Anda di halaman 1dari 27

LAPORAN AKHIR

PRAKTIKUM FORMULASI TEKNOLOGI SEDIAAN NON STERIL


GEL ASAM SALISILAT
MIONIGEL

DOSEN:
Eka Indra Setyawan, S.Farm., M.Sc., Apt.
GOLONGAN I
KELOMPOK 4

Ni Kadek Ariani
A.A. Ngurah Wisnu Wardhana
Made Ririn Sutharini
Wayan Agus Wijaya
Puput Rhamadani Harfa
Made Primantara
Komang Dede Saputra

(1308505022)
(1308505023)
(1308505024)
(1308505026)
(1308505027)
(1308505029)
(1308505030)

JURUSAN FARMASI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS UDAYANA
2015
0

BAB I
PRAFORMULASI
1.1

Tujuan

1.1.1 Mengetahui formulasi sediaan gel asam salisilat.


1.1.2 Mengetahui tahapan tahapan dalam pembuatan sediaan gel asam
salisilat.
1.1.3 Dapat membuat sediaan non steril gel asam salisilat skala laboratorium
sesuai dengan persyaratan yang telah ditentukan.
1.2

Tinjauan Farmakologi Bahan Obat dan Bahan Tambahan

1.2.1

Indikasi Bahan Obat


Asam salisilat menghambat biosintesis prestagladin dan memiliki efek

antiinflamasi pada sediaan topical dengan konsentrasi 0,5-5%.


1.2.2 Famakokinetik
Asam salisilat merupakan asam organic sederhana dengan pKa 3. Asam
salisilat dengan cepat terabsorbsi dari lambung dan usus halus yang menunjukkan
puncak plasma salisilat dalam 1-2 jam (Katzung, 2009).
1.2.3 Mekanisme
Asam salisilat memiliki mekanisme memecah struktur yang menyebabkan
disintegrasi ikatan antar sel korneosit. Asam salisilat topical dalam konsentrasi
yang lebih besar (20-60%) menimbulkan destruksi pada terapi perlukas dan kalus.
Dosis
Tabel 1.Dosis Asam Salisilat untuk Anak dan Bayi
Umur

Dosis Lazim

1 tahun ke bawah

Sekali
10 mg/bulan

1 3 tahun

50 mg 60 mg/tahun

3 6 tahun

40 mg 50 mg/tahun

6 12 tahun

30 mg 40 mg/tahun

Sehari
30-40 mg/bulan
150 mg 240
mg/tahun
120 mg

200

mg/tahun
90 mg

160

mg/tahun
(Depkes RI, 1979)
1

Dosis Asam Salisilat untuk dewasa


-

Dosis lazim sekali : 500 mg 1 g

Dosis lazim sehari : 1,5 g 3 g


(Depkes RI, 1979)

1.2.4 Efek Samping


Penggunaan asam salisilat yang luas dapat mencapai sirkulasi sistemik
dalam jumlah yang signifikan sehingga dapat memberikan manifestasi gejala
kelainan saraf pusat akibat toksisitas pada permukaan secara topikal.
1.2.5 Kontra Indikasi
Asam salisilat diekstraksi pada ASI dan berpotensi menimbulkan abnormal
terombosin dan pendarahan pada bayi.
1.2.6 Interaksi Obat
- Dengan karbonik anhidrat inhibitor, meningkatkan konsentrasi serum
asetazolamid;

meningkatkan

toksisitas

salisilat

berbanding

dengan

berkurangnya pH darah.
- Dengan kortikosteroid, meningkatkan eliminasi dari salisilat; memungkinkan
efek toksik aditif pada mukosa gastric.
- Dengan heparin, meningkatkan gejala pendarahan dengan aspirin, namun tidak
dengan salisilat lain.
(Katzung, 2009)
1.2.7 Penyimpanan
Dalam wadah tertutup rapat, pada suhu kamar terkendali (Depkes RI,
1979).
1.3

Tinjauan Fisikokimia bahan obat dan bahan tambahan

1.3.1 Bahan aktif


a) Asam Salisilat
Nama kimia
Bobot molekul
Rumus molekul
Pemerian

:
:
:
:

Asam Salisilat
138,12 gram/mol
C7H6O3
Berbentuk jarum halus atau serbuk hablur putih
halus, rasa agak manis, tajam an stabil diudara dan
2

tidak berbias.
: Sukar larut dalam air dan dalam benzena, mudah

Kelarutan

larut dalam etanol dan dalam eter, larut dalam air


mendidih, agak sukar larut dalam kloroform.
: 158-161 oC

Titik lebur

(Depkes RI, 1995)


Wadah

dan : Dalam wadah tertutup baik.

Penyimpanan
Penetapan Kadar

: Timbang saksama lebih kurang 500 mg, larutkan


dalam 25 ml etanol encer P yang sudah dinetralkan
dengan natrium hidroksida 0,1 N. tambahkan
fenoltalein LP dan titrasi dengan natrium hidroksida
0,1 N LV. 1 ml natrium hidroksida 0,1 N setara
dengan 13,81 mg C7H6O3.
(Depkes RI, 1995)

1.3.2
a)

Bahan tambahan
Propilenglikol

Pemerian

: Cairan bening, tidak berwarna, kental, praktis tidak

Kelarutan

berbau dan rasa manis


: Mudah larut dalam aseton, kloroform, etanol (95%),
gliserin dan air. Larut dalam 6 bagian eter. Tidak larut
dalam minyak mineral, tapi akan larut jika dicampur

Titik didih

dengan minyak esensial.


