Anda di halaman 1dari 191

SEHAT DENGAN OLAH NAFAS MERPATI PUTIH

Di dunia ini ada banyak metode olah nafas atau seni olah nafas. Sebagian
dibungkus dalam kaidah beladiri tradisional berdasarkan olah rasa, sebagian lagi
meriset dari hasil olah akal modern sepanjang perjalanan peradaban. Wilayah
tradisional seringkali belum tereksplorasi secara utuh sehingga menyebabkan ada
banyak pengetahuan yang masih bisa digali dan niscaya tidak akan usang. Ada
beberapa keilmuan tradisional yang diteliti dan yang sudah mulai terbuka, namun
ada juga yang masih misteri dengan kedalamannya masing-masing.
Sejak dulu kala, orang selalu berusaha mencari cara untuk meningkatkan kualitas
hidupnya. Dari mulai yang nampak tidak logis, hingga yang sangat logis. Tiga
wilayah yang sejak dulu menjadi perhatian adalah anatomi, fisiologi, dan obatobatan. Seperti misalnya Galen (131-201 SM), salah satu tabib yang hidup pada
zaman Yunani kuno menulis 87 essay mengenai bagaimana cara meningkatkan
kesehatan dengan perbaikan nutrisi, latihan aerobik melalui berjalan, dan
penguatan otot-otot melalui memanjat tali dan latihan beban. Diet protein juga
sudah dikenal sejak zaman Yunani kuno dan sudah diterapkan pada event
Olimpiada pada masa itu dalam upaya meningkatkan performance atlet dan
penguatan latihan. Bahkan salah satu sarjana ahli pengobatan pada zaman itu,
Empedocles (500-430 SM) menulis adanya 4 cairan tubuh yang menjelaskan
mengenai kompleksitas sistem peredaran darah, sistem pernafasan, dan sistem
pembuangan. Meskipun tidak dapat dipungkiri bahwa pada zaman tersebut
pengaruh aspek supranatural sangatlah kental, namun sama sekali tidak
mengurangi manfaat dari penelitian para ahli tersebut di zamannya yang
seringkali dapat menjadi peletak dasar bagi penelitian yang lebih modern
setelahnya. Persaingan para tabib zaman Yunani kuno tertuang pada banyak
naskah-naskah lama yang berhasil ditemukan dan sebagian lainnya melalui
budaya tutur dari generasi ke generasi. Dari mulai yang berbau spiritual murni,
supranatural, atau yang mulai masuk pada fisiologi, anatomi, yang berkembang
pada masa itu dan modern pada zamannya. Lalu pada masa Renaissance
pengetahuan mengenai anatomi dan fisiologi mulai berkembang pesat. Lahirnya

mesin cetak Gutenberg pada abad ke-15 menyebabkan banyak metode-metode


yang mulai dituliskan dan dapat didistribusikan dengan baik. Akibatnya, berbagai
tulisan di belahan dunia mulai dapat diakses dibelahan dunia lainnya. Hingga
terus berkembang di zaman sekarang pada era modern dimana sekolah-sekolah
medis mulai banyak, dan dengan bantuan alat-alat canggih yang ditemukan oleh
para ahli. Proses perbaikan dan peningkatan kualitas kehidupan manusia tidak
pernah berhenti dan terhenti. Disiplin-disiplin ilmu baru terus tumbuh dan
mengalami spesialisasi sedemikian rupa. Berbagai aspek mulai digali dan
diterapkan agar terjadi perbaikan tubuh dan membuat manusia berumur panjang.
Penelitian-penelitian ilmiah mengalami peningkatan yang luar biasa. Dimulai dari
1946 dimana hanya terdapat 5 jurnal dengan 12 kutipan saja. Lalu meningkat di
tahun 1962 hingga 51 jurnal dengan 128 kutipan. Meningkat lagi di tahun 1981
sebanyak 224 jurnal dengan 655 kutipan. Meningkat sangat tinggi di tahun 2010
sebanyak 54.451 jurnal dengan 180.066 kutipan. Hal ini menunjukkan bahwa
ketertarikan akan terjadinya peningkatan kualitas hidup yang berujung pada umur
yang lebih panjang sudah menjadi suatu harapan hidup manusia dari waktu ke
waktu.
Salah satu aspek yang cukup menarik untuk digali adalah cara manusia bernafas.
Ilmu tradisional Timur mempercayai bahwa cara bernafas yang dalam akan
meningkatkan kualitas hidup dan memperpanjang usia. Ia akan meningkatkan
asupan oksigen yang diperlukan oleh tubuh untuk menjadi lebih baik. Tidak ada
penjelasan ilmiah apapun selain daripada bukti bahwa praktisi yang menjalani
pola nafas yang dalam ini rata-rata memiliki umur yang panjang. Mereka
menjalani satu set latihan tertentu dengan pola nafas dalam hampir setiap harinya.
Kemudian hal ini menarik perhatian para ilmuwan Barat untuk menggali ada apa
dibalik semua latihan olah nafas dalam ini dari sisi peningkatan kesehatan dan
perpanjangan umur. Ilmuwan Rusia bernama Prof. K. P. Buteyko mengabdikan
seluruh hidupnya untuk meneliti pola nafas yang memiliki manfaat untuk
mengurangi dan bahkan menyembuhkan penyakit asma, meningkatkan stamina
dan energi tubuh, meningkatkan kemampuan perbaikan tubuh dari suatu kondisi

sakit yang parah, terjadi peningkatan kemampuan melakukan manajemen tingkat


stress yang dialami. Ilmuwan tersebut juga menemukan bahwa lebih dari 200
masalah kesehatan terkait dari kesalahan dalam pola bernafas. Penelitian lebih
dari 40 tahun yang dilakukan oleh Buteyko Insitute of Breathing and Health telah
menemukan banyak metode yang dapat merekondisi dan menormalkan fungsifungsi tubuh melalui cara mengolah nafas. Ribuan pasien berpenyakit asma
mengalami perbaikan dan kesembuhan yang nyaris tanpa obat. Buteyko
mengamati bahwa rata-rata pasien yang sakit mengalami kondisi nafas yang
pendek, tersengal-sengal. Pasien yang sakit bernafas lebih cepat dan lebih banyak
dibandingkan rata-rata orang yang sehat. Ketika diukur, volume tidal, kedalaman,
dan frekwensi nafasnya mengalami perbedaan yang cukup signifikan. Maka ia
menyimpulkan bahwa bernafas yang dalam memiliki korelasi yang sangat jelas
dengan kesehatan tubuh manusia.
Pada tahun 1871 salah satu dokter dari Belanda bernama Da Costa menemukan
sindrome hiperventilasi dimana mereka-mereka yang bernafas dalam mengalami
pusing dan beberapa malah pingsan. Hal ini seringkali disalahkaitkan dengan
masalah saturasi oksigen. Menurut efek Verigo-Bohr, itu adalah rasio
karbondioksida menjadi oksigen yang mengizinkan pelepasan sejumlah oksigen
dari darah. Di akhir tahun 1800-an, ahli fisiologi Rusia bernama Verigo dan
ilmuwan Belanda bernama Bohr menemukan bahwa tanpa karbondioksida maka
oksigen akan dilekatkan pada darah dan tidak dapat dilepaskan hingga membuat
kekurangan oksigen pada jaringan otak, jantung, ginjal, dan organ lainnya
sekaligus terjadinya peningkatan tekanan darah. Artinya, bahwa diperlukan
karbondioksida agar oksigen ini dapat terlepas dari hemoglobin dengan baik dan
mengalir menuju seluruh tubuh untuk dijadikan suatu rantai reaksi kimia yang
bermanfaat. Sehingga dapat disimpulkan bahwa kekurangan oksigen tidak
disebabkan karena jumlah oksigen berkurang tetapi karena kekurangan
karbondioksida. Jika kita bernafas terlalu banyak sebenarnya justru kita
mendapatkan sedikit oksigen. Inilah yang disebut dengan Oksigen Paradox.

Fungsi dari sistem pernapasan kita tidak hanya untuk mendorong udara masuk
dan keluar ke dalam paru-paru semata, melainkan untuk mempertahankan rasio
yang sangat spesifik antara oksigen ke karbon dioksida. Pada sel otak, jantung,
ginjal, dan organ lain, darah kita memerlukan konsentrasi 6,5% karbondioksida
dan 2% oksigen. Udara yang kita hirup mengandung 200 kali lebih sedikit
karbondioksida yang kita butuhkan dan 10 kali lebih banyak oksigen daripada
yang kita butuhkan. Ini bukan kabar baik bagi kebanyakan dari kita. Maka teknik
bernafas dalam sesungguhnya akan menjaga rasio terbaik dari karbondioksida dan
oksigen dalam darah sehingga selalu dapat menuju ke seluruh bagian tubuh yang
membutuhkan.
Inilah yang menjadi prinsip dasar dari latihan olah nafas Merpati Putih jika
ditinjau dari analisa Verigo-Bohr yakni kemampuan mempertahankan rasio
konsentrasi karbondioksida dan oksigen dalam darah. Maka apabila dilatih secara
rutin dan benar akan meningkatkan kualitas hidup yakni meningkatnya fungsi
organ dan jaringan tubuh lainnya. Apabila saat dilakukan terjadi kondisi pusing
dan mengantuk, maka biasanya ada kesalahan pada pola olah nafasnya yakni tidak
menggunakan olah nafas dalam namun olah nafas cepat. Dengan mengalirnya
oksigen ke seluruh jaringan, maka akan membuat fungsi tubuh membaik
seluruhnya. Bahkan, kanker pun dapat dibasmi dengan pendekatan ini.
Sehat, Bugar, dan Powerfull bersama Merpati Putih!
Salam
MG

hangat,

Saya sudah cukup lama mencari informasi internal mengenai kaidah yang disebut
dengan Hiperbarik Oksigen. Beberapa referensi dari luar memang sudah saya
gunakan ketika menjelaskan secara singkat mengenai bagaimana olah nafas MP
ini dapat menjadi salah satu alternatif Terapi Hiperbarik Oksigen dalam skala
yang paling kecil. Beberapa kemiripan yang terjadi pada saat melakukan olah
nafasnya membuat kecenderungan hasil yang didapat dari olah nafas ini seperti
halnya Terapi Hiperbarik Oksigen sungguhan. Manfaat yang didapat dari seni olah
nafas MP secara 'kebetulan' banyak kemiripan dengan apa yang dicapai oleh terapi
hiperbarik oksigen ini. Maka tidak salah ketika saya bertemu dengan senior mas
Mike Wongkaren sangat meyakini bahwa apa yang beliau latih di MP adalah suatu
terapi oksigen hiperbarik yang terjadi di dalam tubuhnya. Saat itu kami berbicara
cukup lama dan intens di depan padepokan MP Kretek Bantul pada saat acara
tradisi. Bahkan beliau membeli beberapa alat-alat teknologi tinggi untuk
membantu latihan MP beliau sekaligus membuktikan pengaruhnya secara
langsung.
Untuk memahami apa itu Terapi Hiperbarik Oksigen, saya tuliskan dibawah ini
penjelasan mengenai Hyperbaric yang bersumber dari rujukan Hyperbaric Center
RS TNI-AL Dr. Mintohardjo.
Ada banyak kaidah-kaidah yang dijelaskan pada tulisan ini yang dapat
menginspirasi Anda, para pelatih MP, pelatih Kebugaran, atau siapapun, untuk
memahami bagaimana cara tubuh ini bekerja dan bagaimana suatu seni olah nafas
ini memiliki pengaruh pada tubuh kita.
Kesehatan adalah hal yang sangat berharga. Dan sungguh, ia tidak akan dapat
dijaga tanpa adanya ilmu. Kebugaran Merpati Putih adalah salah satu ilmu untuk
menjaga kesehatan diri apabila dijalani dengan benar. Baik ia digunakan sebagai
pencegah masalah kesehatan (preventif), sebagai pengobatan masalah kesehatan
(kuratif), dan sekaligus peningkatan aspek kesehatan (konstruktif).
Selamat menikmati.

======================
Hyperbaric
Proses menjadi tua merupakan proses yang alamiah meskipun kerap membuat
resah. Fenomena ini merupakan proses degenerasi dalam tubuh manusia. Berbagai
faktor berperan dalam cepat atau lambatnya proses ini, antara lain adalah faktor
keturunan (genetika), psikis, faktor luar (stressor). Faktor luar atau stressor terdiri
dari stressor kimia (obat-obatan, pestisida dan lain sebagainya), stressor fisik
(misal: sinar radio aktif), serta stressor psiko sosial (misal: ketidakharmonisan
keluarga, masalah pekerjaan).
Proses menua dipengaruhi oleh adanya radikal bebas dalam tubuh manusia.
Radikal bebas dapat bereaksi dengan makro molekul lain yang dapat
menimbulkan kerusakan pada jaringan maupun organ sehingga akhirnya
menimbulkan terjadinya penyakit-penyakit seperti arteriosclerosis, hipertensi,
kanker, dan lain-lain. Reaksi radikal bebas tersebut dapat dicegah dengan adanya
zat-zat peredam (scavenger) sehingga proses metabolisme yang mempercepat
proses menua dapat dihambat. Adanya enzym SOD (Superoxydedismutase)
sebagai zat peredam memegang peran dalam hal ini.
Dengan perkembangan ilmu pengetahuan kedokteran, salah satu solusi untuk hal
tersebut diatas adalah menggunakan terapi oksigen hiperbarik (Hyperbaric
Oxygen Therapy). Terapi Oksigen Hiperbarik (disingkat: TOHB) adalah suatu
cara pengobatan dimana pasien masuk ke dalam suatu ruangan tertutup (chamber)
yang disebut RUBT (Ruang Udara Bertekanan Tinggi) kemudian diberi tekanan
yang lebih besar dari tekanan udara normal yaitu lebih dari 1 atm (atmosfer) dan
bernafas dengan oksigen murni (100%). Terapi ini dapat merupakan terapi utama
atau terapi penunjang untuk berbagai pengobatan penyakit dan dapat
dikombinasikan dengan terapi medis konvensional.
Hyperbaric Chamber

Hyperbaric Chamber adalah ruang berbentuk seperti kapsul yang terbuat dari baja
dan aluminium yang memiliki lubang jendela akrilik. Ruang/chamber terdiri dari
ruang dengan dua pintu, satu untuk keluar chamber dan satu ke ruang utama dari
chamber, yang dapat diberi tekanan masing-masing sehingga memungkinkan
pasien untuk masuk atau keluar ruang utama chamber saat masih bertekanan.
Adanya 'airlock'/penguncian udara memungkinkan obat-obatan, instrumen atau
makanan dimasukkan ke dalam ruang utama chamber. Melalui televisi sirkuit
tertutup, teknisi dan staf medis diluar chamber dapat memantau keadaan di dalam
ruangan chamber. Komunikasi dua arah antara bagian dalam chamber dan bagian
luar dapat dilakukan melalui intercom. Karbondioksida 'scrubber' terdiri dari
sebuah kipas yang mengalirkan gas didalam ruang melalui 'soda lime canister'.
Panel kontrol di luar chamber digunakan untuk membuka dan menutup katup
yang memungkinkan udara untuk memasuki atau meninggalkan ruangan serta
oksigen yang dipasok untuk masker.
Bagaimana Cara Kerja TOHB?
Sistem kerja TOHB, pasien dimasukkan ke dalam ruangan dengan tekanan lebih
dari 1 atm. Setelah mencapai kedalaman tertentu disalurkan oksigen murni
(100%) ke dalam ruang tersebut. Ketika kita bernafas dalam keadaan normal,
udara yang kita hirup komposisinya terdiri dari hanya sekitar 20% adalah Oksigen
dan 80%nya adalah Nitrogen. Pada TOHB, tekanan udara meningkat sampai
dengan 2 kali keadaan normal dan pasien bernafas dengan oksigen 100%.
Pemberian oksigen 100% dalam tekanan tinggi menyebabkan tekanan yang akan
melarutkan oksigen ke dalam darah serta jaringan dan cairan tubuh lainnya hingga
mencapai peningkatan konsentrasi 20 kali lebih tinggi dari normal.
Oksigenasi ini dapat memobilisasi penyembuhan alami jaringan. Hal ini
merupakan anti inflamasi kuat yang merangsang perkembangan pembuluh darah
baru, dapat membunuh bakteri dan mengurangi pembengkan.
Apakah Dapat Timbul Ketidaknyamanan dalam TOHB?

Setelah secara bertahap tekanan dalam ruangan meningkat (kompresi), mungkin


akan timbul rasa hangat, namun hal itu bersifat sementara. Kompresi umumnya
berlangsung sekitar 10 sampai dengan 15 menit.
Secara umum TOHB tidak menimbulkan rasa sakit, tetapi pada pasien mungkin
dapat terjadi sensasi "rasa penuh" seperti rasa tersumbat pada telinga oleh karena
tekanan telinga bagian tengah dan bagian luar tidak sama. Rasa tersumbat ini
dapat dihilangkan dengan cara minum air atau menelan air liur, menggerakgerakkan rahang, menguap, mengunyah permen, atau melakukan tindakan
Valsava[1] atau equalisasi.
Cara melakukan tindakan Valsava adalah dengan menutup mulut dan hidung
secara bersamaan kemudian hembuskan udara melalui hidung dengan masih
tertutup. Upayakan udara tidak keluar sehingga Anda akan merasakan telingan
Anda tidak akan terasa tersumbat/penuh/sakit. Lakukan hal ini berulang setiap kali
anda merasakan telingan tersumbat/penuh/sakit.
Upaya tersebut agar segera dilakukan, jangan menunggu sampai terasa sakit. Bila
tidak berhasil menghilangkan rasa sakit, segera beritahu petugas yang berada di
dalam atau teriak ... "Sakit...!"
Apa Persyaratan Sebelum TOHB?
1.

Medik

Thorax
Tidak

sedang

foto
flu

dan

demam

- Pemeriksaan laboratorium bila ada penyakit tertentu (misal: Diabetes Mellitus)


2.

Sarapan

pagi

3. Berpakaian berbahan katun dan disarankan agar bercelanan panjang


4. Tidak membawa barang elektronika, barang yang mengandung alkohol, telepon
genggam,

remote

kontrol,

minyak

angin,

dan

minyak

wangi

5. Tidak menggunakan jam tangan, perhiasan lainnya, gigi palsu, lensa kontak,
hearing

aids

6. Melakukan equalisasi/Valsava yaitu upaya menyamakan tekanan telingan


bagian tengah dan bagian luar. Hal ini perlu dilakukan pada saat Anda masuk
dalam Hyperbaric Chamber
Apa Manfaat TOHB?
Manfaat awal dari terapi ini adalah untuk mengobati penyelam laut dalam yang
menderita akibat embroli udara. Setelah banyaknya penelitian medis dan test, para
ilmuwan telah menemukan lebih banyak penyakit yang dapat diobati dengan
menggunakan TOHB, misalnya: cedera kepala, cerebral palsy, stroke, dan bahkan
kelelahan kronis, luka diabetes, dan autis. Karena tekanan tinggi, oksigen murni
diambil oleh tubuh lebih cepat. Oksigen ini akan tersaturasi dalam darah pada
tingkat yang lebih tinggi dan diserap oleh setiap sel, otot, dan jaringan yang ada
pada tubuh. Hal ini disebabkan adanya tekanan yang tinggi sehingga mendorong
sirkulasi sehingga oksigen akan terbawa ke tiap sel dan konsentrasi oksigen dalam
sel cukup tinggi. TOHB lebih populer pada hari ini karena bersifat low risk dan
memiliki efek samping yang jauh lebih sedikit dibanding yang menggunakan
obat-obatan.
Beberapa
-

Mengurangi

manfaat
volume

TOHB
gelembung

gas

antara
pada

penyakit

lain:
dekompresi

- Meningkatkan penyaluran oksigen pada jaringan yang kekurangan oksigen


-

Mendorong

dan

merangsang

pembentukan

Menekan

pembuluh

darah

pertumbuhan

baru
kuman

- Mendorong pembentukan jaringan dan meningkatkan daya bunuh kuman oleh


sel

darah

putih

Meningkatkan

produksi

SOD

- Mengeleminasi dan menurunkan zat beracun


Terapi

Oksigen

Hiperbarik

berguna

Terapi
-

untuk

pengobatan

antara

lain:
Primer

Penyakit

dekompresi[2]

Emboli

Gas[3]

Keracunan

Gas

CO
Gangren[4]

- Osteoradionecrosis[5]
Terapi
-

Skunder
Kerusakan
Akut

jaringan
ischemia

akibat
dan

radiasi

crush

injuries

Luka

bakar

Anemia

akut

Luka

bakar

yang

sukar

Skin

flap

Osteomyelitis[6]
Ulcus

gangren

Tuli

pada

diabetes

mendadak,

sembuh

Tinitus

Patah
Rehabilitasi

motilitas

tulang
sperma

pada

infertilitas

- Kebugaran dan estetika


Apa Manfaat TOHB untuk Kebugaran dan Estetika?
Dengan bertambahnya usia, kita berupaya untuk terus dan mempertahankan
kebugaran dan kecantikan. TOHB dapat meningkatkan energi secara keseluruhan,
meningkatkan kemampuan kognitif dan kesehatan dengan memerangi radikal
bebas yang bersifat racun dan berbahaya, membantu meningkatkan metabolisme,
dan membuat kulit dan rambut menjadi lebih sehat dan berkilau.
Peran

TOHB

dalam

kebugaran

Menurunkan

Meningkatkan

Meningkatkan
Merangsang

pembentukan

dan

estetika

adalah

asam

jaringan

laktat

kekuatan
kapasitas

dengan

otot

latihan
kolagen

fisik
dan

elastin

- Merangsang peningkatan anti oksidan sehingga berperan dalam meredam radikal


bebas, anti inflamasi, dan anti keriput
Adapun rancangan jadwal terapi yang disarankan untuk kebugaran dan estetika
adalah

sebagai

berikut:

Minggu

I:

5x

minggu

Minggu

II:

3x

minggu

Minggu III: 2x / minggu


Apa Peran TOHB dalam Perbaikan Memori?
Banyak pasien dengan kehilangan memori tidak didagnosis dengan benar,
dianggap sebagai "penuaan normal" dan tidak perlu dikhawatirkan. Mungkin
diberikan obat, namun tidak menghentikan penurunan progresif dari memori
tersebut, malah berdampak efek samping dari penggunaan obat tersebut.
Kadang-kadang masalah memori banyak disebabkan oleh penyakit pembuluh
darah. Penurunan aliran darah dan penurunan suplai oksigen dapat mempengaruhi
memori. Miskinnya aliran darah dengan konsekwensi kurangnya oksigenasi yang
memadai merupakan penyebab terbanyak masalah memori. Mini-stroke dapat dan
sering menimbulkan gangguan memori. Stroke dapat terjadi tanpa ada yang
menyadari bahwa telah terjadi atau sedang terjadi. Jika memori berjalan buruk
tiba-tiba, dan terutama jika ada kebingungan, maka ada kemungkinan telah terjadi
stroke. Jika test menunjukkan terjadi stroke atau penyempitan pembuluh darah,
maka setidaknya masalah yang terjadi adalah kurangnya oksigenasi ke otak.
TOHB membantu meningkatkan jumlah laurtnya oksigen ke dalam plasma darah
dan cairan cerebrospinal sehingga jumlahnya meningkat dalam sel, jaringan, dan
organ. Salah satu fakta yang paling penting untuk dipahami adalah bahwa otak
merupakan organ yang paling sensitif terhadap kekurangan oksigen.
Apa Efek Samping TOHB?

Efek samping yang paling umum adalah barotrauma telinga dan sinus yang
disebabkan oleh perubahan tekanan. Untuk meminimalkan resiko ini, pasien
dibekali teknik untuk mengatasi tekanan apda telinga selama kompresi.
Efek samping lain yang lebih jarang, tetapi dapat mencakup totalitas oksigen,
claustrophobia, dan pematangan katarak yang dipercepat. Kadang-kadang
beberapa pasien mengalami perubahan visual setelah beberapa perawatan yang
menyebabkan mereka memiliki perubahan dalam ketajaman visual mereka. Ini
biasanya hanya sementara dan menghilang setelah 3-4 bulan TOHB dihentikan.
Sumber: Hyperbaric Rumah Sakit TNI-AL Dr. Mintohardjo
[1] Valsava, teknik ini dinamakan dari Antonio Maria Valsava, seorang dokter dan
ahli

anatomi

berkebangsaan

Italia

sebagai

penemunya.

[2] Penyakit dekompresi, didefinisikan sebagai suatu keadaan medis dimana


akumulasi nitrogen yang terlarut setelah menyelam membentuk gelembung udara
yang menyumbat aliran darah serta system syaraf. Akibat dari kondisi tersebut
maka timbul gejala yang mirip sekali dengan stroke, dimana akan timbul gejalagejala seperti mati rasa (numbness), paralysis (kelumpuhan), bahkan kehilangan
kesadaran

yang

bisa

menyebabkan

meninggal

dunia.

[3] Emboli gas adalah kondisi gas lewat jenuh (nitrogen, oksigen dan
karbondioksida) dalam tubuh dan menyebabkan adanya gelembung udara di
dalam

darah

dan

jaringan

tubuh.

[4] Gas Gangren adalah kondisi medis yang ditandai dengan timbulnya
gelembung-gelembung pada kulit yang pucat yang berubah warna menjadi abuabu atau merah keunguan, dengan perasaan berat pada daerah yang terkena. Hal
ini disebabkan oleh bakteri Clostridium, yang melepaskan racun mematikan dan
menghasilkan gas-gas yang menyebabkan kematian jaringan. Gas gangren secara
khas mengenai jaringan otot dalam dimana jejas atau suatu luka operasi
mengosongkan suplai darah pada daerah tesebut, menyebabkan bakteri
Clostridium dapat tumbuh dengan subur di dalamnya. Gejala-gejala biasanya
berkembang secara mendadak dan memburuk secara cepat. Gas gangren

merupakan bentuk paling fatal dari antara semua gangren dan intervensi medis
dini diperlukan untuk mengurangi kematian akibat komplilasi, seperti syok septik.
[5] Osteoradionecrosis (orn) adalah masalah dengan penyembuhan tulang yang
dapat terjadi pada orang yang menerima dosis radiasi yang tinggi, terutama untuk
rahang.
[6] Osteomielitis adalah infeksi tulang dan sumsum tulang, merupakan suatu
bentuk proses inflamasi pada tulang dan struktur-struktur disekitarnya akibat
infeksi dari kuman-kuman piogenik.

"FIGHT OR FLIGHT" dan "REST AND FULLFILLMENT" RESPONSE


Dalam Psikologi dan Fisiologi dikenal ada 2 mekanisme yang ada pada tubuh
manusia, yang juga kebetulan diwakili oleh 2 sistem syaraf yang berbeda, yaitu
mekanisme yang dikenal dgn "Fight or Flight response" dan "Rest and
Fullfillment response". Mekanisme "Fight or Flight response" diwakili oleh
sympathetic nervous system dan "Rest and Fulfillment response" yang diwakili
oleh parasympathetic nervous system.
Secara alamiah sebenarnya 2 mekanisme ini berjalan silih berganti dalam siklus
kehidupan manusia. Dalam kondisi terdesak secara natural seseorang akan
melakukan mekanisme pertahanan diri "Fight or Flight Response" ini. Kemudian
setelah kondisi yang dianggap membahayakan bisa dilewati biasanya secara Fisik
dan Non Fisik seseorang akan mengalami suatu kelelahan yang luar biasa. Dan hal
ini secara natural akan mengaktifkan pertahanan diri yang lain yaitu "Rest and
Fulfillment Response" yang secara sederhana kita kenal sebagai kondisi istirahat
penuh atau 'deep sleep'. Pada kondisi "deep sleep" inilah tubuh berusaha

mengembalikan lagi keseimbangan Fisik dan Non Fisik yang dialami setelah
kondisi yang dianggap membahayakan tersebut dilewati.
Manusia adalah makhluk yang memiliki kesadaran cipta, rasa, dan karsa. Secara
naluri manusia bisa memahami adanya "fight or flight response" dan "rest and
fulfillment response" ini dan berusaha menduplikasikan fenomena ini secara
sadar.
Penduplikasian mekanisme "Fight or Flight response" akan saya bahas nanti
secara khusus beserta system hormon yang terlibat didalamnya. Sedang
penduplikasian mekanisme "Rest and Fulfilment response" kita kenal dalam
teknik pernafasan lain yang dikenal dgn Pernafasan Meditasi. Pernafasan jenis ini
akan membawa pada kondisi relaksasi yang dalam yang menyerupai kondisi 'deep
sleep'. Dalam kondisi Meditatif inilah biasanya "Rest and Fulfillment response"
bekerja optimal. Sensasi yang dirasakan para paktisi meditasi ini adalah rasa
damai, peningkatan awareness (kesadaran), perubahan persepsi dan kognitif, dll.
Biasanya tujuan dari pernafasan meditatif adalah peningkatan awareness yang
bagi sebagian kalangan seringkali disebut pencerahan.
Peningkatan Awareness pada pernafasan meditatif yang bersifat "Rest and
Fulfillment response" dan melibatkan parasympathetic nervous system ini berbeda
dgn peningkatan Awareness pada Pernafasan yang bersifat "Fight or Flight
response" yang melibatkan sympathetic nervous system. Kondisi Awareness
dalam keadaan "Fight or Flight State" lebih bersifat Kesadaran Aktif dimana
seseorang secara aktif memilah informasi yang dianggap relevan sedang informasi
yang tidak relevan akan cenderung diabaikan. Kondisi Awareness dalam tahap
Meditatif lebih bersifat Kesadaran Pasif dimana seseorang menjadi lebih bisa
menerima terhadap segala informasi yang ada baik internal maupun eksternal
tanpa ada proses aktif untuk memilah.
Dalam Psikologi dikenal sebagai 'Active Awareness' dan 'Passive Awareness' atau
'Kesadaran Aktif' dan 'Kesadaran Pasif'.

Sederhananya bisa dianalogikan sebagai berikut : dalam situasi "Fight or Flight


Response" seseorang yang mengalami peningkatan awareness bisa mendengar
adanya suara nafas lawan yang bersembunyi dibalik air terjun. Secara selektif
suara air terjun diabaikan dan tidak terdengar lagi oleh orang tersebut. Yang hanya
didengar adalah suara nafas lawannya saja. Tetapi dalam kondisi "Rest and
Fulfillment Response" yang bersifat meditatif, seseorang bisa mendengar suara
nafas lawan yang bersembunyi dibalik air terjun tanpa mengabaikan suara air
terjun itu sendiri. Bagi orang tersebut, suara air terjun ataupun suara nafas
lawannya seperti suatu paduan suara musik orchestra yang saling mengisi.
Bisa menerima segala informasi yang ada disekitar kita dan keseluruhan informasi
ini menjadi satu orchestra yang harmonis inilah yang memberikan rasa damai dan
kesatuan antara pengamat dan yang diamati. Bisa dikatakan secara subyektif
bahwa sensasi dalam kondisi meditatif yang dirasakan adalah adanya penyatuan
antara mikrokosmos (tubuh) dan makrokosmos (alam semesta) karena pada
kondisi meditatif ini mikrokosmos (tubuh) menjadi sangat receptive terhadap
informasi yang ada pada makrokosmos (alam semesta) - seakan tidak ada batas
lagi antara keduanya.
Istilah jawa "cedak tan senggolan, adoh tan wangenan", dibilang dekat, tidak
bersinggungan, dibilang jauh, tidak ketahuan jaraknya.
Secara psikologi memang terdapat perbedaan sensasi yang dirasakan pada kedua
mekanisme ini.
Secara alamiah sebenarnya kedua mekanisme ini saling melengkapi satu sama lain
dan memiliki fungsinya masing-masing dan bukan sesuatu yang bertentangan.
Sebenarnya sudah cukup banyak penelitian tentang Meditasi dilakukan oleh para
Scientists di dunia barat. Pendekatan yang dilakukan sudah cukup beragam pula.
Ada penelitian dgn metode pendekatan fisiologi hormon tubuh yang diakibatkan
pengaruh Meditasi. Ada juga metode pendekatan neurology pada Meditasi,
pendekatan psikologi, dsb. Penelitian ini menarik karena berusaha untuk

memahami lebih jauh bagaimana tubuh ini bekerja dalam kondisi meditatif.
Penelitian ini melibatkan praktisi meditasi dari berbagai macam kalangan baik itu
Yogist, Zen Buddist, Tao, dsb.
Dari penelitian Neurology bisa diketahui pernafasan Meditasi yang bersifat "rest
and fulfillment response" mengaktifkan parasympathetic nervous system yang
berbanding terbalik dgn sympathetic nervous system yang dilakukan pada situasi
"fight or flight response" mechanism. Dari sisi metabolism tubuh pada kondisi
meditatif terjadi penurunan konsumsi oksigen, detak jantung, tingkat pernafasan
dan tekanan darah. Dari sisi gelombang otak terjadi peningkatan gelombang
alpha, theta dan delta yang menunjukan adanya penurunan tingkat stress.
Beberapa penelitian menunjukan pernafasan meditatif juga bisa mengontrol
tingkat gula darah pada penderita diabetes dikarenakan penurunan metabolism
tubuh pada kondisi meditatif ini.
Dari penelitian hormon, pernafasan meditasi pada tingkat gelombang alpha dan
theta pada otak akan berakibat pada peningkatan hormone DHEA (40-90%) dan
Melatonin (90-300%). Peningkatan DHEA akan meningkatkan daya tahan tubuh
terhadap penyakit. Sedang hormone Melatonin bersifat sebagai antioksidan alami
tubuh. Dalam kondisi meditatif pada tingkat gelombang delta pada otak akan
berakibat pada peningkatan hormone HGH (Human Growth Hormone). Fungsi
HGH meningkatkan kekuatan otot dan tulang, mengurangi lemak tubuh, dan
meningkatkan fungsi otak serta bersifat antiaging (anti penuaan) tubuh yang
alami. HGH biasanya banyak dihasilkan pada usia anak-anak dan semakin
berkurang pada usia lanjut hingga 50% pada usia 50 tahun ke atas. HGH yang
bersifat antiaging dipercaya sebagai penyebab para praktisi meditasi tingkat
advanced seringkali berusia panjang.
Sayangnya penelitian yang sama belum pernah dilakukan pada MP. Jika kita amati
Sistem Pernafasan MP, selain yang melibatkan sistem "Fight or Flight response"
seperti Pernafasan Power, MP juga memiliki sistem pernafasan yang melibatkan
"Rest and Fullfilment response" yang bersifat meditatif. Latihan olah nafas seperti

pengendapan dan Getaran adalah salah satu pernafasan MP yang bersifat


Meditatif. Selama ini belum ada penelitian ilmiah yang dilakukan untuk
memahami pernafasan MP ini baik yang bersifat "Fight or Flight response"
maupun "Rest and Fullfillment Response". Dan ini area yang bagi saya menarik
untuk dilakukan kajian.
Sampai saat ini, MP baru melakukan penelitian dari sisi ATP yang dihasilkan
dalam Pernafasan Power MP seperti yang dilakukan pada Operasi Seta I. Belum
ada lagi penelitian tentang pernafasan MP dari sudut Muscle Fibers (serabut otot)
yang digunakan, Lactate Threshold (ambang batas asam laktat), dll. Begitu pula
belum pernah dilakukan penelitian terhadap sistem hormon tubuh dan
hubungannya terhadap pernafasan MP baik yang bersifat Power maupun
Meditatif. Sehingga kita bisa tahu mengapa banyak praktisi yang "bludrekan",
"gampang emosian", "cepat naik pitam", "mutungan", dan sejenisnya.
Konon ada keluhan dari praktisi power MP, bahwa latihan getaran menurunkan
power mereka. Jika kita asumsikan pernafasan getaran bersifat meditatif maka
bisa dimengerti mengapa pada latihan Getaran ada keluhan terjadinya penurunan
Power pada praktisi MP. Dari sisi hormon, pernafasan meditatif akan
mengaktifkan hormon yang bersifat menurunkan hormon yang dihasilkan oleh
pernafasan power dan sisi neurology pernafasan meditatif akan mengaktifkan
parasympathetic nervous system yang akan menurunkan aktifitas sympathetich
nervous system yang digunakan pernafasan Power. Hal ini bisa dipahami karena
memang pernafasan yang bersifat meditatif (Rest and Fulfillment Response)
bekerja sebagai counter balance dari pernafasan Power yang bersifat "Fight or
Flight Response". Pernafasan pengendapan atau getaran yang bersifat meditatif
adalah penyimbang bagi pernafasan power MP. Sama seperti halnya "Rest and
Fulfillment Response" adalah penyimbang dari "Fight or Flight Response" yang
biasanya terjadi secara natural dalam kehidupan sehari-hari.

Akan tetapi, kita jumpai pula praktisi MP yang mumpuni baik dari sisi power
maupun getaran. Nah, bagaimana kalau seperti itu? Kapan-kapan akan saya coba
urai lagi. Karena ini bagian yang tidak kalah menarik.
Semoga bermanfaat.
Sehat, Bugar, dan Powerfull bersama Kebugaran Merpati Putih!
Salam
MG

UBAHLAH LINGKUNGAN JADI LEBIH BAIK

hangat,

Bruce H. Lipton, PHd, dalam penelitiannya mengenai genetika melalui


pengembangbiakan stem cell menjelaskan bahwa sebuah sel yang didalamnya
berisi gen tertentu lalu dibiakkan pada lingkungan yang berbeda akan
menghasilkan jenis sel yang berbeda, padahal genetika sel itu sama. Hal ini
menjadikan kesimpulan beliau bahwa ternyata Genetika dapat diubah. Bagaimana
caranya? Yakni dengan mengubah Persepsi kita terhadap sesuatu.
Kesimpulan dari penelitian Bruce H. Lipton didalam buku setebal 203 halaman
yang berjudul "The Biology of Belief" mengenai genetika adalah sebagai berikut:
1.
2.

Perception
Perception

control
control

behavior
genes

3. Perception rewrites genes


Apa itu Perception dalam pemahaman Bruce H. Lipton?
Perception didefinisikan sebagai "the ability to see, hear, or become aware of
something through the senses" atau kalau saya terjemahkan sebagai suatu
kemampuan untuk melihat, mendengar, atau menjadi peduli pada sesuatu melalui
perasaan. Sederhananya, persepsi adalah cara pandang atau cara kita mensikapi
sesuatu.
Kata kuncinya adalah dengan memperhatikan kebiasaan-kebiasaan kita dan
bagaimana perasaan kita berperan dalam mensikapi kebiasaan-kebiasaan tersebut.
Perasaan, terkait erat dengan fungsi hormon. Maka berbicara perasaan tidak bisa
lepas dari bagaimana fungsi hormon ditubuh kita. Sebab munculnya sebuah
perasaan tertentu, akan mengaktifkan hormon tertentu. Aktifnya hormon tertentu
akan mengaktifkan enzym tertentu.
Menurut Bruce, sel adalah miniatur manusia, didalamnya ada 2 golongan besar
dari enzym yakni Receptor Enzym dan Effector Enzym yang lokasinya berada
dipermukaan sel. Receptor Enzym atau enzym penerima, bertugas untuk
menerima persepsi dari luar melalui perasaan tertentu. Kemudian hasil dari
Receptor Enzym ini diberikan kepada Effector Enzym atau enzym yang bertugas

untuk menimbulkan efek tertentu. Hasil dari Effector Enzym ini adalah produk
yang bernama Protein. Ia akan masuk kedalam inti sel yakni Nucleus. Di dalam
nucleus terdapat gen yang merupakan rantai helix dan terbungkus oleh protein.
Protein yang dihasilkan dari Effector Enzym ini akan mencari protein yang cocok
dengan yang membungkus gen. Setelah ketemu dengan protein yang tepat, maka
pembungkus gen akan terbuka. Gen kemudian melakukan proses replikasi diri
untuk 'dibawa' oleh protein tersebut 'naik keatas'. Setelah selesai, maka protein
pembungkus gen tadi menutup dan kembali membungkus gen. Nukleus kemudian
menunggu atau bersifat 'wait and see' berdasarkan persepsi yang mencapai sel
tersebut. Kemudian karakteristik sel dan sifatnya akan berubah mengikuti kode
genetic apa yang dibawa oleh protein pembawa tersebut.
Pada belahan bumi yang lain, seorang ilmuwan dari Jepang bernama Prof. Kazuo
Murakami yang juga berkutat pada bidang genetika melalui bukunya "The
Miracle of DNA" dan "Divine Message of DNA", menjelaskan bahwa agar suatu
gen menjadi on atau off, diperlukan minimal tiga hal berikut ini:
1.
2.

Lingkungan
Mengubah

kebiasaan

3. Niat dan tekad yang kuat


Padahal keduanya berada lingkup yang berbeda penelitiannya, akan tetapi
melahirkan pendapat yang saling melengkapi. Dalam pemahaman Prof. Kazuo
Murakami dikatakan bahwa timbulnya kanker adalah karena aktifnya gen kanker
yang ada ditubuh seseorang. Timbulnya penyempitan jantung, gagal ginjal, dan
lain sebagainya bermula dari lingkungan, kebiasaan, dan cara pandang atau cara
mensikapi. Buku The Miracle of DNA tidak menjelaskan secara teknis bagaimana
proses aktifnya gen kanker, tapi bisa dijelaskan dengan sangat baik berdasarkan
penelitian Bruce H. Lipton.
Dalam konteks Merpati Putih, yang disebut dengan lingkungan terbagi menjadi
dua yakni lingkungan dalam diri dan lingkungan diluar diri. Lingkungan didalam
diri adalah hati, akal, dan panca indra. Ini disebut dengan mikrokosmos atau 'jagat

kecil'. Sedangkan lingkungan diluar diri adalah kebiasaan, pola makan, pola
istirahat, masyarakat, alam sekitar. Ini disebut dengan makrokosmos atau 'jagat
besar'.
Hati dan Akal memiliki dunianya sendiri, memiliki lingkungannya sendiri. Maka
berlatih untuk mengenali hati melalui niat, kemudian mengenali akal melalui
imajinasi, kemudian menyatukan keduanya hingga menjadi sebuah keyakinan
adalah suatu proses untuk membentuk lingkungan dan kebiasaan yang baru.
Lingkungan dan kebiasaan yang baru ini dibentuk dan lahir dari niat dan tekad
yang kuat. Panca indra merupakah 'wadah' yang sering kita sebut dengan raga atau
badan atau tubuh, yakni tempat dimana trilyunan sel berada. Trilyunan sel ini
kemudian membentuk satu kesatuan, saling terhubung satu sama lain. Maka
jelaslah, bahwa dengan membentuk 'lingkungan yang baru' atau 'lingkungan yang
diciptakan baru' oleh diri kita melalui penyatuan niat dan imajinasi menjadi
sebuah keyakinan secara kokoh pada dasarnya akan mampu mengubah genetika di
tubuh kita sendiri.
Lebih lanjut lagi, sel yang hidup akan menghasilkan gelombang elektromagnetik.
Semakin sehat sel, maka semakin kuat gelombang elektromagnetik yang
dihasilkan (kata pengantar alm mas Budisantoso dalam buku Normalisasi
Diabetes yang diterbitkan yayasan Saring Hadipoernomo). Semakin kuat
gelombang elektromagnetik maka semakin jauh pancaran transmisinya.
Gelombang memiliki frekwensi, dan karakteristik dari frekwensi ini ditentukan
oleh bagaimana cara kita menyusun gelombang tersebut. Kalau yang disusunnya
agar rezeki bertambah, hidup membaik, lancar, dan sebagainya, maka itulah yang
akan terjadi. Kaidah Niatingsun yang Nyawiji dalam istilah Jawa dikenal dengan
nama modern Law of Attraction (LOA).
Kesemuanya kemudian "diikat" dan "dibungkus" dengan kuat menggunakan
kaidah Ketuhanan agar energi yang dihasilkannya semakin bermanfaat pada
lingkungan yang dibentuk tersebut. Menyadari betul bahwa semua terjadi atas
izinNya, sedikit maupun banyak.

Semoga bermanfaat.

BERBAHAGIALAH SEJAK DI PIKIRAN


Olah nafas MP adalah sejenis olah nafas yang karakternya berupa energi panas
yang berdaya sangat tinggi. Lalu bagaimana para local genius MP 'meredam' efek
dari energi panas tersebut? Dalam penelitian pribadi, saya menemukan bahwa

kondisi untuk meredam efek dari energi panas berdaya sangat tinggi tersebut
adalah dengan fungsi hormonal.
Menurut ilmu kedokteran, hormon dianggap sebagai 'gerbang jiwa'. Munculnya
suatu hormon tertentu yang aktif diawal terlebih dahulu dengan munculnya suatu
kondisi kejiwaan tertentu. Pemetaannya dilakukan seperti itu. Meskipun kondisi
kejiwaan atau saya sebut saja 'perasaan' tertentu bersifat abstrak, tapi ternyata ia
mampu menghasilkan kondisi nyata pada tubuh. Berusaha memahami perasaan
sama halnya berusaha memahami hati. Hati yang dimaksud disini bukanlah lever,
tetapi qolbu/roso sak jroning roso/heartbrain. Maka melakukan penyikapan hati
terhadap suatu kondisi adalah sangat penting. Orang tua kita dan juga leluhur kita
terdahulu mengajarkan bagaimana cara melakukan penyikapan hati ini. Dalam
khasanah tanah Jawa, istilah-istilah seperti 'meneng', hening, nrimo, pener, titis,
dan banyak istilah lainnya sesungguhnya mengajarkan kita pengetahuan mengenai
cara penyikapan. Sebagaimana halnya kebaikan, penyikapan hati ini harus dilatih.
Tidak ada orang yang langsung terlahir lalu menjadi dermawan. Kedermawanan,
sedekah, menolong orang, harus dilatih sejak dini. Tujuannya agar ia terbiasa
melakukan hal itu dan terekam pada memori selnya. Apabila sudah terekam pada
memori selnya dan diulang terus menerus secara konsisten maka akan memicu
munculnya gen positif terhadap hal itu dan ini akan menjadi sifat. Maka ada
kaitannya antara penyikapan hati dan kondisi genetika tubuh manusia. Hal ini
akan saya jelaskan sebentar lagi.
Manusia tersusun dari sel, dan sel dibuat bekerja oleh gen. Belakangan ini,
penelitian mengenai genetika sudah maju pesat sehingga kita jadi tahu banyak hal
mengenai mekanisme kehidupan. Dengan memahami mekanisme dan kinerja gen
yang mengatur sel, hewan kloning bisa dihasilkan, terapi gen terhadap penyakit
yang sukar disembuhkan menjadi mungkin. Saat ini, pemetaan gen manusia
sedang dicoba diberbagai tempat di dunia, dan diharapkan gambaran keseluruhan
mekanisme kehidupan menjadi semakin jelas. Cepat atau lambat. Kalau itu terjadi,
maka pemanfaatan gen akan semakin meningkat.

Satu hal yang hebat yang ditemukan dalam penelitian gen akhir-akhir ini adalah
bahwa kinerja gen dapat berubah bergantung pada stimulan dari luar dan
lingkungan sekitarnya. Artinya, gen yang tertidur menjadi terjaga. Dalam satu sel
gen, terdapat kemampuan tersembunyi yang bisa membentuk keseluruhan tubuh.
Tetapi kenyataannya, gen yang bekerja hanya sebagian kecil, sedangkan sisanya
tertidur. Satu gen saja yang ada di dalam tiap sel tubuh kita memiliki kemampuan
terpendam untuk menghasilkan satu orang manusia utuh.
Lalu apakah perbedannya gen yang tertidur dengan gen yang terjaga?
Gen yang terjaga dapat membuat enzim dan protein, sedangkan gen yang tertidur
(meskipun sama-sama gen) tidak bisa membuat enzim dan protein. Keadaan gen
yang membuat atau tidak membuat enzim ini diistilahkan dengan kondisi on/off
pada gen. Kalau dimisalkan seperti lampu, maka jika tombol menyala ditekan
lampu akan menjadi terang. Sebaliknya, jika tombol mati ditekan, maka fungsi
sebagai alat penerang akan berhenti.
Menjadi pertanyaan, bagaimana kondisi on/off ini bisa terjadi?
Secara garis besar ada dua kondisi utama. Pertama, keadaan on/off yang otomatis
terjadi atau mandiri, tidak berhubungan dengan niat ataupun tindakan manusia.
Kedua, keadaan on/off yang dipengaruhi stimulan, niat, dan perbuatan
manusianya.
Kedua keadaan tersebut akan bisa dipahami jika kita mengamati kerja jantung.
Jantung kita bekerja tanpa diperintah sejak kita lahir sampai mati. Ini merupakan
kinerja otomatis. Tidak ada kaitan dengan keinginan dan perbuatan pemilik
jantung. Gen pada sel jantung mengaktifkan gen agar berada dalam keadaan on
agar bisa melaksanakan perannya sendiri. Tetapi jantung dapat mempercepat
denyutnya saat ada sesuatu yang mengagetkan atau pada suatu kondisi tertentu
yang disengaja. Ini menunjukkan bahwa stimulan dari luar menyebabkan gen
yang tadinya tertidur menjadi aktif dan mulai bekerja. Dari fakta ini, kita mengerti

jantung bekerja secara otomatis dan disaat bersamaan jantung mengubah cara
kerjanya berdasarkan stimulan dari luar.
Jika memikirkan hal-hal yang baik (positif), maka hormon baik akan dihasilkan.
Yang melaksanakan ini juga gen. Jika gen tidak bekerja, sebanyak apapun kita
memikirkan yang bagus-bagus, hormon baik tidak akan keluar. Maka harus ada
suatu kondisi penyikapan lain selain daripada memikirkan hal-hal yang bagusbagus, yakni kondisi dimana keluarnya hormon baik pada tubuh.
Misalnya, saat terjadi kebakaran, wanita paling lemahpun tiba-tiba dapat
mengangkat barang berat untuk diangkutnya keluar rumah. Penjelasannya yaitu
berubahnya keadaan gen yang biasanya off menjadi on. Selama ini fenomena
seperti itu dijelaskan sebagai kekuatan mental. Tetapi meskipun melibatkan
kekuatan mental, untuk mampu mengangkat barang berat diperlukan energi.
Itupun tentunya energi yang sangat besar dibandingkan biasanya. Darimanakah
datangnya energi sebesar itu? Terjadinya keadaan darurat yaitu kebakaran
(perubahan lingkungan secara tiba-tiba) membangunkan gen yang tadinya tertidur,
yang kemudian membangkitkan energi yang sangat besar dalam sekejap. Maka
bisa dipahami dari fakta ini bahwa perasaan kita atau keadaan jiwa kita atau lebih
tepatnya penyikapan diri kita memberikan pengaruh yang sangat besar terhadap
gen

dan

fungsi

gen

itu

sendiri.

Keadaan jiwa juga ternyata mempengaruhi genetika kita. Tetapi lalu muncul
masalah, apa yang bisa kita lakukan agar gen menjadi on?
Pertama, mengubah atau berpindah lingkungan termasuk didalamnya beriteraksi
dengan orang-orang lain yang baik, bersentuhan dengan alam dan benda,
mengalami peristiwa-peristiwa baik, akan mengarahkan pada hal yang sama
berdasarkan asas kebaikan. Ingat, stimulan dari luar dapat menentukan kondisi
terjaga atau tertidurnya potensi gen pada diri kita. Maka berhati-hatilah dalam
memilih stimulan dari luar, karena faktor eksternal ini akan menyebabkan potensi
gen yang mana yang akan aktif terlebih dahulu. Kedua, kesadaran akan tujuan
yang jelas yang dimulai dari niat 'saya ingin melakukan hal ini karena ini ini dan

ini'. Sebuah niat dan tujuan yang jelas, terarah, terprogram, dan tentu saja harus
bernilai. Tujuan yang tidak bernilai, atau salah menentukan tujuan, membuat niat
tidak memiliki daya guna dan tidak mampu menjadi tenaga penggerak untuk
bertransformasi menjadi tenaga. Niat ada di dalam diri yang berupa maksud hati.
Dibuat dengan mengatakan dalam hati, sejelas-jelasnya, sedetail-detailnya. Maka
kesadaran untuk menentukan tujuan berdasarkan karakteristik niat yang disusun
sedemikian rupa menjadi faktor pengubah genetik yang semula on menjadi off
atau kebalikannya. Ketiga, berusaha dengan sungguh-sungguh untuk mencapai
tujuan itu. Tanpa kesungguhan, maka potensi gen positif menjadi on tidak
mungkin terjadi. Usaha yang sungguh-sungguh ini hanya bisa dilakukan apabila
terjadi kondisi niat yang teguh, kokoh. Ingat, niat adalah daya penggerak internal
yang akan berubah menjadi daya manakala tujuannya diketahui. Keempat, adanya
penghalang yang membuat upaya kita menemui jalan buntu. Penghalang ini bisa
apa saja. Ia akan membuat seseorang terhambat untuk maju tapi bisa juga menjadi
tenaga pendorong yang luar biasa besar untuk maju, apabila berhasil disikapi
dengan baik. Maka penyikapan hati terhadap suatu halangan atau hambatan
menjadi penting untuk dipahami.
Di dalam tubuh, ada kurang lebih dua puluhan jenis hormon yang berperan dalam
hal ini. Akan tetapi paling tidak ada 4 fungsi hormon yang menurut saya penting
untuk diketahui yakni: Adrenalin, Noradrenalin, Beta-endorfin, dan Enkefalin.
Hormon-hormon ini akan aktif manakala terjadi penyikapan hati terhadap suatu
peristiwa sebab hormon merupakan gerbang jiwa dimana munculnya suatu
hormon tertentu mesti diawali dari munculnya sejenis perasaan tertentu.
Saya ambil contoh salah satu filosofi NRIMO yang secara sederhana
diterjemahkan sebagai MENERIMA. Menerima dalam arti apapun semisal
menerima keadaan diri, menerima sakit yang diderita, menerima berapapun rezeki
yang ada, menerima kekurangan pasangan, menerima akan suatu kondisi
kehilangan, dan banyak penerimaan-penerimaan lainnya yang terjadi dalam hidup
ini. Menerima adalah sebuah ilmu tersendiri. Ia adalah termasuk hal yang positif.

