Anda di halaman 1dari 11

ANATOMI TELUR IKAN PATIN

MAKALAH
Untuk memenuhi tugas Matakuliah Reproduksi Ikan
yang dibina oleh Pak Soko Nuswantoro

Disusun Oleh :
AKBAR HARIYADI

135080500111018

JAUHAROTUL AFIFAH

135080500111023

IMAM MARUF

135080500111025

STEFANIE MARIA AYU

135080500111026

KHAIRINI ANWAR

135080500111046

UNIVERSITAS BRAWIJAYA
FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
JURUSAN MANAJEMEN SUMBER DAYA PERAIRAN
April 2015

BAB I
PENDAHULULUAN

1.1 Latar Belakang


Berbagai macam jenis telur ada di antara ikan teleost baik air tawar maupun laut. Telur
ikan pelagis bersifat non perekat sedangkan telur ikan demersal bersifat lengket perekat.
Hal ini dikarenakan adanya berbagai struktur khusus membantu dalam Rotasi atau
lampiran. Tergantung pada jenis telur dan terkait ekologi reproduksi, sehingga banyak
karakter yang berguna dalam identifikasi suatu spesies.
Karakter seperti ukuran dan kepemilikan dari gelembung-gelembung minyak penting
untuk identifikasi. Ruang perivitelline dan chorion sangat berperan penting pada telur ikan
pelagis, sedangkan pada telur demersal pelapis khusus (ketebalan chorion atau sifat
pengendapan) telur mungkin lebih berguna. Perbedaan karakter berguna dalam identifikasi
telur ada. Namun, masih sulit untuk mengidentifikasi telur sebagian besar spesies dengan
pasti. Kecuali untuk tahap akhir, beberapa dapat diakui di tingkat spesies (Matare dan
Sandknp, 2001).
Dengan adanya indentifikasi telur dan mengetahui anatominya dapat dilakukan upanya
pemenihan ikan. Karena pemenihan umumnya berlangsung dari telur hingga larva. Juga
dapat diketahui bagian-bagian dari telur pada ikan dan sangat berguna untuk proses
budidaya dan pengetahuan bagi pembudidaya.
1.2 Rumusan Masalah
Rumusan masalah yang dapat diambil dari latar belakang diatas adalah sebagai berikut.
1. Bagaimana anatomi telur pada ikan patin
2. Apa faktor yang mempengaruhi kualitas telur ikan patin
1.3 Tujuan
Tujuan makalah mengenai anatomi telur adalah sebagai berikut.
1. Untuk mengetahui anatomi telur pada ikan patin
3. Untuk mengetahui faktor yang mempengaruhi kualitas telur ikan patin
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Anatomi Telur


Telur merupakan asal mula suatu makhluk hidup. Telur mengandung materi yang
sangat dibutuhkan sebagai nutrien bagi perkembangan embrio. Proses pembentukan telur
sudah dimulai pada fase differensiasi dan oogenesis, yaitu terjadinya akumulasi
vitelogenin ke dalam folikel yang sering dikenal dengan vitelogenesis. Telur juga
dipersiapkan untuk dapat menerima spermatozoa sebagai awal perkembangan embrio.
Sehingga anatomi telur sangat berkaitan dengan anatomi spermatozoa.
Telur dari hewan yang bertulang belakang, secara umum dapat dibedakan
berdasarkan kandungan kuning telur dalam sitoplasmnya yaitu
a) Telur homolecithal (isolecithal).
Golongan telur ini hanya terdapat pada mamalia. Jumlah kuning telurnya hanya
sedikit terutama dalam bentuk butir-bitir lemak dan kuning telur yang terbesar di
dalam sitoplama.
b) Telur telolecithal.
Golongan telur ini terdapat sejumlah kuning telur yang berkumpul pada salah satu
kutubnya. Ikan tergolong hewan yang mempunyai jenis telur tersebut.
Pada umumnya ukuran telur ikan laut dan air tawar adalah sekitar 1,0 mm. telur
ikan pelagis berkisar dari 0,5 - 5,5 mm (Muraenidae sp.). Telur demersal dapat berkisar
lebih tinggi dalam ukuran (sampai 7,0-8,0 mm) misalnya Salmonidae sp. Sedangkan ikan
yang mengerami telur pada mulutnya biasanya telur berukuran 14 - 26 mm.
Telur ikan umumnya berbentuk bulat hingga lonjong, dengan berbagai fariasi
tekstur permukaan kadang-kadang licin dan disertai tonjolan. Didalam telur terdapat
kuning telur (yolk) yang berfungsi sebagai cadangan makanan. Telur yang memiliki kuning
telur besar, pertumbuhannya menjadi larva lebih lama dari pada yang memiliki sedikit
kuning telur. Yang pertama akan menetas pada 2-3 hari, sedangkan yang ke dua akan tidak
lebih dari 12 jam. Telur-telur ikan sejenis layang (Decapterus sp.) yang berkuning telur
kecil, dilepaskan pada kurang lebih 11 malam dan akan menetas pada keesokan paginya
pada pukul 9. Sebagai perbandingan, diperairan dingin seperti eropa telur akan menetas
dalam beberapa hari atau minggu setelah memijah (Nonji, 2008).

