Anda di halaman 1dari 3

Nama

: Kholilah

Fakultas

: Pertanian

NPM

: 150610130125
Jika Aku Menjadi Ketua Karang Taruna Desa Galudra
Desa Galudra adalah salah satu desa terpencil yang ada di Kabupaten Purwakarta

Kecamatan Pondoksalam. Desa yang masih termasuk ke dalam daerah garis merah ini
memiliki berbagai potensi mulai dari lahannya yang subur sampai ke usaha kecil menengah
yang ada di desa ini.
Desa Galudra merupakan hasil dari pemekaran Desa Tanjungsari dan termasuk ke
dalam wilayah Kecamatan Pasawahan yang kemudian terjadi pemekaran hingga menjadi
Kecamatan Pondoksalam dan pada tahun 1978 terpilihlah Kepala Desa Bapak Amo sebagai
kepala Desa pertama di Desa Galudra.
Desa Galudra saat ini tengah dalam upaya peningkatan baik dari segi pembangunan,
perekonomian, kesehatan dan pendidikan masyarakat yang diantaranya tergambar dari
adanya pembangunan sarana desa seperti jalan desa, jalan lingkungan, irigasi, gedung
Sekolah, dan akan terus ditingkatkan sebagai sarana untuk mempermudah masyarakat
mengakses jalan jalan dalam melakukan aktivitasnya.
Dalam menjalankan program-programnya, pemerintahan desa dibantu oleh berbagai
organisasi atau kelembagaan desa. Kelembagaan atau organisasi yang ada di desa diantaranya
PKK (Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga), Karang Taruna, Poktan, Gapoktan,
LINMAS, dan lain-lain. Salah satu organisasi atau kelembagaan yang ada di Desa Galudra
dan yang paling saya soroti adalah Karang Taruna karena kelembagaan ini kurang berjalan di
Desa Galudra. Oleh sebab itu saya di sini akan memposisikan diri sebagai Ketua Karang
Taruna.
Karang Taruna adalah organisasi sosial kemasyarakatan sebagai wadah dan sarana
pengembangan setiap anggota masyarakat yang tumbuh dan berkembang atas dasar
kesadaran dan tanggung jawab sosial dari, oleh, dan untuk masyarakat terutama generasi
muda di wilayah desa/kelurahan terutama bergerak di bidang usaha kesejahteraan sosial.
Demikian disebutkan dalam Pasal 1 angka 1 Peraturan Menteri Sosial No. 77/HUK/2010
tentang Pedoman Dasar Karang Taruna (Permensos 77/2010).
Karang Taruna merupakan salah satu Lembaga Kemasyarakatan. Yang secara
fungsional dibina dan dikembangkan oleh Departemen Sosial. Karang Taruna memiliki tugas
1

