Anda di halaman 1dari 49

BAB I

PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Setiap bulan, secara periodik, seorang wanita normal akan mengalami peristiwa
reproduksi,yaitu menstruasi_meluruhnya jaringan endometrium karena tidak adanya telur matang yang
dibuahi oleh sperma_peristiwa itu begitu wajar dan alami sehingga dapat dipastikan bahwa semua
wanita yang normal pasti akan mengalami proses itu. Walaupun begitu, pada kenyataannya banyak
wanita yang mengalami masalah menstruasi, di antaranya adalah nyeri haid.
Beberapa tahun yang lalu, nyeri haid hanya dianggap sebagai penyakit psikosomatis. Akan
tetapi, karena keterbukaan informasi dan pesatnya ilmu pengetahuan berkembang, nyeri haid mulai
banyak dibahas. Banyak ahli yang telah menyumbangkan pikiran dan temuannya untuk mengatasi
nyeri haid.
Dahulu,wanita yang menderita nyeri haid hanya bisa menyembunyikan rasa sakitnya tanpa
mengetahui apa yang harus dilakukannya dan ke mana ia harus mengadu. Keadaan itu diperburuk oleh
orang di sekitar mereka yang menganggap bahwa nyeri haid adalah rasa sakit yang wajar yang terlalu
dibesar-besarkan dan dibuat-buat oleh wanita bahkan beberapa orang menganggap bahwa wanita yang
menderita nyeri haid hanyalah wanita yang mencari perhatian atau kurang diperhatikan. Anggapan
seperti ini sudah mulai hilang beberapa tahun yang lalu. Sekarang baru diketahui bahwa nyeri haid
adalah kondisi medis yang nyata yang diderita wanita. Banyak metode yang telah dikembangkan oleh
ahli di bidangnya yang bertujuan untuk mengatasi nyeri haid.
Dismenorea merupakan salah satu keluhan ginekologi yang paling umum pada wanita muda
yang datang ke klinik/dokter (Jamieson, 1996). Oleh karena hampir semua wanita mengalami sensasi
tidak nyaman selama haid (mild discomfort during menstruation), rasa tidak enak di perut bagian
bawah sebelum dan selama haid disertai mual, maka istilah dismenorea hanya digunakan jika nyeri
haid demikian hebatnya, sehingga memaksa penderita untuk istirahat dan meninggalkan pekerjaan atau
1

aktivitas rutinnya sehari-hari selama beberapa jam atau beberapa hari. Atau jika nyeri haid membuat
wanita tersebut tidak bisa beraktivitas secara normal dan memerlukan (resep) obat atau medication
(Wiknjosastro, dkk., 1999; Caroline M.ColindanAsherShushan,2007)
Untuk itulah kami mengangkat masalah mengenai dismenorea (nyeri haid) kedalam karya tulis
ini dan memperdalam pembahasan mengenai dismenorea.

B. TUJUAN PENULISAN
Penulisan karya tulis ini bertujuan untuk menjelaskan nyeri haid dan cara mengatasinya. Agar
pembaca dapat dengan mudah memahami makalah ini, bagian II akan membahas terlebih dahulu proses
menstruasi dan hal yang terjadi di dalamnya, nyeri haid dan penggolongannya, kemudian dijelaskan
cara atau metode untuk mengatasi nyeri haid.

C. MANFAAT
Adapun manfaat penulisan karya tulis ini adalah:
1. Bagi pembaca, agar dapat memahami bagaimana proses terjadinya
dismenorea, apa penyebab dismenorea serta bagaimana mengatasinya.
Terutama bagi penderita dismenorea sendiri,karya tulis

ini sangat

bermanfaat agar penderita dapat mengetahui bagaimana cara mengurangi


dan mengobati dismenorea yang mereka alami.
2. Bagi dunia kesehatan terutama tenaga kesehatan, karya tulis ini sangat
membantu para tenaga kesehatan dalam menangani kasus dismenorea
yang terjadi pada kliennya.

BAB II
2

TINJAUAN PUSTAKA
A.

MENSTRUASI
Seorang wanita subur, selama kira-kira 38 tahun, setiap bulannya, akan melepaskan sel telur

matang yang dikeluarkan secara bergantian dari salah satu indung telur. Pematangan telur dirangsang
oleh organ kecil yang berada di dasar otak yang disebut hipofisis.
Selama haid, proses pematangan telur telah dimulai. Sesudah 14 hari, proses pematangan telah
selesai dan telur melepaskan diri dari indung telur (ovulasi). Rumbai-rumbai yang mengelilingi saluran
telur akan menangkap telur. Melalui saluran telur, telur menuju ke arah ruang rahim. Di saluran telur,
sel telur dapat bertemu dengan sperma (benih dari pria) yang datang dari arah yang berlainan (dari
ruang rahim). Telur dapat dibuahi oleh salah satu benih itu (ada kira kira 200 juta sperma yang masuk
melalui vagina). Jika telur yang telah dibuahi itu sampai ke ruang rahim, selaput lendir ruang rahim
telah siap untuk menerima telur. Sebelumnya, rahim telah menerima isyarat melalui hormon esterogen
dan progesteron bahwa akan datang sel telur yang telah matang. Selaput lendir ruang rahim
mempersiapkan diri dengan baik untuk dapat menerima telur.
Jika dalam perjalanannya telur tidak bertemu dengan sperma, telur akan mati beberapa jam
setelah lepas dari indung telur. Selaput lendir ruang rahim seakan-akan sia-sia mempersiapkan diri
untuk menerima telur. Hipofisis juga memperhatikan hal itu. Kira-kira 14 hari setelah pelepasan telur,
lapisan paling luar dari selaput lendir rahim diberi isyarat bahwa bagian itu perlu diganti. Secara tibatiba, lapisan itu lepas sehingga menyebabkan perdarahan. Itulah haid atau menstruasi.Selama
perdarahan itu, pada indung telur dimulai lagi pematangan sel telur baru. Dari seluruh daur selama
sebulan, tidak akan diketahui apa-apa selain perdarahan. Seluruh proses yang rumit itu terjadi dalam
tubuh dan tersembunyi.

B.

DISMENOREA

1. Pengertian nyeri secara umum


Nyeri didefinisikan sebagai suatu keadaan yang mempengaruhi

seseorang

dan

ekstensinya diketahui bila seseorang pernah mengalaminya (Tamsuri, 2007).


Menurut International Association for Study of Pain (IASP), nyeri adalah
subyektif dan emosional yang tidak menyenangkan yang
aktual maupun potensial, atau

sensori

didapat terkait dengan kerusakan jaringan

menggambarkan kondisi terjadinya kerusakan.

2. Skala Intensitas Nyeri


Intensitas nyeri adalah gambaran tentang seberapa parah nyeri

dirasakan

oleh

individu, pengukuran intensitas nyeri sangat subjektif dan individual dan kemungkinan nyeri dalam
intensitas yang sama dirasakan
berbeda.

sangat berbeda oleh dua orang yang berbeda oleh dua orang yang

Pengukuran nyeri dengan pendekatan objektif yang paling mungkin adalah

menggunakan respon fisiologik tubuh terhadap nyeri itu sendiri. Namun, pengukuran dengan
tehnik ini juga tidak dapat memberikan gambaran

pasti tentang nyeri itu sendiri (Tamsuri, 2007).

Menurut smeltzer, S.C bare B.G (2002) adalah sebagai berikut :


1) Skala intensitas nyeri deskritif

Skala deskritif merupakan alat pengukuran tingkat keparahan nyeri


obyektif. Skala pendeskripsi verbal (Verbal Descriptor Scale,
terdiri dari tiga sampai lima kata

lebih

VDS) merupakan sebuah garis yang

pendeskripsi yang tersusun dengan jarak yang sama di sepanjang

garis. Pendeskripsi ini diranking dari tidak terasa nyeri sampai nyeri yang
Perawat menunjukkan klien skala tersebut dan
trbaru yang ia rasakan.

yang

tidak

tertahankan.

meminta klien untuk memilih intensitas nyeri

Perawat juga menanyakan seberapa jauh nyeri terasa paling menyakitkan

dan seberapa jauh nyeri terasa paling tidak menyakitkan. Alat VDS ini
4

memungkinkan klien

memilih sebuah kategori untuk mendeskripsikan

nyeri.

2) Skala identitas nyeri numeric

Skala penilaian numerik (Numerical rating scales, NRS) lebih


pengganti alat pendeskripsi kata. Dalam hal ini, klien
0-10. Skala paling efektif

digunakan

sebagai

menilai nyeri dengan menggunakan skala

digunakan saat mengkaji intensitas nyeri sebelum dan setelah intervensi

terapeutik. Apabila digunakan skala untuk menilai nyeri, maka

direkomendasikan

patokan

10 cm (AHCPR, 1992).
3) Skala analog visual

Skala analog visual (Visual analog scale, VAS) tidak melebel


adalah suatu garis lurus, yang mewakili intensitas nyeri

subdivisi.

VAS

yang terus menerus dan pendeskripsi verbal

pada setiap ujungnya. Skala ini memberi klien kebebasan penuh untuk mengidentifikasi keparahan
nyeri. VAS dapat merupakan pengukuran keparahan nyeri yang lebih
dapat mengidentifikasi setiap titik pada rangkaian dari
angka (Potter, 2005).

4) Skala nyeri menurut bourbanis

Keterangan :
0 : Tidak nyeri
5

sensitif karena klien

pada dipaksa memilih satu kata atau satu

1-3 : Nyeri ringan


secara obyektif klien dapat berkomunikasi dengan baik.
4-6 : Nyeri sedang
Secara obyektif klien mendesis,menyeringai, dapat menunjukkan lokasi

nyeri, dapat

mendeskripsikannya, dapat mengikuti perintah dengan baik.


7-9 : Nyeri berat
:secara obyektif klien terkadang tidak dapat mengikuti perintah tapi masih respon terhadap
tindakan, dapat menunjukkan lokasi nyeri, tidak dapat
dengan alih posisi nafas panjang

mendeskripsikannya, tidak dapat diatasi

dan distraksi

10 : Nyeri sangat berat


Pasien sudah tidak mampu lagi berkomunikasi, memukul.
Respon

perubahan

perilaku

terhadap

nyeri

dikatagorikan

sebagai

berikut:

1. Tidak nyeri
2. Nyeri ringan, secara objektif klien dapat berkomunikasi dengan baik,

tindakan

manual

dirasakan sangat membantu.