Telur ikan Teleostei dan ikan Elasmobranchia protoplasma akan mengambil bagian
pada beberapa pembelahan. pertama, Kuning telur tidak turut dalam proses-proses
pembelahan, sedangkan perkembangan embrionya terbatas pada sitoplasma yang terdapat
pada kutub anima. Telur ikan ovipar yang belum dibuahi bagian luarnya dilapisi oleh
selaput yang dinamakan selaput kapsul atau chorion.Pada chorion ini terdapat sebuah
mikropil yaitu suatu lubang kecil tempat masuknya sperma ke dalam telur pada waktu
terjadi pembuahan. Di bawah chorion terdapat selaput yang kedua dinamakan selaput
vitelline. Selaput yang ketiga mengelilingi plasma telur dinamakan selaput plasma. Ketiga
selaput ini semuanya menempel satu sama lain dan tidak ada ruang diantaranya. Bagian
telur yang terdapat sitoplasma biasanya berkumpul di sebelah telur bagian atas yang
dinamakan kutub anima, sedangkan bagian kutub yang berlawanan terdapat banyak kuning
telur yang dinamakan kutub vegetatif. Kuning telur yang ada di bagian tengah keadaannya
lebih pekat daripada kuning telur yang ada pada bagian pinggir karena adanya sitoplasma
yang banyak terdapat di sekeliling inti telur.
Pada telur yang belum dibuahi, bagian luarnya dilapisi oleh selaput yang
dinamakan selaput kapsul atau khorion. Di bawah khorion terdapat lagi selaput yang kedua
dinamakan selaput vitelin. Selaput yang mengelilingi plasma telur dinamakan selaput
plasma. Ketiga selaput ini semuanya menempel satu sama lain dan tidak terdapat ruang
diantaranya. Bagian telur yang terdapat sitoplasma biasanya berkumpul di sebelah telur
bagian atas dinamakan kutub anima. Bagian bawahnya yaitu pada kutub yang berlawanan
terdapat banyak kuning telur. Kuning telur pada ikan hampir mengisi seluruh volume sel.
Kuning telur yang ada di bagian tengah keadaanya lebih padat daripada kuning telur yang
ada pada bagian pinggir karena adanya sitoplasma. Selain dari itu sitoplasma banyak
terdapat pada sekeliling inti telur.
Khorion telur yang masih baru bersifat lunak dan memiliki sebuah mikrofil yaitu
suatu lubang kecil tempat masuknya sperma ke dalam telur pada waktu terjadi pembuahan.
Ket ika telur dilepaskan ke dalam air dan dibuahi, alveoli kortek yang ada di bawah
khorion pecah dan melepaskan material koloid-mukoprotein ke dalam ruang perivitelin,
yang terletak antara membran telur dan khorion. Air tersedot akibat pembengkakan
mucoprotein ini. Khorion mula-mula menjadi kaku dan licin, kemudian mengeras dan
mikrofil tertutup. Sitoplasma menebal pada kutub telur yang terdapat inti , ini merupakan
titik dimana embrio berkembang. Pengerasan khorion akan mencegah terjadinya

pembuahan polisperma. Dengan adanya ruang perivitelin di bawah khorion yang


mengeras, maka telur dapat bergerak selama dalam perkembangannya.
Dalam kuning telur kadan-kadang terdapat gelembung minyak (oil globule), bisa
satu atau lebih. Telur yang demikian terdapat pada daerah pantai yang bersalinitas rendah,
sendangkan yang tanpa gelembung minyak terdapat pada daerah yang jauh dari pantai.
Gelembung minyak berperan dalam memperkecil berat jenis telur agar lebih mudah
mengambang. Adanya gelembung minyak dalam telur, ini kdang-kadang dapat digunakan
sebagai ciri taksonomi jenis ikan tertentu (Nonji, 2008).
Struktur bagian luar telur pada ikan patin adalah sebagai berikut:
a. Membran telur
Selama oogenesis pada teleostei, salah satu proses yang paling menyolok adalah
pembentukan sebuah zona tebal yang sangat berdiferensiasi (membran telur, membran
vitelin, zona radiata, zona pelusida) yang terletak diantara lapisan -lapisan granulosa dan
oosit. Bergantung pada spesies maupun tahap pertumbuhan oosit, membran telur bervariasi
dalam hal ketebalan
b. Mikrofil
Mikrofil adalah sebuah lubang kecil tempat dimana sperma dapat masuk ke dalam telur
yang tertutup, yang merupakan modifikasi struktural dari membran telur. Mikrofil terletak
pada kutub anima dan bervariasi dalam hal ukuran antar spesies. Diameter luar mikrofil
telur umumnya sekitar 2,5 mikron dan 1-1,5 mikron pada lubang yang didalamnya.
c. Lapisan Perekat telur
Lapisan perekat telur merupakan lapisan yang terbentuk di sekitar lapisan vitelin yang
tersusun oleh glukoprotein. Lapisan ini disebut juga jelly layer dengan fungsi berbedabeda pada setiap individu. Fungsi utamanya yaitu sebagai pelindung telur dari lingkungan
luar dan juga sebagai penarik sperma. Pada ikan, terutama ikan yang memerlukan substrat
untuk memijah (phytophils), lapisan ini berfungsi sebagai perekat untuk menempelkan
telur pada substrat di sekitar setelah telur dimasuki sperma (Gilbert 2000).

