Anda di halaman 1dari 15

REFERAT

FARMAKOLOGI OBAT ANALGESIK NON-OPIOID

Penyusun :
Putri Caesarrini
030.11.234

Pembimbing :
dr. I Nyoman Adnyana, SpAn

Kepaniteraan Klinik Departemen Anestesi


Rumah Sakit Angkatan Laut dr. Mintohardjo
Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti
Jakarta, 7 Maret 9 April 2016

KATA PENGANTAR
Puji syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas rahmat dan karunia-Nya
penulis dapat menyelesaikan referat dengan judul Farmakologi Obat Analgesik Non-opiod.
Referat ini ditulis untuk menambah pengetahuan dan wawasan mengenai anestesi lokal dan
merupakan salah satu syarat dalam mengikuti Kepaniteraan Klinik di Bagian Ilmu Anestesi di
Rumah Sakit Angkatan Laut dr. Mintohardjo.
Dalam penyusunan referat ini penulis mendapat bantuan dari berbagai pihak. Oleh
karena itu penulis ucapkan terima kasih kepada: pertama, Tuhan Yang Maha Esa yang telah
memberikan kelancaran dan jalan keluar dari segala kendala yang penulis alami selama
penulisan referat ini. kedua, penulis mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada dr. I
Nyoman Adnyana, SpA sebagai pembimbing yang telah meluangkan waktu, pikiran serta
tenaga bersedia membimbing penulis dengan penuh ketekunan dan kesabaran hingga referat
ini selesai. Terakhir, penulis juga berterima kasih kepada teman seperjuangan stase anestesi
periode ini, Nur Adam A. K, Ayu Andini Putri, Febrika Sonia Putri, dan Sandini Yustia Laras
yang telah memberikan semangat serta dukungan.
Penulis menyadari bahwa referat ini tidak terlepas dari kekurangan. Kritik dan saran
yang membangun penulis butuhkan demi penulisan serupa yang lebih baik di masa
mendatang. Penulis berharap hasil referat ini bermanfaat bagi semua pihak.

Jakarta, 26 Maret 2016

Putri Caesarrini

LEMBAR PENGESAHAN

Referat berjudul
FARMAKOLOGI OBAT ANALGESIK NON-OPIOD

Disusun oleh:
Putri Caesarrini
030.11.234

Telah diterima dan disetujui oleh pembimbing:


dr. I Nyoman Adnyana, SpAn

Sebagai salah satu syarat dalam mengikuti dan menyelesaikan


Kepaniteraan Klinik Departemen Ilmu Anestesi
di Rumah Sakit Angkatan Laut dr. Mintohardjo
Periode 7 Maret 9 April 2016

Jakarta, 26 Maret 2016

dr. I Nyoman Adnyana, SpAn

DAFTAR ISI
halaman
KATA PENGANTAR ................................................................................................ i
LEMBAR PENGESAHAN....................................................................................... ii
DAFTAR ISI ............................................................................................................. iii
BAB I

PENDAHULUAN .................................................................................. 1

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA ......................................................................... 2


2. 1 Nyeri ............................................................................................... 2
2. 2 Analgesik Non-opioid...................................................................... 3
2. 3 Klasifikasi Analgesik Non-opiod..................................................... 3
2. 4 Farmakologi Analgesik Non-opioid................................................. 3
2. 4. 1 Farmakodinamik................................................................... 3
2. 4. 2 Farmakokinetik..................................................................... 4