: 188oC

Titik leleh

: -59C

Stabilitas

: Pada temperatur dingin, propilenglikol stabil dalam


wadah tertutup baik, namun pada temperatur tinggi
dan dalam keadaan terbuka, maka akan terjadi
oksidasi, membentuk suatu senyawa produk seperti
:

propionaldehid, asam laktik, asam piruvik, dan asam


asetat. Stabil jika dicampur dengan etanol 95%,
gliserin dan air.
3

Kegunaan

: Antimikroba,

disinfektan,

humektan,

stabilizier,

solvent, pelarut yang dapat bercampur dengan air.


dan : Wadah tertutup baik, terlindung dari cahaya, di

Wadah
Penyimpanan
Inkompatibilitas

tempat yang sejuk dan kering.


: Tidak

sesuai

jika

dicampur

dengan

reagen

pengoksidasi seperti potasium permanganat.


(Rowe, 2009)
b) Gliserin
Pemerian

Berupa cairan bening, kental tidak berwarna, tidak

Kelarutan

berbau, cairan hidroskopis dan rasa manis.


Sedikit larut dalam aseton, praktis tidak larut dalam
benzene dan kloroform. Mudah larut dalam etanol 95%
dan air. Praktis tidak larut dalam minyak.
290oC

Titik didih

Titik leleh
Fungsi

: 17,8oC
: Emollient < 30%, antimikroba < 20%

Stabilitas

: Gliserin merupakan cairan yang higroskopis. Gliserin


murni tidak mudah teroksidasi pada suasana basa. Stabil
jika

dicampur

propilenglikol.

dengan
Gliserin

air,
dapat

etanol

95%,

dan

terkristalisasi

jika

tersimpan dalam suhu yang rendah; Kristal tidak akan


Wadah

meleleh sampai dipanaskan pada suhu 20oC.


: Dalam wadah kedap udara, ditempat sejuk dan kering.

Inkompatibilitas

: Gliserin dapat meledak jika dicampur dengan agen


pengoksidasi kuat seperti kromium trioksida, potasium
klorat, atau potasium permanganat. Gliserin membentuk
asam borak

kompleks,

asam

gliseroborak, yang

merupakan asam terkuat dari asam borak.


(Rowe, 2009)

c) Xanthan Gum
Pemerian

Xanthan gum berupa krim atau berwarna putih, tidak

Kelarutan

berbau, serbuk halus.


Praktis tidak larut dalam etanol dan eter. Larut dalam air

Titik didih
Fungsi
Stabilitas

dingin atau hangat.


: 270oC
: Pembentuk gel, penstabil, penambah viskositas.
: Merupakan bahan yang stabil. Larutan xanthan gum
yang kurang dari konsentrasi 1% w/v dapat terpengaruh
oleh suhu yang lebih besar dari suhu kamar, contohnya
viskositas berkurang. Xanthan gum juga memastikan

Wadah

stabilitas dalam leleh-beku yang sangat baik.


: Dalam wadah tertutup baik, ditempat sejuk dan kering.

Inkompatibilitas

: Xanthan gum merupakan bahan anionic dan biasanya


tidak cocok dengan surfaktan kationik, polimer, atau
pengawet, sebagai terjadinya pengendapan. Viskositas
dari larutan xanthan gum sangat bertambah atau
pembentukan gel terjadi, dengan adanya beberapa bahan
seperti

keratonia,

guan

gum,

dam

magnesium

aluminium silikat.
(Rowe, 2009)

d) Nipagin (Metil Paraben)


Pemerian

Kristal tidak berwarna atau serbuk Kristal putih, tidak


berbau atau hampir tidak berbau. Rasa sedikit

Kelarutan

membakar.
Larut dalam 400 bagian air, larut dalam 2 bagian etanol,
3 bagian etanol (95%), larut dalam 10 bagian eter, 60
bagian gliserin, 200 bagian minyak kacang. Praktis

Titik leleh
Fungsi

tidak larut dalam minyak mineral.


: 125o-128oC
: Antimikroba, pengawet (0,02-0,3%).

BJ

: 1,352 gram/cm3.
5

Stabilitas

: Metil paraben pada pH 3-6 boleh disterilisasi dengan


autoclave pada suhu 120oC selama 20 menit, tanpa
terdekomposisi. Larutan terdiri dari pH 3-6 stabil.
Penyimpanan pada suhu ruang larutan berair pada pH 8

Wadah

atau dibawahnya akan terhidrolisis dengan cepat.


: Dalam wadah tertutup baik, ditempat sejuk dan kering.

Inkompatibilitas

: Aktivitas antimikroba dari metilparaben dan paraben


lain berkurang dengan adanya surfaktan nonionik,
seperti polisorbat 80 yang menghasilkan (). Namun,
penambahan

propilenglikol

(10%)

menunjukkan

peningkatan aktivitas antimikroba dengan adanya


surfaktan nonionik.
(Rowe, 2009)

e) Nipasol (Propil Paraben)


Pemerian
Kelarutan

:
:

Serbuk putih, kristal, tidak berbau, dan tidak berasa.


Mudah larut dalam aseton dan eter. Larut dalam 1,1
bagian etanol (95%); 3,9 bagian propilenglikol; 2500

Titik didih
Fungsi
Stabilitas

bagian air, dan 250 bagian gliserin.


