Anda di halaman 1dari 30

BAB I

PENDAHULUAN
1.1.

Latar Belakang
Tubuh makhluk hidup, khususnya hewan dan tumbuhan tersusun atas
sel-sel yang terus memperbanyak diri dan mengalami diferensiasi untuk
kemudian membentuk jaringan yang mempunyai struktur dan fungsinya
masing-masing. Jaringan dibentuk dari sekumpulan sel-sel yang memiliki
struktur dan fungsi yang sama. Jaringan inilah yang kemudian membentuk
organ-organ untuk melaksanakan tugas-tugas tertentu.
Macam jaringan, organ dan system organ pada setiap
organisme tidak selalu sama, tergantung pada tingkatan organisme itu. Pada
organisme tingkat rendah, seperti Protozoa, tubuhnya hanya terdiri dari satu
sel. Jadi, Protozoa tidak memiliki jaringan organ, dan system organ. Semakin
tinggi tingkatan organisme itu, semakin kompleks pula struktur penyusun
tubuhnya.
Meskipun penyusun tubuh organisme berbeda-beda, umumnya
berasal dari bentuk yang hampir sama. Tubuh organisme tingkat tinggi
misalnya, mula-mula berasal dari satu Sel zigot membelah secara mitosis
berkali-kali menghasilkan banyak sel. Sel-sel itu mengalami diferensiasi dan
spesalisasi membentuk jaringan, organ, dan sistem organ. Diferensiasi adalah
proses perubahan bentuk sel. Spesialisasi adalah proses perubahan fungsi sel.
Melalui diferensiasi dan spesialisasi akan tersusun tubuh organisme
Apakah jaringan itu ? Jaringan yaitu sekumpulan sel yang mempunyai
bentuk, fungsi, dan sifat-sifat yang sama. Jaringan-jaringan akan menyusun

diri menjadi suatu pola yang jelas di seluruh bagian tumbuhan. Masingmasing jaringan memiliki struktur khusus demi menunjang fungsi yang
dijalankannya. Sebagai contoh pada manusia, jaringan otot mempunyai
struktur yang berbeda dengan jaringan syaraf. Perbedaan struktur ini karena
adanya spesialisasi dan diferensiasi tiap sel penyusun sesuai dengan fungsi
yang dijalankannya.
1.2.
Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang

tersebut,

kami

menyimpulkan

beberapa

pertanyaan, yaitu :
1.2.1. Apa saja jaringan yang berada pada hewan dan tumbuhan?
1.2.2. Seperti apa struktur tiap jaringan pada hewan dan tumbuhan?
1.2.3. Apa fungsi dari masing-masing jaringan?
1.3.
Tujuan
Makalah ini bertujuan:
1.3.1. Untuk melengkapi tugas mata kuliah Biologi dasar
1.3.2. Untuk lebih memahami mengenai struktur dan jaringan pada hewan
dan tumbuhan

BAB II
PEMBAHASAN
1.

Jaringan pada Tumbuhan


Struktur tubuh tumbuhan tingkat tinggi pada umumnya terdiri atas organ
pokok yaitu akar, batang dan daun. Organ tersusun oleh beberapa jaringan,
dan jaringan disusun oleh beberapa sel yang mempunyai bentuk, struktur,
serta fungsi yang sama. Berdasarkan kemampuan sel membelah jaringan pada
tumbuhan dibedakan menjadi dua yaitu jaringan meristem dan jaringan
permanen. Setiap jaringan memiliki struktur dan fungsi yang berbeda. Secara
Umum, jaringan tumbuhan terbagi menjadi dua, yaitu :
1.
Jaringan Meristem
Jaringan meristem adalah jaringan yang sel penyusunnya bersifat
embrional, artinya mampu secara terus-menerus membelah diri untuk
menambah jumlah sel tubuh. Sel meristem biasanya merupakan sel
muda dan belum mengalami diferensiasi dan spesialisasi. Ciri-ciri sel
meristem biasanya berdinding tipis, banyak mengandung protoplasma,
vakuola kecil, inti besar, dan plastida belum matang. Bentuk sel
meristem umumnya sama ke segala arah, misalnya seperti kubus.
Berdasarkan posisinya dalam tubuh tumbuhan, meristem dibedakan
menjadi tiga yaitu :
a. Meristem apikal, terdapat di ujung pucuk utama dan pucuk lateral

b.

serta ujung akar.


Meristem interkalar, terdapat di antara jaringan dewasa, contohnya
meristem pada pangkal ruas tumbuhan anggota suku atau family
rumput-rumputan.

c.

Meristem lateral,, terletak sejajar dengan permukaan organ tempat


ditemukannya. Contohnya adalah cambium dan cambium gabus
(felogen).

Berdasarkan asal-usulnya, meristem dikelompokkan menjadi dua,


yaitu:

a.

Meristem primer
Meristem primer adalah meristem yang berkembang dari sel
embrional. Meristem primer terdapat misalnya pada kuncup ujung
batang

dan

pertumbuhan

ujung

akar.

Meristem

primer

pada

tumbuhan.

primer

menyebabkan

Pertumbuhan

primer

memungkinkan akar dan batang bertambah panjang. Dengan


demikian, tumbuhan bertambah tinggi.
Meristem primer dapat dibedakan menjadi daerah-daerah dengan
tingkat perkembangan sel yang berbeda-beda. Pada ujung batang
terdapat

meristem

apikal.

