Anda di halaman 1dari 17

MAKALAH

Teknologi Produksi Tanaman Teh


TEKNOLOGI PRODUKSI TANAMAN TAHUNAN

Dosen Pengampu:
Ir. Suhaili, M.Si
Disusun oleh:
Muhammad Yunus Ichwan (14 111 008)

PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI


FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH GRESIK
2016

BAB I
PENDAHULUAN
Latar belakang
Tanaman teh (Camellia sinensis L.) telah lama diusahakan orang sebagai
tanaman perkebunan dan tersebar di benua-benua Afrika, Australia, dan Asia
termasuk Indonesia (Adisewejo, 1982). Teh merupakan bahan perdagangan yang
dikonsumsi oleh penduduk dunia. Kebiasaaan minum teh diduga berasal dari China
yang kemudian berkembang di Jepang dan Eropa (Wibowo et al., 1997). Sekitar
sejuta ton teh dikonsumsi penduduk di seluruh dunia, baik di negara yang
menghasilkan teh maupun di negara yang harus mengimpor berpuluh-puluh maupun
beratus-ratus ton teh tiap tahun (Siswoputranto, 1978).
Luas lahan perkebunan teh yang semakin berkurang bukan menjadi
penghambat untuk meningkatkan produksi teh. Usaha peningkatan produksi teh
masih dapat dilakukan yaitu dengan peremajaan. Nazzarudin et al.(1996),
mengatakan bahwa kunci keberhasilan pada semua pertanaman adalah perawatan
yang baik dan teratur. Dengan perawatan ini, tanaman akan tumbuh sehat, segar dan
produksinya tinggi. Perawatan perkebunan teh harus dilakukan sejak tanaman masih
kecil, semenjak pembibitan. Perawatan tersebut meliputi pemupukan, pemangkasan,
pengendalian gulma, dan peremajaan. Setelah umur 40 tahun, usia kritis dari tanaman
teh mulai berjalan. Pertumbuhannya kurang baik dan daun yang dihasilkan lebih
sedikit serta ukurannya lebih kecil. Untuk itu perlu diadakan program peremajaan
maupun rehabilitasi kebun berlangsung secara terus-menerus maka produktivitas
kebun teh diharapkan akan meningkat dengan kualitas yang baik serta biaya produksi
yang rendah. Usaha peremajaan kebun teh ini membutuhkan bahan tanaman dalam
jumlah yang banyak dengan umur yang relatif sama dan seragam. Dalam usaha
pengembangan dan peningkatan mutu hasil tanaman teh akan selalu dipengaruhi
faktor-faktor yang bersifat membatasi, antara lain serangan hama dan patogen.
Menghadapi masalah hama dan patogen tidaklah mudah, karena terbatasnya
pengetahuan tentang pengendaliannya atau bilamana pengetahuan itu telah ada
namaun sarana dan prasarana belum ada. Tanaman mengalami sakit, tidak normal
pertumbuhan dan perkembangannya sehingga hasil tanaman mengalami penurunan.
Keadaan tanaman teh yang tidak sesuai dengan persyaratan tumbuh, penggunaan bibit
atau klon-klon yang rentan merupakan suatu predisposisi terjadinya serangan hama
dan patogen pada tanaman teh di perkebunan. Hama dan patogen tanaman teh
merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi produksi tanaman teh.

Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, maka rumusan masalah yang hendak dinahas
dalam makalah ini adalah:
1.
2.
3.

Bagaimana cara budidaya dan penanaman teh yang baik?


Bagaimana cara pemanenan tanaman teh?
Hama dan penyakit yang menyerang tanaman teh?

Tujuan
1. untuk mengetahui cara penanaman budidaya teh yang baik
2. untuk mengetahui pemanenan tanaman teh
3. untuk mengetahui hama dan penyakit yang menyerang tanaman teh

BAB II
PEMBAHASAN
Teknik Penanaman Dan Budidaya Tanaman Teh
Klasifikasi tanaman teh
Menurut Graham (1984), tanaman teh (Camellia sinensis) diklasifikasikan sebagai
berikut.
Divisi
Sub divisi
Kelas
Sub Kelas
Ordo
Familia
Genus
Spesies

: Spermatophyta
: Angiospermae
: Dicotyledoneae
: Dialypetalae
: Clusiales
: Theaceae
: Camellia
: Camellia sinensis

