Anda di halaman 1dari 20

LAPORAN PENDAHULUAN GANGGUAN SISTEM PERSYARAFAN

(VERTIGO)

A. PENGERTIAN VERTIGO
Vertigo adalah ilusi gerakan, yaitu pasien merasa bahwa ia sedang berputar dialamraya
(vertigo subyektif) atau bahwa sekelilingnya berputar disekitar dirinya ( vertigo objektif).
Perkataan vertigo berasal dari bahasa Yunani vertere yang artinya memutar. Pengertian
vertigo adalah : sensasi gerakan atau rasa gerak dari tubuh atau lingkungan sekitarnya, dapat
disertai gejala lain, terutama dari jaringan otonomik akibat gangguan alat keseimbangan
tubuh Vertigo mungkin bukan hanya terdiri dari satu gejala pusing saja, melainkan kumpulan
gejala atau sindrom yang terdiri dari gejala somatic (nistagmus, unstable), otonomik (pucat,
Vertigo dapat digolongkan sebagai salah satu bentuk gangguan keseimbangan atau gangguan
orientasi di ruangan. Banyak system atau organ tubuh yang ikut terlibat dalam mengatur dan
mempertahankan keseimbangan tubuh kita. Keseimbangan diatur oleh integrasi berbagai
sistem diantaranya sistem vestibular, system visual dan system somato sensorik
(propioseptik). Untuk memperetahankan keseimbangan diruangan, maka sedikitnya 2 dari 3
sistem system tersebut diatas harus difungsikan dengan baik. Pada vertigo, penderita merasa
atau melihat lingkunganya bergerak atau dirinya bergerak terhadap lingkungannya. Gerakan
yang dialami biasanya berputar namun kadang berbentuk linier seperti mau jatuh atau rasa
ditarik menjauhi bidang vertikal. Pada penderita vertigo kadang-kadang dapat kita saksikan
adanya nistagmus. Nistagmus yaitu gerak ritmik yang involunter dari pada bolamata (Lumban
Tobing, 2003). dingin,mual, muntah) dan pusing.
Vertigo adalah perasaan yang abnormal, mengenai adanya gerakan penderita sekitarnya atau
sekitarnya terhadap penderita; tiba-tiba semuanya serasa berputar atau bergerak naik turun
dihadapannya. Keadaan ini sering disusul dengan muntah-muntah, bekringat, dan kolaps.
Tetapi tidak pernah kehilangan kesadaran. Sering kali disertai gejala-gejala penyakit telinga
lainnya. (Manjoer, Arif, dkk. 2002)
Vertigo juga dapat terjadi pada berbagai kondisi, termasuk kelainan batang otak yang serius,
misalnya skelerosis multiple, infark, dan tumor. (Muttaqin, Arif. 2008)

B. ETIOLOGI
Menurut (Burton, 1990 : 170) yaitu :
1. Lesi vestibular :
o Fisiologik
o Labirinitis
o Meniere
o Obat ; misalnya quinine, salisilat.
o Otitis media
o Motion sickness
o Benign post-traumatic positional vertigo
2. Lesi saraf vestibularis
o Neuroma akustik
o Obat ; misalnya streptomycin
o Neuronitis
o vestibular
3. Lesi batang otak, serebelum atau lobus temporal
o Infark atau perdarahan pons
o Insufisiensi vertebro-basilar
o Migraine arteri basilaris
o Sklerosi diseminata
2

o Tumor
o Siringobulbia
o Epilepsy lobus temporal
Menurut (http://www.kalbefarma.com)
1. Penyakit Sistem Vestibuler Perifer :
o Telinga bagian luar : serumen, benda asing.
o Telinga bagian tengah: retraksi membran timpani, otitis media purulenta akuta,
otitis media dengan efusi, labirintitis, kolesteatoma, rudapaksa dengan
perdarahan.
o Telinga bagian dalam: labirintitis akuta toksika, trauma, serangan vaskular,
alergi, hidrops labirin (morbus Meniere ), mabuk gerakan, vertigo postural.
o Nervus VIII. : infeksi, trauma, tumor.
o Inti Vestibularis: infeksi, trauma, perdarahan, trombosis arteria serebeli
posterior inferior, tumor, sklerosis multipleks.
2. Penyakit SSP :
o Hipoksia Iskemia otak. : Hipertensi kronis, arterios-klerosis, anemia,
hipertensi