: 295oC
: Antimikroba.
: Larutan propilparaben pada pH 3-6 dapat disterilisasi
dengan autoclave tanpa dekomposisi. Pada pH 3-6,
larutan stabil (kurang dari 10% dekomposisi) hingga 4

Wadah

tahun dalam suhu ruangan.


: Dalam wadah tertutup baik, ditempat sejuk dan kering.

Inkompatibilitas

: Aktivitas antimikroba dari propilparaben berkurang


dengan

adanya

penambahan

surfaktan

propilenglikol

nonionik.
(10%)

Namun,

menunjukkan

peningkatan aktivitas antimikroba dengan adanya


surfaktan nonionik.
(Rowe, 2009)
6

1.4 Bentuk sediaan, dosis, dan cara pemakaian


1.4.1

Bentuk sediaan
Gel, kadang-kadang disebut Jeli, merupakan sistem semipadat terdiri dari

suspense yang dibuat dari partikel anorganik yang kecil atau molekul organic
yang besar, terpenetrasi oleh suatu cairan. Jika massa gel terdiri dari jaringan
partikel kecil yang terpisah, gel digolongkan dalam sistem dua fase (misalnya Gel
Aluminium Hidroksida). Dalam sistem dua fase, jika ukuran partikel dari fase
terdispersi relative besar, massa gel kadang-kadang dinyatakan sebagai magma.
Baik gel maupun magma dapat ebrupa tiksotropik, membentuk semipadat jika
dibiarkan dan menjadi cair pada pengocokan. Sediaan harus dikocok terlebih
dahulu sebelum digunakan untuk menjamin homogenitas dan hal ini tertera pada
etiket. Gel dapat digunakan untuk obat yang diberikan secara topical atau
dimasukkan ke dalam lubang tubuh (Depkes RI, 1995).
1.4.2

Dosis
Dalam 100 gram sediaan gel mengandung 5% (5 gram) asam salisilat.

Oleskan secara merata pada jerawat 2-3 kali sehari.


1.4.3

Cara pemakaian
Pemberian gel asam salisilat dilakukan secara topical. Diambil gel

secukupnya dengan ujung jari lalu dioleskan pada bagian yang berjerawat atau
pada bagian kulit yang terinfeksi yang telah dibersihkan sebelumnya.

BAB II
FORMULASI
2.1. Permasalahan
Adapun masalah dari pembuatan sediaan suppositoria dengan zat aktif
paracetamol dan basis PEG yaitu :
a. Sediaan gel mengandung air yang merupakan media pertumbuhan yang
sangat baik bagi bakteri.
b. Asam salisilat sukar larut dalam air sehingga tidak secara langsung dapat
terdispersi dalam cairan pembawa.
c. Saat penimbangan dan pencampuran bahan dalam mortir kemungkinan
terdapat bahan yang tertinggal.
2.2. Pencegahan Permasalahan
a. Dalam formulasi sedian Gel ini harus ditambahkan pengawet untuk
menghindari/ mencegah adanya pertumbuhan bakteri seperti nipagin dan
nipasol.
b. Asam salisilat dilarutkan dengan etanol 70%.
c. Saat penimbangan ditambahkan 10% dari bahan yang ditimbang untuk
mencegah kehilangan.
2.3. Formula Standar dan Formula Kerja
R/
Asam Salisilat
5%
Etanol 70%
q.s
Propilen glikol
15 %
Gliserin
5%
Xanthan Gum
0,425%
Nipagin
0,18 %
Nipasol
0,02 %
Aquades ad
100 gram

III. PRODUKSI

3.1 Penimbangan

3.1.1

Dibuat gel dengan bobot 10 gram, dengan formula sebagai berikut:


R/ Asam Salisilat
5%
Etanol 70%
q.s
Propilen glikol
15 %
Gliserin
5%
Xanthan Gum
0,425%
Nipagin
0,18%
Nipasol
0,02%
Aquades ad
74,375 %
Asam Salisilat
Untuk sediaan dengan bobot 10 gram (1 tube), jumlah bahan-bahan yang
dibutuhkan:
Asam Salisilat

5
10 gram 0,5gram
100

Penambahan bobot 10% = 10% x 0,5 gram = 0,05 gram


Jadi asam salisilat yang digunakan sebanyak = 0,5 gram + 0,05 gram =

3.1.2

3.1.3

0,55 gram
Untuk 1 batch dibuat 3 sediaan = 0,55 gram x 3 = 1,65 gram
Propilen glikol
15
Propilen glikol

10 gram 1,5gram
100
Penambahan bobot 10% = 10% x 1,5 gram = 0,15 gram
Jadi propilen glikol yang digunakan sebanyak = 1,5 + 0,15 gram = 1,65
gram
Untuk 1 batch dibuat 3 sediaan = 1,65 gram x 3 = 4,95 gram
Gliserin
5
10 gram 0,5gram
Gliserin 5% =
100
Penambahan bobot 10% = 10% x 0,5 gram = 0,05 gram
Jadi gliserin yang digunakan sebanyak = 0,5 gram + 0,05 gram = 0,55
gram
9

Untuk 1 batch dibuat 3 sediaan = 0,55 gram x 3 = 1,65 gram


3.1.4 Xanthan Gum
0,425
10 gram 0,0425gram 42,5 mg
Xanthan Gum =
100
Penambahan bobot 10% = 10% x 42,5 mg = 4,25 mg
Jadi xanthan gum yang digunakan sebanyak = 42,5 mg + 4,25 mg =
46,75 mg
Untuk 1 batch dibuat 3 sediaan = 46,75 mg x 3 = 140,25 mg
3.1.5 Nipagin
Nipagin 0,18%

