Anda di halaman 1dari 8

BAB I

PENDAHULUAN
I.1

Latar Belakang
Lempung (clay) adalah bagian dari tanah yang merupakan polimer anorganik dan
berada dalam bentuk koloidal. Lempung merupakan hasil pelapukan dari batuan keras
(beku) dan merupakan batuan sedimen. Lempung secara mudah dapat dikenal dari warna
dan sifatnya. Biasanya berwarna abu-abu atau kecoklatan dan bersifat liat dan plastis.
Indonesia mempunyai cadangan lempung yang tersebar di beberapa Provinsi dengan
jumlah yang cukup besar. Salah satu daerah yang menyimpan potensi lempung alam ini
adalah Riau tepatnya di Kecamatan Rumbai Pesisir. Masyarakat daerah Riau mengenal
lempung sebagai tanah liat, khususnya bagi mereka yang berada pada lokasi yang telah
memanfaatkan material ini sebagai dasar pembuatan batu bata dan genteng. Sebenarnya
lempung tidak hanya digunakan sebagai bahan dasar pembuatan batu bata dan genteng
saja, namun material ini dapat dimanfaaatkan sebagai adsorben, katalis, bahan pendukung
katalis, penjernihan air dan resin penukar ion (Sidabutar, 1999).
Kapasitas adsorpsi lempung dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya adalah
luas permukaan, struktur lapisan molekul, kapasitas tukar kation dan keasaman
permukaanya. Semakin tinggi karakter-karakter tersebut maka akan semakin baik daya
adsorpsinya (Bhattacharyya dan Gupta, 2008). Untuk meningkatkan daya adsorpsi
lempung dapat dilakukan dengan mengaktivasi lempung secara kimia, misalnya dengan
diaktivasi menggunakan asam, basa, kation surfaktan dan polihidroksikation.
(Berdasarkan kajian Nadarlis 2011),
Diketahui bahwa lempung alam Palas terdiri dari beberapa campuran mineral,
seperti kaolinit, muskovit dan kuarsa. Mineral utama lempung ini adalah kaolinit yang
memiliki rasio Si/Al 26,33; kapasitas tukar kation (KTK) 9,63 meq/100g; luas permukaan
24,07 m2/g; kebasaan 0,625 mmol/g dan tidak mempunyai nilai keasaman. Ditinjau dari
nilai KTK, keasaman dan kebasaan, karakter lempung alam Palas ini relatif masih rendah
sehingga perlu dilakukan aktivasi baik secara fisika dan kimia. Aktivasi kimia lempung
Palas dengan NaOH telah dilakukan oleh Henry (2012) dengan metoda Perendaman,
diketahui bahwa lempung alam Palas memiliki luas permukaan 5.913 m2/g dan KTK
14.47 meq/100g. Berdasarkan dari nilai luas permukaan dan KTK yang masih rendah

maka perlu dilakukan metoda yang berbeda yaitu Impregnasi. Dengan metoda impregnasi
ini diharapkan dapat meningkatkan rasio Si/Al, KTK, luas permukaan dan situs asam
basa lempung. Menurut Soetaredjo dkk., (2011) aktivasi menggunakan KOH
(KOH/bentonit) dengan metoda impregnasi, dapat meningkatkan luas permukaan yaitu
171 m2/g (KOH/bentonit 1:20). Dari hasil tersebut sangat perlu dikembangkan untuk
meningkatkan karakter lempung dengan metoda impregnasi dan teknik aktivasi yang
digunakan. Penelitian ini akan mengaktivasi Lempung Alam Palas menggunakan NaOH
dengan metoda impregnasi, dengan konsentrasi NaOH/Lempung 5% (b/b) terhadap
lempung kemudian dikalsinasi pada suhu 300oC selama 3 jam.
I.2

Mamfaat dan Tujuan Percobaan

I.2.1

Mamfaat

I.2.2

Berdasarkan penelitian ini, maka lempung aktivasi dengan variasi NaOH 5%


(suhu 300oC) dapat digunakan sebagai penukar kation
Tujuan Percobaan
Pada penelitian ini luas permukaan lempung ditentukan berdasarkan kemampuan
adsorpsi
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

II.1

Teori Umum
Pola XRD lempung alam Desa palas yang telah diaktivasi menggunakan NaOH
pada variasi suhu 300oC terlihat pada Gambar 1.

