Anda di halaman 1dari 19

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Kehamilan, melahirkan dan menjadi seorang ibu merupakan fisiologis wanita.
Peristiwa tersebut merupakan masa transisi kehidupan wanita. Banyak yang menganggap
bahwa hal tersebut merupakan proses masa transisi yang menyenangkan dari
kehidupannya. Namun, pada sebagian wanita, masa transisi tersebut menimbulkan stres
sehingga menimbulkan hal negatif dan merasa takut dan cemas dengan kehidupan
barunya. Pada masa ini wanita akan mempunyai risiko terhadap kesehatan fisik maupun
psikis. Gangguan psikis pada ibu pasca melahirkan dikenal dengan depresi postpartum.
Depresi postpartum merupakan suatu depresi yang relatif berat dan timbul setelah
melahirkan (Seminum, 2006).
Depresi merupakan salah satu penyakit gangguan mood. Sebanyak dua pertiga
orang dengan depresi tidak menyadari bahwa mereka memiliki penyakit yang dapat
disembuhkan sehingga tidak mencari pengobatan. Selain itu, kebodohan dan mispersepsi
penyakit oleh masyarakat, termasuk penyedia kesehatan, sebagai suatu kelemahan pribadi
atau kegagalan yang dapat menyebabkan stigmatisasi yang menyakitkan dan menghindari
diagnosa sehingga banyak dari mereka yang terkena dampak (Halverson, 2011).
Depresi postpartum ditandai dengan perasaan depresi dan adanya ide bunuh diri.
Pada kasus yang berat depresi dapat menjadi psikotik, dengan halusinasi, waham dan
pikiran untuk membunuh bayi atau infanticide. Sekitar 20% sampai 40% wanita
melaporkan adanya suatu gangguan emosional atau disfungsi kognitif pada masa pasca
persalinan. Banyak yang melaporkan banyak mengalami kesedihan pasca persalinan atau
yang disebut postpartum blue. Pada satu sampai dua dalam 1.000 kelahiran ditemukan
adanya suatu depresi postpartum (Kaplan, 2010).
Sekitar 10%-15% ibu postpartum pada tahun pertama mengalami depresi
postpartum. Ibu dengan usia muda lebih rentan mengalami hal ini. Berdasarkan hasil dari
Centers for Disease Control and Prevention (CDC) prevalensi depresi postpartum
berkisar antara 11.7% sampai 20.4% pada tahun 2004-2005 (Barclay, 2008). Jika kondisi
ini tidak ditangani dengan baik, maka dapat berkembang menjadi psikosis postpartum
dengan prevalensi 0.1-0.2% (Joy, 2010).
Pada suatu penelitian yang dilakukan di Osaka, Jepang, pada tahun 2010 dengan
jumlah responden sebanyak 771 orang yang menghubungkan pekerjaan, penghasilan, dan
pendidikan dengan kejadian depresi postpartum mendapat hasil prevalensi postpartum
sebanyak 13.8% (Miyake, dkk, 2010). Suatu penelitian tentang perbedaan risiko depresi
1

postpartum antara ibu primipara dengan multipara yang dilakukan di RSIA Aisyiyah
Klaten tahun 2010, dengan jumlah responden sebanyak 44 orang didapati hasil angka
kejadian risiko depresi postpartum ibu primipara dan multipara berbeda berdasarkan usia.
Ibu primipara rentan dengan risiko depresi postpartum pada usia yang lebih muda
dibandingkan ibu multipara (Sari, 2010).
Penelitian yang dilakukan di Boyolali pada tahun 2008 dengan mengambil sampel
sebanyak 30 responden tentang dukungan sosial dengan kejadian depresi postpartum
didapatkan hasil bahwa semakin tinggi dukungan sosial yang diterima ibu maka semakin
menurun tingkat depresi (Dewi, 2008). Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan tahun
2009 pada 50 orang ibu postpartum spontan di bangsal rawat inap RSUP. Haji Adam
Malik Medan didapatkan hasil wanita postpartum yang mendapatkan sindrom depresi
postpartum sebanyak 16% dan yang tidak mengalami depresi postpartum sebanyak 84%
(Sari, 2009).
1.2 Rumusan Masalah
1. Apa definisi dan epidemiologi depresi post partum ?
2. Apa etiologi depresi post partum ?
3.
4.
5.
6.

Bagaimana gambaran klinis depresi post partum ?


Bagaimana perjalanan penyakit depresi post partum ?
Apa edinburgh postnatal depression scale (epds) depresi post partum ?
Bagaiamana penatalaksanaan depresi post partum ?

1.3 Tujuan Masalah


1. Untuk mengetahui definisi dan epidemiologi depresi post partum
2. Untuk mengetahui etiologi depresi post partum
3.
4.
5.
6.