kardiovaskular, fibrilasi

atrium

paroksismal,

stenosis

dan

insufisiensi aorta, sindrom sinus karotis, sinkop, hipotensi ortostatik, blok


jantung.
o Infeksi : meningitis, ensefalitis, abses, lues.
o Trauma kepala/ labirin.
o Tumor.
o Migren.
3

o Epilepsi.
3. Kelainan endokrin: hipotiroid, hipoglikemi, hipoparatiroid, tumor medula adrenal,
keadaan menstruasi-hamil-menopause.
4. Kelainan psikiatrik: depresi, neurosa cemas, sindrom hiperventilasi, fobia.
5. Kelainan mata: kelainan proprioseptik.
6. Intoksikasi.
C. PATOFISIOLOGI
1. Anatomi vetigo
Jaringan saraf yang terkait dalam proses timbulnya sindrom vertigo:
a.

Reseptor alat keseimbangan tubuh yang berperan dalam proses transduksi yaitu

mengubah rangsangan menjadi bioelektrokimia:

b.

Reseptor mekanis divestibulum


Resptor cahaya diretina
Resptor mekanis dikulit, otot dan persendian (propioseptik)
Saraf aferen, berperan dalam transmisi menghantarkan impuls ke pusat keseimbangan di

otak:

c.

Saraf vestibularis
Saraf optikus
Saraf spinovestibulosrebelaris.
Pusat-pusat

keseimbangan,

berperan

dalam

proses

modulasi,

komparasi,

integrasi/koordinasi dan persepsi: inti vestibularis, serebelum, kortex serebri, hypotalamusi,


inti akulomotorius, formarsio retikularis.
2. Patofisiologi
Vertigo timbul jika terdapat ketidakcocokan informasi aferen yang disampaikan kepusat
kesadaran. Susunan aferen yang terpenting dalam sistem ini adalah susunan vestibuler atau
keseimbangan, yang secara terus menerus menyampaikan impulsnya ke pusat keseimbangan.
Susunan lain yang berperan ialah sistem optik dan pro-prioseptik, jaras-jaras yang
menghubungkan

nuklei

vestibularis

dengan

nuklei

N.

III,IV

dan

VI,

susunan

vestibuloretikularis, dan vestibulospinalis. Informasi yang berguna untuk keseimbangan


tubuh akan ditangkap oleh reseptor vestibuler, visual, dan proprioseptik; reseptor vestibuler
memberikan kontribusi paling besar, yaitu lebih dari 50 % disusul kemudian reseptor visual
dan yang paling kecil kontribusinya adalah proprioseptik. Dalam kondisi fisiologis/normal,
informasi yang tiba di pusat integrasi alat keseimbangan tubuh berasal dari reseptor
vestibuler, visual dan proprioseptik kanandan kiri akan diperbandingkan, jika semuanya
dalam keadaan sinkron dan wajar, akan diproses lebih lanjut. Respons yang muncul berupa
penyesuaian otot-otot mata dan penggerak tubuh dalam keadaan bergerak. Di samping itu
orang menyadari posisi kepala dan tubuhnya terhadap lingkungan sekitar. Jika fungsi alat
keseimbangan tubuh di perifer atau sentral dalam kondisi tidak normal/ tidak fisiologis, atau
ada rangsang gerakan yang aneh atau berlebihan, maka proses pengolahan informasi akan
terganggu, akibatnya muncul gejala vertigo dan gejala otonom; di samping itu, respons
penyesuaian otot menjadi tidak adekuat sehingga muncul gerakan abnormal yang dapat
berupa nistagmus, unsteadiness, ataksia saat berdiri/ berjalan dan gejala lainnya.
Pathway vertigo

