Anda di halaman 1dari 27

MASA VOC DI INDONESIA

D
I
S
U
S
U
N
Oleh

KELOMPOK 3 :

1.Panji ramadhan
2.Sopiah
3.Syarep
4.Aisya masruro
5.Ahmad kurniawan
6.Ratih Yulia Putri
Guru pembimbing : Rahayu winarni s.pd
Nip :197308242005612067

Tahun ajaran 2014/2015

SMA NEGERI 3 PRABUMULIH


Bab I
Pendahuluan
A.latar belakang

Alhamdulillah, puji dan syukur atas kehadirat Allah Swt., karena atas berkat rahmat-Nya
kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul Masa VOC di Indonesia ini. Alasan kami
menyelesaikan makalah ini yakni untuk sebagai bahan pembelajaran untuk mata pelajaran
Sejarah.Penyusunan makalah ini dilakukan secara kerja sama. Setiap bab berisi tentang
berbagai artikel dengan disertai sumbernya.
Harapan kami, semoga makalah ini dapat membantu dalam pembelajaran Sejarah tentunya,
dan juga lebih menambah wawasan tentang VOC.
Penyusun
Rumusan masalah :
1.Apa latar belakang yang menyebabkan bangsa eropa datang ke indonesia ?
2.Bagaimana sejarah terbentuknya VOC?
3.Siapa pendiri dan pemimpin VOC ?
4.Apa tujuan VOC didirikan dan apa hak-hak istimewa yang di peroleh oleh VOC ?
5.Bagaimana politik perdagangan VOC ?
6.Apa yang menyebabkan VOC mengalami kebangkrutan pada pertengahan abad 18 ?
7.Adakah faktor yang menyebabkan kemunduran pada VOC sehingga VOC mengalami
kebangkrutan ?
8.Kebijakan apa yang di lakukan pada saat itu ?
9. Bagaimana reaksi rakyat indonesia terhadap upaya perdagangan portugis dan belanda ?

Tujuan pembelajaran
Mengatahui dan memahami :
- Latar belakang datangnya orang eropa ke indonesia.
2

- Sejarah berdirinya VOC.


- Pendiri dan pemimpin VOC.
- Tujuan didirikan VOC dan. hak- hak istimewa VOC
- Politik perdagangan VOC.
- Kekuasaan VOC dan tonggak-tonggaknya.
- Faktor yang menyebabkan VOC bangkrut.
- Kebijakan VOC.
- Reaksi rakyat indonesia terhadap upaya perdagangan Portugis dan Belanda.

A.Latar belakang datangnya orang eropa ke indonesia


Datangnya orang Eropa melalui jalur laut diawali oleh Vasco da Gama, yang pada tahun
1497-1498 berhasil berlayar dari Eropa ke India melalui Tanjung Pengharapan (Cape of Good
Hope) di ujung selatan Afrika, sehingga mereka tidak perlu lagi bersaing dengan pedagangpedagang Timur Tengah untuk memperoleh akses ke Asia Timur, yang selama ini ditempuh
melalui jalur darat yang sangat berbahaya. Pada awalnya, tujuan utama bangsa-bangsa Eropa
ke Asia Timur dan Tenggara termasuk ke Nusantara adalah untuk perdagangan, demikian
juga dengan bangsa Belanda. Misi dagang yang kemudian dilanjutkan dengan politik
pemukiman (kolonisasi) dilakukan oleh Belanda dengan kerajaan-kerajaan di Jawa, Sumatera
dan Maluku, sedangkan di Suriname dan Curaao, tujuan Belanda sejak awal adalah murni
kolonisasi (pemukiman).
Dengan latar belakang perdagangan inilah awal kolonialisasi bangsa Indonesia (Hindia
Belanda) berawal. Selama abad ke 16 perdagangan rempah-rempah didominasi oleh Portugis
dengan menggunakan Lisbon sebagai pelabuhan utama. Sebelum revolusi di negeri Belanda
kota Antwerp memegang peranan penting sebagai distributor di Eropa Utara, akan tetapi
setelah tahun 1591 Portugis melakukan kerjasama dengan firma-firma dari Jerman, Spanyol
dan Italia menggunakan Hamburg sebagai pelabuhan utama sebagai tempat untuk
mendistribusikan barang-barang dari Asia, memindah jalur perdagangan tidak melewati
Belanda.
Namun ternyata perdagangan yang dilakukan Portugis tidak efisien dan tidak mampu
menyuplai permintaan yang terus meninggi, terutama lada. Suplai yang tidak lancar
menyebabkan harga lada meroket pada saat itu. Selain itu Unifikasi Portugal dan Kerajaan
Spanyol (yang sedang dalam keadaan perang dengan Belanda pada saat itu) pada tahun 1580,
menimbulkan kekhawatiran tersendiri bagi Belanda. ketiga faktor tersebutlah yang
mendorong Belanda memasuki perdagangan rempah-rempah Interkontinental. Akhirnya Jan
Huyghen van Linschoten dan Cornelis de Houtman menemukan "jalur rahasia" pelayaran
Portugis, yang membawa pelayaran pertama Cornelis de Houtman ke Banten, pelabuhan
utama di Jawa pada tahun 1595-1597.
Pada tahun 1596 empat kapal ekspedisi dipimpin oleh Cornelis de Houtman berlayar
menuju Indonesia, dan merupakan kontak pertama Indonesia dengan Belanda. Ekspedisi ini
mencapai Banten, pelabuhan lada utama di Jawa Barat, disini mereka terlibat dalam
4

perseteruan dengan orang Portugis dan penduduk lokal. Houtman berlayar lagi ke arah timur
melalui pantai utara Jawa, sempat diserang oleh penduduk lokal di Sedayu berakibat pada
kehilangan 12 orang awak, dan terlibat perseteruan dengan penduduk lokal di Madura
menyebabkan terbunuhnya seorang pimpinan lokal. Setelah kehilangan separuh awak maka
pada tahun berikutnya mereka memutuskan untuk kembali ke Belanda namun rempahrempah yang dibawa cukup untuk menghasilkan keuntungan.
para pedagang Inggris yang memulai mendirikan perusahaan dagang di Asia pada 31
Desember 1600 yang dinamakan The British East India Company dan berpusat di Kalkuta.
Kemudian Belanda menyusul tahun 1602 dan Perancis pun tak mau ketinggalan dan
mendirikan French East India Company tahun 1604.
Pada 20 Maret 1602, para pedagang Belanda mendirikan Verenigde Oost-Indische
Compagnie - VOC (Perkumpulan Dagang India Timur). Di masa itu, terjadi persaingan sengit
di antara negara-negara Eropa, yaitu Portugis, Spanyol kemudian juga Inggris, Perancis dan
Belanda, untuk memperebutkan hegemoni perdagangan di Asia Timur. Untuk menghadapai
masalah ini, oleh Staaten Generaal di Belanda, VOC diberi wewenang memiliki tentara yang
harus mereka biayai sendiri. Selain itu, VOC juga mempunyai hak, atas nama Pemerintah
Belanda -yang waktu itu masih berbentuk Republik- untuk membuat perjanjian kenegaraan
dan menyatakan perang terhadap suatu negara. Wewenang ini yang mengakibatkan, bahwa
suatu perkumpulan dagang seperti VOC, dapat bertindak seperti layaknya satu negara.
Perusahaan ini mendirikan markasnya di Batavia (sekarang Jakarta) di pulau Jawa. Pos
kolonial lainnya juga didirikan di tempat lainnya di Hindia Timur yang kemudian menjadi
Indonesia, seperti di kepulauan rempah-rempah (Maluku), yang termasuk Kepulauan Banda
di mana VOC manjalankan monopoli atas pala dan fuli. Metode yang digunakan untuk
mempertahankan monompoli termasuk kekerasan terhadap populasi lokal, dan juga
pemerasan dan pembunuhan massal.
Pos perdagangan yang lebih tentram di Deshima, pulau buatan di lepas pantai Nagasaki,
adalah tempat satu-satunya di mana orang Eropa dapat berdagang dengan Jepang.Tahun 1603
VOC memperoleh izin di Banten untuk mendirikan kantor perwakilan, dan pada 1610 Pieter
Both diangkat menjadi Gubernur Jenderal VOC pertama (1610-1614), namun ia memilih
Jayakarta sebagai basis administrasi VOC. Sementara itu, Frederik de Houtman menjadi

