Anda di halaman 1dari 21

BAB I

PENDAHULUAN
A.

LATAR BELAKANG
Masalah gizi muncul akibat masalah ketahanan pangan ditingkat
rumah

tanga

anggotannya),

(kemampuan
masalah

memperoleh

kesehatan,

makanan

kemiskinan,

untuk

semua

pemerataan,

dan

kesempatan kerja. Indonesia mengalami masalah gizi ganda yang artinya


sementara masalah gizi kurang belum dapat diatasi secara menyeluruh
sudah muncul masalah baru. Sekarang ini masalah gizi mengalami
perkembangan yang sangat pesat, Malnutrisi masih saja melatar belakangi
penyakit dan kematian anak, meskipun sering luput dari perhatian. Keadaan
kesehatan gizi tergantung dari tingkat konsumsi yaitu kualitashidangan yang
mengandung semua kebutuhan tubuh. Akibat dari kesehatan giziyang tidak
baik, maka timbul penyakit gizi, umumnya pada anak balita dideritapenyakit
gizi buruk Hubungan antara kecukupan gizi dan penyakit infeksi yaitusebab
akibat yang timbal balik sangat erat. Berbagai penyakit gangguan gizi dangizi
buruk

akibatnya

tidak

baiknya

mutu/jumlah

makanan

yang

tidak

sesuaidengan kebutuhan tubuh masing masing orang. Masalah gizi semula


dianggap sebagai masalah kesehatan yang hanya dapat ditanggulangi
dengan pengobatan medis/kedokteran. Gizi seseorang dapat dipengaruhi
terhadap

prestasi

kerja

dan

produktivitas.

Pengaruh

gizi

terhadap

perkembangan mental anak.


Hal ini sehubungan dengan terhambatnya pertumbuhan sel otak
yangterjadi pada anak yang menderita gangguan gizi pada usia sangat muda
bahkandalam kandungan. Berbagai factor yang secara tidak langsung

mendorong terjadinya gangguan gizi terutama pada balita. Ketidaktahuan akan


hubungan makanan dan kesehatan, prasangka buruk terhadap bahan makanan
tertentu,adanya kebiasaan/pantangan yang merugikan, kesukaan berlebihan terhadap
jenis makanan tertentu, keterbatasan penghasilan keluarga, dan jarak kelahiran
yangrapat

Kemiskinan

masih

merupakan

bencana

bagi

jutaan

manusia.

Sekelompok kecil penduduk dunia berpikir hendak makan dimana sementara


kelompok lainmasih berkutat memeras keringat untuk memperoleh sesuap nasi.
Dibandingkan orang dewasa, kebutuhan akan zat gizi bagi bayi, balita, dan anak anak
boleh dibilang sangat kecil. Namun, jika diukur berdasarkan % berat badan, kebutuhan
akan zat gizi bagi bayi, balita, dan anak anak ternyata melampaui orang dewasa
nyaris dua kali lipat. Kebutuhan akan energi dapat ditaksir dengan cara mengukur luas
permukaan tubuh/menghitung secara langsung konsumsi energi itu ( yang hilang atau
terpakai ).
Asupan energi dapat diperkirakan dengan jalan menghitung besaran energy
yang dikeluarkan. Jumlah keluaran energi dapat ditentukan secara sederhana
berdasarkan berat badan Kekurangan berat badan yang berlangsung pada anak yang
sedang tumbuh merupakan masalah serius.
B.

IDENTIFIKASI MASALAH
Masalah masalah gizi buruk yang kita ketahui bisa menyerang siapa saja
khusunya balita dan anak anak dengan criteria umur tertentu. Masalah gizi
padahakekatnya adalah masalah kesehatan masyarakat, namun penanggulangannya
tidak dapat dilakukan dengan pendekatan medis dan pelayanan kesehatan saja
melainkan dari pendekatan lain. Identifikasi gizi buruk berupa penyebab penyebab
gizi buruk, asupan gizi, malnutrisi primer dan sekunder, dan jumlah data penderita gizi
buruk.

C.

TUJUAN

Tujuan dari penulisan makalah ini adalah ingin memberitahukan kepada


masyarakat mengenai hal hal apa saja yang menjadi ruang lingkup dari masalah gizi
buruk, menambah pengetahuan bagi masyarakat agar lebih luas wawasannya
mengenai

gizi

buruk,

memberitahukan

jumlah

penurunan

penderita

gizi

buruk,memberikan gambaran yang jelas mengenai penyakit gizi buruk, juga tidak lupa
untuk menambah nilai mahasiswa, dan lain lain yang bisa berdampak positif bagi
penulis dan para pembaca.

BAB II
PEMBAHASAN
A.