0,18
10 gram 0,018 gram 18 mg
100

3.1.6

Penambahan bobot 10% = 10% x 18 mg = 1,8 mg


Jadi Nipagin yang digunakan sebanyak = 18 mg + 1,8 mg = 19,8 mg
Untuk 1 batch dibuat 3 sediaan = 19,8 mg x 3 = 59,4 mg
Nipasol
0,02
Nipasol 0,02%
10 gram 0,002 gram 2 mg
100
Penambahan bobot 10% = 10% x 2 mg = 0,2 mg
Jadi Nipasol yang digunakan sebanyak = 2 mg + 0,2 mg = 2,2 mg
Untuk 1 batch dibuat 3 sediaan = 2,2 mg x 3 = 6,6 mg
Aquades
Aquades yang ditambahkan adalah selisih bobot sediaan dengan bobot

3.1.7

bahan-bahan yang digunakan selain aquades. Sehingga,


10 gram (0, 5 gram + 1, 5 gram + 0, 5 gram + 0,0425 gram + 0,018
gram + 0,002 gram) = 7,4375 gram
Persentase aquades yang ditambahkan adalah
7,4375
100 % 74,4375 %
10
Penambahan bobot 10% = 10% x 7,4375gram = 0,74375 gram
Jadi Metil paraben yang digunakan sebanyak = 7,4375 gram + 0,74375

gram
= 8,18125 gram
Aquades dalam bentuk cairan, maka diukur volumenya. Diketahui BJ nya
adalah 1
8,18125 gram
8,18125 ml
1gram
ml
Untuk 1 batch dibuat 3 sediaan = 8,18125 mL x 3 = 24,54 mL
V

10

3.2

Tabel Penimbangan
Gel yang akan dibuat sebanyak 3 tube dalam satu kali produksi
No

Bahan

Jumlah

Jumlah untuk 3

untuk 1 sediaan
0,55 g

sediaan
1,65 g

q.s

q.s

1.

Asam Salisilat

2.

Etanol 70%

3.

Propilen glikol

1,65 g

4,95 g

4.

Gliserin

0,55 g

1,65 g

5.

Xanthan Gum

46,75 mg

140,25 mg

Nipagin

19,8 mg

59,4 mg

7.

Nipasol
Aquades

2,2 mg
8,18125 mL

6,6 mg

8.
3.2

Skema Kerja

a.

Pembuatan Sediaan Gel

24,54 mL

Ditimbang seluruh bahan yang diperlukan

Ditambahkan aquadest sebanyak 24,54 mL dan ditaburkan Xanthan Gum sebanyak


140,25 mg pada beaker glass, dibiarkan mengembang (Campuran A)

Nipagin dan Nipasol dilarutkan dalam gliserin (Campuran B)

Dilarutkan asam salisilat dalam etanol 70% digerus hingga homogen dan
ditambahkan propilen glikol dicampurkan homogen magnetic stirer (Campuran C)

Campuran B ditambahkan sedikit demi sedikit ke dalam campuran C dan digerus


hingga homogen

Campuran A yang telah berbentuk gel dituang sedikit demi sedikit ke dalam
campuran D

11

Ditimbang sebanyak 10 gram

Dikemas dalam wadah dan diberi etiket

BAB IV
PENGEMASAN
4.1

Kemasan Primer
Kemasan primer berupa tube alluminium.

12

4.2

Kemasan Sekunder

4.3

Etiket

13

14

4.4

Brosur

MIONIGEL
Mekanisme kerja
Asam salisilat bekerja sebagai pelarut organik dan menghilangkan ikatan
kovalen lipid interselular yang berikatan dengan cornified envelope di sekitar
keratinosit.15 Mekanisme kerja zat ini adalah pemecahan struktur desmosom
yang menyebabkan disintegrasi ikatan antar sel korneosit. Terminologi
desmolitik lebih menggambarkan mekanisme kerja
asam salisilat topikal.

Komposisi
Tiap 100 gram mengandung 5% asam salisilat

KHASIAT
Asam salisilat (salicylic acid) adalah obat topical yang digunakan untuk
mengobati sejumlah masalah kulit seperti jerawat, kutil, ketombe, psoriasis
dan masalah kulit lainnya. Ketika digunakan untuk jerawat asam salisilat
akan mencegah sel sel kulit mati menutupi folikel rambut sehingga mencegah
penyumbatan pori pori yang dapat menyebabkan jerawat.

INDKASI
Asam salisilat memiliki sifat keratolitik dan digunakan secara topikal dalam
pengobatan hyperkeratosis dan kondisi kulit bersisik seperti ketombe dan
dermatitis seboroik, ichthyosis, psoriasis, dan jerawat

KONTRA INDIKASI
Gel tidak boleh digunakan pada pasien yang dketahui sensitive terhadap asam
salisilat dan bahan lainnya.

EFEK SAMPING
Sesnsasi rasa terbakar, memerah dan menelupas
Gatal gatal
Kulit mengalami iritasi, kering atau sakit , biasanya muncul setelah
pemakaian obat.

