Anda di halaman 1dari 9

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena berkat dan
rahmat-Nya sehingga penulis bisa menyelesaikan makalah yang
berjudul Kerajaan Dompu.
Dalam penyusunan makalah ini kami telah berusaha semaksimal mungkin sesuai
dengan kemampuan kami. Namun sebagai manusia biasa, penulis tidak luput
dari kesalahan dan kekhilafan baik dari segi teknik penulisan maupun tata
bahasa. Tetapi walaupun demikian penulis berusaha sebisa mungkin
menyelesaikan makalah ini meskipun tersusun sangat sederhana.
Demikian semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi penulis dan para pembaca
pada umumnya. Kami mengharapkan saran serta kritik dari berbagai pihak yang
bersifat membangun.

Woja, Mei 2016

(Penyusun)

BAB I
PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang

Kerajaan Dompu yang kini menjadi Kabupaten Dompu merupakan sebuah


kerajaan kuno di Indonesia. Kerajaan ini terletak di antara kabupaten
Bima dan kabupaten Sumbawa saat ini. Mayoritas penduduk kini beragama
Islam, dengan tradisi dan budaya yang juga mayoritas Islam.
Dalam lembaran sejarah di Dompu mencatat, sebelum terbentuknya kerajaan
konon didaerah ini pernah berkuasa beberapa kepala suku yang disebut sebagai
NCUHI atau raja kecil. Kerajaan Dompu merupakan hasil penyatuan atau
bersatunya para Ncuhi yang ada diwilayah Dompu saat itu, sistim pemerintahan
berbentuk kerajaan yang dipimpin oleh seorang Raja (sangaji) disebutah susunan
Raja-raja yang pernah berkuasa di kerajaan dompu yang pertama yaitu Dewa
Sang Kula.
Pengaruh Islam masuk ke Dompu sejak 1628 namun sebelumnya telah masuk
sedikit demi sedikit sejak 1528. Ulama yang dikenal menyebar Islam di dompu
yaitu Syekh Abdul Gani yang juga menyebarkan Islam di Pulau Lombok dan
pernah menjadi Imam Masjid di Masjidil Haram Makkah.
Pada Tahun 1545 Raja La Bata Nae menggantikan ayahnya Raja Bumi Luwu Nae.
Beliau sebelumnya belajar Islam di Kerajaan Bima, Kerajaan Gowa Makassar dan
tanah Jawa. Pada masa itu Islam menjadi agama resmi kerajaan dan beliau
menjadi Sultan Pertama Kesultanan Dompu bergelar Sultan Syamsuddin dan
menikah dengan Joharmani anak dari Syekh Nurdin, Ulama keturunan arab yang
menyebarkan agama Islam sambil berdagang sekitar 1528.
Bukti peninggalan sejarah Islam di Dompu antara lain dapat di lihat dengan
berdirinya Masjid Agung Baiturahman ( Masjid Raya Dompu) yang dahulunya
lokasi tersebut adalah Istana Kesultanan Dompu dan makam Sultan Dompu di
depan Masjid tersebut..

1.2
1.
2.
3.
4.
5.

Rumusan Masalah
Dimanakah letak kerajaan Dompu?
Bagaimana awal berdirinya kerajaan Dompu?
Bagaimana silsilah raja-raja/sultan di kerajaan Dompu?
Bagaimanakah kehidupan/kondisi sosial budaya, ekonomi, dan politik?
Apa saja peninggalan-peninggalan dari kerajaan yang masih ada sampai

sekarang?
6. Mengapa Kerajaan Dompu berakhir?

1.3 Tujuan Penulisan


Adapun tujuan penulisan makalah yang kami tulis, dalam pembuatan
makalah Belajar dan Pembelajaraan dengan perumusan masalah di atas adalah :
1. Menjelaskan letak kerajaan Dompu.
2. Menjelaskan awal berdirinya kerajaan Dompu.
3. Menjelaskan silsilah raja-raja/sultan di kerajaan Dompu.
4. Menjelaskan kondisi sosial budaya, ekonomi, dan politik Kerajaan Dompu.
5. Menyebutkan peninggalan-peninggalan dari kerajaan Dompu yang ada
sampai sekarang.
6. Menjelaskan mengapa kerajaan Dompu berakhir.

