Anda di halaman 1dari 35

DAFTAR ISI

KATA
PENGANTAR ..................................................................................................
....... i
DAFTAR
ISI .................................................................................................................
...... 1
BAB 1:
PENDAHULUAN .............................................................................................
..... 2
A. Latar
Belakang .............................................................................................
............ 2
B. Rumusan
Masalah ..............................................................................................
...... 2
C. Tujuan .................................................................................................
..................... 2
BAB 2:
PEMBAHASAN ...............................................................................................
...... 4
A. Pengertian
NAPZA .................................................................................................
.4
B. Jenis

Jenis
NAPZA ...............................................................................................
4
C. Akibat
Penggunaan
dari
NAPZA ............................................................................. 8
D. Cara
Penyembuhan
dari
Pengguna
NAPZA ............................................................ 15
E. Badan
/
Lembaga
yang
Berhubungan
dengan
NAPZA ........................................... 18
F. Tingkat
Pengguna
NAPZA ...................................................................................... 22
G. Penyebab
dan
Deteksi
Penyalahgunaan
NAPZA .................................................... 22
H. Sikap
Terhadap
Penyalahguna
NAPZA ................................................................... 27

BAB 3:
PENUTUPAN ..................................................................................................
....... 28
DAFTAR
PUSTAKA .......................................................................................................
.... 29

BAB 1
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
NAPZA yang merupakan singkatan dari Narkotika, Alkohol,
Psikotropika dan Zat adiktif lainnya adalah zat-zat kimiawi (obatobat berbahaya) yang mampu merubah fungsi mental dan perilaku
seseorang, yang dimasukkan kedalam tubuh manusia, baik melalui
mulut, dihirup maupun disuntikkan. Sebetulnya NAPZA untuk
berbagai tujuan telah ada sejak zaman dahulu kala. Masalah timbul
bila narkotik dan obat-obatan ini digunakan secara berlebihan
sehingga dapat menimbulkan kecanduan (dalam bahasa Inggris
disebut substance abuse).
Dengan adanya penyakit-penyakit yang dapat ditularkan
melalui pola hidup para pecandu, maka masalah penyalahgunaan
NAPZA menjadi semakin serius. Lebih memprihatinkan lagi bila yang
kecanduan adalah remaja yang merupakan masa depan bangsa,
karena penyalahgunaan NAPZA ini sangat berpengaruh terhadap
kesehatan, sosial, dan ekonomi suatu bangsa.
Banyak
upaya-upaya
yang
telah
dilakukan
untuk
memberantas opnum-opnum yang telah menyalahgunakan Narkoba
dan Obat-obatan terlarang lainnya. Namun, semakin hari jumlah
pemakai Narkoba dan Obat-obat terlarang lainnya terus bertambah.
Oleh karena itu perlu adanya pengertian dari masing-masing
individu untuk menyadari betul dampak dari penggunaan Narkotika,
Alkohol, Psikotropika dan Zat adiktif lainnya (NAPZA).
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan diatas,
maka permasalahan makalah ini di rumuskan sebagai berikut:
1) Apa pengertian dari NAPZA?
2) Apa saja jenis jenis NAPZA?
3) Apa akibat dari penggunaan NAPZA?
4) Cara penyembuhan dari pengguna NAPZA?
5) Apa saja badan pengelola NAPZA?
6) Apa saja tingakatan pengguna NAPZA?
7) Apa penyebab dan bagaimana deteksi penyalahgunaan
NAPZA?
8) Apa sikap yang sebaiknya kita ambil terhadap pengguna
NAPZA?
C. Tujuan
3

Tujuan penyusunan makalah ini meliputi beberapa aspek


berikut:
1) Memaparkan dan menjelaskan informasi informasi mengenai
NAPZA, baik itu pengertian, jenis jenis, akibat, cara
penyembuhan, badan pengelola, cara peredaran, dan sikap
yang perlu diambil terhadap NAPZA.
2) Meningkatkan pengetahuan mengenai NAPZA sehingga
pembaca menjadi mengetahui dan dapat terhindar dan ikut
membantu penanganan NAPZA.

BAB 2
PEMBAHASAN
A. Pengertian NAPZA
NAPZA yang merupakan singkatan dari Narkotika, Alkohol,
Psikotropika dan Zat adiktif lainnya adalah zat-zat kimiawi (obatobat berbahaya) yang mampu merubah fungsi mental dan perilaku
seseorang, yang dimasukkan kedalam tubuh manusia, baik melalui
mulut, dihirup maupun disuntikkan. Dalam istilah sederhana NAPZA
berarti zat apapun juga apabila dimasukkan ke dalam tubuh
manusia, dapat mengubah fungsi fisik dan/atau psikologis. NAPZA
psikotropika berpengaruh terhadap sistem pusat saraf (otak dan
tulang belakang) yang dapat mempengaruhi perasaan, persepsi dan
kesadaran seseorang.
Masyarakat mengenal Narkoba yang merupakan akronim dari
Narkotika dan obat-obatan berbahaya. Narkoba merupakan istilah
yang biasa dipakai oleh orang awam dan hanya mencakup lingkup
yang sempit, sementara NAPZA adalah istilah medis atau
kedokteran yang mencakup jangkauan lebih luas, tidak hanya
narkotika sebatas obat-obatan melainkan semua zat yang
mengakibatkan ketergantungan seperti alkohol, rokok, bahkan
kafein.
Secara umum pengertian Narkotika, Alkohol, Psikotropika dan
Zat adiktif lainnya (NAPZA) masing-masing adalah :
Narkotika Adalah zat atau obat yang dapat menyebabkan
penurunan
atau
perubahan
kesadaran
dan
dapat
menyebabkan hilangnya rasa atau mengurangi nyeri dan
dapat menimbulkan rasa ketergantungan.
Alkohol adalah cairan yang dihasilkan dari fermentasi atau
peragian dan mengandung etanol. Cairan yang mengandung
etanol yang tinggi disebut minuman keras dan bila diminum
memabukkan dan merusak tubuh.
Psikotropika Adalah zat atau obat yang berkhasiat psikoaktif
(menimbulkan perubahan khas pada aktivitas mental dan
prilaku) melalui pengaruh selektif pada susunan saraf pusat,
zat ini digunakan untuk mengobati gangguan jiwa yang
peraturannya terdapat didalam Undang-Undang Republik
Indonesia Nomor 5 tahun 1997.
Zat Adiktif Adalah zat atau obat yang berpotensi
menimbulkan rasa ketergantungan.
B. Jenis Jenis NAPZA
5

1.

2.

3.

4.

Jenis jenis NAPZA dapat dikelompokan:


Berdasarkan bahan
a. Alami yaitu jenis atau zat yang diambil langsung dari alam
tanpa adanya proses fermentasi atau produksi misalnya:
Ganja, Mescaline, Psilocybin, Kafein, Opium.
b. Semi Sintesis yaitu jenis zat/obat yang diproses
sedemikian rupa melalui proses fermentasi misalnya:
Morfin, Heroin, Kodein, Crack.
c. Sintesis yaitu jenis zat yang dikembangkan untuk
keperluan medis yang juga untuk menghilangkan rasa sakit
misalnya:
petidin,
metadon,
dipipanon,
dekstropropokasifen.
Berdasarkan efek yang ditimbulkan
a. Depresan adalah zat atau jenis obat yang berfungsi
mengurangi aktifitas fungsional tubuh. Jenis ini dapat
membuat pemakai merasa tenang bahkan tertitur atau tak
sadarkan diri misalnya: opioda, opium atau putau, morfin,
heroin, kodein opiat sintesis.
b. Stimulan adalah zat atau obat yang dapat merangsang
fungsi tubuh dan meningkatkan gairah kerja serta
kesadaran misalnya: kafein, kokain, nikotin amfetamin atau
sabu-sabu.
c. Halusinogen zat atau obat yang menimbulkan efek
halusinasi yang bersifat merubah perasaan dan fikiran
misalnya: Ganja, Jamur Masrum Mescaline, psilocybin, LSD.
Berdasarkan cara penggunaan
a. Oral: Penggunaan zat dengan menggunakan organ mulut
atau dengan kata lain penggunaan zat dengan cara
memakannya atau meminumnya, misalnya: alkohol, ektasi,
pil koplo, dll.
b. Injeksi: Penggunaan zat dengan cara menyuntikannya
kedalam tubuh, misalnya: heroin dan morfin.
c. Melalui luka: penggunaan zat dilakukan dengan cara
menaruhnya di bagian tubuh yang terdapat luka, misalnya:
kodein, heroin, dan morfin.
d. Menghirup: Penggunaan zat dengan cara menghirup zat
tersebut melalui organ hidung atau mulut, misalnya: ganja,
sabu, heroin.
Berdasarkan bentuk
a. Cair, misalnya: alkohol.
b. Pasta, misalnya: heroin, kodein.
c. Pil/kapsul, misalnya: ekstasi, sedativa.
d. Kristal/block, misalnya: methampetamin, amphetamin.
e. Bubuk, misalnya: heroin, kodein, morfin, methampetamin.
f. Gas, misalnya: oxycodon.
g. Lapisan kertas, misalnya: LSD.
6

