Anda di halaman 1dari 49

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Pemicu
Seorang bayi laki laki lahir tanpa tempurung kepala dari seorang ibu
berusia 21 tahun. Pada saat hamil, ibu tidak pernah memeriksakan
kehamilannya ke bidan maupun ke dokter. Beberapa jam setelah lahir, bayi
tersebut meninggal. Ibu kemudian berkonsultasi ke dokter untuk mengetahui
cara pencegahan agar kelainan tersebut tidak terjadi lagi.
1.2 Klarifikasi dan definisi
1.2.1 Hamil : Proses yang diawali dengan keluarnya sel telur matang pada saluran
telur kemudian bertemu dengan sperma, keduanya menyatu membentuk sel
1.2.2
1.2.3

yang akan tumbuh.


Tempurung kepala : berfungsi untuk melindungi otak dan kepala
Konsultasi : pertukaran pikiran untuk mendapatkan nasehat, saran dsb.

1.3 Kata Kunci


1.3.1 Ibu 21 tahun
1.3.2 Bayi laki laki
1.3.3 Lahir tanpa tempurung kepala
1.3.4 Ibu tidak memeriksa kehamilan
1.3.5 Bayi meninggal
1.4 Rumusan Masalah
Seorang ibu 21 tahun melahirkan seorang bayi laki laki tanpa tempurung
kepala.

1.5 Analisis masalah


Ibu 21 tahun

Selama hamil tidak pernah


periksa kandungan

Melahirkan bayi
laki-laki tanpa
tempurung kepala
1

Anatom

Fisiolog

Histolo

Biokimi

Patologi

Meninggal setelah
beberapa jam setelah
lahir

Etiologi
Fatogenesis
Faktor
risiko
Manifestasi
klinis

Ibu berkonsultasi
Pencegahan dan
deteksi dini
1.6 Hipotesis
Terjadinya kegagalan perkembangan rostral neural tube yang
menyebabkan bayi laki laki tersebut lahir tanpa tempurung kepala.
1.7 Pertanyaan diskusi
1.7.1 Embriogenesis
a. Definisi
b. Proses embriogenesis
1.7.2 Sistem saraf
a. Anatomi
b. Fisiologi
c. Histologi
d. Biokimia
1.7.3 Anatomi Cranial
1.7.4 Anencephali
a. Definisi
b. Epidemologi
c. Klasifikasi
d. Etiologi
e. Manisfestasi klinis
f. Faktor resiko
g. Patogenesis
h. Terapi
i. Pencegahan
j. Pemeriksaan penunjang
1.7.5 Deteksi dini
1.7.6 Bagaimana edukasi pada kasus ini?
1.7.7 Mengapa pemeriksaan kehamilan sangat penting bagi ibu hamil?
1.7.8 Apa saja jenis pemeriksaan pada ibu hamil?
2

1.7.9 Macam macam kelainan kongenital pada sistem saraf?


1.7.10 Apa kebutuhan gizi yang baik untuk ibu hamil?
1.7.11 Bagaimana aspek genetik yamg mempengaruhi

gangguan

embriogenesis?

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Embriogenesis
Menurut Dorlands Illustrated Medical Dictionary, embriogenesis
adalah produksi dari embrio. Perkembangan dari individu yang baru yang
terjadi secara seksual yaitu dari zigot. Secara umum, embriogenesis adalah
proses pembelahan sel dan diferensiasi sel dari embrio manusia yang terjadi
pada saat tahap-tahap awal dari perkembangan manusia. Tepatnya,
embriogenesis terjadi pada saat spermatozoa bertemu dan menyatu dengan
ovum yang disebut fertilisasi sampai akhir dari minggu ke-8 dari
perkembangan manusia.1
Perkembangan embrio dimulai dari pembelahan zygote (cleavage),
stadium morula (morulasi), stadium blastula (blastulasi), stadium gastrula
(gastrulasi), dan stadium organogenesis.1
1. Stadium Cleavage (Pembelahan)
Cleavage adalah pembelahan zygote secara cepat menjadi unit-unit
yang lebih kecil yang di sebut blastomer. Stadium cleavage merupakan
rangkaian mitosis yang berlangsung berturut-turut segera setelah terjadi
pembuahan yang menghasilkan morula dan blastomer.
Pembelahan pada manusia, berlangsung seiring dengan perangkatperangkat pelekatan dari embrio kepada dinding uterus induknya. Telur
3

manusia pada umumnya tidak memiliki yolk, dibuahi disaluran telur


sewaktu bergerak kearah uterus dan pembelahan-pembelahan awalnya
berlangsung kurang dari 24 jam. Pembelahannya adalah meridional tidak
ekual. Pembelahan berikutnya agak tidak teratur, tetapi dengan cepat
membentuk suatu bola padat berisi sel, yang disebut morulla.2

2. Stadium Morula
Morula merupakan pembelahan sel yang terjadi setelah sel berjumlah
32 sel dan berakhir bila sel sudah menghasilkan sejumlah blastomer yang
berukuran sama akan tetapi ukurannya lebih kecil. Sel tersebut memadat
untuk menjadi blastodik kecil yang membentuk dua lapisan sel. Pada saat
ini ukuran sel mulai beragam. Sel membelah secara melintang dan mulai
membentuk formasi lapisan kedua secara samar pada kutup anima. Stadium
morula berakhir apabila pembelahan sel sudah menghasilkan blastomer.
Blastomer kemudian memadat menjadi blastodisk kecil membentuk dua
lapis sel. Pada akhir pembelahan akan dihasilkan dua kelompok sel. Pertama
kelompok sel-sel utama (blastoderm), yang meliputi sel-sel formatik atau
gumpalan sel-sel dalam (inner mass cells), fungsinya membentuk tubuh
embrio. Kedua adalah kelompok sel-sel pelengkap, yang meliputi
trophoblast, periblast, dan auxilliary cells. Fungsinya melindungi dan
menghubungi antara embrio dengan induk atau lingkungan luar.2
Tropoblast melekat pada dinding uterus. Sel-selnya memperbanyak
diri dengan cepat dan memasuki epitelium uterus pada tahap awal
implantasi. Setelah 9 hari, seluruh blastokista tertahan dalam dinding uterus.
Sewaktu ini berlangsung, sel-sel yang berada disebelah bawah dari masa sel
dalam menyusun diri menjadi suatu lapisan yang disebut endoderm primer,
yang akan membentuk saluran pencernaan makanan. Sel-sel sisa dari masa
sel dalam memipih membentuk suatu keping yaitu, keping embrio. Antara
keping embrio dan tropoblast yang menutupi timbulnya suatu rongga

(rongga amnion) berisi carian. Dinding rongga yaitu amnion, menyebar


mengelilingi embrio dan dikelilingi bantalan yaitu cairan amnion.2
3.

Stadium Blastula
Blastulasi adalah proses yang menghasilkan blastula yaitu campuran

sel-sel blastoderm yang membentuk rongga penuh cairan sebagai blastocoel.


Pada akhir blastulasi, sel-sel blastoderm akan terdiri dari neural, epidermal,
notochordal, mesodermal, dan endodermal yang merupakan bakal
pembentuk organ-organ. Dicirikan dua lapisan yang sangat nyata dari sel-sel
datar membentuk blastocoels dan blastodisk berada di lubang vegetal
berpindah menutupi sebagian besar kuning telur. Pada blastula sudah
terdapat daerah yang berdifferensiasi membentuk organ-organ tertentu
seperti sel saluran pencernaan, notochorda, syaraf, epiderm, ektoderm,
mesoderm, dan endoderm.2
Pada manusia, hasil pembelahan berbentuk suatu bola padat (morulla).
Lapisan luar dari blastula ini membentuk lapisan yang mengelilingi embrio
sebenarnya, sedangkan embrio dibentuk dari bagian morulla (inner cells
mass atau masa sel dalam)./lapisan luar (tropoblast) pada satu sisi masa sel
dalam melepaskan diri, membentuk suatu bentuk yang mirip suatu blastula
dan struktur ini disebut sebagai blastokista. Embrio akan menempel dan
menetap pada dinding uterus untuk periode waktu tertentu, ditempat dimana
embrio akan mendapatkan makanan sampai dilahirkan.2
4. Stadium Gastrula
Setelah embrio menjalani tahap pembelahan dan tahap blastula,
embrio akan masuk kedalam tahapan yang paling kritis selama tahap
perkembangannya, yaitu stadium grastula. Grastulasi ditandai dengan
terjadinya perubahan susunan yang sangat besar serta sangat rapi dari sel-sel
didalam embrio. Salah satu perubahan utama dalam yang terjadi selama
masa grastulasi adalah bahwa sel-sel memperoleh dan mencapai suatu
kemampuan untuk melakukan gerakan morfogentik, sehingga terjadi
reorganisasi seluruh atau sebagian didaerah kecil didialam embrio.

Gastrulasi adalah proses perkembangan embrio, di mana sel bakal organ


yang telah terbentuk pada stadium blastula mengalami perkembangan lebih
lanjut. Proses perkembangan sel bakal organ ada dua, yaitu epiboli dan
emboli. Epiboli adalah proses pertumbuhan sel yang bergerak ke arah
depan, belakang, dan ke samping dari sumbu embrio dan akan membentuk
epidermal, sedangkan emboli adalah proses pertumbuhan sel yang bergerak
ke arah dalam terutama di ujung sumbu embrio. Stadium gastrula ini
merupakan proses pembentukan ketiga daun kecambah yaitu ektoderm,
mesoderm dan endoderm. Pada proses gastrula ini terjadi perpindahan
ektoderm, mesoderm, endoderm, dan notochord menuju tempat yang
definitif. Pada periode ini erat hubungannya dengan proses pembentukan
susunan syaraf. Gastrulasi berakhir pada saat kuning telur telah tertutupi
oleh lapisan sel. Beberapa jaringan mesoderm yang berada di sepanjang
kedua sisi notochord disusun menjadi segmen segmen yang disebut somit
yaitu ruas yang terdapat pada embrio.
Grastulasi pada manusia terjadi pada blastokista yang terdiri atas
tropoblast dan masa sel dalam yang merupakan bakal tumbuh embrio.
Pemisahan pertama dari sel-sel pada masa sel dalam adalah untuk
pembentukan hipoblast, yang membatasi rongga blastula dan yang akan
mejadi endoderm kantung yolk. Sisa dari masa sel dalam yang terletak
diatas hipoblast terbentu suatu keping, yang disebut keping embrio. Epiblast
memisahkan diri, dengan membentuk suatu rongga yang disebut amnion,
dari epiblast yang mengandung semua bahan untuk pembentukan tubuhnya,
jadi identik dengan epiblast pada burung.Sambil epiblast mengalami
grastulasi. Sel-sel ekstra embrio mulai membentuk jaringan khusus agar
embrio dapat hidup dalam uterus induk. Sel-sel tropoblast membentuk suatu
populasi sel dan membentuk sinsistropoblast. Sinsitropoblast memasuki
permukaan uterus sehingg uterus tertanam dalam uterus. Uterus sebaliknya
membentuk

banyak

pembuluh

darah

yang

berhubungan

dengan

sinsitropoblast. Tidak lama sesudah ini, mesoderm meluas keluar embrio.


Pembuluh ini merupakan pembuluh darah dari tali puasat dan berda pada
tangkai

penyokong.

Jaringan

tropoblast

dengan

mesoderm

yang

mengandung pembuluh darah dari tali pusat berada pada tangki penyokong.
Jaringan tropoblast dengan mesoderm yang mengandung pembuluh darah
disebut korion dengan dinding uterus membentuk plasenta. Korion dapat
berlekatan sekali dengan jaringan maternal, tetapi masih dapat berdekatan
sekali atau dapat berdekatan sangat erat sehingga kedua jaringan tidak dapat
dipisahkan tanpa merusak jaringan induk manpun fetus.2
5.

