Anda di halaman 1dari 10

KAJIAN SURAH AL HUJURAT AYAT 10-13

LAPORAN
disusun untuk memenuhi tugas semester dua pada kegiatan tutorial agama Islam
Tutor :
Fanny Azzahra

oleh :
Kelompok 23
Pendidikan Biologi 2015
Desty Nugraheni
Dewi Kusuma Ningtyas
Wilda Robiatul

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI


DEPARTEMEN PENDIDIKAN BIOLOGI
FAKULTAS PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA
BANDUNG
2016

A. Judul
Kajian Surah Al-Hujurat Ayat 10 13
B. Tujuan
Adapun tujuan disusunnya laporan kajian surah Al-Hujurat ayat 10-13 ini, yaitu
memahami dan meneladani isi kandungan QS Al-Hujurat Ayat 10 sampai 13.
C. Pembahasan
Q.S. Al-Hujurat ayat 10 :

1. Artinya : Sesungguhnya orang-orang Mukmin itu bersaudara, karena itu


damaikanlah saudaramu (yang berselisih) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu
mendapat rahmat
2. Isi kandungannya : Allah Swt. berfirman: Innam al-Muminn ikhwah.
(Sesungguhnya orang-orang Mukmin itu bersaudara). Siapapun, asalkan Mukmin,
adalah bersaudara. Sebab, dasar ukhuwah (persaudaraan) adalah kesamaan akidah.
Ayat ini menghendaki ukhuwah kaum Mukmin harus benar-benar kuat, lebih kuat
daripada persaudaraan karena nasab. Hal itu tampak dari:
Pertama, digunakannya kata ikhwahdan kata ikhwanyang merupakan
jamak dari kata akh[un] (saudara). Kata ikhwah dan ikhwan dalam pemakaiannya bisa
saling menggantikan. Namun, umumnya kata ikhwah dipakai untuk menunjuk saudara
senasab, sedangkan ikhwan untuk menunjuk kawan atau sahabat. Dengan memakai
kata ikhwah, ayat ini hendak menyatakan bahwa ukhuwah kaum Muslim itu lebih
daripada persahabatan atau perkawanan biasa.
Kedua, ayat ini diawali dengan kata innam. Meski secara bahasa, kata
innam tidak selalu bermakna hasyr (pembatasan), kata innam dalam ayat ini
memberi makna hasyr. Artinya, tidak ada persaudaraan kecuali antar sesama
Mukmin, dan tidak ada persaudaraan di antara Mukmin dan kafir. Ini mengisyaratkan
bahwa ukhuwah Islam lebih kuat daripada persaudaraan nasab. Persaudaraan nasab
bisa terputus karena perbedaan agama. Sebaliknya, ukhuwah Islam tidak terputus
karena perbedaan nasab. Bahkan, persaudaraan nasab dianggap tidak ada jika kosong