Syarat tumbuh tanaman teh


Iklim untuk budidaya teh yang tepat yaitu dengan curah hujan tidak kurang
dari 2.000 mm/tahun. Tanaman memerlukan matahari yang cerah. Suhu udara harian
tanaman teh adalah 13-25o C.Kelembaban kurang dari 70%. Untuk media tanamnya
jenis tanah yang cocok untuk teh adalah Andasol, Regosol, dan Latosol. Namun teh
juga dapat dibudidayakan di tanah podsolik (Ultisol), Gley Humik, Litosol, dan
Aluvia. Teh menyukai tanah dengan lapisan atas yang tebal, struktur remah,
berlempung sampai berdebu, dan gembur. Derajat kesamaan tanah (pH) berkisar
antara 4,5 sampai 6,0. Berdasarkan ketinggian tempat, kebun teh di Indonesia dibagi
menjadi tiga daerah yaitu dataran rendah sampai 800 m dpl, da-taran sedang 8001.200 m dpl, dan dataran tinggi lebih dari 1.200 m dpl. Per-bedaan ketinggian tempat
menyebabkan perbedaan pertumbuhan dan kualitas teh. Ketinggian tempat tergantung
dari klon, teh dapat tumbuh di dataran rendah pada 100 m dpl sampai ketinggian lebih
dari 1000 m dpl (Setyamidjadja, 2000).

Persiapan Lahan
Persiapan lahan dimulai dengan pembongkaran tunggul-tunggul dan pohon
sampai ke akar agar tidak menjadi sumber penyakit akar. Lahan yang digunakan
untuk penanaman baru dapat berupa hutan belantara, semak belukar atau lahan
pertanian lain, yang telah diubah dan dipersiapkan bagi tanaman teh. Secara umum
urutan kerja persiapan lahan bagi penanaman baru adalah sebagai berikut.
1. Survey dan pemetaan tanah
Survey dan pemetaan tanah perlu dilakukan karena berguna dalam me-nentukan
sarana dan prasarana yang akan dibangun seperti jalan-jalan kebun untuk transportasi
dan kontrol, pembuatan fasilitas air, serta pembuatan peta kebun dan peta
kemampuan lahan.
2. Pembongkaran pohon dan tunggul
Pelaksanaan Pembongkaran pohon dan tunggul dapat dilakukan dengan tiga cara
berikut.
a. Pohon dan tunggul dibongkar langsung secara tuntas sampai keakar-akarnya,
agar tidak menjadi sumber penyakit akar bagi tanaman teh.
b. Pohon dapat dimatikan terlebih dahulu sebelum dibongkar dengan cara
pengulitan pohon (ring barking), mulai dari batas permukaan tanah sampai
setinggi 1m. setelah 6-12 bulan, pohon akan kering dan mati.
c. Pohon dimatikan dengan penggunaan racun kimia atau aborosida seperti
Natrium arsenat atau Garlon 480 P. Pada cara ini kulit batang dikupas
berkeliling selebar 10-20cm, pada ketinggian 50-60 cm dari atas tanah,
kemudian diberikan racun dengan dosis 1,5 g/cm lingkaran batang. Pohon
akan mati setelah 6-12 bulan, yaitu setelah cadangan pati dalam akar habis.
Batang ditebang pada batang leher akar dan tunggul ditimbun sedalam 10 cm
dengan tanah.
3.Pembersihan semak belukar dan gulma
Setelah dilaksanakan pembongkaran dan pembuangan pohon, semak belukar dibabat,
kemudian digulung kemudian dibuang ke jurang yang tidak ditanami teh, atau
ditumpuk di pinggir lahan yang akan ditanami. Sampah tersebut tidak boleh dibakar
karena pembakaran akan merusak keadaan teh, membunuh mikroorganisme tanah
yang berguna, dan akan membakar humus tanah, sehingga akan menyebabkan tanah
menjadi tandus. Pembersihan gulma dapat juga menggunakan bahan kimia yaitu
herbisida dengan dosis yang telah tercantum dalam merk dagang.

