Anda di halaman 1dari 13

HUBUNGAN ANTARA FILSAFAT ILMU DENGAN KEPERAWATAN, ILMU DAN

TEKNOLOGI

Disusun Oleh :
Kelompok 1-2

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN NERS


FAKULTAS KEPERAWATAN
UNIVERSITAS AIRLANGGA SURABAYA
2016

1. FILSAFAT ILMU
1.1 Pengertian
Pengertian Filsafat Ilmu dalam Ismaun (2001) :
a. Robert Ackerman philosophy of science in one aspect as a critique of current
scientific opinions by comparison to proven past views, but such aphilosophy of
science is clearly not a discipline autonomous of actual scientific paractice. (Filsafat
ilmu dalam suatu segi adalah suatu tinjauan kritis tentang pendapat-pendapat ilmiah
dewasa ini dengan perbandingan terhadap kriteria-kriteria yang dikembangkan dari
pendapat-pendapat demikian itu, tetapi filsafat ilmu jelas bukan suatu kemandirian
cabang ilmu dari praktek ilmiah secara aktual.
b. Lewis White Beck Philosophy of science questions and evaluates the methods of
scientific thinking and tries to determine the value and significance of scientific
enterprise as a whole. (Filsafat ilmu membahas dan mengevaluasi metode-metode
pemikiran ilmiah serta mencoba menemukan dan pentingnya upaya ilmiah sebagai
suatu keseluruhan)
c.

A. Cornelius Benjamin That philosopic disipline which is the systematic study of


the nature of science, especially of its methods, its concepts and presuppositions, and
its place in the general scheme of intellectual discipines. (Cabang pengetahuan
filsafati yang merupakan telaah sistematis mengenai ilmu, khususnya metodemetodenya, konsep-konsepnya dan praanggapan-praanggapan, serta letaknya dalam
kerangka umum cabang-cabang pengetahuan intelektual.)

d.

Michael V. Berry The study of the inner logic if scientific theories, and the relations
between experiment and theory, i.e. of scientific methods. (Penelaahan tentang
logika interen dari teori-teori ilmiah dan hubungan-hubungan antara percobaan dan
teori, yakni tentang metode ilmiah.)

e. May Brodbeck Philosophy of science is the ethically and philosophically neutral


analysis, description, and clarifications of science. (Analisis yang netral secara etis
dan filsafati, pelukisan dan penjelasan mengenai landasan landasan ilmu.
f. Peter Caws Philosophy of science is a part of philosophy, which attempts to do for
science what philosophy in general does for the whole of human experience.
Philosophy does two sorts of thing: on the other hand, it constructs theories about man
and the universe, and offers them as grounds for belief and action; on the other, it
examines critically everything that may be offered as a ground for belief or action,

including its own theories, with a view to the elimination of inconsistency and error.
(Filsafat ilmu merupakan suatu bagian filsafat, yang mencoba berbuat bagi ilmu apa
yang filsafat seumumnya melakukan pada seluruh pengalaman manusia. Filsafat
melakukan dua macam hal : di satu pihak, ini membangun teori-teori tentang manusia
dan alam semesta, dan menyajikannya sebagai landasan-landasan bagi keyakinan dan
tindakan; di lain pihak, filsafat memeriksa secara kritis segala hal yang dapat
disajikan sebagai suatu landasan bagi keyakinan atau tindakan, termasuk teoriteorinya sendiri, dengan harapan pada penghapusan ketakajegan dan kesalahan
g. Stephen R. Toulmin As a discipline, the philosophy of science attempts, first, to
elucidate the elements involved in the process of scientific inquiry observational
procedures, patens of argument, methods of representation and calculation,
metaphysical presuppositions, and so on and then to veluate the grounds of their
validity from the points of view of formal logic, practical methodology and
metaphysics. (Sebagai suatu cabang ilmu, filsafat ilmu mencoba pertama-tama
menjelaskan unsur-unsur yang terlibat dalam proses penyelidikan ilmiah prosedurprosedur pengamatan, pola-pola perbinacangan, metode-metode penggantian dan
perhitungan, pra-anggapan-pra-anggapan metafisis, dan seterusnya dan selanjutnya
menilai landasan-landasan bagi kesalahannya dari sudut-sudut tinjauan logika formal,
metodologi praktis, dan metafisika).
Berdasarkan pendapat di atas kita memperoleh gambaran bahwa filsafat ilmu
merupakan telaah kefilsafatan yang ingin menjawab pertanyaan mengenai hakikat ilmu,
yang ditinjau dari segi ontologis, epistemelogis maupun aksiologisnya. Dengan kata lain
filsafat ilmu merupakan bagian dari epistemologi (filsafat pengetahuan) yang secara
spesifik mengakaji hakikat ilmu,seperti:
a.