D. KLASIFIKASI VERTIGO
5

Berdasarkan gejala klinisnya, vertigo dapat dibagi atas beberapa kelompok :


1. Vertigo paroksismal Yaitu vertigo yang serangannya datang mendadak, berlangsung
beberapa menit atau hari, kemudian menghilang sempurna; tetapi suatu ketika serangan
tersebut dapat muncul lagi. Di antara serangan, penderita sama sekali bebas keluhan. Vertigo
jenis ini dibedakan menjadi :
1) Yang disertai keluhan telinga : Termasuk kelompok ini adalah : Morbus Meniere,
Arakhnoiditis pontoserebelaris,Sindrom Lermoyes, Sindrom Cogan, tumor fossa cranii
posterior, kelainan gigi/odontogen.
2) Yang tanpa disertai keluhan telinga; termasuk di sini adalah : Serangan iskemisepintas

arteria vertebrobasilaris, Epilepsi, Migren ekuivalen, Vertigo pada anak (Vertigo de


L'enfance), Labirin picu (trigger labyrinth).
3) Yang timbulnya dipengaruhi oleh perubahan posisi, termasuk di sini adalah :Vertigo
posisional paroksismal laten, Vertigo posisional paroksismal benigna. 2. Vertigo kronisYaitu
vertigo yang menetap, keluhannya konstan tanpa (Cermin Dunia KedokteranNo. 144, 2004:
47) serangan akut, dibedakan menjadi:
1) Yang disertai keluhan telinga : Otitis media kronika, meningitis Tb, labirintitis kronis, Lues
serebri, lesi labirin akibat bahan ototoksik, tumor serebelopontin.
2) Tanpa keluhan telinga : Kontusio serebri, ensefalitis pontis, sindrom pascakomosio,
pelagra, siringobulbi, hipoglikemi, sklerosis multipel, kelainan okuler,intoksikasi obat,
kelainan psikis, kelainan kardiovaskuler, kelainan endokrin.
3) Vertigo yang dipengaruhi posisi : Hipotensi ortostatik, Vertigo servikalis.
4) Vertigo yang serangannya mendadak/akut, kemudian berangsur-angsur mengurang,
dibedakan menjadi :
1) Disertai keluhan telinga : Trauma labirin, herpes zoster otikus, labirintitis akuta,perdarahan
labirin, neuritis n.VIII, cedera pada auditiva interna/arteriavestibulokoklearis.
2) Tanpa keluhan telinga : Neuronitis vestibularis, sindrom arteria vestibularisanterior,
ensefalitis vestibularis, vertigo epidemika, sklerosis multipleks, hematobulbi,sumbatan arteria
serebeli inferior posterior.
Ada pula yang membagi vertigo menjadi :
1. Vertigo Vestibuler: akibat kelainan sistem vestibuler.
2. Vertigo Non Vestibuler: akibat kelainan sistem somatosensorik dan visual.

E. TANDA DAN GEJALA VERTIGO

1.

Vertigo Sentral

Gejala yang khas bagi gangguan di batang otak misalnya diplopia, paratesia, perubahan
serisibilitas dan fungsi motorik. Biasanya pasien mengeluh lemah, gangguan koordinasi,
kesulitan

dalam

gerak

supinasi

dan

pronasi

tanyanye

secara

berturut-turut

(dysdiadochokinesia), gangguan berjalan dan gangguan kaseimbangan. Percobaan tunjuk


hidung yaitu pasien disuruh menunjuk jari pemeriksa dan kemudian menunjuk hidungnya
maka akan dilakukan dengan buruk dan terlihat adanya ataksia. Namun pada pasien dengan
vertigo perifer dapat melakukan percobaan tunjuk hidung sacara normal. Penyebab vaskuler
labih sering ditemukan dan mencakup insufisiensi vaskuler berulang, TIA dan strok. Contoh
gangguan disentral (batang otak, serebelum) yang dapat menyebabkan vertigo adalah iskemia
batang otak, tumor difossa posterior, migren basiler.
2.