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Letak Kerajaan Islam Dompu


Kerajaan Dompu yang kini menjadi Kabupaten Dompu merupakan sebuah
kerajaan kuno di Indonesia. Kerajaan ini terletak di antara kabupaten
Bima dan kabupaten Sumbawa saat ini. Mayoritas penduduk kini beragama
Islam, dengan tradisi dan budaya yang juga mayoritas Islam.
Bangsawan Dompu atau keturuan raja-raja hingga kini masih ada. mereka
dipanggil "Ruma" atau "Dae". Istana Dompu, sebagai lambang kebesaran telah
lama lenyap. Konon bangunan istana itu sudah diubah menjadi masjid raya
Dompu saat ini. Namun rumah kediaman raja masih ada hingga sekarang dan
terletak di Kelurahan Bada.
Pada tahun 2000-an, tim peneliti dari Jakarta, yang dipandu langsung
oleh Bupati Dompu H Abubakar Ahmad menemukan situs berupa tapak
kaki Gajah Mada di wilayah Hu'u sekitar 40 kilometer dari pusat kota Dompu.
Banyak yang meyakini Mahapatih Gajah Mada tewas dan atau menghabiskan
sisa hidupnya di daerah ini.
Dalam lembaran sejarah di Dompu mencatat, sebelum terbentuknya
kerajaan konon didaerah ini pernah berkuasa beberapa kepala suku yang
disebut sebagai NCUHI atau raja kecil para ncuhi tarsebut terdiri dari 4 orang
yaitu:
1. Ncuhi Hu,u
yang mempunyai wilayah kekuasaan Hu,u dan sekitarnya(sekarang kecamtan
Hu,u)
2. Ncuhi Saneo
yang mempunyai wilayah kekusaan daerah Saneo dan sekitanya(sekarang
kecamatan Woja Dompu).
3. Ncuhi Nowa
Yang mempunyai wilayah kekusaan Nowa dan sekitarnya(sekarang masuk
kecamatan Woja).
4. Ncuhi Tonda
yang mempunyai wilayah kekusaan Tonda dan sekitarnya dan saat ini masuk
dalam wilayah Desa Riwo kecamatan Woja Dompu.

Kerajaan Dompu merupakan hasil penyatuan atau bersatunya para Ncuhi yang
ada diwilayah Dompu saat itu,sistim pemerintahan berbentuk kerajaan yang

dipimpin oleh seorang Raja(sangaji)disebutah susunan Raja-raja yang pernah


berkuasa di kerajaan dompu yang pertama.

2.2 Awal Berdirinya Kerajaan Islam Dompu


Dompu, sebuah Kota Kabupaten di wilayah Propinsi Nusa Tenggara Barat.
Dulunya berawal dari wilayah sebuah Kerajaan,kemudian berubah menjadi
Kesultanan. Statusnya menjadi sebuah Kota Kabupaten justru diperoleh karena
nilai historisnya sebagai sebuah Kerajaan yang telah lama berdiri dan berdaulat.
Kerajaan Dompo (sebutannya di jaman dulu), ma Dompo-na (yang memotong)
wilayah Bima dan Sumbawa. Sebagaian berpendapat inilah asal dari nama
Dompo.
Sebelum menjadi sebuah Kerajaan, di wilayah Dompu tersebar beberapa
kelompok masyarakat yang mendiami lahan-lahan pertanian (Nggaro) dan di
daerah-daerah pantai. Setiap kelompok masyarakat ini dikepalai oleh
seorangKepala Suku yang disebut Ncuhi. Ncuhi-Ncuhi menyebar di seluruh
wilayah Dompu antara lain Ncuhi Tonda, Ncuhi Soro Bawa, Ncuhi Hu'u (Ncuhi Iro
Aro), Ncuhi Daha, Ncuhi Puma, Ncuhi Teri, Ncuhi Rumu (Ncuhi Tahira) dan Ncuhi
Temba. Dari sinilah bermula Kerajaan Dompu berdiri, atas kesepakatan seluruh
Ncuhi dari bagian pedalaman sampai daerah pesisir pantai dibentuklah Kerajaan
Dompu dan sebagai Raja pertama (Sangaji) Dompu adalah Dewa Sang Kula.

