Anda di halaman 1dari 14

USULAN PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA

JUDUL PROGRAM

MENGETAHUI VOLUME TETES TEBU DALAM TANGKI


FERMENTOR MELALUI SMS DENGAN MENGGUNAKAN
SENSOR ULTRASONIK
BIDANG KEGIATAN :*
PKM GAGASAN TERTULIS

Diusulkan oleh :

INSTITUT PERTANIAN BOGOR


2016

MENGETAHUI VOLUME TETES TEBU DALAM TANGKI


FERMENTOR MELALUI SMS DENGAN MENGGUNAKAN
SENSOR ULTRASONIK
Kresnanto Herlambang
Program Studi Teknik Mesin dan Biosistem
Institut Pertanian Bogor

RINGKASAN
Gula adalah suatu karbohidrat sederhana yang menjadi sumber energi dan
komoditi perdagangan utama. Gula paling banyak diperdagangkan dalam bentuk
kristal sukrosa padat. Gula digunakan untuk mengubah rasa menjadi manis dan
keadaan makanan atau minuman. Gula sederhana, seperti glukosa (yang
diproduksi dari sukrosa dengan enzim atau hidrolisis asam), menyimpan energi
yang akan digunakan oleh sel. Gula sebagai sukrosa diperoleh dari nira tebu, bit
gula, atau aren.
Salah satu limbah dari pengolahan tebu adalah tetes tebu. Cara paling
mudah membuat bioetanol adalah dengan bahan yang banyak mengandung gula,
contohnya adalah tetes tebu atau molases. Tetes tebu merupakan produk samping
dari pabrik tebu yang memiliki kadar gula sangat tinggi (>50%). Pembuatan
bioetanol dari tetes tebu hanya melewati dua tahap utama saja.
Memonitor volume/ kedalaman bahan fermentasi (tetes teby) pada tangki
fermentor sulit dilakukan karena tangki fermentor yang harus kedap udara. Dalam
upaya memberikan kemudahan dalam memonitor volume bahan fermentasi pada
tangki fermentor, maka dibuat sistem berupa rancang bangun dengan
menggunakan sensor ultrasonik untuk mengukur permukaan bahan fermentasi.
Sensor ultrasonik memancarkan gelombang dan akan memantul jika mengenai
suatu obyek. Data yang diperoleh dari sensor utrasonik akan diolah oleh
mikrokontroler,
Tabung fluida tanpa keterangan volume yang ada di dalamnya sulit untuk
mengetahui volumenya. Kendala ini akan semakin berarti jika letak tabung berada

ii

dalam tanah. Suatu langkah ditempuh dengan mendesain sistem untuk mengetahui
volume fluida dalam tabung. Dengan memperhitungkan hal di atas gagasin ini
merupakan rancang bangun alat pengukur volume fluida dalam tabung.
Perancangan alat dilakukan secara mudah dengan perhitungan volume fluida
dalam tabung.

iii

PENDAHULUAN
Latar Belakang
Kebutuhan masyarakat akan Bahan Bakar Minyak (BBM) yang semakin
meningkat dari tahun ke tahun berbanding terbalik dengan ketersediaannya.
Menurunnya total cadangan bahan bakar minyak tersebut, salah satunya
dikarenakan sumber penghasil BBM yaitu fosil semakin lama semakin berkurang
(Azizah, 2012). Pembakaran BBM juga menghasilkan gas berbahaya seperti CO,
NOx, dan UHC (Unburn Hydro Carbon). Gas buang ini menyebabkan gangguan
kesehatan serta mempercepat pemanasan global . Keadaan ini mendorong negaranegara industri mencari sumber energi alternatif terbarukan yang lebih aman dan
efisien (Koesoemadinata, 2001).
Energi alternatif yang ramai dikembangkan saat ini adalah etanol. Etanol
menjadi pilihan utama dunia karena senyawa ini dapat terus diproduksi baik
secara sintesis kimiawi maupun secara fermentasi (Koesoemadinata, 2001).
Bioetanol hasil fermentasi merupakan bahan campuran (aditif) dari BBM yang
ramah lingkungan karena hasil pembakarannya hanya menghasilkan H2O dan CO2
(Azizah, 2012). Selain itu bahan baku yang dibutuhkan pada proses fermentasi
tersedia secara melimpah salah satunya yaitu limbah pabrik gula berupa tetes tebu.
Tetes tebu menjadi pilihan utama karena mengandung gula cukup tinggi mencapai
34-54 %, selain itu harga tetes juga relatif murah
Tetes atau molasses merupakan produk sisa (by product) pada proses
pembuatan gula. Tetes diperoleh dari hasil pemisahan sirop low grade dimana gula
dalam sirop tersebut tidak dapat dikristalkan lagi. Pada pemrosesan gula tetes
yang dihasilkan sekitar 5 6 % tebu, sehingga untuk pabrik dengan kapasitas
6000 ton tebu per hari menghasilkan tetes sekitar 300 ton sampai 360 ton tetes per
hari. Walaupun masih mengandung gula, tetes sangat tidak layak untuk
dikonsumsi karena mengandung kotoran-kotoran bukan gula yang membahayakan
kesehatan. Penggunaan tetes sebagian besar untuk industri fermentasi seperti
alcohol, pabrik MSG, pabrik pakan ternak dll.
Secara umum tetes yang keluar dari sentrifugal mempunyai brix 85 92
dengan zat kering 77 84 %. Sukrosa yang terdapat dalam tetes bervariasi antara