FENOMENA DI MASYARAKAT MASALAH GIZI BURUK


Sepanjang tahun ini banyak sudah bencana kesehatan yang melanda bangsa
ini. Mulai dari demam berdarah, polio, malaria, rabies dan sebagainya serta penyakit
busung lapar yang cukup mengejutkan. Kasus penderita gizi buruk terus bertambah
disejumlah daerah. Kasus gizi buruk umumnya menimpa balita dengan latar belakang
ekonomi lemah. Beragam masalah malnutrisi banyak ditemukan pada anak-anak dari
kurang gizi hingga busung lapar. Betapa banyaknya bayi dan anak-anak yang sudah
bergulat dengan kelaparan dan penderitaan sejak mereka dilahirkan. Penyebab utama
kasus gizi buruk di Indonesia tampaknya karenamasalah ekonomi atau kurang
pengetahuan. Kemiskinan dan ketidakmampuan orang tua menyediakan makanan
bergizi bagi anaknya menjadi penyebab utama meningkatnya korban gizi buruk di
Indonesia, kemiskinan memicu kasus Gizi Buruk.
Fenomena gizi buruk ini biasanya melibatkan kurangnya asupan kalori baik dari
karbohidrat atau protein (protein-energy malnutritionPEM).Kurangnya pasokan energi
sangat mempengaruhi kerja masing-masing organ tubuh. Keadaan gizi buruk ini secara
klinis dibagi menjadi 3 tipe: Kwashiorkor,Marasmus, dan Kwashiorkor-Marasmus.
Ketiga kondisi patologis ini umumnyaterjadi pada anak-anak di negara berkembang
yang berada dalam rentang usia tidak lagi menyusui.
Perbedaan antara marasmus dan kwashiorkor tidak dapat didefinisikan secara
jelas menurut perbedaan kurangnya asupan makanan tertentu, namun dapat teramati
dari gejala yang ditunjukkan penderita

1.

KWASHIORKOR

Kwashiorkor sering juga diistilahkan sebagai busung lapar atau HO.Penampilan


anak-anak penderita HO umumnya sangat khas, terutama bagian perut yang menonjol.
Berat badannya jauh di bawah berat normal. Edema stadium berat maupun ringan
biasanya menyertai penderita ini.
Beberapa ciri lain yangmenyertai di antaranya:
Perubahan mental menyolok. Banyak menangis, padastadium lanjut anak terlihat
sangat pasif.
Penderita nampak lemah dan ingin selalu terbaring
Anemia.
Diare dengan feses cair yang banyak mengandungasam

laktat

karena

berkurangnya produksi laktase dan enzim pentinglainnya.


Kelainan kulit yang khas, dimulai dengan titik merahmenyerupai petechia
( perdarahan kecil yang timbul sebagai titik berwarna merah keunguan, pada kulit
maupun selaput lendir, Red. ), yang lambat laun kemudian menghitam. Setelah
mengelupas, terlihat kemerahan dengan batas menghitam. Kelainan ini biasanya
dijumpai di kulit sekitar punggung, pantat, dan sebagainya.
Pembesaran hati. Bahkan saat rebahan, pembesaran ini dapat diraba dari luar
tubuh, terasa licin dan kenyal.
Tanda-tanda kwashiorkor meliputi :

edema di seluruh tubuh, terutama padapunggung kaki,


wajah membulat dan sembab,
pandangan mata sayu,
perubahan status mental: cengeng, rewel,kadang apatis,
rambut berwarna kepirangan, kusam, dan mudah dicabut,
otot-otot mengecil, teramati terutama saatberdiri dan duduk,
bercak merah coklat pada kulit, yang dapat berubah hitam dan mengelupas
menolak segala jenis makanan (anoreksia)
sering disertai anemia, diare, dan infeksi.

2. MARASMUS
Kasus marasmik atau malnutrisi berat karena kurang karbohidrat disertai tangan
dan kaki bengkak, perut buncit, rambut rontok dan patah,gangguan kulit. Pada

umumnya penderita tampak lemah sering digendong,rewel dan banyak menangis. Pada
stadium lanjut anak tampak apatis atau kesadaran yang menurun.
Marasmik adalah bentuk malnutrisi primer karena kekurangan karbohidrat.
Gejala yang timbul diantaranya muka berkerut terlihat tua, tidak terlihat lemak dan otot
di bawah kulit (kelihatan tulang di bawah kulit),rambut mudah patah berwarna
kemerahan dan terjadi pembesaran hati, sangatkurus karena kehilangan sebagian
lemak dan otot . Anak-anak penderita marasmus secara fisik mudah dikenali. Penderita
marasmus berat akan menunjukkan perubahan mental, bahkan hilang kesadaran.
Dalam stadium yang lebih ringan, anak umumnya jadi lebih cengeng dan gampang
menangis karena selalu merasa lapar. Ketidakseimbangan elektrolit juga terdeteksi
dalam keadaan marasmus. Upaya rehidrasi ( pemberian cairan elektrolit )atau transfusi
darah pada periode ini dapat mengakibatkan aritmia ( tidak teraturnya denyut jantung )
bahkan terhentinya denyut jantung. Karena itu,monitoring klinik harus dilakukan
seksama.
Ada pun ciri-ciri lainnya adalah:

Berat badannya kurang dari 60% berat anak normalseusianya.


Kulit terlihat kering, dingin dan mengendur.
Beberapa di antaranya memiliki rambut yang mudah rontok.
Tulang-tulang terlihat jelas menonjol.
Sering menderita diare atau konstipasi.
Tekanan darah cenderung rendah dibanding anak normal, dengan kadar

hemoglobin yang juga lebih rendah dar isemestinya.