Di

dekat

meristem

apikal

ada promeristem dan ujung meristematik lain yang terdiri dari


sekelompok sal yang telah mengalami diferensiasi sampai tingkat
tertentu.
Daerah meristematik di belakang promeristem mempunyai tiga
jaringan meristem, yaitu protoderma, prokambium, dan meristem
dasar. Protoderma akan membentuk epidermis, prokambium akan
membentuk jaringan ikatan pembuluh (xilem primer dan floem
primer) dan kambium. Meristem dasar akan membentuk jaringan
dasar tumbuhan yang mengisi empelur dan korteks seperti

parenkima, kolenkima, dan sklerenkima. Tumbuhan monokotil


hanya memiliki jaringan primer dan tidak memiliki jaringan
sekunder. Pada tumbuhan dikotil terdapat jaringan primer dan

b.

jaringan sekunder.
Meristem sekunder
Meristem sekunder adalah meristem yang berkembang dari
jaringan dewasa yang telah mengalami diferensiasi dan spesialisasi
(sudah terhenti pertumbuhannya) tetapi kembali bersifat embrional.
Contoh meristem sekunder adalah kambium gabus yang terdapat
pada batang dikotil dan Gymnospermae, yang dapat terbentuk dari
sel-sel korteks di bawah epidermis.
Jaringan kambium yang terletak di antara berkas pengangkut
(xilem dan floem) pada batang dikotil merupakan meristem
sekunder. Sel kambium aktif membelah, ke arah dalam
membentuk xilem

sekunder dan

ke

luar

membentuk

floem

sekunder. Akibatnya, batang tumbuhan dikotil bertambah besar.


Sebaliknya

batang

tumbuhan

monokotil

tidak

mempunyai

meristem sekunder sehingga tidak mengalami pertumbuhan


sekunder. Itulah mengapa batang monokotil tidak dapat bertambah

2.

besar.
Jaringan Dewasa
Jaringan dewasa merupakan jaringan yang terbentuk dari
diferensiasi dan spesialisasi sel-sel hasil pembelahan jaringan
meristem. Diferensiasi adalah perubahan bentuk sel yang disesuaikan
dengan fungsinya, sedangkan spesialisasi adalah pengkhususan sel

untuk mendukung suatu fungsi tertentu. Jaringan dewasa pada


umumnya sudah tidak mengalami pertumbuhan lagi atau sementara
berhenti pertumbuhannya. Jaringan dewasa ini ada yang disebut
sebagai jaringan permanen. Jaringan permanen adalah jaringan yang
telah mengalami diferensiasi yang sifatnya tak dapat balik
(irreversibel).

Pada

jaringan

permanen

sel-selnya

tidak

lagi

mengalami pembelahan. Jaringan dewasa meliputi jaringan epidermis,


gabus parenkima, xilem, dan floem. Selain itu ada bagian tumbuhan
tertentu yang memiliki jaringan kolenkima dan sklerenkima.
a. Epidermis
Jaringan epidermis ini berada paling luar pada alat-alat tumbuhan
primer seperti akar, batang daun, bunga, buah, dan biji. Epidermis
tersusun atas satu lapisan sel saja. Bentuknya bermacam-macam,
misalnya isodiametris yang memanjang, berlekuk-lekuk, atau
menampakkan bentuk lain. Epidermis tersusun sangat rapat sehingga
tidak terdapat ruangan-ruangan antarsel. Epidermis merupakan sel
hidup karena masih mengandung protoplas, walaupun dalam jumlah
sedikit. Terdapat vakuola yang besar di tengah dan tidak mengandung
plastida.
1. Jaringan epidermis daun
Jaringan epidermis daun terdapat pada permukaan atas dan bawah
daun. Jaringan tersebut tidak berklorofil kecuali pada sel penjaga (sel
penutup) stomata. Pada permukaan atas daun terdapat penebalan

dinding luar yang tersusun atas zat kuting (turunan senyawa lemak)
yang dikenal sebagai kutikula, misalnya pada daun nangka. Selain itu
ada yang membentuk lapisan lilin untuk melindungi daun dari air,
misalnya pada daun pisang dan daun keladi. Ada pula yang
membentuk bulu-bulu halus di permukaan bawah sebagai alat
perlindungan, misalnya pada daun durian. Sekelompok sel epidermis
membentuk stomata atau mulut daun. Stomata merupakan suatu celah
pada epidermis yang dibatasi oleh dua sel penutup atau sel penjaga.
Melalui mulut daun ini terjadi pertukaran gas.
2. Jaringan epidermis batang
Seperti halnya jaringan epidermis daun, jaringan epidermis batang
ada yang mengalami modifikasi membentuk lapisan tebal yang
dikenal sebagai kutikula, membentuk bulu sebagai alat perlindungan.
3. Jaringan epidermis akar
Jaringan epidermis akar berfungsi sebagai pelindung dan tempat
terjadinya difusi dan osmosis. Epidermis akar sebagian bermodifikasi
membentuk tonjolan yang disebut rambut akar dan berfungsi untuk
menyerap air tanah.
Stomata adalah celah yang terdapat pada epidermis organ
tumbuhan. Pada semua tumbuhan yang berwarna hijau, lapisan
epidermis mengandung stomata paling banyak pada daun. Stomata
terdiri atas bagian-bagian yaitu sel penutup, bagian celah, sel
tetangga, dan ruang udara dalam. Sel tetangga berperan dalam