3. Nyeri sedang, secara objektif akan mendesis, menyeringai dan dapat
nyeri dengan tepat dan dapat sekaligus
dengan baik, dan

menunjukkan lokasi

mendeskripsikannya. Klien dapat mengikuti perintah

responsif terhadap tindakan manual.

4. Nyeri berat, secara objektif klien terkadang tidak dapat menunjukkan


masalah responsive terhadap tindakan manual, dapat

lokasi nyeri

tetapi

menunjukkan lokasi nyeri tetapi tidak

dapat

mendeskrifsikannya.
5. Nyeri sangat berat, serta objektif klien tidak mampu berkomunikasi

dengan

baik,

berteriak histeris tidak dapat dikendallikan, menarik-narik apa saja yang dapat digapai, memukulmukul benda disekitarnya, tidak

responsif terhadap tindakan dan tidak dapat menunjukkan lokasi

nyeri (Barbara, 1991).

3. Pengertian Dismenorea
Dismenorea adalah nyeri haid menjelang atau selama haid. Istilah dismenorea
nyeri haid hanya dipakai jika nyeri haid demikian

atau

hebatnya, sehingga memaksa penderita untuk


6

istirahat dan meninggalkan

pekerjaanya untuk beberapa jam atau beberapa hari (simanjuntak, 1977).

Dismenorea adalah nyeri haid menjelang atau selama haid, sampai membuat
wanita tersebut tidak dapat bekerja dan harus tidur.Nyeri sering

bersamaan dengan rasa mual, sakit

kepala, perasaan mau pingsan, lekas marah (kapita selekta kedokteran,edisi III).
Nyeri haid atau dismenorea mungkin merupakan suatu gejala yang paling
menyebabkan wanita-wanita muda pergi ke dokter untuk
gangguan ini sifatnya subyektif, berat atau

konsul

dan

sering

pengobatan

karena

intensitas sukar dinilai.

Nyeri ini terasa diperut bagian bawah dan atau didaerah bujur
Nyeri dapat terasa sebelum, selama dan sesudah haid.

sangkar

Michaelis.

Dapat bersifat kolik atau terus menerus.

Nyeri diduga karena kontraksi.

4. Klasifikasi Dismenorea
Nyeri haid dapat digolongkan berdasarkan jenis nyeri dan ada tidaknya
kelainan yang dapat diamati:
a. Berdasarkan jenis nyeri, nyeri haid dapat dibagi menjadi, dismenore spasmodik dan dismenore
kongestif.
b. Berdasarkan ada tidaknya kelainan atau sebab yang dapat diamati, nyeri haid dapat dibagi
menjadi, dismenore primer dan dismenore sekunder.
a. Berdasarkan jenis nyeri,

nyeri haid dapat dibagi menjadi,

dismenore spasmodik dan dismenore kongestif.


Nyeri spasmodik terasa di bagian bawah perut dan berawal sebelum masa haid atau
segera setelah masa haid mulai. Banyak wanita

terpaksa harus berbaring karena terlalu menderita

nyeri itu sehingga ia tidak dapat mengerjakan apa pun. Ada di antara mereka yang pingsan,
merasa sangat mual, bahkan ada yang benar-benar muntah. Kebanyakan
wanita muda walaupun dijumpai pula pada kalangan

penderitanya adalah

yang berusia 40 tahun ke atas. Dismenore

spasmodik dapat diobati atau paling tidak dikurangi dengan lahirnya bayi pertama walaupun banyak
pula wanita yang tidak mengalami hal seperti itu.
Penderita dismenore kongestif biasanya akan tahu sejak berharibahwa masa haidnya akan segera tiba. Dia mungkin akan
7

hari

sebelumnya

mengalami pegal, sakit pada buah dada,

perut kembung tidak menentu,

bh terasa terlalu ketat, sakit kepala, sakit punggung, pegal pada

paha, merasa lelah atau sulit dipahami, mudah tersinggung, kehilangan


ceroboh, terganggu tidur, atau muncul memar di
simptom pegal menyiksa yang

keseimbangan,

menjadi

paha dan lengan atas. Semua itu merupakan

berlangsung antara 2 dan 3 hari sampai kurang dari 2 minggu.

Proses menstruasi mungkin tidak terlalu menimbulkan nyeri jika sudah

berlangsung. Bahkan setelah

hari pertama masa haid, orang yang menderita dismenore kongestif akan merasa lebih baik.
b. Berdasarkan ada tidaknya kelainan atau sebab yang dapat diamati,
nyeri haid dapat dibagi menjadi, dismenore primer dan dismenore
sekunder.
1. Dismenore primer (esensial, intrinsik, idiopatik).

Adalah nyeri menstruasi yang terjadi tanpa adanya kelainan


nyata, dismenorea primer terjadi beberapa waktu setelah
umumnya setelah 12 bulan atau
setelah

menarche,

biasanya

ginekologik

yang

setelah menarche,

lebih oleh karena siklus-siklus menstruasi pada bulan-nulan

menarche biasanya bersifat anovulatior yang tidak disertai nyeri, rasa nyeri
timbul sebelum atau bersama-sama menstruasi dan berlangsung beberapa jam, walaupun pada

beberapa kasus dapat berlangsung beberapa hari.Sifat

rasa nyeri ialah yang berjangkit-jangkit,

biasanya terbatas pada perut bawah, tetapi dapat merambat ke daerah pinggang dan paha. Rasa nyeri
diserati rasa mual, muntah, sakit kepala, diare (Hanafiah, 1997)
Sebab:
a). Psikogen
b). Konstitusionil : Anemia, TBC dan kelelahan
c). Obstruksi ; Cervik sempit, hiperante fleksio, retro fleksio, hipoplasia
d). Endokrin

uteri

Dinamakan dismenore primer karena rasa nyeri timbul tanpa ada

sebab

dikenali. Nyeri haid primer hampir selalu hilang sesudah

yang

dapat

wanita itu melahirkan anak pertama,

sehingga dahulu diperkirakan bahwa rahim yang agak kecil dari wanita yang belum pernah melahirkan
menjadi

penyebabnya, tetapi belum pernah ada bukti dari teori itu.


Selama menstruasi, sel-sel endometrium yang terkelupas

cells) melepaskan prostaglandin, yang

menyebabkan
8

iskemia

(sloughing
uterus

melalui

endometrial
kontraksi

miometrium dan

vasokonstriksi. Peningkatan kadar prostaglandin telah terbukti ditemukan pada

cairan haid (menstrual fluid) pada wanita dengan dismenorea berat (severe dysmenorrhea). Kadar ini
memang meningkat terutama selama dua

hari pertama menstruasi. Vasopressin juga memiliki peran

yang sama.
Riset terbaru menunjukkan bahwa patogenesis dismenorea primer adalah

karena

prostaglandin F2alpha (PGF2alpha), suatu stimulan miometrium yang kuat (a potent myometrial
stimulant) dan

vasoconstrictor, yang ada di endometrium sekretori (Willman, 1976).

Respon terhadap inhibitor prostaglandin pada pasien dengan dismenorea mendukung


pernyataan bahwa dismenorea diperantarai oleh prostaglandin
bukti kuat menghubungkan dismenorea

(prostaglandin mediated). Banyak

dengan kontraksi uterus yang memanjang (prolonged

uterine contractions) dan penurunan aliran darah ke miometrium.


Kadar prostaglandin yang meningkat ditemukan di cairan
fluid) wanita dengan dismenorea dan

endometrium

(endometrial

berhubungan baik dengan derajat nyeri (Helsa, 1992;

Eden, 1998). Peningkatan endometrial prostaglandin sebanyak 3 kali lipat terjadi dari
menuju fase luteal, dengan peningkatan lebih lanjut yang

fase folikuler

terjadi selama menstruasi (Speroff, 1997;

Dambro, 1998). Peningkatan prostaglandin di endometrium yang mengikuti penurunan progesterone


pada akhir fase luteal menimbulkan peningkatan tonus miometrium dan

kontraksi

uterus

yang berlebihan (Dawood, 1990).


Leukotriene juga telah diterima (postulated) untuk mempertinggi
serabut (pain fibers) di uterus (Helsa, 1992). Jumlah
telah dipertunjukkan di

sensitivitas

nyeri

leukotriene yang bermakna (significant)

endometrium wanita dengan dismenorea primer yang tidak berespon

terhadap pengobatan dengan antagonis prostaglandin (Demers, 1984;

Rees, 1987; Chegini,

1988; Sundell, 1990; Nigam, 1991).


Hormon pituitari posterior, vasopressin, terlibat pada

hipersensitivitas

miometrium, mereduksi (mengurangi) aliran darah uterus, dan nyeri (pain) pada penderita dismenorea
primer (Akerlund, 1979).

Peranan vasopressin di endometrium dapat berhubungan dengan sintesis

dan pelepasan prostaglandin.

Hipotesis neuronal juga telah direkomendasikan untuk patogenesis dismenorea


Neuron nyeri tipe C distimulasi oleh metabolit anaerob

yang

diproduksi

oleh

primer.
ischemic

endometrium.
Dismenorea primer kini telah dihubungkan dengan faktor tingkah laku
dan psikologis. Meskipun faktor-faktor ini belum
dapat dipertimbangkan jika

(behavioral)

diterima sepenuhnya sebagai kausatif, namun

pengobatan secara medis gagal.