Vertigo perifer

Lamanya vertigo berlangsung:


a.

Episode (Serangan ) vertigo yang berlangsung beberapa detik.

Vertigo perifer paling sering disebabkan oleh vertigo posisional berigna (VPB). Pencetusnya
adalah perubahan posisi kepala misalnya berguling sewaktu tidur atau menengadah
mengambil barang dirak yang lebih tinggi. Vertigo berlangsung beberapa detik kemudian
mereda. Penyebab vertigo posisional berigna adalah trauma kepala, pembedahan ditelinga
atau oleh neuronitis vestibular prognosisnya baik gejala akan menghilang spontan.
b.

Episode Vertigo yang berlangsung beberapa menit atau jam.

Dapat dijumpai pada penyakit meniere atau vestibulopati berulang. Penyakit meniere
mempunyai trias gejala yaitu ketajaman pendengaran menurun (tuli), vertigo dan tinitus. Usia
penderita biasanya 30-60 tahun pada permulaan munculnya penyakit.
Pada pemeriksaan fisik ditemukan penurunaan pendengaran dan kesulitan dalam berjalan
Tandem dengan mata tertutup. Berjalan tandem yaitu berjalan dengan telapak kaki lurus
kedepan, jika menapak tumit kaki yang satu menyentuh jari kaki lainnya dan membentuk
garis lurus kedepan.
Sedangkan pemeriksaan elektronistagmografi sering memberi bukti bahwa terdapat
penurunan fungsi vertibular perifer. Perjalanan yang khas dari penyakit meniere ialah
terdapat kelompok serangan vertigo yang diselingi oleh masa remisi. Terdapat kemungkinan
bahwa penyakit akhirnya berhenti tidak kambuh lagi pada sebagian terbesar penderitanya dan
7

meninggalkan cacat pendengaran berupa tuli dan timitus dan sewaktu penderita mengalami
disekuilibrium (gangguan keseimbangan) namun bukan vertigo. Penderita sifilis stadium 2
atau 3 awal mungkin mengalami gejala yang serupa dengan penyakit meniere jadi kita harus
memeriksa kemungkinana sifilis pada setiap penderi penyakit meniere.
c.

Serangan Vertigo yang berlangsung beberapa hari sampai beberapa minggu.

Neuronitis vestibular merupakan kelainan yang sering dijumpai pada penyakit ini mulanya
vertigo, nausea, dan muntah yang menyertainya ialah mendadak. Gejala ini berlangsung
beberapa hari sampai beberapa minggu. Sering penderita merasa lebih lega namun tidak
bebas sama sekali dari gejala bila ia berbaring diam.
Pada Neuronitis vestibular fungsi pendengaran tidak terganggu kemungkinannya disebabkan
oleh virus. Pada pemeriksaan fisik dijumpai nistagmus yang menjadi lebih basar
amplitudonya. Jika pandangan digerakkan menjauhi telinga yang terkena penyakit ini akan
mereda secara gradual dalam waktu beberapa hari atau minggu.
Pemeriksaan elektronistagmografi (ENG) menunjukkan penyembuhan total pada beberapa
penyakit namun pada sebagian besar penderita didapatkan gangguan vertibular berbagai
tingkatan. Kadang terdapat pula vertigo posisional benigna. Pada penderita dengan serangan
vertigo mendadak harus ditelusuri kemungkinan stroke serebelar. Nistagmus yang bersifat
sentral tidak berkurang jika dilakukan viksasi visual yaitu mata memandang satu benda yang
tidak bergerak dan nigtamus dapat berubah arah bila arah pandangan berubah. Pada
nistagmus perifer, nigtagmus akan berkurang bila kita menfiksasi pandangan kita suatu benda
contoh penyebab vetigo oleh gangguan system vestibular perifer yaitu mabok kendaraan,
penyakit meniere, vertigo pasca trauma.
N