5. Berdasarkan Undang undang yang berlaku di Indonesia


a. Narkotika
Menurut UU RI No 22 / 1997, Narkotika adalah: zat atau
obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman baik
sintetis maupun semisintetis yang dapat menyebabkan
penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa,
mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri, dan dapat
menimbulkan ketergantungan.
Narkotika terdiri dari 3 golongan:
1. Golongan I: Narkotika yang hanya dapat digunakan
untuk tujuan pengembangan ilmu pengetahuan dan
tidak digunakan dalam terapi, serta mempunyai
potensi
sangat
tinggi
mengakibatkan
ketergantungan. Contoh: Heroin, Kokain, Ganja.
2. Golongan II: Narkotika yang berkhasiat pengobatan,
digunakan sebagai pilihan terakhir dan dapat
digunakan dalam terapi dan / atau untuk tujuan
pengembangan ilmu pengetahuan serta mempunyai
potensi tinggi mengakibatkan ketergantungan.
Contoh: Morfin, Petidin.
3. Golongan III: Narkotika yang berkhasiat pengobatan
dan banyak digunakan dalam terapi dan / atau tujuan
pengebangan ilmu pengetahuan serta mempunyai
potensi ringan mengakibatkan ketergantungan.
Contoh: Codein.
b. Psikotropika
Menurut UU RI No 5 / 1997, Psikotropika adalah: zat atau
obat, baik alamiah maupun sintetis bukan narkotika, yang
berkhasiat psikoaktif melalui pengaruh selektif pada
susunan saraf pusat yang menyebabkan perubahan khas
pada aktifitas mental dan perilaku.
Psikotropika terdiri dari 4 golongan:
1. Golongan I: Psikotropika yang hanya dapat digunakan
untuk tujuan ilmu pengetahuan dan tidak digunakan
dalam terapi, serta mempunyai potensi kuat
mengakibatkan sindroma ketergantungan. Contoh:
Ekstasi.
2. Golongan II: Psikotropika yang berkhasiat pengobatan
dan dapat digunakan dalan terapi dan / atau untuk
tujuan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi
kuat mengakibatkan sindroma ketergantungan.
Contoh: Amphetamine.
3. Golongan
III:
Psikotropika
yang
berkhasiat
pengobatan dan banyak digunakan dalam terapi
dan / atau untuk tujuan ilmu pengetahuan serta
7

mempunyai potensi sedang mengakibatkan sindroma


ketergantungan. Contoh: Phenobarbital.
4. Golongan
IV:
Psikotropika
yang
berkhasiat
pengobatan dan sangat luas digunakan dalam terapi
dan / atau untuk tujuan ilmu pengetahuan serta
mempunyai potensi ringan mengakibatkan sindroma
ketergantungan. Contoh: Diazepam, Nitrazepam (BK,
DUM).
c. Zat Adiktif Lainnya
Yang termasuk Zat Adiktif lainnya adalah: bahan / zat
yang berpengaruh psikoaktif diluar Narkotika dan
Psikotropika, meliputi:
1. Minuman Alkohol: mengandung etanol etil alkohol,
yang berpengaruh menekan susunan saraf pusat,
dan sering menjadi bagian dari kehidupan manusia
sehari hari dalam kebudayaan tertentu. Jika
digunakan bersamaan dengan Narkotika atau
Psikotropika akan memperkuat pengaruh obat / zat
itu dalam tubuh manusia. Ada 3 golongan minuman
beralkohol:
a. Golongan A: kadar etanol 1 5% (Bir).
b. Golongan B: kadar etanol 5 20% (Berbagai
minuman anggur)
c. Golongan C: kadar etanol 20 45% (Whisky,
Vodca, Manson House, Johny Walker).
2. Inhalasi (gas yang dihirup) dan solven (zat pelarut)
mudah menguap berupa senyawa organik, yang
terdapat pada berbagai barang keperluan rumah
tangga, kantor, dan sebagai pelumas mesin. Yang
sering
disalahgunakan
adalah:
Lem,
Tiner,
Penghapus Cat Kuku, Bensin.
3. Tembakau: pemakaian tembakau yang mengandung
nikotin sangat luas di masyarakat. Dalam upaya
penanggulangan NAPZA di masyarakat, pemakaian
rokok dan alkohol terutama pada remaja, harus
menjadi bagian dari upaya pencegahan, karena
rokok dan alkohol sering menjadi pintu masuk
penyalahgunaan NAPZA lain yang berbahaya.
Berdasarkan
efeknya
terhadap
perilaku
yang
ditimbulkan dari NAPZA dapat digolongkan menjadi 3
golongan:
1. Golongan Depresan (Downer). Adalah jenis NAPZA
yang berfungsi mengurangi aktifitas fungsional tubuh.
8

Jenis ini membuat pemakainya menjadi tenang dan


bahkan membuat tertidur bahkan tak sadarkan diri.
Contohnya: Opioda (Morfin, Heroin, Codein), sedative
(penenang), Hipnotik (obat tidur) dan Tranquilizer
(anti cemas).
2. Golongan Stimulan (Upper). Adalah jenis NAPZA
yang merangsang fungsi tubuh dan meningkatkan
kegairahan kerja. Jenis ini menbuat pemakainnya
menjadi aktif, segar dan bersemangat. Contoh:
Amphetamine (Shabu, Ekstasi), Kokain.
3. Golongan Halusinogen. Adalah jenis NAPZA yang
dapat menimbulkan efek halusinasi yang bersifat
merubah
perasaan,
pikiran
dan
seringkali
menciptakan daya pandang yang berbeda sehingga
seluruh persaan dapat terganggu. Contoh: Kanabis
(ganja).

Alkohol

Ekstasi

Ganja

Rokok

C. Akibat Penggunaan dari NAPZA


Berikut ini beberapa akibat yang
penggunaan dari beberapa jenis NAPZA:
1. Opiat atau Opium (candu)

akan

dirasakan

dari

Merupakan golongan Narkotika alami yang sering


digunakan dengan cara dihisap (inhalasi). Efek dari opium ini
adalah sebagai berikut:
Menimbulkan rasa kesibukan (rushing sensation)
Menimbulkan semangat
Merasa waktu berjalan lambat.
Pusing, kehilangan keseimbangan/mabuk.
Merasa rangsang birahi meningkat (hambatan seksual
hilang).
Timbul masalah kulit di sekitar mulut dan hidung.
2. Morfin

Merupakan zat aktif (narkotika) yang diperoleh dari


candu melalui pengolahan secara kimia. Umumnya candu
mengandung 10% morfin. Cara pemakaiannya disuntik di
bawah kulit, ke dalam otot atau pembuluh darah (intravena).
Efek dari morfin adalah sebagai berikut:
Menimbulkan euforia.
Mual, muntah, sulit buang hajat besar (konstipasi).
Kebingungan (konfusi).
Berkeringat.
Dapat menyebabkan pingsan, jantung berdebar-debar.
Gelisah dan perubahan suasana hati.
Mulut kering dan warna muka berubah.

10

3. Heroin atau putaw

Merupakan golongan narkotika semi sintetis yang


dihasilkan atas pengolahan morfin secara kimiawi melalui 4
tahapan sehingga diperoleh heroin paling murni berkadar 80%
hingga 99%. Heroin murni berbentuk bubuk putih sedangkan
heroin tidak murni berwarna putih keabuan (street heroin). Zat
ini sangat mudah menembus otak sehingga bereaksi lebih
kuat dari pada morfin itu sendiri. Umumnya digunakan dengan
cara disuntik atau dihisap. Efek dari Heroin adalah sebagai
berikut:
Timbul rasa kesibukan yang sangat cepat/rushing
sensastion ( 30-60 detik) diikuti rasa menyenangkan
seperti mimpi yang penuh kedamaian dan kepuasan atau
ketenangan hati (euforia). Ingin selalu menyendiri untuk
menikmatinya.
Denyut nadi melambat.
Tekanan darah menurun.
Otot-otot menjadi lemas/relaks.
Diafragma mata (pupil) mengecil (pin point).
Mengurangi bahkan menghilangkan kepercayaan diri.
Membentuk dunia sendiri (dissosial) : tidak bersahabat.
Penyimpangan perilaku : berbohong, menipu, mencuri,
kriminal.
Ketergantungan dapat terjadi dalam beberapa hari.
Efek samping timbul kesulitan dorongan seksual,
kesulitan membuang hajat besar, jantung berdebardebar, kemerahan dan gatal di sekitar hidung, timbul
gangguan kebiasaan tidur.
Jika sudah toleransi, semakin mudah depresi dan marah
sedangkan efek euforia semakin ringan atau singkat
4. Ganja atau kanabis

11

Berasal dari tanaman kanabis sativa dan kanabis indica.