Maka mengarahkan diri untuk selalu bersikap positif pada dasarnya ya


menjalankan filosofi-filosofi kehidupan.
Jika kita menanggapi sesuatu dengan penolakan, di dalam tubuh akan muncul zatzat yang antara lain akan mempercepat proses penuaan dan pertumbuhan sel-sel
kanker. Sebaliknya, bila kita bereaksi secara positif dan penuh rasa bersyukur,
maka organ memproduksi zat-zat yang akan membuat tubuh kita tetap muda dan
sehat. Adanya mekanisme ini di dalam tubuh dapat dibuktikan secara medis.
Orang yang membiasakan diri berfikir positif juga memiliki resistensi kuat
terhadap penyakit. Sementara, mereka yang senantiasa berpandangan negatif akan
cepat jatuh sakit. Bahkan dengan kondisi dan gaya hidup yang sama pun, ada
yang memiliki kesehatan prima dan ada pula yang gampang sakit. Meskipun
konsep ini tidak selalu berlaku, cara pandang memiliki arti sangat penting bagi
kesehatan kita. Cara pandang yang keliru akan melahirkan kondisi kesehatan yang
buruk. Maka perhatikanlah cara pandang kita terhadap sesuatu.
Noradrenalin diproduksi otak ketika cemas atau stres. Ketika merasa takut,
adrenalin yang akan muncul. Hormon merupakan zat penyampai pesan pada
tingkat sel, artinya, zat-zat ini yang menyampaikan perintah dari otak kepada tiaptiap sel. Jika, misalnya, 'marah' yang disampaikan, maka tubuh akan bereaksi
melalui ketegangan dan aktivitas. Oleh sebab itu, yang kita bicarakan di sini
adalah zat yang di satu sisi penting untuk (mempertahankan) hidup, namun di sisi
lain sangat beracun.
Jika seseorang terus-menerus naik darah dan didera stres hebat, dia dapat jatuh
sakit karena keracunan noradlenalin, cepat tua, dan meninggal dini. Sebaliknya,
dia senantiasa menghadapi sesuatu dengan senyum dan secara positif, yang akan
mengalir adalah hormon yang menguntungkan dan mengaktivasi sel-sel otak,
serta membuat tubuh menjadi sehat. Hormon-hormon semacam ini akan membuat
kita awet muda, memerangi sel-sel kanker, dan memperbaiki suasana hati. Jika
menginginkan hidup bahagia dan sehat, serta ingin berumur panjang tanpa

penyakit kanker atau kegemukan, kita harus menjalani hidup sedemikian rupa
sehingga hormon-hormon baik sajalah yang akan diproduksi.
Untuk hormon yang membuat seseorang senang dan bahagia, ada istilah 'brain
morphine' karena secara struktur kimawi serta efek membiusnya mirip dengan
morfin.

Sementara

pada

morfin

untuk

pembiusan

terkandung

resiko

ketergantungan dengan efek samping sedangkan pada hormon kebahagiaan kita


tidak perlu mengkhawatirkan hal itu.
Secara keseluruhan, ada kurang lebih dua puluh jenis hormon kebahagiaan.
Meskipun cara kerja dan dampaknya berbeda-beda, efek farmakologisnya sama.
Di antara begitu banyak hormon kebahagiaan, beta-endorfin adalah yang paling
berkhasiat, kerjanya lima atau enam kali lebih kuat dibandingkan dengan obat
bius.
Menjadi pertanyaan menarik, sesungguhnya, untuk apa otak kita menghasilkan zat
kebahagiaan tersebut? Saya yakin bahwa dengan itu, alam seolah ingin memaksa
kita untuk: 'hidup berbahagia!'
Di sisi lain, manusia juga memiliki pikiran buruk yang kemudian dia wujudkan
dalam tindakan. Sebagian orang mungkin berpikir, 'Aku akan menyingkirkan si X
agar mendapatkan keuntungan'. Mungkin mereka melakukan itu untuk
mendapatkan banyak uang lebih banyak, atau memperoleh status dan ketenaran.
Jika tujuan itu tercapai, tentu saja mereka senang, dan jika mereka senang,
hormon kebahagiaan akan dilepaskan. Khusus untuk kasus seperti itu, untuk
alasan yang tidak dimengerti, kegembiraan seperti itu tampaknya tidak bertahan
lama, dan segera meredup. Apabila seseorang tidak memikirkan kebaikan dunia
atau sesamanya, orang lain mungkin saja tidak menyukai kesuksesan yang
diraihnya, dan malah merugikannya. Namun terkadang, pikiran orang itu sendiri
yang mengantarnya pada kegagalan. Ini mungkin karena Tuhan lebih menyukai
manusia menjalani hidup sesuai pedoman, sedangkan mereka yang tidak
menjalani akan dihukum. Korelasinya menjadi lebih jelas.

Kembali kepada olah nafas MP, memasangkan filosofi dengan olah nafas adalah
suatu keharusan. Dengannya karakter energi panas yang berdaya sangat tinggi ini
akan dikawal ketat, dibangkitkan potensi gen positifnya untuk kemudian menekan
potensi gen negatifnya. Menjadi koreksi bagi diri kita semua apakah latihan MP
mampu menghasilkan diri yang membaik atau malah memburuk? Membaik lahir
batin atau malah memburuk lahir batin? Atau malah timpang? Fisiknya membaik
tapi hatinya memburuk? Cukupkah hanya dengan melakukan Nafas Pembersih
selama lima hingga lima belas menit mengatasi energi panas berdaya sangat tinggi
yang dilatih selama satu hingga dua jam? Cukupkah hanya dengan berdoa diawal
dan diakhir sesi latihan lalu membuat membaiknya kondisi jiwa kita? Mari kita
tanyakan pada diri sendiri dan koreksi ke dalam diri.
Sementara itu, kondisi latihan MP yang dilakukan akan menjadi begitu ekstrim
pada bentuk dan repetisi, memerlukan konsistensi tinggi, dan menghasilkan energi
panas yang sangat tinggi, akankah membawa pengaruh baik pada diri lahir batin?
Aman dari sisi energi yang dihasilkan, aman juga dari sisi medis, termasuk
didalamnya aman dari sisi kejiwaan?
Hal lain yang tidak kalah pentingnya adalah memperbaiki pola makan dan pola
istirahat, karena walau bagaimanapun asupan nutrisi mutlak diperlukan agar raga
ini tetap terjaga kelangsungannya secara biologis. Berlatih olah nafas secara keras
memerlukan asupan nutrisi yang tidak sedikit. Maka local genius MP memiliki
asupan-asupan nutrisi yang secara khas dibuat sebagai penyeimbang. Ramuan
seperti Sapto Tunggal dibuat sedemikian rupa untuk menyeimbangkan
kekurangan nutrisi tubuh. Disadari benar, bahwa latihan keras akan menguras
tenaga fisik, maka asupan fisik juga harus mencukupi. Menjadi berbahaya apabila
atas dasar keinginan kuat untuk menguasai sebuah keilmuan tertentu kemudian
mengabaikan faktor nutrisi ini. Akibatnya bisa menyerang fungsi organ.
Umumnya, atas dasar keinginan kuat agar bisa menguasai keilmuan ini dan itu,
maka orang-orang ini mengabaikan asupan nutrisinya. Ia merasa kuat, padahal
rasa yang didapatnya bersifat semu karena tertutupi oleh keinginan, hasrat, dan
ambisi. Akhirnya keinginan, hasrat, dan ambisi itulah yang akan mengalahkannya

sendiri. Bukan karena sifat ilmunya yang buruk, tetapi karena kurangnya
kesadaran dan pemahaman yang menyeluruh.
Pola pikir dan pola penyikapan hati dibentuk dari pemahaman filosofi. Sementara
asupan nutrisi yang dibutuhkan tubuh dibentuk dari pola makan. Pola istirahat
secara bertahap dimulai dari kualitas tidur dan kemampuan meditasi. Sedangkan
peningkatan ragawi didapat dari latihan-latihan olah nafas. Maka lengkaplah
sudah, paripurna, holistik, menyeluruh pada semua aspek. Kalau dijalani seperti
ini, maka MP akan bertransformasi menjadi 'way of life' atau cara hidup menuju
kebaikan lahir dan batin menuju empat sikap watak seperti yang diamanatkan oleh
Sang Guru yakni jujur dan welas asih, percaya pada diri sendiri, selaras dan
seimbang dalam kehidupan sehari-hari, hingga akhirnya menumbuhkan
ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Menjadi pertanyaan lagi, bagaimana latihan olah nafas MP bisa mengarahkan
praktisinya untuk menuju empat sikap dan watak seperti yang diamanatkan Sang
Guru? Nanti akan saya sambung lagi. smile emotikon
Semoga bermanfaat.

MERPATI PUTIH, SUHU TUBUH, DAN HORMON


Masashi Saito, M.D., menuliskan di dalam bukunya yang berjudul "Raise Your
Temperature and Improve Your Health: A Practical Guide" yang telah
diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul "Mukjizat Suhu Tubuh"
bahwa penurunan suhu tubuh sebesar 1 derajat Celcius menyebabkan penurunan
imunitas sebesar 30% sementara kenaikan suhu tubuh sebesar 1 derajat Celcius
akan menyebabkan kenaikan imunitas sebesar 500-600%. Adapun suhu tubuh
rata-rata orang Asia yang berada dalam kategori suhu tubuh sehat adalah 35-36,5
derajat Celcius sedangkan apabila berada pada suhu tubuh ideal berada pada 36,537,1 derajat Celcius.
Dr. Bruce Rind, M.D., mengatakan dalam penelitiannya bahwa temperatur tubuh
menunjukkan kondisi energi metabolisme seseorang. Berdasarkan penelitiannya,
Dr. Rind menemukan bahwa ada kaitan antara temperatur tubuh dengan kelenjar
tiroid dan kelenjar adrenal. Kelenjar tiroid berada di dalam leher, sementara
kelenjar adrenal berada menempel diatas ginjal. Memperbaiki fungsi kedua
kelenjar tersebut pada umumnya akan memulihkan kondisi temperatur tubuh
seseorang menjadi optimal.
Pengertian optimal agak berbeda dengan normal. Istilah 'normal' digunakan untuk
menunjukkan sebuah situasi statistik atau matematik yang disepakati. Usia 76
tahun dan mengalami penurunan fungsi organ masih bisa dikategorikan 'normal'.
Sementara jika pada usia yang sama kondisi temperatur tubuh dan lebih jauh lagi
kesehatan tubuhnya masih bagus maka ia dikategorikan sebagai optimal. Sehingga

proses Bugar sesungguhnya mencari kondisi optimal yang terbaik pada usia
tersebut.
Aktivitas panas tubuh menunjukkan bagaimana aktivitas metabolisme. Pada
orang-orang yang demam, terjadi peningkatan suhu tubuh hingga mencapai diatas
37 derajat Celcius. Apabila didalam keseharian kita sering terjadi kondisi naik
turun temperatur yang tidak menentu maka itu menandakan terjadinya
ketidakstabilan pada fungsi kelenjar adrenal didekat ginjal. Kelenjar adrenal yang
baik akan menghasilkan temperatur yang baik pula. Apabila kelenjar adrenal ini
mengalami stres yang diakibatkan oleh perasaan, stimulasi metabolisme yang
berlebihan seperti misalnya kenaikan stimulasi kelenjar tiroid hingga terjadi
radang disana, atau karena sebab lain, maka temperatur tubuh akan meningkat.
Sementara apabila terjadi masalah pada kelenjar tiroid maka akan menyebabkan
terjadinya penurunan energi pada metabolisme yang berimbas pada penurunan
suhu tubuh.
Kelenjar Tiroid memproduksi hormon Thyroxin atau biasa disebut dengan hormon
tiroid atau T4 yang akan memberikan sinyal kepada setiap cel agar memproduksi
energi.
Kelenjar Adrenal tepat diatas ginjal dan mampun menghasilkan banyak hormon
seperti Cortisol, DHEA, dll. Fungsi utamanya adalah membantu tubuh dari stress
agar dapat bertahan hidup. Ia membantu untuk menstabilkan banyak fungsi-fungsi
tubuh (fisik, emosi, suhu tubuh, hormonal, dll). Ketika misalnya terjadi stres
dalam bentuk apapun (fisik, kimia, emosi, nutrisi, gaya hidup seperti pola tidur,
dll, yang mesti dilakukan adaptasi) maka kelenjar ini bekerja. Stres yang tinggi
dapat

membuatnya

kelelahan.

Kelebihan

energi

pada

kelenjar

Tiroid

menyebabkan terjadinya tekanan pada kelenjar adrenal yang lebih jauh lagi
menyebabkan terjadinya tekanan pada ginjal.
Kelenjar Pituari, terletak di dasar otak tepat diatas atap mulut. Ia berfungsi untuk
mengirimkan instruksi ke banyak kelenjar lainnya mengenai bagaimana suatu

hormon akan diproduksi. Salah satu hormon yang diproduksinya adalah TSH
(Thyroid Stimulating Hormone) yang akan mengirimkan sinyal kepada kelenjar
Tiroid agar memproduksi hormon tiroid. Kelenjar Pituari ini akan menentukan
berapa banyak TSH dikeluarkan agar suatu hormon tiroid bisa dikeluarkan sesuai
dengan kebutuhan tubuh dan seberapa banyak hormon tersebut dapat ditoleransi
oleh kelenjar adrenal.
Thyroxine atau T4 akan menjadi T3 yang menyebabkan terjadinya energi (dalam
bentuk ATP) untuk dibuat pada semua cel yang hidup. T4 juga dapat menjadi
Reverse T3 (RT3) yang akan mempengaruhi produksi energi di dalam sel. Jika
diibaratkan fungsi mobil, maka T3 adalah akselerator/gas dan RT3 adalah rem.
Ketika tubuh butuh energi maka T4 akan melepaskan atom Iodine hingga menjadi
T3 yang kemudian memberikan sinyal ke seluruh sel hidup untuk memproduksi
ATP. T3 ini mengizinkan tubuh untuk memproduksi energi kapanpun dibutuhkan.
Sementara RT3 berfungsi untuk menurunkan energi ia akan memblok T3 untuk
memproduksi ATP. Hormon T4, T3, dan RT3 sekali dilepaskan ke dalam aliran
darah maka ia akan terus disana dalam bentuk rekatan protein atau bentuk
bebasnya.
Mari kita lihat kaitannya dengan latihan olah nafas Merpati Putih.
Seperti kita ketahui dan rasakan bahwa siapapun yang berlatih olah nafas Merpati
Putih akan merasakan suatu sensasi panas tubuh yang cukup tinggi. Kegiatan
tersebut kemudian merangsang munculnya banyak sekali keringat. Setelah itu
tubuh merasa nyaman dan bugar, berenergi tinggi dan siap melakukan aktivitas.
Efeknya adalah terjadinya peningkatan kualitas kesehatan. Hal ini disebabkan
karena peningkatan 1 derajat suhu tubuh akan meningkatkan 500-600% imunitas.
Metabolisme yang cepat yang terjadi didalam tubuh praktisi ketika berlatih
menyebabkan terlepasnya banyak energi dari reaksi kimia ATP. Manakala latihan
ini dilakukan dengan rutin, maka praktisi MP akan menjadi orang yang memiliki
kecenderungan jarang sakit yang berhubungan dengan imunitas. Daya tahan
semestinya menjadi lebih baik.

Namun mengapa sering dijumpai praktisi olah nafas (tidak hanya praktisi MP)
yang kemudian mengalami masalah pada jantung dan ginjal? Kalau melihat dari
penjelasan keterkaitan antara suhu tubuh, kelenjar pituari, kelenjar tiroid, dan
kelenjar adrenal (yang kebetulan lokasinya tepat diatas ginjal) maka besar
kemungkinan terjadinya over pada fungsi kelenjar tersebut. Seperti yang
dijelaskan diatas bahwa kenaikan stres (tekanan) maka akan menyebabkan fungsi
kelenjar adrenal menjadi meningkat pula. Kelenjar ini bisa kelelahan, namun
seringkali karena hati berisi ambisi untuk menguasai ilmu sakti ini itu maka
diabaikanlah. Akibatnya, lambat laun fungsi ini menurun dan menyebabkan
penyakit degeneratif. Agar dapat menangani permasalahan tersebut maka
semestinya dipahami pula kaidah-kaidah perasaan/emosi yang mesti dilekatkan
pada setiap latihan olah nafas. Salah satu kaidah mahsyur yang sering didengar
namun jarang dijalankan adalah kaidah 'tidak berambisi untuk sakti'. Kaidah ini
sebenarnya bermanfaat karena tubuh secara sadar dikirimkan sinyal agar tidak
over training pada kelenjar-kelenjar tersebut.
Bagaimana caranya?
Dalam kaidah ilmu tradisional Timur, khususnya kebugaran MP, ada 'bahanbahan' yang mesti disusun sebelum semua latihan dijalani. Ketepatan dalam
menyusun 'bahan-bahan' ini akan menentukan bagaimana nanti bentukan hasilnya.
Salah satu 'bahan' yang selalu ada dalam khasanah ilmu tanah Jawa adalah
'Niatingsun' atau Niat/Intent dan imajinasi. Dilihat dari ilmu Fisiologi, dikatakan
bahwa sel di dalam tubuh adalah target dari hormon tiroid (thyroxine atau T4)
yang kemudian mempengaruhi metabolisme dalam menghasilkan energi. Hasilnya
adalah peningkatan panas tubuh, peningkatan konsumsi oksigen dalam jaringan,
dan peningkatan pemecahan ATP. Aksi hormon Tiroid ini kalau saya analogikan
mirip dengan 'meniup api membara'. Lebih jauh lagi, ia meningkatkan detak
jantung sehingga mengalirkan lebih banyak darah kepada organ-organ tubuh.
Perubahan pada tiroid ini akan ditandai dengan dipengaruhinya aktivitas
kardiovaskular dan sistem kelistrikan tubuh.

Menurut penelitian dari George J. Kahal dan Wolfgang H. Dillmann pada tahun
2013 yang dipublikasikan pada Jurnal Endokrin, disebutkan bahwa jantung adalah
organ yang menjadi target utama dari kerja hormon tiroid ini. Efek langsung dari
tindakan T3 di jantung akan dimediasi oleh suatu mekanisme yang mirip reaksi
nuklir dan ekstra nuklir. Memompa lebih banyak ledakan ATP di dalam jantung
yang melepaskan sejumlah energi. Jadi, dalam istilah tradisional "niatingsung"
atau Niat ini adalah suatu reaksi nuklir dan ekstranuklir di dalam jantung akibat
dari kerja hormon tiroid melalui T3.
Sementara secara tadisional imajinasi dikatakan sebagai "ngarah-arah" yang
lokasinya berada di kepala. Ketika terjadi imajinasi tertentu yang khas maka
sesungguhnya kelenjar Pituari yang memproduksi TSH sebagai pemicu T4
menjadi aktif dan bahkan sedemikian aktif. Ia memancing tiroid untuk aktif. Bisa
dibayangkan kalau keduanya menyatu, yakni Niat dan Imajinasi. Maka reaksi
yang terjadi mestilah sangat luar biasa. Namun penyatuan ini terjadi karena
faktor-faktor tertentu. Ada prinsip yang menurut Bruce H. Lipton dalam bukunya
"Biology of Belief" disebut dengan 'perception'. Persepsi, atau dalam bahasa saya
adalah faktor yang mengarah pada kemelekatan akan sesuatu. Maka ketika kedua
'bahan' ini disatukan akan lahirlah suatu persepsi yang disebut dengan ...
keyakinan.
Karena ini sifatnya persepsi, maka umumnya subyektif sehingga persepsi satu
orang dengan orang lain bisa saja tidak sama. Sederhananya, keyakinan satu orang
dengan orang lain bisa saja tidak sama. Maka memaksa suatu keyakinan kepada
orang lain sebenarnya menabrak pemahaman diatas. Keyakinan guru berbeda
dengan keyakinan murid. Keyakinan A berbeda dengan keyakinan B. Wilayah
mana yg dominan dilatihnya maka akan menjadi wilayah keyakinannya.
Namun jangan sampai lupa, bahwa ini akan berpengaruh pada jantung dan ginjal.
Untuk itulah semestinya latihan yang baik, yang membawa kebaikan, semestinya
dibuat seimbang agar kedua organ utama jantung dan ginjal ini tidak mengalami
kelebihan daya hingga tidak mampu ditampungnya. Kapan waktu nanti saya bahas

tersendiri mekanisme tradisional untuk menjaga ini. Diharapkan, siapapun praktisi


yang berlatih olah nafas MP akan mendapatkan manfaat kesehatan dan kebugaran
sebaik-baiknya.
Semoga bermanfaat.

Tubuh manusia itu dominan sama, terdiri dari satu kepala, dua tangan, dua kaki,
satu badan, satu jantung, dan seterusnya. Namun, dari satu tubuh yang sama ini
ternyata bisa dipetakan berdasar berbagai macam cara pandang/pendekatan, baik
secara fisik maupun sifat energi.
Ada pemetaan dengan cara pendekatan kundalini Yoga dari ITM (Indian
Traditional Medicine), dengan teori tujuh chakra, membina dan melatih energi
dengan bentuk senam yoga dengan pengolahan nafasnya yang khas, serta
penyembuhan

dengan

pendekatan

titik-titik

chakra,

penguatan

dan

penyeimbangan, dan seterusnya. Kemudian ada Vajrayana Buddhisme yang mirip


Kundalini Yoga (tentang titik chakra) tapi dengan pembangkitan meditasi yg

berbeda. Ini menyebar sampai Jepang (Zen buddhism), sehingga metodenya


diduga dipakai beladiri Jepang tertentu (non shinto). Ada cara pandang dengan
teori titik/garis meridian TCM (Traditional Chinnesse Medicine), yang tidak
memetakan berdasar chakra, tapi lebih ke meridian organ tubuh, lengkap dengan
yin-yang, aura organ, konsep chi, dantian, dst. Lebih ke aliran Taoisme. Adapula
yang membangkitkan energi penyembuh dengan senam haqmaliah/hikmah yang
dikenal dengan nafas kedutnya, dan senam hijaiyah yang terinspirasi huruf Arab.
Kemudian ada ilmu kedokteran barat yang memetakan sel, jaringan, sifat, fungsi,
mekanisme, reaksi-reaksi biokimia, biolistrik, bioenergi dst, yang konsisten
berkembang langkah demi langkah dengan secara "ilmiah" dengan semua
prosedur uji dan tahapannya dari mulai yang sederhana hingga yang sangat ketat.
Bahkan tentang sakit jiwa pun didekati secara biomedik hingga muncul
pemahaman bahwa sakit jiwa bisa diobati secara medis karena terkait fungsi
hormonal.
Masing-masing

konsisten

berjalan

pada

jalurnya.

Sebagiannya

mempertimbangkan cara pandang pihak lain sebagai rujukan paralel untuk


memperkaya wawasan.
Lalu dimana posisi metoda MP?
Yang pasti bukan karate meskipun dulu pukulan tebangan ada yg menamai
"karat".
Bukan pula mempelajari TCM meski praktisi MP dengan deteksi getaran bisa
menunjukkan titik-titik energi yang diperlukan untuk mengarah suatu organ atau
bahkan menelusuri jalur yang kebetulan sama dengan jalur meridian tertentu.
Bukan pula metoda Vajrayana Buddhism karena master pranayama Choa Kok Sui
mengatakan MP memang beda. Juga bukan kundalini Yoga, meskipun istilah
kundalini pernah disebut sebut disebagian anggota MP, karena metoda MP tidak
sistimatis mengarah ke pembangkitan tujuh chakra serta memiliki sendiri bentuk
serta metoda senam pernafasan yang khas, jauh beda bentuk dan sifat dengan

senam yoga. Tidaklah mengherankan, bahwa agar tidak membingungkan, mas


Poeng menegaskan bahwa tidak ada terminologi "kundalini" dalam keilmuan MP.
Barangkali keilmuan MP lebih sederhana, tapi merupakan alat yang bisa untuk
menjelajah kemana-mana. Disusun oleh leluhur kita, local genius yang mendapat
titising hening.
Upaya rujukan paralel terus berjalan melalui praktisi yang mersudi, menyusun
batu-batu penyangga, yang memungkinkan suatu saat menempatkan keilmuan MP
sejajar dengan keilmuan-keilmuan yang lebih dulu populer didunia.
Para local genius MP ini sudah merumuskan metode, pola, dan cara latihan,
dengan segenap filosofi yang ada. Tentunya ada banyak kebaikan-kebaikan di
dalamnya. Bahkan lebih jauh lagi, dikatakan bahwa "MP sebagai jalan hidup".
Tidak mungkin ada jalan hidup yang menuju kerusakan/kehancuran diri sendiri.
Barangkali, adalah tugas kita-kita untuk merasakan 'MP sebagai jalan hidup' itu.
Dengan demikian, kita bisa saling menghargai, saling menghormati satu sama
lain. Jalan hidup yang dimaksud mestilah sebuah jalan kebaikan, jalan yang
menuju aspek konstruktif, membangun, membuat jadi lebih baik.
Toolkit atau disederhanakan sebagai 'metoda' MP adalah MERSUDI PATITISING
TINDAK PUSAKANE TITISING HENING. Sebuah filosofi sekaligus alat bantu
dan alat ukur untuk mengetahui kaidah-kaidah dibalik latihan-latihan MP.
Konon masih ada beberapa buku filosofi keilmuan MP (kidungan bahasa dan
huruf Jawa kuno) yang belum dibabar.
Maka dilakukan pendekatan dari sisi sebaliknya, yaitu berusaha mencari makna
dari pakem (kaidah pokok) MP, memakai toolkit ala MP (mersudi patitising tindak
pusakane titising hening) tadi untuk menyelami dan menemukan hal-hal yang
masih samar. Syahdan ternyata muncul kesimpulan sementara, bahwa keilmuan
MP memang unik, dari bentuk-bentuk dan urutan senam pengolahan tiap tingkat,
pembinaan, getaran, latihan gerak naluri, prinsip-prinsip penyembuhan dengan

getaran/kahusadan sampai kawaskitan/ketajaman naluri(intuisi), menempatkan


tata gerak sebagai gerak pengarahan untuk perbendaharaan naluri beladiri, adalah
unik, SATU KESATUAN.
Merupakan anugerah luar biasa melalui para leluhur penyusun keilmuan ini.
Titising hening ini akan sulit diterangkan, mengapa bentuk-bentuk pengolahan
dan pembinaan kok sedemikian, kok begitu, karena disusun dengan nalar plus
naluri.

Bahkan

barangkali

lebih

dominan

nalurinya.

Sehingga

untuk

menelusurinya, lebih mudah dengan penghayatan naluri. Itulah barangkali, kenapa


pelatih biasa bilang, lakukan saja dengan penghayatan penuh, kamu akan
memahami isinya.
Saya ambil salah satu contoh mengenai Serat Otot. Mari kita kenalan dengan
kinerja pada serat otot.
Jenis serat otot yang kita pergunakan akan mempengaruhi jenis olahraga apa yang
kita lakukan dimana olahraga tersebut secara umum kita akan jadi lebih baik,
lebih cepat, ataukah lebih kuat. Seperti misalnya atlet-atlet olimpiade yang (konon
katanya) dapat ditentukan secara genetika akan diarahkan pada jenis olahraga
yang sesuai dengan karakteristik otot-otot mereka. Misalnya, pelari pada cabang
lari cepat (sprint) terbukti memiliki 80% Serat Otot Kedut Cepat (fast twitch
fibers) pada tubuhnya, sementara atlet maraton terbukti memiliki 80% Serat Otot
Kedut Lambat (slow twitch fibers). Atau pada ras bangsa tertentu seperti Afrika
yang cenderung memiliki karakteristik fast twitch fibers lebih banyak dibanding
ras Asia.
Pertanyaannya, apakah suatu latihan dapat mengubah jenis serat otot tersebut?
Ataukah memang secara genetik sudah tidak bisa diubah kalau seseorang punya
gen pada dominan Tipe I tidak bisa menjadi Tipe II, demikian juga sebaliknya?
Ini juga merupakan suatu hal yang masih belum dapat dimengerti, dan para ahli
juga masih mencari tahu jawaba mengenai pertanyaan ini. Meski demikian, ada

beberapa bukti yang menunjukkan bahwa sistem otot manusia dapat beralih dari
serat otot kedut cepat (fast twitch fibers) menjadi serat otot kedut lambat (slow
twitch fibers) melalui suatu proses latihan tertentu.
Seperti misalnya studi yang dilakukan oleh peneliti dari Laval University, Canada,
yang telah diterbitkan journalnya pada "European Journal of Applied Physiology
and Occupational Physiology", September 1985, Volume 54, Issue 3, pp 250-253,
dengan judul "Human skeletal muscle fiber type alteration with high-intensity
intermittent training". Penelitian tersebut melibatkan 15 orang sample (14 wanita
dan 10 pria) dengan 10 orang sebagai kontrol pembanding (4 wanita dan 6 pria).
Dilakukan selama 15 minggu dengan tipe latihan yang berbeda. Hasilnya adalah
pelatihan intensitas tinggi pada manusia dapat mengubah proporsi Tipe I dan Tipe
II. Area serat otot Tipe I dan Tipe II meningkat secara signifikan dengan pelatihan.
Sehingga dapat disimpulkan bahwa perubahan proporsi ini tidak semata-mata
ditentukan oleh genetika saja tapi bisa dengan latihan intensif tinggi.
Bisa jadi, pada praktisi MP, yang sebelumnya dominan serat otot kedut lambat
(slow twitch fibers) kemudian dengan suatu latihan intensif yang memiliki
intensitas tinggi (latihan tiap hari, atau materi sisipan seperti 14 hari, 21 hari, dsb,
dsb) tentunya akan mengubah komposisi serat otot di tubuhnya. Dapat
disimpulkan juga (sementara) bahwa praktisi MP yang RUTIN melakukan olah
nafas intensitas tinggi dipastikan memiliki kadar serat otot kedut cepat (fast twitch
fibers) yang lebih banyak dibandingkan orang biasa. Efeknya, kemampuan
praktisi MP yang berlatih seperti ini memiliki otot yang dapat bereaksi untuk
menghasilkan ledakan tenaga tinggi dan kecepatan tinggi. Sehingga pemukulan 1
jengkal, atau setengah jengkal, atau bahkan dengan jarak sangat tipis, mampu
menimbulkan daya ledak yang tinggi dikarenakan kemampuan otot tubuhnya
yang mampu menghasilkan ledakan energi tinggi pada serat otot kedut cepat (fast
twitch fibers) dalam porsi yang besar.
Artinya, dengan pelatihan olah nafas yang konsisten, serat otot dapat
mengembangkan diri lebih lanjut dan meningkatkan kemampuan mereka untuk

mengatasi dan beradaptasi dengan tekanan-tekanan latihan yang semakin berat


yang ditimpakan pada dirinya. Ini juga sangat menarik buat saya. Sebab di MP,
Dasar 1 latihan tidak pake beban. Lalu semakin meningkat intensitas bebannya
sehingga beban otot juga semakin meningkat. Otot akan memiliki kemampuan
adaptasi lanjutan pada beban yang lebih besar. Kapankan transformasi perubahan
sebaran itu terjadi? Masih belum diketahui.
Pertanyaan lain yang muncul adalah, apakah serat otot ini merupakan faktor
utama pada keberhasilan seseorang dalam berlatih?
Bahwa serat otot yang terlatih dengan baik merupakan salah satu faktor utama
keberhasilan atlet, itu sesuatu yang sudah terbukti. Akan tetapi tidak hanya itu
saja, ada faktor-faktor lain yang menunjang diantaranya adalah kesiapan mental,
nutrisi dan air yang tepat, cukup istirahat, serta memahami cara-cara untuk
melakukan pendinginan atau penyesuaian.
Sekarang, mari kita lihat kaitan antara asam laktat dan performa seseorang.
Bahwa ketika otot manusia kelelahan, maka akan terjadi timbunan asam laktat
yang tinggi dan tubuh harus diistirahatkan segera. Timbunan asam laktat ini
dianggap mengganggu kinerja otot. Tetapi apakah memang seperti itu adanya?
Saat ini banyak penelitian dari pada ahli mengenai mitos bahwa asam laktat yang
diyakini mengganggu kinerja otot ternyata merupakan salah satu sumber bahan
bakar untuk kinerja otot itu sendiri. Ketika otot sudah berada dalam kelelahan
tinggi dalam suatu intensitas latihan tinggi, maka akan muncul sensasi seperti
terbakar, menebal, kebas, dan beberapa nyeri. Dan asam laktat diyakini berada
dibalik semua sensasi yang muncul tersebut. Tetapi penelitian terbaru secara
mikroskopis justru menunjukkan bahwa nyeri otot yang tertunda itu disebabkan
karena adanya trauma pada otot dan peradangan pada otot itu sendiri dan bukan
semata-mata disebabkan timbunan asam laktat yang tinggi.

Asam laktat dahulu selalu dilihat sebagai produk hasil dari metabolisme glukosa
menjadi energi dan merupakan produk limbah akhir yang menyebabkan sensasi
seperti terbakar pada otot. Tapi sekarang oleh para ahli, asam laktat dipandang
sebagai salah satu sumber energi di dalam tubuh. Asam laktat dibentuk dari
glukosa, dan digunakan oleh otot-otot yang bekerja untuk menghasilkan energi.
Sekarang ini diperkirakan bahwa sel-sel otot mengubah glukosa atau glikogen
menjadi asam laktat. Kemudian asam laktat yang diserap ini diubah menjadi
energi oleh mitokondria yang berada di dalam sel otot.
Dengan melakukan pelatihan pada intensitas tinggi diperkirakan bahwa tubuh
menciptakan protein tambahan yang membantu menyerap dan mengkonversi
asam laktat menjadi energi. Di dalam dunia sport modern, pelatihan pada
intensitas tinggi yang terkait dengan asam laktat ini disebut dengan Lactate
Threshold Training (LT Training).
Apakah itu Lactate Threshold (LT) ?
Lactate Threshold atau ambang batas asam laktat, adalah suatu titik dalam suatu
latihan lengkap yang habis-habisan dimana asam laktat menjadi menumpuk dalam
aliran darah lebih cepat dibanding kemampuan tubuh untuk membuang
tumpukannya. Metabolisme anaerobik menghasilkan energi untuk jangka pendek,
pembakaran energi intensitas tinggi (berlangsung tidak lebih dari beberapa menit)
sebelum asam laktat mencapai batas dimana ia tidak bisa lagi diserap. Hal ini
dikenal sebagai ambang batas asam laktat dan biasanya mencapai antara 50%
sampai 80% dari kapasitas VO2 max seseorang.
Pada saat latihan biasa-biasa saja (standar), asam laktat dapat diserap tubuh
dengan cepat. Tapi dengan latihan intensitas tinggi, maka asam laktat diproduksi
lebih cepat dibanding kemampuan tubuh menyerapnya. Ambang batas asam laktat
yang terjadi seperti itu ditandai dengan kadar pH (dari 7.4 menjadi 7.2) yang
diperkirakan menyebabkan kelelahan dan mengurangi kemampuan kontraksi otot.
Pada titik ini, seseorang akan dipaksa untuk berhenti atau istirahat. Entah

pelatihnya yang memberitahu, ataukah sinyal pada tubuhnya sendiri yang


memberitahu. Tampaknya, dengan memiliki kadar ambang batas asam laktat yang
tinggi berarti bahwa seorang atlet dapat melanjutkan latihan intensitas tinggi
dengan jangka waktu kelelahan yang lebih lama. Oleh karena itu, ambang batas
asam laktat merupakan suatu cara yang bagus untuk memprediksi kinerja otot
seseorang dalam suatu latihan dengan intensitas tinggi. Memahami ambang batas
asam laktat juga banyak digunakan oleh para atlet untuk menentukan rencana
pelatihan yang tepat untuk diri mereka.
Ketika seorang praktisi MP melakukan olah nafas dengan maksimal, dengan
pengejangan maksimal, 35 detik tercapai (bahkan lebih), dan penuh penghayatan,
maka pada awalnya biasanya terjadi kelelahan otot yang amat sangat. Tapi
perlahan, tubuh mengalami adaptasi pada kondisi ekstreem ini. Dan kemampuan
tubuh menghasilkan protein tambahan yang membantu menyerap dan
mengkonversi asam laktat menjadi energi menjadi semakin meningkat. Efeknya,
kelelahan menjadi berkurang. Daya adaptasi tercapai, dan otot mampu menerima
kontraksi maksimum. Pada tahap ini, praktisi MP sudah bisa 'memindahkan'
konsentrasinya pada nafas, pada rasa yang terjadi di dalam tubuhnya. Dan inilah
yang disebut dengan tahap penghayatan. Tahap dimana kita sudah tidak peduli
dengan raga. Tahap dimana raga (khususnya otot) sudah dapat beradaptasi
maksimal pada kondisi kontraksi akibat latihan intensitas tinggi. Kalau belum
mencapai kondisi adaptasi otot, maka konsentrasi akan terpecah dengan
sendirinya. Penghayatan menjadi tidak maksimal dikarenakan sel-sel syaraf masih
bereaksi pada kontraksi-kontraksi otot dan sensasi akibat timbunan asam laktat
yang dihasilkannya. Sehingga dapat disimpulkan sementara, bahwa di MP, pada
tingkat Dasar 1 adalah benar dan sangat benar untuk melakukan olah nafas dengan
konsentrasi pada bentuk, dan pengejangan. Tujuannya agar terjadi lebih dulu
adaptasi pada level otot. Terjadi adaptasi transformasi serat otot dari serat otot
kedut lambat (slow twitch fibers) menjadi serat otot kedut cepat (fast twitch
fibers). Adaptasi terhadap kemampuan tubuh menyerap dengan cepat asam laktat
sehingga sensasi terbakar menjadi dapat diterima tubuh dan dianggap hal yang

biasa oleh otak. Berikutnya, ketika tahap adaptasi ini sudah terjadi maka tahap
penghayatan dapat dicapai, yakni tahap dimana praktisi bisa konsentrasi pada
nafas.
Para sesepuh MP yang merumuskan pola ini (konsentrasi pada bentuk, pada
pengejangan, barulah kemudian dilakukan dengan penuh penghayatan) secara
naluri sebenarnya sudah mengetahui hal ini. Bahwa sudah disadari sejak dulu
secara naluriah bahwa kalau bentuk dan pengejangan belum maksimal, maka
penghayatan akan sulit terjadi.
Semoga berkah dan rahmat Allah pada pencipta keilmuan MP ini, pada para
sesepuh, sang Guru, pewaris, guru besar, dewan guru, dan para senior yang
mengabdikan ilmunya untuk kemanusiaan.
Semoga bermanfaat

Otak Kepala (Head Brain), Otak Jantung (Heart Brain), Otak Perut (Gut Brain)
Sejak awal peradaban, manusia selalu mengekspresikan perasaan-perasaan dalam
bentuk Cinta, rasa sakit, marah, kesal, dan lain sebagainya dari hati dan beberapa
rasa lain dari perutnya. Oleh karena itu seringkali perasaan-perasaan tersebut
dikaitkan dengan lokasi dimana ia berada seperti misalnya sakit hati, cinta, dan
lain-lain. Jika seseorang berasa sakit hati maka ia akan memegang dadanya yang
tiba-tiba terasa nyeri. Demikian juga saat ia merasa ketakutan, maka perut tibatiba merasa tidak enak dan lemaslah seluruh tubuh. Dahulu, para Rasionalis dan
sebagian ilmuwan menganggap ungkapan tersebut hanyalah kiasan belaka.
Namun seiring kemajuan ilmu pengetahuan ternyata ditemukan bahwa hal-hal
tersebut ternyata memiliki penjelasan ilmiah.
Dunia Barat memahami bahwa ada rasa yang bisa disensor oleh Heart
(selanjutnya saya sebut dengan hati yang merujuk pada qolbu) dan ada yang
bisa disensor oleh Perut (Usus). Tentunya perkembangan ini muncul setelah
penelitian yang sangat mendalam mengenai Brain (merujuk pada otak kepala),
lalu penelitian mengenai Heart Brain (otak jantung), dan penelitian kemudian
penelitian mengenai Gut Brain (Otak Perut).
Otak kepala, otak jantung, dan otak usus sesungguhnya saling bekerja sama.
Namun mereka memiliki karakteristik yang berbeda. Bahkan ketiganya dapat
dianggap memiliki pikirannya tersendiri sesuai dengan fungsi spesifiknya.
Ketiganya saling bekomunikasi dan selalu berusaha untuk mengarahkan pada
kondisi terbaik pada tubuh, menjaga keseimbangan secara alamiah, dan
menjadikan tubuh berbahagia. Namun kadang, kehendak manusia itu sendirilah
yang sesungguhnya mengganggu jalinan komunikasi antara ketiganya. Ada
sesuatu yang dapat mempengaruhi kualiats pikiran dari ketiganya.
Menurut Anil K. Rajvanshi pada bukunya yang berjudul Nature of Human
Thought (edisi kedua, 2011) dikatakan bahwa otak kepala umumnya berisi 100
milyar syaraf dan menjadi pusat pikiran bagi dirinya sendiri. Usus (meliputi

system pencernaan tubuh) berisi tidak kurang dari 500 juta sel syaraf dan 100 juta
neuron. Ia hampir seukuran otak kucing. Perut bicara dengan otak kepala tidak
hanya secara kimiawi melalui pelepasan zat-zat kimia kedalam darah yang
kemudian dibawa ke otak melainkan juga dapat mengirimkan sinyal listrik melalu
syaraf vagus. Syaraf vagus sendiri merupakan jenis syaraf parasimpatik (bekerja
dibawah sadar) yang sering terkait dengan kondisi Rest and Fullfillment
response.
Istilah Vagus berasal dari Bahasa Latin yang berarti samar, tak berbatas,
mengembara. Syaraf Vagus merupakan salah satu syaraf yang terpanjang didalam
tubuh yang fungsi utamanya untuk menyampaikan informasi dan status dari organ
internal seperti usus dan jantung ke otak. Dimulai dari kepala dan setelah
melewati semua organ kemudian berakhir di dekat anus. Syaraf ini merupakan
syaraf yang sangat penting di dalam tubuh karena ia dapat mengontrol detak
jantung, pembuangan, dan fungsi mendasar tubuh lainnya termasuk kekebalan
tubuh (imunitas).
Adam Hadhazy dalam bukunya "Think Twice: How the Gut's Second Brain
Influences Mood and Well Being" (2010) mengatakan bahwa kebanyakan dari
neuron pada usus digunakan untuk proses pencernaan. Sistem usus sendiri
merupakan sebuah mesin pemroses kimiawi yang sangat kompleks yang mampu
memecah makanan, menyerap nutrisi, dan membuang limbahnya kebawah
melalui kontraksi otot anus. Ditambah lagi system syaraf otonom yang
dimilikinya memiliki kemampuan untuk bekerja secara berdiri sendiri dengan
otak.
Lebih jauh lagi dikatakan bahwa ilmuwan telah menemukan sejumlah informasi
khusus yang mengalir dari usus ke otak melalui syaraf vagus yang bersifat satu
arah yakni hanya dari usus ke otak dan tidak kebalikannya. Sehingga meskipun
otak manusia tidak berfungsi namun apabila tubuhnya dimasuki makanan maka
usus akan tetap mencerna secara otomatis. Interaksi sebaliknya (dari otak ke usus)
terjadi manakala kita merasa lapar dan otak memerintahkan tubuh untuk

mendapatkan makanan atau ketika ada sesuatu yang bermasalah terjadi di dalam
usus seperti rasa sakit atau diare yang memerlukan obat-obatan. Namun seringkali
hubungan ini bisa rusak oleh satu dan lain hal. Kerusakan hubungan komunikasi
ini menyebabkan masalah seperti misalnya Anorexia. Anorexia adalah gangguan
psikis dimana penderitanya merasa bahwa dirinya terlalu gemuk dan membiarkan
diri mereka kelaparan. Berbeda dengan puasa dimana puasa hanya mensyaratkan
beberapa jam saja dan tetap ada waktu berbuka yang sudah ditentukan.
Dr. Michael Gershon, Professor of Anatomy and Cell Biology dari ColumbiaPresbyterian Medical Center New York mengatakan bahwa secara structural dan
secara syaraf kimiawi system syaraf usus adalah otak bagi dirinya sendiri.
Didalam tabung panjang usus terletak sebuah jaringan mikrosirkuit kompleks
yang dikendalikan oleh satu atau lebih neurotransmitter dan neuromodulator yang
tidak dapat ditemukan dimanapun pada system syaraf perifer (bagian dari syaraf
yang didalam syarafnya terdiri dari sel-sel yang membawa informasi dari dan ke
sistem syaraf pusat yang terletak diluar otak dan sumsum tulang belakang). Lebih
jauh lagi, ia mengatakan bahwa otak perut memainkan peranan utama dalam
kebahagiaan dan kesengsaraan.
Bukti-bukti penelitian seperti yang dilakukan oleh Paul Canali dari Evolutionary
Healing Institute mengatakan bahwa ada dari emosi kita yang sebagian besar
dipengaruhi oleh reaksi kimia dan syaraf di dalam usus. Banyak dari
neurotransmitter utama seperti Serotonin, Dopamine (hormon kenikmatan dan
rasa sakit), Glutamate (hormon pembelajaran dan memori), dan Norephinephrine
(hormon stress) ditemukan disana. Produksi hormon Serotonin (dikenal sebagai
hormone anti depresi) di tubuh kita ternyata 95% nya didapatkan dari usus.
Bahkan Benzodiazepines yang merupakan bahan dasar dari obat psikoaktif untuk
Xanax dan Valium ditemukan disana yakni zat yang menyebabkan terjadinya
kalem atau tenang.
Otak Kepala kita berkomunikasi dengan Otak Perut umumnya melalui Sistem
Syaraf Otonom. Maka apabila Sistem Syaraf Otonom seseorang baik artinya

kecenderungan hubungan antara otak kepala dan otak perut juga membaik. Otak
Perut dibangun secara biologis untuk membuat kita selalu tetap dalam kondisi
sehat dan memiliki kesadaran tinggi. Membuat kita bisa bertahan hidup dalam
kondisi-kondisi yang menyulitkan selama dimengerti cara kerjanya.
Para leluhur kita sesungguhnya mengetahui hubungan antara otak-usus ini.
Namun tentunya cara mereka mendapatkan pengetahuannya bukanlah dengan
melakukan serangkaian penelitian ilmiah melainkan menggunakan olah rasa
sedemikian rupa. Bahkan lebih jauh lagi dikenali dalam tubuh kita ada 3 otak
yakni Otak Kepala (head brain), Otak Jantung (heart brain), Otak Perut (gut
brain). Nanti akan saya tulis mengenai Otak Jantung atau heart brain dalam
pembahasan tersendiri.
Kita bisa melihat, bahwa latihan MP pada dasarnya berusaha mengenali dan
menggali potensi dan kemampuan dari 3 otak ini. Dilatih terus menerus hingga
dikuasai potensinya. Artinya, seorang praktisi MP mesti memiliki minimal 3 jenis
kecerdasan pikiran. Yakni kecerdasan pikiran yang ada di otak kepala (head brain,
berhubungan dengan penggunaan imajinasi, angan-angan, akal, nalar, logika, olah
nalar), kecerdasan pikiran yang ada di otak jantung (heart brain, berhubungan
dengan olah roso), dan kecerdasan pikiran yang ada di otak perut (gut brain,
berhubungan dengan makanan, nutrisi, kenikmatan, syahwat). Masing-masing
dari kecerdasan ini tentulah memiliki tahapan atau tingkatannya dimana
penguasaan terhadap salah satunya saja secara maksimal akan melahirkan suatu
kemampuan yang ngedhab-edhabi. Apalagi manakala ketiga kecerdasan ini
mampu disatukan, disinergikan sedemikian rupa dengan kaidah-kaidah tertentu.
Sebagai contoh, pada tingkat Dasar saja sudah dikenalkan dengan pelatihan untuk
merasakan dan mengenali Otak Perut (gut brain) melalui Nafas Pengendapan.
Kemudian berturut-turut mulai dikenalkan dengan Otak Jantung (heart brain)
melalui Niat, dan Otak Kepala (head brain) melalui Imajinasi. Tranmisi energinya
hampir seluruhnya menggunakan system syaraf Vagus. Maka dari itu dalam
kaidah beladiri klasik Timur sering muncul istilah tak terbatas (sesuai dengan

asal

kata

vagus

dlm

bahasa

Latin

yang

berarti

tak

terbatas/hampa/mengembara). Kita juga jadi mengerti kenapa banyak Nafas


Pengendapan menyebabkan praktisi lebih kalem/tenang karena ada zat aktif yg
dilepas disana yakni Benzodiazepines penghasil efek rasa tenang.
Kalau saya analogikan dengan smartphone, penambahan otak yang ada
didalamnya akan meningkatkan kemampuan smartphone tersebut. Sebuah
smartphone yang memiliki hanya 1 otak disebut dengan single core. Apabila
memiliki 2 otak disebut dengan dual core. Artinya, smartphone yang dual core
mestilah lebih baik dari smartphone yang single core. Selanjutnya, smartphone
yang quad core mestilah lebih baik lagi dari yang dual core. Namun, banyaknya
otak yang dimiliki ini apabila tidak dikenali betul cara pakainya hanya akan
menyebabnya 70% fitur dari smartphone menjadi mubazir. Kebanyakan pengguna
smartphone hanya memakai 30% dari fitur yang ada. Bagaimana caranya agar
fitur smartphone itu terpakai secara maksimal? Cara adalah, KITA sebagai
pengendali smartphone mulai belajar untuk mengerti fungsi-fungsi yang ada
didalamnya. Semakin dipahami fungsinya, maka smartphone itu semakin
nyamanlah kita gunakan dalam menyelesaikan problematika kehidupan yang ada.
Jika smartphone itu hanya teronggok begitu saja tanpa bisa difungsikan, mestilah
ada yang salah pada KITA sebagai pengendali smartphone itu. Atau jika
smartphone itu berfungsi tidak sebagaimana layaknya, ada yang salah juga dengan
diri kita. Semisal, smartphone dipergunakan untuk bergosip ria, menyakiti hati
orang melalui sms atau tulisan, dan lain sebagainya. Maka kembali pada prinsip
bahwa KITA sebagai pengendali smartphone yang memiliki sekian otak mestilah
memiliki pengetahuan agar smartphone itu dapat menjadi JALAN KEBAIKAN.
Misal, dengan mengirimkan nasehat-nasehat baik melalui fitur atau aplikasi yang
ada didalamnya (sms, whatsapp, facebook, dll).
Ada peribahasa, "baiklah sejak di pikiran". Sekarang kita mulai paham pikiran
yang mana yang dimaksudkan peribahasa tersebut.
Anda punya smartphone? Disitu ada kaidah ilmu MP di dalamnya, secara hakekat.

Semoga bemanfaat.
TAMBAHAN:
Ada disebut dalam khasanah Jawa dengan "Betal Makmur", "Betal Mukarom",
dan "Betal Mukadas" berdasarkan klasik primbon Jawa. Kata Betal yg dimaksud
mengacu pada kosakata Arab yakni Baitul atau Rumah. Betal Makmur yakni
Baitul Makmur. Lokasi Betal Makmur di kepala, Betal Mukarom di dada, dan
Betal Mukadas dibawah pusar. Itu kurang lebih sama dengan Head Brain, Heart
Brain, dan Gut Brain dalam bahasa modernnya.
Kita jadi bisa mengerti kenapa Baitul Makmur diletakkan di kepala. Karena kalau
pikiran kepala sudah bener maka makmurlah semua apa yg ada didalam diri kita.
Kenapa? Karena otak kepala produksi enzym dan hormon. Hormon adalah zat utk
komunikasi antar sel. Hormon juga gerbang jiwa. Memperbaiki pikiran artinya
memperbaiki seluruh tubuh keseluruhan lahir batin.

Tulisan ini saya ringkas dari buku saya yang berjudul "Kebugaran Merpati Putih"
pada sub bab Landasan Teori. Selamat menikmati.
===========================
MERPATI PUTIH SEBAGAI SENI DALAM MENGUBAH DIRI
Segala sesuatu diciptakan mesti memiliki tujuan. Bumi dan seisinya, langit dan
seisinya, seluruh alam semesta diciptakan memiliki tujuan. Bahkan penciptaan
manusia juga memiliki tujuan. Pemahaman akan kaidah penciptaan ini akan
mengarahkan kita pada jalur mana yang ingin kita capai. Demikian juga dengan
penciptaan Merpati Putih.