dari persaudaraan (akidah) Islam. Hal ini tampak, misalnya, dalam hal waris. Tidak
ada hak waris antara Mukmin dan kafir dan sebaliknya. Jika seorang Muslim
meninggal dan ia hanya memiliki saudara yang kafir, saudaranya yang kafir itu tidak
boleh mewarisi hartanya, namun harta itu menjadi milik kaum Muslim. Sebaliknya,
jika saudaranya yang kafir itu meninggal, ia tidak boleh mewarisi harta saudaranya
itu.
Kemudian Allah Swt. berfirman: fa ashlih bayna akhawaykum (Karena
itu, damaikanlah kedua saudara kalian). Karena bersaudara, normal dan alaminya
kehidupan mereka diliputi kecintaan, perdamaian, dan persatuan. Jika terjadi
sengketa dan peperangan di antara mereka, itu adalah penyimpangan, yang harus
dikembalikan lagi ke keadaan normal dengan meng-ishlh-kan mereka yang
bersengketa, yakni mengajak mereka untuk mencari solusinya pada hukum Allah dan
Rasul-Nya. Kata akhawaykum (kedua saudara kalian) menunjukkan jumlah paling
sedikit terjadinya persengketaan. Jika dua orang saja yang bersengketa sudah wajib
didamaikan, apalagi jika lebih dari dua orang. Digunakannya kata akhaway (dua
orang saudara) memberikan makna, bahwa sengketa atau pertikaian di antara mereka
tidak mengeluarkan mereka dari tubuh kaum Muslim. Mereka tetap disebut saudara.
Ayat sebelumnya pun menyebut dua kelompok yang saling berperang sebagai
Mukmin. Adapun di-mudhf-kannya kata akhaway dengan kum (kalian, pihak yang
diperintah) lebih menegaskan kewajiban ishlh (mendamaikan) itu sekaligus
menunjukkan takhshsh (pengkhususan) atasnya. Artinya, segala sengketa di antara
sesama Mukmin adalah persoalan internal umat Islam, dan harus mereka selesaikan
sendiri.Perintah dalam ayat ini merupakan penyempurna perintah ayat sebelumnya.
Ayat sebelumnya mengatakan: wa in thifatni min al-Muminna [i]qtatal (jika
ada dua golongan dari kaum Mukmin berperang). Kata thifatni (dua golongan)
dapat membuka celah kesalahan persepsi, seolah ishlh hanya diperintahkan jika dua
kelompok berperang, sedangkan jika dua orang bertikai, apalagi tidak sampai perang
([i]qtatal) seperti hanya saling mencaci dan memaki, dan tidak menimbulkan
kerusakan umum, tidak harus di-ishlh. Karena itu, firman Allah Swt. bayna
akhawaykum itu menutup celah salah persepsi itu. Jadi, meski yang bersengketa
hanya dua orang Muslim dan masih dalam taraf yang paling ringan, ishlh harus
segera dilaksanakan.
Selanjutnya

Allah

Swt.

berfirman:

wa

[i]ttaq

Allh

laallakum

turhamn (dan bertakwalah kalian kepada Allah supaya kalian mendapat rahmat).

Takwa harus dijadikan panduan dalam melakukan ishlh dan semua perkara. Dalam
melakukan ishlh itu, kaum Mukmin harus terikat dengan kebenaran dan keadilan;
tidak berbuat zalim dan tidak condong pada salah satu pihak. Sebab, mereka semua
adalah saudara yang disejajarkan oleh Islam. Artinya, sengketa itu harus diselesaikan
sesuai dengan ketentuan hukum-hukum Allah, yakni ber-tahkm pada syariat. Dengan
begitu, mereka akan mendapat rahmat Allah Swt.
Allah SWT menegaskan dalam ayat sepuluh tersebut bahwa sesungguhnya
orang-orang mukmin itu bersaudara seperti hubungan persaudaraan antara orangorang seketurunan karena sama-sama menganut unsur keimanan yang sama dan kekal.
Setiap muslim memiliki hak atas saudaranya yang sesama muslim. Dalam hadits
riwayat Bukhari dari Anas bin Malik, Rasulullah saw bersabda, Orang muslim itu
adalah saudara orang muslim, jangan berbuat aniaya kepadanya, jangan membuka
aibnya, jangan menyerahkannya kepada musuh, dan jangan meninggikan bagian
rumah sehingga menutup udara tetangganya kecuali dengan izinnya, jangan
mengganggu tetangganya dengan asap makanan dari periuknya kecuali jika ia
memberi segayung dari kuahnya. Jangan membeli buah-buahan untuk anak-anak, lalu
dibawa keluar (diperlihatkan) kepada anak-anak tetangganya kecuali jika mereka
diberi buah-buahan itu. Kemudian Nabi saw bersabda, Peliharalah (norma-norma
pergaulan) tetapi (sayang) hanya sedikit di antara kamu yang memeliharanya. Dalam
hadits shahih lain yang dinyatakan, Apabila seorang muslim mendoakan saudaranya
yang ghaib, maka malaikat berkata Amin, dan semoga kamu pun mendapat seperti
itu.