perubahan osmotik yang menyebabkan gerakan sel penutup yang


mengatur lebar celah. Sel penutup dapat terletak sama tinggi dengan
permukan epidermis (panerofor) atau lebih rendah dari permukaan
epidermis (kriptofor) dan lebih tinggi dari permukaan epidermis
(menonjol). Pada tumbuhan dikotil, sel penutup biasanya berbentuk
seperti ginjal bila dilihat dari atas. Sedangkan pada tumbuhan rumputrumputan memiliki struktur khusus dan seragam dengan sel penutup
berbentuk seperti halter dan dua sel tetangga terdapat masing-masing
di samping sebuah sel penutup.
b. Jaringan Gabus
Jaringan gabus atau periderma adalah jaringan pelindung yang
dibentuk untuk menggantikan epidermis batang dan akar yang telah
menebal akibat pertumbuhan sekunder. Jaringan gabus tampak jelas
pada tumbuhan dikotil dan Gymnospermae.
Struktur jaringan gabus terdiri atas felogen (kambium gabus) yang
akan membentuk felem (gabus) ke arah luar dan feloderma ke arah
dalam. Felogen dapat dihasilkan oleh epidermis, parenkima di bawah
epidermis, kolenkima, perisikel, atau parenkima floem, tergantung
spesies tumbuhannya. Pada penampang memanjang, sel-sel felogen
berbentuk segi empat atau segi banyak dan bersifat meristematis. Selsel gabus (felem) dewasa berbentuk hampir prisma, mati, dan dinding
selnya berlapis suberin, yaitu sejenis selulosa yang berlemak. Sel-sel
feloderma menyerupai sel parenkima, berbentuk kotak dan hidup.

Jaringan gabus berfungsi sebagai pelindung tumbuhan dari kehilangan


air. Pada tumbuhan gabus (Quercus suber), lapisan gabus dapat
bernilai ekonomi, misalnya untuk tutup botol.
c. Parenkima
Di sebelah dalam epidermis terdapat jaringan parenkima. Jaringan
ini terdapat mulai dari sebelah dalam epidermis hingga ke empulur.
Parenkima tersusun atas sel-sel bersegi banyak. Antara sel yang satu
dengan sel yang lain terdapat ruang antarsel.
Parenkima disebut juga jaringan dasar karena menjadi tempat bagi
jaringan-jaringan yang lain. Parenkima terdapat pada akar, batang,
dan daun, mengitari jaringan lainnya. Misalnya pada xilem dan floem.
Selain sebagai jaringan dasar, jaringan parenkima berfungsi
sebagai jaringan penghasil dan penyimpan cadangan makanan.
Contoh parenkima penghasil makanan adalah parenkima daun yang
memiliki kloroplas dan dapat melakukan fotosintesis. Parenkima yang
memiliki kloroplas disebut sklerenkima. Hasil-hasil fotosintesis
berupa gula diangkut ke parenkima batang atau akar. Di parenkima
batang atau akar, hasil-hasil fotosintesis tersebut disusun menjadi
bahan organik lain yang lebih kompleks, misalnya tepung, protein,
atau lemak. Parenkima batang dan akar pada beberapa tumbuhan
berfungsi untuk menyimpan cadangan makanan, misalnya pada ubi
jalar (Ipomoea batatas). Ada pula sel parenkima yang menyimpan

cadangan makanan pada katiledon (daun lembaga biji) seperti pada


kacang buncis (Phaseolus vulgaris).
d. Jaringan Penguat
Untuk memperkokoh tubuhnya, tumbuhan memerlukan jaringan
penguat atau penunjang yang disebut juga sebagai jaringan mekanik.
Ada dua macam jaringan penguat yang menyusun tubuh tumbuhan,
yaitu kolenkima dan
protoplasma

dan

sklerenkima.
dindingnya

tidak

Kolenkima
mengalami

mengandung
signifikasi.

Sklerenkima berbeda dari kolenkima, karena sklerenkima tidak


mempunyai protoplasma dan dindingnya mengalami penebalan dan
zat lignin (lignifikasi).
1. Kolenkima
Sel kolenkima merupakan sel hidup dan mempunyai sifat mirip
parenkima. Sel-selnya ada yang mengandung kloroplas. Kolenkima
umumnya terletak di dekat permukaan dan di bawah epidermis pada
batang, tangkai daun, tangkai bunga, dan ibu tulang daun. Kolenkima
jarang terdapat pada akar. Sel kolenkima biasanya memanjang sejajar
dengan pusat organ tempat kolenkima itu terdapat.
Dinding sal kolenkima mengandung selulosa, pektin, dan
hemiselulosa. Dinding sel kolenkima mengalami penebalan yang
tidak merata. Penebalan itu terjadi pada sudut-sudut sel, dan disebut
kolenkima sudut.

10

Fungsi jaringan kolenkima adalah sebagai penyokong pada bagian


tumbuhan muda yang sedang tumbuh dan pada tumbuhan herba.
2. Sklerenkima
Jaringan sklerenkima terdiri atas sel-sel mati. Dinding sel
sklerenkima sangat kuat, tebal, dan mengandung lignin (komponen
utama kayu). Dinding sel mempunyai penebalan primer dan kemudian
penebalan sekunder oleh zat lignin. Menurut bentuknya, sklerenkima
dibagi menjadi dua, yaitu serabut sklerenkima yang berbentuk seperti
benang panjang, dan sklereid (sel batu). Sklereid terdapat pada berkas
pengangkut, di antara sel-sel parenkima, korteks batang, tangkai daun,
akar, buah, dan biji. Pada biji, sklereid sering kali merupakan suatu
lapisan yang turut menyusun kulit biji.
Fungsi sklerenkima adalah menguatkan bagian tumbuhan yang
sudah dewasa. Sklerenkima juga melindungi bagian-bagian lunak
yang lebih dalam, seperti pada kulit biji jarak, biji kenari dan
tempurung kelapa.
e. Jaringan Pengangkut
1. Xilem
Xilem berfungsi untuk menyalurkan air dan mineral dari akar ke
daun. Elemen xilem terdiri dari unsur pembuluh, serabut xilem, dan
parenkima xilem. Unsur pembuluh ada dua, yaitu pembuluh kayu
(trakea) dan trakeid. Trakea dan trakeid merupakan sel mati, tidak
memiliki sitoplasma dan hanya tersisa dinding selnya. Sel-sel tersebut