pokok sebagai berikut: secara bersama-sama dengan pemerintah, pemerintah provinsi, dan
pemerintah kabupaten/kota serta masyarakat lainnya menyelenggarakan pembinaan generasi
muda dan kesejahteraan sosial (Pasal 5 Permensos 77/2010).
Fungsi Karang Taruna
a. Mencegah timbulnya masalah kesejahteraan sosial, khususnya generasi muda;
b. Menyelenggarakan kesejahteraan sosial meliputi rehabilitasi, perlindungan sosial,
jaminan sosial, pemberdayaan sosial dan diklat setiap anggota masyarakat terutama
generasi muda;
c. Meningkatkan Usaha Ekonomi Produktif;
d. Menumbuhkan, memperkuat, dan memelihara kesadaran dan tanggungjawab sosial setiap
anggota masyarakat teruatama generasi muda untuk berperan secara aktif dalam
penyelenggaraan kesejahteraan sosial;
e. Menumbuhkan, memperkuat, dan memeliharan kearifan lokal; dan
f. Memelihara dan memperkuat semangat kebangsaan, Bhineka Tunggal Ika dan tegaknya
Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Factor Penghambat dan Pendorong
Menurut saya ada faktor penghambat dan pendorong baik buruknya Karang Taruna,
diantaranya:
1. Factor Penghambat
Sulitnya mendapatkan anggota baru dan kekuatan ekonomi. Hal ini disebabkan dari sifat
pemuda yang sudah tidak peduli terhadap lingkungan bahkan acuh tak acuh terhadap
tetangga. Sifat individualis tinggi, seakan mereka tidak membutuhkan orang lain dalam
kehidupannya. Selain itu, tidak adanya keuntungan material jika mengikuti organisasi ini
juga menjadi salah satu factor penghambat enggannya bergabung dalam organisasi ini.
Banyak yang menganggap bahwa mengikuti Karang Taruna hanya membuang waktu dan
tidak menghasilkan uang.
2. Factor Pendorong
Sikap peduli golongan tua atau para tokoh masyarakat dan respon positif dari masyarakat
itu sendiri terhadap karang Taruna sehingga mendapat saran dan arahan agar Karang
Taruna ini tetap utuh dan kompak serta mampu melahirkan kreatifitas yang tinggi.
Langkah awal yang akan saya lakukan sebagai Ketua Karang Taruna adalah
mengusulkan pembuatan Undang-Undang dari Gubernur, seperti di Jakarta yang sudah dibuat
dan tertera dalam Peraturan Gubernur DKI Jakarta No. 8 Tahun 2012 tentang Karang Taruna
yang didalamnya mengatur ketentuan yang lebih khusus lagi mengenai Karang Taruna
2

seperti: organisasi, anggota dan pengurus Karang Taruna; musyawarah Karang Taruna;
pembinaan; program kerja, keuangan; dan sebagainya.
Dan tentu saja merancang struktur kepengurusan Karang Taruna yang terdiri dari:
Dewan Pembina, Ketua, Wakil Ketua, Sekretaris, Bendahara, dan bidang-bidang yang terdiri
dari: Bidang Kerohanian, Bidang Olahraga dan Seni Budaya, Bidang Lingkungan Hidup,
Bidang Kesejahteraan Sosial, Bidang Pendidikan dan Pelatihan IPTEK, dan Bidang
Hubungan Masyarakat.
Membuat logo Karang Taruna Desa Galudra. Logo dapat menjadi simbol eksistensi
suatu kelembagaan. Ketika suatu organisasi sudah eksis maka program-program akan terus
diperbaiki, dan begitu pun dengan anggota didalamnya akan terus di-upgrade skill-nya.
Dalam pelaksanaan program kerja, pengurus Karang Taruna melaksanakan program kerja
baik secara mandiri maupun program kerja sama dengan pemerintah desa. Fokus/target
dibentuknya Karang Taruna di desa/kelurahan adalah generasi muda, khususnya dalam
masalah perlindungan dan kesejahteraan sosialnya.
Menyusun program kerja Karang Taruna untuk satu tahun ke depan yang mengandung
unsur sebagai berikut: tingkat persoalan, tujuan, strategi, program kegiatan, hasil yang akan
dicapai, jadwal kegiatan, biaya, dan sumber daya yang dibutuhkan.
Berikut beberapa hal yang perlu diperhatikan untuk meningkatkan keutuhan Karang
Taruna Desa Galudra:
1. Kebebasan individu dalam memilih/masuk organisasi lain untuk mengembangkan
kreativitasnya.
2. Struktur yang baik dan memiliki pola komunikasi yang baik.
3. Membangun komunikasi, informasi dan partisipasi yang dibina dari dalam.
4. Perlu ditanamkan rasa bangga terhadap organisasi yang diikuti.
5. Bersikap aktif terhadap program organisasi.
6. Ikut membantu memecahkan permasalahan yang dihadapi.
7. Meningkatkan daya tarik bagi anggota baru.
8. Adanya sikap toleransi jika anggota melakukan kesalahan dalam berinovasi.
9. Kepemilikan hak dan kewajiban yang sama antar anggota.
10. Adanya reward dan punishment, reward atau penghargaan bagi anggota/pengurus yang
baik dalam mengikuti aturan, dan punishment atau sanksi/hukuman bagi anggota yang
lalai dalam melakukan tugas atau aturan yang telah dibuat.