VERTIGO

O
1

(VESTIBULOGENIK)
Pandangan gelap

Rasa

menurun

Kelumpuhan otot-otot

Jantung berdebar wajah

Sakit kepala yang parah

Hilang keseimbangan

Kesadaran terganggu

Tidak mampu berkonsentrasi

Tidak mampu berkata-kata

Perasaan seperti mabuk

Hilangnya koordinasi

Otot terasa sakit

Mual dan muntah-muntah

Mual dan muntah-muntah

Tubuh terasa lemah

lelah

PERIFERAL VERTIGO

dan

SENTRAL

(NON-VESTIBULER)
Penglihatan ganda

stamina Sukar menelan

10

Memori

11

menurun

dan

daya

pikir

Sensitif pada cahaya terang dan


Suara
Berkeringat

F. MANIFESTASI KLINIS

Perasaan berputar yang kadang-kadang disertai gejala sehubungan dengan reaksi dan lembab
yaitu mual, muntah, rasa kepala berat, nafsu makan turun, lelah, lidah pucat dengan selaput
putih lengket, nadi lemah, puyeng (dizziness), nyeri kepala, penglihatan kabur, tinitus, mulut
pahit, mata merah, mudah tersinggung, gelisah, lidah merah dengan selaput tipis.
G. PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. Pemeriksaan fisik :
a. Pemeriksaan mata
b. Pemeriksaan alat keseimbangan tubuh
c. Pemeriksaan neurologik
d. Pemeriksaan otologik
e. Pemeriksaan fisik umum.
2. Pemeriksaan khusus :
a. ENG (elektronistagmografi)
b. Audiometri dan BAEP
c. Psikiatrik
3. Pemeriksaan tambahan :

a. Laboratorium
b. Radiologik dan Imaging
c. EEG, EMG, dan EKG.
H. PENATALAKSANAAN MEDIS

Terapi

menurut

(Cermin

Dunia

Kedokteran

No.

144,

2004:

48)

Terdiri dari :
1. Terapi kausal.
2. Terapi simtomatik.
3. Terapi rehabilitatif.
I. PENCEGAHAN
1. Melatih posisi duduk. Dalam posisi duduk, pegang sebuah benda sejajar
dengan mata, lalu meliriklah ke kanan dan ke kiri. Masih dengan memegang
benda sejajar dengan mata, coba untuk menoleh ke kanan dan ke kiri.
Lakukanlah latihan ini secara berulang-ulang.
2. Melatih posisi berdiri. Dengan posisi berdiri, cobalah untuk mengayunkan
badan ke depan dan ke belakang. Jika belum stabil, bisa juga memanfaatkan
tembok untuk sedikit menopang tubuh . Lakukanlah cara ini secara rutin setiap
hari.
3. Latihan duduk dengan balance ball. Dengan menggunakan bola keseimbangan
yang biasa digunakan pada senam pilates, cobalah untuk duduk di atasnya.
Secara perlahan, angkat kaki tak menyentuh tanah sehingga tampak seperti
dalam posisi duduk melayang. lakukan latihan ini secara rutin setiap pagi.
4. Latihan berdiri dan berjalan dengan trampolin. Berdirilah di atas trampolin,
dan ayun tubuh ke depan dan ke belakang. Jika ingin berjalan, maka lakukan
gerakan tersebut dengan tatapan menghadap ke depan. Lalu bergantian
lakukan gerakan tersebut dengan menatap ke samping kanan, lalu coba
menatap ke kiri.

10

5. Latihan melempar dan menangkap bola. Latihan ini sangat membantu


mengembalikan keseimbangan dinamis. Agar lebih menyenangkan, Anda bisa
lakukan latihan ini bersama anak atau teman.
6. Latihan cross over step. lakukan latihan ini dengan cara menyilangkan kaki di
depan lalu melangkah ke samping. Praktik seperti ini juga biasa dilakukan
dalam latihan dansa.

