Anda di halaman 1dari 11

METODOLOGI PEMBELAJARAN

Metodologi Pembelajaran Berbasis Pemecahan Masalah

Kelompok VIII
1.
2.
3.
4.

Haider Ali(12222041)
Liska Wina
(12222061)
Lola Hardede
(12222062)
Nuraini
(12222076)

PRODI PENDIDIKAN BIOLOGI


FAKULTAS TARBIYAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI RADEN FATAH
PALEMBANG
2014
BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Perubahan cepat dan pesat sering terjadi dalam berbagai bidang seperti
pendidikan, politik, ekonomi, ilmu pengetahuan, teknologi, dan budaya. Hal ini
memungkinkan semua pihak dapat memperoleh informasi dengan melimpah,
cepat, dan mudah dari berbagai sumber dan tempat di dunia. Kondisi ini
merupakan tantangan yang dihadapi oleh orang-orang terdidik yang mempunyai
kemampuan mendapatkan, memilih, dan mengolah informasi atau pengetahuan
dengan efektif dan efisien. Agar orang-orang terdidik di masa depan mempunyai
kemampuan, diperlukan sistem pendidikan yang berorientasi pada pemecahan
masalah, kemampuan berpikir kritis, kreatif, sistematis dan logis (Depdiknas,
2003).
Model pembelajaran yang dapat digunakan untuk berpikir kritis adalah
pembelajaran berbasis masalah. Apa itu pembelajaran berbasis masalah?
Bagaimana metode

dan penerapannya dalam pembelajaran? Pentingnya

mengajarkan dan mengembangkan kemampuan berpikir kritis harus dipandang


sebagai sesuatu yang urgen dan tidak bisa disepelekan lagi. Penguasaan
kemampuan berpikir kritis tidak cukup dijadikan sebagai tujuan pendidikan
semata, tetapi juga sebagai proses fundamental yang memungkinkan siswa untuk
mengatasi ketidaktentuan masa mendatang (Cabera, 1992).
Pembelajaran berbasis masalah dikenal dengan istilah problem based learning
(PBL), pada awalnya dirancang untuk program graduate bidang kesehatan oleh
Barrows (1988) yang kemudian diadaptasi untuk program akademik kependidikan
oleh Stepein Gallager. PBL dikembangkan berdasarkan teori psikologi kognitif
modern yang menyatakan bahwa belajar suatu proses yang dalam di mana
pembelajar secara aktif mengkonstruksi pengetahuannya melalui interaksinya
dengan lingkungan belajar yang dirancang oleh fasilitator pembelajaran.
Model pembelajaran berbasis masalah telah dikenal sejak zaman Jhon Dewey.
Dewasa ini, model pembelajaran ini mulai populer. Sebab, jika ditinjau secara
umum, pembelajaran berbasis masalah terdiri atas penyajian kepada siswa, dari
situasi masalah yang autentik dan bermakna, yang dapat memberikan kemudahan

kepada mereka untuk melakukan penyelidikan dan inquiri. Model Pembelajaran


berbasis masalah merupakan suatu model pembelajaran berdasarkan banyaknya
permasalahan yang membutuhkan pembelajaran yang autentik yakni penyelidikan
yang membutuhkan penyelesaian nyata dari permasalahan tersebut.
Pembelajaran Berbasis masalah (Probelem Based learning), merupakan salah satu
model pembelajaran inovatif yang dapat memberikan kondisi belajar aktif kepada
peserta didik. Melibatkan siswa untuk memecahkan suatu masalah melalui tahaptahap metode ilmiah sehingga siswa dapat mempelajari pengetahuan yang
berhubungan dengan masalah tersebut dan sekaligus memiliki keterampilan untuk
memecahkan masalah.
1.2 Rumusan Masalah
1. Apa pengertian dari model Pembelajaran berbasis masalah?
2. Bagaimana karakteristik model pembelajaran berbasis masalah itu?
3. Bagaimana Sintaks (langkah-langkah) model pembelajaran berbasis
masalah?
4. Bagaimana pelaksanaan model pembelajaran berbasis masalah?
5. Apakah kelebihan dan kekurangan dari model pembelajaran berbasis
masalah?
6. Apa manfaat dari model pembelajaran berbasis masalah?
1.3 Tujuan
1.
2.
3.