11

bersambungan sehingga membentuk pembuluh kapiler yang berfungsi


sebagai pengangkut air dan mineral. Oleh karena pembuluh yang
membentuk berkas, maka dikatakan sebagai berkas pembuluh.
Diameter xilem bervariasi tergantung pada spesies tumbuhan, tetapi
biasanya 20-700 m. Dinding xilem mengalami penebalan zat lignin.
Trakea merupakan bagian yang terpenting pada xilem tumbuhan
bunga, trakea terdiri atas sel-sel berbentuk tabung yang berdinding
tebal karena adanya lapisan selulosa sekunder dan diperkuat lignin,
sebagai bahan pengikat. Diameter trakea biasanya lebih besar
daripada

diameter

trakeid.

Ujung

selnya

yang

terbuka

disebut perforasi atau lempeng perforasi. Trakea hanya terdapat pada


Angiospermae (tumbuhan berbiji tertutup) dan tidak terdapat pada
Gymnospermae

(tumbuhan

berbiji

terbuka)

kecuali

anggota

Gnetaceae (golongan melinjo).


Bagian trakeid dapat dibedakan dari trakea karena ukurannya lebih
kecil, walaupun dinding selnya juga tebal dan berkayu. Rata-rata
diameter trakeid ialah 30 m dan panjangnya mencapai beberapa
milimeter. Trakeid terdapat pada semua tumbuhan Spermatophyta.
Pada ujung sel trakeid terdapat lubang seperti saringan.
2. Floem
Floem berfungsi menyalurkan zat makanan hasil fotosintesis dari
daun ke seluruh bagian tumbuhan. Pada umumnya elemen floem
disusun oleh unsur-unsur tapis, sel pengiris, serabut floem, sklereid,

12

dan parenkima floem. Unsur utama adalah pembuluh tapis dan


parenkima floem. Parenkima floem berfungsi menyimpan cadangan
makanan. Persebaran serabut floem sering kali sangat luas dan
berfungsi untuk memberi sokongan pada tubuh tumbuhan.
Pembuluh tapis terdiri atas sel-sel berbentuk silindris dengan
diameter 25 m dan panjang 100-500 m. Pembuluh tapis
mempunyai sitoplasma tanpa inti. Dinding sel komponen pembuluh
tapis tidak berlignin sehingga lebih tipis daripada trakea. Pembuluh
tapis adalah pembuluh angkut utama pada jaringan floem. Pembuluh
ini bersambungan dan meluas dari pangkal sampai ke ujung

2.

tumbuhan.
Jaringan Hewan
Seperti halnya tumbuhan, didalam tubuh hewan pun ditemukan sejumlah
jaringan. Beberapa jaringan diantaranya akan bekerja sama melakukan fungsi
khusus. Pada umumnya, jaringan hewan (vertebrata) dibedakan atas empat
kelompok utama. Keempat jaringan hewan tersebut adalah jaringan epitel,
jaringan ikat, jaringan otot, dan jaringan saraf.
a. Jaringan Epitel
Jaringan epitel merupakan jaringan yang menutupi bagian luar tubuh
dan melapisi berbagai rongga didalam tubuh. Jaringan epitel dibangun
oleh sel-sel yang tersusun rapat, tanpa ruang antarsel. Semua sel-sel epitel
melekat pada membran nonselular yang disebut membran sel.

13

Jaringan epitel memiliki banyak fungsi. Kebanyakan berfungsi


sebagai proteksi (misalnya kulit yang melindungi lapisan dibawahnya
terhadap

luka-luka

mekanis,

bahan-bahan

kimia,

mikroba,

dan

kekeringan). Jaringan epitel yang lain berfungsi untuk absorpsi (misalnya


lapisan dalam usus halus), transportasi (misalnya tubulus ginjal ), eksresi
(misalnya kelenjar keringat), sekresi (misalnya berupa lender pada
kelenjar buntu), dan merespon rangsangan (mislanya kuncup pengecap
pada lidah).
Pada umumnya, jaringan epitel dikelompokkan berdasarkan bentuk
dasar dan jumlah lapisannya. Jaringan epitel ada yang berbentuk pipih,
kubus, dan batang. Modifikasi bentuk lainnya adalah transisi antara
bentuk pupih dan batang. Menurut banyaknya lapisan penyusunnya,
jaringan epitel tersusun oleh selapis atau beberapa lapis sel. Selain itu,
ada pula jaringan epitel berlapis semu.
1)

Epitel Pipih (Skuamosa) Selapis


Jaringan epitel pipih selapis terdiri atas sel-sel tipis yang tersusun

rapat. Pada bagian tengah sel terdapat nucleus yang berbentuk cakram.
Epitel pipih selapis terdapat pada permukaan kulit, kapsul Bowman
(ginjal), lapisan dalam alveleolus (paru-paru), dan dinding dalam
pembuluh kalpiler darah.
2)

Epitel Kubus (Kuboid) Selapis


Jaringan epitel kubus selapis dibangus oleh sel-sel berbentuk kubus.