Manifestasi klinis (clinical features) dismenorea primer termasuk:


a. Onset segera setelah menarche (haid pertama).
b. Biasanya berlangsung sekitar 48-72 jam (sering mulai beberapa jam sebelum atau sesaat
setelah haid (menstrual flow).
c. Nyeri perut (cramping) atau nyeri seperti saat melahirkan (laborlike pain).
d. Seringkali ditemukan pada pemeriksaan pelvis yang biasa atau unremarkable pelvic
examination findings (termasuk rektum).
Menurut Laurel D Edmundson (2006) dismenorea primer memiliki

ciri khas sebagai

berikut:
a. Onset dalam 6-12 bulan setelah menarche (haid pertama).
b. Nyeri pelvis atau perut bawah (lower abdominal/pelvic pain) dimulai dengan onset haid dan
berakhir selama 8-72 jam.
c. Low back pain.
d. Nyeri paha di medial atau anterior.
e. Headache (sakit kepala).
f. Diarrhea (diare).
g. Nausea (mual) atau vomiting (muntah).
Karakteristik dismenorea primer menurut Ali Badziad (2003):
a. Sering ditemukan pada usia muda.
b. Nyeri sering timbul segera setelah mulai timbul haid teratur.
c. Nyeri sering terasa sebagai kejang uterus yang spastik dan sering disertai mual, muntah,
diare, kelelahan, dan nyeri kepala.
10

d. Nyeri haid timbul mendahului haid dan meningkat pada hari pertama atau kedua haid.
e. Jarang ditemukan kelainan genitalia pada pemeriksaan ginekologis.
f. Cepat memberikan respon terhadap pengobatan medikamentosa.
2. Dismenorea sekunder

Dismenorea sekunder dikaitkan dengan penyakit pelvis organic,


Endometriosis, penyakit radang pelvis, stenosit cervik, neoplasama

seperti

ovarium atau uterus dan

polip uterus. IUD juga dapat menyebabkan dismenorea ini . dismenorea sekunder dapat disalahartikan
sebagai

dismenorea primer atau dapat ranal dengan komplikasi kehamilan dini,

terapi

harus

ditunjukkan untuk dapat mengobati penyakit dasar (Bobak, 2004).


Dismenorea sekunder/secondary dysmenorrheal (ekstrinsik, yang diperoleh, acquired)
dapat terjadi kapan saja setelah menarche (haid

pertama), namun paling sering muncul di usia 20-

an atau 30-an, setelah tahun-tahun normal, siklus tanpa nyeri (relatively painless cycles). Peningkatan
prostaglandin dapat berperan pada dismenorea sekunder,
penyakit pelvis yang menyertai

namun, secara pengertian (by definition),

(concomitant pelvic pathology) haruslah ada. Penyebab yang

umum termasuk: endometriosis, leiomyomata (fibroid), adenomyosis, polip


chronic pelvic inflammatory disease, dan penggunaan

peralatan

endometrium,

kontrasepsi

atau

IUD

(intrauterine device).
Nyeri dengan pola yang berbeda didapatkan pada dismenorea

sekunder

yang

terbatas pada onset haid. Ini biasanya berhubungan dengan perut besar/kembung (abdominal bloating),
pelvis terasa berat (pelvic
meningkat

heaviness), dan nyeri punggung (back pain). Secara khas, nyeri

secara progresif selama fase luteal sampai memuncak sekitar onset haid.
Berikut ini merupakan manifestasi klinis dismenorea sekunder

(Smith,

1993; Smith, 1997):


a. Dismenorea terjadi selama siklus pertama atau kedua setelah menarche (haid pertama), yang
merupakan indikasi adanya obstruksi outflow kongenital.
b. Dismenorea dimulai setelah berusia 25 tahun.

11

c. Terdapat ketidaknormalan (abnormality) pelvis dengan pemeriksaan fisik: pertimbangkan


kemungkinan endometriosis, pelvic inflammatory disease, pelvic adhesion (perlengketan
pelvis), dan adenomyosis.
d. Sedikit atau tidak ada respon terhadap NSAIDs, kontrasepsi oral,atau

keduanya.

Menurut Laurel D Edmundson (2006) dismenorea sekunder memiliki ciri khas


sebagai berikut:
a. Onset pada usia 20-an atau 30-an, setelah siklus haid yang relatif tidak nyeri di masa lalu.
b. Infertilitas.
c. Darah haid yang banyak (heavy menstrual flow) atau perdarahan yang tidak teratur.
d. Dyspareunia (sensasi nyeri saat berhubungan seks).
e. Vaginal discharge.
f. Nyeri perut bawah atau pelvis selama waktu selain haid
g. Nyeri yang tidak berkurang dengan terapi nonsteroidal anti-inflammatory drugs (NSAIDs)

Karakteristik dismenorea sekunder menurut Ali Badziad (2003):


a. Lebih sering ditemukan pada usia tua dan setelah dua tahun mengalami siklus haid teratur.
b. Nyeri dimulai saat haid dan meningkat bersamaan dengan keluarnya darah haid.
c. Sering ditemukan kelainan ginekologis.
d. Pengobatannya seringkali memerlukan tindakan operatif.
Diagnosis banding yang paling peting dari dismenorea primer adalah
sekunder.
a. Secondary dysmenorrhea karena endometriosis
b. Adrenal insufficiency dan adrenal crisis
c. Neoplasma ovarium
d. Peritonitis
e. Kehamilan (pregnancy)
f. Kehamilan ektopik (ectopic pregnancy)
g. Infeksi saluran kemih (urinary tract infections)
12

dismenorea

h. Uterine neoplasm
i. Endometriosis
j. Adenomyosis
k. Aborsi
l. Inflammatory Bowel Disease
m. Irritable Bowel Syndrome
n. Kista ovarium (ovarian cysts)
o. Pelvic Inflammatory Disease.
Sementara Caroline M. Colin dan Asher Shushan (2007) membagi

dismenorea

menjadi tiga tipe:


a. Primary (no organic cause)
b. Secondary (pathologic cause)
c. Membranous (cast of endometrial cavity shed as a single entity)

5.Penyebab Dismenorea
Beberapa faktor memegang peranan sebagai penyebab dismenorea primer, antara lain :
a. Faktor kejiwaan
Pada gadis-gadis yang secara emosional tidak stabil, apalagi jika mereka tidak mendapat
penerangan yang baik tentang proses haid, mudah timbul dismenorea. Seperti: rasa bersalah,
ketakutan seksual, takut hamil, hilangnya tempat berteduh, konflik dengan kewanitaannya, dan
imaturitas.
b. Faktor konstitusi
Faktor ini erat hubungannya dengan faktor kejiwaan yang dapat juga menurunkan
ketahanan terhadap nyeri. Faktor-faktor ini adalah anemia, penyakit menahun dan sebagainya.
c. Faktor obstruksi kanalis servikalis
Salah satu teori yang paling tua untuk menerangkan terjadinya dismenorea primer
adalah stenosis kanalis servikalis. Pada wanita dengan uterus dalam hiperantefleksi mungkin
dapat terjadi stenosis kanalis servikalis, akan tetapi hal ini sekarang tidak dianggap sebagai
faktor yang penting sebagai penyebab dismenorea. Banyak wanita menderita dismenorea tanpa
stenosis servikalis dan tanpa uterus hiperantefleksi. Sebaliknya, terdapat banyak wanita tanpa
keluhan dismenorea, walaupun ada stenosis servikalis dan uterus terletak dalam hiperantefleksi
13

atau hiperretrofleksi. Mioma submukosum bertangkai atau polip endometrium dapat


menyebabkan dismenorea karena otot- otot uterus berkontraksi keras dalam usaha untuk
mengeluarkan kelainan tersebut.
d. Faktor endokrin
Pada umumnya ada tanggapan bahwa kejang yang terjadi pada dismenorea primer
disebabkan oleh kontraksi uterus yang berlebihan. Faktor endokrin mempunyai hubungan
dengan soal tonus dan kontraktilitas otot usus.

Novak dan Reynolds yang melakukan

penelitian pada uterus kelinci berkesimpulan bahwa hormon estrogen

merangsang

kontraktilitas uterus, sedang hormon progesteron menghambat atau mencegahnya. Tetapi, teori
ini

tidak dapat menerangkan fakta mengapa tidak timbul rasa nyeri pada perdarahan

disfungsional anovulatoar, yang biasanya bersamaan dengan kadar estrogen yang berlebihan
tanpa adanya progesteron.
Penjelasan lain diberikan oleh Clitheroe dan Pickles. Mereka menyatakan bahwa karena
endometrium dalam fase sekresi memproduksi prostaglandin F2 yang menyebabkan kontraksi
otot- otot polos. Jika jumlah prostaglandin yang berlebihan dilepaskan ke dalam peredaran
darah, maka selain dismenorea, dijumpai pula efek umum seperti diare, nausea, muntah,
flushing.
e. Faktor alergi
Teori ini dikemukakan setelah memperhatikan adanya asosiasi antara dismenorea
dengan urtikaria, migraine atau asma

bronkhiale. Menurut Smith, penyebab alergi adalah

toksin haid. Menurut riset, ada asosiasi antara dismenorea dengan urtikaria, migren, dan asma
bronkiale.Berhubungan dengan gejala-gejala umum, seperti:
a. malaise (rasa tidak enak badan),
b. fatigue/lelah (85%),
c. nausea (mual) dan vomiting/muntah (89%),
d. diare (60%),
e. nyeri punggung bawah atau lower backache (60%),
f. dan sakit kepala atau headache (45%),

14

g. terkadang dapat juga disertai vertigo atau sensasi jatuh (dizziness), perasaan cemas, gelisah
(nervousness), dan bahkan collapse (ambruk).
Faktor penyebab dismenorea sekunder :
Dismenore sekunder lebih jarang ditemukan dan terjadi pada 25% wanita yang
mengalami dismenore. Penyebab dari dismenore sekunder adalah:
adenomiosis, peradangan tuba falopii,

endometriosis,

fibroid,

perlengketan abnormal antara organ di dalam perut, dan

pemakaian IUD.
Lebih lanjut Smith (1993) menyatakan bahwa hampir semua proses
memengaruhi (affect) pelvic viscera dapat memproduksi
pain).Nyeri haid yang disebabkan karena
haid yang baru

nyeri

pelvis

apapun yang

siklik

(cyclic

pelvic

kelainan yang jelas dinamakan dismenore sekunder. Nyeri

timbul 1 tahun atau lebih sesudah haid pertama dapat dengan mudah

ditemukan penyebabnya melalui pemeriksaan yang sederhana. Jika pada

usia 40 tahun ke atas

timbul gejala nyeri haid yang tidak pernah dialami, penting sekali baginya untuk memeriksakan
diri.Nyeri haid sekunder dapat

disebabkan oleh hal-hal berikut:

a. Rahim yang terbalik sehingga membuat darah haid tidak mudah


dikeluarkan,

tetapi

penyebab

itu

lebih

jarang

daripada

yang

diperkirakan sebelumnya;
b. Benjolan besar atau kecil di rahim dapat menimbulkan keluhan perdarahan yang banyak
atau sering disertai gumpalan darah;
c. Peradangan selaput lendir rahim. Hal itu biasanya hanya terjadi-dan jarang terjadisesudah persalinan atau keguguran. Peradangan dapat pula terjadi akibat penyakit
kelamin yang dilalaikan;
d. Pemakaian spiral;
e. Endometriosis. Pertumbuhan jaringan lapisan rahim di tempat lain di dalam ruang
panggul;
f. Fibroid atau tumor;
g. Infeksi pelvis.
h.