Gubernur VOC di Ambon (1605 - 1611) dan setelah itu menjadi Gubernur untuk Maluku
(1621 - 1623).
(sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Vereenigde_Oostindische_Compagnie)

B.sejarah berdirinya voc(Vereenigde Ooostindische Compagni )


Orang Belanda yang pertama kali datang ke Indonesia adalah Cornelis de Houtman pada
tahun 1596, tepatnya ke daerah Banten. Dari Banten, Cornelis melanjutkan perjalanannnya ke
tiap pusat rempah-rempah di Maluku. Ia kembali ke negerinya membawa banyak rempahrempah. Sejak saat itu para bangsawan Belanda banyak berdatangan ke Indonesia. Agar tidak
terjadi persaingan antar sesame pedagang Belanda, maka pada tahun 1602 didirikan
perserikatan perusahaan Hindia Timur atau Vereenigde Ooost-Indische Compagnie (VOC)
yang dipimpin seorang Gubernur Jendral, Pieter Both.
a. Berdirinya VOC
Untuk mengatasi persaingan tidak sehat dan sekaligus mematahkan dominasi Portugis,
seorang anggota parlemen Belanda bernama Johan Van Oldebanevelt mengajukan sebuah
usul, yaitu penggabungan (merger) seluruh perusahaan datang yang ada di Belanda menjadi
satu serikat dagang.
Usulan tersebut mendapat sambutan baik. Pada tanggal 20 Maret 1602, berdiri Verenigde
Oost Compagnie atau serikat perusahaan dagang hindia timur, yang biasa dikenal dengan
VOC. Dengan modal pertama 6,5 miliar gulden, VOC dipimpin oleh tujuh belas direktur.
Mereka dikenal dengan sebutan Heeren Zeventien.
Kongsi Perdagangan Hindia Timur (Vereenigde Oostindische Compagnie atau VOC)
yang didirikan pada tanggal 20 Maret 1602 adalah persekutuan dagang asal Belanda yang
memiliki monopoli untuk aktivitas perdagangan di Asia. Disebut Hindia Timur karena ada
pula VWC yang merupakan persekutuan dagang untuk kawasan Hindia Barat. Perusahaan ini
dianggap sebagai perusahaan multinasionalpertama di dunia [2] sekaligus merupakan
perusahaan pertama yang mengeluarkan sistem pembagian saham.[3]
Meskipun sebenarnya VOC merupakan sebuah badan dagang saja, tetapi badan dagang
ini istimewa karena didukung oleh negara dan diberi fasilitas-fasilitas sendiri yang istimewa.
6

Misalnya VOC boleh memiliki tentara dan boleh bernegosiasi dengan negara-negara lain.
Bisa dikatakan VOC adalah negara dalam negara.
VOC memiliki enam bagian (Kamers) di Amsterdam, Middelburg (untuk Zeeland),
Enkhuizen, Delft, Hoorn, dan Rotterdam. Delegasi dari ruang ini berkumpul sebagai Heeren
XVII (XVII Tuan-Tuan). Kamers menyumbangkan delegasi ke dalam tujuh belas sesuai
dengan proporsi modal yang mereka bayarkan; delegasi Amsterdam berjumlah delapan.
Di kalangan orang Indonesia VOC memiliki sebutan populer Kompeni atau Kumpeni.
Istilah ini diambil dari kata compagnie dalam nama lengkap perusahaan tersebut dalam
bahasa Belanda. Tetapi rakyat Nusantara lebih mengenal Kompeni sebagai tentara Belanda
karena penindasannya dan pemerasan kepada rakyat Nusantara yang sama seperti tentara
Belanda.
( sumber : http://sunshinerainsoundgg.blogspot.com/2014/01/sejarah-berdirinya-voc-diindonesia.html)

C.Pendiri dan pemimpin voc


Pada awal pertumbuhannya sampai tahun 1610, Dewan Tujuh Belas secara langsung
harus menjalankan tugas-tugas dan menyelesaikan berbagai urusan VOC, termasuk urusan
ekspansi untuk perluasan wilayah monopoli. Dapat Kamu bayangkan Dewan Tujuh Belas
yang berkedudukan di Amsterdam, Belanda mengurus wilayah yang ada di Kepulauan
Nusantara. Sudah barang tentu Dewan Tujuh Belas tidak dapat menjalankan tugas seharihari secara cepat dan efektif. Sementara itu persaingan dan permusuhan dengan bangsabangsa lain juga semakin keras. Berangkat dari permasalahan ini maka pada 1610 secara
kelembagaan diciptakan jabatan baru dalam organisasi VOC, yakni jabatan gubernur
jenderal. Gubernur jenderal merupakan jabatan tertinggi yang bertugas mengendalikan
kekuasaan di negeri jajahan VOC. Di samping itu juga dibentuk Dewan Hindia (Raad van
Indie). Tugas Dewan Hindia ini adalah memberi nasihat dan mengawasi kepemimpinan
gubernur jenderal.
Gubernur jenderal VOC yang pertama adalah Pieter Both (1610-1614). Sebagai gubernur
jenderal yang pertama, Pieter Both sudah tentu harus mulai menata organisasi kongsi dagang
7

ini sebaik-baiknya agar harapan mendapatkan monopoli perdagangan di Hindia Timur dapat
diwujudkan. Pieter Both pertama kali mendirikan pos perdagangan di Banten pada tahun
1610. Pada tahun itu juga Pieter Both meninggalkan Banten dan berhasil memasuki
Jayakarta. Penguasa Jayakarta waktu itu, Pangeran Wijayakrama sangat terbuka dalam hal
perdagangan. Pedagang dari mana saja bebas berdagang, di samping dari Nusantara juga dari
luar seperti dari Portugis, Inggris, Gujarat/India, Persia, Arab, termasuk juga Belanda.
Dengan demikian Jayakarta dengan pelabuhannya Sunda Kelapa menjadi kota dagang yang
sangat ramai. Kemudian pada tahun 1611 Pieter Both berhasil mengadakan perjanjian dengan
penguasa Jayakarta, guna pembelian sebidang tanah seluas 50x50 vadem ( satu vadem sama
dengan 182 cm) yang berlokasi di sebelah timur Muara Ciliwung. Tanah inilah yang menjadi
cikal bakal hunian dan daerah kekuasaan VOC di tanah Jawa dan menjadi cikal bakal Kota
Batavia.
Di lokasi ini kemudian didirikan bangunan batu berlantai dua sebagai tempat tinggal,
kantor dan sekaligus gudang. Pieter Both juga berhasil mengadakan perjanjian dan
menanamkan pengaruhnya di Maluku dan berhasil mendirikan pos perdagangan di Ambon.
Berikut nama - nama pemimpin voc :
1610-1614
1623

