Anda di halaman 1dari 39

KIMIA

REAKSI REDOKS &


ELEKTROKIMIA
nama-nama kelompok:
josua koirewa
angelia pricilia
marcelino mumek
michael herung
chien ladi

SEL VOLTA (SELGALVANI)


Sel Volta adalah sel elektrokimia yang menghasilkan arus
listrik dari reaksi kimia berupa reaksi redoks spontan.
Prinsip kerja sel Volta adalah sebagai berikut :
1. Energi hasil dari reaksi kini dirubah menjadi energi listrik
2. Reaksi yang berlangsung adalah reaksi redoks
3. Pada katoda terjadi reduksi dan merupakan kutub positif
4. Pada anoda terjadi oksidasi dan merupakan kutub
negatif
Jadi katoda positif, Anoda negatif disingkat KPAN yang
dibaca KAPAN

KOMPONEN SEL VOLTA


Rangkaian sel elektrokimia pertama
kali dipelajari oleh LUIGI GALVANI
(1780) dan ALESSANDRO VOLTA
(1800). Sehingga disebut sel Galvani
atau sel Volta. Keduanya
menemukan adanya pembentukan
energi dari reaksi kimia tersebut.
Energi yang dihasilkan dari reaksi
kimia sel Volta berupa energi listrik

Sel Volta terdiri atas elektroda (logam seng


dan tembaga) larutan elektrolit (ZnSO4 dan
CuSO4), dan jembatan garam (agar-agar
yang mengandung KCl). Logam seng dan
tembaga bertindak sebagai elektroda.
Keduanya dihubungkan melalui sebuah
voltmeter. Elektroda tempat berlangsungnya
oksidasi disebut Anoda (elektroda negatif),
sedangkan elektroda tempat berlangsungnya
reduksi disebut Katoda (elektroda positif)

Rangkaian sel volta dapat ditulis dalam


bentuk notasi atau diagram sel. Dalam
menuliskan diagram sel, anoda
dituliskan di sebelah kiri dan katoda di
sebelah kanan yang dipisahkan oleh
jembatan garam. Jembatan garam
dilambangkan dengan dua garis sejajar
( ). Secara umum, notasi sel dituliskan
sebagai berikut: anoda katoda
sehingga pada sel volta di atas
dituliskan dalam bentuk notasi sel :
Zn | Zn2+ Cu2+ | Cu

Prinsip kerja
Terdiri atas elektroda dan elektrolit yang
dihubungkan dengan sebuah jembatan garam.
Pada anoda terjadi reaksi oksidasi dan pada katoda
terjadi reaksi reduksi.
Arus elektron mengalir dari katode ke anode.
Arus listrik mengalir dari katode ke anode.
Adanya jembatan garam untuk menyetimbangkan
ion-ion dalam larutan.
Terjadi perubahan energi: energi kimia menjadi
energi listrik.

Penjelasan Deret volta


Li-K-Ba-Sr-Ca-Na-Mg-Al-Mn-Zn-Cr-Fe-Cd-Co-Ni-SnPb-H+-Cu-Ag-Hg-Pt-Au
Logam-logam yang terletak di sisi kiri H + memiliki Ered
bertanda negatif. Semakin ke kiri, nilai Ered semakin
kecil (semakin negatif). Hal ini menandakan bahwa
logam-logam tersebut semakin sulit mengalami
reduksi dan cenderung mengalami oksidasi. Oleh
sebab itu, kekuatan reduktor akan meningkat dari
kanan ke kiri. Sebaliknya, logam-logam yang terletak
di sisi kanan H+ memiliki Ered bertanda positif.
Semakin ke kanan, nilai Ered semakin besar (semakin
positif). Hal ini berarti bahwa logam-logam tersebut
semakin mudah mengalami reduksi dan sulit
mengalami oksidasi. Oleh sebab itu, kekuatan
oksidator akan meningkat dari kiri ke kanan.