Stadium Organogenesis
Organogenesis merupakan stadium terakhir dari proses perkembangan

embrio. Stadium ini merupakan proses pembentukan organ-organ tubuh


makhluk hidup yang sedang berkembang. Sistem organ-organ tubuh berasal
dari tiga buah daun kecambah, yaitu ektodermal, endodermal, dan
mesodermal. Pada ektodermal akan membentuk organ-organ susunan
(sistem) saraf dan epidermis kulit. Endodermal akan membentuk saluran
pencernaan beserta kelenjar-kelenjar pencernaan dan alat pernafasan, dan
mesodermal akan membentuk rangka, otot, alat-alat peredaran darah, alat
eksresi, alat- alat reproduksi, dan korium (chorium) kulit. Jika proses
organogenesis ini telah sempurna maka akan dilanjutkan dengan proses
penetasan telur. Organ-organ tersebut merupakan perkembangan lebih lanjut
dari ketiga lapisan embrionik yang terbentuk saat gastrulasi.2
a. Ektoderm mengalami diferensiasi menjadi kulit, rambut, sistem saraf,
dan alat-alat indra.2
b. Mesoderm mengalami diferensiasi menjadi otot, rangka, alat reproduksi
(seperti testis dan ovarium), alat peredaran darah, dan alat ekskresi
seperti ginjal.
c. Endoderm mengalami diferensiasi menjadi alat pencernaan, dan alat-alat
pernapasan seperti paru-paru.2
2.2 Sistem saraf
2.2.1 Anatomi
Sistem saraf pusat:3
1. Otak
a. Cerebrum

Serebrum adalah bagian terbesar dari otak yang terdiri dari dua
hemisfer. Hemisfer kanan berfungsi untuk mengontrol bagian tubuh sebelah
kiri dan hemisfer kiri berfungsi untuk mengontrol bagian tubuh sebelah
kanan. Masing-masing hemisfer terdiri dari empat lobus. Bagian lobus yang
menonjol disebut gyrus dan bagian lekukan yang menyerupai parit disebut
sulkus. Keempat lobus tersebut masing-masing adalah lobus frontal, lobus
parietal, lobus oksipital dan lobus temporal.
1. Lobus frontal merupakan bagian lobus yang ada di bagian paling depan
dari serebrum. Lobus ini mencakup semua korteks anterior sulkus sentral
dari Rolando. Pada daerah ini terdapat area motorik untuk mengontrol
gerakan otot-otot, gerakan bola mata; area broca sebagai pusat bicara;
dan area prefrontal (area asosiasi) yang mengontrol aktivitas intelektual .
2. Lobus parietal merupakan lobus yang berada di bagian tengah serebrum.
Lobus parietal bagian depan dibatasi oleh sulkus sentralis dan bagian
belakang oleh garis yang ditarik dari sulkus parieto-oksipital ke ujung
posterior sulkus lateralis (Sylvian). Daerah ini berfungsi untuk menerima
impuls dari serabut saraf sensorik thalamus yang berkaitan dengan segala
bentuk sensasi dan mengenali segala jenis rangsangan somatik.
3. Lobus temporal berada di bagian bawah dan dipisahkan dari lobus
oksipital oleh garis yang ditarik secara vertikal ke bawah dari ujung atas
sulkus lateral. Lobus temporal berperan penting dalam kemampuan
pendengaran, pemaknaan informasi dan bahasa dalam bentuk suara .
4. Lobus oksipital berada di belakang lobus parietal dan lobus temporal.
Lobus ini berhubungan dengan rangsangan visual yang memungkinkan
manusia mampu melakukan interpretasi terhadap objek yang ditangkap
oleh retina mata.

b.

Gambar 1. Sistem saraf pusat, cerebrum3


Cerebellum
Serebelum atau otak kecil adalah komponen terbesar kedua otak.

Serebelum terletak di bagian bawah belakang kepala, berada di belakang


batang otak dan di bawah lobus oksipital, dekat dengan ujung leher bagian
atas. Serebelum adalah pusat tubuh dalam mengontrol kualitas gerakan.
Serebelum juga mengontrol banyak fungsi otomatis otak, diantaranya:
mengatur sikap atau posisi tubuh, mengontrol keseimbangan, koordinasi
otot dan gerakan tubuh. Selain itu, serebelum berfungsi menyimpan dan
melaksanakan serangkaian gerakan otomatis yang dipelajari seperti gerakan
mengendarai mobil, gerakan tangan saat menulis, gerakan mengunci pintu
dan sebagainya.

Gambar 2. Cerebellum3
c. Batang Otak
Batang otak berada di dalam tulang tengkorak atau rongga kepala
bagian dasar dan memanjang sampai medulla spinalis. Batang otak bertugas
untuk mengontrol tekanan darah, denyut jantung, pernafasan, kesadaran,
serta pola makan dan tidur. Bila terdapat massa pada batang otak maka
gejala yang sering timbul berupa muntah, kelemahan otat wajah baik satu
maupun dua sisi, kesulitan menelan, diplopia, dan sakit kepala ketika
bangun. Batang otak terdiri dari tiga bagian, yaitu:
1. Mesensefalon atau otak tengah (disebut juga mid brain) adalah bagian
teratas dari batang otak yang menghubungkan serebrum dan serebelum.
Saraf kranial III dan IV diasosiasikan dengan otak tengah. Otak tengah

berfungsi dalam hal mengontrol respon penglihatan, gerakan mata,


pembesaran pupil mata, mengatur gerakan tubuh dan pendengaran.
2. Pons merupakan bagian dari batang otak yang berada diantara midbrain
dan medulla oblongata. Pons terletak di fossa kranial posterior. Saraf
Kranial (CN) V diasosiasikan dengan pons.
3. Medulla oblongata adalah bagian paling bawah belakang dari batang otak
yang akan berlanjut menjadi medulla spinalis. Medulla oblongata terletak
juga di fossa kranial posterior. CN IX, X, dan XII disosiasikan dengan
medulla, sedangkan CN VI dan VIII berada pada perhubungan dari pons
dan medulla.

Gambar 3. Brain stem3


2. Medulla spinalis3
Medula spinalis merupakan perpanjangan medula oblongata ke arah
kaudal di dalam kanalis vertebralis mulai setinggi cornu vertebralis
cervicalis I memanjang hingga setinggi cornu vertebralis lumbalis I - II.
Terdiri dari 31 segmen yang setiap segmennya terdiri dari satu pasang saraf
spinal. Dari medula spinalis bagian cervical keluar 8 pasang , dari bagian
thorakal 12 pasang, dari bagian lumbal 5 pasang dan dari bagian sakral 5
pasang serta dari coxigeus keluar 1 pasang saraf spinalis.
a. Jaras- Jaras Saraf ( Serabut-Serabut saraf )
1. Jaras Saraf Sensoris
Jaras mulai dari reseptor cortex sensoris cerebri membawa
impuls dari reseptor ke SSP Badan sel saraf sensoris ada di ganglion radik
posterior

dekat

medulla

spinalis

menyebabkan anesthesia. Ada dua jalur:


10

Kerusakan

pada

jaras

sensoris

a) Untuk Sentuhan/posisi saraf berjalan mulai ganglion radix posterior


kemudian melalui serabut sentralis naik didalam kolumna dorsalis lalu
menyilang di medulla oblongata dan berakhir di cortex sensoris cerebri.
b) Untuk Nyeri/suhu saraf berjalan mulai ganglion radix posterior kemudian
memotong medulla spinalis lalu naik pada traktus antero lateral sisi yang
berlawanan menuju cortex sensoris cerebri.
2. Jaras saraf motoris3
Jaras motoris adalah jaras saraf mulai dari cortex motorik cerebri
sampai ke efektor (otot, kelenjar) Jaras menyilang di medulla oblongata.
Dibagi dua yaitu:
a) Upper Motor Neuron (UMN)
Jaras saraf mulai dari cortex motorik cerebrum sampai cornu anterior
medulla spinalis. Kerusakan pada jaras UMN akan menyebabkan paralisa
yang bersifat spastik
b) Lower Motor Neuron (LMN)
Jaras saraf mulai dari cornu anterior medulla spinalis sampai ke efektor.
Kerusakan LMN akan mengakibatkan paralise yang bersifat flacid
(layuh).
b. Sawar darah otak
Sawar Darah Otak (SDO) adalah struktur membran yang secara
primer berfungsi untuk melindungi otak dari bahan-bahan kimia dalam
darah, dimana fungsi metabolik masih dapat dilakukan. Sawar darah otak ini
terdiri dari sel -sel endotelial, yang tersusun sangat rapat di kapiler otak.
Kepadatan yang tinggi lebih banyak membatasi lewatnya substansisubstansi dari aliran darah dibandingkan sel-sel endotelial kapiler tubuh
lainnya. Proyeksi sel-sel astrosit (juga disebut glia limitans) mengelilingi
sel endotelial SDO, menyediakan dukungan biokimia untuk sel tersebut.
SDO

berbeda

dengan

blood-cerebrospinal

fluid

barrier

yang

menyerupainya, suatu sel-sel koroid pada pleksus koroideus, dan dari bloodretinal barrier, yang dapat dimasukkan sebagai bagian dari SDO. Sejumlah
morfologi, karakteristik fisiologis, dan fungsional dari SDO memastikan
bahwa substrat endogen dan eksogen dalam sirkulasi umum tidak siap
menyeberang ke parenkim otak.

11

Gambar 4. Blood brain barrier3


Sistem Saraf Perifer :3
1. Sistem kranial
Sistem saraf kranial terdapat 12 pasang saraf cranial muncul dari
berbagai bagian batang otak. Beberapa saraf cranial hanya tersusun dari
serabut sensorik, tetapi sebagaian besar tersusun dari serabut sensorik dan
serabut motorik.
a. Saraf olfactorius ( CN I )
Merupakan saraf sensorik. Saraf ini berasal dari epithelium olfaktori
mukosa nasal. Berkas serabut sensorik mengarah ke bulbus olfaktori dan
menjalar melalui traktus olfaktori sampai ke ujung lobus temporal (girus
olfaktori), tempat persepsi indera penciuman berada.
b. Saraf opticus ( CN II )
Merupakan saraf sensorik. Impuls dari batang dan kerucut retina di bawa
ke badan sel akson yang membentuk saraf optic. Setiap saraf optic keluar
dari bola mata pada bitnik buta dan masuk ke rongga cranial melaui
foramen optic. Seluruh serabut memanjang saat traktus optic, bersinapsis
pada sisi lateral nuclei genikulasi thalamus dan menonjol ke atas sampai
ke area visual lobus oksipital untuk persepsi indera penglihatan.
c. Saraf oculomotorius ( CN III )
Merupakan saraf gabungan, tetapi sebagian besar terdiri dari saraf
motorik. Neuron motorik berasal dari otak tengah dan membawa impuls
ke seluruh otot bola mata (kecuali otot oblik superior dan rektus lateral),
ke otot yang membuka kelopak mata dan ke otot polos tertentu pada

12

mata. Serabut sensorik membawa informasi indera otot (kesadaran


perioperatif) dari otot mata yang terinervasi ke otak.
d. Saraf trochlearis ( CN IV )
Adalah saraf gabungan , tetapi sebagian besar terdiri dari saraf motorik
dan merupakan saraf terkecil dalam saraf cranial. Neuron motorik berasal
dari langit-langit otak tengah dan membawa impuls ke otot oblik superior
bola mata. Serabut sensorik dari spindle otot menyampaikan informasi
indera otot dari otot oblik superior ke otak.
e. Saraf trigeminus ( CN V )
Saraf cranial terbesar, merupakan saraf gabungan tetapi sebagian besar
terdiri dari saraf sensorik. Bagian ini membentuk saraf sensorik utama
pada wajah dan rongga nasal serta rongga oral. Neuron motorik berasal
dari pons dan menginervasi otot mastikasi kecuali otot buksinator. Badan
sel neuron sensorik terletak dalam ganglia trigeminal. Serabut ini
bercabang ke arah distal menjadi 3 divisi :
a) Cabang optalmik membawa informasi dari kelopak mata, bola mata,
kelenjar air mata, sisi hidung, rongga nasal dan kulit dahi serta kepala.
b) Cabang maksilar membawa informasi dari kulit wajah, rongga oral
(gigi atas, gusi dan bibir) dan palatum.
c) Cabang mandibular membawa informasi dari gigi bawah, gusi, bibir,
kulit rahang dan area temporal kulit kepala.
f. Saraf abducens ( CN VI )
Merupakan saraf gabungan, tetapi sebagian besar terdiri dari saraf
motorik. Neuron motorik berasal dari sebuah nucleus pada pons yang
menginervasi otot rektus lateral mata. Serabut sensorik membawa pesan
proprioseptif dari otot rektus lateral ke pons.
g. Saraf facial ( CN VII )
Merupakan saraf gabungan. Meuron motorik terletak dalam nuclei pons.
Neuron ini menginervasi otot ekspresi wajah, termasuk kelenjar air mata
dan kelenjar saliva. Neuron sensorik membawa informasi dari reseptor
pengecap pada dua pertiga bagian anterior lidah.
h. Saraf vestibulocochlearis ( CN VIII )
Hanya terdiri dari saraf sensorik dan memiliki dua divisi. Cabang koklear
atau auditori menyampaikan informasi dari reseptor untuk indera
pendengaran dalam organ korti telinga dalam ke nuclei koklear pada
medulla, ke kolikuli inferior, ke bagian medial nuclei genikulasi pada
thalamus dan kemudian ke area auditori pada lobus temporal. Cabang
13

vestibular membawa informasi yang berkaitan dengan ekuilibrium dan


orientasi kepala terhadap ruang yang diterima dari reseptor sensorik pada
telinga dalam.
i. Saraf glossophryngeus ( CN IX )
Merupakan saraf gabungan. Neuron motorik berawal dari medulla dan
menginervasi otot untuk wicara dan menelan serta kelenjar saliva parotid.
Neuron sensorik membawa informasi yang berkaitan dengan rasa dari
sepertiga bagian posterior lidah dan sensasi umum dari faring dan laring ;
neuron ini juga membawa informasi mengenai tekanan darah dari
reseptor sensorik dalam pembuluh darah tertentu.
j. Saraf vagus ( CN X )
Merupakan saraf gabungan. Neuron motorik berasal dari dalam medulla
dan menginervasi hampir semua organ toraks dan abdomen. Neuron
sensorik membawa informasi dari faring, laring, trakea, esophagus,
jantung dan visera abdomen ke medulla dan pons.
k. Saraf accessorius ( CN XI )
Merupakan saraf gabungan, tetapi sebagian besar terdiri dari serabut
motorik. Neuron motorik berasal dari dua area : bagian cranial berawal
dari medulla dan menginervasi otot volunteer faring dan laring, bagian
spinal muncul dari medulla spinalis serviks dan menginervasi otot
trapezius dan sternokleidomastoideus. Neuron sensorik membawa
informasi dari otot yang sama yang terinervasi oleh saraf motorik ;
misalnya otot laring, faring, trapezius dan otot sternokleidomastoid.
l. Saraf hypoglossus ( CN XII )
Termasuk saraf gabungan, tetapi sebagian besar terdiri dari saraf motorik.
Neuron motorik berawal dari medulla dan mensuplai otot lidah. Neuron
sensorik membawa informasi dari spindel otot di lidah.
2.2.2

Fisiologi
Sistem Saraf Pusat4
1. Otak

14

Fisiologi otak4

Gambar 5.