25 40 %, dan kadar gula reduksi nya 12 35 %. Untuk tebu yang belum masak
biasanya kadar gula reduksi tetes lebih besar daripada tebu yang sudah masak.
Komposisi yang penting dalam tetes adalah TSAI ( Total Sugar as Inverti ) yaitu
gabungan dari sukrosa dan gula reduksi. Kadar TSAI dalam tetes berkisar antara
50 65 %. Angka TSAI ini sangat penting bagi industri fermentasi karena
semakinbesar TSAI akan semakin menguntungkan, sedangkan bagi pabrik gula
kadar sukrosa menunjukkan banyaknya kehilangan gula dalam tetes.

Gambar 1. Komposisi tetes


Tujuan Penulisan

Berdasarkan permasalahan yang diungkapkan, penulisan ini bertujuan


untuk mengetahui volume bahan fermentasi dalam tangki fermentor menggunakan
sensor ultrasonik dan dapat dikirim secara real time melalui sms.
Manfaat Penulisan
1. Bagi produsen gula, diharapkan dapat membantu industri gula untuk
menyelesaikan masalah limbah dan membantu pihak industri gula
untuk dapat menciptakan sumber energi terbarukan.
2. Bagi lingkungan, diharapkan dengan kemudahan dan kemampuan
pengolahan limbah dapat mengurangi atau meniadakan limbah yang
dibuang begitu saja dan mencemari lingkungan.
GAGASAN

Pengolahan Bioetanol dari Limbah Tetes Tebu

Gambar 2. Tahapan utama pembuatan bioetanol dari tetes tebu


BAHAN-BAHAN
Bahan-bahan

yang

diperlukan

untuk

pembuatan

bioetanol

dari

tetes/molasses antara lain adalah:


1. tetes tebu/molasses (kadar gula 50%)
2. urea
3. NPK
4. Fermipan (ragi roti)
5. Air
LANGKAH-LANGKAH PEMBUATAN BIOETANOL
1. Pengenceran Tetes Tebu
Kadar gula dalam tetes tebu terlalu tinggi untuk proses fermentasi, oleh
karena itu perlu diencerkan terlebih dahulu. Kadar gula yang diinginkan kurang
lebih adalah 14 %. Misal: larutkan 28 kg (atau 22.5 liter) molasses dengan 72 liter
air. Aduk hingga tercampur merata. Volume airnya kurang lebih 94.5 L. Masukkan
ke dalam fermentor.
Catatan: jika kandungan gula dalam tetes kurang dari 50%, penambahan
air harus disesuaikan dengan kadar gula awalnya. Yang penting adalah kadar gula
akhirnya kurang lebih 14%.
2. Penambahan Urea dan NPK