Obyek apa yang ditelaah ilmu ? Bagaimana ujud yang hakiki dari obyek
tersebut? Bagaimana hubungan antara obyek tadi dengan daya tangkap
manusia yang membuahkan pengetahuan ? (Landasan ontologis)

b.

Bagaimana proses yang memungkinkan ditimbanya pengetahuan yang


berupa ilmu? Bagaimana prosedurnya? Hal-hal apa yang harus diperhatikan
agar mendakan pengetahuan yang benar? Apakah kriterianya? Apa yang
disebut kebenaran itu? Adakah kriterianya? Cara/teknik/sarana apa yang
membantu kita dalam mendapatkan pengetahuan yang berupa ilmu?
(Landasan epistemologis)

c.

Untuk apa pengetahuan yang berupa ilmu itu dipergunakan? Bagaimana


kaitan antara cara penggunaan tersebut dengan kaidah-kaidah moral?
Bagaimana penentuan obyek yang ditelaah berdasarkan pilihan-pilihan
moral ? Bagaimana kaitan antara teknik prosedural yang merupakan
operasionalisasi metode ilmiah dengan norma-norma moral/profesional ?
(Landasan aksiologis). (Jujun, 1982).

1.2 Fungsi Filsafa Ilmu


Ismaun (2001) mengemukakan fungsi filsafat ilmu adalah untuk memberikan
landasan filosofik dalam memahami berbagi konsep dan teori sesuatu disiplin ilmu
dan membekali kemampuan untuk membangun teori ilmiah. Selanjutnya dikatakan
pula, bahwa filsafat ilmu tumbuh dalam dua fungsi, yaitu: sebagai confirmatory
theories yaitu berupaya mendekripsikan relasi normatif antara hipotesis dengan
evidensi dan theory of explanation yakni berupaya menjelaskan berbagai fenomena
kecil ataupun besar secara sederhana.
1.3 Substansi Filsafat Ilmu
Substansi filsafat ilmu, ada empat bagian yaitu substansi yang berkenaan dengan:
a. fakta atau kenyataan
b. kebenaran (truth)
c. konfirmasi
d. logika inferensi. (Ismaun,2001)

2.

Keperawatan

2.1 Pengertian
a. Pada Lokakarya Nasional Tahun 1983

Telah disepakati pengertian keperawatan sebagai berikut, keperawatan adalah


pelayanan professional yang merupakan bagian integral dari pelayanan kesehatan
berdasarkan ilmu dan kiat keperawatan, berbentuk pelayanan bio psiko sosio spiritual
yang komprehensif yang ditujukan kepada individu, kelompok dan masyarakat baik
sakit maupun sehat yang mencakup seluruh proses kehidupan manusia.

b. Florence Nightingale (1895)