Pieter Both ,1614-1615

Jan Pieterszoon Coen, 1623-1627

Coen,1629-1632

Pieter Carpentier , 1627-1629

Jacques Specx,1632-1636

Diemen,1645-1650

Rijcklof

van

Johannes Camphuys,1691-1704

1725

Zwaardecroon,1725-1729

Baron

van

1796

Johannes

Imhoff,1750-1761

Parra,1775-1777

Riebeeck,1713-1718
Mattheus

Dirk van Cloon,1735-1737

Valckenier,1741-1743

Jeremias

Thedens

Christoffel
de

Joan

Speelman,1684van

Joan van
Swoll,1718-

Haan,1729-1731

Diederik

Abraham Patras,1737-1741

Adriaan

(waarnemend),1743-1750

Jacob Mossel,1761-1775

van

Cornelis

Willem van Outhoorn,1704-1709

Abraham

Durven,1732-1735

Antonio van

Carel Reyniersz,1653-1678

Goens,1681-1684

Hoorn,1709-1713
Hendrick

van

Jan Pieterszoon

Hendrik Brouwer,1636-1645

Cornelis van der Lijn,1650-1653

Maetsuycker,1678-1681
1691

Gerard Reynst,1616-1619 Laurens Reaa ,1619-

Riemsdijk,1777-1780

Gustaaf

Petrus Albertus
Reinier

de

Willem
van

der

Klerk,1780-

Willem Arnold Alting. http://ainuttijar.blogspot.com/2012/12/nama-nama-gubernur-

jenderal-dari-voc.html

D.Tujuan dan hak hak istimewa voc


Tujuan di bentuknya voc yaitu :
(1) menghindari persaingan yang tidak sehat antara sesama kelompok/kongsi pedagang
Belanda yang telah ada,
(2) memperkuat kedudukan Belanda dalam menghadapi persaingan dengan para pedagang
negara lain.
Hak hak istimewa voc :
VOC yang didirikan pada tahun 1602, oleh pemerintah negeri Belanda diberikan octrooi
(hak istimewa) yakni sebagai berikut :
a. Hak monopoli perdagangan.
b. Hak untuk memiliki tentara.
c.. Hak untuk melakukan ekspansi ke Asia, Afrika, dan Australia.
d.. Hak untuk melakukan peperangan, membuat perdamaian, dan mengadakan perjanjian
dengan raja-raja yang dikuasainya.
e.. Hak untuk mencetak uang.
Dengan hak-hak istimewa tersebut, VOC bukan saja sebagai kongsi dagang tetapi juga
merupakan pemerintahan semi resmi. Pada tahun 1605, VOC di bawah pimpinan Steven van
der Haagen berhasil merebut benteng Portugis di Ambon. Untuk memperkuat kedudukannya,
VOC mengangkat seorang pimpinan yang berpangkat Gubernur Jenderal. Untuk membantu
Gubernur Jenderal, di daerah-daerah penting diangkat seorang Gubernur. Gubernur Jenderal
yang pertama ialah Pieter Both dan berkedudukan di Ambon; karena Ambon merupakan
pangkalan dagang VOC yang paling kuat dan strategis.
( sumber : http://istikomah85.wordpress.com/masa-kolonial/kolonisasi-voc/ )

E.Politik perdagangan
Peraturan-peraturan yg ditetapkan VOC dalam melaksanakan monopoli perdagangan
antara lain:
a).Verplichte Laverantie : Yaitu penyerahan wajib hasil bumi dengan harga yg telah
ditetapkan oleh VOC,dan melarang rakyat menjual hasil buminya selain kepada VOC.
b).Contingenten : Yaitu kewajiban bagi rakyat untuk membayar pajak berupa hasil bumi.
c).Peraturan tentang ketentuan areal dan jumlah tanaman rempah-rempah yang boleh
ditanam.
d).Ekstirpasi: Yaitu hak VOC untuk menebang tanaman rempah- rempah agar tidak terjadi
over produksi yg dapat menyebabkan harga rempah-rempah merosot.
e).Pelayaran Hongi : Yaitu pelayaran dengan perahu kora-kora (perahu perang) untuk
mengawasi pelaksanaan monopoli perdagangan VOC dan menindak pelanggarnya.
Beberapa gubernur jendral VOC yang dianggap berhasil dalam mengembangkan usaha
dagang dan kolonisasi VOC di Nusantara antara lain :
1.Jan Pieterzoon Coen (1619-1629 ) Dikenal sebagai peletak dasar imperialisme Belanda di
Nusantara.Ia dikenal pula dengan rencana kolonisasinya dengan memindahkan orang-orang
Belanda bersama keluarganya ke Indonesia.
2.Antonio Van Diemen (1636-1645) Ia berhasil memperluas kekuasaan VOC ke Malaka pada
tahun 1641,Ia juga mengirimkan misi pelayaran yang

dipimpin Abel Tasman ke

Australia,Tasmania,Selandia baru.
3.Joan Maetsycker (1653-1678) Ia berhasil memperluas wilayah kekuasaan VOC ke
Semarang Padang dan Menado.
4.Cornelis Speeldman (1681-1684) Ia menghadapi perlawanan didaerah dan tidak berhasil
mengalahkan Sultan Agung,Trunojoyo dan Sultan Ageng Tirtayasa.
( sumber : http://istikomah85.wordpress.com/masa-kolonial/kolonisasi-voc/ )

10

F.Puncak Kekuasaan VOC dan Keruntuhannya


Sebagai kekuasaan dagang, VOC tidak bisa lagi menutupi parahnya keadaan
keuangannya. Setelah pemegang anticipatiepenningenpanik pada 6 Februari 1781,
pemerintah Belanda segera turun tangan. Pinjaman baru di berikan lewat penerbitan obligasi,
sehingga VOC memiliki utang sebesar 55 juta gulden. Sementara itu, perang di Eropa makin
meluas. Perancis bersekutu dengan Belanda melawan Inggris. Untuk keperluan dagang dan
pertahanan di Nusantara, dari 1781 -1795 VOC terpaksa menambah utang dari 55 juta
menjadi 137 juta gulden.
Williem V yang mengungsi ke Inggris memandang tidak masuk akal lagi
mempertahankan VOC sebagaimana yang di kehendaki oleh beberapa pihak di Belanda.
Maka berdasarkan pasal 249 UUD Republik Bataaf(Belanda) 17 Maret 1799, di bentuklah
suatu badan untuk mengambil alih semua tanggug jawab atas milik dan utang VOC. Badan
itu bernama Dewan Penyatuan Hak Milik Belanda di Asia (de Raad van Aziatische
Bezittingen en Etabilisementen). Pengambil alihan itu resmi di umumkan di Batavia pada 8
Agustus 1799. Pada 31 Desember 1799, VOC resmi di nyatakan bangkrut dan seluruh
miliknya berada di bawah kekuasaan Negara Belanda.
Dengan demikian, berakhirlah kejayaan suatu kekuasaan besar yang mirip Negara dari
suatu perusahaan dagang. Dengan kekuasaan itu, telah di himpunnya di Batavia dan
sekitarnya lebih daripada 40 kelompok masyarakat yang berasal dari Nusantara dan berbagai
wilayah di dunia. Jumlahnya sekitar 128.000 jiwa, tetapi dari jumlah tersebut hanya sekitar
600 orang Eropa.
Menjelang akhir kekuasaannya, ke-40 kelompok itu di ciutkan praktis tinggal menjadi 3
kelompok saja (Eropa, China, dan Bumiputera). Dasar penciutan ini sebenarnya adalah
prakarsa anggota semua kelompok untuk berbaur, dan yang sebenarnya merupakan reaksi
terhadap kekuasaan VOC, baik sebagai perusahaan dagang maupun sebagai Negara. Dalam
prakarsa untuk berbaur itulah tertanam akar-akar kebangsaan Indonesia. (dalam Christina M.
Udiani. 2006: 64).
( sumber :Aziz, Maliha dan Asril. 2006. Sejarah Indonesia III. Pekanbaru : Cendekia Insani
Udiani, Christina M. 2006. Menjadi Indonesia. Jakarta : Kompas )

G.Faktor yang menyebabkan kebamgkrutan voc


VOC ( Verenigde Oostindische Compagnie) atau yang biasanya kita kenal dengan kongsi
dagang milik belanda ini telah berdiri sejak 1602 ini yang pertama kali datang ke indonesia
11

untuk melakukan perdagangan keseluruh benua asia. tapi tahukah kalian bahwa VOC
dulunya merupakan salah satu kongsi dagang yang paling berkuasa dan berjaya karena
mereka memiliki banyak laba dari hasil penjualan rempah-rempah dan barang komoditi
lainnya dari Asia yang kemudian dijual ke Eropa. Kemudia perusahaan yang dimiliki
mayoritas seluruh warga negara Belanda ini pernah mengalami kebangkrutan dan akhirnya
semua aset-asetnya diambil oleh pemerintahan Belanda pada sekitar abad ke-18. fajtor-faktor
penyebab kebangkrutan VOC antara lain:
1.banyaknya korupsi yang dilakukan oleh sebagaian besar pegawai tinggi VOC yang dibuat
untuk membeli rumah-rumah mewah di Belanda .
2.pembukuan mengenai laba yang berbeda antara kantor dagang di Asia dengan kantor di
Pusat yakni di Belanda, sehingga menyebabkan banyak sekali uang-uang hasl laba dari VOC
yang diselewengkan oleh para pegawai yang bekerja di kantor-kantor cabang VOC.
3.Adanya ekspansi dagang yang dilakukan VOC untuk memperbesar daerah jangkauannya
perdangannya yang membutuhkan biaya yang tidak sedikit sedangkan laba yang dibubukan
VOC tidak mencukupi sehingga banyak hutang-hutang yang timbul akibat ekspansi dagang
tersebut.
4.adanya serangan terhadap kapal-kapal milik VOC di lautan yang dilakukan oleh armada
kapal laut milik Eropa, sehingga banyak kapal dagang milik VOC yang tidak kembali
sehingga membuat VOC menjadi kekurangan armada kapal untuk dagang.
Pada pertengahan abad ke 18 VOC mengalamii kemunduran karena beberapa sebab sehingga
dibubarkan.Banyak pegawai VOC yang curang dan korupsi

Banyak pengeluaran untuk biaya peperangan contoh perang melawan Hasanuddin


dari Gowa.

