Anda di halaman 1dari 8

JOB II

PENGUJIAN KONSISTENSI NORMAL


A. TUJUAN
Untuk menentukan banyaknya air yang dipakai dalam pencampuran semen
sehingga tercapai kondisi kebasahan pasta semen dalam keadaan konsistensi
normal.
B. DASAR TEORI
Pengujian konsistensi

normal

dilakukan dengan menggunakan flow

table (meja leleh) atau dengan alat vicat. Dengan menggunakan alat flow table
(meja leleh) dapat dicari banyaknya air yang digunakan untuk menghasilkan
semen dalam keadaan konsistensi

normal. Konsisten normal tercapai apabila

nilai leleh (flow rate) berkisar 110 % - 120 %.


Konsistensi normal semen adalah suatu kondisi standar yang menunjukkan
kebasahan ideal pada pasta semen. Kebutuhan air yang sesuai untuk dicampur
semen portland sangatlah penting untuk diperhitungkan sebelum dipergunakan,
sebab terlalu banyak air akan encer sehingga sulit untuk dipergunakan. Demikian
pula bila kekurangan air akan kering dan juga sulit untuk dipergunakan. Untuk
itulah sebelum semen portland digunakan, perlu diuji terlebih dahulu kebutuhan
airnya sehingga pada waktu pemakaian tidak kelebihan ataupun kekurangan air.
Konsistensi semen portland lebih banyak pengaruhnya pada saat pencampuran
awal, yaitu pada saat terjadi pengikatan sampai pada saat beton mengeras.
Konsistensi yang terjadi bergantung pada rasio antara semen dan air serta aspekaspek bahan semen seperti kehalusan dan kecepatan hidrasi.
Flow rate (nilai leleh)dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut:

D1 D0
D0
FR =

x 100%

Dimana :
D0 = Diameter cincin konik
D1 = Diameter pasta setelah diketuk (D rata-rata)

Untuk mendapatkan D rata-rata diperlukan rumus sebagai berikut

D1 =

d1 d 2 d 3 d 4
4

C. PERALATAN DAN BAHAN


1. Alat
1. Meja leleh (Flow table)
2. Mesin pengaduk
3. Stopwach
4. Mistar baja
5. Saringan no.40
6. Cincin konik
7. Timbangan digital
8. Spatula
9. Gelas ukur
10. Talam.
11. Sarung tangan plastik
2. Bahan
1. Semen portland 650 gram
2. Air 29%

D. LANGKAH KERJA
1.

Menyiapkan alat dan bahan yang akan digunakan

2.

Menyaring semen portland dengan menggunakan saringan no.40 lalu


masukkan ke dalam talam.

3.

Menimbang semen portland sebanyak 650 gram dan air sebanyak 29%
dari berat semen portland dengan menggunakan timbangan digital.

4.

Memasukkan air dan semen portland ke dalam tromol mesin pengaduk


lalu diamkan selama 30 detik dengan memperhatikan stopwatch.

5.

Menjalankan mesin pengaduk dengan kecepatan (140 5) rpm selama


1 menit.

6.

Menghentikan mesin pengaduk selama 15 detik, selama itu bersihkan


dinding tromol dari pasta yang menempel dengan spatula.

7.

Menjalankan kembali mesin pengaduk dengan kecepatan (285 10)


rpm selama 1 menit.

8.

Setelah itu ambil adonan pasta sebesar kepalan tangan.

9.

Buatlah pasta berbentuk bola dengan menggunakan tangan kemudian


lempar-lemparkan dari satu tangan ketangan lainnya dengan jarak 15 cm
sebanyak 6 kali lemparan.

10.

Mengukur terlebih dahulu diameter cincin konik sebelum (D0)

11.

Memasukkan bola pasta ke dalam cincin konik sambil menekan cincin


konik, sehingga cincin konik penuh dengan pasta.

12.

Meratakan cincin konik dengan spatula, hingga permukaan pasta rata


betul dengan tinggi cincin konik.

10. Menentukan konsistensi normal semen portland dengan cara :


-

Menyiapkan meja leleh dan cincin konik yang berisi pasta


semen diletakkan pada tengah-tengah meja sesuai dengan garis-garis
yang ada pada meja tersebut.

Melepaskan cincin konik secara vertikal dan perlahan-lahan.

Memutar tuas penggerak dalam waktu 15 detik dengan


ketentuan minimal 25 kali ketukan.

Mengukur diameter pasta sesuai dengan garis-garis yang ada


pada meja lalu merata-ratakan hasil pengukuran tersebut (D1).

Menghitung konsistensi normal pada semen portland.

11. Melakukan percobaan tersebut hingga mencapai konsistensi normal yang


disyaratkan.
E. DATA HASIL PERCOBAAN
NO
1
2
3
4
5

Uraian
Diameter pasta sebelum di ketuk (D0)
Diameter pasta setelah di ketuk (d1)
Diameter pasta setelah di ketuk (d2)
Diameter pasta setelah di ketuk (d3)
Diameter pasta setelah di ketuk (d4)

F. ANALISA PERHITUNGAN

D1 =

d1 d 2 d 3 d 4
4
D1 D0
D0

Nilai leleh (flow rate) =

x 100%

Dimana :
D0 = Diameter cincin konik
D1 = Diameter pasta setelah diketuk (D rata-rata)
Untuk banyaknya air = 29%
= 650 gram

Ukuran (cm)
10
20.2
20.5
21.2
22

Diameter pasta setelah diketuk (D1) =

d1 d 2 d 3 d 4
4
20.6 20.5 21.2 22
4

= 21.075 cm

D1 D0
D0
Nilai leleh (flow rate)

x 100 %
21.075 10
10

x 100 %

= 110,75 %
G. KESIMPULAN
Berdasarkan hasil percobaan konsistensi normal yang didapat

kadar air

29% untuk mencapai kondisi pasta semen dalam keadaan konsistensi


normal,dengan flow rate 110,75% ( berada pada flow rate 110% - 120% ).

H. FOTO ALAT

Meja leleh

Cincin konik

Timbangan digital

Mistar baja

Stopwatch

Talam

Gelas ukur

Mesin pengaduk

Spatula

Sarung Tangan

Saringan no.40

I.

GAMBAR KERJA

Membentuk adonan menjadi bola

Mencetak adonan pada cincin konik

Meletakkan adonan dan cincin

Mengukur diameter adonan setelah

konik di tengah-tengan meja leleh

25 kali ketukan