dipasang pada kurang lebih seperempat panjang
jarum dari ujung tumpulnya. Biasanya jarum menonjol pada sisi kiri dari alat pemegang
jarum untuk ahli bedah yang tidak kidal. Setiap bagian memiliki ujung, yakni bagian body
dan bagian lubang tempat insersi benang. Sebagian besar needle berbentuk kurva dengan
ukuran , 5/8, dan 3/8 lingkaran.( Brown,1995)

Jarum
Jarum banyak sekali jenisnya. Untuk menjahit kulit digunakan yang berpenampak
segitiga agar mudah mengiris kulit (scherpe nald). Sedang untuk menjahit otot dipakai yang
berpenampang bulat (round nald). Ada yang berbentuk setengah lingkaran dan ada pula
yang berbentuk seperempat lingkaran.(karakata,1995)
Penggunaannya adalah untuk menjahit luka dan menjahit organ rusak lainnya.
Penyediaan disesuaikan kebutuhan.

Benang
Benang bedah dapat bersifat absorbable dan non-absorbable. Benang yang
absorbable biasanya digunakan untuk jaringan lapisan dalam, mengikat pembuluh darah dan
kadang digunakan pada bedah minor. Benang non-absorbable biasanya digunakan untuk
jaringan tertentu dan harus diremove. Benang memiliki dua tipe, yang benang yang dapat
menyatu dengan kulit dan benang yang tidak dapat menyatu dengan kulit (Kozol, 1999).
Benang yang dapat menyatu dibuat dari usus kucing (Catgut), digunakan pada luka yang
dalam dan untuk kegunaan kosmetik. Benang yang tidak dapat menyatu dengan kulit
digunakan untuk menjahit luka yang tidak terlalu dalam. Pada benang yang tidak dapat
menyatu dengan kulit dilakukan pelepasan benang setelah luka kering dan ini akan
menimbulkan bekas pada kulit atau disebut dengan jaringan parut.

Jenisjenis benang yang digunakan dalam penjahitan :


Seide (Silk/Sutra): Bersifat tidak licin seperti sutera biasa karena sudah dikombinasi
dengan perekat, tidak diserap oleh tubuh. Pada penggunaan disebelah luar, maka
benang harus dibuka kembali. Berguna untuk menjahit kulit, mengikat pembuluh
arteri besar. Ukuran yang sering digunakan adalah nomor 2 nol 3 nol, 1 nol dan
nomor 1.
Plain Catgut: Bersifat dapat diserap tubuh, penyerapan berlangsung dalam waktu 7
10 hari dan warnanya putih kekuningan. Berguna untuk mengikat sumber pendarahan
kecil, menjahit subcutis dan dapat pula digunakan untuk bergerak dan luas lukanya
kecil. Benang ini harus dilakukan penyimpulan 3 kali karena dalam tubuh akan
mengembang. Bila penyimpulan dilakukan hanya 2 kali akan terbuka kembali.
Chromic Catgut: Bersifat dapat diserap oleh tubuh, penyerapannya lebih lama yaitu
sampai 20 hari. Chromic Catgut biasanya menyebabkan reaksi inflamasi yang lebih
besar dibandingkan dengan plain catgut. Berguna untuk penjahitan luka yang
dianggap belum merapat dalam waktu 10 hari dan bila mobilitas harus segera
dilakukan
Metode yang dilakukan untuk menjahit luka, yaitu :

Gunakan needle holder untuk memegang jarum. Jepit jarum pada ujung pemegang jarum
pada pertengahan atau sepertiga ekor jarum. Jika penjepitan kurang dari setengah jarum,
akan sulit dalam menjahit. Pegang needle holder dengan jari-jari sedemikian sehingga
pergelangan tangan dapat melakukan gerakan rotasi dengan bebas.
Masukkan ujung jarum pada kulit dengan jarak dari tepi luka sekitar 1cm, membentuk
sudut 90
Dorong jarum mengikuti kelengkungan jarum.

Jahit luka lapis-demi lapis dari yang terdalam.

Jahit luka bagian dalam menggunakan benang yang dapat di serap atau monofilament.

Jarak tiap jahitan sekitar 1cm. Jahitan yang terlalu jarang luka kurang menutup dengan
baik. Bila terlalu rapat meningkatkan trauma jaringan dan reaksi inflamasi.

KESIMPULAN
Pada pola jahitan menerus (continous sutures) simpul hanya pada ujung-ujung jahitan,jahitan yang
di buat berseri dari benang yang terus menyambung sehingga hanya pada jahitan pertama dan
terakir saja yang di ikat. Keuntungan dari pola jahitan menerus adalah membutuhkan waktu yang
sedikit dari pada pola terputus. Namun kekurangannya adalah bila salah satu simpul terbuka,maka
jahitan akan terbuka seluruhnya sehingga luka yang di jahit pun ikut terbuka.
Ada beberapa pola jahitan menerus yang di gunakan untuk menjahit pada bagian gastrointestinal
(organ berlumen) yaitu lambert,cushing,connell,parkerr-ker,dan purse string.

DAFTAR PUSTAKA
Bachsinar, 2003. Bedah minor. Jakarta: hipokrates
Benyamin, JR.2004. prinsip- prinsip operasi : antiseptis,teknik,jahitan,drainase buku ajar
bedah. Sabiston: Jakarta.
Brown, John Stuart., 1995. Buku Ajar dan Atlas Bedah Minor. Jakarta: Penerbit Buku
Kedokteran EGC.
Chassin L. Jameson.2000. operative strategy in general surgery. Springer Verlag : New York
Karakata S, Bachsinar B.1995. Bedah Minor. Hipokrates : Jakarta
Kozol, Robert A., Farmer, Diana L., Tennenberg, Steven D., Mulligan, Michael., 1999.
Instruments and Sutures. In: Surgical Pearls. Philadelphia: F.A. Davis Company, 8-12.
Sjamsuhidajat R, De Jong W.2001. Infeksi luka operasi,buku ilmu bedah EGC : Jakarta.
Schwartz, Seymour I., 2000. Intisari Prinsip-prinsip Ilmu Bedah. ed. 6., Jakarta: Penerbit Buku
Kedokteran EGC, 63.
Smeltzer C, Suzanne, 2002, Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah, Brunner & Suddarth,
(Edisi 8 vol 2). Alih Bahasa Agung Waluyo. Jakarta :EGC

Sudarminto,2010. Teknik Bedah,Dasar Restrain dan Casting FKH UGM :yogyakarta

Anda mungkin juga menyukai