Anak tampak sangat kurus, tinggal tulang terbungkus kulit.
Wajah seperti orang tua, cengeng, rewel, perut cekung, dan kulit keriput
MARASMIK-KWASHIORKOR
Penyakit ini merupakan gabungan dari marasmus dan kwashirkor
gabungan gejala yang menyertai.

dengan

Berat badan penderita hanya berkisar di angka 60%dari berat normal. Gejala
khas kedua penyakit tersebut nampak jelas,seperti edema, kelainan rambut,
kelainan kulit dan sebagainya.
Tubuh mengandung lebih banyak cairan, karenaberkurangnya lemak dan otot.
Kalium dalam tubuh menurun drastis sehinggamenyebabkan gangguan
metabolic seperti gangguan pada ginjal dan pankreas.
Mineral lain dalam tubuh pun mengalami gangguan,seperti meningkatnya kadar
natrium dan fosfor inorganik sertamenurunnya kadar magnesium.Gejala klinis
Kwashiorkor-Marasmus tidak lain adalah kombinasi darigejala-gejala masingmasing penyakit tersebut.

B. PENYEBAB GIZI BURUK


Penyebab utama gizi kurang dan gizi buruk tidak satu. Ada banyak!.Penyebab
pertama adalah faktor alam. Secara umum tanah terkenal sebagai daerah tropis yang
minim curah hujan. Kadang curah hujannya banyak tetapi dalam kurun waktu yang
sangat singkat. Akibatnya, hujan itu bukan menjadi berkat tetapi mendatangkan
bencana banjir. Tetapi, beberapa tahun belakangan ini tidak ada hujan menjadi kering
kerontang Tanaman jagung yang merupakan penunjang ekonomi keluarga sekaligus
sebagai makanan sehari-hari rakyat gagal dipanen.
Akibatnya, banyak petani termasuk anak-anak, terutama yang tinggal didaerah
pelosok, memakan apa saja demi mempertahankan hidup. Dikhawatirkan gizi yang
kurang dan bahkan buruk akan memperburuk pertumbuhan fisik dan fungsi-fungsi otak.
Kalau ini terjadi, masa depan anak-anak ini dipastikan akan sangat kelam dan buram.
Penyebab kedua adalah faktor manusiawi yaitu berasal dari kultur sosial
masyarakat setempat. Kebanyakan masyarakat petani bersifat 'onedimensional,' yakni
masyarakat yang memang sangat tergantung pada satu mata pencaharian saja.
Banyak orang menanam makanan secukupnya saja, artinya hasil panen itu cukup untuk

menghidupi satu keluarga sampai masa panen berikutnya. Belum ada pemikiran untuk
membudidayakan hasil pertanian mereka demi meraup keuntungan atau demi
meningkatkan pendapatan keluarga. Adanya budaya 'alternatif' yaitu memanfaatkan
halaman rumah untuk menanam sayur-mayur demi menunjang kebutuhan sehari-hari.
Penyebab ketiga masih berkisar soal manusiawi tetapi kali ini lebih berhubungan
dengan persoalan struktural, yaitu kurangnya perhatian pemerintah. Pola relasi rakyat
dan pemerintah masih vertikal bukan saja menghilangkan kontrol sosial rakyat terhadap
para pejabat, tetapi juga membuka akses terhadap penindasan dan ketidakadilan dan,
yang paling berbahaya,menciptakan godaan untuk menyuburkan budaya korupsi. Tentu
saja tidak semua aparat dan pejabat seperti itu. Terlepas dari itu semua nampaknya
masyarakat membutuhkan pendampingan agar mereka memahami hak-hak individu
dan hak-hak sosial mereka sebagai warganegara.
C. MALNUTRISI PRIMER
Penyebab gizi buruk di daerah pedesaan atau daerah miskin lainnya sering
disebut malnutrisi primer, yang disebabkan karena masalah ekonomi dan rendahnya
pengetahuan. Gejala klinis malnutrisi primer sangat bervariasi tergantung derajat dan
lamanya kekurangan energi dan protein, umur penderita dan adanya gejala kekurangan
vitamin dan mineral lainnya. Kasus tersebut sering dijumpai pada anak usia 9 bulan
hingga 5 tahun. Pertumbuhan yang terganggu dapat dilihat dari kenaikkan berat badan
terhenti atau menurun,ukuran lengan atas menurun, pertumbuhan tulang ( maturasi )
terlambat,perbandingan berat terhadap tinggi menurun. Gejala dan tanda klinis yang
tampak adalah anemia ringan, aktifitas berkurang, kadang di dapatkan gangguan kulit
dan rambut. Pada penderita malnutrisi primer dapat mempengaruhi metabolisme di otak
sehingga mengganggu pembentukan DNA di susunan saraf.berpengaruh terhadap
perkembangan mental dan kecerdasan anak. Mortalitasatau kejadian kematian dapat
terjadi pada penderita malnutri primer yang berat.
D. MALNUTRISI SEKUNDER
Malnutrisi sekunder adalah gangguan pencapaian kenaikkan berat badan yang
bukan disebabkan penyimpangan pemberian asupan gizi pada anak karena adanya

gangguan pada fungsi dan sistem tubuh yang mengakibatkan gagal tumbuh. Gangguan
sejak lahir yang terjadi pada sistem saluran cerna,metabolisme, kromosom atau
kelainan bawaan jantung, ginjal dan lain-lain.Kasus gizi buruk di kota besar biasanya
didominasi oleh malnutrisi sekunder.
Malnutrisi sekunder ini gangguan peningkatan berat badan yang disebabkan
karena

karena

adanya

gangguan

di

sistem

tubuh

anak.