SEL AKI
Saat aki menghasilkan listrik, Anoda Pb dan katoda PbO2 bereaksi dengan
SO42- menghasilkan PbSO4. PbSO4 yang dihasilkan dapat menutupi
permukaan lempeng anoda dan katoda. Jika telah terlapisi seluruhnya maka
lempeng anoda dan katoda tidak berfungsi. Akibatnya aki berhenti
menghasilkan listrik.
Saat aki menghasilkan listrik dibutuhkan ion H+ dan ion SO42- yang aktif
bereaksi. akibatnya jumlah ion H+ dan ion SO42- pada larutan semakin
Oleh
karenamenjadi
reaksi elektrokimia
aki merupakan
berkurang dan larutan
elektrolit
encer makapada
arus listrik
yang
reaksi
kesetimbangan
(reversibel)
maka
dengan
dihasilkan dan potensial aki semakin melemah.
memberikan arus listrik dari luar ( mencas ) keadaan 2
elektroda (anoda dan katoda) yang terlapisi dapat
kembali seperti semula. demikian pula ion akan
terbentuk lagi sehingga konsentrasi larutan elektrolit
naik kembali seperti semula.
Anoda PbO2 ( - ) : PbSO4 + 2H2O PbO2 + 4H+ +
SO42- + 2e
Katoda Pb ( + ) : PbSO4 + 2e Pb +
SO42-
Reaksi total : 2PbSO4 + 2H2O Pb + PbO2 +

Sel Leclanch ditemukan oleh insinyur Perancis


Georges Leclanch (1839-1882) lebih dari
seratus tahun yang lalu. Berbagai usaha
peningkatan telah dilakukan sejak itu, tetapi,
yang mengejutkan adalah desain awal tetap
dipertahankan, yakni sel kering mangan.
Sel kering mangan terdiri dari bungkus dalam
zink (Zn) sebagai elektroda negatif (anoda),
batang karbon/grafit (C) sebagai elektroda
positif (katoda) dan pasta MnO 2 dan NH4Cl
yang berperan sebagai larutan elektrolit.

Anoda : logam seng (Zn)


Katoda : batang karbon/gafit (C)
Elektrolit : MnO2, NH4Cl dan serbuk
karbon (C)
Anoda Zn (-) : Zn
Zn2+ + 2e
Katoda C (+) : 2MnO2 + 2NH4+ + 2e-
Mn2O3 + 2NH3 + H2O
Reaksi total : Zn + 2MnO2 + 2NH4+
Zn2+ + Mn2O3 + 2NH3 + H2O

Dalam sel kering alkalin, padatan KOH atau NaOH


digunakan sebagai ganti NH4Cl. Umur sel kering
mangan (baterai biasa) diperpendek oleh korosi zink
akibat keasaman NH4Cl. Sedangkan pada sel kering
alkali bebas masalah ini karena penggantian NH4Cl
yang bersifat asam dengan KOH/NaOH yang bersifat
basa. Jadi umur sel kering alkali lebih panjang.Selain
itu juga menyebabkan energi yang lebih kuat dan
tahan lama.
Anoda Zn (-) : Zn Zn 2+ + 2e
Katoda C (+) : 2MnO2 + H2O + 2e - Mn2O3 +
2OH
Reaksi total : Zn + 2MnO2 + H2O Zn 2+ +
Mn2O3 + 2OH

Sel kering tersebut (baterai seng-karbon dan baterai merkuri) tidak


benar-benar kering sebab elektrolit yang dipakai masih berupa pasta. Sel
kering yang benar-benar kering adalah sel jenis litium-iodin. Sel litiumiodin adalah sel Volta dengan logam litium sebagai anode dan senyawa
kompleks I2 sebagai katode. Kedua elektrode ini dipisahkan oleh lapisan
tipis dari litium iodida. Reaksi redoks yang terjadi adalah sebagai
berikut.
Anode
:
2Li(s) 2Li+(aq) +
2e
Katode
:
3I2(s) + 2e 2I3(aq)
Potensial sel yang dihasilkan sebesar 3,6 V.
Baterai jenis litium berbeda dengan baterai seng-karbon dan baterai
merkuri sebab baterai ini dapat diisi ulang (rechargeable). Baterai
litium banyak dipakai untuk mobilephone (HP) dan mobil mainan.