Gambar 1 menunjukkan pola XRD lempung alam Kecamatan Rumbai terlihat


bahwa kandungan mineral lempung terdiri 5 dari kaolinit, kuarsa dan muskovit (Nadarlis,
2011), sedangkan pola XRD pada lempung yang telah diaktivasi dengan NaOH/Lempung

5% (b/b) pada suhu 300oC muncul mineral baru yaitu Natrium aluminium silikat
[Na6(AlSiO4)6.4H2O] sedangkan puncak kaoilinit hilang, Hal serupa telah dilaporkan
oleh Ester (2012) yang mengaktivasi NaOH dengan metode perendaman. Puncak
karakterstik kaolinit (2 12.34o, 23.97 o, 24.89 o, 34.95o, 38.44 o, dan 42.42 o) dengan
d-spacing sebesar 7.18 ; 2.34 ; 2.13 ; 3.71 ; 3.58 ; 2.57. Hilangnya puncak
kaolinit membuktikan bahwa mineral kaolinit pada lempung alam berubah menjadi
muskovit pada 2 = 8.820 o, 17.81 o dan 22.89 o . Selain itu kalsinasi lempung alam
Kecamatan Rumbai yang diaktivasi dengan NaOH 5% dengan metoda impregnasi
memunculkan senyawa natrium aluminium silikat Berbeda dengan lempung desa palas
yang diaktivasi dengan metode perendaman oleh Henry (2012) tidak ditemukan puncak
muskovit, namun ditemukan puncak illit. Mineral illit tersebut mempunyai komposisi
kimia yang hampir sama dengan muskovit, tetapi illit mengandung lebih banyak SiO2
dibandingkan dengan muskovit (Tan, 1998).
Berdasarkan data rasio Si/Al diperoleh bahwa lempung sudah diaktivasi
mengalami penurunan rasio Si/Al sekitar 80% dibandingkan dengan lempung alam. Hal
ini menunjukkan berkurangnya jumlah pengotor pada permukaan lempung dan telah
terjadi pemerataan pada pori lempung setelah lempung diaktivasi NaOH dan dikalsinasi.
Peningkatan kadar Al2O3 pada lempung aktivasi disebabkan oleh NaOH dan HNO3 yang
memiliki daya larut yang kecil untuk beberapa pengotor logam seperti Al kadar SiO2
Kadar Al2O3 Rasio si/Al LA 57.98 0.29 199.93 NaOH 5% dan Mg, sehingga NaOH
tidak mampu melarutkan logam tersebut karena sifatnya yang kurang reaktif terhadap
logam (Purwanti dan Hartanto, 1994). Ion Al yang seharusnya larut pada penentuan Si
menjadi meningkat akibat proses perendaman dalam asam nitrat yang kurang sempurna
karena HNO3 berfungsi melarutkan Al. Peningkatan kadar SiO2 pada lempung aktivasi
dengan NaOH 5% yaitu sebesar 66.49%. Perubahan kadar SiO2 pada lempung aktivasi
disebabkan tertariknya sebagian silika saat proses aktivasi sampel lempung dengan
NaOH yang membentuk natrium alumina silikat sehingga terjadi perubahan unsur-unsur
yang ada pada komponen penyusun lempung akibat aktivasi dan pengaruh suhu (Henry,
2012). Dengan bertambah kecilnya rasio Si/Al , lempung yang telah diaktivasi dengan
NaOH dengan metode impregnasi dapat digunakan sebagai katalis.

BAB III
METODE KERJA
III.1

Alat dan Bahan

III.1.1 Alat
Kertas saring
Oven
Plastic
III.1.2 Bahan
NaOH
Lempung
III.2. Cara Kerja

Sampel lempung yang digunakan diambil dari kota Palas. Sampel yang diperoleh
dimasukkan dalam kantong plastik secara terpisah dan dibawa ke laboratorium. Sampel
lempung dibersihkan dari partikel kasar secara pencucian dengan akuades sebanyak 3
kali dan disaring. Kemudian dikeringkan dalam oven pada suhu 105 oC sampai kering,
selanjutnya lempung digerus sampai halus dan diayak dengan ayakan ukuran 200 mesh.
Kemudian disimpan dalam desikator untuk diaktivasi sebanyak 40 g lempung
ditambahkan dengan larutan NaOH dengan variasi konsentrasi NaOH/Lempung 5% (b/b)
dengan menggunakan metoda impregnasi. Pada metoda ini dilakukan dengan
menambahkan larutan NaOH kedalam lempung tetes demi tetes pada suhu kamar disertai
pengadukan selama 8 jam. Sampel dikeringkan dalam oven pada suhu 105 0C dan
dikalsinasi pada suhu 3000C selama 3 jam. Lalu lempung didinginkan dalam desikator
dan siap untuk dikarakterisasi.