Pada tanaman ini terkandung 3 zat utama yaitu
tetrahidrokanabinol,
kanabinol
dan
kanabidiol.
Cara
penggunaannya dihisap dengan cara dipadatkan menyerupai
rokok atau dengan menggunakan pipa rokok. Efek dari ganja
adalah sebagai berikut:
Denyut jantung atau nadi lebih cepat.
Mulut dan tenggorokan kering.
Merasa lebih santai, banyak bicara dan bergembira.
Sulit mengingat sesuatu kejadian.
Kesulitan kinerja yang membutuhkan konsentrasi, reaksi
yang cepat dan koordinasi.
Kadang-kadang menjadi agresif bahkan kekerasan.
Bilamana pemakaian dihentikan dapat diikuti dengan
sakit kepala, mual yang berkepanjangan, rasa letih/capek.
Gangguan kebiasaan tidur.
Sensitif dan gelisah.
Berkeringat.
Berfantasi.
Selera makan bertambah.
5. LSD atau lysergic acid atau acid, trips, tabs

Termasuk sebagai golongan halusinogen (membuat


khayalan) yang biasa diperoleh dalam bentuk kertas
berukuran kotak kecil sebesar perangko dalam banyak
warna dan gambar. Ada juga yang berbentuk pil atau kapsul.
Cara menggunakannya dengan meletakkan LSD pada
permukaan lidah dan bereaksi setelah 30-60 menit kemudian
dan berakhir setelah 8-12 jam.
Timbul rasa yang disebut Tripping yaitu seperti halusinasi
tempat, warna dan waktu.
12

Biasanya halusinasi ini digabung menjadi satu hingga


timbul obsesi terhadap yang dirasakan dan ingin hanyut
di dalamnya.
Menjadi sangat indah atau bahkan menyeramkan dan
lama kelamaan membuat perasaan khawatir yang
berlebihan (paranoid).
Denyut jantung dan tekanan darah meningkat.
Diafragma mata melebar dan demam.
Disorientasi.
Depresi.
Pusing
Panik dan rasa takut berlebihan.
Flashback (mengingat masa lalu) selama beberapa
minggu atau bulan kemudian.
Gangguan persepsi seperti merasa kurus atau kehilangan
berat badan.
6. Kokain

Mempunyai 2 bentuk yakni bentuk asam (kokain


hidroklorida) dan bentuk basa (free base). Kokain asam berupa
kristal putih, rasa sedikit pahit dan lebih mudah larut
dibanding bentuk basa bebas yang tidak berbau dan rasanya
pahit. Nama jalanan kadang disebut koka, coke, happy dust,
snow, charlie, srepet, salju, putih. Disalahgunakan dengan
cara menghirup yaitu membagi setumpuk kokain menjadi
beberapa bagian berbaris lurus di atas permukaan kaca dan
benda yang mempunyai permukaan datar. Kemudian dihirup
dengan menggunakan penyedot atau gulungan kertas. Cara
lain adalah dibakar bersama tembakau yang sering disebut
cocopuff. Menghirup kokain berisiko luka pada sekitar lubang
hidung bagian dalam. Efek dari kokain adalah sebagai berikut:
Menimbulkan keriangan, kegembiraan yang berlebihan
(ecstasy).
Hasutan (agitasi), kegelisahan, kewaspadaan dan
dorongan seks.
Penggunaan jangka panjang mengurangi berat badan.
Timbul masalah kulit.
Kejang-kejang, kesulitan bernafas.
13

Sering mengeluarkan dahak atau lendir.


Merokok kokain merusak paru (emfisema).
Memperlambat pencernaan dan menutupi selera makan.
Paranoid.
Merasa seperti ada kutu yang merambat di atas kulit
(cocaine bugs).
Gangguan penglihatan (snow light).
Kebingungan (konfusi).
Bicara seperti menelan (slurred speech).

7. Amfetamin

Nama generik/turunan amfetamin adalah D-pseudo


epinefrin yang pertama kali disintesis pada tahun 1887 dan
dipasarkan tahun 1932 sebagai pengurang sumbatan hidung
(dekongestan). Berupa bubuk warna putih dan keabu-abuan.
Ada 2 jenis amfetamin yaitu MDMA (metil dioksi
metamfetamin) dikenal dengan nama ectacy. Nama lain
fantacy pils, inex. Metamfetamin bekerja lebih lama dibanding
MDMA (dapat mencapai 12 jam) dan efek halusinasinya lebih
kuat. Nama lainnya shabu, SS, ice. Cara penggunaan dalam
bentuk pil diminum. Dalam bentuk kristal dibakar dengan
menggunakan kertas alumunium foil dan asapnya dihisap
melalui hidung, atau dibakar dengan memakai botol kaca
yang dirancang khusus (bong). Dalam bentuk kristal yang
dilarutkan dapat juga melalui suntikan ke dalam pembuluh
darah (intravena). Efek dari Amfetamin adalah sebagai
berikut:
Jantung terasa sangat berdebar-debar (heart thumps).
Suhu badan naik/demam.
14

Tidak bisa tidur.


Merasa sangat bergembira (euforia).
Menimbulkan hasutan (agitasi).
Banyak bicara (talkativeness).
Menjadi lebih berani/agresif.
Kehilangan nafsu makan.
Mulut kering dan merasa haus.
Berkeringat.
Tekanan darah meningkat.
Mual dan merasa sakit.
Sakit kepala, pusing, tremor/gemetar.
Timbul rasa letih, takut dan depresi dalam beberapa hari.
Gigi rapuh, gusi menyusut karena kekurangan kalsium.
8. Sedatif-hipnotik (Benzodiazepin/BDZ)
Sedatif (obat penenang) dan hipnotikum (obat tidur).
Nama jalanan BDZ antara lain BK, Lexo, MG, Rohip, Dum. Cara
pemakaian BDZ dapat diminum, disuntik intravena, dan
melalui dubur. Ada yang minum BDZ mencapai lebih dari 30
tablet sekaligus. Dosis mematikan/letal tidak diketahui dengan
pasti. Bila BDZ dicampur dengan zat lain seperti alkohol,
putauw bisa berakibat fatal karena menekan sistem pusat
pernafasan. Umumnya dokter memberi obat ini untuk
mengatasi kecemasan atau panik serta pengaruh tidur
sebagai efek utamanya, misalnya aprazolam/Xanax/Alviz. Efek
dari sedaitif-hipnotik adalah sebagai berikut:
Akan mengurangi pengendalian diri dan pengambilan
keputusan.
Menjadi sangat acuh atau tidak peduli dan bila disuntik
akan menambah risiko terinfeksi HIV/AIDS dan hepatitis B
& C akibat pemakaian jarum bersama.
Obat tidur/hipnotikum terutama golongan barbiturat
dapat disalahgunakan misalnya seconal.
Terjadi gangguan konsentrasi dan keterampilan yang
berkepanjangan.
Menghilangkan kekhawatiran dan ketegangan (tension).
Perilaku aneh atau menunjukkan tanda kebingungan
proses berpikir.
Nampak bahagia dan santai.
Bicara seperti sambil menelan (slurred speech).
Jalan sempoyongan.
Tidak bisa memberi pendapat dengan baik.
9. Alkohol

15

Merupakan suatu zat yang paling sering disalahgunakan


manusia. Alkohol diperoleh atas peragian/fermentasi madu,
gula, sari buah atau umbi-umbian. Dari peragian tersebut
dapat diperoleh alkohol sampai 15% tetapi dengan proses
penyulingan (destilasi) dapat dihasilkan kadar alkohol yang
lebih tinggi bahkan mencapai 100%. Kadar alkohol dalam
darah maksimum dicapai 30-90 menit. Setelah diserap,
alkohol/etanol disebarluaskan ke suluruh jaringan dan cairan
tubuh. Dengan peningkatan kadar alkohol dalam darah orang
akan menjadi euforia, namun dengan penurunannya orang
tersebut menjadi depresi.
Dikenal 3 golongan minuman berakohol yaitu golongan
A; kadar etanol 1%-5% (bir), golongan B; kadar etanol 5%-20%
(minuman anggur/wine) dan golongan C; kadar etanol 20%45% (Whiskey, Vodca, TKW, Manson House, Johny Walker,
Kamput). Pada umumnya alkohol :
Akan menghilangkan perasaan yang menghambat atau
merintangi.
Merasa lebih tegar berhubungan secara sosial (tidak
menemui masalah).
Merasa senang dan banyak tertawa.
Menimbulkan kebingungan.
Tidak mampu berjalan.
10.
Inhalansia atau Solven
Adalah uap bahan yang mudah menguap yang dihirup.
Contohnya aerosol, aica aibon, isi korek api gas, cairan untuk
dry cleaning, tinner, uap bensin.Umumnya digunakan oleh
anak di bawah umur atau golongan kurang mampu/anak
jalanan. Penggunaan menahun toluen yang terdapat pada lem
dapat menimbulkan kerusakan fungsi kecerdasan otak. Efek
inhalansia adalah sebagai berikut:
Pada mulanya merasa sedikit terangsang.
Dapat menghilangkan pengendalian diri atau fungsi
hambatan.
Bernafas menjadi lambat dan sulit.
Tidak mampu membuat keputusan.
Terlihat mabuk dan jalan sempoyongan.
Mual, batuk dan bersin-bersin.
16

Kehilangan nafsu makan.