Untuk mengetahui gambaran klinis depresi post partum


Untuk mengetahui perjalanan penyakit depresi post partum
Untuk mengetahui edinburgh postnatal depression scale (epds) depresi post partum
Untuk mengetahui penatalaksanaan depresi post partum

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2

2.1. DEPRESI
2.1.1. Definisi dan Epidemiologi
Depresi merupakan suatu perasaan sedih tertekan (Baihaqi, dkk, 2007).
Depresi termasuk dalam gangguan mood yang utama. Pada pasien depresi akan
merasakan hilangnya energi dan minat, perasaan bersalah, kesulitan konsentrasi,
hilangnya nafsu makan dan berpikir tentang kematian atau bunuh diri (Kaplan,
2010).
Gangguan depresi berat adalah suatu gangguan yang sering ditemukan,
dengan prevalensi seumur hidup kira-kira 15%, kemungkinan setinggi 25% pada
wanita. Prevalensi berdasarkan jenis kelamin, ditemukan bahwa depresi pada
wanita dua kali lebih besar dibandingkan dengan laki-laki. Berdasarkan usia ratarata onset untuk gangguan depresi berat sekitar 40 tahun, 50% dari pasien
memiliki onset antara usia 20-50 tahun. Prevalensi gangguan mood tidak berbeda
dari satu ras dengan ras yang lain. Pada umumnya, depresi paling sering terjadi
pada orang yang tidak memiliki hubungan interpersonal yang erat atau yang
bercerai (Kaplan, 2010).
2.1.2. Etiologi
Dasar umum pada gangguan depresi berat tidak diketahui. Faktor penyebab
dapat dibagi sebagai berikut (Kaplan, 2010):
1. Faktor Biologis
Sejumlah besar penelitian telah melaporkan adanya berbagai kelainan di
dalam metabolit amin biogenik. Dari amin biogenik, norepinefrin dan serotonin
merupakan dua neurotransmiter yang paling berperan dalam patofisiologi
gangguan mood.
2. Faktor Genetika
Data genetik dengan kuat menyatakan genetika merupakan suatu faktor
penting di dalam perkembangan gangguan mood. Pola penurunan genetika
melalui suatu mekanisme penurunan yang kompleks, bukan tidak mungkin
untuk menyingkirkan efek psikososial, tetapi faktor nongenetik kemungkinan
memiliki peranan kausatif yang berperan dalam gangguan mood pada beberapa
orang.

3. Faktor Psikososial
Peristiwa kehidupan dan stres lingkungan merupakan peranan primer
dalam terjadinya depresi. Data yang paling mendukung menyatakan bahwa
peristiwa kehidupan paling berhubungan dengan perkembangan depresi adalah
kehilangan orang tua sebelum usia 11 tahun. Stresor lingkungan yang paling
berhubungan dengan onset suatu episode depresi adalah kehilangan pasangan.
2.1.3. Gejala Psikis dan Somatis
Yang termasuk dalam gejala psikis adalah merasa sedih, susah, tidak
berguna, gagal, putus asa, tidak mempunyai harapan. Yang termasuk gejala
somatis adalah anoreksia, kulit lembab, tekanan darah dan nadi naik turun, tidak
semangat dan sulit tidur. Ada depresi yang disertai dengan penarikan diri dan ada
pula dengan kegelisahan dan agitasi (Baihaqi, dkk, 2007).
2.2. POSTPARTUM
2.2.1 Definisi
Dalam bahasa Latin, waktu tertentu setelah melahirkan anak disebut
puerperium, yaitu dari kata puer yang berarti bayi dan parous yang artinya
melahirkan. Puerperium berarti masa setelah melahirkan bayi (Bahiyatun, 2009).
Masa nifas (puerperium) menurut Sarwono Prawirohardjo dimulai setelah
plasenta lahir dan berakhir ketika alat-alat kandungan kembali seperti ketika
sebelum hamil, berlangsung kira-kira enam minggu (Syafrudin dan Hamidah,
2009).
2.2.2. Periode
Nifas (pueperium) dibagi dalam tiga periode, yaitu (Bahiyatun, 2009):
1. Pueperium dini, adalah kepulihan ketika ibu diperbolehkan berdiri dan
berjalan.
2. Pueperium intermedial, adalah kepulihan menyeluruh alat-alat genital.
3. Remote pueperium, adalah waktu yang diperlukan untuk pulih dan sehat
sempurna, terutama bila masa hamil dan melahirkan terdapat komplikasi.
2.2.3 Perubahan Fisiologis
Perubahan fisiologis pada masa post partum adalah sebagai berikut (Leveno et
al 2009):
4