4. Pengolahan tanah

Maksud pengolahan tanah adalah mengusahakan tanah menjadi subur, gembur dan
bersih dari sisa-sisa akar dan tunggul, serta mematikan gulma yang masih tumbuh.
Areal yang akan ditanami dicangkul sebanyak dua kali. Pencangkulan pertama
dilakukan sedalam 60 cm untuk menggemburkan tanah, membersihkan sisa-sisa akar
dan gulma. Sedangkan pencangkulan kedua dilakukan setelah 2-3 minggu
pencangkulan pertama, dilakukan sedalam 40 cm untuk maratakan lahan.
5. Pembuatan jalan dan saluran drainase
Setelah pengolahan selesai selanjutnya dilakukan pengukuran dan pematokkan.
Ajir/patok dipasang setiap jarak 20 m, baik kearah panjang maupun kearah lebar.
Dengan demikian akan terbentuk petakan-petakan yang berukuran 20m x 20m atau
seluas 400 m2. Selesai membuat petakan selanjutnya pembuatan jalan kebun. Dalam
pembuatan jalan kebun ini hendaknya dipertimbangkan faktor kemiringan lahan serta
faktor pekerjaan pemeliharaan dan pengangkutan pucuk. Dengan demikian jalan
kebun dibuat secukupnya, tidak terlalu banyak yang menyebabkan tanah terbuang dan
tidak terlalu sedikit sehingga menyulitkan pelaksanaan pekerjaan di kebun
(Darmawijaya, 1977).
Pembibitan
Tanaman teh dapat diperbanyak secara generative maupun secara vegetative. Pada
perbanyakan secara generative digunakan bahan tanam asal biji, sedangkan
perbanyakan secara vegetative digunakan bahan tanaman asal setek berupa klon.Biji
yang baik ditandai dengan beberapa ciri, antara lain:
a. Kulit biji berwarna hitam dan mengkilap.
b. Berisi penuh, dengan isi biji berwarna putih.
c. Mempunyai berat jenis yang lebih besar dari pada air, sehingga apabila
dimasukkan kedalam air akan tenggelam.
d. Mempunyai bentuk dan ukuran yang normal.\
e. Tidak terserang penyakit, cendawan ataupun kepik biji.
Biji yang dipungut untuk dijadikan benih adalah biji yang telah jatuh ke tanah,
dikumpulkan secara teratur setiap hari, benih yang digunakan adalah benih yang baik.
Sebaiknya biji segera disemai karena daya kecambah biji teh cepat menurun dan biji
teh mudah menjadi busuk.
1.
Penyemaian biji
Persiapan lahan untuk persemaian harus dilaksanakan 6 bulan sebelum penyemaian
benih. Tanah dibersihkan dan dicangkul sedalam 30 cm, ke-mudian dibuat bedengan.
Diantara bedengan dibuat saluran drainase untuk membuang kelebihan air. Bedengan
diberi atap naungan miring timur-barat dengan sudut kemiringan 300. Pengecambahan
biji dimaksudkan untuk memperoleh biji yang tumbuh seragam dan serempak
sehingga memudahkan pemindahannya ke persemaian bibit atau ke kantong plastik.

2. Pemeliharaan dipersemaian bibit asal biji


Untuk memperoleh bibit yang baik, yang tumbuh subur dan sehat serta terhindar dari
gangguan hama dan penyakit, bibit dipersemaian harus dijaga dengan baik.
Penanaman
Dalam penanaman, hal-hal yang harus diperhatikan adalah penentuan jarak tanam
yang tepat, pengajiran, pembuatan lubang tanam, teknik penanaman dan penanaman
tanaman pelindung yang diperlukan. Pembuatan lubang tanam dilakukan 1-2 minggu
sebelum dilakukan penanaman. Lubang tanam yang dibuat tepat di tengah-tengah
diantara dua ajir. Ukuran lubang tanamnya adalah:
1. Untuk bibit asal stump biji: 30 cm x 30 cm x 40 cm.
2. Untuk bibit stek dalam kantong plastik: 20 cm x 20 cm x 40 cm.
Cara penanaman
a. Menanam bibit stump
Bibit stump biasanya ditanam pada umur 2 tahun. Bibit ditanam dengan cara
dimasukkan ke dalam lubang tanam, persis di tengah-tengah lubang, dengan leher
akar tepat dipermukaan tanah. Selanjutnya lubang tanam ditimbun dan dipadatkan
dengan diinjak. Bibit tidak boleh miring dan tanah di sekitar lubang tanam diratakan.
b. Menanam bibit asal stek
Mula-mula kantong plastik disobek pada bagian bawah dan sampingnya untuk
memudahkan melepaskan bibit dari plastik. Ujung kantong plastik bagian bawah
yang telah sobek ditarik keatas sehingga bagian bawah kantong plastik terbuka .
selanjutnya bibit dipegang dengan tangan kiri, disanggga dengan belahan bambu,
kemudian dimasukkan ke dalam lubang, sementara tangan kanan menimbun lubang
dengan tanah yang berada di sekitar lubang dengan menggunakan kored.
Adapun untuk penanaman pohon pelindung atau pohon naungan pertanaman teh
terdiri atas pohon pelindung sementara dan pohon pelindung tetap. Untuk dataran
rendah dan sedang, pohon pelindung sangat diperlukan oleh tanaman teh agar
pertumbuhannya baik. Jenis jenis pohon pelindung, yaitu :