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN VERTIGO

A. Pengkajian
1. Aktivitas / Istirahat
o Letih, lemah, malaise
o Keterbatasan gerak
o Ketegangan mata, kesulitan membaca
o Insomnia, bangun pada pagi hari dengan disertai nyeri kepala.

11

o Sakit kepala yang hebat saat perubahan postur tubuh, aktivitas (kerja) atau
karena perubahan cuaca.
2. Sirkulasi
o Riwayat hipertensi
o Denyutan vaskuler, misal daerah temporal.
o Pucat, wajah tampak kemerahan.
3. Integritas Ego
o Faktor-faktor stress emosional/lingkungan tertentu
o Perubahan ketidakmampuan, keputusasaan, ketidakberdayaan depresi
o Kekhawatiran, ansietas, peka rangsangan selama sakit kepala
o Mekanisme refresif/dekensif (sakit kepala kronik).
4. Makanan dan cairan
o Makanan yang tinggi vasorektiknya misalnya kafein, coklat, bawang, keju,
alkohol, anggur, daging, tomat, makan berlemak, jeruk, saus, hotdog, MSG
(pada migrain).
o Mual/muntah, anoreksia (selama nyeri)
o Penurunan berat badan
5. Neurosensoris
o Pening, disorientasi (selama sakit kepala)
o Riwayat kejang, cedera kepala yang baru terjadi, trauma, stroke.
o Aura ; fasialis, olfaktorius, tinitus.
12

o Perubahan visual, sensitif terhadap cahaya/suara yang keras, epitaksis.


o Parastesia, kelemahan progresif/paralysis satu sisi tempore
o Perubahan pada pola bicara/pola pikir
o Mudah terangsang, peka terhadap stimulus.
o Penurunan refleks tendon dalam
o Papiledema.
6. Nyeri/ kenyamanan
o Karakteristik nyeri tergantung pada jenis sakit kepala, misal migrain,
ketegangan otot, cluster, tumor otak, pascatrauma, sinusitis.
o Nyeri, kemerahan, pucat pada daerah wajah.
o Fokus menyempit
o Fokus pada diri sendiri
o Respon emosional / perilaku tak terarah seperti menangis, gelisah.
o Otot-otot daerah leher juga menegang, frigiditas vokal.
7. Keamanan
o Riwayat alergi atau reaksi alergi
o Demam (sakit kepala)
o Gangguan cara berjalan, parastesia, paralisis
o Drainase nasal purulent (sakit kepala pada gangguan sinus).
8. Interaksi sosial
13

o Perubahan dalam tanggung jawab/peran interaksi sosial yang berhubungan


dengan penyakit.
9. Penyuluhan / pembelajaran
o Riwayat hypertensi, migrain, stroke, penyakit pada keluarga
o Penggunaan alcohol/obat lain termasuk kafein. Kontrasepsi oral/hormone,
menopause.

B. Diagnosa Keperawatan (Doengoes, 1999:2021)


1. Nyeri (akut/kronis) berhubungan dengan stress dan ketegangan, iritasi/ tekanan
syaraf, vasospressor, peningkatan intrakranial ditandai dengan menyatakan nyeri yang
dipengaruhi oleh faktor misal, perubahan posisi, perubahan pola tidur, gelisah.
2. Koping individual tak efektif berhubungan dengan ketidak-adekuatan relaksasi,
metode koping tidak adekuat, kelebihan beban kerja.
3. Kurang pengetahuan (kebutuhan belajar) mengenai kondisi dan kebutuhan
pengobatan berhubungan dengan keterbatasan kognitif, tidak mengenal informasi dan
kurang mengingat ditandai oleh memintanya informasi, ketidak-adekuatannya
mengikuti instruksi.