Halusinasi.
Perilaku menjadi agresif/berani atau bahkan kekerasan.
Bisa terjadi henti jantung (cardiac arrest).

Berikut ini adalah tanda-tanda kemungkinan


seseorang melakukan penyalahgunaan NAPZA:

apabila

1. Fisik
Berat badan turun drastis
Mata terlihat cekung dan merah, muka pucat, dan bibir
kehitam-hitaman
Tangan penuh dengan bintik-bintik merah, seperti bekas
gigitan nyamuk dan ada tanda bekas luka sayatan.
Goresan dan perubahan warna kulit di tempat
Bekas suntikan
Buang air besar dan kecil kurang lancar
Sembelit atau sakit perut tanpa alasan yang jelas
2. Emosi
Sangat sensitif dan cepat bosan
Bila ditegur atau dimarahi, dia malah menunjukkan sikap
membangkang
Emosinya naik turun dan tidak ragu untuk memukul orang
atau berbicara kasar terhadap anggota keluarga atau
orang di sekitarnya
Nafsu makan tidak menentu
3. Perilaku
Malas dan sering melupakan tanggung jawab dan tugastugas rutinnya
Menunjukkan sikap tidak peduli dan jauh dari keluarga
Sering bertemu dengan orang yang tidak dikenal keluarga,
pergi tanpa pamit dan pulang lewat tengah malam
Suka mencuri uang di rumah, sekolah ataupun tempat
pekerjaan dan menggadaikan barang-barang berharga di
rumah. Begitupun dengan barang-barang berharga
miliknya, banyak yang hilang
Selalu kehabisan uang
Waktunya di rumah kerapkali dihabiskan di kamar tidur,
kloset, gudang, ruang yang gelap, kamar mandi, atau
tempat-tempat sepi lainnya
Takut akan air. Jika terkena akan terasa sakit karena itu
mereka jadi malas mandi
Sering batuk-batuk dan pilek berkepanjangan, biasanya
terjadi pada saat gejala putus zat

17

Sikapnya cenderung jadi manipulatif dan tiba-tiba tampak


manis bila ada maunya, seperti saat membutuhkan uang
untuk beli obat
Sering berbohong dan ingkar janji dengan berbagai macam
alasan
Mengalami jantung berdebar-debar
Sering menguapmengeluarkan air mata berlebihan
Mengeluarkan keringat berlebihan
Sering mengalami mimpi buruk
Mengalami nyeri kepala
Mengalami nyeri/ngilu sendi-sendi

D. Cara Penyembuhan dari Pengguna NAPZA


Lebih baik mencegah dari pada menyembuhkan. Mencegah
para remaja maupun orang dewasa terhadap bahaya narkoba
sebetulnya tidak rumit sama sekali, asal kita tahu benar apa yang
harus kita lakukan dan apa yang kita hadapi. Upaya yang perlu
dilakukan terhadap kelompok remaja/generasi muda dalam
mencegah terjadinya penyalahgunaan Narkoba dilakukan dengan 3
cara intervensi yaitu:
a. Pencegahan Primer
Upaya
pencegahan
yang
dilakukan
sebelum
penyalahgunaan terjadi dan biasanya dalam bentuk
pendidikan, kampanye, atau penyebaran pengetahuan
mengenai bahaya Narkoba, serta pendekatan dalam keluarga
dan lain-lain, cara ini bisa dilakukan oleh berbagai kelompok
masyarakat dimanapun seperti: sekolah, tempat tinggal,
termpat kerja dan tempat-tempat umum.
b. Pencegahan Sekunder
Dilakukan pada saat penggunaan sudah terjadi dan
diperlukan upaya penyembuhan (treatment) cara ini biasanya
ditangani oleh lembaga professional dibidangnya yaitu
lembaga medis seperti klinik, rumah sakit dan dokter. Tahap
pencegahan sekunder meliputi: tahap penerimaan awal
dengan melakukan pemeriksaan fisik dan mental, dan tahap
ditoksikasi dan terapi komplikasi medik dilakukan dengan cara
pengurangan ketergantungan bahan-bahan adiktif secara
bertahap.
c. Pencegahan Tersier
Upaya yang dilakukan untuk merehabilitas mereka yang
sudah memakai dan dalam proses penyembuhan, upaya ini
dilakukan cukup lama oleh lembaga khususnya seperti klinik
rehabilitas dan kelompok masyarakat yang dibentuk khusus
(therapeutic community). Tahap ini dibagi menjadi dua bagian
18

yaitu fase stabilitasi yang berfungsi untuk mempersiapkan


pengguna kembali ke masyarakat, dan fase sosial dalam
masyarakat agar mantan penyalahguna Narkoba mampu
mengembangkan kehidupan yang bermakna di masyarakat.
Apabila sesorang telah malakukan penyalahgunaan NAPZA
maka perlu dilakukan penanggulangan. Ada pun penanggulangan
yang dapat dilakukan adalah sebagai berikut:
a. Upaya Premetif
Memberikan bimbingan dan penyuluhan serta bimbingan
untuk taat beragama serta patuh terhadap hukum kepada
semua lapisan masyarakat secara selektif dan prioritas.
Melaksanakan bimbingan serta menyalurkan kegiatan
masyarakat terutama generasi muda yang ada kepada
kegiatan positif seperti olahraga, kesenian dan lain-lain.
Melaksanakan
kegiatan
edukatif
dengan
sasaran
menghilangkan faktor-faktor peluang, pola hidup bebas
Narkoba
dan
penerangan
secara
dini
terhadap
penyalahgunaan Narkoba.
b. Upaya Preventif
Melaksanakan pengawasan secara berjenjang oleh orang
tua maupun tenaga pendidik terhadap putra-putri dan
keluarga baik di lingkungan urmah sampai lingkungan
yang lebih luas.
Mengadakan penertiban/lokalisir pengguna minuman keras
pada tempat keramaian termasuk pada ijin penjualan.
Memperketat pengawasan, patroli pada tempat rawan
penyalahgunaan
dan
peredaran
gelap
Narkoba,
penanaman/pengolahan serta jalur peredaran secara ilegal
ke wilayah Indonesia.
c. Upaya Penegakan Hukum
Melakukan penyelidikan dan menindak dengan melibatkan
instansi terkait dan partisipasi masyarakat secara
swakarsa dan terkoordinasi.
Melakukan proses hukum bagi pelaku penyalahgunaan
danperedaran gelap Narkoba secara obyektif, transparan,
cepat, tepat tuntas dan adil oleh penegak hukum yang
profesional dan bertanggung jawab.
Memutuskan jalur peredaran gelap narkoba
Mengungkapkan jaringan peredaran gelap Narkoba
Melaksanakan terapi dan rehabilitasi terhadap korban
penyalahgunaan Narkoba.
Perlu diperhatikan dalam terapi pada penyalahgunaan Napza
adalah penanganan kegawat daruratan yang berkaitan dengan
19

penyalahgunaan Napza.Gawat darurat yang terjadi pada penyalah


gunaan napza meliputi :

Intoksikasi.
Overdosis.
Sindrom putus Napza.
Berbagai macam komplikasi medik (fisik dan psikiatri).

Penting
diperhatikan
dalam
kondisi
gawat
darurat
penyalahgunaan napza adalah ketrampilan dalam menentukan
diagnosis, sehingga dengan cepat dan akurat dapat dilakukan
intervensi medik. Setelah masa kritis atau kegawatan terlewati dan
setelah selesai menjalani detoksifikasi atau proses pembebasan dari
ketergantungan secara fisik maka langkah selanjutnya adalah
rehabilitasi dimana pada proses ini akan menentukan apakah dia
akan bisa sembuh atau kembali menggunakan tergantung pada
proses rehabilitasi ini. Pada masa rehabilitasi ini merupakan proses
pembebasan dari ketergantungan secara psikis, adapun bentuk
bentuk program rehabilitasi yang ada antara lain :

Program antagonis opiate.


Program metadon.
Program yang berorientasi psikososial
Theraupetik kommuniti
Program berorientasi social.
Program berorintasi kedisiplinan.
Program dengan pendekatan religi.