1. Pohon pelindung sementara


Pohon pelindung sementara adalah pupuk hijau seperti Theprosia sp. Atau
Crotalaria sp. Penanaman pohon pelindung sementara dilakukan setelah penanaman
teh selesai. Kebutuhan benih pupuk hijau tersebut adalah 10 kg-12 kg/ha.
2. Pohon pelindung tetap
Penanaman pohon pelindung tetap diutamakan untuk daerah dengan ketinggian
kurang dari 1.000 m dpl. Penggunaan pohon pelindung tetap bukan jenis
Leguminoceae, ini tidak dianjurkan. Jenis pelindung yang akan ditanam harus dipilih
yang memenuhi persyaratan sebagai pelindung, yaitu memilki mahkota yang baik,
perakarannya dalam dan kuat, dan resistensinya terhadap serangan hama atau
penyakit baik. Agar pohon pelindung tetap berfungsi baik pada tanaman teh, pohon
pelindung harus sudah dapat melindungi tanaman teh pada saat tanaman teh berumur
2-3 tahun. Untuk itu, pohon pelindung sebaiknya ditanam satu tahun sebelum
dilakukan penanaman teh.
Pemeliharaan bibit terdiri atas:
1. Penyiraman
2. Penyulaman
3. Penyiangan
4. Pemupukan
5. Pengendalian hama dan penyakit
6. Pengaturan naungan
3. Pemindahan bibit ke lapangan
Setelah bibit berumur dua tahun, benih yang mempunyai ukuran lebih besar dari
pensil, dapat dibongkar untuk dipindahkan ke kebun.
Cara pembongkaran bibit adalah sebagai berikut:
a. Dua minggu sebelum bibit dibongkar, batang dipotong setinggi 15-20 cm dari
permukaan tanah.
b. Bibit dibongkar dengan cara mencangkul tanah disekitar bibit sedalam 60 cm,
selanjutnya dicabut dengan hati-hati, akar tunggang dan akar se-rabut yang
terlalu panjang bisa dipotong.
c. Bibit ini disebut bibit stump, yang sebaiknya ditanam segera pada hari itu juga
di kebun yang telah dipersiapkan.
d. Bibit yang ukuran batangnya lebih kecil dari pensil sebaiknya tidak digunakan.
Pertanaman teh diarahkan pada cara memperoleh produksi yang tinggi dan mantap,
sehingga perusahaan perkebunan teh menjadi lebih efisien. Hal ini sulit dicapai

apabila digunakan bahan tanam asal biji. Karena biji merupakan hasil per-silangan
yang dapat menimbulkan perubahan sifat pada keturunannya.
Pembibitan menggunakan stek merupakan cara yang paling cepat untuk memenuhi
kebutuhan bibit dalam jumlah yang banyak, dan jenis klon yang di-tentukan dapat
dipastikan sifat keunggulannya sama dengan induknya. Untuk memperoleh hasil
pembibitan setek berupa setek bibit yang baik, diperlukan adanya perencanaan,
persiapan, dan pelaksanaan yang baik dan tepat waktu.
Adapun lokasi untuk pembibitan, diantaranya:
1. Lokasi terbuka, drainase tanah baik dan tidak becek.
2. Dekat dengan sumber air, untuk keperluan penyiraman.
3. Dekat dengan sumber tanah, untuk mengisi polibag.
4. Lebih baik bila lahan melandai kearah timur, agar mendapat sinar matahari pagi.
5. Dekat dengan jalan agar memudahkan dalam pengawasan dan peng-angkutan ke
lokasi yang akan ditanami.
Media tanah untuk setek terdiri dari tanah lapisan atas (topsoil) dan lapisan bawah
(subsoil). Syarat-syarat subsoil yang baik adalah mengandung liat yang relatif tinggi
sehingga dapat menahan ataupun menyerap air lebih lama, kan-dungan pasir tidak
boleh lebih dari 30%, dan bahan organik maksimal 10%. Serta pH ta-nah 4,5 5,6.
Mengingat pentingnya penggunaan media yang steril untuk persemaian guna untuk
membantu terciptanya bibit yang sehat dan layak untuk dikem-bangkan. Karena suatu
kondisi media persemaian merupakan salah satu faktor dalam menentukan
keberberhasilan ataupun kegagalan bibit yang dihasilkan.