pada

malnutrisi

sekunder tampak anak sangat lincah, tidak bisa diam atau sangat aktif bergerak.
Tampilan berbeda lainnya, penderita malnutrisi sekunder justru tampak lebih cerdas,
tidak ada gangguan pertumbuhan rambut dan wajah atau kulit muka tampak
segar.Kasus malnutrisi sekunder sering terjadi overdiagnosis (diagnosis yangdiberikan
terlalu berlebihan padahal belum tentu mengalami infeksi )tuberkulosis (TB).
Overdiagnosis tersebut terjadi karena tidak sesuai dengan panduan diagnosis yang
ada.Secara medis penanganan kasus malnutrisi sekunder lebih kompleks danrumit.
Penanganannya harus melibatkan beberapa disiplin ilmu kedokteran anak seperti
bidang gastroenterologi, endokrin, metabolik, alergi-imunologi, tumbuh kembang dan
lainnya. Gizi buruk memang merupakan masalah klasik bangsa ini sejak dulu. Tanpa
data dan informasi yang cermat dan lengkap sebaiknya jangan terlalu cepat
menyimpulkan bahwa adanya gizi buruk identik dengan kemiskinan. Karena, gizi buruk
bukan saja disebabkan karena masalah ekonomi atau kurangnya pengetahuan dan
pendidikan.
E. PERLUNYA ASUPAN GIZI
Banyaknya produk suplemen vitamin yang kini beredar secara bebas bisa
berdampak baik sekaligus berdampak buruk. suatu produk suplemen harus menjalani
uji klinis dulu sebelum dipasarkan. kita tidak terlena begitu saja dengan rayuan iklan
yang terlalu bom bastis. Tapi di sisi lain produk suplemen yang memang bisa dipercaya
kebenarannya sangat berguna bagi kebanyakan orang yang tidak sempat mendapatkan
gizi tersebut dari makanan sehari-hari.Lebih baik kalau berbagai kebutuhan gizi didapat
dari makanan langsung, bukana supan atau suplemen yang dijual bebas. Sebab tak
seorang pun yang bisa menjamin keamanannya, Kecuali kalau asupan itu memang
dianjurkan oleh dokter atau didapat dari dokter. Anak usia 0-2 tahun sebaiknya

mendapatkan Air Susu Ibu (ASI). ASI mengandung semua zat yang dibutuhkan dalam
perkembangan otak anak. Air susu ibu cocok sekali untuk memenuhi kebutuhan bayi
dalam segala hal Banyak produk susu kaleng atau susu formulamengandung asam
linoleat, DHA dan sebagainya. ASI juga mengandung zatanti efeksi.
Untuk memulihkan kondisi Balita pada status normal, dibutuhkan asupan susu
yang mudah diserap tubuh yakni Entrasol. Tiap Balita diharuskan mengkonsumsi 60
kotak susu, dimana dalam hitungan 90 hari berat badan anak kembali normal. Kriteria
yang dicantumkan antara lain: biasa makan beranekaragam makanan (makan 2-3 kali
sehari dengan makanan pokok, sayur, dan lauk pauk), selalu memantau kesehatan
anggota keluarga, biasanya menggunakangaram beryodium, dan khusus ibu hamil,
didukung untuk memenuhi kebutuhan ASI bayi minimal sampai 4 bulan setelah
kelahiran. Kriteria ini tentunya masih sulit dipenuhi oleh masyarakat Indonesia.
Adapun ciri-ciri klinis yang biasa menyertainya antara lain:

Kenaikan berat badan berkurang, terhenti, atau bahkan menurun.


Ukuran lingkaran lengan atas menurun.
Maturasi tulang terlambat.
Rasio berat terhadap tinggi, normal atau cenderung menurun.
Tebal lipat kulit normal atau semakin berkurang.

F. LANGKAH PENGOBATAN
Pengobatan pada penderita MEP tentu saja harus disesuaikan dengan
tingkatannya. Penderita kurang gizi stadium ringan, contohnya, diatasi dengan
perbaikan gizi. Dalam sehari anak-anak ini harus mendapat masukan protein sekitar 2-3
gram atau setara dengan 100-150 Kkal. Langkah penanganan harus didasarkan pada