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
Analisis difraksi sinar-x dari lempung alam dan lempung aktivasi diperoleh
difraktogram seperti yang terlihat pada gambar 1.

Gambar 1. Pola XRD dari lempung alam (LA) dan lempung aktivasi NaOH dengan konsentrasi
NaOH/Lempung 5% (b/b) kalsinasi suhu 300oC. Pola XRD lempung alam Desa palas yang telah
diaktivasi menggunakan NaOH pada variasi suhu 300 oC terlihat pada Gambar 1. Gambar 1
menunjukkan pola XRD lempung alam Kecamatan Rumbai terlihat bahwa kandungan mineral
lempung terdiri 5 dari kaolinit, kuarsa dan muskovit (Nadarlis, 2011), sedangkan pola XRD pada
lempung yang telah diaktivasi dengan NaOH/Lempung 5% (b/b) pada suhu 300 Oc muncul
mineral baru yaitu Natrium aluminium silikat [Na6(AlSiO4)6.4H2O] sedangkan puncak kaoilinit
hilang, Hal serupa telah dilaporkan oleh Ester (2012) yang mengaktivasi NaOH dengan metode
perendaman. Puncak karakterstik kaolinit (2 12.34o, 23.97 o, 24.89 o, 34.95o, 38.44 o, dan
42.42 o) dengan d-spacing sebesar 7.18 ; 2.34 ; 2.13 ; 3.71 ; 3.58 ; 2.57. Hilangnya
puncak kaolinit membuktikan bahwa mineral kaolinit pada lempung alam berubah menjadi
muskovit pada 2 = 8.820 o, 17.81 o dan 22.89 o . Selain itu kalsinasi lempung alam Kecamatan
Rumbai yang diaktivasi dengan NaOH 5% dengan metoda impregnasi memunculkan senyawa
natrium aluminium silikat ( Na6(AlSiO4 ) . Berbeda dengan lempung desa palas yang diaktivasi
dengan metode perendaman oleh Henry (2012) tidak ditemukan puncak muskovit, namun
ditemukan
puncak illit. Mineral illit tersebut mempunyai komposisi kimia yang hampir sama dengan
muskovit, tetapi illit mengandung lebih banyak SiO2 dibandingkan dengan muskovit (Tan, 1998).
Dari hasil pengukuran kadar silika dan alumina seperti tercantum pada gambar 2
menunjukkan bahwa lempung alam (LA) terdiri dari kadar SiO 2 sebesar 57.98% dan Al2O3
sebesar 0.29%. Setelah dilakukan penambahan larutan NaOH terhadap lempung maka kadar
SiO2 dan Al2O3 mengalami peningkatan seperti yang terlihat pada gambar 2. Peningkatan kadar
Al2O3 pada lempung aktivasi disebabkan oleh NaOH dan HNO3 yang memiliki daya larut yang
kecil untuk beberapa pengotor logam seperti Al kadar SiO2 Kadar Al2O3 Rasio si/Al dan Mg,
sehingga NaOH tidak mampu melarutkan logam tersebut karena sifatnya yang kurang reaktif
terhadap logam (Purwanti dan Hartanto, 1994). Ion Al yang seharusnya larut pada penentuan Si
menjadi meningkat akibat proses perendamandalam asam nitrat yang kurang sempurna karena
HNO3 berfungsi melarutkan Al. Peningkatan kadar SiO2 pada lempung aktivasi dengan NaOH
5% yaitu sebesar 66.49%. Perubahan kadar SiO2 pada lempung aktivasi disebabkan tertariknya
sebagian silika saat proses aktivasi sampel lempung dengan NaOH yang membentuk natrium
alumina silikat sehingga terjadi perubahan unsur-unsur yang ada pada komponen penyusun
lempung akibat aktivasi dan pengaruh suhu (Henry, 2012). Dengan bertambah kecilnya rasio
6

