Anda di halaman 1dari 102

LAPORAN PENDAHULUAN

Perencanaan Detail Bendung Karet Jamblang Kabupaten Cirebon

Bab

3
Rencana Kegiatan
Pelaksanaan Pekerjaan

3.1

RENCANA KERJA DAN JADUAL KEGIATAN

Berdasarkan

ketentuan-ketentuan

dalam

Kerangka

Acuan

Kerja

(TOR)

pekerjaan Perencanaan Detail Bendung Karet Jamblang Kabupaten Cirebon,


Konsultan PT. Purnatama Kindoteknik telah menyusun rencana kerja sepertti
terlihat dalam Jadual Pelaksanaan Pekerjaan pada Tabel 3.1.
Jadual pelaksanaan pekerjaan disusun team konsultan sebagai alat kendali
dan panduan kegiatan yang mencakup pertimbangan kebutuhan waktu
pelaksanaan

survey, proses

kajian/analisa,

pelaporan

serta

monitoring

evaluasi.
JADUAL pelaksanaan pekerjaan merupakan unsur penting dalam pengendalian
pekerjaan karena dengan adanya jadual pelaksanaan, pekerjaan dapat
dilakukan terencana dan berjalan secara efisien.
Jadual pelaksanaan pekerjaan menguraikan antara lain :
-

Uraian seluruh kegiatan yang akan dilaksanakan

Bobot persentase (%) dari masing-masing kegiatan

Banyaknya hari yang dibutuhkan untuk menyelesaikan pekerjaan

Besarnya bobot rencana dan realisasi setiap minggu, sehingga dapat


terlihat besarnya kemajuan pekerjaan setiap minggunya.

Kurva-S, yang dapat mengetahui secara grafis mengenai kemajuan


pekerjaan

Adapun Jadual Penugasan Personil dan Alat yang merupakan personil dan
instrumen dari semua kegiatan, disajikan dalam Tabel 3.2 dan Tabel 3.3 yang
menguraikan antara lain :
-

Jumlah personil dan alat sesuai dengan kebutuhan

PT. PURNATAMA KINDOTEKNIK

III-1

LAPORAN PENDAHULUAN

Perencanaan Detail Bendung Karet Jamblang Kabupaten Cirebon

Banyaknya hari yang dibutuhkan untuk menyelesaikan pekerjaan

3.2

BAGAN ALIR KEGIATAN

Berdasarkan tahapan kegiatan yang disajikan pada JADUAL pelaksanaan


maka dibuat bagan alir untuk pekerjaan Perencanaan Detail Bendung Karet
Jamblang Kabupaten Cirebon seperti disajikan pada Gambar3.1.
3.3

PERSIAPAN DAN PENGUMPULAN DATA SEKUNDER

3.3.1

Persiapan

Pekerjaan

persiapan

merupakan

pekerjaan

tahap

awal

yang

sangat

menentukan kelancaran pekerjaan selanjutnya. Jika pekerjaan ini dapat


dilaksanakan dengan baik, maka kegiatan berikutnya diharapkan akan dapat
dilaksanakan dengan baik pula sesuai dengan yang direncanakan. Yang
termasuk dalam kegiatan persiapan ini adalah:

Penyelesaian administrasi kontrak.

Pembuatan surat-surat untuk keperluan legalitas kegiatan pengumpulan


data.

Penyusunan

jadual

kegiatan

yang

lebih

rinci,

terutama

kegiatan

pengumpulan data (sudah termasuk menentukan jenis-jenis data yang


dibutuhkan dan perkiraan tempat di mana data yang dibutuhkan dapat
diperoleh).
Mobilisasi peralatan dan personil, termasuk pengarahan dari Ketua Tim
mengenai lingkup tugas dan waktu penugasan untuk masing-masing personil
yang terlibat dalam pelaksanaan pekerjaan ini.
3.3.2

Pengumpulan Data Sekunder

Kegiatan pengumpulan data sekunder merupakan kegiatan yang mutlak harus


dilakukan

dalam

pekerjaan

ini.

Jenis-jenis

data

sekunder

yang

akan

dikumpulkan sesuai dengan yang terdapat dalam TOR ditambah dengan data
lain yang menurut Konsultan diperlukan.
Berikut antara lain data-data sekunder yang perlu didapatkan:
-

Peta situasi skala 1 : 25.000 terbitan terbaru dari Bakosurtanal

Peta geologi regional dan data dasar lain berkaitan dengan pekerjaan ini

Data sosial ekonomi penduduk sekitar lokasi minimal 3 tahun terakhir.

PT. PURNATAMA KINDOTEKNIK

III-2

LAPORAN PENDAHULUAN

Perencanaan Detail Bendung Karet Jamblang Kabupaten Cirebon

Data studi terdahulu yang pernah dilakukan di lokasi pekerjaan sebagai


pertimbangan untuk pekerjaan yang akan dilaksanakan seperti tersurat
dalam Kerangka Acuan Kerja.

PT. PURNATAMA KINDOTEKNIK

III-3

Perencanaan Detail Bendung Karet Jamblang Kabupaten Cirebon

Gambar 3.1

Bagan alir rencana proses pelaksanaan pekerjaan.

LAPORAN PENDAHULUAN

Data iklim untuk analisa hidrologi dari Badan Meteorologi dan Geofisika.

PT. PURNATAMA KINDOTEKNIK

III-4

LAPORAN PENDAHULUAN

Perencanaan Detail Bendung Karet Jamblang Kabupaten Cirebon

Dokumen-dokumen

lain

yang

dapat

menggambarkan

kondisi

lokasi

pekerjaan seperti Kabupaten Cirebon Dalam Angka dan Propinsi Jawa


Barat Dalam Angka dari Biro Pusat Statistik (BPS)
Daftar harga satuan barang dan upah dari pemerintah daerah dan dari

jurnal INKINDO.
3.4

SURVEY LAPANGAN (PENGUMPULAN DATA PRIMER)

3.4.1

Survey Sosial Ekonomi dan Sosialisasi

Survei sosial ekonomi dilaksanakan untuk mengetahui kondisi ekonomi


masyarakat, memperoleh informasi tentang persepsi masyarakat mengenai
pemanfaatan potensi air baku yang dapat diterapkan, dan untuk mengetahui
dampak ekonomi dan lingkungan atas kegiatan pemanfaatan potensi air baku
untuk kepentingan masyarakat. Survei ini dilaksanakan dengan melakukan
wawancara dan penyebaran quesioner.
Pembangunan dalam pengelolaan sumberdaya air memerlukan perencanaan
yang

optimal.

Begitu

kompleksnya

permasalahan

dalam

pengelolaan

sumberdaya air, maka keterpaduan semua faktor yang terkait dengan


pengelolaan perlu diakomodasi. Potensi sumberdaya, Ilmu pengetahuan dan
teknologi pengelolaan, serta partisipasi stakeholders (pemerintah, swasta,
masyarakat) perlu terangkum dalam strategi pengelolaan yang andal dan
mampu mengeliminir potensi konflik. Semangat otonomi yang berlebihan
hanya akan menghasilkan egosektor yang memberikan manfaat sesaat dan
mengundang bencana yang berkepanjangan. Untuk itu, konsep pengelolaan
sumberdaya air dalam era otonomi harus mencakup (Mardiyanto, 2001):
-

Kesamaan persepsi di antara para pihak.

Komitmen

bersama

Kabupaten/Kota,

dari

pihak

para
swasta,

pihak

(Pemerintah

perguruan

Pusat,

tinggi,

LSM,

Propinsi
serta

masyarakat).
-

Supremasi hukum yang sangat erat kaitannya dengan pelaksanaan


konservasi sumberdaya air.

Pengelolaan sumberdaya air bukanlah upaya yang mudah. Perubahan nilai air
dan komoditi yang berfungsi sosial menjadi komoditas yang benilai sosial dan
komersial harus diikuti pula dengan perubahan pemahaman pada sisi
PT. PURNATAMA KINDOTEKNIK

III-5

LAPORAN PENDAHULUAN

Perencanaan Detail Bendung Karet Jamblang Kabupaten Cirebon

stakeholders. Tujuan pengelolaan sumberdaya air menurut Soepilmuono


(1999) adalah "dipenuhinya permintaan masyarakat atas pasokan air dalam
jumlah, mutu dan waktu yang dibutuhkan, dengan biaya yang terjangkau.
Sampai saat ini komponen biaya dalam pengelolaan sumberdaya air masih
sering

menjadi perdebatan

di

antara

stakeholders,

akibat keberadaan

kelompok free rider yang sangat dominan yaitu Kelompok Pertanian sebagai
pengguna terbesar (80% - 86%). Sedangkan sisanya digunakan oleh
Kelompok Domestik, Perkotaan, dan Industri (10% - 15%), serta Kelompok
Lingkungan

(50/6)

yang

membutuhkan

kelestariannya

(Soeparmono,

Permasalahan

ini

1999;

menggambarkan

air

untuk

Partowijoto,
adanya

mempertahankan

2000;

Usman,

kesenjangan

2000).

antara

sisi

penyediaan dan sisi permintaan terhadap 'out come" pengelolaan sumberdaya


air. Terhadap kesenjangan tersebut Sri Hernowo (1999) menyatakan,
Harapan stakeholders yang realistik diantaranya adalah jaminan kualitas
pelayanan dengan tarif yang terjangkau oleh konsumen penerima manfaat
termasuk oleh konsumen yang tidak membayar secara langsung seperti
pemakai air irigasi.
Menurut

Clark

(1995)

pembangunan

baru

dapat

dikatakan

sebagai

pembangunan apabila semua unsur berikut turut dipertimbangkan :


Penyediaan prasarana fisik
Pertumbuhan ekonomi
Pengentasan kemiskinan
Persamaan atau kesetaraan
Perlindungan terhadap sumberdaya alam
Demokratis
Keadilan sosial
Untuk mewujudkan semua itu dan terjalin kerjasama antara masyarakat
dengan instansi terkait serta pelaksana kegiatan dilapangan dalam hal ini
adalah konsultan, maka diperlukan suatu pertemuan publik konsultasi
(sosialisasi)

agar

hasil

yang

diperoleh

juga

merupakan

butir-butir

kesepakatan antara berbagai stake holder dalam kegiatan ini.

PT. PURNATAMA KINDOTEKNIK

III-6

LAPORAN PENDAHULUAN

3.4.2
Survei

Perencanaan Detail Bendung Karet Jamblang Kabupaten Cirebon

Survey Lingkungan
lingkungan

dilakukan

dengan

melakukan

questioner

kepada

masyarakat mengenai kondisi lingkungan di sekitar lokasi untuk dijadikan


bahan kajian konsultan dalam perencanaan pekerjaan ini.
3.4.3

Survey Topografi

Survey topografi ditujukan untuk membuat peta situasi yang sesuai dengan
kondisi lapangan sebenarnya (eksisting), berikut trase, penampang dan
objek-objek yang diperlukan yang berada di lokasi perkerjaan.
Data lapangan yang telah diproses disajikan dalam bentuk peta situasi detail
dengan skala 1:5.000 dan peta ikhtisar 1:20.000 atau 1:10.000 (disesuaikan
dengan luasan). Interval kontur yang dipakai adalah 0,25 untuk daerah datar
dan 0,5 untuk daerah berbukit.
Peta situasi yang akan dihasilkan merupakan gambar lapangan sebenarnya
yang dilengkapi dengan koordinat horisontal X dan Y dan koordinat vertikal
(elevasi) Z dimana garis kontur yang ada akan digunakan dalam perencanaan
teknis tata saluran.

A.

Orientasi Lapangan

Pada kegiatan ini dilaksanakan: penetapan jalur pengukuran, penentuan titik


awal pengukuran, penentuan lokasi titik-titik Bench Mark (BM) dan penetapan
batas kawasan proyek. Disamping itu dilakukan juga penyiapan base camp
dan penyediaan tenaga lokal.

B.

Pengamatan Azimuth Astronomis

Untuk mengetahui arah/azimut awal dilakukan dengan pengamatan matahari


yang dilakukan dengan menggunakan alat ukur Theodolite T2.
Tujuan dari pengamatan azimut ini adalah:

Sebagai koreksi azimuth guna menghilangkan kesalahan akumulatif


pada sudut-sudut terukur dalam jaringan poligon.

Untuk menentukan azimuth/arah titik-titik kontrol/poligon yang tidak


terlihat satu dengan yang lainnya.

PT. PURNATAMA KINDOTEKNIK

III-7

LAPORAN PENDAHULUAN

Perencanaan Detail Bendung Karet Jamblang Kabupaten Cirebon

Penentuan sumbu X dan Y untuk koordinat bidang datar pada


pekerjaan pengukuran yang bersifat lokal/koordinat lokal.

Metode yang akan dilaksanakan pada pengamatan azimut astronomi ini


adalah sebagai berikut :

Tempat pengamatan, titik awal (BM1).

Arahkan teropong ke matahari dalam kedudukan biasa.

Tempatkan tepi kiri bayangan matahari pada benang silang vertikal


dengan memutar sekrup penggerak hulu horisontal dan vertikal.
Dengan memutar diafragma maka diperoleh bayangan matahari yang
jelas pada kertas tadah.

Geser tepi atas bayangan matahari hingga menyentuh benang silang


horisontal dengan cara memutar sekrup penggerak vertikal pada
kedudukan I dan III (Gambar 3.2).

Catat waktu pengamatan sampai satuan detik bersamaan dengan


langkah No.1, 2 dan 3 selesai.

Catat sudut horisontal dan vertikal.

Putar balik teropong menjadi kedudukan luar biasa. Dengan cara yang
sama ulangi langkah No. 1 5 untuk kedudukan II dan IV (Gambar
3.2).

Arahkan teropong ke arah target dan baca sudut horisontal dalam


keadaan biasa dan luar biasa sehingga diperoleh asimut sisi target
dan alat.

Dari hasil pengamatan No. 1-7 dapat dihitung azimuth geografis.

Dengan

melihat

metode

pengamatan

azimuth

astronomis

(T)

adalah :
T = M + atau
T = M + ( T - M )
dimana:
T

Azimuth ke target.

Azimuth pusat matahari.

(T) =

Bacaan jurusan mendatar ke target.

(M) =

Bacaan jurusan mendatar ke matahari.

PT. PURNATAMA KINDOTEKNIK

III-8

LAPORAN PENDAHULUAN

Perencanaan Detail Bendung Karet Jamblang Kabupaten Cirebon

Sudut mendatar antara jurusan ke matahari dengan jurusan


ke target.

Dari hasil pengamatan diperoleh sejumlah harga azimuth hasil


hiutngan. Azimuth yang dipakai adalah hasil rata-rata dari azimuth
hasil hitungan.

Untuk kontrol hasil pengamatan azimuth, maka hitungan salah satu


penutup (standard error) dengan rumus :
=

Kedudukan I

n 1

, dimana = salah penutup; V = residu

Kedudukan II

Gambar 3.2

C.

V 2

Kedudukan III

Kedudukan IV

Posisi bayangan matahari pada kertas tadah.

Pembuatan Titik Tetap (Bench Mark)

Pemasangan Bench Mark di suatu kawasan memiliki ukuran yang telah


ditentukan sesuai spesifikasi teknis.
Bentuk desain titik Bench Mark disesuaikan dengan Kerangka Acuan Kerja dan
fungsinya

sebagai

titik

acuan

serta

kebutuhan

pada

saat

konstruksi,

diantaranya:

Ukuran (20x20x100)cm dipancang ke dalam tanah dan diperkuat


dengan beton cor ukuran (40x40x135)cm. Dipasang sedemikian rupa
sehingga yang muncul di permukaan setinggi 40cm.

Titik Bench Mark dibuat pada tempat yang aman dan terlindung dari
kemungkinan kerusakan ataupun bergeser. Rencana penempatan titik
tetap Bench Mark yang dipasang berjumlah 2 buah yang diberi nama
kode.

PT. PURNATAMA KINDOTEKNIK

III-9

LAPORAN PENDAHULUAN

Perencanaan Detail Bendung Karet Jamblang Kabupaten Cirebon

Titik Bench Mark ditetapkan sebagai referensi koordinatnya dan nilai


elevasi (Z) yang merupakan posisi Bench Mark terhadap Bench Mark
yang ada di lapangan atau terhadap muka air laur rata-rata (Mean
Sea Level/MSL).

Dengan tujuan terlihat dan dapat membedakan dengan bentuk benda


yang berada di sekelilingnya, titik Bench Mark diberi tanda dan nomor
urut yang teratur sesuai dengan petunjuk Direksi/ Pengawas serta
diberi baut di bagian atas (pen kuning level) dan dibubuhi batu
marmer (12x12)cm.

Gambar penampang Bench Mark yang dipasang pada BM dapat dilihat


pada Gambar 3.3.

Lokasi penempatan Bench Mark memenuhi ketentuan sebagai berikut:

Ditempatkan di setiap titik simpul, pada setiap letak rencana


bangunan bagi/sadap.

Tanah tempat Bench Mark berada merupakan tanah keras dan harus
terhindar dari sawah.

Dipasang paling sedikit 10m dari pinggir jalan dan daerah yang akan
terkena perubahan.

Ditempatkan 10 m jauhnya dari trase saluran irigasi atau pembuang


yang sudah ada atau yang baru diusulkan agar Bench Mark tidak
terganggu selama pelaksanaan salura-saluran irigasi dan pembuang.

Bench

Mark

dipasang

sebelum

dilaksanakan

pengukuran

dan

ditempatkan di lokasi yang aman tanahnya stabil serta mudah dicari


kembali.

Setiap Bench Mark dibuat deskripsi dengan foto berwarna, lengkap


dengan sketsa.

Control Point atau Bench Mark ukuran kecil untuk tanda azimut
dipasang dekat Bench Mark dengan jarak 150m dan bebas pandang.

Control Point beton 10 cm diisi dengan beton cor panjang 100 cm


ditanam ke dalam tanah sedalam 60 cm, dicat merah, diberi nomor
kode yang teratur dan dipasang pen kuningan 12mm sebagai titik
pusat.

PT. PURNATAMA KINDOTEKNIK

III-10

LAPORAN PENDAHULUAN

Perencanaan Detail Bendung Karet Jamblang Kabupaten Cirebon

Gambar penampang Bench Mark yang dipasang pada BM dapat dilihat


pada Gambar 3-4.

Pengamatan GPS memenuhi ketentuan sebagai berikut :

Pada area daerah irigasi dilakukan pengamatan GPS minimal 2 titik


Bench Mark.

Alat yang digunakan adalah type standar.

Angka dalam satuan mm

Gambar 3.3 Penampang BM.

PT. PURNATAMA KINDOTEKNIK

III-11

LAPORAN PENDAHULUAN

Perencanaan Detail Bendung Karet Jamblang Kabupaten Cirebon

Angka dalam satuan mm

Gambar 3.4 Penampang CP dan bentuk logonya.

D.

Pengukuran Kerangka Horisontal

Tujuan pengukuran horisontal untuk mengetahui posisi setiap titik Bench Mark
yang terpasang, dan memperoleh data kerangka horisontal sepanjang jalur
yang dilalui.

Pengukuran Poligon Utama.

Cara pengukuran dan batasan yang akan dilaksanakan adalah sebagai


berikut:

Poligon utama harus meliputi daerah yang akan dipetakan dan


merupakan kring tertutup yang diikatkan pada titik referensi (reference
point) yang telah ada di lapangan atau cara lain yang disetujui oleh
Direksi.

Jika poligon utama terlalu besar, harus dibagi dalam beberapa kring
tertutup.

Poligon utama dibagi atas seksi-seksi dengan panjang maksimum tiap


seksi 2,5 km.

Semua Bench Mark baik yang ada maupun baru harus dilalui poligon.

Pengukuran sudut poligon utama maksimum 10N, dimana N adalah


banyaknya titik poligon utama.

PT. PURNATAMA KINDOTEKNIK

III-12

LAPORAN PENDAHULUAN

Perencanaan Detail Bendung Karet Jamblang Kabupaten Cirebon

Sudut vertikal dibaca dalam 1 (satu) seri dengan ketelitian sudut 20


(dua bacaan sudut).

Jarak diukur dengan pita ukur baja dan dikontrol dengan jarak optis
dilakukan pulang pergi masing-masing 2 kali bacaan.

Alat ukur sudut yang digunakan adalah Theodolit T2 Wild dan


pengukuran sudut dilakukan dengan titik nol yang berada (0, 45, 90
detik).

Pengukuran Sudut Jurusan.


Sudut jurusan sisi-sisi poligon adalah besarnya bacaan lingkaran horisontal
alat ukur sudut pada waktu pembacaan ke suatu titik. Besarnya sudut
jurusan dihitung berdasarkan hasil pengukuran sudut mendatar di masingmasing titik poligon.
Penjelasan pengukuran sudut jurusan sebagai berikut:

Kontrol azimuth ditentukan dengan pengamatan astronomi dengan


ketelitian 15".

Pembacaan sudut horizontal dilakukan dengan cara biasa dan luar biasa
dalam 2 seri.

Jumlah titik poligon antar dua titik azimuth maksimum 50 titik. Koreksi
sudut antara dua kontrol azimuth=15", koreksi setiap titik poligon
maksimum 8".

Salah penutup koordinat maksimum 1:5.000

Hitungan

poligon

utama

untuk

menentukan

koodinat

(x,y)

dari

pengukuran poligon dilapangan. Data-data yang diperlukan dalam


memperhitungkan ini adalah azimuth matahari untuk menghitung sudut
jurusan tiap sisi poligon m dan sudut horizontal, disertai data jarak.