Sel Elektrolisisadalah sel yang menggunakan arus


listrik untuk menghasilkan reaksi redoks yang diinginkan
dan digunakan secara luas di dalam masyarakat kita.
Baterai aki yang dapat diisi ulang merupakan salah satu
contoh aplikasi sel elektrolisis dalam kehidupan seharihari (lihat Elektrokimia I : Penyetaraan Reaksi Redoks
dan Sel Volta). Baterai aki yang sedang diisi kembali
(recharge) mengubah energi listrik yang diberikan
menjadi produk berupa bahan kimia yang diinginkan.
Air, H2O, dapat diuraikan dengan menggunakan listrik
dalam sel elektrolisis. Proses ini akan mengurai air
menjadi unsur-unsur pembentuknya. Reaksi yang terjadi
adalah sebagai berikut : 2 H2O(l)> 2 H2(g)+ O2(g)

Reaksi-Reaksi Elektrolisis
Reaksi yang terjadi ketika listrik dialirkan melalui
elektrolit disebut reaksi elektrolisis. Elektrolisis
dapat diartikan sebagai peruraian yang disebabkan
oleh arus listrik. Jika elektrolitnya berupa lelehan
senyawa ion, maka kation akan direduksi di katode,
sedangkan anion dioksidasi di anode.
Reaksi elektrolisis dalam larutan elektrolit
berlangsung lebih kompleks. Spesi yang bereaksi
belum tentu kation atau anionnya, tetapi mungkin
saja air atau elektrodanya. Hal tersebut bergantung
pada potensial spesi-spesi yang terdapat dalam
larutan. Untuk menuliskan reaksi elektrolisis
larutan elektrolit, faktor-faktor yang perlu
dipertimbangkan sebagai berikut :

I. Reaksi-reaksi yang berkompetisi pada tiap-tiap


elektrode
Spesi yang mengalami reduksi di katode adalah yang
mempunyai potensial reduksi lebih positif.
Spesi yang mengalami oksidasi di anode adalah yang
memiliki potensial reduksi lebih negatif, atau potensial
oksidasi lebih positif.
II. Jenis elektrode
Elektrode inert adalah elektrode yang tidak terlibat
dalam reaksi. Elektrode inert yang sering digunakan adalah
platina dan grafit.
Berdasarkan daftar potensial elektrode standar, dapat dimuat
suatu ramalan tentang reaksi anode pada suatu elektrolisis.

Reaksi pada Katoda ( Reduksi Kation)


1.Bila kation dari golongan Alkali/ IA (Li+, Na+, K+), Alkali tanah/ IIA (Mg2+, Ca2+, Sr2+,
Ba2+), Al3+ atau Mn2+ maka kation tersebut tidak direduksi namun air (H2O) yang
direduksi. hal ini karena Ered H2O lebih besar dari ion-ion teraebut. Reaksi yang
terjadi :
2H2O(l) + 2e- H2(g) + 2OH-(aq)

2. H+ dari suatu asam akan direduksi menjadi gas hidrogen (H2). Reaksi yang terjadi :
2H+(aq) + 2e- H2(g)

3. Ion-ion logam lainnya yang tidak termasuk kelompok di atas direduksi lalu
mengendap pada katoda.

Ni2+(aq) + 2e- Ni(s)

Cu2+(aq) + 2e- Cu(aq)

4. Ion-ion lelehan atau leburan dari golongan


alkali dan alkali tanah direduksi lalu
mengendap pada katoda (karena
lelehan/leburan tidak mengandung air).

Li+(aq) + e- Li(s)

Ca2+(aq) + 2e- Ca(s)

Reaksi pada Anoda (Oksidasi Anion)

1. Bila elektrodanya non inert ( Ni, Cu, Ag dll) maka elektrodanya yang
dioksidasi. contoh reaksinya :

Ni(s) Ni2+(aq) + 2e-

Cu(aq) Cu2+(aq) + 2e-

Ag(s) Ag+(aq) + e-

2. Bila elektrodanya inert ( C, Pt atau Au) maka elektrodanya tidak bereaksi


dan bila anionnya :
a. Ion OH- dari basa maka reaksi yang terjadi :

4OH-(aq) 2H2O(aq) + O2(g) + 4e-

b. Ion sisa asam yang mengandung oksigen (SO 42-, NO3-,


PO43- dll) tidak dioksidasi namun air (H2O) yang dioksidasi.
karena Eoks H2O lebih besar dari sisa asam yang
mengandung oksigen. Reaksi yang terjadi :

2H2O(aq) 4H+(aq) + O2(g) + 4e-

c. ion sisa asam yang tidak mengandung oksigen (Cl - , Br- ,


I- dll) akan dioksidasi.