BAB III

KESIMPULAN ......................................................................................11

BAB IV

DAFTAR PUSTAKA..............................................................................12

BAB I
PENDAHULUAN
Berdasarkan International Association for the Study of Pain, nyeri adalah rasa tidak
nyaman secara sensorik dan emosional yang berhubungan dengan kerusakan jaringan. 1 Nyeri
adalah gejala paling umum yang timbul pada suatu kondisi patologis dan obat-obat analgetik
adalah yang sering digunakan sebagai terapinya. Nyeri timbul akibat oleh berbagai
rangsangan pada tubuh misalnya rangsangan mekanis, kimiawi dan fisis sehingga
menimbulkan kerusakan pada jaringan yang memicu pelepasan mediator nyeri seperti
bradikinin dan prostaglandin yang akhirnya mengaktivasi reseptor nyeri di saraf perifer dan
diteruskan ke otak. Lebih dari 90% obat-obatan analgesik berada di perifer, non-opioid (nonnarkotik) atau analgesik ringan.2 Tatalaksana nyeri terutama pada keadaan akut dapat
diberikan melalui oral, transdermal, intravena, dan intramuskular. Obat-obat analgesik dibagi
menjadi 2, yaitu, non-opioid (non-narkotik), bekerja di perifer, sifatnya ringan, dan antipiretik
dan opioid (narkotik), bekerja di sentral, dan analgetik yang kuat.3
Analgesik adalah suatu senyawa atau obat yang dipergunakan untuk mengurangi rasa
sakit atau nyeri.4 Analgesik non-narkotika adalah golongan obat analgesik untuk
menghilangkan rasa nyeri ringan sampai sedang. Mekanisme dan tempat kerja obat ini
berbeda dengan kerja analgesik narkotika. Golongan obat ini di samping bekerja sebagai
analgesik umumnya dapat memberikan efek antipiretik dan antiinflamasi, sehingga disebut
juga obat analgesik-antipiretik dan antiinflamasi. Kekuatan efek analgesik, antipiretik, dan
antiinflamasi setiap obat golongan ini berbeda-beda. Berbagai klasifikasi dari analgesik non
opioid dilaporkan dari berbagai sumber. Analgesik non opioid dibedakan menjadi 2 golongan,
1) non asam, antipiretik analgesik seperti pirazolon (metamizol) dan derivat aniline
(paracetamol), 2) non steroidal antiinflammatory drugs (NSAID) seperti, salisilat (asam
asetilsalisilat), derivat asam propionik (ibuprofen, naproxen), asam asetat (indometacin,
diklofenak), asam enolik (piroxicam, meloxicam), asam antranil (mefenamin). 5 Efek samping
yang paling sering terjadi adalah gangguan gastrointestinal, perdarahan, dan kerusakan pada
hepar dan ginjal.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2. 1

Nyeri2
Mekanisme nyeri dibagi menjadi nyeri nociceptive dan neuropati. Nyeri nociceptive

adalah nyeri akut yang disebabkan oleh stimulus yang disebabkan cedera (injurious stimuli).
Nyeri neuropatik berasal dari sistem saraf yang normal yang terjadi gangguin sehingga timbul
hiperpatia. Hiperpatia terdiri dari disesthesia, allodynia, hiperallodynia, hiperestesia, atau
anesthesia dolorosa. Gambaran secara umum tentang nyeri yaitu dimana reseptor perifer
distimulasi oleh stimulus yang berbahaya. Saraf perifer membawa sinyal ke medulla spinalis
dimana sinyal tersebut akan diteruskan melalui neuron asending ke kortex cerebral.
Nyeri nociceptive yang berasal dari stimulus seperti dingin, tekanan, tersayat, panas
ekstrim, peregangan, inflamasi, atau stimulus lainnya yang dapat menyebabkan kerusakan
jaringan yang mengeksitasi nociceptor untuk meneruskan stimulus menjadi potensial aksi di
sepanjang serabut saraf perifer. Potensial aksi akan diteruskan melalui axon aferen ke badan
sel neuron di ganglion dorsalis. Kemudian melalui axon eferen menuju kornu dorsalis
medulla spinalis dimana saraf perifer bersinaps dengan saraf sentral di medulla spinalis.
Pemberian analgesik dibutuhkan sebelum sinyal dibawa ke batang otak dan thalamus
melewati jalur asending atau traktus spinothalamikus. Selanjutnya, sinyal akan diproses oleh
batang otak, thalamus, dan kortex cerebral. Jalur desending dapat mempengaruhi persepsi
nyeri dengan mentrasmisikan sinyal ke ganglia dorsalis. Letak anatomi dimana obat-obatan
dapat mengurangi rasa sakit, yaitu:
-

Nociceptor dan jaringan disekitarnya


Axon A-delta dan serat saraf C di sistem saraf perifer
Badan sel saraf perifer di ganglia dorsalis
Sinaps kornu dorsalis, saraf-saraf, mikroglia, dan jairngan disekitarnya
Jalur asending di medulla spinalis seperti traktus spinothalamikus
Batang otak, thalamus, kortex cerebral
Jalur desending seperti traktus kortikospinal

Berdasarkan International Association for the Study of Pain nyeri neuropatik


disebabkan oleh lesi primer atau disfungsi dari sistem saraf. Apabila sekali rangsangan yang
menyebabkan nyeri neuropatik telah berhenti, kerusakan pada sistem saraf akan terus
berlanjut yang mengakibatkan nyeri kronik.