BAB III
HAMA DAN PENYAKIT TANAMAN THE
Hama dan penyakit pada tanaman teh sampai saat ini masih merupakan
masalah, karena menyebabkan kehilangan hasil yang tinggi dan berpengaruh terhadap
pencapaian sasaran produksi. Usaha dalam menekan kehilangan hasil akibat
gangguan hama dan penyakit perlu mendapat perhatian khusus dalam usaha
pengendaliannya. Berikut ini diuraikan beberapa jenis hama dan penyakit yang
menyerang tanaman teh beserta cara pengendaliannya.
A. Hama
1. Kepik pengisap daun teh (Helopeltis spp.)
Helopeltis antonii dan Helopeltis theivora, Famili Miridae, Ordo Hemiptera.
Kepik pengisap daun atau Helopeltis menyerang pucuk daun muda. Kepik ini
menusuk dan mengisap daun teh sehingga menjadi bercak-bercak hitam. Serangan
pada ranting dapat menyebabkan kanker cabang. Serangga betina meletakkan telu
kira-kira 80 butir. Telur dimasukkan ke urat daun teh atau cabang pucuknya secara
tersembunyi untuk menghindari serangan predator. Telur juga dimasukkan ke dalam
ujung cabang hijau yang baru dipangkas. Nimfa (mikung) berwarna oranye
kemerah-merahan. Dewasa (indung) berwarna hitam-putih menjadi hitam-merah
untuk antonii atau hitam-hijau untuk theivora. Helopeltis dewasa mempunyai tiang
kecil seperti jarum yang menonjol dari tengah punggungnya (thorax). Jangka hidup
nimfa dari menetas sampai dewasa adalah 3 sampai dengan 5 minggu, sedangkan
serangga dewasanya bisa sampai 2 minggu.
Pengendalian: Melakukan pemetikan dengan daur petik 7 hari, pemupukan
berimbang, sanitasi, mekanis. Helopeltis ini memiliki banyak musuh alami seperti
laba-laba lompat, belalang sembah, capung dan predator lain sebagai agen
pengendalian hayati.
2. Ulat penggulung daun
Homona coffearia, Famili Tortricidae, Ordo Lepidoptera
Ulat penggulung daun membuat tempat berlindung pada daun teh; caranya dengan
menyambungkan dua (atau lebih) daun bersama-sama dengan benang sutra, atau
dengan menggulung satu daun lalu menyambungkan pinggirnya. Daun yang terserang
tidak dapat dipetik sebagai hasil panen teh.

Ngengat Homona mengeluarkan telur yang berbentuk datar. Telur tersebut tersusun
dalam kelompok yang berbaris-baris di atas permukaan daun teh. Larva yang menetas
akan mulai memakan daun teh muda sehingga mengurangi hasil panenan karena daun
tersebut yang dimanfaatkan manusia. Setelah larva tumbuh hingga panjangnya 18-26
mm, dia menjadi kepompong, kemudian ia keluar sebagai ngengat dewasa. Ngengat
aktif hanya malam hari. Pengendalian: Secara mekanis, melepas musuh hayati seperti
Macrocentrus homonae, dan Elasmus homonae.
3. Ulat jengkal (ulat kilan)
Hyposidra talaca, Ectropis bhurmitra dan Buzura suppressaria, Famili Geometridae,
Ordo Lepidoptera.
Ulat jengkal menyerang daun, pupus daun dan pentil teh. Serangan berat
menyebabkan daun berlobang dan pucuk tanaman gundul, sehingga tinggal tulang
daun saja. Ketiga jenis ulat jengkal tersebut dapat makan bermacam tanaman lain
selain teh. Ulat Hyposidra talaca dapat memakan tanaman kopi, kakao, kina,
Aleurites, jambu klutuk, rami dan beberapa jenis kacang-kacangan. Ectropis
bhurmitra bisa memakan pohon kina, gambir, kakao, jerukpisang, kacang tanah,
singkong dan Sambucus. Ulat Buzura suppressaria dapat memakan mangga,
Aleurites, Eucalyptus, Litchi dan jambu biji. Jenis-jenis tanaman yang merupakan
tanaman inang untuk ulat jengkal ini sebaiknya tidak ditanam di kebun teh, karena
keberadaannya akan membantu hama ini berkembang-biak.
Ngengat betina bertelur (tempatnya tergantung spesies). Setelah menetas,
larva (ulat) memakan daun teh. Setelah berganti kulit beberapa kali, ulat menjadi
kepompong. Akhirnya dewasa (ngengat) keluar dari kepompong dan kawin.
Pengendalian: Dengan menjaga kebersihan kebun, memusnahkan ulat/kepompong
setiap kali memetik teh, dan menggunakan pestisida nabati. Pengendalian dengan
cara hayati merupakan cara yang amat penting, dan akan berjalan sendiri jika musuh
alami tersedia dan dilestarikan.
4. Ulat penggulung pucuk
Cydia leucostoma, Famili Tortricidae, Ordo Lepidoptera
Ulat penggulung pucuk menyerang bagian tanaman teh yang akan dipanen
oleh petani, jadi hama ini memiliki potensi cukup besar untuk merugikan petani. Ulat
tersebut menggulung daun pucuk dengan memakai benang-benang halus untuk
mengikat daun pucuk sehingga tetap tergulung. Cara dia menggulung daun cukup
khas.