A. Uterus
Setelah persalinan, kaliber pembuluh ekstrauterus berkurang hingga
hampir mencapai keadaan sebelum hamil. Lubang serviks berkontraksi secara
perlahan, dan selama beberapa hari setelah persalinan lubang ini massih mudah
dimasuki dengan dua jari. Pada akhir minggu pertama, serviks menebal dan
kanalis terbentuk kembali. Os eksternus tidak pulih secara total ke bentuk
pragravidanya. Os eksternus tetap melebar dan cekungan bilateral di tempat
laserasi menetap hingga menjadi tanda serviks para. Setelah dua hari pertama,
uterus mulai menciut, dalam dua minggu uterus telah turun ke dalam rongga
panggul sejati. Ukuran uterus kembali seperti pada keadaan prahamil dalam
waktu sekitar empat minggu.
Tabel 2.1. Tinggi Fundus Uterus dan Berat Uterus Menurut Masa Involusi
Involusi

Tinggi

fundus Berat uterus

Bayi lahir
Uri lahir
1 minggu

uterus
Setinggi pusat
1000 gram
2 jari di bawah pusat
750 gram
Pertengahan
pusat 500 gram

2 minggu

simfisis
Tidak teraba di atas 350 gram

6 minggu
8 minggu

simfisis
Bertambah kecil
Sebesar normal

50 gram
30 gram

Afterpains
Pada multipara, uterus sering berkontraksi dengan kuat pada intervalinterval tertentu dan menimbulkan afterpains. Afterpains terutama dirasakan jika
bayi menyusui karena adanya pelepasan oksitosin, kadang, nyeri ini terasa
sangat hebat hingga pasien memerlukan analgesik, tetapi pada umumnya nyeri
akan berkurang pada hari ketiga postpartum.
Lokia
Pada awal masa nifas, peluruhan jaringan desidua menyebabkan
pengeluaran rabas vagina dengan jumlah bervariasi, rabas ini disebut dengan
lokia. Selama beberapa hari setelah persalinan, lokia mengandung cukup banyak
darah sehingga berwarna merah (lokia rubra). Setelah tiga atau empat hari, lokia
5

menjadi pucat (lokia serosa). Setelah sekitar hari ke-10 karena adanya leukosit
dan penurunan kandungan air, lokia berwarna putih atau putih kekuningan (lokia
alba). Lokia dapat menetap hingga empat minggu.
Subinvolusi
Kata ini menerangkan penghentian atau retardasi involusi, proses saat
uterus secara normal pulih ke ukuran semula pada masa nifas. Hal ini disertai
oleh perdarahan uterus yang ireguler atau berlebihan. Kausa subinvolusi
diantaranya adalah retensi potongan plasenta dan endometritis.
B. Saluran kemih
Kehamilan normal berkaitan dengan peningkatan bermakna air ekstrasel
dan diuresis setelah kehamilan merupakan proses fisiologis untuk membalikkan
keadaan tersebut. Diuresis biasa terjadi antara hari kedua dan kelima postpartum.
C. Vagina
Sama seperti seviks, vagina dan pintu keuar vagina jarang pulih ke
dimensi nulipara. Selain itu, perubahan pada penyangga panggul selama
persalinan mungkin mempermudah timbulnya prolaps uterus dan inkontinensia
urin.
D. Peritoneum dan Dinding Abdomen
Ligamentum latum dan teres memerlukan waktu yang cukup lama untuk
pulih dari peregangan dan pelonggaran yang terjadi selama masa kehamilan.
Dinding abdomen lunak dan lembek karena ruptur serat elastik di kulit.
Pemulihan struktur ini ke keadaan normal membutuhkan waktu beberapa
minggu.
E. Darah
Selama beberapa hari pertama postpartum, konsentrasi hemoglobin dan
hematokrit berfluktuasi dalam tingkat sedang. Pada waktu satu minggu setelah
melahirkan, volume darah hampir kembali ke tingkat nonhamil. Leukositosis dan
trombositosis yang mencolok terjadi selama dan setelah melahirkan. Kadangkadang hitung leukosit mencapai 30.000/l.
6