Apabila kita mulai memahami mengenai kaidah penciptaan maka akan semakin
jelaslah bahwa tujuan penciptaan ilmu Merpati Putih berdasarkan pengetahuan
warisan dari para leluhur adalah empat sikap watak yang disebut dengan Amanat
Sang Guru. Keempat sikap watak tersebut apabila dilihat dari sudut pandang ilmu
psikologi adalah merupakan sebuah seni mengolah diri yang luar biasa. Ia
mempunyai tujuan yang jelas yang mengarahkan praktisinya menuju insan
paripurna yang sempurna lahir batin berlandaskan aspek ketuhanan. Tidak ada
tujuan yang menyatakan bahwa seorang pesilat Merpati Putih harus menjadi
seorang ahli menghancurkan benda-benda keras atau menjadi seorang petarung
hebat. Jikapun ia kebetulan harus melewati itu semua maka itu merupakan suatu
perjalanan hidup yang harus dilalui namun bukan dibanggakan dan dijadikan
kehebatan diri. Hal-hal yang tertuang pada empat sikap watak adalah tujuan utama
dan suatu pencapaian jiwa yang luar biasa.
Agar dapat lebih memahami kaidah penciptaan ilmu Merpati Putih yang dominan
pada pengolahan jiwa maka diperlukan sudut pandang dari aspek kejiwaan secara
baik. Disiplin ilmu yang menurut saya paling tepat untuk diparalelkan dalam
memahami ilmu Merpati Putih adalah disiplin ilmu psikofisiologis.
Psikofisiologi merupakan ide lama sejak tiga puluh tahunan lalu namun kemudian
ia berkembang menjadi sebuah ilmu pengetahuan tersendiri. Ia mulai hadir sejak
manusia mulai berusaha untuk mengenali dirinya sendiri sebagai sebuah obyek
dari kesadaran diri yang dimilikinya. Saat seseorang mulai berusaha mengenai
dirinya berdasarkan tanda-tanda intuisi yang didapatinya yang menyebabkan
perubahan pada diri seperti adanya perubahan fisik yang terkait pada perasaanperasaannya. Perasaan seperti sentimen, frustasi, cinta, dan lain sebagainya yang
kemudian memiliki pengaruh pada fisik. Keduanya ternyata saling berpengaruh,
dan kedua aspek fungsi manusia ini telah menjadi perhatian utama bagi para
ilmuwan. (Greenfield & Sternbach, 1972, p. v)
Dimulai dari sekedar pengaruh antara perasaan dan raga secara umum, kemudian
mulai berkembang menjadi lebih spesifik pada kaitan perasaan dan organ tubuh,

pada jaringan tubuh, metabolisme, sistem kekebalan tubuh, sistem endokrin,


sistem syaraf, bahkan hingga genetika dan banyak aspek dari biologi molekular.
Area yang mampu dilingkupi oleh ilmu psikofisiologi berubah secara dramatis,
termasuk juga disiplin ilmu penunjang lainnya. Aspek pengukuran menjadi
berkembang sedemikian rupa pada abad ke dua puluh satu dimana proses
perekaman, prosedur representasi signal, dan teknik-teknik maju yang digunakan
dalam menganalisa statistik yang beragam telah mulai ditemukan. Peneliti kini
sudah mulai dapat menemukan hubungan yang dapat lebih terukur antara otak,
sistem syaraf otonom dan somatik, endokrin, imunologi, hingga sampai pada
proses genetika. (Psychophysiological Science: Interdisciplinary Approaches to
Classic Questions About the Mind, 1981, Cacioppo, Tassinary, & Berntson, p.1)
Dalam khasanah keilmuan Merpati Putih, khususnya ketika mulai bersentuhan
dengan materi-materi sensitif seperti Pasir Besi, Getaran, atau yang lainnya, dan
pada kebanyakan khasanah ilmu Jawa dikenal ada suatu latihan yang harus
dilakukan dalam periode waktu tertentu seperti misalnya suatu latihan X harus
dilakukan dengan menjalani latihan olah nafas selama 7 hari berturut-turut dengan
niat A. Atau suatu latihan Z yang harus dilakukan dengan menjalani latihan olah
nafas selama 14 hari berturut-turut dengan niat B, dan atau yang sejenis dengan
itu dengan rentang periode waktu yang beragam dan dengan niat awal tertentu.
Proses-proses tersebut dibuat bukanlah tanpa suatu alasan. Seiring perjalanan
waktu, proses tersebut dapat dilihat sebagai suatu proses untuk PEMBENTUKAN
KEBIASAAN BARU dan PENGHANCURAN KEBIASAAN LAMA yang
terjadi di dalam diri. Berbicara mengenai kebiasaan, ada puluhan mungkin ratusan
kebiasaan yang kita lakukan sehari-harinya baik disadari ataupun tidak. Sebagian
orang mampu bangun pagi dikala Subuh dan sebagian orang tidak. Sebagian lagi
mampu bangun pada sepertiga malam, dan sebagian lagi tidak. Sebagian merokok,
sebagian lagi tidak. Dan banyak lagi. Mana yang dianggap "bermanfaat" biasanya
karena sudah paham manfaatnya, namun sebagian menganggap kebiasaan itu
"biasa-biasa saja" karena memang dianggap seperti itu adanya. Seiring

meningkatkan ilmu dan kesadaran akan pemahaman maka biasanya akan semakin
"menjadi-jadi" atau malah terkoreksi.
Ada proses-proses khusus yang terjadi seperti misalnya suatu latihan dilakukan
pada suatu area tertentu yang berisi unsur alam tertentu semisal dominan air,
dominan angin, dominan api, dominan tanah, dan sebagainya. Termasuk pada
kapan melakukan latihan tersebut, ada yang pagi hari, siang hari, sore hari, malam
hari, atau tengah malam. Lokasi latihanpun dipilihlah berdasarkan kaidah tertentu
seperti hutan, sendang (danau), pantai, gunung, dan lain-lain. Konsistensi juga
demikian, ada yang di lokasi yang sama secara terus menerus tidak boleh berubah
pada jam yang sama juga. Dan variabel-variabel lain yang menjadi pembeda
antara satu latihan dengan latihan yang lain. Hal ini dapat disikapi sebagai bagian
dari adaptasi diri. Adaptasi yang dimaksud adalah sebuah proses penyesuaian
terhadap kondisi fisiologi, psikologi, alam, respirasi, rasa, dan sebagainya.
Adaptasi ini akan membentuk pola kebiasaan baru yang akan dikenali oleh diri.
Sebagai contoh, latihan Pasir Besi pada wilayah yang dominan panas, atau pada
gesekan antara telapak tangan dengan material yang bersifat panas, dan atau yang
sejenis dengan itu. Ada sebuah pembuatan kebiasaan baru berdasarkan suatu pola
tertentu yang bersumber pada kearifan lokal keilmuan tanah Jawa disana.
Bagaimana ilmuwan melihat fenomena hal yang seperti ini?
Ada buku yang dikarang oleh Maxwell Maltz yang berjudul Psycho-Cybernetics
yang sangat populer pada tahun 1960-an yang mengatakan bahwa kebiasaan
seseorang akan berubah manakala ia berhasil melewati 21 hari dengan aktivitas
yang sama terus menerus. Maxwell merupakan seorang dokter medis spesialis
bedah plastik yang menemukan pola bahwa kebanyakan pasiennya merasakan
perubahan permanen pada operasi plastik yang dilakukannya setelah 21 hari.
Bertahun-tahun setelah itu, tepatnya pada tahun 2009 sekelompok peneliti dari
University College London (Phillippa Lally, Cornelia H. M. Van Jaarsveld, Henry
W. W. Potts, dan Jane Wardle) melakukan penelitian terhadap 96 orang selama 12
minggu menemukan bahwa terjadinya perubahan kebiasaan pada seseorang rata-

rata selama 66 hari. Khusus untuk individual biasanya terjadi antara 18 hari
hingga 254 hari.
Jadi, apabila ingin membangun suatu kebiasaan baru lakukanlah paling tidak 3
minggu hingga 2 bulan. Lebih lama lebih baik, dan kebiasaan baru itu akan
terbentuk dengan sendirinya tanpa kita pikirkan.
Lalu bagaimana jika kita ingin mengubah suatu kebiasaan yang sudah ada yang
tidak kita sukai misal, kebiasaan merokok, minum-minuman keras, narkoba, dan
lain sebagainya yang buruk? Sederhananya, bagaimana untuk menghancurkan
kebiasaan lama yang buruk dan berganti dengan kebiasaan baru yang baik?
Proses pembentukan kebiasaan baru tanpa adanya penghancuran kebiasaan lama
yang sudah ada biasanya berlangsung relatif cepat. Sebab tidak ada bentrokan
pada pemikiran dan pada dirinya pada apa-apa yang sudah dia jalani sebelumnya.
Akan tetapi khusus untuk penghancuran kebiasaan lama maka diperlukan dua
tahap proses yakni pembentukan kebiasaan baru terlebih dahulu baru kemudian
penghancuran kebiasaan lama.
Seorang ilmuwan dalam bidang psikologis yakni Timothy A. Pychyl, Ph.D. dari
Carleton University mengatakan bahwa membentuk kebiasaan baru dan
menghancurkan kebiasaan lama merupakan dua sisi mata uang. Menghancurkan
kebiasaan lama pada dasarnya adalah suatu proses membentuk kebiasaan yang
baru, sebuah respon potensial yang baru. Pola respon lama berdasarkan kebiasaan
lama masih ada di otak sebagai suatu pola syaraf namun sudah mulai tidak
dominan lagi sehingga ia tidak lagi potensial untuk dijalankan oleh otak.
Ilmuwan neuroscience dari Departemen Psikologi Universitas Oregon, Elliot
Berkman, Ph.D., mengatakan bahwa lebih mudah mengerjakan sesuatu yang baru
dibanding menghentikan melakukan sesuatu yang sudah menjadi kebiasaan tanpa
melakukan penggantian kebiasaan. Lebih jauh lagi Elliot mengatakan bahwa
setidaknya ada 3 faktor agar seseorang dapat menghancurkan kebiasaan lama.
Pertama, adanya ketersediaan alternatif kebiasaan baru. Kedua, kuatnya motivasi

diri untuk berubah. Ketiga, adanya kemampuan fisik dan mental untuk
menghancurkan kebiasaan lama. Ia juga mengatakan bahwa suatu kebiasaan yang
berlangsung terus menerus akan menetap pada level syaraf sehingga ia akan
menjadi penentu munculnya suatu perilaku. Ia juga menambahkan bahwa orangorang yang ingin menghancurkan kebiasaan lamanya karena ingin mengubah
nilai-nilai pribadi pada dirinya akan memiliki peluang berubah jauh lebih besar
dibanding orang-orang yang melakukannya karena faktor eksternal semisal
tekanan dari orang lain.
Seorang professor psikologis dan ahli otak dari University of Massachusetts
Amherst, Susan Krauss Whitbourne, Ph.D., mengatakan bahwa menghancurkan
sebuah kebiasaan berarti seseorang berusaha untuk menghancurkan hubungan
antara kebiasaan hidupnya dan hasil yang didapati darinya. Tidak ada waktu pasti
kapan sebuah kebiasaan akan terganti dengan yang baru. Bisa saja hal itu terjadi
begitu cepat, namun bisa saja lambat. Ia menyarakan agar segera mulailah
memberikan penghargaan dari mulai sekecil-kecilnya perubahan tanpa bosan
sehingga kebiasaan lama dapat diruntuhkan penghargaannya dan digantikan
dengan penghargaan pada semua aspek dari pembentukan kebiasaan baru tersebut.
Dari penelitian profesor Susan didapati data bahwa paling tidak diperlukan paling
tidak waktu 2 bulan agar sebuah kebiasaan lama hilang dan berganti dengan
kebiasaan baru.
Thomas G. Plante, Ph.D., seorang ilmuwan dari Santa Clara University
mengatakan bahwa tidak ada jawaban singkat mengenai bagaimana suatu
kebiasaan dapat dihancurkan dan diganti dengan yang baru. Variabelnya begitu
luas. Meski demikian, ia memberikan gambaran bahwa pertama, hal itu
bergantung kepada seberapa banyak dan seberapa kuat seseorang ingin
menghancurkan

kebiasaan

lamanya.

Sebab

seringkali

perilaku

orang

membingungkan. Seperti misalnya seseorang ingin sekali tubuhnya kurus namun


ia tetap saja makan banyak tidak terkontrol. Seseorang ingin sekali terbebas dari
alkohol atau rokok, namun ia tetap saja masih mengkonsumsinya meski dalam
jumlah sedikit. Kedua, bagaimana cara seseorang menyelesaikan suatu masalah

dapat mempengaruhi bagaimana ia membentuk kebiasaannya. Sangat mudah


untuk menghancurkan sebuah kebiasaan yang masih baru dibandingkan kebiasaan
yang sudah lama dijalani. Ketiga, apa resiko apabila kebiasaan lama ini tidak
dihancurkan? Apakah seseorang akan ditinggalkan pasangannya? Apakah akan
kehilangan pekerjaan? Apakah akan jadi sakit? Apakah sesuatu yang buruk akan
terjadi apabila tidak diubah? Sebagian orang benar-benar sangat kesulitan untuk
mengubah kebiasaannya dan menganggapnya itu biasa-biasa saja, sementara
bosnya, temannya, saudaranya, dan keluarganya menganggap kebiasaan itu
sungguh sangat mengganggu dan berbahaya. Orang seperti ini merasa nyaman
pada kebiasaan yang sesungguhnya tidak membuat nyaman lingkungan
disekitarnya. Dalam kasus yang seperti itu, diperlukan tekad yang kuat secara
biologis, psikologis, sosial, budaya, dan faktor lain untuk berubah.
Bahkan Prof. Kazuo Murakami dalam bukunya "Divine Message of DNA"
mengatakan bahwa suatu kebiasaan akan memicu aktifnya gen tertentu. Pemicu
gen menjadi aktif dimulai dari lingkungan dan niat hati yang kokoh. Maka,
apabila gen positif ingin aktif (on) maka penting dalam menguatkan niat
sedemikian rupa, lalu membentuk dan masuk pada suatu lingkungan yang
mendukung. Bruce H. Lipton juga membenarkan, bahwa persepsi yang dibangun
oleh seseorang akan menentukan bagaimana suatu gen bereaksi. Persepsi yang
dibentuk pada lingkungan menentukan bagaimana DNA akan menduplikasi
menjadi RNA lalu diterjemahkan oleh sel-sel tubuh menjadi 'sesuatu'.
Ingatlah bahwa suatu kebiasaan yang berlangsung terus menerus maka secara
literal akan berakar pada level syaraf sehingga ia akan menjadi dominan. Maka
kuatkanlah niat dalam hal ingin berubah menjadi lebih baik.
Kalau dilihat dari keterangan para ahli, semuanya bermuara pada satu kesimpulan
yang sama ... yakni perubahan pada jiwa terlebih dahulu barulah kemudian semua
ikut berubah. Para ilmuwan itu sejak tahun 1960-an hingga tahun 2013 terus
berusaha merumuskan bagaimana cara mengubah diri. Sebab mengubah kebiasaan
pada hakekatnya adalah proses mengubah diri. Namun, simaklah apa yang Allah

sampaikan pada surat Ar Ra'du ayat 11 bahwa sesungguhnya Allah tidak akan
mengubah apa-apa/keadaan yang ada pada diri suatu kaum kecuali kaum itu
mengubah apa-apa/keadaan yang ada pada jiwa-jiwa mereka. Surat itu berisi jelas
mengenai bagaimana cara mengubah diri, yakni ubah dulu jiwa kita terlebih
dahulu lalu disusul raga kita. Jiwa diprioritaskan terlebih dahulu, barulah
kemudian Allah akan mengubah semuanya. Yang perlu dilakukan oleh kita adalah
mengubah jiwa kita terlebih dahulu.
Lalu apa yang mesti diubah?
Untuk menjawab pertanyaan itu, perlu dipahami bahwa apa yang ada di dalam diri
yang terkait dengan jiwa-jiwa adalah keadaan jiwa. Ada jiwa yang cenderung
mengarah ke keburukan (ammarah bi su'), kemudian jiwa yang masih terombangambing antara perbuatan baik dan penyesalan (lawwamah), dan kemudian bila
sudah dilewati akan menjadi jiwa yang tenang (mutma'innah). Sedangkan apa
yang ada pada jiwa-jiwa tersebut adalah hawa nafsu. Maka kalau kita
memperbaiki kondisi ketiga kondisi jiwa dan hawa nafsu kita maka dipastikan diri
ini akan berubah menjadi lebih baik. Dalam kaidah klasik Jawa disimbolkan
dengan warna Kuning, Merah, Putih, dan Hitam dimana sebagian penafsir
mengatakan itu sebagai perlambang dari unsur Angin, Api, Air, dan Tanah. Maka
sejatinya, apabila seseorang berlatih ilmu Pasir Besi dengan dominan elemen Api
artinya adalah orang-orang yang semestinya sudah punya tahap pengendalian akan
Amarah dirinya. Tanpanya, maka hal itu hanya akan merusak dirinya sendiri dan
orang di sekitarnya. Menjadi pertanyaan, apa dan bagaimana cara pengendalian
tersebut? Sudahkah dikenali 'sang pengendali'nya? Kapan waktu nanti saya bahas
secara terpisah.
Dasar mulai terjadi perubahan adalah lahirnya niat yang kuat dan teguh yang
disertai dengan usaha pelaksanaan untuk mewujudkan niat tersebut. Ada tekad
atau a'zam yang sangat kuat untuk berubah dan melakukan perubahan melalui
ikhtiar pada saat itu. Niat adalah maksud hati yang diiringi dengan suatu
perbuatan tertentu pada waktu yang sama (saat itu). Maka niat tidak sekedar hanya

berucap dalam hati sebagai maksud tertentu, namun terdapat kondisi dimana
seseorang setelah berniat harus terus dilanjutkan dengan melakukan suatu ikhtiar
atau usaha tertentu secara maksimal. Maka setelah berniat dalam hati, selanjutnya
adalah menyempurnakan ikhtiar.
Menjadi pertanyaan, bagaimana caranya agar suatu niat benar-benar dapat lahir
pada diri dan membawa perubahan diri?
Diperlukan kondisi penyikapan hati sebelum suatu niat disusun. Kondisi
penyikapan hati yang dimaksud adalah kesengajaan untuk memunculkan rasa
rendah diri di hadapan Allah SWT, Tuhan Sang Maha Perkasa. Analoginya begini,
di dalam wilayah dunia saat seorang karyawan ingin memberikan laporan kepada
atasannya maka seringkali kita jumpai orang itu menundukkan kepalanya atau
badannya di depan atasannya. Atau saat rakyat bersalaman dengan suatu publik
figur maka biasanya ia membungkukkan badannya. Kepada para atasan, para
pejabat, para publik figur saja kita dapat melakukan itu, apalagi kepada Allah
SWT, Tuhan Sang Maha Pencipta Manusia. Maka proses merendahkan diri dapat
dipandang sebagai proses mengakui kekurangan dan kelemahan diri bahwa
memang manusia itu pada dasarnya makhluk yang lemah dan tidak ada daya
upaya melainkan semuanya terjadi atas izin Allah SWT, Tuhan Sekalian Alam.
Setelah hati mulai bisa menunduk, maka kemudian lakukan proses berniat pada
saat itu. Susunlah niat dalam hati dengan menggunakan daya kehendak bebas
untuk memilih. Apa yang harus dipilih? Yakni memilih untuk mengerjakan suatu
ikhtiar atau usaha dengan sungguh-sungguh dalam menjalankan niat tersebut. Bisa
saja seseorang ketika berniat kemudian ia menyerahkan segalanya langsung
kepada Allah SWT tanpa mau berusaha. Ia berharap agar Allah sajalah yang akan
mengubah

nasibnya.

Hal

itu

tidaklah

salah.

Namun

dalam

konsep

menyempurnakan ikhtiar hal itu dapat dipandang sebagai suatu kekeliruan. Dalam
hal menyempurnakan iktiar, maka diperlukan daya juang dan daya gerak pada
semua potensi diri yang manusia miliki untuk menuju apa yang diniatkan. Daya
tersebut terbagi menjadi 3 bagian besar yakni daya hati, daya akal, dan daya fisik.
Memilih untuk menyempurnakan ikhtiar berarti memilih untuk menggunakan

ketiga potensi tersebut sebaik-baiknya dan semaksimal mungkin. Inilah bentuk


pilihan terbaik. Konsep menyempurnakan ikhtiar juga merupakan bagian dari
menjalankan prinsip kesabaran. Sehingga berlatih olah nafas Merpati Putih sama
halnya sebagai sebuah upaya atau ikhtiar dalam menguji diri secara sabar terus
menerus.
Semoga bermanfaat.
TINJAUAN SINGKAT GELOMBANG OTAK
Untuk dapat memahami alam semesta, maka gunakan prinsip dan kaidah
gelombang dan getaran. Demikianlah salah satu ilmuwan dunia, Nikola Tesla,
mengatakan. Tanpa bantuan dari buah pemikiran Nikola Tesla, kita tidak akan
pernah bisa menikmati listrik seperti yang sekarang ini. Ia tidak main-main.
Penelitiannya menemukan bahwa alam semesta tersusun atas kaidah gelombang
dan getaran sedemikian rupa. Sementara nun jauh disana, di tanah Jawa, dikenal
terminologi 'Jagad Alit' dan 'Jagad Gedhe'. Jagad Alit biasanya disebut
Mikrokosmos, yakni jagad yang digelar di dalam diri sendiri. Sementara Jagad
Gedhe biasanya disebut Makrokosmos, yakni jagad yang digelar diluar diri
sendiri. Untuk bisa masuk pada jagad ini, maka digunakanlah 'tools' tradisional
melalui olah roso sedemikian rupa dengan cara mengatur penyikapan hati untuk
bisa masuk pada suatu kondisi tertentu.
Misal, saat seseorang bersikap merendahkan diri di hadapan Allah SWT,
mengakui segala kekurangan dan kelemahannya, mengakui bahwa ia hanyalah
makhluk yang lemah yang tidak dapat berbuat apa-apa maka pada saat itu
gelombang frekwensi dirinya sedang turun ke titik terbaik yakni titik
penyembuhan. Di dalam diri manusia ada banyak jenis gelombang yang terpancar
dari berbagai lokasi. Sebagian sudah ditemukan, sebagian lagi belum. Beberapa
diantaranya
-

sebagai
Gelombang
Gelombang

berikut:
otak

kepala
membran

Gelombang
Gelombang

jantung
kulit

- Gelombang visual pada mata


Sesaat ketika penyikapan hati untuk merendahkan diri dihadapan Allah,
merasakan diri begitu kecil dihadapanNya, maka gelombang otak akan turun
dalam beberapa fase. Satuan gelombang yang digunakan adalah Hertz. Setiap
gelombang otak akan menunjukkan perbedaan jenis kesadaran. Namun demikian
perlu dipahami bahwa tidak ada satupun jenis gelombang otak yang sempurna.
Gelombang otak merupakan akar dari semua pikiran-pikiran, emosi, dan
kebiasaan-kebiasaan yang dibentuk antar syaraf di dalam otak. Gelombang otak
dihasilkan dengan melakukan sinkronisasi aliran listrik dari dan antar syaraf satu
sama lain. Gelombang otak kita berubah berdasarkan pada apa yang kita lakukan
dan pada apa yang kita rasakan. Ini yang Dr. Bruce H Lipton dalam bukunya "The
Biology of Belief" sebut dengan istilah Perception atau persepsi. Ketika
melambat, maka kita akan masuk pada fase seakan lelah, malas, atau bermimpi.
Sementara frekwensi yang lebih tinggi membuat kita merasa bersemangat dan
aktif.
Sejauh ini, ilmu pengetahuan membagi gelombang otak menjadi beberapa kondisi
sebagai berikut:
1. Gelombang Beta (14 40 Hz), merupakan wilayah gelombang pada saat
seseorang berada dalam kondisi sadar dan beraktivitas seperti berpikir,
membentuk logika, atau memikirkan sesuatu. Pada kondisi sadar seperti ini
pikiran seseorang menjadi tajam dan terfokus. Hal itu menyebabkan ia dapat
membuat suatu hubungan akan sesuatu secara cepat, mudah, dan penuh perhatian.
Ide-ide baru dan solusi terhadap permasalahan saling berkelebat layaknya
halilintar pada otak. Jenis gelombang ini bermanfaat untuk terapi ADD (Attention
Deficit Disorder) atau orang-orang yang mengalami kesulitan dalam membentuk

fokus.

Sederhananya,

jenis

gelombang

ini

menghasilkan

kewaspadaan,

konsentrasi, dan kognisi.


Gelombang Beta membantu kita dalam menyiapkan ujian, memberikan presentasi,
menganalisa dan mengorganisasikan informasi dan aktivitas lain yang
memerlukan kewaspadaan mental dan konsentrasi tinggi.
2. Gelombang Alfa (7,5 14 Hz), merupakan gelombang yang terjadi ketika
seseorang sedang menggunakan kesadarannya secara aktif dan ia menikmati
kesadaran aktif tersebut. Umumnya terjadi pada orang-orang yang sedang
beraktivitas sehari-hari.
Gelombang Alfa biasanya dikaitkan dengan kewaspadaan saat santai, peningkatan
proses belajar, kreativitas, berada pada kondisi fisik puncak, penggunaan imajinasi
atau visualisasi, serta intuisi. Itulah sebabnya jika kita banyak menggunakan jenis
gelombang ini di keseharian maka kemampuan penyelesaian masalah akan
meningkat. Namun ini bukan berarti bahwa kita harus selalu berada dalam
gelombang jenis ini sepanjang hari secara sadar.
Agar mencapai kondisi optimal diri umumnya ada pergeseran antara gelombang
Alfa dan Beta atau penggunaannya secara bergantian.
3. Gelombang Theta (4 7,5 Hz), merupakan gelombang yang memungkinkan
seseorang masuk lebih dalam ke kondisi meditasi. Seseorang akan memasuki
kondisi gelombang Theta manakala aktivitas otaknya melambat hingga hampir ke
titik tidur namun tidak tidur. Pada gelombang jenis ini berbagai pengalaman yang
luar biasa bisa terjadi dan dijelajahi. Disebut juga sebagai jenis gelombang yang
dapat mengakses kesadaran pada alam bawah sadar kita. Saat seseorang
memasuki gelombang ini maka akan muncul sensasi seperti melayang pada
pikiran dan tubuh. Gambaran-gambaran yang muncul seperti mimpi, inspirasi, dan
pemahaman yang mendalam biasanya terjadi disini. Pada relaksasi yang
mendalam umumnya akan muncul kilatan-kilatan ide, gagasan cemerlang,
inspirasi,

atau

hikmah.

Pada saat seseorang melakukan meditasi dan memasuki gelombang Theta maka
akan

terjadi

penurunan

tekanan

darah,

pelepasan

hormon

endorphin,

meningkatkan kreativitas dan kesadaran akan persepsi terhadap dunia luar.


Gelombang jenis ini juga berperan penting dalam program modifikasi kebiasaankebiasaan dan telah digunakan sebagai terapi untuk kecanduan obat-obat terlarang
dan alkohol. Hal ini disebabkan karena aktivitas gelombang otak jenis ini akan
melepaskan hormon endorphin dalam kualitas tinggi yang dapat mengurangi
keinginan untuk menggunakan obat-obatan dan alkohol tersebut. Apabila dibentuk
dengan sebelumnya mengatur pada pikiran positif, maka terapi berbasis
gelombang ini akan mampu memprogram ulang jenis-jenis kebiasaan dan perilaku
seseorang.
Gelombang Theta juga sangat ideal dalam proses belajar secara cepat, menyimpan
informasi ke dalam bagian otak untuk memori jangka panjang, memprogram
ulang pikiran, pemanggilan mimpi, dan termasuk ke dalamnya self-hipnotis.
Frekwensi Theta juga dikenal sebagai pintu gerbang untuk belajar dan mengingat.
Apapun yang tersimpan pada saat otak mencapai gelombang Theta maka akan
tersimpanlah ke dalam memori jangka panjang seperti halnya memori anak-anak
dibawah 5 tahun yang dominan berada pada kondisi Theta.
Sederhananya, jenis gelombang ini menghasilkan kondisi meditatif, intuisi (gerak
hati), dan ingatan.
4. Gelombang Delta (0,5 4 Hz), merupakan gelombang yang dihasilkan dari
meditasi dalam dan tidur tanpa mimpi. Ia dapat menunda kesadaran eksternal dan
lebih memunculkan empati di dalam. Penyembuhan dan regenerasi sel akan lebih
banyak terjadi pada jenis gelombang ini. Itulah sebabnya mengapa tidur lelap nan
nyenyak akan dapat memulihkan kesehatan dan kesegaran.
Gelombang Delta pertama kali dicetuskan pada tahun 1930-an oleh W. Grey
Walter yang mengembangkan alat EEG milik Dr. Hans Berger. Gelombang ini

secara umum terjadi di seluruh mamalia dan seluruh hewan. Gelombang Delta
terjadi di dua lokasi pada otak yakni Thalamus dan Cortex.
5. Gelombang Gamma (> 40 Hz), merupakan jenis gelombang ketika seseorang
fokus dan terjaga. Ia merupakan jenis gelombang ketika seseorang berada pada
kondisi fokus tertinggi. Pada saat kondisi Gamma, otak kita berjalan pada
kapasitas penuh. Ini adalah jenis gelombang untuk meningkatkan kecerdasan dan
pemahaman akan sesuatu. Jika diibaratkan pemain basket, maka ia mampu
menangkap bola yang dilemparkan kepadanya dengan sangat cepat.
Gelombang Gamma merupakan pola gelombang otak yang dikaitkan dengan
persepsi dan kesadaran. Gelombang ini bekerja seperti halnya perekat pada
pikiran yang menahan dan menghubungkan semua rasa proses berpikir bersamaan
sebagai suatu kesatuan utuh. Bahkan ilmuwan peraih Nobel, Sir Francis Crick,
percaya bahwa pada frekwensi Gamma merupakan kunci dari segala tindakan
kognisi. Kognisi adalah suatu perilaku mental atau proses dalam mendapatkan
pengetahuan dan pemahaman melalui pemikiran, pengalaman, dan perasaan.
Aktivitas gelombang ini juga bekerja sebagai anti depresi alamiah, meningkatkan
suasana hati, empati, dan perasaan sayang. Mereka yang terdiagnosa mengidap
ADD dan ADHD umumnya memiliki aktivitas Theta yang lebih tinggi dengan
sedikit aktivitas Gamma. Salah satu terapi untuk ADD adalah untuk menekan
aktivitas Theta dengan meningkatkan gelombang Beta dan Gamma. Ia digunakan
untuk untuk fokus tinggi dan sepenuhnya fokus (100% fokus).
Meningkatkan aktivitas gelombang Gamma akan meningkatkan energi, fokus, dan
konsentrasi. Membuatnya sangat ideal untuk olahraga apapun. Gelombang
Gamma akan meningkatkan koordinasi tangan dan mata. Sederhananya, jenis
gelombang ini menghasilkan kondisi inspirasi, pembelajaran tinggi, dan fokus.
Pemahaman terhadap jenis gelombang ini akan bermanfaat di dalam melatih diri
untuk senantiasa sehat dan bugar yakni dengan menerapkan kondisi gelombang
otak kita dengan kondisi keadaan lingkungan yang akan kita jalani. Apabila kita

mampu mengarahkan jenis gelombang otak kita pada suatu kesadaran jenis
tertentu maka kondisi diri kita akan mengalami banyak sekali perbaikan. Pada
banyak

kasus

kesehatan

dapat

dilihat

seperti

misalnya:

- Tidak bisa tidur, itu artinya gelombang otak kita masih berada kondisi Beta dan
belum

mencapai

Delta

atau

Theta.

- Tidak bisa fokus, itu artinya gelombang otak kita belum berada pada wilayah
Beta.
- Mengalami kendala dalam penulisan atau suatu kreativitas tertentu, itu artinya
gelombang

otak

kita

belum

pada

wilayah

Alfa.

- Ketidakmampuan mengontrol emosi atau berpikir dalam menyelesaikan suatu


permasalahan, itu artinya gelombang otak kita belum pada wilayah Alfa.
Saya ingin mengambil sebuah analogi dengan sebuah mobil yang memiliki gigi
atau persneling sebanyak 4. Gigi pertama (delta) lambat, berjalan perlahan.
Seiring peningkatan kesadaran maka kita bergeser menjadi gigi 2 (theta) yakni
ketika kita memasuki meditasi dalam atau kondisi tidur lelap. Gigi 3 (alfa) terjadi
ketika kita masih bergerak perlahan namun rileks, menikmati setiap proses
gerakan, namun tetap dalam kecepatan tertentu. Gigi 4 (beta) digunakan di jalanan
yang panjang dengan kecepatan tinggi. Pada gigi 4 ini tentu efeknya sangat
menyenangkan karena ngebut rupanya banyak disukai orang. Namun kalau tidak
hati-hati bisa berbahaya bagi diri kita. Masalah kemudian muncul manakala kita
memulai dari gigi yang salah. Sebagai contoh, kita sedang tidur nyenyak lalu
terdengar suara alarm yang menyuruh kita bangun. Meski suara alarm terdengar
dan meminta kita bangun, kita malah tetap saja di tempat tidur, meringkuk. Kita
memaksa diri untuk tetap berada pada kemalasan dibanding semestinya bergerak
aktif dinamis. Hal ini terjadi bisa karena beberapa faktor, misal kelelahan, tekanan
pikiran (stres), kemalasan, atau hal lain yang membuat kita salah oper gigi.
Kondisi yang semestinya membuat kita berada pada gigi 1, lalu naik ke gigi 2,
tiba-tiba dioper dari gigi 1 (bangun sekilas) menjadi langsung gigi 4 (kembali
tidur nyenyak).

Memahami bagaimana jenis gelombang otak ini dan mampu mengkondisikan otak
agar memasuki kesadaran ini tentu saja akan sangat banyak meningkatkan aspek
kesehatan dan kebugaran tubuh. Saya akan berikan beberapa contoh seperti
misalnya pemahaman akan jenis gelombang Delta seperti berikut ini.
Penelitian pada penyakit Parkinson, bisa diobati dengan obat bernama Rotigotine.
Cara kerja obat ini adalah meningkatkan jenis gelombang otak Delta dengan cara
menurunkan gelombang otak hingga tahap tidur nyenyak mencapai gelombang
Delta. (Kryzhanovskii, G. N., A. A. Shandra, L. S. Godlevskii, and I. I.
Mikhaleva. "Appearance of Parkinsonian Syndrome after Administration of Delta
Sleep-inducing Peptide into the Rat Substantia Nigra." Biull Eksp Biol Med.
109.2 (1990): 119-21. Print)
Ada juga penyakit seperti Schizoprenia yang memiliki pola gelombang otak Delta
yang terganggu. Pada saat gelombang otak tidur normal, para penderita penyakit
ini mengalami kekacauan pola gelombang Delta. (Alfimova, M. V., & Uvarova, L.
G. (2007). Changes in the EEG spectral power during perception of neutral and
emotionally salient words in schizophrenic patients, their relatives and healthy
individuals from general population. [Article]. Zhurnal Vysshei Nervnoi
Deyatelnosti Imeni I P Pavlova, 57(4), 426-436)
Pada Diabetes Mellitus Tipe 2 juga terjadi kekacauan pada gelombang Delta,
secara potensial karena adanya gangguan pada hormon pertumbuhan yang berasal
dari kelenjar Pituari. Demikian juga dengan Hypoglikemia yang juga terjadi
karena kekacauan gelombang otak Delta. (Abdelkarim, T. H., Westin, T.,
Romaker, A., & Girish, M. (2002). Presence of delta waves in REM sleep during
polysomnography as a sign of acute hypoglycemic encephalopathy. [Meeting
Abstract]. Sleep, 25, 531.)
Maka dengan memahami kajian gelombang otak, melihat keterkaitannya dengan
penyakit-penyakit, bisa dipetakan sedemikian rupa dengan latihan-latihan pada
Merpati Putih untuk menuju perbaikan ke arah sana. Seperti misalnya latihan

Nafas Pembersih yang dikondisikan sedemikian rupa agar tercapai jenis


gelombang otak tertentu, misal gelombang Delta untuk penyembuhan dan
regenerasi sel. Meskipun belum pernah ada diteliti secara ilmiah, namun dengan
menggunakan pendekatan teoritis gelombang otak diatas bisa dipetakan jenis-jenis
aktivitas apa yang akan mencapai suatu keadaan gelombang otak jenis tertentu.
Pendekatan lain juga bisa dilakukan melalui tata gerak Merpati Putih. Bahwa
dengan melatih suatu bentuk tata gerak menggunakan pendekatan gelombang
otak, maka akan didapati suatu solusi terhadap penyakit tertentu. Ini saya teliti
secara khusus dan kemudian saya munculkan dalam bentuk latihan Bambu Raut
sedemikian rupa. Saat seseorang melatih tata gerak tertentu dengan penekanan
pada suatu kondisi penyikapan hati tertentu, maka akan dihasilkanlah suatu
gelombang otak jenis tertentu. Kapan waktu nanti saya bahas mengenai
bagaimana menerapkan kaidah didalam suatu latihan tertentu agar tercapai suatu
kondisi yang diinginkan, khususnya kondisi yang berhubungan dengan perbaikan
kesehatan dan kebugaran tubuh.
Ilmu MP bisa dikaji dan dianalisa dari berbagai sudut pandang. Selama kita mau
membuka diri, open minded, maka ilmu MP laksana berlian yang bercahaya dari
berbagai sisi.
Semoga bermanfaat.

NIAT
(Bagian 1)
Albert Einstein mengatakan, "A human being is part of the whole, called by us
"universe", a part limited in time and space. He experiences himself, his thoughts

and feelings as something separated from the rest - a kind of optical delusion of
his consciousness". Tentunya ketika mengatakan ini ia tidak sedang bermain-main
atau asal "ngecap". Dengan disiplin keilmuan yang dimilikinya ia menyadari
bahwa manusia adalah 'Jagad Alit' atau mikrokosmos yang dibatasi dalam ruang
dan waktu. Manusia yang dapat berkembang sedemikian rupa pada pikiran dan
rasanya sebagai sesuatu yang berbeda satu sama lain namun seakan menyatu
membentuk sebuah kesadaran. Bahkan lebih jauh, ia mengatakan bahwa "Tuhan
tidak sedang bermain dadu", artinya bahwa ia mengakui apabila ada sebuah
Kecerdasan Luar Biasa yang membentuk alam ini. Pengakuan Einstein mengenai
konsep penciptaan juga disebutkan dengan "Tuhan memang rumit, tapi tidak
jahat" yang bermakna bahwa segala penciptaan di alam ini memiliki banyak
kebaikan.
Dahulu kala, pikiran dipercaya dapat menjadi obat bagi tubuh. Sebuah pikiran
dibentuk, lalu diarahkan melalui niat pada suatu bagian tubuh tertentu untuk
menghasilkan efek psikologis seperti misalnya menghentikan pertumbuhan tumor
ganas (Ader R, Psychoneuroimmunology, Academic Press, N.Y., 1981). Namun
pada masa itu ilmuwan belumlah mau mengakui bahwa pikiran yang difokuskan
melaui niat sedemikian rupa dapat mempengaruhi sistem biologi diluar tubuh
manusia. Barulah kemudian seiring perkembangan teknologi dan ilmu
pengetahuan, banyak rahasia tubuh yang mulai bisa diungkap oleh para ilmuwan.
Proses pengungkapan rahasia ini berlangsung terus menerus sepanjang hayat dan
sepanjang peradaban. Obyek dan subyek penelitian mulai meluas. Ternyata
semuanya saling terhubung satu sama lain menjadi sebuah kecerdasan yang luar
biasa.
Kali ini saya ingin membahas mengenai salah satu aspek yang paling berpengaruh
pada tubuh yakni NIAT. Tulisan ini terbagi menjadi 2 bagian bersambung
mengingat bahasannya yang cukup banyak.
Di dalam tubuh manusia terdapat sebuah organ yang berada didalam dada yang
memompa aliran darah dari dan ke seluruh tubuh. Berbagai penelitian dilakukan

untuk mengetahui cara kerja jantung manusia, dan selama itu pula ditemukan
berbagai macam 'keajaiban' luar biasa yang ada di jantung. Ratusan, ribuan,
bahkan puluhan ribu percobaan dan penelitian mengenai jantung ternyata selalu
menghasilkan pengetahuan baru terus menerus. Bahkan terhadap jantung manusia
saja, pengetahuan yang diilhamkan Allah SWT ke dalamnya belum berhasil
diungkap secara lengkap. Masih sangat banyak wilayah yang menjadi subyek
pembahasan para ahli.
Dalam kaidah tradisional Jawa, dikenal istilah Niatingsun. Kaidah ini baru dikenal
sebenarnya ketika masa Islam masuk. Sebelum itu, mestinya ada suatu istilah
yang dipergunakan oleh orang Jawa tempo dulu untuk mengarah pada padanan
kata 'niat' ini. Dilihat dari terminologi kata, Niat berasal dari bahasa Arab yakni
'niyyah'. Pembahasan mengenainya nanti akan saya masukkan pada Bagian 2
tulisan bersambung ini. Sederhananya, segala sesuatu maksud hati yang diucapkan
secara rahasia umumnya dilakukan didalam dada (istilahnya di dalam hati). Yang
dirujuk oleh maksud hati ini secara fisik adalah Jantung. Maka memahami
bagaimana jantung dalam berbagai aspeknya menjadi sangat penting untuk
memahami bagaimana kaidah niat itu bekerja.
Selama bertahun-tahun, hati telah dianggap sebagai sumber dari emosi,
keberanian, dan kebijaksanaan. Para ahli melakukan eksplorasi mengenai
mekanisme psikologi bagaimana hati berkomunikasi dengan otak, bagaimana ia
melakukan pemrosesan informasi, persepsi-persepsi, emosi-emosi, dan kesehatan.
Dimulai dengan pertanyaan-pertanyaan seperti: Mengapa kebanyakan orangorang mengalami perasaan cinta atau sensasi cinta atau kebahagiaan atau kondisi
emosi positif lainnya terletak pada wilayah dada? Bagaimana stress dan kondisi
emosi negatif lainnya berpengaruh pada sistem syaraf otonom, pada sistem
hormon dan sistem kekebalan tubuh, pada hatinya sendiri dan juga otak? Mengapa
ketika seseorang merasakan cinta maka dadanya menjadi terasa 'lapang',
sebaliknya ketika seseorang tertekan, stress, maka dadanya terasa menjadi 'sempit'
dan 'sesak'? Pada dada manusia terdapat salah satu organ penting yakni jantung.

Benarkah hati, yang selama ini dianggap sebagai sesuatu yang imajiner ternyata
terletak di jantung?
Selama bertahun-tahun pula, para ahli telah melakukan serangkaian ujicoba
dengan berbagai pengukuran psikologis dan fisiologis, tapi itu semua tidak lebih
mengenai variabel detak jantung, atau ritme jantung, yang berperan sebagai yang
paling dinamis dan paling mencerminkan kondisi emosi dan tekanan dalam diri
seseorang. Hal itu kemudian menjadi semakin jelas ketika emosi negatif berperan
dalam meningkatkan gangguan pada ritme jantung pada sistem syaraf otonom
sehingga berpengaruh pada keseluruhan tubuh. Sebaliknya, pembentukan emosi
positif akan meningkatkan harmoni dan koordinasi pada ritme jantung dan
meningkatkan keseimbangan didalam sistem syaraf. Efek kesehatan ini dapat
dengan mudah dipahami sebagai berikut: Ketidakharmonisan di dalam sistem
syaraf akan menyebabkan ketidakefisienan dan peningkatan tekanan pada jantung
dan organ tubuh lainnya sementara ritme yang harmoni akan lebih efisien dan
lebih sedikit tekanan kepada seluruh tubuh.
Beberapa ilmuwan modern dalam bidang psikofisiologi yang meneliti adanya
hubungan antara jantung dan otak adalah John dan Beatrice Lacey. Penelitian
yang dimulai dari tahun 1960-an hingga 70-an berdasarkan pengamatan
ditemukan bahwa jantung berkomunikasi dengan otak dengan cara yang unik dan
secara signifikan mempengaruhi bagaimana manusia memandang dan bereaksi
terhadap dunia.
Generasi sebelum Lacey memulai penelitiannya, Walter Cannon telah
menunjukkan bahwa perubahan-perubahan emosi disertai dengan prediksi
mengenai perubahan detak jantung, tekanan darah, pernafasan dan pencernaan.
Dalam sudut pandang Cannon, ketika seseorang mengalami rangsangan secara
fisik maka akan memobilisasi sistem syaraf simpatik untuk menghasilkan kondisi
'fight' atau 'flight', melawan atau lari, dan membuat lebih banyak diam, sementara
bagian penenang pada sistem syaraf parasimpatik akan mendinginkan apa yang
terjadi pada tubuh. Pada sudut pandang ini, diasumsikan bahwa sistem syaraf

otonom dan semua respon fisiologi akan dipindahkan secara bersamaan dengan
respon otak untuk memberikan sebuah stimulus. Agaknya, sistem internal kita
akan meningkat secara bersamaan ketika kita mengalami rangsangan kontak fisik
dan menurun secara bersamaan ketika dalam kondisi istirahat, dan bagian yang
melakukan kontrol pada seluruh proses ini adalah otak.
Lacey melihat bahwa model sederhana ini hanya cocok sebagian pada perilaku
fisiologi. Seiring dengan perkembangan penelitian mereka, ditemukan bahwa
jantung nampaknya memiliki logika khasnya sendiri yang sering menyimpang
dari sistem syaraf otonom. Jantung nampaknya mengirimkan pesan-pesan ke otak
yang tidak hanya dimengerti oleh otak tapi juga dipatuhi. Bahkan lebih
menariknya lagi bahwa pesan-pesan tersebut ternyata dapat mempengaruhi
perilaku seseorang. Tak lama setelah ini, ahli syaraf menemukan bahwa jalur saraf
dan mekanisme dimana masukan dari jantung ke otak bisa "menghambat" atau
"memfasilitasi" aktivitas listrik otak. Kemudian pada tahun 1974, ilmuwan
Perancis bernama Gaheryn Vigier, meneliti kucing yang distimulasi pada bagian
syaraf vagus (syaraf yang berfungsi untuk membawa sinyal dari jantung ke otak)
dan menemukan bahwa respon listrik otak berkurang hingga separuhnya.
Singkatnya, bukti menunjukkan bahwa jantung dan sistem syaraf tidak sematamata mengikuti arahan otak seperti yang dipikirkan oleh Cannon.
Setelah penelitian yang makin meluas, salah satu pelopor dalam bidang
neurokardiologi yakni Dr. J. Andrew Armour, memperkenalkan sebuah konsep
yang secara fungsional disebut dengan "otak jantung" pada tahun 1991. Karyanya
mengungkapkan bahwa jantung memiliki sistem saraf intrinsik kompleks yang
cukup canggih untuk memenuhi syarat sebagai "otak kecil" dalam dirinya sendiri.
Otak jantung merupakan jaringan yang rumit dari beberapa jenis neuron,
neurotransmiter, protein dan sel pendukung seperti yang ditemukan dalam otak
kepala. Adanya sirkuit yang rumit yang memungkinkan untuk bertindak secara
independen dibandingkan otak kepala dalam hal belajar, mengingat, dan bahkan
rasa fisik dan rasa batin. Buku terbaru Neurocardiology, diedit oleh Dr Armour
dan Dr Jeffrey Ardell, memberikan gambaran yang menyeluruh dari fungsi sistem

saraf intrinsik jantung dan peran syaraf otonom pusat yang terkait dalam regulasi
fungsi jantung.
Penelitian yang dilakukan oleh Dr. Rollin McCraty (Direktur Penelitian Institute
of HeartMath) bersama dengan Dr. Carlo Ventura, M.D, Ph.D. (profesor dan
peneliti dari Universitas Bologna, Italy) yang mencoba melakukan pemrograman
ulang stem sel dengan cara memberikan medan magnet lemah. Ventura
mengatakan bahwa ia mencoba melakukan pemrograman ulang stem sel
menggunakan pengaruh dari luar. Ia menemukan bahwa sangat dimungkinkan
untuk melakukan perubahan stem sel dengan menggunakan energi dari luar. Stem
sel diberikan medan magnet yang berfrekwensi sangat rendah dan dengan
intensitas rendah, kemudian hal itu dapat memicu sejumlah gen yang akan
mengendalikan perilaku sel jantung dimana ia akan memberitahukan kepada stem
sel dengan caranya yang masih belum dimengerti untuk menjadi jenis sel tertentu.
Lebih jauh lagi, selain kekuatan dari luar seperti medan magnet berfrekwensi
rendah dan dengan intensitas rendah, Ventura dkk menggunakan juga getaran
suara dan air dengan hasil yang hampir sama. Mereka juga meneliti pengaruh
kekuatan lingkungan internal yakni pikiran, kesadaran, dan pengkondisian agar
koheren/selaras diantara keduanya. Pengkondisian agar selaras ini ternyata dapat
mempengaruhi sel menjadi yang diinginkan. Mereka juga memikirkan bahwa
proses pembalikan sel bisa saja dilakukan. Pembalikan sel ini misalnya dari sel
kulit menjadi stem sel lalu diprogram ulang menjadi sel lain sesuai yang
dibutuhkan. Penelitian mereka menyimpulkan, sementara ini, bahwa sel bisa
dipengaruhi dengan medan magnet, energi, dan dengan penyelarasan lingkungan.
(McCraty R, Atkinson M, Tomasino D. Modulation of DNA conformaton by
heart-focused intention. Boulder Creek, CA: HeartMath Research Centre, Institute
of HeartMath, Publication No. 03-008, 2003)
Ritme jantung manusia sesungguhnya tidaklah monoton, melainkan ia memiliki
pola tertentu dari waktu ke waktu. Sains mengukur variasi detak jantung
menggunakan alat bernama ECG (electrocardiogram). Perubahan pola emosi
sangat mudah dideteksi dan diukur dengan pendekatan ritme detak jantung. Emosi

negatif seperti marah, frustasi, gelisah terus menerus, akan menyebabkan detak
jantung menjadi tidak beraturan. Ketidakberaturan ini menyebabkan ketiadaan
sinkronisasi/penyelarasan di dalam sistem syaraf otonom (parasimpatik dan
simpatik). Kebalikan dari itu, mempertahankan emosi positif seperti misalnya
apresiasi terhadap sesuatu, berterima kasih, bersyukur, cinta, kasih sayang,
menyebabkan detak jantung menjadi teratur. Keteraturan ini menyebabkan sistem
syaraf otonom menjadi selaras. (McCraty R, Childre D. The appreciative heart:
The psychophysiology of positive emotions and optimal functioning. Boulder
Creek, CA: HeartMath Research Center, Institute of HeartMath, Publication No.
02-026, 2002)
Jantung, memancarkan medan elektromagnetik. Medan elektromagnetik yang
dipancarkan oleh jantung adalah medan elektromagnetik terkuat yang dihasilkan
oleh tubuh manusia. Hal ini disebabkan karena sinyal dari sel jantung memiliki
karakteristik unik yang dapat mempengaruhi sel lain di seluruh tubuh. Seperti
halnya gelombang radio, sel jantung dapat mengirimkan sinyal ke seluruh sel
tubuh untuk berperilaku berdasarkan campur tangan apa yang dilakukan
didalamnya. Percobaan yang dilakukan pada sel secara 'in vitro' membuktikan
bahwa sel dapat dipengaruhi oleh medan elektromagnetik yang berasal dari
jantung bahkan hingga jarak lima kaki jauhnya. Ada korelasi yang erat antara
ritme detak jantung dengan pola spektrum frekwensi dari ECG atau MCG
(magnetocardiogram). Hal ini menunjukkan bahwa informasi psikofisiologi dapat
disandikan ke dalam medan elektromagnetik yang dihasilkan dari jantung. Data
penelitian menunjukkan bahwa medan elektromagnetik jantung menjadi lebih
teratur, rapi, terorganisir pada saat emosi positif dihasilkan. Dengan kata lain,
penyelarasan ritme detak jantung memerlukan penataan emosi positif sedemikian
rupa agar dapat mempengaruhi jaringan-jaringan, organ, hingga sel didalam
tubuh. (McCraty R. The energetic heart: Bioelectromagnetic interactions within
and between people. Boulder Creek, CA: HeartMath Research Centre, Institute of
HeartMath, Publication No. 02-035, 2002)

Dalam sebuah studi dilakukan percobaan mengenai kaitan penyelarasan, emosi,


niat, dan pengubahan DNA. Pengubahan DNA yang diharapkan adalah
kemampuan membuka rantai DNA berdasarkan penyelarasan itu. Penelitian
melibatkan dua group dimana group pertama berisi 10 orang yang merupakan
orang-orang yang terlatih dan berpengalaman dalam melakukan teknik
penyelarasan hati. Group pertama ini kemudian diminta untuk memfokuskan pada
perasaan cinta dan menghargai di jantung yang diarahkan pada sebuah cawan
berisi DNA. Group kedua sebanyak 18 orang yang merupakan orang-orang yang
tidak ada pengalaman sama sekali mengenai cara menyelaraskan hati. Partisipan
diambil dari mahasiswa Universitas California di Santa Cruz dan sebagian lain
diambil dari komunitas lokal. ECG kemudian diukur dan dianalisa. Group
pertama akan mencoba melakukan tiga kondisi berbeda yakni 1) Saat sedang
memfokuskan rasa cinta dan apresiasi di jantung bersamaan dengan membentuk
niat agar DNA yang ada didepannya berubah, 2) Saat sedang memfokuskan rasa
cinta dan apresiasi di jantung tanpa membentuk niat apapun terhadap DNA
didepannya, dan 3) Tidak ada penyelarasan jantung dengan rasa apapun namun
membentuk niat agar terjadi perubahan tertentu di DNA. Tambahan protokol
dilakukan sebagai variasi yakni apakah DNA dapat terpengaruh pada jarak yang
cukup jauh yakni sejauh 0,5 mil dari tempat laboratorium percobaan dilakukan.
Hasilnya, terjadi perubahan pada DNA (rantai membuka atau menutup) pada saat
terjadi penyelarasan sebesar 10,27% hingga 25%. Sementara pada mereka yang
tidak melakukan penyelarasan hati hanya terjadi perubahan sebesar 1.09%. Secara
umum, group yang berisi orang-orang yang terlatih melakukan penyelarasan hati
dengan emosi positif merupakan group yang memiliki daya pengaruh terbesar
terhadap perubahan rantai DNA. Sedangkan group yang menyalurkan niat saja
tanpa adanya penyelarasan hati tidak menghasilkan perubahan mencolok pada
rantai DNA. Ada semacam penyerapan gelombang elektromagnetik dari jantung
peserta kepada DNA yang sedang ditest. Bahkan lebih jauh, niat yang diarahkan
pada sample DNA secara spesifik juga bisa dilakukan dengan hasil yang sama
tanpa mempengaruhi DNA yang lain. (McCraty R, Atkinson M, Tomasino D.
Modulation of DNA conformaton by heart-focused intention. Boulder Creek, CA:

HeartMath Research Centre, Institute of HeartMath, Publication No. 03-008,


2003)
Bahkan di tempat terpisah, ada satu studi mengenai kaitan sensitifitas DNA
terhadap pengaruh radiasi gelombang elektromagnetik frekwensi rendah, yang
salah satunya berada di jantung. Studi tersebut membuktikan bahwa jantung
ternyata memancarkan medan elektromagnetik dan bahwa DNA ternyata sangat
sensitif terhadap pengaruh radiasi medan elektromagnetik jantung. (Sakamoto M,
Fujikado t, Hayakawa R, Wada Y. Low frequency dielectric relaxation and light
scattering under AC electric field of DNA solutions. Biophysical Chemistry 1980:
11(3-4): p309-316)
Lebih jauh lagi, ada sebuah studi mengenai pengaruh antara kesadaran niat yang
difokuskan sedemikian rupa dan pengaruhnya pada sistem biologi diluar tubuh
manusia dalam hal ini benda mati yakni komputer. Studi tersebut menggunakan
protokol yang sangat ketat ketika menganalisa kesadaran niat yang berpengaruh
terhadap kejadian acak yang terjadi diluar tubuh biologis manusia. Studi ini
melibatkan 2,5 juta kali uji coba. Dijelaskan pada studi tersebut bahwa persepsi
jarak antara manusia ternyata hampir tidak menjadi masalah berarti manakala
kesadaran niat 'ditembakkan' dengan suatu jenis perasaan tertentu. Ia akan tetap
mengenai obyek yang diinginkan dan terjadi perubahan disana, sedikit ataupun
banyak. Bahkan ketika kesadaran niat itu benar-benar sudah dalam tahap
'menyentuh', seseorang dapat mengetahui dengan pasti lokasi orang yang sedang
dipikirkannya secara tepat. Bisa diceritakan kondisi sekitar orang itu, lokasi
kejadian disana sedang apa dan bagaimana. Hal itu dianggap anomali dan belum
bisa dijelaskan lebih lanjut. Meski demikian, studi tersebut mengatakan bahwa
kesadaran niat dan kejadian yang dibentuknya terjadi tidak secara langsung. Hasil
studi ini membantu dalam memahami fenomena hubungan psikosomatik antara
makhluk hidup dan lingkungannya. (Margins of Reality - Jahn, Robert & Dunne,
Brenda. 1988, Harper, Brace, Jovanovich, N.Y. Jahn, R. & Dunne, B. 2001).