Banyaknya gaji yang harus dibayar karena kekuasaan yang luas membutuhkan
pegawai yang banyak

Pembayaran Devident (keuntungan) bagi pemegang saham turut memberatkan setelah


pemasukan VOC kekurangan

Bertambahnya saingan dagang di Asia terutama Inggris dan Perancis.

12

Perubahan politik di Belanda dengan berdirinya Republik Bataaf 1795 yang


demokratis dan liberal menganjurkan perdagangan bebas.

Berdasarkan alasan di atas VOC dibubarkan pada tanggal 31 Desember 1799 dengan hutang
136,7 juta gulden dan kekayaan yang ditinggalkan berupa kantor dagang, gudang, benteng,
kapal serta daerah kekuasaan di Indonesia.
( sumber http://sejarah-andychand.blogspot.com/2013/11/faktor-faktor-penyebabkehancuran-voc.html )

H.Kebijakan voc
a.kebijakan politik pintu terbuka
Politik Pintu Terbuka Sebagai wujud Transformasi Modal dan transformasi Agraria di
Indonesia Pasca defisit keuangan Pemerintah Belanda, para pejabat di bawah pimpinan Elout,
Van der Cappellen mulai melakukan sejumlah kebijakan internal maupun eksternal guna
meningkatkan pendapatan kerajaan, khusunya di Hindia Belanda. Kebijakan internal yang
dilakukan adalah dengan melakukan reformasi dan rasionalisasi struktur birokrat negara.
Sejumlah pejabat yang disinyalir melakukan korupsi ditindak secara tegas. Sedangkan di
tingkat eksternal, arah kebijakannya ditujukkan kepada daerah-daerah koloni kerajaan, secara
khusus di Hindia Belanda. Hal ini dikarenakan salah satu penyebab defisit keuangan negara
adalah biaya perang yang begitu besar, terutama Perang Diponegoro dan Perang Paderi.
Selain itu juga dikarenakan VOC ( Verenigde Oost Indische Compagnie) mengalami kerugian
besar. Upaya pertama yang dilakukan adalah penempatan Van den Bosch sebagai Gubernur
Jenderal baru, setelah ditinggal T.S Raffles (1811-1816) yang pulang ke Inggris. Solusi utama
peningkatan keuangan negara adalah pelaksanaan konsep tanam paksa (1830-1870). Orientasi
dari pelaksanaan sistem tanam baru ini adalah peningkatan ekspor daerah koloni yang
diperjualbelikan di pasar internasional.
Ketentuan-ketentuan dalam sistem tanam paksa pada dasarnya adalah peningkatan
surplus pertanian yang ditujukan untuk peningkatan keuangan Belanda. Sistem tanam paksa
sebenarnya merupakan lanjutan dari kebijakan liberal dalam bentuk sewa tanah yang telah
digagas Raffles. Melalui sewa tanah, mulai berdatangan sejumlah besar modal akibat
datangnya banyak orang Eropa ke Hindia Belanda . Namun, hal ini tidak betahan lama,
karena pasca London Treaty (1814) antara Belanda dan Inggris, maka Hindia Belanda
13

kembali menjadi wilayah jajahan Belanda (1816). Sistem tanam paksa diterapkan setelah
Belanda kembali menguasai Hindia Belanda. Pelaksanaan tanam paksa mendatangkan
keuntungan yang begitu besar terhadap devisa kerajaan Belanda, karena produk-produk
pertanian yang berasal dari Hindia Belanda laku pesat di pasar internasional, khususnya
Eropa dan Amerika. Namun, terjadi pergolakan pada akhir tahun 1869. Pada akhir 1869,
pemilihan Parlemen Belanda didominasi kelompok liberal. Kelompok liberal yang muncul
pada pertengahan abad- XIX di Belanda, melihat bahwa keuntungan yang begitu besar dari
tanah jajahan tidak hanya dimonopoli pemerintah setempat, tetapi juga harus diberikan
kepada pihak swasta berdasarkan mekanisme pasar bebas. Kelompok liberal merupakan
manifestasi dari kelas borjuis Belanda yang juga menginginkan keuntungan dari tanah
jajahan. Kelas borjuis ini menampakkan sifatnya sebagai kelas kapital borjuis, yakni kapital
yang hanya berorientasi pada keuntungan sebesar-besarnya dari surplus pertanian.
Dampak selanjutnya orientasi kebijakan ekonomi di Hindia Belanda juga terpengaruh.
Kepemilikan pemerintah yang begitu dominan di bidang pertanian, khususnya kepemilikan
tanah, kemudian harus berganti menjadi kepemilikan swasta. Terjadi swastanisasi terhadap
sektor pertanian dan perkebunan di Hindia Belanda. Banyak perkebunan swasta bermunculan
di Sumatera Timur dan sebagian besar Jawa. Tanaman-tanaman perkebunan seperti kopi,
kina, kopra, kapas menjadi tanaman ekspor yang cukup laku di pasaran internasional. Hal ini
kemudian memunculkan sekelompok pengusaha-pengusaha baru yang berasal dari Eropa
yang menguasai hampir semua surplus kemakmuran dari sektor pertanian. Melihat hal ini
Gubernur Jenderal Van Den Bosch berusaha mengikis kepemilikan swasta yang berlebih
dengan sistem bagi hasil yang sebagian besar dikuasai pemerintah Belanda. Kelas kapital
negara muncul atas kegelisahan Van Den Bosch tersebut. Negara menginginkan dominasi
dalam penguasaan keunutngan dari tanah jajahan . Beberapa langkah yang ditempuh adalah
penetapan beberapa undang-undang, seperti :
1. Undang-Undang Perbendaharaan Hindia Belanda (Indische Comptabiliteitswet) tahun
1867 yang menyatakan bahwa anggran belanja Hindia belanda harus ditetapkan dengan
undang-undang, jadi dengan persetujuan Parlemen belanda
2. Undang-Undang Gula (Suikerwet) tahun 1870, berisi ketetapan bahwa tanaman tebu
adalah tanaman monopoli pemerintah berangsur-angsur akan dihilangkan sehingga di Pulau
jawa dapat diusahakan oleh pengusaha swasta.

14

3. Undang-Undang Agraria (Agrarichwet) yang berisi : Tanah di Hindia Belanda


(Indonesia) dibedakan atas dua, yakni tanah rakyat dan tanah pemerintah Tanah rakyat
dibedakan atas tanah milik yang sifanya bebas dan tanah desa yang miliknya tidak bebas.
Tanah rakyat tidak boleh dijual kepada bangsa asing, hanya boleh disewakan Tanah
pemerintah dapat dijual untuk tanah milik atau disewakan selama 75 tahun
Melalui kebijakan tanam paksa, kepemilikan modal tetap diberikan kepada swasta yang
bekerjasama dengan pemerintah. Kebijakan ini memunculkan sejumlah besar modal asing
yang berasal dari Eropa dan Amerika. Era ini kemudian dikenal dengan Politik Pintu Terbuka
(Open Door Policy). Selain muncul begitu banyak perkebunan, seperti teh,kopi,kina, serat
nanas, kelapa sawit, juga terdapat pembukaan pertambangan di Hindia Belanda, seperti
minyak di Sumatera dan Kalimantan, batubara di Sumatera Barat dan Selatan, serta timah di
Kepulaan Bangka. Masuknya modal swasta ini, kemudian menuntut bukan hanya
keuntungan, tetapi dengan keuntungan yang diperoleh ini mampu memberikan keuntungan
lagi melalui proses industri yang bernafaskan efisiensi dan efektivitas. Kemudian muncullah
jalur kereta api di Hindia belanda, jalan raya, pelabuhan dan sejumlah infrastruktur lainnya
demi tercapainya modernitas, khususnya sektor pertanian. Gaya kapitalis negara, berubah
menjadi kapiltalis industri yang didominasi pengusaha-pengusaha Eropa dan Amerika. Era
baru masuknya modal ini justru membuat masyarakat semakin sengsara. Kondisi pertanian
dalam negeri bersifat eksplosif dan eklsploitatif demi memenuhi kebutuhan ekspor dan
pendapatan negara Belanda. Sedangkan para petani semakin sulit unutk dapat meningkatkan
kesejahteraan hidupnya.
Kolonialisme telah mengubah struktur masyarakat Indonesia dan pola pertanian bangsa
ini. Berdasarkan pola tanam baru ini (cultuuer stelsel), secara tidak langsung mengubah
transformasi agraria di Indonesia. Masyarakat Indonesia dipaksakan menyeragamkan
komoditi pertanian demi kepentingan ekspor. Padahal masyarakat Indonesia masih
menerapkan pola pertanian tradisional yang bersifat subsisten. Petani Indonesia pada
dasarnya menggunakn pola produksi pertanian untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari,
kalupun terdapat kelebihan produksi (over production), kelebihan produksi ini dipertukarkan
dengan kebutuhan pokok lainnya. Hal ini berubah setelah pihak kolonial menerapkan pola
tanam paksa, dengan memaksa petani menanamkan produk-produk pertanian berorientasi
ekspor yang laku di pasar internasional, seperti kopi, teh,kina,kapas, kelapa sawit . Selain itu,
penggunaan asupan pertanian baru seperti pupuk kimia, traktor, mesin giling, dan berbagai
input lainnya membuat pola pertanian Indonesia bergantung kepada asupan peningkatan
15