F. Penurunan Berat Badan


Terjadi penurunan berat badan sekitar 5-6 kg karena evakuasi uterus dan
pengeluaran darah normal. Selain itu, terjadi penurunan berat badan sekitar 2-3
kg melalui diuresis. Sebagian besar wanita mencapai berat badan pada saat
sebelum hamil dalam waktu enam bulan.
G. Payudara
Pada waktu 24 jam pertama setelah melahirkan terjadi sekresi lakteal,
payudara mengalami distensi, menjadi padat, dan nodular.
2.3. DEPRESI POSTPARTUM
2.3.1. Definisi dan Epidemiologi
Depresi postpartum adalah depresi berat yang biasa timbul mulai 1-2 dan 4
minggu setelah melahirkan. Depresi postpartum sangat umum terjadi pada ibu
yang baru melahirkan, khususnya melahirkan anak pertama (Minirth dan Meier,
2001). Namun dapat terjadi pada anak kedua dan ketiga. Wanita yang mengalami
depresi postpartum memiliki risiko untuk mendapatkan episode berulang pada
persalinan selanjutnya (Tomb, 2004).
Depresi postpartum serupa dengan depresi mayor atau minor lainnya yang
dapat timbul kapan saja. Dianggap depresi postpartum jika mulai dalam tiga
sampai enam bulan setelah melahirkan (Lenovo et al, 2009).
Insiden depresi postpartum sedang atau berat atau gangguan bipolar
postpartum berkisar dari 30-200 per 1000 kelahiran hidup (Strigtht, 2005). Depresi
postpartum mengenai sekitar 10% dari semua ibu baru (Curtis, 2000).
Beberapa kelompok wanita memiliki kemungkinan yang jauh lebih besar
mengalami depresi selama masa nifas. Remaja dan wanita yang memiliki riwayat
penyakit depresif memiliki risiko depresi postpartum sekitar 30%. Hampir 70%
wanita yang memiliki riwayat depresi postpartum akan kembali mengalami
gangguan ini. Jika seorang wanita memiliki riwayat depresi postpartum dan saat
ini mengalami blues, kemungkinan wanita tersebut menderita depresi mayor akan
meningkat menjadi 85% (Leveno et al, 2009).
2.3.2. Etiologi
Faktor-faktor yang berperan dalam terjadinya depresi postpartum adalah
sebagai berikut:
7

1. Faktor-faktor predisposisi meliputi riwayat psikosis puerperium, gangguan bipolar


(sebelumnya disebut sebagai manik-depresif), delirium dan halusinasi, perubahan
suasana hati yang cepat agitasi atau bingung dan potensial bunuh diri atau
membunuh anaknya.
2. Depresi postpartum dengan atau tanpa psikosis dilihat dari tiga perspektif, yaitu:

Teori biologis, meliputi perubahan fungsi hipotalamus, kemungkinan


berhubungan dengan pengaruh hormonal yang berubah.

Teori psikologis, meliputi sistem pendukung yang buruk, stres psikologis atau
memiliki hubungan yang kurang baik dengan pasangannya.

Teori sosiokultural, meliputi tingkat kepuasan sosial yang rendah, dukungan,


dan kontrol baik di rumah maupun peran sebagai sebagai orang tua (Strigtht,
2005).

3. Sensitivitas individual ibu terhadap perubahan hormon juga dapat menjadi faktor
penyebab. Penyebab lain yang mungkin adalah adanya riwayat keluarga tentang
depresi, kurang dukungan keluarga setelah melahirkan, isolasi dan keletihan kronis
(Curtis, 2000).
4. Faktor demografi yaitu umur ibu saat kehamilan dan melahirkan yang sering
dikaitkan dengan kesiapan mental untuk menjadi seorang ibu.
5. Faktor pengalaman, depresi postpartum lebih sering ditemukan pada perempuan
yang baru pertama kali melahirkan (primipara)
6. Faktor pendidikan, perempuan yang berpendidikan tinggi menghadapi tekanan
sosial dan konflik peran antara dorongan untuk bekerja dengan peran sebagai ibu
rumah tangga yang harus mengurus anak-anak (Kruckman, 2001 dalam Soep,
2009)
2.3.3. Gambaran Klinis
Gejala pada depresi postpartum adalah sebagai berikut (Leveno et al, 2009;
Syafrudin dan Hamidah, 2009; Stevens, 2002):

Merasa sedih

Suasana hati yang tertekan atau kehilangan minat hampir sepanjang hari

Penurunan atau peningkatan berat badan

Kehilangan nafsu makan

Sulit tidur atau terlalu banyak tidur


8

Rasa lelah dan tidak bersemangat

Iritabilitas dan kemurungan

Tidak memperhatikan bayi

Merasa tidak berharga atau merasa bersalah

Berkurang kemampuan untuk berpikir dan mengambil keputusan

Pikiran bunuh diri atau membunuh bayi

2.3.4 Perjalanan penyakit


Perjalanan alami penyakit adalah dengan adanya perbaikan bertahap dalam
waktu enam bulan setelah persalinan. Kemungkinan untuk pulih sempurna umumnya
baik. Hampir 15% wanita mengalami perjalanan penyakit monofasik disertai pemulihan
total, dan separuhnya memperlihatkan perjalanan multifasik dengan rata-rata 2,5 episode
depresi per pasien dan akhirnya pulih sempurna.
Pada sebagian kasus depresi postpartum dapat bersifat asimtomatik sampai
berbulan-bulan, bahkan sampai bertahun-tahun, keadaan ini dapat mempengaruhi
kualitas hubungan antara ibu dan anaknya. Ibu yang mengalami depresi terbukti kurang
berinteraksi sosial dan bermain dengan anaknya (Leveno et al, 2009)
2.3.5. Edinburgh Postnatal Depression Scale (EPDS)
Antara 8-12% wanita tidak dapat menyesuaikan peran sebagai orang tua dan
menjadi sangat tertekan. Depresi yang terdeteksi secara klinis biasa muncul pada 6-12
minggu pertama postpartum. Dengan alasan itu, ibu diminta untuk mengisi kuesioner
setelah melahirkan (Syafrudin dan Hamidah, 2009).
Ibu yang rentan mengalami depresi postpartum adalah sebagai berikut
(Syafrudin dan Hamidah, 2009):

Mempunyai riwayat keluarga atau riwayat pribadi yang mengalami depresi.