Telur yang belum dibuahi

Telur yang sudah dibuahi


2.2 Faktor Yang Mempengaruhi Kualitas Telur Ikan
Kualitas telur dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu faktor internal dan eksternal.
Faktor internal meliputi: umur induk, ukuran induk dan genetik. Faktor eksternal meliputi:
pakan, suhu, cahaya, kepadatan dan populasi.
a. Faktor Internal
Genetika induk ikan juga akan mempengaruhi mutu telur yang akan dihasilkan. Dua
faktor internal non genetik yang mempengaruhi mutu telur dan keturunan ikan yang
penting adalah umur induk dan ukuran tubuh. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa
ikan betina yang memijah untuk pertama kali menghasilkan telur berukuran kecil.
Diameter telur meningkat dengan jelas untuk pemijahan kedua dan laju peningkatan ini
lebih lambat pada pemijahan-pemijahan selanjutnya. Bobot telur lebih bergantung kepada
umur dibandingkan diameter telur.
Hubungan antara umur induk betina dengan ukuran telur adalah kuadrat dimana induk
betina muda yang memijah untuk pertama kali memproduksi telur-telur berukuran kecil,

induk betina yang berumur sedang menghasilkan telur-telur berukuran besar dan induk
betina yang sudah tua kembali menghasilkan telur berukuran kecil. Hubungan ini
memungkinkan untuk menentukan umur optimal. Pengaruh umur terhadap komposisi
kimia telur juga telah dibuktikan oleh beberapa penelitian. Persentase protein dan lipida
dalam telur ikan meningkat dengan meningkatnya umur ikan sampai nilai maksimum.
Faktor lain yang mempengaruhi mutu telur adalah posisi oosit di dalam ovari.
b. Faktor Eksternal
Pasokan makanan yang melimpah umumnya dapat memproduksi telur yang lebih besar
daripada spesies yang sama yang menerima lebih sedikit makanan. Namun pengaruh
pasokan makanan tidak terlihat pada perubahan komposisi proksimat telur, persentase
penetasan dan daya hidup larva. Jadi pengaruh pembatasan makanan terhadap mutu telur
diimbangi oleh fakta bahwa ikan dapat mempertahankan mutu telurnya dengan
mempengaruhi jumlahnya dan lipida yang ada dalam gonad dapat digunakan untuk tujuan
metabolik hanya dibawah kondisi kekurangan makanan.
Pengaruh kualitas makanan terhadap sifat-sifat telur seperti ukuran telur dan komposisi
telur, dilaporkan bahwa induk betina yang diberi makan pelet memproduksi telur yang
lebih kecil daripada yang diberi pakan basah, demikian juga pengaruh positif pakan yang
berasal dari tepung ikan. Pada ikan red seabream yangdiberi pakan protein rendah dan
kekurangan posfor daya tetas telurnya rendah dan larva abnormal.
Selain itu, mutu telur juga sangat memoengaruhi tingkat kualitas telur. Mutu telur
didefenisikan sebagai potensi telur untuk menyangga kehidupan

embrio yang ada

didalamnya dan menopang kehidupan larva sebelum mendapatkan makan dari luar.
Beberapa indikator tentang mutu telur antara lain:
a. Warna telur
Telur yang normal dengan abnormal dapat dilihat dari warnanya. Telur ikan mas yang baik
adalah transparan dan terang. Berbeda dengan telur ikan gurame yang baik apabila
berwarna jernih dan coklat serta mengapung dipermukaan. Sifat mengapung telur ikan
tersebut disebabkan oleh kandungan lipida yang terdapat dalam telur. Lipida total
merupakan komponen kedua setelah protein total bahan kering telur ikan yang merupakan
bagian utama cadangan lemak kuning telur, dan butiran minyak bebas akan membantu
daya apung telur ikan.