Intrauterine contraceptive devices

i.

Adenomyosis

j. Uterine myoma (fibroid), terutama mioma submukosum


15

k. Uterine polyps
l.

Adhesions (pelekatan)

m. Congenital malformation of the mllerian system


n.

Stenosis atau striktur serviks, striktur kanalis servikalis, varikosis pelvik, dan adanya
AKDR

o. Kista ovarium (ovarian cysts)


p.

Pelvic congestion syndrome

q. Allen-Masters syndrome
r. Mittelschmerz (midcycle ovulation pain atau nyeri saat pertengahan siklus ovulasi)
s.

Psychogenic pain (nyeri psikogenik)

t.

Endometriosis pelvis

u.

Penyakit radang panggul kronis

v.

Tumor ovarium, polip endometrium

w. Kelainan letak uterus seperti: retrofleksi, hiperantefleksi, retrofleksi terfiksasi


x. Faktor psikis, seperti: takut tidak punya anak, konflik dengan pasangan, gangguan
libido.

6. Patofisiologi Dismenorea
Mekanisme terjadinya nyeri pada dysmenorrhea primer diterangkan sebagai berikut :
Bila tidak terjadi kehamilan, maka korpus luteum akan mengalami regresi dan hal ini akan
mengakibatkan penurunan kadar progesteron. Penurunan ini akan mengakibatkan labilisasi
membran lisosom, sehingga mudah pecah dan melepaskan enzim fosfolipase A2. Fosfolipase ini
A2 akan menghidrolisis senyawa fosfolipid yang ada di membran sel endometrium;
menghasilkan asam arakhidonat. Adanya asam arakhidonat bersama dengan kerusakan
endometrium akan merangsang kaskade asam arakhidonat yang akan menghasilkan
prostaglandin, antara lain PGE2 dan PGF2 alfa. Wanita dengan dysmenorrhea primer
didapatkan adanya peningkatan kadar PGE dan PGF2 alfa di dalam darahnya, yang akan
merangsang miometrium dengan akibat terjadinya peningkatan kontraksi dan disritmi uterus.
Akibatnya akan terjadi penurunan aliran darah ke uterus dan ini akan mengakibatkan iskemia.
16

Prostaglandin sendiri dan endoperoksid juga menyebabkan sensitisasi dan selanjutnya


menurunkan ambang rasa sakit pada ujung-ujung syaraf aferen nervus pelvicus terhadap
rangsang fisik dan kimia (Sunaryo, 1989).

7. Faktor Resiko Dismenorea


Menurut Harlow (1996), faktor-faktor risiko berikut ini berhubungan dengan
episode dismenorea yang berat (severe episodes of dysmenorrhea):
a. Menstruasi pertama pada usia amat dini (earlier age at menarche)
b. Periode menstruasi yang lama (long menstrual periods)
c. Aliran menstruasi yang hebat (heavy menstrual flow)
d. Merokok (smoking)
e. Riwayat kelurga yang positif (positive family history)
Kegemukan (obesity) dan konsumsi alkohol (alcohol consumption)
ditemukan berhubungan dengan dismenorea pada beberapa (tidak semua)
penelitian (Andersch, 1982; Sundell, 1990; Parazzini, 1994). Aktivitas fisik
dan lamanya siklus haid (duration of the menstrual cycle) tampaknya tidak
berhubungan dengan nyeri haid yang meningkat (Andersch, 1982).
Laurel D Edmundson (2006) telah mencatat sedikitnya terdapat 15 faktor
risiko pada dismenorea primer dan sekunder, dengan rincian sebagai
berikut:
a. Faktor Risiko Dismenorea Primer:
1. Usia saat menstruasi pertama <12 tahun
2. Nulliparity (belum pernah melahirkan anak)
3. Haid memanjang (heavy or prolonged menstrual flow)
4. Merokok
5. Riwayat keluarga positif
6. Kegemukan
b. Faktor Risiko Dismenorea Sekunder:
1. Endometriosis
2. Adenomyosis
3. Leiomyomata (fibroid)
4. Intrauterine device (IUD)
5. Pelvic inflammatory disease
6. Kanker endometrium (endometrial carcinoma)
7. Kista ovarium (ovarian cysts)
8. Congenital pelvic malformations
17

9. Cervical stenosis

8. Tanda dan Gejala Dismenorea


Nyeri pada perut bagian bawah, yang bisa menjalar ke punggung

bagian bawah dan

tungkai. Nyeri dirasakan sebagai kram yang hilang- timbul atau sebagai nyeri tumpul yang terus
menerus ada.
Biasanya nyeri mulai timbul sesaat sebelum atau selama
menstruasi, sel endometrium mengeluarkan zat yang
mengakibatkan timbulnya

menstruasi.Selama

disebut prostaglandin. Prostaglandin ini

iskhemia uterus dengan kontraksi dan vasokonstriksi miometrium. Kadar

prostaglandin ini tinggi selama 2 hari pertama menstruasi.


a.

Dismenore primer

1. Gejala 6 -12 bulan sesudah haid pertama


2. Nyeri hanya timbul saat haid dan berkurang dengan sendirinya 8-72
3.
4.
5.
6.
7.

jam sesudah haid


Nyeri punggung belakang
Nyeri tumpul
Sakit kepala
Diare
Mual muntah

b. Dismenore sekunder

1. Timbul di usia 20 atau 30 setelah sebelumnya haid berlangsung


2.
3.
4.
5.
6.
7.

normal tanpa nyeri


Infertilitas
Perdarahan haid yang banyak atau tidak teratur
Nyeri saat berhubungan seksual
Keputihan
Nyeri yang juga timbul di luar waktu haid
Nyeri tidak hilang dengan obat anti nyeri

9.Penatalaksanaan
Pertambahan umur dan kehamilan akan menyebabkan

menghilangnya

dismenore

primer. Hal ini diduga terjadi karena adanya kemunduran saraf rahim akibat penuaan dan hilangnya
sebagian saraf pada

akhir kehamilan.
18

Pengobatan untuk dismenore sekunder tergantung kepada

penyebabnya.

Menurut prawiharjo (1999) dismenorea primer dapat diatasi


dengan :
a. Penerangan dan Nasehat
Hendaknya diadakan penjelasan dan diskusi mengenai cara
hidup,

dari

lingkungan,

kegiatan,

dan

lingkungan

penderita.

Nasehat-nasehat mengenai makanan yang sehat, istirahat yang


cukup dan olahraga mungkin berguna, kadang-kadang diperlukan
psikoterapi.
b. Kebersihan diri
Kebersihan diri sangat mendatangkan kenyamanan dengan
tetap secara teratur serta menukar pembalut haid sebagaimana
diperlukan. Dalam hal ini setiap orang berbeda-beda, ada yang
kehilangan sedikit sehingga membutuhkan cukup 2 pembalut dan ada
yang terlalu banyak. Kebersihan diri dengan menganjurkan keramas
minimal 2 atau 3 kali dalam satu mingggu dengan air hangat
kemudian dibilas dengan air dingin, begitupun untuk kebersihan kulit.
c. Makanan sehat
Makanan yang dapat menolong seperti jeruk, pisang dan tomat,
terutama berguna disekitar masa haid karena buah-buahan tersebut
menggantikan kalsium yang hilang dalam tubuh. Dan jika merasa
pusingdan risih baik kiranya jika menyediakan sedikit persediaan
makanan bergula seperti tablet glukosa, permen anggur. Makanan
yang harus dihindari adalah makanan kecil beragam seperti keripik
atau kacang asin.
Pengobatan Dismenorea
Rasa nyeri pada dismenorea bisa dikurangi dengan:
a. Istirahat yang cukup dapat mengurangi kerentanan tubuh
kita terhadap rasa nyeri
Jika menderita kelelahan

pada

masa

haid

tubuh

akan

memberitahu berapa lama istirahat yang diperlukan dan jika amat


lelah tubuh akan memaksa untuk istirahat dan istirahat sangat
19

dibutuhkan pada masa haid, maka duduklah jika ada kesempatan dan
jangan lupa makan siang, pergunakan beberapa menit untuk rileks
sebelum mulai kerja dan bernafas dengan persneling lebih rendah
(Kingston. B, 1991)
b. Olah raga yang teratur (terutama berjalan).
Olahraga teratur dapat meningkatkan endorphin tubuh.
Endorphin dikenal sebagai natural pain killer
c. Orgasme pada aktivitas seksual
d. Non-medikasi :
1. Berendam air hangat ketika nyeri timbul
2. Mengompres daerah perut bawah yang sakit dengan botol berisi air hangat
e. Medikasi :
1. Obat anti peradangan non-steroid (misalnya ibuprofen,
mefenamat). Ibuprofen terapi pilihan untuk
jika mulai diminum 2 hari sebelum

menstruasi

naproksen

asam

nyeri haid. Obat ini akan sangat efektif


dan

dilanjutkan

sampai

menstruasi.Tersedia di toko obat Jepang (Drug Tops) namun


dengan obat-obat kaze. Golongan obat:

dan
hari

biasanya

1-2

tergabung

Nonsteroidal anti-inflammatory agents (NSAIDs).

Obat-obat berikut ini efektivitasnya tinggi terhadap dismenorea, terutama jika


dimulai sebelum terjadi (onset) haid dan dilanjutkan pada hari ke-2. Sediaan obat NSAID
mudah

ditemukan, relatif tidak mahal, dan memiliki efek samping yang

sedikit

jika

digunakan secara berhati-hati (sesuai dosis dan aturan) dan tidak ada kontraindikasi.
a). Ibuprofen
Dosis dewasa
400 mg PO q4-6h; tidak melebihi 3,2 g/hari.
Dosis Anak
Belum dapat ditentukan (Not established).
Kontraindikasi
Hipersensitivitas, ulkus peptik (tukak lambung), perdarahan
gastrointestinal, insufisiensi ginjal, risiko
b). Naproxen
Dosis Dewasa
20

tinggi perdarahan.

atau perforasi

500 mg PO diikuti oleh 250 mg q6-8h; tidak melebihi 1,25 g/hari.


