Anda di halaman 1dari 12

ACARA III

KULTUR MERISTEM LATERAL


(ANGGUR, MARKISA DAN NANAS)
A. Pendahuluan
1. Latar Belakang
Kultur jaringan dalam bahasa asing disebut sebagai tissue culture.
Kulturadalah budidaya dan jaringan adalah sekelompok sel yang mempunyai
bentuk dan fungsi yang sama. Jadi, kultur jaringan berarti membudidayakan
suatu jaringan tanaman menjadi tanaman kecil yang mempunyai sifat seperti
induknya. Kultur jaringan akan lebih besar presentase keberhasilannya bila
menggunakan jaringan meristem. Jaringan meristem adalah jaringan muda,
yaitu jaringan yang terdiri dari sel-sel yang selalu membelah, dinding tipis,
plasmanya

penuh

dan

vakuolanya

kecil-kecil.

Kebanyakan

orang

menggunakan jaringan ini untuk tissue culture. Sebab, jaringan meristem


keadaannya selalu membelah, sehingga diperkirakan mempunyai zat hormon
yang mengatur pembelahan.
Kultur meristem adalah kultur jaringan tanaman dengan menggunakan
eksplan berupa jaringan-jaringan meristematik. Jaringan meristem yang
digunakkan dapat berupa meristem pucuk terminal atau meristem tunas
aksilar.

Dalam

kultur

meristem,

perkembangan

diarahkan

untuk

mendapatkan tanaman sempurna dari jaringan meristem tersebut dan


sekaligus dapat memperbanyaknya. Kultur meristem sudah secara luas
diterapkan untuk tujuan perbanyakan tanaman.. Sel-sel meristem umumnya
stabil karena mitosis pada sel-sel meristem terjadi bersama dengan
pembelahan sel yang berkesinambungan sehingga ekstra duplikasi DNA
dapat dihindarkan. Hal ini menyebabkan tanaman yang dihasilkan identik
dengan tanaman donornya. Selain dari perbanyakan, aplikasi kultur
meristem yang terutama adalah eliminasi virus dari bahan tanaman dan

penyimpangan plasma nutfah yang bebas virus ini , dengan teknik


cryopreservation : preservasi dengan temperatur rendah. Sekelompok
tanaman berupa klon yang dihasilkan oleh kultur meristem yang disebut
meriklon. Pelaksanaan teknik kultur jaringan tanaman ini berdasarkan teori
sel sperti yang dikemukakan oleh Schleiden, yaitu bahwa sel mempunyai
kemampuan autonom, bahkan mempunyai kemampuan totipotensi.
Totipotensi adalah kemampuan setiap sel, darimana saja sel tersebut
diambil, apabila diletakkan dilingkungan yang sesuai akan tumbuh menjadi
tanaman yang sempurna. Teknik kultur jaringan akan berhasil dengan baik
apabila syarat-syarat yang diperlukan terpenuhi. Syarat-syarat tersebut
meliputi pemilihan eksplan sebagai bahan dasar untuk pembentukkan kalus,
penggunaan medium yang cocok, keadaan yang aseptik dan pengaturan
udara yang baik terutama untuk kultur cair. Meskipun pada prinsipnya semua
jenis sel dapat ditumbuhkan, tetapi sebaiknya dipilih bagian tanaman yang
masih muda dan mudah tumbuh yaitu bagian meristem, seperti: daun muda,
ujung akar, ujung batang, keping biji dan sebagainya. Bila menggunakan
embrio bagian bji-biji yang lain sebagai eksplan, yang perlu diperhatikan
adalah kemasakan embrio, waktu imbibisi, temperatur dan dormansi.
2. Tujuan Praktikum
Praktikum Kultur Jaringan acara Kultur Mersitem Lateral (Anggur,
Markisa dan Nanas) ini berjuan untuk:
a. Mengetahui teknik kultur meristem lateral Anggur, Markisa dan Nanas
b. Mengetahui cara sterilisasi dari kultur meristem Anggur, Markisa dan
Nanas
c. Mempelajari cara penanaman kultur Anggur, Markisa dan Nanas

3. Waktu dan Tempat Praktikum


Praktikum acara Kultur Mersitem Lateral

(Anggur, Markisa dan

Nanas) dilaksanakan pada Hari Kamis, 30 Maret 2016 pada pukul 07.00
selesai WIB bertempat di Laboratorium Kultur Jaringan Fakultas Pertanian
Universitas Sebelas Maret Surakarta.