C. Intervensi
Diagnosa Keperawatan
1. Nyeri (akut/kronis) berhubungan dengan stress dan ketegangan, iritasi/ tekanan
syaraf, vasospasme, peningkatan intrakranial ditandai dengan menyatakan nyeri yang

14

dipengaruhi oleh faktor misal, perubahan posisi, perubahan pola tidur, gelisah.
Tujuan : Nyeri hilang atau berkurang.
Kriteria hasil :
klien mengungkapkan rasa nyeri berkurang.
Tanda-tanda vital normal.
Pasien tampak tenang dan rileks.

Intervensi

Rasional

1. Pantau tanda tanda vital, 1.Mengenal

dan

memudahkan

dalam

intensitas/skala nyeri.
melakukan
tindakan
keperawatan.
2. Anjurkan klien istirahat
2.Istirahat untuk mengurangi intensitas
ditempat tidur.
nyeri.
3. Atur posisi pasien senyaman
mungkin.
4. Ajarkan teknik

relaksasi,

3.Posisi yang tepat mengurangi penekanan

dan mencegah ketegangan otot serta


distraksi dan nafas dalam.
5. Kolaborasi dengan dokter mengurangi nyeri.
dalam pemberian analgetik.
4. Relaksasi mengurangi ketegangan dan
membuat perasaaan lebih nyaman.
5.Analgetik berguna untuk mengurangi
nyeri

sehingga pasien

menjadi lebih

nyaman.
2. Koping individual tak efektif berhubungan dengan ketidak-adekuatan relaksasi,
metode koping tidak adekuat, kelebihan beban kerja.
Tujuan : koping individu menjadi lebih adekuat
Kriteria hasil :
Mengidentifikasi perilaku yang tidak efektif.
Mengungkapkan kesadaran tentang kemampuan koping yang dimiliki.
Mengkaji situasi saat ini yang akurat.
Menunjukkan perubahan gaya hidup yang diperlukan atau situasi yang tepat.
Intervensi

rasional

1. Kaji kapasitas fisiologis yang


bersifat umum.
2. Sarankan
klien

1. Mengenal

sejauh

dan

mengidentifikasi
untuk

penyimpangan

fungsi
15

mengekspresikan

fisiologis

perasaannya.
3. Berikan informasi mengenai
penyebab

sakit

kepala,

penenangan dan hasil yang

keuntungan

dari

kegiatan

dan

memudahkan

dalam

melakukan

tindakan

keperawatan.
2. Klien akan merasa kelegaan

diharapkan.
4. Dekati pasien dengan ramah
dan penuh perhatian, ambil

tubuh

setelah

mengungkapkan

segala

perasaannya

dan

menjadi lebih tenang.


3. Agar klien mengetahui

yang diajarkan.

kondisi
yang

dan

pengobatan

diterimanya

dan

memberikan klien harapan


dan semangat untuk pulih
kembali.
4. Untuk
membuat

klien

merasa lebih berarti dan


dihargai.
3. Kurang pengetahuan (kenutuhan belajar) mengenai kondisi dan kebutuhan
pengobatan berhubungan dnegan keterbatasan kognitif, tidak mengenal informasi dan
kurang mengingat ditandai oleh memintanya informasi, ketidak-adekuatannya
mengikuti instruksi.
Tujuan : pasien mengutarakan pemahaman tentang kondisi, efek prosedur dan proses
pengobatan.
Kriteria hasil :

Melakukan prosedur yang diperlukan dan menjelaskan alasan dari suatu

tindakan.
Memulai perubahan gaya hidup yang diperlukan dan ikut serta dalam regimen
perawatan.

intervensi
1. Kaji tingkat pengetahuan klien dan
keluarga tentang penyakitnya.

rasional
1. Mengetahui

seberapa

jauh

pengalaman dan pengetahuan klien


16

2. Berikan penjelasan pada klien tentang


penyakitnya dan kondisinya sekarang.
3. Diskusikan penyebab individual dari
sakit kepala bila diketahui.
4. Minta klien dan keluarga mengulangi
kembali tentang materi yang telah
diberikan.
5. Diskusikan

dan keluarga tentang penyakitnya.