Tidak mempunyai pengalaman merawat orang lain; misalnya saudara kandung, di


masa anak-anak atau remaja.

Memiliki keluarga yang tidak stabil atau kasar di masa anak-anak atau remaja.

Tidak memiliki dukungan positif dari suami selama dan setelah melahirkan.

Pernah didiagnosis menderita depresi selama kehamilan.

Terputus dari saudara dekat atau teman yang dapat merawat bayi dari waktu ke
waktu.
9

Skrining rutin untuk depresi postpartum dapat menggunakan alat pemeriksaan


psikiatrik yang disebut Edinburgh Postnatal Depression Scale (EPDS) yang didisain
oleh Cox, Holden dan Sagovsky. Edinburgh Postnatal Depression Scale dapat
digunakan pada ibu yang sedang rawat inap, home visit, atau pada 6-8 minggu setelah
melahirkan. Edinburgh Postnatal Depression Scale terdiri dari 10 pertanyaan dan dapat
diselesaikan dalam waktu 5 menit (Cox, Holden dan Sagovsky, 1987).
Sepuluh pertanyaan pada EPDS adalah cara yang bernilai dan efisien untuk
mengidentifikasi pasien yang memiliki risiko untuk depresi postpartum, mudah
dijalankan dan telah terbukti menjadi alat skrining yang efektif (Cox, Holden dan
Sagovsky, 1987). Setiap pertanyaan memiliki empat respon yang mungkin, yang dinilai
dari 0 sampai 3. Nilai skor maksimum EPDS adalah 30, jika skor rendah maka lebih
baik. Di United Kingdom, jika skor EPDS 9-10 maka direkomendasikan untuk
menjalani skrining selanjutnya. Pada wanita yang mendapatkan total skor EPDS lebih
dari 10, berisiko tinggi untuk terjadinya depresi postpartum (Wisner, Parry, dan
Piontek, 2002).
Edinburgh Postnatal Depression Scale sudah di-translate dalam berbagai
bahasa dan di validasi di berbagai negara diantaranya Arab, Cina, Belanda, Perancis,
Jerman, Jepang, Norwegia, Vietnam, Malaysia. Edinburgh Postnatal Depression Scale
dalam bahasa Indonesia sudah diterjemahkan (Department of Health Government of
Western Australia, 2006).
Penerjemahan EPDS ke dalam bahasa Indonesia sudah dilakukan dan telah
divalidasi di Jakarta. Hasil studi tersebut membuktikan bahwa instrumen dalam bahasa
Indonesia lebih sahih dan reliable untuk digunakan pada wanita Indonesia
(Kusumadewi, Sari, 2009).
2.3.6 Penatalaksanaan
Secara umum ada dua jenis pengobatan untuk depresi (Joy, Saju. 2010):
Talk Therapy
Melibatkan pembicaraan dengan seorang psikolog, terapis, atau pekerja sosial
untuk belajar mengubah cara pasien depresi dalam berpikir, merasa, dan bertindak.
Terapi Medis
Dokter akan memberikan resep obat antidepresan. Obat-obatan ini dapat
membantu meredakan gejala depresi. Pemberian obat antidepresan juga terbukti bekerja
10