Fokus pada niat juga diteliti oleh sebuah studi mengenai pengaruh memfokuskan
niat pada perubahan perilaku ikan berenang, gerakan hewan, dan gerakan sel di
dalam laboratorium. Ada ratusan dan ribuan studi mengenai kaitan fokus niat pada
suatu maksud dan pengaruhnya terhadap lingkungan. Di dalam bukunya, Lenny
McTaggart membagi eksperimen niat menjadi tiga bagian yakni pertama pada
tubuh, bagaimana ia semestinya dikeluarkan (berdasarkan penelitian ilmiah),
bagaimana ia digunakan dalam hidup, dan kondisi-kondisi apa yang dapat
mengoptimalkan daya niat. Kedua, bagaimana cara latihan untuk meningkatkan
daya niat. Ketiga, berbagai macam penelitian-penelitian, baik pribadi maupun
kelompok, mengenai pengaruh niat terhadap sesuatu. (McTaggart L, The Intention
Experiment: Using your thought to change your life and the World, Simon and
Schuster, 2008)
(bersambung)
NIAT
(Bagian 2)
Niat, juga ada di banyak agama dan kepercayaan (dalam padanan bahasanya dan
kemiripan sifat). Namun satu-satunya agama yang mengkhususkan mengenai
pentingnya niat sehingga mendapatkan tempat tersendiri sebagai bahasan khusus
hanyalah Islam. Membicarakan Niat tentu agak sulit apabila tidak dilekatkan
dengan terminologi Islam. Maka dalam kaidah Jawa dikenal istilah 'Niatingsun'
sebenarnya lebih banyak merujuk pada kosa kata 'Niyyah' dalam Islam.
Transliterasi kedalam bahasa Indonesia menjadi 'Niat'.
Saya tidak akan membahas terlalu dalam mengenai ini karena kajian agama
berada pada wilayah yang berbeda dan barangkali kapasitas keilmuan agama saya
yang masih dangkal. Bagian 2 inipun saya tulis dengan sangat berhati-hati agar
supaya diri ini tidak muncul riya. Dengan niat baik untuk membagi pengalaman,
semoga tulisan ini bermanfaat (sekaligus sebagai pengingat diri) dan mohon maaf
kalau ada kesalahan. Jika tulisan ini dirasa baik maka itu semata-mata Allah yang

mengizinkan kebaikan itu terjadi, dan jika tulisan ini dirasa buruk maka itu adalah
karena kebodohan saya yang masih harus banyak belajar dan silahkan merujuk
pada guru kita masing-masing.
Setelah pada bagian 1 saya menulis beberapa poin hasil penelitian yang menurut
saya relevan untuk memberikan pemahaman kepada kita betapa pentingnya niat
dan pengaruhnya terhadap lingkungan (internal maupun eksternal) dari berbagai
ilmuwan berdasarkan disiplin ilmu modern, maka pada bagian 2 ini mau tidak
mau saya memang harus menuliskan mengenai konsep niat secara lebih spesifik
dari sudut pandang 'Ilmuwan' Islam mengenai bagaimana Niat itu dipahami.
Fokus niat adalah hal yang menjadi penelitian serius para ilmuwan modern di luar
sana. Bahkan tidak hanya berpengaruh pada fisik dan mental, ia juga berpengaruh
pada material non fisik diluar tubuhnya. Sementara pada Ilmuwan muslim fokus
niat diarahkan pada ketaatan kepada Allah dan RasulNya.
Ilmuwan pada dasarnya adalah Ulama. Secara bahasa, kata ulama adalah bentuk
jamak dari kata 'aalim. 'Aalim adalah isim fail (semacam Subyek dalam bahasa
Indonesia) dari kata dasar 'ilmu. Jadi 'aalim adalah orang yang ber-'ilmi atau orang
yang berilmu. Maka menjadi sangat penting bagaimana para ulama berkata
mengenai Niat dari sudut pandang Islam. Saya mencoba mensarikan dari beberapa
sumber. Bagaimana jika ada pembaca dari agama lain? Dalam hemat saya
silahkan mengacu pada kebaikan-kebaikan yang ada pada ajaran agama yang
diyakini masing-masing dan saya sangat senang apabila bisa ditulis dan dibagi
sebagai penambah pengetahuan bersama.
Dari Amirul Mukminin Abu Hafsh, Umar bin Khatab RA, beliau berkata, "Aku
mendengar Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: "Sesungguhnya
amal-amal itu (harus) dengan niat. Maka barangsiapa hijrahnya kepada Allah dan
RasulNya, maka (pahala) hijrahnya (dinilai) kepada Allah dan RasulNya, dan
barangsiapa hijrahnya diniatkan untuk (kepentingan harta) dunia yang hendak
dicapainya atau atau karena seorang wanita yang hendak dinikahinya, maka nilai

hijrahnya sesuai dengan tujuan niat ia berhijrah." (Hadits riwayat Bukhari dan
Muslim).
Kedudukan hadits ini sangat tinggi dan banyak manfaatnya menurut para ulama.
Saya akan coba sarikan beberapa.
- Imam An Nawawi berkata, "kaum muslimin telah ijma' (sepakat) tentang
tingginya

hadits

ini

dan

banyak

manfaatnya".

- Imam Asy Syafii, berkata, "Hadits ini merupakan sepertiga ilmu dan termasuk
dalam tujuh puluh bab masalah fiqh." [Syarah Shahih Muslim 13/53].
- Imam Abdurrahman bin Mahdi (wafat 198 H) berkata, "hadits tentang niat
termasuk dalam tiga puluh bab maslah ilmu [Al Asybah wan Nadhair hal 43].
Beliau juga berkata," Selayaknya bagi orang yang menyusun satu kitab, dimulai
dengan hadits ini untuk mengingatkan para penuntut ilmu agar meluruskan dan
memperbaiki

niatnya."

[Syarh

Shahih

Muslim

13/53]

- Imam Bukhori pun memulai kitabnya dengan hadits ini. Abu Abdillah berkata,"
tidak ada satupun hadits yang mencakup (berbagai masalah) dan paling banyak
manfaatnya

melainkan

hadits

ini."

[Tuhfatul

Ahwadzi

5/286].

- Abdurrahman bin Mahdi, Asy Syafii, Ahmad bin Hambal, Ali Ibnu Madini, Abu
Daud, At Tirmidzi, Ad Daraqutni, dan Hamzah Al Kinani, semuanya bersepakat
bahwa

hadits

ini

adalah

sepertiga

ilmu.

[Fathul

Baari

1/10].

- Ibnu Taimiyyah berkata," makna yang ditunjukan oleh hadits ini merupakan
pokok penting dari prinsip-prinsip agama, bahkan merupakan pokok dari setiap
amal."

[Majmu

Fatawa

18/249].

- Imam Asy Syaukani berkata, "hadits ini memiliki faedah yang banyak sekali dan
tidak cukup untuk saya jelaskan disini. Meskipun hadits ini fard (gharib),
selayaknya ditulis (dibahas) dalam satu kitab tersendiri." [Nailul Authar 1/159].
- Al Baidlowi berkata, "Niat adalah dorongan hati yang dilihat sesuai dengan
suatu tujuan, berupa mendatangkan manfaat atau mendatangkan manfaat atau
mudharat. [Fathul Baari 1/13].

Tidak diragukan lagi bahwa niat itu merupakan suatu neraca bagi sahnya suatu
perbuatan dan niat adalah satu kehendak yang pasti sekalipun tidak disertai
dengan amal. Maka dari itu kadang-kadang kehendak itu niat yang baik lagi
terpuji dan kadang merupakan niat yang buruk lagi tercela. Hal ini tergantung
kepada apa yang diniatkan dan juga tergantung kepada pendorong dan pemicunya,
apakah untuk dunia semata ataukah untuk akhirat? Apakah untuk mencari
keridhaan Allah atau mencari pujian manusia?
Bahkan lebih jauh Rasulullah mengatakan yang diriwayatkan oleh Bukhari dan
Muslim, "... Kemudian mereka dibangkitkan menurut niat mereka...". Karena
peranan niat dalam mengarahkan amal menentukan bentuk dan bobotnya, maka
para ulama menyimpulkan banyak kaidah fiqih yang diambil dari hadits ini, yang
merupakan kaidah yang luas. Diantara kaidah dalam fiqih tersebut adalah, "Suatu
perkara tergantung dari tujuan niatnya."
Niat adalah ruh amal, inti dan sendinya. Amal itu mengikuti niat. Amal menjadi
benar karena niat yang benar dan sebaliknya.
Nabi Muhammad telah menyampaikan dua kalimat yang dalam maknanya, yaitu
"Sesungguhnya amal-amal itu bergantung niatnya dan seseorang memperoleh
menurut apa yang diniatkannya."
Dalam kalimat pertama Beliau menjelaskan bahwa amal tidak ada artinya tanpa
niat. Sedangkan dalam kalimat kedua beliau menjelaskan bahwa orang yang
melakukan suatu amal tidak memperoleh apa-apa kecuali menurut niatnya. Hal ini
mencakup ibadah, muamalah, iman, nadzar, jihad dan lainnya.
Pengaruh niat terhadap sah atau tidaknya sudah dijelaskan di atas. Suatu amal
Qurbah (untuk mendekatkan diri kepada Allah) harus dilandasi kepada niat. Suatu
tindakan/amalan tidak dikatakan suatu ibadah kecuali disertai dengan niat dan
tujuan. Oleh karena itu meskipun seseorang menceburkan diri kedalam air tanpa
niat mandi atau masuk ke kamar mandi semata untuk membersihkan diri atau

sekedar menyegarkan tubuh, maka itu tidak termasuk Qurbah dan ibadah. Saya
coba tuliskan beberapa contoh lain sebagai berikut:
- Ada seseorang tidak makan seharian karena tidak ada makanan atau karena
pantang makan karena akan menjalani proses operasi medis, maka ia tidak disebut
orang yang melakukan ibadah puasa walaupun sama-sama tidak makan.
- Seseorang yang berputar mengelilingi Ka'bah untuk mencari sesuatu yang jatuh
atau atau mencari saudaranya tertinggal , maka orang tersebut tidak dikatakan
melakukan ibadah thowaf walaupun sama-sama berputar mengelilingi Ka'bah.
- Saat seseorang duduk di masjid, ada yang berniat istirahat, ada juga yang berniat
i'tikaf.
- Saat mandi, dengan niat mandi junub berbeda dengan mandi yang hanya sekedar
untuk

membersihkan

tubuh.

- Seseorang mengerjakan sholat empat rakaat. Apakah itu termasuk sholat dhuhur
ataukah

sholat

sunnat

yang

membedakan

adalah

niatnya.

- Seseorang yang memerdekakan seorang hamba, apakah ia niatkan untuk


membayar kafarah (tebusan) ataukah ia niatkan untuk nadzar atau lainnya.
- Dan banyak lagi
Maka jelaslah bahwa yang membedakan diantara ibadah dan kebiasaan adalah
niat.
Ada satu riwayat, dikisahkan bahwa Nabi Muhammad ketika ditanya tentang
seorang lelaki yang berperang/jihad karena riya (ingin dilihat orang), karena
fanatisme golongan, dan berperang hanya karena supaya dianggap pemberani.
Yang mana yang berperang/berjihad di jalan Allah? Maka Nabi Muhammad
menjawab, "Barangsiapa berperang dengan tujuan agar kalimat Allah adalah yang
paling tinggi maka itu fi sabilillah". (Hadits ini diriwayatkan oleh Al Bukhari
dalam shahihnya dalam bab Kitabul Ilmi, Fathul Baari 1/222 no 123 dan Muslim
dalam Shahihnya dalam bab Kitabul Imarah no 1904, Sunan At Timidzi no 1652)

Akan tetapi, meskipun suatu perbuatan mubah (yang dibolehkan) dapat dijadikan
amal ibadah yang mendekatkan pelakunya kepada Allah namun tetap ia memiliki
syarat-syarat yang ditentukan, yaitu [lihat Qoaid wa Fawaid minal Arbain
AnNawawiyah hal 34-35]:
- Tidak boleh menjadikan perkara mubah sebagai qurbah (ibadah) pada bentuk
dan dzatnya, sebagaimana orang menduga bahwa semata-mata berjalan, makan,
berdiri atau berpakaian dapat mendekatkan diri kepada Allah, karena itu nabi
pernah mengingkari Abu Israil berdiri di terik panas matahari untuk memenuhi
nadzarnya.

Maka

nabi

menyuruh

ia

berbicara,

berteduh,

duduk

dan

menyempurnakan puasanya [HR Bukhori, Ahmad dan Abu Daud]


- Hendaknya yang mubah itu sebagai wasilah (sarana) untuk ibadah. Ibnu
Taimiyah berkata, "Hendaknya yang mubah dikerjakan dalam rangka membantu
diri untuk melaksanakan ketaatan."
- Hendaknya seorang muslim memandang yang mubah dengan keyakinan bahwa
hal itu benar dimubahkan oleh Allah.
- Hendaknya yang mudah itu tidak menyebabkan pelakunya celaka atau
membahayakan dirinya sendiri.
Oleh karena itu barangsiapa yang berniat mendekatkan diri kepada Allah melalui
amal-amal mubah (misal: olahraga, silat, membaca, dll), hendaknya ia pastikan
ketentuan-ketentuan diatas supaya tidak menghalalkan segala cara agar bernilai di
sisi Allah.
Kata niat yang sering diulang-ulang dalam hadits dan firman Allah terkadang
dengan makna Iradah dan terkadang pula dengan makna Qashd dan sejenisnya.
Seperti dalam Al Quran Surat 3 ayat 152, dan Surat 17 ayat 18-19. Saya tidak
akan meluaskan ini karena akan menjadi lebih berat pembahasannya.

Karena besarnya pengaruh niat, maka hal-hal yang mubah dan kebiasaan dapat
bernilai ibadah dan qurbah. Pekerjaan mencari rezki, pegawai, petani, berdagang,
mengajar (guru), dan profesi lainnya dapat menjadi ibadah dan jihad fi sabilillah
selagi pekerjaan itu dimaksudkan untuk menjaga dirinya dari hal-hal yang haram
dan mencari yang halal serta tidak bertentangan dengan perintah atau larangan
Allah dan RasulNya.
Begitu pula makan, minum, berpakaian jika diniatkan untuk ketaatan kepada
Allah dan melaksanakan kewajiban kepadaNya. Orang yang mencari nafkah
untuk menjaga dirinya agar tidak meminta-minta kepada orang lain dan juga
untuk membiayai diri dan keluarganya, maka akan dibalas oleh Allah atas niatnya
itu. [Qowaid wal Fawaid minal Arbain An Nawawiyah oleh Nazhim Muhammad
Sulthon hal 32 cet. Darus Salafiyah 1408 H]
Seperti hadits yang diriwayatkan Sa'ad bin Abi Waqash bahwa Rasulullah
bersabda, "Sesungguhnya apabila engkau menafkahkan hartamu dan dengannya
engkau mencari wajah Allah, maka engkau akan diberi pahala lantaran nafkahmu
itu sampaipun apa yang engkau suapkan ke mulut istrimu. [HR Bukhori dalam
Fathul Baari 1/136 dan Muslim 1628].
Imam Nawawi mengambil istimbath dari hadits diatas bahwa memberikan suapan
kepada istri biasanya terjadi pada waktu bergurau dan ketika timbul syahwat dan
yang demikian itu jelas, namun bila dilakukan untuk mencari ganjaran pahala,
maka ia akan memperolehnya dengan keutamaan dari Allah. [Fathul Baari 1/137].
Imam As Suyuthi menjelaskan bahwa dalil yang paling tepat yang dijadikan dasar
oleh para ulama bahwa seorang hamba akan mendapatkan ganjaran dengan niat
yang baik dalam perkara yang mubah dan perkara adat kebiasaan ialah sabda
Rasulullah "..dan setiap orang mendapatkan menurut apa yang ia niatkan..". Niat
ini akan diganjar bila diniatkan untuk taqorrub (mendekatkan diri) kepada Allah,
sehingga bila tidak dengan tujuan itu, tidak akan diberi pahala. [Syarah Suyuthi
atas Sunan Nasai, dinukil dari Qowaid Wa Fawaid minal Arbain hal 33].

Bahkan yang lebih mengagumkan lagi, nafsu seksual yang disalurkan seorang
muslim kepada istrinya pun dapat mendatangkan pahala disisi Allah. Dalam
sebuah hadits Rasulullah bersabda, "Dan dalam persetubuhan salah seorang
diantara kalian dengan istrinya terdapat shodaqoh". Mereka bertanya, 'Ya
Rasulullah, apakah salah seorang diantara kami melampiaskan syahwatnya kepada
istrinya mendapatkan pahala?', Beliau menjawab, 'bagaimanakah menurut
pendapat kalian jika ia melampiaskan syahwatnya kepada yang haram, bukankah
dia mendapatkan dosa? Begitu pula jika ia memenuhi syahwatnya pada yang
halal, maka ia pun akan mendapat pahala." [HR Muslim 1006]
Imam Nawawi menjelaskan hadits ini, "Didalam hadits ini ada dalil bahwasanya
perkara yang mubah dapat menjadi perbuatan taat dengan niat yang benar. Jima'
(hubungan suami istri) bisa menjadi ibadah jika diniatkan untuk memenuhi hak
istri. Bergaul dengan cara yang baik yang diperintahkan Allah atau untuk
mendapat anak yang shalih atau untuk menjaga diri dan istrinya agar tidak terjatuh
pada perbuatan yang haram, atau mengkhayalkan yang haram, atau berkeinginan
untuk ini atau untuk lainnya [Syarah Shahih Muslim 7/92]
Keberadaan niat harus disertai dengan menghilangkan segala keburukan, nafsu
dan keduniaan. Niat harus dilandasi ikhlas karena Allah dalam setiap amal agar
amal diterima Allah. Sebab setiap amal sholeh memiliki dua syarat yang tidak
akan diterima disisi Allah kecuali dengan keduanya, yaitu:
-

Niat

yang

ikhlas

dan

benar

- Ittiba', yaitu sesuai dengan contoh sunnah Rasulullah


Dengan syarat pertama, kebenaran batin akan terwujud dan dengan syarat kedua
kebenaran lahir akan terwujud. Mengenai syarat pertama telah disebutkan dalam
sabda Rasulullah, "Innamaal 'amaalu bin Niyyat" yang artinya "Sesungguhnya
amal-amal itu bergantung pada niatnya". Inilah yang menjadi timbangan
batin/hati, Sedangkan syarat kedua disebutkan dalam hadits Rasulullah,

"Barangsiapa mengerjakan suatu amal yang tidak ada padanya urusan kami (tidak
mengikuti contoh kami), maka (amalan itu) tertolak." [Hadits riwayat Muslim].
Allah telah menghimpun dua syarat ibadah tersebut dalam beberapa ayat,
diantaraya "Dan siapakah orng yang lebih baik agamanya dari orang yang ikhlas
menyerahkan dirinya kepada Allah, sedangkan diapun mengerjakan kebaikan dan
dia mengikuti agama Ibrahim yang lurus" (QS An Nisa 125]
Menyerahkan dirinya kepada Allah artinya mengingklaskan amal kepada Allah,
mengamalkan dengan iman dan mengharap ganjaran pahala dari Allah. Sedangkan
berbuat baik artinya dalam beramal mengikuti apa yang disyariatkan Allah dan
apa yang dibawa oleh Rasulullah berupa petunjuk dan agama yang haq.
Dua syarat ini, apabila salah satu atau keduanya tidak dipenuhi, maka amal ini
tidak sah. Jadi harus ikhlas dan benar karena Allah. Ikhlas karena Allah dan benar
karena mengikuti contoh Rasulullah. Lahiriahnya Ittiba sedangkan batiniahnya
Ikhlas.
Bila hilang salah satu syarat ini maka amalnya rusak. Bila hilang keikhlasannya
maka orang ini akan cenderung menjadi munafik dan riya kepada manusia.
Sedangkan bila Ittiba'-nya hilang artinya dia tidak mengikuti petunjuk Rasulullah
maka orang ini sesat dan bodoh. [Tafsir Ibnu Katsir 1/616 cet Darussalam]
Dari uraian diatas jelaslah bahwa pentingnya niat dalam amal. Niat haruslah
ikhlas dan ikhlas semata tidak cukup dalam menjamin diterimanya suatu amal
selagi tidak sesuai dengan ketetapan syariat dan dibenarkan sunnah. Sebagaimana
amal yang dilakukan sesuai dengan ketentuan syariat tidak akan diterima selagi
tidak disertai dengan keikhlasan. Adapun amal akhirat yang tidak disertai dengan
ikhlas, maka tidak ada bobotnya sama sekali dalam timbangan amal.
Meski demikian, perlu diketahui bahwa niat tidak dapat mempengaruhi yang
haram. Sebaik apapun niatnya dan semulia apapun tujuannya, niat tidak dapat
menghalalkan yang haram dan tidak melepaskan sifat kekotoran, karena memang

inilah yang menjadi sebab pengharamannya. Misalnya, barangsiapa mengambil


riba atau mencuri harta, atau mencari harta dengan cara bathil dengan niat untuk
membangun mesjid atau mendirikan tempat panti asuhan yatim atau mendirikan
pesantren atau disedekahkan ke fakir miskin dan semisalnya maka niat baik ini
tidak berpengaruh apa-apa serta tidak bisa meringankan dosa yang haram.
Praktek ini banyak terjadi di tengah kita, misalnya seorang mendepositokan
uangnya di bank, lalu bunganya digunakan untuk membangun mesjid atau
pesantren dan semisalnya, ini adalah suatu perbuatan yang layak dipertanyakan.
Benarkah bunga bank yang haram digunakan untuk proyek kebaikan?
Seorang pegawai mendapat uang sangat besar dari hasil manipulasi korupsi dan
kolusi, atau seorang penjudi atau pelacur, lalu mereka berniat menolong anak
yatim dan fakir miskin dari hasil pekerjaan yang haram, maka hukumnya tetap
haram dan tidak meringankan dosa yang haram, dan tidak boleh digunakan untuk
berbagai kegiatan kegiatan kebaikan. Hasil keharaman tidak bisa dibersihkan
dengan mensedekahkan uang hasil perbuatan haram, namun harus keluar secara
utuh dari yang haram itu. Allah tidak akan menerima yang haram walaupun
dengan niat yang baik. Dari Abu Hurairah Rasulullah bersabda, "Sesungguhnya
Allah ta'ala itu baik, tidak menerima sesuatu kecuali dari yang baik." (Hadits
riwayat Muslim 1015]
Harta yang haram bukan milik orang yang mendapatkannya. Karena itu tidak
boleh ia bersedekah dengan uang tersebut, harta apapun yang dikeluarkan dari
hasil bunga, curian, pelacuran, perdukunan, manupulasi dan semisalnya dari
proses yang haram semua tidak diterima Allah.
Dari sini kita tahu bahwa Islam menolak prinsip Machiavelli, yakni tujuan
menghalalkan segala cara. Islam juga tidak menerima kecuali dari cara yang
bersih untuk mencapai tujuan yang mulia. jadi niat yang baik harus disertai
dengan cara yang benar dan baik.
Sumber: (Al Aisar, Kitab Salafi, Ihya Ulumuddin, Kitab Tafsir, dll)

Saya rasa bagian 2 saya cukupkan sampai disini. Semoga menjadi pelajaran dan
hikmah bagi kita semua terlebih saya pribadi yang masih terus belajar
memperbaiki diri. Saya memposisikan sebagai orang bodoh yang terus belajar dan
belajar, istilah MP ... terus mersudi dan mersudi. Tulisan diatas tidak ada
sedikitpun tendensi bahwa saya lebih hebat dari yang lain, melainkan semata-mata
niat baik menyebarkan tulisan baik untuk pengayaan pribadi. Dalam
pengembaraan keilmuan, Kebugaran MP rupanya sangat klop dan pas digunakan
sebagai salah satu ikhtiar duniawi untuk memperbaiki diri dan memberikan
pemahaman akan kehidupan.
Semoga bermanfaat.

REST AND FULLFILLMENT RESPONSE


Dalam psikologi dan fisiologi dikenal ada 2 mekanisme yang ada pada tubuh
manusia, masing-masing diwakili oleh 2 sistem syaraf yang berbeda yaitu
mekanisme "Fight or Flight response" yang diwakili oleh sympathetic nervous
system (sistem syaraf simpatik) dan mekanisme "Rest and Fulfillment response"
yang diwakili oleh parasympathetic nervous system (sistem syaraf parasimpatik).
Secara alamiah sebenarnya 2 mekanisme ini berjalan silih berganti dalam siklus
kehidupan manusia. Dalam kondisi terdesak secara natural seseorang akan

melakukan mekanisme perlindungan diri melalui "Fight or Flight Response" ini.


Kemudian setelah kondisi yang dianggap membahayakan bisa dilewati biasanya
secara Fisik dan Non Fisik seseorang akan mengalami suatu kelelahan yang luar
biasa. Dan hal ini secara alamiah akan mengaktifkan mekanisme pertahanan diri
yang lain yaitu "Rest and Fulfillment response" yang secara sederhana kita kenal
sebagai kondisi istirahat (deep sleep). Pada kondisi "deep sleep" inilah tubuh
berusaha mengembalikan lagi keseimbangan Fisik dan Non Fisik yang dialami
setelah kondisi yang dianggap membahayakan tersebut dilewati.
Manusia adalah makhluk yang memiliki kesadaran cipta, rasa, dan karsa. Secara
naluri manusia bisa memahami adanya "fight or flight response" dan "rest and
fulfillment response" ini dan berusaha menduplikasikan fenomena tersebut secara
sadar.
Penduplikasian mekanisme "Fight or Flight Response" sudah saya bahas pada
artikel sebelum ini, beserta system hormon yang terlibat didalamnya. Sedang
penduplikasian mekanisme "Rest and Fulfilment Response" kita kenal dalam
sistem pernafasan lain yang dikenal dengan Pernafasan Meditasi. Pernafasan jenis
ini akan membawa pada kondisi relaksasi yang mendalam yang menyerupai
kondisi deep sleep. Dalam kondisi meditatif inilah biasanya "Rest and Fulfillment
Response" bekerja optimal. Sensasi yang dirasakan para paktisi meditasi ini
adalah rasa damai, peningkatan awareness (kesadaran), perubahan persepsi dan
kognitif, dll.
Biasanya tujuan dari pernafasan meditatif adalah peningkatan kesadaran yang bagi
sebagian kalangan seringkali disebut pencerahan.
Peningkatan Awareness pada pernafasan meditatif yang bersifat "Rest and
Fulfillment Response" dan melibatkan parasympathetic nervous system ini
berbeda dgn peningkatan Awareness pada Pernafasan yang bersifat "Fight or
Flight Response" yang melibatkan sympathetic nervous system. Kondisi
Awareness dalam keadaan "Fight or Flight State" lebih bersifat Active Awareness

dimana seseorang secara aktif memilah informasi yang dianggap relevan dalam
kondisi "Fight or Flight" sedang informasi yang tidak relevan akan cenderung
diabaikan. Kondisi Awareness dalam "Rest and Fullfillment State" lebih bersifat
Passive Awareness dimana seseorang menjadi lebih bisa menerima (receptive)
terhadap segala informasi yang ada baik internal maupun eksternal tanpa ada
proses aktif untuk memilah.
Dalam kajian ilmu psikologi dikenal sebagai Active Awareness dan Passive
Awareness.
Sederhananya bisa dianalogikan sebagai berikut, dalam situasi "Fight or Flight
Response" seseorang yang mengalami peningkatan awareness bisa mendengar
adanya suara nafas lawan yang bersembunyi dibalik air terjun. Secara selektif
suara air terjun diabaikan dan tidak terdengar lagi dan yang hanya didengar adalah
suara nafas lawannya. Tetapi dalam kondisi "Rest and Fulfillment Response" yang
bersifat meditatif seseorang bisa mendengar suara nafas lawan yang bersembunyi
dibalik air terjun tanpa mengabaikan suara air terjun tersebut. Bagi orang tersebut
baik suara air terjun ataupun suara nafas lawannya seperti suatu paduan suara
orchestra musik yang saling mengisi.
Bisa menerima segala informasi yang ada disekitar kita dan keseluruhan informasi
ini menjadi satu orkestra yang harmonis inilah yang memberikan rasa damai dan
kesatuan antara pengamat dan yang diamati. Bisa dikatakan secara subyektif
bahwa sensasi dalam kondisi meditatif yang dirasakan adalah adanya penyatuan
antara jagad alit/mikrokosmos/tubuh dan jagad gede/makrokosmos/alam karena
pada kondisi meditatif ini mikrokosmos (tubuh) menjadi sangat receptive terhadap
informasi yang ada pada makrokosmos (alam), seakan tidak ada batas lagi antara
keduanya.
Secara psikologi memang terdapat perbedaan sensasi yang dirasakan pada kedua
mekanisme ini. Secara natural sebenarnya kedua mekanisme ini saling

melengkapi satu sama lain dan memiliki fungsinya masing-masing bukan sesuatu
yang bertentangan.
Sebenarnya sudah cukup banyak penelitian tentang Meditasi dilakukan oleh para
ilmuwan di dunia barat. Pendekatan yang dilakukanpun sudah cukup beragam.
Ada penelitian dengan metode pendekatan fisiologi hormon tubuh yang
diakibatkan pengaruh Meditasi, metode pendekatan neurology pada Meditasi,
pendekatan psikologi, medis, dll. Penelitian ini menarik karna berusaha untuk
memahami lebih jauh bagaimana tubuh ini bekerja dalam kondisi meditatif.
Penelitian ini melibatkan praktisi meditasi dari berbagai macam kalangan baik itu
Yogist, Zen Buddist, Reiki, Tao, dll.
Dari penelitian Neurology bisa diketahui pernafasan Meditasi yang bersifat "rest
and fulfillment response" mengaktifkan parasympathetic nervous system yang
berbanding terbalik dgn sympathetic nervous system yang dilakukan pada situasi
"fight or flight respone". Dari sisi metabolism tubuh pada kondisi meditatif terjadi
penurunan konsumsi oksigen, detak jantung, tingkat pernafasan dan tekanan
darah. Dari sisi gelombang otak terjadi peningkatan gelombang alpha, theta dan
delta yang menunjukan adanya penurunan tingkat stress (mengenai gelombang
otak, silahkan membaca artikel saya sebelum ini untuk lebih jelasnya). Beberapa
penelitian menunjukan pernafasan meditatif juga bisa mengontrol tingkat gula
darah pada penderita diabetes dikarenakan penurunan metabolism tubuh pada
kondisi meditatif ini.
Berdasarkan penelitian dari sisi hormonal, pernafasan meditasi pada tingkat
gelombang alpha dan theta pada otak akan berakibat pada peningkatan hormone
DHEA (40-90%) dan Melatonin (90-300%). Peningkatan DHEA akan
meningkatkan daya tahan tubuh terhadap penyakit. Sedang hormon Melatonin
bersifat sebagai anti oksidan alami tubuh. Dalam kondisi meditatif pada tingkat
gelombang delta pada otak akan berakibat pada peningkatan hormone HGH
(Human Growth Hormone). Fungsi HGH adalah meningkatkan kekuatan otot dan
tulang, mengurangi lemak tubuh, dan meningkatkan fungsi otak dan bersifat

antipenuaan tubuh alami. HGH biasanya banyak dihasilkan pada usia anak-anak
dan semakin berkurang pada usia lanjut hingga 50% pada usia 50 tahun ke atas.
HGH yang bersifat antiaging (anti penuaan) dipercaya sebagai penyebab para
praktisi meditasi tingkat lanjut seringkali berusia panjang.
Sayangnya penelitian yang sama belum pernah dilakukan pada MP. Padahal, jika
kita amati sistem pernafasan MP, selain yang melibatkan sistem "Fight or Flight
Response" seperti Pernafasan Power, MP juga memiliki sistem pernafasan yang
melibatkan "Rest and Fullfilment Response" yang bersifat meditatif. Pernafasan
pendukung latihan Getaran adalah salah satu pernafasan MP yang bersifat
Meditatif seperti misalnya Nafas Pembersih. Selama ini belum ada penelitian
ilmiah yang dilakukan untuk memahami pernafasan MP ini baik yang bersifat
"Fight or Flight Response" maupun "Rest and Fullfillment Response".
Sampai saat ini baru dilakukan penelitian dari sisi ATP yang dihasilkan dalam
pernafasan power MP seperti yang dilakukan pada Operasi Seta I. Belum ada lagi
penelitian tentang pernafasan MP dari sudut Muscle Fibers (serat otot) yang
digunakan, Lactate Threshold, dll. Begitu pula belum pernah dilakukan penelitian
terhadap system hormon tubuh dan hubungannya terhadap pernafasan MP baik
yang bersifat Power maupun Meditatif.
Jika kita asumsikan pernafasan pendukung getaran bersifat meditatif maka bisa
dimengerti mengapa pada latihan Getaran ada keluhan terjadinya penurunan
Power pada praktisi MP. Dari sisi hormon pernafasan meditatif akan
mengaktifkan hormon yang bersifat menurunkan hormon yang dihasilkan oleh
pernafasan power dan sisi neurology pernafasan meditatif akan menaktifkan
parasympathetic nervous system yang akan menurunkan aktifitas sympathetic
nervous system yang digunakan pernafasan Power. Hal ini bisa dipahami karna
memang pernafasan yang bersifat meditatif (Rest and Fulfillment Response)
bekerja sebagai counter balance (kebalikan) dari pernafasan Power yang bersifat
"Fight or Flight Response". Pernafasan pendukung getaran yang bersifat meditatif
adalah penyimbang bagi pernafasan power MP. Sama seperti halnya "Rest and

Fulfillment Response" adalah penyimbang dari "Fight or Flight Response" yang


biasanya terjadi secara natural dalam kehidupan sehari-hari.
Tetapi tentunya kepastian akan hal ini hanya bisa didapat jika dilakukan penelitian
yang terukur tentang pernafasan getaran MP seperti yang sudah dilakukan pada
pernafasan meditatif lainnya.
Sampai saat ini, keilmuan modern mengenai tubuh manusia barulah sampai tahap
ini yaitu system otot tubuh, system syaraf dan system hormon. Tentu bagi
sebagian praktisi MP penjelasan berdasarkan keilmuan modern ini belum
dianggap mewakili keseluruhan keilmuan MP. Misalnya keilmuan pamungkas MP
yang mungkin akan sangat sulit dijelaskan dengan keilmuan modern yang ada saat
ini. Keilmuan Pamungkas MP sepertinya mewakili suatu fenomena yang biasa
disebut fenomena Mind Over Matter (MoM) atau pikiran yang melampaui materi.
Mengenai kemungkinan mind over the matter seperti fenomena getaran / tenaga
dalam untuk pematahan ataupun penghancuran benda keras tanpa sentuhan/jarak
jauh dll berdasarkan keilmuan modern yang ada saat ini, memang belumlah
diketahui bagaimana mekanisme tubuh yang mengaturnya.
Salah satu kemungkinan penjelasan tentang hal ini adalah dengan Fisika
Kuantum. Tetapi bagaimana kaitan antara Fisika Kuantum dengan keilmuan
modern tentang mekanisme tubuh kita seperti sistem otot, sistem hormon, sistem
syaraf, dll belum ada sama sekali hingga saat ini. Saya rasa sampai saat ini
memang baru sampai disinilah perjalanan final dari keilmuan modern yang ada
tentang tubuh kita. Jika kita ingin meneliti lebih jauh tentang bagaimana
mekanisme dibalik fenomena Getaran MP dalam keilmuan pamungkas MP,
mungkin kita harus meneliti lebih jauh lagi dan bahkan berani untuk membuka
suatu daerah baru yang belum terpetakan dalam keilmuan modern saat ini. Dan
jika kita ingin meneliti fenomena ini mungkin kita harus bertindak jauh seperti
idiom yang sering digunakan dalam film serial Star Trek ... boldly go to where no
one has gone before.

Apakah dengan pernafasan getaran yang bersifat meditatif akan membangkitkan


kemampuan Mind over Matter (MoM) hingga tingkat pengendalian molekuler
seperti dalam Fisika Kuantum?
Dalam hal ini, mau tidak mau MP perlu menunjukan keilmuan pamungkas MP
untuk diteliti secara ilmiah dan terukur. Karena hanya dengan demikian bisa
membuka wawasan baru tentang kemampuan tubuh manusia yang mungkin
belum terukur dalam metode ilmiah saat ini. Bahkan mungkin saja bisa membuka
keterkaitan antara Fisika Kuantum dengan mekanisme tubuh manusia. Namun
sebelum melangkah lebih jauh, saya pribadi berpendapat mungkin sebaiknya kita
lebih fokus untuk meneliti keilmuan pernafasan MP berdasarkan keilmuan
modern yang sudah ada saat ini seperti sistem otot tubuh, sistem syaraf dan sistem
hormon seperti yang sudah dilakukan pada pernafasan meditasi yang lainnya.
Penelitian ilmiah ini akan memberikan back up yang penting artinya bagi
keilmuan MP di masa yang akan datang dan bisa mendukung lebih diterimanya
MP dalam kalangan yang lebih luas sekaligus menepis anggapan MP itu klenik
dikalangan tertentu.
Dengan semakin kritisnya masyarakat kita saat ini, penelitian ilmiah terhadap
sistem pernafasan MP akan memberikan backup keilmuan yang sangat penting
bagi perkembangan Perguruan MP. Selain untuk memberikan hasil yang terukur
dari metode Pernafasan MP seperti landasan ilmiah bagaimana kinerja Otot,
Syaraf dan Hormon selama pelatihan MP serta kemungkinan efek sampingnya.
Inilah yang saya lakukan melalui Kebugaran MP.
Sampai saat ini masih banyak sebagian masyarakat yang beranggapan metode
pernafasan dari berbagai macam perguruan beladiri tidak lebih hanyalah metode
klenik yang dikemas dengan kemasan baru. Upaya sebagian perguruan beladiri
yang berusaha meng-"ilmiah"-kan tenaga dalam hanya mengundang tanggapan
sinis dan dianggap penjelasan yang diberikannya tidak lebih dari Pseudoscience
(sains boong-boongan) karena tidak didukung oleh penelitian ilmiah yang valid

dan terukur. Dan saya pribadi pernah berhadapan dgn "kalangan ekstrim" ini yang
beranggapan keilmuan tenaga dalam adalah klenik, sesat, syirik dan bahkan
dengan mudah mereka mengkafirkan. Namun saya tidak bisa berbuat terlalu
banyak untuk memberi dukungan ataupun pembelaan yang berarti karena memang
belum adanya penelitian ilmiah yang valid tentang fenomena tenaga dalam yang
dilakukan oleh perguruan beladiri yang ada di Indonesia. Ada memang beberapa
yang sudah berani menulis, namun sulitnya akses terhadap tulisannya membuat
lebih banyak biasnya daripada terangnya.
Mungkin sudah saatnya kita belajar dari perkembangan Hipnosis. Dulupun
Hypnosis yang dikenal sebagai Mesmerism sempat dianggap hanya sebagai
Pseudoscience dan Hoax dalam Tantangan Skeptic yang dilakukan oleh Raja
Perancis. Tetapi sebagian ilmuwan saat itu tertarik untuk meneliti fenomena
Mesmerism dengan metode penelitian ilmiah yang valid, hingga akhirnya
Mesmerism bisa diterima dikalangan ilmuwan dan berkembang menjadi Hypnosis
Modern. Penjelasan Mesmerism yang berbau pseudoscience seperti magnetism,
eter, dll kemudian pada Hypnosis Modern diganti dengan penjelasan yang
berlandaskan pada keilmuan yang ada pada saat itu misalnya psikologi dan
fisiologi. Walaupun banyak kalangan yang beranggapan fenomena Hypnosis
adalah fenomena kolaborasi Jin dan Manusia (klenik) tetapi dengan didukungnya
Hypnosis melalui begitu banyaknya penelitian ilmiah yang sudah dilakukan para
ilmuwan di seluruh dunia maka perlahan tanggapan miring ini bisa ditepis.
Penelitian ilmiah sudah memberikan backup yang kuat untuk menepis anggapan
klenik yang berkembang di masyarakat kita terhadap Hypnosis Modern.
Mungkin sudah saatnya MP melakukan hal yang sama. Dengan demikian MP
akan lebih memiliki daya tahan keilmuan untuk menghadapi tantangan zaman di
masa depan. Saya seringkali mengajak rekan-rekan anggota MP dimanapun,
khususnya para mahasiswa yang saat ini sedang mengenyam pendidikan tinggi
untuk mau menulis, mau menjadikan MP sebagai penelitian ilmiahnya. Para
dokter, profesional medis, dll untuk mulai berani menulis secara umum mengenai
aspek-aspek keilmuan Merpati Putih ditinjau dari disiplin ilmunya. Dengan cara

seperti inilah akupuntur berkembang menjadi ilmu modern sedemikian rupa


sehingga bisa dipelajari oleh siapa saja tanpa harus khawatir seseorang dicap
klenik. Dengan cara seperti ini juga Yoga berkembang mendunia. Dan dengan
harapan ini jugalah mendiang guru besar mas Budisantoso berusaha membangun
MP di tempat-tempat strategis akademis seperti LIPI, BATAN, BPPT, dll.
Semoga bermanfaat.
FENOMENA "TENAGA DALAM"
Selama ini jika kita membahas Tenaga Dalam, biasanya Fenomena yang sering
diajukan untuk membuktikan keberadaan Tenaga Dalam ini adalah Fenomena
dimana pada saat terdesak seringkali manusia mampu melakukan hal-hal yang
luar biasa, misalnya ketika dikejar anjing seseorang mampu melompati tembok
yang tingginya 2 meter lebih, atau misalnya seorang ibu demi menolong anaknya
mampu mengangkat mobil yang beratnya 1,5 ton lebih, dll. Fenomena seperti ini
dianggap sebagai pembuktian bahwa masih ada kekuatan tersembunyi dalam
tubuh manusia yang bersifat latent dan belum dibangkitkan. Kekuatan
tersembunyi yang belum dibangkitkan inilah yang seringkali disebut Tenaga
Dalam. Tetapi apakah memang Fenomena ini menunjukan adanya Fenomena
Tenaga Dalam pada manusia ?
Kembali semua itu berpulang pada apa yang kita sebut dengan 'Tenaga Dalam'.
Dalam ilmu Fisiologi, fenomena ini seringkali disebut sebagai Hysterical
Strenght. Namun sampai saat ini setahu saya belum ada penelitian yang serius
mengenai fenomena ini. Salah satu sebabnya adalah karena sulitnya menduplikasi
fenomena ini dalam suatu controled condition dalam laboratorium. Dari sudut
pandang ilmu Fisiologi fenomena ini dijelaskan sebagai kinerja hormon tubuh
dalam kondisi terdesak yang dikenal dgn fenomena Fight or Flight response.
Fenomena ini dikenal juga sebagai fenomena Adrenaline Rush, karena hormone
Adrenaline (Epinephrine/Norepinephrine) inilah yang memicu keluarnya "Tenaga
Dalam" pada fenomena Hysterical Strenght tersebut.

Dalam kondisi terdesak secara alami manusia akan mengaktifkan self defence
mechanism yang disebut Fight or Flight response. Tubuh akan mengaktifkan
hormon Epinephrine dan Norepinephrine untuk melakukan Fight or Flight
response terhadap situasi yang dihadapi. Hormon ini akan meningkatkan suplai
oksigen dan gula darah ke Otak dan Otot dgn cara meningkatkan detak jantung,
pernafasan, dan menstimulus sympathetic nervous system menjadi lebih aktif.
Kenaikan suplai oksigen dan gula darah akan mensuplai lebih banyak energi pada
otot, dan juga semakin aktifnya sympathetic nervous system akan mengakibatkan
semakin banyaknya serabut otot yang bekerja pada fenomena ini sehingga
merangsang mitokondria bekerja lebih banyak hingga menghasilkan pemecahan
ATP plus energi yang lebih besar. Hal inilah yang memberikan Tenaga tambahan
pada kinerja Otot tubuh diluar kondisi normal. Sedang kenaikan suplai oksigen
dan gula darah pada Otak menyebabkan tingkat awareness/kesadaran yang
semakin meningkat pada kondisi ini. Sederhananya pada kondisi ini Kekuatan
Otot dan Tingkat Kewaspadaan meningkat - untuk sementara waktu menjelma
menjadi seperti Spiderman dgn Kekuatan Otot diatas manusia normal dan Tingkat
Kewaspadaan seperti memiliki "Spider sense".
Fenomena inilah yang secara sederhana seringkali kita sebut sebagai fenomena
Tenaga Dalam.
Walaupun fenomena ini seringkali disebut Adrenaline Rush tetapi sebenarnya
bukan hanya hormon Adrenaline (Epinephrine dan Norepinephrine) saja yang
bekerja pada fenomena ini. Fenomena ini juga memicu hormon Dopamine
(Excitement), Serotin (Pleasure) dan juga Endorphine (Analgesia). Jika pada
kondisi tersebut Dopamine dan Serotine meningkat maka response yang akan
muncul biasanya adalah response Fight - sensasi yang dirasakan biasanya adalah
gejala penuh semangat, sedang jika sebaliknya maka response yang diambil
adalah Flight - sensasi yang dirasakan biasanya adalah ketakutan dan tingkat
stress meningkat. Sedang meningkatnya Endorphine akan menyebabkan analgesia
tubuh meningkat, tubuh akan semakin tidak responsif terhadap rasa sakit (pain).
Itu sebabnya dalam fenomena Fight or Flight ini tubuh seringkali tidak merasakan

rasa sakit dan lelah yang dialami tubuh pada saat itu akibat peningkatan hormone
Endorphine dalam tubuh.
Manusia adalah makhluk yang memiliki dimensi Fisik dan juga dimensi Non
Fisik (Emosi, Perasaan dll) dan hormon adalah jembatan dari kedua dimensi ini.
Keterkaitan antara dimensi Fisik dan Non Fisik (Emosi/psikologi) ini bisa kita
lihat dalam Hypnosis. Fenomena Hysterical Strenght ini bisa diduplikasikan dgn
baik dalam Fenomena Hypnosis. Dengan memberikan sugesti tertentu (Non Fisik
- Psikologi) pada suyet, suyet bisa diminta melakukan suatu peragaan Hysterical
Strenght (Fisik) tertentu, misalnya seorang ibu-ibu bisa diminta mengangkat
beban berat yang tidak mungkin diangkat dalam kondisi normal, atau seorang
wanita muda bisa diminta membengkokkan besi atau mematahkan pompa dragon
dll.
Tetapi yang perlu diingat adalah efek jangka panjang dari penduplikasian
fenomena Hysterical Strenght seperti ini. Seperti kita ketahui peningkatan kadar
hormon tertentu akan berakibat pada suatu kondisi emosi tertentu. Pada jangka
panjang peningkatan hormon tertentu akan memicu ketidakseimbangan hormon
tubuh.

Sedang

Ketidakseimbangan

hormone

tubuh

akan

memicu

ketidakseimbangan emosi (psikologi) begitu pula sebaliknya. Selain tentunya bisa


berakibat pada kesehatan fisik tentunya.
Jika kita melihat apa yang terjadi dalam tubuh kita dalam fenomena "Tenaga
Dalam" atau yang disebut juga sebagai Hysterical Strenght ini dari sudut Fisiologi
mungkin kita bisa mendapat sedikit gambaran, kira-kira apa yang terjadi di dalam
tubuh kita dalam kondisi Latihan Pernafasan yang seringkali disebut sebagai
duplikasi fenomena tersebut. Berbeda dgn Hypnosis yang menduplikasikan
Fenomena Hysterical Strenght dari sudut Psikologi (Non Fisik). Pelatihan
Pernafasan menduplikasikan fenomena ini melalui dua pendekatan baik Fisik
maupun Non Fisik (Psikologi).

Pelatihan Fisik pada Latihan Pernafasan untuk menduplikasikan Fenomena


Hysterical Strenght bisa kita lihat dgn Latihan Pernafasan yang dilakukannya,
misalnya dgn melakukan Tahan Nafas pada postur tertentu dan dgn Otot
dikejangkan secara penuh. Pada saat kita melakukan pelatihan dgn intesitas tinggi
tubuh, dan juga pelatihan yang membutuhkan daya ledak tinggi seperti angkat
beban, sprint, plyometric ataupun pelatihan Fast Twitch Fibers (serat otot kedut
cepat) secara natural tubuh akan meningkatkan kadar epinephrine dalam tubuh.
Selain itu kondisi Tahan Nafas secara mental juga menciptakan kondisi Fight or
Flight response. Jadi bisa dikatakan Latihan Pernafasan seperti ini secara fisik
sudah menduplikasi fenomena Hysterical Strenght itu sendiri - yang secara natural
akan meningkatkan kadar hormon tubuh dalam pelatihan fisik tersebut. Tetapi
sebenarnya selain latihan dgn pendekatan fisik, dalam Latihan Pernafasan ini
masih ada satu jenis latihan lain yang bisa meningkatkan kadar Hormone dalam
tubuh yaitu jenis latihan yang dikenal dengan Pelatihan Pernafasan dgn
Visualisasi. Pada Pelatihan Pernafasan dgn visualisasi inilah Hormone Tubuh
ditingkatkan tidak lagi dgn metode fisik tetapi hormon tubuh ditingkatkan melalui
pendekatan Psikologi. Kapan waktu nanti saya akan bahas tersendiri mengenai
Visualisasi dari sisi sains.
Maka Pelatihan Pernafasan memiliki keunggulan dari metode Hypnosis dalam
menduplikasi Fenomena Hysterical Strenght ini - yaitu Pelatihan Pernafasan tidak
hanya menggunakan pendekatan Non Fisik (Sugesti - Visualisasi - Psikologi) saja
tetapi juga melalui pendekatan fisik dalam latihan pernafasannya. Jika dalam
duplikasi Hysterical Strenght dgn Metode Hypnosis biasanya efek samping pada
tubuh baru dirasakan oleh suyet beberapa hari setelah duplikasi tersebut
dilakukan. Misalnya ketika mengangkat beban diluar batas normal, setelah
beberapa hari baru dirasakan efek rasa sakit ataupun nyeri pada otot tubuh suyet
yang memang tidak terlatih fisiknya, atau pada duplikasi tahan pukul - suyet baru
merasakan sakit beberapa hari kemudian setelah efek Endorphine tubuh hilang.
Hal ini biasanya tidak dialami praktisi pernafasan karena kondisi fisik tubuhnya
sudah jauh lebih terlatih dibanding suyet hypnosis.

Pelatihan Pernafasan memang bisa dikatakan penduplikasian Fenomena


Hysterical Strenght yang dilakukan baik melalui Pelatihan secara fisik maupun
non fisik
Tetapi yang perlu diingat adalah jika tujuan pelatihan pernafasan diasumsikan
agar fenomena Hysterical Strenght ini bisa kita duplikasikan sesuai dgn keinginan
kita. Tentunya peningkatan hormon seperti Dophamine, Epinephrine /
Norepinephrine, Endorphine etc dalam tubuh perlu diwaspadai efek sampingnya.
Peningkatan hormon tertentu bisa berakibat pada kesehatan fisik secara sebagian
maupun keseluruhan. Di sini saya hanya mencoba melihat dari kesehatan
psikologi praktisi pernafasan yang diakibatkan pelatihan pernafasan yang tidak
seimbang dan dilakukan dgn sembrono yang menghasilkan efek mental yang
"panasan/bludrekan/emosian/mutungan".
Peningkatan Dophamine biasanya akan berakibat kepada kelainan psikologis
seperti

Scizhopphrenia

dan

Hyperactive.