2. 2

Analgesik non-opioid
Analgesik adalah suatu senyawa atau obat yang dipergunakan untuk
mengurangi rasa sakit atau nyeri. Obat-obat analgesik dibagi menjadi 2 yaitu, nonopioid (non-narkotik), bekerja di perifer, sifatnya ringan, dan antipiretik dan opioid
(narkotik), bekerja di sentral, dan analgetik yang kuat. Analgesik yang sering
digunakan dalam mengatasi nyeri ringan hingga sedang yaitu golongan non-opioid
(non-narkotik). Secara umum, penatalaksanaan awal pada nyeri dengan analgesik
non-opioid walaupun kurang efektif dibandingkan dengan opiod untuk mengatasi
nyeri. Golongan obat ini sangat berguna dalam penatalaksanaan nyeri, demam,
inflamasi dan mengurangi agregasi platelet.2, 3, 4
Klasifikasi analgesik non-opioid5

2. 3

Analgesik non opioid dibedakan menjadi 2 golongan yaitu:


-

Non asam, antipiretik analgesik seperti pirazolon (metamizol) dan derivat aniline

(paracetamol).
Non steroidal antiinflammatory drugs (NSAID) seperti, salisilat (asam asetilsalisilat), derivat
asam propionik (ibuprofen, naproxen), asam asetat (indometacin, diklofenak), asam enolik
(piroxicam, meloxicam), dan asam antranil (mefenamin).

2. 4

Farmakologi analgesik non-opioid

2. 4. 1 Farmakodinamik
Secara umum, mekanisme kerja analgesik non-opioid dengan menghambat
enzim siklooksigenase (COX). Terdapat 2 jenis enzim ini, yaitu, COX-1 dan COX-2.
Mekanisme tersebut melibatkan blokade dari produksi prostaglandin dengan
menghambat enzim siklooksigenase pada jaringan yang terluka di perifer. Sehingga
menurunkan mediator-mediator nyeri di sistem saraf perifer.1 Enzim COX
mengkatalisis produksi prostaglandin dari asam arakhidonat. Reseptor COX-1
tersebar di seluruh tubuh termasuk di usus dan platelet. Sebaliknya, COX-2 hanya di
produksi bila terdapat inflamasi.1, 6
COX-2 dapat berikatan dengan molekul yang besar dibandingkan dengan
COX-1. Obat-obatan yang menghambat COX non tidak selektif, seperti aspirin, dapat
mengatasi demam, inflamasi, nyeri atau sakit, dan thrombosis. Obat-obatan selektif
COX-2, seperti acetominofen (paracetamol), celecoxib, dan etoricoxib, dapat
digunakan pada perioperatif. Obat-obatan penghambat COX-1 menurunkan

thrombosis, penghambat selektif COX-2 meningkatkan risiko serangan jantung,


thrombosis, dan stroke. Inhibisi enzim ini oleh obat-obatan NSAID dapat
menyebabkan ulserasi lambung dan kerusakan pada ginjal.1,6
Inhibisi dari COX tidak bekerja secara langsung terhadap sistem
kardiovaskular. Secara klinis, obat-obat penghambat COX tidak memberikan efek
terhadap respirasi atau fungsi paru. Namun, pemberian aspirin dengan dosis berlebih
dapat menimbulkan efek samping pada respirasi dan ketidakseimbangan asam basa.
Komplikasi gastrointestinal merupakan komplikasi umum yang timbul pada obatobatan penghambat COX-1 seperti perdarahan gastrointestinal bagian atas.
Komplikasi tersebut akibat efek langsung obat. Pemakaian acetominofen berlebih
dapat menyebabkan kegagalan fungsi hepar.6
2. 4. 2 Farmakokinetik6
-

Absorpsi
Semua penghambat COX diabsorpsi setelah pemberian oral dan mencapai konsentrasi
tertinggi di darah kurang dari 3 jam. Beberapa obat penghambat COX dapat diberikan

secara topikal.
Distribusi
Setelah di absorpsi, obat-obatan ini berikatan dengan protein plasma terutama albumin.
Sifat dari obat-obat penghambat COX adalah larut dalam lemak sehingga dapat melewati
blood brain barrier untuk memberikan analgesik secara sentral, antipiretik, dan

a.

berpenetrasi ke ruang sendi untuk memproduksi efek antiinflamasi.