Seperti terlihat pada gambar di atas, otak dibagi menjadi empat bagian,
yaitu:
1) Cerebrum (Otak Besar)
Cerebrum adalah bagian terbesar dari otak manusia yang juga disebut
dengan nama Cerebral Cortex, Forebrain atau Otak Depan. Cerebrum
merupakan bagian otak yang membedakan manusia dengan binatang.
Cerebrum membuat manusia memiliki kemampuan berpikir, analisa, logika,
bahasa,

kesadaran,

perencanaan,

memori

dan

kemampuan

visual.

Kecerdasan intelektual atau IQ Anda juga ditentukan oleh kualitas bagian


ini.
Cerebrum secara terbagi menjadi 4 (empat) bagian yang disebut
Lobus. Bagian lobus yang menonjol disebut gyrus dan bagian lekukan yang
menyerupai parit disebut sulcus. Keempat Lobus tersebut masing-masing
adalah: Lobus Frontal, Lobus Parietal, Lobus Occipital dan Lobus
Temporal.
a. Lobus Frontal merupakan bagian lobus yang ada dipaling depan dari
Otak Besar. Lobus ini berhubungan dengan kemampuan membuat alasan,
kemampuan

gerak,

kognisi,

perencanaan,

penyelesaian

masalah,

memberi penilaian, kreativitas, kontrol perasaan, kontrol perilaku seksual


dan kemampuan bahasa secara umum.
b. Lobus Parietal berada di tengah, berhubungan dengan proses sensor
perasaan seperti tekanan, sentuhan dan rasa sakit.
c. Lobus Temporal berada di bagian bawah berhubungan

dengan

kemampuan pendengaran, pemaknaan informasi dan bahasa dalam


bentuk suara.
15

d. Lobus Occipital ada di bagian paling belakang, berhubungan dengan


rangsangan visual yang memungkinkan manusia mampu melakukan
interpretasi terhadap objek yang ditangkap oleh retina mata.
2) Cerebellum (Otak Kecil)
Otak Kecil atau Cerebellum terletak di bagian belakang kepala, dekat
dengan ujung leher bagian atas. Cerebellum mengontrol banyak fungsi
otomatis otak, diantaranya: mengatur sikap atau posisi tubuh, mengkontrol
keseimbangan, koordinasi otot dan gerakan tubuh. Otak Kecil juga
menyimpan dan melaksanakan serangkaian gerakan otomatis yang dipelajari
seperti gerakan mengendarai mobil, gerakan tangan saat menulis, gerakan
mengunci pintu dan sebagainya. Jika terjadi cedera pada otak kecil, dapat
mengakibatkan gangguan pada sikap dan koordinasi gerak otot. Gerakan
menjadi tidak terkoordinasi, misalnya orang tersebut tidak mampu
memasukkan

makanan

ke

dalam

mulutnya

atau

tidak

mampu

mengancingkan baju.
3) Brainstem (Batang Otak)
Batang otak (brainstem) berada di dalam tulang tengkorak atau rongga
kepala bagian dasar dan memanjang sampai ke tulang punggung atau
sumsum tulang belakang. Bagian otak ini mengatur fungsi dasar manusia
termasuk pernapasan, denyut jantung, mengatur suhu tubuh, mengatur
proses pencernaan, dan merupakan sumber insting dasar manusia yaitu fight
or flight (lawan atau lari) saat datangnya bahaya.Batang otak dijumpai juga
pada hewan seperti kadal dan buaya. Oleh karena itu, batang otak sering
juga disebut dengan otak reptil. Otak reptil mengatur perasaan teritorial
sebagai insting primitif. Contohnya anda akan merasa tidak nyaman atau
terancam ketika orang yang tidak Anda kenal terlalu dekat dengan anda.
Batang Otak terdiri dari tiga bagian, yaitu:
a. Mesencephalon atau Otak Tengah (disebut juga Mid Brain) adalah bagian
teratas dari batang otak yang menghubungkan Otak Besar dan Otak
Kecil. Otak tengah berfungsi dalam hal mengontrol respon penglihatan,
gerakan mata, pembesaran pupil mata, mengatur gerakan tubuh dan
pendengaran.
b. Medulla oblongata adalah titik awal saraf tulang belakang dari sebelah
kiri badan menuju bagian kanan badan, begitu juga sebaliknya. Medulla

16

mengontrol fungsi otomatis otak, seperti detak jantung, sirkulasi darah,


pernafasan, dan pencernaan.
c. Pons merupakan stasiun pemancar yang mengirimkan data ke pusat otak
bersama dengan formasi reticular. Pons yang menentukan apakah kita
terjaga atau tertidur.
4) Limbic System (Sistem Limbik)
Sistem Limbik terletak pada bagian tengah otak membungkus batang
otak ibarat kerah baju. Limbik berasal dari bahasa latin yang berarti kerah.
Bagian otak ini sama dimiliki juga oleh hewan mamalia sehingga sering
disebut dengan otak mamalia. Komponen limbik antara lain hipotalamus,
thalamus, amigdala, hipocampus dan korteks limbik. Sistem limbik
berfungsi menghasilkan perasaan, mengatur produksi hormon, memelihara
homeostasis, rasa haus, rasa lapar, dorongan seks, pusat rasa senang,
metabolisme dan juga memori jangka panjang. Bagian terpenting dari
Limbik Sistem adalah Hipotalamus yang salah satu fungsinya adalah bagian
memutuskan mana yang perlu mendapat perhatian dan mana yang tidak.
Sistem limbik menyimpan banyak informasi yang tak tersentuh oleh
indera. Dialah yang lazim disebut sebagai otak emosi atau tempat
bersemayamnya rasa cinta dan kejujuran. Carl Gustav Jung menyebutnya
sebagai "Alam Bawah Sadar" atau ketidaksadaran kolektif, yang
diwujudkan dalam perilaku baik seperti menolong orang dan perilaku tulus
lainnya. LeDoux mengistilahkan sistem limbik ini sebagai tempat duduk
bagi semua nafsu manusia, tempat bermuaranya cinta, penghargaan dan
kejujuran.
2. Medulla Spinalis4
Medulla spinalis merupakan bagian dari susunan saraf pusat yang
berbentuk silinder memanjang dan terletak seluruhnya di dalam canalis
verterbalis, dikeliling oleh tiga lapis selaput pembungkus yang di sebut
meninges. Apalagi lapisan-lapisan, struktur-struktur dan ruangan-rungan
yang mengeliling medulla spinalis itu disebutkan dari luar ke dalam secara
berturut-turut, maka terdapatlah :
a. Dinding canalis verterbralis (terdiri atas vertebrae dan ligmenta)
b. Lapisan jaringan lemak (ekstradural) yang mengandung anyaman
pembuluh-pembuluh darah vena
c. Duramater
d. Arachnoidea
17

e. Ruang subrachnoidal (cavitas subarachnoidealis), yang antara lain berisi


liquor cerebrospinalis
f. Pia mater, yang kaya dengan pembuluh-pembuluh darah dan yang
langsung membungkus permukaan sebelah luar medulla spinalis.
Lapisan meninges terdiri atas pachymeninx (dura meter) dan
leptomeninx (arachnoidea dan pia meter). Lapisan arachnoidea menempel
langsung pada permukaan sebelah dalam dura meter, sehingga di antara
kedua lapisan ini dalam keadaan normal tidak dijumpai suatu ruangan.
Ruangan subarachoidal selain mengelilingi medulla spinalis, juga
mengelilingi radices dan ganglia. Di dalam cavitas subarachoidealis selain
liquor cerebrospinalis, juga dapat dijumpai septum subarachnoideale,
ligmentum

denticulatum

dan

pembuluh-pembuluh

darah.

Septum

subarachoideale merupakan perluasan lapisan pia meter yang terbentang


antara sulcus medianus dorsalis medulla spinalis dan permukaan sebelah
dalam aracnoidea. Ligamentum denticulatum juga dapat dianggap sebagi
perluasan pia meter yang terbentang antara permukaan lateral medulla
spinalis dan kearah lateral melekat pada permukaan sebelah dalam
arachoidea dengan perantara titik-titik perlekatan yang terletak di antara
pangkal-pangkal radices nervus spinalis yang berdekatan.
Pada tubuh dewasa, panjang medulla spinalis adalah sekitar 43
sentimeter. Pada masa kehidupan intrauterina usia 3 bulan, panjang medulla
spinalis sama dengan panjang canalis vertebralis, sedang dalam masa-masa
berikutnya terjadi suatu perbedaan kecepatan pertumbuhan memnjang,
canalis vertebralis tumbuh lebih cepat dari pada medulla spinalis, sehingga
ujung caudal medulla spinalis berangsur-angsur terletak pada tingkat-tingkat
yang lebih tinggi. Pada masa kehidupan intrauterina usia 6 bulan, ujung
caudal corpus vertebrae lumbalis III; pada saat lahir ujung tersebut sudah
terletak setinggi tepi caudal corpus vertebrae lumbalis II. Pada usia dewasa,
ujung caudal medulla spinalis biasanya terletak setinggi tepi cranial corpus
vertebrae lumbinalis I dan II. Posisi ujung caudal medulla spinalis ini dapat
menunjukkan variasi satu corpus vertebrae ke arah cranial atau caudal.
Perbedaan panjang antara medulla spinalis dan canalis vertebrae ini
mempunyai makna dalam dua hal, sebagai:

18

a. Pembentukan cauda equeina. Pada tinggkat manapun sekmen-sekmen


medulla spinalis terletak radices nervispinalis selalu akan kluar dari
canalis vertebralis melalui vronamina intervertebralia yang sesuai
didaerah servikal bagian kranial redices tersebut berjalan keluar secara
hampir horisontal, akan tetapi makin kearah tingkat-tingkat yang lebih
caudal, radices nervi lumbales bagian caudal dan radices nervi sacralis
praktis berjalan secara vertikal kearah caudal untuk beberapa saat
sebelum mereka dapat mencapai foreminal intervertebralia yang sesuai,
yang terletak beberapa sekmen di sebelah caudal tempat radices tersebut
keluar dari permukaan medulla spinalis. Oleh karena itu caudal equena
merupakan struktur yang terdiri atas radices nervi lumbalis bagian caudal
dan radices nervi sacralis disebelah caudal conus medularis. Conus
medularis merupakan bagian paling caudal medulla spinalis yang
berbentuk krucut dan terutama terdiri dari atas segmen-segmen sacral
medulla spinalis.
b. Punksi limbal. Kearah caudal cavitas subarachnoidealis akan berakhir
setinggi segmen sacral II atau III columna vertebralis jadi pada orang
dewasa setinggi antara tepi caudal corvus vertebrae lumbalis I dan corpus
vertebrae sacralis II atau III tidak lagi terdapat medulla spinlis, akan
tetapi bhanya terdapat caudal equina yang terapung-apung di dalam
liquor cerebrospinalis di dalam suatu ruangan subrachnoidal yang luas.
Dari daerah inilah liquor cerebrospinalis itu dapat diambil melalui
sesuatu tindakan yang disebut punksi lumbal untuk kepentingkan
diagnostik atau pengobatan. Pada tindakan ini jarum punksi biasanya
ditusukkan ke dalam cavitas subrachnoidealis menembus ligamentum
flavum yang terbentang antara vertebrae lumbales III dan IV (atau
vertebrae lumbales IV dan V). Dalam tindakan ini caudal equina
biasanya tidak mengalami cedera, oleh karena ia terapung-apung secara
agak bebas didalam eliquor serebrospinalis, dan ketika jarum punksi
mencapai ruangan subara chnoidal tersebut, radices nervispinalis
terdesak ke samping.
Sistem Saraf Perifer4
1. Susunan Saraf Somatic
19