Dosis Anak
Belum dapat ditentukan (Not established).
Kontraindikasi
Hipersensitivitas, ulkus peptik, perdarahan atau perforasi

gastrointestinal, dan

insufisiensi ginjal.
c). Diclofenac
Dosis Dewasa
Ada dua cara pemberian:
a). 25 mg PO bid/tid (2x sehari atau 3x sehari)
Jika ditoleransi dengan baik, ditingkatkan 25 atau 50 mg
minggunya sampai diperoleh respon yang

setiap
memuaskan

dosis total harian 150-200 mg PO

atau

tercapai. Dosis yang lebih

tinggi umumnya tidak

meningkatkan efektivitas.

b). 50 mg PO tid (3x sehari); tidak melebihi 150 mg/hari.


Dosis Anak
<12 tahun: Belum dapat ditentukan.
>12 tahun: sama seperti dosis dewasa.
Kontraindikasi
Hipersensitivitas, ulkus peptik, perdarahan atau perforasi
insufisiensi ginjal, dan mereka yang

gastrointestinal,

berisiko tinggi terjadi perdarahan.

d). Hydrocodone dan acetaminophen


Dosis Dewasa
1-2 tab atau cap PO q4-6h prn (jika perlu) nyeri.
Dosis Anak
<12 years: Belum dapat ditentukan.
>12 years: 750 mg acetaminophen PO q4h; tidak melebihi 10 mg hydrocodone
bitartrate per dose or 5 dosis/24 jam
Kontraindikasi
Hipersensitivitas, high altitude cerebral edema (HACE)
intrakranial yang tinggi/elevated intracranial
pressure (ICP)
e). Ketoprofen
Dosis Dewasa
25-50 mg PO q6-8h prn; tidak melebihi 300 mg/hari.
Dosis Anak
21

atau

tekanan

Belum dapat ditentukan (Not established).


Kontraindikasi
Hipersensitivitas.
f). Meclofenamate sodium
Dosis Dewasa
100 mg PO tid selama 6 hari; tidak melebihi 300 mg/hari.
Dosis Anak
Belum dapat ditentukan (Not established).
Kontraindikasi
Hipersensitivitas, perdarahan gastrointestinal aktif, ulcer
g). Mefenamic acid (asam mefenamat)
Dosis Dewasa
500 mg PO pada awalnya, diikuti 250 mg q6h untuk 2-3

disease.
hari; tidak melebihi

1 g/hari.
Dosis Anak
Belum dapat ditentukan (Not established).
Kontraindikasi
Hipersensitivitas, ulkus peptik, perdarahan atau perforasi
gastrointestinal, insufisiensi ginjal, dan mereka yang

berisiko

tinggi terjadi perdarahan.


2. Golongan obat: Kontrasepsi oral
Cara kerja kedua obat di bawah ini adalah dengan mereduksi (mengurangi)
sekresi LH dan FSH dari pituitari dengan mengurangi jumlah gonadotropin-releasing
hormones.
a). Ethinyl estradiol dan norgestimate
Dosis Dewasa
Jadwal 1
(Dimulai hari Minggu): Dosis dimulai pada hari Minggu
onset haid, mulailah hari Minggu jika

dengan 7 hari libur

obat lagi pada hari kedelapan setelah

minum tablet terakhir.


28-tab bungkus (package): 1 tab qd tanpa putus.

22

setelah

periode haid dimulai dari hari Minggu.

21-tab bungkus (package): 1 tab qd untuk 21 hari diikuti


minum obat (off medication), minum

pertama

Jadwal 2
(Dimulai pada hari ke-1): Mulailah dosis pada hari pertama
21-tab bungkus (package): 1 tab qd untuk 21 hari diikuti
minum obat (off medication), minum
minum tablet terakhir.

siklus

haid.

dengan 7 hari libur

obat lagi pada hari kedelapan setelah

Lanjutkan siklus dosis (dosing cycle) jika 1 periode

terlewati (missed); tes kehamilan diperlukan jika 2 periode terlewati.


Dosis Anak
Belum dapat ditentukan (Not established).
Kontraindikasi
Hipersensitivitas, kanker hati dan endometrium, gangguan tromboembolik,
perdarahan vagina yang tak terdiagnosis,
penyakit

perokok yang berusia lebih dari 35 tahun,

kardiovaskuler.

b).Ethinyl estradiol dan norethindrone


Dosis Dewasa
Jadwal 1
(Dimulai hari Minggu): Dosis dimulai pada hari Minggu
onset haid, mulailah hari Minggu jika

21-tab bungkus (package): 1 tab qd untuk 21 hari diikuti


minum tablet terakhir.

dengan 7 hari libur

obat lagi pada hari kedelapan setelah

minum tablet terakhir.


28-tab bungkus (package): 1 tab qd tanpa putus.
Jadwal 2
(Dimulai pada hari ke-1): Mulailah dosis pada hari pertama

minum obat (off medication), minum

setelah

periode haid dimulai dari hari Minggu.

21-tab bungkus (package): 1 tab qd untuk 21 hari diikuti


minum obat (off medication), minum

pertama

siklus

haid.

dengan 7 hari libur

obat lagi pada hari kedelapan setelah

Lanjutkan siklus dosis (dosing cycle) jika 1 periode

terlewati (missed); tes kehamilan diperlukan jika 2 periode terlewati.


Dosis Anak
Belum dapat ditentukan (Not established).
Kontraindikasi
Hipersensitivitas, kanker hati dan endometrium, gangguan tromboembolik,
perdarahan vagina yang tak terdiagnosis, perokok yang berusia lebih dari 35 tahun,
23

penyakit

kardiovaskuler.

Perawatan Pembedahan (Surgical Care)


a). Tindakan pembedahan pada umumnya tidak
diindikasikan untuk dismenorea primer.
b). Pada kasus dismenorea sekunder, penatalaksanaan dari

patologi

yang mendasarinya memerlukan intervensi


pembedahan.
c). Pada kasus-kasus dismenorea yang tidak memberikan
dengan obat (refractory), tindakan laparoscopic
amat manjur (efficacious) pada
terapi treatment

respon

presacral neuroectomy

beberapa pasien selama 12 bulan setelah

(Gurgan, 1992; Chen, 1996).

f. Untuk mengatasi mual dan muntah bisa diberikan obat anti mual, tetapi mual
dan muntah biasanya menghilang jika kramnya telah teratasi.

g. Rileksasi
Tubuh kita bereaksi saat kita stres maupun ketika kita
rileks. Saat kita terancam atau takut, tubuh kita
or flight, yang dicetuskan oleh

memberikan 2

dalam keadaan
macam reaksi, fight

hormon adrenalin. Otot tubuh menjadi tegang, napas lebih

cepat,jantung berdenyut lebih cepat, tekanan darah meninggi untuk


oksigen bagi otot tubuh, gula dilepaskan dalam
memberikan bahan bakar
keringat

menyediakan

jumlah yang banyak dari hati untuk

bagi otot, keseimbangan natrium dan kalium berubah,dan

mulai bercucuran. Tanda pertama yang menunjukan keadaan stres adalah

adanya reaksi yang muncul yaitu menegangnya otot.


Akan tetapi, jika kita rileks maka kita menempatkan tubuh kita pada posisi yang
sebaliknya. Otot tidak tegang dan tidak
jantung

memerlukan sedemikian banyak oksigen dan gula,

berdenyut lebih lambat, tekanan darah menurun, napas lebih

akan mengurangi pelepasan gula, natrium dan kalium

mudah,

hati

dalam tubuh kembali seimbang, dan

keringat berhenti bercucuran.


Dalam kondisi rileks tubuh juga menghentikan produksi
dan semua hormon yang diperlukan saat kita
progesteron serta

hormon

stress. Karena hormon seks esterogen dan

hormon stres adrenalin diproduksi dari blok bangunan kimiawi


24

adrenalin
yang

sama, ketika kita mengurangi stres kita juga telah mengurangi


tersebut.Jadi, dapat kita lihat perlunya
tubuh untuk

produksi kedua hormon seks

rileksasi untuk memberikan kesempatan bagi

memproduksi hormon yang penting untuk mendapatkan haid yang bebas

dari

nyeri.
Beberapa posisi yoga dipercaya dapat menghilangkan kram
Salah satunya adalah peregangan kucing. Sebuah

menstruasi.

latihan yang dirancang untuk meningkatkan

kondisi otot berguna juga untuk mengatasi nyeri saat haid.


h. Hipnoterapi
Salah satu metode hipnoterapi adalah mengubah pola pikir dari yang negatif ke
positif. Pendekatan yang umumnya dilakukan
agar latar belakang

adalah memunculkan pikiran bawah sadar

permasalahan dapat diketahui dengan tepat.

Caranya adalah saat menstruasi belum datang, rilekskan


terlentang di tempat tidur dengan kedua tangan
pikiran. Dengan mata yang

berada

disamping

tubuh dalam posisi


tubuh.

Nonaktifkan

terpejam, sadari kondisi saat itu. Setelah benar-benar rileks dan

nyaman, pelan-pelan instruksikan pada diri sendiri sebuah perintah


bunyinya, "rasa sakit yang biasanya datang saat menstruasi,
itu berulang-ulang dalam hati sembari

yang

hilang!". Ucapkan kalimat

meyakini bahwa hal itu pasti akan terjadi. Sekitar

15 kemudian, buka mata. Maka anda akan merasa segar dan nyaman, dan pikiran

terasa

lepas dari beban.


Instruksi itu dengan sendirinya menunjukan pola pikir kita telah

berubah.