Biotransformasi
Hampir semua obat penghambat COX mengalami biotransformasi di hati.
Ekskresi
Obat-obat penghambat COX di ekskresikan melalui urin.

Asam salisilat1, 2, 7
- Farmakokinetik
Aspirin merupakan asam organik dan sebagai obat pertama mengatasi nyeri. Aspirin
dan golongan asam salisilat lainnya di absorpsi secara cepat melalui oral di usus halus.
Aspirin dapat mencapai konsentrasi tertinggi di plasma dalam waktu 1 hingga 2 jam
setelah pemberian oral. Aspirin di hidrolisa oleh esterase di lambung menjadi acetat dan
asam salisilat di liver. Asam salisilat adalah glucuronidase, berkonjugasi dengan glisin
membentuk asam salisilurik (jalur utama metabolisme), di oksidasi bebas menjadi asam
salisilat yang di sekresikan ke tubulus proksimal ginjal. Asam salisilat berikatan dengan
protein plasma mencapai 80% terutama albumin. Secara pasif, salisilat berdifusi ke semua
-

jaringan, termasuk ASI, jaringan fetal, dan sistem saraf sentral.


Farmakodinamik

Aspirin dan asam salisilat lainnya menghambat sintesis prostaglandin di perifer dan di
tingkat yang lebih rendah mensintesis tromboksan (agregasi platelet). Aspirin sebagai
tatalaksana primer untuk nyeri ringan hingga sedang yang berhubungan dengan sakit
kepala, nyeri pada sendi dan otot, dan dismenorea. Dosis tinggi efektif sebagai analgesik
pada rheumatoid arthritis. Obat ini menurunkan prostaglandin dimana memicu terjadinya
demam sebagai respon dari pirogen dan menurunkan modulator inflamasi seperti IL-1 di
hipotalamus sebagai pengontrol suhu tubuh. Apabila terjadi penurunan suhu dari
hipotalamus, terjadi vasodilatasi pembuluh darah dan demam akan turun. Penggunaan
lain aspirin yaitu menginhibisi agregasi platelet melalui inhibisi tromboksan sehingga
terjadi penurunan pembekuan darah, myocardial infarction, dan transient ischemic
attacks.
Penggunaan dosis berlebih pada aspirin dapat mempengaruhi pusat pernapasan di
medulla yang akan menyebabkan hiperventilasi. Salisilat mengalami proses oksidatif
yang akan menyebabkan peningkatan produksi karbon dioksida dan asidosis metabolisme
apabila tidak ditangani setelah 1 jam mengonsumsi aspirin. Beberapa pasien mengalami
hipersensitivitas terhadap aspirin yang akan menimbulkan tinnitus, vertigo, dan
bronkospasme (terutama pada asma bronkial). Dapat terjadi sindrom Reye yaitu, ditandai
dengan kerusakan hati dan ensefalopati apabila diberikan pada anak-anak yang sedang
mendapat infeksi varicella atau influenza. Selain itu, aspirin tidak boleh diberikan pada
penyakit hati kronik.
b.

Derivat p-Aminofenol1,2
- Farmakokinetik
Asetominofen atau paracetamol dengan pH asam 9,5, di absorpsi dengan cepat di saluran
cerna melalui oral dan mencapai kadar tertinggi di plasma selama 30 menit hingga 2 jam.
Asetominofen tidak berikatan kuat dengan protein plasma dibandingkan dengan salisilat.
Dosis terapetik normal asetominofen, akan mengalami konjugasi dengan sulfat atau
glukuronidase dan di ekskresikan di ginjal. Metabolisme asetominofen oleh enzim P450
-

di hepar.
Farmakodinamik
Penghambat perifer COX. Efek analgesik dengan menghambat sintesis prostanoid di
sistem saraf pusat dan digunakan untuk nyeri ringan hingga sedang. Efek antipiretik mirip
dengan aspirin yaitu, di level hipotalamus sebagai pengatur suhu tubuh dengan
menghambat sintesis prostaglandin. Asetominofen hanya miliki efek antiinflamasi yang
rendah sehingga tidak digunakan pada pasien dengan arthritis atau penyakit inflamasi
lainnya. Selain itu, asetominofen tidak menimbulkan ulserasi gaster dan dapat diberikan
pada pasien yang sensitif terhadap salisilat.

c.