Susunan saraf somatic adalah susunan saraf yang mempunyai peranan


sfesifik untuk mengatur aktivitas otot sadar atau serat lintang. Otak dan
sumsum tulang belakang berkomunikasi dengan seluruh bagian tubuh
melalui cranial nerves (saraf-saraf kepala) danspinal nerves (saraf-saraf
tulang belakang). Saraf-saraf tersebut adalah bagian dari sistem saraf perifer
yang membawa informasi sensoris ke sistem saraf pusat dan membawa
pesan-pesan dari sistem saraf pusat ke otot-otot dan kelenjar-kelenjar di
seluruh

tubuh

atau

disebut

juga

dengan sistem

saraf

somatik

(somatic nervous system).,Bagian-bagian sistem saraf somatic:


a. Saraf-saraf Tulang Belakang (Spinal Nerves) Saraf tulang belakang yang
merupakan bagian dari sistem saraf somatik; dimulai dari ujung saraf
dorsal dan ventral dari sumsum tulang belakang (bagian di luar sumsum
tulang belakang). Saraf-saraf tersebut mengarah keluar rongga dan
bercabang-cabang di sepanjang perjalanannya menuju otot atau reseptor
sensoris yang hendak dicapainya. Cabang-cabang saraf tulang belakang
ini umumnya disertai oleh pembuluh-pembuluh darah. Soma sel dari
axon-axon saraf tulang belakang yang membawa informasi sensoris ke
otak dan sumsum tulang belakang terletak di luar sistem saraf pusat
(kecuali untuk sistem visual karena retina mata adalah bagian dari otak).
Axon-axon yang datang membawa informasi sensoris ke susunan saraf
pusat ini adalah saraf-saraf afferent. Soma-soma sel dari axon yang
membawa informasi sensoris tersebut berkumpul di dorsal root
ganglia. Neuronneuron ini merupakan neuron-neuron unipolar. Batang
axon yang bercabang di dekat soma sel, mengirim informasi ke sumsum
tulang belakang dan ke organ-organ sensoris. Semua axon di dorsal root
menyampaikan informasi sensorimotorik.
b. Saraf-saraf Kepala (Cranial Nerves). Saraf-saraf kepala terdiri dari 12
pasang sarafkepala yang meninggalkan permukaan ventral otak.
Sebagian besar saraf-saraf kepala ini mengontrol fungsi sensoris dan
motorik di bagian kepala dan leher. Salah satu dari keduabelas pasang
tersebut adalah saraf vagus (vagus nerves/saraf yang "berkelana"), yang
merupakan saraf nomor sepuluh yang mengatur fungsi-fungsi organ
tubuh di bagian dada dan perut. Disebut "vagus" atau saraf yang

20

berkelana karena cabang-cabang sarafnya mencapai rongga dada dan


perut.
2. Susunan Saraf Otonom4
Saraf-saraf yang bekerja tidak dapat disadari dan bekerja otomatis.
Oleh kerena itu disebut juga saraf tak sadar. Susunan saraf motorik yang
mengsarafi

organ

visceral

umum,

mengatur

menyelaraskan

dan

mengoordinasikan aktivitas visceral vital termasuk pencernaan,suhu


badan,tekanan darah dan segi perilaku emosionil lainnya. Sistem saraf
otonom bergantung pada sistem saraf pusat dan anatara keduanya
dihubungkan oleh urat-urat saraf eferen ini seolah-olah berfungsi sebbagai
sistem saraf pusa.saraf otonom terutama berkenaan dengan organ-organ
dalam. Menurut fungsinya susunan saraf otonom terdiri dari 2 bagian:
a. Sistem Simpatis
Inti ( yang di bentuk oleh sekelompok badan sel saraf ) sistem
simpatis terletak di segmen toracal dan lumbal di medulla spinalis.
Karenanya sistem simpatis juga disebut Divisi toracolumbar dari sistem
saraf otonom. Akson neuron ini serat-serat praganglion meninggalkan SSP
melalui radiks ventral dan cabang-cabang (rami). Penghubung saraf spinal
bagian toracall dan lumbal. Mediator kimia dari serabut pasca ganglion
sistem simpatis adalah norepinefrin, yang juga di produksi oleh medulla
adrenal. Serabut saraf yang membebaskan neropinefrin disebut saraf
adrenergic( kata yang berasal dari noradrenalin, nama lain untuk
norepinefrin). Serabut adrenergic mempersarafi kelenjar keringat dan
pembuluh darah otot rangka . sel-sel medulla adrenal membebaskan epi
nefrin dan noreepinefrin sebagai respon terhadap stimulasi simpatis
praganglion.
b. Sistem Parasimpatis
Sistem parasimpatis memiliki inti di medulla dan mesensepalon dan di
bagian sacral medulla spinalis. Serabut praganglion dari neuron ini keluar
melalui 4 saraf cranial (III,VII,IX dan X) dan juga melalui saraf sacral ke
dua, ke tiga dan ke empat di medulla spinalis. Karenanya, sistem
parasimpatis juga disebut divisi craniosakral sistem otonom.
Neuron ke dua dari sistem parasimpatis ditemukan dalam ganglia
yang lebih kecil dari ganglia sistem simpatis, neuron ini selalu berada dekat

21

atau di dalam organ efektor. Neuron ini umumnya terdapat di dinding organ
(misalnya, lambung,usus), ketika terserabur gaganglion memasuki organ
dan membentuk sinaps dengan neuron ke dua dalam sistem saraf ini.

Gambar .6 Sistem saraf parasimpatis4


Mediator kimia yang disebabkan oleh ujung saraf praganglion dan
pasca praganglion dari sistem parasimpatis, yaotu acetilcolin, dinon aktifkan
oleh asetil cholinesterase salah satu alas an mengapa stimulasi parasimpatis
memiliki kerja yang lebih jelas dan lebih terlokalisir daripada stimulasi
simpatis.
2.2.3

Histologi5
Susunan saraf manusia merupakan bagian tubuh yang paling
kompleks dan dibentuk oleh lebih dari 100 juta sel saraf (neuron), dan
didukung oleh sel-sel Glia yang jumlahnya lebih banyak. Rata-rata setiap
neuron memiliki sekurang-kurangnya seribu hubungan dengan neuron lain,
membentuk suatu sistem komunikasi yang sangat kompleks. Fungsi suatu
neuron adalah satu set proses koordinasi yang bertujuan untuk mencapai
tujuan tertentu.
Jaringan saraf tersebar di seluruh tubuh berupa jalinan komunikasi
terpadu. Secara anatomis, susunan saraf dibagi dalam susunan saraf
22

pusat (otak dan medulla spinalis) dan susunan saraf tepi (serat saraf dan
ganglion saraf). Secara struktural, jaringan saraf terdiri atas dua golongan
sel: sel saraf / neuron dan beberapa jenis sel glia (Yn.glia, perekat).
Neuron berespons terhadap perubahan (stimulus) lingkungan dengan
mengubah perbedaan potensial yang ada antara permukaan luar dan dalam
dari membran. Sel-sel dengan sifat ini disebut dapat dirangsang (exitable)
atau dapat diganggu (irritable). Neuron segera bereaksi terhadap stimulus
dan modifikasi potensial listrik dapat terbatas pada tempat yang menerima
stimulus atau dapat disebarkan ke seluruh bagian neuron oleh membran.
Penyebaran ini, disebut potensial aksi atau impuls saraf, mampu melintasi
jarak yang jauh; impuls saraf meneruskan informasi ke neuron lain, otot dan
kelenjar.
Melalui

proses

pembentukan,

analisis,

identifikasi

dan

pengentegrasian informasi, maka susunan saraf membentuk dua kelompok


fungsi yang besar: stabilisasi kondisi internal (mis, tekanan darah,
kandungan O2 dan CO2, pH, kadar glukosa darah dan kadar hormon); dan
pola perilaku (mis, makan, reproduksi, pertahanan, interaksi dengan
makhluk hidup lainnya).
1. Neuron5
Sel saraf atau neuron, adalah satuan anatomis dan fungsional
independen dengan ciri morfologis majemuk. Mereka berperan pada
penerimaan, penghantaran dan pemrosesan rangsang; pencetus aktivitas sel
tertentu; dan pelepas neurotransmiter dan molekul-molekul penyampai
informasi lainnya. Neuron terdiri dari tiga bagian:
a) Dendrit, yang merupakan juluran-juluran panjang dikhususkan untuk
menerima stimulus dari lingkungan, dari sel epitel sensoris atau dari
neuron lain.
b) Badan sel atau perikarion, yang merupakan pusat tropik untuk seluruh sel
saraf dan peka terhadap rangsang.
c) Akson, yang merupakan juluran tunggal yang dikhususkan untuk
membangkitkan atau menghantar impuls saraf ke sel lain (sel saraf, otot
dan sel kelenjar).
Kategori neuron berdasar ukuran dan bentuk julurannya:
23

a) Neuron multipolar, yang memiliki lebih dari dari 2 juluran, satu adalah
akson dan lainnya dendrit. Hampir semua neuron dalam tubuh adalah
multipolar.
b) Neuron bipolar, dengan satu akson dan satu dendrit. Neuron ini
ditemukan dalam ganglion koklearis dan vestibularis selain dalam retina
dan mukosa olfaktorius.
c) Neuron pseudounipolar, yang memiliki satu juluran dekat perikarion
yang bercabang menjadi 2 cabang. Juluran itu membentuk huruf T,
dengan satu cabang meluas ke ujung perifer dan satu lagi ke arah susunan
saraf pusat. Neuron ini terdapat dalam ganglion spinal, ganglion kranial.
Penggolongan neuron berdasarkan peran fungsional :
a) Neuron motoris (eferen) mengendalikan organ efektor seperti serat otot
dan kelenjar eksokrin dan endokrin.
b) Neuron sensoris (aferen), terlibat dalam penerimaan stimulus sensoris
c)

dari lingkungan dan dari dalam tubuh.


Interneuron, mengadakan hubungan sesama neuron, membentuk rantai

atau sirkuit fungsional kompleks (seperti pada retina).


a. Badan sel atau perikarion
Perikarion adalah bagian neuron yang mengandung inti dan
sitoplasma di sekelilingnya, tidak termasuk juluran-juluran sel. Perikarion
kebanyakan neuron menerima sejumlah besar ujung saraf yang membawa
stimulus pembangkit atau penghambat yang timbul dalam sel-sel saraf lain.
Sel saraf memiliki inti bulat, amat besar, eukromatik (pucat) dengan
anak inti yang jelas. Sel saraf binukleus tampak pada ganglion simpatis dan
sensoris. Daerah bergranul basofilik disebut badan Nissl merupakan
retikulum endoplasma kasar dan ribosom bebas. Kompleks Golgi hanya
terdapat dalam perikarion dan terdiri atas deretan sisterna licin secara paralel
di sekitar tepian inti. Neurofilamen banyak terdapat dalam perikarion dan
juluran sel.
b. Dendrit dan akson5
Dendrit biasanya pendek dan bercabang-cabang seperti pohon.
Kebanyakan sel saraf memiliki banyak dendrit, yang sangat memperluas
daerah reseptif sel. Percabangan dendrit memungkinkan sebuah neuron
untuk menerima dan memadukan sejumlah besar terminal akson dari sel-sel

24

saraf lain. Semua akson berawal dari daerah berbentuk piramid yang
disebut akson hilok yang keluar dari perikarion. Membran plasma dari
akson disebut aksolema isinya dikenal dengan aksoplasma. Semua cabang
akson

dikenal

akson (aksoplasma)

sebagaicabang-cabang
memiliki

sedikit

kolateral.

mitokondria,

Sitoplasma

mikrotubul

dan

neurofilamen dan beberapa sisterna dari RE licin.


c. Hubungan sinaps
Sinaps (Yn. Synapsis, Penyatuan) berperan pada penghantaran satu
arah dari impuls saraf. Sinaps adalah tempat dimana neuron-neuron saling
berkontak atau antara neuron dengan sel efektor lainnya (otot dan sel
kelenjar).