Urea dan NPK berfungsi sebagai nutrisi ragi. Kebutuhan hara tersebut
adalah sebagai berikut:
a. Urea sebanyak 0.5% dari kadar gula dalam larutan fermentasi.
b. NPK sebanyak 0.1% dari kadar gula dalam larutan fermentasi.
Untuk contoh di atas, kebutuhan urea adalah sebanyak 70 gr dan NPK
sebanyak 14 gr. Gerus urea dan NPK ini sampai halus, kemudian ditambahkan ke
dalam larutan molasses dan diaduk.
3. Penambahan Ragi
Bahan aktif ragi roti adalah khamir Saccharomyces cereviseae yang dapat
memfermentasi gula menjadi etanol. Ragi roti mudah dibeli di toko-toko bahanbahan kue atau di supermarket. Sebaiknya tidak menggunakan ragi tape, karena
ragi tape terdiri dari beberapa mikroba. Kebutuhan ragi roti adalah sebanyak 0.2%
dari kadar gula dalam larutan molasses. Untuk contoh di atas kebutuhan raginya
adalah sebanyak 28 gr.
Ragi roti diberi air hangat-hangat kuku secukupnya. Kemudian diadukaduk perlahan hingga tempak sedikit berbusa. Setelah itu baru dimasukkan ke
dalam fermentor. Fermentor ditutup rapat.
4. Fermentasi
Proses fermentasi akan berjalan beberapa jam setelah semua bahan
dimasukkan ke dalam fermentor. Kalau anda menggunakan fermentor yang
tembus padang (dari kaca misalnya), maka akan tampak gelembung-gelembung
udara kecil-kecil dari dalam fermentor. Gelembung-gelembung udara ini adalah
gas CO2 yang dihasilkan selama proses fermentasi. Kadang-kadang terdengar
suara gemuruh selama proses fermentasi ini. Selama proses fermentasi ini
usahakan agar suhu tidak melebihi 36oC dan pH nya dipertahankan 4.5 5.
Proses fermentasi berjalan kurang lebih selama 66 jam atau kira-kira 2.5 hari.
Salah satu tanda bahwa fermentasi sudah selesai adalah tidak terlihat lagi adanya
gelembung-gelembung udara. Kadar etanol di dalam cairan fermentasi kurang
lebih 7% 10 %.
5. Distilasi dan Dehidrasi
Setelah proses fermentasi selesai, masukkan cairan fermentasi ke dalam
evaporator atau boiler. Panaskan evaporator dan suhunya dipertahankan antara 79

81oC. Pada suhu ini etanol sudah menguap, tetapi air tidak menguap. Uap etanol
dialirkan ke distilator. Bioetanol akan keluar dari pipa pengeluaran distilator.
Distilasi pertama, biasanya kadar etanol masih di bawah 95%. Apabila kadar
etanol masih di bawah 95%, distilasi perlu diulangi lagi (reflux) hingga kadar
etanolnya 95%.
Apabila

kadar

etanolnya

sudah

95%

dilakukan

dehidrasi

atau

penghilangan air. Untuk menghilangkan air bisa menggunakan kapur tohor atau
zeolit sintetis. Tambahkan kapur tohor pada etanol. Biarkan semalam. Setelah itu
didistilasi lagi hingga kadar airnya kurang lebih 99.5%.
PROSES PEMBUATAN SENSOR ULTRASONIK
1. Tinjauan Teori
Teori pendukung dalam sistem ini meliputi SMS, Mikrokontroler, sensor
ultrasonik, modem GSM dan komunikasi serial.
SMS (Short Message Service)
Prinsip dasar sistem SMS adalah pengiriman pesan singkat dari satu
terminal pelanggan ke terminal pelanggan yang dituju melalui SMS center
(SMSC). Pengiriman pesan dapat dilakukan karena SMSC memiliki fungsi storeand-forward. Untuk melakukan tugas tersebut, SMSC melakukan pencarian rute
tujuan akhir dari pesan singkat. Karena sifatnya yang store-and-forward ini, maka
pesan singkat yang dikirim akan ditunda pengirimannya (tersimpan) hingga
perangkat tujuan aktif kembali.

Gambar 3. Arsitektur Jaringan SMS


Mikrokontroler AVR ATMega16

Mikrokontroler ATMega16 merupakan keluarga ATMega yang banyak


digunakan dalam merancang sistem/ aplikasi berbasis mikrokontroler. Spesifikasi
ATMega16 memiliki flash memory berkapasitas 16 Kbyte dan 32 jalur masukankeluaran, ADC 8 kanal dengan kemampuan 10 bit dan 4 kanal PWM.
(Andrianto,2008)