Indoles (indometasin)1
- Farmakodinamik

Indometasin (Indocin) adalah asam asetat yang merupakan derivat dari sulindak (clinoril).
Obat-obat ini di metabolisme di liver dan di ekskresikan melalui empedu dan ginjal.
-

Golongan obat ini penghambat poten COX dan efektif sebagai obat-obatan antiinflamasi.
Farmakokinetik
Absorpsi peroral baik, kadar puncak mencapai 2 jam, dan 90% terikat dengan protein

plasma.
Efek samping dan interaksi obat
Semua obat-obatan ini memiliki efek analgesik, antipiretik, dan efek antiinflamasi. Dapat
terjadi iritasi gaster, sakit kepala, mual, termasuk efek hematologi dan vasokonstriksi
koroner, maka obat-obatan ini tidak dapat digunakan sebagai tatalaksana primer untuk
nyeri. Indometasin sangat berguna dalam penatalaksanaan gout akut, osteoarthritis,
ankylosing spondylitis. Kontraindikasi indometasin pada kehamilan, asma, dan pada
penderita ulserasi gaster atau ulserasi pada saluran pencernaan lainnya.

d.

Fenamat1, 2
Meklofenamat (meclomen) dan asam mefenamat (ponstel) merupakan penghambat
yang poten COX. Kedua obat ini memiliki efek samping yang serius, duration of action
(DOA) yang pendek, absorpsi melalui oral, dan tidak aman untuk anak-anak. Golongan obat
ini bersifat analgesik, antipiretik, dan antiinflamasi yang diindikasikan untuk nyeri ringan
sampai sedang. Selain itu, digunakan untuk rheumatoid arthritis, dismenorhoe, dan
osteoarthritis. Obat-obatan ini di metabolisme melalui glukuronidasi di hepar dan di
ekskresikan melalui ginjal. Oleh karena itu, golongan fenamat membutuhkan fungsi liver dan
ginjal yang normal dan kontraindikasi diberikan kepada pasien dengan gagal ginjal atau liver.

e.

Derivat asam propionat1


Ibuprofen, flurbiprofen, fenoprofen, ketoprofen, dan naproxen adalah obat-obatan
derivat asam propionat yang menghasilkan efek analgesik, antipiretik, dan antiinflamasi.
Obat-obatan ini memblok produksi prostaglandin melalui inhibisi COX. Golongan obat ini
lebih poten dibandingkan dengan aspirin serta efek samping yang ditimbulkan seperti iritasi
gaster lebih rendah. Ketoprofen menghambat lipoxygenase dan COX sehingga menurunkan
produksi dari leukotrien dan prostaglandin. Selain itu, menurunkan pengeluaran enzim
lisosom akibat proses inflamasi.
Naproxen memiliki masa paruh yang panjang yaitu 14 jam, sedangkan fenoprofen,
ibuprofen, dan ketoprofen memiliki masa paruh yang pendek yaitu 2 jam. Golongan obat ini
di metabolisme di liver dan di ekskresikan di ginjal. Obat-obatan golongan ini bervariasi
dalam berikatan dengan protein plasma. Namun, dapat mengganggu obat lain saat berikatan
dengan protein plasma kecuali ketoprofen.
Asam propionat baik untuk tatalaksana rheumatoid arthritis dan osteoarthritis untuk
mengurangi nyeri ringan hingga sedang, demam serta dismenorhea. Penggunaan ibuprofen
dapat terjadi hipersensitivitas akut pada pasien lupus. Apabila penggunaan ibuprofen dengan
aspirin dapat mengurangi efek antiinflamasi pada kedua obat tersebut. Ibuprofen
kontraindikasi diberikan pada pasien dengan sensitif aspirin karena dapat menyebabkan
konstriksi bronkial dan angioedema. Fungsi ginjal dan liver harus normal saat mengkonsumsi
obat-obatan NSAID.

f.