Mengetahui pengertian model pembelajaran berbasis masalah


Mengetahui karakteristik dari model pembelajaran berbasis

masalah
Mengetahui

sintaks

(langkah-langkah)

model

pembelajaran

berbasis masalah
4.
Mengetahui pelaksanaan model pembelajaran berbasis masalah
5.
Mengetahui kelebihan dan kekurangan dari model pembelajaran
berbasis masalah
6.
Mengetahui manfaat dari model pembelajaran berbasis masalah.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1

Pengertian

Pengajaran berdasarkan masalah ini telah dikenal sejak


zaman John Dewey. Menurut Dewey (dalam Trianto, 2009:91)
belajar berdasarkan masalah adalah interaksi antara stimulus
dan respon, merupakan hubungan antara dua arah belajar dan
lingkungan. Lingkungan memberikan masukan kepada siswa
berupa bantuan dan masalah, sedangkan sistem saraf otak
berfungsi menafsirkan bantuan itu secara efektif sehingga
masalah yang dihadapi dapat diselidiki, dinilai, dianalisis, serta
dicari pemecahannya dengan baik.
Pembelajaran Berbasis Masalah yang berasal dari bahasa
Inggris Problem-based Learning adalah suatu pendekatan
pembelajaran
masalah,

yang

tetapi

dimulai

untuk

dengan

menyelesaikan

menyelesaikan

masalah

suatu

itu

siswa

memerlukan pengetahuan baru untuk dapat menyelesaikannya.


Pendekatan pembelajaran berbasis masalah (problembased

learning

PBL)

adalah konsep

pembelajaran yang

membantu guru menciptakan lingkungan pembelajaran yang


dimulai dengan masalah yang penting dan relevan (bersangkutpaut)

bagi

siswa,

dan

memungkinkan

siswa

memperoleh

pengalaman belajar yang lebih realistik (nyata) (Susento).


Pembelajaran Berbasis Masalah melibatkan siswa dalam
proses pembelajaran yang aktif, kolaboratif, berpusat kepada
siswa, yang mengembangkan kemampuan pemecahan masalah
dan

kemampuan

belajar

mandiri

yang

diperlukan

untuk

menghadapi tantangan dalam kehidupan dan karier, dalam


lingkungan

yang

bertambah

kompleks

sekarang

ini.

Pembelajaran Berbasis Masalah dapat pula dimulai dengan


melakukan kerja kelompok antar siswa. Siswa menyelidiki sendiri,
menemukan

permasalahan,

kemudian

menyelesaikan

masalahnya di bawah petunjuk fasilitator (guru).


Pembelajaran
siswa

untuk

Berbasis

mencari

atau

Masalah

menyarankan

menentukan

kepada

sumber-sumber

pengetahuan yang relevan. Pembelajaran berbasis masalah


memberikan tantangan kepada siswa untuk belajar sendiri.
Dalam hal ini, siswa lebih diajak untuk membentuk suatu
pengetahuan dengan sedikit bimbingan atau arahan guru
sementara

pada

pembelajaran

tradisional,

siswa

lebih

diperlakukan sebagai penerima pengetahuan yang diberikan


secara terstruktur oleh seorang guru.
2.2
a.
b.
c.
d.
e.

Ciri-ciri Khusus Pembelajaran Berbasis Masalah


Pengajuan pertanyaan atau masalah
Berfokus pada keterkaitan antar disiplin
Penyelidikan autentik
Menghasilkan produk dan memamerkannya
Kolaborasi

2.3 Kelebihan dan Kekurangan


1. Kelebihan
a. Realistik dengan kehidupan siswa
b. Konsep sesuai dengan kebutuhan siswa
c. Memupuk sifat inquiry siswa
d. Retensi konsep menjadi kuat
e. Memupuk kemampuan problem solving
2. Kekurangan
a.

Persiapan pembelajaran (alat, problem, konsep) yang

kompleks
b.

Sulitnya mencari problem yang relevan

c.

Sering terjadi miss-konsepsi

d.