Penentuan Salah Penutup Sudut :


Dalam poligon tertutup harus dipenuhi syarat-syarat sebagai berikut:
untuk sudut luar

f = - (n + 2) 180

untuk sudut dalam f = - (n - 2) 180


dimana :
f

salah penutup sudut

jumlah sudut ukuran

banyaknya titik dalam satu Loop

PT. PURNATAMA KINDOTEKNIK

III-13

LAPORAN PENDAHULUAN

Perencanaan Detail Bendung Karet Jamblang Kabupaten Cirebon

Dalam poligon terikat sempurna, salah penutup sudut :


fa =

-(n 180 )-(akhir-awal)

Kesalahan dari penutup sudut tersebut tidak boleh melebihi 10n.

Penentuan salah penutup absis dan ordinat :


Penentuan salah penutup absis dan ordinat sebagai berikut :
fx = d.sin
fy = d.cos
dimana :
fx

= salah penutup absis

fy

= salah penutup ordinat

d = jumlah jarak
Dalam poligon terikat sempurna :
fx = d.sin - ( xakhir - xawal )
fy = d.cos - ( yakhir - yawal )

AB

AC

Gambar 3.5 Pengukuran sudut jurusan

Pengukuran Poligon Cabang


Ketentuan-ketentuan yang harus dipenuhi adalah sebagai berikut:

Poligon cabang harus dimulai dan diakhiri pada poligon utama.

PT. PURNATAMA KINDOTEKNIK

III-14

LAPORAN PENDAHULUAN

Perencanaan Detail Bendung Karet Jamblang Kabupaten Cirebon

Sisi-sisi poligon sama panjang.

Semua Bench Mark yang ada maupun yang baru dilalui poligon.

Poligon cabang terbagi atas seksi-seksi dengan panjang maksimum tiap


seksi adalah 2,5 km.

Pengukuran sudut cabang dilakukan dalam 1 (satu) seri dengan


ketelitian 20 (satu bacaan sudut).

Kesalahan penutup sudut maksimum 20N, dimana N adalah banyak


titik poligon cabang.

Ketelitian linier poligon cabang 1:5.000.

Pembacaan sudut jurusan poligon dilakukan dalam posisi teropong biasa


(B) dan luar biasa (LB) dengan spesifikasi teknis sebagai berikut :

Jarak antara titik-titik poligon adalah 100 m.

Alat ukur sudut yang digunakan Theodolite T2 Wild.

Alat ukur jarak yang digunakan pita ukur 50 meter.

Jumlah seri pengukuran sudut 4 seri (B1, B2, LB1, LB2).

Karena pengukuran poligon dilakukan tertutup (loop) maka hasil


ukuran sudut dan jarak harus memenuhi syarat geometris sebagai
berikut :
-

Jumlah sudut (L) (n+2) x 180o (rumus sudut luar)

Jumlah X (X)

Jumlah Y (Y)

Selisih sudut antara dua pembacaan 5 (lima detik).

Ketelitian jarak linier (KI) ditentukan dengan rumus berikut.


2

KI

fx fy

1 : 5.000

dimana : fx = jumlah X dan fy = jumlah Y


Perhitungan terhadap data pengukuran kerangka dasar horisontal dilakukan
dalam bentuk spreadsheet sehingga koreksi perhitungan dapat dilakukan
dengan tepat dan merata. Hasil perhitungan tersebut diplot dalam bentuk
gambar grafik poligon pengukuran.

PT. PURNATAMA KINDOTEKNIK

III-15

LAPORAN PENDAHULUAN

E.

Perencanaan Detail Bendung Karet Jamblang Kabupaten Cirebon

Pengukuran Kerangka Dasar Vertikal

Kerangka dasar vertikal diperoleh dengan melakukan pengukuran sipat datar


pada titik-titik jalur poligon. Jalur pengukuran dilakukan tertutup (loop), yaitu
pengukuran dimulai dan diakhiri pada titik yang sama. Pengukuran beda
tinggi dilakukan double stand dan pergi pulang. Seluruh ketinggian di traverse
net (titik-titik kerangka pengukuran) telah diikatkan terhadap BM.
Perhitungan tinggi menggunakan metoda beda tinggi (sifat datar) yaitu
dilakukan dengan menghitung beda tinggi per seksi.
Ukuran waterpass dilakukan pergi pulang dalam setiap seksi dan benang
dibaca lengkap (BA - BT - BB). Pengukuran pergi pulang dilakukan dalam satu
hari, untuk menghindari kesalahan akibat refleksi
Pengukuran dilakukan dalam bentuk loop (kring tertutup) yang dibagi
beberapa seksi.
Dalam ukuran pergi pulang didapat :
Beda tinggi pergi

= H1

Beda tinggi pulang = H2


Jadi beda tinggi pada ukuran pergi pulang didapat:

(H1 H 2)
2

Jarak pergi, didapat dari jumlah jarak belakang ditambah jarak muka,
demikian pula jarak pulang. Salah penutup yang diizinkan : 10D (jarak rata2
dalam km)
Spesifikasi Teknis pengukuran waterpass adalah sebagai berikut :

Pengukuran sifat waterpass dilakukan setelah Bench Mark terpasang.

Alat yang digunakan adalah alat ukur sifat datar Autometic Level Ni.2.

Bidikan rambu berada diantara 0,5 m dan 2,75 m untuk rambu dengan
panjang 3m.

Tiap seksi dibagi menjadi slag yang genap.

Setiap pindah slag rambu muka menjadi rambu belakang dan rambu
belakang menjadi rambu muka.

Pengukuran dilakukan double stand pergi pulang pembacaan rambu


lengkap Benang Atas (BA), Benang Tengah (BT), dan Benang Bawah (BB)
dan memenuhi :

PT. PURNATAMA KINDOTEKNIK

III-16

LAPORAN PENDAHULUAN

Perencanaan Detail Bendung Karet Jamblang Kabupaten Cirebon

2BT = BA + BB

Selisih pembacaan stand 1 dengan stand 2 lebih kecil atau sama dengan 2
mm.

Jarak rambu ke alat maksimum 50 m.

Setiap awal dan akhir pengukuran dilakukan pengecekan garis bidik.

Toleransi salah penutup beda tinggi (T) ditentukan dengan rumus berikut:
10D, dimana D adalah jarak antara 2 titik kerangka dasar vertikal dalam
satuan kilometer

Pengolahan data hasil pengukuran lapangan terhadap kerangka dasar vertikal


menggunakan
pengolahan

spreadsheet

sebagaimana

kerangka

horisontalnya.

Hasil

tersebut mendapatkan data ketinggian relatif pada titik-titik

patok terhadap Bench Mark acuan.

F.

Pengukuran Situasi Detail

Garis kontur untuk masing-masing ketinggian dapat ditentukan dengan cara


interpolasi.
Secara umum, pengukuran situasi memenuhi persyaratan sebagai berikut:

Metode yang digunakan adalah methode tachymetri dengan membuat jalur


ray, dimana setiap ray terikat pada titik-titik poligon sehingga membentuk
jalur poligon dan waterpass terikat sempurna.

Pembacaan detail dilakukan menyebar ke seluruh areal yang dipetakan


dengan kerapatan disesuaikan dengan skala peta yang dibuat. Gundukan
tanah, batu-batu besar yang mencolok serta garis pantai diukur dengan
baik. Juga bangunan-bangunan yang penting dan berkaitan dengan
pekerjaan desain telah diambil posisinya.

Spesifikasi teknis pengukuran situasi detail yang akan dilaksanakan sesuai


dengan KAK adalah:

Alat yang digunakan adalah theodolit T0.

Metode yang digunakan adalah poligon ray.

Jarak antara dua potongan melintang atau 2 ray kurang lebih 50 m


pada bagian lurus dan 25 m pada bagian/ tikungan dan pada tiap 25 m
untuk 1 titik detail sepanjang jarak ray.

PT. PURNATAMA KINDOTEKNIK

III-17

LAPORAN PENDAHULUAN

Perencanaan Detail Bendung Karet Jamblang Kabupaten Cirebon

Ketelitian poligon untuk sudut adalah 20n, dimana n adalah banyaknya


titik sudut poligon ray.

Pengukuran sudut poligon ray dilakukan dalam 1 seri.

Ketelitian tinggi poligon ray 10D, dimana D adalah panjang poligon ray
dalam km.

Ketelitian linier poligon ray 1:1.000.

Kerapatan

titik

detial

di

lapangan

sedemikian

rupa

sehingga

penggambaran tampakan di permukaan bumi dapat sesuai dengan di


lapangan.

Pengukuran situasi dilebihkan sebesar 250 m dari batas yang


ditentukan.

Pengukuran di sekitar sungai dilakukan dengan selengkap mungkin


dengan memasukkan elevasi as, tepi dan lebar sungai.

Perhitungan situasi sungai dilaksanakan memakai metode tachymetri


dengan cara mengukur besar sudut dari poligon (titik pengamatan
situasi) ke arah titik rinci yang diperlukan terhadap arah titik poligon
terdekat lainnya, dan juga mengukur jarak optis dari titik pengamatan
situasi.

Ketentuan pengukuran situasi bangunan utama dilakukan sebagai berikut:

jarak antar ray 25 m dan tiap-tiap 15 m satu titik detail sepanjang


ray.

Apabila situasi bendung (seluas 50 ha) masih belum mencakup yang


ditentukan atau elevasi yang diminta, maka pengukurannya dilanjutkan
sampai batas topografi yang diminta.

Dengan cara ini diperoleh data-data sebagai berikut:

Azimuth magnetis.

Pembacaan benang diafragma (atas, tengah, bawah).

Sudut zenith atau sudut miring.

Tinggi alat ukur.

Berdasarkan data yang diperoleh selanjutnya melalui proses hitungan,


diperoleh Jarak datar dan beda tinggi antara dua titik yang telah
diketahui koordinatnya (X,Y,Z).

PT. PURNATAMA KINDOTEKNIK

III-18

LAPORAN PENDAHULUAN

Perencanaan Detail Bendung Karet Jamblang Kabupaten Cirebon

Untuk menentukan tinggi titik B dari titik A yang telah diketahui koordinat
(X,Y,Z), digunakan rumus sebagai berikut :
TB TA H

Untuk menghitung jarak datar adalah tachymetri dengan rumus:


1

H 100 BA BB Sin 2 BT
2

Dd

= DO.Cos2

Dd

= 100(Ba-Bb)Cos2

dimana:
TA = Titik tinggi A yang telah diketahui
TB = Titik tinggi B yang akan ditentukan
H = Beda tinggi antara titik A dan B
BA = Bacaan benang atas
BB = Bacaan benang bawah
BT = Bacaan benang tengah
TA = Tinggi alat
Do = Jarak optis
= sudut vertikal
Mengingat

banyaknya

titik-titik

detail

yang

diukur,

serta

terbatasnya

kemampuan jarak yang dapat diukur dengan alat tersebut, maka diperlukan
titik-titik bantu yang membentuk jaringan poligon kompas terikat sempurna.
Sebagai konsekuensinya pada jalur poligon kompas akan terjadi perbedaan
arah orientasi utara magnetis dengan arah orientasi utara peta sehingga
sebelum dilakukan hitungan, data azimuth magnetis diberi koreksi Boussole
supaya menjadi azimuth geografis.
Hubungan matematik koreksi boussole (C) adalah :
C = g - m
dimana: g = Azimuth Geografis
m = Azimuth Magnetis
Pada pelaksanaannya kerapatan titik detail sangat tergantung pada skala peta
yang dibuat, selain itu untuk keadaan tanah yang mempunyai perbedaan
tinggi yang ekstrim dilakukan pengukuran lebih rapat. Hasil dari pengukuran
berupa

data

ray

dari

masing-masing

PT. PURNATAMA KINDOTEKNIK

ruas

dalam

jalur

poligon

yang

III-19

LAPORAN PENDAHULUAN

Perencanaan Detail Bendung Karet Jamblang Kabupaten Cirebon

menyajikan ketinggian titik-titik tanah yang dipilih dan posisi bangunan yang
dianggap penting.
Hasil perhitungan koordinat titik dalam tiap ray lalu diikatkan pada masingmasing patoknya sehingga didapatkan posisinya terhadap bidang referensi.
Secara jelas titik-titik ini dapat dilihat pada gambar topografi yang memiliki
skala rinci.

G.

Perhitungan dan Penggambaran Draft Peta

Perhitungan

data

ukur

dilaksanakan

bersamaan

dengan

pelaksanaan

pengukuran, dengan maksud untuk memudahkan kontrol apabila ditemui


kegagalan/kesalahan pengukuran. Setiap hasil pengukuran dan perhitungan
buku ukur akan diajukan kepada Direksi atau Pengawas lapangan untuk
mendapat persetujuan agar dapat segera dilakukan penggambaran draft di
lapangan.
3.4.4

Survey Hidrologi dan Hidrometri

Survey Hidrologi dan Hidrometri yang akan dilaksanakan meliputi:

Pengukuran penampang melintang sungai pada setiap lokasi pengukuran


muka air yang diukur tiap 1 km.

Pengamatan karakteristik sungai (antara lain morfologi, sedimentasi,


keasaman).

Pengambilan contoh air untuk dianalisa di laboratorium.

Pengukuran sifat datar (levelling) untuk mengikat peilschaal terhadap BM.

Data luas daerah tangkapan yang tercakup dalam peta topografi dengan
skala yang memadai.

Pengumpulan data sekunder hidrologi akan dilaksanakan meliputi:

Pengumpulan data hujan.

Pengumpulan data klimatologi terbaru selama 5 tahun dari stasiun iklim


terdekat.

Pengumpulan data informasi banjir (tinggi, durasi dan luas genangan)


dengan cara mewawancarai warga setempat dan memperhatikan bekasbekas tanda banjir di pohon, rumah dan sungai.

PT. PURNATAMA KINDOTEKNIK

III-20

LAPORAN PENDAHULUAN

Perencanaan Detail Bendung Karet Jamblang Kabupaten Cirebon

Luas daerah tangkapan air hujan (catchment area) diukur dari peta topografi
skala 1:25.000 atau yang lebih besar. Data curah hujan diambil dari stasiun
pengukuran yang termasuk di dalam catchment area atau minimal stasiun
terdekat dengan lokasi jika data yang pertama tidak tersedia.
Data karakteristik aliran di lapangan dapat diketahui dengan mengadakan
survey hidrometri yang mencakup pengukuran kecepatan aliran, penampang
aliran, fluktuasi muka air dan penelitian laboratorium terhadap sifat-sifat
kandungan fisik dan kimia. Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk mengetahui
potensi-potensi yang berpengaruh dalam upaya pembuatan jaringan irigasi
dan drainase, mengoptimalkan jaringan irigasi dan drainase, dan menghindari
terjadinya genangan terus menerus dalam jangka waktu lama.
Rencana kerja yang akan dilaksanakan dalam survey hidrometri ini dibagi
dalam beberapa tinjauan sesuai dengan lingkup kegiatan dan lokasi kerja:

A.

Pengukuran Karakteristik dan Morfologi Sungai dan Saluran

Pengukuran morfologi karakteristik dan morfologi sungai dilakukan pada


sungai yang ada dan juga pada saluran rencana atau saluran yang sudah ada.
Untuk sungai minimum diukur tiap 1 km. Dari pengukuran morfologi sungai
akan diperoleh penampang melintang sungai, yang selanjutnya akan menjadi
dasar perhitungan debit.
Pengukuran morfologi sungai menggunakan alat ukur optis (T0) bertepatan
dengan lokasi pengukuran fluktuasi muka air. Titik-titik rencana pengukuran
adalah lokasi yang mempunyai perbedaan elevasi yang menyolok terhadap
lokasi sekelilingnya. Luas penampang aliran yang telah diperoleh jika
dikorelasikan dengan kecepatan aliran akan memberikan debit pada alur yang
bersangkutan.
Berikut ini disajikan sketsa survey pengukuran penampang melintang sungai
(Gambar 3.6, 3.7 dan 3.8)

PT. PURNATAMA KINDOTEKNIK

III-21

LAPORAN PENDAHULUAN

Perencanaan Detail Bendung Karet Jamblang Kabupaten Cirebon

Rambu
Palem /
Peilschaal

Elevasi
Utama

Muka Air
Sungai
h3

h2

h1

Benchmark

.
Gambar 3.6 Sketsa survey pengukuran penampang sungai dangkal.

Gambar 3.7 Pengukuran penampang sungai dangkal.

PT. PURNATAMA KINDOTEKNIK

III-22

LAPORAN PENDAHULUAN

Perencanaan Detail Bendung Karet Jamblang Kabupaten Cirebon

Rambu

Palem /
Peilschaal
x3

x2

x1

BT

Elevasi
Utama

Perahu
Muka Air
Sungai

Bencmark

h
d3

d2

d1

0000

Bandul

Gambar 3.8

B.

Sketsa survey pengukuran penampang sungai dengan


menggunakan bandul (sungai dalam).

Pengukuran Kecepatan Arus

Tujuan pengukuran arus adalah untuk mendapatkan besaran kecepatan dan


arah arus yang berguna dalam penentuan sifat dinamika perairan lokal.
Metode pelaksanaan pengukuran ini dijelaskan sebagai berikut:

Pengukuran arus dilakukan pada satu lokasi dimana arus mempunyai


pengaruh penting. Penempatan titik pengamatan ini disesuaikan dengan
kondisi oceanography lokal dan ditentukan hasil studi pengamatan/survey
pendahuluan (reconnaissance survey). Yang dilakukan adalah: pengukuran
distribusi kecepatan, dalam hal ini pengukuran dilakukan di beberapa
kedalaman dalam satu penampang.

Berdasarkan teori yang ada, kecepatan arus rata-rata pada suatu


penampang yang besar adalah :
V = 0.25 ( V0.2d + 2 V0.6d + V0.8d)
dimana :

V 0.2d= arus pada kedalaman 0.2d


d

= kedalaman lokasi pengamatan arus.

Pengamatan kecepatan arus dilakukan pada kedalaman 0.2d, 0.6d, 0.8d.


Disamping mengetahui besar kecepatan arus, arah arus juga diamati.

PT. PURNATAMA KINDOTEKNIK

III-23

LAPORAN PENDAHULUAN

Perencanaan Detail Bendung Karet Jamblang Kabupaten Cirebon

Gambar 3.9
Pada

lokasi

melintang

pengukuran

sungai.

Pengukuran kecepatan arus.

arus

Pengukuran

dilakukan

pula

penampang

pengukuran

melintang

penampang

sungai

dilakukan

dengan interval jarak 200 meter.

C.

Pengukuran Transpor Sedimen dan Sedimen Dasar

Pengukuran sedimen dilakukan dengan mengambil sampel tanah yang berada


di lapisan dasar sungai dan sampel tanah yang mengambang di sungai.
Sampel kedua tanah tersebut disimpan dalam botol/tabung dan plastik yang
bersih sebanyak 10 tabung yang selanjutnya diberi label sesuai dengan nama
sampel dan lokasi pengambilan.
Contoh air sungai dan sedimen diambil pada lokasi peilschaal, sekali pada
saat pasang tertinggi dan sekali pada pasang terendah, selanjutnya dianalisa
di laboratorium sesuai dengan kepentingannya.

Gambar 3.10

PT. PURNATAMA KINDOTEKNIK

Pengambilan sampel air.

III-24

LAPORAN PENDAHULUAN

D.

Perencanaan Detail Bendung Karet Jamblang Kabupaten Cirebon

Pengamatan Elevasi Muka Air Sungai/ Laut

Pengamatan elevasi muka air sungai dilaksanakan pada saat pelaksanaan


pengukuran kecepatan arus dan penampang sungai. Pengamatan elevasi
muka air sungai dilaksanakan memakai peilschaal dengan interval skala 1 cm.
Hasil pengamatan ini diikatkan (levelling) ke patok pengukuran topografi
terdekat seperti Gambar 3.11 untuk mengetahui elevasi nol peilschaal
dengan menggunakan Zeiss Ni-2 Waterpass. Sehingga pengukuran topografi
dan muka air sungai mempunyai datum (bidang referensi) yang sama.
3.4.5

Penyelidikan Geologi Teknik Mekanika Tanah

Survey ini bertujuan untuk mengetahui sifat-sifat fisik tanah yang akan
dipakai pada rencana tanggul saluran, bangunan-bangunan air, pondasi
jembatan, serta bangunan pelengkap lainnya yang diperlukan.
Dari hasil survey ini diharapkan akan didapat parameter-parameter:

Daya dukung tanah, yang diperlukan dalam disain pondasi dan


tanggul saluran.

Kestabilan lereng, diperlukan dalam perhitungan tanggul saluran.

Penurunan

tanah

(settlement),

dalam

perhitungan

tanggul

dan

bangunan.

Permeabilitas tanah dalam perhitungan bangunan, rembesan, dan


sebagainya.

BT. 2

BT. 1

T.P

Nol Peilscaal

Gambar 3.11

PT. PURNATAMA KINDOTEKNIK

Pengikatan (levelling) peilschaal.

III-25

LAPORAN PENDAHULUAN

Perencanaan Detail Bendung Karet Jamblang Kabupaten Cirebon

Selain yang tersebut di atas, setelah dianalisa di laboratorium hasil survey


dapat memberikan saran atau usulan terhadap metode yang digunakan dalam
disain rencana.
Kegiatan survey mekanika tanah diuraikan sebagai berikut:

Pemboran (Soil Boring)


Pemboran dilaksanakan dengan menggunakan adalah mata bor iwan biasa
(Iwan Auger) berdiameter 10 cm, di lokasi yang ditunjuk oleh Direksi. Alat
yang bor diputar sampai kedalaman 15 meter atau sampai pada lapisan
keras yang tidak dapat ditembus. Hasilnya adalah sampel tanah tidak
terganggu (undisturbed sample). Setiap perubahan lapisan tanah diambil
satu sampel.