Ngengat betina bertelur dengan meletakkan satu atau dua telur per daun teh,
biasanya pada daun yang matang di bagian atas tanaman teh. Setelah larva (ulat)
menetas, dia berjalan ke pucuk dan masuk ke dalamnya. Setelah masuk, dia mulai
makan. Ulat yang baru menetas hanya bisa hidup lama di dalam pucuk. Biasanya
terdapat hanya satu ulat per pucuk. Ulat secara bertahap membuat semacam sarang
dan makan dari dalamnya. Dua hari sebelum menjadi kepompong, ulat berhenti
makan dan mulai melipat daun di pinggirnya. Dalam lipatan daun, ulat membuat
kokon putih. Dewasa (ngengat) keluar dari kepompong pada siang hari, biasanya
antara jam 8:00 dan 15:00. Ngengat kawin pada pagi atau malam.
Pengendalian: Secara mekanis, hayati dengan melepas musuh alami Apanteles
5. Ulat api (Setora nitens, Parasalepida, Thosea)
Ulat api badan berbulu dengan panjang sekitar 2,5 cm. Ulat ini menyerang bagian
daun yang muda dan tua. Serangan hama dapat menyerang sepanjang tahun dan
terberat pada musim kemarau. Daur hidup ulat api untuk fase telur 7 hari, ulat 6
minggu, kepompong 3 minggu dan dewasa 3-12 hari. Kerugian tanaman teh karena
ulat memakan daun pucuk sehingga produksi berkurang. Cara mengendalikan ulat
dapat dilakukan secara mekanis dengan mengumpulkan kepom-pong sehingga
produksi berkurang, cara mengendalikan dapat dilakukan secara mekanis yaitu
mengumpulkan kepompong, menggunakan cara hayati dengan parasit Rogas, Wilt
dieses yang disebabkan oleh virus dan penggunaan insektisida sesuai dengan
rekomendasi.
Pengendalian: Secara mekanis, hayati dengan melepas parasit
6. Tungau kuning
Polyphagotarsonemus latus, Famili Tarsonemidae, Ordo Acarina
Tungau kuning adalah tungau kecil sekali, dengan panjang badan yang
biasanya 0,25 mm. Tungau kuning berkaki delapan.Tungau ini biasanya terlihat pada
permukaan bawah dari pucuk muda dan juga di tunas. Tungau ini muncul pada pucuk
muda, khususnya di pohon teh yang baru dipangkas. Tungau menggali lobang di
permukaan tanah dan masuk ke lobang itu hingga hanya dapat terlihat atas badannya.
Serangannya lebih umum terjadi pada musim hujan. Tungau ini dimangsa oleh musuh
alami efektif. Musuh alami itu juga semacam tungau kuning. Tungau kuning musuh
alami itu berkaki lebih panjang dan larinya lebih cepat daripada tungau kuning hama
tersebut. Betina tungau kuning menghasilkan 25 telur. Telurnya kecil sekali dan
tersebar secara terpisah di permukaan daun, ranting, bunga, dan tempat lain pada

tanaman teh. Telur menetas dan larva keluar berkaki enam. Larva berganti kulit dan
menjadi nimfa, yang berkaki delapan. Setelah berganti kulit beberapa kali menjadi
dewasa. Betina dapat bertelur tanpa kawin.
Pengendalian: Secara mekanis, pengendalian gulma, pemupukan berimbang, predator
Amblyseius
7. Tungau jingga (Brevipalpus phoenicis)
Hama ini menyerang daun tua pada bagian bawah daun. Pada awal serangan
terjadi becak-becak kecil pada pangkal daun dimana tungai ini membentuk koloni.
Serangan selanjutnya tungau akan menyerang sampai ke ujung daun sehingga daun
berwarna kemerahan dan mengering. Serangan hama ini dapat terjadi sepanjang tahun
terutama musim kemarau. Kerugian yang ditimbulkan berakibat pada daun tua yang
rontok sehingga tertinggal ranting-ranting tanaman. Dari segi daur hidup hama ini,
bentuk telurnya 14 hari, larva 5 hari, protonin 6 hari, deutonin 7 hari, dan dewasa
mencapai 33 hari. Selain tanaman teh, hama ini dapat hidup di antara gulma
khususnya yang berdaun lebar.
Pengendalian: Secara mekanis, pengendalian gulma, pemupukan berimbang, predator
Amblyseius
8. Empoasca sp.
Hama ini sebenarnya hama utama pada tanaman kapas. Akibat pengaruh
lingkungan saat ini menyerang juga tanaman teh. Serangan terdapat pada pucuk dan
daun muda dengan cara mengisap cairan daun. Bertelur pada pagi dan sore hari, serta
menetas sekitar 6 hari. Stadia nimfa lamanya sekitar 15 hari dengan 4 instar yang
hidup di bawah daun. Tanaman inang hama ini seperti: leguminosa, pupuk hijau,
dadap, cabe, dll. Pengendalian dapat dilakukan dengan insektisida dan sanitasi sarana
panen.
B. Penyakit
1. Cacar daun (Exobasidium vexans Massee)
Penyakit cacar daun teh yang disebabkan oleh jamur E. vexans dapat
menurunkan produksi pucuk basah sampai 50 persen karena menyerang daun atau
ranting yang masih muda. Umumnya serangan terjadi pada pucuk peko, daun
pertama, kedua dan ketiga. Gejala awal terlihat bintik-bintik kecil tembus cahaya,
kemudian bercak melebar dengan pusat tidak berwarna dibatasi oleh cincin berwarna
hijau, lebih hijau dari sekelilingnya dan menonjol ke bawah. Pusat bercak menjadi