Menstruasi itu tidak harus sakit. Selama ini pikiran kita terpola bahwa menstruasi itu sakit,
maka benar-benar sakit.
Seminggu sesudah terapi, meskipun jadwal menstruasi
datang, ia tidak merasakan apa-apa. Ketika haid
yang biasa menyertainya.

tinggal 1 hari lagi

muncul, tidak ada rasa panas dan nyeri

Pegal-pegal sedikit memang masih ada tapi tidak terasa

mengganggu.
i. Alternatif pengobatan
Selain pemakaian obat penawar sakit tanpa resep, relaksasi, dan hipnoterapi, ada
beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mengurangi nyeri haid.
1. Suhu panas merupakan ramuan tua yang patut dicoba. Gunakan
heating pad (bantal pemanas), kompres handuk atau botol berisi air
25

panas di perut dan punggung bawah, serta minum minuman yang


hangat. Mandi air hangat juga dapat membantu.
2. Tidur dan istirahat yang cukup, serta olahraga teratur (termasuk
Beberapa wanita mencapai keringanan melalui olah
stres tapi juga meningkatkan
ada

banyak

jalan).

raga, yang tidak hanya mengurangi

produksi endorfin otak, penawar sakit alami tubuh. Tidak

pembatasan aktivitas selama haid.

3. Pada kasus yang sangat jarang dan ekstrim, kadang diperlukan

eksisi

pada

saraf uterus.
4. Sebuah terapi alternatif, yaitu visualisasi_konsentrasi pada warna
mencapai penguasaan atasnya_dapat membantu

sakit sampai

mengurangi nyeri haid.

Sebagai tambahan, aroma terapi dan pemijatan juga dapat mengurangi


tidak nyaman. Pijatan yang ringan dan melingkar
perut bagian bawah akan
membaca
j.

rasa

dengan menggunakan telunjuk pada

membantu mengurangi nyeri haid. Mendengarkan musik,

buku atau menonton film juga dapat menolong.

Diet
Baik

diet

vegetarian

rendah lemak

(Barnard, 2000)

dan

suplemen minyak ikan supplements (Harel, 1996) telah terbukti


mengurangi nyeri haid pada beberapa wanita.
k. Terapi hormonal
Tujuan terapi hormonal adalah menekan ovulasi.Tindakan ini bersifat sementara
dengan maksud untuk membuktikan bahwa gangguan benar-benar dismenore primer, atau
untuk memungkinkan penderita melaksanakan pekerjaan penting pada waktu haid tanpa
gangguan. Tujuan ini dapat dicapai dengan pemberian salah satu jenis pilkombinasi
kontrasepsi.
l. Dilatasi kanalis servikalis dapat memberi keringanan karena
memudahkan

pengeluaran

darah

haid

dan

prostaglandin

didalamnya. Neuroktomi prasakral (pemotongan urat saraf sensorik


antara uterus dan susunan saraf pusat) ditambah dengan neuroktomi
ovarial( pemotongan urat saraf sensorik yang ada diligamentum
26

infundibulum) merupakan tindakan terakhir, apabila usaha-usaha yang


dilakukan tidak berhasil.
m. Rekomendasi Terbaru
Rekomendasi Caroline M. Colin dan Asher Shushan (2007) untuk kasus dismenorea
adalah sebagai berikut:
a. Antiprostaglandins
Antiprostaglandin bekerja dengan menghambat
metabolisme postaglandin. Contohnya:
hari). Obat ini haruslah
juga 1-2

sintesis

dan

ibuprofen, naproxen (550 mg per

digunakan secepatnya setelah gejala dirasakan, dan

hari sebelum terjadi perdarahan atau cramping.

Cyclooxygenase-2 (COX-2) inhibitors seperti valdecoxib


juga sama efektifnya dan memiliki efek

samping gastrointestinal yang lebih

sedikit, namun sayangnya obat ini agak mahal.


b. Oral Contraceptives
Pada wanita yang tidak memerlukan kontrasepsi,
diberikan untuk 6-12 bulan. Banyak wanita
dihentikan. NSAIDs

(20-40 mg per hari)

kontrasepsi

oral

terbebas dari nyeri setelah terapi

bekerja sinergis dengan pil kontrasepsi oral untuk

mengobati dismenorea.
c. Surgical Treatment
Histerektomi, meskipun jarang, dapat
pasien dismenorea dengan nyeri

dipertimbangkan

pada

tanpa penyebab organik, dengan tujuan

untuk mengurangi
nyeri.
d. Adjuvant Treatments
Continuous low-level topical heat therapy sama
efektifnya dengan ibuprofen dalam mengobati dismenorea,
dalam praktik sehari-hari masih dipertanyakan

kepraktisannya.

(exercises) menurunkan

prevalensi

simtomatologi (gejala)
kekurangan

meskipun
dan

atau

Olahraga

memperbaiki

dismenorea. Sayangnya, pernyataan ini masih


bukti-bukti yang kuat.

Jika nyeri terus dirasakan dan mengganggu kegiatan sehari-hari,


KB dosis rendah yang mengandung estrogen dan

maka diberikan pil

progesteron atau diberikan medroksiprogesteron.

27

Pemberian kedua obat tersebut dimaksudkan untuk mencegah


sel telur) dan mengurangi pembentukan prostaglandin,
beratnya dismenore. Jika obat ini juga
(misalnya

yang

selanjutnya

ovulasi

(pelepasan

akan

mengurangi

tidak efektif, maka dilakukan pemeriksaan tambahan

laparoskopi).
Jika dismenore sangat berat bisa dilakukan ablasio endometrium, yaitu suatu prosedur

dimana lapisan rahim dibakar atau diuapkan dengan

alat pemanas.

10. Komplikasi
a. Jika diagnosis dismenorea sekunder diabaikan atau terlupakan, maka
mendasari (underlying pathology) dapat memicu kenaikan

morbidity

patologi
(angka

yang
kematian),

termasuk sterility (kemandulan).


b. Isolasi sosial dan/atau depresi.

BAB III
KASUS
ASUHAN KEBIDANAN PADA PASIEN DISMENOREA
Tanggal didata

: 29 mei 2009

Jam

: 08.00 wib

Yang Mendata

: kelompok dismenorea I A

A. PENGKAJIAN
1. Data subjektif
a. Biodata Pasien
Nama

: Nn. R

Umur

: 18 tahun

Suku/bangsa

: Palembang/Indonesia
28

Pendidikan

: SMA

Pekerjaan

: Pelajar

Agama

: Islam

Alamat

: Padang Harapan BKL

1. Keluhan saat di data


Pasien datang mengeluh nyeri pada perut bagian bawah dengan gejala
nyeri sekali pada saat duduk dan merasakan penjalarannya disekitar
punggung yang saat ini pasien sedang mengalami haid.
2. Riwayat kesehatan
a. Riwayat kesehatan sekarang pasien tidak sedang menderita penyakit
malaria, anemia, TBC, hepatitis, asma, hipertensi, jantung, DM.
b. Riwayat kesehatan yang lalu pasien tidak pernah menderita penyakit
malaria, anemia, TBC, hepatitis, asma, hipertensi, jantung, DM.
Namun, ibu pernah menderita usus buntu.
c. Riwayat kesehatan keluarga dalam keluarga pasien tidak ada
menderita penyakit TBC, PMS, hipertensi, hepatitis, jantung, asma,
DM.
3. Riwayat menstruasi
Menarche

: 14 tahun

Lama haid

: 7 hari

Siklus

: 21 hari

Banyaknya

: 3x ganti pembalut perhari

Warna darah haid

: Merah

4. Pemenuhan kebutuhan sehari-hari


a. Nutrisi

Makanan
29

Frekuensi

: 3x sehari

Jenis makanan
Porsi makan

: Nasi, sayur, lauk-pauk, kadang


buah.

: nasi 1 piring sedang, sayur 1


mangkok kecil, ikan 1 potong
sedang, buah 1 potong sedang

Nafsu makan

: biasa (+)

Pantangan makan

: tidak ada

Masalah

: tidak ada

Jumlah

: 8 gelas sehari

Minum

Jenis

: air putih

Masalah

:-

b. Eliminasi
BAB
Frekuensi

: 1x sehari

Konsistensi : lembek
Warna

: kuning

Bau

: khas feces

Masalah

:-

Frekuensi

: 4 x sehari

BAK

Warna
Bau

: kuning
: khas amoniak
30

Masalah

: tidak ada

c. Istirahat
Tidur siang

: 2 jam

Tidur malam : 7 jam


Masalah

: Terganggu karena adanya nyeri haid

Personal hygiene
Mandi

: 2x sehari

Mencuci rambut

: 2x sekali

Menggosok gigi

: 3x sehari

Ganti pakaian dalam

: 2x sehari

Masalah

: tidak ada.

d. aktivitas
jenis kegiatan

: melakukan aktifitas sehari-hari sebagai pelajar

masalah

: tidak ada

5. keadaan psikologi spiritual

hubungan dengan keluarga

: harmonis

keyakinan terhadap agama

: baik

kebiasaan berobat

: ke bidan dan dokter

6. pengetahuan klien terhadap masalah yang di hadapi

pasien sedikit mengerti masalah yang di hadapi .


Data Objektif
1. Pemeriksaan umum
Keadaan umum : baik
31

Kesadaran

: compos mentis

BB

: 53 kg

TB

: 157 cm

Pols

: 65 x permenit

Temp

: 36,70C

RR

: 21 x permenit

TD

: 110/70mmHg

2. Pemeriksaan fisik
a. Inspeksi
1) kepala
- Rambut

warna rambut

: hitam berkilau

kebersihan

: cukup

benjolan

nyeri tekan

: tidak ada

bekas operasi

: tidak ada

rontok

: tidak ada

: tidak ada
- Muka

pucat / tidak

: merah

oedema

: tidak ada
- Mata

konjungtiva

: an anemis

32

oedema kelopak mata : tidak ada

sklera

: an ikterik
- Hidung

kebersihan

:bersih

pengeluaran

:tidak ada

polip

: tidak ada
- Mulut

kelembaban

: lembab

gigi

: tidak ada caries

gusi

: tidak ada pembengkakan

lidah

: bersih

sariawan

: tidak ada

pembesaran tonsil

keluhan

: tidak ada
: tidak ada

- Telinga
fungsi pendengaran

: baik

kebersihan

: bersih

pengeluaran

: tidak ada

- Leher
pembengkakan kelenjar tyroid

: tidak ada

pembengkakan kelenjar limfe : tidak ada


pembengkakan kelenjar parotis

: tidak ada
33

- Payudara
pembesaran ki/ka

: ada +/+

areola mamae

: tidak hiperpigmentasi

papila mamae ki/ka

: tidak menonjol +/+

benjolan abnormal

: tidak ada

bekas luka operasi

: tidak ada

- Abdomen
bakas operasi

: tidak ada

benjolan abnormal

: tidak ada

- Genitalia eksterna kebersihan


pengeluaran

: bersih

varices vulva

: tidak ada

pembengkakan kel bartolini

: tidak ada

benjolan abnormal

: tidak ada

- Ekstrimitas atas
warna kuku

: tidak pucat (merah)