Tahap-tahap rehabilitasi bagi pecandu narkoba :


1. Tahap rehabilitasi medis (detoksifikasi), tahap ini pecandu
diperiksa seluruh kesehatannya baik fisik dan mental oleh
dokter terlatih. Dokterlah yang memutuskan apakah pecandu
perlu diberikan obat tertentu untuk mengurangi gejala putus
zat (sakau) yang ia derita. Pemberian obat tergantung dari
jenis narkoba dan berat ringanya gejala putus zat. Dalam hal
ini dokter butuh kepekaan, pengalaman, dan keahlian guna
memdeteksi gejala kecanduan narkoba tersebut.
2. Tahap rehabilitasi nonmedis, tahap ini pecandu ikut dalam
program rehabilitasi. Di Indonesia sudah di bangun tempattempat rehabilitasi, sebagai contoh di bawah BNN adalah
tempat rehabilitasi di daerah Lido (Kampus Unitra), Baddoka
(Makassar), dan Samarinda. Di tempat rehabilitasi ini,
pecandu menjalani berbagai program diantaranya program
therapeutic communities (TC), 12 steps (dua belas langkah,
pendekatan keagamaan, dan lain-lain.
20

3. Tahap bina lanjut (after care), tahap ini pecandu diberikan


kegiatan sesuai dengan minat dan bakat untuk mengisi
kegiatan sehari-hari, pecandu dapat kembali ke sekolah atau
tempat kerja namun tetap berada di bawah pengawasan.
Untuk setiap tahap rehabilitasi diperlukan pengawasan dan
evaluasi secara terus menerus terhadap proses pulihan seorang
pecandu. Dalam penanganan pecandu narkoba, di Indonesia
terdapat beberapa metode terapi dan rehabilitasi yang digunakan
yaitu :
1. Cold turkey; artinya seorang pecandu langsung menghentikan
penggunaan narkoba/zat adiktif. Metode ini merupakan
metode tertua, dengan mengurung pecandu dalam masa
putus obat tanpa memberikan obat-obatan. Setelah gejala
putus obat hilang, pecandu dikeluarkan dan diikutsertakan
dalam sesi konseling (rehabilitasi nonmedis). Metode ini
bnayak digunakan oleh beberapa panti rehabilitasi dengan
pendekatan keagamaan dalam fase detoksifikasinya.
2. Metode alternatif
3. Terapi substitusi opioda; hanya digunakan untuk pasien-pasien
ketergantungan heroin (opioda). Untuk pengguna opioda hard
core addict (pengguna opioda yang telah bertahun-tahun
menggunakan opioda suntikan), pecandu biasanya mengalami
kekambuhan kronis sehingga perlu berulang kali menjalani
terapi ketergantungan. Kebutuhan heroin (narkotika ilegal)
diganti (substitusi) dengan narkotika legal. Beberapa obat
yang sering digunakan adalah kodein, bufrenorphin,
metadone, dan nalrekson. Obat-obatan ini digunakan sebagai
obat detoksifikasi, dan diberikan dalam dosis yang sesuai
dengan kebutuhan pecandu, kemudian secara bertahap
dosisnya diturunkan. Keempat obat di atas telah banyak
beredar di Indonesia dan perlu adanya kontrol penggunaan
untuk menghindari adanya penyimpangan/penyalahgunaan
obat-obatan ini yang akan berdampak fatal.
4. Therapeutic community (TC); metode ini mulai digunakan
pada akhir 1950 di Amerika Serikat. Tujuan utamanya adalah
menolong pecandu agar mampu kembali ke tengah
masyarakat dan dapat kembali menjalani kehidupan yang
produktif. Program TC, merupakan program yang disebut Drug
Free Self Help Program. program ini mempunyai sembilan
elemen yaitu partisipasi aktif, feedback dari keanggotaan, role
modeling, format kolektif untuk perubahan pribadi, sharing
norma dan nilai-nilai, struktur & sistem, komunikasi terbuka,
hubungan kelompok dan penggunaan terminologi unik.
21

Aktivitas dalam TC akan menolong peserta belajar mengenal


dirinya melalui lima area pengembangan kepribadian, yaitu
manajemen perilaku, emosi/psikologis, intelektual & spiritual,
vocasional dan pendidikan, keterampilan untuk bertahan
bersih dari narkoba.
5. Metode 12 steps; di Amerika Serikat, jika seseorang kedapatan
mabuk atau menyalahgunakan narkoba, pengadilan akan
memberikan hukuman untuk mengikuti program 12 langkah.
Pecandu yang mengikuti program ini dimotivasi untuk
mengimplementasikan ke 12 langkah ini dalam kehidupan
sehari-hari.
E. Badan / Lembaga yang Berhubungan dengan NAPZA
Badan Narkotika Nasional (disingkat BNN) adalah sebuah
Lembaga Pemerintah Non Kementerian (LPNK) Indonesia yang
mempunyai tugas melaksanakan tugas pemerintahan di bidang
pencegahan, pemberantasan penyalahgunaan dan peredaran gelap
psikotropika, prekursor, dan bahan adiktif lainnya kecuali bahan
adiktif untuk tembakau dan alkohol.[1] BNN dipimpin oleh seorang
kepala yang bertanggung jawab langsung kepada Presiden melalui
koordinasi Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia.
Dasar hukum BNN adalah Undang-Undang Nomor 35 tahun
2009 tentang Narkotika. Sebelumnya, BNN merupakan lembaga
nonstruktural yang dibentuk berdasarkan Keputusan Presiden
Nomor 17 Tahun 2002, yang kemudian diganti dengan Peraturan
Presiden Nomor 83 Tahun 2007.
Adapun tugas tugas dari BNN adalah sebagai berikut:
1. Menyusun dan melaksanakan kebijakan nasional
mengenai
pencegahan
dan
pemberantasan
penyalahgunaan dan peredaran gelap Narkotika dan
Prekursor Narkotika;
2. Mencegah dan memberantas penyalahgunaan dan
peredaran gelap Narkotika dan Prekursor Narkotika;
3. Berkoordinasi dengan Kepala Kepolisian Negara Republik
Indonesia dalam pencegahan dan pemberantasan
penyalahgunaan dan peredaran gelap Narkotika dan
Prekursor Narkotika;
4. Meningkatkan kemampuan lembaga rehabilitasi medis
dan rehabilitasi sosial pecandu Narkotika, baik yang
diselenggarakan oleh pemerintah maupun masyarakat;
5. Memberdayakan
masyarakat
dalam
pencegahan
penyalahgunaan dan peredaran gelap Narkotika dan
Prekursor Narkotika;

22

6. Memantau, mengarahkan dan meningkatkan kegiatan


masyarakat dalam pencegahan penyalahgunaan dan
peredaran gelap Narkotika dan Psikotropika Narkotika;
7. Melalui kerja sama bilateral dan multiteral, baik regional
maupun
internasional,
guna
mencegah
dan
memberantas peredaran gelap Narkotika dan Prekursor
Narkotika;
8. Mengembangkan laboratorium Narkotika dan Prekursor
Narkotika;
9. Melaksanakan administrasi penyelidikan dan penyidikan
terhadap perkara penyalahgunaan dan peredaran gelap
Narkotika dan Prekursor Narkotika; dan
10.
Membuat laporan tahunan mengenai pelaksanaan
tugas dan wewenang.
Selain tugas sebagaimana diatas, BNN juga bertugas
menyusun dan melaksanakan kebijakan nasional mengenai
pencegahan dan pemberantasan penyalahgunaan dan peredaran
gelap psikotropika, prekursor dan bahan adiktif lainnya kecuali
bahan adiktif untuk tembakau dan alkohol. Selain itu juga terdapat
fungsi dari BNN yaitu:
1. Penyusunan dan perumusan kebijakan nasional di
bidang
pencegahan
dan
pemberantasan
penyalahgunaan dan peredaran gelap narkotika,
psikotropika dan prekursor serta bahan adiktif lainnya
kecuali bahan adiktif untuk tembakau dan alkohol yang
selanjutnya disingkat dengan P4GN.
2. Penyusunan, perumusan dan penetapan norma, standar,
kriteria dan prosedur P4GN.
3. Penyusunan perencanaan, program dan anggaran BNN.
4. Penyusunan
dan
perumusan
kebijakan
teknis
pencegahan,
pemberdayaan
masyarakat,
pemberantasan, rehabilitasi, hukum dan kerjasama di
bidang P4GN.
5. Pelaksanaan kebijakan nasional dan kebijakna teknis
P4GN
di
bidang
pencegahan,
pemberdayaan
masyarakat, pemberantasan, rehabilitasi, hukum dan
kerjasama.
6. Pelaksanaan pembinaan teknis di bidang P4GN kepada
instansi vertikal di lingkungan BNN.
7. Pengoordinasian instansi pemerintah terkait dan
komponen masyarakat dalam rangka penyusunan dan
perumusan serta pelaksanaan kebijakan nasional di
bidang P4GN.
8. Penyelenggaraan
pembinaan
dan
pelayanan
administrasi di lingkungan BNN.
23