Dilihat dari pernukaan atas, sel-selnya hanya tampak seperti segilima atau

14

segi enam. Epitel kubus ditemukan pada permukaan ovarium, retina mata,
tiroid, dan nefron ginjal.
3)

Epitel Batang (Silindris) Selapis


Jaringan epitel batang selapis terdiri atas sel-sel panjang berbentuk

tiang. Epitel batang selapis terdapat pada lapisan saluran pensernaan


makan (esophagus, lambung, usus), uterus, dan kandung empedu. Sel
tersebut dapat menyekresi mukosa yang berguna untuk melindungi
dinding lambung dari asam lambung dan enzim serta melicinkan
makanan ketika melewati usus. Sel epitel yang secara khusus menyekresi
mukosa disebut sel goblet.
4)

Epitel Bersilia
Jaringan epitel besilia disusun oleh sel-sel epitel batang. Silia

terdapat pada permukaan bebasnya. Epitel bersilia dapat ditemukan pada


saluran respirasi (ronggs hidung, trakea, bronkus) dan saluran reproduksi
(uterus, ovinduk). Gerakan silia dapat membantu menggerakkan material
padat dalam saluran ke satu arah. Epitel bersilia selalu bekerja sama
dengan mukosa yang disekresikan oleh sel-sel goblet.
5)

Epitel Berlapis Semu


Jaringan epitel berlapis semu merupakan jaringan epitel yang

tersusun oleh selapis sel yang seolah-olah tampak berlapis-lapis. Struktur


demikian disebabkan adanya sebagian sel yang tidak dapat mencapai
bagian permukaan. Meskipun setiap sel yang tidak dapat mencapai bagian
permukaan. Meskipun setiap sel menempel pada membrane basal,

15

kedudukan masing-masing nucleus berada pada posisi yang berbedabeda. Epitel berlapis semu dapat ditemukan pada saluran respirasi dan
saluran kelamin.
6)

Epitel Pipih Berlapis


Jaringan epitel pipih berlapis disusun oleh beberapa lapis sel epitel

pipih. Lapisan epitel tersebut dibedakan atas epitel pipih menanduk dan
epitel pipih tidak menanduk. Epitel pipih menanduk banyak mengandung
serat keratin (zat tanduk), kering, dan mudah mengelupas. Epitel pipih
menunduk banyak ditemukan pada permukaaan kulit. Sebaliknya, epitel
pipih tidak menanduk biasanya bersifat lembab. Epitel tersebut ditemukan
pada mulut, esophagus, laring dan vagina.
7)

Epitel Kubus Berlapis


Jaringan epitel kubus berlapis terdiri atas beberapa lapis sel epitel

kubus. Epitel tersebut terdapat pada kelenjar keringat, kelenjar minyak,


kelenjar mamae, dan permukaan folikel ovarium.
8)

Epitel Batang Berlapis


Jaringan epitel batang berlapis jarang ditemukan. Dalam tubuh

manusia, jaringan tersebut hanya ditemukan pada selaput lendir mata dan
saluran kelenjar air liur.
9)

Epitel Transisi
Jaringan epitel transisi merupakan jaringan epitel peralihan antara

bentuk pipih dan batang. Epitel tersebut terdiri atas tiga sampai empat
lapisan sel yang ukuran dan bentuknya sama, kecuali pada bagian

16

permukaan bebasnya yang tampak lebar pipih (datar). Semua sel epitel
transisi mampu memodifikasi bentuknya pada kondisi yang berbeda.
Epitel transisi terdapat pada kandung kemih, ureter, uretra, dan pelvis
didaerah ginjal.
b. Jaringan Ikat
Jaringan ikat umumnya berupa jaringan penyokong tubuh. Jaringan
ikat meliputi tulang, tulang rawan, tendon dan ligament. Selain itu,
jaringan ikat dapat juga berupa jaringan pengikat dari beberapa jaringan
lain, seperti kulit dengan struktur-struktur dibawahnya (eputelium
mesenteris). Jaringan ikat biasanya dapat membentuk selubung disekitar
organ-organ tubuh sehingga masing-masing organ menjadi terpisah satu
dengan yang lain.
Jaringan ikat tersusun dari sel-sel jaringan ikat dan matriks. Sel-sel
jaringan ikat, antara lain fibroblas, kondroblas (kondorosit), osteosit, dan
adiposity. Semua sel-sel tersebut tersebar didalam matriks. Matriks adalah
cairan ekstraselular yang kekentalannya bervariasi, mulai dari padat
(kental), semicair, dan cair.
Matriks memiliki tiga tipe serat, yaitu serat kolagen, serat elastic, dan
serat reticular. Serat kolagen atau serat putih mengandung protein kolagen
(menyebabkan serat lebih fleksibel, tetapi kurang kuat). Serat elastin
dapat ditemukan pada paru-paru, pembuluh arteri, dan kandung empedu.
Kehadiran serat tersebut dapat berfungsi sebagai pelindung (pembungkus)
pada tulang, otot, dinding pembuluh darah, dan lapisan dermis.