DOSIS DAN CARA PEMAKAIAN


Oleskan 2-3 kali pada jerawat

PERHATIAN DAN PERINGATAN


Untuk wanita hamil, merencanakan kehamilan , atau sedang menyusui ,
tanyakan kepada dokter tentang petunjuk pemakain obat ini
Tidak boleh digunakan pada luka terbakar.
obat ini hanya untuk digunakan pada kulit bagian luar tubuh.

PENYIMPANAN
Simpan di tempat kering dan sejuk.

15

No Bacth : 501003
No Reg

: 1500311130A1

Exp Date : 10-17

BAB V
EVALUASI
Diproduksi Oleh:

5.1 Pengujian Organoleptik


Fourcarefarma Pharmaceutical Company
Pengamatan dilihat secara langsung bentuk,
warna,
Jimbaran,
bali dan bau dari gel yang dibuat. Gel
biasanya jernih dengan konsistensi setengah padat (Ansel, 1989).
-

Cara Kerja:

Uji Organoleptis
Diamati warna dan tekstur pada sediaan gel serta dicium aroma yang dihasilkan dari
sediaan gel

Ditulis hasil pengamatan yang diperoleh


5.2 Pengujian Homogenitas
Pengujian homogenitas dilakukan dengan cara sampel gel dioleskan pada sekeping kaca
atau bahan transparan lain yang cocok, sediaan harus menunjukkan susunan yang homogen
dan tidak terlihat adanya butiran kasar (Ditjen POM, 1985).
Dalam uji homogenitas digunakan satu tetes sediaan pada gelas objek yang dilakukan diatas gelas
objek dan diamati susunan penyebaran gel apakah gel yang dihasilkan homogen atau tidak (dilihat
dari adanya butiran kasar).
- Cara Kerja:

Uji Homogenitas

Diproduksi Oleh:
Fourcarefarma Pharmaceutical
Company
Jimbaran, bali

Diamati dan dioleskan gel pada kaca objek yang bersih

Ditulis hasil pengamatan yang diperoleh


5.3

Pengujian pH
Uji tingkat keasaman atau uji pH sediaan dilakukan pengujian dengan menggunakan pH

meter. Sebelum digunakan alat dikalibrasi dahulu dengan menggunakan larutan baku yang telah
disiapkan. Setelah dikalibrasi dilakukan pengujian pH sediaan dengan mencelupkan alat pada
larutan sediaan gel. pH sediaan gel harus sesuai dengan pH kulit yaitu 4,5 6,5 (Tranggono,

2007).
16

Cara Kerja:

Uji pH Sediaan
Diencerkan sediaan gel dengan aquadest dan dimasukkan dalam botol vial

Dilakukan kalibrasi pada pH meter dengan mencelupkan larutan pH 4 pada pH meter

Dibersihkan pH meter setelah menunjukan angka pH 4 dan dilakukan hal yang sama
pada larutahn pH 7

Diukur larutan sampel pada pH meter


V.4

Pengujian Daya Lekat


Gel sebanyak 500 mg diletakkan di atas gelas objek lalu diitutup dengan gelas objek
Ditunggu hingga hasilnya dan dicatat pH yang dihasilkan, diulang sebanyak 2 kali
lain. Ditahan dengan beban 1000 gram selama 1 menit. Diukur waktu lekatnya dengan
pemberian beban sebesar 80 gram. Langkah ini dilakukan sebanyak 3 kali pengulangan.
- Cara Kerja:
Uji Daya Lekat
Ditimbang sebanyak 0,5 gram sediaan gel

Ditempatkan pada alas kaca dan ditutup dengan kaca

Ditambahkan beban seberat 100 gram diletakkan di tengah-tengah obyek, ditahan


selama 1 menit

Selanjutnya kaca yang berisi sampel digantungkan pada statif dan ditambahkan
beban seberat 80 gram

Diukur waktu daya lekatnya sampai penutup kaca terjatuh, diulang sebanyak 2 kali

17

V.5

Pengujian Daya Sebar


Sebanyak 0,5 gram sampel gel diletakkan di atas kaca bulat berdiameter 15 cm, kaca

lainnya diletakkan di atasnya dan dibiarkan selama 1 menit. Diameter sebar gel diukur.
Setelahnya ditambahkan beban tambahan dan didiamkan selama 1 menit lalu diukur diameter
yang konstan (Astuti et al., 2010). Daya sebar 5 - 7 cm menunjukkan konsistensi semisolid
yang sangat nyaman dalam penggunaan (Garg et al., 2002).
- Cara Kerja:
Uji Daya Sebar
Ditimbang sebanyak 0,5 gram sediaan gel

Disiapkan alat kaca yang telah dilapisi dengan millimeter block, kemudian dilapisi
dengan plastik transparan

Diletakkan sediaan yang telah ditimbang pada alat kaca, kemudian dilapisi dengan
plastik transparan. Diukur diameter penyebaran

Diberi beban 50 gram, 100 gram, 150 gram ditengah-tengah sampel ditahan selama 1
menit setiap penambahan beban dan diukur diameter setiap penambahan beban

Diukur perubahan diameter (daya sebar)


BAB VI
HASIL DAN PEMBAHASAN
6.1

Hasil
Tabel 6.1 Penimbangan bahan
No
1.
2.
3.

Bahan
Asam Salisilat
Etanol 70%
Propilenglikol

Penimbangan
1,6505 gr
5 mL
4,969 mL
18

4.
5.
6.
7.
8.