coklat tua akhirnya mati sehingga terjadi lobang. Penyakit tersebar melalui spora
yang terbawa angin, serangga atau manusia. Perkembangan penyakit dipengaruhi
oleh kelembaban udara yang tinggi, angin, ketinggian lokasi kebun dan sifat tanaman.
Banyaknya bulu daun pada peko dapat mempertinggi ketahanan terhadap penyakit
cacar.
Pengendalian penyakit dilakukan dengan pengaturan naungan agar sinar
matahari dapat masuk ke kebun. Pemangkasan teh di musim kemarau agar tanaman
yang baru dipangkas dapat berkembang karena pada saat ini cacar teh sulit
berkembang. Pengaturan daur petik kurang dari 9 hari dapat mengurangi sumber
penularan baru karena pucuk terserang sudah terpetik. Untuk pencegahan, sebaiknya
ditanam klon teh yang tahan terhadap penyakit cacar daun.
2. Penyakit akar
Penyakit akar yang penting pada tanaman teh yaitu: (1) Penyakit akar merah
anggur (Ganoderma pseudoferreum); (2) Penyakit akar merah bata (Proria
hypolateritia); (3) Penyakit akar hitam (Rosellinia arcuata dan R. bunodes); (4)
Penyakit leher akar (Ustulina maxima); (5) Penyakit kanker belah (Armellaria
fuscipes).
Kelima penyakit ini menular melalui kontak akar sakit dengan akar sehat atau melalui
benang jamur yang menjalar bebas dalam tanah atau pada sampah-sampah di atas
permukaan tanah (jamur kanker belah). Gejala pada tanaman terserang adalah daun
menguning, layu, gugur dan akhirnya tanaman mati. Untuk mengetahui penyebabnya,
harus melalui pemeriksaan akar. Batang tanaman teh terbelah dari bagian bawah ke
atas, kayu menjadi busuk kering dan lunak sehingga mudah hancur (penyakit kanker
belah). Unsur yang mempengaruhi penyebaran penyakit adalah ketinggian tempat,
jenis/kondisi tanah dan jenis pohon pelindung.
Pengendalian dilakukan dengan penanaman pohon pelindung yang tahan,
membongkar tanaman teh yang terserang, menjaga kebersihan kebun dan pemberian
Trichoderma sp. 200 gram per pohon pada lobang bekas tanaman yang dibongkar dan
tanaman disekitarnya pada awal musim hujan, di ulang setiap 6 bulan sekali sampai
tidak ditemukan gejala penyakit akar di daerah tersebut. Tanaman teh disekitarnya
diberi pupuk kandang atau pupuk organik.
3. Penyakit busuk daun (Cylindrocladium scoparium dan Glomerella cingulata)
Penyakit busuk daun disebabkan oleh C. Scoparium dan G. cingulata yang
menyerang tanaman teh di pesemaian, dapat mengakibatkan matinya setek teh. Bibit

terserang, timbul bercak-bercak coklat pada daun induknya, dimulai dari bagian
ujung atau dari ketiak daun. Pada serangan lanjut, daun induk terlepas dari tangkai,
akhirnya setek mengering /mati. Serangan lain dimulai dari ujung tunas,kemudian
meluas ke bawah akhirnya seluruh tunas mengering. Penyebaran penyakit melalui
konidia yang dapat bertahan lama di dalam tanah.
Pencegahan penyakit dilakukan dengan mengatur kelembaban di pesemaian
dan membuat parit penyalur air untuk mencegah penggenangan (drainase). Apabila
ditemukan gejala, langsung dilakukan penyemprotan fungisida kontak yang telah
direkomendasikan.
4. Penyakit mati ujung (Die back)
Penyakit mati ujung disebabkan oleh jamur Pestalotia theae yang menyerang
tanaman terutama melalui luka atau bagian daun yang rusak. Gejala pada daun
dimulai bercak kecil berwarna coklat, kemudian melebar. Pusat bercak keabu-abuan
dengan tepinya berwarna coklat. Dapat menyerang ranting yang masih hijau, dengan
gejala sama seperti di daun. Serangan jamur dapat menjalar sampai ke tunas sehingga
ranting dan tunas mengering. Pemetik teh mempunyai peranan dalam menyebarkan
jamur. Penyakit ini akan timbul pada tanaman yang lemah karena kekurangan unsur
hara (N dan K), pemetikan yang berat, kekeringan, angin kencang dan sinar matahari
yangkuat.
Pengendalian dilakukan dengan pemeliharaan kondisi tanaman yang baik
yaitu pemupukan berimbang, membuang bagian tanaman yang terinfeksi dan
pengaturan naungan sehingga bidang petiknya tidak terkena sinar matahari langsung.