17

Serat reticular merupakan serat kolagen berukuran sangat kecil dan


tersusun seperti jala. Serat reticular berfungsi dalam menghubungkan
jaringan ikat dengan jaringan yang lain.
Jaringan ikat memiliki beberapa fungsi, misalnya menyokong dan
mengikat jaringan lain, melindungi tubuh terhadap serangan bakteri,
mencegah kehilangan panas, memebentuk struktur tubuh, dan berperan
dalam pembentukan darah. Jaringan tersebut dibedakan berdasarkan
srtuktur dan fungsinya menjadi jaringan ikat longgar, jaringan ikat padat,
jaringan rangka, jaringan hematopetik, dan jaringan adiposa.
Jenis-jenis jaringan ikat dan lokasinya didalam tubuh manusia.
1)

Jaringan Ikat Longgar


Jaringan ikat longgar merupakan tipe paling umum dari jaringan ikat.

Jaringan ikat longgar mengandung sejumlah fibroblast, yaitu semacam sel


jaringan ikat yang mampu mengahasilkan serat-serat kolagen dan elastik.
Jaringan ikat longgar disebut juga jaringan areolar. Jaringan ikat
longgar mengisi ruang-ruang kosong di antara sel-sel otot, mendukung
jaringan epitel, dan membentuk lapisan pembungkus pada beberapa organ
dalam vertebrata. Jaringan ikat longgar dapat ditemukan pada papilla
lapisan dermis, hipotermis, lapisan luar rongga perut (peritonium), rongga
paru-paru, pembuluh arteri, membran mukosa, dan kandung kemih.
2)

Jaringan Ikat Padat


Jaringan ikat padat mengandung banyak serat kolagen. Jaringan ini

dikenal memiliki banyak fungi khusus dibandngkan jaringan ikat longgar.

18

Misalnya, jaringan ikat pada tendon berfungsi untuk menghubungkan otot


dengan tulang, sedangkan jaringan ikat pada ligament berfungsi untuk
menghubungkan tulang dengan tulang lain pada persendian.
3)

Jaringan Rangka
Jaringan rangka dibangun oleh tulang dan tulang rawan. Kedua

komponen jaringan rangka tersebut merupakan kerangka penyangga


tubuh vertebrata.
a)

Tulang
Tulang merupakan jaringan ikat yang paling kuat. Lebih kurang 30%

matriks tulang tersusun dari materi organic (berupa serat kolagen) dan
70% garam-garam anorganik, terutama berupa garam-garam kalsiun
(contohnya kalium fosfat dan kalium karbonat). Kandungan garam-garam
anorganik pada tulang menyebabkan jaringan tersebut menjadi keras yang
sesuai dengan peranannya sebagai penyokong dan pelindung. Sementara
itu, kandungan materi organic menyebabkan tulang bersifat fleksibel dan
kuat.
Tulang memiliki tiga tipe sel, yaitu osteoit, osteoblas, dan osteoklas.
Osteosit adalah sel-sel tulang yang terdapat didalam lacuna (didalam
matriks), sedangkan osteoblas merupakan sel induk osteosit dan
pembentukan materi organic matriks. Osteoklas berukuran besar dan
berinti banyak yang berperan dalam penyerapan dan perombakan jaringan
tulang.

19

Berdasarkan strukturnya,tulang dibedakan atas tulang kompak dan


tulang spons. Tulang kompak terdiri atas lingkaran-lingkaran konsentris
tipis yang disebut lamela. Masing-masing lamella mengelilingi suatu
pusat kanal (saluran) yang disebut kanal Havers. Didalam kanal Havers
terdapat pembuluh darah, pembuluh saraf, dan jaringan ikat longgar. Satu
klan Havers berserta lamelanya disebut system Havers atau osteon.
Diantara lamela-lamela biasa diselingi oleh sejumlah lacuna yang
mengandung sel-sel tulang. Sel-sel tulang yang berdekatan dapat saling
berhubungan melalui saluran yang disebut kanalikuli. Kanalikuli
berfungsi sebagai penyuplai makanan dan oksigen pada sel-sel tulang.
Tulang spons atau tulang berongga merupakan tulang susunan yang
matriksnya membentuk rongga. Tulang tersebut terdapat pada ujung
tulang pipa. Rongga antarruang diisi oleh jaringan sumsum, yaitu sumsum kuning (menghasilkan lemak) atau sumsummerah (menghasilkan sel
darah merah dan sel darah putih tertentu). Materi organic tulang spons
terutama disusun oleh serat-serat kolagen. Pada tulang tersebut tidak
terdapat system Heavers.
b)

Tulang Rawan
Tulang rawan atau kartilago terdiri atas sel-sel kartilago (kondrosit)

dan matriks ekstraselular. Kondorosit berfungsi membentuk kondorosit


baru dan membentuk/ menyekresi matriks ekstra selular. Kondorosit
terletak didalam lacuna (rongga matriks). Kartilago dibungkus oleh suatu
selaput yang disebut perikondrium.

20

Berdasarkan serat yang terkandung didalam matriks, kartilago


dibedakan atas kartilago hialin, kartilago elastic, dan kartilago fobrosa.
Kartilago hialin merupakan jenis kartilago yang paling umum diantara
kartilago yang lain. Kartilago tersebut memiliki matriks semitransparan
yang mengandung serat kolagen yang sangat halus dan kondroitin sulfat.
Kartilago hialin dapat ditemukan pada permukaan luar sendi, dinding
saluran respirasi (hidung, laring, trakea, bronkus), serta pertemuan antara
tulang rusuk dan tulang dada. Pada masa embrio, kartilago hialin
merupakan rangka sementara hingga digantikan oleh tulang.
Kartilago elastic pada dasarnya sama dengan kartilago hialin, tetapi
jenis kartilago tersebut lebih banyak mengandung serat elastic. Oleh
karena itu, jaringan tersebut lebih fleksibel dibandingkan kartilago hialin.
Kartilago elastic dapat ditemukan pada daun telinga, dinding luar saluran
pernapasan, pembuluh eustachius, dan epiglotis.
Kartilago fibrosa terdiri atas sejumlah besar serat kolagen dan sedikit
air sehingga kurang fleksibel. Kartilago fibrosa banyak ditemukan pada
tulang belakang dan berperan seperti bantalan. Jaringan tersebut juga
ditemukan disalam simpisis pubis (daerah antara dua tulang pinggang dan
pelvis) dan kapsul ligament lutut.
4)