9. Pelaksanaan fasilitasi dan pengkoordinasian wadah


peran serta masyarakat.
10.
Pelaksanaan
penyelidikan
dan
penyidikan
penyalahgunaan dan peredaran gelap Narkotika dan
Prekursor Narkotika.
11.
Pelaksanaan
pemutusan
jaringan
kejahatan
terorganisasi di bidang narkotika, psikotropika dan
prekursor serta bahan adiktif lainnya, kecuali bahan
adiktif untuk tembakau dan alkohol.
12.
Pengoordinasian instansi pemerintah terkait
maupun komponen masarakat dalam pelaksanaan
rehabilitasi
dan
penyatuan
kembali
ke
dalam
masyarakat
serta
perawatan
lanjutan
bagi
penyalahguna
dan/atau
pecandu
narkotika
dan
psikotropika serta bahan adiktif lainnya kecuali bahan
adiktif untuk tembakau dan alkohol di tingkat pusat dan
daerah.
13.
Pengkoordinasian
peningkatan
kemampuan
lembaga rehabilitasi medis dan rehabilitasi sosial
pecandu narkotika dan psikotropika serta bahan adiktif
lainnya, kecuali bahan adiktif untuk tembakau dan
alkohol yang diselenggarakan oleh pemerintah dan
masyarakat.
14.
Peningkatan kemampuan lembaga rehabilitasi
penyalahguna
dan/atau
pecandu
narkotika
dan
psikotropika serta bahan adiktif lainnya, kecuali bahan
adiktif tembakau dan alkohol berbasis komunitas
terapeutik atau metode lain yang telah teruji
keberhasilannya.
15.
Pelaksanaan
penyusunan,
pengkajian
dan
perumusan
peraturan
perundang-undangan
serta
pemberian bantuan hukum di bidang P4GN.
16.
Pelaksanaan kerjasama nasional, regional dan
internasional di bidang P4GN.
17.
Pelaksanaan pengawasan fungsional terhadap
pelaksanaan P4GN di lingkungan BNN.
18.
Pelaksanaan koordinasi pengawasan fungsional
instansi pemerintah terkait dan komponen masyarakat
di bidang P4GN.
19.
Pelaksanaan penegakan disiplin, kode etik
pegawai BNN dan kode etik profesi penyidik BNN.
20.
Pelaksanaan pendataan dan informasi nasional
penelitian dan pengembangan, serta pendidikan dan
pelatihan di bidang P4GN.
24

21.
Pelaksanaan pengujian narkotika, psikotropika dan
prekursor serta bahan adiktif lainnya, kecuali bahan
adiktif untuk tembakau dan alkohol.
22.
Pengembangan
laboratorium
uji
narkotika,
psikotropika dan prekursor serta bahan adiktif lainnya,
kecuali bahan adiktif tembakau dan alkohol.
23.
Pelaksanaan evaluasi dan pelaporan pelaksanaan
kebijakan nasional di bidang P4GN.
Selain BNN, terdapat pula banyak Lembaga Swadaya
Masyarakat (LSM) yang dibangun dengan tujuan untuk memerangi
NAPZA yang merupakan musuh besar dari bangsa Indonesia. Salah
satunya adalah GRANAT atau Gerakan Anti Narkoba. Dan juga
terdapat lembaga atau badan yang menangani rehabilitasi dari para
penyalahguna NAPZA yaitu Balai Besar Rehabilitasi Badan Narkotika
Nasional Indonesia adalah sebuah tempat yang dikhususkan untuk
merehabilitasi korban penyalahgunaan narkoba di Indonesia.
Rehabilitasi adalah jalan yang baik bagi proses penyembuhan
korban penyalahgunaan narkoba. Pusat rehabilitasi narkoba BNN
terletak di Desa Wates Jaya, kecamatan Cigombong, Lido, Kab.
Bogor.
Pelaksanaan pelayanan di Babesrehab BNN bagi pecandu dan
penyalahguna narkoba menggunakan sistem one stop center
(pelayanan satu atap) terdiri dari pelayanan rehabilitasi medis dan
rehabilitasi sosial dalam satu atap. Babesrehab ini memiliki struktur
organisasi dan dipimpin oleh Ka. Babesrehab BNN . Pada pelayanan
rehabilitasi sosial menggunakan metode Therapeutic Community
(TC) dengan kapasitas daya tampung berjumlah 500 orang yang
berlangsung selama 6 bulan.
Di Babesrehab, ada beberapa "rumah" (tempat rehabilitasi)
yang dikelompokkan sebagai berikut, yakni:
1. Detoks, adalah rumah bagi pecandu yang baru memulai
penanganan. Rumah Detoks terbagi menjadi dua, yakni
untuk pria dan wanita. Di sini pecandu akan ditangani
selama rata-rata 2 minggu.
2. Entry Unit, adalah rumah yang disinggahi pecandu yang
sudah "dibersihkan" sebelumnya di rumah Detoks. Pada
Entry Unit, setiap pecandu akan diberi pemahaman
mengenai program yang sedang dan akan dijalaninya
selama 6 bulan ke depan.
3. Green House, adalah rumah tempat pelatihan dan
pendidikan para pecandu laki-laki yang berusia kurang
dari 35 tahun. Di sini para pecandu akan dilatih sikap,
tingkah laku, dan kepribadiannya agar dapat diterima

25

masyarakat. Program di rumah ini berlangsung selama 4


bulan.
4. House of Hope, adalah rumah tempat pelatihan dan
pendidikan para pecandu laki-laki yang berusia di atas
30 tahun, atau pecandu yang sudah pernah keluar dari
panti rehabilitasi sebelumnya. Berbeda dengan rumah
Green, di rumah Hope pecandu akan diubah pola
pikirnya agar tidak terikat pada narkoba dan diterima
masyarakat. Program di rumah ini berlangsung selama 4
bulan.
5. HoC (House of Change), rumah ini memiliki program
yang sama dengan rumah Hope, namun dikhususkan
untuk para pegawai negeri sipil atau pejabat negara,
dan militer atau polisi. Program di rumah ini berlangsung
selama 4 bulan.
6. Re-Entry, rumah ini adalah rumah terakhir dari
keseluruhan program rehabilitasi di Babesrehab BNN. Di
sini
pecandu
akan
dipantau,
dan
diberi
pelatihan/peningkatan keahlian serta juga perbaikan
pola pikir agar dapat siap kembali ke masyarakat.
Program di rumah ini berlangsung selama 1 bulan.
7. Female, rumah khusus untuk perempuan (terbagi
menjadi 4 bagian, yakni: Detoks, Entry Unit, Green, dan
Re-Entry).
Rehabilitasi bagi pecandu di Babesrehab BNN ini dilakukan
melalui alur rehabilitasi yang mana sebagai berikut: melalui Rumah
Detoks (2 minggu), dilanjutkan Entry Unit (2 minggu), lalu memasuki
program utama di Green House/House of Hope (untuk rakyat sipil)
atau HoC untuk PNS dan Militer selama 4 bulan. Selanjutnya
pecandu akan melanjutkan di rumah Re-Entry selama 1 bulan, jadi
total program normal adalah 6 bulan.
F. Tingkat Pengguna NAPZA
Berikut ini adalah tingkatan dari penggunaan NAPZA:
1. Pemakaian
coba-coba
(experimental
use),
yaitu
pemakaian NAPZA yang tujuannya ingin mencoba,untuk
memenuhi rasa ingin tahu. Sebagian pemakai berhenti pada
tahap ini, dan sebagian lain berlanjut pada tahap lebih berat.
2. Pemakaian sosial/rekreasi (social/recreational use):
yaitu pemakaian NAPZA dengan tujuan bersenang-senang,
pada saat rekreasi atau santai. Sebagian pemakai tetap
bertahan pada tahap ini,namun sebagian lagi meningkat pada
tahap yang lebih berat.

26

3. Pemakaian Situasional (situasional use): yaitu pemakaian


pada saat mengalami keadaan tertentu seperti ketegangan,
kesedihan, kekecewaaqn, dan sebagainnya, dengan maksud
menghilangkan perasaan-perasaan tersebut.
4. Penyalahgunaan (abuse): yaitu pemakaian sebagai suatu
pola penggunaan yang bersifat patologik/klinis (menyimpang)
yang ditandai oleh intoksikasi sepanjang hari, tak mapu
mengurangi atau menghentikan, berusaha berulang kali
mengendalikan, terus menggunakan walaupun sakit fisiknya
kambuh. Keadaan ini akan menimbulkan gangguan fungsional
atau okupasional yang ditandai oleh : tugas dan relasi dalam
keluarga tak terpenuhi dengan baik,perilaku agresif dan tak
wajar, hubungan dengan kawan terganggu, sering bolos
sekolah atau kerja, melanggar hukum atau kriminal dan tak
mampu berfungsi secara efektif.
5. Ketergantungan (dependence use): yaitu telah terjadi
toleransi dan gejala putus zat, bila pemakaian NAPZA
dihentikan atau dikurangi dosisnya. Agar tidak berlanjut pada
tingkat yang lebih berat (ketergantungan), maka sebaiknya
tingkat-tingkat pemakaian tersebut memerlukan perhatian
dan kewaspadaan keluarga dan masyarakat. Untuk itu perlu
dilakukan penyuluhan pada keluarga dan masyarakat.
G. Penyebab dan Deteksi Penyalahgunaan NAPZA
Penyebab penyalahgunaan NAPZA sangat kompleks akibat
interaksi antara faktor yang terkait dengan individu, faktor
lingkungan dan faktor tersedianya zat (NAPZA). Tidak terdapat
adanya penyebab tunggal (single cause) dalam hal penyalahgunaan
napza. Faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya penyalagunaan
NAPZA adalah sebagian berikut :
1. Faktor Individu
Kebanyakan penyalahgunaan NAPZA dimulai atau
terdapat pada masa remaja, sebab remaja yang sedang
mengalami perubahan biologik, psikologik maupun sosial
yang pesat merupakan individu yang rentan untuk
menyalahgunakan NAPZA. Anak atau remaja dengan ciriciri tertentu mempunyai risiko lebih besar untuk menjadi
penyalahguna NAPZA. Ciri-ciri tersebut antara lain :
Cenderung memberontak dan menolak otoritas.
Cenderung memiliki gangguan jiwa lain (komorbiditas)
seperti depresi, cemas, psikotik, tidak bersosialisasi.
Perilaku menyimpang dari aturan atau norma yang
berlaku.