Gambar 3.12

Peralatan pengambilan sampel : Thin Wall Tube Sampler.

Gambar 3.13

Penyelidikan tanah dengan bor.

Tes Sondir (Penetration Test)

PT. PURNATAMA KINDOTEKNIK

III-26

LAPORAN PENDAHULUAN

Perencanaan Detail Bendung Karet Jamblang Kabupaten Cirebon

Lokasi tes ditentukan bersama-sama dengan Direksi pekerjaan pada saat


survey dilaksanakan. Alat yang digunakan adalah penetrometer tipe
sedang (hand penetrometer) yang berkapasitas tekanan ujung 100 kg/cm 2
atau dapat menembus sampai kedalaman 15 meter. Pembacaan tekanan
dilakukan setiap kedalaman 20 cm.

Gambar 3.14

Peralatan sondir : Dutch Penetration Test.

Gambar 3.15

PT. PURNATAMA KINDOTEKNIK

Tes sondir (penetration test).

III-27

LAPORAN PENDAHULUAN

Perencanaan Detail Bendung Karet Jamblang Kabupaten Cirebon

Test Pit

Tujuan pegujian ini adalah untuk mengetahui karakteristik tanah yang


akan digunakan sebagai timbunan. Lokasi titik pengamatan ditentukan
atas persetujuan Direksi pekerjaan. Ukuran lubang uji (Test Pit) adalah
(1.25 x 1.25) m2 pada kedalaman maksimum 5 m. Pada keadaan muka
air tanah dangkal, Test Pit dilakukan dengan pemboran sampai kedalaman
5 meter. Pada setiap lubang uji diambil contoh tanah terganggu (disturbed
soil sample) di setiap perubahan lapisan seberat 20 kg untuk diuji sifatsifat pemadatannya (compaction test) di Laboratorium.

Gambar 3.16
3.5

PERHITUNGAN DAN PERENCANAAN DETAIL

3.5.1
Data

Penyelidikan tanah dengan membuat lubang uji (test pit).

Analisis Data Topografi


hasil

pengukuran

survei

topografi

direalisasikan

dalam

bentuk

gambar/peta teknis. Penggambaran akhir dilaksanakan setelah mendapat


persetujuan dari Direksi, setelah pekerjaan lapangan disetujui oleh Direksi
pekerjaan, terutama berkaitan dengan perhitungan-perhitungan data ukur
dan hasil asistensi peta draft situasi hasil lapangan.

A.

Perhitungan

Pekerjaan

perhitungan

sementara

diselesaikan

di

lapangan

sehingga

kesalahan dapat segera diulang untuk diperbaiki, selain itu setiap perhitungan

PT. PURNATAMA KINDOTEKNIK

III-28

LAPORAN PENDAHULUAN

Perencanaan Detail Bendung Karet Jamblang Kabupaten Cirebon

disertai dengan sketsa penggambaran. Sketsa penggambaran mencantumkan


hal-hal yang diperlukan, diantaranya :

Salah satu penutup sudut poligon dan jumlah titik.

Salah linier poligon dan harga toleransi.

Salah penutup sifat datar dan harga toleransi.

Jumlah jarak.

Stasiun pengamatan matahari.

Ketentuan perhitungan meliputi:

Perhitungan poligon menggunakan metode Bowditch, Deil atau kuadrat


terkecil.

Perhitungan dilakukan dalam proyeksi yang sudah ada sesuai dengan data
referensi pada awal pengukuran.

B.

Ketelitian Penggambaran

Spesifikasi

teknis

yang

harus

dipenuhi

dalam

memenuhi

ketelitian

penggambaran adalah:

Tanda silang untuk grid koordinat memiliki kesalahan < 0,3 mm diukur
dari titik kontrol horisontal terdekat.

Titik kontrol posisi horisontal memiliki kesalahan < 0,6 mm diukur dari
garis grid.

95 % dari bangunan memiliki kesalahan < 0,6 mm diukur dari garis grid
atau titik kontrol horisontal. Sisanya 5 % memiliki kesalahan < 1,2 mm

90 % dari penarikan garis kontur tidak menyimpang dari kali interval


yang bersangkutan.

Pada sambungan lembar peta satu dengan yang lain, garis kontur,
bangunan, saluran, sungai harus tepat tersambung. Batas pergeseran
yang diperbolehkan < 0,3 mm.

C.

Penggambaran

Kaidah penggambaran dilaksanakan sesuai dengan petunjuk dari Direksi


pekerjaan. Peta/ gambar yang akan disajikan dari pekerjaan topografi adalah:

Gambar konsep (draft) dibuat di atas kertas milimeter (grafik) yang telah
disetujui Direksi.

PT. PURNATAMA KINDOTEKNIK

III-29

LAPORAN PENDAHULUAN

Perencanaan Detail Bendung Karet Jamblang Kabupaten Cirebon

Peta situasi dan trase saluran dibuat pada skala 1:5.000 dengan interval
kontur 2,50 untuk daerah datar dan 5 m untuk daerah berbukit.

Titik-titik poligon utama, poligon cabang dan poligon ray digambar dengan
sistem koordinat.

Semua BM dan titik pengikat yang ada di lapangan digambar dengan


legenda

yang

telah

ditentukan

dan

dilengkap

dengan

elevasi

dan

koordinat.

Trase dan penampang saluran dibuat secara memanjang dalam skala


panjang 1:1000 atau 1:2000 dan skala tegak 1:100 atau 1:200. Secara
melintang dalam skala panjang 1:100 dan skala tegak 1:100.

Rencana tapak bangunan digambar dengan skala 1:200 atau 1:100 atau
1:50 (disesuaikan dengan kondisi bangunan).

Garis silang grid dibuat dengan jarak 10 cm.

Legenda gambar mengikuti aturan yang ditetapkan oleh Direksi pekerjaan.

Gambar situasi dibuat di atas kodak trace double face dan gambar lainnya
dibuat di atas kalkir 90-95 gram dan cetak biru.

Garis sambungan (overlap) peta sebesar 5 cm.

Peta ikhtisar mencantumkan nama kampung, nama sungai, BM, jalan,


jembatan, rencana jaringan dan bangunan.

3.5.2

A.

Analisis Geologi/ Mekanika Tanah

Analisa Data di Lapangan

Analisa data lapangan adalah analisa mengenai hasil pemboran di tanah yang
dilangsungkan di lapangan pada saat pengukuran dilaksanakan. Analisa ini
dilakukan

untuk

mengetahui

lapisan-lapisan

tanah

sampai

kedalaman

maksimum. Setiap perubahan lapisan tanah dibuatkan deskripsinya, yang


mencakup jenis, warna, bahan induk (organik atau lainnya), kekuatan
butiran, dan muka air tanah.
Sedangkan

dari

hasil

penyelidikan

tanah

dengan

menggunakan

cone

penetration test (CPT/sondir), diperoleh nilai hambatan tanah (soil resistance)


yang terdiri dari hambatan konus dan hambatan lekat.

PT. PURNATAMA KINDOTEKNIK

III-30

LAPORAN PENDAHULUAN

B.

Perencanaan Detail Bendung Karet Jamblang Kabupaten Cirebon

Penyelidikan di Laboratorium

Semua penyelidikan tanah yang dilakukan di laboratorium mengacu kepada


prosedur baku dari American Society for Testing Materials (ASTM) dengan
beberapa modifikasi yang disesuaikan dengan kondisi lapangan. Penyelidikan
laboratorium yang akan dilaksanakan adalah :
1. Contoh Tanah Tidak Terganggu
Sifat fisik tanah yang mencakup:

Berat Jenis Tanah (Specific Gravity)

Berat Isi Tanah (Unit Weight)

Angka pori

Porositas

Atterberg Limits (Consistency)

Gradasi Butiran (Grain Size Analysis)

Permeabilitas

Sifat mekanis tanah:

Konsolidasi

Pengujian Kompresi 3 Sumbu (Triaxial Compression Test) Jenis


Consolidated Undrained (CU)

2. Contoh Tanah Terganggu (Disturbed Soil Sample)


Pengujian sifat fisik tanah mencakup:

Berat Jenis Tanah (Specific Gravity)

Atterberg Limits (Consistency)

Gradasi Butiran (Grain-Size Distribution)

Pengujian sifat mekanis tanah:

Uji Pemadatan (Compaction Test)

Uji Konsolidasi (Consolidation Test)

Uji Gaya Geser Langsung (Direct Shear Test)

Semua penyelidikan di laboratorium dilakukan menurut prosedur ASTM


dengan beberapa modifikasi yang disesuaikan dengan kondisi di lapangan.
Penyelidikan terhadap contoh/ sampel tanah yang diambil dari kegiatan
boring adalah sebagai berikut.

PT. PURNATAMA KINDOTEKNIK

III-31

LAPORAN PENDAHULUAN

Perencanaan Detail Bendung Karet Jamblang Kabupaten Cirebon

Penyelidikan sifat mekanis tanah (engineering properties), seperti uji


triaxial, uji konsolidasi, uji permeabilitas.
Penyelidikan sifat fisik tanah (index properties), seperti uji berat jenis
tanah (spesific gravity), berat volume tanah (volume unit weight),
atterberg limits, ukuran butiran dan permeabilitas.
Prosedur pengujian dari masing-masing kegiatan di atas adalah sebagai
berikut:
Tabel 3.4

Prosedur Pengujian Survey Mekanika Tanah

Pengujian
Pengujian Alat Sondir
Pengeboran
Sampling Dinding Tipis
Berat Jenis
Kadar Air
Berat Isi
Kuat Tekan Bebas
Kuat Geser Langsung
Konsolidasi
Grain Sieve Analysis
Atterberg Limit - Plastic Limit
(PL)
Atterberg Limit - Liquid Limit
(LL)
Klasifikasi Tanah

Metode
AASHTO T 225-83
ASTM D-1587
AASHTO T 100-90
AASHTO T 265-84
AASHTO T 236-84
AASHTO T 208-90
AASHTO T 236-84
AASHTO T 216-83
AASHTO T 26-74
AASHTO T 89-90

SNI
SNI
SNI
SNI
SNI
SNI
SNI
SNI
SNI
SNI
SNI

03-2827-1992
03-3969-1996
03-4148-1996
03-1964-1990
03-1965-1990
03-3420-1994
03-3638-1994
03-3420-1994
03-2812-1992
03-1968-1990
03-1966-1990

AASHTO T 89-90

SNI 03-1967-1990

USCS/ASTM
(D2487)

3.5.3 Analisis Hidrologi/ Hidrometri

A.

Analisis Curah Hujan


Inventarisasi Data Hujan

Data-data curah hujan yang diperoleh pada suatu lokasi studi kadang kala
tidak lengkap, berasal lebih dari satu stasiun pengamat hujan dan bahkan
tidak ada sama sekali. Untuk itu perlu dilakukan analisa agar data yang
digunakan mewakili karakteristik daerah proyek yang bersangkutan.
Uji Konsistensi Data Hujan
Pada dasarnya metode pengujian tersebut merupakan pembandingan
data stasiun yang bersangkutan dengan data stasiun lain di sekitarnya.
Hal ini dilakukan dengan asumsi perubahan meteorologi tidak akan

PT. PURNATAMA KINDOTEKNIK

III-32

LAPORAN PENDAHULUAN

Perencanaan Detail Bendung Karet Jamblang Kabupaten Cirebon

menyebabkan perubahan kemiringan garis hubungan antara data stasiun


tersebut dengan data stasiun disekitarnya, karena stasiun-stasiun
lainnya pun akan ikut terpengaruh kondisi yang sama. Konsistensi datadata hujan bagi masing-masing stasiun dasar (stasiun yang akan
digunakan

untuk menguji) harus diuji

terlebih

dahulu

dan

yang

menunjukkan catatan yang tak konsisten harus dibuang sebelum


dipergunakan. Jika tidak ada stasiun yang bisa dijadikan stasiun dasar,
atau tidak terdapat catatan historis mengenai perubahan data, maka
analisa awal terhadap data adalah menghapus data-data yang dianggap
meragukan.
Memperkirakan Data Curah Hujan yang Hilang
Untuk

data-data

yang

hilang

kontinuitas data maka perlu

atau

tidak

tercatat,

agar

terjamin

ditetapkan data curah hujan yang hilang.

Data tersebut akan dicari dengan metode perbandingan normal yang


memberi rumus sebagai berikut.
1
Px
.
n

Rx

. ri
Ri

n1

dimana :
Px

: data hujan yang hilang,

Rx : curah hujan tahunan rata-rata pada stasiun dimana data yang


hilang dihitung,
ri

: curah hujan harian pada stasiun ke-i pada tahun yang hilang,

Ri

: curah hujan tahunan rata-rata pada stasiun ke-i, dan

: banyaknya stasiun yang datanya tidak hilang pada tahun tersebut.

Hujan Wilayah
Curah hujan yang diperlukan untuk penyusunan rancangan pemanfaatan
air adalah curah hujan rata-rata di seluruh daerah yang bersangkutan.
Stasiun-stasiun pengamat hujan yang tersebar pada suatu daerah aliran
dapat dianggap sebagai titik (point). Tujuan mencari hujan rata-rata
adalah mengubah hujan titik (point rainfall) menjadi hujan wilayah
(regional rainfall) atau mencari suatu nilai yang dapat mewakili pada
suatu daerah aliran, yaitu:

Cara Rata-rata Aljabar

PT. PURNATAMA KINDOTEKNIK

III-33

LAPORAN PENDAHULUAN

Perencanaan Detail Bendung Karet Jamblang Kabupaten Cirebon

Cara rata-rata aljabar dinyatakan dalam formula di bawah ini.

R1 R 2 R 3 ....................... R N
N

dimana:

Ri

= besarnya curah hujan (mm), dan

= jumlah pos pengamatan.

Cara Poligon Thiessen


Jika titik-titik di daerah pengamatan di dalam daerah itu tidak tersebar
merata, maka cara perhitungan curah hujan dilakukan dengan
memperhitungkan daerah pengaruh tiap pengamatan.

A1R1 A2R 2 A3R 4 ............................. ANR N


A1 A2 A3 .................... AN

dimana: Ai adalah luas pengaruh dari stasiun i.


Gambar 3.17 mendeskripsikan penentuan curah hujan representatif
dengan cara Poligon Thiessen.

A2
R

Gambar 3.17

Penentuan curah hujan representatif cara Poligon


Thiessen.

Cara Isohyet
Peta Isohyet (tempat kedudukan yang mempunyai tinggi hujan sama)
digambar pada peta tofografi dengan perbedaan 10 mm sampai 20
mm berdasarkan data curah hujan pada titik-titik pengamatan yang
dimaksud. Luas bagian daerah antara 2 garis isohyet yang berdekatan

PT. PURNATAMA KINDOTEKNIK

III-34

LAPORAN PENDAHULUAN

Perencanaan Detail Bendung Karet Jamblang Kabupaten Cirebon

diukur dengan planimetri. Curah hujan daerah itu dapat dihitung


menurut persamaan sebagai berikut:

A1R1 A2R 2 A3R 4 ............................. ANR N


A1 A2 A3 .................... AN

dimana:
R

= Curah hujan rata-rata Regional

Ri

= Curah hujan rata-rata pada bagian-bagian Ai

Ai

= Luas bagian antara garis isohyet

Cara ini adalah cara rasional yang terbaik jika garis-garis isohyet
dapat digambar secara teliti.

Maksimum Rencana

Beban curah hujan maksimum rencana yang digunakan adalah curah hujan
maksimum 1-harian, 2-harian, 3-harian, 4-harian, 5-harian dan 6-harian
berturut-turut dengan periode ulang 1, 2, 5, 10, 20, 50, 100, 200 dan 1000
tahun [R(n)t], dihitung dengan metode Gumbel berdasarkan data curah hujan
maksimum tahunan.
Persamaan dasar yang digunakan adalah sebagai berikut:
RT R KTr S X
SX
KTr

(R R i )

n 1
YTr Yn
Sn

dimana:
RT

= curah hujan maksimum dalam periode ulang T tahun,

= curah hujan rata-rata,

KTr

= faktor frekuensi,

SX

= standar deviasi,

= periode ulang,

Ri

= curah hujan tahun ke-i,

= jumlah data,

Yn

= reduced mean,

Sn

= reduced standard deviation, dan

PT. PURNATAMA KINDOTEKNIK

III-35

LAPORAN PENDAHULUAN

YTr

Perencanaan Detail Bendung Karet Jamblang Kabupaten Cirebon

= reduced variated

Dengan memasukkan data curah hujan yang ada ke dalam persamaan di


atas, maka akan diperoleh data curah hujan maksimum untuk periode ulang
yang dicari.

S1
A1

110 mm

100 mm

110 mm

S2

95 mm

100 mm90 mm
A2
S3

S4

A4

A3
95 mm

90 mm

Gambar 3.18 Penentuan curah hujan representatif cara Isohyet.

B.

Perhitungan Curah Hujan Maksimum

Berdasarkan data hidrologi yang berhasil dikumpulkan, dilakukan analisa


curah hujan maksimum yaitu analisa frekuensi untuk menghasilkan curah
hujan rencana dengan periode ulang 1, 5, 10, 15, 25, 50 dan 100 tahun.
Perhitungan curah hujan maksimum dilakukan dengan menggunakan Metode
Gumbel dan Metoda Hasper. Metoda perhitungan adalah sebagai berikut.
1. Metoda Gumbel
Perhitungan dengan metoda Gumbel didasarkan pada data curah hujan harian
maksimum. Persamaan yang dipergunakan adalah sebagai berikut:
RT = R + KT Sx
Sx =

(R R )
i

n 1

PT. PURNATAMA KINDOTEKNIK

III-36

LAPORAN PENDAHULUAN

KT =

Perencanaan Detail Bendung Karet Jamblang Kabupaten Cirebon

6
T
(0,5772 ln(ln(
)) atau KT = (YT - Yn) / Sn

T 1

Dimana :
RT

= curah hujan maksimum dalam perioda ulang T tahun,

= curah hujan rata-rata,

KT

= faktor frekuensi,

Sx

= standar deviasi,

= periode ulang,

Ri

= curah hujan tahunan ke-i,

= jumlah data,

Yn

= reduced mean,

Sn

= reduced standard deviation, dan

YT

= reduced variated.

Dengan memasukkan nilai-nilai tersebut, maka diperoleh nilai curah hujan


maksimum untuk beberapa periode ulang yang diperlukan.
2. Metoda Hasper
Perhitungan dengan metoda Hasper juga didasarkan pada data curah hujan
harian maksimum. Persamaan yang dipergunakan adalah sebagai berikut:
RT = R + Sx
Sx = R i terbesar - R
u
T = (n + 1) / m
dimana:
RT

= curah hujan maksimum dalam perioda ulang T tahun,

= curah hujan rata-rata,

= koefisien hasper,

= standar variabel,

Sx

= standar deviasi,

= periode ulang,

Ri

= curah hujan tahunan ke-i,

= banyaknya data,

= banyaknya data maksimum.


Tabel 3.5 Koefisien Hasper ()

PT. PURNATAMA KINDOTEKNIK

III-37

LAPORAN PENDAHULUAN

Perencanaan Detail Bendung Karet Jamblang Kabupaten Cirebon

Periode
Ulang (T)
1.05
2
5
10
15
25
50
100

Koefisien
Hasper ()
-1.15
-0.28
0.64
1.26
1.63
2.10
2.75
3.43

Dengan memasukkan data curah hujan yang ada ke dalam persamaan


tersebut di atas akan diperoleh data curah hujan masimum untuk periode
ulang yang dicari.

C.

Perhitungan Debit Banjir

Untuk memperkirakan debit banjir yang akan terjadi dapat dilakukan analisa
hidrologi dengan menggunakan metoda rasional dan metode hidrograf. Debit
banjir ini digunakan dalam simulasi perilaku hidrolik untuk mengetahui tinggi
muka air maksimum sungai atau saluran.
1. Metode Rasional
Perhitungan debit banjir dengan metode rasional yang akan dilakukan adalah
metoda Haspers, metoda Melchior, dan Weduwen. Untuk memperoleh debit
banjir dengan menggunakan pendekatan ini, perlu diketahui terlebih dahulu
hujan maksimum yang terjadi pada daerah yang ditinjau yang diperoleh dari
perhitungan curah hujan maksimum.
Dari masing-masing metoda perhitungan debit banjir tersebut terdapat
batasan-batasan, yaitu:
Metoda

Hasper

dapat

digunakan

untuk

luas

daerah

pengaliran

sungainya sembarang,
Metoda Melchior dapat digunakan untuk luas daerah pengaliran
sungainya lebih besar dari 100 km2, dan
Metoda Weduwen dapat digunakan untuk luas daerah pengaliran
sungainya lebih kecil dari 100 km2.
Dalam analisa debit banjir ini digunakan metoda Hasper dan Metoda Melchior.
a. Metoda Hasper
Persamaan yang digunakan dalam perhitungan debit banjir dengan
menggunakan metoda Hasper adalah sebagai berikut:
PT. PURNATAMA KINDOTEKNIK

III-38

LAPORAN PENDAHULUAN

Perencanaan Detail Bendung Karet Jamblang Kabupaten Cirebon

Debit Banjir (Q)


Q = f x x x q (m3/dtk)

Koefisien Runoff ()
Koefisien Runoff () dihitung dengan persamaan:
0.7
= 1 0,012 x f
1 0,075 x f 0.7

Koefisien Reduksi ()
Koefisien Reduksi () dihitung dengan persamaan:
1
T 3,7 + 10 -0.4xT f 3 / 4
1
x

12
T 2 15

Waktu Konsentrasi (T)


T = 0,1 x L0.8 x I-0.3

Hujan Maksimum (q)


Hujan maksimum tergantung dari durasi hujan.