Peningkatan

Epinephrine/Norepinephrine akan cenderung membuat kelainan psikologis


peningkatan agresivitas. Peningkatan Endorphine akan menyebabkan dissasosiatif
pikiran dan tubuh.
Seringkali efek samping inilah yang menjadi celah sebagian kalangan untuk
menyerang praktisi pernafasan - seperti banyak sekali kelainan psikologis yang
seringkali dialami oleh praktisi Tenaga Dalam diasosiasikan dgn fenomena
gangguan jin. Misalnya peningkatan emosi Praktisi Tenaga Dalam seringkali
dikaitkan sebagai ulah Jin yang ada dalam tubuh praktisi tersebut. Begitu pula
latihan yang melibatkan Visualisasi yang intesif tetapi dilakukan secara sembrono
bisa mengakibatkan ketidakseimbangan Hormone tubuh dan biasanya dalam
kondisi extreme bisa dilihat sebagai gangguan jiwa pada praktisi Tenaga Dalam
atau yang seringkali dituduhkan sebagai gangguan jin oleh sebagian kalangan
tertentu. Saya pribadi beranggapan sebelum lebih jauh menyalahkan jin mungkin
sebaiknya kita meneliti lebih dalam lagi ketidakseimbangan homonal tubuh yang

diakibatkan pelatihan pernafasan yang tidak seimbang ini - dan jika dimungkinkan
tentunya perlu diadakan perbaikan SOP Latihan untuk perbaikan kedepannya.
Kaidah tradisional MP, sebagaimana kaidah tradisional umumnya, memberikan
panduan bahwa saat berlatih itu jangan berambisi untuk bisa sakti bisa ini itu. Ini
adalah "rem" tradisional untuk mencegah terjadinya ketidakseimbangan hormon
tubuh. Dengan membuang jauh-jauh ambisi untuk bisa sakti ini itu dan
menggantinya dengan penyikapan hati yang nrimo/pasrah berujung ikhlas maka
sebenarnya kita sedang diselamatkan. Keseimbangan diri sedang dijaga. Pengaruh
latihan panas sedang didinginkan. Maka, jangan sepelekan hal-hal seperti ini.
Kecenderungan manusia yang ingin terlihat 'lebih' dimata orang lain, seringkali
membutakan akal sehat sehingga berlatih dengan ambisi tertentu. Atau ujiannya
malah datang ketika 'kesaktian' itu didapatkan. Mendadak sifatnya jadi berubah.
Kembali lagi kepada prinsip bahwa MP sebagai Jalan Hidup, maka semestinya
jalan hidup yang ditempuh akan membawa praktisinya kepada kebaikan hidup,
kercerdasan diri lahir batin, kesamaptaan jasmani, dan hal-hal lain yang membaik.
Semoga bermanfaat.
Sehat, Bugar, dan Powerfull bersama Kebugaran Merpati Putih!
Salam

hangat,

MG
7 HORMON
Di dalam tubuh manusia terdapat ratusan hormon. Namun baru dalam hitungan
puluhan saja yang sudah dikenali. Sebagian besar masih diteliti dan masih misteri.
Kekuatan dan daya apa yang tersembunyi di dalamnya masihlah belum bisa
dipecahkan secara utuh hingga saat ini. Merpati Putih, sebagai salah satu beladiri
yang dikenal berdasarkan kaidah Olah Rasa, maka sedikit banyak mestilah harus
belajar dan membuka diri untuk mengenal fungsi-fungsi hormon di dalam tubuh

manusia. Hormon, oleh dunia modern dikenal sebagai "gerbang jiwa" atau
"gerbang rasa". Mempelajarinya paling tidak akan memudahkan seseorang
mendapatkan pemahaman akan suatu kondisi kejiwaan seseorang dan dapat
melakukan perbaikan apabila dirasa terjadi anomali atau ketidakseimbangan pada
jiwa yang bersangkutan.
Berdasarkan pemahaman itu saya tuliskan dibawah ini 7 molekul otak (hormon)
dan gambaran umum mengenai bagaimana ia dihubungkan dengan perasaan.
1. Endocannabinoids, dikenal sebagai "Molekul Kebahagiaan". Pada awalnya
diproduksi oleh sejenis tumbuhan yang masuk pada golongan "cannabis" dan
memiliki reseptor CB-1 dan CB-2. Anandamide (dari bahasa Sansekerta 'ananda'
yang artinya Bahagia) merupakan jenis endocannabinoid yang umum dikenal.
Menariknya, paling tidak terdapat 85 jenis cannabinoid yang berbeda di alam ini
yang diambil dari tumbuhan Cannabis. Setiap dari jenis cannabinoid ini akan
menghasilkan efek bahagia yang berbeda kadarnya antara satu dengan yang
lainnya dalam mempengaruhi kesadaran manusia.
Studi yang dilakukan oleh Universitas Arizona (publikasi bulan April 2012),
menjelaskan bahwa Endocannabinoids kebanyakan dipergunakan sebagai bahan
untuk "mabok berat" (istilahnya 'fly'). Pada penelitian dengan manusia dan hewan
(anjing) ditemukan bahwa kadar endocannabinoid pada saat seseorang mulai
masuk fase mabuk menjadi semakin tinggi. Apapun penyebab mabuknya. Pada
penelitian lain, ketika meneliti BBB (blood-brain barrier) atau Penghalang Darah
dan Otak ditemukan bahwa molekul Endorphine terlalu besar untuk bisa masuk ke
dalam jaringan BBB dan ia tidak bertanggungjawab terhadap kondisi 'mabuk
berat' melainkan molekul Endocannabinoids lah yang paling bertanggungjawab
dalam hal ini. Sehingga obat-obatnya yang diracik atau dibuat dari turunan
tumbuhan Cannabis akan menghasilkan efek 'mabuk berat' yang luar biasa.
Seakan-akan ia merasa 'bahagia' padahal sebenarnya itu adalah kebahagiaan semu
karena ia tidak menyadarinya.

2.

Dopamin,

dikenal

sebagai

"Molekul

Penghargaan".

Dopamin

bertangunggjawab pada suatu kebiasaan-kebiasaan yang menghasilkan kondisi


kesenangan/kenikmatan. Setiap jenis kegiatan yang diberikan suatu penghargaan
tertentu akan meningkatkan level Dopamin ke otak. Jadi, jika Anda ingin
membuat Dopamin muncul segera buatlah sebuah tujuan lalu raihlah tujuan itu.
Banyak dari obat-obatan terlarang seperti misalnya Kokain dan Methamphetamine
bisa mempengaruhi sistem Dopamin secara langsung. Kokain akan melakukan
'bloking' terhadap penyerapan Dopamin, membuat sistem syaraf yang terkait
kepadanya memiliki celah yang lebih besar. Pendekatan ini digunakan pada orangorang yang memiliki mental 'ekstrovert' atau kepribadian yang sangat mudah
untuk berekspresi atau mengekspresikan diri. Diketahui bahwa pada orang-orang
yang mudah untuk mengekspresikan diri terjadi peningkatkan level dopamin di
otaknya dibandingkan rata-rata orang normal. Membuat sebuah tujuan lalu
berusaha meraih tujuan itu akan menyebabkan level Dopamin meningkat di otak.
3. Oksitosin, dikenal sebagai "Molekul Pengikat". Oksitosin (oxytocin)
merupakan hormon yang secara langsung terkait dengan rasa percaya dan
kesetiaan. Pada beberapa studi ilmiah, kadar tinggi hormon ini akan berkorelasi
dengan hal-hal romantis. Studi lain juga menunjukkan bahwa jika satu pasangan
kekasih terpisah dalam waktu yang cukup lama maka kadar hormon Oksitosin
menurun sehingga ia tidak dapat merasakan lagi ikatan dengan pasangannya.
Kontak kulit, kontak mata, perhatian, rasa cinta kasih, dan keintiman hubungan
adalah kunci dari rasa bahagia.
Di dalam dunia digital, dimana kita sering merasa "sendiri secara bersama"
melalui peralatan digital, adalah sangat perlu untuk berkumpul membentuk
kelompok dan secara tatap muka melakukan aktivitas fisik. Misalnya dengan
berlatih silat bersama, atau olahraga bersama, atau joging bersama. Hal ini
diperlukan agar hormon Oksitosin tetap terjaga kadarnya dalam kaitannya
merasakan hubungan fisik antar manusia.

Studi ilmuwan yang dilakukan tahun 2003 pada majikan dan anjingnya
menunjukkan bahwa level Oksitosin akan meningkat manakala antara majikan
dan anjing sering melakukan aktivitas untuk saling berpelukan. Studi itu
mengatakan bahwa jika seseorang tidak punya orang lain untuk dipeluk, maka
carilah alternatif binatang peliharaan agar level Oksitosin tetap dapat terjaga.
4. Endorfin, dikenal sebagai "Molekul Penghilang Rasa Sakit". Nama Endorfin
diterjemahkan kedalam "self-produce morphine" atau "morfin yang dapat
diproduksi secara mandiri". Endorfin berfungsi seperti layaknya "candu" yang
mempunyai manfaat analgesic (anti rasa sakit). Endorfin diproduksi oleh kelenjar
Pituari dan Hipotalamus melalui suatu aktivitas fisik berat, aktivitas seksual
bersama pasangan hingga orgasme. Apabila seseorang sering melakukan aktivitas
fisik berat maka otak akan memproduksi hormon endorfin dalam jumlah cukup.
Endorfin jarang dikaitkan dengan kondisi "mabuk berat" dibandingkan dengan
Endocannabinoids, namun ia terhubung pada aspek "tanpa rasa sakit" pada suatu
latihan aerobik. Menariknya, endorfin akan dihasilkan dalam jumlah yang lebih
banyak manakala latihan itu bersifat 'high intensity anaerobic', kardio, dan latihan
penghasil kekuatan (power).
Tahun 1999, ilmuwan melaporkan bahwa memasukkan jarum akunpuntur pada
titik tubuh secara spesifik akan meingkatkan produksi endorfin. Pada studi lain
dikatakan bahwa level Endorfin yang lebih tinggi ditemukan pada cairan
Cerebrospinal setelah pasien beberapa kali diterapi akupuntur.
5. GABA, dikenal sebagai "Molekul Anti-Gelisah". GABA adalah sebuah molekul
penghambat yang dapat menurunkan kemampuan syaraf dalam menghasilkan rasa
tenang. Seseorang dapat meningkatkan hormon GABA melalui latihan-latihan
seperti Yoga, Meditasi, atau menjalani latihan yang bersifat "Rest and Fullfillment
Response". Benzodiazephines (Valium dan Xanax) berfungsi sebagai zat anti
gelisah atau anti depresi, ia meningkat jumlahnya di dalam tubuh manakala
seseorang berlatih hingga kadar hormon GABA meningkat. Namun obat-obatan

anti gelisah (Valium dan Xanax) akan menyebabkan terjadinya resiko


ketergantungan, sedangkan zat alamiah tubuh tidak.
Studi yang dilakukan oleh "Journal of Alternative and Complementary Medicine"
menemukan bahwa terjadi kenaikan 27% pada hormon GABA manakala
seseorang berlatih Yoga selama 60 menit dibandingkan seseorang yang melakukan
aktivitas membaca buku selama 60 menit.
6. Serotonin, dikenal sebagai "Molekul Rasa Percaya Diri". Serotonin memainkan
banyak peranan penting pada tubuh manusia. Kaitan antara level Serotonin yang
tinggi dan kurangnya sensitivitas penolakan akan sesuatu membuat seseorang
menempatkan dirinya pada situasi yang akan mempengaruhi penilaian akan harga
dirinya, meningkatkan rasa kekhawatiran dan menciptakan rasa memiliki. Untuk
meningkatkan kadar hormon jenis ini, tantanglah diri kita secara bertahap dan
terus menerus pada suatu kondisi yang menghasilkan rasa memiliki akan sesuatu
yang berarti. Sering berkata "Saya bisa!" pada suatu aktivitas yang sedang
dilakukan terbukti akan menghasilkan kadar Serotonin yang lebih banyak. Ini juga
sekaligus akan meningkatkan harga diri dan menimbulkan rasa aman dan tenang.
Berbagai variasi dari obat anti-depresan disebut dengan Serotonin-Specific
Reuptake Inhibitors (SSRIs) seperti misalnya Prozac, Celexa, Lexapro, Zoloft, dll.
Obat jenis ini memiliki indikasi utama untuk menangani masalah depresi
(tekanan) seperti misalnya kegelisahan, panik, Obsessive Compulsive Disorder
(OCD, yakni sebuah kondisi psikologis yang ditandai dengan perilaku
pengulangan yang disebabkan oleh ketakutan akan pikiran yang tidak masuk
akal), masalah makan, sakit yang parah, dan gangguan pasca trauma (PSTD).
SSRIs diberikan karena ia bekerja dengan cara menjaga Serotonin pada syaraf
lebih lama dibanding pada umumnya ia dihasilkan sehingga reaksi ini akan
memicu rasa lebih bahagia. Secara teoritis, jika Serotonin merupakan satu-satunya
hormon yang bertanggungjawab untuk depresi, maka pengobatan jenis ini
seharusnya dapat diberikan untuk siapapun. Namun bagaimanapun juga beberapa

orang yang tidak merespon obat berjenis SSRIs ini, namun ia merespon pada
pengobatan yang mempengaruhi hormon GABA, dopamin, atau Noreprinephrine.
Ilmuwan masih belum memahami seutuhnya apa peran utama dari Serotonin pada
kasus gangguan kejiwaan seperti kenapa pada pasien yang begitu percaya pada
dokter atau psikiater lalu diberikan obat tertentu akan lebih berhasil dibandingkan
mereka yang tidak percaya. Ini menunjukkan bahwa bahkan obat anti depresi
punn bekerja pada tiap orang secara berbeda-beda.
7. Adrenalin, dikenal sebagai "Molekul Energi". Adrenalin, secara teknis dikenal
sebagai Epinephrine (biasa disingkat "Epi-Pen"). Ia berperan besar pada
mekanisme "Fight or Flight Response"). Telepasnya Epinephrine menyebabkan
terjadinya luapan energi yang sangat tinggi. Adrenalin menyebabkan peningkatan
detak jantung, tekanan darah, menyebabkan menyempitnya pembuluh darah yang
kurang penting dan meningkatkan darah ke otot-otot yang lebih besar. Hormon ini
sudah bisa diproduksi di laboratorium dan digunakan sebagai terapi pada reaksi
alergi yang akut.
Apabila terjadi kondisi ketakutan yang luar biasa, maka tubuh akan membentuk
mekanisme yang disebut dengan "Adrenaline Rush". Ia akan dipicu oleh suatu
kondisi yang dianggap sangat membahayakan diri. Seseorang dapat membuat
sebuah kondisi yang bersifat "Adrenaline Rush" melalui bernafas cepat yang
sangat pendek sembari mengkontraksikan otot-otot. Latihan ini dapat berguna
sesekali khususnya pada saat tubuh kita butuh untuk segera bersemangat.
Sebuah lonjakan Adrenalin membuat seseorang merasa sangat bersemangat. Ia
dapat menjadi obat bagi kebosanan, rasa tidak enak, dan kejenuhan. Mengambil
resiko, dan melakukan hal-hal yang menakutkan yang membuat seseorang keluar
dari zona nyaman akan meningkatkan kadar hormon ini dalam jumlah besar.
Bagaimanapun juga, ada sebagian orang yang melakukan kegiatan-kegiatan penuh
resiko tinggi untuk mendapatkan reaksi "Adrenaline Rush" ini seperti misalnya
aktivitas Parkour, atau balapan kendaraan, atau aktivitas sejenis dengan itu.

KESIMPULAN
Tidak ada satupun sudut pandang di dunia ini yang dapat menjelaskan secara pasti
bagaimana cara menyeimbangkan kondisi kimiawi tubuh yang terkait dengan
sebuah rasa tertentu. Meskipun seluruh jenis hormon diketahui dan dapat
dibuatkan sintesa di laboratorium, tetap saja ada banyak wilayah yang masih abuabu yang menunjukkan bagaimana sesungguhnya semua hormon itu saling
bekerja, saling mempengaruhi satu sama lain. Bagaimana bisa sekian ratus
hormon itu ada di dalam tubuh manusia dan saling menyeimbangkan satu sama
lain. Meski demikian, kita bisa mengambil pelajaran dari fungsi-fungsi spesifik
setiap hormon untuk kasus per kasus.
Pada tulisan saya mengenai "Fenomena Tenaga Dalam" sudah saya jelaskan
secara singkat bagaimana kecenderungan pengaruh hormon ini pada aktivitas
yang sering dikenal dengan "kemampuan supranatural" atau "kemampuan
manusia super". Adrenalin Rush yang ditingkatkan sedemikian rupa membuat
orang bisa melompat tinggi mendadak, berlari sangat cepat, atau mengangkat
beban berat yang luar biasa. Kemampuan luar biasa dari fungsi hormonal ini terus
diteliti secara ilmiah untuk menghasilkan ragam "manusia super". Salah satu tools
tradisional untuk menuju kesana adalah latihan Merpati Putih. Namun manakala
melihat maksud dan tujuan penciptaan ilmu Merpati Putih berdasarkan Amanat
Sang Guru yang berada pada jujur dan welas asih, percaya pada diri sendiri,
selaras dan seimbang dalam kehidupan sehari-hari, dan bertakwa kepada Tuhan
Yang Maha Esa, sesungguhnya Merpati Putih tidak mengajarkan untuk menjadi
seorang "manusia super". Sehingga makna "Kembali ke Hakekat" adalah kembali
bagaimana kita mengikuti dasar penciptaan ilmu MP ini. Dengannya,
keseimbangan hormon dapat tercapai secara wajar. Terlalu mengejar kesaktian,
menyebabkan terjadinya peningkatan "Adrenalin Rush" yang sangat tinggi.
Karena lokasi hormon Adrenalin ini ada di atas Ginjal dan menempel, maka
mudah bagi praktisi yang ambisinya kesana untuk terkena masalah pada Ginjal.
Apalagi manakala tidak diparalelkan dengan pengetahuan mengenai ilmu Nutrisi.
Demikian juga pada praktisi yang sangat mengejar ambisi untuk bisa "Getaran

Tutup Mata" sehingga berlatih terus menerus secara mengurung diri dari dunia
luar akan menyebabkan hormon Oksitosin menjadi melimpah ruah, akibatnya ia
jadi sulit bersosialisasi dengan orang lain. Rasa percaya dirinya yang sangat tinggi
menyebabkan otaknya menterjemahkan bahwa ia adalah orang yang hebat. Ini
akan memutus ikatan antar manusia. Dan lain sebagainya. Maka solusi aman dari
berlatih MP adalah ... kembali ke Hakekat ... sebagaimana Amanat Sang Guru
dilimpahkan kepada kita semua.
Semoga bermanfaat.
ISOMETRIC EXERCISE, DYNAMIC EXERCISE, DAN PLYOMETRIC
EXERCISE

DALAM

BELADIRI

TIMUR

(Bagian 1)
Tulisan saya kali ini akan mengupas secara singkat mengenai latihan-latihan yang
ditinjau dari sisi Fisiologi Latihan. Di dalam pembelajaran mengenai Fisiologi
Latihan didapati ada beberapa jenis golongan latihan. Ada yang disebut dengan
Isometric Exercise, Dynamic Exercise, Plyometric Exercise, dll. Seni olah nafas
MP juga termasuk di dalam kategori tersebut. Maka memahami bagaimana cara
kerja otot sesungguhnya juga akan membuka pintu pengetahuan baru yang saya
percaya sangat bermanfaat bagi para pelatih dalam memberikan pemahaman
kepada anggotanya.
Berbicara otot maka akan terkait dengan beberapa hal seperti misalnya kontraksi
otot (muscle contraction), serat otot (fiber muscle), peregangan otot (stretching),
dan lain sebagainya.
Berdasarkan analisa mekanika otot, bisa dikatakan otot bekerja seperti layaknya
pegas (per). Pegas yang ditekan akan berusaha kembali ke panjang semula
demikian pula otot yang dibebani (stretching) akan berusaha kembali kebentuk
semula (contraction).

Sedang dari analisa system syaraf, ketika otot melakukan stretching maka system
syaraf akan bekerja lebih aktif untuk melindung otot dari cidera. Ada semacam
energi potential yang bekerja agar otot tidak over stretching. Hal ini dikenal
dengan istilah Stretch Reflex. Stretch Reflex ini mengaktifkan lebih banyak serat
otot yang akan menyimpan energi potensial yang siap digunakan untuk
melakukan suatu aktifitas dan juga untuk melindung otot dari cidera. Hanya saja
jika energi potential yang timbul sesaat akibat Stretch Reflex ini tidak
dimanfaatkan dengan segera maka energi potential ini akan segera hilang. Salah
satu jenis latihan otot yang memanfaatkan energi potensial yang didapat dari
Stretch Reflex ini adalah Plyometric Exercise.
Plyometric Exercises bertujuan untuk meningkatkan kecepatan muscle contraction
sehingga tubuh bisa menghasilkan explosive power yang paling optimal. Cara
kerjanya biasanya dengan mengaktifkan (Stretching) terlebih dulu otot yang akan
digunakan kemudian dengan melakukan suatu hentakan (Contraction) otot tsb
"dipaksa" untuk bergerak secara cepat dan explosive.
Misalnya dalam latihan Squat Jump, sebelum melakukan suatu loncatan badan
harus direndahkan terlebih dahulu untuk memberi beban sesaat pada otot-otot kaki
(Stretching), pada saat inilah timbul energi potensial dari Stretch Reflex. Dan
begitu badan direndahkan (Squat) harus segera diikuti dengan gerakan meloncat
(Jump) secepat dan se-explosive mungkin untuk memanfaatkan energi potential
yang didapat dari Stretch Reflex. Waktu antara Stretching (Squat) dan Contraction
(Jump) harus seminimum mungkin. Dan Contraction harus dilakukan secepat dan
se-explosive mungkin. Ini prinsip pelatihan Plyometric.
Ketika dulu saya melakukan studi banding dengan Kungfu dari China, saya
mengamati salah satu jenis Kungfu yang menjadi favorit saya yakni Xinyiquan.
Selain Xinyiquan juga ada banyak aliran kungfu yang menggunakan Neijia (olah
dalam) yang mengandalkan Fa Jin (ledakan tenaga), namun saya akan fokus pada
studi banding Xinyiquan dulu saja agar mudah untuk dipahami.

Jika kita amati pola pelatihan Xinyiquan sangat menarik sekali. Karna pola latihan
Xinyiquan benar-benar memanfaatkan pola latihan Isometric dan Plyometric
secara berkesinambungan. Saya ambil contoh latihan yang sangat terkenal yakni
latihan Zhan Zhuang. Jika kita pernah melihat di taman ada seorang yang sedang
berdiri mematung dengan kedua tangan seperti sedang 'memeluk' pohon besar
maka seperti itulah latihan Zhan Zhuang.
Latihan Zhan Zhuang merupakan pelatihan dasar Neijia yang bersifat Isometric
Exercise. Berdasarkan analisa mekanika otot bisa dikatakan bahwa pelatihan
Isometric bertujuan melatih otot Postural yaitu otot-otot yang mempertahankan
suatu postur tubuh secara keseluruhan. Dengan pelatihan Isometric ini bisa
dikatakan seluruh otot tubuh yang digunakan untuk mempertahankan suatu postur
dipaksa untuk bekerja.
Otot Postural ini tersebar pada seluruh tubuh dan otot jenis inilah yang menjadi
dasar prinsip "Whole Body Movement" dari Neijia berbeda dengan "Sectional
Power" dari Waijia (olah luar) yang lebih memanfaatkan Otot Phasic yaitu otot
yang digunakan untuk melakukan suatu gerakan khusus.
Ketika kita akan mengambil sesuatu dengan tangan kita biasanya kita hanya akan
menggerakan otot-otot lengan saja tidak otot tubuh lainnya seperti otot kaki
misalnya, inilah yang disebut dengan Otot Phasic. Kecuali mungkin praktisi yang
sangat mahir mungkin akan menggunakan Otot Posturalnya (dari otot kaki hingga
otot jari sebagai sebuah rangkaian) ketika tangannya akan mengambil gelas
misalnya.
Dari analisa System Syaraf juga tidak kalah menariknya, seperti dalam penjelasan
di atas dikatakan dengan melakukan latihan Zhan Zhuang (ataupun latihan
Isometric lainnya) maka otot Postural lah yang aktif bekerja. Dan karena Otot
Postural tersebar diseluruh tubuh kita maka bisa dikatakan pada pelatihan
Isometric, system syaraf yang tersebar pada seluruh tubuh juga dipaksa untuk
bekerja lebih aktif lagi. Dan system syaraf bisa dikatakan dikontrol melalui

pikiran kita. Ini sebabnya bisa dikatakan pelatihan Zhan Zhuang dan pelatihan
Isometric lainnya lebih menitikberatkan pada penggunaan Pikiran dibanding Otot
Tubuh. Syaraf yang tersebar pada otot Postural ini menariknya juga merupakan
syaraf Vagus. Silahkan dibaca kembali apa itu Syaraf Vagus pada artikel saya di
group ini mengenai "Hiperbarik Oksigen".
Pelatihan Zhan Zhuang yang menitikberatkan pada pelatihan otot Postural yang
tersebar diseluruh tubuh kita ini yang akhirnya melatih pikiran kita, melalui
System Syaraf Vagus, untuk merasakan tubuh sebagai satu kesatuan yang utuh.
Dalam buku "Xing Yi Nei Gong: Xing Yi Health Maintenance and Internal
Strength Development" yang ditulis oleh Dan Miller dan Tim Cartmell, dikatakan,
"At the outset of training, the internal arts place the greatest emphasis on refining
and training the nervous system to control the body. In contrast, most external
styles emphasize increasing strength and endurance (external power) as the base
upon which martial technique will be built."
(Pada awal pelatihan, seni olah dalam (tenaga dalam) menempatkan penekanan
pada melatih sistem syaraf untuk melakukan kontrol terhadap tubuh. Sebaliknya,
pada kebanyakan seni olah luar (tenaga luar) menekankan pada peningkatan
kekuatan dan daya tahan (kekuatan eksternal) sebagai dasar dari teknik-teknik
beladiri yang akan dibangunnya).
Jika saya bandingkan antara Karate dengan Taijiquan (di Indonesia disebut dengan
"tai chi"), kita bisa lihat perbedaan antara pelatihan Taijiquan yang
menitikberatkan melatih Nervous System ( Sistem Syaraf ) untuk mengontrol
tubuh dengan pelatihan Karate yang lebih menekankan Strenght and Endurance
misalnya. Nervous System (Mind/Pikiran) erat kaitannya dengan Postural
Muscles, sedangkan Strength and Endurance (Body/Otot Tubuh) erat kaitannya
dengan otot Phasic.
Jadi pelatihan Zhan Zhuang (ataupun jenis pelatihan Isometric lainnya) pada
Xinyiquan dan aliran kungfu berbasis olah dalam lainnya bertujuan meletakan

dasar untuk pelatihan Postural Muscle dan juga System Syaraf tubuh secara
keseluruhan (Postural + Vagus).
Namun ada bagian yang menariknya, yakni bahwa pelatihan dalam Xinyiquan
tidak berhenti pada latihan Isometric saja tetapi kemudian berlanjut dengan latihan
Plyometric. Tahap berikutnya pada pelatihan Xinyiquan setelah Zhan Zhuang
(Isometric Exercises) adalah pelatihan Power (Plyometric Exercises) yang
dilakukan dalam bentuk pelatihan Wuxing Quan (jurus Five Element Fist atau
Jurus Lima Elemen).
Jurus "Five Element Fist" merupakan jurus yang diawali dari suatu sikap awal
tertentu kemudian dilanjutkan dengan gerakan menghentak yang cepat dan
explosive untuk memanfaatkan energi potential (Stretch Reflex) yang didapat dari
sikap awal tsb (pahami konsep Squat Jump yang saya jelaskan diatas). Salah satu
gerakan jurusnya adalah mengangkat tangan tinggi kebelakang kepala lalu
menghentakkan keras ke bawah (seperti gerakan Tebangan Kebawah, bisa juga
menggunakan kepalan tangan, punggung tangan, apapun). Setelah beristirahat
sejenak, kemudian gerakan jurus tsb diulangi lagi terus menerus dalam repetisi
yang biasanya sangat ekstrim (ribuan kali, puluhan ribu kali selama bertahuntahun dan itu-itu saja gerakannya).
Kita bisa juga membandingkan dengan pelatihan Plyometric modern yang
menggunakan bola sebagai beban. Bola kita pegang dengan kedua tangan, lalu
kita angkat tinggi-tinggi dan kemudian bola dibanting ke lantai dengan sangat
kuat (Slams). Terlihat kemiripannya bukan ? Keduanya dimulai dengan menarik
tangan ke arah belakang kepala (Stretching) terlebih dahulu kemudian
membanting tangan (Contraction) ke bawah secepat dan se-explosive mungkin.
Ada juga latihan bola dimana bola kita pegang dengan kedua tangan, lalu
dekatkan ke dada, seketika itu lontarkan dengan kedua tangan sekuat dan seexplosive mungkin ke depan (explosive start throwing ball). Nah, pada jurus "Five
Element Fist" juga ada latihan jenis itu yakni dalam bentuk pukulan yang
menggunakan prinsip yang tidak jauh berbeda dengan Explosive Start Throwing

Ball dari Plyometric Exercise. Gerakan dimulai dengan menarik tangan ke arah
dada (Stretching) diikuti dengan melempar tangan ke depan secepat dan seexplosive mungkin.
Semua dimulai dengan suatu Sikap Awal (postur awal ini untuk mengaktifkan otot
Postural) diikuti dengan gerakan cepat dan explosive. Waktu antara Sikap Awal
dan Gerakan Cepat Explosive diusahakan seminimum mungkin agar tidak ada
kehilangan Energi Potential yang didapat dari Stretch Reflex.
Baik Power Training Xinyiquan ataupun Plyometric Exercise dilakukan dengan
cara melakukan Gerakan Sederhana tsb berulang kali.
Menarik bukan.
Latihan Fa Jin (ledakan tenaga) yang dilakukan melalui pelatihan Wuxing Quan
ini benar-benar memanfaatkan energi potential yang didapat dari Stretch Reflex
dengan optimal. Cepat, penuh tenaga dilakukan dengan satu hentakan yang semua
dimulai dari Postural Muscle ( Sikap Awal ) yang bertujuan untuk mengaktifkan
Stretch Reflex.
Bisa dikatakan Zhan Zhuang yang bersifat Isometric menjadi dasar untuk
mengaktifkan System Syaraf dan Otot Postural yang digunakan pada Sikap Awal
suatu jurus. Dengan semakin aktifnya System Syaraf dan Postural Muscle maka
akan semakin besar energi potential yang didapat dari Strecth Reflex ketika
melakukan Sikap Awal. Energi Potential yang dihasilkan dari Sikap Awal ini
kemudian digunakan dengan baik pada pelatihan Wuxing Quan yang bersifat
Plyometric.
Dari sini bisa dilihat suatu kesinambungan pola latihan Isometric dan Plyometric
dalam Xinyiquan. Tujuan pelatihan Zhan Zhuang adalah agar tubuh memiliki
energi potential yang besar, sedangkan pelatihan Wuxing Quan bertujuan untuk
memanfaatkan energi potential tsb sebaik mungkin.

Jadi bisa dikatakan Zhan Zhuang (Isometric) mempersiapkan praktisi untuk


mendapatkan energi potential sebesar mungkin sedang Wuxing Quan (Plyometric)
mempersiapkan praktisinya untuk mampu mengubah energi potential tsb menjadi
energi kinetik seoptimal mungkin.
Dalam pelatihan modern Plyometric Exercise dikenal rentan menimbulkan cidera
karena sifat latihannya yang menuntut dilakukannya sebanyak mungkin repetisi
gerakan yang bersifat explosive dalam waktu sesingkat mungkin. Tampaknya para
master beladiri di dunia Timur seperti di China ini sudah mengetahui hal ini.
Untuk itu sebelum melakukan pelatihan yang bersifat Plyometric (seperti Wuxing
Quan) perlu dilakukan suatu pengkondisian terlebih dahulu pada tubuh. Dan
pelatihan yang bersifat Isometric (seperti Zhan Zhuang) inilah yang diperlukan.
Sebagai pembanding lain, saya akan jelaskan bagaimana Strength Training
Programs dalam Olahraga Tinju. Saya rasa ini menjadi program latihan standard
untuk cabang beladiri lain seperti MMA misalnya :
http://www.sport-fitness-advisor.com/strengthtrainingprogra
Perhatikan tabel "Strength Phases for Boxer" (ada dibagian bawah artikel tsb)
sebelum Pertandingan (F) untuk periode latihan pada bulan Sep-Dec. Strength
Training Programs dibagi menjadi program Basic Strength, Maximal Strength,
Conv to P, Mantain P and ME hingga hari F (Fight).
Pelatihan diawali dengan program Basic Strength (BS) biasanya fokus pelatihan
pada tahap ini adalah pada Core Strength Training (Pelatihan Core Muscle) tujuan program ini mempersiapkan otot tubuh agar tidak mudah mengalami cidera
pada program latihan yang lebih berat. Kemudian pelatihan dilanjutkan dengan
program latihan Maximal Strength (MS), program latihan ini melibatkan pelatihan
angkat beban seperti Bench Presses, Dead Lift dsb. Tujuan latihan ini untuk
meningkatkan kekuatan maksimal otot.

Setelah otot mengalami peningkatan kekuatan maksimal dari program Maximal


Strength kemudian program latihan selanjutnya adalah mengconvert kekuatan
maksimal otot ini menjadi Power (Conv. to P atau Convert to Power). Pada tahap
inilah pelatihan explosive power seperti Plyometric digunakan. Sebelum hari F
( Fight ) program selanjutnya hanyalah memaintain Power dan Muscular
Endurance si atlet dengan program latihan ringan.
Jika kita lihat perbedaan antara pelatihan modern pada Tinju dengan yang tadi
saya jelaskan diatas (Xinyiquan) terletak pada program latihan Maximal Strength.
Pada Neijia (olah dalam) biasanya tidak ada pelatihan angkat beban baik itu yang
bersifat Isometric sekalipun untuk mendapatkan peningkatan kekuatan maximal
otot. Ini berbeda dengan Isometric MP yang sudah menggunakan beban.
Selebihnya bisa dikatakan program pelatihannya tidak jauh berbeda.
Pada Neijia (olah dalam), Basic Strength didapat dari pelatihan Isometric seperti
Zhan Zhuang sedang Convert to Power nya dilakukan dengan pelatihan
Plyometric seperti Wuxing Quan. Sedang Program untuk me-maintain Power dan
Muscular Endurance didapat dengan melakukan latihan ringan Wuxing Quan
secara rutin setiap hari.
Selain itu juga terdapat perbedaan utama antara program Basic Strength pada
olahraga Tinju dengan Neijia yaitu pada Neijia program Basic Strength
mengutamakan pelatihan yang bersifat Isometric Extreme untuk melatih Otot
Postural sedang pada Tinju biasanya Basic Strength tidak menggunakan pelatihan
Isometric tetapi lebih mengunakan pelatihan bersifat Dynamic yang lebih melatih
Otot Phasic (misal latihan Heavy Bag / Sansak).
Itu sebabnya bisa dikatakan Neijia menggunakan prinsip "Whole Body
Movement" sedang Tinju menggunakan prinsip "Sectional Power" sebagai dasar
pengolahan tenaganya.
(bersambung)

ISOMETRIC EXERCISE, DYNAMIC EXERCISE, DAN PLYOMETRIC


EXERCISE

DALAM

BELADIRI

TIMUR

(Bagian 2)
Jika pada Bagian 1 tulisan ini membahas apa dan bagaimana Isometric Exercise
dan Plyometric Exercise dari sudut pandang mekanika otot, fisiologi latihan, dan
dengan sampling beladiri timur Xinyiquan maka pada Bagian 2 kali ini saya akan
bahas secara singkat bagaimana keterkaitan itu dari sudut pandang Merpati Putih.
Untuk menyegarkan ingatan, saya akan tulis kembali secara singkat apa itu
Isometric Exercise dan Plyometric Exercise.
Isometric Exercise, ditinjau dari analisa mekanika otot, bertujuan melatih otot
Postural yaitu otot-otot yang mempertahankan suatu postur tubuh secara
keseluruhan. Dengan pelatihan Isometric ini bisa dikatakan seluruh otot tubuh
yang digunakan untuk mempertahankan suatu postur dipaksa untuk bekerja. Agar
dapat mempertahankan postur tubuh ini maka diperlukan kontrol melalui pikiran
(Mind). Dengan adanya kontrol pikiran terhadap tubuh ini maka akan memaksa
syaraf-syaraf di sepanjang otot Postural untuk lebih aktif. Pelatihan jenis ini
menggunakan Pikiran secara dominan dibandingkan otot tubuh untuk merasakan
tubuh sebagai satu kesatuan yang utuh. Pelatihan jenis ini sekaligus sebagai
latihan dasar dari prinsip "Whole Body Movement".
Plyometric Exercises, ditinjau dari analisa mekanika otot, bertujuan untuk
meningkatkan kecepatan kontraksi otot sehingga tubuh bisa menghasilkan
explosive power yang paling optimal. Cara kerjanya adalah dengan mengaktifkan
(Stretching) terlebih dulu otot yang akan digunakan kemudian dengan melakukan
suatu hentakan (Contraction) otot tersebut "dipaksa" untuk bergerak secara cepat
dan explosive. Ketika otot melakukan Stretching maka system syaraf akan bekerja
lebih aktif untuk melindung otot dari cidera. Ada semacam energi potential yang
bekerja agar otot tidak over stretching. Hal ini dikenal dengan istilah Stretch
Reflex. Stretch Reflex ini mengaktifkan lebih banyak serat otot yang akan

menyimpan energi potensial yang siap digunakan untuk melakukan suatu aktifitas
dan juga untuk melindung otot dari cidera. Hanya saja jika energi potential yang
timbul sesaat akibat Stretch Reflex ini tidak dimanfaatkan dengan segera maka
energi potential ini akan segera hilang. Plyometric Exercise merupakan latihan
yang memanfaatkan energi potensial yang didapat dari Stretch Reflex ini.
Isometric Exercise dan Plyometric Exercise adalah suatu pola latihan yang
berkesinambungan. Hal ini dapat dilihat pada hampir seluruh pola latihan
berdasarkan ilmu fisiologi modern maupun berdasarkan studi kasus Kungfu China
(Xinyiquan, Taijiquan, Bagua, dll). Memang agak sedikit berbeda dengan tradisi
Yoga dari India yang sangat dominan dengan pelatihan berjenis Isometric
Exercise.
Yoga dari India tidak memiliki bentuk latihan yang bersifat Plyometric Exercise.
Tidak ada latihan yang menggunakan peregangan (Stretching) dan hentakan
(Contraction) secara se-eksplosive mungkin. Bentuk-bentuk postur Yoga seperti
misalnya

Vajrasana,

Sarvangasana,

Bhujangsana,

Sirsasana,

Chakrasana,

Halasana, dll, merupakan satu jenis latihan yang bersifat Isometric Exercise
murni. Oleh karena latihan yang bersifat Isometric ini dominan menggunakan
pikiran dalam melakukan kontrol terhadap tubuh dan merasakan otot sebagai satu
kesatuan maka tidak heran para praktisi Yoga akan banyak mendapatkan
penguasaan mengenai prinsip "Whole Body Movement". Namun karena
rangkaian Isometric Exercise pada Yoga ini tidak dilanjutkan dengan latihan
berjenis Plyometric Exercise maka bisa dikatakan bahwa memang latihan Yoga
bukanlah jenis latihan yang bersifat "beladiri" murni dimana ada unsur konversi
dari energi statis/potensial menjadi energi kinetik. Kalaupun ada praktisi yang
mempunyai daya linuwih adalah karena memang ada unsur latihan Pranayama
(pernafasan) yang tentu saja menjadi relatif sangat mudah dipahami manakala
seseorang sudah dapat memahami tubuhnya sendiri. Semakin dalam kesadaran
dan penguasaan akan latihan Pranayama tentunya akan membangkitkan daya
linuwih. Apalagi ditunjang oleh latihan Chakra yang sangat dominan dengan rasa.

Maka Yoga lebih pas kalau disebut sebagai "jalan pencerahan" dibandingkan
beladiri.
Di dalam keilmuan Merpati Putih, latihan yang tergolong kepada Isometric
Exercise adalah Napas Pengolahan (baku maupun 'pengayaan pribadi' seperti
Kawicaksanaan, Guntur Geni, dll). Napas Pembinaan juga sebenarnya masih
tergolong pada jenis latihan Isometric namun dalam bentuk yang lebih dinamis.
Berbeda dengan pelatihan Isometric ala China yakni Zhan Zhuang dan juga
berbeda dengan pelatihan Isometric ala India yakni Yoga, Isometric ala Merpati
Putih bisa dikategorikan Isometric yang bersifat ekstrim.
Mari kita lihat.
Mula-mula, Napas Pengolahan (Isometric) dilatih tanpa beban. Kemudian seiring
dengan meningkatnya intensitas latihan mulailah ditambahkan beban. Beberapa
beban yang dipergunakan di dalam latihan Napas Pengolahan (Isometric) adalah
bola tenis, cor blok, cor bulat berlubang 5 jari, bambu raut+cor bulat, halter
pinggir, halter tengah, gendewa, kembang payung, bangku kecil, dll. Berat beban
yang dipergunakannya juga tidak main-main. Mulai dari 2 kg, 5 kg, hingga
sepertiga berat badan, bahkan hingga sama atau melebihi berat badan. Pelatihan
Isometric jenis ini tidak ada pada disiplin ilmu China atau disiplin ilmu India.
Memang kita bisa menjumpai ada latihan khusus dengan menggunakan beban ala
Kungfu China namun umumnya bersifat penguatan tenaga luar (weijia) seperti
misalnya Kungfu Ngo Cho Kun, Lo Ban Teng, dll. Maka bisa disimpulkan bahwa
pelatihan Isometric ala MP ini sesungguhnya adalah jenis pelatihan Isometric
yang sangat ekstrim.
Apabila kita ingat bahwa pada pelatihan jenis Isometric ini memerlukan
pengaturan Pikiran untuk melakukan kontrol terhadap otot-otot tubuh maka
semestinya apabila kaidah ini dipahami oleh para praktisi MP dipastikan pesilat
MP adalah orang-orang yang punya daya Pikiran yang sangat kuat dalam
memahami tubuhnya sendiri. Namun kenyataan di lapangan hal itu tidak terjadi.

Mengapa? Karena memang fokus yang dibentuknya tidak mengikuti kaidah


Isometric. Ada bagian yang hilang di latihan Napas Pengolahan MP (Isometric) ini
yakni pengkondisian Pikiran untuk merasakan tubuh bekerja sebagai satu
kesatuan rangkaian otot ketika membentuk postur. Jika kita ingat bagaimana dulu
Napas Pengolahan ini diberikan maka kita akan menjumpai adanya missing link
ini. Mula-mula diajarkan bentuknya untuk ditiru, kemudian diajarkan cara
nafasnya, kemudian nafas ditahan di dada terlebih dahulu, baru setelah itu
menggunakan pola dada-perut. Tidak peduli bentuknya benar atau tidak, lakukan
saja seperti yang diminta oleh pelatih. Hasilnya bisa dilihat, bentuk menjadi
sangat tidak seragam. Berbeda dengan pelatihan Isometric ala Yoga dimana postur
benar-benar mendapat perhatian utama sehingga hampir semua murid Yoga
memiliki struktur dan bentuk yang sama dan enak dilihat secara umum. Lalu
dimana missing link yang dimaksud? Yakni pada pengkondisian Pikiran untuk
merasakan tubuh bekerja sebagai satu kesatuan rangkaian otot. Bagian inilah yang
hilang. Fokus yang ingin ditekankan pada MP adalah bahwa Napas Pengolahan
akan dianggap "menghasilkan" energi yang sangat besar. Pokoknya kalau diolah
dengan cara begini begitu, maka Anda akan mendapatkan tenaga dahsyat.
Semakin sering mengolah Napas Pengolahan maka akan semakin "sakti".
Demikianlah umumnya kita menilainya. Paradoxnya, latihan jenis ini adalah
latihan yang sangat tidak disukai oleh anggota di lapangan. smile emotikon
Maka, agar Napas Pengolahan dapat bersesuaian dengan kaidah Isometric
Exercise perlu ditambahkan semacam SOP tambahan dimana bentuk/postur mesti
dilatih dengan menyertakan Pikiran untuk merasakan bentuk tersebut sebagai satu
rangkaian kesatuan tubuh yang utuh. Tambahan SOP ini diberikan sebelum
dilakukan latihan Napas Pengolahan yang melibatkan pola nafas dada-perut. Hal
ini dimaksudkan agar manakala didapatkan pemahaman akan prinsip "Whole
Body Movement" maka mengolah napas dada-perut akan relatif lebih mudah
dilakukan. Tentunya akan ada konsekwensi yakni pola latihan yang menjadi lebih
lama. Dengan rentang waktu 6 bulan sesuai kurikulum baku rasanya ini akan sulit

dilakukan, kecuali memang kita menjalaninya secara pribadi. Inilah missing link
yang pertama.
Setelah pelatihan jenis Isometric dilakukan semestinya dilanjutkan dengan
pelatihan berjenis Plyometric Exercise. Inilah juga missing link yang hilang di
dalam pelatihan MP. Pelatihan MP memang sangat "kanuragan" yang dominan
menggunakan pendekatan pemahaman akan energi dibanding prinsip mekanika
otot. Bahkan, sangat umum di banyak kolat bahwa latihan Napas umumnya
diletakkan diakhir. Setelah itu ditutup dengan Napas Pengendapan. Pada kondisi
ini, benar-benar tidak ada sama sekali rangkaian yang terpadu dari Isometric
Exercise menuju Plyometric Exercise. Pelatihan Getaran pun sesungguhnya
menggunakan

kaidah

yang

tidak

berbeda

dengan

Isometric

yakni

mempertahankan postur tertentu lalu menggunakan Pikiran untuk melakukan


kontrol terhadap tubuh. Hanya saja kontrol yang dimaksud adalah "energi" atau
"getaran". Maka bisa dikatakan, pada kondisi jenis ini latihan MP hampir mirip
dengan pelatihan Isometric ala Yoga dari India. Sehingga tidak heran banyak
orang yang menganggap sama antara latihan MP dengan latihan Yoga. Padahal
MP itu adalah Beladiri, sedangkan Yoga jelas bukan. Jika MP sebagai beladiri
maka rangkaian dari Isometric menuju Plyometric itu adalah suatu keharusan.
Bisa dilihat pada tulisan saya Bagian 1 ketika membahas mengenai Tinju dan juga
pedoman latihan ala MMA (mixed martial arts). Lain halnya kalau MP ingin
diposisikan seperti "ala Yoga" maka Isometric Exercise saja sudah cukup
menjadikan kemiripan MP dengan Yoga. Namun toh MP bukan Yoga. Bisa dilihat
bahwa MP cenderung menggunakan pendekatan ala Yoga dalam menghasilkan
daya linuwih yakni Isometric plus Pranayama namun dengan pemahaman filosofi
yang bukan ala India. Di MP tidak dikenal pembangkitan kekuatan dengan
membuka Chakra satu persatu dari dasar hingga ke mahkota. Apakah sudah terjadi
akulturasi sebagaimana Walisongo melakukan akulturasi dari Hindu ke Islam. Ini
sesungguhnya bisa ditelusuri. Kapan waktu nanti saya bahas secara terpisah. smile
emotikon

Jika dibandingkan dengan kaidah ala China, MP pun juga sesungguhnya tidak bisa
dikatakan mirip. Meskipun ada area yang sama yakni pada titik dibawah pusar
yang dalam kaidah China disebut dengan Dantian (gerbang langit) yakni ada
Dantian bawah, Dantian tengah, dan Dantian atas. Namun prinsip latihan dan
penggunaannya juga ya berbeda. Apalagi kalau dilihat dari filosofinya. Sangat
jauh berbeda. Ini juga bahasan tersendiri. Kapan waktu nanti dibahas ya. smile
emotikon
Kalau tulisan saya diatas dibaca secara jernih, semestinya akan terlihat ada
beberapa missing link yang terjadi.
Pertama, pelatihan Isometric yang tidak menggunakan kaidah prinsip "Whole
Body Movement" dimana Pikiran digunakan untuk melakukan kontrol terhadap
tubuh sebagai satu rangkaian kesatuan. Pelatihannya terlalu terburu-buru masuk
pada tahap "energi". Kedua, pelatihan Isometric yang tidak dibarengi dengan
rangkaian pelatihan Plyometric untuk mengkonversi energi potensial menjadi
energi kinetik melalui Tata Gerak.
Tentunya istilah "pikiran" yang saya maksud nantinya akan merujuk pada tiga
"pikiran" yg ada di tubuh kita. Apabila merujuk ke kepala maka umumnya disebut
pikiran, sedangkan apabila merujuk ke dada umumnya disebut Roso. MP
melakukan banyak penekanan pada jenis "pikiran" yg berada di dada.
Bagaimana alternatif solusinya?
Nantikan tulisan saya dibagian ketiga.
ISOMETRIC EXERCISE, DYNAMIC EXERCISE, DAN PLYOMETRIC
EXERCISE

DALAM

BELADIRI

TIMUR

(Bagian 3)
Nampaknya, memang cukup sulit untuk "menuntaskan" tulisan ini dan langsung
masuk pada aspek pembahasan Merpati Putih. Hal ini dikarenakan kita perlu

memahami lebih jauh lagi berdasarkan perbandingan-perbandingan perjalanan


beladiri Timur yang ada. Kalau pada Bagian 1 saya ulas singkat mengenai Kungfu
China bernama Xinyiquan dan sedikit pola pelatihan Boxing (Tinju), lalu pada
Bagian 2 saya singgung secara singkat juga mengenai konsep Yoga dari tradisi
India, maka saya akan menulis dan mengulas lagi 3 bagian tambahan yakni
mengenai bagaimana sejarah singkat MMA (mixed martial arts) timur beserta
perkembangannya pada bagian 3 (sekarang), kemudian bagaimana konsep Silat
tradisional Indonesia memandang Isometric dan Plyometric ini (saya akan ambil
contoh Cikalong), dan barulah kemudian aspek pembahasan dari sudut pandang
Merpati Putih. Apakah ini ada hubungannya dengan Kebugaran? Tentu saja.
Semoga tidak bosan ya smile emotikon
Baiklah, saya mulai saja pembahasan mengenai Mixed Martial Arts (MMA).
Bicara MMA tidak akan lepas dari acara-acara pertarungan beladiri segala aliran
di berbagai kejuaraan. Ada UFC, K1, Pride, One Fighting, dan lain sebagainya.
Bahkan kini pada Silat pun sudah diawali oleh Malaysia melalui SilatOne.
Pertandingan MMA sebenarnya bisa dikatakan dipopulerkan oleh Gracie BJJ
(Brazillian Jiu Jitsu) dengan mensponsori pertandingan UFC di Amerika Serikat.
Dari UFC ini dunia melihat banyak praktisi Traditional Martial Art (TMA) seperti Kungfu, Karate, Wrestling dll - tidak berdaya menghadapi Gracie BJJ yang
saat itu diwakili Royce Gracie. Dalam pertandingan UFC yang hanya
menggunakan sedikit peraturan - No Holds Barred (NHB) - praktisi TMA jatuh
bertumbangan di tangan Gracie BJJ.
UFC sudah "membuka" mata praktisi TMA "kekurangan" beladiri yang
dipelajarinya selama ini. Para praktisi TMA yang berbasis Stand Up Fighting
merasa ada kekurangan dalam beladiri yang dipelajarinya selama ini - khususnya
Ground Fighting. Sedang TMA yang berbasis Ground Fighting seperti Wrestling
merasa perlu menyempurnakan beladirinya dengan teknik pukulan dan tendangan
dari Stand Up Fighting.

Dari sinilah awalnya timbul ide menggabungkan berbagai macam aliran beladiri
menjadi satu yang akhirnya dikenal MMA. Saya pribadi menganggap pendekatan
seperti ini tidak tepat.
Sebenarnya pertandingan No Holds Barred bukanlah Gracie BJJ yang
memulainya. Gracie BJJ hanya meneruskan apa yang sudah dimulai oleh Judo.
Awalnya Judo didirikan oleh Jigoro Kano pada tahun 1882 dengan
menggabungkan berbagai aliran Traditional Jiu Jit Su (Tenshin Shin'yo Ryu dan
Kito Ryu) menjadi aliran baru yaitu Kodokan Judo. Jigoro Kano sendiri dikenal
sebagai tokoh pembaru dalam dunia pendidikan Jepang yang kebetulan juga
seorang praktisi beladiri.
Satu perubahan besar yang dilakukan oleh Jigoro Kano adalah pola pelatihan
Traditional Jiu Jit Su yang selama ini lebih terfokus pada pola pelatihan Kata
(Jurus) yaitu dua praktisi berlatih menyerang sedang yang lain bertahan dalam
rangkaian jurus yang sudah diatur (Kata). Jigoro Kano merubahnya menjadi pola
pelatihan yang disebut Randori yang dianggap akan lebih efektif dalam pelatihan
beladiri. Pada Randori dua praktisi Judo benar-benar melakukan Latihan Free
Sparring se-realistis mungkin. Latihan Kata tetap ada tetapi porsinya tidak
sebanyak Randori. Kano menganggap praktisi Judo harus mampu menerapkan
jurus dalam situasi serealistis mungkin dan Randori lah jawabannya.
Ternyata Pola Latihan Randori ini sangat efektif untuk menyiapkan Judoka dalam
pertarungan sesungguhnya. Dalam pertandingan pada tahun 1886 antara Kodokan
Judo dengan Traditional Jiu Jit Su dari 15 pertandingan 13 dimenangkan Kodokan
Judo sedang 2 lainnya berakhir Draw. Hal ini membuktikan metode latihan
Randori jauh lebih efektif dibanding latihan Kata untuk menyiapkan praktisi
beladiri menghadapi pertarungan sesungguhnya.
Kodokan Judo baru kalah ketika Mataemon Tanabe dari aliran Fusen Ryu Jiu Jit
Su (yang mengandalkan teknik ground fighting) menantang Kodokan Judo.
Seluruh wakil dari Kodokan Judo dikalahkan dengan telak oleh Tanabe. Bagi

Jigoro Kano kekalahan ini menunjukan adanya kekurangan dalam teknik


pertarungan yang ada pada Judo saat itu. Akhirnya Jigoro Kano mengundang
Tanabe untuk mengajarkan Teknik Ground Fighting di Kodokan Judo.
Dan untuk memperkenal Kodokan Judo yang baru ini ke seluruh dunia. Jigoro
Kano banyak mengirim Judoka ke seluruh dunia untuk bertarung dengan berbagai
aliran beladiri di dunia dalam pertarungan No Holds Barred (NHB). Salah satunya
adalah Mitsuyo Maeda (nama lainnya Conde Coma) yang dikirim ke USA pada
tahun 1904 untuk menyebarkan Kodokan Judo, Maeda akhirnya menetap di Brazil
dan mengajarkan Kodokan Judo ini kepada Keluarga Gracie.
Jika kita melihat film "Fist of Fury" baik yang dimainkan Jet Li atau Bruce Lee
(yang berperan sebagai Zhensheng) ketika melawan Karateka Jepang, dalam
kejadian sebenarnya lawan Zhensheng adalah Judoka bukan Karateka. Kejadian
ini terjadi pada tahun 1910. Pertarungan antara Master Xingyi (Wang Hsiang Zai)
dengan Master Judo (Sawai san) juga terjadi pada saat yang hampir bersamaan.
Inilah salah satu alasan kenapa pada Bagian 1 saya angkat Xinyi sebagai
pembahasan, karena memang ada keterkaitan dan aspek historis dalam
pembahasan saya. smile emotikon
Jadi bisa dikatakan Judo pada awal abad 20 sengaja menyebar ke seluruh dunia
dan melakukan uji coba dengan berbagai aliran beladiri untuk membuktikan
metode latihannya selama ini memang benar efektif untuk menyiapkan praktisi
nya dalam pertarungan yang sesungguhnya. Ekspansi Kodokan Judo ini sejalan
dengan ambisi militer Jepang untuk menguasai Asia saat itu.
Hanya saja sayangnya pada perkembangannya, setelah perang dunia ke 2,
Kodokan Judo melupakan pola pelatihan Randori dan pertandingan NHB yang
Fighting Oriented dan lebih menekankan pelatihan sport Judo yang lebih Point
Oriented. Tujuannya agar Judo bisa diterima dalam evet olahraga dunia. Sama
seperti Pencak Silat saat ini yang berusaha mempopulerkan Silat Sport ke
Olimpiade. Terjadi pergeseran dari Fighting Oriented menjadi Sport Oriented.

