Anda di halaman 1dari 2

Apa sih Etika Agribisnis itu???

Menurut etiologis etika berasal dari Bahasa Yunani, yaitu ethikos = moral dan ethos
= karakteristik. Yang berarti pandangan-pandangan tentang kebebasan dan
tanggung jawab, tentang tujuan dan cara mencapai tujuan, tentang penilaian
perilaku. Verderber (1978) memaknai etika sevagai standart moral yang
mengaturperilaku manusia. Menurut Magnis Soeseno (1984) etika merupakan ilmu
atau refleksi sistematis mengenai pendapat-pendapat, norma-norma, dan istilah
moral.
Kreatifitas dalam pertanian atau agribisnis merupakan hal penting dan suatu
keharusan uantuk kebutuhan manusia yang tiada akhir. Perwujudan kreatifitas
menurut sosiolog dan antropolog diidentifikasikan denga upaya adopsi -berwajah
dua (negative dan positif). Kreatifitas positif yang harus dibangun dan ditetaskan
kepada generasi muda serta perlu diapresiasi dan dilindungi dengan konstitusi dan
kedaulatan yang tepat, seperti green constitution dan ecocracy. Dengan kata adopsi
banyak penyimpangan yang bermunculan seiring berjalannya kreatifitas. Ini adalah
sisi negative dari kreatif positif yang terus berjalan yang merupakan ancaman.
Dengan teknologi canggih berbagai rekayasa genetic dapat dilakukan dengan
mudah terhadap ternak, produk pangan biologis dan kimiawi. Atau memperjual
belikan dan memperbanyak sel dan gen tanaman, hewan dan manusia dengan
mudah. Jamur, Virus dan bakteri dengan mudah diproduksi untuk dijadikan senjata
menyerang atau mengancam lingkup pertanian disuatu negara. Faktanya,
penggunaan teknologi biologis dan kimiawi pada tanaman dan ternak cenderung
tidak ramah lingkungan dan berdampak negative.
Dengab produk alternative sebagian masyarakat lebih bangga mengedepankan
produk sintetis dari pada alami. Banyak kasus yang terjadi karena bahan kimiawi
yang peredarannya tidak diawasi secara intensif.
Etika dikelompokan menjadi 2 yakni, yang berperan sebagai penuntun bergaul dan
berinteraksi (etika Normatif) dan yang berperan memandu makna istilah yang
digunakann dalam etika (meta-etika). Kenyataannya etika ada yang absolut da
relative. Karena maraknya penyimpangan dibuatlah standarisasi pada sisi produksi
dan dalam rantai pasok.
Secara legal-praktis, terdapat 3 sistem keamanan pangan yang berlaku didunia.
Pertama HACCP (Hazard Analysis and Crtical Control Point), yaitu sertifikasi untuk
keamanan pangan dan pakan. Kedua ISO (Internasional Standarize Organization),
yaitu sertifikasi yang ditetapkan WHO yang terintegrasi dengan HACCP. Ketiga
GMP+ (general Manufacturing Practice plus), yaitu sertifikasi yang biasa digunakan
masyarakat Eropa untuk menghasilkan, menangani, dan mengirimkan hasil baik
dan berkualitas.
Seecara social, perdagangan bebas dan transaksi berjalan, namun harus dikontrol
agar virus hegemoni tidak beregenerasi. Secara social-ekonomi dan polotis, bukan
hanya perlindungan kekayaan bangsa secara administrative dan formal namun juga
harus dibarengi dengam melestarikannya.

Banyak kasus yang menggambarkan bahwa pengembang akan mendapatkan


keuntungan namun pemilik karya kreatif malah bunting. Banyak creator dan
innovator dari ragam institusi pendidikan dan peneliti Indonesia, namun tidak
banyak dipublikasikan dan dikomersialisasikan. Karena pertama, tidak lebih unggul
dari negara lain,tidak dijalankannya kesepakan jejaring koordinasi dan
komersialisasi antar regulasi. Ketiga, negara dan industry tidak berpihak kepada
kreasi dan inovasi local.
Etika dan peraturan harus ditegakkan secara bersama dalam mengontrol dan
melindungi pelaku kreatif. Namun tiadalah arti etika tanpa penegaknya. Dan ini
menjadi keharusan bagi pemerintah Indonesia untuk menjadi penegak etika mulai
dari dalam pemerintahan itu sendiri.