produksi pertanian dari luar negeri. Sistem produksi pertanian Indonesia rentan terhadap
input-input pertanian yang berasal dari Eropa. Berikutnya adalah hancurnya transformasi
agraria di Indonesia. Secara sederhana, transforma agraria adalah peralihan masyarakat dari
feodal dan agraris ke masyrakat kapital dan industrialis. Berpindahnya penduduk pedesaan
yang semula agraris menjadi pekerja sektor modern karena tumbuhnya berbagai bidang kerja
sektor modern. Struktur masyarakat pertanian Indonesia, idealnya mengalami hal ini, tetapi
dihambat oleh arus kolonialisme. Konsepsi Adam Smith bahwa dalam proses transformasi
agraria akan memunculkan kelas pekerja, tuan tanah dan kelas kapitalis. Upah, sewa tanah
dan modal merupakan output dari munculnya ketiga kelas sosial tersebut. Masyarakat Barat
melewati proses yang menyeluruh dari transformasi agraria. Kelas tuan tanah memiliki
surplus pertanian yang dikonversi menjadi teknologi pertanian yang berevolusi menjadi
industrialisasi.
Terjadinya industrialisasi yang menuntut efektivitas dan efisiensi produksi membuat
sektor pertanian mengalami evolusi menjadi pertanian berbasis agroindustri dan agrobisnis.
Kelas tuan tanah berubah menjadi kelas pemilik modal (kapitalis). Ditambah dengan
berkembangnya lembaga-lembaga demokrasi, maka proses transformasi masyarakat petani di
Eropa berjalan maksimal dan menyeluruh. Sedangkan di Indonesia, pasca masuknya modal
asing dan perubahan pola pertanian lokal, maka proses transformasi juga berjalan mandet,
bahkan tidak berjalan sama sekali. Masyarakat petani di Indonesia, dibagi atas petani sawah
(Jawa, Sumatera, dan Sulawesi Selatan), petani ladang berpindah (Kalimantan, sebagian
besar Sulawesi, NTT) serta petani peramu dan pemburu (Papua) . Pihak kolonial
menghancurkan tatanan pertanian tersebut dan menggantinya dengan pertanian kapital,
dimana surplus pertanian tidak dinikmati oleh para tuan tanah dan kelas pekerja, tetapi
dikuasai kelas kapitalis, baik kapitalis borjuis, kapitalis negara maupun kapitalis industri.
Kelas tuan tanah di Indonesia semasa diberlakukan open door policy, hanya dijadikan
pengumpul pajak dan upeti bagi pemerintah, sebagai imbalannya mereka diberi gaji dan
mendaptkan kepercayaan sebagai bagian integral dari pemerintah kolonial. Sedangkan kelas
pekerja yang diisi oleh para petani gurem dan miskin, hanya menjadi sapi perah pemodal dan
pemerintah. Sistem produksi subsisten diganti menjadi pertanian berorientasi ekspor, yang
sama sekali tidak memberikan manfaat bagi peningkatan kesejahteraan petani di Indonesia.
Akumulasinya adalah di Indonesia, kelas tuan tanah semakin terlantar dan tidak menikmati
sewa tanah dan petani tidak mendapat upah yang layak seperti yang tertera dalam platform
wealth of nationsnya Adam Smith. Wealth of nation hanya diberikan kepada pihak kolonial

16

Belanda, sedangkan Indonesia hanya menjadi sapi perahan dan lumbung kuli bagi bangsa
lain.
b. kebijakan tanam paksa
Cultuurstelsel (harafiah: Sistem Kultivasi atau secara kurang tepat diterjemahkan sebagai
Sistem Budaya) yang oleh sejarawan Indonesia disebut sebagai Sistem Tanam Paksa, adalah
peraturan yang dikeluarkan oleh Gubernur Jenderal Johannes van den Bosch pada tahun 1830
yang mewajibkan setiap desa menyisihkan sebagian tanahnya (20%) untuk ditanami komoditi
ekspor, khususnya kopi, tebu, dan tarum (nila). Hasil tanaman ini akan dijual kepada
pemerintah kolonial dengan harga yang sudah dipastikan dan hasil panen diserahkan kepada
pemerintah kolonial. Penduduk desa yang tidak memiliki tanah harus bekerja 75 hari dalam
setahun (20%) pada kebun-kebun milik pemerintah yang menjadi semacam pajak.
Pada praktiknya peraturan itu dapat dikatakan tidak berarti karena seluruh wilayah pertanian
wajib ditanami tanaman laku ekspor dan hasilnya diserahkan kepada pemerintahan Belanda.
Wilayah yang digunakan untuk praktik cultuurstelstel pun tetap dikenakan pajak. Warga yang
tidak memiliki lahan pertanian wajib bekerja selama setahun penuh di lahan pertanian.
Tanam paksa adalah era paling eksploitatif dalam praktik ekonomi Hindia Belanda.
Sistem tanam paksa ini jauh lebih keras dan kejam dibanding sistem monopoli VOC karena
ada sasaran pemasukan penerimaan negara yang sangat dibutuhkan pemerintah. Petani yang
pada zaman VOC wajib menjual komoditi tertentu pada VOC, kini harus menanam tanaman
tertentu dan sekaligus menjualnya dengan harga yang ditetapkan kepada pemerintah. Aset
tanam paksa inilah yang memberikan sumbangan besar bagi modal pada zaman keemasan
kolonialis liberal Hindia-Belanda pada 1835 hingga 1940.
Akibat sistem yang memakmurkan dan menyejahterakan negeri Belanda ini, Van den Bosch
selaku penggagas dianugerahi gelar Graaf oleh raja Belanda, pada 25 Desember 1839.
Cultuurstelsel kemudian dihentikan setelah muncul berbagai kritik dengan dikeluarkannya
UU Agraria 1870 dan UU Gula 1870, yang mengawali era liberalisasi ekonomi dalam sejarah
penjajahan Indonesia.Pada tahun 1830 pada saat pemerintah penjajah hampir bangkrut
setelah terlibat perang Jawa terbesar (Perang Diponegoro, 1825-1830), Gubernur Jenderal
Van den Bosch mendapat izin khusus melaksanakan sistem Tanam Paksa (Cultuur Stelsel)
dengan tujuan utama mengisi kas pemerintahan jajahan yang kosong, atau menutup defisit
anggaran pemerintah penjajahan.