B. Tinjauan Pustaka
Sel-sel pada jaringan muda selalu aktif membelah, sel tersebut
bergabung membentuk jaringan meristem. Aktivitas membelah tersebut yang
menyebabkan tanaman dapat tumbuh dengan tinggi dan besar. Berdasarkan
asalnya, jaringan meristem dibagi menjadi dua, yaitu meristem primer dan
meristem sekunder. Meristem primer adalah jaringan yang selnya berkembang
secara langsung secara mebrionik. Meristem primer terdapat di daerah ujung
tumbuhan, misalnya ujung akar (meristem akar) dan ujung batang (meristem
pucuk). Meristem akar dan pucuk menyebabkan tumbuhan semakin panjang.
Meristem sekunder adalah jaringan yang selnya berkembang dari jaringan
dewasa yang telah mengalami diferensiasi. Aktivitas meristem sekunder
menyebabkan batang dan akar tanaman tumbuh ke arah samping. Termasuk
dalam

meristem

sekunder

adalah

kambium

dan

kambium

gabus

(Firmansyah et al 2007).
Faktor keberhasilan perbanyakan tanaman secara in vitro adalah
pemilihan bahan eksplan. Bahan eksplan yang masih muda adalah eksplan
yang baik untuk perbanyakan tanaman secara in vitro. Semakin tua organ
tanaman eksplan, maka proses pembelahan dan regenerasi sel cenderung
menurun, oleh karena itu jaringan yang masih muda lebih baik digunakan
karena pada umumnya jaringan tersebut masih berproliferasi daripada jaringan
yang berkayu atau yang sudah tua. Kultur meristem apikal adalah
pengkulturan eksplan berupa pucuk meristem dan jaringan di bawahnya
dengan ukuran 0,3 - 1 cm. Pucuk dalam media yang tepat dapat membentuk
tunas yang baru sebanyak 4 hingga 20 buah tergantung dari jenis tanaman
yang di kulturkan (Rasullah et al 2013).
Kultur jaringan akan lebih besar presentase keberhasilannya bila
menggunakan jaringan meristem. Jaringan meristem adalah jaringan muda,
yaitu jaringan yang terdiri dari sel-sel yang selalu membelah, dinding tipis,
plasmanya penuh, dan vakuolanya kecil-kecil. Jaringan meristem ini adalah

jaringan yang paling sering digunakan para pemulia karena keadaannya yang
sangat aktif membelah tersebut sehingga diperkirakan mempunyai hormon
yang

mengatur

menggunakan

pembelahan.

jaringan

Tingkat

meristem

keberhasilan

dipastikan

lebih

kultur
tinggi

dengan
daripada

menggunakan organ lain (Jati 2007).


Kelebihan kultur meristem lateral adalah dapat dilakukan secara
massal atau banyak dengan sekali pembibitan, bahan tanam yang dibutuhkan
sedikit, lebih cepat sehingga akan murah atau ekonomis, mudah dalam
penanganan bibit yang dihasilkan, resiko rusak dalam pengangkutan ke
lapangan kecil. Medium yang banyak digunkan dalam teknik ini adalah media
MS. Kekurangannya adalah diperlukan persiapan SDM yang handal untuk
mengerjakan perbanyakan kultur jaringan agar dapat memperoleh hasil yang
memuaskan