Untuk T < 2 jam


rT =

T x R 24
T 1 0,0008 x (260 R 24 )(2 T) 2

dimana T dalam jam dan rT, R24 dalam mm.

Untuk 2 jam T 19 jam


rT =

T x R 24
T 1

dimana T dalam jam dan rT, R24 dalam mm.

Untuk 19 jam T 30 hari


rT = 0,707 x R24 x

T 1 dimana T dalam jam dan rT, R24 dalam

mm.
Hujan maksimum dihitung dengan rumus:
q=

rT
dimana T dalam jam dan q dalam m3/km2/dtk.
3,6 x T

b. Metoda Melchior
Persamaan yang digunakan dalam perhitungan debit banjir dengan
menggunakan metoda Melchior adalah sebagai berikut:
Q = x q x f x RT
200

PT. PURNATAMA KINDOTEKNIK

III-39

LAPORAN PENDAHULUAN

Perencanaan Detail Bendung Karet Jamblang Kabupaten Cirebon

Luas Ellips = nF =

1
4

ab

dimana:

= koefisien pengaliran yang tergantung dari vegetasi, kondisi


tanah, kemiringan dan iklim,

= luas daerah pengaliran,

= besar debit dalam m3/detik/km2 yang diperoleh dari grafik,

RT

= curah hujan maksimum untuk periode ulang tertentu,

200 = curah hujan standar yang ditetapkan oleh Melchior dalam


penelitian,
a

= sumbu panjang ellips, dan

= sumbu pendek ellips.

Tabel 3.6 Hubungan Antara Luas Ellips (nF) dan q (hujan harian)
nF
(km2)
0,14
0,72
1,40
7,20
14,00
29,00
72,00
108,00

q
(m3/dt/km2)
29,60
22,45
19,90
14,15
11,85
9,00
6,25
5.25

nF
(km2)
144,00
216,00
288,00
360,00
432,00
504,00
576,00
648,00

q
(m3/dt/km2)
4,75
4,00
3,60
3,30
3,05
2,85
2,65
2,45

nF
(km2)
720,00
1080,00
1440,00
2160,00
2880,00
4320,00
5760,00
7200,00

q
(m3/dt/km2)
2,30
1,85
1,55
1,20
1,00
0,70
0,54
0,48

2. Metode Hidrograf
Metode hidrograf yang digunakan adalah hidrograf SCS (Soil Conservation
Service). Salah satu metode hidrograf yang digunakan dalam memperkirakan
debit banjir adalah Hidrograf Satuan Sintetik. Untuk membuat hidrograf banjir
pada sungai-sungai yang tidak ada atau sedikit sekali dilakukan observasi
hidrograf banjirnya, maka perlu dicari karakteristik atau parameter daerah
pengaliran

tersebut

terlebih

dulu,

misalnya

waktu

konsentrasi

(t c),

kemiringan, panjang alur terpanjang (length of the longest channel), koefisien


limpasan (runoff coefficient) dan sebagainya. Dalam hal ini dapat digunakan
hidrograf-hidrograf

sintentik

dimana

parameter-parameternya

harus

disesuaikan terlebih dahulu dengan karakteristik daerah pengaliran yang


ditinjau.

PT. PURNATAMA KINDOTEKNIK

III-40

LAPORAN PENDAHULUAN

Perencanaan Detail Bendung Karet Jamblang Kabupaten Cirebon

Dalam perhitungan debit banjir dengan Metode Hidrograf tersebut digunakan


program SMADA (Wanielista, 1997). Perhitungan yang digunakan dalam
metode hidrograf ini adalah sebagai berikut:
a. Perhitungan Waktu Konsentrasi (tc)
Waktu

konsentrasi

(tc)

adalah

lamanya

waktu

perjalanan

yang

dibutuhkan sebuah partikel air untuk mencapai sebuah titik debit dalam
DPS. Dalam perhitungan waktu konsentrasi (tc) digunakan tiga buah
metode yaitu Metode FAA (Federal Aviation Agency, 1970), Metode SCS
(Soil Conservation Service, 1975), dan Metode Bransby Williams
(1922). Rumus yang digunakan untuk ketiga metode tersebut adalah
sebagai berikut:
Federal Aviation Agency Equation:

tc

1.8(1.1 C )L0.5
S 0.33

dimana:
C

= koefisien rasional,

= panjang maksimum aliran overland (dalam feet), dan

= kemiringan aliran overland (dalam %)

Soil Conservation Service Equation:

t c 1.67L0.8

(S '1) 0.7
1900w s

0 .5

dimana :
L

= panjang hidrolik daerah pengairan sungai (ft),

ws = slope daerah pengairan sungai rata-rata (nilai persen),


S' = penyimpanan daerah pengairan sungai potensial (in.), dan
= (1000/CN) - 10
CN = nomer kurva limpasan yang muncul sebagai fungsi karakteristik
daerah pengairan sungai seperti klasifikasi tanah dan jenis
tanaman penutup (tata guna lahan).
Curve Number (CN) yang digunakan untuk perhitungan debit banjir ini
bervariasi untuk setiap sub DPS. Untuk daerah urban atau perkotaan

PT. PURNATAMA KINDOTEKNIK

III-41

LAPORAN PENDAHULUAN

Perencanaan Detail Bendung Karet Jamblang Kabupaten Cirebon

digunakan CN 92, sedangkan untuk daerah hutan dan rawa digunakan


CN 62 72.
Bransby Williams Equation :
t c 21.3L

1
A S 0 .2
0 .1

dimana :
L

= panjang saluran (dalam miles)

= luas watershed (dalam miles2)

= kemiringan watershed rata-rata (dalam ft/ft)

b. Perhitungan Hidrograf Debit Banjir


Dalam perhitungan debit banjir dengan metode hidrograf digunakan
SCS Hydrograph. Debit puncak Q p diramalkan dengan mengikuti
formula empirik :
Qp

KAR
D 2 0.6t c

dimana:

3.5.4

Qp

= debit puncak,

= faktor penurunan puncak = 484 (untuk type SCS),

= luas drainase basin (mi2)

= hujan efektif (in.)

= durasi hujan efektif (jam)

tc

= waktu konsentrasi pada DPS (jam)


Analisis Ketersediaan Air

Kegiatan analisis ketersediaan air ditujukan untuk memperoleh informasi


mengenai potensi atau ketersediaan air irigasi dan air bersih di lokasi kajian.
Sebagai sumber air untuk bendung karet ini adalah air sungai.
Metode yang paling ideal untuk memperkirakan potensi air permukaan adalah
dengan melakukan kajian berdasarkan data catatan debit sungai yang
diperoleh dari hasil pengukuran langsung di titik yang ditinjau untuk durasi
pengukuran yang lama (tahunan). Namun hal ini sangat bergantung dari
intansi yang terkait, apakah sudah melaksanakan pengukuran debit air secara
kontinyu.

PT. PURNATAMA KINDOTEKNIK

III-42

LAPORAN PENDAHULUAN

Alternatif

lain

Perencanaan Detail Bendung Karet Jamblang Kabupaten Cirebon

adalah

melakukan

prediksi

kuantitas

berdasarkan

data

sekunder yang ada, dengan durasi yang lama. Data sekunder yang dimaksud
adalah data klimatologi. Salah satu metode untuk memperkirakan limpasan
(aliran permukaan / runoff) adalah dengan menggunakan metode Mock. Agar
hasil kajian dengan metode ini dapat diandalkan, data hasil survei lapangan
sangat perlu untuk digunakan sebagai acuan dalam menentukan orde
besaran debit yang diperkirakan.
Pada bagian berikut ini disajikan metode perhitungan ketersediaan air di
sungai dengan menggunakan metode Mock. Selain data klimatologi, informasi
lain yang diperlukan untuk analisis ini adalah data kondisi fisik lokasi kajian
(Daerah Aliran Sungai), seperti jenis tanah, tumbuhan penutup permukaan,
kondisi topografi, luas DAS, dan lain-lain.
Pengambilan air baku yang paling mudah dilakukan adalah di sungai karena
langsung mendapatkan debit. Debit sungai berasal dari aliran limpasan hujan
(direct run off) dan aliran air tanah (mata air).
Air permukaan adalah air yang mengalir secara berkesinambungan atau
dengan terputus-putus dalam alur sungai atau saluran dari sumbernya yang
tertentu, dimana semua ini merupakan bagian dari sistem sungai yang
menyeluruh. Ilustrasi dari proses terbentuknya aliran permukaan disajikan
pada gambar sebagai berikut :

PT. PURNATAMA KINDOTEKNIK

III-43

LAPORAN PENDAHULUAN

Perencanaan Detail Bendung Karet Jamblang Kabupaten Cirebon

HUJ AN

TANAH
INFILTRASI

BATU

PERKOLASI

AIR TANAH

Gambar 3.19 Ilustrasi aliran permukaan.


Yang paling berperan dalam studi penyediaan air baku adalah data rekaman
debit aliran sungai. Rekaman tersebut harus berkesinambungan dalam
periode waktu yang dapat digunakan untuk pelaksanaan proyek penyediaan
air baku. Apabila penyadapan air baku akan dilakukan dari sungai yang masih
alami, maka diperlukan rekaman data dari periode-periode aliran rendah yang
kristis yang cukup panjang, sehingga keandalan pasok air dapat diketahui.
Jika tidak ada data rekaman debit sungai yang ada di wilayah kajian, maka
untuk mengetahui besarnya potensi air permukaan (air sungai) akan
dilakukan dengan cara simulasi hujan-limpasan sehingga diperoleh besarnya
debit sintetik.
Hasil

penaksiran

atau

perkiraan

debit

limpasan

(run

off)

tidak

bisa

menggantikan dokumentasi data aliran sungai. Namun dalam hal dimana


sangat dibutuhkan tersedianya data tersebut, maka diperlukan adanya
penaksiran atau perkiraan.

PT. PURNATAMA KINDOTEKNIK

III-44

LAPORAN PENDAHULUAN

Perencanaan Detail Bendung Karet Jamblang Kabupaten Cirebon

Ada banyak metode untuk menaksir debit limpasan. Akurasi dari masingmasing metode tersebut bergantung pada keseragaman dan keandalan data
yang tersedia. Salah satu metode tersebut adalah Metode Mock.
Metode Mock adalah suatu metode untuk memperkirakan keberadaan air
berdasarkan konsep water balance. Keberadaan air yang dimaksud di sini
adalah besarnya debit suatu daerah aliran sungai. Data yang digunakan untuk
memperkirakan debit ini berupa data klimatologi dan karakteristik daerah
aliran sungai.
Metode Mock dikembangkan oleh Dr. F. J. Mock berdasarkan atas daur
hidrologi. Metode Mock merupakan salah satu dari sekian banyak metode
yang menjelaskan hubungan rainfall-runoff.
Metode Mock dikembangkan untuk menghitung debit bulanan rata-rata. Datadata yang dibutuhkan

dalam perhitungan debit dengan Metode Mock ini

adalah data klimatologi, luas, dan penggunaan lahan dari catchment area.
Pada prinsipnya, Metode Mock memperhitungkan volume air yang masuk,
keluar, dan yang disimpan dalam tanah (soil storage). Volume air yang masuk
adalah hujan. Air yang keluar adalah infiltrasi, perkolasi, dan yang dominan
adalah akibat evapotranspirasi. Perhitungan evapotranspirasi menggunakan
Metode Aritmatik. Sementara soil storage adalah volume air yang disimpan
dalam

pori-pori

tanah,

hingga

kondisi

tanah

menjadi

jenuh.

Secara

keseluruhan perhitungan debit dengan Metode Mock ini mengacu pada water
balance, dimana volume air total yang ada di bumi adalah tetap, hanya
sirkulasi, dan distribusinya yang bervariasi.
Proses perhitungan yang dilakukan dalam Metode Mock dijelaskan dalam
Perhitungan
Gambar 3.20
Evapotranspirasi Potensial
(Metode Penman)

Perhitungan
Evapotranspirasi Aktual

Perhitungan
Water Surplus

PT. PURNATAMA KINDOTEKNIK

Perhitungan
Base Flow, Direct Run Off, dan Storm
Run Off

III-45

LAPORAN PENDAHULUAN

Perencanaan Detail Bendung Karet Jamblang Kabupaten Cirebon

Gambar 3.20

Bagan alir perhitungan debit dalam Metoda Mock.

3.5.4.1 Water Balance


Dalam siklus hidrologi, penjelasan mengenai hubungan antara aliran ke dalam
(inflow) dan aliran keluar (outflow) di suatu daerah untuk suatu perioda
tertentu

disebut

neraca

air

atau

keseimbangan

air

(water

balance).

Hubungan-hubungan ini lebih jelas ditunjukkan oleh Gambar 3.21.


Bentuk umum persamaan water balance adalah :
P = Ea + GS + TRO
Dengan :
P

= presipitasi.

Ea

= evapotranspirasi.

GS

= perubahan groundwater storage.

TRO

= total run off.

Water balance merupakan siklus tertutup yang terjadi untuk suatu kurun
waktu

pengamatan

tahunan

tertentu,

dimana tidak

terjadi perubahan

groundwater storage atau GS = 0. Artinya awal penentuan groundwater


storage adalah berdasarkan bulan terakhir dalam tinjauan kurun waktu
tahunan tersebut. Sehingga persamaan water balance menjadi :
P = Ea + TRO

PT. PURNATAMA KINDOTEKNIK

III-46

LAPORAN PENDAHULUAN

Perencanaan Detail Bendung Karet Jamblang Kabupaten Cirebon

Beberapa hal yang dijadikan acuan dalam prediksi debit dengan Metode Mock
sehubungan dengan water balance untuk kurun waktu tertentu adalah :
Dalam satu tahun, perubahan groundwater storage (GS) harus sama dengan
nol. Jumlah total evapotranspirasi dan total run off selama satu tahun harus
sama dengan total presipitasi yang terjadi dalam tahun itu. Dengan tetap
memperhatikan kondisi-kondisi batas water balance di atas, maka prediksi
debit dengan Metode Mock akan akurat.
Presipitasi
Evaporasi
Air Permukaan

Presipitasi

Curah Hujan
Perkolasi

Pe
rk
ol
asi

Uap Air

Air keluar

Limpasan

Kelembaban Tanah
dan Air Tanah

Evaporasi
Presipitasi
Gambar 3.21 Sirkulasi air.
3.5.4.2 Data Iklim
Data iklim yang digunakan dalam Metode Mock adalah presipitasi, temperatur,
penyinaran matahari, kelembaban relatif dan data kecepatan angin. Secara
umum data-data ini digunakan untuk menghitung evapotransprasi. Dalam
Metode Mock, data-data iklim yang dipakai adalah data bulanan rata-rata,
kecuali untuk presipitasi yang digunakan adalah jumlah data dalam satu
bulan. Notasi dan satuan yang dipakai untuk data iklim ditabelkan pada Tabel
3.7
Tabel 3.7 Notasi dan Satuan Parameter Iklim

PT. PURNATAMA KINDOTEKNIK

III-47

LAPORAN PENDAHULUAN

Perencanaan Detail Bendung Karet Jamblang Kabupaten Cirebon

Data Meteorologi

Notasi

Satuan

Presipitasi
Temperatur
Penyinaran
Matahari
Kelembaban Relatif
Kecepatan Angin

P
T

Milimeter (mm)
Derajat Celcius (0C)

Persen (%)

H
W

Persen (%)
Mile per hari (mile/hr)

3.5.4.3 Evapotranspirasi
Evapotranspirasi merupakan faktor penting dalam memprediksi debit dari
data curah hujan dan klimatologi dengan Metode Mock. Alasannya adalah
karena evapotranspirasi ini memberikan nilai yang besar untuk terjadinya
debit dari suatu daerah pengaliran sungai. Evapotranspirasi diartikan sebagai
kehilangan air dari lahan dan permukaan air dari suatu daerah pengaliran
sungai akibat kombinasi proses evaporasi dan transpirasi. Evapotranspirasi
potensial dan evapotranspirasi aktual diuraikan di bawah ini.

A.

Evapotranspirasi Potensial

Evapotranspirasi potensial adalah evapotranspirasi yang mungkin terjadi pada


kondisi air yang tersedia berlebihan. Faktor penting yang mempengaruhi
evapotranspirasi potensial adalah tersedianya air yang cukup banyak. Jika
jumlah air selalu tersedia secara berlebihan dari yang diperlukan oleh
tanaman selama proses transpirasi, maka jumlah air yang ditranspirasikan
akan relatif lebih besar dibandingkan apabila tersedianya air di bawah
keperluan. Beberapa rumus empiris untuk menghitung evapotranspirasi
potensial adalah: rumus empiris dari Thornthwaite, Blaney-Criddle, Penman
dan Turc-Langbein-Wundt. Dari rumus-rumus empiris di atas, Metode Mock
menggunakan

rumus

empiris

dari

Penman.

Rumus

empiris

Penman

memperhitungkan banyak data klimatologi yaitu temperatur, radiasi matahari,


kelembaban, dan kecepatan angin sehingga hasilnya relatif lebih akurat.
Perhitungan evaporasi potensial Penman didasarkan pada keadaan bahwa
agar terjadi evaporasi diperlukan panas.
Menurut Penman besarnya evapotranspirasi potensial diformulasikan
sebagai berikut :

PT. PURNATAMA KINDOTEKNIK

III-48

LAPORAN PENDAHULUAN

Perencanaan Detail Bendung Karet Jamblang Kabupaten Cirebon

AH 0,27D
A 0,27

dengan :
H = energy budget,
= R (1-r) (0,18 + 0,55 S) - B (0,56 0,092 ed ) (0,10 + 0,9 S)
D = panas yang diperlukan untuk evapotranspirasi, dan
= 0,35 (ea ed) (k + 0,01w)
A = slope vapour pressure curve pada temperatur rata-rata, dalam
mmHg/oF.
B =

radiasi

benda

hitam

pada

temperatur

rata-rata,

dalam

mmH2O/hari.
ea = tekanan uap air jenuh (saturated vapour pressure) pada
temperatur rata-

rata (mmHg).

Besarnya A, B dan ea tergantung pada temperatur rata-rata. Hubungan


temperatur rata-rata dengan parameter evapotranspirasi ini ditabelkan
pada Tabel 3.8
Tabel 3.8 Hubungan Temperatur Rata-rata vs Parameter Evapotranspirasi A, B dan
ea
Temperatu
r

10

12

14

16

18

20

22

24

26

28

30

(0C)
A
(mmHg/0F)
B
(mmH2O/hari)
ea
(mmHg)

0.304 0.342 0.385

0.43
0.484 0.541 0.603 0.671 0.746 0.828 0.917 1.013
2

12.60 12.90 13.30 13.70 14.80 14.50 14.90 15.40 15.80 16.20 16.70 17.10

8.05

9.21 10.50 12.00 13.60 15.50 17.50 19.80 22.40 25.20 28.30 31.80

Sumber: Sudirman (2002).

R = radiasi matahari, dalam mm/hari.


Besarnya tergantung letak lintang. Besarnya radiasi matahari ini
berubah-ubah menurut bulan, seperti Tabel 3.9 berikut ini.

PT. PURNATAMA KINDOTEKNIK

III-49

LAPORAN PENDAHULUAN

Perencanaan Detail Bendung Karet Jamblang Kabupaten Cirebon

Tabel 3.9 Nilai Radiasi Matahari Pada Permukaan Horizontal Luar Atmosfir
(mm/hari)
Bulan

Jan

Peb

Mar

Apr

Mei

Jun

Jul

Agu

Sep

Okt

Nop

Des

5 LU

13.7

14.5

15.0

15.0

14.5

14.1

14.2

14.6

14.9

14.6

13.9

13.4

14.39

00

14.5

15.0

15.2

14.7

13.9

13.4

13.5

14.2

14.9

15.0

14.6

14.3

14.45

50 LS

15.2

15.4

15.2

14.3

13.2

12.5

12.7

13.6

14.7

15.2

15.2

15.1

14.33

15.8

15.7

15.1

13.8

12.4

11.6

11.9

13.0

14.4

15.3

15.7

15.8

14.21

10 LS

Sumber: Sudirman (2002).

koefisien

refleksi,

elektromagnetik

yaitu

(dalam

perbandingan

sembarang

rentang

antara
nilai

radiasi
panjang

gelombang yang ditentukan) yang dipantulkan oleh suatu benda


dengan jumlah radiasi yang terjadi, dan dinyatakan dalam
persentasi.
r

radiasi elektromag
netikyangdipantulka
n
x 100%
jumlahradiasiyangterjadi

Koefisien Refleksi sangat berpengaruh pada evapotranspirasi. Tabel


3.10 adalah nilai koefisien refleksi yang digunakan dalam Metode Mock.
Tabel 3.10

Koefisien Refleksi, r

No.

Permukaan

Koefisien Refleksi
[r]

Rata-rata permukaan bumi


Cairan salju yang jatuh diakhir musim masih
segar
Spesies tumbuhan padang pasir dengan daun

40 85 %

berbulu
Rumput, tinggi dan kering

31 33 %

2
3
4
5

40 %
30 40 %
24 28 %

Permukaan padang pasir


Tumbuhan hijau yang membayangi seluruh
tanah
Tumbuhan muda yang membayangi sebagian
tanah
Hutan musiman

Hutan yang menghasilkan buah

10 15 %

10

Tanah gundul kering

12 16 %

11

Tanah gundul lembab

10 12 %

12

Tanah gundul basah

13

Pasir, basah kering

14

Air bersih, elevasi matahari 45

15

Air bersih, elevasi matahari 200

6
7

24 27 %
15 24 %
15 20 %

8 10 %
9 18 %
0

5%
14 %

Sumber: Sudirman (2002).