Mendefinisikan keperawatan sebagai berikut, keperawatan adalah menempatkan
pasien alam kondisi paling baik bagi alam dan isinya untuk bertindak.
c. UU RI. No. 23 tahun 1992 tentang kesehatan
Perawat adalah mereka yang memiliki kemampuan dan kewenangan melakukan
tindakan keperawatan berdasarkan ilmu yang dimiliki diperoleh melalui pendidikan
keperawatan.
d. ICN (international council of nursing) tahun 1965.
Perawat adalah seseorang yang telah menyelesaikan pendidikan keperawatan yang
memenuhi syarat serta berwenang di negeri bersangkutan untuk memberikan
pelayanan keperawatan yan bertanggung jawab untuk meningkatkan kesehatan,
pencegahan penyakit dan pelayanan penderita sakit.
Pohon ilmu dari keperawatan adalah ilmu keperawatan itu sendiri. Pendidikan
keperawatan sebagai pendidikan profesi harus dikembangkan sesuai dengan kaidahkaidah ilmu dan profesi keperawatan, yang harus memiliki landasan akademik dan
landasan professional yang kokoh dan mantap.
Pengembangan pendidikan keperawatan bertolak dari pengertian dasar tentang ilmu
keperawatan seperti yang dirumuskan oleh Konsorsium Ilmu kesehatan (1991) yaitu :
Ilmu keperawatan mencakup ilmu-ilmu dasar seperti ilmu alam, ilmu social, ilmu
perilaku, ilmu biomedik, ilmu kesehatan masyarakat, ilmu dasar keperawatan, ilmu
keperawatan

komunitas

dan

ilmu

keperawatan

klinik,

yang

apluikasinya

menggunakan pendekatan dan metode penyelesaian masalah secara ilmiah, ditujukan


untuk mempertahankan, menopang, memelihara dan meningkatkan integritas seluruh
kebutuhan dasar manusia.
Wawasan ilmu keperawatan mencakup ilmu-ilmu yang mempelajari bentuk dan sebab
tidak terpenuhinya kebutuhan dasar manusia, melalui pengkajian mendasar tentang
hal-hal yang melatar belakangi, serta mempelajari berbagai bentuk upaya untuk
mencapai kebutuhan dasar tersebut melalui pemanfaatan semua sumber yang ada dan
potensial.

Bidang garapan dan fenomena yang menjadi objek studi keperawatan adalah
penyimpangan dan tidak terpenuhinya kebutuhan dasar manusia (bio-psiko-sosiospiritual), mulai dari tingkat individu tang utuh (mencakup seluruh siklus kehidupan),
sampai pada tingkat masyarakat, yang juga tercermin pada tidak terpenuhinya
kebutuhan dasar pada tingkat system organ fungsional sampai sub seluler atau
molekuler.
Dari uraian diatas dapat dijelaskan bahwa hakikat dari ilmu keperawatan adalah
mempelajari tentang respon manusia terhadap sehat dan sakit yang difokuskan pada
kepedulian perawat terhadap tidak terpenuhinya kebutuhan dasar pasien atau disebut
dengan care. Hal ini berbeda dengan hakikat kedokteran adalah pengobatan atau
disebut cure.
2.2 Manfaat ilmu Keperawatan (aksiologi ilmu keperawatan)
Jean Watson memandang ilmu keperawatan dapat memberikan faedah dalam
kehidupan, yaitu :
a. Membentukan sistem humanistic dan altruistic.
Pembentukan sistem nilai humanistic dan altruistic dalam diri seseorang dapat dinilai
pada usia dini. Dimana nilai-nilai ini didapatkan dari orang tua. Sistem nilai humanistic
altruiistic ditingkatkan melalui pengalaman hidup seseorang, proses pembelajar dan
paparan terhadap nilai-nilai kemanusiaan. Ilmu keperawatan dimulai membentuk sistem
nilai humanistic dan altruistik dengan promosi kesehatan
b.

Menanaman (melalui pendidikan) faith-Hope


Merupakan hal yang sangat penting dalam pelayanan keperawatan. Perawat perlu selalu
memiliki positif thingking sehingga dapat menularkan kepada klien yang akan
membantu meningkatkan kesembuhan dan kesejahteraan klien.

c.

Pengembangan sensisitifitas atau kepekaan diri kepada orang lain,


Pikiran dan emosi seseorang adalah jendela jiwa. Ilmu keperawatan mengembangkan
kepekaan diri kepada orang lain dalam pelayanan keperawatan hingga tumbuh rasa
empathi

d. Pengembangan hubungan yang bersifat membantu dan saling percaya (a helping trust
relationship)
Sebuah hubungan saling percaya digambarkan sebagai hubungan yang memfasilitasi
untuk penerimaan perasaan positif dan negatif yang termasuk dalam hal ini, kejujuran,

empati, kehangatan dan komunikasi efektif. Pelayanan keperawatan yang komprehansif


membutuhkan helping trust relationship.
e.