27

Rasa kurang percaya diri (low self-confidence), rendah


diri dan memiliki citra diri negatif (low self-esteem).
Sifat mudah kecewa, cenderung agresif dan destruktif.
Mudah murung, pemalu, pendiam.
Mudah mertsa bosan dan jenuh.
Keingintahuan yang besar untuk mencoba atau
penasaran.
Keinginan untuk bersenang-senang (just for fun).
Keinginan untuk mengikuti mode, karena dianggap
sebagai lambang keperkasaan dan kehidupan modern.
Keinginan untuk diterima dalam pergaulan.
Identitas diri yang kabur, sehingga merasa diri kurang
jantan.
Tidak siap mental untuk menghadapi tekanan
pergaulan sehingga sulit mengambil keputusan untuk
menolak tawaran NAPZA dengan tegas.
Kemampuan komunikasi rendah.
Melarikan
diri
sesuatu
(kebosanan,
kegagalan,
kekecewaan, ketidakmampuan, kesepian dan kegetiran
hidup, malu dan lain-lain).
Putus sekolah.
Kurang menghayati iman kepercayaannya.
2. Faktor Lingkungan
Faktor lingkungan meliputi faktor keluarga dan
lingkungan pergaulan baik di sekitar rumah, sekolah,
teman sebaya maupun masyarakat. Faktor lingkungan
yang ikut menjadi penyebab seorang anak atau remaja
menjadi penyalahguna NAPZA antara lain adalah :
a. Lingkungan Keluarga:
Kominikasi orang tua-anak kurang baik/efektif.
Hubungan dalam keluarga kurang harmonis/disfungsi
dalam keluarga.
Orang tua bercerai, berselingkuh atau kawin lagi.
Orang tua terlalu sibuk atau tidak acuh.
Orang tua otoriter atau serba melarang.
Orang tua yang serba membolehkan (permisif).
Kurangnya orang yang dapat dijadikan model atau
teladan.
Orang tua kurang peduli dan tidak tahu dengan masalah
NAPZA.
Tata tertib atau disiplin keluarga yang selalu berubah
(tidak konsisten).
Kurangnya kehidupan beragama atau menjalankan
ibadah dalam keluarga.
28

Orang tua atau anggota


penyalahguna NAPZA.

keluarga

yang

menjadi

b. Lingkungan Sekolah:
Sekolah yang kurang disiplin.
Sekolah yang terletak dekat tempat hiburan dan penjual
NAPZA.
Sekolah yang kurang memberi kesempatan pada siswa
untuk mengembangkan diri secara kreatif dan positif.
Adanya murid pengguna NAPZA.
c. Lingkungan Teman Pergaulan:
Berteman dengan penyalahguna.
Tekanan atau ancaman teman kelompok atau pengedar.
d. Lingkungan masyarakat / sosial:
Lemahnya penegakan hukum.
Situasi politik, sosial dan ekonomi yang kurang
mendukung.
3. Faktor Napza
Mudahnya NAPZA didapat di mana-mana dengan harga
terjangkau.
Banyaknya iklan minuman beralkohol dan rokok yang
menarik untuk dicoba.
Khasiat
farakologik
NAPZA
yang
menenangkan,
menghilangkan nyeri, menidurkan, membuat euforia /
fly / stone / high / teler dan lain-lain.
Faktor-faktor tersebut di atas memang tidak selalu membuat
seseorang kelak menjadi penyalahguna NAPZA. Akan tetapi makin
banyak faktor-faktor di atas, semakin besar kemungkinan seseorang
menjadi penyalahguna NAPZA. Penyalahguna NAPZA harus
dipelajari kasus demi kasus.
Faktor individu, faktor lingkungan keluarga dan teman
sebaya/pergaulan tidak selalu sama besar perannya dalam
menyebabkan seseorang menyalahgunakan NAPZA. Karena faktor
pergaulan, bisa saja seorang anak yang berasal dari keluarga yang
harmonis dan cukup kominikatif menjadi penyalahguna NAPZA.
Deteksi dini penyalahgunaan NAPZA bukanlah hal yang
mudah,tapi sangat penting artinya untuk mencegah berlanjutnya
masalah tersebut. Beberapa keadaan yang patut dikenali atau
diwaspadai adalah :
1. Kelompok risiko tinggi
Kelompok Risiko Tinggi adalah orang yang belum
menjadi pemakai atau terlibat dalam penggunaan NAPZA
29

tetapi mempunyai risiko untuk terlibat hal tersebut, mereka


disebut juga Potential User (calon pemakai, golongan
rentan). Sekalipun tidak mudah untuk mengenalinya,
namun seseorang dengan ciri tertentu (kelompok risiko
tinggi) mempunyai potensi lebih besar untuk menjadi
penyalahguna NAPZA dibandingkan dengan yang tidak
mempunyai ciri kelompok risiko tinggi. Mereka mempunyai
karakteristik sebagai berikut :
a. Anak
Ciri-ciri pada anak yang mempunyai risiko tinggi
menyalahgunakan NAPZA antara lain :
Anak yang sulit memusatkan perhatian pada suatu
kegiatan (tidak tekun).
Anak yang sering sakit.
Anak yang mudah kecewa.
Anak yang mudah murung.
Anak yang sudah merokok sejak sekolah dasar.
Anak yang sering berbohong,mencari atau melawan
tata-tertib.
Anak dengan IQ taraf perbatasan (IQ 70-90).
b. Remaja
Ciri-ciri remaja yang mempunyai risiko tinggi
menyalahgunakan NAPZA :
Remaja yang mempunyai rasa rendah diri, kurang
percaya diri dan mempunyai citra diri negatif.
Remaja yang mempunyai sifat sangat tidak sabar.
Remaja yang diliputi rasa sedih (depresi) atau
cemas (ansietas).
Remaja yang cenderung melakukan sesuatu yang
mengandung risiko tinggi/bahaya.
Remaja yang cenderung memberontak.
Remaja yang tidak mau mengikuti peraturan/tata
nilai yang berlaku.
Remaja yang kurang taat beragama.
Remaja yang berkawan dengan penyalahguna
NAPZA.
Remaja dengan motivasi belajar rendah.
Remaja yang tidak suka kegiatan ekstrakurikuler.
Remaja dengan hambatan atau penyimpangan
dalam perkembangan psikoseksual (pelupa, sulit
bergaul, sering masturbasi, suka menyendiri,
kurang bergaul dengan lawan jenis).
Remaja yang mudah menjadi bosan, jenuh, murung.
Remaja yang cenderung merusak diri sendiri.
30

c. Keluarga
Ciri-ciri keluarga yang mempunyai risiko tinggi,
antara lain :
Orang tua kurang komunikatif dengan anak.
Orang tua yang terlalu mengatur anak.
Orang tua yang terlalu menuntut anaknya secara
berlebihan agar berprestasi di luar kemampuannya.
Orang tua yang kurang memberi perhatian pada
anak karena terlalu sibuk.
Orang
tua
yang
kurang
harmonis,
sering
bertengkar, orang tua berselingkuh atau menikah
lagi.
Orang tua yang tidak memiliki standar norma baikburuk atau benar-salah yang jelas.
Orang tua yang tidak dapat menjadikan dirinya
teladan.
Orang tua menjadi penyalahgunaan NAPZA.
2. Gejala klinis penyalahgunaan napza
a. Perubahan Fisik
Gejala fisik yang terjadi tergantung jenis zat yang
digunakan, tapi secara umum dapat digolongkan
sebagai berikut :
Pada
saat
menggunakan
NAPZA
:
jalan
sempoyongan, bicara cadel, apatis (acuh tak acuh),
mengantuk, agresif,curiga.
Bila kelebihan dosis (overdosis) : nafas sesak, denyut
jantung dan nadi lambat, kulit terasa dingin, nafas
lambat / berhenti, meninggal.
Bila sedang ketagihan (putus zat / sakau) : mata dan
hidung berair, menguap terus menerus, diare, rasa
sakit di seluruh tubuh, takut air sehingga malas
mandi, kejang, kesadaran menurun.
Pengaruh jangka panjang, penampilan tidak sehat,
tidak peduli terhadap kesehatan dan kebersihan, gigi
tidak terawat dan kropos, terhadap bekas suntikan
pada lengan atau bagian tubuh lain (pada pengguna
dengan jarum suntik).
b. Perubahan Sikap dan Perilaku
Prestasi sekolah menurun, sering tidak mengerjakan
tugas sekolah, sering membolos, pemalas,kurang
bertanggung jawab.