Si/Al , lempung yang telah diaktivasi dengan NaOH dengan metode impregnasi dapat digunakan
sebagai katalis.
Kapasitas tukar kation
Hasil kapasitas tukar kation lempung alam dan lempung modifikasi, disajikan pada
gambar 3. Dari hasil penelitian dapat dilihat bahwa meningkatnya nilai KTK pada NaOH 5%
(suhu 300oC), juga dipengaruhi oleh peningkatan kadar Al2O3. Menurut Muhdarina dkk (2000),
pilarisasi lempung mengakibatkan lempung memiliki muatan misel yang lebih negatif sehingga
dapat memberikan peningkatan total kation penukar. Pernyataan ini sesuai dengan hasil
penentuan kadar Al2O3 lempung aktivasi yang juga meningkat dengan adanya peningkatan suhu
kalsinasi dan variasi NaOH. Berdasarkan penelitian ini, maka lempung aktivasi dengan variasi
NaOH 5% (suhu 300oC) dapat digunakan sebagai penukar kation yang paling baik dari hasil
penelitian ini.
Luas Permukaan
Pada penelitian ini luas permukaan lempung ditentukan berdasarkan kemampuan
adsorpsi lempung terhadap metilen biru yang merupakan kation organik. Penurunan luas
permukaan lempung yang diaktivasi dengan NaOH/Lempung 5% (b/b) diasumsikan akibat
jenuhnya situs adsorpsi permukaan lempung oleh kation Na yang berasal dari hasil aktivasi
dengan NaOH. Kation Na cenderung ditemukan pada permukaan luar lempung yang
mengakibatkan sisi aktif lempung akan semakin berkurang.
Situs asam dan basa
Pada penelitian ini, keasaman dan kebasaan lempung ditentukan dengan menggunakan
metode titrasi asam dan basa. Hasil penelitian menunujukkan bahwa keasaman lempung
mengalami peningkatan setelah diaktivasi dengan NaOH

BAB V
PENUTUP
V.1

Kesimpulan
Berdasarkan pada penelitian yang dilakukan, dapat disimpulkan bahwa Hasil
analisis secara XRD, memberikan informasi bahwa pengaktifan lempung dengan
menggunakan NaOH secara impregnasi menyebabkan kaolinit berubah menjadi natrium

alumina silikat dan menghasilkan muskovit. Pengaktifan lempung alam (LA)


menyebabkan penurunan rasio Si/Al dari 199.93 menjadi 3.87. Lempung aktivasi dengan
NaOH secara impregnasi memberikan peningkatan kapasitas tukar kation yaitu 43.117
meq/100g. Berdasarkan kemampuan adsorpsi terhadap metilen biru, aktivasi lempung
dengan NaOH menunjukkan penurunan luas permukaan yaitu sebesar 17.304 m2/g.
Keberadaan situs asam lempung aktivasi mengalami peningkatan yaitu 0.5635 mmol/g,
sedangkan untuk kebasaan lempung mengalami penurunan yaitu 0.3375 mmol/g.
V.2

Saran
Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut dengan metode yang sama dengan
menggunakan penambahan variasi konsentrasi dan untuk mendapatkan pengukuran luas
permukaan maksimal sebaiknya digunakan metode BET.

DAFTAR PUSTAKA
Manurung, E. 2012. Karakterisasi Lempung Alam Desa Palas yang diaktivasi dengan NaOH
secara Perendaman : Pengaruh Suhu Kalsinasi. Skripsi. Jurusan Kimia Fakultas
Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Universitas Riau, Pekanbaru.

Henry, S. S. 2012. Karakteristik Lempung Alam Desa Palas yang Diaktivasi dengan NaOH
secara Perendaman : Pengaruh Waktu Kalsinasi. Skripsi. Jurusan Kimia Fakultas
Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Universitas Riau, Pekanbaru.
Muhdarina, Lingggawati, A., Verawaty dan Mardianus. 2000. Jarak Kisi, rasio si/Al dan kationKation Penukar Padatan Lempung Alumina Terpilar. Jurnal Natur Indonesia. 3(1):
27-31.
Nadarlis. 2011. Identifikasi dan Karakterisasi Lempung Alam Asal Desa Palas Kecamatan
Tampan dan Desa Talanai Teratak Buluh Kecamatan Siak Hulu. Laporan Hasil
Penelitian. Universitas Riau.
Purwanti, E dan Hartanto, D. 1994. Pembuatan Zeolit Dari Bentonit Melalui Proses Aktivasi
Pengasaman. Iptek ITS. Kimia-FMIPA ITS.
Salerno,P and Mendioroz, S. 2002.Preparation of Al-pillared from Concentrated Dispersions.
Applied Clay Science. 22: 115-123.
Sidabutar, M. 1999. Aktivasi Lempung dengan NaOH, KOH dan Ion Keggin untuk
Meningkatkan kapasitas tukar kation.Skripsi Jurusan Kimia Fakultas Matematika
dan Ilmu Pengetahuan Alam. Universtas Riau, Pekanbaru.
Soetaredjo, F.E., Aning, A., Suryadi, I., and Anastasia, L.M. 2011. KOH/Bentonit catalysts for
transesterification of palm oil to biodiesel. Applied clay science.
Tan, KH. 1998. Dasar-Dasar Kimia Tanah. UGM Press, Yogyakarta.