Sedang Gracie dengan Brazillian Jiu Jitsu (BJJ) tetap melestarikan tradisi Randori
dan pertandingan NHB yang Fighting Oriented dari Kodokan Judo hingga saat ini.
Dan pada akhir abad ke-20, Gracie BJJ juga mengirim praktisi BJJ terbaiknya ke
seluruh dunia untuk membuktikan pola latihannya memang yang paling efektif
untuk pertarungan sesungguhnya. Royce Gracie ke US dengan UFC nya dan
Rickson Gracie ke Rusia dan Jepang melawan berbagai aliran beladiri yang ada.
Ricskon tak terkalahkan sama seperti Maeda dulu.
Apa yang dilakukan BJJ ini sebenarnya sama seperti yang dilakukan Kodokan
Judo pada awal abad 20 dulu.
Saya pribadi melihat sebenarnya MMA (beladiri gado-gado) tidak perlu ada jika
para Praktisi TMA mau mengembangkan pola pelatihannya mereka agar sesuai
dengan perkembangan jaman. Ide awalnya membuat MMA karna para praktisi
TMA merasa ada kekurangan dalam beladiri TMA yang dipelajarinya. Saya
sendiri berpikir letak "kekurangannya" lebih kepada pola latihan yang tidak
fighting oriented dalam TMA bukan pada teknik pertarungannya. Jadi,
menggabungkan berbagai aliran beladiri menjadi satu MMA bukan jawabannya.
Sebenarnya Jigoro Kano sudah mempelopori pola pelatihan beladiri yang cukup
revolusioner kala itu. Jigoro Kano melihat pola pelatihan Traditional Jiu Jit Su
selama ini terlalu Kata oriented (dominan jurus), sehingga praktisi Jiu Jit Su tidak
siap menghadapi pertarungan sesungguhnya. Dengan dasar pemikiran ini Kano
menekan pola pelatihan Randori yang lebih fighting oriented. Dan ternyata pola
pelatihan ini memang efektif dengan terbukti Kodokan Judo menang telak
menghadapi Traditional Jiu Jit Su.
Untuk

membuktikan

pola

pelatihan

Randori

ini

benar-benar

efektif

mempersiapkan Judoka dalam pertarungan sesungguhnya. Jigoro Kano mengirim


para Judoka terbaiknya untuk bertanding melawan berbagai aliran beladiri di
dunia dalam pertarungan No Holds Barred (NHB). Pertarungan NHB ini
menyiapkan praktisi Judo untuk menghadapi berbagai aliran beladiri. Dan

ternyata memang terbukti pola pelatihan Randori membuat Judoka lebih siap
dalam menghadapi pertarungan sesungguhnya. Mitsuyo Maeda bisa dibilang tak
terkalahkan dalam ratusan pertarungan NHB nya.
Jadi sebenarnya jika praktisi Traditional Martial Arts (TMA) tersebut mau
mencontoh apa yang dilakukan Jigoro Kano dengan Kodokan Judonya, mungkin
tidak perlu ada yang disebut dengan MMA. Perbanyak saja latihan yang lebih
fighting oriented pada pola pelatihan TMA dan siapkan praktisi TMA untuk
bertarung dalam NHB.
Zhensheng berhasil melukai banyak praktisi Judo sebuah Dojo Judo Jepang di
Shanghai pada tahun 1910, bahkan termasuk pelatih kepalanya. Seorang Master
Xing Yi juga berhasil mengalahkan Master Judo Dan 5. Jadi sebenarnya TMA
tidak kalah efektifnya dalam pertarungan NHB. Beberapa aliran TMA yang
fighting oriented terbukti bisa mengalahkan teknik ground fighting dari Kodokan
Judo.
Jika dulu pada UFC banyak praktisi TMA yang kalah saya berpikir itu lebih
disebabkan pola latihan TMA yang tidak menekankan Randori yang fighting
oriented dan lebih menekankan pelatihan Kata (jurus) dan praktisi TMA juga tidak
terbiasa dalam pertandingan NHB yang lintas aliran beladiri. Sedang BJJ yang
diwakili Royce Gracie sudah dipersiapkan dengan pelatihan Randori yang
fighting oriented. Dengan konsep open dojonya para praktisi BJJ juga memiliki
kesempatan untuk bertanding dengan berbagai macam aliran beladiri. Pengalaman
bertanding dalam pertandingan NHB inilah yang membuat Royce Gracie menang
dalam UFC ketika itu.
Tradisi yang diwarisi dari Kodokan Judo ini yang membuat Gracie BJJ lebih siap
dalam pertarungan sesungguhnya dibanding praktisi TMA lainnya.
Mungkin ilmu beladiri memang sudah kehilangan relevansi dengan kehidupan
modern sekarang ini. Dulu seseorang mempelajari ilmu beladiri memang karena
merasa perlu suatu ilmu yang bisa digunakan ketika menghadapi keadaan yang

mengancam keselamatan hidupnya. Sehingga tempo dulu ilmu beladiri memang


battle tested atau teruji dalam pertarungan sesungguhnya.
Pendeta Shaolin dulu juga menciptakan ilmu beladiri dengan landasan pikiran
seperti ini. Beladiri Shaolin memang diciptakan untuk efektif digunakan dalam
pertarungan sesungguhnya, agar para pendeta Shaolin memiliki kemampuan
membeladirinya sendiri. Tetapi dengan perkembangan jaman tampaknya ilmu
beladiri sudah mulai kehilangan essensi "beladiri" nya.
Pada pelatihan Pencak Silat tempo dulu setiap murid yang telah selesai mengikuti
tahap pelatihan tertentu diharuskan untuk turun gunung. Mengamalkan ilmu
beladirinya yakni umumnya dalam perjalanan membantu yang lemah menghadapi
para perampok dsb. Hingga akhirnya Pesilat tersebut memiliki ilmu Pencak Silat
yang battle tested. Setelah pesilat ini merasa memiliki cukup pengalaman
"bertarung" barulah pesilat ini menurunkan ilmunya kepada orang lain. Dengan
metode pelatihan seperti ini Pencak Silat tempo dulu secara turun temurun
memang benar-benar battle tested.
Bisa dilihat dari pengalaman hidup para pendekar silat jaman dulu seperti Pitung,
Sabeni dan Bang Kari (Betawi), Bang Madi dan M. Qosim (Pagaruyung), Haji
Ibrahim (Cikalong), Abah Khohir ( Cimande), bahkan mendiang guru besar
Merpati Putih yakni Mas Poeng juga demikian. Mas Poeng bahkan kemana-mana
(pada saat itu) membawa rantai sebagai senjata dan sering berkelahi di jalanan
hingga ibundanya malu anaknya mendapat julukan "Cakil" (kisah ini berdasarkan
penuturan mas Suprapto). Khusus untuk pembahasan mengenai Silat tradisional
akan saya ulas secara terpisah pada Bagian 4 yang akan datang.
Pertandingan NHB juga dilakukan Pendekar Silat jaman itu. H. Ibrahim
menciptakan Cikalong setelah kalah dari Bang Madi dan akhirnya berguru dengan
Bang Madi. Abah Khoir pun dikenal pernah mengalahkan Pendekar Kungfu
dengan selendangnya. Sabeni tak terkalahkan melawan jago-jago dari India, China
dan Jepang di atas ring di Prinsen Park pada masa penjajahan dulu. Pitung begitu

"turun gunung" banyak melawan jago-jago tuan tanah Belanda saat itu untuk
membela rakyat kecil.
Sekarang ini tidak ada lagi pola pelatihan "turun gunung" seperti ini sehingga
banyak pesilat yang tidak memiliki ilmu beladiri yang battle tested. Jadi saya rasa
perlu ada pola pelatihan pengganti dari metode latihan "turun gunung" yang dulu
ada dalam pola pelatihan Pencak Silat untuk mempertahankan essensi ilmu
beladiri yang ada dalam Pencak Silat.
Bicara Merpati Putih, tentu saja kita sedang bicara dengan sebuah seni beladiri.
Dan di dalam sebuah seni beladiri jelas mesti ada pola pelatihan Style dan
Strategy bertarung yang dimilikinya. Saya lebih membayangkan suatu perubahan
pola pelatihan seperti yang dilakukan Jigoro Kano dengan Kodokan Judo nya
yang mengubah pola pelatihan Traditional Jiu Jit Su agar lebih fighting oriented.
Yang saya pikirkan adalah yang seperti dilakukan Jigoro Kano yaitu suatu metode
latihan pengganti metode pelatihan "Turun Gunung" pada Pencak Silat tempo
dulu.
Saya tidak ingin membayangkan ilmu tingkat tinggi seperti Pasir Besi, Lebur
Sekethi, Guntur Geni, Ranutirto, Bayu Seto, dll, yang mungkin sangat berbahaya.
Yang ada dalam pikiran saya adalah apakah dengan pola latihan teknik dan
gerakan yang MP sekarang lakukan sudah memberi kemampuan beladiri yang
cukup bagi praktisi MP untuk "Turun Gunung" ?
Misalnya apakah praktisi MP setingkat Balik 1 dan 2 memiliki kemampuan yang
cukup untuk menghadapi praktisi ground fighting seperti BJJ yang memiliki masa
pelatihan yang sama ? Atau masih dirasa perlu diadakan perubahan pola latihan
yang lebih fighting oriented agar praktisi MP lebih siap menghadapi praktisi
beladiri lain seperti BJJ yang memiliki masa pelatihan yang sama. Saya sengaja
mengambil sample Tingkat Balik di MP karna dengan masa pelatihan 3-4 tahun
pada beladiri lain mungkin sudah mencapai Tingkatan Sabuk Hitam dan dianggap
memiliki kemampuan beladiri yang cukup.

Jadi fokus saya masih dalam tataran teknik dan jurus pertarungan dasar dan belum
memasuki penggunaan teknik getaran tingkat tinggi. Misalnya untuk menghadapi
take down dari petarung ground fighting, wrestling memiliki teknik sprawl, muay
thai memiliki teknik clinch and knee attack sedang Xinyi memiliki jurus dengan
hantaman kepala, bahu, siku dll untuk menggoyahkan grapling lawan. Bagaimana
dengan MP untuk menghadapi situasi pertarungan yang sama?
Jika Style bertarung yang dipilih MP memang ingin mengandalkan "getaran"
seperti Xinyi menggunakan Fa Jin nya ketika menghadapi Petarung Ground
Fighting. Maka setidaknya MP harus memiliki jurus pukulan "getaran" jarak
dekat, misalnya menggunakan siku, kepala, bahu, pinggul dll yang mampu
menggoyahkan grapling lawan sehingga tidak bisa dijatuhkan dan ditangkap
lawannya.
Dan tentu harus ada pola pelatihan untuk menyatukan latihan jurus dan getaran
menjadi satu kesatuan seperti Latihan Xinyi yang menyatukan antara latihan jurus
dan power Fa Jin nya menjadi satu kesatuan. Latihan Randori (Tanding) MP
tentunya perlu difokuskan untuk Style bertarung yang mengandalkan power
seperti itu yang tujuannya tentu saja agar bisa dilihat bahwa jurus tsb memang
efektif digunakan dalam pertarungan sesungguhnya.
Tetapi jika Style bertarung yang dipilih MP lebih mengandalkan kecepatan hit and
run tanpa perlu selalu menggunakan "getaran" untuk menghindari grappling lawan
tentunya perlu pola pelatihan untuk meningkatkan kecepatan pukulan dan
tendangan ataupun footwork praktisi MP. Begitu juga Latihan Randori (Tanding)
MP pun harus lebih fokus kepada Style bertarung yang mengandalkan kecepatan
bukan power.
Lain halnya jika Style bertarung MP lebih memilih strategy memanfaatkan tenaga
lawan, mungkin pola latihan yang digunakan lebih menekankan pola latihan
kepekaan membaca aliran tenaga lawan seperti metode pushing hand pada Taichi

ataupun Tempelan ala Cikalong. Dan Latihan Randori (Tanding) MP pun harus
lebih fokus ke Style bertarung yang memanfaatkan Tenaga Lawan.
Style bertarung MP ini akan menentukan pola pelatihan apa yang sebaiknya
diterapkan dalam kurikulum MP. Apakah pelatih memilih Style bertarung seperti
Style Xinyi yang menggunakan Fa Jin (ledakan tenaga) berdasarkan rangkaian
mekanika otot sebagai satu kesatuan (Whole Body Movement) ataukah pola
latihan yang lebih memilih Style bertarung ala Taijiquan (TaiChi) ataupun ala
Cikalong yang lebih memanfaatkan Tenaga Lawan?
Jika ingin memaksimalkan "getaran" maka Style bertarung agresif seperti
Xinyiquan jauh lebih cocok. Tetapi jika ingin menjangkau semua kalangan tidak
hanya praktisi tipe petarung tetapi juga wanita dan juga non petarung mungkin
Style TaiChi dan Cikalong yang lebih halus bisa dipertimbangkan. Namun
sayangnya saya tidak pernah melihat pola latihan seperti pushing hand (TaiChi)
atau Tempelan (Cikalong) untuk melatih kepekaan membaca aliran tenaga lawan
dilakukan di MP. Justru latihan tata gerak + nafas ala Xinyi yang dilakukan di MP.
Disini saya menyimpulkan, memang nampaknya belum ada kesatuan paham
tentang Style bertarung ala MP.
Sekali lagi saya belum bicara tentang Teknik Getaran Tingkat Tinggi yang
berbahaya yang mungkin memang sebaiknya disimpan untuk orang-orang terpilih
dan berjodoh. Saya baru bicara dalam tataran "kulit" seperti yang dilakukan oleh
Jigoro Kano dimana ia mengubah pola pelatihan Jiu Jit Su dengan Kodokan Judo
nya dari yang semula berbasis Jurus (Kata) menjadi berbasis Tanding (Randori).
Bagi orang Indonesia yang memiliki keterikatan emosi dengan MP dan Pencak
Silat mungkin tidak masalah karna Pencak Silat mungkin sudah menjadi way of
life tetapi ini akan menjadi masalah bagi orang non Indonesia seperti di US.
Bahkan kalau saya melihat pola latihan MP di US sana melalui MP USA terlihat
jelas bahwa mereka menggunakan pendekatan "mengalir" ala TaiChi atau ala

Cikalong, bukan pendekatan "jger.. blegur... bledag" ala Xinyi spt yang
kebanyakan di Indonesia lakukan.
Bahkan kalau berdasarkan pembagian menurut kaidah Isometric dan Plyometric
saja MP masih perlu dipikirkan apakah MP berdasarkan "Whole Body Movement"
ataukah "Sectional Power"? Atau apakah MP itu Neijia (olah dalam) ataukah
Waijia (olah luar)? Sebab kalau prinsip-prinsip mendasar seperti ini saja belum
dipahami benar, bagaimana mungkin kita akan bicara mengenai pengembangan
dan kemajuan? Ini akan saya bahas lebih intensif di Bagian 4.
Mengutip ucapan dari Syekh Ibnul Qoyyim, "Barangsiapa yang tidak
mementingkan kemajuan maka dia akan tertinggal dan dia tidak merasa."
(bersambung)
PEMBAHARUAN, KAIDAH LAMA DENGAN PENDEKATAN BARU
Saya selip dengan satu selingan sebelum melanjutkan pembahasan mengenai
Isometri Exercise dan Plyometric Exercise. Ini hanya sekedar untuk menyegarkan
kembali ingatan dan bahwa memang istilah "history repeats itself" (sejarah itu
berulang) sebenarnya ya ada benarnya. Mari kita mulai.
Dalam sejarah Merpati Putih, ketika awal mula guru besar mas Poeng hijrah ke
Jakarta. Alkisah pada saat itu sedang ada tantangan dari ThaiBoxing mengenai
pertandingan beladiri dimana penantang saat itu terkesan sangat merendahkan
beladiri lokal (silat). Mas Poeng muda saat itu merasa "terbakar". Harga dirinya
sebagai seorang anak bangsa sekaligus pesilat terusik. Tantangan itupun dilayani
mas Poeng. Lokasi tantangan ada di Senayan. Mas Poeng mengatakan dengan
sangat lantang bahwa, "Saya Poeng dari Merpati Putih, akan menerima tantangan
Anda!". Namun saat itu sang penantang yang dari Thai Boxing segera
"diamankan" oleh Garnisun dibawah pimpinan pak Eddy M Nalapraya. Tidak
terima penantanganya menghindar, mas Poeng mengejar. Namun mas Poeng
dihalang-halangi oleh banyak pasukan sehingga geraknya terbatas. Akhirnya sang

penantang kembali ke Thailand. Sementara mas Poeng masih di Jakarta. Pak Eddy
M Nalapraya saat itu segera kembali ke Senayan dan bertemu mas Poeng.
Terjadilah

dialog

antara

keduanya

yang

intinya

adalah

Mas

Poeng

mempertanyakan kenapa sang penantang malah diamankan? Padahal ia ingin


turun tangan mencoba seperti apa kehebatan beladiri dari negeri 1000 gajah itu.
Dijawab oleh pak Eddy M Nalapraya bahwa saat itu hanya untuk kepentingan
marketing saja dan bukan sungguhan. Namun mas Poeng yang rasa
nasionalismenya terusik tidak terima dengan hal itu. Kisah ini bukan karangan,
namun nyata seperti yang dituturkan oleh mas Suprapto dan beberapa saya tanya
ke pak Eddy M Nalapraya sendiri. Memang ada sedikit redaksi yang saya tambah,
namun tidak mengurangi substansi dari kisah tersebut.
Nun jauh disana, dalam buku mengenai Yi Quan yang menceritakan perjalanan
hidup dari Wang Xiangzhai, Yao Zongxun (murid utama Master Wang), dan juga
si Kembar Yao (Dua Anak Kembar Yao Zongxun) bagaimana perjuangan Master
Wang dan murid turunannya mempertahankan nama baik CMA (Chinesse Martial
Arts) yang direndahkan praktisi beladiri asing yang mulai masuk China kala itu.
Pada saat itu mereka mempunyai ambisi menjadikan Yi Quan sebagai beladiri
ketiga yang dikenal dunia barat setelah Judo dan Jiu Jit Su. Hanya sayangnya
perkembangannya terhambat dengan adanya Perang Dunia ke-2, Perang
Nasionalis Komunis dan juga Revolusi Budaya di China.
Dan Uniknya Yi Quan ini dikenal dunia barat justru lebih atas jasa Kenichi Sawai
dengan Taikiken-nya. Master Sawai berkawan dekat dengan Mas Oyama Pendiri
Karate Kyokushin. Banyak murid Kyokushin yang akhirnya berlatih Taikiken ini.
Popularitas Kyokushin Karate di dunia beladiri internasional turut mempercepat
dikenalnya Taikiken oleh praktisi beladiri dunia. Dari sinilah dunia barat
mengenal Taikiken adalah turunan dari Yi Quan (dan Yi Quan pun memiliki
kekerabatan dengan Xing Yi Quan).

Master Wang termasuk salah satu tokoh pembaharuan pelatihan CMA. Banyak
kritik Master Wang terhadap pola latihan dan cara pikir para praktisi CMA pada
saat itu. Dalam salah satu wawancaranya dengan Koran Beijing bernama Shibao,
Wang Xiangzhai pernah mengatakan:
"Martial Art in China is in situation of chaos. People don't know which path they
should follow. Generally we can say, that essence is neglected and only what
superficial is stressed. Japanese Judo and European Boxing, although they are not
perfect, lacking the unified force, they have advantages. If you compare typical
Martial Artists of our country with them, you will see that we are far behind. It's
such a shame ! We must put old teaching in order, improve them and develop. If
we don't do this, nobody will do it for us. Although I can not do much myself. I'm
calling everybody to work together. This the goal of my criticism"
(Beladiri di China berada pada situasi yang tidak menentu. Banyak orang tidak
tahu jalur mana yang harus mereka ikuti. Secara umum bisa dikatakan bahwa inti
dari beladirinya diabaikan sementara hal-hal yang 'klenik' ditekankan. Judo
Jepang dan Tinju Eropa, meskipun mereka tidaklah sempurna dan tidak punya
pinsip penyatuan tenaga namun mereka memiliki keunggulan. Jika Anda
membandingkan beladiri khas negara kita dengan mereka maka Anda akan
melihat bahwa kita jauh dibelakang mereka. Ini sungguh sangat memalukan! Kita
harus meletakkan teknik pengajaran kuno di dalam sebuah rangka baru,
meningkatkan kemampuannya

dan mengembangkannya.

Jika kita tidak

melakukan ini, maka tidak akan ada seorangpun yang akan melakukannya untuk
kita kelak. Meskipun saya belum dapat berbuat banyak kepada diri saya sendiri.
Saya mengajak siapapun untuk bekerja bersama. Ini adalah tujuan dari kritik saya)
Bukankah situasi di Indonesia sekarang ini sama seperti keadaan China pada masa
hidup Wang Xiangzhai? Esensi beladiri (Pencak Silat) mulai dilupakan sedang hal
yang superfisial (ajaib/'klenik') yang lebih ditonjolkan. Derasnya MMA dan BJJ
masuk ke Indonesia hampir tidak berbeda dengan masa itu di China.

Perbedaannya adalah pada saat itu ada seorang Master beladiri China seperti
Wang Xiangzhai yang melihat permasalahan ini. Derasnya masuk ilmu beladiri
luar seperti Judo dari Jepang dan Tinju dari Eropa membuat Master Wang mulai
melihat perbedaan antara beladiri asing dengan beladiri China yang ada. Judo dan
Boxing di mata Master Wang tetap tidak sempurna tetapi Master Wang juga
melihat pola pelatihan mereka jauh lebih efektif dibanding pola pelatihan CMA.
Bisa dilihat Judo dan Tinju jauh lebih bisa mempersiapkan praktisinya dengan
ilmu beladiri yang efektif.
"If you compare typical Martial Artists of our country with them, you will see that
we

are

far

behind.

It's

such

shame!"

(Jika Anda membandingkan beladiri kita dengan mereka, maka Anda akan melihat
bahwa kita jauh dibelakang mereka. Ini sungguh sangat memalukan!)
Pernahkah para Sesepuh Pencak Silat kita melihat permasalahan yang dihadapi
dunia Pencak Silat kita seperti Wang Xiangzhai? Apakah ada Sesepuh Silat yang
melihat secara umum kualitas Pesilat kita jauh di bawah praktisi beladiri asing
lain?
Bahkan Master Wang termasuk salah satu Tokoh CMA yang berdiri di depan
menghadapi tantangan para ahli beladiri luar yang memandang rendah CMA.
Pada saat itu banyak sekali ahli beladiri luar yang memandang rendah CMA dan
menganggap CMA tidak efektif digunakan dalam pertarungan sesungguhnya.
Sama seperti keadaan sekarang ini di Indonesia bukan? Banyak sekali praktisi
MMA dan BJJ yang memandang rendah Pencak Silat dan mereka menantang
praktisi Silat untuk bertarung. Banyak video di Youtube yang memperlihatkan
praktisi Silat dipermalukan. Tapi pernahkah ada Tokoh Dunia Persilatan kita yang
maju menjawab tantangan mereka dan membuktikan bahwa Pencak Silat adalah
Ilmu Beladiri yang efektif digunakan dalam pertarungan seperti yang dilakukan
Wang Xiangzhai?

Ya, memang kisah heroik mas Poeng dengan penantang dari Thailand kemudian
diulang oleh mas Marsyel Ririhenna (MP Jakarta Selatan) ketika menjawab
tantangan dari BJJ di arena oktagon Dharmawangsa Square dengan hasil
kemenangan telak MP terhadap BJJ yang kemudian membuat MP merasa perlu
membentuk divisi khusus MMA dan disahkan di Munas terakhir di Padepokan
oleh mas Poeng. Kita bersyukur akan itu. Namun pada perkembangannya, MMA
MP (yang disebut dengan MP Street Fighter) kurang berjalan sebagaimana
mestinya. Saya pribadi mengikuti perkembangan itu karena kebetulan saya pernah
terlibat didalamnya walau sebentar. Mulai dari konsep USMP (Urban Survival
Merpati Putih) yang latihan di FX Plaza Senayan (lokasi yang sama dengan
kejadian Mas Poeng menjawab tantangan Thai Boxing), hingga kemudian
presentasi di depan Guru Besar dan Pewaris di Prapanca Jakarta Selatan, hingga
kemudian disahkan di Munas dan dijadikan eksebisi pada saat kejuaraan dunia
Lokawulung di Bandung. USMP adalah cikal bakal dari MMA MP yang sekarang
dinamai MP Street Fighter dengan pusat latihan di 'dojo' milik mas Chandra MP
jakarta selatan di Pondok Pinang, Jaksel.
Namun tidak berjalan sebagaimana mestinya MMA MP ini dalam analisa saya
adalah karena belum dipahaminya secara utuh prinsip-prinsip dasar seperti yang
saya jelaskan pada Bagian 3 mengenai Isometric dan Plyometric exercise ini.
Apakah MMA MP ingin memulai dari Whole Body Movement ataukah Sectional
Power? Apakah ingin bergaya ala Xinyi, ala Cikalong, atau bagaimana. Ini mesti
didefinisikan dulu di awal sehingga nantinya rumusan latihannya akan sangat
mudah dibuat dan jelas. Kalau prinsip dasar ini belum disepakati dan dipahami
bersama, saya yakin metode latihannya akan menjadi 'gado-gado' seperti halnya
MMA yang umum saat ini. Memasukkan sprawl, clinch, knee attack, ground
fighting, locking, dll. Sementara teknik-teknik itu tidak dikenal dalam
perbendaharaan kaidah keilmuan MP. Saya salut dengan semangat dan kegigihan
tim mas Marsyel cs. Sayapun kalau tanding belum tentu bisa mengalahkan beliau.
Namun yang diperlukan sebenarnya adalah bekerja sama, persis seperti ucapan
Wang Xiangzhai dimana ia mengajak siapapun untuk bahu membahu

merumuskan agar teknik tua ini bisa adaptable, peka zaman, dan terus menerus
maju dan berkembang.
Kita kembali kepada kisah Wang Xianghai.
Ada beberapa contoh pertarungan menarik yang dilakukan Wang Xiangzhai untuk
menunjukan CMA adalah ilmu beladiri yang efektif.
Seorang Juara Dunia Tinju kelas Berat Ringan sekaligus Juara Olimpiade yang
berasal dari Hungaria bernama Imre mengajar Tinju di Shanghai Youth Union.
Dia sudah beberapa kali bertarung dengan ahli beladiri China dan selalu
memenangkan pertarungannya. Imre kemudian selalu sesumbar dan mengatakan
CMA tidak ada kegunaan praktis dalam pertarungan. Mendengar ini Master Wang
datang menantang Imre. Dan Imre pun dikalahkan dengan mudah. Mirip dengan
kisah mas Marsyel MPJS yang mengalahkan praktisi BJJ bukan? Ya, history
repeats itself. smile emotikon
Setelah Kenichi Sawai (master Judo) dikalahkan Wang Xiangzhai (master Yi
Quan), Sawai kemudian membawa seseorang bernama Hino yang merupakan
Instruktur Judo dari Militer Jepang yang ada di Shanghai untuk bertarung dengan
Master Wang. Menurut cerita pada saat itu Hino membawa seekor ayam jago
untuk menangkal ilmu hitam dari Wang Xiangzhai. Mendengar bagaimana
kekalahan Kenichi Sawai yang "aneh", menurut Hino itu pasti disebabkan ilmu
hitam. Kemudian Hino menyembelih ayam jago tersebut dan membuat lingkaran
dari darah ayam Jago. Hino menantang Master Wang bertarung di dalam
lingkaran.
Master Wang mengatakan dia tidak bisa ilmu hitam tapi jika Hino menantang dia
untuk bertarung dalam lingkaran maka Master Wang akan menerima tantangan
ini. Begitu pertarungan dimulai Hino segera memegang tangan Master Wang dan
berusaha membantingnya. Tapi hanya dengan menghentakan pergelangan
tangannya saja, Hino segera terlempar jauh keluar arena pertarungan. Hino

menghantam keras pohon yang ada di dekat situ dan terjatuh dalam keadaan
pingsan.
Walaupun Master Wang hanya menghentakan pergelangan tangannya saja tapi
dengan prinsip "Whole Body Movement" bisa menghasilkan tenaga yang besar.
Jadi bisa dibayangkan bagaimana hasilnya jika seorang sudah mampu menerapkan
prinsip ini dengan benar.
Ichiro Hatta seorang Judo Master lainnya yang pada tahun 1929 ikut
mempromosikan Judo ke USA, pada tahun 1932 mewakili Jepang dalam nomor
Wrestling di Olimpiade, tahun 1935 melatih Team Jepang dalam Olimpiade
Berlin. Ichiro Hatta adalah pemegang Dan 8 Judo, Dan 8 Aikido dan Dan 7
Kendo.
Kebetulan Ichiro Hatta mendengar pernyataan Wang Xiangzhai di koran Shibao
yang saya tulis di atas yang mengatakan Judo dan Tinju memang baik tetapi tidak
mengenal konsep Unified Force (Whole Body Movement). Hino kemudian
menulis surat undangan kepada Wang Xiangzhai dan meminta untuk bertemu di
suatu restauran di Shanghai. Ketika bertemu, Ichiro Hatta sangat terkejut melihat
bahwa Master Wang ternyata seorang yang berperawakan kecil berbeda jauh
dengan dirinya yang tinggi besar. Pada saat itu Ichiro Hatta secara langsung
menantang Master Wang dan Master Wang menerimanya. Ichiro Hatta
mengatakan kalau pertarungan bisa langsung dilakukan di dalam ruangan
restauran yang sudah disewanya tersebut.
Pertarungan dimulai dan Ichiro Hatta dengan cepat berusaha memegang Master
Wang untuk melakukan bantingan. Tapi dengan cepat Master Wang menghindar
ke belakang Ichiro Hatta dan mendorongnya jatuh. Ichiro Hatta langsung berdiri
dan menyerang Wang kembali, kali ini Master Wang menghindar sambil memukul
ke arah tulang iga Ichiro Hatta. Ichiro Hatta masih sempat memblock pukulan
Master Wang, akan tetapi yang terjadi adalah ketika tangan Ichiro Hatta
menyentuh tangan Master Wang yang melakukan pukulan ternyata seperti ada

tenaga yang berbalik menyerang hingga Ichiro Hatta pun terlempar oleh tenaga
dorongan pukulan Master Wang dan jatuh menimpa meja yang ada di ruangan
tersebut.
Ichiro Hatta belum menyerah, begitu bangkit dengan cepat ia berusaha mengambil
kaki Master Wang untuk melakukan Take Down (jatuhan ground fighting). Kali
ini Master Wang sama sekali tidak menghindar bahkan mengangkat salah kakinya
agar mudah diambil Ichiro Hatta. Ketika ia berhasil memegang kaki Master Wang
dengan cepat Master Wang mendorong kakinya ke arah perut Ichiro Hatta dan
lagi-lagi Ichiro Hatta pun terdorong jatuh kembali.
Setelah beberapa kali gagal, Ichiro Hatta mengatakan bagaimana jika kali ini dia
memegang ke dua pergelangan tanga Master Wang. Master Wang pun
membiarkan Ichiro Hatta memegang ke dua pergelangan tangannya. Dan ketika
Ichiro Hatta berusaha membanting Master Wang, dengan cepat Master Wang
mengerahkan tenaga dengan prinsip "Whole Body Movement" nya dan melempar
balik Ichiro Hatta membentur tembok hingga ruangan tersebut bergetar.
Wang Xiangzhai adalah tokoh CMA yang prihatin dengan keadaan CMA yang
dianggap rendah oleh beladiri asing. Dan Master Wang berdiri di garis depan
untuk mempertahankan nama CMA di mata Dunia. Walaupun begitu Master Wang
juga tidak lupa melontarkan kritikan pedas pada dunia CMA.
"We must put old teaching in order, improve them and develop. If we don't do
this, nobody will do it for us. Although I can not do much myself. I'm calling
everybody to work together. This the goal of my criticism"
(Kita harus meletakkan teknik pengajaran kuno di dalam sebuah rangka baru,
meningkatkan kemampuannya

dan mengembangkannya.

Jika kita tidak

melakukan ini, maka tidak akan ada seorangpun yang akan melakukannya untuk
kita kelak. Meskipun saya belum dapat berbuat banyak kepada diri saya sendiri.
Saya mengajak siapapun untuk bekerja bersama. Ini adalah tujuan dari kritik saya)

Akankah ada Tokoh Dunia Pencak Silat di Indonesia yang akan maju ke depan
dan mengatakan hal yang sama untuk menghadapi derasnya MMA dan
membuktikan Pencak Silat adalah Beladiri yang Efektif sejajar dengan Beladiri
lain di dunia? Bersyukurlah, Merpati Putih memulai itu secara resmi dengan
MMA MP (MP Street Fighter). Meskipun belum berjalan maksimal, namun paling
tidak sudah ada 'pentolan' silat yang siap maju manakala kasus silat dianggap
rendah oleh beladiri asing mengemuka kembali. Memang ada silat lain, namun
sifatnya hanya personal. Atau bisa saja ada yang resmi yang saya belum tahu.
Nanti saya cari info lagi untuk lebih detailnya. Sejauh ini, baru MP yang secara
nyata dan terang-terangan membentuk divisi khusus MMA di dalam internal
struktural perguruannya.
Pada tahun 1944 dalam buku karangan Bao Jia Cong yang berjudul "Yiquan cable
theory: Yiquan ( Dachengquan ) Advanced awakened with point(Chinese
Edition)" ada beberapa kritik Wang Xiangzhai yang diajukan pada CMA. Saya
akan ambil beberapa.
"All greatest sciences and arts are simple in form, and rich in content. And what is
complicated in form usually hasn't got much essence. This is true not only in
martial art. Think About it"
(Semua pengetahuan dan seni yang besar sesungguhnya sederhana dalam bentuk
(jurus), namun kaya dalam isi. Dan apa-apa yang nampak rumit dalam bentuk
(jurus) biasanya tidaklah punya banyak isi. Ini adalah kenyataan tidak hanya di
dalam beladiri. Pikirkanlah.)
Kritik ini ditujukan pada CMA yang terlalu banyak menekankan Jurus yang
terlalu rumit sehingga praktisinya kehilangan esensi beladiri itu sendiri yaitu
efektifitas dalam pertarungan. Semua ilmu dan seni yang hebat itu sangat simple
dalam bentuk tetapi sangat kaya akan isinya.
"As for jumping over walls and roofs, it is all fantasies from novels, you can only
smile when you hear about it. As for those stories about crushing big rocks and

resisting cuts of a sabre, those are the worst absurd inventions. There is no point
discussing something like this "
(Seperti misalnya melompat melampaui pagar dan tembok yang tinggi, itu semua
khayalan dari novel, dan Anda dapat tersenyum ketika mendengar mengenainya.
Termasuk misalnya kisah mengenai penghancuran batu besar dan menahan
tebasan golok, semua itu merupakan temuan yang sangat absurd. Tidak ada
satupun titik diskusi mengenainya.)
Lihatlah, betapa kritikan pedas dilontarkan oleh Wang Xiangzhai mengenai
bagaimana pola pelatihan Kungfu China yang kebanyakan bersifat "super human"
atau berusaha membuat jadi manusia super dan mulai melupakan esensi bahwa
tubuh manusia tersusun atas hal-hal yang nyata (otot, darah, daging, dsb).
Tentunya kita tidak serta merta memvonis bahwa Wang Xiangzhai tidak
memahami adanya Chi dan berbagai teknik pelatihan Chi. Namun kritiknya
ditujukan bagi siapapun yang berpikiran dan berpandangan terbuka untuk mari
sama-sama berkumpul dan mengembangkan konsep baru dari metode lama agar
bisa adaptable dan fighting oriented berdasarkan kaidah-kaidah yang 'membumi'.
Bukankah keadaan yang sama terjadi pada dunia Pencak Silat kita? Berapa
banyak perguruan beladiri yang menjual fantasy? Kemampuan "menakjubkan"
ilmu kebal, membakar kertas dengan tenaga dalam, berjalan di atas air, rogoh
sukmo, meleburkan besi, membolongi batu dengan jari, membakar manusia,
terbang melayang, dsb? Pertanyaannya adalah jika memang kemampuan seperti
itu ada, apakah memang efektif digunakan dalam pertarungan? Jika ya ... buktikan
saja, jangan hanya menjual khayalan.
Hal seperti ini yang disebut superfisial bagi Master Wang dan bukan esensi dari
ilmu beladiri itu sendiri.
Kadang saya sendiri sering berpikir Pencak Silat itu sebenarnya Martial Art
(Dunia Beladiri) atau Witchcraft (Dunia Sihir). Pencak Silat itu dunianya para

Knights atau dunianya para Sorcerers kalau kita pakai terminology film The Lords
of The Rings.
Master Wang dengan tegas menolak fantasy seperti ini. Bukankah kita sekarang
ini memerlukan Tokoh Pencak Silat yang membumi seperti Wang Xiangzhai ini?
Ada satu pertarungan menarik dari Master Wang yang mungkin bisa kita tarik
pelajaran di sana. Pada tahun 1940-an Master Wang mengajarkan Zhan Zhuang
secara terbuka di suatu taman di kota Beijing. Banyak orang yang lalu lalang di
sana tertarik dan mengikuti pelatihan Zhan Zhuang ini. Wang Xiangzhai kala itu
memang lebih menitikberatkan pelatihan Kesehatan untuk orang awam. Pelatihan
beladiri sepenuhnya diserahkan kepada Yao Zhongxun muridnya.
Pada pelatihan kesehatan ini lebih dititikberatkan pada Zhan Zhuang dan beberapa
teknik dasar beladiri seperti Tui Shou " Pushing Hand " (Usikan ala Cikalong)
juga dilatih di sana. Tetapi sama sekali tidak diajarkan sparring untuk pertarungan.
Jika ada yang tertarik dianjurkan pergi ke Yao Zhongxun untuk memperlajari
lebih dalam lagi.
Pada saat itu seorang lelaki berambut putih yang tampak sudah cukup tua
mendekati Master Wang dan menawarkan untuk "tukar ilmu", tidak masalah siapa
yang menang. Walaupun sudah tidak muda lagi orang tersebut tampak kuat dan
percaya diri dan anehnya walaupun udara saat itu cukup hangat tetapi orang
tersebut menggunakan sarung tangan kulit yang biasa digunakan pada musim
dingin.
Akhirnya Master Wang memenuhi permintaan orang tersebut untuk bertarung.
Dengan cepat orang tersebut mendekat dan menyerang dengan telapak tangan
membentuk cakar elang. Master Wang menghindar dan mendorong orang tersebut
dari belakang. Hingga orang tersebut offbalance dan terdorong menghantam
pohon. Kali ini orang tersebut menyerang kembali dengan hebat menggunakan
cakar elangnya ke arah wajah Master Wang. Karena orang tersebut menyerang ke
arah wajah - setelah menghindari beberapa kali maka Master Wang kemudian

menangkis dari arah bawah sambil mengerahkan tenaga dengan prinsip "Whole
Body Movement" nya.
Orang tersebut kemudian terlempar ke atas akibat tangkisan tangan Master Wang
ini, dan ketika orang tersebut terbanting ke tanah Master Wang dengan cepat
mendekati untuk menolong orang tersebut. Orang tua itu menolak bantuan Master
Wang, kemudian dia melepas sarung tangannya dan terlihatlah persendian jari
tangannya yang rusak penuh dengan kapalan sangat tebal. Ternyata orang itu
adalah Wang 'Si Cakar Besi'. Orang tersebut mulai menangis dan mengatakan apa
yang selama ini dia pelajari seumur hidupnya ternyata tidak ada gunanya.
Kembali di sini esensi ilmu beladiri adalah efektifitas dalam pertarungan. Dalam
dunia beladiri pada akhirnya efektifitas dalam pertarunganlah yang dituju - jika
latihan puluhan tahun tidak mengarah kepada efektifitas dalam pertarungan
bukankah itu suatu kesia-siaan saja?
Ada sebuah kisah ketika seorang anak muda berdiri bersama seorang tua di sisi
sebuah telaga. Keduanya ingin menyebrangi sungai. Kemudian datanglah seorang
tua penarik rakit. Orang tua itu kemudian menaiki rakit dan membayar 1 sen
kepada pemilik rakit. Sementara orang muda segera mengerahkan tenaga
dalamnya dan berjalan diatas air. Sesampainya di ujung telaga, terjadi percakapan
singkat antara orang muda dan orang tua tadi. Anak muda, berapa lama waktu kau
butuhkan untuk punya kemampuan seperti itu? Dijawab kalau ia sudah berlatih
bertahun-tahun dan dengan segenap pengorbanan agar bisa menguasai ilmu sakti
ini. Orang tua itu menjawab, akupun bisa melewati telaga itu hanya dengan 1 sen
saja.
Apa yang ingin saya tekankan, bukanlah kita menafikkan segala ilmu kesaktian
yang ada. Ilmu-ilmu macam Lembu Sekilan, Bayu Seto, Pasir Besi, dll, adalah
nyata adanya dan MP punya latihan untuk menuju kesana. Namun, seperti kritik
dari Wang Xiangzhai, apakah semua jenis kemampuan luar biasa itu berguna
dalam suatu pertarungan? Apakah bisa dibuat korelasinya dengan Sport Oriented,

atau Fighting Oriented, yang bersifat Battle Tested? Barangkali itu perlu
dipikirkan bersama. Kalaupun belum/tidak berjodoh dengan segala jenis ilmu
seperti itu, tidak usah berkecil hati. Pelajari saja apa yang dimiliki, kuasai benar
dari teori hingga aplikasinya, lalu amalkan. Maka ini menjadi sebaik-baik ilmu.
Mirip dengan pendekatan mendiang guru besar Mas Budisantoso yang
menggunakan pendekatan pragmatis dalam mengamalkan keilmuan yang bisa
disusun sebagai suatu materi dan dapat dilatihkan hampir kepada siapa saja.
Semoga bermanfaat.
NAFAS KERING MP DALAM KAJIAN SINGKAT ATP DAN SERAT OTOT
Kaidah Tanah Jawa banyak memiliki ragam jenis beladiri dan tentu saja seni olah
nafas. Merpati Putih sebagai bagian dari salah satu beladiri tanah Jawa
mempunyai beragam jenis olah nafas. Salah satu yang ingin saya tulis adalah apa
yang disebut dengan Nafas Kering. Latihan nafas jenis ini konon akan
menghasilkan energi yang sangat besar dengan pola yang bersifat anaerobik
ekstrim.
Dalam ilmu Fisiologi Latihan (Exercise Physiology) dikenal ada yang disebut
dengan Extreme Hypoxic Training (EHT). Tujuan dari EHT adalah untuk
meningkatkan Lactate Treshold (LT) dari tubuh sehingga tubuh mampu
beradaptasi dalam suatu aktivitas anaerobik yang sangat tinggi. Latihan jenis ini
juga biasa disebut dengan Lactate Tolerance Training yang bertujuan membantu
tubuh untuk recovery lebih cepat dalam suatu aktivitas yang membutuhkan
kecepatan dan kekuatan.
Salah satu pelatih atletik kelas dunia yg menerapkan pola Latihan yg bersifat
Lactate Tolerance Training/Hypoxic Training adalah Luiz de Oliveira, yang
disebut dengan Hypoxic Drills. Oliviera melakukan drills sebagai berikut, atlet
diminta untuk menarik nafas dalam-dalam kemudian melakukan sprint sejauh 25
m dalam kondisi menahan nafas. Setelah mencapai finish, atlet tersebut
melakukan jogging kembali ke garis start dan kembali melakukan sprint sejauh 30

m dalam kondisi tahan nafas. Setelah finish, lalu jogging kembali ke garis start.
Latihan seperti ini dilakukan terus menerus dengan peningkatan interval 5m (35m,
40m, dst) hingga mencapai jarak 90 m. Ini adalah satu set latihan Hypoxic Drill
yg dirancang oleh Oliviera untuk para atletnya. Biasanya dilakukan 3 set Hypoxic
Drills seperti ini dalam satu sesi latihan. Semua itu bertujuan untuk meningkatkan
Lactate Treshold pada diri atlet.
Tentu saja walaupun Nafas Kering MP dalam Exercise Physiology bisa
dikategorikan sebagai Extreme Lactate Tolerance Training/Extreme Hypoxic
Training yg bertujuan meningkatkan Lactate Threshold praktisi MP sehingga bisa
mengoptimalkan kinerja Fast Twitch Fibers (Speed and Power) tapi efek samping
dari Hypoxic Training yang ekstrim ini tentunya perlu diteliti lebih jauh lagi. Hal
ini disebabkan bahwa pelatihan Hypoxic Training tidak pernah dilakukan dalam
kondisi anaerob ekstrim (nafas kering), semua tetap dilakukan dalam kondisi
menarik nafas penuh sebelum melakukan Hypoxic Training ini. Tentu perlu
diteliti lebih jauh apakah jika dilakukan Hypoxic Training dalam kondisi Nafas
Kering akan menimbulkan efek samping yang bersifat negatif pada tubuh.
Oliviera belum sampai pada tahap itu pendekatannya.
Kita juga bisa melihat Nafas Kering ini dengan pendekatan Muscle Fiber (serat
otot). Seperti kita ketahui Muscle Fiber terdiri dari beberapa tipe, yang biasa
dikenal sebagai Fast Twitch Fiber (Type I) dan Slow Twicth Fiber (Type II), Fast
Twitch Fiber sendiri dibagi 2 menjadi Type IIa dan Type IIb.
Slow Twitch Fiber berguna untuk aktifitas yang membutuhkan endurance, yaitu
aktifitas otot yg dilakukan dalam waktu lama. Aktifitas ini dikenal dengan nama
aktifitas Aerobic seperti misalnya lari marathon. Lari marathon yang
membutuhkan endurance tinggi lebih banyak menggunakan Slow Twitch Fiber ini
(Type I) ini. Sedang Fast Twitch Fibers (Type II) lebih banyak digunakan pada
aktifitas yang membutuhkan daya ledak tinggi (kecepatan dan power). Otot Type
II ini berkontraksi sangat cepat tetapi juga sangat cepat lelah yang diakibatkan
terakumulasi Lactate Acid (asam laktat) pada otot dalam aktifitas Anaerobic. Otot

Type IIa bisa bekerja dalam kondisi Aerobic dan Anaerobic, sedang otot Type IIb
lebih banyak bekerja dalam kondisi Anaerobic.
Kedua Type Otot ini, Fast Twicth Fibers dan Slow Twitch Fibers, tentunya
membutuhkan pola latihan yang berbeda. Slow Twitch Fibers (Endurance) lebih
membutuhkan latihan yg meningkatkan VO2max tubuh sedang Fast Twitch Fibers
(Speed and Power) lebih membutuhkan latihan yang meningkatkan Lactate
Threshold tubuh (Lactate Tolerance Training/Hypoxic Training).
Mengapa di MP, nafas kering (dianggap) dapat menghasilkan energi yang lebih
besar? Padahal secara biologi, produksi ATP pada kondisi tanpa oksigen itu lebih
sedikit dibandingkan kondisi dengan oksigen? Sebelum menjawabnya, mari kita
lihat penjelasan singkat menggunakan kaidah sistem respirasi berbasis teori ATP.
Sistem respirasi terbagi menjadi 2 yakni Respirasi Aerob dan Respirasi Anaerob.
Sistem respirasi Aerob, merupakan sistem pernafasan yang menggunakan oksigen
sebagai bahan utama dalam menghasilkan energi. Proses yang terjadi akan
melibatkan 3 (tiga) tahapan yakni Glikolisis, Siklus Krebs, dan Electron Transport
Chain (ETC). Tiap tahapan proses akan menghasilkan 2 ATP untuk glikolisis, 2
ATP untuk siklus Krebs, dan 34 ATP untuk Electron Transport Chain. Total akan
dihasilkan 38 ATP untuk setiap pemecahan 1 molekul Glukosa. Oksigen
diperlukan sebagai receptor electron pada saat proses ETC dan menghasilkan
produksi ATP terbanyak di tahap ini. Berikutnya, proses akan menghasilkan
karbon dioksida dan air serta sedikit panas. Sistem pernafasan jenis ini adalah
sistem yang menghasilkan pembentukan ATP terbanyak. Rantai reaksi kimia yang
dibentuk pada proses ini merupakan rantai yang panjang sehingga diperlukan
beberapa waktu tertentu agar proses Glikolisis menjadi ATP.
Sistem respirasi Anaerob, merupakan sistem pernafasan yang tidak menggunakan
oksigen dalam menghasilkan energi. Proses yang terjadi adalah Glikolisis menjadi
Lactate Acid (asam laktat). Sistem ini bisa dijelaskan menggunakan Siklus Cori.
Mula-mula Glikolisis terjadi pada Otot dan menghasilkan asam Piruvat dan asam

Laktat. Kemudian asam Laktat ini akan dikirimkan ke Liver untuk memproduksi
ulang Glukosa. 2 ATP akan dihasilkan dari proses Glikolisis pada otot dan 6 ATP
akan dihasilkan dari proses pembentukan Glukosa di Liver sehingga totalnya
terbentuk 8 ATP. Jauh lebih sedikit dibanding jumlah ATP yang dihasilkan pada
respirasi aerob sebanyak 38 ATP.
Secara teoritis, berdasarkan penelitian Astrand dkk tahun 1986 berjudul "Disposal
of Lactate during and After Strenuous Exercise in Humans" pada Journal of
Applied Physiology dijelaskan bahwa kondisi Anaerob akan membuat sel otot
menjadi bersifat asam. Normalnya pH pada sel otot adalah 7,1, namun respirasi
anaerob akan menurunkan pH sel otot menjadi 6,5. Penurunan kadar pH dari basa
ke asam pada sel otot ini menyebabkan gangguan pada otot. Hal itu akan
menstimulasi sistem syaraf untuk menghasilkan rasa sakit seperti terbakar.
Dijelaskan juga bahwa 65% asam laktat akan dikonversi menjadi karbon dioksida
dan air, 20% menjadi glikogen, 10% menjadi Protein, dan 5% menjadi glukosa.
Lebih lanjut lagi disebutkan bahwa penurunan derajat keasaman (pH) pada sel
otot akan berakibat menurunnya aktivitas Enzim. Otot yang terlalu bersifat asam
akan menyebabkan rasa sakit spt terbakar dan meningkatkan iritasi pada sistem
syaraf pusat. Seseorang dapat menjadi mual atau bahkan kehilangan kesadaran
apabila terjadi kondisi seperti ini terus menerus. Hal ini disebabkan membanjirnya
asam laktat pada aliran darah keseluruh darah sementara tubuh belum cukup
mampu untuk menurunkan derajat asam laktat pada aliran darah. Tubuh manusia
memiliki ambang batas kadar asam laktat yang disebut dengan Lactate Treshold
(LT) atau bisa juga disebut Aanerobic Treshold (AT). Normalnya sekitar 80-90%
dari Vital Oxigen Capacity Maximum (VO2Max).
Proses respirasi Anaerob menghasilkan rantai reaksi kimia yang lebih pendek dan
lebih singkat dibanding rantai reaksi kimia Aerob sehingga waktu untuk mengolah
ATP menjadi lebih cepat meski dalam jumlah yang lebih sedikit dibanding
respirasi Aerob.

Namun memang tubuh manusia tidak semata-mata didasarkan pada hitunghitungan jumlah ATP yang dihasilkan. Meski demikian, dapat terlihat jelas secara
hitungan teoritis bahwa respirasi anaerob sesungguhnya menghasilkan jumlah
ATP yang lebih sedikit dibanding respirasi aerob. Namun respirasi jenis ini
mempunyai kecepatan proses pemecahan ATP yang jauh lebih cepat dibanding
respirasi aerob.
Jika kedua hal tersebut dianalisa, yakni dari kajian Lactate Treshold, ATP, dan
Muscle Fiber, maka sesungguhnya tenaga besar ini terletak pada perbedaan jenis
serat otot yang digunakan pada proses Nafas Kering.
Seperti kita ketahui pernafasan MP dilakukan dgn kondisi pengejangan otot
sekeras mungkin pada saat melakukan postur tertentu. Dan ketika pernafasan MP
dilakukan dengan Nafas Kering dan dilakukan pengejangan otot sekeras mungkin
dalam kondisi sangat kekurangan oksigen, mau tidak mau pada saat pengejangan
ini tubuh hanya akan mengaktifkan serabut otot yang hanya mampu bekerja dalam
kondisi Anaerobic. Jenis Otot yg mampu bekerja dalam kondisi Anaerobic
hanyalah jenis Fast Twist Fibers (Type IIa dan Type IIb).
Khusus pada nafas kering jenis Muscle Fibers yg akan diaktifkan adalah Muscle
Fibers Type IIb. Jadi walaupun pada pernafasan kering ATP yg dihasilkan lebih
sedikit daripada pada kondisi Aerobic, tetapi pada Nafas Kering akan semakin
banyak Muscle Fibers Type IIb pada tubuh yang diaktifkan dalam pernafasan ini.
Semakin banyaknya Muscle Fibers IIb yang aktif inilah yg akhirnya menghasilkan
Power lebih besar pada suatu aktifitas yg membutuhkan daya ledak tinggi (Speed
and Power).
Jika pernafasan dilakukan dalam kondisi tahan nafas tetapi tidak dilakukan dalam
kondisi nafas kering maka tubuh masih bisa mengaktifkan Muscle Fiber Type IIa
dan Type IIb, jadi tidak semua Muscle Fibers Type IIb pada tubuh diaktifkan. Dan
jika dilakukan dalam kondisi nafas normal (Aerobic) tubuh hanya mengaktifkan
Muscle Fibers Type I dan Type IIa saja sedang Type IIb tidak akan menjadi akftif

dalam kondisi Aerobic ini. Muscle Fibers Type I ataupun Type IIa tidak
bertanggung jawab pada aktifitas yang membutuhkan Speed dan Power, tetapi
lebih bertanggung jawab pada aktifitas yg membutuhkan daya tahan (Endurance).
Sebaliknya, Muscle Fibers Type IIb ini sepenuhnya bertanggungjawab untuk
aktifitas yang membutuhkan Speed and Power.
Itulah sebabnya Nafas Kering dipercaya bisa menghasilkan Power lebih besar,
walaupun ATP yang dihasilkan pada Nafas Kering lebih sedikit dibanding dalam
kondisi Aerobic.
Jika dibaca tulisan diatas secara utuh, ada efek samping yang terjadi pada saat
dilakukannya Nafas Kering di tubuh manusia yakni berubahnya derajat keasaman
(pH) darah dari semula 7.1 menjadi 6.5, terjadinya rasa panas terbakar pada tubuh,
gangguan pada sistem syaraf pusat, dan gangguan pada enzim. Maka diperlukan
tambahan prosedur latihan apabila ingin melatih nafas ini yakni sebagai berikut:
1.
2.