2. Dengan mengetahui penyakit dan

kondisi nya sekarang, klien dan


keluarganya akan merasa tenang dan

mengurangi cemas.
3. Untuk mengurangi kecemasan klien

serta menambah pengetahuan klien


mengenai

pentingnya

posisi atau letak tubuh yang normal.


6. Anjurkan pasien untuk selalu
memperhatikan sakit kepala yang
dialaminya dan faktor faktor yang
berhubungan.

tentang penyakitnya.
4. Mengetahui
seberapa

jauh

pemahaman klien dan keluarga serta

menilai keberhasilan dari tindakan


yang dilakukan.
5. Agar klien mampu melakukan dan

mengubah posisi/letak tubuh yang


kurang baik.
6. Dengan memperhatikan faktor yang

berhubungan klien dapat mengurangi


sakit kepala sendiri dengan tindakan
sederhana,

seperti

berbaring,

beristirahat pada saat serangan.

C. Evaluasi
Evaluasi adalah perbandingan yang sistemik atau terencana tentang kesehatan pasien dengan
tujuan yang telah ditetapkan, dilakukan dengan cara berkesinambungan, dengan melibatkan
pasien,

keluarga

dan

tenaga

kesehatan

lainnya.

(Carpenito,

1999:28)

Tujuan Pemulangan pada vertigo adalah :


1. Nyeri dapat dihilangkan atau diatasi.
2. Perubahan gaya hidup atau perilaku untuk mengontrol atau mencegah kekambuhan.
3. Memahami kebutuhan atau kondisi proses penyakit dan kebutuhan terapeutik.

17

DAFTAR PUSTAKA
Carpernito L.J, 1999.Rencana Asuhan keperawatan dan dokumentasi keperawatan,
DiagnosisKeperawatan dan Masalah Kolaboratif , ed. 2, EGC, Jakarta.
Doenges M. E 1999,Rencana Asuhan Keperawatan pedoman untuk perencanaan
danpendokumentasian pasien, ed.3, EGC, Jakarta.
http://www.kalbefarma.com/Tanggal 6 April 2011Kang L S, 2004.
www.scribd.com/doc/52456463/laporan-pendahuluan-vertigo#scribd

Diakses

pada

hari

sabtu,21 maret 2015 pukul 19:00 wita.


http://hidayat2wordpress.com/2009/04/23/askep-vertigo/ Diakses pada hari sabtu,21 maret
2015 pukul 19.00 wita.
http://odesyafar.wordpress.com/tag/askep-gangguan-sistem-persyarafan-pada-pasien-vertigo/
Diakses pada hari sabtu,221 maret 2015 pukul 20:00 wita.
Pengobatan Vertigo dengan Akupunktur , Cermin Dunia Kedokteran , Jakarta,
William &Wilkins, 2008.Nursing: Menafsirkan tanda-tanda dan gejala penyakit,
indekspermata puri media, Jakarta.
Manjoer, Arif, dkk. 2002. Kapita Selekta Kedokteran, Ed 3. EGC : Jakarta

18

Muttaqin, Arif. (2008). Pengantar Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan Sistem
Persyarafan. Jakarta: Salemba Medika

LAPORAN PENDAHULUAN
Gangguan sistem persyarafan (vertigo)
DI RUANG IRNA III (TIGA)
RSUD PATUT PATUH PATJU GERUNG

19

Di susun oleh :
DITA KUSUMA NINGRUM
(P07120313009)

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLITEKNIK KESEHATAN KEMENTERIAN KESEHATAN
MATARAM
JURUSAN KEPERAWATAN
PROGRAM STUDI D. IV KEPERAWATAN MATARAM
MATARAM
TAHUN 2014/2015

20

Anda mungkin juga menyukai