Anda di halaman 1dari 6

TUGAS INDIVIDU 1

MATA KULIAH EKONOMI KELEMBAGAAN

Oleh :
Khumaydi ( 150610140038 )

PROGRAM STUDI AGRIBISNIS


FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS PADJADJARAN
JATINANGOR
2015

1. Skala Ekonomis (Economies of Scale)


Menurut Wikipedia Ekonomi Skala merupakan fenomena turunnya biaya produksi per unit dari
suatu perusahaan yang terjadi bersamaan dengan meningkatnya jumlah produksi (output).
Menurut Kamusbisnis.com Skala ekonomis (economies of scale) adalah sebuah teori bahwa
ketika sebuah perusahaan semakin besar, biaya operasi per unit menurun.
Skala ekonomi adalah keuntungan biaya yang timbul dengan peningkatan output produk.
Skala ekonomi timbul karena hubungan terbalik antara kuantitas yang diproduksi dan per-unit
biaya tetap; yaitu semakin besar kuantitas yang baik yang dihasilkan, semakin rendah biaya tetap
per unit karena biaya ini tersebar di sejumlah besar barang. Skala ekonomi juga dapat
mengurangi biaya variabel per unit karena efisiensi operasional dan sinergi. Ketika lebih banyak
unit barang atau jasa yang dapat diproduksi pada skala yang lebih besar, namun dengan (ratarata) biaya input kurang, skala ekonomi dikatakan dicapai. Skala ekonomis hanya dapat terjadi
dalam jangka panjang.
Atau bias dibilang Skala ekonomi (economies of scale) menunjuk kepada keuntungan
biaya rendah yang didapat dari ekspansi aktivitas operasional dalam sebuah perusahaan dan
merupakan salah satu cara untuk meraih keunggulan biaya rendah (low cost advantage) demi
menciptakan keunggulan bersaing.
Skala ekonomis tampak dalam sebagian besar pabrik produksi mobil yang khususnya
sensitif terhadap volume. Sebuah mobil pertandingan (sebagai contoh, yang dikonstruksi untuk
mobil balapan) dapat berbiaya jutaan dolar. Tetapi, ketika fitur yang sama digabungkan dalam
jutaan bagian, maka biayanya menjadi dapat lebih ditanggung. Studi baru-baru ini menunjukkan
produksi minimum dari suatu rangkaian mobil adalah 100,000 unit.
PENYEBAB SKALA EKONOMIS
Penyebab utama kehadiran skala ekonomis adalah
-

pembagian spesialisasi tugas dan tenaga kerja meminimalisasikan biaya tenaga kerja,
penggunaan intensif personil dengan keahlian tinggi yang lebih banyak,
penggunaan modal yang lebih banyak (misalnya dengan jadwal shift),
kemampuan untuk menggunakan produk sampingan daripada membuang mereka.

Ekonomi skala sangat berperan pada sektor-sektor ekonomi ber-biaya tetap tinggi,
misalnya pada sektor-sektor ekonomi yang berbasis infrastruktur jaringan seperti produksi tenaga
listrik, angkutan jalan rel, dan sebagainya, atau pada sektor-sektor yang memerlukan investasi
berbiaya tinggi untuk riset dan pengembangan seperti industri penerbangan. Dalam situasi
tertentu fenomena ekonomi skala dapat memicu timbulnya monopoli alamiah.
Monopoli alami sering didefinisikan sebagai perusahaan yang menikmati skala ekonomis
untuk ukuran perusahaan yang wajar, karena itu selalu lebih efisien bagi satu perusahaan untuk
memperluas daripada mendirikan perusahaan baru, monopoli alami tidak memiliki
saingan. Karena tidak memiliki saingan, maka kemungkinan monopoli memberikan kekuatan
pasar yang signifikan.

2. Economies of Scale sebagai obat bagi petani


Usahatani komoditi unggulan masih menunjukkan kinerja usaha rendah yang terutama
disebabkan rendahnya produktivitas, relatif mahalnya harga input dibanding harga output (hasil,
produk), bargaining position yang lemah sehingga petani cenderung menjadi penerima harga
(price taker), ketidakmampuan untuk menciptakan nilai tambah bagi produk primer yang
dihasilkan sementara waktu luang petani masih sangat tinggi, sehingga usahatani komoditi
unggulan belum memberikan kesejahteraan yang layak bagi petani.
Faktor-faktor dominan yang mempengaruhi keragaan usahatani atau budidaya komoditi
unggulan adalah tingginya biaya input seperti pupuk, benih, bibit ikan (nener, benur), pakan
ternak (dedak, katul, ampas tahu), obat-obatan (pestisida, vaksin bagi terhak, pencegahan
penyakit ternak, baik yang ditimbulkan karena pemberian pupuk yang berlebih) maupun relatif
mahalnya harga pupuk, sulitnya memperoleh tenaga kerja upahan atau buruh tani, upah tenaga
kerja yang relatif mahal, dan harga output yang telatif murah. Penguatan kinerja usahatani atau
budidaya komoditi unggulan merupakan langkah awal atau sebagai dasar penyusunan Model
Agribisnis Terpadu (MADU).
Arah kebijakan selanjutnya adalah menciptakan kondisi atau iklim bisnis yang
menguntungkan terutama bagi petani (on farm, farm production) sebagai produsen produk
primer; dan masih memungkinkan untuk memperoleh nilai tambah melalui peningkatan skill dan