31

Pola tidur berubah, begadang, sulit dibangunkan pagi


hari, mengantuk di kelas atau tampat kerja.
Sering bepergian sampai larut malam, kadang tidak
pulang tanpa memberi tahu lebih dulu.
Sering mengurung diri, berlama-lama di kamar
mandi, menghindar bertemu dengan anggota
keluarga lain di rumah.
Sering mendapat telepon dan didatangi orang tidak
dikenal oleh keluarga, kemudian menghilang.
Sering berbohong dan minta banyak uang dengan
berbagai alasan tapi tak jelas penggunaannya,
mengambil dan menjual barang berharga milik
sendiri atau milik keluarga, mencuri, mengompas,
terlibat tindak kekerasan atau berurusan dengan
polisi.
Sering bersikap emosional, mudah tersinggung,
marah, kasar sikap bermusuhan, pencuriga, tertutup
dan penuh rahasia.

3. Peralatan yang digunakan


Ada beberapa peralatan yang dapat menjadi petunjuk
bahwa seseorang mempunyai kebiasaan menggunakan
jenis NAPZA tertentu. Misalnya pada pengguna heroin,
pada dirinya, dalam kamarnya, tasnya atau laci meja
terdapat antara lain :
Jarum suntik insulin ukuran 1 ml, kadang-kadang
dibuang pada saluran air di kamar mandi,
Botol air mineral bekas yang berlubang di
dindingnya,
Sedotan minuman dari plastik.
Gulungan uang kertas, yang digulung untuk
menyedot heroin atau kokain,
Kertas timah bekas bungkus rokok atau permen
karet, untuk tempat heroin dibakar.
Kartu telepon, untuk memilah bubuk heroin,
Botol-botol kecil sebesar jempol, dengan pipa pada
dindingnya.
H. Sikap Terhadap Penyalahguna NAPZA
Bertanya Baik-Baik. Kita bisa langsung bertanya padanya,
apakah dia menggunakan barang haram tersebut atau tidak. Jika dia
tidak mengakuinya, maka Kita perlu mencermati sikap-sikap si dia
lainnya. Lain halnya jika si dia menggunakan napza di hadapan Kita.
Tentunya, Kita harus bisa menasihatinya dan bertanya secara baik32

baik. Tanyakan apa alasan si dia menggunakan barang haram


tersebut dan nasihatilah.
Bantu untuk lebih baik. Sebagai teman yang dekat
dengannya, Kita harus bisa mengajak si dia untuk menjalani hidup
lebih baik. Kita harus bisa mendukungnya dan mengajaknya untuk
melakukan hal-hal yang lebih positif lainnya. Misalnya, berolahraga,
beribadah, dan hal positif lainnya. Selain itu, Kita juga bisa
memberikan masukkan kepadanya mengenai bahaya narkoba, apa
dampaknya, bagaimana perasaan keluarga jika mengetahui hal itu,
dan lain sebagainya.
Menjauhi. Cara ini sebenarnya alternatif lain jika si dia tak juga
bisa dinasihati. Para pengguna napza cepat atau lambat tentunya
akan ketahuan juga oleh pihak yang berwajib. Cara ini mungkin
tepat untuk Kita jika merasa takut melaporkan teman yang
menggunakan napza. Itulah cara menghadapi teman yang
menggunakan napza. Sebenarnya, para pengguna barang haram
tersebut bisa sembuh dan menghindari napza jika ada kemauan
dalam dirinya. Harus ada ketegasan dalam dirinya untuk bisa
berhenti mengonsumsi. Jika sudah ada kemauan tersebut, maka
sebagai teman yang baik Kita juga harius mendukungnya untuk
melakukan rehabilitasi. Bagaimanapun juga, mengonsumsi barang
haram tersebut hanya akan menambah masalah dalam hidup saja.
Jika sudah benar-benar kecanduan, maka pemakai bisa akan
meninggal. Untuk itu, mulailah hidup sehat dan ciptakanlah
pergaulan yang sehat juga agar narkoba dan zat adiktif lainnya itu
segera diberantas.

BAB 3
PENUTUP
NAPZA yang merupakan singkatan dari Narkotika, Alkohol,
Psikotropika dan Zat adiktif lainnya adalah zat-zat kimiawi (obatobat berbahaya) yang mampu merubah fungsi mental dan perilaku
seseorang, yang dimasukkan kedalam tubuh manusia, baik melalui
mulut, dihirup maupun disuntikkan. Sebetulnya NAPZA untuk
berbagai tujuan telah ada sejak zaman dahulu kala. Masalah timbul
bila narkotik dan obat-obatan ini digunakan secara berlebihan
sehingga dapat menimbulkan kecanduan (dalam bahasa Inggris
disebut substance abuse).
Dengan adanya penyakit-penyakit yang dapat ditularkan
melalui pola hidup para pecandu, maka masalah penyalahgunaan
NAPZA menjadi semakin serius. Lebih memprihatinkan lagi bila yang
kecanduan adalah remaja yang merupakan masa depan bangsa,
33

karena penyalahgunaan NAPZA ini sangat berpengaruh terhadap


kesehatan, sosial, dan ekonomi suatu bangsa.
Dengan Informasi informasi yang telah disediakan mengenai
pengertian NAPZA, jenis jenis NAPZA, akibat penyalahgunaan
NAPZA, penyembuhan penyalahguna NAPZA, lembaga NAPZA,
tingkatan
penyelahguna
NAPZA,
penyebab
dan
deteksi
penyalahguna NAPZA, dan sikap yang sebaiknya diambil terhadap
penyalahguna NAPZA semoga kita bersama dapat lebih mengetahui
dan bersama sama memerangi NAPZA demi masa depan bangsa
kita.

34

DAFTAR PUSTAKA
http://bestariabadi.blogspot.com/2013/04/sikap-dan-perbuatan-terhadapteman.html
http://al-atsariyyah.com/mengenal-narkoba-jenis-jenisnya-dandampaknya.html
http://dedihumas.bnn.go.id/read/section/artikel/2012/08/24/514/tahaptahap-pemulihan-pecandu-narkoba
http://ferrywesdy.blogspot.com/2010/03/makalah-tentang-napza.html
http://id.wikipedia.org/wiki/Badan_Narkotika_Nasional
http://id.wikipedia.org/wiki/Balai_Besar_Rehabilitasi_Badan_Narkotika_Nasi
onal_Indonesia
http://ipina10.blogspot.com/2013/04/makalah-napza.html
https://nilna.wordpress.com/2009/07/06/mengenal-jenis-jenis-napza/
http://raufahajah.blogspot.com/2014/06/makalah-penyalahgunaan-napzadan.html
https://www.google.com/url?
sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=10&cad=rja&uact=8&ved=0C
GoQFjAJ&url=http%3A%2F%2Fperpustakaan.depkes.go.id
%3A8180%2Fbitstream%2F123456789%2F717%2F4%2FBK2006G56.pdf&ei=ibTWVKrEA9LhuQSwo4AI&usg=AFQjCNGTJxg1cFKuzHdMWzcR
xQYlsBiiBw&bvm=bv.85464276,d.c2E
https://www.google.com/url?
sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=3&cad=rja&uact=8&ved=0CC
4QFjAC&url=https%3A%2F%2Fwww.k4health.org%2Fsites%2Fdefault
%2Ffiles%2FNAFZA
%2520LENGKAP.pdf&ei=ibTWVKrEA9LhuQSwo4AI&usg=AFQjCNFt6ZT_QY
N78OahOv3wxMGOuzIX9Q&bvm=bv.85464276,d.c2E
https://www.google.com/url?
sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=4&cad=rja&uact=8&ved=0CD
YQFjAD&url=http%3A%2F%2Fstaff.uny.ac.id%2Fsites%2Fdefault%2Ffiles
%2F06%2520NAPZA.pdf&ei=ibTWVKrEA9LhuQSwo4AI&usg=AFQjCNH2fco
RFXE8-Om1EYVArwfV-A_vaw&bvm=bv.85464276,d.c2E
http://www.smallcrab.com/anak-anak/547-mengenal-napza-danpenyalahgunaannya

35