penyebab serta kemungkinan pemecahnya. Sedangkan pengobatan MEP berat


cenderung lebih kompleks karena masing-masing penyakit yang menyertai harus
diobati satu per satu. Penderitapun sebaiknya dirawat di rumah sakit untuk mendapat
perhatian medis secara penuh. Sejalan dengan pengobatan penyakit penyerta maupun
infeksinya, status gizi anak tersebut terus diperbaiki hingga sembuh. Memulihkan
keadaan gizinya dengan cara mengobati penyakit penyerta, peningkatan taraf gizi, dan
mencegah gejala atau kekambuhan dari gizi buruk.
G. JUMLAH KASUS GIZI BURUK PADA BALITA MENURUN
Berbagai upaya intervensi perbaikan gizi yang dilakukan pemerintah berhasil
menurunkan jumlah kasus gizi kurang dan gizi buruk balita dalam beberapa tahun
terakhir."Capaiannya sudah signifikan, tapi memang belum bisa langsung membuatnya
jadi tidak ada karena untuk itu memang butuh waktu lama," katanya. Iamenjelaskan,
penanganan gizi buruk membutuhkan dana yang cukup besar,sehingga perlu dukungan
dana dari pemerintah pusat. Kasus gizi buruk dan gizi kurang pada balita yang pada
2004 sebanyak 5,1 juta telah turun menjadi 4,4juta pada 2005 dan kembali turun
menjadi 4,2 juta pada 2006. "Tahun 2007angkanya juga turun lagi menjadi 4,1 juta.
Mengalami penurunan bermakna dalam tiga tahun terakhir. Menurut Laporan
Kasus Gizi Buruk Dinas Kesehatan Provinsi yang disampaikan ke Departemen
Kesehatan pada 2005, jumlah kasus gizi buruk pada balita yangditemukan dan
ditangani sebanyak 76.178 kemudian turun menjadi 50.106 pada2006 dan turun lagi
menjadi 39.080 pada 2007. Jumlah temuan kegiatan surveilans itu lebih rendah
dibandingkan dengan target penemuan kasus gizi buruk pada balita yang pada 2005
seharusnya sebanyak 180.000 kasus, 94.000kasus pada 2006 dan 75.000 kasus pada
2007.
Guna menurunkan jumlah kasus gizi buruk seperti yang telah ditargetkan,yakni
menjadi 20 persen dari total balita pada 2009, pemerintah telah melakukan upaya
penanggulangan masalah gizi jangka pendek, menengah dan panjang.Targetnya tahun
2009 bisa turun menjadi 20 persen dari jumlah balita, upaya jangka pendeknya antara
lain perawatan kasus sesuai prosedur di rumah sakit secara gratis, pemberian makanan
bergizi tinggi bagi balita dari keluarga kurang mampu dan surveilans kasus secara

periodik melalui Posyandu, serta pemberian makanan pendamping ASI gratis bagi bayi
usia 6-24 bulan dari keluarga kurang mampu.
Jangka menengah memberdayakan masyarakat untuk memperbaiki pola asuh
pemeliharaan bayi seperti promosi pemberian ASI eksklusif selama enam bulandan
penimbangan berat badan bayi secara rutin untuk deteksi dini kasus,pemerintah juga
berusaha meningkatkan akses pelayanan kesehatan dan gizi yang bermutu melalui
pembentukan

Pos

Kesehatan

Desa,

penempatan

bidan

didesa,

peningkatan

kemampuan tenaga kesehatan, penguatan Puskesmas dan pembentukan tim


kesehatan keliling di daerah terpencil.
Setiap tahun juga telah meningkatkan alokasi anggaran untuk perbaikan gizi.
Jika pada 2005 alokasi dana untuk perbaikan gizi hanya Rp175 miliar,maka 2006
ditingkatkan menjadi Rp582 miliar dan kembali ditingkatkanmenjadi Rp600 miliar pada
2007. "Tahun 2008 ini besaran anggarannya masih dibahas, tapi dipastikan tidak akan
lebih rendah dari Rp600 miliar," Dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara 2008
pemerintah mengalokasikan 2,3 persen untuk biaya kesehatan. Dengan strategi dan
langkah yang telah diterapkan, pemerintah optimistis bisa menurunkan kasus gizi buruk
dan kurang pada balita sesuai target.
H. Dasar Pelaksanaan Surveilans Gizi Buruk
Berbagai penelitian menunjukkan dampak serius masalah gizi buruk terhadap
kesehatan, bahkan terhadap kelangsungan hidup suatu bangsa. Dampak jangka
pendek gizi buruk terhadap perkembangan anak antara lain anak menjadi apatis,
mengalami gangguan bicara serta gangguan perkembangan lain. Sementara dampak
jangka panjang berupa penurunan skor intelligence quotient (IQ), penurunan
perkembangan kognitif, penurunan integrasi sensori, gangguan pemusatan perhatian,
gangguan penurunan rasa percaya diri serta akan menyebabkan merosotnya prestasi
di sekolah.
Kurang gizi juga berpotensi menjadi penyebab kemiskinan melalui rendahnya
kualitas sumber daya manusia dan produktivitas. Gizi buruk yang tidak dikelola
dengan baik, pada fase akutnya akan mengancam jiwa dan pada jangka panjang
akan menjadi ancaman hilangnya sebuah generasi penerus bangsa. Mengingat
dampak yang sedemikain serius tersebut, sudah seyogyanya seluruh potensi dan

komponen dikerahkan untuk mencegah dan menangulangi masalah gizi buruk ini.
Tindakan penting terkait usaha pencegahan antara lain dengan melakukan kegiatan
surveilans epidemiologi masalah gizi ini.
Banyak pengertian surveilans yang sudah umum dikenal selama ini. Antara lain
menurut WHO, surveilans merupakan proses pengumpulan, pengolahan, analisis dan
interpretasi data secara sistemik dan terus menerus serta penyebaran informasi
kepada unit yang membutuhkan untuk dapat mengambil tindakan. Berdasarkan
definisi diatas dapat diketahui bahwa surveilans adalah suatu kegiatan pengamatan
penyakit yang dilakukan secara terus menerus dan sistematis terhadap kejadian dan
distribusi penyakit serta faktor-faktor yang mempengaruhi nya pada masyarakat
sehingga dapat dilakukan penanggulangan untuk dapat mengambil tindakan efektif.
Menurut Timmreck (2005), surveilans kesehatan masyaraka adalah proses
pengumpulan data kesehatan yang mencakup tidak saja pengumpulan informasi
secara sistematik, tetapi juga melibatkan analisis, interpretasi, penyebaran, dan
penggunaan informasi kesehatan. Hasil surveilans dan pengumpulan serta analisis
data digunakan untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik tentang status
kesehatan populasi guna merencanakan, menerapkan, mendeskripsikan, dan
mengevaluasi program kesehatan masyarakat untuk mengendalikan dan mencegah
kejadian yang merugikan kesehatan. Dengan demikian, agar data dapat berguna,
data harus akurat, tepat waktu, dan tersedia dalam bentuk yang dapat digunakan.