Hampir

semua

sinaps

menghantarkan

impuls

lewat

pelepasan neurotransmiter pada terminal akson; mereka adalah substansi


kimiawi yang menginduksi perpindahan impuls saraf ke neuron lainnya atau
ke sebuah sel efektor.
Sinaps dibentuk oleh suatu terminal akson (terminal prasinaps) yang
menghantarkan impuls; bagian sel lain dimana impuls baru dibentuk
( terminal pascasinaps); dan suatu celah sempit intraseluler yang
disebut celah sinaps. Bila satu akson membentuk sinaps dengan sel tubuh
disebut suatu sinaps aksosomatik; dengan dendrit, aksodendritik; atau
dengan suatu akson, aksoaksonik. Hampir semua sinaps merupakan sinaps
kimiawi dan menghantarkan impuls melalui neurotransmiter.
Menurut Tebal Membran di Tempat Kontak :
a. Sinaps Asimetris
Celah sinaps pada membran pasca sinaps penebalan lebih nyata, sifat
menggertak / mempercepat kegiatan alat target, vesikula bulat.
b. Sinaps Simetris
Celah sinaps dengan penebalan sama yang nyata pada membran prasinaps dan pre-sinpas. Vesikula di sini lonjong dan gepeng sifat
menghalangi atau melambatkan kegiatan alat target. Hampir semua
sinaps merupakan sinaps kimiawi dan menghantarkan impuls saraf
melalui hubungan celah (gap junctions) yang melewati membran pre dan
pascasinaps.
d. Sel glia dan aktivitas neuron

25

Sel-sel glia jumlahnya 10 kali lebih banyak daripada neuron pada otak
mamalia; sel-sel ini mengelilingi perikarion bersama dengan aksonnya dan
dendrit serta menempati ruang interselular. Penggolongan menurut asal dan
fungsinya. Merupakan sel jaringan antara atau penunjang sistem saraf.
Terdapat di SSP dan SST. Fungsi Glia
a. Melindungi dan menunjang neuron
b. Menyelaputi akson
c. Memberi nutrisi kepada neuron
d. Pertahanan
Tipe-tipe sel glia:
a. Oligodendrosit
Oligodendrosit (Yn, oligos, kecil + kytos, sel) menghasilkan selubung
mielin yang membentuk penyekat listrik dari neuron pada susunan saraf
pusat.
b. Sel Schwann
Sel ini memiliki fungsi yang sama dengan oligodendrosit tetapi berlokasi
di sekitar akson pada susunan saraf perifer. Satu sel schwann membentuk
mielin disekeliling satu akson, berbeda dengan oligodendrosit yang dapat
bercabang dan melayani lebih dari satu neuron beserta julurannya.
c. Astrosit
Astrosit (Yn, astron, bintang+kytos) adalah sel yang bentuknya seperti
bintang karena memiliki banyak juluran yang memancar. Sel ini memiliki
banyak filamen yang memperkuat strukturnya.astrosit mengikat neuron
pada kapiler dan piamater. Astrosit dengan beberapa juluran panjang
disebut astrosit fibrosa dan berlokasi di substansi putih (white matter);
astrosit protoplasmatis, dengan banyak cabang-cabang pendek ditemukan
ditemukan dalam substansi kelabu.
d. Sel ependim
Sel ini merupakan sel epithel kolumner rendah bersilia yang melapisi
rongga-rongga pada susunan saraf pusat.
e. Mikroglia
Sel kecil yang bentuknya memanjang dengan juluran-juluran pendek
yang iregular, inti selnya panjang dan padat, yang berbeda dengan inti
sel-sel glia lainnya yang berbentuk bulat.

26

2.2.4 Biokimia
1. Struktur sel-sel saraf
a. Sel saraf mempunyai struktur yang karakteristik6
b. Dari badan sel keluar lanjutannya yg bercabang-cabang, disebut dendrit
dan akson.
c. Melalui dendrit, neuron dapat menerima rangsangan, kemudian
rangsangan diteruskan ke akson.
d. Akson sering dikelilingi oleh sel Schwann yg diselubungi oleh suatu
sarung yg disebut mielin
e. Sarung mielin, merupakan isolator listrik yg sangat khas untuk akson
Jaringan saraf banyak mengandung lemak dan air.
2. Protein di jaringan saraf terdiri dari:
a. Albumin
b. Globulin
c. Kolagen
d. Nukleoprotein
e. Neurokeratin.
3. Senyawa penting dalam otak
a. Glutamat dan glutamin
b. Serotonin
Peranan asam glutamat
a. Penyedia senyawa gamma amino butirat, untuk aktivitas fikiran
seseorang. Pembentukan senyawa tersebut melalui reaksi dekarboksilasi
asam glutamat, yang dikatalisis oleh enzim glutamat dekarbosilase
dengan koenzim vitamin B-6.
b. Mencegah jaringan otak mengalami keracunan ammonia dengan cara
pengikatan ammonia oleh asam glutamat terbentuklah glutamin.7
Serotonin:
a. Senyawa ini dikenal sbg 5-OH-Tryptamin (trombositin = enteramin).
b. Tidak hanya terdapat di otak, tetapi dijumpai di paru, trombosit dan sel
mast.
Fungsinya:
a. Sebagai vasokontriksi dan stimulator aktivitas otak.
b. Serotonin di jaringan otak diikat oleh protein, dan bila ada rangsangan,
serotonin dilepaskan.
Kerjanya:
Tidak lama sebab diuraikan secepatnya oleh MAO (mono-amino
oksidase) sehingga menghasilkan metabolit 5-HIAA (5- Hydroxy Indole
acetic acid) yang akan diekskresikan ke dalam urine.

27

4. Langkah-langkah pemindahan sinyal.


a. Pada saat potensial aksi mencapai membran sinaptik maka
b. Kanal Ca+ yg diatur oleh tegangan terbuka
c. Ion Ca+ dari daerah ekstraseluler mendesak masuk, sehingga kadar
kalsium meningkat secara drastis di dalam sinaps, menyebabkan suatu
proses eksositosis. Pada proses ini banyak vesikel sinapsis mensekresikan
asetilkolin ke dalam celah sinaps
d. asetilkolin berdifusi melalui celah sinaps, berikatan dengan reseptor
pascasinaps dan mengaktifkannya.
e. Reseptor asetilkolin merupakan kanal ion yang diatur oleh ligan, terbuka
untuk ion Na+ dan K+. Arus ion Na+ meningkatkan potensial diam selsel saraf atau sel-sel otot, sehingga kanal-2 tergantung pada tegangan
terbuka yang dihasilkan suatu potensial aksi.
Pada membrane terdapat sruktur asimetri regional. Sebagian, seperti
yang terdapat di tepi vilosa sel mukosa, hampir dapat dilihat secara
makroskopis. Yang lain, seperti yang terdapat di taut celah (gap junction),
taut erat (tight junction), dan sinaps, menempati bagian membran yang jauh
lebih kecil, sehingga membentuk asimetri yang jauh lebih kecil. Membran
mengandung protein integral dan perifer. Protein integral juga terdistribusi
secara asimetris menembus lapisan ganda membran. Orientasi asimetrik ini,
terbentuk sewaktu protein tersisip ke dalam lapisan ganda lipid. Protein
perifer tidak berinteraksi langsung dengan inti hidrofobik fosfolipid di
dalam lapisan ganda sehingga tidak memerlukan detergen untuk
membebaskannya. Protein ini terikat secara lemah dengan bagian hidrofobik
protein integral tertentu dengan dan gugus kepala fosfolipid serta dapat
dibebaskan dengan pemberian larutan garam dengan kekuatan ionik yang
tinggi.
Membran pasif memindahkan sejumlah molekul kecil melalui
membran. Molekul dapat secara pasif menembus membran lapisan ganda
lipid dengan mengikuti penurunan gradient elektro-kimiawi melalui proses
difusi sederhana atau terfasilitasi (facilitated diffusion). Pergerakan spontan
menuju keseimbangan ini berlawanan dengan transport aktif yang

28

memerlukan energi karena proses ini merupakan pergerakkan melawan


suatu gradient elektrokimiawi. 8
Pemindahan material dan informasi melalui membran.
1. Pergerakkan molekul kecil melalui membran:
a. Difusi (pasif dan terfasilitasi)
b. Transpor aktif
2. Pergerakan molekul besar melalui molekul membran
a. Endositosis
b. Eksositosis
3. Transmisi sinyal melalui membrane
Reseptor permukaan sel
a. Tranduksi sinyal (mis. GlucagoncaMP)
b. Internalisasi sinyal (disertai oleh endositosis, misalnya reseptor LDL).
c. Pergerakan ke reseptor intrasel ( hormone steroid; suatu bentuk
difusi).
4. Kontak dan Komunikasi antarsel.
Seperti dijelaskan di atas, sebagian zat terlarut, misalnya gas dapat
masuk ke dalam sel melalui difusi dengan mengikuti gradient
elektrokimiawi melalui membran dan tidak memerlukan energi
metabolik. Difusi pasif sederhana suatu zat terlarut melalui membran
dibatasi oleh agitasi termal molekul spesifik tersebut, oleh gradien
konsentrasi di kedua sisi membran, dan oleh kelarutan molekul yang
bersangkutan. Elektrolit dengan densitas muatan besar memiliki selubung
hidrasi yang lebih besar sehingga laju difusinya lebih lambat. Na+,
contohnya, memiliki rapat muatan yang lebih besar dibandingkan dengan
K+ terhidrasi cenderung bergerak lebih mudah untuk menembus
membrane. Kanal ion adalah protein transmembran yang memungkinkan
masuknya berbagai ion secara aktif. 9
Membran alami mengandung kanal-kanal transmembran atau
struktur mirip pori dan terdiri dari protein yang membentuk kanal ion
selektif. Permeabilitas suatu kanal bergantung pada ukuran, tingkat
hidrasi dan tingkat densitas muatan suatu ion. Kanal spesifik untuk Na+,
K+, Ca2+, dan Cl-, telah berhasil diidentifikasi. Membran sel saraf
memiliki kanal ion yang telah terbukti berperan dalam pembentukan
potensial aksi. Aktivitas sebagian kanal ion ini dikontrol oleh
neurotransmitter; oleh karena itu, aktivitasnya dapat diatur. Kanal ion

29

terbuka secara transien sehingga memiliki pintu/gerbang (gated).


Gerbang ini dapat dikontrol dengan membuka atau menutupnya. Pada
kanal bergerbang ligan (ligand-gated channel), suatu molekul spesifik
berikatan dengan reseptor dan membuka kanal. Kanal bergerbang
tegangan (voltage-gated channel) membuka (atau menutup) sebagai
respon terhadap perubahan potensial membran. Ionfor adalah molekul
yang berfungsi sebagai pengangkut ulang-alik membran bagi beragam
ion. Mikroba tertentu menyintetis molekul organik kecil ionfor, yang
berfungsi

sebagai

pengangkut

ulang-alik

untuk

pergerakan

ion

menembus membran. Ionfor ini mengandung inti hidrofilik yang


berikatan dengan ion spesifik dan dikelilingi oeh region hidrofobik
perifer; susunan ini memungkinkan molekul larut secara efektif di
membrane dan berdifusi menembus menbran. Ionfor lain seperti
polipeptida gramisidin, yang telah banyak diteliti membentuk kanal ion.
Toksin mikroba, misalnya toksin difteri dan komponen komplemen
serum yang telah aktif dapat menimbulkan lubang-lubang besar di
membran sel sehingga makromolekul memiliki akses langsung ke
lingkungan internal sel.
Membran plasma berperan dalam difusi terfasilitasi, transport aktif
dan proses lain. Sistem transport dapat dijelaskan secara fungsional
berdasarkan jumlah molekul yang dipindahkan dan arah perpindahan,
atau berdasarkan perpindahan tersebut mandekati atau menjauhi arah
keseimbangan. Sistem unipor (uniport), memindahkan satu jenis molekul
ke dua arah. Pada sistem kotransport, pemindahan suatu zat terlarut
bergantung pada pemindahan stokiometrik (secara bersamaan atau
berurutan) zat terlarut lain. Simpor (simport) memindahkan dua zat
terlarut dalam arah yang sama. Sistem antipor (antiport) memindahkan
dua molekul dalam arah yang berlawanan (mis: Na+ masuk dan Ca2+
keluar). Molekul yang tidak dapat menenembus sendiri lapisan gandalipid, akan dilakukan secara bersama-sama dengan molekul pembawa.
Hal ini dilibatkan dalam suatu proses difusi terfasilitasi (facilitated
diffusion) dalam transport aktif, serta system transport yang sangat

30

spesifik. Difusi terfasilitasi dan transport aktif memiliki banyak


kesamaan. Keduanya melibatkan protein pembawa, dan memperlihatkan
spesifitas untuk ion, gula dan asam amino.
Hal-hal yang sama diantara proses tersebut, adalah sebagai berikut: 10
1. Terdapat tempat pengikatan spesifik bagi zat terlarut.
2. Pembawa dapat mengalami kejenuhan, sehingga memiliki laju transport
maksimal (Vmax). Perbedaan utama adalah sebagai berikut:
a. Difusi terfasilitasi dapat terjadi di kedua arah, sementara transport
aktifnya terjadi pada satu arah.
b. Transpor aktif selalu bekerja melawan gradient listrik atau kimia
sehingga membutuhkan energi. Difusi terfasilitasi ini memperlihatkan
sifat-sifat yang berbeda dengan difusi sederhana. Laju difusi
terfasilitasi, suatau sistem uniport, dapat mengalami kejenuhan, yaitu:
jumlah tempat pengikatan yang terlibat dalam difusi zat terlarut.
Spesifik tampak terbatas. Banyak sistem difusi terfasilitasi bersifat
stereospesifik, tetapi seperti difusi sederhana, tidak memiliki energi.
Difusi terfasilitasi dapat dijelaskan dengan mekanisme ping-pong.
Dalam

model

ini,

protein

pembawa

berada

dalam

dua

konformasi/bentuk utama.
Keadaan pong, protein terpanjang dengan konsentrasi zat terlarut
tinggi, dan molekul zat terlarut berikatan dengan zat pembawa. Transpor
terjadi jika perubahan konformasi menyebabkan protein pembawa
terpanjang oleh konsentrasi zat terlarut yang kebih rendah (keadaan ping).
Proses ini bersifat reversible total, dan aliran netto yang menembus
membran tergantung pada gradient konsentrasi. Laju zat terlarut memasuki
sel malalui difusi terfasilitasi ditentukan oleh faktor-faktor berikut: 1.
Gradien konsentrasi di kedua sisi membran. 2. Jumlah pembawa yang
tersedia (ini adalah tahap control utama). 3. Kecepatan interaksi antara zat
terlarut dan pembawa. 4. Kecepatan perubahan konformasi protein
pembawa, baik dalam keadaan terisi maupun kosong.
Hormon mengatur difusi membrane yang terfasilitasi dengan
mengubah jumlah pengangkut yang tersedia. Insulin meningkatkan transport
glukosa di lemak otot dengan merekrut transporter cadangan intrasel.
Insulin juga meningkatkan transport asam amino di hati dan jaringan lain.