2Cl-(s) Cl2(g) + 2e-

2Br-(s) Br2(g) + 2e-

Hukum Faraday I

Jumlah massa zat yang dihasilkan pada katoda atau anoda


berbanding lurus dengan jumlah listrik yang digunakan
selama elektrolisis.

Apabila arus listrik sebesar 1 Faraday ( 1 F ) dialirkan ke


dalam sel maka akan dihasilkan :
1 ekivalen zat yang disebut massa ekivalen (e)
1 mol elektron ( e- )
"sebelum melanjutkan materi.... yang perlu diperhatikan
adalah lambang massa ekivelen mirip dengan lambang
elektron, pada penulisan lambang elektron ada yang
menuliskan e dan ada juga yang menyertakan muatannya
e-. Untuk membedakan dengan lambang massa ekivalen
maka muatan pada elektron saya cantumkan."

Cara menghitung massa ekivalen (e) :


e = Ar Unsur / jumlah muatan ionnya

sebagai contoh jika 1 F dialirkan ke reaksi elektrolisis :


Cu2+ + 2e- Cu
maka massa ekivalen ( e ) logam Cu (Ar Cu = 63,5) = e Cu = 63,5/2 = 31,75
jika arus listrik diperbesar menjadi 2 kalinya massa Cu yang diendapkan juga
dikali 2.
Dalam penulisan perbandingan mol suatu reaksi yang dijadikan patokan adalah
mol dari elekrton.....
1 F = 1 mol e
(penting banget.... :) )
jika mol elektron = 1 mol maka :
Cu2+ + 2e- Cu
1/2 mol 1 mol 1/2 mol

Hukum Faraday II
Apabila 2 sel atau lebih dialiri arus listrik dalam jumlah yang sama (disusun
seri) maka perbandingan massa zat-zat yang dihasilkan sebanding dengan
massa ekivalen (e) zat-zat tersebut.
Keterangan :
m = massa zat dalam gram
e = massa ekivalen zat
Ar = massa molekul relatif
n = muatan ion positif zat/kation
Contoh :
Jika arus listrik dialirkan melalui larutan AgNO3 dan Ni (NO3)2 yang disusun
seri maka akan terjadi endapan perak sebanyak 27 gram. Hitung massa
endapan nikel yang terjadi! (Ar Ag = 108 dan Ar Ni = 59)
n Ag = 1 dan n Ni = 2
m Ag : m Ni = Ar Ag/n Ag : Ar Ni/n Ni
27 : m Ni = 108/1 : 59/2
m Ni = 7,375 gram

Stoikiometri reaksi elektrolisis didasarkan


pada anggapan bahwa arus listrik adalah
aliran elektron. Muatan listrik dari 1 mol
elektron adalah 96.500 coulomb (tepatnya
96487 coulomb). Jumlah muatan dari 1 mol
elektron ini disebut satu Faraday (1 F).
1 F =1 mol elektron =96.500 coulomb
Hubungan antara kuat arus dan waktu dengan
jumlah mol elektron
Arus sebesar (i) ampere yang dialirkan
selama(t) detik membawa muatan sebesar it
coulomb. Oleh karena 1 mol elektron =
96.500 coulomb, maka dalam it coulomb
terdapat it/96500 mol elektron.

1)Produksi Zat
Banyak zat kimia yang diproduksi melalui
elektrolisis seperti logam-logam alkali,
magnesium, aluminium, fluorin, klorin,
natrium, dan lainnya. Salah satu contoh
yang akan dibahas yaitu mengenai
produksi klorin dan NaOH dalam industri.
Secara industri klorin dan NaOH dapat
dibuat melalui elektrolisis larutan natrium
klorida.Proses ini disebutproses klor-alkali.
Elektrolisis larutan NaCl ini dapat
menghasilkan NaOH dan Cl2

NaCl(aq)
Na+(aq) + Cl-(aq)

Anode : 2Cl-(aq)
Cl2(g) + 2e
Katode : 2H2O(l) + 2e
2OH-(aq) H2(g)
Reaksi sel : 2H2O(l) + 2Cl-(aq)
2OH-(aq) H2(g) +
Cl2(g)

Sehingga reaksi yang terjadi :

2H2O(l) + 2NaCl(aq)
2NaOH(aq) + H2(g) + Cl2(g)
Pada proses elektrolisis keadaan harus dijaga agar
Cl2yang terbebtuk tidak bereaksi dengan NaOH. Oleh
karena itu ruang anoda dan katoda dipisahkan dengan
berbagai cara, yaitu dengan sel diafragma atau sel
merkuri.