PT. PURNATAMA KINDOTEKNIK

III-50

Perencanaan Detail Bendung Karet Jamblang Kabupaten Cirebon

LAPORAN PENDAHULUAN

rata-rata persentasi penyinaran matahari bulanan, dalam

persen (%).
ed

tekanan uap air sebenarnya (actual vapour pressure),

dalam mmHg.
=

ea x h.

kelembaban relatif rata-rata bulanan, dalam persen (%).

koefisien kekasaran permukaan evaporasi (evaporating

surface).
Untuk permukaan air nilai k = 0,50 dan permukaan vegetasi
nilai
k

= 1,0.

kecepatan angin rata-rata bulanan, dalam mile/hari.

Substitusi persamaan-persamaan di atas menghasilkan :


E

0,27 0,35ea ed k 0,01w

A R 1 r 0,18 0,55S B 0,5 - 0,092 ed 0,1 0,9S


A 0,27

dalam bentuk lain :


E

AB 0,56 0,092 ed
A 0,18 0,55S
R 1 r
A 0,27
A 0,27

0,1 0,9S

0,27 x 0,35 ea e
A 0,27

jika:
F1 f(T, S)

A 0,18 0,55S
A 0,27

F2 f(T, h)

AB 0,56 0,092 ed
A 0,27

F3 f(T, h)

0,27x 0,35 ea ed
A 0,27

maka :
E = F1 x R(1 - r) - F2 x (0,1 + 0,9S) + F3 x (k + 0,01w)
dan jika:
E1

F1 x R(1 - r)

E2

F2 x (0,1 + 0,9S)

E3

F3 x (k + 0,01w)

maka

bentuk

yang

sederhana

dari

persamaan

evapotranspirasi

potensial menurut Penman adalah :

PT. PURNATAMA KINDOTEKNIK

III-51

LAPORAN PENDAHULUAN

Perencanaan Detail Bendung Karet Jamblang Kabupaten Cirebon

E = E1 - E2 + E3
Formulasi inilah yang dipakai dalam Metode Mock untuk menghitung
besarnya evapotranspirasi potensial dari data-data klimatologi yang
lengkap (temperatur, lama penyinaran matahari, kelembaban relatif,
dan

kecepatan

angin).

Besarnya

evapotrans-pirasi

potensial

ini

dinyatakan dalam mm/hari. Untuk menghitung besarnya evapotranspirasi potensial dalam 1 bulan maka kalikan dengan jumlah hari dalam
bulan itu.

B.

Evapotranspirasi Aktual

Jika dalam evapotranspirasi potensial air yang tersedia dari yang diperlukan
oleh

tanaman

selama

proses

transpirasi

berlebihan,

maka

dalam

evapotranspirasi aktual ini jumlah air tidak berlebihan atau terbatas. Jadi
evapotranspirasi aktual adalah evapotranspirasi yang terjadi pada kondisi air
yang tersedia terbatas. Evapotranspirasi aktual dipengaruhi oleh proporsi
permukaan luar yang tidak tertutupi tumbuhan hijau (exposed surface) pada
musim kemarau. Besarnya exposed surface (m) untuk tiap daerah berbedabeda. F.J. Mock mengklasifikasikan menjadi tiga daerah dengan masingmasing nilai exposed surface ditampilkan pada Tabel 3.11
Tabel 3.11 Exposed Surface, m
No.

Daerah

0%

Hutan primer, sekunder

10 40 %

Daerah tererosi

30 50 %

Daerah ladang pertanian

Sumber: Sudirman (2002).

Selain exposed surface evapotranspirasi aktual juga dipengaruhi oleh jumlah


hari hujan (n) dalam bulan yang bersangkutan.
Menurut

Mock

rasio

antara

selisih

evapotranspirasi

potensial

dan

evapotranspirasi aktual dengan evapotranspirasi potensial dipengaruhi oleh


exposed surface (m) dan jumlah hari hujan (n), seperti ditunjukan dalam
formulasi sebagai berikut.
E m

18 n
EP
20

Sehingga:

PT. PURNATAMA KINDOTEKNIK

III-52

LAPORAN PENDAHULUAN

Perencanaan Detail Bendung Karet Jamblang Kabupaten Cirebon

m
E EP
18 n
20

Dari formulasi diatas dapat dianalisis bahwa evapotranspirasi potensial akan


sama dengan evapotranspirasi aktual (atau E = 0) jika:
1. Evapotranspirasi terjadi pada hutan primer atau hutan sekunder. Dimana
daerah ini memiliki harga exposed surface (m) sama dengan nol.
2. Banyaknya hari hujan dalam bulan yang diamati pada daerah itu sama
dengan 18 hari.
Jadi evapotranspirasi aktual adalah evapotranspirasi potensial yang
memperhitungkan faktor exposed surface dan jumlah hari hujan dalam
bulan yang bersangkutan. Sehingga evapotranspirasi aktual adalah
evapotranspirasi

yang

sebenarnya

terjadi

atau

actual

evapotranspiration, dihitung sebagai berikut:


Eactual EP E

3.5.4.4 Water Surplus


Water surplus didefinisikan sebagai air hujan (presipitasi) yang telah
mengalami evapotranspirasi dan mengisi tampungan tanah (soil storage,
disingkat SS). Water surplus ini berpengaruh langsung pada infiltrasi atau
perkolasi dan total run off yang merupakan komponen debit. Persamaan
water surplus (disingkat WS) adalah sebagai berikut:
WS = (P Ea) + SS
Dengan memperhatikan Gambar 3.22, maka water surplus merupakan air
limpasan permukaan ditambah dengan air yang mengalami infiltrasi.
Tampungan kelembaban tanah (soil moisture storage, disingkat SMS) terdiri
dari kapasitas kelembaban tanah (soil moisture capacity, disingkat SMC),
zona infiltrasi, limpasan permukaan tanah dan tampungan tanah (soil storage,
disingkat SS). Besarnya soil moisture capacity (SMC) tiap daerah tergantung
dari tipe tanaman penutup lahan (land covery) dan tipe tanahnya, seperti
ditunjukkan dalam Tabel 3.6.
Dalam studi yang dilakukan Mock di daerah aliran sungai di Bogor, ditetapkan
besarnya kapasitas kelembaban tanah maksimum adalah 200 mm/bulan.
Dalam Metode Mock, tampungan kelembaban tanah dihitung sebagai berikut:
SMS = ISMS + (P Ea)
PT. PURNATAMA KINDOTEKNIK

III-53

LAPORAN PENDAHULUAN

Perencanaan Detail Bendung Karet Jamblang Kabupaten Cirebon

dengan,
ISMS = initial soil moisture storage (tampungan kelembaban tanah awal),
merupakan soil moisture capacity (SMC) bulan sebelumnya.
PEa =

presipitasi yang telah mengalami evapotranspirasi.

Asumsi yang dipakai oleh Dr. F.J. Mock adalah air akan memenuhi SMC
terlebih dahulu sebelum water surplus tersedia untuk infiltrasi dan perkolasi
yang lebih dalam atau melimpas langsung (direct run off). Ada dua keadaan
untuk menentukan SMC, yaitu:
SMC = 200 mm/bulan, jika P Ea < 0.
Artinya soil moisture storage (tampungan tanah lembab) sudah mencapai
kapasitas maksimumnya atau terlampaui sehingga air tidak disimpan dalam
tanah lembab. Ini berarti soil storage (SS) sama dengan nol dan besarnya
water surplus sama dengan P - Ea.
SMC = SMC bulan sebelumnya + (P Ea), jika P Ea < 0.
Untuk keadaan ini, tampungan tanah lembab (soil moisture storage) belum
mencapai kapasitas maksimum, sehingga ada air yang disimpan dalam tanah
lembab. Besarnya air yang disimpan ini adalah P Ea. Karena air berusaha
untuk mengisi kapasitas maksimumnya, maka untuk keadaan ini tidak ada
water surplus (WS = 0).
Selanjutnya WS ini akan mengalami infiltrasi dan melimpas di permukaan
(run off). Besarnya infiltrasi ini tergantung pada koefisien infiltrasi.

EVAPOTRANSPIRASI

TANAH

TAMPUNGAN KELEMBABAN

PRESIPITASI

LIMPASAN PERMUKAAN

ZONA INFILTRASI

KAPASITAS KELEMBABAN
TANAH

PT. PURNATAMA KINDOTEKNIK

III-54

LAPORAN PENDAHULUAN

Gambar 3.22

Perencanaan Detail Bendung Karet Jamblang Kabupaten Cirebon

Water surplus merupakan presipitasi yang telah mengalami


evapotranspirasi atau limpasan yang ditambah infiltrasi.

Tabel 3.12 Nilai Soil Moisture Capacity Untuk Berbagai Tipe Tanaman dan
Tipe Tanah
Tipe Tanaman

Tanaman Berakar
Pendek

Tanaman Berakar
Sedang

Tanaman Berakar
Dalam

Tanaman Palm

Mendekati Hutan
Alam

Zone Akar
(dalam m)

Soil Moisture
Capacity
(dalam mm)

Pasir Halus

0.50

50

Pasir Halus dan Loam

0.50

75

Lanau dan Loam

0.62

125

Lempung dan Loam

0.40

100

Lempung

0.25

75

Pasir Halus

0.75

75

Pasir Halus dan Loam

1.00

150

Lanau dan Loam

1.00

200

Lempung dan Loam

0.80

200

Lempung

0.50

150

Pasir Halus

1.00

100

Pasir Halus dan Loam

1.00

150

Lanau dan Loam

1.25

250

Lempung dan Loam

1.00

250

Lempung

0.67

200

Pasir Halus

1.50

150

Pasir Halus dan Loam

1.67

250

Lanau dan Loam

1.50

300

Lempung dan Loam

1.00

250

Lempung

0.67

200

Pasir Halus

2.50

250

Pasir Halus dan Loam

2.00

300

Lanau dan Loam

2.00

400

Lempung dan Loam

1.60

400

Lempung

1.17

350

Tipe Tanah

Sumber: Sudirman (2002).

3.5.4.5 Limpasan Total


Air hujan yang telah mengalami evapotranspirasi dan disimpan dalam tanah
lembab selanjutnya akan melimpas di permukaan (surface run off) dan

PT. PURNATAMA KINDOTEKNIK

III-55

LAPORAN PENDAHULUAN

Perencanaan Detail Bendung Karet Jamblang Kabupaten Cirebon

mengalami perkolasi. Berikutnya, menurut Mock besarnya infiltrasi adalah


water surplus (WS) dikalikan dengan koefisien Infiltrasi (if), atau:
Infiltrasi (i)

WS x if

Koefisien infiltrasi ditentukan oleh kondisi porositas dan kemiringan daerah


pengaliran. Lahan yang bersifat poros umumnya memiliki koefisien yang
cenderung besar. Namun jika kemiringan tanahnya terjal dimana air tidak
sempat mengalami infiltrasi dan perkolasi ke dalam tanah, maka koefisien
infiltrasinya bernilai kecil.
Infiltrasi

terus

terjadi

sampai

mencapai

zona

tampungan

air

tanah

(groundwater storage, disingkat GS). Keadaan perjalanan air di permukaan


tanah dan di dalam tanah diperlihatkan dalam Gambar 3.23.
Dalam Metode ini, besarnya groundwater storage (GS) dipengaruhi oleh:
Infiltrasi (i). Semakin besar infiltrasi maka groundwater storage semakin
besar pula, dan begitu pula sebaliknya.
Konstanta resesi aliran bulanan.
Konstanta resesi aliran bulanan (monthly flow recession constan) disimbolkan
dengan K adalah proporsi dari air tanah bulan lalu yang masih ada bulan
sekarang. Nilai K ini cenderung lebih besar pada bulan basah.
Groundwater storage bulan sebelumnya (GSom).
Nilai ini diasumsikan sebagai konstanta awal, dengan anggapan bahwa water
balance merupakan siklus tertutup yang ditinjau selama rentang waktu
menerus tahunan tertentu. Dengan demikian maka nilai asumsi awal bulan
pertama tahun pertama harus dibuat sama dengan nilai bulan terakhir tahun
terakhir.
Dari ketiga faktor di atas, Mock merumuskan sebagai berikut:
GS = { 0,5 x (1 + K) x i } + { K x GSom }
bulan ke 12

GS 0

i bulan ke 1

PT. PURNATAMA KINDOTEKNIK

III-56

LAPORAN PENDAHULUAN

Perencanaan Detail Bendung Karet Jamblang Kabupaten Cirebon

Gambar 3.23

Perjalanan air hujan sampai terbentuk debit.

Seperti telah dijelaskan, metode Mock adalah metoda untuk memprediksi


debit yang didasarkan pada water balance. Oleh sebab itu, batasan-batasan
water balance ini harus dipenuhi. Salah satunya adalah bahwa perubahan
groundwater storage (GS) selama rentang Perubahan groundwater storage
(GS) adalah selisih antara groundwater storage bulan yang ditinjau dengan
groundwater storage bulan sebelumnya. Perubahan groundwater storage ini
penting bagi terbentuknya aliran dasar sungai (base flow, disingkat BF).
Dalam hal ini base flow merupakan selisih antara infiltrasi dengan perubahan
groundwater storage, dalam bentuk persamaan:
BF = i - GS
Jika pada suatu bulan GS bernilai negatif (terjadi karena GS bulan yang
ditinjau lebih kecil dari bulan sebelumnya), maka base flow akan lebih besar
dari nilai Infiltrasinya. Karena water balance merupakan siklus tertutup
dengan perioda tahunan tertentu (misalnya 1 tahun) maka perubahan
groundwater storage (GS) selama 1 tahun adalah nol. Dari persaman di atas
maka dalam 1 tahun jumlah base waktu tahunan tertentu adalah nol, atau
(misalnya untuk 1 tahun):
flow akan sama dengan jumlah infiltrasi. Selain base flow, komponen debit
yang lain adalah direct run off (limpasan langsung) atau surface run off
(limpasan permukaan). Limpasan permukaan berasal dari water surplus yang
telah mengalami infiltrasi. Jadi direct run off dihitung dengan persamaan:
DRO = WS - i

PT. PURNATAMA KINDOTEKNIK

III-57

LAPORAN PENDAHULUAN

Perencanaan Detail Bendung Karet Jamblang Kabupaten Cirebon

Setelah base flow dan direct run off komponen pembentuk debit yang lain
adalah storm run off, yaitu limpasan langsung ke sungai yang terjadi selama
hujan deras. Storm run off ini hanya beberapa persen saja dari hujan. Storm
run off hanya dimasukkan ke dalam total run off, bila presipitasi kurang dari
nilai maksimum soil moisture capacity. Menurut Mock

storm run off

dipengaruhi oleh percentage factor, disimbolkan dengan PF. Percentage factor


adalah persen hujan yang menjadi limpasan. Besarnya PF oleh Mock
disarankan 5% - 10%, namun tidak menutup kemungkinan untuk meningkat
secara tidak beraturan hingga mencapai 37,3%.
Dalam perhitungan debit ini, Mock menetapkan bahwa :
Jika presipitasi (P) > maksimum soil moisture capacity, nilai storm run off =
0.
Jika P < maksimum soil moisture capacity maka storm run off adalah jumlah
curah hujan dalam satu bulan yang bersangkutan dikali percentage factor,
atau:
SRO = P x PF
Dengan demikian maka total run off

(TRO) yang merupakan komponen-

komponen pembentuk debit sungai (stream flow) adalah jumlah antara base
flow, direct run off dan storm run off, atau:
TRO

Total run off

BF + DRO + SRO
ini dinyatakan dalam mm/bulan. Maka jika TRO ini dikalikan

dengan catchment area (luas daerah tangkapan air) dalam km2 dengan suatu
angka konversi tertentu akan didapatkan besaran debit dalam m3/det.
3.5.4.6 Parameter Mock
Secara umum, parameter-parameter yang akan dijelaskan ini mempengaruhi
besarnya evapotranspirasi, Infiltrasi, groundwater storage dan storm run off.
Koefisien refleksi (r), yaitu perbandingan antara jumlah radiasi matahari
yang dipantulkan oleh suatu permukaan dengan jumlah radiasi yang terjadi,
yang dinyatakan dalam persen. Koefisien refleksi ini berbeda-beda untuk tiap
permukaan bumi. Menurut Mock, rata-rata permukaan bumi mempunyai
harga koefisien refleksi sebesar 40%.

Mock telah mengklasifikasikan tiap

permukaan bumi dengan nilai koefisien refleksinya masing-masing. Koefisien

PT. PURNATAMA KINDOTEKNIK

III-58

LAPORAN PENDAHULUAN

Perencanaan Detail Bendung Karet Jamblang Kabupaten Cirebon

refleksi untuk masing-masing permukaan bumi seperti telah ditabelkan dalam


Tabel 3.13.
Exposed surface (m), yaitu asumsi proporsi permukaan luar yang tidak
tertutupi tumbuhan hijau pada musim kering dan dinyatakan dalam persen.
Besarnya

harga

ini,

mengklasifikasikan menjadi

tergantung

daerah

yang

diamati.

Mock

tiga bagian daerah, yaitu hutan primer atau

sekunder, daerah tererosi dan daerah ladang pertanian. Besarnya harga


exposed surface ini berkisar antara 0% sampai 50% dan sama untuk tiap
bulan. Harga m untuk ketiga klasifikasi daerah ini telah ditabelkan dalam
Tabel 3.11di atas.

Tabel 3.13
No

Koefisien Refleksi (Nilai Albedo ), r

Permukaan

Koefisien Refleksi

Rata-rata permukaan bumi

40 85 %

Cairan salju yang jatuh diakhir musim masih


segar
Spesies tumbuhan padang pasir dengan daun
berbulu
Rumput, tinggi dan kering

Permukaan padang pasir

24 28 %

Tumbuhan hijau yang membayangi seluruh tanah

24 27 %

15 24 %

Tumbuhan muda
tanah
Hutan musiman

Hutan yang menghasilkan buah

10 15 %

10

Tanah gundul kering

12 16 %

11

Tanah gundul lembab

10 12 %

12

Tanah gundul basah

8 10 %

13

Pasir, basah kering

9 18 %

14

Air bersih, elevasi matahari 450

15

yang

40 %

membayangi

Air bersih, elevasi matahari 20

sebagian

30 40 %
31 33 %

15 20 %

5%
14 %

3.5.4.7 Data Kalibrasi

PT. PURNATAMA KINDOTEKNIK

III-59

LAPORAN PENDAHULUAN

Perencanaan Detail Bendung Karet Jamblang Kabupaten Cirebon

Kalibrasi terhadap parameter Mock yang digunakan perlu dilakukan agar hasil
perhitungan debit dengan metoda ini dapat mewakili kondisi aktual seperti di
lapangan (dibandingkan dengan debit hasil survei hidrometri).
Dalam perhitungan debit limpasan dengan menggunakan metode Mock
tersebut, akan digunakan data debit hasil survei hidrometri untuk kalibrasi
yang dilakukan pada beberapa sungai di wilayah kajian.
3.5.4.8 Kuantifikasi Potensi Air Permukaan

A.

Jumlah Sungai

Langkah kuantifikasi air permukaan adalah melacak DAS dan menghitung luas
catchment area pada peta hasil survei topografi. Penelusuran didasarkan pada
muara aliran di sepanjang garis pantai. Dari sekitar sungai dan alur yang
terdapat di wilayah kajian, tidak semua akan dihitung besar debit sintetiknya.
Dilakukan pemilihan dan pemilahan terhadap sungai-sungai yang dianggap
mempunyai potensi dimanfaatkan sebagai sumber air baku, ditinjau dari
aspek kuantitasnya.

B.

Titik Perhitungan
Besar ketersediaan air baku di sungai dihitung berdasarkan curah hujan
di DAS (hujan bulanan), luas DAS dan koefisien pengaliran. Dengan
demikian ketersediaan air baku adalah besar debit di suatu titik
pengeluaran (outlet) pada suatu waktu tertentu. Debit yang dihitung
adalah debit pada tiap outlet yang dipilih:
Di titik yang merupakan lokasi pencatatan debit, yang berfungsi
sebagai kalibrasi perhitungan debit dengan model mock.
Di titik muara sungai, dimana dapat diketahui besarnya potensi debit
untuk keseluruhan luas DAS.

Outlet-1

PT. PURNATAMA KINDOTEKNIK

Outlet-2

III-60

LAPORAN PENDAHULUAN

Perencanaan Detail Bendung Karet Jamblang Kabupaten Cirebon

Gambar 3.24 Titik perhitungan debit Mock.

C.

Hasil Perhitungan dan Format Penyajian Hasil


Secara statistik, debit pada outlet dinyatakan dengan peluang kejadian
yang

dihubungkan

terlampaui

(Q90)

dengan
untuk

jenis

pengambilan,

pengambilan

DMI

misal

(Domestik,

debit

90%

Municipal,

Industri) atau 50% terlampaui (Q 50) untuk pengeluaran dengan


waduk/tampungan

Gambar 3.25

Contoh Perkiraan fluktuasi debit ketersediaan air.

PT. PURNATAMA KINDOTEKNIK

III-61

LAPORAN PENDAHULUAN

Perencanaan Detail Bendung Karet Jamblang Kabupaten Cirebon

Gambar 3.26 Contoh Perkiraan fluktuasi debit bulanan dari DAS Hulu

3.5.5

Analisis Hidrolika

Analisa Hidrolika akan dilakukan pada system pengendalian banjir secara


umum yang meliputi alur sungai / saluran dan bangunan air yang ada sebagai
pengendali banjir. Analisis akan dilakukan dengan bantuan Perangkat lunak
HEC-RAS dan DUFLOW. Keduanya merupakan program yang digunakan untuk
perhitungan analisis hidraulik satu dimensi. HECRAS melakukan analisis
hidraulik yang dapat dilakukan tersebut adalah perhitungan profil permukaan
air pada aliran tunak (steady flow) sedang DUFLOW untuk analisa aliran
taktunak (unsteady). Dasar prosedur perhitungan yang digunakan HEC-RAS
adalah didasarkan pada pemecahan persamaan kekekalan energi satu
dimensi,

sedang

Momentum.