Meningkatkan dan saling menerima pengungkapan ekspresi perasaan, baik


Menggunakan metode ilmiah dan menyelesaikan masalah dan pengambilan keputusan

f.

Meningkatkan dan memfasilitasi proses belajar mengajar yang bersifat interpersonal

g.

Menciptakan lingkungan yang mendukung, melindungi dan meningkatkan atau


memperbaiki keadaan mental, sosial, kultural dan lingkungan spiritual.

h.

Membantu pemenuhan kebutuhan dasar manusia dengan antusias (kebutuhankebutuhan survival, fungsional, integratif dan grup)

i.

Mengembangkan kekuatan faktor excistensial phenomenologic

j.

praktek keperawatan caring ditujukan untuk perawatan kesehatan yang ekpresi


perasaan positif maupun negatif.

k. holistik dalam meningkatkan kontrol, pengetahuan dan promosi kesehatan


Bila dilihat dari penjabaran diatas, filsafat Keperawatan merupakan pandangan dasar
tentang hakekat manusia dan esensi keperawatan yang menjadikan kerangka dasar
dalam praktek keperawatan. Hakekat manusia sebagai makhluk biopsikososio dan
spritual, pada hakekatnya keperawatan merupakan suatu ilmu dan kiat, profesi yang
berorientasi pada pelayanan, memiliki tingkat klien(individu, keluarga,kelompok dan
masyarakat) serta pelayanan yang mencakup seluruh rentang pelayanan kesehatan
secara keseluruhan. Adapun hakekat keperawatan adalah sebagai berikut:
a. Sebagai ilmu dan seni, merupakan suatu ilmu yang didalam aplikasinya lebih kearah
ilmu terapan.
b. Sebagai profesi yang berorientasi kepada pelayanan mengatasi umtuk membantu manusia
mengatasi masalah sehat dan sakit dalam kehidupan untuk mencapai kesejahteraan.
c. Sebagai pelayanan kesehatan yang memiliki tiga sasaran, diantaranya individu, keluarga
dan masyarakat sebagai klien.
d. Sebagai Kolaborator dengan tim kesehatan lainnya. Denagn memiliki program
pembinaan kesehatan, pencegahan penyakit, penentuan diagnosis dini penyembuhan
serta rehabilitasi dan pembatasan kecacatan.
Sedangkan jika dipandang secara esensinya ilmu keperawatan yang meliputi:

a. Memandang pasien sebagai makhluk yang utuh (holistik) yang harus dipenuhi segala
kebutuhannya baik biospikososio dan spritual yang diberikan secara komprensif dan
tidak bisa dilakuakn secara sepihak atau sebagian dari kebutuhannya.
b. Bentuk

pelayanan

keperawatan

harus

diberikan

secara

langsung

dengan

memperhatikan aspek kemanusiaan.


c. Setiap orang berhak mendapatkan keperawatan tanpa memandang perbedaaan suku,
kepercayaan, status sosial, agama dan ekonomi
d. Pelayanan keperawatan tersebut merupakan bagian integral dari sistem pelayanan
kesehatan mengingat perawat bekerja dalam lingkup tim kesehatan bukan sendirisendiri
e. Pasien adalah mitra aktif dalam pelayanan kesehatan bukan sebagai penerima jasa
yang pasif.

3. Ilmu
3.1 Pengertian
Ilmu pengetahuan adalah kumpulan pengetahuan mengenai sesuatu yang telah
disistematisasi dan memberikan penjelasan yang dapat dipertanggungjawabkan dengan
menunjukkan sebab-sebab hal itu. Jadi berarti ada metode, ada sistem, amda satu
pandangan yang dipersatukan (memberi sintesis), dan yang dicari ialah sebab-sebabnya.
Menurut Cambridge-Dictionary 1995, Ilmu Pengetahuan adalah kumpulan pengetahuan
yang benar, mempunyai objek dan tujuan

tertentu dengan sistem, metode untuk

berkembang serta berlaku universal yang dapat diuji kebenarannya.