Sel Merkuri atau sel diafragma


Suatu proses elektrolisis yang menghasilkan NaOH(aq) dengan kemurnian
yang lebih tinggi adalah sel merkuri. Katode merkuri mempunyai
overpotensial yang lebih tinggi untuk mereduksi H 2O menjadi OH dan H2(g),
sehingga reduksi yang terjadi adalah Na+(aq) menjadi Na(l) yang larut
dalam merkuri membentuk suatu amalgam berupa 0,5 % Na.
Reaksi yang terjadi dalam sel merkuri sebagai berikut.
Katoda:2 Na(aq) + 2e
2 Na(dalam Hg)
Anoda:2 Cl(aq)
Cl2(g) + 2e
Reaksi sel:2 Na+(aq) + 2 Cl(aq)
2 Na(dalam Hg) + Cl2(g)
Jika Na yang dikeluarkan dari sel ditambah air, maka akan terbentuk
NaOH(aq) dan merkuri cair dikembalikan lagi ke dalam sel elektrolisis.

2 Na(dalam Hg) + 2 H2O(l)


2 Na+(aq) + 2 OH(aq) + H2(g) +
Hg(l)
Keuntungan sel merkuri dapat menghasilkan NaOH pekat dengan kemurnian
tinggi. Kelemahannya adalah memerlukan energi listrik yang lebih banyak,
disamping itu merkuri mempunyai dampak negatif terhadap lingkungan.

2. Pemurnian Logam
Prinsip pemurnian logam transisi dengan menggunakan reaksi elektrolisis
larutan dengan elektrode yang bereaksi. Logam yang kotor ditempelkan di
anode dan logam murni ditempatkan di katode. Larutan yang digunakan
adalah yang mempunyai kation logam tersebut. Contoh yang akan dibahas
yaitu pemurnian logam tembaga. Dengan tembaga murni sebagai katode
dan tembaga kotor (yang akan dimurnikan) sebagai anode, dan
elektrolitnya larutan CuSO4.
CuSO4(aq)
Cu2+ + SO42Anode
: Cu(s)
Cu2+(aq) + 2e
Katode
: Cu2+(aq) + 2e
Cu(s)

Logam Cu yang kotor dioksidasi dan berubah menjadi larutan Cu2+. Ion Cu2+
bergabung dengan larutan yang ada dan bergerak ke katode. Di katode, ion
Cu2+ direduksi membentuk logam kembali. Pada waktu ion Cu2+ di anode
bergerak ke katode, maka harus ada penyaring, sehingga yang ke katode
hanya ion Cu2+ saja, sedangkan pengotornya tetap di anode. Akibatnya
daerah katode adalah daerah bersih dan Cu2+ yang diendapkan akan

Penyepuhan (Electroplating)
Suatu produk dari logam agar terlindungi dari korosi (perkaratan) dan
terlihat lebih menarik seringkali dilapisi dengan lapisan tipis logam lain yang
lebih tahan korosi dan mengkilat. Salah satu cara melapisi atau menyepuh
adalah dengan elektrolisis. Benda yang akan dilapisi dipasang sebagai
katoda dan potongan logam penyepuh dipasang sebagai anoda yang
dibenamkan dalam larutan garam dari logam penyepuh dan dihubungkan
dengan sumber arus searah. Contoh: untuk melapisi sendok garpu yang
terbuat dari baja dengan perak, maka garpu dipasang sebagai katoda dan
logam perak dipasang sebagai anoda, dengan elektrolit larutan AgNO 3.
Logam perak pada anoda teroksidasi menjadi Ag+ kemudian direduksi
Reaksi yang
terjadi
:
menjadi
Ag pada
katoda
atau garpu. Dengan demikian garpu terlapisi. oleh

logam
perak.
Anode(Ag) : Ag(s)
Ag+(aq) + e
Katode (Fe) : Ag+(aq) + e
Ag(s)
Reaksi sel : Ag(s) (anode)
Ag(s)
(katode)

Korosiadalah teroksidasinya suatu logam.