Q.S. Al-Hujurat ayat 11 :

1. Artinya : Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki


merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih
baik dari mereka. dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan
kumpulan

lainnya,

janganlah

suka

gelaran

yang

(panggilan)

boleh

mencela

jadi
dirimu

mengandung

yang

buruk

yang

direndahkan

sendiri,

ejekan.
sesudah

dan

itu

lebih

baik.

dan

jangan

memanggil

dengan

seburuk-buruk

panggilan

adalah

imandan

barangsiapa

yang

tidak

bertobat, Maka mereka Itulah orang-orang yang zalim.


2. Isi kandungannya: Dalam ayat-ayat yang lalu, Allah SWT menerangkan bagaimana
seharusnya sikap dan akhlak orang-orang mukmin terhadap nabi SAW dan terhadap
orang-orang munafik, maka pada ayat berikut ini Allah menjelaskan bagaimana
sebaiknya pergaulan orang-orang mukmin di tengah-tengah kaum mukminin sendiri.
Di antaranya, mereka dilarang memperolok-olokan saudara-saudaranya mereka,
memanggil-manggil mereka dengan gelar-gelar yang buruk dan berbagai tindakan
yang menjurus kea rah permusuhan dan kedzaliman.
Diriwayatkan bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan tingkah laku kabilah bani
Tamim yang pernah berkunjung kepada Rasulullah SAW, lalu mereka memperolokolokkan beberapa sahabat yang fakir miskin seperti Ammar, Suhaib, Bilal, Khabbab,
Salman Farisi, dan lain-lain karena pakaian mereka sangat sederhana. Adapula yang
mengemukakan bahwa ayat ini diturunkan dengan kisah Siti Safiyah binti Huyay bin
Akhtab yang pernah datang menghadap Rasulullah SAW, melaporkan bahwa
beberapa wanita di Madinah pernah menegur dengan kata-kata yang menyakitkan hati
seperti: Hai perempuan Yahudi, keturunan Yahudi, dan sebagainya, sehingga nabi
SAW bersabda kepadanya: Mengapa tidak engkau jawab saja, ayahku Nabi Harun,
pamanku Nabi Musa, dan suamiku Nabi Muhammad.
Dalam ayat ini, Allah SWT memperingatkan kaum mukmin supaya jangan ada
suatu kaum mengolok-olokkan kaum yang lain karena boleh jadi, mereka yang
diolok-olokkan itu pada sisi Allah jauh lebih mulia dan terhormat dari mereka yang
mengolok-olokkan.
Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah, sabda Rasulullah SAW sebagai
berikut:
Artinya: Sesungguhnya Allah tidak memandang kepada rupamu dan harta
kekayaanmu, akan tetapi ia memandang kepada hatimu dan perbuatanmu.( 247 )

Hadits ini mengandung isyarat bahwa seorang hamba Allah jangan


memastikan kebaikan atau keburukan seseorang semata-mata karena melihat kepada
amal perbuatannya saja, sebab ada kemungkinan seorang tampak mengerjakan amal
kebajikan, padahal Allah melihat di dalam hatinya ada sifat yang tercela, dan
sebaliknya pula mungkin ada seseorang yang kelihatan melakukan sesuatu yang
tampak buruk, akan tetapi Allah melihat dalam hatinya ada rasa penyesalan yang
besar yang mendorong kepadanya bertaubat dari dari dosanya. Maka amal perbuatan
yang nampak dari luar itu, hanya merupakan tanda-tanda saja yang menimbulkan
sangkaan yang kuat, tetapi belum sampai ke tingkat meyakinkan.