Jaringan Hematopietik
Jaringan Hematopietik berperan dalam pembentukan sel-sel darah

merah dan putih. Jaringan tersebut terletak didalam sumsum tulang merah
dan jaringan limfoid mamalia dewasa. Sumsum tulang merah

21

menghasilkan sel-sel darah merah (eritrosit) dan sel darah putih


granulosit, sedangkan sel darah putih agranulosit (limfosit dan monosit)
merupakan diferensiasi jaringan limfoid.
5)

Jaringan Adiposa
Jaringan adiposa atau jaringan lemak adalah tipe jaringan ikat yang

terdiri atas sel-sel besar yang terspesialisasi untuk menyimpan lemak.


Jaringan tersebut menempati posisi terbesar didalam seluruh tubuh. Lakilaki dengan berat normal, mengandung jaringan adiposa sekitar 15% 20% perberat tubuh dan wanita 20-25% perberat tubuh. Sementara itu,
bayi yang baru lahir mengandung jaringan adiposa 2-5% perberat tubuh.
Jaringan adiposa berperan sebagai cadangan makanan, bantalan lemak
untuk melindungi organ-organ terhadap benturan mekanis dan pengatur
suhu tubuh. Jaringan tersebut terdapat dibawah lapisan kulit, sekitar
daerah ginjal, didalam tulang, rongga perut, dan dada.
c. Jaringan Otot
Jaringan otot terdiri atas sel-sel otot yang bertanggung jawab
terhadap pergerakan tubuh. Jaringan yang berasal dari lapisan mesoderm
embrionik tersebut diperkirakan menyusun 40% bobot mamalia. Otot
dapat berkontraksi karena mengandung protein kontraktil dan serat otot
yang disebut myofibril. Setiap myofibril terdiri atas filament-filamen
protein, yaitu aktin dan myosin. Berdasarkan bentuk morfologi dan
fungsinya, jaringan otot diklarifikasikan menjadi otot rangka (lurik), otot
polos, dan otot jantung.

22

1) Otot Rangka (Polos)


Otot rangka adalah otot yang sebagian besar melekat pada rangka.
Otot rangka terdiri atas berkas-berkas serat panjang berbentuk silinder
dan berinti banyak yang terletak dipinggir sel. pada penampang
longitudinal miofibril terlihat adanya berkas gelap dan berkas terang
seperti lurik sehingga otot rangka disebut juga otot lurik.
Otot lurik mempunyai serabut kontraktil yang memantulkan cahaya
berselang-seling gelap (anisotrop) dan terang (isotrop). Sel atau
serabut otot lurik berbentuk silindris atau serabut panjang. Setiap sel
mempunyai banyak inti dan terletak di bagian tepi sarkoplasma. Otot
lurik bekerja di bawah kehendak (otot sadar) sehingga disebut otot
volunter dan selnya dilengkapi serabut saraf dari sistem saraf pusat.
Kontraksi otot lurik cepat tetapi tidak teratur dan mudah lelah. Otot
lurik disebut juga otot rangka karena biasanya melekat pada rangka
tubuh, misalnya pada bisep dan trisep. Selain itu juga terdapat di lidah,
bibir, kelopak mata, dan diafragma. Otot lurik berfungsi sebagai alat
gerak aktif karena dapat berkontraksi secara cepat dan kuat sehingga
dapat menggerakkan tulang dan tubuh.
2)

Otot Polos
Otot polos mempunyai serabut kontraktil yang tidak memantulkan

cahaya berselang-seling, sehingga sarkoplasmanya tampak polos dan


homogen. Otot polos mempunyai bentuk sel seperti gelendong, bagian

23

tengah

besar, dan

ujungnya

meruncing.

Dalam

setiap sel

otot

polos terdapat satu inti sel yang terletak di tengah dan bentuknya pipih.
Aktivitas otot polos tidak dipengaruhi oleh kehendak kita (otot tidak
sadar) sehingga disebut otot involunter dan selnya dilengkapi dengan
serabut saraf dari sistem saraf otonom. Kontraksi otot polos sangat lambat
dan lama, tetapi tidak mudah lelah. Otot polos terdapat pada alat-alat
tubuh bagian dalam sehingga disebut juga otot visera. Misalnya pada
pembuluh darah, pembuluh limfa, saluran pencernaan, kandung kemih,
dan saluran pernapasan. Otot polos berfungsi memberi gerakan di luar
kehendak, misalnya gerakan zat sepanjang saluran pencernaan. Selain itu,
berguna pula untuk mengontrol diameter pembuluh darah dan gerakan
pupil mata.
3)

Otot Jantung
Otot jantung berbentuk silindris atau serabut pendek. Otot ini

tersusun atas

serabut

lurik yang

bercabang-cabang dan

saling

berhubungan satu dengan lainnya. Setiap sel otot jantung mempunyai satu
atau dua inti yang terletak di tengah sarkoplasma.Otot jantung bekerja di
luar kehendak (otot tidak sadar) atau disebut juga otot involunteer dan
selnya dilengkapi serabut saraf dari saraf otonom. Kontraksi otot jantung
berlangsung secara otomatis, teratur, tidak pernah lelah, dan bereaksi
lambat. Dinamakan otot jantung karena hanya terdapat di jantung.
Kontraksi dan relaksasi otot jantung menyebabkan jantung menguncup
dan mengembang untuk mengedarkan darah ke seluruh tubuh. Ciri khas

24

otot jantung adalah mempunyai diskus interkalaris, yaitu pertemuan dua


sel yang tampak gelap jika dilihat dengan mikroskop.
d.