Gliserin
Xanthan Gum
Nipagin
Nipasol
Akuades

1,595 gram
0,1403 gram
59,4 mg
6,6 mg
24,54 mL

6.1.1 Uji Organoleptik


Tabel 6.2 Uji Organoleptik
No
1
2
3
4

Parameter
Warna
Bau
Tekstur
Bentuk

Keadaan Sediaan
Putih susu
Asam
Lembut
Cair dan terdapat sedikit gumpalan

6.1.2 Uji Homogenitas


1 tetes sediaan diletakkan pada gelas objek.
Hasil: Terdapat butiran-butiran asam salisilat dan emulsi yang pecah sehingga dapat
dikatakan sediaan gel tidak homogen.
6.1.3 Uji pH
Dilakukan 3 kali pengujian dan diperoleh pH pada sediaan:
I

: 2,85

II

: 2,81

III : 2,82
6.1.4 Uji Daya Lekat
0,5 gram sediaan ditahan beban 1.000g selama 1 menit lalu diukur daya lekatnya
dengan beban 80g.
Tabel 6.3 Uji Daya Lekat
Gel
1
2
3

Pengamatan
0,035 detik
0,025 detik
0,062 detik

6.1.5 Uji Daya Sebar


0,5 gram sediaan ditahan dengan beban 50, 100, 150, 200 gram selama 1 menit dan
diukur diameternya
Tabel 6.4 Uji Daya Sebar
19

Uji Data Sebar Pengujian

Penambahan Beban (g)

Hasil Pengujian (cm)

Tanpa beban

2,75

II

Mika

10

III

50

12

IV

100

12,75

150

12,75

6.2.

Pembahasan
Pada praktikum ini dibuat sediaan gel dengan zat aktif asam salisilat dan memiliki

bobot 10 gram pada masing-masing kemasan. Pada praktikum ini dilakukan analisis terhadap
pengaruh variasi konsentrasi xantham gum dalam sediaan gel asam salisilat. Dimana dibuat
empat formulasi dengan masing-masing konsentrasi xanthan gum berturut-turut yaitu 0,2 %,
0,275%, 0,425% dan 0,5 %.
Gel terkadang disebut jeli, merupakan sistem semipadat yang terdiri dari suspensi
yang dibuat dari partikel anorganik yang kecil atau molekul organik yang besar, terpenetrasi
oleh suatu cairan. Penampilan gel, transparan atau berbentuk suspensi partikel koloid yang
terdispersi, dimana dengan jumlah pelarut yang cukup banyak membentuk gel koloid yang
mempunyai struktur tiga dimensi. Gel dapat digunakan untuk obat yang diberikan secara
topikal atau dimasukkan ke dalam lubang tubuh (Depkes RI, 2014). Sediaan gel merupakan
suatu sistem setengah padat yang terdiri dari suatu sistem dispersi yang tersusun baik dari
partikel anorganik yang kecil atau molekul organik besar dan saling diresapi cairan (Ansel,
1989).
Sediaan gel asam salisilat yang dibuat pada praktikum kali ini mengandung zat aktif
asam salisilat. Asam salisilat memiliki bersifat keratolitik digunakan secara topikal dalam
pengobatan hyperkeratorisis, dan kondisi kulit bersisik seperti ketombe, dermatitis seboroik,
ichthyosis, psoriasis dan jerawat (kazung). Bahan-bahan tambahan yang digunakan dalam
sediaan gel ini adalah xanthan gum yang berfungsi sebagai gelling agent (basis),
propilenglikol dan gliserin sebagai zat pembasah; metil paraben dan profil paraben sebagai
pengawet, akuades sebagai pengembang xanthan gum, dan etanol 70% sebagai pelarut yang
mampu meningkatkan kelarutan zat aktif asam salisilat yang sukar larut dalam air. Pemilihan
bahan tambahan ini bertujuan untuk membentuk sifat padatan gel yang cukup baik selama
penyimpanan dan menentukan sifat karakteristik gel sehingga sesuai dengan tujuan
penggunaannya.
20