Meminum
Memakan

air
buah

yang
atau

bersifat
makanan

basa
yang

(pH
memiliki

diatas
sifat

8)
basa

3. Memakan makanan yang memiliki manfaat memperbaiki fungsi enzim tubuh


Dengan cara seperti itu maka latihan Nafas Kering MP menjadi lebih aman dan
lebih bisa dipertanggungjawabkan dari sisi ilmu kesehatan.
Semoga bermanfaat.
Salam

hangat,

MG
ILMU KRAMADANGSA DAN MULAT SARIRA
Sebelum saya mengulas lebih jauh pada Bagian 4 mengenai sudut pandang saya
terhadap MP, maka kali ini saya rasa lebih dulu mesti saya hadirkan pengetahuan
yang sangat bagus berdasarkan ajaran dari Ki Ageng Suryomentaram dari Jogja.
Karena ini nanti ada korelasinya dengan Bagian 4 yang akan datang. Ki Ageng

Suryomentaram melahirkan banyak sekali ilmu-ilmu kebijaksanaan di tanah Jawa.


Tidak kurang dari 40-an pemahaman yang disebut "ilmu" lahir dari beliau.
Ajarannya dinamakan Suryomentaraman. Ilmu Mulat Sarira, Ilmu Kawruh Begja,
Ilmu Kramadangsa, dll, adalah beberapa yang dihasilkan dari pengembaraan diri
Ki Ageng. Pada artikel kali ini saya akan menulis mengenai Ilmu Kramadangsa
dan ilmu Mulat Salira. Ilmu ini berisi pemahaman mengenai Jiwa atau Kejiwaan.
Dalam bahasa modern disebut sebagai Psikologi. Jiwa yang dalam literatur
tasawuf dan psikologi umum terlihat begitu rumit serta 'njlimet', oleh Ki Ageng
disederhanakan hanya sebatas rasa. Karena rasalah daya yang mendorong semua
makhluk untuk beraktivitas. Meskipun karya Ki Ageng Suryomentaram ini nyaris
tanpa bumbu sastrawi dan jauh dari terminologi ilmiah, namun Kawruh Begja
yang beliau ajarkan tidak kalah adiluhungnya dengan yang diajarkan oleh para
filsuf dan pujangga termasyhur di dunia.
Dalam ilmu Kramadangsa diceritakan bahwa ada aktifitas yang sangat penting
untuk dilakukan manusia yakni studi mengenai diri sendiri untuk mendapatkan
pengetahuan mengenai diri sendiri. Lingkupnya adalah Jagad Alit (mikrokosmos).
Pengetahuan ini didasarkan pada konsep 'Sumarah' yang berarti pasrah atau
berserah. Menariknya, ajaran ini bukanlah ajaran rahasia atau yang dirahasiakan
tingkat tinggi namun merupakan ajaran yang terbuka untuk mendiskusikan
mengenai apa saja yang berhubungan dengan ajaran mereka. 'Pangawikan Pribadi'
atau mempelajari mengenai rasa di dalam diri sendiri bisa disamakan dengan
mempelajari manusia dan kemanusiaan.
Bahwa ketika kita bisa mempelajari rasa diri sendiri dan berhasil memahaminya
dengan tepat, otomatis kita akan bisa memahami manusia pada umumnya. Inti
ajarannya berada pada konsep SAIKI, NGENE, NENG KENE atau kalau saya
bahasa Indonesiakan menjadi SEKARANG, SEPERTI INI (APA ADANYA),
DISINI. Bagi Ki Ageng Suryomentaram, today atau hari ini adalah sesuatu yang
harus dilalui dan dinikmati sebagai sebuah karunia Tuhan. Ilmu bahagia itu akan
ketemu kalau meletakkan sesuatu apa adanya. Terlalu tinggi menaruh keinginan
atau harapan-harapan akan membuat hati tidak bahagia dan kosong. Dengan

demikian, alangkah eloknya jika pembelajaran 'pangawikan pribadi' dipelajari dari


sekarang, disini, serta penuh keberanian menghadapai segalanya apa adanya.
Ajaran beliau juga mengatakan bahwa di dalam setiap diri manusia terdapat
pencatat atau perekam yang merekam pelbagai keadaan dan peristiwa. Rekamanrekaman itu awalnya tersusun secara acak tapi kemudian terorganisasi sesuai
corak dan jenisnya. Pelbagai rekaman yang masih acak itulah yang kemudian
melahirkan rasa 'kramadangsa', yaitu rasa keakuan atau ego, yang kemudian
tumbuh sebagai pemikir yang mendominasi ruang rasa kita. Kramadangsa adalah
aku, maka ketika bertemu dengan istilah tersebut gantilah kata kramadangsa
dengan nama kita masing-masing. Jadi, ketika saya menulis dengan 'si
Kramadangsa' itu artinya 'si Agung' atau 'si Mirna' atau 'si Hasan' dan sebagainya.
Sepanjang waktu, aktifitas si Kramadangsa adalah memperhatikan, memikirkan,
menyeleksi, mengorganisasi, dan kemudian dengan senang hati menjadikan
rekaman favoritnya sebagai tuan atau majikan yang dihambanya dengan penuh
kerelaan. Bila beragam rasa yang muncul dari dalam diri kita bisa kita teliti
dengan tuntas, penghalang yang berupa anggapan benar itu pun akan runtuh.
Setelah hijab itu runtuh, kita pun leluasa menyaksikan kekeliruan rekamanrekaman kita tentang segala sesuatu. Dengan demikian, keakuan si Kramadangsa
(ego) yang sebelumnya selalu dominan pun tak lagi bertaji. Bersamaan dengan tak
lagi berdayanya rasa si Kramadangsa, lahirlah rasa Manusia Tanpa Ciri.
Manusia tanpa ciri, atau manusia yang tak lagi memerlukan ciri-ciri (atribut),
adalah manusia yang penglihatan mata hatinya tak lagi terpengaruh atau
terhalangi oleh pelbagai rekaman dan catatan-catatan yang memenuhi ruang
rasanya. Saat itu semua rekaman dan catatannya sudah tidak lagi memerlukan
perhatian pikirannya. Sebagai hasil dari 'pangawikan pribadi' ini, seharusnya jiwa
kita menjadi sehat. Beliau sengaja membuat bagan yang provokatif bahwa
manusia tanpa ciri akan memiliki jiwa sehat 100%.
Beliau juga membagi gradasi rasa menjadi empat tingkatan.

Gradasi pertama disebut dengan dimensi tunggal. Dimensi yang berupa garis ini
sebagai analogi untuk bayi, yang kemampuannya baru sebatas merekam berbagai
rangsangan dari luar dengan panca inderanya.
Gradasi kedua disebut dengan dua dimensi. Seseorang dapat dikatakan memasuki
gradasi kedua jika telah mampu mengorganisasikan atau membentuk tipologi dari
berbagai jenis rekaman di dalam ruang rasa. Dengan kata lain, manusia pada
tingkatan kedua ini mulai sedikit sadar untuk mengekspresikan rangsanganrangsangan dari luar maupun dari dalam dirinya sendiri. Namun dalam bertindak
tersebut tidak berdasarkan akal dan hati, sehingga akibat reaksinya dalam
menghadapi rangsangan sering melenceng.
Gradasi ketiga disebut dengan manusia tiga dimensi. Dalam fase ini, manusia
sudah mampu memberdayakan akalnya untuk berfikir, sehingga dapat memahami
hukum-hukum alam. Namun tidak dengan hatinya. Dengan demikian, manusia
yang bertempat pada level ketiga ini hidupnya didominasi oleh ego, atau yang
oleh Ki Ageng diistilahkan dengan 'kramadangsa' atau ego atau ke-aku-an.
Gradasi keempat yakni manusia empat dimensi, yakni manusia yang tidak hanya
memiliki ukuran panjang, lebar serta tinggi dalam dimensi ruang dan waktu.
Manusia pada tingkatan terakhir ini juga memiliki rasa yang dapat melintasi ruang
dan waktu. Karena selain kemampuan analisisnya telah sampai pada hukum alam,
manusia ini juga memiliki kebijaksanaan yang bersumber dari rasa, dari 'krenteg
ing ati' atau 'geteran' atau 'getaran' atau 'gerak hati'. Rasa inilah yang oleh Ki
Ageng disebut sebagai rasa yang dapat berkembang, yakni rasa yang tidak
mungkin dapat dirasakan hewan, apalagi tumbuhan.
'Krenteg in ati' (gerak hati) yang lahir dari dalam diri serta berasal dari rekaman
ruang rasa memiliki dua potensi. Pertama, manusia akan kembali pada gradasi
ketiga, yakni hidup dalam kendali kramadangsa. Semisal marah. Jika dalam
keadaan marah justru memikirkan bagaimana cara melampiaskan marah, maka
kembalilah manusi pada posisi ketiga. Namun sebaliknya, jika dalam keadaan

marah yang terpikir adalah apa itu Marah, bagaimana karakter dan apa tujuannya,
maka manusia menuju ke tingkatan tertinggi. Gradasi tertinggi ini adalah manusia
yang telah terbebas dari dominasi egonya sendiri dalam bertindak. Ukuran
terakhir ini oleh Ki Ageng disebut sebagai instrument dalam diri, yang berfungsi
khusus untuk memotret diri orang lain. Keberhasilan seseorang dalam meraih
puncak rasa merupakan suatu keistimewaan tersendiri. Karena jika bersinggungan
dengan realitas (masyarakat), manusia tanpa ciri akan selalu merasa damai sebab
tidak harus berselisih. Manusia tanpa ciri adalah manusia bumi yang mampu
membumi.
Meski demikian, ada sebagian pemikiran Ki Ageng yang dianggap kontroversial,
misalnya ia pernah dituduh tidak percaya terhadap kehidupan akhirat. Dan aliran
yang dipimpinnya dicap tidak percaya kepada Tuhan dan sesuatu yang gaib.
Namun bagi Ki Ageng, sebagaimana kehidupan di dunia, akhirat adalah sesuatu
yang niscaya, karenanya tidak perlu lagi dipikirkan atau harus digambargambarkan dengan pelbagai tamsil, tanda-tanda, maupun persamaan yang
kekanak-kanakan. Ki Ageng lebih mendahulukan "pengalaman" daripada
"keyakinan". Ia senantiasa berupaya mengalami terlebih dahulu, baru kemudian
percaya dan yakin. Dengan demikian komunitas 'Kawruh Begja' yang diasuhnya
tetap terbuka pada kepercayaan terhadap Tuhan dan agama. Hal ini mengingatkan
saya pada Tri Prasetya MP yang pertama yakni TAAT DAN PERCAYA KEPADA
TUHAN YANG MAHA ESA serta aspek universalitas MP yang diusungnya.
Banyak yang menanyakan kenapa harus taat dulu baru percaya? Nah, penjelasan
dari Ki Ageng Suryomentaran ini secara gamblang bisa menjelaskan hal itu. Anda
lakukan segala latihannya, Anda alami sendiri rasanya, barulah didapat keyakinan
versi diri sendiri. Nantinya keyakinan versi diri sendiri ini akan berkembang
sedemikian rupa. Bisa menjadikan kita lebih bijaksana atau malah terjebak pada
keyakinan si Kramadangsa yang menganggap bahwa dirinyalah yang paling benar
sedangkan yang lain 'sesat'. Kalau itu sampai muncul, maka artinya seseorang
belumlah mencapai tahap 'Manusia Tanpa Ciri' karena ia akan selalu menyelisihi
apapun yang ditemuinya.

Contoh yang paling mudah bisa dilihat dalam kehidupan sehari-hari. Saya akan
ambil beberapa gambaran. Semisal apabila kita membaca sebuah tulisan di
Facebook lalu kemudian kita jadi merasa sebal dan kesal sama penulisnya,
menganggap penulisnya seperti orang yang 'sok pamer' atau 'sok pinter'. Ketika
muncul rasa tersebut, tanyakanlah pada hati kecil kita ... siapa sebenarnya yang
kesal itu? Si Kramadangsa, atau emosi marah kita, atau ego kita yang merasa
tersaingi, atau apa? Pemisalan lain manakala seorang laki-laki keluar rumah lalu
melihat ada orang lalu lalang didepan kita dan tiba-tiba kita jadi merasa senang
dengan seorang wanita yang berjalan melambai dengan rok mini dan kaos ketat
lalu kemudian kita jadi merasa 'gerah'. Ketika muncul rasa itu, tanyakanlah pada
hati kecil kita siapa sebenarnya yang 'gerah' itu Si Kramadangsa, atau nafsu kita
atau apa?
Jika misalkan tulisan seseorang itu tidak ada menyebut nama kita, tidak pula
menyinggung keluarga kita, atau sahabat dekat kita, lalu tiba-tiba hati kita merasa
tidak menentu, kesal, ingin marah, ingin mengatakan kepada penulisnya bahwa
dia 'sok tahu', 'sok pinter', dan tiba-tiba muncul rasa 'aku lebih tahu dan lebih
pinter dari dia', maka analisalah rasa itu datang dari mana? Jangan-jangan bukan
dari diri kita sendiri.
Menjadi 'manusia tanpa ciri' yang berada pada gradasi keempat atau level tertinggi
dalam ajaran ilmu Kramadangsa sungguh mengajarkan kita untuk bersikap
natural, wajar, menghindari perselisihan, menjauhi 'kebenaran versi sendiri', bisa
menerima kebenaran versi lain. Dan ini sungguh sangat menyehatkan. Untuk
menjadi 'manusia tanpa ciri' secara mudahnya demikian, bahwa ketika kita
menjumpai apapun yang kemudian memunculkan rasa ego di hati lalu kita
berhasil menepisnya dan kita tersenyum secara tulus, maka disitulah kita berhasil
menyingkirkan si Kramadangsa di diri kita. Kita terbebas dari ego dan kita akan
merasa damai dengan tulisan atau kejadian jenis apapun.
Agar dapat mengenal dan memahami si Kramadangsa ini maka seseorang harus
terus menerus berusaha untuk mengenal dirinya yang sejati. Untuk dapat

mengenal diri yang sejati terlebih dahulu manusia harus belajar melalui 'laku'
(jalan) pembelajaran diri setahap demi setahap. Pembelajaran diri ini merupakan
tangga pendakian kualitas diri seseorang. Tangga ini disebut sebagai Ilmu Mulat
Sarira sebagai berikut:
1. Nanding Sarira, yaitu pembelajaran pertama dimana seseorang berusaha
membanding-bandingkan dirinya dengan diri orang lain dan merasa dirinya lebih
baik, lebih benar, lebih menang dibandingkan orang lain.
2. Ngukur Sarira, yaitu pembelajaran kedua dimana seseorang berusaha mengukur
diri orang lain dengan dirinya sendiri yang dijadikan tolok ukur.
3. Tepa Sarira, yaitu pembelajaran ketiga dimana seseorang mau dan mampu
merasakan perasaan orang lain. Belajar tenggang rasa, mengerti mengenai
'unggah-ungguh', bisa ikut merasakan susah dan senang hati orang lain. Belajar
mengalah untuk dapat menyenangkan hati orang lain, sekaligus mengalah untuk
tidak menyakiti orang lain.
4. Mawas Diri, yaitu pembelajaran keempat dimana seseorang berusaha bisa
memahami dan mengerti akan dirinya sendiri tanpa dipengaruhi oleh keadaan dan
situasi dengan sikap jujur dan rendah hati. Belajar mengamati dirinya sendiri,
melihat potensi-potensi yang ada didalam dirinya sendiri, apa kelebihan dan
kekuatannya, apa kelemahan-kelemahannya, kekurangannya, kesalahannya,
keburukannya,

dan

kemungkinan-kemungkinan

yang

lainnya.

Belajar

memperbaiki diri sendiri agar menjadi lebih baik dan berlaku benar dalam hidup
ditengah masyarakat luas.
5. Mulat Sarira, adalah laku utama orang Jawa yang tertinggi. Yaitu tahap
pembelajaran kelima, tingkat kualitas diri yang lebih tinggi dari Mawas Diri
dimana seseorang berusaha masuk ke dalam dirinya sendiri yang terdalaman
masuk lebih jauh lagi. Ia menjelajah dan mengarungi lautan hati serta menyelam
ke dasar samudera jiwa yang suci untuk menemukan diri sejati yakni identitas diri
yang agung.

Semoga bermanfaat.
AADBP - ADA APA DENGAN BAWAH PUSAR?
Pada beladiri timur umumnya sangat familiar dengan titik dibawah pusar. Kalau
didunia Kungfu disebut dengan Dantian (dantien/tantien tergantung logat), kalau
di Jepang disebut dengan Hara, kalau di Merpati Putih disebut dengan 'Ruang
Pusat Getaran' (istilah yang lebih 'Indonesia'). Kalau di ajaran Kejawen Islam
disebut dengan Betal Mukadas (kata serapan dari bahasa Arab yakni Baitul
Muqodas). Masing-masing aliran memiliki teknik pelatihannya tersendiri.
Khusus pada Merpati Putih, bentuk napas yang umum yang terkait dengan lokasi
tersebut adalah Napas Pengolahan dan Napas Pengendapan. Sebenarnya ada apa
dengan titik dibawah pusar tersebut hingga menjadi lokasi yang cukup penting
untuk dirasakan dan dipahami?
Seperti yang pernah saya jelaskan terdahulu, bahwa dalam tubuh kita paling tidak
sudah ditemukan ada 3 jenis 'otak'. Pertama, yakni otak kepala (head brain).
Kedua, yakni otak jantung (heart brain). Ketiga, yakni otak perut (gut brain).
Disiplin ilmu yang membahas mengenai otak kepala sangat banyak. Darinya lahir
psikologi, gelombang otak, kognitif, hormon, dan lain sebagainya. Dalam
khasanah Jawa sering disebut dengan 'PIKIR' atau 'Betal Makmur' (serapan dari
bahasa Arab yakni Baitul Makmur). Demikian juga disiplin ilmu yang membahas
mengenai otak jantung sudah mulai banyak (pada awalnya dimulai oleh Dr. J.
Armour pada tahun 90-an yang kemudian menggunakan istilah 'heart brain').
Darinya lahir konsep rasa, intuisi, naluri, dan lain sebagainya. Dalam khasanah
Jawa sering disebut dengan 'ROSO' atau lengkapnya 'roso sak jroning roso' atau
'Betal Mukaram' (serapan dari bahasa Arab yakni Baitul Muharram). Namun otak
perut (gut brain) masih sedikit yang berusaha memahaminya sehingga seakanakan menjadi asing.

Ilmuwan yang pertama meneliti dan mengistilahkan dengan 'Gut Brain' adalah
Michael Gershon dari Columbia-Presbyterian Medical Center, New York. Ia
mengatakan bahwa banyak sekali sinyal dan informasi yang dikirimkan dari usus
menuju otak yang tidak lahir dari kesadaran pikiran. Terdapat sekitar 500 juta
syaraf, lima kali lebih banyak dari syaraf otak.
Melekat pada dinding usus sesuatu yang disebut dengan ENS (Enteric Nervous
System) yang pada mulanya diketahui berfungsi untuk melakukan kontrol
terhadap proses pencernaan ternyata berpengaruh juga pada perkembangan fisik
dan mental. Bahkan otak perut (gut brain) dapat bekerja secara independen tanpa
pengaruh otak kepala. Jadi, saat Anda membaca tulisan saya sekarang ini maka
otak perut (gut brain) Anda bekerja secara otomatis tanpa kendali otak kepala.
Bahkan apabila seseorang mengalami 'brain dead' dan dimasukkan makanan ke
dalam tubuhnya, pencernaan akan tetap bekerja dengan baik. ENS ini membantu
kita dalam merasakan beragam ancaman lingkungan luar dan mempengaruhi
bagaimana respon yang dibentuknya. Istilah Enteric Nervous System (ENS)
pertama kali digaungkan oleh ilmuwan Inggris bernama Johannis Langley pada
tahun 1907 melalui jurnal "The Abdominal and Pelvic Brain" dan Byron
Robinson. Ia mengatakan bahwa ENS bekerja secara independen namun punya
keterkaitan dengan otak kepala melalui sistem syaraf Vagus.
Otak perut (gut brain) menghasilkan 95% dari seluruh produksi Serotonin,
bandingkan dengan otak kepala yang hanya 5% saja. Serotonin banyak ditemukan
di saluran gastrointestinal (GI), trombosit, dan dalam sistem saraf pusat. Serotonin
dikenal sebagai kontributor untuk perasaan sejahtera (bahagia), sehingga dikenal
juga sebagai "hormon kebahagiaan" meskipun serotonin bukanlah hormon,
memperbaiki kesedihan dan depresi. Dalam kaitannya dengan sistem syaraf pusat,
Serotonin juga berperan dalam hal kontraksi otot. Lebih jauh lagi, Serotonin
berperan dalam beberapa fungsi kognitif, termasuk dalam memori (daya ingat)
dan belajar.

Apabila dilihat lebih dalam, antara otak kepala dan otak perut terhubung melalui
syaraf tulang belakang. Syaraf yang berperan adalah syaraf Vagus. Otak perut (gut
brain) akan bekerja dengan baik berdasarkan faktor 'feel-good' atau 'merasa enak'.
Ilmuwan Pankaj Pasricha dari Johns Hopkins Center for Neurogastroenterology di
Baltimore, Maryland, mengatakan bahwa apa-apa yang ada diluar tubuhmu itu
ada didalam perutmu. Ia menambahkan, apa-apa yang terlihat bahaya dan
terdeteksi oleh mata, terdengar oleh telinga, akan terasa oleh perut. Lebih jauh lagi
ia mengatakan bahwa tidak ada kehidupan tanpa adanya perut. Bahwa perlu
adanya hubungan yang sangat intim antara otak kepala dengan otak perut agar
kehidupan manusia tetap harmoni, sehat, dan kuat.
Otak perut (gut brain) memiliki daya 'instuisi' nya sendiri secara khas. Ia ternyata
punya 'naluri' yang khas.
Serotonin adalah neurotransmitter yang paling berpengaruh dalam pengembangan
Enteric Nervous System (ENS) ini. Dan Serotonin dapat menurun kadarnya
manakala seseorang mengalami stress. Hal-hal yang dapat meningkatkan kadar
Serotonin adalah berolahraga yang nyaman dan tidak membuat Anda kelelahan,
cahaya yang cukup, pijatan pada tubuh, menjaga pikiran optimis dan positif, dan
menjaga pola makan.
Jika tulisan saya mengenai Isometric dibaca dengan seksama maka akan terlihat
korelasinya yakni Isometric merupakan latihan mempertahankan postur tubuh
tertentu selama waktu tertentu. Isometric umumnya menggunakan jenis Otot
Postural. Latihan berjenis Isometric memerlukan 'bantuan' dari Pikiran untuk
membayangkan, mengenali, dan 'merasakan' postur. Sinyal yang dikeluarkan
Pikiran melalui otak kepala ini berfungsi untuk memperkuat instruksi kepada otot
postural melalui syaraf Vagus. Sehingga latihan Isometric akan berusaha
menyatukan pikiran dan tubuh secara unik melalui keterkaitan antara syaraf Vagus
dan otot postural. Contoh latihan Isometric adalah Zhan Zhuang (dalam beladiri

China), Yoga (dalam tradisi India), Napas Pengolahan (dalam keilmuan Merpati
Putih).
Terkait dengan otak perut (gut brain), maka pada setiap pola latihan yang bersifat
Isometric semestinya memfungsikan otak kepala dan otak perut (gut brain)
melalui titik dibawah pusar. Hal ini dikarenakan keterkaitan antara otak kepala
dan otak perut melalui sistem syaraf tulang belakang via jalur syaraf Vagus. Dan
syaraf Vagus ini merupakan jenis syaraf yang banyak ada pada jenis otot postural.
Dan latihan mesti dilakukan dengan penuh rasa senang gembira suka cita (tidak
stress atau tertekan atau terbebani secara perasaan).
Demikian juga dengan latihan yang bersifat statis dan hanya mengkonsentrasikan
pada titik dibawah pusar semisal meditasi (napas pengendapan) atau latihan
sejenis itu. Diperlukan peran pikiran, rasa senang gembira suka cita, tidak
tertekan, menikmati setiap prosesnya, merasakan lokasinya, setiap tarikan
napasnya. Jikapun ada yang 'terasa' dan 'berasa' disana, biarkan saja dan tetap
nikmati secara wajar. Hal ini bertujuan untuk membuat lebih sehat diri kita secara
lahir batin, memproduksi Serotonin dalam jumlah cukup, mengurangi kesedihan
dan depresi. Dengan demikian, latihan yang dilakukannya membuat lebih sehat
dan bugar serta powerful.
Bagi para praktisi energi dengan pola titik dibawah pusar, terdapat keterkaitan
antara pikiran dengan titik tersebut. Keterkaitan antara pikiran dengan titik
dibawah pusar umumnya terjadi manakala praktisi terpancing emosi marahnya.
Seketika marah keluar, maka dibawah pusar langsung menghangat. Reaksinya
terpancing untuk 'mengeluarkan' energi tertentu. Kalau "Hati" tidak berhasil
'mendamaikan' keduanya maka yang terjadi adalah ledakan-ledakan amarah yang
berdaya rusak sangat tinggi (karena diisi dengan sejenis energi tertentu hasil
latihan). Maka, dalam hal ini Allah memberikan Hati sebagai 'penengah' dan
'pengendali' yang dapat melakukan 'intercept' atau pencegatan terhadap pikiran
(otak kepala) maupun energi (otak perut). Kalau fungsi Hati ini gagal atau tidak
berfungsi sebagaimana mestinya, maka yang terjadi adalah gabungan kekuatan

pikiran dan energi sedemikian rupa tanpa kendali. Anda akan memukul sesuatu
atau seseorang, dan fatal sekali akibatnya.
Keseimbangan inipun terjadi pada istilah 'Cipta-Rasa-Karsa', dimana kata 'Rasa'
diletakkan ditengah antara Cipta dan Karsa. Maksudnya sebagai penengah,
pengendali dari Cipta dan Karsa atau dari keduanya. Kalau 'Rasa' tidak dipakai,
maka semua menjadi tidak terkendali. Maka memahami ketiga jenis otak ini
beserta dengan fungsinya sangatlah penting. Pemahaman ini akan membawa kita
menjadi lebih bijaksana dan mengetahui benar potensi yang ada pada masingmasingnya agar dipergunakan secara menyeluruh untuk kebaikan.
Pada tulisan yang lalu, saya memberikan data dan fakta bahwa titik dibawah pusar
dapat menghasilkan hormon yang menghasilkan 'kecanduan' yang disebut dengan
Benzadiazephine. Saya ingin menekankan pada kata 'kecanduan'. Bahwa ketika
suatu titik pusat energi sudah dikenali dan bisa dirasakan, maka artinya ia sudah
'aktif' dan dapat dipergunakan sesuka hati. Penggunaan ini kalau tidak hati-hati
dan tidak dilandasi dengan kebaikan akan membuat orang 'kecanduan' pada hal
yang keliru dan salah. Makin lama, 'kecanduan' itu akan makin parah dan sulit
untuk kembali. Disinilah sesungguhnya peran Hati/heart brain/qolbu/roso sak
jroning roso berperan. Sebagai penengah, pengendali. Lebih jauh lagi, dalam
konsep Tasawuf, Hati adalah Raja. Sebagai RAJA yang ketika ia memerintahkan
'menengo...!' atau 'tenang...!' maka mesti tenanglah semua 'alam semesta' di dalam
diri. Jika belum, maka lihatlah ke dalam Hati kita sendiri, koreksilah, perbaikilah
terus menerus. Sertakan Hati dalam setiap latihannya.
Semoga bermanfaat.
SukaTunjukkan lebih banyak tanggapan
Komentari
MP DAN -ISME
Ada yang bertanya kepada saya, untuk apa saya meneliti sampai se-detail itu,
melakukan studi kasus dengan Yoga, kungfu China, dll, bahkan hingga pada

paham ISM (taoism, buddhism, zen, tasawuf, dll), menulis banyak-banyak,


padahal belum tentu MP menghargai atau orang-orang bisa menerima apa yang
saya lakukan ini? Terus terang jawabannya tidak bisa singkat, entahlah, barangkali
jawaban singkat hanyalah karena "saya ini orangnya penasaran" dan "saya ini
orang bodoh". Barangkali, tahapan ainul yaqin, ilmul yaqin, dan haqul yaqin perlu
saya dapatkan. Ainul yaqin merupakan tahap terendah dimana seseorang
menggunakan panca indra dalam memahami realitas yang ada dilapangan. Ilmul
yaqin merupakan tahap lebih tinggi yakni ketika menggunakan 'pikiran' untuk
mencoba memahami sesuatu yang berada diatas panca indra. Sementara haqul
yaqin merupakan tahap yang tertinggi dimana seseorang menggunakan hati/roso
sak jroning roso/qolbu/otak jantung dalam memahami realitas yang ada
dilapangan. Ini sering disebut sebagai Kesadaran Inderawi, Kesadaran Rasional,
dan Kesadaran Spiritual.
Setiap pemahaman ini bisa dicapai secara berjenjang ataupun mengalami toleransi
akan salah satunya yang akan ditemui dalam suatu kadarnya. Misalnya, meski
ainul yaqin saya belum pernah melihat akan suatu 'keajaiban' akan ilmu Lebur
Sekethi namun saya bisa menggunakan akal saya untuk menganalisa pengetahuan
yang ada secara kolektif cerita, dan apabila dirasa didadapatkan suatu pemahaman
yang 'masuk akal' saya maka saya bisa menerima hal-hal seperti itu. Tentunya ada
juga yang meski ilmul yaqin ternyata belum 'nyampe' oleh karena satu dan lain
hal, namun haqul yaqin bisa saja didapatkan manakala seseorang merasa suatu
pemahaman itu 'masuk hati' di dirinya. Ketiga jenis pemahaman ini bersifat sangat
subyektif pada setiap orang. Perluasan masing-masing pemahaman inipun berbeda
pada tiap orang.
Dalam hal memahami ketiganya, tentu saja akan muncul kondisi subyektif
berdasarkan 'akal' setiap orang. 'Akal' ini akan setuju atau tidak setuju berdasarkan
catatan-catatan kehidupan yang dialaminya sehari-hari. Dalam bahasa ajaran Ki
Ageng Suryomentaram hal ini disebut dengan si Kramadangsa yang kemudian
mengumpulkan semua catatan-catatan kehidupan yang dialaminya sedemikian
rupa menjadi golongan-golongan atau kategori-kategori tertentu. Masalahnya,

ketika sudah mengerucut menjadi sebuah kategori apabila tidak dibarengi dengan
kedewasaan maka yang timbul umumnya sebuah paham ekslusivitas, yakni suatu
paham yang menganggap dirinya ekslusif dan paling benar diantara yang lain.
Apabila seseorang menganggap dirinya paling benar namun ia tidak menganggap
rendah/sesat orang lain itu masih lebih baik dibandingkan dirinya merasa ekslusif
lalu menganggap yang lain rendah/sesat. Pengerucutan pengetahuan berupa
catatan-catatan kehidupan ini apabila tidak disikapi dengan baik jelas akan
berbeda satu dengan yang lain. Maka bersikap wajar, natural, akan mengurangi
potensi paham ekslusivitas. Ajaran Jawa sebenarnya sudah memberitahu ini
berdasarkan Serat Wulangreh kanjeng Sunan Pakubuwana IV pada pupuh
Gambuh yang menghasilkan konsep "ojo adigang, adigung, adiguna".
Dalam tatanan Jawa pun sebenarnya kita diajari bahwa pencapaian pemahaman
itu mesti dilandasi oleh "ojo gumunan, ojo getunan, ojo kagetan, ojo aleman".
Inilah sebabnya apabila seseorang yang belajar ilmu jawa sebenarnya menuju
pada ilmu Kasepuhan namun ia mesti akan ketemu atau melalui ilmu Kanuragan.
Manakala ketemu dengan itu, ojo kagetan, lewati saja, tetap arahnya menuju ilmu
Kasepuhan. Kaidah ini akan menolong kita untuk bersikap wajar, apa adanya,
sesuai dengan kondisi kita saat ini, tidak berangan-angan, tidak berambisi, natural
saja. Atau seperti kata ajaran Suryomentaraman yakni Saiki, Ngene, Neng Kene.
Menunjukkan untuk menerima kondisi real yang kita dapati sekarang ini, apa
adanya, dan sesuai dengan keadaan diri kita.
Semua tulisan-tulisan saya bukanlah untuk merendahkan orang, atau meremehkan
siapapun, atau lebih jauh merendahkan MP. Menariknya, saya justru menjadi
semakin mencintai MP dengan pengembaraan mersudi pikir seperti ini. Saya jadi
mulai memahami benang merahnya antara satu dengan yang lain. Saya mulai
menemukan kebijaksanan-kebijaksaan dalam tahapan latihan-latihannya, dan
banyak lagi. Meluasnya pemahaman ini malah tidak menjadikan MP saya
berantakan. Malah saya jadi semakin bisa melihat kemana dan bagaimana arah
keilmuan MP ini. Tentunya, ini adalah pemahaman saya saat ini yang bisa akan
berbeda dengan orang lain. Melalui pengembaraan ini, saya diajari untuk

menghargai perbedaan, mencari kesamaan pandangan, lalu membiarkan semua itu


sebagaimana adanya. Tidak ingin membenturkan atau berbenturan dengan
pemahaman yang lain. Semua ada kadarnya, dan semua ada wilayahnya. Namun
apabila dirasa tulisan saya terkesan keras hingga ada yang terluka hatinya, saya
dari lubuk hati yang paling dalam memohon maaf sebesar-besarnya. Memang
cukup sulit untuk menggunakan bahasa yang 'halus' manakala berbagai jurnal dan
buku sudah saya 'lahap'. Sedikit banyak, mestilah terbawa pola pikir penulispenulis yang pernah saya baca. Meski demikian, tidak sedikitpun saya bermaksud
meremehkan siapapun di MP ini. Tulisan-tulisan saya ini semata-mata adalah hasil
mersudi yang kalau bisa dipahami sebenarnya akan membuka sekat-sekat
pengetahuan MP kita, sedikit maupun banyak, tanpa harus menghilangkan
pengetahuan pelatih atau guru-guru kita semua.
Kembali kepada permasalahan, ketika ada yang bertanya apa bedanya antara MP
dengan CMA (Chinesse Martial Arts) atau dengan Yoga atau dengan yang
lainnya?
Menurut saya pribadi perbedaan antara MP dan CMA serta yang lainnya terletak
pada titik awal Tenaga yang dilatihnya dan dari titik awal yang berbeda tentunya
akan membawa pada cara berlatih yang mestinya berbeda pula. CMA berdasarkan
Filosofi Taoisme memulai latihan pada Ching dan Chi/Qi dimana semua itu
dikumpulkan pada Dantien/tantien bawah (titik dibawah pusar). Setelah Dantien
Bawah terisi dan "matang" baru kemudian dinaikkan ke Dantien Tengah dan pada
akhirnya Dantien Atas. Semua itu bertujuan untuk menyatukan Ching dan Chi/Qi
dengan satu bentuk Tenaga yang lain yaitu Shen (Ruh).
Dari sinilah muncul istilah The Unity of Body, Mind and Spirit. Sebenarnya Shen
inilah yang mungkin mendekati pengertian "Hati" yang sesungguhnya.
Pelatihan CMA yang berlatar belakang Taoisme ini lebih mendekati Pelatihan
Yoga yang berdasarkan Filosofi Hinduisme. Pelatihan Yoga memulai dari
pembangkitan Kundalini di bawah tulang ekor kemudian dinaikan ke Chakra di

atasnya hingga Chakra Mahkota. Yoga pun memulai pelatihan dari Energi tingkat
yang lebih rendah menuju tingkat Energi yang lebih tinggi. Kelebihan dari metode
pelatihan CMA (Taoisme) ataupun Yoga (Hinduisme) adalah dari metode ini
mereka bisa lebih rinci dalam memetakan mekanisme cara kerja tubuh manusia.
Berdasarkan pengalaman mereka, Taoisme pada akhirnya berhasil memetakan
jalur meridian tubuh beserta mekanism cara kerjanya sedangkan Yoga pada
akhirnya berhasil memetakan adanya adanya chakra tubuh serta mekanism cara
kerjanya.
Sedangkan MP sebenarnya tidaklah mengenal konsep Chi/Qi ataupun Kundalini.
Kalaupun ada istilah "kundalini" di MP sesungguhnya bukanlah merujuk pada
pemahaman kundalini menurut tradisi Yoga India. Memang ada latihan yang
disebut dengan "Pecah Pamor Kundalini" namun memiliki tujuan yang berbeda
dengan apa yang dimaksud Kundalini pada Yoga. Dalam MP sendiri, awal
latihannya justru langsung mulai dari "Hati" melalui Niat. Karena MP tidak
mengenal Chi/Qi dan pelatihan dimulai dari "Hati" tentunya tidak perlu adanya
pengumpulan Chi/Qi hingga penuh dan matang pada Dantien Bawah kemudian
menaikannya ke atas hingga Dantien Tengah dan Dantien Atas seperti dalam
CMA. Konsep MP ini lebih mendekati Konsep Tasawuf yang juga tidak mengenal
adanya Chi/Qi. Dalam Tasawuf hanya dikenal Tubuh Fisik, Nafs, dan Ruh dimana
pelatihan Tasawuf diawali dari Ruh. Ruh inilah yang nantinya akan
mengendalikan Nafs dan Tubuh Fisik. Berdasarkan penelusuran saya, mendiang
alm guru besar mas Budisantoso mengatakan kalau "Praktisi MP tidak perlu
"menimbun" energi banyak-banyak dibawah pusar. Kalau sudah terasa dan berasa
itu sudah cukup.". Ucapan ini menguatkan dan membenarkan analisa saya bahwa
memang konsep MP itu mirip dengan konsep Tasawuf.
Didalam Tasawuf dibedakan antara "akal" dan "ruh". "Akal" itu diibaratkan
sebagai "Perdana Menteri" yang secara fisik tersimpan di "otak manusia"
sedangkan "ruh" itu diibaratkan sebagai "Raja" yang secara fisik dipercaya
tersimpan di dalam "hati manusia". Di dalam "akal" tersimpan "pengetahuan

mengenai sesuatu" sedangkan di dalam "hati" tersimpan "hakekat mengenai


sesuatu".
Dalam pemahaman saya pada sisi ini, filosofi Tasawuf agak lebih mendekati
Filosofi Buddhisme. Seperti Koan Zen Buddhism yang saya pernah saya tuliskan
terdahulu:
Tubuh
Pikiran
Usap

bagai-kan
bagaikan

Pohon

Cermin

dan

bersihkanlah

yang

Kesadaran
bersih

berkilau

setiap

saat

Dan jangan biarkan Debu melekat


(Shenxiu 606-706 CE)
Konsep Tasawuf juga seringkali membandingkan "Hati" sebagai Cermin/Kaca
seperti berikut ini:
Pelita

itu

dalam

Kaca.

Kaca itu laksana bintang yang berkilauan


...
Seperti dalam Tasawuf, filosofi Buddhisme sebenarnya juga tidak mengenal
adanya Kundalini ataupun Chi/Qi. Pada awal perjalanan Spiritualnya Sidharta
Gautama berlatih berbagai macam jenis Meditasi (kemungkinan meditasi Yoga
salah satunya) tetapi Sidharta merasa tidak mencapai tingkat pencerahan yang
diinginkan dari meditasi yang pernah dilatihnya. Kemudian Sidharta menciptakan
satu teknik meditasi sendiri. Teknik meditasi Buddhism ini yang akhirnya dikenal
sebagai Dhyana yang lebih menekankan kepada pelatihan "Pikiran/Hati" bukan
pada pelatihan Chi/Qi. Dalam Buddhisme dikenal 4 tingkatan Dhyana. Setelah
melampaui 4 tingkatan Dhyana biasanya "kemampuan lebih" (Abhijna) akan
diperoleh sebagai "cobaan" yang jika tidak ditangani dengan baik bisa
menggagalkan perjalanan spiritual seorang murid Buddha. Kemampuan kekuatan

'super human' (kanuragan, husada, dll) mungkin bisa digolongkan dalam


Iddividha (kekuatan keajaiban) dalam Abhijna pada konsep Buddhisme.
Jika kita pahami sejarah perjalanan spiritual Sidharta ini bisa kita pahami
mengapa ada perbedaan karakteristik antara meditasi Yoga dengan meditasi Zen
Buddhisme. Tapi itu tidak akan saya jelaskan disini karena akan menjadi lebih
panjang lagi bahasannya.
Perbedaan pemahaman antara Buddhisme dan Taoisme ini bisa juga kita lihat
pada perbedaan pemahaman Chi/Qi yang ada di China dan Jepang. Tidak seperti
di China yang filosofi Taoisme dengan Yin-Yang dan Chi/Qi-nya lebih berakar
kuat di sana, di Jepang yang pengaruh filosofi Buddhisme-nya lebih kuat ternyata
juga tidak mengenal konsep Chi/Qi. Kalaupun ada Chi/Qi dalam tradisi di Jepang
lebih dipahami sebagai "semangat" yang lebih mendekati konsep "nafs" dalam
tasawuf dibanding konsep chi/qi dalam tradisi Taoisme di China. Jepang bisa
dikatakan telah berhasil melakukan transformasi filosofi dari filosofi China
menjadi filosofi ala Jepang pada beladirinya. Karate yang awalnya dari China lalu
bertransformasi sedemikian rupa dengan budaya Jepang sehingga Karate yang
mula-mula ala China menjadi luntur dan hilang filosofinya berganti menjadi
filosofi Zen yang dianut kebanyakan rakyat Jepang saat itu.
Kelemahan metode Tasawuf ataupun Buddhisme adalah metode ini tidak secara
rinci memetakan mekanism cara kerja tubuh manusia. Bisa dikatakan metode
Tasawuf dan Buddhisme lebih bersifat 'Psikologi' sedangkan metode Taoisme dan
Yoga lebih bersifat 'Fisiologi'. Tentunya dalam pengertian 'psikologi kuno' dan
'fisiologi kuno'. Memang agak sulit memetakan sesuatu yang bersifat psikologi.
Sederhananya "hati" seperti perumpamaan dalam Tasawuf lebih seperti seorang
Raja. Seorang Raja hanya tinggal memerintahkan saja, tidak peduli bagaimana
caranya, maka perintah Raja akan terlaksana. Dalam dimensi yang lebih kecil dan
terbatas mungkin seperti kata "kun faya kun" atau "jadi maka jadilah". Tinggal
kita niatkan dalam hati dan segala yang kita niatkan dalam hati akan dilaksanakan

oleh tubuh apapun mekanismenya. Hal ini yang menyulitkan pemetaan dari sisi
psikologi.
Meskipun pada puncak tertinggi apapun aliran dan filosofi yang mendasarinya
(Taoisme, Hinduisme, Buddhisme, Tasawuf, dll) akan menuju pada Inti yang sama
yaitu "Ruh" dan penyatuan antara "Ruh" dengan "Sang Pencipta" nya, walaupun
penyebutan berbeda-beda tetapi tampaknya menunjukan Hakekat yang sama. Ini
pembahasan yang agak berat, saya lewati saja.
Untuk memahami lebih lanjut mau tidak mau kita mesti belajar pada aspek
sejarah. Saya coba sarikan secara singkat hal-hal yang berhubungan dengan
sejarah yang relevan dengan penjelasan saya diatas.
Dalam catatan sejarah, pulau Jawa pernah menjadi Pusat Agama Buddha terbesar
di Asia selain India dan Srilanka, ini bisa kita lihat dari peninggalan agama
Buddha terbesar di dunia yaitu Candi Borobudur yang dibangun oleh Wangsa
Syailendra. Wangsa Syailendra ini dalam Catatan China (abad ke 8-10 M) dikenal
sebagai Holing, dalam Laguna Copper Inscription di Philipina, wangsa ini dikenal
sebagai Medang. Nama Medang pun banyak tercatat dalam peninggalan prasasti
yang ada di Jawa, biasa disebut sebagai masa Mataram Kuno. Pada masa jayanya,
Syailendra pernah menaklukan Thailand (Ligor), Chenla Khmer (Cambodia)
bahkan memenggal kepala Rajanya dan menahan pangeran-nya di Tanah Jawa.
Menyerbu Champa (Vietnam Selatan) hingga Phillipina. Semuanya ini tercatat
dalam prasasti yang terdapat di Thailand, Cambodia, Vietnam dan Philipina.
Ketika Wangsa Syailendra tersingkir ke Sumatra (Svarnadvipa) akibat persaingan
Politik yang terjadi di Jawa, Sumatera (Svarnadvipa) kemudian dikenal sebagai
pusat Buddha menggantikan Tanah Jawa. Atisa (980-1054 M) penyebar agama
Buddha paling berpengaruh di Tibet pun datang ke Sumatra untuk belajar pada
Biksu Svarnadvipi Dharmakriti. Setelah belajar di Svarnadvipa (Sumatera) selama
belasan tahun, Atisa diperintahkan Biksu Svarnadvipi Dharmakriti untuk
menyebarkan agama Buddha di Tibet. Satu teknik meditasi yang dipelajari Atisa

dari Svarnadvipa Dharmakriti inilah yang akhirnya menjadi Teknik Meditasi Tibet
yang paling fundamental yakni suatu teknik meditasi merubah Negative Energy
menjadi Loving and Healing Energy yang di Tibet dikenal sebagai Meditasi
Tongleng.
Metode meditasi untuk mengubah satu energy menjadi bentuk energy yang lain,
menarik sekali bukan? smile emotikon
Bisa dikatakan Jawa sudah menjadi pusat keagamaan dan spiritualitas tingkat
tinggi sejak abad ke-8 Masehi, itu sebabnya di Tanah Jawa hanya Islam Tasawuf
yang bisa dengan mudah diterima oleh masyarakat Jawa yang sudah memiliki
tingkat Spiritualitas tinggi ini. Islam kasaran (syariat) akan sulit diterima oleh
masyarakat Jawa yang sudah memiliki tingkat spiritualitas tinggi. Para Wali
memahami ini, dan memasukan ajaran Tasawuf dan menjauhi pendekatan yang
terlalu kaku dan bersifat syariat dalam penyebaran Islam di Tanah Jawa pada abad
ke 15-16 M. Sinkretisme antara Hinduisme, Buddhisme dan Tasawuf inilah yang
akhirnya melahirkan Filosofi Jawa (Kejawen), dengan puncak pemahaman
Manunggaling Kawula Gusti. Cikal bakal Filosofi Kejawen yang ada sekarang ini,
bisa dikatakan berawal dari masa Mataram Kuno dan matang pada masa Mataram
Islam.
Puncak kejayaan Hindu ada pada masa Medang Kuno (Sanjaya) begitu pula
puncak kejayaan Buddha ada pada masa Medang Kuno (Syailendra). Bisa kita
lihat dengan banyaknya bangunan Candi Hindu dan Buddha pada masa itu seperti
Prambanan, Borobudur, Sewu, Dieng, dll. Pada masa Kediri secara filosofis bisa
dikatakan masa pengendapan, dimana paham Hindu-Buddha oleh Local Genius
disinkretiskan dengan paham asli Tanah Jawa. Pada masa Kediri inilah mulai
banyak ditemukan Kakawin Hindu atau Buddha yang tidak lagi murni India tetapi
sudah bercampur dengan unsur Nusantara (Jawa) di dalamnya. Pada tataran
filosofis, karakter Jayabaya (salah satu Local Genius) yang dihormati oleh
masyarakat Jawa pun berasal dari masa Kediri ini.

Sinkretisme antara Hindu-Buddha-Jawa ini bisa dikatakan matang pada masa


Majapahit. Kemudian masuk Islam pada masa akhir Majapahit (Demak) dan
mulai terbentuklah Sinkretism baru antara Islam Tasawuf dengan Sinkretism
Hindu-Buddha-Jawa yang sudah ada pada masa Majapahit. Pada akhirnya
terbentuk Filosofi baru yang disebut sebagai Kejawen yang bisa dikatakan matang
pada masa Mataram Islam. Majapahit adalah puncak dari sinkretism HinduBudha-Jawa sedang Mataram Islam adalah Ibu dari Filosofis Kejawen yaitu
sinkretism Hindu-Budha-Jawa dengan nuansa Islam Tasawuf.
Pada tahapan sinkretisme inilah peran Local Genius sangat besar (Sunan Kalijaga,
Syekh Siti Jenar, Ronggowarsito, dll). Setidaknya, ini adalah pemahaman ringkas
saya tentang sejarah terbentuknya Filosofi Jawa (Kejawen).
Tarik nafas dulu ya smile emotikon
Pada tulisan yang lalu mengenai "pertarungan pemikiran" yang dituangkan pada
novel silat semisal karya Arswendo akan menjadi sangat menarik sebenarnya jika
Arswendo menarik setting sejarah Cerita Silat "Senopati Pamungkas" tidak hanya
sebatas masa Majapahit saja tetapi sampai sejauh masa Mataram Kuno. Kenapa?
Sebab pada masa Mataram Kuno (Medang) inilah terdapat benang merah Jalan
Buddha (yang menjadi setting pertarungan Ksatria Lelananging Jagad pada
Senopati Pamungkas dan Tembang TanahAir) antara India, Tibet, China, Jepang
dan Jawa terjalin.
Apakah Arswendo tidak mengetahui bahwa pendiri aliran Shingon Buddhisme
(Esoteric Buddhism) di Jepang yaitu Biksu Kukai (774-835 M) ternyata memiliki
saudara seperguruan yang berasal dari Tanah Jawa? Apakah Arswendo tidak
mengetahui bahwa Kakek Guru Biksu Kukai yaitu Amoghavajra (705-774 M)
semasa remaja pernah tinggal di Tanah Jawa sebelum belajar dan mengajar di
China? Apakah Arswendo tidak mengetahui penyebar agama Buddha di Tibet
yaitu Atisa (980-1054 M) memiliki benang merah keilmuan yang berasal dari
Wangsa Syailendra (Sumatra dan Jawa)?

Sebagai perbandingan, jika kita melihat film Ninja Jepang (Naruto, dll), sering
terlihat Ninja menggunakan Posisi Jari tertentu (Mudra) ketika mengeluarkan
suatu ilmu. Mudra ini adalah salah satu pengaruh dari ajaran Shingon Buddhisme.
Di Jepang, aliran Ninja biasanya lebih terpengaruh pada ajaran Shingon
Buddhisme dibanding Zen Buddhisme yang lebih populer dikalangan Samurai.
Shingon Buddhisme agak unik dan berbeda dengan Zen Buddhisme yang banyak
menggunakan Meditasi dengan Koan. Pada Shingon Buddhisme lebih
menekankan penggunaan Meditasi dengan Mantra dan Mudra untuk mencapai
pencerahan. Hal ini bisa kita lihat posisi jari tangan sewaktu meditasi sering kali
menggunakan posisi jari yang berbeda-beda (mudra) misal: ujung ibu jari
bertemu/menyentuh ujung jari tengah, ujung jari telunjuk bertemu dengan ujung
ibu jari, dll. Setiap mudra sebenarnya memiliki makna tertentu.
Dalam satu kisah Esoteric Buddhisme, ketika di India, Amoghavajra (Kakek Guru
dari Biksu Kukai pendiri Shingon Buddhism) diminta raja di sana untuk
menaklukan kawanan Gajah yang ketika itu sedang mengamuk di tengah kota.
Dengan tenang Amoghavajra mendekati kawanan gajah yang mengamuk tsb
sambil membaca Mantra dan tangan membentuk Mudra, satu persatu gajah yang
mengamuk tsb pingsan ketika didekati Amoghavajra. Tradisi keilmuan seperti
inilah yang sering kita lihat dalam film tentang Ninja, para Ninja sering
digambarkan memiliki keilmuan tentang Mantra dan Mudra ini.
Sederhananya, Shingon Buddisme menggunakan Meditasi dengan Mantra dan
Mudra untuk mencapai pencerahan. Sementara Zen Buddhisme menggunakan
Meditasi dan Koan untuk mencapai pencerahan.
Benang merah keilmuan dan penyebaran agama Buddha di China, Jepang dan
Tibet memang ada di Tanah Jawa yang berawal pada masa Sanjaya-Syailendra
yang dikenal Kerajaan Mataram Kuno (Medang). Nusantara adalah cross road
para pencari ilmu keagamaan (khususnya Buddha) dari China yang hendak
berguru ke India. Kerajaan yang menguasai Nusantara akan menjadi pusat
keilmuan agama pada saat itu. Biasanya sebelum menuju ke India sambil

menunggu angin Monsoon bertiup para biksu China akan menetap di Nusantara
(Jawa dan Sumatra khususnya) terlebih dahulu dan masa menunggu ini akan
dimanfaatkan untuk memperdalam agama Buddha dan bahasa Sanskrit.
Sebagai catatan, bahasa Jawa Kuno adalah bahasa yang memiliki 50 persen
kosakata bahasa Sanskrit terbanyak dibanding bahasa lain di Asia Tenggara. Ini
bisa menjadi indikasi bahwa pulau Jawa adalah salah satu pusat keilmuan agama
pada masa lalu karena bahasa Sanskrit biasanya hanya digunakan sebagai bahasa
keagamaan. Bahkan di India sendiri bahasa Sanskrit bisa dikatakan bahasa mati,
dalam arti tidak ada lagi yang menggunakan bahasa ini dalam kehidupan seharihari. Justru di Jawa, bahasa Sanskrit tetap hidup digunakan dalam kehidupan
sehari-hari masyarakatnya.
Jadi sebenarnya tidak salah jika Senopati Pamungkas karya Arswendo melalui
karakter Eyang Sepuh mengundang Ksatria dari negeri sebrang untuk
memperebutkan "Ksatria Lelananging Jagad" dan "Jalan Buddha" di Tanah Jawa.
Hanya sayangnya Arswendo tidak mengelaborasinya dengan cukup mendalam,
baik dari sisi Filosofis maupun setting Historis-nya. Bukankah akan menarik jika
ditunjukan bahwa Lokeswara Lohita, Raja dan Pendeta Empyak Jagad dari Tibet yang tampaknya akan dimunculkan oleh Arswendo sebagai salah satu Tokoh
Tingkat Tinggi di "Tembang TanahAir" ternyata memiliki dasar keilmuan yang
sama dengan di Tanah Jawa dan Sumatra karna Pendita Atisa-lah yang membawa
ajaran Buddha tsb ke Tanah Tibet. Sebelum Atisa datang ke Tibet pada abad ke-11
Masehi, agama Buddha belum menjadi agama utama di sana. Pendita Atisa lah
yang bisa dikatakan berjasa membentuk agama Buddha menjadi agama Utama di
Tibet. Mungkin akan lebih menarik jika Arswendo bisa mengelaborasi lebih
dalam baik secara Filosofis maupun Historis misalnya dengan menjabarkan
bahwa secara filosofis maupun historis ternyata sumber keilmuan Tlatah Tibet,
Jepun ataupun China ada yang berasal dari Bhumi Nusantara atau setidaknya
memiliki hubungan yang erat dengan Bhumi Nusantara dan Tanah Jawa
khususnya. Benang merah pertarungan "Ksatria Lelananging Jagad" akan lebih
terlihat dengan jelas. smile emotikon

Kalau merunut dari sejarah, filosofi dan beladiri asli Nusantara sebelum
datangnya pengaruh Hindu dan Buddha, IMHO mungkin lebih mendekati
Shamanism dan Beladiri yang ada di kalangan suku Dayak di Kalimantan.
Berdasarkan pendekatan sejarah genetik, etnis di Nusantara seperti Etnis Melayu,
Minang, Jawa, Bugis etc termasuk dalam ras Austronesian yang mungkin sisa
jejak sejarah dan budaya-nya sekarang ini masih bisa dilihat pada suku Dayak di
Kalimantan dan Nias. Bangsa Austronesian - dari Taiwan, Philipine hingga
Kalimantan - dikenal sebagai Warrior bahkan memiliki Budaya Headhunting,
dimana ada tradisi memenggal dan mengumpulkan kepala musuhnya sebagai War
Trophy. Jadi sebelum pengaruh India (baik Filosofi dan Beladiri) masuk ke
Nusantara, kita sudah memiliki tradisi Kesatria-nya sendiri. Saya tidak akan
membahas ini terlalu dalam karena akan menjadi lebih panjang lagi. smile
emotikon
Dalam sejarahpun sebenarnya sempat tercatat bagaimana bentuk ilmu beladiri di
nusantara dulu. Bisa kita lihat pada catatan perjalanan Ordoric Pordonone. Dalam
bukunya Oderic of Pordenone (1265-1331) yang pada tahun 1326 sempat datang
ke Majapahit menuliskan sbb :
"Near to Java is another country called Panten, or Tathalmasin, the king of which
has many islands under his dominion. In this country there are trees which
produce meal, honey, and wine, and likewise the most deadly poison in the
world ... There are other canes, called cassan ... in these canes they find certain
stones of wonderful virtue, insomuch, that whoever carries one of these about
him, cannot be wounded by an iron weapon; on which account, most of the men
in that country carry such stones always about them. Many of the people of this
country cause one of the arms of their children to be cut open when young, putting
one of these stones into the wound, which they heal up by means of the powder of
a certain fish, with the name of which I am unacquainted. And through the virtue
of these wonderful stones, the natives are generally victorious in their wars, both
by sea and land."