Jaringan Saraf
Jaringan saraf tersusun oleh sel-sel saraf yang disebut neuron.

Neuron ini banyak dan bercabang-cabang, menghubungkan jaringan satu


dengan yang lain. Setiap sel saraf terdiri atas badan sel saraf, akson
(neurit), dendrit, dan selubung saraf. Badan sel-sel saraf kemudian
berkumpul membentuk ganglion. Ganglion-ganglion ini letaknya hanya
pada tempat tertentu, yaitu di kiri dan kanan sumsum tulang belakang.
Jalannya impuls dimulai dari adanya rangsangan atau stimulan dari
luar yang ditangkap oleh dendrit, kemudian dilanjutkan ke badan sel. Dari
badan sel impuls akan diteruskan ke akson (neurit). Akson inilah yang
akan menyampaikan impuls ke sel-sel saraf yang akhirnya disampaikan
ke organ efektor. Jaringan saraf dibentuk oleh sel saraf yang
disebut neuron. Neuron terdiri atas badan sel dan serabut sel.
Dendrit membawa rangsang menuju badan sel, sedangkan akson
membawa impuls rangsang dari badan sel ke neuron lain atau otot. Akson
dibungkus oleh selubung lemak yang disebut selubung mielin. Selubung
tersebut adalah perluasan membran sel yang mengiringi akson. Di bagian
tertentu, selubung mielin menipis, kemudian menebal kembali. Bagian
selubung mielin yang menipis tersebut dinamakan nodus Ranvier. Nodus
ini sangat berperan untuk penguatan dan percepatan pengiriman impuls

25

saraf. Berdasarkan cara neuron mengirimkan rangsang, neuron dapat


dikelompokkan sebagai berikut.
1.

Neuron aferen, Saraf sensorik bertugas menghantarkan rangsang

dari organ penerima rangsang (reseptor) ke pusat susunan saraf yaitu otak
dan sumsum tulang belakang. Sekelompok badan sel neuron sensorik
berkumpul membentuk ganglion yang berlanjut ke sumsum tulang
belakang. Akson euron sensori membawa rangsangan menuju ke jaringan
saraf pusat, baik sum-sum tulang belakang atau otak. Oleh karena itu,
penerima rangsang ini sering disebut juga neuron sensorik.
2.

Neuron intermedier, penghubung antara neuron aferen dan neuron

eferen. Neuron intermedier terdapat di sistem saraf pusat. Neuron


intermedier meneruskan rangsang dari neuron aferen ke neuron eferen,
atau ke neuron intermedier yang lain.
3.

Neuron eferen, meneruskan impuls saraf yang diterima dari neuron

intermedier. Pesan yang dikirim menentukan tanggapan tubuh terhadap


rangsang yang diterima oleh neuron aferen. Dendrit dari neuron eferen
menempel di otot sehingga sering disebut juga neuron motorik.
Badan sel saraf terletak di pusat saraf dan ganglion. Ganglion adalah
kumpulan badan sel saraf yang letaknya tertentu, misalnya di kiri-kanan
sumsum tulang belakang. Sel saraf mempunyai beberapa fungsi berikut.
a. Merespon perubahan lingkungan (iritabilitas).
b. Membawa impuls-impuls saraf (pesan) ke pusat saraf maupun
sebaliknya (konduktivitas).

26

c. Bereaksi aktif terhadap rangsang yang datang berupa gerakan pindah


atau menghindar.

27

BAB III
PENUTUP
1.

Kesimpulan
a. Tumbuhan dan Hewan memiliki jaringan yang strukturnya berbeda-beda
sesuai dengan fungsi yang dijalankan masing-masing jaringan.
b. Jaringan terbentuk dari proses spesialisasi dan diferensiasi sekumpulan

sel.
c. Jaringanlah yang membentuk organ-organ hewan dan tumbuhan
2.
Saran
a. Sebaiknya bagi kita untuk memperhatikan pola hidup kita agar jaringan
dalam tubuh kita tidak rusak sehingga metabolisme terganggu.

28

DAFTAR PUSTAKA
Campbell, N.A., J.B. Reece, & L. G. Mitchell. 2005. Biologi. Edisi ke-5. Terj.
Dari: Biology. 5th ed. oleh Manulu, W. Jakarta: Erlangga.
Mader, S.S. 2004. Biology. Boston: McGraw-Hill.
Pratiwi, D.A., dkk. 2006, Biologi. Jakarta: Erlangga.
Hidayat, Rahmat. November, 20 2012. Makalah Lengkap Tentang Struktur
Jaringan Tumbuhan. http://forester-untad.blogspot.com/2012/11/makalahlengkap-tentang-struktur.html Diunggah pada 12 Oktober 2014
Purnami, Junia. September, 26 2013. Makalah Biologi, Jaringan Hewan
http://purnamiap.blogspot.com/2013/09/makalah-biologi-jaringan-hewan.html
Diunggah pada 12 Oktober 2014

29

LAMPIRAN

30