Derivat pirazolon1
Fenilbutazon (butazolidin) dimetabolisme menjadi oxyphenbutazone (phlogistol) dan
kedua obat ini memiliki aktivitas yang berhubungan dengan obat-obatan NSAID. Namun,
obat-obatan ini memiliki efek samping yang serius, seperti anemia, nephritis, gagal ginjal atau
nekrosis, dan kerusakan liver. Oleh karena itu, hanya dberikan untuk tatalaksana nyeri pada
gout atau phlebitis. Kontraindikasi untuk diberikan kepada anak-anak dan orang tua dengan
gangguan fungsi ginjal. Konsekuensi pada pemakaian dosis berlebih yaitu kerusakan fungsi
liver, gagal ginjal, dan shock. Tidak ada antidotum untuk dosis berlebih.

g.

Derivat oksikam1
Piroksikam merupakan contoh obat derivat oksikam. Obat-obatan ini memiliki efek
analgesik, antipiretik, dan antiinflamasi. Masa paruh piroksikam adalah 45 jam, di absorpsi
sempurna peroral, dan 99% terikat dengan protein plasma. Obat ini mengalami siklus
enterohepatik dan 5% di ekskresikan dalam bentuk utuh melalui urin. Konsentrasi terutama di
plasma dan cairan sinovial.
Efek samping yang dapat timbul, seperti obat NSAID yang lainnya yaitu tinnitus, sakit
kepala, dan gastritis. Piroksikam di indikasikan untuk inflamasi oleh karena rheumatoid
arthritis.

h.

Derivat asam asetat1

Diklofenak (voltaren) adalah derivate asam fenilasetat yang poten dalam menghambat
COX dan memiliki efek analgesik, antiinflamasi, dan antipiretik. Indikasi pemakaian obat ini
adalah rheumatoid arthritis, osteoarthritis, dan inflamasi pada mata.
Ketorolak (toradol) adalah NSAID dengan efek antipiretik dan antiinflamasi yang
ringan. Obat ini paten digunakan sebagai analgesik pasca operasi. Biasanya, ketorolak
dikombinasikan dengan opioid untuk mengurangi dosis dan efek samping dari opioid. Selain
itu, dapat diberikan pada pasien yang sensitif terhadap opioid. Mekanisme kerja dari
ketorolak adalah menghambat COX dan menurunkan prostaglandin. Obat ini di absorpsi
secara cepat melalui oral atau intramuscular dimana seluruhnya terikat dengan protein
plasma, dan ekskresinya 90 % melalui urin dan 60 % dalam keadaan utuh.
Tolmetin (tolectin) adalah obat antiinflamasi, analgesik, dan antipiretik yang
menimbulkan ulserasi pada gaster atau terjadi gastritis seperti efek samping NSAID lainnya.
Obat ini di absorpsi peroral secara cepat dan sempurna, memiliki masa paruh selama 5 jam,
dan 99 % terikat dengan protein plasma. Mencapai konsentrasi tertinggi di plasma dalam
waktu 20 hingga 60 menit. Tolmetin dapat menimbulkan tinnitus dan vertigo, namun tidak
seberat aspirin. Tolmetin juga dapat digunakan sebagai pengganti dari indometasin pada orang
yang sensitive terhadap indometasin.
i.