(Dekat ke pulau Jawa ada negara lain yang disebut Panten atau Tathalmasin, yang
masih merupakan daerah kekuasaan raja. Pada negeri ini ada sebuah pohon yang
menghasilkan makanan, madu, dan anggur, dan juga racun yang paling
mematikan di dunia. Ada sejenis pohon kayu yang disebut dengan Cassan. Di
dalam pohon kayu ini mereka menemukan batu-batu yang indah yang dianggap
keramat, dan bahwa siapapun yang membawa salah satunya maka ia tidak akan
bisa terluka oleh senjata tajam. Para laki-laki di negeri tersebut selalu
membawanya. Banyak dari warga negeri ini yang rela tangannya dilukai saat
masih anak-anak untuk kemudian memasukkan batu-batu tersebut kedalamnya,
luka ini kemudian disembuhkan dengan sejenis bubuk yang dihasilkan dari ikan
tertentu. Dan melalui kemampuan keramat dari batu-batu inilah penduduk asli
umumnya menang dalam perang mereka, baik melalui laut maupun darat.)
Menarik bukan? Susuk kekebalan ternyata tercatat dalam sejarah paling tidak
sejak abad ke 13-14 Masehi. Selain menggunakan Susuk Ilmu Kebal, Sejarah juga
mencatat Ilmu Kebal dengan cara penggunaan yang berbeda. Seperti yang
dituliskan oleh Chou Ku-fei pada abad ke 12 Masehi dalam bukunya Ling Wai Tai
Ta sbb:
"San-fo-qi is in the Southern Sea. It is the most important port of call on the sea
routes of the foreigners, from the countries of She-po on the east and from the
countries of Ta-shi (Arabs) and Ku-lin on the West, they all pass through it ontheir
way to China ... The country has no natural products, but the people are skilled in
fighting. When they are about to fight, they cover their bodies with a medicine
shich prevents swords wounding them. In fighting on land or on water none
surpass them in impetuosity of attacks ..."
(San-fo-qi berada di Laut Selaan. Ini adalah pelabuhan terpenting bagi rute
pelayaran pelaut asing, dari negara She-po di sebelah Timur dan dari negaranegara Ta-shi (Arab) dan Ku-Lin di sebelah Barat. Meeka semua harus melewati
jalur ini untuk bisa mencapai China. Negara ini tidak memiliki produk alami,
namun orang-orang disana sangat terampil dalam bertempur. Ketika mereka akan

bertempur, mereka menutupi tubuhnya dengan obat yang dipercaya dapat


mencegah pedang melukai mereka. Dalam pertempuran di darat atau di air belum
ada yang mampu melampaui mereka dalam hal kecepatan dalam penyerangan.)
Perajurit San-fo-qi (Srivijaya-Dharmasraya) pada abad ke-12 Masehi pun tercatat
dalam sejarah memiliki Ilmu Kebal. Jika kita lihat pada relief Borobudur banyak
terdapat Ksatria dengan menyandang berbagai macam senjata tetapi tidak ada
satupun dari Ksatria tsb yang menggunakan Baju Zirah. Bukankah ini agak
janggal? Sebelum masa abad ke 7-8 Masehi (masa Syailendra) pun bangsa India
sudah mengenal Baju Zirah dari baja tetapi tradisi penggunaan Baju Zirah
ternyata tidak ditularkan bangsa India di Nusantara (Jawa, Sumatra, dll). Bahkan
yang lebih unik hampir tidak ada peninggalan Baju Zirah ditemukan pada masa
Majapahit dan sebelumnya. Ada yang mengatakan Baju Zirah tidak cocok untuk
iklim tropis di Nusantara tetapi catatan sejarah pun menunjukan bahwa ternyata
memang sejak dulu sudah ada tradisi ilmu kebal di Nusantara sehingga Baju Zirah
mungkin tidak perlu digunakan. Ini juga didukung oleh fakta sejarah berupa relief
pada Candi Angkor Wat di Thailand yang menunjukan Pasukan Khmer ternyata
menggunakan Baju Zirah yang terbuat dari Baja, jelas ini menggugurkan
argument bahwa Baju Zirah tidak cocok digunakan pada iklim tropis.
Sedang Jawa pun dikenal sebagai Pulau yang memiliki tradisi perang seperti yang
dituliskan oleh Chau Ju-kua pada abad ke 13 dalam bukunya Chu Fan-chi
menuliskan tentang penduduk Pulau Jawa sebagai berikut:
"The people have personal names but no surnames. They are quick tempered and
of pugnacious disposition, and when they have a feud with San-fo-qi, both parties
seek to join in battle."
(Orang-orang memiliki nama pribadi namun bukan nama keluarga. Mereka cepat
marah dan cenderung garang, dan ketika mereka memiliki perseteruan dengan
San-fo-qi keduanya menyelesaikannya dalam sebuah pertarungan.)

Etnis Jawa yang suka berperang ini diperkuat oleh tulisan Ma Huan yang datang
bersama dengan ekspedisi Zenghe ke Jawa. Ma Huan dalam bukunya Ying-yai
Sheng-lan menuliskan tentang penduduk Jawa sbb :
"The men thrust a pu-la-t'ou into the waist, from little boys of three years to old
men of a hundred years, they all have these knives, which all made of Pin t'ieh (a
very fine steel and made extremely sharp swords) with most intricate patterns
drawn in very delicate lines, for handles they use gold or rinocheros horn or
elephant tusk, engraved with representations of human forms or devils faces, the
craftsmanship being very fine and skillful."
(Para pria menyodorkan pu-la-t'ou ke pinggang. Dari anak-anak berumur tiga
tahun hinggga orang tua berumur seratus tahun, mereka semua memiliki jenis
pisau ini, yang semuanya terbuat dari Pin t'ieh (baja yang sangat bagus untuk
membuat pedang yang sangat tajam) dengan pola yang paling rumit digambar
dalam garis yang sangat halus. Untuk gagangnya mereka menggunakan emas atau
cula badak atau gading gajah yang diukir sedemikian rupa yang merupakan
representasi dari bentuk manusia atau wajah iblis. Pengerjaan jenis senjata ini
benar-benar memerlukan keterampilan yang sangat tinggi.)
Begitu detailnya Ma Huan menggambarkan keris yang terbuat dari baja kelas satu
beserta pamor kerisnya. Keris ini tampaknya selalu dibawa oleh setiap lelaki di
tanah Jawa. Selanjutnya Ma Huan menulis sbb :
"The people of the country, both men and women are all particular about their
heads, if a man touches their head with his hand, or if there is a misunderstanding
about money at a sale, or battle of words when they are crazy with drunkenness,
they at once pull out these knives and stab each other. He who is stronger
prevails."
(Orang-orang negeri ini, baik laki-laki maupun wanita, memiliki pandangan yang
sama mengenai kepala mereka bahwa jika seorang laki-laki menyentuh kepala
mereka dengan tangannya atau apabila ada kesalahpahaman mengenai masalah

uang pada penjualan atau terjadi perang kata-kata ketika mereka mabuk maka
mereka akan langsung menarik keluar pisau dan saling menusuk satu sama lain.
Siapa yang terkuat maka akan bertahan)
Pertama kali saya membaca ini, saya sedikit heran bukankah etnis Jawa sering
digambarkan sebagai etnis yang halus dan selalu menghindari keributan, bahkan
perangai halus orang Jawa ini sering distereotypekan dalam joke/candaan untuk
menunjukan etnis Jawa adalah bangsa yang lamban. Tetapi catatan sejarah sejak
abad ke-12 (Kediri) hingga abad ke-15 (Majapahit) menunjukan bahwa etnis Jawa
memiliki karakteristik Warrior yang suka berperang bahkan cenderung
temperamental. Perkenalan saya dengan sahabat di Malaysia pun cukup
mengejutkan saya, berbeda dengan stereotype di Indonesia dimana etnis Batak lah
yang dikenal memiliki jiwa tentara, di Malaysia justru etnis Jawa yang dikenal
sebagai etnis yang suka berperang. Mayoritas tentara di Malaysia dikatakan
berasal dari etnis Jawa. Bisa dikatakan etnis Jawa dianggap sejajar dengan etnis
Minang ataupun Bugis yang dikenal sebagai Ksatria di Malaysia.
Saya jadi berpikir sejak kapan sebenarnya Jawa yang dikenal memiliki perangai
yang halus itu mulai terbentuk? Tentunya ada suatu masa dalam sejarah Jawa yang
menyebabkan adanya 'turning point' atau titik balik dimana Jawa yang suka
berperang ini berubah menjadi Jawa yang halus dan cenderung menghindari
keributan. Nah, belajar sejarah itu menarik bukan? smile emotikon
Terkait dengan konsep Tasawuf mengenai Pelita yang juga pada Taoisme
disebutkan, sebenarnya ada ayat Al Qur'an yang menarik direnungkan:
"Allah adalah cahaya bagi langit dan bumi. Perumpamaan cahaya-Nya adalah
seperti Misykat yang di dalamnya ada Pelita. Pelita itu dalam Kaca. Dan Kaca itu
laksana bintang yang berkilauan yang dinyalakan dengan minyak pohon yang
diberkati, yaitu minyak zaitun yang bukan di timur dan tidak (juga) di barat.
Minyaknya hampir menerangi sekalipun tidak disentuh api. Cahaya di atas
cahaya. Allah memberi petunjuk cahaya-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya.

Allah membuat perumpaan-perumpaan bagi manusia dan Allah Maha Mengetahui


segala sesuatu." (An Nuur 35)
Mengenai Hati dan Hakekat Ilmu, Imam Al Ghazali pernah mengatakan sebagai
berikut:
"Ketahuilah, bahwa tempat ilmu itu ada di dalam hati yakni yang halus yang
mengatur segala anggota tubuh manusia. Yang halus inilah yang dipatuhi dan
dilayani oleh segala anggota tubuh manusia. Yang halus itu, yang dihubungkan
dengan Hakekat Ilmu Pengetahuan - bagaikan cermin (kaca) yang dihubungkan
dengan segala bentuk dan warna ... Pengetahuan itu memiliki Hakekat. Hakekat
itu ibarat suatu bentuk dan warna yang melekat dalam Cermin (Kaca) Hati"
Imam Al Ghazali lalu memberikan contoh sebagai berikut:
"Orang yang mengenal dan memahami Api, tidaklah Api itu sendiri yang ada di
Hatinya. Akan tetapi yang ada (di Hatinya) adalah Hakekatnya"
Dari pemahaman di atas ini sebenarnya bisa kita indikasikan adanya keterkaitan
antara "Hati" dengan "Unsur" dan "Elemen" yang ada di alam semesta ini? Bahwa
"Hati" dan "Unsur" atau lebih jauh lagi "Materi" sebenarnya bisa saling terkait
dan terhubung. Dan itu bukanlah khayalan. Hal ini menjadi semakin nampak pada
jenis-jenis keilmuan pamungkas MP yang mempunyai dasar sifat unsur tertentu
semisal Api (Pasir Besi, Guntur Geni, Surung Geni, Sapto Dahono, dll) atau unsur
yang lainnya.
Tetapi apapun itu, dalam Tasawuf tujuan akhirnya adalah mendekatkan diri
dengan Sang Pencipta - yang lain hanyalah bunga-bunga kehidupan. Maka dari
itu, dalam konsep Kejawen yang dituju adalah ilmu Kasepuhan dan bukan ilmu
Kanuragan. Kalaupun seseorang mendapati jodohnya pada ilmu kanuragan
tertentu, maka itu mesti dilewati sebab itu hanyalah bunga-bunga kehidupan.

Imam Al Ghazali memang seringkali menganalogikan "Hati" dengan "Kaca"


ataupun "Cermin". Dimana "Hakekat Sesuatu" tersimpan di dalam "Hati" seperti
"Bayangan" di alam nyata tersimpan di dalam "Cermin" sebagaimana ditekankan
pada surat An Nuur ayat 35 diatas.
Allah

adalah

cahaya

Perumpamaan
yang

di

seperti

dalamnya
itu

Kaca

langit

Cahaya-Nya

Pelita
yang

bagi

itu
dinyalakan

ada

Pelita.
Kaca.

bintang

dengan

bumi.

Misykaat

dalam

laksana

dan

minyak

yang
pohon

berkilauan
yang

diberkati,

yaitu minyak zaitun yang bukan di timur dan tidak (juga) di barat.
Minyaknya

hampir

sekalipun

tidak

Cahaya
Allah

menerangi
disentuh

di
memberi

kepada

atas
petunjuk

siapa

api.

dengan
yang

cahaya
Cahaya-Nya
dikehendaki-Nya

(An Nuur 35)


Atau pada sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad dan Thabrani dari Abu
Sa'id Al Khurdy sebagai berikut "... Hati yang bersih padanya pelita yang bersinar
terang..."
Dari Hadist dan Al Quran di atas ini sebenarnya bisa membawa kepemahaman
mengenai Manunggaling Kawulo Gusti maupun "roso sak jroning roso". Cahaya
Ilahi (Gusti-Kawulo) itu bertingkat-tingkat, di atas cahaya satu terdapat cahaya
yang lain - Cahaya dari Misykaat, Cahaya dari Kaca, Cahaya dari Minyak dan
Cahaya dari Api Pelita itu sendiri - Cahaya di atas Cahaya.
Namun berbicara pemahaman akan Tasawuf juga mesti berhati-hati. Perlu
dibedakan mana yang sifatnya akulturasi/sinkretisme dan mana yang bukan.

Dalam Tasawuf sebenarnya menekankan pentingnya penyatuan antara Syariat,


Tarekat dan Hakekat. Jika tidak ada kesatuan antara ketiga dimensi ini
kecenderungan untuk tergelincir akan sangat mudah. Seperti yang terjadi pada
murid-murid Syekh Siti Jenar. Itu sebabnya walaupun para Wali mengerti apa
yang dikatakan oleh Siti Jenar tetapi para Wali tidak setuju jika Siti Jenar
menunjukan itu pada kalayak umum yang belum saatnya belajar Hakekat. Itu
sebabnya para Wali pun sangat menekankan pentingnya penyatuan antara Syariat,
Tarekat dan Hakekat.
Dalam MP pun saya rasa memang demikian jika tidak ingin tergelincir maka perlu
adanya penyatuan antara 'Syariat, Tarekat dan Hakekat'. Seperti misalnya tahap
awal adalah pelatihan dengan nafas pengolahan dengan kekejangan otot penuh
secara tidak langsung ini untuk melatih otot dan juga membuka simpul-simpul
syaraf (dimensi Fisik dan pintu gerbang dimensi Nafs), baru kemudian berlanjut
pada nafas halus seperti yang untuk memasuki fungsi hormonal. Dalam Tasawuf
latihan nafas halus ini sudah masuk ke dalam dimensi Nafs yang tentunya sangat
berkaitan dengan kinerja hormonal tubuh, kemudian jika Nafs sudah bisa
ditenangkan (Nafs al Mutmainah), baru akan terbuka pintu ke dimensi Ruh (Hati).
Dan jika sudah memasuki dimensi Ruh (Hati) maka sang Raja (Hati) cukup
memerintahkan saja maka seluruh elemen tubuh yang mana pun (cakra, chi/qi, dll)
akan patuh pada perintah sang Raja (Hati). Sang Raja (Hati) cukup "kun faya kun"
maka seluruh "alam semesta" akan mengkondisikan semua elemen dan energi
yang dibutuhkan agar itu 'terjadi'.
Berbasis pemahaman diatas, maka kita akan bisa memahami kisah Sunan Bonang
dan Raden Said di pinggir kali dimana Raden Said yang saat itu sudah memiliki
banyak 'ilmu karang' atau 'kanuragan' melihat 'kesaktian' Sunan Bonang yang
mengubah buah dan dahan pohon kolangkaling menjadi emas. Seketika "Hati"
Sunan Bonang berniat dan berkehendak untuk menjadikan "jadi emas" maka
jadilah emas. Tentunya ini semua terjadi atas izin Allah. Raden Said sangat
terkejut karena ia paham betul bahwa yang dilakukan oleh Sunan Bonang adalah
nyata adanya dan bukan sekedar bagian dari ilmu kanuragan yang ia pernah lihat

atau kuasai. Maka ia 'terkalahkan' dan mau berguru. Setelah semua ego
dirontokkan oleh Sunan Bonang dan ia menerima 'ujian' untuk menjaga tongkat
dan tidak boleh meninggalkan tempat sebelum Sunan kembali. Kisah ini
kemudian menjadi kisah Sunan Kalijaga seperti yang sering kita dengar.
Pada konteks menjalani Tasawuf ini, kita bisa melihat bahwa akan terjadilah
banyak 'keajaiban' pada diri penganutnya. Kalau pada Nabi maka disebut dengan
Mukjizat. Kalau terjadi pada para Wali maka disebut dengan Karomah. Kalau
terjadi pada orang biasa maka disebut Maunah. Ini seperti Iddividha (kekuatan
keajaiban) dalam Abhijna pada konsep Buddhisme. Hanya saja pada konsep Islam
bisa diperinci lagi menjadi Mukjizat, Karomah, dan Maunah. Apabila pada orang
biasa terjadi beragam kemampuan super namun tidak bisa disikapi dengan benar
maka Maunah akan bisa berubah menjadi Istidraj. Dan ini sangat berbahaya.
Istidraj adalah kenikmatan semu yang diberikan Allah kepada orang biasa yang
punya kelebihan sebelum kemudian dibinasakan dengan sangat menyakitkan. Jadi
memang ada warning pada tiap bagiannya yang mesti dipahami dengan benar
manakala sudah masuk pada aspek-aspek pelajaran kanuragan.
Semoga bermanfaat.
ILMU

LIMFATIK

(Bagian 1)
Didalam tubuh manusia ada 2 jenis sistem sirkulasi yang sangat penting. Yang
pertama adalah sistem sirkulasi peredaran darah, dan yang kedua adalah sistem
sirkulasi kelenjar getah bening. Sistem sirkulasi kelenjar getah bening biasa
disebut sebagai sistem Limfatik.
Memahami sistem limfatik akan memberikan kita wawasan yang lebih mendalam
mengenai kesehatan tubuh dan bagaimana cara kita merawat tubuh pemberian
Allah SWT ini. Sistem limfatik berjalan bersama dengan sistem syaraf, arteri, dan
vena, bahkan ia dua kali lebih besar dibandingkan pembuluh arteri darah yang ada
di tubuh kita, dan nampaknya dua kali lebih penting. Sistem ini terkait dengan

kekebalan tubuh dan ia bertugas untuk menghilangkan limbah dari setiap sel
dalam tubuh kita.
Oleh karena sistem Limfatik bertugas untuk menghilangkan limbah dari setiap sel
di tubuh kita dan terkait erat dengan kekebalan tubuh maka sudah semestinya
sistem ini kita perhatikan benar. Jika selama ini kita selalu peduli dengan darah
yang diusahakan untuk bisa mengisi dan mengaliri setiap bagian jaringan di tubuh
ini, maka sudah semestinya kita memberikan perhatian besar juga pada darah
yang meninggalkan sel sebagai cairan getah bening. Sederhananya, kemampuan
darah merah untuk measuk dan keluar dari sebuah sel dan ruang antar sel sebagai
sebuah cairan getah bening adalah salah satu proses penting dalam tubuh manusia.
Jika diibaratkan sebuah rumah, maka sistem Limfatik adalah saluran-saluran
pembuangan yang ada di rumah sedangkan darah adalah kran nya. Maka ketika
saluran-saluran itu tersumbat, maka dipastikan kran akan macet. Maka hanya
sekedar mengganti kran tidaklah menolong, melainkan juga perlu dibersihkan
saluran-saluran

yang

melingkupinya

dari

sumbatan-sumbatan.

Hanya

memperbaiki kran saja tanpa membersihkan saluran-saluran pembuangan tentunya


akan memicu bom waktu kapan kran tersebut akan macet.
Kelenjar getah bening adalah saluran pembuangan terbesar pada tubuh kita,
tetaplah usahakan untuk tidak tersumbat.
Sistem Limfatik sebagai sebuah saluran pembuangan limbah tentu terkait erat
dengan

racun

dan

semua

hal

yang

berhubungan

dengan

pelemahan

imunitas/kekebalan tubuh. Seiring waktu, tubuh terus menerus beradaptasi


terhadap berbagai racun dan hal-hal yang berhubungan dengan pelemahan
imunitas. Kemampuan untuk beradaptasi dalam proses pemunahan racun dan
limbah tubuh akan meningkatkan kualitas kesehatan kita.
Ketika sistem Limfatik sudah kehilangan kemampuan untuk membuang racun dan
limbah dari setiap sel secara efektif, sebenarnya tubuh mulai untuk 'berbicara'

dengan kita. Kuncinya adalah untuk bisa 'mendengar' ketika tubuh kita 'berbisik'
dan jangan tunggu tubuh kita 'menjerit'.
Pernahkah ketika suatu hari kita merasakan hal-hal seperti berikut ini:
-

Cincin

rasanya

Tubuh

makin

terasa

sempit

dan

kaku

setiap

Mudah

berasa

kali

mudah

Kulit

yang

makin

bangun

merasa

Perut

jari-jari

'lebar'
pagi
letih

kembung
cepat

Berasa

gatal
mengambang

- Payudara berasa bengkak dan nyeri tiap sedang siklus (untuk wanita)
-

Kulit
Tangan

dan

kering
kaki

Mudah

alergi

dingin
Hipersensitif

Sering

sakit

kepala

ringan

- Mudah sakit perut hingga diare


Jika kita pernah mengalami hal diatas, maka kita sedang ada masalah dengan
sistem Limfatik atau sistem kelenjar getah bening.
Sistem Limfatik ini unik karena ia punya lebih dari satu fungsi. Secara umum
sistem Limfatik memiliki tiga fungsi yakni pertama sebagai detoksifikasi
(pembuangan racun) dan limbah dari setiap sel tubuh. Kedua, sebagai penghasil
sistem imun sel B dan T yang paling aktif pada kelenjar getah bening. Ketiga,
sebagai penyeimbang cairan tubuh dan penyerapan lemak.
Ada 3 penyebab utama macetnya sistem Limfatik pada tubuh kita:
1. Stres. Stres akan menghasilkan kimiawi tubuh yang menyebabkan macet dan
tersumbatnya sistem Limfatik hingga lebih dari 80%. Ini berkaitan dengan kondisi
pada otak kepala dan 'otak jantung'.

2.

Ketidakseimbangan

pencernaan.

Pola

makan

yang

tidak

beraturan,

ketidakseimbangan asupan nutrisi yang masuk ke dalam tubuh, menjadi penyebab


macet dan tersumbatnya sistem Limfatik. Ini berkaitan dengan kondisi pada 'otak
perut' (gut brain).
3. Kekurangan yodium, menjadi salah satu penyebab macet dan tersumbatnya
sistem Limfatik.
Jadi memang memahami fungsi ketiga otak itu menjadi sangatlah penting untuk
mendapatkan kondisi tubuh yang senantiasa terjaga. Terjaga pikirannya, terjaga
imajinasinya, terjaga penyikapan hatinya, terjaga pola makannya, terjaga pola
istirahatnya, dll.
Sering menjadi pertanyaan, kenapa stres bisa menyebabkan begitu banyak
masalah dalam tubuh? Hal ini disebabkan karena ketika seseorang stres maka
tubuh dipaksa untuk membuat dan menghasilkan hormon yang melawan kondisi
stres ini, istilahnya hormon 'penangkal stres'. Dan ini akan membuat terjadinya
lonjakan energi negatif tinggi di dalam tubuh. Produk limbah yang dihasilkan dari
keadaan ini adalah apa yang kita kenal dengan istilah Radikal Bebas. Maka dari
itu orang yang mudah stres dan sering stres umumnya akan cepat menua sebab
radikal bebas adalah penyebab terbesar dari penuaan sel. Bahkan lebih buruk lagi,
stres menyebabkan timbulnya hormon 'penangkal stres' dan radikal bebas bersifat
sangat asam. Kondisi peningkatan asam ini akan masuk ke dalam darah dan
jaringan sel lainnya. Semakin asam tubuh maka semakin terjadi banyak masalah.
Sistem Limfatik akan menjadi mudah untuk terbebas dari sumbatan manakala
tubuh menjadi bersifat makin basa atau alkali. Namun proses ini tidaklah terjadi
secara tiba-tiba atau alamiah. Diperlukan ilmu untuk memberikan kita kesadaran
akan adanya pengetahuan ini. Kondisi ini berbeda seperti misalnya pada hewan
tupai dimana pada saat musim dingin ia makan kacang. Kacang bersifat asam,
sebagai penghangat manakala musim dingin. Makanan bersifat asam yang
umumnya

dipanen

pada

saat

musim

dingin

sangat

membantu

tubuh

mempertahankan lemak, protein, mineral, dan vitamin. Apabila tupai ini memakan
Brokoli pada saat musim dingin maka itu akan membuat tubuhnya menjadi
bersifat basa/alkali, memicu detoksifikasi pada sistem limfatik, dan akan memicu
kematiannya sendiri. Dengan naluri alamiahnya, atau lebih tepatnya kemampuan
yang diilhamkan Allah, tupai bisa membedakan jenis makanan apa yang harus ia
makan pada musim yang mana.
Manusia, tidaklah memiliki pengetahuan jenis ini seperti yang diilhamkan kepada
tupai. Kebanyakan kita makan apapun tanpa pedulikan apapun. Padahal
'mendengar' musim (alam) adalah salah satu kemampuan wajib yang harus
dimiliki manusia agar pola makan tetap terjaga dan tubuh selalu berusaha
mencapai kondisi homeostatis (seimbang) yang terbaiknya. Maka kembali saya
ingin mengutip satu nasehat bijak dari ilmu Timur yang sangat layak untuk kita
semua renungkan bersama yakni ...
"Kuncinya adalah untuk bisa 'mendengar' ketika tubuh kita 'berbisik' dan jangan
tunggu tubuh kita 'menjerit'."
Bahwa dalam khasanah Jawa ada mikrokosmos dan makrokosmos. Bisalah
'mendengar' ketika mikrokosmos kita 'berbisik', jangan tunggu mikrokosmos kita
'menjerit' baru kita melakukan action. Mulailah untuk belajar 'mendengar' tubuh
kita sendiri. Apa yang didengar? Yakni hati kecil kita, naluri suci kita, roso sak
jroning roso kita.
Tubuh manusia, dilengkapi dengan sistem pertahanan yang sangat hebat oleh
Allah, Tuhan Yang Maha Besar. Ada banyak sistem pertahanan tubuh dan banyak
diantaranya bersifat berlapis-lapis. Saya ambil contoh, pada tubuh kita terdapat
lapis pertama pertahanan tubuh yakni:
1.
2.

Kulit
Getah

3.
4.

Urine
Asam

lambung

5.

Air

mata

6. Organisme simbiotik (mikroba dan bakteri yang bermanfaat)


Semua jenis hal yang berbahaya yang akan berusaha memasuki tubuh kita paling
tidak akan menjumpai 'lawan' berupa enam jenis pertahanan tersebut, beberapa
literatur menyebutkan 7 hingga 9 pertahanan. Mulai dari kulit hingga asam
lambung. Maka sebenarnya tubuh kita ini didesain untuk mampu bertahan hidup
dalam kondisi-kondisi yang menyulitkan sekalipun. Tubuh kita ini terus menerus
tiada henti memastikan bahwa yang masuk ke dalam tubuh adalah sesuatu yang
baik. Maka kalau kita sampai sakit, silahkan kita introspeksi diri pada 3 bagian
'otak' beserta padanan pasangannya. Misal, otak kepala, fisiknya adalah otak
kepala, nutrisi ke otak, aliran darah ke otak. Batiniahnya adalah pola pikir,
imajinasi, nalar, dll. Apakah sudah dipergunakan semestinya. Demikian juga
dengan yang lainnya.
Mendadak saya teringat dengan salah satu keilmuan MP bernama "Toto Rogo"
yang sebenarnya bisa diaplikaskan kesana, yakni merasakan tiap lapisan tubuh
kita dari mulai yang terluar hingga terdalam. Dari yang besar hingga yang kecil
dan sangat kecil. Termasuk pada siste Limfatik ini. Konsep "Toto Rogo"
sebenarnya bisa lebih mudah dilakukan dan dijalankan di zaman sekarang. Untuk
visualisasi, kita bisa melihat berdasarkan rujukan dari buku-buku kedokteran
modern seperti misalnya struktur kulit, otot, daging, tulang, darah, organ, dll,
dibandingkan pada zaman dulu yang mesti mendapatkan waskita dan trawangan
untuk mengetahui. Memang nantinya tetap naluri yang mesti berperan. Namun
sebagai pengembangan pada sisi pragmatis, kaidah "Toto Rogo" tetap bisa sesuai
dengan perkembangan zaman. Kalau dulu, "Toto Rogo" dianggap sebagai bagian
dari ilmu kanuragan, maka kita bisa sedikit mengembangkan itu menjadi salah
satu 'ilmu kesehatan' tubuh. Ilmu Timur, dalam khasanah tradisionalnya, punya
yang seperti itu. Asalkan kita mau menggali dan mengaplikasikan manfaatnya
dalam kehidupan sehari-hari.

Menjadi pertanyaan, bagaimana caranya untuk melakukan perbaikan pada sistem


Limfatik ini? Nanti akan saya sambung pada bagian dua tulisan ini.
Semoga bermanfaat.
LMU

LIMFATIK

(Bagian 2)
Pada bagian pertama saya jelaskan hal-hal yang berhubungan dengan sistem
Limfatik atau apa yang kita kenal sebagai sistem Kelenjar Getah Bening. Saya
coba ringkas ulang. Dalam tubuh manusia terdapat 2 sistem peredaran besar yakni
sistem peredaran darah dan sistem kelenjar getah bening.
Sistem Peredaran Darah saya istilahkan dengan Sirkulasi Merah, sedangkan
Sistem Kelenjar Getah Bening atau Limfatik saya istilahkan dengan Sirkulasi
Putih. Keduanya memiliki manfaat yang saling melengkapi karena keduanya
adalah satu kesatuan. Sirkulasi Merah berpotensi untuk menghasilkan energi.
Namun setiap energi menghasilkan 'limbah buangan'. Sementara Sirkulasi Putih
berpotensi untuk melepas, membuang, menetralisir semua 'limbah buangan' yang
dihasilkan oleh Sirkulasi Merah. Tidak hanya itu, Sirkulasi Putih juga
menghasilkan kekuatan berupa daya imunitas tinggi manakala dijaga secara benar.
Jika diibaratkan rumah, maka Sirkulasi Merah adalah 'kran air' sedangkan
Sirkulasi Putih adalah 'saluran-saluran'. Apabila 'kran air' macet, maka periksalah
juga 'saluran-saluran'nya karena bisa jadi macetnya kran ini karena salurannya
tersumbat. Semua proses 'memasak' dan apapun yang terjadi didalam rumah
umumnya akan 'dibuang' melalui 'saluran-saluran' ini. Maka menjaga kebersihan
'saluran-saluran' agar tidak tersumbat merupakan suatu keharusan.
Sirkulasi Putih memiliki panjang 2x atau lebih dibandingkan Sirkulasi Merah.
Artinya, jalur Sirkulasi Putih yang dimiliki tubuh ini jauh lebih panjang
dibandingkan sistem peredaran darah merah yang ada.

Dari literatur yang saya kumpulkan, proses pembersihan Sirkulasi Putih


(Limfatik) terdapat paling tidak 15 (lima belas) cara sebagai berikut:
1.

Latihan

2.

Mandi

3.

Mengurangi

4.

Pemijatan

fisik

dan

air

hangat

konsumsi
pada

5.

bergerak
kemudian

untuk

Sirkulasi

semua
Putih

Konsumsi

6.

secara
air

jenis

(kelenjar

produk
getah

cuka

fisik
dingin
susu
bening)
apel

Mengurangi

protein

7.

Sauna

8.

Astringen

9.

Menggosok

(melakukan
lokasi

10.

kontraksi

kelenjar

getah

Herbal

kulit)
bening
alami

11. Sayuran dan buah-buahan organik (alami tanpa pestisida, dan bukan
modifikasi
12.

genetik)
Tidak

menggunakan

13.
14.

anti

bau

Berpikir
Menghentikan

penggunaan

badan
positif

obat-obatan

terlarang

15. Seimbang dalam pola makan


Saya tidak ingin membahas semua namun hanya beberapa saja yang kebetulan
saya jalankan di kelas Kebugaran saya yakni point 1, 4, 8, 11, dan 13.
Tinjauan pertama dilihat dari kaidah gerak yakni Latihan Fisik Yang Bergerak.
Apabila setelah bangun tidur kita merasa tubuh kita terasa kaku bahkan terasa
sangat kaku di beberapa tempat maka berhati-hatilah karena Sirkulasi Putih
(kelenjar getah bening) kita mulai 'menjerit'. Kalau saat bangun tidur terasa kaku
ringan-ringan saja, tidak ada nyeri atau diluar batas, maka itu artinya tubuh kita
baru 'berbisik'. Dengarkanlah 'bisikan' tersebut, jangan tunggu tubuh kita
'menjerit'. Segeralah bergerak melakukan senam-senam ringan.

Apabila dilihat dari prinsip gerak, dalam pengalaman saya (sekali lagi ini adalah
pengalaman pribadi yang bisa saja berbeda dengan yang Anda alami), gerakan
Napas Pengolahan maupun Pembinaan belum cukup untuk membuat Sirkulasi
Putih berfungsi maksimal. Pengalaman ini terjadi pada salah satu peserta yang
mengalami masalah pada kelenjar getah beningnya. Gerakan napas Pengolahan
maupun Pembinaan adalah bentuk gerakan Isometric yang menggunakan otot
postural dalam mempertahankan suatu postur tertentu. Gerakan Isometric ini
justru akan dominan mengaktifkan Sirkulasi Merah dibanding Sirkulasi Putih.
Lalu bagaimana solusinya? Yakni dengan melakukan Sirkulasi Merah terlebih
dahulu barulah kemudian menjalani latihan Sirkulasi Putih. Dengan kata lain,
melakukan olah napas terlebih dahulu baru melakukan rangkaian gerakan.
Gerakan yang bagaimana yang baik dilakukan dalam konteks ini? Dalam
pengalaman saya, ada 2 jenis sebagai berikut:
1.

Melakukan

latihan

rangkaian

gerak

2. Berjalan kaki
Silahkan mana yang dipilih yang dirasa lebih mudah.
Dalam studi kasus saya, pendekatan point nomor 2 (berjalan kaki) menghasilkan
pemulihan yang sangat cepat dibandingkan point nomor 1. Hal ini dikarenakan
kecilnya 'blocking' pada pikiran ketika menjalani aktivitas nomor 2 dibanding
nomor 1. Aktivitas berjalan kaki sangatlah mudah dilakukan dan hampir tidak ada
beban apapun. Sementara aktivitas Rangkaian Gerak perlu adanya menghafal
gerakan-gerakan tertentu lebih dahulu kemudian menirunya dan melakukan
berulang-ulang. Bagi peserta manula, menghafal gerakan adalah masalah
tersendiri. Sebuah latihan mesti dibuat sederhana namun berisi manfaat-manfaat
maksimal.
Pada tata gerak MP memiliki karakter yang berbeda dengan tata gerak silat Sunda
atau silat Minang. Pada silat Sunda atau silat Minang biasanya ada gerakan yang

menepuk kulit atau bagian tubuh tertentu (sikut, telapak kaki, lengan, dada, rusuk
dalam, dll) yang menimbulkan bunyi 'plek' atau 'plak' pada gerakan jurusnya.
Beberapa silat Betawi juga melakukan ini. Dalam konteks sistem Limfatik hal ini
sebenarnya masuk pada kategori Pemijatan Kelenjar Limfatik (salah satu
aspeknya adalah pemijatan melalui tepukan). Namun rangkaian tata gerak MP
tidak punya yang seperti itu. Maka gerakannya mesti dipilih sedemikian rupa yang
mengenai bagian-bagian kelenjar getah bening dengan konsentrasi yang besar
seperti di leher, ketiak, tengah dada, pangkal paha, dan limpa. Bisa dipilih
gerakan-gerakan berdasarkan tata gerak MP seperti misalnya Tebasan Datar,
Tebangan Datar, Tebangan Kebawah, Sodokan Melingkar, Sodokan Silang,
Sodokan Keatas, Ujung Siku Keatas, Srimpet, dsb, yang memungkinkan
konsentrasi kelenjar getah bening tersebut bergerak.
Pada saat melakukan aktivitas Napas Pengolahan maupun Pembinaan, terjadi pada
diri kita kondisi yang disebut dengan Astringen (jaringan kulit berkontraksi) yakni
pada saat pengejangan dan pengendoran. Saat bagian tubuh mengejang, maka
bagian kulit ikut berkontraksi. Demikian juga saat mengendor, maka bagian kulit
ikut juga berkontraksi. Pada saat melakukan gerakan tersebut rangsangan pada
kelenjar getah bening (limfatik) terjadi.
Saat melakukan bentuk gerakan olah napas juga penting untuk menjaga pikiran
agar tidak terbebani. Seringkali kita tidak sadar kalau olah napas itu sudah
menjadi beban sedari awalnya. Mulut kita bisa saja mengatakan tidak, tetapi
pikiran kita sesungguhnya menganggap gerakan itu sebagai beban. Beban pada
pikiran akan otomatis ikut membebani tubuh. Maka diperlukan kondisi
penyikapan yang tepat pada setiap latihan olah napas. Bagaimanakah kondisi
penyikapan tersebut? Yakni melakukan latihan dengan pikiran positif dan dengan
rasa senang gembira suka cita. Dengan demikian terjadilah reaksi pada Sirkulasi
Putih melalui pikiran yang positif.
Kebahagiaan akan meningkatkan imunitas tubuh.

Sederhananya, kalau ingin terjadi peningkatan kesehatan secara maksimal pada


kelas Kebugaran yang kita pegang (bagi yang melatih kelas Kebugaran MP),
untuk pasien yg menderita masalah kelenjar getah bening maka lakukan terlebih
dahulu olah napas (kadar ringan, sedang, atau berat bergantung waktu dan
kebutuhan) dan setelah itu dilanjutkan dengan aktivitas Berjalan Kaki 10-15
menit.
Menjadi pertanyaan, apakah kalau langsung berjalan kaki saja hasilnya juga baik?
Tentu saja. Namun dalam pengamatan saya (sekali lagi ini adalah pengalaman
pribadi) hasil terbaik dicapai melalui pendekatan Olah Napas dulu baru kemudian
Berjalan Kaki atau melakukan Rangkaian Gerakan tertentu yang dirancang
sedemikian rupa.
Hal-hal lain yang menjadi perhatian saya adalah mengenai pola makan. Seperti
yang pernah saya jelaskan sebelumnya mengenai konsep Aerobik dan Anaerobik
di tulisan berjudul Napas Kering MP, bahwa terjadi irisan sedemikian rupa antara
aerobik menunju anaerobik. Irisannya bisa saya jelaskan sebagai berikut, bahwa
dalam latihan olah napas Pengolahan ketika napas sudah dirasa 'habis' maka
praktisi mesti menahan lagi selama 3-5 detik terakhir sebelum kemudian
membuang napas dan menstabilkan napasnya. Kondisi menahan lagi 3-5 detik
adalah kondisi anaerobik ekstrim. Pada tahap itu, secara teoritis, darah berubah
sifat menjadi lebih asam dibanding sebelumnya. Maka selesai latihan disarankan
untuk mengkonsumsi buah-buahan atau sayuran atau makanan yang membentuk
basa/alkali. Silahkan bisa dilihat artikel saya mengenai itu. Menjaga pola makan
yang bersifat alkali/basa adalah juga sebagai perbaikan terhadap masalah kelenjar
getah bening atau sirkulasi Putih ini. Dengan demikian, latihan Kebugaran MP
memiliki manfaat yang optimal, menghasilkan percepatan pemulihan yang tinggi,
aman, dan dapat dipertanggungjawabkan dari sisi ilmu kesehatan.
Semoga bermanfaat.
ILMU KEKEBALAN TUBUH

Pada tulisan sebelumnya saya membahas mengenai Sirkulasi Merah dan Sirkulasi
Putih dimana sirkulasi merah merupakan sirkulasi sel darah merah yang dimulai
dari jantung dan kembali ke jantung melalui pembuluh sedangkan sirkulasi putih
merupakan kelenjar getah bening (limfatik) yang menghasilkan kemampuan
perlindungan terhadap semua limbah beracun dan berbahaya yang dihasilkan oleh
sirkulasi merah.
Salah satu aspek yang dimiliki oleh sistem Limfatik adalah kekebalan tubuh.
Maka penting untuk memahami bagaimana kekebalan tubuh ini bekerja.
Didalam tubuh kita terdapat sistem yang disebut dengan sistem kekebalan tubuh
atau yang sering kita kenal dengan istilah sistem imun. Tubuh manusia adalah
ciptaan Allah SWT yang luar biasa kompleks namun sempurna. Dihadirkan
olehNya sebuah sistem pertahanan nan canggih dalam melawan berbagai bakteri,
virus, dan penyakit. Kehidupan kita di dunia tidak akan terlepas dengan berbagai
hal yang membahayakan diri seperti misalnya para pembawa infeksi dan bibit
penyakit. Untuk itulah sistem imun dihadirkan secara berlapis-lapis dalam rangka
menjadi sebuah mekanisme pertahanan.
Sistem kekebalan pada tubuh atau saya singkat saja sistem imun terdiri dari 2
(dua) golongan besar yakni Sistem Imun Bawaan (SIB) dan Sistem Imun Adaptif
(SIA). Sistem Imun Bawaan merupakan pertahanan pertama terhadap semua
organisme yang akan berusaha menimbulkan kerusakan di tubuh kita. Sementara
Sistem Imun Adaptif berfungsi sebagai pertahanan lapis kedua terhadap jenisjenis penyakit yang menyerang Sistem Imun Bawaan. Pada keduanya terdapat
komponen selular dan cairan tubuh yang bertugas membawa fungsi perlindungan.
Sebagai tambahan, Sistem Imun Bawaan juga memiliki kemampuan anatomi yang
berfungsi sebagai pelindung terhadap infeksi. Meskipun kedua sistem ini memiliki
fungsi yang yang berbeda namun ada hubungan yang saling mempengaruhi
diantara keduanya. Misalnya, komponen pada Sistem Imun Bawaan dapat
mempengaruhi Sistem Imun Adaptif dan demikian juga sebaliknya.

Meskipun kedua sistem imun ini memiliki fungsi yang sama untuk melindungi
tubuh terhadap serangan organisme penyebab penyakit, mereka memiliki
karakteristik yang berbeda pada keduanya. Sistem Imun Adaptif memerlukan
beberapa waktu untuk bereaksi dalam menghadapi organisme penyebab penyakit,
sementara Sistem Imun Bawaan umumnya akan langsung bereaksi secara
otomatis dan termobilisasi untuk langsung menghadapi organisme penyebab
penyakit tersebut. Sistem Imun Adaptif merupakan sebuah antigen (antibody
generator) spesifik yang hanya akan bereaksi dengan organisme penyebab
penyakit tertentu yang memicu respon. Sebaliknya, Sistem Imun Bawaan
bukanlah sebuah antigen spesifik dan ia akan bereaksi secara sama baiknya
terhadap beragam jenis organisme penyebab penyakit. Sistem Imun Adaptif
menunjukkan sebuah kemampuan dalam menyimpan apa yang disebut dengan
"memori kekebalan tubuh". Ia akan mampu "mengingat" apa-apa yang menyerang
dirinya, dan bagaimana mekanisme pertahanan diluncurkan. Berikutnya, ia akan
menjadi lebih aktif dan lebih cepat dalam melawan organisme penyebab penyakit
yang sama. Sebaliknya, Sistem Imun Bawaan tidak memiliki kemampuan
"memori" tersebut.
Kedua sistem ini memiliki kesamaan yakni bahwa terdapat kemampuan
melakukan adaptasi terhadap perubahan jenis organisme penyebab penyakit.
Namun tahap adaptasi ini berbeda-beda setiap orang. Seperti kita ketahui bahwa
organisme penyebab penyakit mampu melakukan pengubahan sel agar tidak
dikenal oleh sistem imun. Namun karena sistem imun punya kemampuan deteksi
terhadap adaptasi perubahan ini maka ia akan mampu melakukan mekanisme
pertahanan baru untuk melawan organisme penyebab penyakit yang telah
mengalami modifikasi ini. Misalnya, seseorang yang mampu bertahan terhadap
penyakit campak akan memiliki daya imunitas terhadap sakit ini di kemudian hari.
Hal ini dikarenakan pada sistem imunitasnya telah mampu melakukan adaptasi
terhadap jenis penyakit tersebut. Bisa dikatakan bahwa Sistem Imun Adaptif yang
bekerja pada mekanisme seperti itu yakni untuk menghancurkan setiap molekul
beracun dan berbahaya yang asing bagi tuan rumah. Kemampuan untuk

membedakan apa yang asing dari apa yang asli pada diri adalah kemampuan
mendasar dari Sistem Imun Adaptif.
Tentu saja, tidak semua organisme dan molekul yang masuk ke dalam tubuh
dianggap berbahaya bagi tubuh. Pada saat organisme itu dianggap berbahaya bagi
tubuh maka barulah Sistem Imun Bawaan diaktifkan. Apabila Sistem Imun
Bawaan "menganggap" organisme berbahaya ini dapat diselesaikan dengan
Sistem Imun Adaptif maka ia akan memanggil respon Sistem Imun Adaptif pada
organisme yang sudah dikenal oleh "memori kekebalan tubuh" tersebut. Artinya,
akan ada kondisi dimana ketika Sistem Imun Bawaan kita sangat kuat maka
Sistem Imun Adaptif menjadi kurang begitu responsif. Hal ini tidak masalah
mengingat Sistem Imun Adaptif sebagai lapis kedua pertahanan setelah Sistem
Imun Bawaan. Namun yang perlu digarisbawahi adalah bahwa Sistem Imun
Adaptif memiliki kemampuan dalam "mengenali" dan "menyimpan memori
kekebalan tubuh" akan suatu organisme dan molekul berbahaya yang pernah
masuk ke dalam tubuh.
Setiap segala sesuatu yang mampu memunculkan kemampuan Sistem Imun
Adaptif disebut dengan Antigen atau antibody generator. Dalam hal ini, para
ilmuwan melakukan banyak sekali percobaan melibatkan hewan untuk menguji
sejauh mana tubuh makhluk hidup menghasilkan antigen. Biasanya dengan cara
menyuntikkan organisme berbahaya yang disertai sedikit sel imunitas pada tubuh
hewan percobaan lalu melihat reaksi/respon imunitas tubuhnya. Kita akan sangat
terkejut bahwa banyak sekali kemampuan makhluk hidup dalam menghasilkan
antigen. Artinya, daya adaptasi sel memang luar biasa. Pendekatan ini kemudian
melahirkan apa yang kita kenal sebagai Imunisasi.
Sistem Imun Adaptif dibawa oleh sel darah putih yang disebut dengan Limfosit.
Terdapat dua jenis response pada Sistem Imun Adaptif ini yakni respon antibody
(sel B) dan respon yang diperantarai oleh sel (sel T). Manakala respon antibody
terjadi maka sel B akan diaktifkan untuk mengeluarkan antibodi sejenis protein
yang disebut Immunoglobulin. Immunoglobulin ini kemudian akan beredar dalam

aliran darah (Sirkulasi Merah) dan menyerap cairan tubuh lainnya termasuk
antigen asing. Penyerapan dan pengikatan ini akan melemahkan dan
menonaktifkan virus dan mikroba beracun dengan cara memblokir kemampuan
virus dan mikroba tersebut untuk mengikat reseptor pada sel inang. Sedangkan
pada respon imun yang diperantarai oleh sel (sel T), sel T akan bereaksi langsung
pada setiap organisme asing yang ada di permukaan sel inang untuk segera
dibasmi sebelum virus mampu melakukan replikasi sel.
Dalam pemahaman saya, sederhananya, Sistem Imun Bawaan (SIB) didapat oleh
Sirkulasi Merah sedangkan Sistem Imun Adaptif (SIB) didapat oleh Sirkulasi
Putih. Hal ini sedikit banyak bisa menjelaskan kenapa pelatihan olah napas
Merpati Putih akan mampu memperkuat imunitas karena fungsi dan kemampuan
sel darah merah meningkat. Namun sebagai produk buangannya akan terdapat
banyak limbah beracun hasil sirkulasi merah yang harus ditangani benar oleh
Sirkulasi Putih sedangkan Sirkulasi Putih dapat ditingkatkan kemampuannya
dengan cara menggerakkan seluruh tubuh. Maka memang idealnya latihan untuk
pola Kebugaran adalah melatih tata napas dulu barulah kemudian tata gerak dan
diakhiri dengan meditasi. Dan latihan juga tidak bisa hanya meditasi statis saja
terus. Ada bagian tubuh yang harus digerakkan untuk memaksimalkan fungsinya.
Statis dan dinamis harus seimbang agar sirkulasi merah dan sirkulasi putih juga
seimbang. Khusus mengenai meditasi kapan waktu akan saya bahas secara
terpisah.
Menjadi pertanyaan, apakah yang saat ini berjalan secara umum dimana tata gerak
dulu dilatih baru kemudian tata napas itu salah? Ini juga ada beberapa rekan yang
menanyakan. Jawaban saya adalah bahwa ada hal-hal yang bersifat baik dan ada
yang bersifat baik dan optimal. Yang sudah berjalan selama ini tentu sudah baik,
sudah melahirkan banyak kebaikan dan prestasi. Tidak ada masalah dengan itu.
Namun apabila ingin dibuat optimal, maka polanya semestinya adalah tata napas
dulu barulah kemudian tata gerak dan diakhiri dengan meditasi. Landasan
ilmiahnya sudah pernah saya kemukakan, baik itu berdasarkan ilmu Fisiologi
mengenai Isometric dan Plyometric ataupun berdasarkan sistem sirkulasi tubuh.

Saat ini, saya dan tim kecil sedang menyusun panduan kebugaran berdasarkan
kaidah-kaidah yang saya pernah jelaskan sebelumnya. Beberapa malah sudah
diujicobakan dengan hasil yang sangat baik. Kapan waktu nanti akan saya bahas
secara terpisah.
Lebih jauh lagi, secara hakekat, kemampuan pada Sistem Imun Adaptif yang
tinggi ini akan membuat kita memiliki 'Krei Wojo' atau 'Tirai Baja'. Krei Wojo
yang dimaksud dalam konteks hakekat Kebugaran ini adalah kemampuan tubuh
membendung segala macam penyakit yang akan menyerang dan menyakiti diri.
Kemampuan pertahanan diri yang meningkat dan mampu beradaptasi pada semua
organisme penyebab penyakit. Krei Wojo jenis ini bukanlah krei wojo dimana
tubuh kita kebal dengan pukulan atau senjata tajam, namun memiliki mekanisme
pertahanan tingkat tinggi dalam melawan berbagai jenis penyakit.
Sejauh ini, dalam pemahaman saya, terdapat 3 macam jenis 'Krei Wojo' yakni
Krei Wojo sebagaimana adanya ia dinamakan pada konsep kanuragan yakni
kemampuan bertahan dari segala serangan pukulan tendangan dan senjata tajam,
lalu Krei Wojo sebagai hakekat Kebugaran yakni kemampuan bertahan dari segala
serangan organisme yang menyebabkan penyakit. Dan terakhir, Krei Wojo dalam
pemahaman ajaran Ki Ageng Suryomentaram yang menjelaskan adanya
kemampuan

membendung/menahan

serangan

pemikiran-pemikiran

yang

cenderung menyebabkan kerusakan kepribadian sikap watak dan karakter.


Sekali lagi, apa-aa yang saya jelaskan ini sekedar hasil mersudi dan penelitian
pribadi dan yang benar-benar saya terapkan pada kelas kebugaran saya. Adapun
apabila ada manfaatnya silahkan diambil sebanyak-banyaknya dan apabila ada
kekurangan dan kesalahannya silahkan dikoreksi atau diperbaiki. Mari kita samasama berbuat memberikan sumbangan bagi Merpati Putih dalam banyak hal
termasuk sumbangan pemikiran, sedikit maupun banyak.
Semoga bermanfaat.