31

Salah satu kerja terpadu hormone glukokortikoid adalah meningkatkan


teranspor asam amino ke dalam hati, tempat asam amino kemudian
berfungsi sebagai substrat untuk glukokoneogenesis. Hormon pertumbuhan
meningkatkan transport asama amino di semua sel, dan estrogen
melakukannya di uterus. Pada sel hewan, terdapat paling sedikit lima sistem
pembawa yang berbeda untuk asam amino. Masing-masing sistem bersifat
spesifik untuk satu kelompok asam amino yang baerikatan erat dan sebagian
besar bekerja sebagai system Na+ simport. 11
5. Transfor Aktif
Proses transfor aktif berbeda dengan difusi, yaitu bahwa molekul
diangkut menjauhi keseimbangan termodinamik ; oleh karena itu,
dibutuhkan energi. Energi dapat berasal dari hidrolisis ATPdari perpindahan
elektron, atau dari cahaya. Pemeliharaan gragian elektro kimiwi dalam
sistem sedemikian pentingnya sehingga pemeliharaan ini menghabiskan
sekitar 30% dari pengeluaran energi total sebuah sel. Secara umum, sel
mempertahankan Na+ inta sel yang rendah dan konsentrasi K+ intra sel
yang tinggi, dengan potensial listrik netto negative dibagian dalam sel.
Pompa yang mempertahankan gradian ini adalah suatu ATPase yang
diaktifkan oleh Na+ dan K+. ATPase adalah suatu Protein Membran Integral
dam memerlukan fosfolipid agar dapat beraktivitas.ATPase memiliki pusatpusat katalisis bagi ATP dan Na+ disisi ekstra sel membran. Ouabain dan
digitalis menghambat ATPase ini dengan cara berikatan dengan domain
ATPase ekstra sel. Inhibisi ATPase oleh Ouabain dapat dilawan oleh K+
ekstra sel.
Membran yang membentuk permukaan sel neuron mempertahankan
suatu asimetri voltase (tegangan) bagian luar serta bagian dalam (potensial
listrik) dan mudah. Jika dirangsang secara tepat oleh suatu sinyal kimiawi
yang diperantarai oleh suatu reseptor membran sinaps spesifik, pintu-pintu
di membran terbuka, sehingga memungkinkan terjadinya influks cepat Na+
atau Ca2+ (dengan atau tanpa efluks K+) sehingga perbedaan voltase segera
berkurang

dan

segmen

membran

yang

bersangkutan

mengalami

depolarisasi. namun, berkat kerja pompa ion di membran, gradient listrik


tersebut segera dipulihkan.

32

Jika sejumlah besar area, membran mengalami depolarisasi dengan


cara ini, gangguan elektrokimia ini akan menjalar seperti gelombang
merambati membran, dan menghasilkan impuls saraf. Selubung mielin yang
dibentuk oleh sel Schwann, membungkus serabut saraf, dan membentuk
insulator listrik yang mengelilingi sebagian besar saraf dan sangat
mempercepat penjalaran gelombang (sinyal), dengan membiarkan ion
mengalir keluar-masuk membran hanya di bagian membran yang bebas dari
insulasi. Membran mielin terdiri dari fosfolipid, kolesterol, protein, dan
GSL. Protein di membran mielin relatif sedikit; Protein yang ada tampak
berfungsi menyatukan berbagai lapisan-ganda membran untuk membentuk
struktur insulator hidrofobik. Yang mempermeable terhadap ion dana air.
2.3 Anatomi Cranial 12
1. Tulang Kepala (Os. Cranium)
Gubah tengkorak yang terdiri atas tulang-tulang seperti :
a. Os frontal (tulang dahi)
b. Os parietal (tulang ubun-ubun)
c. Os Occipital (tulang kepala bagian belakang)
Dasar tengkorak, yang terdiri dari tulang-tulang seperti :
a. Os Sfenoidalis (tulang baji), tulang yang terdapat ditengah-tengah dasar
tengkorak dan berbentuk seperti kupu-kupu, dengan tiga pasang sayap.
b. Os Ethimoidalis (tulang tapis), terletak disebelah depan dari os sfenoidal
diantara lekuk mata.
Selain kedua tulang tersebut diatas dasar tengkorak dibentuk pula oleh
tulang-tulang lain seperti : tulang kepala belakang, tulang dahi dan
tulang pelipis.
Samping tengkorak, dibentuk oleh tulang-tulang seperti :
a.
b.
c.
d.

Tulang pelipis ( os Temporal )


Sebagian tulang dahi
Tulang ubun-ubun
Tulang baji.

Sutura
Tulang-tulang tengkorak kepala dihubungkan satu sama lain oleh
tulang bergerigi yang disebut sutura. Sutura-sutura tersebut adalah :
1) Sutura coronalis yang menghubungkan antara os frontal dan os parietal.
2) Sutura sagitalis yang menghubungkan antara os parietal kiri dan kanan.

33

3) Sutura lambdoidea/ lambdoidalis yang menghubungkan antara os parietal


dan os occipital.

2. Strucktur cranial

Gambar 7. Anatomi cranial 12


2.4 Anencephali
2.4.1 Definis13
Anensefali adalah sebuah kelainan otak, dimana otak tidak
berkembang secara sempurna. Perkembangan yang tidak sempurna ini,
dikarenakan neuroporus rostralis (lubang buluh saraf bagian depan) tidak
menutup sempurna. Sedangkan spina bifida yang juga merupakan NTDs

34

(Neural Tube Defects), mengalami penutupan tidak sempurna pada neural


tube bagian caudal
2.4.2 Epidemologi14
Sekitar 2% dari semua bayi yang dilahirkan membawa cacat
kongenital serius, yang mengancam nyawa, menyebabkan kecacatan
permanen

atau

membutuhkan

pembedahan

untuk

memperbaikinya.

Susahnya, hanya sedikitpengetahuan yang kita miliki tentang penyebab


abnormalitas kongenital. Cacat pada gen tunggal dan anomali kromosom
bertanggung jawab atas 10-20% dari total kecacatan yang terjadi. Sebagian
kecil berkaitan dengan infeksi intrauterin (misalnya: sitomegalovirus,
rubela), lebih sedikit lagi disebabkan obat-obatan teratogenik dan yang lebih
sedikit lagi disebabkan radiasi ionisasi. Berikut insidensi beberapa kelainan
kongenital termasuk anensefalus 1: 2000
2.4.3 Etiologi 15
1. Faktor teratogenic
Teratogen adalah setiap factor atau bahan yang bisa menyebabkan atau
meningkatkan resiko suatu kelainan bawaan. Radiasi, obat tertentu dan
racun merupakan teratogen. Infeksi pada ibu hamil juga bisa merupakan
teratogen.
Beberapa infeksi selama kehamilan yang dapat menyebabkan
sejumlah kelainan bawaan sindroma rubella congenital dan infeksi
toksoplasmosis pada ibu hamil. Infeksi Toksoplasma yang merupakan salah
satu penyebab anencephalus merupakan penyakit infeksi yang ditemukan
pada hewan di peternakan atau binatang peliharaan. Kucing merupakan
pembawa (carrier) penyakit ini dan dapat menularkan kepada manusia
melalui tinja, terutama bila sudah kering dan terhirup oleh manusia. Ciri-ciri
terinfeksi toksoplasma yang mudah di kenali adalah dengan seringnya gejala
flu, seperti bersin-bersin.
2. Faktor gizi
Salah satu zat yang penting untuk pertumbuhan janin adalah asam
folat. Kekurangan asam folat bisa meningkatkan resiko terjadinya spina
bifida atau kelainan tabung saraf lainnya. Karena spina bifida bisa terjadi
sebelum wanita menyadari bahwa dia hamil, maka setiap wanita subur

35

sebaiknya

mengkonsumsi

asam

folat

minimal

sebanyak

400

mikrogram/hari.
3. Faktor fisik pada Rahim
Di dalam rahim, bayi terendam oleh cairan ketuban yang juga
merupakan pelindung terhadap cedera. Jumlah cairan ketuban yang
abnormal, yang bisa menyebabkan atau menunjukkan kelainan bawaan.
Cairan ketuban yang terlalu sedikit bisa memperngaruhi pertumbuhan paruparu dan anggota gerak tubuh atau bisa menunjukkan adanya kelainan ginjal
yang memperlambat proses pembentukan air kemih. Penimbunan cairan
ketuban terjadi jika janin mengalami gangguan menelan, yang bisa
disebabkan oleh kelainan otak yang berat misalnya anensefalus atau atresia
esophagus.
4. Faktor genetik dan kromosom
Beberapa kelainan bawaan merupakan penyakit keturunan yang
diwariskan melalui gen yang abnormal dari salah satu atau kedua orang tua.
Gen adalah pembawa sifat individu yang terdapat di dalam kromosom setiap
sel di dalam tubuh manusia. Jika satu gen hilang atau cacat, bisa terjadi
kelainan bawaan. Kelainan pada jumlah ataupun susunan kromosom juga
bisa menyebabkan kelainan bawaan. Suatu kesalahan yang terjadi selama
pembentukan sel telur atau sperma bisa menyebabkan bayi terlahir dengan
kromosom yang terlalu banyak atau sedikit, atau bayi terlahir dengan
kromosom yang telah mengalami kerusakan. Semakin tua seorang wanita
ketika hamil terutama diatas 35 tahun maka semakin besar kemungkinan
terjadinya kelainan kromosom pada janin yang dikandungnya. Kelainan
bawaan yang lainnya disebabkan oleh mutasi genetic (perubahan pada gen
yang bersifat spontan dan tidak dapat dijelaskan).
2.4.4 Manisfestasi klinis 16,17
Anensefali adalah sebuah kelainan otak, dimana otak tidak
berkembang secara sempurna. Perkembangan yang tidak sempurna ini,
dikarenakan neuroporus rostralis (lubang buluh saraf bagian depan) tidak
menutup sempurna. Sedangkan spina bifida yang juga merupakan NTDs
(Neural Tube Defects), mengalami penutupan tidak sempurna pada neural
tube bagian caudal. Anensefali termasuk penyakit yang jarang terjadi. Ia

36

dialami oleh 1 sampai 5 janin dalam 1000 janin dengan janin dari ras kulit
putih mempunyai kemungkinan yang lebih besar daripada janin dari ras
kulit hitam. Anensefali ini lebih banyak diderita oleh janin perempuan dan
penduduk Irlandia dan Eropa lebih banyak menderita penyakit ini daripada
penduduk Asia. Resiko berulangnya kejadian anensefali pada suatu
kehamilan, adalah sekitar 4%. Recurrent risk ini bisa meningkat menjadi
10% jika sang Ibu telah 2 kali mempunyai janin yang menderita anensefali.
Manifestasi klinis dari Anensefali adalah sebagai berikut:
1. Gambaran klinis yang pasti terjadi
Pada penderita anensefali, terdapat gangguan atau defek yang besar
pada bagian otak yang dasar. Mereka mengalami defek pada kalfarium,
meninges, dan scalp. Hal ini dikarenakan neuroporus rostralis yang
merupakan

neural

tube

bagian

atas,

tidak

menutup

dengan

sempurna.4Penutuan neural tube terjadi pada saat janin berusia 21 sampai 26


hari. Sehingga pada penderita anensefali, terdapat gangguan pada proses
penutupan neural tube pada sebelum 26 hari masa kehamilan..
2. Gambaran klinis yang umum terjadi
Penderita anensefali biasanya tidak mempunyai hemisfer cerebri dan
cerebellum. Hal ini menyebabkan, janin tersebut hanya memiliki sisa batang
otak. Selain itu, tidak adanya korteks serebral bersamaan dengan tidak
adanya traktus pyramidal pada medulla spinalis. Manifestasi klinis yang
biasa terjadi juga, adalah kelenjar pituitary mengalami hipoplastik yang
merupakan penurunan kemampuan dalam membelah. Hal ini bisa
menyebabkan adanya defek pada neuroendokrin. Adanya hipoplastik pada
kelenjar pituitary bagian posterior, bisa menyebabkan adanya kelainan
diabetes insipidus.