Terdapat beberapa aktivitas inti surveilans kesehatan masyarakat tersebut. Kegiatan


surveilans kesehatan masyarakat antara lain :
1.

Pendeteksian kasus (case detection): proses mengidentifikasi peristiwa atau


keadaan kesehatan. Unit sumber data menyediakan data yang diperl ukan dalam

penyelenggaraan

surveilans epidemiologi

seperti

rumah

sakit,

puskesmas,

laboratorium, unit penelitian, unit program-sektor dan unit statistik.


2.

Pencatatan kasus (registration): proses pencatatan kasus hasil identifikasi


peristiwa atau keadaan kesehatan.

3.

Konfirmasi (confirmation): evaluasi dari ukuran-ukuran

4.

epidemiologi sampai pada hasil percobaan laboratorium.

5.

Pelaporan (reporting): data, informasi dan rekomendasi sebagai hasil kegiatan


surveilans epidemiologi disampaikan kepada pihak-pihak yang dapat melakukan
tindakan penanggulangan penyakit atau upaya peningkatan program kesehatan,
pusat penelitian dan pusat kajian serta pertukaran data dalam jejaring surveilans
epidemiologi. Pengumpulan data kasus pasien dari tingkat yang lebih rendah
dilaporkan kepada fasilitas kesehatan yang lebih tinggi seperti lingkup daerah atau
nasional.

6.

Analisis data (data analysis): analisis terhadap data-data dan angka-angka dan
menentukan i ndikator terhadap ti ndakan.

7.

Respon

segera

dan

kesiapsiagaan

wabah

(epidemic

preparedness)

kesiapsiagaan dalam menghadapi wabah/kejadian luar biasa.


8.

Respon terencana (response and control): sistem pengawasan kesehatan


masyarakat hanya dapat digunakan jika data yang ada bisa digunakan dalam
peringatan dini dan munculnya masalah dalam kesehatan masyarakat.

9.

Umpan balik (feedback) yang berfungsi penting dari semua sistem pengawasan,
alur pesan dan informasi kembali ke tingkat yang lebih rendah dari tingkat yang
lebih tinggi.

Secara umum tujuan surveilans adalah untuk pencegahan dan pengendalian penyakit
dalam masyarakat, sebagai upaya deteksi dini terhadap kemungkinan terjadinya
kejadian luar biasa (KLB), memperoleh informasi yang diperlukan bagi perencanaan
dalam hal pencegahan, penanggulangan maupun pemberantasannya pada berbagai
tingkat administrasi
I.

KOMPONEN-KOMPONEN KEGIATAN SURVEILANS


Komponen-komponen kegiatan survailans antara lain :

1.

Pengumpulan data, data yang dikumpulkan adalah data epidemiologi yang jelas,
tepat dan ada hubungannya dengan penyakit yang bersangkutan. Tujuan dari
pengumpulan data epidemiologi adalah: untuk menentukan kelompok populasi
yang mempunyai resiko terbesar terhadap serangan penyakit; untuk menentukan
reservoir dari infeksi; untuk menentukan jenis dari penyebab penyakit dan
karakteristiknya;

untuk

memastikan

berlangsungnya

transmisi

penyakit;

keadaan
untuk

yang

dapat

mencatat

menyebabkan

penyakit

secara

keseluruhan; untuk memastikan sifat dasar suatu wabah, sumbernya, cara


2.

penularannya dan seberapa jauh penyebarannya.


Kompilasi, analisis dan interpretasi data. Data yang terkumpul selanjutnya
dikompilasi, dianalisis berdasarkan orang, tempat dan waktu. Analisa dapat
berupa teks tabel, grafik dan spot map sehingga mudah dibaca dan merupakan
informasi yang akurat. Dari hasil analisis dan interpretasi selanjutnya dibuat

3.

saran bagaimana menentukan tindakan dalam menghadapi masalah yang baru.