QS Al-Hujurat Ayat 12 :

1. Artinya : Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka


(kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. dan janganlah mencaricari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah
seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati?
Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. dan bertakwalah kepada Allah.
Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang. (Al-Hujurat :
12)
2. Isi Kandungannya : Allah memerintahkan kepada seluruh umat-Nya untuk tidak
saling mencurigai atau berburuk sangka sekalipun masih di dalam hati belum sempat
terlontarkan dari mulut. Perbuatan berburuk sangka bisa jadi merupakan cikal bakal
dari fitnah karena belum tentu apa yang kita ketahui atau kita duga tanpa dasar yang
jelas terhadap orang tersebut terbukti kebenarannya.
Dan jangan pula menyukai pembicaraan yang buruk tentang orang lain dan mencari
kesalahan-kesalahan pada diri orang lain sehingga lupa dengan fakta bahwa setiap
manusia pada dasarnya tidak luput dari kesalahan.

Menggunjingkan orang lain bisa dikatakan merupakan kegiatan membicarakan hal-hal


yang tidak berkenan terhadap yang bersangkutan entah itu kesalahan yang pernah
dibuat ataupun aib yang tidak sengaja maupun sengaja diceritakan sebelumnya.
Apabila kita melakukan hal ini, itu berarti kita sedang menggali kesalahan kita sendiri.
Maka, sudah sepatutnya kita hindari perbuatan yang terlihat sepele namun akibat yang
ditimbulkan bisa saja berdampak jauh lebih buruk di kemudian hari.
Di akhir ayat 12 ini ditegaskan bahwa Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha
Penyayang. Sudah sangat jelas disebutkan di sana betapa luar biasa baiknya Allah
yang masih mau menerima taubat kita sebagai umatnya yang tidak jauh dari khilaf.
Maka dari itu, justru kita sebagai umat muslim harus menghindari perbuatan tersebut.
Lebih baik menambah amalan-amalan harian yang lain dibanding istilahnya
mengandalkan terbukanya pintu taubat dari Allah SWT.

QS Al-Hujurat Ayat 13 :







1. Artinya : Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kalian dari seorang lakilaki dan seorang perempuan, serta menjadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersukusuku supaya kalian saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara
kalian di sisi Allah ialah orang yang paling takwa. Sesunggguhnya Allah Maha
Mengetahui lagi Maha Mengenal. (QS al-Hujurat [49]: 13).
2. Isi Kandungan Surat Al Hujurat Ayat 13
a. Manusia diciptakan dengan berjenis, bersuku-suku, dan berbangsa-bangsa;
b. Perintah agar kita saling bersilaturahmi agar saling mengenal;
c. Semua manusia sama derajatnya dihadapan Allah, kecuali orang-orang yang
bertaqwa.
Allah menciptakan manusia dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, dan
menjadikannya berbangsa-bangsa, bersuku-suku, dan berbeda-beda warna kulit bukan
untuk saling menjatuhkan, tetapi saling mengenal dan menolong dalam kehidupan
bermasyarakat.

Allah

tidak

menyukai

orang-orang

yang

memperlihatkan

kesombongan dengan kekayaan karena yang mulia diantara manusia disisi allah
hanyalah orang yang bertakwa kepada-Nya.
Tafsir Surat Al Hujurat Ayat 13
Kebiasaan manusia memandang kemuliaan itu ada sangkut pautnya dengan
kebangsaan dan kekayaan. Padahal menurut pandangan Allah, orang yang mulia itu
adalah orang yang paling bertakwa kepada Allah. Mengapa manusia saling menolokolok sesama saudara hanya karena Allah menjadikan mereka bersuku-suku dan
berkabilah-kabilah yang berbeda-beda, sedangkan Allah menjadikan seperti itu agar
manusia saling mengenal dan saling tolong menolong dan kemaslahatan-maslahatan
mereka yang bermacam-macam. Namun tidak ada kelebihan bagi seseorangpun atas
yang lain, kecuali dengan taqwa dan keshalihan, disamping kesempurnaan jiwa bukan
dengan

hal-hal

yang

bersifat

keduniaan

yang

tidak

pernah

abadi.