untuk pengobatan depresi postpartum, tetapi penting untuk dicatat bahwa obat ini akan
mempengaruhi ASI yang dikonsumsumsi oleh si bayi. Ada beberapa antidepresan yang
tersedia saat ini dengan efek samping minimal pada bayi.
Metode-metode pengobatan dapat digunakan sendiri atau secara bersamaan. Jika
ibu mengalami depresi, maka akan sangat memengaruhi bayinya. Pengobatan yang
ditangani dengan segera sangat penting bagi ibu maupun bayi.
Menyembuhkan ibu hamil dari depresi pasca melahirkan, bukan saja
memerlukan terapi kelompok dengan panduan psikiater yang benar. Tapi juga
membutuhkan asupan nutrisi yang dapat membuat pemulihan tubuh ibu berlangsung
lebih cepat dan tepat. Menurut Jill Mallory, ibu hamil di Amerika kekurangan lemak
omega-3. Asam lemak omega-3 adalah DHA atau docosahexaenoic acid yang dapat
ditemukan umumnya pada ikan tuna dan salmon, maupun ganggang laut.
Dalam penelitian lain yang jauh sebelumnya dilakukan, plasenta terbukti
mendorong perpindahan DHA dari ibu pada bayi. Menurut Mallory, hal ini terjadi
karena lemak tersebut diserap bayi untuk pertumbuhan otak dan mata, sehingga pada
wanita pasca melahirkan perlu mengembalikan kadar tersebut dalam tubuh. Hal ini
mejeleaskan bagaimana penurunan depresi dapat dilakukan dengan menaikkan asupan
DHA pada ibu, dan jumlah DHA dalam ASI berhubungan dengan depresi postpartum
dan terutama mengkonsumsi ikan yang bermanfaat (Joy, Saju. 2010).
Tanda-tanda yang perlu diawasi selama dan setelah melahirkan
Ketika hamil, atau setelah melahirkan, mungkin saja ibu merasa depresi tapi
tidak menyadarinya. Beberapa perubahan normal selama dan setelah melahirkan dapat
menunjukkan gejala yang mirip dengan depresi. Namun jika ibu mengalami gejala
berikut lebih dari 2 minggu, maka harus dihubungi dokter untuk penanganan segera.
Beberapa wanita tidak memberitahu siapa pun tentang gejala-gejala mereka.
Mereka merasa malu atau bersalah karena merasa tertekan ketika mereka seharusnya
bahagia. Mereka khawatir akan dipandang sebagai orang tua tidak layak (Joy, Saju.
2010).

11

BAB III
TINJAUAN KASUS
Asuhan Kebidanan Pada Ibu Nifas Dengan
Depresi Post Partum Terhadap Ny. Y P1aoh1 Hari Ke 2 Post Partum Di Klinik
Bersalin Sehat Sentosa Padang
Tanggal 12 Juni 2012
SUBJEKTIF :
A. Identitas
Nama
: Yeni Susanti
Nama suami : Jatmiko
Umur
: 21 tahun
umur
: 30 tahun
Agama
: Islam
Agama
: Islam
Pendidikan
: DIII
Pendidikan
: S1
Suku
: Jawa
Suku
: Jawa
Alamat
: Jalan Melati
Alamat
: Jalan melati
B. Anamnesa
1. Keluhan utama
Ibu post partum hari ke 2 mengeluh sangat merasa sedih, tidak ingin melihat
apalagi mendekati bayinya, karena lahir bayi perempuan, ibu tidak nafsu makan,
merasa lelah yang berlebihan dan tidak bisa tidur.
2. Riwayat persalinan
Anak lahir tanggal
: 12 Juni 2012 pukul 12.30 wib
Jenis kelamin
: Perempuan
Jenis persalinan
: Spontan
3. Pola Kehidupan
a. Eliminasi
Sebelum melahirkan : Ibu mengatakan BAB 1 kali sehari, BAK 6-8 kali
perhari
Setelah melahirkan
: Ibu mengatakan BAB 1 kali sehari.BAK 3-4 kali sehari
b. Nutrisi
Sebelum melahirkan : ibu makan 3 kali sehari, dengan porsi 1 piring nasi,
mangkuk sayur, lauk-pauk, tempe, tahu, kadang ikan/ayam. Ibu sering minum
susu, minum 6-8 gelas/hari.
Setelah melahirkan
: ibu makan 2 kali sehari, dengan porsi piring nasi,
mangkuk sayur, lauk-pauk, tempe, tahu, kadang ikan/ayam, minum 6-8
gelas/hari.
c. Istirahat
12

Sebelum melahirkan : ibu mengatakan tidur 7-8 jam /hari.


Setelah melahirkan : ibu mengatakan sulit tidur, tidur 4-5 jam/hari.

d. Aktifitas
Sebelum melahirkan : ibu bekerja dan beraktivitas seperti biasa dengan
sendiri.
Setelah melahirkan
: ibu mengatakan masih perlu bantuan untuk
beraktivitas.
e. Personal hygiene
Sebelum melahirkan
: mandi 2 x sehari, ganti pakaian 2 x sehari, cuci
rambut 3 kali seminggu.
Setelah melahirkan
: mandi 1 x sehari, ganti pakaian 2 x sehari, cuci
rambut 1 x seminggu.
4.

Riwayat Kesehatan Sekarang


Keluhan ibu sekarang adalah sulit tidur, cemas, tidak nafsu makan, perasaan
tidak berdaya, tidak senang melihat bayinya, tidak perhatian terhadap bayinya dan
penampilan dirinya.

5.

Keadaan psikologi
Ibu sedih tidak mau melihat atau merawat bayinya karena bayi lahir
perempuan ibu cemas takut bila suami dan keluarga tidak menyukai bayinya.

OBJEKTIF:
1.
a)
b)
c)

2.