50% kasus anensefali, juga ditemukan adanya

polyhydramnios.
3. Gambaran klinis tambahan
Para penderita anensefali,

juga

bisa

menunjukkan

beberapa

manifestasi klinis tambahan, seperti melipatnya bagian telinga dan adanya


celah pada langit-langit mulutnya. Selain itu, pada 20% kasus anensefali,
juga ditemukan adanya defek pada jantungnya.
4. Gambaran klinis tambahan pada bayi yang sudah dilahirkan
Secara definisi, seorang bayi yang dilahirkan dalam keadaan
anensefali, tidak bisa sadar secara permanen. Tapi beberapa penelitian
37

menerangkan bahwa bayi dengan anensefali masih bisa sadar. Hal ini
dikarenakan batang otak yang masih ada, masih mengandung neuron,
percabangan neuron, traktus serat, dan lainnya, yang bisa mendorong
adanya kesadaran.
Seorang bayi yang mengalami anensefali dilahirkan dan bisa hidup
selama beberapa hari, kemungkinan bisa merespon pada rangsangan
auditori, vestibular, dan rangsang nyeri yang dipersarafi oleh batang otak,
diensefalon, ataupun medulla spinalis. Selain itu, bayi tersebut juga masih
mungkin untuk merespon rangsangan pada ekstremitas. Berbeda halnya jika
batang otak pada bayi dengan anensefalon, juga mengalami kerusakan. Bayi
tersebut dalam keadaan buta, tuli, dan tidak bisa merespon rangsang nyeri.
Kerusakan batang otak bisa didiagnosis dengan ada tidaknya apnea pada
bayi tersebut.
2.4.5 Faktor resiko18
a. Faktor ibu usia resiko tinggi
b. Riwayat anencephalus pada kehamilan sebelumnya
c. Hamil dengan kadar asam folat rendah
d. Fenilketonuria pada ibu yang tidak terkontrol
e. Kekurangan gizi (malnutrisi)
f. Mengonsumsi alkohol selama masa kehamilan
Ada beberapa hal yang dapat dilakukan dalam pencegahan
anensefalus yaitu pemberian asam folat selama masa kehamilan dan
pemeriksaan kandungan dengan ultrasonografi.Pemberian asam folat yang
cukup dapat mengurangi resiko perkembangan bayi cacat dan pemeriksaan
prenatal sangat penting dilakukan untuk mengetahui kondisi bayi pada
trimester awal serta mendeteksi adanya kelainan pada bayi.
2.4.6 Patogenesis
Asam folat yang kuat sangat diperlukan dalam perkembangan sel yang
berperan pada saat sintesis asam nukleat dan asam amino. Defisiensi asam
folat bisa menyebabkan terjadinya anemia megaloblastik dan neural tube
defects. Beberapa bukti mendukung teori bahwa suplementasi asam folat
menyebabkan terjadinya penurunan angka kejadian neural tube defects dan
pemberian asam folat antagonis menyebabkan terjadinya peningkatan
kejadian neural tube defects . Konsentrasi asam folat pada serum dan sel
38

darah merah pada ibu hamil yang melahirkan anak dengan neural tube
defects lebih rendah dari ibu hamil yang melahirkan anak normal . Profil
biokimia ibu hamil yang melahirkan anak dengan neural tube defects tidak
hanya rendah pada konsentrasi serum folat, akan tetapi terjadi peningkatan
konsentrasi dari homosistein dan asam metilmalonik, dan penurunan
konsentrasi vitamin B12.19 Hal ini menyatakan bahwa abnormalitas
metabolisme asam folat juga bisa menyebabkan neural tube defects terlebih
dari defisiensi nutrisi yang sederhana . Kadar homosistein pada cairan
ketuban meningkat pada fetus yang mengalami neural tube defects.20
Patogenesis terjadinya neural tube defects masih belum diketahui
pasti. Beberapa hipotesis telah dikemukakan bahwa asam folat memfasilitasi
kecepatan pembelahan sel pada saat penutupan tabung neural. Kadar asam
folat yang rendah menyebabkan kurang adekuatnya kecepatan pembelahan
sel dan masalah ini bisa diselesaikan dengan pemberian suplementasi asam
2.4.7

folat.21
Pemeriksaan penunjang22
1. Kadar asam lemak dalam serum ibu hamil
2. Amniosentesis (untuk mengetahui adanya peningkatan kadar alfafetoprotein)
3. Kadar alfa-fetoprotein meningkat (menunjukkan adanya kelainan tabung
saraf)
4. Kadar estriol pada air kemih ibu
5. USG
6. Pemeriksaan anak dengan Ancephalus terkait x akibat stenosis
akueduktus. Riwayat prematuritas masa lalu dengan perdarahan
intrakranial, meningitis/ensefalitis adalah penting untuk pemastian. Bintik
cafe-au-lait multipel dan tanda klinis neutrofil bromatosis lain mengarah
pada stenosis akueduktus sebagai penyebab Ancephalus. Pemeriksaan
meliputi infeksi yang cermat, palpasi dan auskulatasi kepala dan spina.
Terapi, terapi untuk Ancephalus tergantung pada penyebabnya.

2.4.8 Pencegahan13

39

Jika semua wanita pada usia subur, mendapatkan tambahan vitamin


asam folat sebanyak 0,4 mg setiap harinya sampai dengan kehamilannya
pada trimester pertama, maka tingkat kejadian anencephaly dan spina bifida
pada kasus yang rawan dapat ditekan hingga 50 70%. Selain itu
pencegahan dapat juga dilakukan dengan :
a. Usahakan untuk tidak hamil jika usia ibu sudah mencapai 40 tahun.
b. Lakukan pemeriksaan kehamilan atau antenatal care yang rutin dan
usahakan untuk melakukan USG minimal tiap trimester.
c. Jalani pola hidup sehat. Hentikan kebiasaan merokok dan hindari asap
rokok, alkohol dan narkoba karena dapat menghambat pertumbuhan janin
serta

memperbesar

peluang

terjadinya

kelainan

kongenital

dan

keguguran.
d. Penuhi kebutuhan akan asam folat.
e. Hindari asupan vitamin A berdosis tinggi. Vitamin A termasuk jenis
vitamin yang tak larut dalam air tapi larut dalam lemak. Jadi, bila
kelebihan akan tertimbun dalam tubuh. Dampaknya antara lain janin
mengalami urogenital abnomali (terdapat gangguan sistem kencing
dalam kelamin), mikrosefali (ukuran kepala kecil), terdapat gangguan
kelenjar adrenal.
f. Jangan minum sembarang obat baik yang belum ataupun sudah diketahui
memberi efek buruk terhadap janin.
g. Pilih makanan dan masakan yang sehat. Salah satunya hindari daging
yang dimasak setengah matang (steak atau sate). Dikhawatirkan daging
itu masih membawa kuman penyakit yang membahayakan janin dan
ibunya.
h. Kalau ada infeksi obatilah segera : terutama infeksi TORCH
(TOksoplasma, Rubela, Citomegalo, dan Herpes). Paling baik lakukan
tes TORCH pada saat kehamilan masih direncanakan bukan setelah
terjadinya pembuahan. Jika ibu diketahui sedang terinfeksi pengobatan
bisa langsung dilakukan
Penanganan dan pencegahan janin / bayi baru lahir dengan
anensephalus:
Penanganan pada bayi anensephalus akan ditujukan untuk memberikan
dukungan emosional kepada keluarga. Karena tidak ada pengobatan untuk
anenshepalus, kurangnya pembentukan otak, sekitar 75 % dapat

40

menyebabkan bayi lahir mati. Resiko terjadinya anenshepalus bisa dikurangi


dan dicegah dengan meningkatkan asupan asam folat 400 mikrogram sehari
pada wanita usia subur atau selambat-lambatnya pada wanita yang sedang
hamil pada awal trimester pertama (3 bulan pertama) dimana merupakan
saat-saat terpenting pembentukan tabung saraf. Pemberian dapat berupa
suplemen atau asam folat yang dapat ditemukan dalam makanan dan
minuman seperti susu, sereal, buah- buahan seperti alpukat, papaya, jeruk,
stroberry. Makanan yang mengandung asam folat hendaknya dikonsumsi
bersamaan dengan sayuran dan karbohidrat yang seimbang. Ada brokoli,
wortel dan bayam yang juga mengandung asam folat dan juga berfungsi
sebagai sayuran. Sumber karbohidrat yang baik adalah gandum.
Apapun makanan yang mengandung asam folat yang dikonsumsi,
sebaiknya diiringi dengan asupan kadar gizi yang seimbang guna membuat
kondisi tubuh menjadi lebih stabil dan terhindari dari pengaruh buruk
radikal bebas, apalagi untuk calon ibu yang sedang hamil.
2.4.9 Deteksi dini23
Diagnosis anenchefalus dapat ditegakkan pada masa prenatal.
Hidramnion sering terjadi pada gestasi anenchealifk, serta konsentrasi fetoprotein dan asetilkolinesterase meningkat dalam cairan amnion.
Ultrasonografi dapat mendeteksi adanya anenchefalus pada akhir trimester
pertama. -fetoprotein dan asetilkolinesterase meningkat dalam cairan
amnion. Ultrasonografi dapat mendeteksi adanya anenchefalus pada akhir
trimester pertama.

2.5 Bagaimana edukasi pada kasus ini?


Diberitahu bahwa, 25% bayi anencephaly yang bertahan hidup sampai
berakhirnya kehamilan, meninggal pada saat persalinan; 50% mempunyai
harapan hidup dari beberapa menit sampai dengan 1 hari; 25% lainnya dapat
bertahan hidup sampai dengan 10 hari. Seorang spesialis dengan alat USG
yang resolusinya tinggi, dapat mendeteksi anencephaly pada umur
kehamilan 10 minggu. Dalam keadaan kurang menguntungkan, anencephaly
baru dapat diketahui atau diduga pada umur kehamilan 16 minggu. Tingkat

41

AFP dapat diukur melalui maternal serum screening (tes darah ibu). Kalau
tingkat AFPnya tinggi, maka ada kemungkinan janin menderita kelainan
NTD. Pemeriksaan lebih lanjut perlu dilakukan (USG atau amniocentesis)
untuk memastikan adanya masalah. Scan mesti dilakukan diantara
kehamilan 15 sampai 20 minggu, paling tepat pada minggu ke-16. Pada saat
sang janin buang air kecil di dalam kandungan ibunya, ia melepaskan zat
protein bernama alpha-fetoprotein atau AFP. Tingkat AFP yang dikeluarkan
janin yang menderita NTD, lebih besar ketimbang bayi biasa. Zat AFP ini,
melalui ari-ari, memasuki aliran darah ibunya, yang mana kalau tes darah
dapat diukur kandungan AFPnya. Anencephaly adalah kelainan yang dapat
dilihat dengan alat USG dengan sangat mudah. Jika seorang dokter yang
ahli melakukan scan pada umur kehamilan 16 minggu dan ternyata hasil
diagnosenya anencephaly, maka kemungkinan salah diagnose sangat kecil.
Sementara tes darah ibu yang hasil tingkat AFPnya tinggi hanya
menunjukkan bahwa ada risiko lebih tinggi bahwa bayinya memiliki
Trisomy 21 atau 18, atau NTD. Kebanyakan hasil tes darah ibu yang tingkat
AFPnya tinggi, ternyata tetap melahirkan bayi yang sehat. Ini menunjukkan
bahwa tes darah saja tidak cukup bukti, sebaiknya melakukan tes-tes lebih
lanjut untuk memastikan apakah bayi Anda menderita salah satu kelainan
tersebut diatas.25
Kehamilan dengan bayi anencephaly tidak ada pengaruh apa-apa.
Akan tetapi, pada sekitar 25% wanita yang mengandung anak anencephaly,
mengalami polyhydramnios atau kelebihan air ketuban. Hal ini terjadi,
karena reflek untuk menelan pada si bayi, kadang-kadang tidak berfungsi,
sehingga dia tidak dapat menelan air ketuban seperti halnya dilakukan bayi
biasa. Kalau volume air ketuban sangat kelebihan, akan mengakibatkan
perasaan tidak nyaman bagi sang ibu. Ada kemungkinan bayinya lahir
premature atau air ketuban pecah. Untuk mengurangi kelebihan air ketuban,
seorang dokter dapat melakukan amniocentesis. Air ketuban di sedot dengan
syringe, sehingga sang ibu merasa lebih lega. Kebanyakan kejadian
anencephaly merupakan kelainan tersendiri dan kecil kemungkinannya
untuk terulang lagi dalam keluarga yang sama. Menurut statistik tindak
terulangnya kasus anencephaly pada wanita yang sama adalah 4%. 25
42

