Anda di halaman 1dari 3

BAB I

PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang
Suatu zat yang ditujukan untuk dipakai dalam diagnosis, mengurangi rasa

sakit, mengobati atau mencegah penyakit pada manusia atau hewan didefinisikan
sebagai obat (Ansel, 1989). Obat dibagi menjadi 5 jenis berdasarkan cara
pemberiannya yaitu oral, perektal, sublingual, parenteral serta langsung ke organ
seperti intrakardial (Anief, 1997). Pemberian obat secara intravena (IV)
merupakan salah satu metode yang sering digunakan karena memiliki onset yang
cepat, bioavailabilitas sempurna atau hampir sempurna dan dapat diberikan pada
penderita yang sakit keras atau yang sedang dalam keadaan koma (Lukas, 2006).
Kejadian epilepsi banyak terjadi, terutama di negara berkembang. Epilepsi
merupakan salah satu penyakit dengan manifestasi gangguan fungsi otak dengan
berbagai etiologi, dan gejala tunggal yang khas, seperti kejang berulang lebih dari
24 jam yang diakibatkan oleh lepasnya muatan listrik neuron otak secara
berlebihan dan paroksismal serta tanpa provokasi (Engel dan Pedley, 2008). Cara
penanggulangan atau pengobatan untuk penyakit epilesi adalah menurunkan atau
menghilangkan kejang yang terjadi. Terapi yang digunakan adalah pemberian obat
antiepilesi salah satunya adalah Fenitoin (Tjay dan Rahardja, 2007). Efek terapi
yang cepat dapat diperoleh dengan cara pemberian Fenitoin dalam bentuk sediaan
parenteral yaitu injeksi. Injeksi adalah pemakaian dengan cara penyuntikan larutan
atau suspensi kedalam tubuh untuk tujuan terapeutik atau diagnostik. Injeksi dapat
dilakukan langsung ke dalam aliran darah, jaringan atau organ (Lukas, 2006).
Berdasarkan penggunaan Fenitoin, maka pada praktikum ini dibuat sediaan
parenteral injeksi Fenitoin yang diberikan secara intravena. Sediaan intravena
harus bebas dari kontaminasi mikroba dan komponen toksik, serta harus memiliki
tingkat kemurnian yang tinggi, sehingga dibutuhkan pemahaman mengenai
praformulasi dan perancangan formulasi sediaan injeksi Fenitoin, dan diterapkan
dalam pembuatan sediaan injeksi Fenitoin dalam skala laboratorium sesuai dengan
persyaratan sediaan steril termasuk evaluasi sediaan.

1.2
1.2.1
1.2.2
1.2.3

Rumusan Masalah
Apa saja tahapan praformulasi sediaan injeksi Fenitoin?
Bagaimana formulasi sediaan injeksi Fenitoin?
Bagaimana cara membuat sediaan injeksi Fenitoin dalam skala
laboratorium sesuai dengan persyaratan sediaan steril yang telah

1.2.4

ditentukan?
Bagaimana dan apa saja evaluasi yang dapat dilakukan untuk mengetahui
sediaan injeksi Fenitoin telah steril?

1.3

Tujuan Formulasi

1.3.1
1.3.2
1.3.3

Untuk dapat memahami tahapan praformulasi sediaan injeksi Fenitoin.


Untuk dapat merancang formula injeksi Fenitoin.
Untuk dapat membuat sediaan injeksi Fenitoin dalam skala laboratorium

1.3.4

sesuai dengan persyaratan sediaan steril yang telah ditentukan.


Untuk dapat melakukan evaluasi sediaan injeksi Fenitoin.

1.4

Manfaat Formulasi

Dapat memahami tahapan praformulasi, merancang formula dan membuat sediaan


injeksi Fenitoin dalam skala laboratorium sesuai dengan persyaratan sediaan steril
yang telah ditentukan, serta dapat melakukan evaluasi sediaan injeksi Fenitoin.
DAFTAR PUSTAKA
Ansel, H.C. 1989. Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi Edisi Keempat. Jakarta : UI
Press
Anief, Moh. 1997. Ilmu Meracik Obat Teori dan Praktik. Yogyakarta: Gajah Mada
University Press.
Engel, J. dan T. A. Pedley. 2008. Epilepsy A comprehensive Textbook 2nd Ed. Vol
One. Philadelphia : Lippincott Williams & Wilkins.
Lukas, S. 2006. Formulasi Steril. Yogyakarta: Penerbit Andi.
Tjay, T. H. dan K. Rahardja. 2007. Obat-Obat Penting Edisi ke-VI. Jakarta: PT.
Elex Media Komputindo.