Pemeriksaan Fisik
Keadaan umum : baik
Kesadaran
: composmentis
Tanda-tanda vital :
TD

: 100/70 mmHg

Nadi

: 90 x/menit

Suhu

: 36 C

RR

: 24 x/menit

Pemeriksaan inspeksi

Rambut
Wajah
Mata

skelera tidak ikterik,tidakada pembengkakan.


Payudara
: simetris kanan / kiri, putting menonjol, tidak adabenjolan,

bersih, terjadi pembengkakan.


Abdomen
: TFU 2 hari bawah pusat, tidak ada nyer itekan,

: hitam dan pendek.


: tidak ada oedema dancloasmagravidarum .
: konjungtiva tidak pucat,

terdapat striea lbican dankontraksi baik.

13

Genetalia

: genetalia bersih, tidak adaluka heating, lochea alba,

tidak ada oedema danhemoroid.


Ekstremitas
o Atas
: simetris kanan dan kiri, tidak ada cacat, bebasdigerakkan,
lengkap,dan bersih.
Bawah
: simetris kanan-kiri, tidak ada cacat, bebas di gerakan,

lengkap dan bersih serta tidak ada varices dan oedema.


3.

Pemeriksaan Laboratorium
Darah
Hb

11 gr %

ASSESSMENT :
Ibu Nifas P1A0H1 Hari Ke 2 Dengan Depresi Post Partum.
Dasar :
Ibu P1AoH1 post partum tanggal 12 Juni 2012 pukul 14.00 WIB
Ibu mengatakan sulit tidur, tidak nafsu makan, perasaan tidak berdaya, tidak senang melihat
bayinya, tidak mau mendekati bayinya, tidak ada
perhatian terhadap penampilannya dengan keadaan ibu yang kotor dan lemah.
PENATALAKSANAAN :
1. Melakukan observasi keadaan umum ibu dan tanda vital
E/ ibu dalam kondisi baik
2. Menjelaskan pada ibu bahwa ibu mengalami depresi karena tidak menghendaki lahirnya
anak perempuan, oleh karena itu beri penjelasan pada ibu bahwa anak perempuan maupun
laki-laki sama saja, karena sama-sama titipan Tuhan.
E/ ibu mengerti penjelasan bidan.
3. Menganjurkan keluarga untuk membantu ibu untuk beristirahat dan melakukan aktivitas
E/ keluarga mengerti penjelasan bidan.
4. Membantu ibu memenuhi kebutuhan nutrisi dengan cara menganjurkan ibu untuk makan
3 x sehari dengan menu yang sehat dan bergizi, ibu bisa makan nasi dengan lauk, seperti
tempe, tahu, telor, ikan, atau daging dan menganjurkan ibu banyak makan buah untuk
memulihkan keadaan.
E/ ibu mengerti penjelasan bidan dan akan mengikuti penjelasannya
5. Mengajarkan ibu tentang perawatan bayi yang benar, mandi lap, dan mandi rendam.
Mengajarkan ibu cara perawatan tali pusat dengan kasa steril, kasa tidak boleh basah
dengan alkohol atau betadin.
E/ ibu mengerti penjelasan bidan
14

6. Menganjurkan keluarga dan teman-teman terdekat untuk memberi dukungan untuk


membantu ibu menjalin interaksi dengan anaknya dengan cara menggendong bayinya,
menyusuinya.
E/ keluarga mengerti dan mau mengikuti anjuran bidan
7. Menjelaskan pada ibu bahwa ada beberapa yang dapat memperberat depresi post partum
antara lain :
a.

Ketidak seimbangan hormon yang semakin meningkat.

b.

Lingkungan dan keluarga yang tidak mendukung.

c.

Semangat ibu untuk sembuh sendiri.

E/ ibu mengerti penjelasan bidan


8. Mengajarkan dan menganjurkan suami dan keluarga cara penanganan depresi post partum
pada ibu yaitu :
a. Batasi pengunjung jika kehadiran mereka mengganggu istirahat.
b. Untuk sementara ini hindari konsumsi coklat atau gula berlebihan karena dapat
memicu depresi.
c. Perbanyak mendengar musik favorit agar merasa rileks, disarankan musik-musik
yang menenangkan.
d. Lakukan olahraga atau latihan-latihan ringan.
e. Sesekali berpergianlah agar tidak bosan.
f. Dukungan dari suami dan anggota keluarga lainnya sangat berpengaruh bagi
keadaan psikis ibu
E/ suami dan keluarga mengerti dan mau mengikuti pejeasan bidan
9. Melakukan pendokumentasian