Tentang pengertian ilmu ditinjau dari segi bahasa, dalam bahasa Arab ilmu berarti
pengetahuan (knowledge), sedangkan dalam bahasa Indonesia biasanya ilmu itu
terjemahan dari science. Ilmu dalam arti science hanya sebagian dari al-ilm dalam bahasa
arab. Karena itu kata science seharusnya diterjemahkan sains (Tafsir, 2006). , The Liang
Gie menjelaskan bahwa ilmu adalah serangkaian aktivitas manusia yang manusiawi
(human), yang rasional dan kognitif dengan berbagai methode berupa aneka prosedur
dan tata langkah sehingga menghasilkan kumpulan pengetahuan. Aktivitas yang
dimaksud adalah segala kegiatan atau rangkaian kegiatan atau proses yang dijalani oleh
para ahli (misalnya fisikawan, sosiolog) untuk membangun pengetahuan ilmiah sesuai

dengan pemahaman masing-masing tentang dunia, yang akhirnya melahirkan pluralitas


tujuan ilmu.
3.2 Klasifikasi
Adapun nama-nama ilmu dibagi menjadi:
a. Kealaman, seperti Astronomi, Fisika, Kimia, Ilmu Bumu, Ilmu Hayat
b. Sosial, seperti Sosiologi, Antropologi, Psikologi, Ekonomi dan Politik
c. Humaniora, seperti seni, Hukum, Filsafat, Bahasa, Agama dan Sejarah
(Tafsir,2006)
3.3 Objek Ilmu
Objek ilmu yang dikemukakan oleh Purwadarminta, yaitu
a. Objek Material, yakni seluruh lapangan atau bahan yang dijadikan objek penyelidikan
suatu ilmu
b. Objek Formal, yakni objek material yang disoroti oleh suatu ilmu, sehingga
membedakan antara satu ilmu dengan yang lainnya, jika berobjek material yang sama
4. Teknologi
4.1 Pengertian
Secara etimologis, menurut Runes, akar kata teknologi adalah techne yang berarti
serangkaian prinsip atau metode rasional yang berkaitan dengan pembuatan suatu objek
atau kecakapan tertentu, pengetahuan tentang prinsip-prinsip atau metode, seni.
Adapun logos menurut The Liang Gie, sebagai akar kata logi, tidak mengacu pada status
ilmiah dari teknologi, sebagaimana ditemukan dalam istilah antropologi, biologi,
sosiologi, namun lebih mengacu pada makna tata pikir atau pun keteraturan, sebagaimana ditemukan dalam istilah kronologi dan ideologi.
4.2 Perkembangan filsafat ilmu dan imlu pengetahuan teknologi
a. Filsafat Ilmu Dan IPTEK Pada Periode Klasik
Pada periode ini, baik filsafat ilmu dan IPTEK bisa dianggap sebagai sesuatu yang
identik atau suatu kesatuan. Belum ada ilmu pengetahuan spesifik yang lahir pada
periode ini. Tema yang menjadi perhatian utama filsuf pada periode ini adalah segala
kejadian atau perubahan yang ada di alam. Mereka tertarik pada perubahan yang
terjadi di alam dan berusaha mencari prinsip atau hakikat dibalik fenomena tersebut.
Filsuf yang terkenal pada periode ini misalnya Thales, dia berpendapat bahwa hakikat
dari segala sesuatu di dunia ini adalah air. Filsuf lainnya adalah Pythagoras yang
terkenal dengan teorema Pythagoras. Ia berpendapat bahwa suatu gejala fisis dikuasai
oleh hukum matematis yang dia ambil dari penemuannya terhadap interval-interval