kelainan

: tidak ada

oedema

: tidak ada
- Ekstrimitas bawah

warna kuku

: tidak pucat (merah)

kelainan

: tidak ada

oedema

: tidak ada
34

varices

: tidak ada
- Tulang belakang

keadaan tulang belakang

: normal

kelainan

: tidak ada

nyeri ketuk CVA

: tidak ada

e. perkusi

Reflek patella

Kanan/kiri

: +/+

3. pemeriksaan penunjang
-

pemeriksaan lab

HB

-USG

: 12 gram %
:-

- Rontgen : -

B. INTERPRETASI DATA
1. Diagnosa

Nn. R usia 18 tahun haid tanggal 29 mei 2009 dengan keluhan


nyeri perut bagian bawah dan menjalar ke punggung.
DS
-

pasien berumur 18 tahun

pasien mengatakan haid pada hari pertama

pasien mengatakan nyeri pada perut bagian bawah


35

pasien mengatakan nyeri itu muncul ketika ia duduk dan menjalar


ke punggung

DO
- Hasil pemeriksaan umum pada pasien :
- TTV
Kesadaran

: compos mentis

Keadaan umum : baik


BB

: 53 kg

TB

: 157 cm

Pols

: 65 x permenit

Temp

: 36,70C

RR

: 16 x permenit

TD

: 110/70mmHg

2. Masalah
3. Kebutuhan informasi tentang :

1. Keadaan pasien saat ini


2. Kebutuhan nutrisi dan istirahat
3. Fisiologi menstruasi dan dismenorea
4. pentingnya personal hygiene dan lingkungan
5.kompres hangat pada saat nyeri hebat
6. penggunaan analgetik

C. DIAGNOSA MASALAH POTENSIAL


36

D.TINDAKAN SEGERA
-

E. INTERVENSI
NO

HARI/

TUJUAN DAN
KRITERIA

INTERVENSI

RASIONAL

-jelaskan
tentang proses
haid

Pasien
mengerti dan
medapat
informasi
yang benar
tentang
proses haid

-diskusikan
mengenai cara
hidup,
kegiatan,
pekerjaan dan
lingkungan

Pasien
mengerti
cara hidup
yang bersih
dan kegiatan
yang tidak
menguras
tenaga

TANGGAL/
PUKUL
DX

Jumat/29
Mei 2009/
10.00 WIB

Tujuan :
Agar
Dismenorea
dapat
dikurangi
Kriteria :
Pasien
mengerti
keadaannya
saat ini

-anjurkan
pasien istirahat
yang cukup
dan olahraga
yang teratur

- Anjurkan
pasien
melakukan
kompres
hangat pada
perut bagian
bawah bila
terasa nyeri
37

Pasien dapat
mengembalik
an energi
yang
terpakai
setelah
istirahat

Pasien
merasakan
rileksasi
dengan

PARAF
DAN
NAMA
JELAS

hebat

melakukan
kompres
hangat

-Jelaskan
mengenai
kebutuhan
nutrisi pasien

Berikan
analgetik untuk
mengurangi
rasa nyeri

Pasien dapat
memenuhi
kebutuhan
nutrisinya
pada saat
haid
Pasien tidak
merasa nyeri
lagi

F. IMPLEMENTASI
No

DX

Hari/Tg
l/
Waktu

Implementasi

Respon

- Menjelaskan pada pasien


tentang proses haid yaitu:
Seorang wanita subur, selama
kira-kira 38 tahun, setiap
bulannya, akan melepaskan
sel
telur
matang
yang
dikeluarkan secara bergantian
dari salah satu indung telur.
Pematangan telur dirangsang
oleh organ kecil yang berada
di dasar otak yang disebut
hipofisis.Selama haid, proses
pematangan
telur
telah
dimulai. Sesudah 14 hari,
proses
pematangan
telah
selesai dan telur melepaskan
diri dari indung telur (ovulasi).
Rumbai-rumbai
yang
mengelilingi saluran telur akan
menangkap
telur.
Melalui

Pasien mengerti
bagaimana
terjadinya haid
sehingga tidak
terjadi kesalahan
persepsi
mengenai proses
haid

38

Paraf

saluran telur, telur menuju ke


arah ruang rahim. Di saluran
telur, sel telur dapat bertemu
dengan sperma (benih dari
pria) yang datang dari arah
yang berlainan (dari ruang
rahim). Telur dapat dibuahi
oleh salah satu benih itu (ada
kira kira 200 juta sperma yang
masuk melalui vagina). Jika
telur yang telah dibuahi itu
sampai ke ruang rahim,selaput
lendir ruang rahim telah siap
untuk
menerima
telur.
Sebelumnya,rahim
telah
menerima
isyarat
melalui
hormon
esterogen
dan
progesteron
bahwa
akan
datang sel telur yang telah
matang. Selaput lendir ruang
rahim
mempersiapkan
diri
dengan baik untuk dapat
menerima
telur.Jika
dalam
perjalanannya
telur
tidak
bertemu dengan sperma, telur
akan mati beberapa jam
setelah lepas dari indung telur.
Selaput lendir ruang rahim
seakan sia-sia mempersiapkan
diri untuk menerima telur.
Hipofisis juga memperhatikan
hal itu. Kira-kira 14 hari
setelah
pelepasan
telur,
lapisan paling luar dari selaput
lendir rahim diberi isyarat
bahwa
bagian
itu
perlu
diganti.
Secara
tiba-tiba,
lapisan itu lepas sehingga
menyebabkan
perdarahan.
Itulah haid atau menstruasi.
mendiskusikan
dengan
pasien
mengenai
cara
hidup,pekerjaan, kegiatan dan
lingkungan, yaitu:
Kebersihan
diri
sangat
39

Pasien mengerti
cara melakukan
personal hygiene
dan dapat
menjaga
lingkungan yang
baik bagi dirinya.

Pasien mengerti
tentang
kebutuhan
istirahat bagi

mendatangkan
kenyamanan
dengan tetap secara teratur
serta menukar pembalut haid
sebagaimana
diperlukan.
Kegiatan
yang
dilakukan
sebaiknya
tidak
terlalu
memberatkan, serta menjaga
lingkungan disekitar dengan
baik
dapt
menciptakan
kenyamanan pada diri pasien.
Menganjurkan pasien untuk
istirahat
dan
berolahraga
dengan
teratur.
istirahat
sangat dibutuhkan pada masa
haid.
Duduklah
jika
ada
kesempatan dan jangan lupa
makan
siang,
pergunakan
beberapa menit untuk rileks
sebelum mulai kerja dan
bernafas dengan persneling
lebih rendah.
Menganjurkan
pasien
melakukan kompres hangat
pada perut bagian bawah cjika
mengalami
nyeri
hebat.
Kompres
hangat
dapat
memberikan rasa rileks karena
pembuluh
darah
disekitar
perut
akan
mengalami
vasodilatasi
(pelebaran)
sehingga aliran darah menjadi
lancar.
Menjelaskan
tentang
kebutuhan nutrisi bagi pasien
yang
sedang
mengalami
dismenorea.
Menganjurkan
pasien untuk mengkonsumsi
makanan
dengan
menu
seimbang
dan
berprotein
tinggi
seperti
:
kacangkacangan,
ikan,
daging,
susu,dll. Protein dibutuhkan
tubuh untuk memperbaiki selsel tubuh yang mengalami
40

dirinya.

Pasien mengerti
perlunya kompres
hangat pada
perut bagian
bawahnya.

Pesian mengerti
mengenai
kebutuhan nutrisi
tubuhnya pada
saat mengalami
nyeri haid.

Pasien tidak
mengalami nyeri
lagi

kerusakan.
Memberikan analgetik pada
pasien untuk mengurangi rasa
nyeri
seperti
memberikan
asam
mefenamat
atau
golongan
obat
yang
mengandung asetaminophen.

G.EVALUASI

NO

HARI/

EVALUASI

TANGGAL/
PUKUL
Jumat/29
Mei
2009/10.00
WIB

S:
- Pasien mengatakan keadaannya sehat
- pasien mengatakan mengerti dengan
penjelasn yang diberikan
O:
- K/U pasien baik
- kesadarannya compos mentis
-TTV normal : TD :110/70mmHg, Temps :
36,70C, pols : 65 X permenit, RR : 16 X
permenit.
A:
Tujuan tercapai
P:
Intervensi di hentikan

41

PARAF

BAB IV
PEMBAHASAN
A. KASUS
Nn. R, umur 18 th, suku palembang bangsa Indonesia, pendidikan SMA, Pekerjaan pelajar,
agama islam, alama di padang harapan mengeluh nyeri pada perut bagian bawah dengan gejala nyeri
sekali dan berawal sebelum haid dan atau selama haid mulai. Nyeri dirasakan pada saat duduk dan
merasakan penjalarannya disekitar punggung pada saat klien mengalami haid. Pada saat mengalami
dismenorea, klien mengatakan hanya memberikan minyak kayu putih didaerah perut. Klien juga
mengatakan bahwa dirinya tidak terbiasa meminum obat-obatan untuk mengatasi nyeri pada saat dia
haid. Sesekali klien harus terbaring karena terlalu merasakan nyeri.

B. TEORI
1. Pengertian Dismenorea
Dismenorea adalah nyeri haid menjelang atau selama haid. Istilah dismenorea
nyeri haid hanya dipakai jika nyeri haid demikian
istirahat dan meninggalkan

atau

hebatnya, sehingga memaksa penderita untuk

pekerjaanya untuk beberapa jam atau beberapa hari (simanjuntak, 1977).

Nyeri sering bersamaan dengan rasa mual, sakit kepala, perasaan mau

pingsan,

lekas

marah.
Nyeri haid atau dismenorea mungkin merupakan suatu gejala yang paling
menyebabkan wanita-wanita muda pergi ke dokter untuk
gangguan ini sifatnya subyektif, berat atau

konsul

dan

sering

pengobatan

karena

intensitas sukar dinilai.