Memerlukan waktu yang cukup panjang

2.4 Karakteristik Problem-Based Learning


PBL memiliki karakteristik-karakteristik sebagai berikut:
1. belajar dimulai dengan suatu masalah
2. memastikan bahwa masalah yang diberikan berhubungan
dengan dunia nyata siswa/mahasiswa,

3. mengorganisasikan pelajaran diseputar masalah, bukan


diseputar disiplin ilmu
4. memberikan

tanggung

jawab

yang

besar

kepada

pembelajar dalam membentuk dan menjalankan secara


langsung proses belajar mereka sendiri
5. kolaborasi. Siswa bekerjasama dalam kelompok kecil, dan
6. melatih siswa untuk terampil menyajikan temuan yaitu
menuntut pembelajar untuk mendemontrasikan apa yang
telah mereka pelajari dalam bentuk suatu produk atau
kinerja.
Ibrahim dan M. Nur dalam Kunandar mengemukakan
bahwa ada empat hal yang menjadi kerakteristik pembelajaran
berbasis masalah yaitu:
1. Pembelajaran

mengedepankan

pertanyaan

atau

masalah
Pembelajaran

berbasis

masalah

mengorganisasikan

perinsip-perinsip

akademik

tetapi

tertentu

bukan

atau

hanya

keterampilan

mengorganisasikan

pengajaran

disekitar pertanyaan dan masalah yang kedua-duanya secara


sosial penting dan secara pribadi bermakna untuk peserta didik.
Mereka mengajukan situasi kehidupan nyata yang autentik,
menghindari jawaban sederhana, dan menemukan berbagai
macam solusi untuk situasi itu.
2. Berfokus pada keterkaitan antar disiplin
Meskipun

pembelajaran

berbasis

masalah

mungkin

berpusat pada mata pelajaran tertentu, (IPA, Matematika, dan


ilmu-ilmu sosial termasuk sejarah) tetapi dalam pemecahannya
melalui solusi, peserta didik dapat meninjaunya dari berbagai
mata pelajaran yang ada. Sebagai contoh keruntuhan dinasti
islam masa lalu yang rata-rata disebabkan lemahnya pemerintah
dalam mengambil kebijakan, terjadinya perebutan kekuasaan di
tingkat pusat, berubahnya sistem pemerintahan dari sentralisasi

menjadi desentralisasi yang akhirnya menyebabkan disintegrasi


bangsa. Lalu kemudian guru mengaitkan dengan kondisi bangsa
sekarang lalu dicari pemecahannya.
3. Penyelidikan Autentik
Pembelajaran berbasis masalah mengharuskan peserta
didik

melakukan

penyelesaian

penyelidikan

nyata

terhadap

autentik

untuk

masalah.

mencari

Mereka

harus

menganalisis dan mendefinisikan masalah, mengembangkan


hipotesis

dan

membuat

prediksi,

mengumpulkan

dan

menganalisis informasi, melakukan eksprimen (jika diperlukan),


membuat interfensi dan merumuskan kesimpulan.
4. Menghasilkan produk/ karya dan memamerkannya
Pembelajaran berbasis masalah menuntut peserta didik
untuk menghasilkan produk tertentu dalam bentuk karya nyata
dan

peragaan

yang

menjelaskan

atau

mewakili

bentuk

penyelasaian masalah yang mereka temukan. Produk ini dapat


berupa transkrip debat, laporan, model fisik, dan video.
Berdasarkan uraian di atas, tiga ciri utama dari strategi
pembelajaran berbasis masalah. Pertama, pembelajaran berbasis
masalah merupakan rangkaian aktifitas pembelajaran, artinya
dalam implementasinya ada sejumlah kegiatan yang harus
dilakukan

siswa.

Pembelajaran

berbasis

masalah

tidak

mengharapkan peserta didik hanya sekedar mendengarkan,


mencatat kemudian menghafal materi pelajaran, akan tetapi
peserta

didik

aktif

berfikir,

berkomunikasi,

mencari

dan

mengolah data dan akhirnya menyimpulkan. Kedua, aktivitas


pembelajaran

diarahkan

untuk

menyelesaikan

masalah.

Pembelajaran berbasis masalah menempatkan masalah sebagai


kata kunci proses pembelajaran. Ketiga pemecahan masalah
dilakukan dengan menggunakan pendekatan berpikir secara
ilmiah. Berpikir dengan menggunakan metode ilmiah adalah
proses berikir deduktif dan induktif. Proses berpikir ini dilakukan

secara sistematis dan empiris. Sistematis artinya berpikir ilmiah


dilakukan dengan tahpan-tahapan tertentu, sedangkan empiris
artinya proses penyelesaian masalah didasarkan pada data dan
fakta yang jelas.
2.5 Pelaksanaan Pembelajaran Berbasis Masalah
Sejalan dengan pendapat yang dikemukakan oleh Slavin,
menurut Pierce dan Jones (Howey, 2001) dalam pelaksanaan PBM
terdapat proses yang harus dimunculkan, seperti: keterlibatan
(engagement), inkuiri dan investigasi (inquiry and investigation),
kinerja (performance), Tanya jawab dan diskusi (debriefing).
1. Keterlibatan bertujuan untuk mempersiapkan siswa untuk
berperan sebagai pemecah masalah (self-directed problem
solver)