Tidak ada catatan tertulis baik dalam bentuk dokumen atau batu tulis (prasasti)
yang bisa mengungkapkan kapan mulai terbentuknya Kerajaan Dompu. Namun
beberapa catatan sejarah yang menunjukkan keterkaitannya dengan keberadaan
Kerajaan Dompu yang berdiri sejak lama adalah sebagai berikut :
- Dalam Atlas Sejarah dunia karangan Profesor Muhammad Yamin yang termuat
di dalam Sejarah kejayaan Kerajaan Sriwijaya di Sumatra sebagai Kerajaan
pertama di Indonesia sekitar tahun 600-an -1100, nama Dompo tercantum di
dalam atlas (Riwayat perubahan nama dari Dompo ke Dompu terdapat di uraian
berikutnya)
- Terdapat juga keterkaitannya dengan sejarah Kerajaan Majapahit (1293-1527).
Keterkaitan yang dimaksud terdapat dalam bunyi Sumpah Palapa yang
diucapkan oleh patih Gajah Mada. Itu berarti, bahwa telah ada kerajaan kuat di
bagian Timur Nusantara yang diperhitungkan oleh Gajah Mada untuk
ditaklukkan, yaitu Kerajaan Dompo.
Seiring dengan melemahnya Kerajaan Majapahit oleh konflik berkepanjangan
perebutan kekuasaan di antara pewarisnya, pengawasan terhadap KerajaanKerajaan bawahannya pun menjadi lemah. Satu persatu Kerajaan-Kerajaan Kecil
mulai melepaskan diri dari kekuasaan Majapahit, termasuk Kerajaan Dompu.
Lepasnya dari kekuasaan Majapahit ditandai dengan dinobatkannya (12
September 1545) putra Dewa Ma wa a Taho sebagai Raja Dompu yang ke 9 atau

sebagai Raja Dompu I yang mendapat sebutan Sultan. Hal ini menjadiawal
dimulainya era Keraja an Islam sehingga disebut Kesultanan.
Sultan Syamsuddin yang bergelar Ma Wa a Tunggu telah terlebih dahulu
memeluk agama Islam sebelum diangkat sebagai Sultan. Mendirikan istanaBata
(Bata Ntoi) yang menyimpan cerita mistery. Beliau juga mendirikan masjid
pertama di Dompu, tepatnya di Kampung Sigi, Karijawa.

Masa pemerintahan Sultan Muhammad Tajul Arifin II berakhir begitu


dikeluarkannya peraturan Undang-Undang No. 1 tahun 1957 tentang pokokpokok pembentukan Pemerintah Daerah Swatantra Tk II. ini juga menandai masa
berakhirnya era Kesultanan di Dompu. Kemudian berdasarkan Undang
Undang No. 69 tahun 1956 menjadi Daerah Tk II Kabupaten sampai
sekarang.Demikian sebagai bentuk penghormatan kepada Sultan Dompu yang
terakhir, diangkatlah Muhammad Tajul Arifin Sirajuddin II menjadi Bupati
I Dompupada tanggal 1 Desember 1958 sampai dengan 30 April 1960.
Pengaruh Islam masuk ke Dompu sejak 1628 namun sebelumnya telah
masuk sedikit demi sedikit sejak 1528. Ulama yang dikenal menyebar Islam di
dompu yaitu Syekh Abdul Gani yang juga menyebarkan Islam di Pulau Lombok
dan pernah menjadi Imam Masjid di Masjidil Haram Makkah.
Sekitar 1528 Syekh Nurdin Ulama keturunan arab menginjakkan kaki di Dompu
untuk menyebarkan agama Islam sambil berdagang. Pada saat itu kerajaan
Dompu dipimpin Raja Bumi Luma Nae bergelar Dewa Ma Waa Taho dan masih
dibawah penguasaan Majapahit.
Kemudian Putri raja memeluk Islam dan menikah dengan Syekh Nurdin dan
berganti nama menjadi Siti Hadijah, dikaruniai 3 orang anak yaitu Abdul Salam,
Abdullah dan Joharmani.
Pada Tahun 1545 Raja La Bata Nae menggantikan ayahnya Raja Bumi Luwu Nae.
Beliau sebelumnya belajar Islam di Kerajaan Bima, Kerajaan Gowa Makassar dan
tanah Jawa. Pada masa ini Islam menjadi agama resmi kerajaan dan beliau
menjadi Sultan Pertama Kesultanan Dompu bergelar Sultan Syamsuddin dan
menikah dengan Joharmani. Sedangkan Syekh Abdul Salam menjadi Ulama
Istana kesultanan Dompu.
Pada tahun 1585 datang dan menetap saudagar sekaligus ulama Islam kedompu
yang menyebarkan Islam, mereka adalah : Syekh Hasanuddin (Sumatera) yang
kemudian oleh Sutan Syamsuddin diangkat menjadi salah seorang Qadi (jabatan
setingkat menteri agama di Kesultanan), Syekh Abdullah (Makassar) dan Syekh
Umar Al-Bantani (Madiun) dipercaya menjadi Imam Masjid di Kesultanan Dompu.
Sejak saat itu Dompu menjadi kesultanan yang diperintah oleh seorang Sultan
dengan sistem pemerintahan berdasarkan agama Islam.
2.3 Silsilah raja-raja/sultan dan Kerajaan