BAB IV
PENUTUP
15

4.1 Kesimpulan
Depresi merupakan suatu perasaan sedih tertekan. Depresi termasuk dalam
gangguan mood yang utama. Pada pasien depresi akan merasakan hilangnya energi dan
minat, perasaan bersalah, kesulitan konsentrasi, hilangnya nafsu makan dan berpikir
tentang kematian atau bunuh diri.
Depresi postpartum adalah depresi berat yang biasa timbul mulai 1-2 dan 4
minggu setelah melahirkan. Depresi postpartum sangat umum terjadi pada ibu yang baru
melahirkan, khususnya melahirkan anak pertama.
Insiden depresi postpartum sedang atau berat atau gangguan bipolar postpartum
berkisar dari 30-200 per 1000 kelahiran hidup. Depresi postpartum mengenai sekitar 10%
dari semua ibu baru.
Antara 8-12% wanita tidak dapat menyesuaikan peran sebagai orang tua dan
menjadi sangat tertekan. Depresi yang terdeteksi secara klinis biasa muncul pada 6-12
minggu pertama postpartum. Dengan alasan itu, ibu diminta untuk mengisi kuesioner
setelah melahirkan
4.2 Saran
Dari hasil pembuatan makalah ini, penulis menyarankan kepada pembaca yaitu
agar pembaca memahami lebih memahami tentang Depresi Postpartum. Demi
kesempurnaan makalah ini, kritik dan saran kami perkenankan dari pembaca.

DAFTAR PUSTAKA
16

Bahiyatun., 2009. Buku Ajar Kebidanan Asuhan Nifas Normal. Jakarta: EGC.
Baihaqi, MIF.dkk, 2007. Psikiatri (Konsep Dasar dan Gangguan-Gangguan). Bandung: PT.
Refika Aditama.
Barclay, Laurie., 2008. Medscape Medical News: Prevalence of Self-Reported Postpartum
Depresisive Symptoms Ranges From 11,7to 20,4%, 57 (14); 361-366.
Cox, J.L., Holden, J.M., & Sagovsky, R., 1987. British Journal of Psychiatry: Detection of
Postnatal Depression. Development of the 10-item Edinburgh Postnatal Depression
Scale. Volume 150: 782-786.
Curtis, Glade B., 2000. Kehamilan di Atas Usia 30. Jakarta: Arcan.
Department of Health, Government of Western Australia, 2006. Using the Edinburgh
Postnatal Depression Scale EPDS Translated into languages Other Than English.
Dewi EP. 2008. Hubungan Antara Dukungan Sosial Dengan Kejadian Depresi Pada Ibu
Postpartum Di Wilayah Kerja Puskesmas Ngemplak Boyolali. Available from:
http://etd.eprints.ums.ac.id/438/ [Accesed April 2013].
Halverson,

Jerry

L.,

2011.

Depression.

Available

from:

http://emedicine.

medscape.com/article/286759-overview. [Accesed 22 April 2013].


Joy, Saju. 2010. Postpartum Depression. Available from: www.medscape.com [Accesed April
2013].
Kaplan, H.I., Sadock, B.J., & Grebb, J.A., 2010. Sinopsis Psikiatri. Tangerang: Binarupa
Aksara Publisher.
Kruckman., 2001. Maternity Nursing: Family, Newborn and Womens Health Care, Education
(18th ed). Philadelpia: Lippincott.

17

Miyake, Yoshihiro., Tanaka, Keiko., Sasaki, Satosi & Hirota, Yoshio. 2010. Employment,
income, and education and risk of postpartum depression: The Osaka Maternal and
Child Health Study. Journal of Affective Disorder. Volume: 130 h-133-137.
Nielsen, D., Videbech, P., Hedegaard, M., Dalby, J. & Secher, N.J., 2000. Postpartum
depression: identification of women at risk. BJOG: An International Journal of
Obstetrics & Gynaecology, 107: 12101217.
Sadock, B.J., Sadock, V.A., 2003. Synopsis Psychiatry. Behavioral Sciences/ Clinical
Psychiatry. Ninth Edition. Lippincott Williams & Wilkins.
Sari, Laila Sylvia., 2009. Sindroma Depresi Pasca Melahirkan Di Rumah Sakit Umum Pusat
Haji

Adam

Malik

Medan.

Available

from:

http://repository.usu.ac.id/handle/123456789/6370 [Accesed April 2013].


Sari, Maya Eka., 2010. Perbedaan Risiko Depresi Postpartum Antara Ibu Primipara Dengan
Multipara

Di

RSIA

Aisyiyah

Klaten.

Available

from:

http://etd.eprints.ums.ac.id/9449/ [Accesed Maret 2013].


Seminum, Yustinus., 2006. Kesehatan Mental 2. Yogyakarta: Penerbit Kanisius.
Stevens, Lise M., 2002. The Journal of the American Medical Assosiation.Volume: 287. No.
6.
Syafrudin., Hamidah., 2009. Kebidanan Komunitas. Jakarta: EGC.
Tomb, David A., 2004. Buku Saku Psikiatri. Jakarta: EGC
Wisner, K.L., Parry, B.L., & Piontek, C.M., 2002. New England Journal of Medicine:
Postpartum Depression.Volume 347:194-199.

18

19