Penyebaran hasil analisis dan hasil interpretasi data. Hasil analisis dan
interpretasi

data

digunakan

untuk

unit-unit

kesehatan

setempat

guna

menentukan tindak lanjut dan disebarluaskan ke unit terkait antara lain berupa
laporan kepada atasan atau kepada lintas sektor yang terkait sebagai informasi
lebih lanjut.
J. DASAR HUKUM DAN PEDOMAN PELAKSANAAN SURVEILANS GIZI BURUK
Terkait dengan masalah gizi masyarakat, di Indonesia, beberapa dasar hukum
dan pedoman pelaksanaan surveilans gizi buruk antara lain :
1. Surat Menteri Kesehatan Nomor: 1209, tanggal 19 Oktober 1998 yang
menginstruksikan agar memperlakukan kasus gizi buruk sebagai sebuah
Kejadian Luar Biasa (KLB).
2. Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor: 1116/MENKES/SK/VI II/2003 tentang
Pedoman Penyelenggaraan Surveilans Epidemiologi Kesehatan
Pada Kepmenkes diatas, salah satu sasaran surveilans epidemilogi
kesehatan adalah pelaksanaan Sistem Kewaspadaan Gizi (SKG) dan sistem
kewaspadaan dini kejadian luar biasa (SKD KLB) gizi buruk. Sedangkan

berdasarkan Surveilans gizi adalah pengamatan yang dilakukan terhadap anak


balita dalam rangka mencegah terjadinya kasus gizi buruk.
Sedangkan menurut WHO, praktek survailans gizi dilakukan dengan
melakukan pengamatan keadaan gizi, dalam rangka untuk membuat keputusan
yang berdampak pada perbaikan gizi penduduk dengan menyediakan informasi
yang terus menerus tentang keadaan gizi penduduk, berdasarkan pengumpulan
data langsung sesuai sumber yang ada, termasuk data hasil survei dan data
yang sudah ada.
K. SISTEM SURVEILANS GIZI
Terdapat tiga jenis utama sistem surveilans gizi menurut Mason et al (1984),
yaitu:
1. Pemantauan gizi jangka panjang sebagai masukan untuk perencanaan nasional,
untuk menganalisis dampak kebijakan dan untuk memprediksi kecenderungan
masa depan.
2. Evaluasi dampak program gizi dan proyek-proyek tertentu yaitu informasi yang
dirancang untuk memungkinkan tanggapan langsung melalui program atau
proyek modifikasi.
3. Peringatan dini atau sistem peringatan tepat waktu untuk mengidentifikasi
kekurangan pangan akut, untuk mendapatkan tanggapan jangka pendek.
Sistem Surveilans gizi adalah mengumpulkan data dasar program yang
difokuskan pada masalah gizi bayi, anak-anak, dan wanita hamil. Sistem surveilans
gizi berfungsi untuk menyediakan data lokal spesifik yang berguna untuk pengelolaan
program gizi kesehatan masyarakat. Sistem ini memberikan informasi yang sangat
berguna, tetapi juga ada tantangan metodologis yang berkaitan dengan keterwakilan,
pengawasan mutu, dan indikator sensitivitas atau spesifisitas.
Sementara menurut WHO menggambarkan sistem surveilans gizi sebagai
proses yang berkesinambungan memiliki lima tujuan khusus, antara lain :

1.

Menggambarkan status gizi penduduk, dengan referensi khusus bagi mereka


yang menghadapi risiko

2.

Menganalisis faktor-faktor penyebab yang terkait dengan gizi buruk

3.

Mempromosikan keputusan oleh pemerintah, baik mengenai perkembangan


normal dan keadaan darurat

4.

Memprediksi kemungkinan masalah gizi sehingga dapat membantu dalam


perumusan kebijakan

5.

Memantau dan mengevaluasi program gizi.

Ruang lingkup dan tujuan sistem surveilans gizi di Indonesia menurut Soekirman &
Karyadi (1995), antara sebagai berikut:
1.

Sistem yang berfungsi sebagai peringatan dan intervensi tepat waktu.

2.

Sistem untuk menghubungkan masalah daerah rawan (kabupaten, kecamatan,


desa) dengan otoritas yang lebih tinggi pada tingkat propinsi dan tingkat pusat.

3.

Memberikan indikator yang berfungsi sebagai mekanisme deteksi dini untuk


krisis pangan

4.

Membimbing tindakan cepat untuk mengatasi penurunan ketersediaan pangan


dan konsumsi, khususnya di kalangan rumah tangga miskin.

L. Program Perbaikan Gizi Dan Kesehatan Masa Depan


Berangkat dari besarnya masalah gizi dan kesehatan serta bervariasinya faktor
penyebab masalah ini antar wilayah, maka diperlukan program yang komprehensif dan
terintegrasi baik di tingkat kabupaten, provinsi, maupun nasional. Jelas sekali kerja
sama antar sektor terkait menjadi penting, selain mengurangi aktivitas yang tumpang
tindih dan tidak terarah.
Berikut ini merupakan pemikiran untuk program yang akan datang, antara lain:
1. Banyak hal yang harus diperkuat untuk melaksanakan program perbaikan gizi,
mulai dari ketersediaan data dan informasi secara periodik untuk dapat
digunakan dalam perencanaan program yang benar dan efektif. Kajian strategi
program yang efisien untuk masa yang datang mutlak diperlukan, mulai dari
tingkat nasional sampai dengan kabupaten.

2. Melakukan penanggulangan program perbaikan gizi dan kesehatan yang bersifat


preventif untuk jangka panjang, sementara kuratif dapat diberikan pada
kelompok masyarakat yang benar-benar membutuhkan. Bentuk program efektif
seperti perbaikan perilaku kesehatan dan gizi tingkat keluarga dilakukan secara
professional mulai dipikirkan, dan tentunya dengan ketentuan atau kriteria yang
spesifik lokal.
3. Melakukan strategi program khusus untuk penanggulangan kemiskinan, baik di
daerah perkotaan maupun perdesaan dalam bentuk strategi pemberdayaan
keluarga dan menciptakan kerja sama yang baik dengan swasta.
4. Secara bertahap melakukan peningkatan pendidikan, strategi ini merupakan
strategi jangka panjang yang dapat mengangkat Indonesia dari berbagai
masalah gizi dan kesehatan.

BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Ada 4 faktor yang melatar belakangi KKP yaitu : masalah social, ekonomi,biologi,
dan lingkungan. Kemiskinan salah satu determinan social - ekonomi,merupakan akar
dari ketiadaan pangan, tempat mukim yang berjejalan, dan tidak sehat serta ketidak
mampuan mengakses fasilitas kesehatan. Malnutrisi masih saja melatar belakangi
penyakit dan kematian anak. Kurang kalori protein sesungguhnya berpeluang
menyerap siapa saja, terutama bayi dan anak yangt engah tumbuh-kembang.
Marasmus sering menjangkiti bayi yang baru berusia kurang dari 1 tahun, sementara
kwashiorkor cenderung menyerang setelah merekaberusia 18 bulan. Penilaian status
gizi masyarakat memerlukan kebijakan yangmenjamin setiap anggota masyarakat
mendapatkan makanan yang cukup jumlah dan mutunya. Gizi yang diperoleh seorang
anak melalui konsumsi makanan setiaphari. Kecukupan zat gizi berpengaruh pada
kesehatan dan kecerdasan anak.Kasus gizi buruk bukanlah jenis penyakit yang datang
tiba-tiba begitu saja. Tetapi karena proses yang menahun terus bertumpuk dan menjadi
kronik saat mencapai puncaknya. Masalah defisiensi gizi khususnya KKP menjadi
perhatian karena berbagai penelitian menunjukan adanya efek jangka panjang terhadap
pertumbuhan dan perkembangan otak manusia.
Sistem Surveilans gizi adalah mengumpulkan data dasar program yang
difokuskan pada masalah gizi bayi, anak-anak, dan wanita hamil. Sistem surveilans
gizi berfungsi untuk menyediakan data lokal spesifik yang berguna untuk pengelolaan
program gizi kesehatan masyarakat. Sistem ini memberikan informasi yang sangat
berguna, tetapi juga ada tantangan metodologis yang berkaitan dengan keterwakilan,
pengawasan mutu, dan indikator sensitivitas atau spesifisitas.

Ruang lingkup dan tujuan sistem surveilans gizi di Indonesia menurut Soekirman &
Karyadi (1995), antara sebagai berikut:
1. Sistem yang berfungsi sebagai peringatan dan intervensi tepat waktu.
2. Sistem untuk menghubungkan masalah daerah rawan (kabupaten, kecamatan,
desa) dengan otoritas yang lebih tinggi pada tingkat propinsi dan tingkat pusat.
3. Memberikan indikator yang berfungsi sebagai mekanisme deteksi dini untuk
krisis pangan.
4. Membimbing tindakan cepat untuk mengatasi penurunan ketersediaan pangan
dan konsumsi, khususnya di kalangan rumah tangga miskin.
B. SARAN
Ketidak seriusan pemerintah terlihat jelas ketika penanganan kasus gizi buruk
terlambat seharusnya penanganan pelayanan kesehatan dilakukan disaat penderita gizi
buruk belum mencapai tahap membahayakan. Setelah kasus gizi buruk merebak
barulah pemerintah melakukan tindakan ( serius ). Keseriusan pemerintah tidak ada
artinya apabila tidak didukung masyarakat itu sendiri.Sebab, perilaku masyarakat yang
sudah membudaya selama ini adalah, anak-anak yang menderita penyakit kurang
mendapatkan perhatian orang tua. Anak-anak ituhanya diberi makan seadanya, tanpa
peduli akan kadar gizi dalam makanan yang diberikan. Apalagi kalau persediaan
pangan keluarga sudah menipis. Tanpa data dan informasi yang cermat dan lengkap
sebaiknya jangan terlalu cepat menyimpulkan bahwa adanya gizi buruk identik dengan
kemiskinan. Dan seharusnya para ibu mengupayakan sesuatu yang terbaik untuk
anaknya yang nantinya anak tersebut dapat menolong sang ibu. Ibu jangan mudah
menyerah hadapilah semuanya itu, saya yakin pasti akan ada jalan keluarnya.

DAFTAR PUSTAKA

1. Mansjoer, Arif dkk.2000.Kapita Selekta Edisi Jilid 4.Jakarta:Media Aescalapius


FKUI
2. Soekirman & Karyadi, D. (1995). Nutrition surveillance: A planners perspective.
3.
4.
5.
6.

Food and Nutrition Bulletin. United Nations University. Tokyo


Mason, et al. (1984). Nutritional Surveillance. WHO
Timmreck, C.T. (2005). Epidemiologi: Suatu Pengantar,. EGC.
Nasry Noor, Prof. Dr. Nur, M.PH. Epidemiologi. Jakarta: Rineka Cipta, 2008
http://lenteraimpian.wordpress.com/2010/02/24/masalah-masalah-gizi-di-

indonesia-2/
7. Budiarto, Dr. Eko, SKM. Pengantar Epidem