DUFLOW

Kehilangan

berdasarkan

energi

dievaluasi

persamaan
dengan

Kontinuitas

gesekan

dan

(persamaan

Manning) dan kontraksi maupun ekspansi. Persamaan momentum digunakan


pada situasi dimana profil pe rmukaan air berubah secara cepat. Situasi ini
mengikutkan perhitungan daerah aliran yang bercampur, perhitungan struktur

PT. PURNATAMA KINDOTEKNIK

III-62

LAPORAN PENDAHULUAN

Perencanaan Detail Bendung Karet Jamblang Kabupaten Cirebon

hidraulik, dan mengevaluasi profil pada saluran yang berhubungan atau


bercabang.
Perencanaan Hidrolis Sungai
Pada perencanaan bentuk hidrolis sungai akan digunakan rumus - rumus
dengan asumsi aliran pada sungai adalah jenis aiiran tetap dari seragam
(steady uniform ilow), rumus - rumus empiris yang akan digunakan adalah
rumus Manning, Strickler, Chezy dari Bazin.

T
MA

W
1m

1
b
B
Gambar 3.27 Penampang Hidrolis Sungai
A=

* h * [2*b + h*mi + h*ma]

P=

b + h *(Mi2 + 1)1/2 + h*(ma2 + 1 )1/2

R=

A/P

V=

1/n * R2/3 * 11/2

A*V

Dimana :
A=

Luas penampang basah sungai (M2)

Q=

Debit sungai (M3 /detik)

V=

Kecepatan aliran rata rata (m/detik)

P=

Keliling basah sungai (m)

R=

Jari - jari hidrolis (m)

n=

Koefisien kekasaran dari Manning

I=

Kemiringan dasar sungai

b=

Lebar dasar sungai (m)

PT. PURNATAMA KINDOTEKNIK

III-63

LAPORAN PENDAHULUAN

Perencanaan Detail Bendung Karet Jamblang Kabupaten Cirebon

h=

Tinggi air disungai (m)

mi =

Kemiringan talud kiri

ma =

Kemiringan talud kanan

Tinggi jagaan (free board), (m)

Koefisien Kekasaran Manning


Besaran koefisien kekasaran sungai tergantung pada faktor:

Kekasaran permukaan sungai

Ketidakteraturan permukaan sungai

Vegetasi pada permukaan sungai

Endapan / sedimentasi.

Besamya koefisien kekasaran Manning (n) dapat ditentukan berdasarkan


tabel dibawah ini.

PT. PURNATAMA KINDOTEKNIK

III-64

LAPORAN PENDAHULUAN

Perencanaan Detail Bendung Karet Jamblang Kabupaten Cirebon

Tabel 3.14 : Koefisien Kekasaran Manning


JENIS SALURAN

Gorong-gorong
Pipa kuningan

0,009 - 0,013

Pipa besi cor

0,011 -0,015

Pipa baja sambungan dari berpaku

0,013 - 0,017

Pipa halus dari semen

0,010 - 0,013

Pipa beton

0,012 - 0,016

Saluran Buatan
Kayu halus

0,010 - 0,014

Betonan

0,012 - 0,018

Pasangan batu asah

0,013 - 0,017

Pasangan batu kasar

0,017 - 0,030

Pasangan kering dari batu kasar

0,025 - 0,035

5aluran gahan tanah, lums dari berproiil sania

0,017 - 0,025

Saluran galian tanah, berkelok-kelok dari berarus


lambat

0,023 - 0,030

5aluran galian tanah padas, halus

0,025 - 0,035

Saluran galian tanah padas, kasar

0,035 - 0,045

Sungai Alam
Trase dari proiil teratur, air dalam

0,025 - 0,033

Traw dari proiil teratur, bertanggul, kerikil &


berumput

0,030 - 0,040

Berbelok-belok, dengan tempat-tempat darigkal

0,033 - 0,045

Berbelok-belok, air iidak dalam

0,040 - 0,055

Bemmput banyak dibawah air

0,050 - 0,080

Sumber: Dr. Ir. Suyano Sosrodarsono " Perbaikan dari Pengaturan Sungai " 1984

Kontrol Kecepatan dari Tractive Force


Kontrol Kecepatan
Dimensi sungai rencana harus dicheck keamanannya, dalam hal ini kecepatan
rencana

harus

sungai,kecepatan

lebih

kecil

atau

maksimum

sama
yang

dengan

kecepatan

diperbolehkan

ijin.

dapat

Untuk
didekati

menggunakan harga-harga yang tercatat pada tabel berikut ini.

PT. PURNATAMA KINDOTEKNIK

III-65

LAPORAN PENDAHULUAN

Perencanaan Detail Bendung Karet Jamblang Kabupaten Cirebon

Tabel 3.15 : Kecepatan ijin Maksimum Yang Diijinkan Pada Sungai.


Kecepatan Ijin Maksimum, (m/det)
dengan jenis air berupa
No.

Bahan Galian Asli Sungai

Pasir halus (non koloidal) Geluh


pasiran (non koloidal) Gelus halus

Lanau aluvial

Geluh padat biasa

Abu vulkanik

Kenkil halus

Lempung kaku (sangat koloidal)

Lanau aluvial (sangat koloidal)

Ge1uh bergradasi sampai kerikil (non

9
10
11
12
13
14

koloidal)
Ge1uh bergradasi
(koloidal)

sampai

kerikil

Kenkil kasar (non koloidal)


Berangkal
Serpih dari serpih keras

Air
Bersih

Air
Membawa
lumpur
koloidal

Air membawa
lumpur non
koloidal,
pasir,kerikil /
fragmen
batuan

0.45

0.75

0.45

0.53

0.75

0.60

0.60

0.90

0.60

0.60

1.05

0.60

0.75

1.05

0.60

0.75

1.05

0.60

0.75

1.05

0.60

1.13

1.05

0.90

1.13

1.05

0.90

1.13

1.05

1.50

1.20

1.65

1.50

110

1.80

1.95

1.50

1.65

1.65

1.80

1.80

1.50

Sumber: Drainage Principles and Aplications Volume IV

Kontrol Tractive Force


Rumus yang dipergunakan :
T =

C.w.R.1

dimana :
C = koefisien, (untuk dasar sungai diambil = 1, sedangkan untuk bagian
sisi-sisi sungai diambil = 0,76)
w = berat jenis air, (1000 kg/m)
R =

jari-jari hidrolis = A/P, (m)

A =

Luas penampang melintang basah, (M)

Keliling basah, (m)

= kemiringan dasar sungai

PT. PURNATAMA KINDOTEKNIK

III-66

LAPORAN PENDAHULUAN

Perencanaan Detail Bendung Karet Jamblang Kabupaten Cirebon

Tractive force yang diijinkan tergantung pada bahan dasar sungai dan
dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel 3.16 : Tractive Force Yang Diijinkan.
Tractive Force, (Kg/m2)
dengan jenis air berupa
No.

Bahan
Air Bersih

Air membawa
lumpur
koloidal

Pasir halus (non koloidal)

0.37

0.13

0.37

Geluh pasiran (non koloidal)

0.37

0.18

0.37

Gelus halus (non koloidal)

0.54

0.23

0.54

Lanau aluvial (non koloidal)

0.73

0.23

0.73

Ge1uh padat biasa


0.73

0.37

0.37

0.73

0.37

0.73

0.37

1.56

1.27

2.25

1.27

2.25

1.86

3.23

6
7
8
9

Abu vulkanik
0.73
Kenkil halus

1.56

10

Lempung kaku (sangat koloidal)


2.25

11

Lanau aluvial (sangat koloidal)

2.25

2.00

3.91

12

Ge1uh bergradasi sampat kerikil (non


koloidal)1.86
3.23

1.47

3.23

4.45

5.39

3.28

3.28

13
14

Ge1uh bergradasi sampai kerikil (koloidal)


2.00 3.91
Kerikil kasar (non kolaidal)

3.23

Berangkal

5.39

Serpih dari serpih keras

3.28

Sumber: Drainage Principles and Aplications Volume IV

A. Perangkat Lunak HEC-RAS


HEC-RAS didesain untuk melakukan perhitungan pada jaringan saluran alami
maupun saluran buatan. Kunci utama pemodelan pada HEC-RAS adalah
penggunaan representasi data geometri dan perhitungan geometri serta
perhitungan hidraulik berulang. Profil permukaan air dihitung dari suatu
potongan melintang saluran ke potongan selanjutnya dengan memecahkan
persamaan kekekalan energi dengan prosedur interaktif yang disebut Metode

PT. PURNATAMA KINDOTEKNIK

III-67

LAPORAN PENDAHULUAN

Perencanaan Detail Bendung Karet Jamblang Kabupaten Cirebon

Tahapan Standar (Standard Step method). Persamaan kekekalan energi ditulis


sebagai berikut :

Y2 Z 2

2V 2 2
V2
Y1 Z 1 1 1 he
2g
2g

(1-1)

dimana:
Y1, Y2

kedalaman air pada potongan melintang

Z1, Z2

elevasi pada saluran utama

V1, V2

kecepatan rata-rata (jumlah total debit)

1, 2

koefisien tinggi kecepatan

percepatan gravitasi

he

kehilangan energi

Kehilangan energi antara dua potongan melintang diakibatkan oleh kehilangan


energi akibat gesekan dan ekspansi maupun kontraksi. Persamaan kehilangan
tinggi energi dituliskan sebagai berikut :

2V2 2 1V1 2

2g
2g

he L S f C
dimana :
L

= jarak sepanjang bentang yang ditinjau


= kemiringan

gesekan

(friction

slope)

antara

dua

potongan

melintang
C

= koefisien ekspansi atau kontraksi

Jarak sepanjang bentang yang ditinjau, L, dihitung dengan persamaan:

Llob Qlob Lch Qch Lrob Qrob


Qlob Qch Qrob

dimana :
Llob, Lch, Lrob

= Jarak sepanjang potongan melintang pada aliran yang


ditinjau di pinggir kiri sungai/left overbank (lob),
saluran utama/main channel (ch), dan pinggir kanan
sungai/right overbank (rob).

, Q

lob

ch

, Q

rob

Jarak sepanjang potongan melintang pada aliran

yang ditinjau di pinggir kiri sungai (lob), saluran


utama (ch), dan pinggir kanan sungai (rob).

PT. PURNATAMA KINDOTEKNIK

III-68

LAPORAN PENDAHULUAN

Perencanaan Detail Bendung Karet Jamblang Kabupaten Cirebon

Dari hasil Output program HEC-RAS akan dapat diperoleh hasil perhitungan
profil aliran untuk beberapa harga debit, dan skema dan prespektive 3dimensi aliran dan bangunan dan juga profil memanjang muka air sepanjang
bangunan yang direncanakan seperti terlihat pada contoh output program
750.1937 598.8083
899.4556
pada Gambar-6.19, 6.20, 6.21
dan penerapan
program dalam simulasi model
999.4517
499.759
bangunan air pada Gambar- 6.22a sampai
Gambar -6.23.
ng
1098.549
449.7646
Ba
399.7755
1199.287
299.8501
1299.264
199.9976
49.99953

Gambar 3.28 Contoh Skema Sistem Sungai

Sungai opat

Plan: Pl Sesudah Ada Dam Koto Panjang


Op

48

Lege nd
WS 200 th
WS 100 th

46

WS 50 th
WS 25 th
WS 10 th

44

WS 5 th
WS 2 th
Ground

42

Elevation (m)

LOB
ROB
40

38

36

34

32

30

200

400

600

800

1000

Main Channel Distance (m)

PT. PURNATAMA KINDOTEKNIK

III-69

LAPORAN PENDAHULUAN

Perencanaan Detail Bendung Karet Jamblang Kabupaten Cirebon

Gambar 3.29 Contoh Output program frofil memanjang muka air pada
Sungai untuk beberapa periode Tr.

Sungai opat

Plan: Pl Sesudah Ada Dam Koto Panjang


Legend
WS 2 th
WS 5 th
WS 10 th
WS 25 th
WS 50 th
WS 100 th
WS 200 th
Ground
Bank Sta

Gambar 3.30 Contoh Hasil Pemodelan alur sungai dengan Tampilan Tiga Dimensi

250.79 235.014*

211.3557.88 57.7022* 57.4355* 57.1688*56.3688* 53.22* 53.05 30.79*


Dam Lan gs a

0.79

dam

Gambar 3.31 Contoh Skema untuk bangunan pelimpah

PT. PURNATAMA KINDOTEKNIK

III-70

LAPORAN PENDAHULUAN

Perencanaan Detail Bendung Karet Jamblang Kabupaten Cirebon

Dam

Plan: Lebar 30 m
Legend
WS 100 m3/s
Ground
Bank Sta
Ground

Gambar 3.32 Contoh Perpektif 3 dimensi untuk Saluran Peluncur dan Kolam Olak hasil output program.
Dam

Plan: Lebar 30 m
dam

50

Legend
WS 500 m3/s
WS 400 m3/s

40

WS 300 m3/s

Elevation (m)

WS 200 m3/s
WS 100 m3/s

30

Ground
LOB
20

ROB

10

20

40

60

80

100

120

140

160

180

200

220

240

260

Main Channel Distance (m)

Gambar 3.33 Contoh Profil Memanjang Muka air Sepanjang Pelimpah, Saluran hasil
output program HECRAS.

B. Perangkat Lunak DUFLOW


Persamaan dasar yang digunakan didasarkan pada persamaan differential
partial satu dimensi yang menggambarkan persamaan aliran pada saluran
terbuka diselesaikan dengan program DUFLOW. Paket Program DUFLOW

PT. PURNATAMA KINDOTEKNIK

III-71

LAPORAN PENDAHULUAN

Perencanaan Detail Bendung Karet Jamblang Kabupaten Cirebon

Persamaan dasar tersebut merupakan persamaan translasi matematis dari


konsep konservasi massa dan persamaan momentum :
H Q

0
t
x
dan,

Q
H Qv gQ q
gA

2 bw2 cos
t
t
x
C AR
Dari hasil penyelesaian kedua persamaan tersebut dapat dihitung dihitung :
Q=V.A
Di mana :
t

= waktu

= jarak yang diukur sepanjang as saluran/sungai

H(x,t)

= ketinggian air

V(x,t)

= kecepatan rata-rata

Q(x,t)

= dihitung pada lokasi x waktu ke t

R(x,H) = radius hidrolis pada penampang melintang


A(x,H) = luas penampang aliran
b(x,H) = lebar aliran penampang saluran
B(x,H) = lebar storage penampang aliran
g

= angka gravitasi

C(x,H) = koefisien Chezy


w ( t ) = kecepatan angin
(t)

= arah angin

(x)

= arah saluran terhadap sumbu saluran

(x)

= koefisien konvusi angin


= faktor koreksi distribusi kecepatan aliran

Perhitungan hidraulis diselesaikan secara numeris dari ketiga persamaan di


atas dengan solusi Four Point Implicit Preissmann Scheme . Output dari
simulasi model adalah fluktuasi muka air, debit dan kecepatan disaluran.
Fluktuasi muka air yang merupakan salah satu hasil dari simulasi hidrolik
dalam sistem saluran ini dapat memberikan informasi tentang tingkat
drainabilitas berbagai lokasi pada sistem saluran yang dimodelkan, sehinga

PT. PURNATAMA KINDOTEKNIK

III-72

LAPORAN PENDAHULUAN

Perencanaan Detail Bendung Karet Jamblang Kabupaten Cirebon

dapat ditentukan apakan suatu saluran memiliki dimensi hidrolis yang cukup.
Sebelum simulasi dilakukan pada beberapa titik tertentu dalam model sistem
saluran diatas ditentukan titik yang merupakan lokasi penempatan syarat
batas.
3.5.6

Perencanaan Bendung Karet

3.5.6.1 Tipe Bendung


Klasifikasi type ini berdasarkan bentuk, isian bendung karet, maka bendung
karet bisa dibagi menjadi beberapa type bendung karet yaitu sebagai berikut:
Type bendung karet dilihat dari isian badan bendung karet maka terbagi
menjadi 3 type yaitu :
1. Type bendung karet diisi air
2. Type bendung karet diisi udara
3. Type bendung karet campuran
Produk RRC lebih condong ke pemakaian bendung karet diisi air berdasarkan
pengalamannya sendiri dan hasil penelitiannya sendiri. Bendung karet
produksi Jepang lebih memfokuskan pada

bendung karet diisi udara dan

sampai sekarang tetap mempertahankan bendung karet diisi udara. Bendung


karet diisi udara dan air tidak banyak diproduksi, bahkan sekarang tidak ada
yang menggunakan type diisi udara dan air.
Di Indonesia tidak ada bendung karet yang diisi udara dan air, kebanyakan
bendung karet diisi udara, hanya satu bendung karet diisi air yaitu di
Semarang.
Pemilihan type bendung karet tersebut diatas tergantung dari manfaat yang
diambil dari bendung karet tersebut.

Bendung karet diisi air bisa

dikempeskan sampai pengisian air minimum pengisian 40 % dari tinggi


maksimum, untuk selanjutnya harus kempes 100%.

Batasan minimum

pengisian air tersebut untuk menghindari terjadinya fibrasi bendung karet,


kalau terjadi fibrasi maka bendung karet akan cepat rusah karena lelah.
BK diisi udara hanya boleh dikempeskan 100 % dan dikbendung karetkan
100%, tidak boleh berada di antaranya karena akan terjadi konsentrasi aliran
atau akan terjadi V notch.

PT. PURNATAMA KINDOTEKNIK

III-73

LAPORAN PENDAHULUAN

Perencanaan Detail Bendung Karet Jamblang Kabupaten Cirebon

V notch terjadi apabila dalam proses pengempeasan atau pengbendung


karetan, selama proses tersebut berjalan maka letak V notch bergerak dan
apabila proses tersebut dihentikan maka letak v notch akan diam. Kejadian
adanya

notch

tidak

pengeluaran

udara

di

bisa

dasar

dihilangkan
bendung

dengan

karet

atau

menambah

lubang

menambah

lubang

pemasukaan udara.
BK didisi udara yang paling berbahaya adalah bisa menimbulkan temperatur
tinggi dikala penyinaran matahari paling panas (dilapangan > 50 C atau
mendekati 2 x temperatur udara luar). Dampak dari temperatur lebih tinggi
dikala siang hari dan rendah dikala malam hari maka akan menimbulkan
kenaikan tekanan didalam kantung BK, bahanyanya kantung BK bisa
meledak. Salah satu bendung karet yang ada di Madiun telah meledak akibat
kenaikan temperatur disiang hari.
Gambar bendung karet berdasarkan pengisiannya biasa dilihat pada gambar 1
berikut ini.

H3

Air

H2

udara

H3

Udara
Air

Type diisi air

Type diisi udara

Type diisi air dan udara


(campuran)

Dengan kondisi panjang karet (arah melintang) dan jarak antara angker yang
sama maka tinggi bendung dibandingkan untuk masing-masing type bendung
ialah H2 > H3 > H1

Gambar 3.34 Gambar bentuk type bendung karet

Hal yang paling penting dari type isian bendung karet ialah sifat-sifat yang
paling menonjol dari masing-masing type bendung karet tersebut dan sifatsifat tersebut akan menjadi ciri khas dari pada masing-masing type bendung
karet.
PT. PURNATAMA KINDOTEKNIK

III-74

LAPORAN PENDAHULUAN

Perencanaan Detail Bendung Karet Jamblang Kabupaten Cirebon

Sifat-sifat tersebut yang menonjol ialah, kondisi mercu bendung karet apabila
di kempeskan, terjadi fibrasi pada saat kbendung karet 100% atau pada saat
dikempeskan, kecepatan dalam pengisian dan pengempesan bendung karet.
3.5.6.2

Layout dari Bendung

Pada bendung karet diisi air memerlukan rumah pompa dan rumah syphon
untuk pembuangan automatic tampa pompa, biasanya ruangan ini akan lebih
besar dibandingkan dengan rumah pompa udara. Pengambilan air untuk
pengisian harus ada saringan supaya sampah yang mengapung tidak akan
masuk ke pompa. Layout lengkap dengan skema detail potongan melintang
dan memanjang bendung karet lengkap dengan pipa pembuangan air,
pembuangan udara, pelepasan air dan pemasukan air bisa dilihat pada
gambar dibawah ini.

8
2

6
1

P
5

Gambar 3.35 Potongan melintang bendung karet Keterangan untuk profil

PT. PURNATAMA KINDOTEKNIK

memanjang dan melintang

III-75

LAPORAN PENDAHULUAN

Perencanaan Detail Bendung Karet Jamblang Kabupaten Cirebon

.
1. Pipa limpasan

2.
Pipa
udara

4 5

pembuangan

3. Pengukur tinggi muka


air di hulu
4.
Pengukur
tekanan
didalam badan bendung
5. Pipa pemberi
pembuang

dan

6. Badan bendung karet.

Gambar 3.36
Potongan memanjang bendung karet

7. Garis
dinding

angker

pada

8. Bangunan pengontrol
9. Meja bendung karet

PT. PURNATAMA KINDOTEKNIK

III-76

Lay Out Bendung Karet Diisi Air


9
6

8
7

10

11

10

Gambar 3.37
Skema Pompa dan Syphon

Kolam Air
3

10
1

7
6
4

Gambar 3.38
Gambar sketsa Syphon.