agar

terhindar

dari

kontaminasi,

vitrifikasi

dan

pencoklatan adalah suatu karakter munculnya warna coklat atau hitam yang
sering membuat tidak terjadinya pertumbuhan dan perkembangan eksplan
(Gunawan 2007).
Bahan tanam untuk produksi benih Nanas varietas baru yang
dikembangkan, tersedia hanya dalam jumlah yang terbatas, padahal produksi
Nanas dalam skala komersial membutuhkan bahan tanam 29,000 hingga
86,000 tanaman per hektar. Kebutuhan tersebut tidak dapat dipenuhi dengan
metode perbanyakan konvensional, karena membutuhkan waktu yang lama
dan jumlah bahan tanam yang dihasilkan juga sedikit. Kultur jaringan
merupakan metode untuk menghasilkan plantlet Nanas yang bebas penyakit,
seragam, dengan jumlah yang besar dan dalam waktu singkat. Penerapan
teknologi kultur jaringan di banyak negara berkembang, masih menemui
kendala yang disebabkan oleh tingginya biaya yang diperlukan untuk
penerapan teknologi tersebut, hal tersebut berimbas kepada tingginya harga
plantlet hasil kultur jaringan (Santosa 2013).

Nanas (Ananas sativus) adalah sejenis tumbuhan tropis yang berasal


dari Brazil, Bolivia dan Paraguay. Tumbuhan ini termasuk dalam familia
nanas- nanasan (Famili Bromeliaceae). Perawakan tumbuhannya rendah,
dengan 30 atau lebih daun yang panjang, berujung tajam, tersusun dalam
bentuk roset mengelilingi batang yang tebal.Tanaman nanas yang berusia satu
sampai dua tahun, tingginya 50 - 150 cm, mempunyai tunas yang merayap
pada bagian pangkalnya. Daun berkumpul dalam roset akar, dimana bagian
pangkalnya melebar menjadi pelepah. Daun berbentuk seperti pedang, tebal
dan liat, dengan panjang 80-120 cm dan

lebar 2-6 cm, ujungnya lancip

menyerupai duri, berwarna hijau atau hijau kemerahan. Buahnya berbentuk


bulat panjang, berdaging, dan berwarna hijau, jika masak warnanya menjadi
kuning, rasanya asam sampai manis (Dalimartha 2001).
Tanaman Nanas berbentuk semak dan hidupnya bersifat tahunan
(perennial). Tanaman Nanas terdiri dari akar, batang, daun, bunga, buah dan
tunas-tunas.

Akar

Nanas dapat dibedakan menjadi akar tanah dan akar

samping dengan sistem perakaran yang terbatas. Akar-akar melekat pada


pangkal batang dan termasuk berakar serabut (monocotyledonae). Kedalaman
perakaran pada media tumbuh yang baik tidak lebih dari 50 cm, sedangkan di
tanah biasa jarang mencapai kedalaman 30 cm. Daun Nanas tumbuh
memanjang sekitar 130-150 cm, lebar antara 3-5 cm atau lebih, permukaan
daun sebelah atas halus mengkilap berwarna hijau tua atau merah tua bergaris
atau coklat kemerah-merahan. Sedangkan permukaan daun bagian bawah
berwarna keputih-putihan atau keperak-perakan. Jumlah daun tiap batang
tanaman sangat bervariasi antara 70-80 helai yang tata letaknya seperti spiral,
yaitu mengelilingi batang mulai dari bawah sampai ke atas arah kanan dan kiri
(Rizani 2010).
Bunga bersifat hermaprodit, masing-masing berkedudukan di ketiak
daun pelindung. Jumlah bunga membuka setiap hari, berjumlah sekitar 5-10
kuntum. Pertumbuhan bunga dimulai dari bagian dasar menuju bagian atas

memakan waktu 10-20 hari. Waktu dari menanam sampai terbentuk bunga
sekitar 6-16 bulan (Indrawati 2009).
Berdasarkan habitus tanaman, terutama bentuk daun dan buah dikenal
4 jenis golongan Nanas, yaitu : Cayene (daun halus, tidak berduri, buah
besar), Queen (daun pendek berduri tajam, buah lonjong mirip kerucut),
Spanyol/Spanish (daun panjang kecil, berduri halus sampai kasar, buah bulat
dengan mata datar) dan Abacaxi (daun panjang berduri kasar, buah silindris
atau seperti piramida).

Varietas cultivar Nanas yang banyak ditanam di

Indonesia adalah golongan Cayene dan Queen.

Golongan Spanish

dikembangkan di kepulauan India Barat, Puerte Rico, Mexico dan Malaysia.


Golongan Abacaxi banyak ditanam di Brazilia.