Sejak beberapa waktu, ilmu aetiology tentang kecacatan bumbung


saraf (NTD) menyebutkan bahwa kelainan ini terpengaruh oleh gabungan
faktor pola makan dan lingkungan. Hasil penelitian medis menyatakan
bahwa dengan mengonsumsi vitamin asam folat (Folic Acid) dapat
mengurangi risiko terjadinya NTD. Seandainya semua wanita pada usia
subur mengonsumsi 0,4 mg vitamin asam folat setiap harinya sebelum hamil
dan selama paling tidak sampai kehamilan 3 bulan pertama. 26
2.6 Mengapa pemeriksaan kehamilan sangat penting bagi ibu hamil? 27
Pemeriksaan

antenatal

adalah

pemeriksaan

kehamilan

untuk

mengoptimalkan kesehatan mental dan fisik ibu hamil sehingga mampu


menghadapi persalinan, kala nifas, persiapan pemberiaan ASI dan
kembalinya kesehatan reproduksi secara wajar.46 Kunjungan antenatal
dilakukan sedini mungkin semenjak ia merasa dirinya hamil. Pelayanan
antenatal dilakukan untuk mencegah adanya komplikasi obstetri bila
mungkin dan memastikan bahwa komplikasi dideteksi sedini mungkin serta
ditangani secara memadai.
Selain itu dengan dilakukannya pemeriksaan antenatal maka akan
mempermudah orang tua untuk mengenal dan menangani penyakit-penyakit
yang
mungkin dijumpai dalam kehamilan, persalinan dan nifas, menurunkan
morbiditas dan mortalitas ibu dan anak, dan mengobati penyakit yang
mungkin diderita sedini mungkin.
Wanita hamil memerlukan sedikitnya empat kali kunjungan selama
periode antenatal:
a. Satu kali kunjungan selama trimester satu (< 14 minggu).
b. Satu kali kunjungan selama trimester kedua (minggu 14 28).
c. Dua kali kunjungan selama trimester ketiga (minggu 28 36 dan >
minggu ke 36).
d. Perlu segera memeriksakan kehamilan bila dilaksanakan ada gangguan
atau bila janin tidak bergerak lebih dari 12 jam.
Sebuah penelitian di India menyebutkan bahwa insiden malformasi
lebih tinggi pada ibu yang tidak melakukan perawatan antenatal. Sebanyak
49% dari seluruh kasus anomali kongenital terdeteksi saat pemeriksaan

43

dengan USG. 1,50% dari seluruh ibu hamil yang melahirkan bayi dengan
kelainan kongenital tidak melakukan antenatal care, sedangkan hanya 0,36%
yang merupakan janin dari ibu hamil yang melakukan antenatal care.
2.7 Apa saja jenis pemeriksaan pada ibu hamil?28
Beberapa pemeriksaan yang biasanya dilakukan selama menjalani
masa kehamilan, diantaranya:
1. Tes darah
Pemeriksaan ini bertujuan untuk mengetahui jenis golongan darah dan
jenis rhesus darah Anda. Apabila jenis rhesus Anda bertentangan dengan
sang bayi (negatif bertemu dengan positif) maka ini artinya Anda dan
bayi Anda akan membutuhkan penanganan khusus dari dokter.
Pemeriksaan darah juga dapat menunjukkan kondisi kesehatan Anda
serta sang bayi. Salah satu kelainan pada bayi yang dapat terdeteksi
melalui pemeriksaan darah adalah risiko terjangkitnya sumbing tulang
belakang pada bayi, atau yang biasa disebut dengan spina bfida.
Pemeriksaan darah tidaklah sulit dan tidak memakan waktu yang lama.
2. Tekanan darah
Dokter atau bidan akan memeriksakan tekanan darah Anda setiap kali
berkonsultasi. Tujuannya untuk memeriksa seberapa tinggi tekanan darah
Anda karena tingginya tekanan darah yang dialami oleh wanita hamil
dapat membahayakan ibu dan janin yang dikandungnya. Salah satu risiko
yang dapat ditimbulkan oleh tekanan darah tinggi adalah timbulnya
gejala pre eklampsia, sebuah kelainan pada kehamilan yang dapat
berdampak serius baik bagi Anda maupun sang bayi.
3. Pemeriksaan air seni
Pemeriksaan air seni dilakukan untuk memeriksa seberapa besar kadar
protein dan gula yang ada pada tubuh Anda. Tingginya kadar gula yang
ada pada air seni dapat mengindikasikan jika Anda terkena diabetes pada
masa kehamilan yang kerap melanda ibu hamil. Selain itu, pemeriksaan
kesehatan juga dapat menunjukkan tingkatan kadar protein yang dapat
mengindikasikan terjadinya pre eklampsia.
4. Rabaan
Pemeriksaan ini berbentuk rabaan yang dilakukan pada perut Anda untuk
mengetahui ukuran bayi dan mengetahui posisinya pada rahim.
5. USG
44

Pemeriksaan ini menggunakan sebuah alat pemancar gelombang


frekuensi suara yang akan dipantulkan ke benda padatyang dalam hal
ini adalah bayi Andasehingga dapat menciptakan gambar yang akan
terlihat pada layar monitor. Masing-masing negara menerapkan kebijakan
yang berbeda-beda mengenai pemeriksaan ini, sebagian negara
memperbolehkan ibu hamil melakukan pemeriksaan ini setiap bulannya
sedangkan sebagian negara lainnya hanya memperbolehkan pemeriksaan
ini dilakukan pada minggu ke 14 dan 16.
2.8 Macam macam kelainan kongenital pada sistem saraf29
1. Malformasi mencerminkan kesalahan primer morfogenesis. Dengan kata
lain, terdapat proses perkembangan yang secara intrinsik abnormal.
Malformasi biasanya bersifat multifaktor bukan akibat kelainan satu
kromosom atau gen. Malformasi mungkin muncul dalam beberapa
pola.Pada sebagian, misalnya penyakit jantung kongenital, satu sistem tubuh
mungkin terkena, sedangkan pada yang lain, dapat ditemukan beragarn
malformasi yang mengenai banyak organ dan jaringan.

Gambar 8. Malformasi 29
2. Disruption (gangguan) terjadi akibat destruksi sekunder suatu organ atau
bagian tubuh yang sebelumnya berkembang normal; oleh karena itu,
berbeda dengan malformasi, disruption timbul akibat gangguan ekstrinsik
padn morfogenesis. Amniotic band, yang menandakan ruptur amnion
disertai pembentukan " pita" yang mengelilingi, menekan, atau melekat ke
45

suatu bagian janin yang sedang tumbuh, adalah contoh klasik disruption
(Gbr

7-26).

Berbagai

agen

lingkungan

dapat

menyebabkan

disruption.Gangguan tidak diwariskan sehingga tidak disertai risiko


rekurensi pada kehamilan berikutnya.

Gambar 9. Disruption 29
3. Deformasi, seperti disruption, juga mencerminkan gangguan ekstrinsik pada
perkembangan

bukan

kesalahan

intrinsik

morfogenesis.Deformasi

merupakan masalah yang sering ditemukan, mengenai sekitar 2% neonatus


dengan derajat bervariasi. Yang mendasar pada patogenesis deformasi
adalah penekanan lokal atau umum terhadap janin yang sedang tumbuh oleh
gaya biomekanis abnormal sehingga akhimya terjadi beragam kelainan
struktural. Faktor mendasar yang paling seringditemukan sebagai penyebab
deformasi adalah keterbatasan uterus. Usia gestasi antara minggu ke-35 dan
38, terjadi peningkatan pesat ukuran janin yang melebihi pertumbuhan
uterus, dan jumlah relatif cairan amnion (yang biasanya berfungsi sebagai
bantalan)

juga

berkurang.Oleh

46

karena

itu,

bahkan

janin

normal

sedikitbanyak juga mengalami hambatan oleh uterus.Namun, beberapa


faktor meningkatkan kemungkinan terjadinya tekanan berlebihan pada
janin, termasuk keadaan ibu, misalnya kehamiian pertama, uterus kecil,
malformasi uterus (bikornuatus), dan leiomioma.Faktor yang berkaitan
dengan janin, misalnya janin multipel, oligohidramnion, dan kelainan
presentasi janin, juga mungkin berperan.
4. Sekuensi mengacu pada anomali kongenital multipel yang terjadi akibat
efek

sekunder

dari

kesalahan

tunggal

lokalisata

pada

organogenesis.Kejadian pemicu mungkin berupa malformasi, deformasi,


atau disruption.Contoh yang baik adalah sekuensi oligohidramnion (atau
Potter) (Gbr.7-27 A).Oligohidramnion, yang menandakan berkurangnya
cairan amnion, dapat disebabkan oleh beragam kelainan ibu, plasenta, atau
janin yang tidak terkait.Kebocoran kronik cairan amnion akibat ruptur
amnion, insufisiensi uteroplasenta akibat hipertensi.
Gambar 10. Deformasi 29
2.9 Apa

kebutuhan gizi yang baik untuk ibu

hamil?
Fetus

membutuhkan
vitamin

dalam

jumlah

yang

dengan

sama

yang

dibutuhkan

oleh

orang

dewasadan pada beberapa keadaan membutuhkan lebih banyak. Vitamin dan


fungsi khusus:
1. Vitamin B dan asam folat, penting bagi pembentukan sel-sel darah merah
dan jaringan saraf, serta untuk pertumbuhan fetus secara keseluruhan.
2. Vitamin C, penting untuk pembentukan substansi intrasel yang sesuai,
terutama matriks tulang dan serat-serat jaringan penunjang.
47

3. Vitamin D, dibutuhkan untuk pertumbuhan tulang normal pada fetus,


tetapi lebih penting, ibu membutuhkannya untuk absorpsi kalsium dalam
jumlah yang cukup dari saluran pencernaannya. Bila ibu memiliki
banyak vitamin D dalam cairan tubuhnya, sejumlah besar vitamin ini
akan disimpan oleh hati fetus yang akan digunakan oleh neonates selama
beberapa bulan setelah kelahiran.30
4. Vitamin E, walaupun mekanisme fungsinya belum jelas, penting untuk
perkembangan normal emberio muda. Ketiadaannya

pada hewan

percobaan, biasanya menyebabkan terjadinya abortus spontan pada tahap


awal kehamilan.31
5. Vitamin K, digunakan oleh hati fetus untuk pembentukkan factor VII,
protrombin, dan beberapa factor koagulasi darah lain.
6. Energi, Energi ini digunakan untuk pertumbuhan janin, pembentukan
plasenta, pembuluh darah, dan jaringan yang baru. Kebutuhan energi
yang tinggi paling banyak diperoleh dari bahan makanan sumber lemak,
seperti lemak dan minyak, kacang-kacangan, dan biji-bijian. Setelah itu
bahan makanan sumber karbohidrat seperti padi-padian, umbi-umbian,
dan gula murni.
7. Protein, Pada saat hamil terjadi peningkatan kebutuhan protein yang
disebabkan oleh peningkatan volume darah dan pertumbuhan jaringan
baru.32,33
8. Zat besi,

Zat

besimerupakan

senyawa

yang

digunakan

untuk

memproduksi hemoglobin yang berfungsi untuk :


a. Mengangkut oksigen dari paru-paru ke seluruh tubuh
b. Sintesis enzim yang terkait besi
c. Penggunaan oksigen untuk produksi energi sel

2.10 Bagaimana peranan asam folat dalam perkembangan janin? 34


Ketika kehamilan terus berjalan, folat terus memainkan peranan
penting, akan tetapi pada minggu-minggu awal kehamilan, persoalan yang
harus menjadi fokus perhatian kita adalah upaya melindungi ibu terhadap
kejadian defisiensi folat pada kehamilan. Defisiensi folat maternal bukan
hanya membawa akibat bagi kesehatan ibu sendiri, tetapi juga terbukti
menimbulkan reterdasi pertumbuhan janin, BBLR (berat badan lahir rendah)

48

dan defisiensi folat pada neonatus, dengan implikasi yang penting bagi
kesehatan neonatus serta bayi. Jadi, disepanjang kehamilan folat memainkan
peranan kunci dalam hal kesehatan maternal, fetal, dan neonatal.Penurunan
status folat akan disertai peningkatan resiko terjadinya defek tuba neuralis
dan kemungkinan cacat kelahiran yang lain.

BAB III
KESIMPULAN
Terjadinya kegagalan perkembangan rostral neural tube yang
menyebabkan bayi laki laki tersebut lahir tanpa tempurung kepala.

49