Korosi adalah kerusakan atau degradasi
logam akibat reaksi dengan lingkungan yang
korosif. Korosi dapat juga diartikan sebagai
serangan yang merusak logam karena logam
bereaksi secara kimia atau elektrokimia
dengan lingkungan. Dalam kehidupan sehari hari, besi yang teroksidasi disebut
dengankaratdengan rumus Fe2O3xH2O.
Proses perkaratan termasuk proses
elektrokimia, di mana logam Fe yang
teroksidasi bertindak sebagai anode dan
oksigen yang terlarut dalam air yang ada
pada permukaan besi bertindak sebagai
katode.

Reaksi perkaratan:
Anode : FeFe2++ 2 e
Katode : O2+ 2H2O 4e + 4 OH
Fe2+yang dihasilkan, berangsur-angsur akan
dioksidasi membentuk Fe3+. Sedangkan OH akan
bergabung dengan elektrolit yang ada di alam
atau dengan ion H+dari terlarutnya oksida asam
(SO2, NO2) dari hasil perubahan dengan air hujan.
Dari hasil reaksi di atas akan dihasilkan karat
dengan rumus senyawa Fe2O3xH2O. Karat ini
bersifat katalis untuk proses perkaratan
berikutnya yang disebutautokatalis.

Faktor yang mempengaruhi Korosi :


Korosi pada permukaan suatu logam dapat dipercepat oleh beberapa faktor,
antara lain:
1.Oksigen terlarut( DO = Dissolved oxygen ) DO berperan dalam sebagian
proses korosi, bila konsentrasi DO naik, maka kecepatan korosi akan naik.
2.Zat padat terlarut jumlah( TDS = total dissolved solid ) konsentrasi TDS
sangatlah penting, karena air yang mengandung TDS merupakan penghantar
arus listrik yang baik dibandingkan dengan air tanpa TDS. Aliran listrik
diperlukan untuk terjadinya korosi pada pipa logam, oleh karena itu jika TDS
naik, maka kecepatan korosi akan naik.
3.pH dan Alkalinitas mempengaruhi kecepatan reaksi, pada umumnya pH
dan alkalinitas naik, kecepatan korosi akan naik. Peristiwa korosi pada kondisi
asam, yakni pada kondisi pH < 7 semakin besar, karena adanya reaksi reduksi
tambahan yang berlangsung pada katode yaitu: 2H+(aq)+ 2e- H2
4.Temperatur makin tinggi temperatur, reaksi kimia lebih cepat terjadi dan
naiknya temperatur air pada umumnya menambah kecepatan korosi.
5.Tipe logamyang digunakan untuk pipa dan perlengkapan pipa logam
yang mudah memberikan elektron atau yang mudah teroksidasi, akan mudah
terkorosi.

6.Aliran listrik Aliran listrik yang diakibatkan oleh korosi


sangat lemah dan isolasi dapat menghalangi aliran listrik
antara logam-logam yang berbeda, sehingga korosi galvanis
dapat dihindari. Bilamana aliran listrik yang kuat melewati
logam yang mudah terkorosi, maka akan menimbulkan aliran
nyasar dari sistem pemasangan listrik di pelanggan yang
tidak menggunakan aarde, hal ini menyebabkan korosi cepat
terjadi.
7.B a k t e r i tipe bakteri tertentu dapat mempercepat
korosi, karena mereka akan menghasilkan karbon dioksida
(CO2) dan hidrogen sulfida (H2S), selama masa putaran
hidupnya. CO2akan menurunkan pH secara berarti sehingga
menaikkan kecepatan korosi. H2S dan besi sulfida, Fe2S2, hasil
reduksi sulfat (SO42) oleh bakteri pereduksi sulfat pada
kondisi anaerob, dapat mempercepat korosi bila sulfat ada di
dalam air. Zat-zat ini dapat menaikkan kecepatan korosi. Jika
terjadi korosi logam besi maka hal ini dapat mendorong
bakteri besi(iron bacteria)untuk berkembang, karena
mereka senang dengan air yang mengandung besi.