Nyeri ini terasa diperut bagian bawah dan atau didaerah bujur
Nyeri dapat terasa sebelum, selama dan sesudah haid.
Nyeri diduga karena kontraksi.
2. Klasifikasi dismenorea
42

sangkar

Michaelis.

Dapat bersifat kolik atau terus menerus.

Nyeri haid dapat digolongkan berdasarkan jenis nyeri dan ada tidaknya
kelainan yang dapat diamati:

a. Berdasarkan jenis nyeri, nyeri haid dapat dibagi menjadi, dismenore


spasmodik dan dismenore kongestif

Nyeri spasmodik terasa di bagian bawah perut dan berawal


sebelum masa haid atau segera setelah masa haid mulai.
Penderita dismenore kongestif biasanya akan tahu

sejak

berhari-hari sebelumnya bahwa masa haidnya akan segera tiba.


Dia mungkin akan mengalami pegal, sakit pada buah dada, perut
kembung tidak menentu, bh terasa terlalu ketat, sakit kepala, sakit
punggung, pegal pada paha, merasa lelah atau sulit dipahami,
mudah tersinggung, kehilangan keseimbangan, menjadi ceroboh,
terganggu tidur, atau muncul memar di paha dan lengan atas.
Semua itu merupakan simptom pegal menyiksa yang berlangsung
antara 2 dan 3 hari sampai kurang dari 2 minggu. Proses
menstruasi mungkin tidak terlalu menimbulkan nyeri jika sudah
berlangsung. Bahkan setelah hari pertama masa haid, orang
yang menderita dismenore kongestif akan merasa lebih baik.
b. Berdasarkan ada tidaknya kelainan atau sebab yang dapat diamati, nyeri
haid dapat dibagi menjadi, dismenore primer dan dismenore sekunder.

Dismenorea primer adalah nyeri menstruasi yang terjadi tanpa


adanya kelainan ginekologik yang nyata, dismenorea primer terjadi
beberapa waktu setelah menarche, biasanya setelah menarche,
umumnya

setelah 12 bulan atau lebih oleh karena siklus-siklus

menstruasi pada bulan-nulan setelah menarche biasanya bersifat


anovulatior yang tidak disertai nyeri, rasa nyeri timbul sebelum
atau bersama-sama menstruasi dan berlangsung beberapa jam,
walaupun pada beberapa kasus dapat berlangsung beberapa
hari.Sifat

rasa

nyeri

ialah

yang

berjangkit-jangkit,

biasanya

terbatas pada perut bawah, tetapi dapat merambat ke daerah

43

pinggang dan paha. Rasa nyeri diserati rasa mual, muntah, sakit
kepala, diare (Hanafiah, 1997).
Dismenorea sekunder dikaitkan dengan penyakit pelvis organic, seperti
Endometriosis, penyakit radang pelvis, stenosit cervik, neoplasama ovarium atau
uterus dan polip uterus.IUD juga dapat menyebabkan

dismenorea ini.Dismenorea

sekunder dapat disalahartikan sebagai dismenorea primer atau dapat ranal dengan
komplikasi kehamilan dini,terapi harus ditunjukkan untuk dapat mengobati penyakit
dasar (Bobak, 2004).
3. Penatalaksanaan
a. Istirahat
Istirahat yang cukup dapat mengurangi kerentanan tubuh kita terhadap rasa

nyeri

b.Olahraga
Olahraga yang teratur (terutama berjalan). Olahraga teratur dapat meningkatkan
tubuh. Endorphin dikenal sebagai natural pain

endorphin

killer

c. Kompres Hangat
d. obat anti radang non steroid seperti Ibu profen, naproksen, asam

mefenamat

e. rileksasi
f. hipnoterapi
g. pijatan yang ringan dan melingkar dengan menggunakan telunjuk pada

perut bagian

bawah.

C. PEMBAHASAN
Berdasarkan jenis nyeri yang dirasakan oleh klien, nyeri haid yang dialami
tergolong kedalam nyeri spasmodik, yaitu nyeri yang terasa
sebelum masa haid atau segera setelah

dibagian bawah perut dan berawal

masa haid mulai.

Berdasarkan ada atau tidaknya kelainan, nyeri haid yang dialami


dalam dismenorea primer. Dismenorea primer adalah
kelainan ginekologik yang

klien

oleh klien tergolong

nyeri menstruasi yang terjadi tanpa adanya

nyata, dismenorea primer terjadi beberapa waktu setelah menarche,


44

biasanya setelah menarche, umumnya setelah 12 bulan atau lebih oleh


menstruasi pada bulan-nulan setelah menarche
nyeri, rasa nyeri timbul

karena siklus-siklus

biasanya bersifat anovulatior yang tidak disertai

sebelum atau bersama-sama menstruasi dan berlangsung beberapa jam,

walaupun pada beberapa kasus dapat berlangsung beberapa hari.Sifat rasa nyeri
berjangkit-jangkit, biasanya terbatas pada perut bawah,

ialah

yang

tetapi dapat merambat ke daerah pinggang

dan paha. Rasa nyeri diserati rasa mual, muntah, sakit kepala, diare (Hanafiah, 1997)
Berdasarkan intensitas nyeri yang dirasakan pasien, nyeri yang dirasakan asien tergolong
nyeri sedang, yaitu Secara obyektif pasien
nyeri, dapat

mendesis,menyeringai, dapat menunjukkan lokasi

mendeskripsikannya dan dapat mengikuti perintah dengan baik.

Usaha pengobatan yang dilakukan pada pasien sudah sesuai


untuk menghindari nyeri haid (disminorea) seorang
mengatasi disminorea yaitu dengan
hormonal dan obat

dengan teori bahwa

akan melakukan tindakan yang dapat

penerangan dan nasihat. Pemberian analgetik, terapi

non steroid anti prostaglandin (Prawihardjo, 1999)

Pada saat terjadi haid, dinding rahim berkontraksi yang dapat


haid. Jika nyeri dirasakan sangat berat diperlukan
dari pada pemberian obat-obatan

akan

(Prawihardjo,1999). Oleh karena

itu,

menimbulkan nyeri

istirahat ditempat tidur, relaksasi /masase


mengganggu

seorang

yang

proses

mengalami

pembuangan

disminorea

sangat

memerlukan perawatan dan penjelasan dalam mengatasi disminorea.


Adapun bentuk penanganan yang dilakukan selain pemberian
dilakukan penganjuran bagi si pasien untuk
bawah dengan tujuan agar
teori

nasihat dan obat juga

melakukan kompres hangat pada perut bagian

pasien merasakan rileksasi. Tindakan ini juga telah sesuai dengan

yang ada.
Namun, ada sedikit kesenjangan dari apa yang dilakukan klien

ada,seperti klien hanya memberikan minyak kayu


disebabkan karena

terhadap teori yang

putih ketika mengalami dismenorea. Hal ini

kurangnya pengetahuan dari klien akan pentingnya perawatan terhadap

rasa nyeri yang dialaminya. Tetapi dengan adanya asuhan kebidanan yang dilakukan
klien sangat membantu klien dalam mengatasi masalah

dismenorea yang dialaminya.

Upaya mengatasi disminorea ditinjau dari tingkat pengetahuan


upaya yang dilakukan dalam mengatasi dismenorea
obat-obatan dibandingkan

terhadap

kurang

cenderung

dengan cara yang relatif kurang aman yaitu

dengan seseosang yang tingkat pengetahuan baik justru memilih


45

cara

kompres ,masase, pernafasan, dan relaksasi. Menurut teori olah Depkes RI

bahwa semakin baik pengetahuan maka semakin banyak pasien yang


aman dalam mengatasi disminorea. Hal ini serupa
(2003) semakin baik tingkat
sebaliknya

1993

memilih cara yang

dengan yang diungkapkan oleh Notoatmojo

pengetahuan seseorang, semakin baik perilaku kesehatannya,

tingkat pengetahuan kurang akan menghambat perkembangan sikap

seseorang terhadap perubahan hidup sehat.

46

BAB V
PENUTUP
A. KESIMPULAN
1. Nyeri haid atau dismenore merupakan suatu keadaan medis yang nyata dan dapat mengganggu
wanita jika tidak diatasi dengan benar.
2. Nyeri haid atau dismenore dapat dibagi menjadi beberapa bagian.
a. Berdasarkan jenis nyeri:
1. Dismenore spasmodik atau kejang;
2. Dismenore kongestif atau pegal menyiksa.
b. Berdasarkan ada tidaknya kelainan atau sebab yang dapat dikenali:
1.

Dismenore primer;

2.

Dismenore sekunder.

3. Beberapa pengobatan yang dapat menghilangkan atau minimal mengurangi nyeri haid antara
lain:
a. Obat-obatan;
b. Relaksasi;
c.

Hipnoterapi;
d. Dan beberapa alternatif atau pengobatan tambahan seperti : kompres air hangat, olah raga
teratur, terapi visualisasi, aroma terapi, pemijatan, dan lain-lain.

B. SARAN
Masalah dismenorea adalah masalah sehari-hari yang sering sekali kita
diabaikan. Padahal jika kita kaji lebih dalam lagi, banyak akibat fatal yang terjadi
jika masalah ini diabaikan. Perlu penanganan yang baik terhadap masalah
dismenorea ini. Harapan kami semoga karya tulis ini dapat bermanfaat untuk
dunia pendidikan pada umumnya dan pada dunia kesehatan khususnya sehingga
tenaga kesehatan dapat menangani kasus ini dengan sebagaimana mestinya.

47

Kami menyadari banyak kekurangan dan kesalahan dalam makalah ini .


Karena itu, kritik dan saran yang membangun sangat Kami harapkan agar hal
tersebut tidak terulang pada penulisan selanjutnya

48

DAFTAR PUSTAKA
Kingston, Beryl. 1991. Mengatasi Nyeri Haid. Jakarta:Arcan
Prawiharjo, S. 1992. Ilmu Kandungan Edisi V.Balai Sarwono: Jakarta
Braam, Wiebe. 1978. 100 Pertanyaan Mengenai Haid, Jakarta: Sinar Harapan
Tabloid Senior. Edisi no169/4-10 Oktober 2002. Rubrik Testimony
Tabloid Nirmala. Edisi no 09/II/September/2000
www.kespro.info
www.hanyawanita.com
www.bhineka.com
www.satuned.com
www.pewarta-kabarindonesia.blogspot.com
www.kabarindonesia.com

49