utama tangga nada yang dinotasikan dengan perbandingan bilangan. Pythagoras juga
menyatakan bahwa jagat raya bukanlah bumi melainkan Hestia (Api).
b. Filsafat Ilmu dan IPTEK Pada Periode Abad Pertengahan
Pada abad pertengahan, perkembangan Filsafat ilmu dan IPTEK sangat dipengaruhi
oleh doktrin agama karena pada masa itu terdapat dua agama besar, Islam dan Nasrani
yang memiliki peranan besar terhadap kehidupan pada masa itu. Pada periode ini
terdapat masa skolastik, yaitu masa dimana filsafat dan IPTEK berhenti berkembang
karena kebebasan berpikir para filsuf atau pemikir dibatasi oleh pihak gereja. Semua
hal diatur berdasarkan doktrin agama yang lebih menitik beratkan pada keyakinan.
Apabila para filsuf memiliki pemikiran yang berbeda dengan ketentuan gereja, maka
filsuf tersebut akan dianggap sebagai pembangkang dan dijatuhi hukuman berat.
Sebagai contoh, pada akhir masa pertengahan Galileo Galilei dijatuhi hukuman mati
oleh gereja karena teorinya yang mendukung Copernicus bahwa pusat tata surya
adalah matahari. Teori tersebut dianggap tidak sesuai dengan keyakinan gereja yang
pada saat itu menganut paham geosentris (bumi sebagai pusat tata surya). Contoh
filsuf yang terkenal pada periode ini adalah Agustinus, yang pemikirannya banyak
dilatar belakangi ajaran agama Kristen.
c. Filsafat Ilmu dan IPTEK Pada Periode Abad Modern
Tidak terdapat penunjuk waktu yang jelas sebagai pembatas antara abad pertengahan
dengan abad modern, tetapi mayoritas menganggap bahwa awal mula perkembangan
filsafat dan IPTEK masa modern diawali dengan gerakan Renaissance pada abad XIV.
Perkembangan tersebut dimatangkan dengan gerakan Aufklaerung pada abad XVIII
ditandai dengan menonjolnya liberasi, emansipasi dan otonomi diri, perkembangan
IPTEK, serta munculnya unsur-unsur kebebasan, individualisme, rasionalisme,
optimisme, kreatif dan inovatif. Pada masa ini IPTEK mulai memisahkan diri dari
filsafat. Ilmu pengetahuan mulai lahir dan berkembang pesat. Para filsuf meletakkan
dasar filsosofisnya untuk perkembangan dalam bidang IPTEK, seperti Machiavelli,
Giordano Bruno, Francis Bacon,Rene Descartes, Baruch de Spinoza, Blaise Pascal
dan Leibniz.
d. Filsafat Ilmu dan IPTEK Periode Kontemporer
Pada periode kontemporer, IPTEK berkembang dengan pesat sejalan dengan
perkembangan pemikiran manusia dan realitas sosial. Perkembangan sains dan
teknologi pada abad ke-20 memberikan dampak yang signifikan pada kehidupan
manusia. Pemahaman manusia mengenai alam dan kejadian didalamnya menuju pada
level yang lebih tinggi dimana banyak penemuan baru yang berhasil meruntuhkan
hukum-hukum sains yang berlaku sebelumnya. Seperti teori fisika klasik Newton

yang dimentahkan oleh teori fisika kuantum dan mungkin penemuan akan
dimentahkan lagi oleh teori berikutnya mengingat pola pikir manusia yang terus
berkembang disertai usahanya yang terus menerus untuk menyingkap hakikat alam
semesta ini.
Dari penjelasan diatas dapat dikatakan bahwa perkembangan IPTEK dapat berjalan dengan
tiga cara yaitu:
a. Kontinu-linear menuju suatu kemajuan
b. Sirkular-siklis dimana ada usaha untuk mengulang kebenaran atau prinsip terdahulu
dalam kondisi dan zaman yang berbeda.
c. Diskontinu-dialektis dimana kenyataan yang berlaku saat itu akan mendapat
tentangan, lalu terjadi sintesis sebagai jalan keluar untuk meneruskan perkembangan
tersebut.