Gelling agent yang digunakan adalah Xanthan Gum dengan pelarut air yang bersifat
hidrofilik sehingga pada nantinya akan terbentuk hidrogel. Hidrogel pada umumnya terbentuk
oleh molekul polimer hidrofilik yang saling sambung silang melalui ikatan kimia atau gaya
kohesi seperti interaksi ionik, ikatan hidrogen atau interaksi hidrofobik. Keuntungan
pembuatan sediaan hidrogel adalah memiliki efek pendinginan pada kulit saat digunakan,
penampilan sediaan yang jernih dan elegan, pada pemakaian di kulit setelah kering
meninggalkan film tembus pandang, elastis, daya lekat tinggi yang tidak menyumbat pori
sehingga pernapasan pori tidak terganggu, mudah dicuci dengan air, pelepasan obatnya baik
dan kemampuan penyebarannya pada kulit baik. Alasan pemilihan gelling agent Xanthan
Gum karena Xanthan gum merupakan bahan yang stabil. Stabil pada kisaran pH yang lebar
(pH 3-12), dengan stabilitas maksimum pada pH 4-10 dan suhu 10-60C (Rowe, et al., 2009).
Pada proses formulasi diawali dengan pengembangan xanthan gum (gelling agent)
dengan cara membuat mucilago dari Xanthan Gum dan air dengan perbandingan 1;1. Gel
dapat mengembang karena Xanthan Gum dapat mengabsorbsi pelarut air yang mengakibatkan
terjadi pertambahan volume. Pelarut akan berpenetrasi diantara matriks gel dan terjadi
interaksi antar pelarut dengan Xanthan Gum untuk membentuk massa gel. Pengembangan gel
kurang sempurna bila terjadi ikatan silang antar polimer di dalam matriks gel yang dapat
menyebabkan kelarutan komponen gel berkurang. Cara pembuatan mucilago dengan cara
seperti diatas menghasilkan mucilago yang tidak memenuhi syarat sebagai gel. Selanjutnya,
dilakukan pengecilan ukuran partikel asam salisilat dengan cara digerus menggunakan mortar
dan stamper sehingga asam salisilat yang awalnya berbentuk hablur diharapkan memiliki
ukuran partikel yang homogen. Selanjutnya asam salisilat ditambahkan zat pembasah yaitu
gliserin dan propilenglikol di dalam mortir. Dalam hal ini penambahan humektan
dimaksudkan sebagai pembasah dan sekaligus untuk meningkatkan kelarutan zat aktif yaitu
asam salisilat karena zat aktif memiliki sifat yang sukar larut dalam air atau dengan kata lain
untuk meningkatkan dispersi bahan yang tidak larut dalam cairan pendispersinya. Fungsi
gliserin selain sebagai humektan juga berfungsi sebagai peningkat viskositas sediaan sehingga
gel yang dihasilkan tidak terlalu encer, sehingga sediaan nantinya diharapkan sediaan dapat
melekat pada kulit. Selain itu juga ditambahkan etanol 70% yang bertujuan untuk
meningkatkan kelarutan asam salisilat sesuai dengan kelarutannya. Kemudian, ke dalam
campuran asam salisilat, gliserin dan propilenglikol ditambahkan metil paraben dan propil
paraben sebagai pengawet yang bertujuan untuk mencegah pertumbuhan bakteri karena dalam
sediaan gel yang dibuat mengandung air yang merupakan media pertumbuhan yang baik bagi
21

bakteri. Metil paraben merupakan zat yang bersifat polar sehingga sesuai dengan sifat air
yang juga polar sehingga metil paraben dapat larut dalam air. Campuran bahan-bahan di atas
diatas dituangkan ke dalam mucilago Xanthan Gum, lalu diaduk hingga mengental dan
menjadi gel. Gel yang telah jadi kemudian ditimbang untuk mengetahui kekurangan bobot 1
sediaan kemudian gel yang telah ditimbang ditambahkan dengan mucilago Xanthan Gum
hingga bobot mencapai 10 gram untuk 1 sediaan. Proses ini dilakukan untuk membuat 3 buah
sediaan gel dengan bobot masing-masing sediaan gel seberat 10 gram. Gel yang telah siap,
kemudian dimasukkan ke dalam tube yang terbuat dari aluminium, hal ini disesabkan karena
sifat inkompatibilitas metal paraben dan profil paraben terhadap bahan plastik. Gel harus
disimpan dalam wadah yang tertutup baik agar tetap stabil selama penyimpanan. Sediaan
dikemas dengan baik dan diberi etiket serta dimasukkan ke dalam kemasan. Dihasilkan gel
asam salisilat yang berwarna putih, agak cair dan tidak berbau. Sediaan gel yang masih agak
cair ini dikarenakan pengembangan mucilago Xanthan Gum yang belum sempurna dan
pengadukan yang hanya dilakukan secara manual sehingga pengadukan tidak konstan.
Setelah sediaan gel jadi dilanjutkan dengan melakukan evaluasi terhadap sediaan gel
asam salisilat yang dihasilkan, dimana evaluasi yang dilakukan adalah uji organoleptis, uji
homogenitas, uji pH, uji daya sebar dan uji daya lekat. Uji organoleptis dilakukan dengan
mengamati warna, bau, tekstur dan bentuk. Pada formulasi I dan III warna yang dihasilkan
putih, berbau asam, dengan tekstur lembut dan bentuk berupa cairan dengan sedikit gumpalan
sedangkan pada formulasi II dan IV mempunyai warna putih, tidak berbau, tekstur lembut
dan bentuk berupa cairan dengan sedikit gumpalan. Hal ini

diakibatkan karena ini

pengembangan mucilago Xanthan Gum yang belum sempurna sehingga diperoleh sediaan
yang cair. Hal ini dapat juga disebabkan karena konsentrasi xanthan gum yang sangat kecil
yakni hanya 0,2 %, 0,275%, 0,425% dan 0,5% sedangkan berdasarkan pustaka untuk
membentuk gel dibutuhkan konsentrasi xanthan gum sebesar 2-3% (Tranggono, 2007).
Uji homogenitas dilakukan dengan mengoleskan gel diatas gelas objek kemudian
diratakan, kemudian dilakukan pengamatan secara visual. Hasil yang diperoleh untuk semua
formulasi menunjukkan adanya butiran-butiran yang tidak merata pada sepanjang daerah yang
dioleskan hal ini menunjukkan sediaan gel asam salisilat yang dihasilkan belum homogen.
Butiran ini diduga merupakan asam salisilat yang kurang larut dalam sediaan yang disebabkan
karena pengecilan ukuran partikel yang kurang optimal.
Uji pH dilakukan dengan menggunakan pH meter yang sebelumnya telah dikalibrasi
dengan akuades pada pH 7 dan larutan asam pada pH 4. Sebelum dilakukan pengujian pH,
22