3.Pengaruh Logam Lain terhadap


Korosi Besi
Dari kehidupan sehari-hari kita ketahui
bahwa besi yang dilapisi dengan zink
tahan karat, sedangkan besi yang
kontak dengan tembaga berkarat lebih
cepat.

Cara-cara pencegahan korosi besi, yaitu :

1. Pengecetan. Jembatan, pagar dan railing biasanya dicat. Cat menghindarkan


kontak dengan udara dan air. Cat yang mengandung timbel dan zink (seng)
akan lebih baik, karena keduanya melindungi besi terhadap korosi.

2. Pelumuran dengan Oli atau Gemuk. Cara ini diterapkan untuk berbagai
perkakas dan mesin. Oli dan gemuk mencegah kontak dengan air.

3. Pembalutan dengan Plastik. Berbagai macam barang, misalnya rak piring dan
keranjang sepeda dibalut dengan plastik. Plastik mencegah kontak dengan
udara dan air.

4. Tin Plating (pelapisan dengan timah). Kaleng-kaleng kemasan terbuat dari


besi yang dilapisi dengan timah. Pelapisan dilakukan secara elektrolisis, yang
disebut tin plating. Timah tergolong logam yang tahan karat. Akan tetapi,
lapisan timah hanya melindungi besi selama lapisan itu utuh (tanpa cacat).
Apabila lapisan timah ada yang rusak, misalnya tergores, maka timah justru
mendorong/mempercepat korosi besi. Hal itu terjadi karena potensial reduksi
besi lebih negatif daripada timah (E Fe = -0,44 volt; E Sn = -0,44 volt). Oleh
karena itu, besi yang dilapisi dengan timah akan membentuk suatu sel
elektrokimia dengan besi sebagai anode. Dengan demikian, timah mendorong
korosi besi. Akan tetapi hal ini justru yang diharapkan, sehingga kaleng-kaleng
bekas cepat hancur.

5. Galvanisasi (pelapisan dengan zink). Pipa besi, tiang telpon dan


berbagai barang lain dilapisi dengan zink. Berbeda dengan timah, zink
dapat melindungi besi dari korosi sekalipun lapisannya tidak utuh. Hal
ini terjadi karena suatu mekanisme yang disebut perlindungan katode.
Oleh karena potensial reduksi besi lebih positif daripada zink, maka
besi yang kontak dengan zink akan membentuk sel elektrokimia
dengan besi sebagai katode. Dengan demikian besi terlindungi dan
zink yang mengalami oksidasi. Badan mobil-mobil baru pada
umumnya telah digalvanisasi, sehingga tahan karat.

6. Chromium Plating (pelapisan dengan kromium). Besi atau baja juga


dapat dilapisi dengan kromium untuk memberi lapisan pelindung yang
mengkilap, misalnya untuk bumper mobil. Chromium plating juga
dilakukan dengan elektrolisis. Sama seperti zink, kromium dapat
memberi perlindungan sekalipun lapisan kromium itu ada yang rusak.

7. Sacrificial Protection (pengorbanan anode). Magnesium adalah


logam yang jauh lebih aktif (berarti lebih mudah berkarat) daripada
besi. Jika logam magnesium itu akan berkarat tetapi besi tidak. Cara
ini digunakan untuk melindungi pipa baja yang ditanam dalam tanah
atau badan kapal laut. Secara periodik, batang magnesium harus
diganti.

Korosi Aluminium
Aluminium, zink, dan juga kromium, merupakan logam
yang lebih aktif daripada besi. Jika demikian, mengapa
logam-logam ini lebih awet? Sebenarnya, aluminium
berkarat dengan cepat membentuk oksida aluminium
(Al2O3). Akan tetapi, perkaratan segera terhenti
setelah lapisan tipis oksida terbentuk. Lapisan itu
melekat kuat pada permukaan logam, sehingga
melindungi logam di bawahnya terhadap perkaratan
berlanjut.
Lapisan oksida pada permukaan aluminium dapat
dibuat lebih tebal melalui elektrolisis, proses yang
disebut anodizing. Aluminium yang telah mengalami
anodizing digunakan untuk membuat panci dan
berbagai perkakas dapur, bingkai, kerangka bangunan
(panel dinding), serta kusen pintu dan jendela. Lapisan
oksida aluminium lebih mudah dicat dan memberi
warna yang lebih terang.