BAB IV
PANEN DAN PASCA PANEN
Pengolahan daun teh dimaksudkan untuk mengubah komposisi kimia daun teh
segar secara terkendali, sehingga menjadi hasil olahan yang memunculkan sifat-sifat
yang dikehendaki pada air seduhannya, seperti warna, rasa, dan aroma yang baik dan
disukai. Bahan kimia yang terkandung dalam daun teh terdiri dari empat kelompok
yaitu subtansi fenol (catechin dan flavanol), subtansi bukan fenol (pectin, resin.
vitamin, dan mineral), subtansi aromatik dan enzim-enzim.
Daun teh yang dipetik, awal mula melewati proses pelayuan yang memakan
waktu 18 jam disebuah tempat berbentuk persegi panjang bernama withered trough.
Setiap 4 jam daun dibalik secara manual. Masing-masing withered trough memuat 1
sampai 1,5 ton daun teh. Fungsi dari proses pelayuan ini adalah untuk menghilangkan
kadar air sampai dengan 48%.
Daun-daun teh yang sudah layu kemudian dimasukan kedalam gentong dan
diangkut menggunakan monorel ke tempat proses berikutnya. Dari monorel daundaun dimasukan ke mesin penggilingan. 1 mesin memuat 350 kg daun teh dan waktu
untuk menggiling adalah 50 menit. Setelah digiling, daun teh dibawa ketempat untuk
mengayak. Proses untuk mengayak ini terjadi beberapa kali dengan hasil hitungan
berdasarkan jumlah mengayak: bubuk 1, bubuk 2, bubuk 3, bubuk 4, dan badag.
Sementara itu hasil ayakan terakhir yaitu badag tidak melewati proses fermentasi.
Badag dan bubuk-bubuk yang telah melewati proses fermentasi kemudian dibawa ke
ruangan berikutnya untuk dikeringkan. Lamanya proses pengeringan adalah 23 menit
dengan suhu 100o C. Bahan bakar untuk proses pengeringan ini adalah kayu dan
batok kelapa untuk rasa yang lebih enak.
Usai dikeringkan, daun dibawa ke ruangan sortasi,. Ada 3 jenis pekerjaan
yang dilakukan diruangan sortasi. pertama, memisahkan daun teh yang berwarna
hitam dan yang berwarna merah dengan menggunakan alat yang disebut Vibro.
Kedua, memisahkan ukuran besar dan ukuran kecil. Setelah semua proses selesai
dikerjakan maka teh harus diperiksa dahulu (quality control). Bila daun tersebut
memenuhi standar maka akan dikemas ditempat penyimpanan sementara (disimpan
didalam tong plastik berukuran besar). Bila sudah siap untuk dipasarkan, contohnya
di ekspor maka daun teh yang siap dipasarkan tersebut akan dikemas kedalam
papersack (Setyamidjadja, 2000).

BAB V

KESIMPULAN
1. Iklim untuk budidaya teh yang tepat yaitu dengan curah hujan tidak kurang
dari 2.000 mm/tahun, dengan bulan penanaman curah hujan kurang dari 60
mm tidak lebih 2 bulan. Tanaman memerlukan matahari yang cerah. Suhu
udara harian tanaman teh adalah 13-25o C.Kelembaban kurang dari 70%,
dengan Derajat kesamaan tanah (pH) berkisar antara 4,5 sampai 6,0,
2. Didalam Budidaya teh ada beberapa langkah yang harus diperhatikan sebagai
berikut: Persiapan Lahan, Pembibitan, Penanaman, Pemeliharaan, dan
Pemetikan,
3. Survey dan pemetaan tanah perlu dilakukan karena berguna dalam
menentukan sarana dan prasarana yang akan dibangun seperti jalan-jalan
kebun untuk transportasi dan kontrol, pembuatan fasilitas air, serta
pembuatan peta kebun dan peta kemampuan lahan,
4. Pengolahan tanah adalah mengusahakan tanah menjadi subur, gembur dan
bersih dari sisa-sisa akar dan tunggul, serta mematikan gulma yang masih
tumbuh,
5. Dalam penanaman, hal-hal yang harus diperhatikan adalah penentuan jarak
tanam yang tepat, pengajiran, pembuatan lubang tanam, teknik penanaman
dan penanaman tanaman pelindung yang diperlukan,
6. Didalam budidaya teh, tanaman harus bersih dari gulma dan dilakukan
pemangkasan agar tanaman tidak terserang penyakit.