yang

bisa

menghadapkan

bekerja

siswa

sama

pada

dengan

situasi

pihak

yang

lain,

mampu

mendorong untuk mampu menemukan masalah, meneliti


dan menyelesaikannya.
2. Inkuiri
dan
investigasi
mengeksplorasi
implikasinya,

berbagai
serta

yang

meliputi

cara

kegiatan

kegiatan

menjelaskan

dan

mengumpulkan

dan

mendistribusikan informasi. Kinerja bertujuan menyajikan


temuan yang diperoleh.
3. Tanya jawab dan diskusi, yaitu menguji keakuratan dari
solusi

dan

melakukan

refleksi

terhadap

pemecahan

masalah yang dilakukan.


2.5 Manfaat Pembelajaran Berbasis Masalah
1. Dengan PBL akan terjadi pembelajaran

bermakna.

Siswa/mahasiswa yang belajar memecahkan suatu masalah


maka

mereka

akan

menerapkan

pengetahuan

yang

dimilikinya atau berusaha mengetahui pengetahuan yang


diperlukan. Artinya belajar tersebut ada pada konteks
aplikasi konsep. Belajar dapat semakin bermakna dan

dapat

diperluas

ketika

siswa/mahasiswa

berhadapan

dengan situasi di mana konsep diterapkan.


2. Dalam situasi PBL, siswa/mahasiswa mengintegrasikan
pengetahuan

dan

ketrampilan

secara

simultan

dan

mengaplikasikannya dalam konteks yang relevan. Artinya,


apa yang mereka lakukan sesuai dengan keadaan nyata
bukan

lagi

teoritis

sehingga

masalah-masalah

dalam

aplikasi suatu konsep atau teori mereka akan temukan


sekaligus selama pembelajaran berlangsung.
3. PBL dapat meningkatkan kemampuan berpikir

kritis,

menumbuhkan inisiatif siswa/mahasiswa dalam bekerja,


motivasi

internal

untuk

belajar,

dan

dapat

mengembangkan hubungan interpersonal dalam bekerja


kelompok.

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Pembelajaran Berbasis Masalah adalah suatu proses pembelajaran yang
keterlibatan siswanya lebih besar dalam pemecahan suatu masalah melalui tahaptahap metode ilmiah sehingga siswa dapat mempelajari pengetahuan yang
berhubungan dengan masalah yang disajikan oleh pendidik dengan berbekal
pengetahuan yang dimiliki sebelumnya sehingga dari prior knowledge ini akan
terbentuk pengetahuan dan pengalaman baru. Ciri-ciri Pembelajaran dengan
model PBL dimulai oleh adanya masalah (dapat dimunculkan oleh siswa atau
guru), kemudian siswa memperdalam pengetahuannya tentang apa yang mereka
telah ketahui dan apa yang mereka perlu ketahui untuk memecahkan masalah

tersebut. Siswa dapat memilih masalah yang dianggap menarik untuk dipecahkan
sehingga mereka terdorong berperan aktif dalam belajar.

DAFTAR PUSTAKA
Ahmad,
Dahli.
2010.
Peranan
Pembelajaran
CTL
dalam
Menginplementasikan Pembelajaran Interaktif. Tersedia dahliahmad.blogspot.com/.../peran-pembelajaran-ctldiakses
pada
tanggal 25 april 2014.
Suherman, Erman. 2001. Pendekatan Kontekstual Dalam Pembelajaran
Matematika. Educare : Jurnal Pendidikan dan Budaya.
Susento. 2011. Pendekatan Pembelajaran Berbasis Masalah. Tersedia
warungpendidikan.blogspot.com/.../pendekatan-pembelajaranberbasis diakses pada tanggal 25 april 2011.
Trianto. 2009. Mendesain Model Pembelajaran Inovatif-Progresif:
Konsep, Landasan, dan Implementasinya pada Kurikulum Tingkat
Satuan Pendidikan (KTSP). Jakarta: Kencana
R. Ibrahim, Nana Syaodih S. 1995. Perencanaan Pengajaran Rineka
Cipta : Jakarta.
Prof. Dr. H. Wina Sanjaya, M.Pd. 2006. Strategi Pembelajaran
Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta : Kencana Prenada
Media Group