2.4.1 Kehidupan Sosial Budaya


Suku Dompu memiliki bangunan rumah tradisional, yaitu Uma Jompa dan Uma
Panggu. Uma Jompa berfungsi sebagai lumbung padi. Sebenarnya Uma Jompa ini
tidak hanya suku Dompu yang memilikinya, masyarakat Bima juga memiliki Uma
Jompa yang bahkan lebih banyak dari yang ada di wilayah Dompu.
Sedangkan Uma Panggu, rumah yang terbuat dari kayu atau papan, yang
berbentuk panggung. Uma panggu dapat dibedakan atas jenis konstruksinya,
yaitu Uma Ceko yang merupakan rumah asli Dompu dan Uma Paa Sakolo yang
dibawa masyarakat migran Bugis yang dibangun di daerah pesisir
Salah satu kerajinan budaya, yang terkenal dari Dompu, adalah kain tenun Muna,
yaitu kain songket Dompu. Biasanya kain songket Dompu ini dikerjakan oleh
pihak perempuan. Kain tenun Dompu ini sudah terkenal karena keindahan dan
kehalusan kainnya.
Suku Dompu pada umumnya hidup pada bidang pertanian. Tanaman padi yang
ditanam di sawah menjadi tanaman penting dan utama bagi mereka. Mereka
juga menanam berbagai tanaman lain, seperti sayuran, buah-buahan serta
beberapa tanaman keras di kebun milik mereka. Sektor perikan juga menjadi
kegiatan mereka. Profesi lain adalah sebagai pedagang dan menjadi pegawai
negeri.

2.4.2 Kehidupan Ekonomi


Di samping berhadapan dengan kekuatan kolonial Belanda yang semakin intensif
melakukan penetrasi politik dan eksploitasi ekonominya ke wilayah Dompu,
kesultanan Dompu juga menjalin hubungan dengan daerah sekitarnya.
Hubungan yang dibuka oleh pihak kesultanan Dompu juga menjalin hubungan
dengan daerah-daerah lain ini lebih cenderung bersifat pesahabatan daripada
konflik.
Berdasarkan letak geografisnya dibagian selatan pulau Sumbawa, Dompu
berbatasan langsung dengan wilayah Kesultanan Bima sebagai tetangga yang
paling dekat. Hubungan antara Dompu dan Bima sudah lama terjalin secara erat
terutama dalam sektor ekonomi. Banyak hasil bumi Dompu yang diangkut ke
pelabuhan Bima di teluk Sape dan Kempo untuk untuk diekspor ke luar daerah.
Hal ini disebabkan oleh kondisi alam di mana pelabuhan di daerah Dompu sulit
untuk disinggahi oleh kapal-kapal samodera yang berlayar ke kawasan Indonesia
Timur.
Tindakan pemerintah kolonial Belanda untuk mencegah para penguasa pribumi
memasuki organisasi politik yang bercorak keagamaan terutama Islam adalah
untuk menjaga perimbangan kekuatan yang sangat berguna sebagai landasan
eksistensi pemerintahan kolonal. Dengan adanya dua kelompok besar yang
saling terpisah dan berhadapan, pemerintah kolonial berharap agar

keseimbangan politik bisa terjaga dan persatuan masyarakat akan dicegah.