PT. PURNATAMA KINDOTEKNIK

III-77

LAPORAN PENDAHULUAN

Perencanaan Detail Bendung Karet Jamblang Kabupaten Cirebon

Keterangan Layout Bendung karet .


6
4

1.

Klep pengatur aliran


Kode nomor konstruksi
Kode nomor klep
Pompa

2. Intake air dari sungai

3. Saringan sampah
pompa

4. Pipa pelepasan dari

5.

Pipa Pengempesan pengbendung karetan

7.

Syphon

9.

pembuang udara

6. Badan bendung karet

8. Pipa Pelimpah air


10. Pengukur WL udik

11. Pengukur tekanan air di badan bendung.

Prosedure kerja pengempesan dan pengbendung karetan bendung karet diisi


air.
1. Pengbendung karetan dengan pompa: Tutup klep 6, 9, 10 dan buka klep
1, 2, 3, 4, 5, 7
2. Automatic pengempesan akan bekerja apabila datang banjir dan efektif
apabila head mencukupi untuk syphon, prosedure: Tutup klep 6, 7, 8, 10
dan buka klep 9.

System syphon ini akan berjalan dengan baik apabila

ada banjir sehingga meneka air yang didalam kantong bendung karet dan
tentunya melebihi tekanan rencana maka secara automatic air didalam
kantong bendung karet akan keluar dan bendung karet akan kempes,
banjir dapat diantisipasi dengan pengempesan secara automatic.
3. Membuang air dari dalam kantong sendiri (pengempesan) tampa pompa:
tutup klep 6, 7, 10 dan buka klep 8, 9.
4. Pengempesan dengan menggunakan pompa: buka klep 1, 7, 8 dan buka
klep 2, 3, 4, 5, 6, 9, 10

PT. PURNATAMA KINDOTEKNIK

III-78

LAPORAN PENDAHULUAN

Perencanaan Detail Bendung Karet Jamblang Kabupaten Cirebon

Lay Out Bendung Karet Diisi Udara


4
6
2

K
1
1

Gambar 3.39 Gambar sketsa layout bendung karet diisi udara

Keterangan
1 Badan bendung karet

K
1

Air

Udara

Air

2 Pipa pemasukan air pipa U


3
Pipa
pemasukan
pengeluaran udara.

dan

Pipa pengeluaran udara.

Pelampung pembuka kran


Pembuangan
(pengempesan).

udara

6 Bangunan pengontrol.
2

K = Kompresor Udara
M
=
Motor
Kompresor udara

penggerak

Gambar 3.40
Automatisasi dengan sistem pelampung.

Automatisasi dengan sistem pemberat ember.

PT. PURNATAMA KINDOTEKNIK

III-79

LAPORAN PENDAHULUAN

Perencanaan Detail Bendung Karet Jamblang Kabupaten Cirebon

M
2

Muka Air
Maksimum

1
5

Muka Air
Maksimum
1

3
3

Gambar 3.41 Gambar sistem otomatis pengempesan Bk diisi udara

Keterangan.
5

Ember pembuka kran pembuangan udara (pengempesan).

Pada prinsipnya sistem otomatis pengempesan bendung karet diisi udara


dengan menggunakan sistem ember ialah,
pada saat air diudik bendung melebihi level maksimum maka air dari udik
bendung akan mengalir mengisi ember dan ember menjadi berat serta
menarik katup pembuang udara dari bendung karet, bendung karet akan
kempes secara otomatis.
Tabel 3.17
Perbandingan antara bendung karet Diisi air dan diisi udara

PT. PURNATAMA KINDOTEKNIK

III-80

LAPORAN PENDAHULUAN

No

Perencanaan Detail Bendung Karet Jamblang Kabupaten Cirebon

Keterangan

Bendung Karet Di Isi Air

Bendung Karet
Di Isi Udara

Type

Diisi air

Diisi udara

Pengaturan muka air

Bisa diatur sampai elevasi air yang


diinginkan kecuali < 40% x Tg BK
(H)

Tidak bisa diatur, hanya maksimum


atau kempes.

Pengempesan
otomatis

Kalau head nya cukup (>1.5 m)


bisa dengan mengunakan syphon
atau dengan sytem automatic
electronic water level control yang
menghubungkannya
dengan
pompa.

Cukup dengan sistem pelampung


apung yang akan memutar dan
membuka klep.

Temperatur dalam dan


temperatur karet

Stabil dingin karena adanya air


sebagai pendingin.

Dengan warna karet yang hitam maka


akan menyerap panas lebih banyak, di
Indonesia bisa panas (50 C dikala
siang dan diatas tidak ada air
melimpah), maka umur akan lebih
pendek.

Umur bendung karet

35 tahun

Umur lebih pendek dari pada yang diisi


air karena temperatur bisa lebih panas
(mencapai 50 C).

Bentang
diizinkan

60 m.

40 m, kadang-kadang perlu bentang


pendek untuk melayani debit yang
lebih kecil dari debit banjir, 5 m, 10 m,
15 m, 20 m.

Perbandingan tekanan
didalam dan diluar
bendung karet

Tek didalam kantung / tek diluar


kantong bendung

Tekanan didalam kantung / tek diluar


kantong bendung

1.25-1.6
maka
memerlukan
kekuatan karet lebih tinggi dari
pada diisi udara.

0.65 - 1.1 maka memerlukan kekuatan


karet
lebih
rendah
dibandingkan
dengan diisi air, pada kondisi normal
dan kondisi panas temperatur tinggi
tekanan meningkat >1.5 kali.

Kolam Golakan

Lebih sederhana dan tipis

Lebih rumit, panjang dan tebal karena


adanya V-Notch.

Kedalaman air diatas


mercu

0.5 dari tinggi bendung karet

0.2 dari tinggi bendung karet

10

Pengaturan
limpas

yang

Mudah
diatur
sesuai
dengan
kebutuhan elevasi muka air di
sebelah udik, debit bisa dikontrol
dengan melihat tinggi muka air
diatas bendung karet karena
puncak bendung selalu horozontal

Tidak bisa diatur langsung kecuali


dengan bendung tambahan yang lebih
kecil
atau pakai pintu air (tambah
mahal), debit tidak bisa dihitung
karena adanya V Notch

11

Waktu Pengempesan
dan pengisian

Contoh lapangan: Untuk dimensi


panjang 40 m, tinggi 3.2 m . waktu
kempes 40 menit, pengisian 1.5
jam

Contoh lapangan: untuk dimensi L 40


m T 3.2 m waktu kempes 10 menit,
pengisian 40 menit

12

Periode pengempesan

Hanya waktu banjir besar (jarang


kempes total)

Banjir kecilpun harus dikempeskan


total. (maka akan sering di kempeskan)

13

Biaya operasi

Lebih
murah
dikempeskan

lebih
mahal
karena
sering
dikempeskan terutama dimusim hujan.

yang

air

Perlu ada perhitungan


lebih lanjut
14

Bendung karet yang


sudah dibangun di
Indonesia

1 buah

PT. PURNATAMA KINDOTEKNIK

karena

jarang

> 15 buah dan 1 buah rusak karena


kikisan dari pasir (sudah dibetulkan), 1
meledak (diganti pasangan), 1 sobek
3m
(sudah
dibetulkan),
bagian
elektronik rusak (belum db).

III-81

LAPORAN PENDAHULUAN

Perencanaan Detail Bendung Karet Jamblang Kabupaten Cirebon

Perbedaan Proses Pengempesan bendung karet diisi udara dan diisi air :

Kondisi Full terisi udara

Kondisi Full terisi air

Terjadi V Notch

Kondisi pengempesan bendung

Terjadi V Notch

Kondisi pengempesan bendung

Terjadi V Notch makin melebar ditengah

Bendung karet dalam keadaan kempes total

Gambar 3.42

Bendung karet dalam keadaan kempes total

Gambar Bendung karet diisi udara dan air dalam proses


pengempesan total

PT. PURNATAMA KINDOTEKNIK

III-82

LAPORAN PENDAHULUAN

3.5.6.3

Perencanaan Detail Bendung Karet Jamblang Kabupaten Cirebon

Pengaturan Debit Aliran di Atas Bendung

A. Bendung Karet Diisi Air


Mercu bendung karet diisi air bisa diturunkan sesuai dengan banjir yang
lewat, sampai batas maksimum tersisa 15 % dari tinggi bendung karet, atau
turun sampai 85 % dari tinggi bendung karet.
Bendung karet diisi air pada waktu pengempesan akan memerlukan waktu
lama, atau terjadi pengempesan yang pelan-pelan sehingga limpasan dihilir
juga tidak akan terjadi gelombang air yang besar.
Pada waktu penurunan bedung karet diisi air,

mercu bendung akan tetap

horizontal, maka debit yang lewat (melimpas) bisa dikontrol. Tetapi pada saat
tinggi bendung tinggal 15 % lagi akan terjadi fibrasi sehingga akan merusak
bendung karet, untuk itu harus diturunkan sampai kempes sekali.
Keuntungan dari horizontalnya mercu bendung karet diisi air pada waktu
dikempeskan ialah sebagai berikut:

Tidak

terjadi konsentrasi aliran diatas mercu maka aliran dihilir akan

aman dari gerusan.

Tidak

terjadi konsentrasi gerusan oleh sedimen yang dibawa air

sehingga bendung karet akan lebih aman dari gerusan.

Air yang lewat diatas mercu bisa dihitung debitnya sehingga bisa
digunakan

sebagai

alat

pengontrol

debit,

bisa

digunakan

untuk

memberikan debit minimum ke bagian hilir bendung karet secara pasti.

Apabila terjadi banjir yang lebih kecil dari banjir yang ditrencanakan
maka cukup dengan menurunkan mercu bendung sampai batas muka
air di udik yang diizinkan.

B. Bendung Karet Diisi Udara


Mercu bendung karet diisi udara tidak

bisa diturunkan sesuai dengan debit

banjir yang lewat, tetapi harus sampai kempes sekali, karena akan terjadi V
Notch dan terjadi konsentrasi aliran.
Supaya menghindari dampak negatif dari V Notch, maka untuk Bendung
karet diisi udara pada waktu pengempesan perlu dalam waktu cepat, tetapi
akan menimbulkan dampak dihilir bendung akan terjadi gelombang air yang
besar.

PT. PURNATAMA KINDOTEKNIK

III-83

LAPORAN PENDAHULUAN

Perencanaan Detail Bendung Karet Jamblang Kabupaten Cirebon

Kerugian atau dampak negatif dengan adanya V Notch di mercu bendung


karet diisi udara pada waktu dikempeskan ialah sebagai berikut:

Akan terjadi konsentrasi aliran diatas mercu maka aliran dihilir akan
menggerus dan merusak konstruksi.

Akan terjadi konsentrasi gerusan oleh sedimen yang dibawa air sehingga
bendung karet akan tidak aman dari gerusan.

Air yang lewat diatas mercu tidak bisa dihitung debitnya sehingga bisa
digunakan sebagai alat pengontrol debit, tidak bisa digunakan untuk
memberikan debit minimum ke bagian hilir bendung karet, kecuali
dengan menggunakan bentangan yang lebih kecil yang cukup untuk
debit minimum tersebut atau lewat pintu.
Maka untuk mengatur debit minimum harus ada bentang kecil atau
pintu pengatur.

Apabila terjadi banjir yang lebih kecil dari banjir yang direncanakan maka
harus dengan menurunkan mercu bendung sampai kempes sekali, kalau tidak
harus dengan menggunakan bentang yang bervariasi, misalnya bentang 5 m,
10 m, 15 m dan lain-lain.

PT. PURNATAMA KINDOTEKNIK

III-84

LAPORAN PENDAHULUAN

Perencanaan Detail Bendung Karet Jamblang Kabupaten Cirebon

Type Bendung Diisi Udara


Tekanan dalam/ tinggi bendung = 1.1

Muka air di udik bendung

Panjang lembar karet 3.48 x Tinggi bendung

1.0
Type Bendung Diisi air
Tekanan dalam/ tinggi
bendung = 1.5

Y/H

Panjang lembar karet


4.69 x Tinggi bendung

2.0

1.0
X/H

Gambar 3.43
melintang

Perbandingan bentuk dan ukuran lebar karet pada potongan


bendung karet diisi air dan diisi udara

A = Luas BK

(m 2)

Gambar 3.44 Hubungan antara luas melintang bendung karet dan tinggi bisa
Luas Melintang Bendung Karet
45
40

A = 14,2H - 0,0333

(Air)

35
30
25
20

A = 9,4H - 1,8333

(Udara)

15
10
5
0
1

1,5

2
H = Tinggi BK

2,5
(m )

3,5

terlihat pada grafik diatas dengan persamaan:


Diisi air A=14.2 H - 0.0333
Diisi Udara A = 9.4 H 1.8333
Dimana :

A = luas BK (m2)
H = tinggi BK (m2)

C. Bendung Karet Diisi Udara dan Air

PT. PURNATAMA KINDOTEKNIK

III-85

LAPORAN PENDAHULUAN

Perencanaan Detail Bendung Karet Jamblang Kabupaten Cirebon

Bagian atas dari isian bendung karet ini ialah udara, maka sifatnya akan sama
dengan bendung karet yang diisi udara selama udara tersebut cukup banyak.
Mercu bendung karet diisi udara dan air tidak bisa diturunkan sampai batas
tertentu yang diinginkan kecuali sampai seluruh udara tersebut keluar dan
yang tinggal hanya air.
Apabila dikempeskan dan udara masih tetap ada maka akan terjadi V Notch
dan terjadi konsentrasi aliran. Bentuk dan besarnya V Notch tergantung sisa
udara didalamnya. Apabila sudah tinggal air maka sifatnya akan sama dengan
bendung karet diisi air.
3.5.6.4 Perhitungan Hidrolis
Perhitungan

aliran

air

diatas

tubuh

menentukan dimensi tubuh bendung.

bendung

karet

bertujuan

untuk

Seperti biasanya elevasi mercu

ditentukan oleh kebutuhan dihilirnya sebagai pengguna air dari bendung


tersebut.
Sebagai langkah awal lebar bendung disesuaikan dengan kondisi sungainya
dan usahakan dulu penampang basah sebelum dan sesudah ada bendung
karet dibuat sama (BK lagi kempes).

Level air diatas mercu bendung

maksimum sesuai dengan syarat (1.1-1.2 H) dan level air maksimum tersebut
juga bisa dijadikan syarat untuk level air diudik BK pada saat banjir rencana.
Penentuan lebar bendung dengan debit banjir 100 tahun (atau lebih) dan
dalam keadaan BK kempes, dianggap aliran melewati ambang lebar, kalau
aliran dipengaruhi oleh pasang surut maka bisa menggunakan DUFLOW.
Apabila lebar bendung sudah memenuhi syarat mampu mengalirkan debit
banjir rencana maka dihitung kemampuan maksimum mengalirkan air diatas
mercu bendung karet dengan lebar bendung yang sudah ditentukan tadi.
Untuk aliran air diatas mercu BK sangat dipengaruhi oleh tekanan udara atau
air yang ada didalam kantong BK.
Atau harga h/H dipengaruhi oleh P/H, hasil percobaan di laboratorium uji fisik
hidrolika ITB memberikan ikatan yang dilukiskan dalam bentuk Polynomial
seperti pada halaman berikut ini.

PT. PURNATAMA KINDOTEKNIK

III-86

LAPORAN PENDAHULUAN

Perencanaan Detail Bendung Karet Jamblang Kabupaten Cirebon

Grafik hubungan P/H vs h/H dengan anti V-noth


0,35
0,30

h/H

0,25
0,20
0,15
0,10
0,05
0,00
0,00

0,25

0,50

0,75

1,00

1,25

1,50

P/H
tenggelam

tdk tenggelam

Poly. (tenggelam)

Poly. (tdk tenggelam)

Gambar 3.45 Hubungan antara P/H dan h/H pada Bk anti V Notch
Rumus empiris koefisien aliran diatas mercu bendung karet, adalah sebagai
berikut :
a. Peluap sempurna
Q = C.B.h3/2
- Jenis diisi udara : C = 1,77 h/H + 1,05 ;
dengan 0 < h/H < 0,6
- Jenis diisi air : C = 1,37 h/H + 0,96 ;
dengan 0 < h/H < 1,0

b. Peluap tidak sempurna


Q = C.B.h3/2
C = (-0,2 (hd-H)/h+1,1).C ; dengan (0,5 < (hd-H)/h <0,85)
c. Peluap tenggelam
Q = C.B.H3/2
C = (2,82(hd-H)/h). { 1-(hd-H) /h)}.C ; dengan 0,85 < (hd-H)/h < 1,0
dimana :
Q

= Debit ( m3/detik )

= Lebar peluapan ( m )

= Tinggi bendung ( m )

C, C, C = Koefisien debit
h = Tinggi air datas mercu ( m )
hd = Kedalaman air di hilir

(m)
P

= Tekanan air di badan bendung ( kg/cm 2)

Dari hasil penelitian di ITB, dengan menggunakan rumus diatas akan


menunjukan kecenderungan lebar BK akan lebih panjang dibandingkan

PT. PURNATAMA KINDOTEKNIK

III-87

LAPORAN PENDAHULUAN

Perencanaan Detail Bendung Karet Jamblang Kabupaten Cirebon

dengan teori perhitungan aliran limpasan diatas bendung yang lainnya,


seperti bendung mercu bulat.
Hasil percobaan hidrolis BK di ITB telah menghasilkan grafik hubungan antara
h/H dan q/(gz3)0.5 , grafik tersebut bisa digunakan untuk mencari tinggi muka
air diatas bendung dengan lebar BK sudah ditentukan.
1.1.I.1.1.

Dari hasil percobaan ternyata grafik tersebut mempunyai

kecenderungan garis lurus.


Dari grafik dibawah dengan menggunakan garis kecenderungan lurus
tersebut (grs coklat) didapat persamaan hubungan antara h/H dan q/
(gz3)0.5 adalah sebagai berikut :

Grafik hubungan h/H vs q/(gz3)0.5


0,14
0,13
0,12
y = 0,0473x

0,11

0,6627

h/H

0,1
0,09
0,08
0,07
0,06
0,05
0,04
1,00 1,25 1,50 1,75 2,00 2,25 2,50 2,75 3,00 3,25 3,50 3,75 4,00 4,25 4,50 4,75 5,00

q/(gz3)0.5*100

Gambar 3.46 Grafik untuk menghitung debit yang lewat diatas mercu BK

h/H = 0.023 q/(gz3)0.5 + 0.027


atau
q= 43.47826 h/H * (gz3)0.5 - 1.173913
z

Selisih muka air udik dan hilir bendung karet

tinggi muka air di udik bendung karet

tinggi badan bendung karet dikala kbendung karet 100 %

PT. PURNATAMA KINDOTEKNIK

III-88

LAPORAN PENDAHULUAN

1.1.I.1.2.

Perencanaan Detail Bendung Karet Jamblang Kabupaten Cirebon

Persamaan tersebut bisa digunakan untuk menghitung

aliran air diatas bendung karet, mencari debit maksimum yang mampu
dialirkan diatas bendung karet.
Untuk bendung karet pada kondisi aliran bebas (pelimpah sempurna) hasil
penelitian hidraulik di Lab Mekanika Fluida dan Hydraulika menghasilkan
persamaan koefisien aliran adalah:
C = 0.079 ( h/H) + 1.1477
Q = C.B.h3/2
Dimana h = tinggi muka air di hilir bendung karet (m)
H = Tinggi badan bendung karet dalam kondisi dikbendung karetkan 100%
dan setelah dialirkan air. (m)
B = lebar bendung karet (m)
Q = debit air yang mengalir diatas bendungkaret (m3/detik).
Bendung karet mempunyai sifat flexible apabila dialirkan air dan akan
bergerak ke arah hilir, tentunya tinggi bendung karet juga akan berubah.
Perubahan tinggi air dihilir bendung karet walaupun dengan debit yang sama
akan merubah posisi puncak bendung karet sehingga bisa turun dan naik.
Perubahan aliran serta perubahan air di hilir bendung karet juga akan
merubah

tekanan

dalam

kantong

bendung

karet,

faktor

yang

saling

berpengaruh tersebut adalah :


P

= tekanan dalam kantung BK.

= tinggi bendung karet dikala kbendung karet 100 %.

Y3

= tinggi air di hilir BK.

= tinggi air diatas mercu BK.

hu = tinggi air total di udik BK.