17

Sistem tanam paksa berangkat dari asumsi bahwa desa-desa di Jawa berutang sewa
tanah kepada pemerintah, yang biasanya diperhitungkan senilai 40% dari hasil panen utama
desa yang bersangkutan. Van den Bosch ingin setiap desa menyisihkan sebagian tanahnya
untuk ditanam komoditi ekspor ke Eropa (kopi, tebu, dan nila). Penduduk dipaksa untuk
menggunakan sebagian tanah garapan (minimal seperlima luas, 20%) dan menyisihkan
sebagian hari kerja untuk bekerja bagi pemerintah.Dengan mengikuti tanam paksa, desa akan
mampu melunasi utang pajak tanahnya. Bila pendapatan desa dari penjualan komoditi ekspor
itu lebih banyak daripada pajak tanah yang mesti dibayar, desa itu akan menerima
kelebihannya. Jika kurang, desa tersebut mesti membayar kekurangan tadi dari sumbersumber lain.Sistem tanam paksa diperkenalkan secara perlahan sejak tahun 1830 sampai
tahun 1835. Menjelang tahun 1840 sistem ini telah sepenuhnya berjalan di Jawa.
Pemerintah kolonial memobilisasi lahan pertanian, kerbau, sapi, dan tenaga kerja yang
serba gratis. Komoditas kopi, teh, tembakau, tebu, yang permintaannya di pasar dunia sedang
membubung, dibudidayakan.Bagi pemerintah kolonial Hindia Belanda, sistem ini berhasil
luar biasa. Karena antara 1831-1871 Batavia tidak hanya bisa membangun sendiri, melainkan
punya hasil bersih 823 juta gulden untuk kas di Kerajaan Belanda. Umumnya, lebih dari 30
persen anggaran belanja kerajaan berasal kiriman dari Batavia. Pada 1860-an, 72%
penerimaan Kerajaan Belanda disumbang dari Oost Indische atau Hindia Belanda. Langsung
atau tidak langsung, Batavia menjadi sumber modal. Misalnya, membiayai kereta api
nasional Belanda yang serba mewah. Kas kerajaan Belanda pun mengalami surplus.
Badan operasi sistem tanam paksa Nederlandsche Handel Maatchappij (NHM)
merupakan reinkarnasi VOC yang telah bangkrut.Akibat tanam paksa ini, produksi beras
semakin berkurang, dan harganya pun melambung. Pada tahun 1843, muncul bencana
kelaparan di Cirebon, Jawa Barat. Kelaparan juga melanda Jawa Tengah, tahun 1850.Sistem
tanam paksa yang kejam ini, setelah mendapat protes keras dari berbagai kalangan di
Belanda, akhirnya dihapus pada tahun 1870, meskipun untuk tanaman kopi di luar Jawa
masih terus berlangsung sampai 1915. Program yang dijalankan untuk menggantinya adalah
sistem sewa tanah dalam UU Agraria 1870.
c. kebijakan politik etis
Politik Etis atau Politik Balas Budi adalah suatu pemikiran yang menyatakan bahwa
pemerintah kolonial memegang tanggung jawab moral bagi kesejahteraan pribumi. Pemikiran
ini merupakan kritik terhadap politik tanam paksa.Munculnya kaum Etis yang di pelopori
oleh Pieter Brooshooft (wartawan Koran De Locomotief) dan C.Th. van Deventer (politikus)
18

ternyata membuka mata pemerintah kolonial untuk lebih memperhatikan nasib para pribumi
yang terbelakang.
Pada 17 September 1901, Ratu Wilhelmina yang baru naik tahta menegaskan dalam
pidato pembukaan Parlemen Belanda, bahwa pemerintah Belanda mempunyai panggilan
moral dan hutang budi (een eerschuld) terhadap bangsa pribumi di Hindia Belanda. Ratu
Wilhelmina menuangkan panggilan moral tadi ke dalam kebijakan politik etis, yang
terangkum dalam program Trias Van deventer yang meliputi:
a.Irigasi (pengairan), membangun dan memperbaiki pengairan-pengairan dan bendungan
untuk keperluan pertanian
b.Emigrasi yakni mengajak penduduk untuk bertransmigrasi
c.Edukasi yakni memperluas dalam bidang pengajaran dan pendidikan
Banyak pihak menghubungkan kebijakan baru politik Belanda ini dengan pemikiran dan
tulisan-tulsian Van Deventer yang diterbitkan beberapa waktu sebelumnya, sehingga Van
Deventer kemudian dikenal sebagai pencetus politik etis ini.Kebijakan pertama dan kedua
disalahgunakan oleh Pemerintah Belanda dengan membangun irigasi untuk perkebunanperkebunan Belanda dan emigrasi dilakukan dengan memindahkan penduduk ke daerah
perkebunan Belanda untuk dijadikan pekerja rodi. Hanya pendidikan yang berarti bagi bangsa
Indonesia.Pengaruh politik etis dalam bidang pengajaran dan pendidikan sangat berperan
sekali dalam pengembangan dan perluasan dunia pendidikan dan pengajaran di Hindia
Belanda. Salah seorang dari kelompok etis yang sangat berjasa dalam bidang ini adalah Mr.
J.H. Abendanon (1852-1925) yang Menteri Kebudayaan, Agama, dan Kerajinan selama lima
tahun (1900-1905). Sejak tahun 1900 inilah berdiri sekolah-sekolah, baik untuk kaum priyayi
maupun rakyat biasa yang hampir merata di daerah-daerah.
Sementara itu, dalam masyarakat telah terjadi semacam pertukaran mental antara orangorang Belanda dan orang-orang pribumi. Kalangan pendukung politik etis merasa prihatin
terhadap pribumi yang mendapatkan diskriminasi sosial-budaya. Untuk mencapai tujuan
tersebut, mereka berusaha menyadarkan kaum pribumi agar melepaskan diri dari belenggu
feodal dan mengembangkan diri menurut model Barat, yang mencakup proses emansipasi
dan menuntut pendidikan ke arah swadaya.Pada dasarnya kebijakan-kebijakan yang diajukan
oleh van Deventer tersebut baik. Akan tetapi dalam pelaksanaannya terjadi penyimpanganpenyimpangan yang dilakukan oleh para pegawai Belanda. Berikut ini penyimpangan
penyimpangan tersebut.

19

1.Irigasi
Pengairan hanya ditujukan kepada tanah-tanah yang subur untuk perkebunan swasta Belanda.
Sedangkan milik rakyat tidak dialiri air dari irigasi.
2.Edukasi
Pemerintah Belanda membangun sekolah-sekolah. Pendidikan ditujukan untuk mendapatkan
tenaga administrasi yang cakap dan murah. Pendidikan yang dibuka untuk seluruh rakyat,
hanya diperuntukkan kepada anak-anak pegawai negeri dan orang-orang yang mampu.
Terjadi diskriminasi pendidikan yaitu pengajaran di sekolah kelas I untuk anak-anak pegawai
negeri dan orang-orang yang berharta, dan di sekolah kelas II kepada anak-anak pribumi dan
pada umumnya.
3.Migrasi
Migrasi ke daerah luar Jawa hanya ditujukan ke daerah-daerah yang dikembangkan
perkebunan-perkebunan milik Belanda. Hal ini karena adanya permintaan yang besar akan
tenaga kerja di daerah-daerah perkebunan seperti perkebunan di Sumatera Utara, khususnya
di Deli, Suriname, dan lain-lain. Mereka dijadikan kuli kontrak. Migrasi ke Lampung
mempunyai tujuan menetap. Karena migrasi ditujukan untuk memenuhi kebutuhan akan
tenaga kerja, maka tidak jarang banyak yang melarikan diri. Untuk mencegah agar pekerja
tidak melarikan diri, pemerintah Belanda mengeluarkan Poenale Sanctie, yaitu peraturan
yang menetapkan bahwa pekerja yang melarikan diri akan dicari dan ditangkap polisi,
kemudian dikembalikan kepada mandor/pengawasnya.
(Sumber :http://id.wikipedia.org , http://www.diwarta.com , http://yayan-sejarahasyik.blogspot.com )

I. Reaksi Rakyat Indonesia terhadap Upaya Perdagangan Portugis dan Belanda


Perlawanan-perlawanan yang dilakukan rakyat Indonesia disebabkan orang-orang Barat
ingin memaksakan monopoli perdagangan dan berusaha mencampuri urusan karajaankerajaan diindonesia.Adapun perlawanan-perlawanan tersebut antara lain:
a.Perlawanan rakyat Indonesia terhadap Portugis
Setelah Malaka dapat dikuasai oleh Portugis 1511,maka terjadilah persaingan dagang
antara pedagang-pedagang Portugis dengan Pedagang di Nusantara.Portugis ingin selalu
20

menguasai

perdagangan,maka

terjadilah

perlawanan-perlawnan

terhadap

Portugis.Perlawanan tersebut antara lain:


1.Perlawanan di Aceh terhadap Portugis
Sejak Portugis dapat menguasai Malaka,Kerajaan Aceh merupakan saingan terberat
dalam

dunia

perdagangan.Para

pedagang

muslim

segera

mengalihkan

kegiatan

perdagangannya ke Aceh Darussalam.Portugis rugi secara ekonomis,karena Aceh kemudian


tumbuh menjadi kerajaan dagang yang sangat maju.Melihat kemajuan Aceh ini,Portugis
selalu berusaha menghancurkannya,tetapi selalu menemui kegagalan.KeberhasilanAceh
untuk mempertahankan diri dari ancaman Portugis disebabkan:
a. Aceh berhasil bersekutu dengan Turki,Persia,dan India.
b.