Namun demikian hubungan erat antara Dompu dan Bima ini tidak hanya
terbatas dalam bidang ekonomi. Kerjasama dan hubungan kekeluargaan antara
kedua kesultanan ini juga erat terjalin. Hubungan keluarga yang muncul adalah
perkawinan putri Sultan Dompu Mohammad Sierajuddin dengan Sultan Bima
Salahuddin pada tahun 1924 yang menurunkan putra pewaris tahta di Bima.
Perkawinan ini dimaksudkan untuk mempererat ikatan kekeluargaan sekaligus
hubungan politik dan ekonomi antara kedua kerajaan yang sejak lama terjalin.
Dalam konsep kekuasaan feodal Timur ikatan kekeluargaan dan kelahiran
merupakan kriteria yang menentukan status kekuasaan pada generasi
berikutnya. Dengan demikian semua kelas penguasa feodal cenderung menjadi
turun temurun. Semua kekuasaan dan kekayaan harus dipertahankan dalam
ikatan keluarga melalui tradisi moral dan pewarisan. Hal ini menyangkut
pemberian status pada jabatan penting yang berasal dari ikatan keluarga
tertentu dan telah disiapkan sejak masa kecil calon ini.
penduduk banyak tinggal di tepi sungai untuk bercocok tanam, mengambil hasil
hutan dan mengelola pelayaran perahu. Sehubungan dengan hal itu mereka
membangun rumah-rumahnya di tepi sungai di atas tonggak kayu atau bambu
yang diambil dari dalam hutan. Lantai dan dindingnya juga terbuat dari bahan
kayu belah dan gentingnya ditutup dengan bilah bambu serta alang-alang.
Bagian bawah rumah ini difungsikan untuk memelihara ternak seperti kuda, sapi
dan kambing. Juga di setiap beberapa rumah penduduk kampung mendirikan
sebuah bangunan khusus yang digunakan untuk menyimpan hasil panen padi
sebagai lumbung. Padi disimpan di sana untuk difungsikan sebagai persediaan
pangan. Ini bisa disimpulkan bahwa kebutuhan utama dari padi adalah untuk
tanaman pangan, dan kehidupan komunal masih berjalan dalam penyimpanan
bersama hasil panen di dalam lumbung tersebut. Kehidupan komunal ini bertolak
dari pengertian bahwa tanah dan hutan adalah milik Sultan yang bisa digunakan
sepenuhnya oleh penduduk bagi kebutuhan sendiri, setelah menyetorkan
sebagian hasilnya sebagai upeti kepada Sultan. Nampaknya pembuatan rumah
di atas tonggak di tepi sungai ini berasal dari pengaruh Bugis dan Makasar,
mengingat para nelayan Bugis dan orang-orang Bajo selain itu juga membangun
rumahnya di atas tonggak di tepi pantai.

2.6 Berakhirnya Kerajaan Dompu

Di masa penjajahan Belanda, Kerajaan Dompu tidak luput dari incaran


pemerintah Belanda untuk dikuasai. Namun perlawanan Sultan dan Rakyatnya
sangat berdarah darah, demi untuk tidak tunduk dibawah kekuasaan Belanda.
Tercatat rakyat sampai harus memburu Sultannya sendiri bila ketahuan tanda-

tanda adanya niat melakukan negosiasi dengan pemerintah Belanda.Perlawanan


pun berakhir akibat dari takluknya Sultan Hasanuddin (Makassar) dengan
dilakukannya perjanjian Bongaya (1667), yang berarti takluknya juga KerajaanKerajaan di Pulau Sumbawa. Sebuah perjanjian damai, lebih tepatnya
Surat tanda takluk, karena isinya lebih dominan menguntungkan pihak Belanda.
Perlawanan Sultan dan rakyat Dompu tidak berhenti hanya dengan adanya surat
perjanjian. Letup-letup kecil perlawanan masih sering muncul terutama pada
saat Sultan Muhammad Sirajuddin memerintah. Keengganan Sultan untuk
menempatkan personil Belanda dalam struktur pemerintahannya, menjadi
alasan kuat bagi Belanda untuk menyingkirkan Sultan, karena dianggap telah
melanggar perjanjian. Oleh sebab itulah Sultan Muhammad Sirajuddin dibuang
ke Kupang beserta kedua putranya, putra Abdullah dan putra Abdul
Wahab.Kedua putranya ini ikut dibuang karna Belanda khawatir akan timbul
kekacauan di masa mendatang akibat dari adanya perebutan kekuasaan.
Untuk mengisi kekosongan kepemimpinan di Kesultanan Dompu,
diangkatlahseorang pejabat selfbestuur Commisi Lalu Muhammad Saleh, yang
sebenarnya berasal dari turunan Raja Dompu juga.
Ketika masa kependudukan Belanda berakhir, digantikan oleh kependudukan
Jepang. Saat itu terjadi kefakuman kepemimpinan di Kesultanan Dompu karna
Sultannya dibuang ke Kupang. Maka oleh pemerintah Jepang Kesultanan Dompu
digabung menjadi satu dengan Kesultanan Bima
Tidak lama setelah penggabungan itu, Jepang kalah dan meninggalkan
Indonesia, disusul dengan diproklamirkannya Kemerdekaan Indonesia. Situasi ini
pun tidak disia-siakan oleh rakyat Dompu untuk menuntut
kembaliberdirinya Kesultanan Dompu. Maka dengan SK. Resident Timur No.1a ta
nggal 12 September 1947 Kesultanan
Dompu dinyatakan berdiri kembali danMuhammad Tajul
Arifin Sirajuddin II, cucu dari Sultan Muhammad Sirajuddindinobatkan menjadi
Sultan Dompu ke-29 (Sultan terakhir).