PT. PURNATAMA KINDOTEKNIK

III-89

LAPORAN PENDAHULUAN

Perencanaan Detail Bendung Karet Jamblang Kabupaten Cirebon

Bentuk BK sebelum ada


aliran air diatas mercu BK

1.0

Penurunan mercu

Y/H

Bentuk BK setelah ada


aliran air diatas mercu BK

1.0

2.0

X/H

Gambar 3.47 Perubahan Bentuk bendung karet setelah ada


air mengalir

Hubungan antara faktor tersebut diatas dilukiskan dalam persamaan


dengan dua kondisi aliran yaitu peluap sempurna dan tidak sempurna
PELUAP SEMPURNA
- Hubungan antara P/ H

VS

Y3/H:

P/H = 0.1397 ( Y3/H ) + 1.6897


- Hubungan antara h/H

VS

Y3/H

h/H = -0.0186 ( Y3/H ) + 0.109


PELUAP TENGGELAM
- Hubungan antara P/ H

VS

Y3/H:

P/H = 0.0124 Ln ( Y3/H ) + 1.8167


- Hubungan antara h/H

VS

Y3/H :

h/H = 0.1134 Ln ( Y3/H ) + 0.1094

PT. PURNATAMA KINDOTEKNIK

III-90

LAPORAN PENDAHULUAN

Perencanaan Detail Bendung Karet Jamblang Kabupaten Cirebon

3.5.6.5 Waktu Pengempesan dan Pengbendung karetan


A. Bendung Karet Diisi Air
Waktu pengempesan dan pengbendung karetan bisa diatur dari diameter pipa
dan pompa air yang dipasang, contoh yang ada di Semarang. Lebar bendung
karet 40 m, tinggi 3.2 m, memerlukan waktu pengempesan total 40 menit
dan pengbendung karetan kembali 1.5 jam. Apabila waktu konsentrasi banjir
yang direncanakan tidak kurang dari waktu pengempesan maka hal ini tidak
jadi masalah, karena waktu untuk mencapai puncak banjir masih > dari
waktu pengempesan.
Methode perhitungan pengeluaran

air dari kantong BK (pengempesan

tergantung dari kapasitas pompa). Volume air yang ada didalam kantong bisa
dcari dari bentuk BK diisi air dikalikan dengan panjang bendung karet.
Waktu pengempesan ialah V

/Q

air

pompa.

pompa

ditentukan dengan keinginan

waaktu pengempesan yang paling baik dan berhubungan erat dengan waktu
banjir yang dicapai sampai puncak.
B. Bendung karet diisi Udara
Waktu pengempesan bendung karet cukup cepat sekali bisa hanya mencapai
10 menit saja, dengan diameter pipa 15 cm, sedangkan pengbendung
karetannya kembali hanya memerlukan waktu 30 menit saja.
Formula

yang

digunakan

untuk

perhitungan

bendung

karetan

dan

pengempesan bendung karet diisi udara adalah sebagai berikut :


Waktu pengbendung karetan.
t1 = V0/(.Q1)
dimana:
t1 = waktu pengbendung karetan
Q1 = debit kompressor

= ratio tekanan pipa = 0,9


V0 = Volume udara dalam kantong bendung

Waktu pengempisan
t2 = V0/(60.S.V)
dimana :

PT. PURNATAMA KINDOTEKNIK

III-91

LAPORAN PENDAHULUAN

Perencanaan Detail Bendung Karet Jamblang Kabupaten Cirebon

t2 = waktu pengempisan V0 = Volume udara dalam kantong bendung


60

1 menit = 60 detik

S = penampang melintang pipa pembuang

V = kecepatan dalam pipa

2.g.Ho
V

{1+(.L)/d)}.

dimana :
g

= gravitasi

Ho = tekanan udara rata-rata selama waktu pengempisan

= koefisien friksi pipa = 0,03

= diameter pipa

L = panjang pipa pembuang


= density udara = 1,2 x 10-3 ton/m3

(Referensi dari Bendung Karet Bridgeston)

3.5.6.6 Angker Bendung


Bentuk stukture angker termasuk layout dari garis angker dan type angker
untuk memegang bendung karet pada meja beton, terbagi menjadi beberapa
type layout dan type bentuk angker.

A.

Layout garis angker


Lay out dari garis angker terbagi menjadi dua type yaitu:
Type satu baris angker dan Type dua baris angker.

Dua angker

Gambar 3.48

Satu angker

Lay out Angker Bendung karet

Bendung karet dengan angker satu baris efektif dipasang pada sungai yang
hanya satu aliran saja.

Angker satu baris dipasang pada bangian udik dari

badan bendung karet.


Bentuk

angker

ini

memerlukan

sheet

bendung

karet

lebih

banyak

dibandingkan dengan dua baris angker, tetapi ada kalanya sheet bendung

PT. PURNATAMA KINDOTEKNIK

III-92

LAPORAN PENDAHULUAN

Perencanaan Detail Bendung Karet Jamblang Kabupaten Cirebon

karet dipasang sampai terlipat pada angker yang udik.

Layout angker

dengan dua baris efektif dipasang pada sungai yang kena pengaruh pasang
surut, dimana arus air pada saat pasang akan berbalik arah ke udik.
Bendung karet dengan dua baris angker dipasang di bagian hilir dan bangian
udik bendung karet.
dan

Bendung karet yang dipasang di daerah pasang surut

terkena intrusi air asin bisa berfungsi sebagai penghalang masuknya

intrusi air asin.


Bentuk angker dua baris juga digunakan untuk pembagi kolam dimana
kadang-kadang kolam sebelah kiri dikuras dan sebelah kanan masih ada air
penuh dan sebaliknya
.
Angker dengan ukuran
M20-M 32 dan jarak dari
as-ke as 20 cm

Pipa saluran pemasukan


udara dan pengeluaran
udara

Daerah angker yang rawan bocor dan susah pemasangannya sehingga bentuk akan lain.

Gambar 3.49

B.

Pemasangan Angker BK dan Pemasangan kantong BK

Bentuk/ type angker bendung karet

Pada saat sekarang ada 4 bentuk/type angker untuk bendung karet yaitu :

The Bolt clip plate type: dilubangi atau tidak dilubangi sheet karetnya.

The Wedge extruded type

The water filled type

The bolt telescopic type

Pada halaman berikut ini tergambar angker yang dikembangkan di dalam


negeri dengan melubangi kantong BK nya dan dijepit dengan jepitan yang

PT. PURNATAMA KINDOTEKNIK

III-93

LAPORAN PENDAHULUAN

Perencanaan Detail Bendung Karet Jamblang Kabupaten Cirebon

terdiri dari Embedded, Clamping Plate dan Anchor Bolt.

Embeded dan

clamping dibuat dari bahan cor buatan Jerman GGG 50, atau dari baja anti
karat yang dipress dengan tebal baja 1 cm.

Clemping Plate

Clamping Plate

GGG 50

GGG 50

Embedded

Embedded

GGG 50

GGG 50
Plat baja hitam tebal 15 mm,
berbentuk segi 6
Anchor Bolt
C 50 Galvanis

Anchor Bolt
C 50 Galvanis

Embedded, Clamping Plate dan Anchor Bolt Yang akan


digunakan untuk bendung karet Kerta Karkim.

Embedded, Clamping Plate dan Anchor Bolt


Untuk di pinggir

Gambar 3.50 Gambar type angker bendung karet.


Pada prinsipnya angker berfungsi memegang badan bendung karet pada meja
beton tempat bendung karet berdiri.

Logam angker harus bersifat tahan

karat terhadap terhadap air asin, dan asam. Pada umumnya yang paling
berbahaya adalah terhadap asam, air asam datangnya dari daerah rawa.
Pemasangan angker harus dimulai pada waktu sebelum beton meja BK dicor,
embeded dan anchor bolt dilas pada tulangan beton dengan dudukan
tersendiri, sehingga pada waktu dicor tidak berubah lagi. Pemasangan
embeded dan angker harus lurus dan tegak lurus dengan dinding atau arus
aliran air di sungai.

PT. PURNATAMA KINDOTEKNIK

III-94

LAPORAN PENDAHULUAN

Perencanaan Detail Bendung Karet Jamblang Kabupaten Cirebon

Tidak terjadi V notch

1.0

P/H

h/H

A
B
Gambar 3.51 Hubungan Penenpatan

2.5

Jarak Angker Dengan

L = AB + AB
Karakteristik Bendung
3
D = AB
Karet
4
P = Tekanan di dalam kantung
7
bendung karet
H = Tinggi Bendung Karet
dalam keadaan kbendung karet
C. Pemasangan
Embedded dan
L/D
100 %
h = Tinggi air diatas mercu bendung
Pemasangan Jaringan Pipa
5

Pemasanga embedded dan anchor dilaksanakan setelah pemasangan tulangan


meja bendung selesai, embedded dan anchor dipasang dengan rangka
tersendiri, menggunakan besi siku dan dilas ke tulangan meja Bk. Anchor
dilas dengan menggunakan penyangga baja dan penyangga dilas ke rangka
besi siku.
Antara embedded dan anchor tidak boleh bergerak baik arah vertikal ataupun
arah horizontal, anchor harus lurus sekali (cek dengan alat theodolith dan
water pass).
Anchor bagian atas (drat) harus ditutup dengan penutup plastik supaya tidak
kena tumpahan cor beton.

PT. PURNATAMA KINDOTEKNIK

III-95

LAPORAN PENDAHULUAN

Perencanaan Detail Bendung Karet Jamblang Kabupaten Cirebon

Jaringan pipa

10

embeded

20

20

20

20

10

Satu batang embeded


Anchor

Anchor

Lantai beton bagian atas

Las listrik

Lantai beton bagian atas

Lantai kerja

Baja siku

Lantai kerja

Baja
siku

Baja beton 15 mm

Memanjang Embeded

Melintang
Embeded

Gambar 3.52 Konstruksi Pemasangan Embeded, anchor dan jaringan


pipa

Ruang
panel
pengontrol BK

Pengukur tekanan
kantong Bk

pengatur

dan

dlm

Pipa pemasukan udara


Pipa pengukur temperatur dalam Bk

Pipa pembuang

Pipa dan katup pelepas


tekanan lebih

Gambar 3.53 Sketsa Jaringan Pipa Bk diisi udara

3.5.6.7 Analisis Penurunan (Settlement)

PT. PURNATAMA KINDOTEKNIK

III-96

LAPORAN PENDAHULUAN

Perencanaan Detail Bendung Karet Jamblang Kabupaten Cirebon

Dalam analisis penurunan bendungan ini, akan dilakukan perhitungan


tegangan tekan tanah yang terjadi di pondasi, dimana tegangan tekan tanah
ini harus lebih dari daya dukung yang diijinkan. Karena pondasi bendungan
sangat luas maka tegangan tekan tanahnya juga tidak akan seragam di
daerah

satu

dengan

lainnya,

maka

perhitungan

dilakukan

di

daerah

bendungan yang paling tinggi.


Perhitungan

untuk

mencari

tegangan

tekan

tanah

adalah

dengan

menggunakan rumus sebagai berikut :

maks

VT
BL

dimana:
VT = gaya vertikal total yang menekan tanah di bawah pondasi.
L

= panjang pondasi.

= lebar bendungan.

Untuk mencari daya dukung pondasi dilakukan perhitungan menggunakan


Daya Dukung Tanah Pondasi Menurut Terzaghi:
Qultimate = 1.3 c Nc + q Nq + 0.4 B N
dimana:
Qultimate

= daya dukung ultimate tanah pondasi bendungan.

= kohesi tanah pondasi bendungan.

= beban di atas tanah pondasi bendungan.

= lebar bendungan.

= berat isi tanah pondasi bendungan.

Nc, Nq, N

= faktor yang tergantung besaran sudut geser tanah


pondasi (bisa dilihat dari tabel atau grafik).

Sedangkan untuk mencari faktor keamanan terhadap penurunan bendungan


digunakan rumus :

SFDayaDukung

Qultimate
maks

dimana :
Qultimate = daya dukung ultimate tanah pondasi bendungan.
maks

= tegangan tanah yang maksimum yang terjadi.

3.5.6.8 Analisis Daya Dukung Tanah

PT. PURNATAMA KINDOTEKNIK

III-97

LAPORAN PENDAHULUAN

Perencanaan Detail Bendung Karet Jamblang Kabupaten Cirebon

Dalam analisis daya dukung tanah ini, akan dilakukan perhitungan tegangan
tekan tanah yang terjadi di pondasi, dimana tegangan tekan tanah ini harus
lebih dari daya dukung yang diijinkan. Karena pondasi bendungan sangat luas
maka tegangan tekan tanahnya juga tidak akan seragam di daerah satu
dengan lainnya, maka perhitungan dilakukan di daerah bendungan yang
paling tinggi.
Perhitungan

untuk

mencari

tegangan

tekan

tanah

adalah

dengan

menggunakan rumus sebagai berikut:

maks

VT
BL

dimana:
VT = gaya vertikal total yang menekan tanah di bawah pondasi.
L

= panjang pondasi.

= lebar bendungan.

Untuk mencari daya dukung pondasi dilakukan perhitungan menggunakan


Daya Dukung Tanah Pondasi Menurut Terzaghi:
Qultimate = 1.3 c Nc + q Nq + 0.4 B N
dimana:
Qultimate

= daya dukung ultimate tanah pondasi bendungan.

= kohesi tanah pondasi bendungan.

= beban di atas tanah pondasi bendungan.

= lebar bendungan.

= berat isi tanah pondasi bendungan.

Nc, Nq, N = faktor yang tergantung besaran sudut geser tanah pondasi
(bisa dilihat dari tabel atau grafik).
Sedangkan untuk mencari faktor keamanan terhadap penurunan bendungan
digunakan rumus:

SFDayaDukung

Qultimate
maks

dimana:
Qultimate = daya dukung ultimate tanah pondasi bendungan.
maks
3.5.7

= tegangan tanah yang maksimum yang terjadi.

Penggambaran

PT. PURNATAMA KINDOTEKNIK

III-98

LAPORAN PENDAHULUAN

Perencanaan Detail Bendung Karet Jamblang Kabupaten Cirebon

Kaidah penggambaran dilaksanakan sesuai dengan petunjuk dari Direksi


pekerjaan. Peta/gambar yang akan disajikan dari pekerjaan topografi adalah:

Gambar konsep (draft) dibuat di atas kertas milimeter (grafik) yang telah
disetujui Direksi.

Peta situasi dan trase saluran dibuat pada skala 1:5.000 dengan interval
kontur 2,50 untuk daerah datar dan 5 m untuk daerah berbukit.

Titik-titik poligon utama, poligon cabang dan poligon ray digambar dengan
sistem koordinat.

Semua BM dan titik pengikat yang ada di lapangan digambar dengan


legenda yang

telah

ditentukan

dan dilengkap dengan elevasi dan

koordinat.

Trase dan penampang saluran dibuat secara memanjang dalam skala


panjang 1:1000 atau 1:2000 dan skala tegak 1:100 atau 1:200. Secara
melintang dalam skala panjang 1:100 dan skala tegak 1:100.

Rencana tapak bangunan digambar dengan skala 1:200 atau 1:100 atau
1:50 (disesuaikan dengan kondisi bangunan).

Garis silang grid dibuat dengan jarak 10 cm.

Legenda gambar mengikuti aturan yang ditetapkan oleh Direksi pekerjaan.

Gambar situasi dibuat di atas kodak trace double face dan gambar lainnya
dibuat di atas kalkir 90-95 gram dan cetak biru.

Garis sambungan (overlap) peta sebesar 5cm.

Peta ikhtisar mencantumkan nama kampung, nama sungai, BM, jalan,


jembatan, rencana jaringan dan bangunan.

3.6

PELAPORAN DAN DISKUSI

3.6.1

Jenis Pelaporan

Jenis laporan yang harus diserahkan kepada pengguna jasa adalah:


1. Rencana Mutu Kontrak
Rencana Mutu Kontrak ini berisi informasi kontrak, organisasi proyek,
Jadula, bagan alir, dan check list serta lampiran-lampiran yang dibutuhkan.
Laboran dibuat rangkap 10 (sepuluh) dan diserahkan pada minggu
pertama estela konsultan menerima SPMK.
2. Laporan Pendahuluan (Inception Report)

PT. PURNATAMA KINDOTEKNIK

III-99

LAPORAN PENDAHULUAN

Perencanaan Detail Bendung Karet Jamblang Kabupaten Cirebon

Laporan Pendahuluan ini berisi rencana kegiatan, pendekatan metodologi


yang digunakan, kajian studi terdahulu serta hasil peninjauan ke lapangan,
Laporan ini dibuat rangkap 10 (sepuluh) dan harus sudah diserahkan
paling lambat 1 (satu) bulan setelah konsultan menerima SPMK dan sudah
didiskusikan.
3. Laporan Bulanan
Laporan ini dibuat berisi informasi kemajuan pekerjaan, masalah yang ada
serta rencana kerja bulan berikutnya sebanyak 5 (lima) buku, 1 (satu)
buku asli dan 4 (empat) foto copy.
4. Laporan Hasil Pengukuran Topografi
Semua data ukur beserta hitungannya lengkap (buku ukur) harus
diserahkan oleh pihak konsultan kepada Direksi Pekerjaan sebanyak 2
(dua) buku, 1 (satu) set asli dan 1 (satu) set foto copy termasuk dalam
hal ini Deskripsi Bench Mark beserta foto-foto lengkap.
5. Laporan Hidrologi
Analisa hidrologi untuk menentukan debit banjir, debit andalan, data curah
hujan setempat selang 10 tahun terakhir pada lokasi penelitian dan
kebutuhan air domestic / irigasi disusun dalam Laporan Hidrologi harus
diserahkan oleh pihak Konsultan kepada Direksi Pekerjaan sebanya 5
(lima) buku, 1 (satu) set asli dan 4 (empat) set foto copy.
6. Laporan Sosial Ekonomi
Hasil analisa kondisi sosial ekonomi serta hasil surveynya disusun dalam
laporan sosial ekonomi dan harus diserahkan oleh pihak konsultan kepada
Direksi Pekerjaan sebanyak 5 (lima) buku, 1 (satu) set asli dan 4 (empat)
set foto copy.
7. Laporan Penyelidikan Geotek dan Mektan
Semua data penyelidikan geologi teknik dan mekanika tanah, termasuk
analisa laboratorium untuk menentukan indeks dan engineering properties
lengkap harus diserahkan oleh pihak konsultan kepada Direksi Pekerjaan
sebanyak 5 (lima) buku, 1 (satu) set asli dan 4 (empat) set foto copy.

8. Laporan Interim / Antara

PT. PURNATAMA KINDOTEKNIK

III-100

LAPORAN PENDAHULUAN

Perencanaan Detail Bendung Karet Jamblang Kabupaten Cirebon

Konsultan diminta untuk menyerahkan laporan interim / antara kepada


Direksi Pekerjaan sebanyak 5 (lima) buku, 1 (satu) set asli dan 4
(empat) set foto copy. Laporan ini berisikan mengenai hasil analisa data
serta hasil pekerjaan hingga laporan tersebut dibuat.
9. Nota Desain
Hasil perhitungan teknis bangunan pengendali banjir rencana harus
diserahkan oleh pihak konsultan kepada Direksi Pekerjaan sebanyak 5
(lima) buku, 1 (satu) set asli dan 4 (empat) set foto copy.
10. Laporan Volume Pekerjaan & Rencana Anggaran Biaya
Hitungan volume pekerjaan, analisa harga satuan pekerjaan, uraian back
up data dan rencana anggaran biaya disusun dalam buku volume
pekerjaan dan rencana anggaran biaya, diserahkan oleh konsultan
kepada Direksi Pekerjaan sebanyak 5 (lima) buku, 1 (satu) set asli dan 4
(empat) set foto copy.
11. Laporan Spesifikasi Teknis
Laporan ini berisikan mengenai spesifikasi teknis untuk pekerjaan fisik /
konstruksi bangunan pengendali banjir yang direncanakan tersebut.
Jumlah laporan ini yang harus diserahkan oleh Konsultan kepada Direksi
Pekerjaan adalah 5 (lima) buku, 1 (satu) set asli dan 4 (empat) set foto
copy.
12. Konsep Laporan Akhir
Konsep Laporan Akhir merupakan sari dari keseluruhan hasil pekerjaan
yang telah dilakukan dalam kaitannya dengan pekerjaan ini dan masih
berupa draft guna didiskusikan / dipresentasikan lebih lanjut. Laporan ini
diserahkan oleh pihak Konsultan kepada Direksi Pekerjaan sebanyak 10
(sepuluh) buku, 1 (satu) set asli dan 9 (sembilan) set foto copy.
13. Laporan Akhir
Laporan harus berisikan semua perbaikan dan penyempurnaan dari
Konsep Laporan Akhir yang telah didiskusikan dengan Direksi Pekerjaan.
Jumlah Laporan Akhir yang harus diserahkan kepada Direksi Pekerjaan
adalah 10 (sepuluh) buku, 1 (satu) set asli dan 9 (sembilan) set foto
copy.
14. Laporan Ringkasan

PT. PURNATAMA KINDOTEKNIK

III-101

LAPORAN PENDAHULUAN

Perencanaan Detail Bendung Karet Jamblang Kabupaten Cirebon

Laporan ini berupa ringkasan dari Laporan Akhir. Jumlah ringkasan yang
harus diserahkan kepada Direksi Pekerjaan adalah 10 (sepuluh) buku, 1
(satu) set asli dan 9 (sembilan) set foto copy.
15. Gambar Perencanaan
Semua hasil pengukuran topografi dan perencanaan teknis disajikan
dalam bentuk Gambar Perencanaan yang terdiri dari :
Gambar Asli ukuran A1 sebanyak 1 (satu) rangkap, dimasukkan dalam
tabung tertutup.
Gambar Reekalkir ukuran A1 sebanyak 1 (satu) set.
Gambar Blue Print ukuran A1 sebanyak 5 (lima) set.
Gambar ukuran A3 sebanyak 5 (lima) set.
Selain buku laporan, consultan wajib menyerahkan copy back up pekerjaan
laboran dan data pendukung lainnya dalam file electronic (CD) kepada
pemberi pekerjaan dan foto-foto lapangan yang dimasukkan di dalam album
diserahkan lepada Direksi sebanyak 3 (tiga) set dan 1 (satu) set lengkap
dengan negatif film serta menyerahkan program sarana penunjang presentasi
berupa transparan atau berupa file komputer yang tersusun sebanyak 1
(satu) set. Seluruh laporan mulai dari Rencana Mutu Kontrak sampai foto-foto
(album) yang merupakan satu kesatuan (satu set) yang tidak terpisah.
3.6.2 Diskusi
Diskusi akan dilakukan sebanyak 3 (tiga) kali dan diikuti oleh ketua tim dan
tenaga ahlinya. Diskusi tersebut adalah sebagai berikut :
Presentase dan diskusi laporan pendahuluan
Presentase dan diskusi laporan interim
Presentase konsep laporan akhir

PT. PURNATAMA KINDOTEKNIK

III-102