sediaan diencerkan terlebih dahulu dengan menggunakan akuades. Berdasarkan uji pH yang
telah dilakukan terhadap gel asam salisilat formulasi I,II,III, dan IV dihasilkan memiliki pH di
bawah batasan pH kulit yaitu antara 4,5 6,5 (Tranggono, 2007) berturut-turut 2,96-2,99; 2,73,7; 2,81-2,85 dan 2,85-2,88. Dari data tersebut dapat dikatakan adanya variasi kadar xantham
gum mempengaruhi nilai pH sediaan gel asam salisilat yang dihasilkan. Hasil yang diperoleh
menunjukkan pH cenderung bersifat asam, hal ini dapat diakibatkan karena zat aktif yang
digunakan berupa asam salisilat.
Uji daya sebar dilakukan dengan menimbang 0,5 gram gel diletakkan diatas kaca
dengan kertas millimeter block dibawah kaca dan bagian atas dilapisi dengan mika, pengujian
ini dilakukan dengan memberikan beban secara bertingkat. Beban yang diberikan berturutturut yaitu tanpa beban, plastik mika, anak timbang 50 g, 100 g dan 150 g. Berdasarkan uji
daya sebar diperoleh daya sebar formulasi I yaitu 2;2;3;3,5;3,75, formulasi II yaitu
2,5;2,5;3,25; 4,083; 4,25, formulasi III yaitu 2,75;10;12;12,75;12,75 dan formulasi IV yaitu
2;3;4;4. Data yang diperoleh menunjukkan dengan meningkatnya beban maka daya sebar
yang dihasilkan semakin luas dan juga peningkatan konsentrasi xanthan gum menyebabkan
konsistensi menjadi lebih encer sehingga meningkatkan daya sebar gel. Berdasarkan hasil
pengujian ini dapat dikatakan gel yang dihasilkan menunjukkan konsistensi semisolid yang
nyaman daya sebar 5 - 7 cm (Garg et al., 2003) kecuali pada formulasi III menunjukkan
konsistensi semisolid yang tidak nyaman dalam penggunaan.
Uji daya lekat dilakuakn dengan menimbang sebanyak 0,5 gram sediaan kemudian
ditahan beban 1 gram selama 1 menit kemudian diukur daya lekatnya dengan beban 80 g.
Hasil uji daya lekat pada formulasi I,II,III, dan IV yang diperoleh berturut-turut 0,267 detik;
0,483 detik; 0,0406 detik dan 0,693 detik. Hasil ini menunjukkan dengan meningkatkan
konsentrasi xanthan gum terjadi peningkatan daya lekat yang tidak signifikan kecuali pada
formulasi III. Adapun syarat waktu daya lekat yang baik adalah tidak kurang dari 4 detik
(Selfie, dkk., 2013). Berdasarkan hasil uji yang dilakukan maka sediaan yang dihasilkan
belum memenuhi syarat daya lekat. Semakin lama gel melekat pada kulit maka efek yang
ditimbulkan juga semakin besar.

23

BAB VII
KESIMPULAN DAN SARAN
7.1. Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa adanya pengaruh
variasi konsentrasi xantham gum terhadap organoleptik, pH, daya lekat dan daya sebar dalam
formulasi sediaan gel asam salisilat 5%.
7.2. Saran
1. Perlu dilakukan standarisasi mutu bahan yang digunakan sehingga dapat
menghasilkan sediaan gel asam salisilat 5% yang lebih baik.
2. Perlu dilakukan persamaan persepsi dalam proses formulasi dan evaluasi antar
praktikan sehingga faktor perbedaan praktikan tidak berpengaruh signifikan terhadap
hasil yang diperoleh.

24

DAFTAR PUSTAKA

Ansel, H. C. 2008. Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi. Jakarta: UI Press.


Astuti I. Y., D. Hartanti, dan A. Aminiati. 2010. Peningkatan Aktivitas Antijamur Candida
albicans Salep Minyak Atsiri Daun Sirih (Piper bettle LINN.) melalui Pembentukan
Kompleks Inklusi dengan -siklodekstrin. Majalah Obat Tradisional. 15: 94-99
Depkes RI. 1995. Farmakope Indonesia IV. Jakarta: Departemen Kesehatan Republik
Indonesia.
Depkes RI. 2014. Farmakope Indonesia. Edisi V. Jakarta: Departemen Kesehatan
Republik Indonesia.
Ditjen POM. 1985. Formularium Kosmetika Indonesia. Jakarta: Departemen Kesehatan RI.
Garg, A., D. Aggarwal, S. Garg, and A.K. Sigla. 2003. Spreading of Semisolid
Formulation: An Update. Pharmaceutical Tecnology. 84-102.
Katzung, B. G. 2009. Basic and Clinical Pharmacology. 11th Edition. San Fransisco: Lange
Medical Book.
Rowe, C. R, Sheskey P. J., and Quinn, M. T. 2009. Handbook of Pahramceutical Exipient 16th
edition. London: Pharamceutical Press
Selfie, P. J., Ulaen., Y. Banne., dan R. A. Suatan. 2013. Pembuatan Salep Anti Jerawat dari
Ekstrak rimpang Temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb.). Jurusan Farmasi
Politeknik Kesehatan Kemenkes Manado
Tranggono, R. I. 2007. Buku Pegangan Ilmu Pengetahuan Kosmetika. Jakarta: PT. Gramedia
Pustaka Utama.

25

26