b. Diameter Telur
Ukuran larva yang lebih besar biasanya berasal dari telur yang berukuran besar pula.
Perbedaan ukuran diameter telur tersebut disebabkan oleh mutu pakan yang diberikan
kepada induk, baik protein, lemak maupun unsur mikronutrien, sedangkan komponen
utama bahan baku telur adalah protein, lipida, karbohidrat dan abu. Induk ikan gurame
yang diberi pakan yang mengandung vitamin E menghasilkan ukuran diameter telur yang
lebih besar dibandingkan dengan tanpa diberi perlakuan vitamin E. Hal yang sama juga
pada ikan patin, dimana induk yang pakannya ditambah vitamin E menghasilkan diameter
telur rata-rata lebih besar bila dibandingkan dengan yang tanpa diberi vitamin E.
c. Derajat Pembuahan Telur
Persentase derajat pembuahan yang tinggi selain dipengaruhi persentase kematangan akhir
telur juga dipengaruhi oleh kualitas sperma. Semakin tinggi persentase kematangan akhir
dan semakin baik kualitas spermatozoanya semakin tinggi pula derajat pembuahannya.
Kematangan akhir telur juga dipengaruhi dari pakan yang diberikan kepada induk.
d. Derajat Penetasan Telur
Kualitas telur yang baik dapat juga direfleksikan dengan peningkatan derajat tetas telur.
Penambahanvitamin E dalam pakan sampai batas tertentu akan menghasilkan derajat tetas
telur yang tinggi. Vitamin E berfungsi sebagai pemelihara keseimbangan metabolik dalam
sel dan sebagai anti oksidan intraseluler. Komponen utama telur adalah kuning telur yang
merupakan sumber energi material bagi embrio yang sedang berkembang, jumlah dan
mutu kuning telur sangat menentukan keberhasilan perkembangan embrio dan pasca
embrio. Vitamin E yang diberikan dalam pakan induk mempunyai suatu peranan penting
dalam proses reproduksi, yang pada akhirnya akan mempengaruhi kualitas telur, daya tetas
telur dan kelangsungan hidup larva.
e. Kelangsungan Hidup Larva
Perbedaan derajat kelangsungan hidup larva dapat disebabkan oleh mutu telur yang
dihasilkan oleh induk. Derajat kelangsungan hidup larva yang rendah dapat disebabkan
karena pakan yang diberikan kepada induk, komposisi nutrien pakannya tidak sesuai
dengan kebutuhannya (reproduksi).
f. Kenormalan Larva

Keberhasilan suatu penetasan tidak hanya ditentukan oleh derajat tetasnya saja, tetapi juga
kualitas larva yang dihasilkan, seperti tingkat abnormal larva.

Semakin tinggi kadar

vitamin E dalam pakan, maka larva abnormal semakin rendah. Kondisi ini mirip dengan
kasus pada ikan grass carp dengan berat rata-rata 4.5 gam yang diberi pakan dengan kadar
vitamin E sebesar 0.2 gram/100 gram pakan, terlihat ikan tersebut menjadi abnormal
(distrofi otot) sebanyak 80%, dan semakin tinggi kadar vitamin E dalam pakan, gejala
abnormalitas berkurang secara signifikan.

BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Kesimpulan pada makalah diatas adalah
1. Telur merupakan asal mula suatu makhluk hidup. Telur mengandung materi yang
sangat dibutuhkan sebagai nutrien bagi perkembangan embrio.
2. Kualitas telur dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu faktor internal dan eksternal.
Faktor internal meliputi: umur induk, ukuran induk dan genetik. Faktor eksternal
meliputi: pakan, suhu, cahaya, kepadatan dan populasi.
3.2 Saran
Penulis berharap agar pembaca dapat mengambil manfaat pada makalah tersebut
dan lebih mencari refrensi agar bisa memperkaya wawasan dan dapat mengetahui seks
primer pada ikan patin sehingga dapat di aplikasikan pada pengelolaan budidaya ikan patin
dan penelitian guna mendukung perkembangan ilmu pengetahuan dan meningkatkan
produksi budidaya.

DAFTAR PUSTAKA

. 2011. Kualitas Telur Ikan. https___yulfiperius.files.wordpress.com_2011_07_3kualitas-telur-rtf. Diakses pada tanggal 19 April 2015 pukul 15.14 WIB.

2008.

Karakteristik

Sperma

dan

Telur.

http://e-

journal.uajy.ac.id/3965/3/2BL01036.pdf. diakses pada tanggal 19 April 2015 pukul


15.30 WIB.
Matare A. C. dan Sandknp, E. M. 2001. Identification of Fish Eggs. Pdf.
Nonji, A. 2008. Plankton Laut. Lipi Press: Jakarta.