ability terutama dalam teknologi pasca panen atau agroindustri. Selanjutnya diperlukan
komitmen dan pembinaan yang terkoordinir, terintegrasi dan selaras untuk membangun daya
saing bisnis melalui penerapan prinsip-prinsip Economies of Scale dan Economies of Scope, dan
penciptaan lingkungan bisnis yang kondusif melalui rekayasa dari unsur-unsur supporting
system dalam agribusiness complex untuk membangun menuju daya saing nasional.
Dalam rangka meningkatkan keragaan dan daya saing bisnis komoditi unggulan, di
tingkat mikro perlu menempuh kebijakan yang meningkatkan kemampuan usaha atau budidaya
dengan pemberdayaan sumberdaya dan potensi sebagai kekuatan untuk meraih peluang dan
mengatasi tantangan, disertai Upaya menekan kelemahan dan mengatasi ancaman untuk meraih
peluang. Kekuatan pasar sangat menentukan nilai atau harga beli input yang digunakan dalam
budidaya komoditi unggulan dan harga jual output dari komoditi unggulan ini menunjukkan
betapa pentingnya peranan pembangunan sistem agribisinis yang secara bertahap diterapkan
dengan penguatan kinerja bisnis di tingkat komoditi atau micro policy (partial farm approach)
sebagai dasar, penguatan di tingkat rumahtangga petani (whole farm approach), disertai dengan
membangun sinergitas melalui peran serta pemerintah dan swasta dalam perbaikan lingkungan
bisnis yang lebih kondusif.

3. Opini mengenai Economies of Scale melalui Corporate Farming


Corporate Farming System ( Sistem Pertanian Korporasi) mulai diimplementasikan di
Desa Karang Malang Masaran Sragen. Sabtu ( 23/6) Bupati Sragen H Untung Wiyono
didampingi Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Sragen Ir. Haryoto WA,MM
menyaksikan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) antara para petani sawah
pemilik lahan seluas 5 Ha di desa tersebut dengan Direktur PT Santen Bumi Raya Hesty
Yuliastanti, SH tentang Manajemen Tekhnologi dan Budidaya Pertanian.
Corporate Farming adalah sebuah sistem pertanian dengan menerapkan cara
panggarapan lahan yang relatif luas secara bersamasama dalam satu sistem pengelolaan oleh
sebuah perusahaan atau korporasi. Pemilik lahan seluas itu bisa jadi lebih dari satu orang, maka
dari itu perlu sebuah kesepakatan terkait dengan hasil produksi pertanian yang akan diperoleh.

Di tempat ini, pertanian yang dikembangkan adalah pertanian organik, sesuai dengan
salah satu butir kesepakatan yang termaktub dalam MoU. Ruang lingkup kerjasama kedua belah
pihak mencakup manajemen pertanian yang meliputi pelatihan, pengawasan, dan rembug saran
dalam budi daya pertanian. Selain itu juga penyediaan modal kerja berupa bibit padi, pupuk
majemuk organik dan pestisida, menerapkan Tekhnologi Budi Daya Pertanian modern agar
diperoleh hasil produksi optimal, persiapan tenaga kerja dan lahan pertanian, serta pasca panen
dan pemasaran.
Sistem serupa telah diterapkan di berbagai negara di dunia, dan terbukti mampu
meningkatkan produktifitas pertanian, kata Tenaga Ahli PT Santen Bumi Raya Prof. Sunarwidi.
Alumnus Institut Pertanian Bogor (IPB) ini menambahkan, penggunaan pupuk organik dalam
jangka panjang akan berdampak positif bagi struktur tanah, hingga makin lama tanah akan
semakin terjaga kesuburannya.
Saya setuju mengenai Economies of Scale melalui Corporate Farming, karena dapat
membantu petani. Dengan melalui Corporate Farming petani dan pengusaha besar bisa saling
menguntungkan dalam hal input dan output. Selain itu dengan Corporate Farming antar
pengusaha dan petani ini mampu membantu mensejahterakan petani Indonesia. Jadi dengan
prinsip Economies of Scale yang diterpakan melalui Corporate Farming maka akan lebih banyak
lahan yang mampu untuk dimanfaatkan oleh petani, maka produksi akan meningkat, dengan
produksi yang meningkat maka output yang dihasilkan akan meningkat sehingga biaya produksi
yang ada dapat menurun, hal ini sesuai dengan pengertian Economies of Scale

Daftar Pustaka
Abidin, Zainal, Indah, Pawana Nur, dan Yuliati, Nuriah. 2007. Model Pengembangan Agribisnis
Terpadu Di Jawa Timur. Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jawa Timur.
http://elib.pdii.lipi.go.id/katalog/index.php/searchkatalog/byId/52626. (Diakses 14 Maret
2016)
Gozali, Hendry. 2009. Analisis Industri dan Keunggulan Bersaing Melalui Pengembangan
Resources dan Capabilities Dalam Penerapan Economies of Scale dan Experience Curve
di Industri Manufaktur Velg Aluminium (Studi Kasus PT. XYZ). Fakultas Ekonomi.
Universitas

Indonesia.

http://lib.ui.ac.id/file?file=digital/127746-T%2026512-Analisis

%20industri-Tinjauan%20literatur.pdf. (Diakses 14 Maret 2016)


https://id.wikipedia.org/wiki/Ekonomi_skala
http://kamusbisnis.com/arti/skala-ekonomis/
https://www.academia.edu/11417321/Economies_Of_Scale
http://www.peoi.org/Courses/Coursesba/mic/mic3.html
http://www.sragenkab.go.id/berita/berita.php?id=464