Gambar 4. Arsitektur ATMega16


Sensor Ultrasonik
Sensor ini menggunakan modul PING ultrasonic.. Modul ini bekerja
dengan cara memancarkan gelombang ultrasonik (40 kHz) selama tBURST (200
s) untuk mengukur jarak obyek, sampai gelombang pantul diterima. Modul
PING memancarkan gelombang ultrasonik sesuai dengan masukan kontrol dari
pin SIG ( pulsa trigger dengan tOUT min. 2 s ). Gelombang ultrasonik yang
dikirimkan melalui udara dengan kecepatan 344 m/s, mengenai obyek dan
memantul kembali ke modul PING. Modul ini akan mengeluarkan pulsa berlogik
tinggi pada pin SIG setelah memancarkan gelombang ultrasonik. Dan setelah

gelombang pantulan terdeteksi, modul PING akan membuat pin SIG ke level
rendah. Lebar pulsa pada keadaan level tinggi (tIN) ini sesuai dengan lama waktu
tempuh gelombang ultrasonik untuk 2x jarak obyek, sehingga jarak obyek yang
terukur adalah [(tIN s x 344 m/s) 2] meter. Modul PING ini hanya
membutuhkan 1 pin port mikrokontroler dan tidak memerlukan komponen
tambahan (1 pin berfungsi sebagai masukan dan keluaran), oleh karena itu
diperlukan ketepatan saat mengatur port mikrokontroler sebagai masukan( dibuat
level tinggi ) setelah mengeluarkan pulsa trigger ke PING))).

Gambar 5. Sensor Ultrasonik Ping

Gambar 6. Ilustrasi Cara Kerja Sensor Ping


Modem Wavecom M1306B/Q2406B
Modem M1306B Q2406B digunakan untuk menjalankan komunikasi SMS
Gateway.

Fitur

yang

dimiliki

adalah

Dual

Band

GSM

modem

(EGSM900/1800MHz) yang didesain untuk data, fax, SMS dan aplikasi voice.
Modem wavecom memiliki ukuran kecil sehingga cukup praktis untuk
diimplementasikan pada sistem.

Gambar 7. Modem Wavecom


Komunikasi Serial RS232
Komunikasi serial RS232 menggunakan interface RS232 sebagai standar
komunikasi antara komputer dengan perangkat eksternal seperti komputer dengan
modem. Pada interface serial ini nilai logika 1 diperoleh dari tegangan -3 volt
sampai -15 volt dan nilai logika 0 diperoleh dari tegangan +3 volt sampai +15
volt.
Pada komunikasi dengan perangkat yang memiliki logik TTL seperti
mikrokontroler, diperlukan suatu rangkaian terintegrasi yaitu MAX 232 yang
berfungsi untuk mengkonversi tegangan serial menjadi tegangan TTL. MAX 232
memiliki dua buah kanal untuk mengirim dan menerima data. Untuk
menghubungkannya dibutuhkan konktor jenis DB9.

Gambar 8. Konfigurasi Pin IC MAX 232

2. Perancangan dan pembuatan sistem


Perancangan dan pembuatan sistem membutuhkan perangkat keras dan
program untuk memroses data dan pengiriman data ke telepon seluler dalam
bentuk SMS. Adapun perangkat keras yang dibutuhkan meliputi:
a. Perangkat sensor PING ultrasonic
b. Sistem minimum AVR ATMega16
c. Modem Wavecom M1306B Q2406B
d. LCD matriks
e. Komputer PC sebagai server
f. Komunikasi serial RS232
g. Tangki

Gambar 8. Perancangan Sistem


Perancangan perangkat lunak berfungsi untuk memroses dan mengirimkan
data. Adapun perangkat lunak yang digunakan adalah Visual basic 6.0 dan
Microsoft Office Access 2007.
Melalui interface mikrokontroler yang terhubung ke rangkaian sensor, data
dibaca dan diproses, selanjutnya disimpan ke dalam database. Data pengukuran
tinggi level akan ditampilkan ke LCD dan data hasil olahan yang menghasilkan
volume akan dikirimkan melalui SMS gateway ketika ada permintaan untuk
mengecek level ketinggian bahan fermentasi dalam tangki.

DAFTAR PUSTAKA
Andrianto,Heri. 2008. Pemrograman Mikrokontroler AVR ATMega 16.
Bandung: Informatika Bandung.
Azizah, N., Al-Baarii, A, N., dan Mulyani, S. 2012. Pengaruh Lama Fermentasi
Terhadap Kadar Alkohol, pH, dan Produksi gas pada Proses Fermentasi
Bioetanol dari Whey dengan Substitusi Kulit Nanas. Jurnal Aplikasi
Teknologi Pangan vol 1 no.2.
Koesoemadinata, V, C. 2001.Pemanfaatan Gula Hsil Hidrolisis Hemiselulosa
Tandan Kosong Sawit untuk Produksi Etanol Secara Fermentasi. Laporan
Hasil Penelitian, Jurusan Teknik Kimia FTI, IPB.

10

11