Dewasa ini ragam

varietas/cultivar Nanas yang dikategorikan unggul adalah Nanas Bogor,


Subang dan Palembang (Santoso 2010).
Menurut Thahir et al (2008) tanaman Nanas diklasifikasikan sebagai
berikut: Kingdom Plantae (tumbuh-tumbuhan) , Divisi Spermatophyta
(tumbuhan berbiji) , Kelas Angiospermae (berbiji tertutup) , Ordo Farinosae
(Bromeliales), Famili Bromiliaceae, Genus Ananas , Species Ananas comosus
(L) Merr
Teknik menanam eksplan dalam botol sangat menentukan keberhasilan
kultur jaringan. Prinsipnya adalah menanam eksplan dengan kondisi steril.
Karena itu, setiap membuka botol kultur, mulut botol harus digarang diatas
api. Selain itu, benda-benda yang dimasukkan kedalam Laminar Air Flow
harus disemprot memakai alkohol, termasuk tangan kita. Tata letak peralatan
dalam laminar sangat menentukan efektivitas kerja dalam mengulturkan
anggrek (Sandra 2006).
Keberhasilan suatu kultur jaringan berpengaruh terhadap ukuran
eksplan. Eksplan yang berukuran kecil (meristem atau tunas pucuk)
mempunyai kemapuan hidup tumbuh lebih lambat. Penggunaan ZPT sitokinin
dapat merangsang pertumbuhan percabangan tunas samping yang merangsang

pertumbuhan eksplan untuk membentuk tunas atau embrio secara adventif


(Yusnita 2007).
Salah satu faktor keberhasilan perbanyakan tanaman secara in vitro
adalah pemilihan bahan eksplan. Bahan eksplan yang masih muda adalah
eksplan yang baik untuk perbanyakan tanaman secara in vitro. Semakin tua
organ tanaman eksplan, maka regenerasi sel cenderung menurun, oleh karena
itu jaringan yang masih muda lebh baik digunakan karena pada umumnya
jaringan tersebut masih berprolifersi daripada jaringan yang berkayu atau
yang sudah tua. Faktor lain adalah komposisi media tanam. Komposisi media
kultur jaringan umumnya meliputi unsur makronutrien, mikronutrien, ZPT
dan asam amino (Nurmalasari 2013).

C. Metodologi Praktikum
1. Alat
a. LAFC (Laminar Air Flow Chamber)
b. Botol - botol kultur dan Petridish

c. Peralatan diseksi yaitu pinset besar /kecil dan pisau pemes


2. Bahan
a. Eksplan: Anggur (Vitis vinifera), Markisa (Passiflora edulis), dan Nanas
(Ananas comosus).
b. Media kultur MS
c. Alkohol 70%
d. Aquadest steril
e. Spritus
f. Chlorox (sunclin)
g. Sunlight
h. Agar
i. Sukrosa
3. Cara Kerja
a. Persiapan bahan tanam kultur meristem (Anggur, Markisa dan Nanas).
b. Sterilisasi eksplan
1) Memotong meristem lateral anggur, markisa dan nanas seukuran
tidak melebihi tinggi botol
2) Mencuci meristem lateral dengan sunlight kemudian bilas air
mengalir hingga bersih.
3) Merendam meristem lateral anggur dan markisa dalam larutan
agrept 1 gr/100 ml dan dithane 1.5 gr/100 ml selama 15 menit lalu
cuci dengan menggunakan aquadest
4) Merendam meristem lateral ke dalam meristem lateral nanas ke
dalam larutan Tween selama 20 menit lalu mencuci menggunakan
aquadest hingga bersih
5) Meletakan eksplan yang telah disterilisasikan ke dalam botol kultur
yang di tutup rapat krmudian di letakan dalam LAF
c. Penanaman meristem lateral anggur, markisa dan nanas
1) Menyiapkan alat alat yang akan digunakan serta membersihkan
LAF (Laminar Air Flow)
2) Eksplan yang telah steril kemudian diletakkan di dalam LAF
3) Mengambil ekplan lalu masukan kedalam clorox 100% rendam 2
menit atau sampai berwarna kecoklatan pada bekas potongan
4) Mengangkat lalu letakkan pada botol kosong dan pindahkan satu
persatu pada petridish
5) Memotong tunas hingga 1 2 cm
6) Mencelupkan tunas pada larutan spirtus lalu dibakar