Diriwayatkan pula dari Abu Malik Al-Asyari, ia berkata bahwa Rasulullah


bersabda, sesungguhnya Allah tidak memandang kepada pangkat-pangkat kalian
dan tidak pula kepada nasab-nasabmu dan tidak pula pada tubuhmu, dan tidak pula
pada hartamu, akan tetapi memandang pada hatimu. Maka barang siapa mempunyai
hati yang shaleh, maka Allah belas kasih kepadanya. Kalian tak lain adalah anak
cucu Adam. Dan yang paling dicintai Allah hanyalah yang paling bertaqwa diantara
kalian,. Jadi jika kalian hendak berbangga maka banggakanlah taqwamu, artinya
barang siapa yang ingin memperoleh derajat-derajat tinggi hendaklah ia bertaqwa.
Sesungguhnya Allah maha tahu tentang kamu dan amal perbuatanmu, juga maha
waspada tentang hatimu, maka jadikanlah taqwa sebagai bekalmu untuk akhiratmu.

D. Kesimpulan
Berdasarkan diskusi pembahasan mengenai surah Al-Hujurat ayat 10-13 di atas, dapat
kita tarik kesimpulan sebagai berikut.
1. QS Al-Hujurat ayat 10 menjelaskan bahwa setiap muslim itu bersaudara
dengan muslim lainnya. Persaudaraan itu diibaratkan dengan satu tubuh
apabila salah satu tubuh sakit maka yang lain juga merasakanya. Bahkan
apabila perselisihan tida terelakan, maka kita tidak diperbolehkan berselisih
dengan sesama muslim lebih 3 hari.

2. Pada ayat 11, Allah memerintahkan janganlah seorang muslim mengolok-olok


orang lain terutama kepada sesama muslim lainnya baik itu perempuan atau
laki-laki ataupun orang yang tidak mampu.
3. Pada ayat 12 dijelaskan bahwa berburuk sangka maupun menggunjingkan
orang lain adalah perbuatan yang harus dihindari oleh seluruh umat karena
perbuatan itu sama halnya dengan membuka aib sendiri. Ditekankan pula
Allah adalah zat yang maha menerima taubat dan maha penyayang. Seburuk
apapun manusia, tetapi apabila ia bersungguh-sungguh bertaubat ingin
memperbaiki akhlak dan menjauhi seluruh perbuatan jahiliyah, maka Allah
akan mudahkan kepadanya pintu-pintu taubat.
4. Pada ayat 13 dijelaskan bahwa manusia diciptakan-Nya bermacam-macam
bangsa dan suku supaya saling mengenal dan saling menolong dalam
kehidupan bermasyarakat dan tidak ada kemuliaan seseorang di sisi Allah
kecuali dengan ketakwaannya.

DAFTAR PUSTAKA

Aswati, AT. (2014). Nilai-nilai pendidikan etika sosial dalam alquran : kajian qs. al hujurat
ayat 11-13. [Skripsi]. Surabaya: UIN Sunan Ampel.
Dien, Hisyam. (2011). Persaudaraan Islam yang Hakiki (Tafsir QS al-Hujurat [49]: 10).
[Online]. Diakses dari http://www.globalmuslim.web.id/2011/06/persaudaraanislam-yang-hakiki-tafsir.html
Kamin, Nur. (2011). Nilai-nilai pendidikan akhlak dalam al-Quran (kajian tafsir tahlili
surat al-Hujurat ayat 11 dan 12). [Skripsi]. IAIN Walisongo
Ramadhan, M. (2012). Tafsir Surah Al-Hujurat Ayat 11-12. [Online]. Diakses dari
http://stai-kuliahku.blogspot.co.id/2012/03/tafsir-surah-al-hujurat-ayat-11-12.html

10