Anda di halaman 1dari 3

Patofisiologi

Perubahan involusional pada palpebra inferior melibatkan beberapa mekanisme yang


saling berinteraksi satu sama lain meliputi degenerasi serabut serabut kolagen akibat
penuaan, efek gravitasi, serta enoftalmus akibat atrofi dan atau prolaps lemak orbita berkaitan
dengan faktor usia. Palpebra inferior menjadi lumpuh akibat relaksasi berlebihan dari
jaringan, serta atonik akibat denervasi muskulus orbikularis.10
Berbagai hipotesis telah dikemukakan sebagai dasar patogenesis terjadinya ektropion
involusional. Tiga faktor utama yang terlibat di dalamnya yakni pengenduran horizontal
palpebra inferior, terutama pada tendon kantus lateral, pengenduran tendon kantus medial,
dan yang ketiga adalah disinsersi dari retraktor palpebra inferior. Pengenduran dapat
disebabkan oleh perubahan involusional atau proptosis kronik (axial ocular globe
projection).8,10 Ketidakseimbangan ukuran antara isi orbita dengan palpebra juga berperan
dalam timbulnya pengenduran. Terjadi penurunan isi orbita dikarenakan oleh atrofi lemak
orbita dan melemahnya ligamen ligament inferior orbita sebagai penyokong. Pengenduran
tendon kantus medial dapat menyebabkan eversi pungtum tanpa ektropion seluruh palpebra
inferior yang terlihat nyata. Disinsersi retraktor palpebra inferior mungkin kurang penting
pada ektropion dibandingkan dengan pada patogenesis entropion, akan tetapi bila disinsersi
ini didapatkan, maka dapat terjadi ektropion involusional subtipe tarsal. Faktor faktor
tersebut saling berkorelasi satu sama lain, menyebabkan pemanjangan horizontal palpebra
inferior, dan terjadi eversi palpebra.8,10
Data statistik menunjukkan bahwa pasien pasien ektropion involusional mempunyai
tarsus yang lebih besar dari ukuran normal sesuai dengan usianya. Diperkirakan bahwa hal ini
disebabkan karena pasien ektropion involusional mengalami proses atrofi akibat penuaan
pada tarsus yang lebih lambat. Meskipun demikian, pengenduran kantus bersamaan dengan
penurunan tonus muskulus orbikularis preseptal dan pretarsal tetap dapat menimbulkan
vektor mekanik atau gaya gravitasi yang cukup besar untuk menarik tarsus yang lebar ini
sehingga terjadi eversi kelopak mata. Temuan tersebut membuat para ahli berpendapat bahwa
tarsus yang lebar merupakan faktor etiologi utama yang berperan dalam patogenesis
ektropion involusional, dan bukan merupakan akibat sekunder dari tertariknya tarsus akibat
pengenduran tendon.8,10

Gambaran klinis ektropion berdasarkan gambaran palpebra. A. Ektropion medial. B.


Ektropion generalisata dengan retraksi kelopak mata. C. Ektropion tarsal, dengan perbalikan
total dari tarsus. D. Ektropion sikatrik yang berkembang dari eksplorasi dasar orbita.
Sumber : http://www.oculist.net/
Daftar pustaka:
8. The College of Ophtometrists. Ectropion: clinical management guidelines. 2009. Ver 4.
p.1-3.
10. Cartes S, Chang J, Aguilar G, Rathbun JE, Seiff SR. Involutional entropion and ectropion
of the Asian lower eyelid. Ophthal Plast Reconstr Surg. 2000;16(1):45-9.
11. Marshall JA, Valenzuela AA, Strutton GM, Sullivan TJ. Anterior lamella actinic changes
as a factor in involutional eyelid malposition. Ophthal Plast Reconstr Surg.
2006;22(3):192-4.

Komplikasi
Kondisi ektropion yang dibiarkan secara terus menerus, akan menyebabkan kontak antara
palpebra dan bola mata menjadi kurang dan aposisi palpebra menjadi tidak sempurna dengan
eversi margin palpebra.1,7 Puntum lakrimal yang menghadap ke arah luar dapat menyebabkan
epifora.3 Tereskposnya konjungtiva tarsal dalam jangka waktu lama dapat mencetuskan
inflamasi, yang kemudian dapat berkembang menjadi konjungtivitis, keratitis maupun
keratokonjungtivitis.3,7 Inflamasi konjungtiva tarsal yang kronik akan memicu hipertrofi dan

keratinisasi.1,7 Fungsi kelenjar kelenjar palpebra juga dapat terganggu dan terinflamasi
sehingga terjadi meibomitis, blefaritis, maupun trikiasis.7

a.

b.

Gambar komplikasi ektropion. A. Konjungtivitis B. Meibomitis


Sumber : www.hopkinsmedicine.org

Daftar Pustaka:
1. Holds JB, Chang WJ, Dailey RS, Foster JA, Kazim M, McCulley TJ, et al, editors.
Orbit, eyelid and lacrimal system. Basic and clinical science course 2009 2010
Section 7. American Academy of Ophthalmology: San Francisco; 2009. p. 141-7,
201-5.
3. Marzouk MA, Shouman AA, Elzakzouk ES, Elnaggar MTA. Lateral tarsal strip
technique for correction of lower eyelid ectropion. Journal of American Science.
2011;7(5):394-405.
7. Schellini SA, Hoyama E, Shiratori CA, Marques MEA, Padovani CR. Eyelid
alterations in involutional ectropion. J Clinic Experiment Ophthalmol. 2011;2(3):1-3.

Anda mungkin juga menyukai