Aceh memperolh bantuan kapal,prajurit,dan makanan dari pedagang muslimdi Pulau

Jawa.
c.

Kapal Aceh dilengkapi persenjataan yang cukup baik dan prajurit yang tangguh.

Diantara raja-raja Kerajaan Aceh yang melakukan perlawanan adalah:


a)

Sultan Ali Mughayat Syah (1514-1528).

Berhasil membebaskan Aceh dari upaya penguasaan bangsa Portugis.


b)

Sultan Alaudin Riayat Syah(1537-1568).

Berani menentang dan mengusir Portugis yang besekutu dengan Johor.


c)

Sultan Iskandar Muda(1607-1636).

Raja Kerajaan Aceh yang terkenal sangat gigih melawan Portugis adalah Iskandar
Muda.Tahun 1615 dan 1629,Iskandar Muda melakukan serangan terhadap Poturgis di
Malaka.
Usaha-usaha Aceh Darussalam untuk mempertahankan diri dari ancaman Portugis antara lain:
a. Aceh berhasil menjalin hubungan baik dengan Turki,Persia,dan Gujarat(India).
b.

Aceh memperoleh bantuan barupa kapal,prajurit,dan makanan dari beberapa

pedagangmuslim di Jawa.
c.

Kapal-kapal dagang Aceh dilengkapi dengan persenjataan yang cukup baik dan prajurit

yang tangguh.
d.

Meningkatnkan kerja sama dengan Kerajaan Demak dan Makassar.


Permusuhan antara Aceh dan Portugis berlangsung terus tetapi sama-sama tidak berhasil

mengalahkan,sampai akhirnya Malaka jatuh ke tangan VOC tahun 1641.VOC bermaksud


membuat Malaka menjadi pelabuhan yang ramai dan ingin menghidupkan kembali kegiatan
perdagangan seperti yang pernah dialami Malaka sebelum kedatangan Portugis dan VOC.
21

Kemunduran Aceh mulai terlihat setelah Iskandar Muda wafat dan penggantinya adalah
Sultan Iskandar Thani (1636-1840).Pada saat Iskandar Thani memimpin Aceh masih dapat
mempertahankan kebesarannya.Tetapi setelah Aceh dipimpin oleh Sultan Safiatuddin(16411675)Aceh tidak dapat berbuat banyak mempertahankan kebesarannya.
2.Ternate melawan Portugis
Pada awalnya Portugis diterima dengan baik oleh rakyat setempat dan diizinkan
mendirikan Benteng,namun lama-kalamaan rakyat Ternate mengadakan perlawanan.
Perlawanan ini terjadi karena sebab-sebab berikut ini:
a.

Portugs melakukan monopoli Perdagangan.

b.

Portugis ikut campur tangan dalam pemerintahan.

c.

Portugis ingin menyebarkan agama Katholik,yang berarti bertentangan dengan agama

yang telah dianut oleh rakyat Ternate.


d.

Portugis membenc pemeluk agama islam karena tidak sepaham dengan mereka.

e.

Portugis sewenang-wenang terhadap rakyat.

f.

Keserakahan dan Kesombongan bangsa Portugis.


Tahun 1565,rakyat Ternate bangkit kembali dibawah pimpinan Sultan Hairun.Portugis

berusahan menangkap Sultan Hairun,namun rakyat bangkit untuk melawan Portugis dan
berhasil membebaskan Sultan Hairun dan tawanan lainnya.Akan tetapi Portugis melakukan
tindakan licik dengan mengajak Sultan Hairun berunding.Dalam perundingan,Sultan Hairun
ditangkap dan dibunuh.
Perlawanan rakyat Ternate dilanjutkan dibawah pimpinan Sultan Baabullah(putera Sultan
Hairun).Tahun 1574 Benteng Portugis direbut,kemudian Portugis menyingkir ke Hitu dan
akhirnya menguasai dan menetap di Timor-Timur sampai tahun 1975.
b.Perlawanan rakyat Indonesa terhadap Belanda
1.Perlawanan Mataram(Perlawanan Sultan Agung)
Kerajaan Mataram mencapai puncak kejayaan pada masa pemerintahan Sultan Agung
(1613-1645).Cita-cita Sultan Agung adalah menyatukan kerajaan-kerajaan Jawa di bawah
pimpinan Mataram.
Adapun sebab-sebab Mataram menyerang Batavia adalah:
1. Mengusur Belanda dari tanah air Indonesia.
2. Belanda sering merintangi perdagangan Mataram di Malaka.
3. Belanda melaksanakan monopoli perdagangan.
22

Sultan Agung mengadakan penyerangan ke Batavia pertama kali tahun 1628.Pasukan


pertama dipimpin oleh Tumenggung Bahurekso.Adapun pasukan kedua dipimpin oleh
Tumenggung Agul-agul,Kyai Dipati Mandurorejo,Kyai Dipati Upusonto,dan Dipati
Ukur,namun mengalami kekalahan.
Kegagalan serangan pertama tidak mengendorkan semangat melawan Belanda.Sultan
Agung menyusun kembali kekuatan untuk melakukan serangan kedua dengan matang dan
cermat.Tahun 1629 Sultan Agung kembali menyerang Batavia untuk kedua kalinya dibawah
pimpinan Dipati Puger dan Dipati Purbaya.Serangan kedua mengalami kegagalan,sebab
persiapan Sultan Agung diketahui oleh VOC,gudang-gudang persiapan makanan Sultan
Agung dibakar oleh VOC.Dalam peperangan itu pimpinan VOC Y.P.Coen meninggal akibat
penyakit colera,sehingga tentara Mataram mundur takut terserang penyakit.
Kemudian perlawanan rakyat Mataram dilanjutkan oleh:
1. Trunojoyo (1674-1709)
2. Untung Suropati ( 1674-1706)
3. Mangkubumi dan Mas Said(1474-1755)
Pada

saat

perlawanan

Mangkubumi,terjadi

kesepakatan

damai

dengan

Belanda

ditandatanganinya Perjanjian Giyanti (1755) yang isinya:


1. Mataram dibagi menjadi dua yaitu Mataram Barat(Jogja) dan Mataram Timur(Sirakarta).
2. Mangkubumi berkuasa di Mataram Barat dan Paku Buwono berkuasa di Mataram
Timur(Surakarta).
2.Banten melawan VOC
Banten mencapai puncak kejayaannya pada masa pemerintahan Abdul Fatah dikenal
dengan nama Sultan Ageng Tirtayasa(1650-1682).Sultan Ageng Tirtayasa mengadakan
perlawanan terhadap VOC (1651),Karena menghalang-halang perdagangan Banten.
VOC menghadapi Sultan Ageng Tirtayasa menggunakan Politik devide et impera,yaitu
mengadu domba antara Sultan Ageng Tirtayasa dengan putranya bernama Sultan Haji dibantu
oleh

VOC.Dalam

pertempuran

ini

Sultan

Ageng

Tirtayasaterdesak

dan

ditangkap.KemudianSultan Haji(putra Sultan Agung Tirtayasa) diangkat menjadi Sultan


menggantikan Sultan Ageng Tirtayasa.Tahun 1750 meletus gerakan perlawanan terhadap
pemerintahan Sultah Haji dipimpin Kyai Tapa dan Ratu Bagus Buang.Perlawanan dapat
dipadamkan berkat bantuan VOC.Setelah pertempuran selesai,Sultan haji melakukan
perundingan dengan VOC yang isinya:
23

1) Sultan Haji harus mengganti biaya perang.