Hubungan...
a. Kaitan filsafat ilmu dengan keperawatan
Falsafah keperawatan mengkaji penyebab dan hukum-hukum yang mendasarirealitas,
serta keingintahuan tentang gambaran sesuatu yang lebih berdasakan pada alasan logis
daripada metoda empiris.
Falsafah keilmuan harus menunjukkan bagaimana pengetahuan ilmiah sebenarnya
dapat diaplikasikan yang kemudian menghasilkan pengetahuan alam semesta, dalam hal ini
pengetahuan keperawatan, sehingga falsafah keperawatan adalah keyakinan dasar tentang
pengetahuan keperawatan yang mengandung pokok pemahaman biologis manusia dan
perilakunya dalam keadaan sehat dan sakit terutama berfokus kepada respons mereka
terhadap situasi.
Manfaatnya dari filsafat, dalam keperawatan, yaitu ;
a) Alat untuk menelusuri kebenaran segala hal-hal yang dapat disaksikan dengan
pancaindra dan dapat diterangkan serta dinilai secara ilmiah.Dalam hal ini
keperawatan merupakan suatu ilmu sehinggga dapat ditelusuri dan dibuktikan
kebenarannya
b) Memberikan pengertian tentang cara hidup dan pandangan hidup. Keperawatan
merupakan ilmu yang memberikan pelayanan kepada klien dapalm kondisi sehat
maupun sakit sehingga filsafat dapat memberikan pandangan tentang cara hidup
dan pandangan hidup yang sehat.

c) Panduan tentang ajaran moral dan etika. Dalam memberikan asuhan keperawatan
membutuhkan moral dan etika dalam pelaksanaannya.
b. Filsafat dengan ilmu
Filsafat dan keseluruhan ilmu itu bertemu pada satu titik, titik itu adalah semua yang
ada dan yang mungkin ada, yang disebut dengan objek materia, akan tetapi ilmu dan
filsafat tetap berbeda, tidak sama, karena berbeda pada objek formanya. Objek forma
ilmu itu adalah mencari sebab yang sedalam-dalamnya, sedangkan objek forma
filsafat adalah mencari keterangan yang sedalam-dalamnya. (Arbas,2010)
c. Filsafat ilmu dengan teknologi
Filsafat dan IPTEK adalah dua hal yang saling berhubungan. Secara historis,
kelahiran ilmu pengetahuan berawal dari filsafat, begitu juga sebaliknya filsafat ilmu
juga semakin berkembang seiring dengan kemajuan Ilmu pengetahuan dan teknologi.
Dalam hal ini, pemikiran manusia juga mengalami perkembangan linear, dahulu
masyarakat Yunani kuno mendasari pemikiran mereka dengan mitos, kemudian
berkembang menjadi lebih rasional dengan paham teologi mereka, pemikiran inipun
terus berkembang sampai melahirkan science dan teknologi yang dapat dirasakan
manfaatnya sampai sekarang. Awalnya ilmu pengetahuan dan filsafat ilmu dianggap
sebagai sesuatu yang identik, dalam artian ilmu pengetahuan merupakan bagian dari
filsafat, sehingga definisi mengenai ilmu juga bergantung pada sistem filsafat yang
dianut pada saat itu. Setelah abad ke-17, sejalan dengan makin berkembangnya ilmu
pengetahuan dan teknologi maka mulailah terjadi pemisahan antara filsafat ilmu dan
IPTEK. Pemisahan ini dapat dianalogikan sebagai sebuah pohon yang terus
berkembang, dimana filsafat ilmu berperan sebagai batang induknya dan ilmu
pengetahuan dan teknologi sebagai cabangnya. Cabang ini terus berkembang
membentuk ilmu-ilmu baru yang juga melahirkan sub-sub ilmu yang sifatnya lebih
khusus. Tiap-tiap cabang lalu memisahkan diri dari batang induknya, yaitu filsafat
ilmu yang kemudian berkembang sesuai metodologinya masing-masing. Walaupun
cabang-cabang ilmu pengetahuan ini berbeda, akan tetapi mereka tetap berhubungan
satu sama lain karena berasal dari satu batang induk yang sama.

Ismaun, (2001), filsafat ilmu, (diktat kuliah), bandung : upi bandung.

Jujun s. Suriasumantri, (1982), filsafah ilmu : sebuah pengantar populer, jakarta: sinar
harapan.
Asmadi, 2008, konsep dasar keperawatan, egc : jakarta
Hidayat a aziz alimul,2002, pengantar dokumentasi proses keperawatan,

egc,

salemba

medika: jakarta
Arbas, pirhat. Hubungan filsafat, ilmu, dan agama media akademika volume 25, no. 2, april
2010