7) Mengupas dan membersihkan kembali tunas setelah di bakar


8) Buka botol kultur berisi media lalu bersihkan
9) Kemudian tanam eksplan pada media di dalam botol kultur tutup
kembali lalu dibungkus dengan plastik wrap dan diberi label dan
diikat dengan karet lalu diberi wrap dan diberi label
d. Pemeliharaan bahan tanam
1) Menempatkan botol botol media berisi eksplan di rak rak kultur
2) Lingkungannya di luar botol harus dijaga suhu, kelembaban dan
cahayanya.
3) Melakukan penyemprotan botol botol kultur dengan spiritus 2 hari
sekali untuk mencegah kontaminasi
e. Pengamatan
1)
Saat muncul akar, tunas dan daun di amati setiap hari
2)
Panjang akar, tunas, dan daun di amati seminggu sekali
3)
Jumlah akar, tunas dan daun diamati seminggu sekali

Daftar Pustaka
Dalimartha, S 2001. Atlas Tumbuhan Obat Indonesia Jilid 2 : Nanas. Jakarta : Trubus
Agriwidya.
Firmansyah R, Mawardi, dan Umar. 2008. Mudah dan Aktif Belajar Biologi untuk
Kelas IX Sekolah Menengah Atas/Madrasah Aliyah Program Ilmu
Pengetahuan Alam. Bogor: PT Setia Purna
Gunawan, L.W. 2007. Teknik Kultur Jaringan Tumbuhan. IPB. Bogor.
Indrawati, Eli 2009. Pengaruh Konsentrasi Inokulum Saccharomyces Cerevisiae dan
Lama Fermentasi Pada Produksi Etanol Dari Limbah Kulit Nanas (Ananas
Comosus L. Merr). Surabaya : Jurusan Biologi Institut Teknologi Sepuluh
Nopember.
Jati W. 2007. Aktif Biologi. Jakarta: Ganeca Exact
Nurmalasari, Fentia F. R, Tutik N 2013. Respon Pertumbuhan Tunas Kultur Meristem
Apikal Tanaman Tebu (Saccharum Officinarum) Varietas NXI 1-3 secara In
Vitro pada Media MS Dengan Penambahan Arginin dan Glutamin. Jurnal
Sains dan Seni Pomits Vol.2 No.2 2337-3520
Rasullah FFF, Nurhidayati, dan Nurmalasari. 2013. Respon Pertumbuhan Tunas
Kultur Meristem Apikal Tanaman Tebu (Saccharum officinarum) Varietas
NXI 1-3 secara in viro pada Media MS dengan Penambahan Arginin dan
Glutamin. Jurnal Sains dan Seni Pomits 2(2): 99-104

Rizani, K. Z
2010. Pengaruh Konsentrasi Gula Reduksi dan Inokulum
(Saccharomyces cerevisiae) pada Proses Fermentasi Sari Kulit Nanas
(Ananas comosus L. Merr) untuk Produksi Etanol. Malang :Jurusan Biologi,
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universtas Brawijaya
Malang.
Sandra, Edhi 2006. Kultur Jaringan Anggrek Skala Rumah Tangga. Jakarta:
Agromedia Pustaka.
Santoso RD. 2013. Pertumbuhan Planlet Nanas (Ananas comosus L. Merr.) Varietas
Smooth Cayenne Hasil Kultur In Vitro pada Beberapa Konsentrasi BAP dan
Umur Plantlet. J Agrohoti 1 (1) : 54 61
Tahir, Iqmal., Sumarsih, Sri., Dwi Astuti, Sinta 2008. Makalah Seminar Nasional
Kimia XVIII Jurusan Kimia FMIPA UGM. Kajian Penggunaan Limbah
Buah Nanas Lokal (Ananas comosus, L) Sebagai Bahan Baku Pembuatan
Nata. Yogyakarta : Jurusan Kimia FMIPA Universitas Gajahmada.
Yusnita 2007. Kultur Jaringan. Cara Memperbanyak Tanaman Secara Efisien. Jakarta:
Agromedia Pustaka.