2) Banten harus mengakui di bawah kekuasaan VOC.
3) Kecuali VOC,pedagang lain dilaran berdagang di Banten.
4) Kepulauan Maluku tertutup bagi pedagang Banten.
3.Makassar melawan VOC
Pertempuran ketiga merupakan pertempuran besar yang terjadi tahun 1667.Dalamperang
VOC melaksanakan politik devide et impera,yaitu mengadu domba antara Sultan Hasanuddin
dengan Aru Palaka(Raja Bone).Akhirnya,pada waktu itu Sultan Hasanuddin dipaksa
menandatangani perjanjian Bongaya(1667) yang isinya:
1. Makassar mengakui kekuasaan VOC.
2. VOC memegang monopoli perdagangan di Makassar.
3. Aru Palaka dijadikan Raja Bone.
4. Makassar harus melepaskan Bugis dan Bone.
5. Makassar harus membayar biaya perang VOC.
Karena kegigihannya melawan VOC,Sultan Hasanuddin dijulukiAyam Jantan dari Timur.
4.Perlawanan Diponegoro(1825-1830)
Perang Diponegoro mulai meletus di Tegalrejo,Jogjakarta dan meluas hampir keseluruh
Jawa.Bupati-bupati yang ada di bawah pengaruh Mataram ikut menyatakan perang terhadap
Belanda.Maka perang Diponegoro sering disebut perang Jawa.Pangeran Diponegoro adalah
putera sulung Sultan Hamengkubuwono III yang dilahirkan tahun 1785.Ketika masih kecil
bernama Pangeran Ontowiryo.
Sebab-sebab umum Perang Diponegoro:
1) Penderitaan rakyat sangat berat karena adanya bermacam-macampajak.
2) Raja dan kalangan istana benci kepada Belanda karena wilayah Mataram mekin
dipersempit.
3) Ulama kecewa karena peradaban Barat mulai memasuki kalangan Islam.
4) Bangsawan kecewa karena tidak boleh menyewakan tanahnya.
5) Belanda ikut campur dalam urusan pemerintahan.
Adapun sebab-sebab khusus perang Diponegoro adalah rencana pembuatan jalan yang
melintasi tanah makan leluhur pengeran Diponegoro tidak meminta izin terlebih dahulu
kepada Pangeran Diponegoro.

24

Belanda menggunakan siasat benteng stelsel dalam melumpuhkan perlawanan Pangeran


Diponegoro.Tujuan dari sistem benteng stelsel adalah:
1) Mempersempit ruang gerak pasukan Diponegoro.
2) Memecahkan belah pasukan Diponegoro.
3) Mencegah masuknya bantuan untuk pasukan Diponegoro.
4) Bagi Belanda sendiri dapat memperlancar hubungan antara Belanda jika mendapat
serangan dari pasukan Diponegoro.
5) Memperlemah pusat Diponegoro.
Belanda menggunakan siasat baru dengan Sayembara,tetapi juga belum berhasil.Tahun
1830 Belanda menggunakan tipu muslihat dengan mengajak Pangeran

Diponegoro

berunding.Dalam perundingan itu Pangeran Diponegoro ditangkap.Setelah ditangkap


Pangeran Diponegoro dibawa ke Semarang,kemudian diasingkan ke Batavia/Jakarta.Tanggal
3 Mei 1830 Pangeran Diponegoro dipindahkan ke Manado,dan tahun 1834 dipindahkan ke
Makassar dan wafat di Makassar tanggal 8 Januari 1855.
5.Perang Padri (1821-1837)
Abad ke-19 Islam berkembang pesat didaerah Minangkabau.Tokoh-tokoh islam berusaha
menjalankan ajaran Islam sesuai Al-Quran dan Al-Hadis.Gerakan mereka kemudian
dinamakan gerakan Padri.Gerakan ini bertujuan memperbaiki masyarakat Minangkabau dan
mengembalikan mereka agar sesat dengan ajaran Islam.Gerakan ini mendapat sambutan baik
dikalangan ulama,tetapi mendapatkan pertentangan dari kaum adat.
Sebab umum terjadinya perang Padri adalah:
a) Pertentangan antara kaum Padri dan kaum adat.
b) Belanda membantu kaum adat.
Perang terjadi dapat dibagi menjadi dua tahap,yaitu:
a) Tahap pertama (1821-1825)
Pada tahap ini,peperangan terjadi antara Kaum Padri dan Kaum Adat yang dibantu oleh
Belanda.Menghadapi Belanda yang bersenjata lengkap,kaum Padri menggunakan siasat
gerilya.Kedudukan

Belanda

makin

sulit,kemudian

membujuk

kaum

Padri

untuk

berdamai.Tanggal 15 November 1825 di Padang diadakan perjanjian perdamaian dan tentara


Belanda ditarik dari Sumatra dan dipusatkan untuk menumpas perlawanan Diponegoro di
Jawa.
b) Tahap Kedua ( 1830-1837)
25

Tahun 1834 Belanda mengerahkan pasukan untuk menggempur pusat pertahanan kaum
Padri di Bonjol.25 Oktober 1837,Tuanku Imam Bonjol tertangkap,kemudian diasingkan di
Minahasa sampai wafatnya.Dengan menyerahkan Imam Bonjol bukan berarti perang
selesai,perang tetap berlanjut walaupun tidak lagi mengganggu unsaha Belanda untuk
menguasai Minangkabau.
Didaerah-daerah lain terjadi perlawanan terhadap Belanda antara lain:
1) Perlawanan Aceh (1973-1904).
2) Perlawanan Pattimura.
3) Perlawanan Bali/puputan Margarana (1846-1849).
4) Perlawanan di Batak(Tapanuli) dipimpin sisingamangaraja XII tahun (1878-1907).
5) Perlawanan di Lampung dilakukan oleh Raden Intan I (1826) dan Imba Kusuma.
(1832),serta Raden Intan II (1834).
6) Perlawanan di Palembang tahun 1819-1825 dipimpin oleh Sultan Najamudin dan Sultan
Badarudin.
7) Perlawanan di Bone dibawah pimpinan Raja Bone Supa dan Ternate.
(sumber : Sudarmi, Sri dan Waluyo. 2008. Galeri Pengetahuan Terpadu. Jakarta:
Departemen Pendidikan Nasional

http://siskamelankolis.blogspot.com/2013_04_01_archive.html )

Resume
1.Winda (kelompok 1 )
Pertanyaan : Bagaimana cara Voc menigkatkan eksploitasi kekayaan alam ?
Jawab

: Voc meningkatkan eksploitasi secara penuh dengan membuat undang-undang

pembendaharaan hindia belanda, undang-undang gula, undang-undang agraria, dan


pemberlakuan kebijakan tanam paksa dengan memaksa penduduk untuk menggunakan
sebagian tanah garapan dan menyisihkan sebagian hari kerja untuk bekerja bagi pemerintah.
2.Mira agustin (kelompok 4 )
Pertanyaan : Apa tujuan perlawanan rakyat terhadap portugis dan belanda ?
Jawab

: Tujuan rakyat melakukan perlawanan terhadap portugis dan belanda karena rakyat

ingin mengambil alih kekuasaan dari tangan portugis dan belanda menjadi milik rakyat
indonesia kembali agar tidak ada lagi penindasan yang merugikan rakyat indonesia.
26

3.Hanifah (kelompok 2 )
Pertanyaan :Apa yang menyebabkan parahnya keadaan keuangan Voc ?
Jawab

: Parahnya keadaan ekonomi Voc di sebabkan oleh beberapa faktor :

Banyaknya korupsi yang di lakukan oleh sebagian besar pegawai tinggi Voc
Pembukuan mengenai laba yang berbeda antara kantor dagang di asia dengan kantor

dagang di pusat.
Adanya ekspansi dagang yang dilakukan Voc untuk memperbesar daerah jangkauan

dagangnya.
Adanya serangan terhadap kapal-kapal milik Voc di lauran yang dilakukan oleh kapalkapal milik eropa.

4.Bramantyo (kelompok 5 )
Pertanyaan : Jelaskan apa yang anda ketahui tentang dewan 17 ?
Jawab

: Dewan 17 adalah kepemimpinsn Voc yang menjalankan tugas-tugas dan

menyelesaikan berbagai urusan Voc, termasuk urusan ekspansi untuk memperluas wilayah
perdagangan.
5.Salsabillah (kelompok 4 )
Pertanyaan : Apa yang di maksudkan bahwa Voc melakukan ekspansi ke asia, afrika dan
australia ?
Jawab

: Hk ekspansi adalah hak untuk memperbesar daerfah jangkauan perdagangan ke

asia, afrika, dan australia.


6.Aulia quds ladamare p (kelompok 1)
Pertanyaan : Apa yang di maksud dengan politik pintu terbuka ?
Jawab

: Politik pintu terbuak adalah politik kerja sama antara pihak swasta dengan pihak

belanda untuk membangun stasiun kereta api dan pembangunan.

27