COX-2 inhibitor1, 6

Contoh obat COX-2 inhibitor adalah celecoxib (Celebrex) dan rofecoxib


(vioxx). Kedua obat ini selektif menghambat COX-2. Selain berperan pada inflamasi
di perifer, COX-2 juga berperan pada sistem saraf pusat. Sehingga, mekanisme kerja
dari penghambat COX-2 meliputi otak, medulla spinalis, seperti pada jaringan lainnya
yang mengalami cedera. Penelitian sebelumnya melaporkan bahwa enzim COX-2
berperan dalam penyakit kanker kolon.
Golongan obat ini diindikasikan untuk terapi osteoarthritis dan rheumatoid
arthritis, dan rofecoxib juga untuk terapi osteoarthritis, nyeri akut, dan dismenorhea.
Insiden terjadinya ulkus peptikum berkurang dibandingkan dengan golongan non
selektif NSAID lainnya. Celecoxib dan rofecoxib dapat memperlambat proses
penyembuhan luka dan memperpanjang waktu regenerasi jaringan.
Oleh karena itu, pasien dengan riwayat ulkus peptikum diberikan obat pengganti
antiinflamasi lainnya. Kontraindikasi pemberian celecoxib pada kehamilan karena
COX-2 mempertahankan ovulasi dan waktu persalinan. Selain itu, COX-2 terlibat
dalam regulasi sistem renin-angiotensin sehingga dapat menimbulkan retensi sodium.

Butterworth J, Mackey D, Wasnick J. Clinical Pharmacology. Morgan & Mikhail's


Clinical Anesthesiology. 5 ed. United States: McGraw-Hill; 2013. p. 1052

BAB III
KESIMPULAN
Analgesik adalah suatu senyawa atau obat yang dipergunakan untuk mengurangi rasa
sakit atau nyeri. Obat-obat analgesik dibagi menjadi 2 yaitu, non-opioid (non-narkotik),
bekerja di perifer, sifatnya ringan, dan antipiretik dan opioid (narkotik), bekerja di sentral,
dan analgetik yang kuat. Secara umum, penatalaksanaan awal pada nyeri dengan analgesik
non-opioid walaupun kurang efektif dibandingkan dengan opiod untuk mengatasi nyeri.
Tatalaksana nyeri terutama pada keadaan akut dapat diberikan melalui oral, transdermal,
intravena, dan intramuskular.
Analgesik non opioid dibedakan menjadi 2 golongan, 1) non asam, antipiretik
analgesik seperti pirazolon (metamizol) dan derivat aniline (paracetamol), 2) non steroidal
antiinflammatory drugs (NSAID) seperti, salisilat (asam asetilsalisilat), derivat asam
propionik (ibuprofen, naproxen), asam asetat (indometacin, diklofenak), asam enolik
(piroxicam, meloxicam), asam antranil (mefenamin).
Mekanisme kerja analgesik non-opioid dengan menghambat enzim siklooksigenase
(COX). Terdapat 2 jenis enzim ini, yaitu, COX-1 dan COX-2. Mekanisme tersebut
melibatkan blokade dari produksi prostaglandin dengan menghambat enzim siklooksigenase
pada jaringan yang terluka di perifer. Sehingga menurunkan mediator-mediator nyeri di
sistem saraf perifer. Enzim COX mengkatalisis produksi prostaglandin dari asam arakhidonat.
Efek samping yang paling sering terjadi adalah gangguan gastrointestinal, perdarahan,
dan kerusakan pada hepar dan ginjal.

DAFTAR PUSTAKA
1.
2.

Welch SP, Martin BR. Opioid and Nonopioid Analgesics.311-16.


Slater D, Kunnathil S, McBride J. Pharmacology of Nonsteroidal Antiinflammatory Drugs

3.

and Opioids. Seminars in Interventional Radiology. 2010;27(4):400-9.


Nonopioid (Non narcotics) Analgesics
[cited 2016 23 March]. Available from:

4.

http://www.cabrillo.edu/~sreddy/DH162B/Chapter%205%20-%20Pharm.pdf.
Kamus Saku Kedokteran Dorland. 29 ed. Hartanto YB, Nirmala WK, Ardy, editors: Elsevier;

5.

2015. 37 p.
Ladner E, Plattner R, Friesenecker B. Non-opioid analgesics irreplaceable in cancer pain

6.

therapy. Anasthesiol Intensivmed Notfallmed Schmerzther. 2000;35(11):677-84.


Butterworth J, Mackey D, Wasnick J. Clinical Pharmacology. Morgan & Mikhail's Clinical

7.

Anesthesiology. 5 ed. United States: McGraw-Hill; 2013. p. 196-8, 1052-5


Nagelschmitz J, Blunck M, Kraetzschmar J, Ludwig M. Pharmacokinetics and
pharmacodynamics of acetylsalicylic acid after intravenous and oral administration to healthy
volunteers. Dovepress. 2014;6:51-9.